narrative writings of thesunmetmoon
Sabtu pagi, Kakak bangun seperti biasa. Dibukanya jendela agar udara segar masuk. Futonnya ia gulung lalu dimasukkan ke dalam lemari. Menyikat gigi, mencuci muka. Masih ada tiga jam lagi sampai yang diwawancara datang. Mengabaikan rambutnya yang berantakan, Kakak turun ke bawah, berniat membeli sarapan di konbini depan (atau breakfast set dengan kopi hitam dan roti bakar 500 yen di kafe lima bangunan dari restorannya, hmm enak yang mana ya).
“Permi—mmh.”
Baru juga dia buka pintu restoran, tiba-tiba disambut oleh bibir yang menciuminya tak sabaran. Seokmin tersenyum geli, lalu memejamkan mata, membiarkan Joshua merangkulnya. Dielusnya kepala bagian belakang pemuda itu, menyisir rambut hitamnya. Wangi sabun dan shampoo yang sama dengan miliknya (tentu karena mereka tadi pagi mandi bersama) tercium dari Joshua.
NC-17 a bit more explicit tho under 18 leave 🔞⛔
Helaan napas yang berat mengikuti gerakan Minghao menaruh handphonenya ke meja kecil di samping bak.
Empat tahun.
Waktu yang mereka butuhkan untuk mengambil sebuah keputusan yang cukup menggegerkan dunia properti dan fashion.
Maka, dimulailah keseharian baru Kim Mingyu. Karena dia sudah “dilarang” datang ke kantor, semakin semangatlah bapak satu anak ini mengurusi rumahnya. Ia jadi tahu bahwa ada beberapa tagihan yang belum sempat dibayar. Jadi mengenal pemilik toko beras dan gas langganan mereka. Ada renovasi kecil-kecilan yang diperlukan di rumah.
Serta kondisi anak gadisnya.