1.
Empat tahun.
Waktu yang mereka butuhkan untuk mengambil sebuah keputusan yang cukup menggegerkan dunia properti dan fashion.
narrative writings of thesunmetmoon
Empat tahun.
Waktu yang mereka butuhkan untuk mengambil sebuah keputusan yang cukup menggegerkan dunia properti dan fashion.
Maka, dimulailah keseharian baru Kim Mingyu. Karena dia sudah “dilarang” datang ke kantor, semakin semangatlah bapak satu anak ini mengurusi rumahnya. Ia jadi tahu bahwa ada beberapa tagihan yang belum sempat dibayar. Jadi mengenal pemilik toko beras dan gas langganan mereka. Ada renovasi kecil-kecilan yang diperlukan di rumah.
Serta kondisi anak gadisnya.
“Selamat sore. Saya mau jemput anak saya, Gyuri.”
“Se-la-mat ma-kan, Pak Gu-ru~! Se-la-mat ma-kan, te-man-te-man~!”
“Anjing. Anjing, anjing, anjing...”
Joshua membiarkan handphonenya yang menampilkan layar sms banking diambil oleh Jeonghan. Mereka duduk di kasur Joshua yang sebenarnya hanya muat untuk satu orang. Kembarannya itu masih melongo menatap jumlah uang yang masuk.
Jam empat pagi dan ia sudah turun dari tempat tidur. Meski terlelap hanya empat jam, ia mengacuhkan fakta itu untuk membuatkan bekal bagi anak perempuannya. Dengan mata belekan dan rambut kusut masai, Kim Mingyu menghidupkan lampu dapur. Langit di luar jendela masih gelap. Udara pun masih dingin.
Minghao meneguk teh hangatnya.
“Terus Mama sama Papa nikah?” pertanyaan anak lelakinya membuat Minghao hampir tersedak teh.
“Jadi, sekarang gimana?”
Setelah semua lebih tenang, mereka berpindah ke ruang keluarga. Minghao membuatkan anak itu secangkir cokelat panas. Seluruh keluarga Kim duduk di sana dengan perasaan masing-masing. Mereka menunggu sampai Minghao sendiri duduk dan mulai menjelaskan.
“Selamat pagi.”
Minghao mengerjap, kemudian tersenyum. “Selamat pagi,” meski ia tidak mengenal anak berambut hitam dan bermata sipit itu, namun tetap ia sapa dengan ramah. Anak itu kira-kira seumuran dengan anak-anaknya. Mungkin teman salah satu dari mereka.