Joshua membiarkan handphonenya yang menampilkan layar sms banking diambil oleh Jeonghan. Mereka duduk di kasur Joshua yang sebenarnya hanya muat untuk satu orang. Kembarannya itu masih melongo menatap jumlah uang yang masuk.
Jam empat pagi dan ia sudah turun dari tempat tidur. Meski terlelap hanya empat jam, ia mengacuhkan fakta itu untuk membuatkan bekal bagi anak perempuannya. Dengan mata belekan dan rambut kusut masai, Kim Mingyu menghidupkan lampu dapur. Langit di luar jendela masih gelap. Udara pun masih dingin.
Setelah semua lebih tenang, mereka berpindah ke ruang keluarga. Minghao membuatkan anak itu secangkir cokelat panas. Seluruh keluarga Kim duduk di sana dengan perasaan masing-masing. Mereka menunggu sampai Minghao sendiri duduk dan mulai menjelaskan.
Minghao mengerjap, kemudian tersenyum. “Selamat pagi,” meski ia tidak mengenal anak berambut hitam dan bermata sipit itu, namun tetap ia sapa dengan ramah. Anak itu kira-kira seumuran dengan anak-anaknya. Mungkin teman salah satu dari mereka.
Begitu sambungan telepon diputuskan, Wonwoo langsung beranjak dari sofa dan mengambil barang-barangnya, bagai orang kesetanan. Tentunya ini membuat Mingyu kian cemas.