Ditinggalkan begitu saja tanpa penjelasan lebih, Mingyu sebagai si dewasa lah yang terpaksa mengambil alih. “Ah...sekarang kita ke kelas dulu aja ya?” meski dengan hati agak berat, dia tersenyum. Separuh kasihan, separuhnya masih ngang-ngong-ngang-ngong akan kejadian barusan. Bisa-bisanya kakaknya mendadak menaruh tanggung jawab begini besar ke pundak Mingyu di hari Senin yang cerah ini.
Hong Jisoo. Musim semi tahun ini dia akan menginjak kelas 1 SMA. Meski dirinya bertolak dari negara asalnya ke negara ini, tapi nggak apa-apa. Memang berat harus ninggalin sahabat dekatnya, Vernon, dan keluarganya yang sudah jadi keluarga beneran bagi Joshua, tapi dia yakin lebih banyak kesempatan bakal kebuka buat dia setelah ini. Sekolah yang ditujunya merupakan sekolah bergengsi dengan prestasi terbaik seantero negeri. Plus, Joshua menang beasiswa full gratis sampai ke tiket pesawat, akomodasi (karena dia dapat kamar asrama), serta uang jajan.
“Aku ingin mengenal...,” alih pandangnya menetap ke salah satu anggota klan karnivora, tepatnya yang tengah menaikkan gagang kacamata bulatnya, lalu menunjuk. “Rubah itu.”
Minghao tidak menunduk ataupun mengalihkan pandangan. Sebaliknya, ia menatap bergantian satu persatu anggota klan karnivora di hadapannya perlahan-lahan, memetakan wajah mereka dalam ingatan. Sepertinya memang keberanian klan kelinci adalah sesuatu yang mendarah daging. Lima karnivora berbalutkan pakaian indah dari sutra mahal. Mereka tidak mengenakan kain warna mentereng ataupun hiasan yang tak perlu. Sederhana dari bahan berkualitas. Yang membedakan mereka dari tamu biasa adalah simbol klan masing-masing yang tersemat di kerah pakaian mereka.
Seakan tak peduli akan kegelisahan kelinci kecil kita, tirai malam pun turun membawa kerlipan bintang di antara terangnya bulan. Bunyi gesekan sayap jangkrik menemani kesyahduan paviliun sang kelinci saat penghuninya tengah sibuk ditata oleh kakak-kakaknya. Rambut hitam indahnya disisir rapi dan diberi minyak wewangian.
Unlike popular belief, life after death did continue indeed. It didn't stop once you had closed your Book of Life. Instead, you just...magically started another book entitled Book of Afterlife. Sadly, the living didn't know of such fact as they were too blind and too deaf to even acknowledge the existence of the dead amongst them.
Seungkwan masang ekspresi jijik, Mingyu meringis jahil sedangkan abang barunya menaikkan satu alis, lebih ke arah penasaran daripada terganggu. Tetiba saja bel pintu berbunyi dan Mingyu masuk seolah dia di rumahnya sendiri, padahal malam sudah cukup larut.
Joshua mencari hotel dengan nama yang familier baginya via Naver dan memutuskan untuk memilih salah satu grup hotel bintang lima lengkap dengan pantai pribadi. Saat berwisata, beberapa orang menginginkan pengalaman autentik dengan menginap di resort atau bed and breakfast seakan-akan mereka melesap menjadi warga lokal.