2. First Day

Ditinggalkan begitu saja tanpa penjelasan lebih, Mingyu sebagai si dewasa lah yang terpaksa mengambil alih. “Ah...sekarang kita ke kelas dulu aja ya?” meski dengan hati agak berat, dia tersenyum. Separuh kasihan, separuhnya masih ngang-ngong-ngang-ngong akan kejadian barusan. Bisa-bisanya kakaknya mendadak menaruh tanggung jawab begini besar ke pundak Mingyu di hari Senin yang cerah ini.
Anak bernama Joshua itu pun mengangguk. Bersamaan dengan rombongan guru lainnya, mereka melintasi koridor sekolah yang telah sepi. Para murid telah berada di kelas masing-masing dan menanti kedatangan guru mereka. Mingyu dan Joshua berjalan dalam diam. Lembut sinar mentari membanjiri lantai yang mereka pijak, ditemani bunyi sepatu menapak satu langkah demi satu langkah. Sebuah keheningan yang, secara absurd, bisa dibilang nyaman.
“Kamu di negara ini sendirian?”
Joshua mengangguk.
“Apa nggak apa-apa? Maksud saya, apa orangtuamu—”
“Orangtuaku udah nggak ada, Sen,” potong si anak. Intonasinya tetap tenang seperti sebelumnya. “Sen nggak usah cemas. Aku udah biasa sendirian. Kalo Sen keganggu dan mau aku tinggal di luar sebenernya nggak apa-apa sih. Tadi aku mikirin duitnya aja. Cuma kata Choi-sen sekolah mau bayarin, so...”
Kalimatnya terputus. Pas Joshua menoleh, dilihatnya Mingyu sudah memandanginya dengan ketidak setujuan terpampang jelas di mata. “Saya bukannya keganggu. Sama sekali bukan. Maaf sudah berasumsi seenaknya. Saya nggak ada maksud menyinggung atau apa,” tatapnya serius, menegaskan bahwa ucapannya tulus. Joshua rasanya pingin mendengus geli. “Kalo begitu keadaannya, oke, saya yang akan jadi keluarga kamu di sini.”
GREK!
Pintu geser terbuka. Mereka sudah sampai di ambang pintu kelas. Mingyu sontak melontarkan selayang pandang ke anak-anak muridnya yang buru-buru kembali ke tempat duduknya masing-masing. “Kwon Soonyoung! Balik ke meja kamu sekarang!” ancamnya sambil bercanda, yang dibalas anak itu dengan cengiran jahil. Dia melangkah masuk, sama sekali nggak sadar kalau Joshua masih memandanginya dengan bola mata melebar dan pipi bersemu.
...Sen tadi bilang apa? batin si anak. Meski begitu, dia segera menggeleng membuang pemikirannya barusan. Kim-sen pasti nggak ada maksud selain bantuin dirinya saja. Pasti. Dia pun ikut melangkah masuk.
Setelah menulis namanya di papan tulis menggunakan kapur—baik nama asli maupun nama panggilannya—Joshua tersenyum pada semua orang di situ. Auranya penuh dengan kepercayaan diri. “Hi, guys! Namaku Hong Jisoo, tapi panggil aja Joshua. Aku di negara ini nggak kenal siapa-siapa, jadi kalo kalian semua bisa jadi temen pertamaku, kayaknya aku bakal seneng banget,” cengirannya lebar. “Oh iya, jujur aku nggak begitu tau budaya ato kebiasaan di sini. Kalo aku ada salah ngomong ato berbuat yang nggak wajar menurut kalian, plis kasih tau ya. Jangan dibully juga akunya, hatiku rapuh hiks.” Sambil pura-pura mengusap air mata nggak kasat mata, dia memancing gelak tawa dari seisi kelas.
“Iya, tenang aja, Joshi, ntar kita bully kok!” lantang seseorang menyeloroh. Orang itu berpipi bulat dan bermata sipit. “Eh nggak apa kan gue panggil Joshi?”
Joshua, ikut terkekeh, menjawab, “ Santai. Asal nggak dipanggil 'Sayang' mah aman. But I can think about it after a dinner date and a forehead kiss.” Dikedipkannya satu mata dan anak lelaki itu tertawa makin kencang.
“Baik, baik,” Mingyu mencoba menenangkan keriuhan yang mulai meluas. “Tolong dibantu ya teman barunya, anak-anak. Untuk bangku, sepertinya sebelah Soonyoung...”
“Sini! Di sini aja, Sen!” anak yang sama mengangkat lengannya tinggi, dengan ceria menawarkan bangku sebelahnya. “Lam kenal, Joshi, gue Kwon Soonyoung. Panggil gue Hoshi juga boleh! Semuanya manggil gue kayak gitu.”
“Oh?” sambil berjalan menuju bangkunya, Joshua lanjut mengobrol. “Hoshi? That's cute. Joshi and Hoshi, huh?” Tawanya lepas saat dia duduk dan Soonyoung langsung menepuk pundaknya ringan. “Salam kenal juga, Hoshi. Mohon dibantu ya.”
“Beres~” cengir si anak. “Nanti makan siang ikut gue aja. Abis makan gue anterin keliling sekolah kalo lo mau.”
Joshua tersenyum, “Mau banget. Thanks.”
Mingyu memperhatikan interaksi tersebut dengan senyuman tipis, diam-diam menghela napas yang entah sejak kapan tertahan. Setiap ada perubahan terjadi di ruang kelasnya, sebagai seorang guru, adalah wajar baginya untuk memantau bagaimana muridnya menerima perubahan tersebut. Sepertinya dia nggak perlu cemas kali ini. “Nah, kita mulai aja ya pelajarannya,” diangkatnya buku teks bersamaaan dengan anak-anak yang juga mempersiapkan catatan mereka. “Buka halaman—”