53.
Wen Junhui...?
Wonwoo tidak tahu. Tidak kenal. Sama sekali tidak ingat pernah melihat wajah itu. Lagipula, ia baru melihat makhluk halus semenjak mereka pindah ke desa ini. Sebelumnya...tidak, tidak ada ingatan serupa.
narrative writings of thesunmetmoon
Wen Junhui...?
Wonwoo tidak tahu. Tidak kenal. Sama sekali tidak ingat pernah melihat wajah itu. Lagipula, ia baru melihat makhluk halus semenjak mereka pindah ke desa ini. Sebelumnya...tidak, tidak ada ingatan serupa.
“Choi Seungcheol.”
Dewa Gunung sejenak memampangkan seringai mengerikan, walau detik kemudian berubah menjadi senyuman lebar seakan ia tak berbahaya sedikitpun. Well, memang tidak sih, selama tidak dipancing amarahnya. Sepertinya melihat kedatangan Jihoon membuat sang Dewa berwelas asih, karena gumpalan awan serta merta berarak menutupi mentari, membuat suasana berubah sejuk, menyegarkan mereka dari serangan panas yang menyengat sepanjang perjalanan.
Jangan mati, jangan mati, jangan mati—
Feels so weird.
Entah bagaimana, Wen Junhui menemukan dirinya duduk di samping Wonwoo. Di sebelah kirinya, ada Jihoon. Di sebelah kanan Wonwoo, ada Seungcheol. Mereka berempat duduk di booth bundar, sementara dua orang di seberang mereka di kursi tersendiri.
“Kebetulan, kita mau tanya sama lo, Hyung,” Mingyu menyela. “Kita lagi nyari Amefurikozou. Kan biasanya dia kongkow sama lo. Lo liat nggak?”
“Jeon Wonwoo,” rubah itu memanggil lagi. Hari ketiga ia di sini. Atau sudah ke lima? Wonwoo tidak tahu. Semua terasa kabur. Rasanya sudah seminggu, tapi juga seperti baru setengah jam. Rasanya tidak mungkin ia bertahan tanpa ke toilet dan mandi, tapi selain pusing karena kelaparan, ia tidak merasakan urgensi akan kebutuhan primernya. Aneh sekali.
“CAPPEEKKKK!!”
Sang rubah meniup-niup tiga potong inarizushi yang masih panas. Barusan saja ada yang berdoa ke kuil Rubah di dunia manusia dan membawakan sesajen inarizushi. Ia pun tersenyum senang. Inarizushi adalah makanan manusia kesukaannya, yang kedua adalah tahu sutra digoreng dengan sedikit tepung. Nikmat sekali.