Mereka berkumpul di salah satu meja kantin tanpa kehadiran Wonwoo. Dari konfirmasi Jihoon dan Jun, Seungcheol menyimpulkan bahwa ada yang merubah Wonwoo, tapi entah apa. Di satu sisi, bener kata Wonwoo, harusnya mereka seneng karena artinya Wonwoo udah nggak UUD, aka Ujung Ujung Duit. Minjemin catetan ke temen gratis, bantuin temen nge-pabji nggak masang tarif, yah...itu hal yang lumrah. Umum. Kayak...ya harusnya kayak gitu toh?? Temenan itu??
Saat ia tersadar, bulan telah menggantung di langit. Gesekan sayap jangkrik memenuhi malam di musim panas tersebut. Mingyu bangkit ke posisi duduk sambil memijat lehernya yang pegal. Dedaunan tebal menjadi alas pengganti kasur di bawahnya, begitu juga selimut dadakan. Benar juga. Ia tidak memakai baju ketika berubah dari wujud aslinya ke tubuh manusia. Selimut dan alas tidur itu pasti dipakaikan Minghao kepadanya agar ia tidak masuk angin.
Wonwoo tidak tahu. Tidak kenal. Sama sekali tidak ingat pernah melihat wajah itu. Lagipula, ia baru melihat makhluk halus semenjak mereka pindah ke desa ini. Sebelumnya...tidak, tidak ada ingatan serupa.
Dewa Gunung sejenak memampangkan seringai mengerikan, walau detik kemudian berubah menjadi senyuman lebar seakan ia tak berbahaya sedikitpun. Well, memang tidak sih, selama tidak dipancing amarahnya. Sepertinya melihat kedatangan Jihoon membuat sang Dewa berwelas asih, karena gumpalan awan serta merta berarak menutupi mentari, membuat suasana berubah sejuk, menyegarkan mereka dari serangan panas yang menyengat sepanjang perjalanan.
Entah bagaimana, Wen Junhui menemukan dirinya duduk di samping Wonwoo. Di sebelah kirinya, ada Jihoon. Di sebelah kanan Wonwoo, ada Seungcheol. Mereka berempat duduk di booth bundar, sementara dua orang di seberang mereka di kursi tersendiri.
“Jeon Wonwoo,” rubah itu memanggil lagi. Hari ketiga ia di sini. Atau sudah ke lima? Wonwoo tidak tahu. Semua terasa kabur. Rasanya sudah seminggu, tapi juga seperti baru setengah jam. Rasanya tidak mungkin ia bertahan tanpa ke toilet dan mandi, tapi selain pusing karena kelaparan, ia tidak merasakan urgensi akan kebutuhan primernya. Aneh sekali.