“Apa tuh, Han?” Papa Cheol neleng kepala, nggak paham pas Papa Han nyodorin lengannya. Di pergelangan tangan Papa Han, ngelingkar gelang terbuat dari manik-manik yang belum pernah Papa Cheol liat sebelumnya.
Sebuah siluet membuka pintu perlahan. Langkahnya ringan penuh kesunyian. Di malam yang tenang dengan lorong terang benderang, adalah sebuah kekontrasan kondisi kamar kelas suite itu dari sisa rumah sakit di luar pintu tersebut. Kamar yang sejatinya mewah itu gelap, hanya bermandikan sinar bulan yang tumpah ruah dari sela-sela tirai. Bunyi tetes infus membuat melodi monoton yang menghanyutkan.
Joshua mendengus, lalu melempar hapenya begitu saja ke nakas. Ia memang tidak punya uang dan hape itu pemberian Hoshi agar ia bisa mudah berkomunikasi dengannya, namun ia tidak peduli walau Hoshi sedang bersamanya saat ini. Ia cukup kesal akan chatnya dengan Seungcheol tadi.
Begitu ia berbalik dan melihat siapa yang datang, sebuah senyuman lebar merekah di wajah Joshua. “Hei,” ia bergeser di bangku, secara refleks memberikan tempat untuk Seungcheol duduk di sebelahnya. Namun, alih-alih langsung duduk, Seungcheol malah menghampiri vending machine dulu.
“Oh,” jelas-jelas nggak tertarik, Joshua kembali menatap Soonyoung, namun anak itu sudah hilang. Ia kemudian menghela napas. Ya udahlah, batinnya. Toh, Soonyoung nggak akan pernah lupa buat lapor ke dia kalo ada apa-apa, karena anak itu cuma punya dia. Nggak ada yang lain.
Mereka berkumpul di salah satu meja kantin tanpa kehadiran Wonwoo. Dari konfirmasi Jihoon dan Jun, Seungcheol menyimpulkan bahwa ada yang merubah Wonwoo, tapi entah apa. Di satu sisi, bener kata Wonwoo, harusnya mereka seneng karena artinya Wonwoo udah nggak UUD, aka Ujung Ujung Duit. Minjemin catetan ke temen gratis, bantuin temen nge-pabji nggak masang tarif, yah...itu hal yang lumrah. Umum. Kayak...ya harusnya kayak gitu toh?? Temenan itu??
Saat ia tersadar, bulan telah menggantung di langit. Gesekan sayap jangkrik memenuhi malam di musim panas tersebut. Mingyu bangkit ke posisi duduk sambil memijat lehernya yang pegal. Dedaunan tebal menjadi alas pengganti kasur di bawahnya, begitu juga selimut dadakan. Benar juga. Ia tidak memakai baju ketika berubah dari wujud aslinya ke tubuh manusia. Selimut dan alas tidur itu pasti dipakaikan Minghao kepadanya agar ia tidak masuk angin.