Seluruh tubuh Kim Mingyu menegang. Di balik tirai dimana ia tidak sengaja ketiduran saat sedang bermain petak umpet dengan kakaknya, Seungcheol, ia diam tak bergerak. Napasnya ditahan oleh bekapan kedua tangan. Ia tidak menyukai pamannya dan para tetua. Mereka selalu memandangi dirinya dengan sinis, seperti sesuatu yang menjijikkan.
Jangan sampai ketahuan ia berada di ruangan yang sama dengan mereka saat ini...
Berdiri di ambang pintu, Omega itu bagai malaikat turun dari langit. Cantik, polos. Tampak seperti seseorang yang hidupnya dipenuhi bulu burung dan bebungaan. Tapi, Joshua lebih dari sekadar tahu kalau Yoon Jeonghan—persetan dengan kata orang di luar sana—itu pedang bermata dua. Sebut saja instingnya yang berbicara.
Aku menulis surat pendek ini untuk mengabarkan berita baik padamu. Sesuai janjiku, aku membicarakan hal yang kita diskusikan sebelumnya pada Ibunda dan para tetua. Dengan sangat bahagia aku memberitahumu bahwa permintaan kita telah dikabulkan.
Sang raja akhirnya mendelik dari berkas yang tengah ia pelajari setelah helaan napas ke-sebelas terlepas. Ia bertukar pandang dengan tunangannya untuk sesaat sampai Omega itu menggeleng sambil memejamkan mata, mendorong sang raja untuk bertanya langsung pada Alpha yang tengah gundah gulana. Di bawah pancaran matahari lembut yang menyorot melewati rumah kaca tempat favorit Omeganya untuk bersantai, sang raja pun angkat bicara.
“Sungguh aku ingin bertanya apa gerangan yang terjadi kali ini,” ucapnya berwibawa.
Satu hal yang paling meresahkan Tuan Kim adalah fakta bahwa satu-satunya Omega yang ingin ia genggam tangannya selepas berdansa masihlah teramat muda. Nah, nah, Tuan Kim bukanlah naif. Sang Alpha mengelilingi dunia dalam waktu senggangnya dan, dengan begitu, mengenal berbagai tabiat manusia di masing-masing negara.