Sang raja akhirnya mendelik dari berkas yang tengah ia pelajari setelah helaan napas ke-sebelas terlepas. Ia bertukar pandang dengan tunangannya untuk sesaat sampai Omega itu menggeleng sambil memejamkan mata, mendorong sang raja untuk bertanya langsung pada Alpha yang tengah gundah gulana. Di bawah pancaran matahari lembut yang menyorot melewati rumah kaca tempat favorit Omeganya untuk bersantai, sang raja pun angkat bicara.
“Sungguh aku ingin bertanya apa gerangan yang terjadi kali ini,” ucapnya berwibawa.
Satu hal yang paling meresahkan Tuan Kim adalah fakta bahwa satu-satunya Omega yang ingin ia genggam tangannya selepas berdansa masihlah teramat muda. Nah, nah, Tuan Kim bukanlah naif. Sang Alpha mengelilingi dunia dalam waktu senggangnya dan, dengan begitu, mengenal berbagai tabiat manusia di masing-masing negara.
Jun menunggu respon Wonwoo. Jihoon, juga, diam, tak berkata apa-apa. Seperti terbalik, keadaan saat ini, sekarang Wonwoo yang memegang bola. Penerimaannya yang dinanti mereka. Ia bisa menjadikan ini awkward atau menjadikan ini kelegaan.
Which, we all know the one he's gonna choose, anyway.
Wonwoo menguap sampai matanya berair, lalu ia seka agar kembali kering. Seharusnya ia tau lebih baik daripada mulai membaca buku baru (yang, sialnya, seru) di jam 10 malam. Kalau bukan karena ia memaksakan diri untuk tidur saat jam di dinding bilang sudah pukul 1 pagi, mungkin Wonwoo bakal terlambat ke sekolah untuk pertama kalinya, memecahkan rekor sempurnanya selama setengah tahun.
“Nguap mulu lo,” Jun, sambil ketawa, menepuk buku notes perlahan ke belakang kepalanya.
Pipi Wonwoo sedikit memerah. Baru saja vidcall ngerjain pr bareng-barengnya selesai. Vidcall yang seancur biasanya kalau mereka berempat sudah berkumpul. Grup gesrek, tapi, yah, menyenangkan.
“Mana Abang?”
“Kamar,” Mingyu menguap. Dengan santai, ia duduk di sebelah Wonwoo di sofa ruang keluarga.