Tuan Kim mengerjapkan matanya. Di hadapannya, ada seorang ibu yang sungguh jelas tidak ingin asal dalam memberikan restu. Tuan Kim paham. Dirinya Alpha asing. Jauh, jauh lebih tua dari putranya, Omega yang belum tersentuh siapapun. Tuan Kim sangat paham. Apabila ia yang memiliki anak seorang Omega dan ada seorang Alpha datang padanya untuk meminta restu, ia sendiri mungkin sudah mengusir Alpha itu begitu batang hidungnya muncul di ambang pintu.
“Ma-maafkan saya karena mengganggu Anda di jam segini, Nyonya Hong,” sang Alpha menarik napasnya. Karena terlalu terburu-buru, ia memilih mendatangi jalanan pertokoan dengan kedua kakinya dan meminta kusir kereta kudanya untuk menunggu di depan kediaman keluarga Hong kira-kira setengah jam lagi. “Tapi apakah saya bisa bertemu dengan Tuan Hong?”
Anak itu balik ke kamarnya setelah pagi yang, rasanya, aneh banget. Pingin curcol ke Vernon, tapi tuh anak jam segini mah palingan belum bangun. Dasar kebo.
Joshua mengingat-ingat lagi percakapan sama ibunya tadi:
Ketika Tuan Hong terlelap kembali, Tuan Kim menghela napas. Ia hanya bisa berdiam pada posisinya, tidak berani bergerak karena takut membangunkan sang Omega.
Status mereka yang Riskan setelah memenangkan satu ronde rupanya tidak menghalau keberuntungan datang pada deknya. Dengan cepat, tim Tuan Kim dan Tuan Hong berada di atas angin lagi, dengan Tuan Lee sebagai Penentu kali ini dan dek Tuan Jeong terbuka untuk dimainkannya.