Seketika, semua orang memiliki sesuatu untuk disampaikan. Mereka berlomba-lomba untuk menyuarakan ketidak setujuan, penyanggahan, beberapa sedang berusaha meresapi apa yang barusan terlontar, yang lain melemparkan pertanyaan demi pertanyaan lanjutan. Di antara kekacauan tersebut, Joshua menyaksikan bagaimana paras suaminya berubah pucat pasi seputih kertas. Mingyu bagai buku yang terbuka. Ia sebingung dan sekaget sang Omega.
Pemanggilan mereka ke istana di hari itu bukanlah okasi kasual seperti biasanya. Alasan pertama yang memperdalam kerutan di kening Kim Mingyu adalah tempat mereka berada sekarang. Bukan ruang kerja pribadi kakaknya, melainkan di aula utama dengan segala kemegahannya. Tidak lupa pakaian dan gestur Tuan Raja beserta pendampingnya yang sungguh formal. Kejanggalan yang begitu jelas di mata sang Alpha.
Salju telah meleleh dan, darinya, mekarlah berbagai kuntum bunga yang cerah ceria. Udara kian menghangat. Kupu-kupu cantik mengecupi ujung hidung para anak-anak yang terkekeh dibuatnya. Musim semi pun tiba. Ia tak pernah gagal membuat warga kota menjadi lebih ramah dan bahagia, apalagi setelah melewati musim dingin yang cukup panjang di tahun ini.
Setelah Joshua bersikeras melucuti juga celana yang dikenakan Mingyu dan melemparnya entah ke sudut mana di kamar luas tersebut, mereka kini tidur berangkulan di kasur agar hangat tubuh sang Alpha mampu menyelimutinya dari ujung rambut hingga ujung jari kaki. Harum seduhan teh dan kue jahe merembes dari keduanya, berpadu, meresapi seprai dan selimut, bergelung di udara hingga ke seluruh bagian ruangan. Sang Omega mendengkur. Puas, karena kamar itu berbau dirinya dan Mingyu secara menyeluruh.
Dalam gelap malam di pukul 2, Kim Mingyu mengerjapkan mata. Kelopaknya berkedut-kedut, mengerut sesaat, lalu membuka. Entah apa tepatnya yang membangunkan sang Alpha, menariknya dari tidur yang damai. Tiada yang tahu. Mungkin perasaan ketika kau ditatap terus tanpa lepas oleh sepasang mata lain.