22.
“Hosh.”
Panas. Badannya panas. Pandangannya terasa kabur. Rasanya sungguh tidak enak. Meski kompres menekan perutnya dan keningnya, rasanya seluruh badan panas.
narrative writings of thesunmetmoon
“Hosh.”
Panas. Badannya panas. Pandangannya terasa kabur. Rasanya sungguh tidak enak. Meski kompres menekan perutnya dan keningnya, rasanya seluruh badan panas.
“Hss-”
Mingyu mengambil tangan Joshua yang berhenti membelainya dan menggenggamnya. Hangat.
“Hyung...mabok?”
Selesai ia mengetik kalimat terakhir dan memencet tombol panah ke kanan, ada suara seseorang memanggil namanya. Di jam 7:50 di hari Selasa, kampus sudah ramai oleh mahasiswa yang ada kelas pagi. Mereka bergegas menuju kelas masing-masing karena 10 menit lagi, pelajaran akan dimulai. Ada yang berkeliaran tak tentu arah karena kelasnya masih nanti jam 10. Ada yang berdiri menunggu di fotokopian, juga yang sibuk beli jajanan sebagai pengisi perut seadanya sampai jam makan siang nanti. Semua nampak normal dan baik-baik saja, walau pusing di kepalanya jelas mengganggu.
“Jadi anak yang namanya Jeon Wonwoo itu yang nendang dia karena makanannya jatoh semua gegara bolanya dia?”
“Adududuh....”
“Spada~“
Karena tau Mingyu mau dateng, Wonwoo sengaja nggak ngunci pintu depan. Dia sendiri lagi berkutat di dapur. Dua daging sirloin murah meriah dia taburin garam dan lada hitam, terus dia biarin di atas talenan biar nyerap. Wonwoo lagi ngubrek boks sayur, nyari bayam buat ditumis sebagai pelengkap, pas Mingyu masuk.