Begitu sampai rumah, langkah Wonwoo terhenti. Ada onggokan sesuatu persis di depan pintu rumahnya. Warnanya hitam dan besar. Meneguk ludah, anak itu mendekat, mendekat...dan menemukan, bukan suatu benda, namun seseorang.
Joshua mengangguk. Mereka lagi makan siang di suatu restoran yang lagi nge-hits karena baru buka dan spot buat selfienya banyak. As usual, makanan di restoran ato kafe kayak gini rasanya standar aja. Dibilang nggak enak ya enggak, dibilang enak mah nggak nyampe. Tapi, harus Joshua akui, penyajiannya lucu-lucu. Instagrammable gitu.
Tiba-tiba tenggorokan Kwon Soonyoung terasa kering. Dia udah duga sih kalo makan bareng Uji dan Jun artinya bakal muncul topik soal Haohao karena emang masih anget-angetnya.
Mendengus puas, Kwon Soonyoung mendongak. “Udah ya, Jeon Wonwoo, barusan banget gue transfer—”
Berhenti, karena dilihatnya paras Jeon Wonwoo sekeras batu. Seketika itu juga, seluruh darah seolah surut dari wajah anak Kwon. Berdasarkan pengalaman, dia tau bahwa paras itu adalah tanda kalau semua akan berakhir runyam.
Handphonenya jatuh ke meja. Soonyoung menelan ludah, berpikir bahwa, ah, lagi-lagi, habislah sudah.
Kwon Soonyoung duduk diam, makan sundubu jjigae dengan seafood. Matanya tertuju ke apa yang lagi dimakannya, nggak sekali pun melihat ke arah Jeon Wonwoo.
Jeon Wonwoo duduk persis di depannya, memandangi anak Kwon dengan kernyitan sebelah alis. Aneh. Dia memang udah ngerasa Kwon Soonyoung (tambah) aneh sejak baca balasan Whatsapp anak itu tadi, tapi baru sekarang dia yakin kalo anak itu (tambah) aneh.
Lagi. Lagi. Bibir Seungcheol kembali ke bibirnya. Joshua terkekeh, napas hangat saling beradu. Dia menangkup pipi Seungcheol dan menggesekkan ujung hidung mereka berdua, sebelum mengembalikan ciuman pada kekasihnya sebanyak dua kali lipat.
Malam itu, Joshua pulang dari kencannya dengan Seungcheol ke Soonyoung yang duduk di sofa ruang tengah. Di pangkuannya, ada buku yang terbuka, namun jelas terlupakan untuk dibaca. Rumah kediaman Kwon Soonyoung yang megah itu sepi, selain alunan musik klasik yang memenuhi setiap celah dingin di sana. Para pelayan sudah bertolak ke bangsal masing-masing, meninggalkan majikan muda mereka duduk sendirian dalam cahaya remang-remang.
Pintu terbuka lagi dan, kali ini, adalah wajah-wajah yang amat dikenalnya. Jun masih bengong memandangi Xu Minghao, yang sekarang membawa seset sendok, garpu dan sumpit bernuansa kucing ke kasir. Nggak lupa bookmark yang tadi dia taksir. Pandangan itu harus bergeser ke sepasang cewek dan cowok yang baru datang dan langsung melipir ke mejanya.