233.
Sorak sorai ceria. Ledakan kembang api yang begitu banyak mewarnai langit malam. Terompet berkumandang dari segala arah.
“Wiken kemarin...aku tidur sama Mingyu...”
narrative writings of thesunmetmoon
Sorak sorai ceria. Ledakan kembang api yang begitu banyak mewarnai langit malam. Terompet berkumandang dari segala arah.
“Wiken kemarin...aku tidur sama Mingyu...”
“Won...”
Mereka berbaring bersama. Wonwoo di dalam pelukan Mingyu. Satu lengan sang Alpha melingkari perutnya, lengan yang lain menyusup di bawah bantalnya. Dada Mingyu di punggung Wonwoo dan bibirnya menciumi tengkuk. Bisikannya terasa hangat.
“Besok ketemu ibuku, mau?”
Joshua memandang langit malam. Tangan masih di tuts, meski lagu telah usai. Ia berusaha menetralkan emosi yang membuncah dalam dada. Tidak. Anak itu tidak menangis. Hanya dada naik turun, mengambil napas dalam-dalam.
Senyap.
“Mungkin ada rikues dari audience, nih? Ato dari Tante?” senyum Joshua merekah. Geliginya terpampang sempurna. “Nyanyi juga boleh lho, Tan. Mungkin bosen denger suara saya aja dari tadi.”
Joshua perform dengan bagus sekali. Penonton diajaknya berinteraksi ketika petikan gitarnya berhenti. Selain playlist lagu yang telah disepakati dengan Jeonghan, dia pun membuka rikues, terutama pada bintang utama acaranya, ibu Jeonghan.
“Hey.”
“Hoi.”
Begitu saja, sapaannya, lalu Minghao melewati Kim Mingyu menuju dapur. Di dapur, sudah ada Seungkwan dan Chan, sementara Hansol bertengger di salah satu kursi sedang menghabiskan sebungkus camilan.
Minghao duduk bersama Seokmin di pantry, memakan makan siang mereka dengan berisik.
“Lo sih,” Seokmin mendecak, memakan nasi pecel ayamnya sambil menclak-menclak.
“Eh, yang nyosor siapa??” Minghao, tidak mau kalah, mengibaskan sendoknya ke arah muka temannya itu. “Ada yang nyuruh??” Diciduknya bubur dengan geram.