215.
Mereka duduk di deretan A paling pojok. Film baru saja dimulai, tetapi tangan yang ia genggam terasa tegang. Dengan bingung, Jeonghan menoleh, menyelidiki paras Joshua.
“Kenapa?” tanyanya.
Joshua menelan ludah.
narrative writings of thesunmetmoon
Mereka duduk di deretan A paling pojok. Film baru saja dimulai, tetapi tangan yang ia genggam terasa tegang. Dengan bingung, Jeonghan menoleh, menyelidiki paras Joshua.
“Kenapa?” tanyanya.
Joshua menelan ludah.
Mereka duduk dalam diam, berseberangan, di ranjang sang Alpha.
”...Aku nggak suka kamu deket-deket sama Alpha itu,” aku Mingyu, memecahkan keheningan.
Berjalan bersisian dengan Alpha-nya belum pernah serisih ini. Ada jeda di antara mereka, berbeda dari biasanya, dimana mereka bahkan tidak sudi lepas dari satu sama lain terlalu lama. Sekarang? Tiap langkah rasanya berat.
BRAKK!!
Mingyu melompat kaget. Buku yang sedang dibacanya hampir terlempar ketika pintu kamar menjeblak terbuka, punggungnya menjauh segera dari bantal yang ia posisikan berdiri pada kepala ranjangnya. Perjalanan Santiago ke piramida Mesir tergantikan oleh sosok Omega yang berderap galak ke arahnya
“Won??“
“Hao, kamu mau bayi?”
Mendengar itu, tubuhnya menegang dalam pelukan Jun. Mereka tengah duduk di sofa dengan kepala Minghao merebah di pundak Jun dan lengan bertautan pada tubuh satu sama lain. Minghao sedang tenggelam dalam serial Netflix yang disetel Jun ketika pertanyaan itu muncul.
Sepanjang perjalanan pulang, Wonwoo diam seribu bahasa sambil memandangi terangnya lampu jalan. Kepalanya terus ia tolehkan ke kaca mobil, enggan melihat Mingyu yang mengemudi di sampingnya.
Mingyu bersandar di dinding. Di seberangnya, Wonwoo sedang duduk, bercerita dengan semangat pada Jeonghan di ranjang rumah sakitnya. Sang Omega yang lebih tua itu mendengarkan sambil tersenyum, sesekali mengangguk ceria. Terpancar kebahagiaan yang nyata dari Jeonghan. Pasti rasanya sangat sepi selama seminggu dirawat di rumah sakit.
“Lo telat.”
Hampir saja Seokmin menyambit sosok itu dengan ID Cardnya.
“KAGET, ANJING!” serunya, memegangi dada.
“Ya Allah, beneran...”
“Seokkie!” Jeonghan tertawa terbahak-bahak. Berhubung restorannya agak sepi, mereka diperbolehkan menyatukan dua meja. Minghao dan Seokmin mendorong meja dan kursi. Seokmin duduk di sebelah Jeonghan dan Minghao di sebelah Joshua.