Siapa yang pernah bilang ya, kalau semua orang kasmaran itu bego? Kaki di kepala, kepala di kaki.
Entah siapa, tapi yang pasti, Seungcheol tidak akan lupa bagaimana ia merampas jaket dari belakang pintu kamarnya, menuruni tangga dengan berisik sampai-sampai ibunya bertanya ada apa. Ia hanya bilang pada ibunya kalau ada barang yang ketinggalan di tempat Josh dan ia perlu mengambilnya untuk kuliah nanti. Lalu, ia menstarter mobilnya.
Seperti di kuliah, Jeon Wonwoo di rumah sama efisien dan praktisnya. Begitu masuk tadi, Soonyoung tak bisa menahan diri untuk tidak mempelajari isi rumah Jeon Wonwoo. Tembok bercat putih. Lantai tanpa karpet apapun. Sederhana...tidak, lebih tepatnya, kosong. Hampir tidak ada furnitur besar seperti di rumahnya sendiri. Tidak ada almari. Tidak ada buffet, rak, bahkan meja makan... Dan, jelas, tidak ada sofa. Hanya ada televisi kecil yang seharusnya sudah masuk museum saking kunonya.
Mingyu menghela napas setelah meneguk wine. Di sisinya, terduduk Minghao dalam jubah tidur menimpa piyamanya, dengan kedua kaki diangkat dan menekuk di atas kursi. Ia terus saja tersenyum memandangi bulan.
Sambil ngedumel, Mingyu mandangin mukanya di kaca wastafel abis cuci muka. Belakangan ini udara panas banget ya Tuhan, tapi kalo pake AC padahal masih jam segini ntar bayar token listriknya bisa semaput gan. Susah emang ya jadi kelas menengah ngehe di kejamnya ibukota. Abis cuci muka, si ganteng kita ini ngamat-ngamatin mukanya, kopek-kopek bekas luka kemaren kebeset kuku di rahang, terus ngecek komedo di idung. Aduh gatel tangan pen mencet.
But no. Tangan kotor. Ntar malah makin nggak bener. Harus bisa menahan diri, Kim Mingyu, yuk bisa yuk ୧( ˵ ° ~ ° ˵ )୨