narrative writings of thesunmetmoon
Adededeh....
Perlu beberapa menit untuk pulih sejak hantaman keras ia rasakan pada tubuh bagian belakang. Meski teredam oleh tumpukan benda dan membuat nyawanya terjaga, tetap saja seluruh tubuhnya berteriak kesakitan. Pegal dan memar. Mingyu mengerang, perlahan menggeliat oleh rasa tak nyaman di punggung dan tengkoraknya.
Andaikata Mingyu mengikuti insting alphanya, mungkin dia sudah memanjat pagar rumah Wonwoo dan mendobrak pintunya. Untungnya dia bisa menahan diri dan berdiri dengan cemas terpancar di wajahnya di depan kamera pengintai yang sengaja dipasang si empunya rumah.
Reaksi alamiah Xu Minghao ketika menemukan Kim Mingyu sedang memandanginya makan #1: melempar gelas isi teh panas ke mukanya.
Pas Wonwoo tiba, wajahnya masam, berkebalikan 180 derajat dengan ekspresi Soonyoung yang tersenyum ceria sampai geliginya kelihatan. Senyum yang seketika lenyap saat ia menatap wajah berkacamata itu.
Deg-degan.
”?”
Dilemparnya handphone ke kasur dengan hela napas yang berat. Pagi itu, matahari bersinar cerah. Dari jendela yang terbuka, terdengar cericip burung gereja dari pohon di depan kamarnya. Angin bertiup lembut, membaurkan tirai-tirai putih hingga nampak sedang menari di udara.
Hari yang indah. Sungguh kontras terhadap perasaannya yang tercabik kalut.