Mengendap-endap merintangi kegelapan malam yang dihiasi temaram cahaya lampu gas dari berbagai kedai dan bar adalah salah satu keahlian tersembunyi Choi Yido. Ia sering melakukannya—sudah melakukannya semenjak ia resmi menjadi Alpha. Berbaur bersama masyarakat biasa dalam samaran baju sederhana dan sedikit improvisasi—corengan debu maupun arang di pipi, sengaja berlari sejenak agar tampilannya penuh peluh dan lusuh seakan ia telah bekerja keras seharian—merupakan cara yang ia pilih untuk mengenal kerajaannya sendiri dari dalam. Wajahnya yang sungguh mirip Yang Mulia Pendamping Raja membuatnya harus agak kreatif bila tak ingin dikenali, namun toh sampai detik ini tidak ada panggilan ke ruang singgasana maupun Dewan Tetua untuk mempertanyakan 'kegiatan ekstra'-nya. Ia akan sedikit egois dan menganggap hal tersebut sebagai kemenangan kecil.
Senja kian tenggelam di ufuk Barat. Dengan penerangan yang agak redup, Choi Yido menatap cermin di hadapannya dan wajah yang bak pinang dibelah dua dengan ibunya pun menatap balik. Rambut hitam tertata rapi. Mata gelap yang memukau. Pipi tinggi, rahang tirus, bibir tipis tanpa cela. Paras yang cantik dan tampan sekaligus—androgini. Tubuhnya melesat tinggi ketika pubertas menyapanya lima tahun yang lalu. Sayangnya, ia tetap tidak bisa mengalahkan tinggi badan rival abadinya, Kibum.
Dua puluh dua kali musim semi telah silih berganti semenjak Joshua Hong menikahi Kim Mingyu di kapel kecil kala itu. Sang Alpha yang dulu gagah dan tampan, kini rambutnya diselimuti uban dan garis-garis keriput mulai menghiasi kulit warna tembaganya. Sang Omega yang dulu begitu muda dan penuh gairah, kini jauh lebih tenang dengan wajah cantiknya tergurat jelas oleh kedewasaan. Namun, yang tak berubah dari mereka adalah bagaimana mereka masih saling mencintai bahkan ketika masing-masing telah menginjak usia 60 dan 40 tahun.