2. Choi Yido

Choi Yido

#gyushuaabo22yl

Senja kian tenggelam di ufuk Barat. Dengan penerangan yang agak redup, Choi Yido menatap cermin di hadapannya dan wajah yang bak pinang dibelah dua dengan ibunya pun menatap balik. Rambut hitam tertata rapi. Mata gelap yang memukau. Pipi tinggi, rahang tirus, bibir tipis tanpa cela. Paras yang cantik dan tampan sekaligus—androgini. Tubuhnya melesat tinggi ketika pubertas menyapanya lima tahun yang lalu. Sayangnya, ia tetap tidak bisa mengalahkan tinggi badan rival abadinya, Kibum.

Mengesampingkan bayangan Kibum yang membuat lidahnya sepat, Yido mengusak rambutnya ke belakang dengan tangan, mengacaukan tatanan yang telah diusungnya sejak ia memulai hari. Tidak ada kewajiban untuk tampil formal di muka publik malam ini, jadi ia tidak memedulikan penampilannya sama sekali.

Surat telah dilayangkan ke rumah Paman Mingyu. Sang utusan telah melapor pada ayahnya bahwa tugas telah selesai dilaksanakan. Namun, hingga detik ini, tak ada balasan dari rumah keluarga Kim.

Gelisah? Tentu. Bukannya Yido tidak mengetahui bagaimana perasaan Paman Mingyu terhadap prospek dirinya melamar Gyuri. Sejak awal, Paman Mingyu jelas-jelas menentang mereka. Paman Joshua selalu bilang kalau Paman Mingyu hanya orangtua menggelikan yang kelewat sayang pada putrinya (yang mana menurut Yido sangat masuk akal; Toh ini Kim Gyuri yang mereka bicarakan). Tetapi, separuh hati sang Alpha muda gelisah kalau-kalau alasan Paman Mingyu menentang adalah karena Yido dianggap tidak pantas bersanding dengan putrinya.

Ego Alpha-nya terusik. Jika ada yang pantas mencintai Gyuri, maka seharusnya pangeran kerajaan penerus negara ini adalah kandidat nomor satu, bukan? Sedari kecil ia ditempa oleh pelajaran di bidang tata negara, sosial politik, militer dan sejarah kerajaan, selain etiket dan budaya. Dirinya lah yang paling paham apa yang dibutuhkan negara ini beserta masyarakat di dalamnya. Ayahnya tidak mengajak Yido turut serta dalam pelaporan para warga setiap paginya sejak ia remaja untuk menjadikan pengetahuannya sia-sia belaka. Ia bahkan berhasil mengimplementasikan taktiknya dalam mengenyahkan potensi pemberontakan di sisi Utara dekat perbatasan beberapa bulan yang lalu.

Semenjak Kak Seongso menunjuk Kak Nara sebagai pengantinnya, orangtuanya telah mempersiapkan Yido sebagai penerus utama tampuk kepemimpinan.

Tapi kenapa Paman Mingyu masih saja merasa itu tidak cukup?

Apa lagi yang harus Yido lakukan agar Paman Mingyu bersedia memberi tangan Gyuri kepadanya??

Pikirannya kalut oleh berbagai suara yang saling bertentangan. Sekali lagi, pemuda berusia sembilan belas itu menghela napas. Kemeja putihnya yang terbuat dari sutra kualitas terbaik itu kini nampak acak-acakan, hasil kebiasaan buruknya yang suka berjalan kian-kemari ketika tenggelam dalam pemikirannya sendiri—mengelilingi peraduan, bahkan satu istana, tanpa sadar. Ibunya bahkan pernah menyadarkan putra tertuanya itu dengan menepuk kepalanya kuat-kuat, mengejutkan ayahnya yang tak sengaja menyaksikan kejadian itu.

Setiap detik terbuang tanpa jawaban dari keluarga Kim adalah setiap detik keyakinan akan bobot dirinya tercungkil mengenaskan. Ia perlu tahu reaksi Paman Mingyu dan Paman Joshua atas surat itu dan berdiam diri di istana tidak akan membawakannya jawaban yang ia cari.

Tugasnya sebagai pangeran kerajaan untuk hari itu sudah selesai. Saatnya Choi Yido menyelinap keluar dengan memanjat tembok istana dan mengganti mahkota emasnya dengan topi pet sederhana yang senantiasa dikenakan anak penjaja koran di jalanan tengah kota.

Ah, ya, lihat kan?

Bagaimanapun, Choi Yido adalah anak ibunya.