3. Choi Yido dan Keluarga Kim

Mengendap-endap merintangi kegelapan malam yang dihiasi temaram cahaya lampu gas dari berbagai kedai dan bar adalah salah satu keahlian tersembunyi Choi Yido. Ia sering melakukannya—sudah melakukannya semenjak ia resmi menjadi Alpha. Berbaur bersama masyarakat biasa dalam samaran baju sederhana dan sedikit improvisasi—corengan debu maupun arang di pipi, sengaja berlari sejenak agar tampilannya penuh peluh dan lusuh seakan ia telah bekerja keras seharian—merupakan cara yang ia pilih untuk mengenal kerajaannya sendiri dari dalam. Wajahnya yang sungguh mirip Yang Mulia Pendamping Raja membuatnya harus agak kreatif bila tak ingin dikenali, namun toh sampai detik ini tidak ada panggilan ke ruang singgasana maupun Dewan Tetua untuk mempertanyakan 'kegiatan ekstra'-nya. Ia akan sedikit egois dan menganggap hal tersebut sebagai kemenangan kecil.
Setelah meloncati tembok istana, Alpha muda itu tidak langsung menuju kediaman keluarga Kim. Ia menyempatkan diri ke kedai kenalannya untuk bercakap-cakap sejenak sambil menikmati ikan halibut dibalur tepung dan digoreng garing, lengkap dengan saus tartar dan kentang goreng buatan sendiri. Hidangannya panas dan lezat, membuat sang Alpha mendesah puas kekenyangan. Setelah menghabiskan hampir dua jam di sana, ia pun pamit undur diri, sudah tidak sabar ingin menemui sang Omega kekasih hati.
(Tidak tahu diri, padahal status kalian juga belum resmi.)
(Diamlah.)
Terkadang, Alpha di dalam dirinya senang mengundang perselisihan, bahkan terhadap manusianya sendiri. Benar-benar menyusahkan.
Karena telah hafal di luar kepala, jejak-jejak kakinya menuju kediaman keluarga Kim tertinggal mulus sepanjang jalanan tanpa keraguan. Terletak cukup jauh dari keramaian jalan raya, di antara rumah-rumah megah kaum elit lainnya, berdiri mansion besar yang dihadiahkan ayahnya pada Paman Mingyu sebagai hadiah pernikahannya dahulu kala. Mansion yang awalnya milik Tuan Raja pribadi, kini menjadi milik adik sepupu satu-satunya itu. Dihuni tiga orang anggota keluarga Kim, seorang kepala pelayan, dua orang penjaga istal kuda, seorang supir pribadi, dan belasan pelayan serta tukang kebun, rumah tersebut tak pernah berhenti hidup, bahkan lebih aktif dari istana kerajaan dengan penghuni yang jauh lebih banyak lagi. Rumah yang selalu dirindukan Choi Yido, baik ketika masih kecil dulu maupun saat ini.
Bel yang menggantung di sisi pintu depan sengaja ia tarik. Gemanya menyadarkan setiap penghuni akan kehadiran seorang tamu, namun hanya satu orang yang bertugas membukakan pintu: Tuan Jung, kepala pelayan mereka. Setelah Tuan Park pensiun dan pulang ke kampung halamannya, Tuan Jung lah yang menggantikan tugasnya mengatur rumah tangga keluarga Kim, termasuk menyortir tamu-tamu tak diinginkan sebelum ujung sepatu mereka sempat menapak di ambang pintu. Karena itu lah, Tuan Jung mengenal siapa gerangan pemuda yang membunyikan bel malam itu.
“Yang Mulia,” buru-buru ditundukkannya kepala dan dibungkukkannya badan, tetapi Yido segera memegang bahunya untuk menghentikan.
“Tuan Jung, saya mohon,” seringai lemah ditariknya menghiasi wajah. “Bukankah sudah saya bilang? Di sini, saya hanya keponakan Paman Mingyu dan teman sejak kecil Ri. Saya akan sangat berterima kasih kalau saya diperlakukan tiada berbeda.”
“Ah...maaf, saya refleks saja...,” agak tersipu malu, Tuan Jung mengangguk beberapa kali. “Maafkan saya, Tuan Choi. Saya...tidak akan mengulanginya lagi.”
Mendengar itu, seringai Yido berubah menjadi senyuman lega. “Nah, nah, anggap saja tidak terjadi apapun. Apakah Ri ada di rumah, Tuan Jung? Jika ya, saya ingin bertamu.”
Tuan Jung mempersilakan tamunya masuk dengan membuka pintu lebih lebar. Yido menerima undangan tersebut dengan anggukan sopan, sebelum mulai melepas mantel yang ia kenakan sebagai kamuflase. Warnanya gelap dan bahannya kasar—barang murahan yang ia beli dari toko pakaian bekas di kota bagian Timur. Topi pet berwarna serupa pun ia lepas, membiarkan Tuan Jung dengan sigap menerima dan menyampirkan artikel pakaian tersebut di tiang gantungan dekat pintu masuk. “Nona ada di rumah, tapi Tuan Kim dan Tuan Hong sepertinya hendak pergi,” jawab sang kepala pelayan, membuat Yido membeku di tempat.
“Paman akan pergi? Berarti rumah akan kosong?” tentunya bukan kosong 'kosong', tetapi Tuan Jung menangkap maksudnya. Tidak baik bila seorang Alpha bertamu ke rumah seorang Omega tanpa kehadiran orangtuanya.
“Benar, Tuan.”
“Jika begitu, apa lebih baik saya kembali lain waktu—”
“Yido?”
Ah. Terlambat.
Tumit sepatunya berputar. Paman Joshua sudah bergegas mendekatinya dengan lengan terbuka lebar dan senyuman tulus di wajahnya. “Kenapa nggak bilang mau dateng? Kamu udah makan?” Yido membiarkan dirinya dipeluk erat. Wangi kue jahe dan mentega hangat merasuki indra penciumannya, membuat hatinya seketika nyaman. Seperti wangi ibunya, wangi Paman Joshua secara ajaib selalu mampu menentramkan perasaan, meski baginya tak ada Omega yang wanginya sememikat Kim Gyuri.
“Sudah, Paman, barusan saja,” ucapnya setelah pelukan terlepas. “Maaf saya datang tanpa pemberitahuan. Saya hanya...eh...” Kemudian, Alpha muda itu menunduk malu-malu. “...tiba-tiba saja ingin bertemu Gyuri...” Setengah hati Joshua menjerit gemas, setengahnya mau ketawa pakai hidung melihat muka Yoon Jeonghan bertingkah bak remaja kasmaran (bagaimanapun, rasanya tetap aneh ketika anak sahabat baikmu memiliki wajah persis sama dengannya).
“Ah, sebenernya kita mau keluar makan malam sih...,” diangkatnya kepala saat menyadari kedatangan seseorang dari balik tembok. “Oh. Mingyu.”
Deg.
Jantung Yido melonjak dari rongga dada. Mendengar nama pamannya disebut, pemuda itu pun teringat kembali akan alasan sesungguhnya ia bertolak menuju rumah ini: untuk mencari tahu mengapa Paman Mingyu belum juga menjawab pinangannya pada sang putri. Diam-diam diteguknya ludah. Jakunnya naik-turun perlahan.
”...Yido?” Mingyu memanggilnya.
“Gyu, Yido mau ketemu Ri,” Joshua mendekati suaminya, otomatis mengalungkan lengan ke sekeliling pinggang sang Alpha. “Tapi kita mau pergi makan. Apa kita batalin aja rencana nge-date kita?”
“S-saya akan datang lagi lain kali!” segera, Yido menyergah ucapan Paman Joshua. Ia tidak ingin merusak rencana milik siapapun atas keegoisannya. Bertemu Gyuri masih bisa lain kali. Bertanya dan meminta kejelasan pada Paman Mingyu pun masih bisa ditangguhkan. Toh, selama tak ada Alpha atau Beta lain yang meminta tangan Gyuri, maka Yido aman.
“Yido,” tapi Mingyu memanggil namanya sekali lagi, dalam nada lembut kali ini. Alpha muda itu pun mengangkat wajah untuk menatap pamannya tepat di mata. “Duduklah, Nak. Tuan Jung, tolong bawakan teh dan kue-kue.” Sang kepala pelayan segera membungkuk hormat sebelum undur diri. Gestur sang Alpha tua mengajak mereka untuk berpindah ke ruang keluarga yang lebih nyaman, lengkap dengan perapian yang telah dinyalakan. Fokus Mingyu kemudian berpindah pada suaminya. “Kamu tidak apa-apa rencana kita batal, Sayang? Kamu tidak lapar?” tanyanya.
Joshua tersenyum kecil, lalu mengecup lembut pipi kekasihnya. “Aku minta makanan ke dapur aja, nggak pa-pa kok. Palingan dicemberutin dikit,” kekehnya ringan. Juru masak keluarga Kim terkenal akan kelezatan hidangannya dan sifat suka mengomelnya (walau, menurut Joshua, mirip ibu yang suka khawatiran akan anaknya). “Nanti aku balik lagi. Jangan sok galak kamu ya. Anak kakak kamu tuh. Anak sahabat aku juga.”
“Sayang! Aku tidak—” belum sempat Mingyu protes sambil terbata, Joshua sudah berlalu, meninggalkan suara tawanya yang bagaikan musik di telinga sang Alpha. Buru-buru Mingyu berdeham, berusaha mengembalikan wibawanya sebagai kepala keluarga, dan mengajak Yido, keponakan serta calon pemimpin negara ini, ke ruang keluarga.