1. Joshua dan Mingyu

#gyushuaabo22yl

Dua puluh dua kali musim semi telah silih berganti semenjak Joshua Hong menikahi Kim Mingyu di kapel kecil kala itu. Sang Alpha yang dulu gagah dan tampan, kini rambutnya diselimuti uban dan garis-garis keriput mulai menghiasi kulit warna tembaganya. Sang Omega yang dulu begitu muda dan penuh gairah, kini jauh lebih tenang dengan wajah cantiknya tergurat jelas oleh kedewasaan. Namun, yang tak berubah dari mereka adalah bagaimana mereka masih saling mencintai bahkan ketika masing-masing telah menginjak usia 60 dan 40 tahun.

Cinta yang semakin erat saat topik menggelisahkan akan lamaran muncul kembali ke permukaan.

Mingyu menghela napas dalam-dalam. Di pangkuannya terbuka surat yang berasal dari amplop bersegel kerajaan. Tanda bahwa surat tersebut resmi dikirim dari istana. Di sisinya, Joshua setia menemani sang suami, mengelus-elus lembut bahunya untuk menenangkannya.

“Sayang...,” gumamnya. “Jangan terlalu dipikirin...”

“Bagaimana aku tidak memikirkannya, mereka meminta tangan Ri...,” ketakutan terbesar Kim Mingyu akhirnya terwujud juga. Semenjak putri semata wayangnya itu menarik perhatian dua pangeran kerajaan sekaligus, hati kecilnya gusar berkepanjangan. Ia sungguh tidak sanggup untuk memberikan tangan sang putri ke pasangannya nanti di altar pelaminan.

“Mingyu, kamu ini...,” helaan napas Joshua tidak kalah berat. Benar-benar deh, suaminya ini, padahal sudah tua tapi malah bertingkah mirip anak-anak. “Ri udah gede, Gyu. Dia udah dewasa.”

“Ri masih tujuh belas,” sanggah sang Alpha.

“Terus siapa yang pas aku tujuh belas dulu udah cium-cium bibirku, ha?” sambil menunjukkan ekspresi tidak terkesan, Joshua langsung membalas, membuat suaminya gelagapan, tak sanggup membantah, dan kedua pipinya memerah. Joshua sih hanya memutar bola mata akan reaksi (menggemaskan) itu. “Yeah, thought so.”

“Te-tetap saja aku tidak setuju kalau Ri menikah semuda itu. Seharusnya Ri masih menikmati hidupnya, menapaki dunia, meraih mimpi-mimpinya. Kondisi sekarang dan saat kita menikah dulu juga sudah berubah pesat,” merajuk dengan begitu keras kepalanya. Separuh hati Joshua ingin menjitak suaminya, separuh lagi ingin menciumi cibiran bibirnya itu sampai egonya luluh lantak.

Alih-alih, Joshua menangkup pipi Alphanya. “Mingyu. Kamu inget nggak? Kamu bilang kalo aku bisa ngelakuin apapun yang aku mau bahkan setelah kita nikah. Apa hal yang sama nggak berlaku buat putri kita?” ingatnya akan ucapan sang Alpha sendiri.

“Tapi Yido putra mahkota—”

“Kamu putra mahkota.”

Mingyu spontan menggeleng. “Aku hanya... kebetulan berbagi sedikit darah dengan Kak Cheol.. Berbeda dari Yido yang benar-benar penerus kerajaan...,” kemudian Mingyu melanjutkan. “Keluarga kerajaan itu ada tata krama, ada adat yang telah turun-menurun dilakukan. Aku...takut Ri akan terkekang meski telah menikah sekalipun...”

Joshua rasanya kepingin ketawa pakai hidung. “Mingyu! Ini anak Yoon Jeonghan lho!” terlepaslah tawa yang lugas dari sang Omega. “Mana mungkin Yido perlakuin putri kita kayak gitu. Ibunya aja mau kabur pas hari pernikahan dia sendiri.” Aah~ jadi mengenang masa lalu deh~ “Udahlah, kamu tenang aja. Tuan Raja kan cuma ngasih tau kalau Yido mau secara resmi deketin Ri di surat itu. Belum tentu juga Ri mau dipinang Yido.”

“Be...tul juga sih...”

“Soalnya firasatku bilang putri kita udah punya orang yang dia taksir dari dulu nggak sih...?” 🤔

...........

“Maksudmu...?”

“Kibum, lho, Kibum,” Joshua pun mencubit gemas pipi suaminya.

Kwon Kibum. Anak dari Kwon Soonyoung dan Wen Junhui. Rival sejati Choi Yido, anak dari Choi Seungcheol dan Yoon Jeonghan. Berdua, mereka sama-sama memiliki takhta di tangan mereka, meski nasib mereka sungguhlah berbeda. Bila Yido adalah penerus kerajaan yang terkukung singgasana, maka Kibum bebas berkelana ke manca negara, melihat dan mempelajari segala hal yang ia minati. Namun, keberadaan Kibum yang tercatat adalah dua tahun yang lalu. Sejak itu, mereka tidak lagi mendengar akan kabarnya.

“Kwon? Bukankah anak itu menghilang?” kedua alis Kim Mingyu terangkat. “Kudengar dia dinikahkan dengan Omega di negara kelahiran ayahnya.”

Joshua meringis, “Yah, rupanya itu rumor aja. Kebetulan ada 'burung kecil' yang nginfoin aku kalo Kibum lagi menuju sini, rumah kita. Expect to see him in a week, katanya.”

“Rumah kita? Untuk apa?”

“Menurutmu?” Joshua malah balik bertanya. Nadanya jahil seperti kilau di mata indahnya. “Putri kita mau 18 sebentar lagi, Gyu.”

Ketika pengertian jatuh menimpa Kim Mingyu, raut wajahnya kembali tegang. “Oh tidak...,” keluhnya. “Mereka serius dengan Ri? Yang satu telah meminta tangan Ri di surat, yang satu akan muncul di sini? Oh tidak. Tidak, tidak bisa...”

“Hei, hei, hei, don't crash out on this, Gyu.”

“Tapi katamu Ri mungkin menyukai Kibum!” Mingyu semakin tidak bisa menahan frustrasinya. “Kalau begitu, putri kita akan dibawanya pergi. Kita tidak bisa melihatnya lagi! Sebagai ayahnya, aku tidak mengijinkan putri kita diboyong ke istana atau dibawa keliling dunia! Langkahi dulu mayatku!”

Berderap penuh emosi, sang Alpha kemudian menyingkir ke ruang kerjanya, berniat mengurung diri di sana. Joshua menghela napas lagi. So dramatic. Semua ini hanya karena Mingyu tidak ingin kehilangan putri satu-satunya. Mungkin seharusnya dulu Joshua mengikuti saran Jeonghan untuk memiliki anak lagi.

(Nope, cukup sekali ia merasakan sakit seperti itu, never again).

Entahlah apa yang akan terjadi ketika Kibum sudah memijak kediaman keluarga Kim dan Yido yang mengetahui kedatangan rival abadinya itu. Chaos ensued, probably.