179.
“Mingyu...”
narrative writings of thesunmetmoon
“Mingyu...”
Mingyu memeluk Minghao yang menangis sejadinya dalam pelukan. Alisnya mengernyit penuh penyesalan. Giginya digertakkan.
Perhatian, perhatian. Api telah menjalar dari lantai 5. Api telah menjalar dari lantai 5. Mohon mengikuti instruksi evakuasi dari para petugas lantai dan harap tetap tenang. Bagi tenant di lantai 11 dan 21, harap turun sekarang—
Selamat pagi dan siang sekaligus, Hao. Maaf ya saya buatin makan pagi dan makan siangnya barengan, soalnya siang nanti saya bakal keluar kantor. Mungkin nanti bisa Hao hangatkan makan siangnya di microwave? Semoga Hao suka ya. Maaf sekali lagi > <
“O-oh gitu....”
“Tapi percuma, Kak,” lagi-lagi, Mingyu terkekeh. “Dia ngeliat ke gue juga enggak. Cuma abang gue aja yang dia liat. And somehow, gue jadi kebiasa. Gue pikir, ya sudahlah, kalo gue nggak bisa jadi pacar dia, gue bantu dia jadian sama abang gue aja. Yang penting dia bahagia, Kak.”
Rinai hujan semakin deras di luar.
“Kak...”
Desau napas.
“Don't. Let me tell the story instead.”
Bunyi televisi. Setelah acara berita berlalu, program talkshow entah-apa menyambungnya. Jarum jam di dinding tepat di atas set televisi. Di luar, tetes hujan mulai membentur kaca jendela kamar kost Mingyu.
Pintu kamar terbuka dan keluarlah Kim Mingyu. Kaus hitam pas di badan, celana training hitam, dan handuk bertengger di kepala. Rambutnya kusut masai serta masih basah.
“Udah mesen makanannya, Kak?”
“Sori ya, Kak, berantakan.”
Yang mana adalah kebohongan besar. Mungkin ini kost cowok terapi yang pernah Minghao masuki, tentunya selain tempat tinggalnya sendiri. Tak ada yang serapi dirinya.
Wonwoo bermimpi. Di dalam mimpinya, ia bisa melihat dirinya sendiri, mengguratkan jari-jemari hingga kuku-kukunya patah dan mememarkan darah di tembok yang dingin dan kokoh. Mengemis, memukul, mendorong, namun tembok itu bergeming. Di dalam mimpinya, ia menangis dan menangis.
Dan menangis.