Mingyu dan Seokmin adalah teman sejak kecil. Ayah mereka berteman sejak masih kuliah, sampai mereka sukses, menikah dan memiliki anak. Walau sama-sama Alpha dan pemilik perusahaan besar, industri yang mereka kuasai toh berbeda sehingga tak ada persaingan di antara mereka. Bisa dikatakan, tak ada yang menghalangi hubungan kekerabatan kedua keluarga. Mingyu tumbuh bersama Seokmin, berbagi tawa dan kenakalan bersama.
Sampai datanglah hari itu. Hari dimulainya keretakan hubungan mereka.
Jeonghan menangkup wajah itu. Ia sudah menyerah untuk mencoba menghapus segala jejak basah di pipi Joshua ketika mata yang sama terus saja mengucurkan tangis tanpa tanda-tanda akan berhenti.
Ibu jari seseorang mendadak mengusap lelehan tangis dari sudut matanya. Kaget akan keberadaan orang lain yang telat disadarinya, perlahan, dengan lemah, Joshua pun menoleh.
Ketika matanya membuka, langit-langit gelap lah yang pertama ia lihat. Kepalanya kopong. Tetesan infus dan bunyi bip-bip teratur terdengar. Bau yang asing. Kasur yang asing. Ruangan yang asing.
Urusan administrasi selesai. Ruangan kelas I. Biaya IGD. Jeonghan sadar sepenuhnya kalau tidak ada reimbursement yang akan diberikan padanya. Dia duduk di kursi samping kasur. IGD malam itu tergolong sepi, hanya ada beberapa tirai sekat pasien yang ditutup.
Ada sesuatu dari rumah sakit yang sanggup meninggalkan kesan berbeda-beda bagi tiap pengunjungnya. Seseorang mungkin membenci rumah sakit karena orang yang penting baginya wafat di sana. Seseorang mungkin bersikap apatis, sekadar tempat berobat.
.....Tidak ada apapun di mejanya pagi itu. Minghao terhenyak. Biasanya, begitu ia sampai, sarapan sudah tersaji cantik di mejanya, terkadang dengan makan siang.
Panas. Terik menyelekit, membuat Wonwoo diam-diam membuka kancing kedua kemeja putihnya yang longgar. Asisten Mingyu bernama Seokmin itu berbaik hati memakaikan topi dan kacamata hitam pada sang Omega sebelum turun dari mobil tadi, paham bahwa kebanyakan Omega tidak kuat dijemur di bawah mentari siang hari bolong. Apalagi akhir-akhir ini Jakarta panas banget, liek, P-A-N-A-S banget, ngebakar sampai ke kulit, nggak paham lagi, ya Allah...
Terlebih lagi, menilik di mana mereka berada sekarang...
Minghao tidak mengindahkan sapaan itu. Masih terkantuk-kantuk, separuh sadar, ia melipir ke Jun yang sedang memotongi daun bawang. Kepul uap melayang dari periuk tanah liat di atas kompor. Aroma bubur tercium kentara di dapur mereka. Alpha-nya memasak sarapan dengan celemek bergambar kucing gemas.