narrative writings of thesunmetmoon
Ngantuk. Ngantuk banget. Tanpa ditonton, Joshua sengaja menghidupkan televisi sambil maenan hape, menunggu kedatangan Soonyoung. Kost-an Joshua adalah sebuah kamar sederhana. Begitu pintu dibuka, ada jeda kecil yang Joshua jadikan ruang menonton dan makan dengan menggelar karpet bulu imitasi serta bantal-bantal bundar di depan sebuah televisi kecil harga sejutaan. Tentunya nggak ada meja selain untuk menaruh televisi tersebut.
Di bagian bawah apartemen murah bertingkat enam itu ada sebuah taman sederhana yang dimaksudkan untuk penghuni beristirahat sejenak di antara pepohonan. Meski tidak serindang dan seindah yang diharapkan pada awalnya, setidaknya ada bangku panjang dari kayu yang muat untuk diduduki tiga orang dewasa sekaligus. Namun, keberadaan taman umum yang tidak jauh dari situ membuat taman apartemen hampir selalu sepi manusia, sehingga Jeon Wonwoo dan Kwon Soonyoung dapat duduk di sana untuk menenangkan diri.
(“Tapi, asli, seneng banget Gyu ngeliat Bang Won ngajarin Abang masak nasi.”
“Eh?”
“Iya, soalnya Bang Won tuh galak kesumat kan. Senggol bacok gitu orangnya. Kayak kena batunya dia kudu ngajarin Abang pake seluruh kesabaran yang dia punya wkwk.”
Dear Mama,
Halo, Ma, ini Wonu.
Mama apa kabar?
Maaf ya, Ma, Wonu baru hubungin Mama. Wonu takut, Ma. Takut Mama masih marah karena Wonu pergi dari rumah. Takut Papa juga bakal ngamuk kalo Wonu hubungin Mama. Maafin Wonu karena Wonu cuma berani nulis surat ke Mama. Maafin Wonu ya Ma.
“Jeon Wonwoo.”
“Hmm.”
”...Lagi ngapain?”
Wonwoo mendelik, menemukan sebuah kepala mengintip dari ambang pintunya. Kepala itu berwajah cemas, jelas-jelas menunggu jawaban dari yang ditanya. Wonwoo menghela napas.
“Lagi ngerjain tugas anak-anak.”
Wajah Mingyu tak ayal memerah. Anak itu menunduk, cukup salah tingkah. Ia memainkan ujung bajunya, dengan cemas menanti reaksi sang kekasih. Jeonghan masih memasang paras takjub. Bibirnya membuka dan matanya membelalak. Iya sih, dia ingat kalau dirinya yang bilang sendiri ke Mingyu kalau preferensinya itu switch, alias dia suka menjadi keduanya.
Tidak ada yang Jeonghan benci lebih dari asumsi orang-orang saat melihat wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang ramping, lalu menganggap dia sebagai ultimate bottom.
Wonwoo terbangun oleh sentuhan halus di mukanya. Angin sepoi-sepoi membelai rambutnya dari jendela yang dibuka. Harum bunga di bawah siraman sinar mentari pun tercium. Ada suara kuyu seekor kucing, lalu pergerakan di bagian kaki tempat tidur, sebelum kucing itu melungkar, menaruh beban tubuhnya di sisi kaki Wonwoo.
Telapak tangannya lembab. Jantungnya berdentum keras. Hari pertama di kantor baru. Dia duduk bersama beberapa trainee lainnya di ruang meeting utama yang besar. Mereka semua direkrut secara bersamaan untuk posisi yang sama, sebagai MT. Dari awal mereka akan diajari, diolah di semua bidang agar bisa ditempatkan di departemen-departemen yang sesuai. Mungkin setelah satu tahun, Joshua akan ditempatkan di sales, atau di marketing, atau di mana saja sesuai dengan kebutuhan perusahaan.