<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>wwnatsume &amp;mdash; 🌾</title>
    <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wwnatsume</link>
    <description>narrative writings of thesunmetmoon</description>
    <pubDate>Fri, 24 Apr 2026 21:03:58 +0000</pubDate>
    <image>
      <url>https://i.snap.as/K7JGOEOo.png</url>
      <title>wwnatsume &amp;mdash; 🌾</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wwnatsume</link>
    </image>
    <item>
      <title>54.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/54-x81g?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wwnatsume&#xA;&#xA;Saat ia tersadar, bulan telah menggantung di langit. Gesekan sayap jangkrik memenuhi malam di musim panas tersebut. Mingyu bangkit ke posisi duduk sambil memijat lehernya yang pegal. Dedaunan tebal menjadi alas pengganti kasur di bawahnya, begitu juga selimut dadakan. Benar juga. Ia tidak memakai baju ketika berubah dari wujud aslinya ke tubuh manusia. Selimut dan alas tidur itu pasti dipakaikan Minghao kepadanya agar ia tidak masuk angin.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Minghao.&#xA;&#xA;Sekelebat ingatan memastikan dirinya bahwa Minghao baik-baik saja. Ia pun kemudian berdiri, secara refleks berjalan tertatih untuk menemukan sang Kappa, ingin memastikan bahwa ia benar baik-baik saja, bahwa mangkuknya kini telah penuh terisi air dan ia takkan mati dehidrasi. Rerumputan yang ia injak bergemerisik di antara riuhnya bunyi jangkrik. Nyanyian katak ikut menyelip di antaranya, sementara, di sekeliling Mingyu, kunang-kunang berseliweran dengan cahaya kuning lembut di ujung pantat mereka, menjadikan suasana malam itu makin syahdu. Suara air berkecipak terdengar ketika Mingyu semakin dekat dengan kolam sang Kappa. Ia menyibak selembar daun lebar yang besar.&#xA;&#xA;Lalu, napasnya bagai terhenti.&#xA;&#xA;Jantung Mingyu berdebar kencang hingga bunyinya memekakkan telinga. Padahal, ini bukan pertama kalinya. Bukan pula pemandangan baru. Namun, berdiri di sana di tengah kolam, telanjang bulat, dengan bagian pinggul ke bawah tertutup air, disinari kerlap-kerlip kunang-kunang, Minghao nampak seperti peri. Kappa itu meraih air dengan kedua tangannya yang tertangkup, lalu menumpahkan air itu ke dadanya. Mingyu meneguk ludah. Air pun mengalir, menuruni kulit yang putih serta puncak dadanya yang menonjol, kecil dan imut dan--dan--&#xA;&#xA;Tahu-tahu saja, ia sudah berada di dalam air juga, menempelkan tubuhnya ke tubuh sang Kappa dari belakang. Alih-alih terkejut, Minghao hanya menghela napas. &#34;Inugami...,&#34; keluh Minghao. Kedua tangan Mingyu yang besar perlahan mengelusi kedua pahanya. Kulit Kappa terkenal licin dan halus, mirip kulit ikan. Ekor Minghao yang mungil menjuntai seperti tunggir ayam tanpa bulu, menggesek perut bagian bawah Mingyu yang sensitif. Cangkangnya entah di mana, tidak dikenakannya.&#xA;&#xA;Sang siluman anjing sibuk mengendusi tengkuk dan sisi leher sang Kappa. Biasanya bau Kappa adalah bau lumut dan amis. Tetapi, kali ini berbeda. Ada bau sesuatu, entah apa, sangat harum dan merasuk, menggugah dirinya. Tak sabar. Telapak tangan pelan menelusuri kulit mulus. Bunyi endusan, intensif dan mencari, mencari; penasaran.&#xA;&#xA;(Endus endus endus)&#xA;&#xA;&#34;Mingyu...,&#34; Minghao sukarela memiringkan kepalanya agar Mingyu bisa melekatkan hidungnya di sana. &#34;Gue lagi mandi...&#34;&#xA;&#xA;Siapapun yang mengintip Kappa ketika sedang mandi, akan dimakan sampai tak bersisa.&#xA;&#xA;Jilatan. Panjang dan lunak, basah pada tengkuknya. Seketika itu juga, bulu kuduk sang Kappa berdiri. Dada Mingyu kokoh di punggungnya. Luka yang disebabkan oleh angin Kamaitachi telah tertutup karena energi Minghao kembali lagi, namun bekasnya masih ada dan terasa kasar di dada Mingyu, mengingatkan siluman itu akan apa yang telah dialami sang Kappa akibat kelalaiannya semata. Ingin Mingyu menjilati seluruh tubuh Minghao dalam wujud aslinya, menutup segala luka yang dideritanya saat berhadapan dengan Kamaitachi, namun saat ini, ia sudah cukup puas dengan menjilati leher jenjang itu, seolah ia sanggup mencicipi lezatnya aroma di sana dengan melakukan itu.&#xA;&#xA;Sang Kappa, mulai melemas, menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Mingyu. Ia bisa merasakan ada yang mendesak bokongnya, menetap di sana, di antara kedua tubuh. Karena tangan Mingyu terus saja mengelusi pahanya, maka Minghao berpegangan pada lengan-lengan besar itu. &#34;Mmh-ah...,&#34; erangan lembut terlepas dari bibir sang Kappa. Tubuhnya mulai memanas. Ia mulai terangsang oleh sentuhan-sentuhan siluman anjing tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Hao...,&#34; geraman rendah terdengar. Pupilnya mengecil, menyusutkan fokusnya hingga otaknya hanya punya satu kata yang melayang-layang di dalam kepala: bayi. Sebuah insting untuk melanjutkan keturunan. Tak kunjung lepas ia menghirup dalam-dalam wangi tubuh Minghao, mengambilnya sampai ia puas. &#34;Hao...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jangan-jangan, siklus rut lo...?&#34; Minghao menoleh.&#xA;&#xA;(&#34;Emang nggak ada cara lain, Hao?&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Ada sih.&#34;)&#xA;&#xA;Begitu ia menoleh, bibir Minghao ditekan paksa oleh bibir lain. &#34;Ngh--&#34; ciuman yang dengan cepat berubah mendalam. Ini bukan sentuhan bibir seperti tadi, ketika ia mencoba menyelamatkan Mingyu. Ini sesuatu yang sama sekali baru. Perpaduan antara ketergesaan dan nafsu, juga keinginan untuk mendominasi. Bagai prajurit yang mempunyai hanya satu misi.&#xA;&#xA;&#34;Gyu...,&#34; ciuman pun lepas, untuk satu-dua detik saja, karena Mingyu memutar tubuhnya lalu kembali menciumi sang Kappa di dalam pelukan. Harum itu merusak akal sehatnya, juga lidah Minghao pada lidahnya, geligi yang terkadang saling terantuk dan bibir yang merekah penuh, nikmat untuk digigiti, berbeda jauh dari bibir kering sebelumnya.&#xA;&#xA;&#34;Ah...,&#34; di ujung lidah mereka berdua, ada benang liur tercipta. Minghao menarik kepalanya hingga benang itu putus, lalu menjilat bibirnya sendiri. Napas mereka berdua mulai terengah, apalagi Mingyu yang dengan cepat memasuki masa rut-nya. Aneh sekali. Padahal ia yakin hari ini belumlah siklusnya.&#xA;&#xA;&#34;Hao,&#34; ekor tak kasat mata Mingyu mengibas-ngibas kencang. Ditangkupnya pipi dan disekanya bibir Minghao dengan ibu jari. &#34;Please...?&#34;&#xA;&#xA;Pecah. Suaranya. Pertahanannya. Koyak, oleh bibir lembut di bawah sentuhannya itu. Oleh kulit mulus dan pinggul yang seksi. Oleh kulum senyuman di wajah cantik itu.&#xA;&#xA;Oleh sang Kappa, dengan mata sejernih langit di malam musim panas serta wangi yang membuatnya limbung.&#xA;&#xA;(&#34;Kalo nggak kita makan, ya kita kawinin.&#34;)&#xA;&#xA;&#34;Gyu, do it,&#34; perintahnya.&#xA;&#xA;And he did.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wwnatsume" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">wwnatsume</span></a></p>

<p>Saat ia tersadar, bulan telah menggantung di langit. Gesekan sayap jangkrik memenuhi malam di musim panas tersebut. Mingyu bangkit ke posisi duduk sambil memijat lehernya yang pegal. Dedaunan tebal menjadi alas pengganti kasur di bawahnya, begitu juga selimut dadakan. Benar juga. Ia tidak memakai baju ketika berubah dari wujud aslinya ke tubuh manusia. Selimut dan alas tidur itu pasti dipakaikan Minghao kepadanya agar ia tidak masuk angin.</p>



<p><em>Minghao.</em></p>

<p>Sekelebat ingatan memastikan dirinya bahwa Minghao baik-baik saja. Ia pun kemudian berdiri, secara refleks berjalan tertatih untuk menemukan sang Kappa, ingin memastikan bahwa ia benar baik-baik saja, bahwa mangkuknya kini telah penuh terisi air dan ia takkan mati dehidrasi. Rerumputan yang ia injak bergemerisik di antara riuhnya bunyi jangkrik. Nyanyian katak ikut menyelip di antaranya, sementara, di sekeliling Mingyu, kunang-kunang berseliweran dengan cahaya kuning lembut di ujung pantat mereka, menjadikan suasana malam itu makin syahdu. Suara air berkecipak terdengar ketika Mingyu semakin dekat dengan kolam sang Kappa. Ia menyibak selembar daun lebar yang besar.</p>

<p>Lalu, napasnya bagai terhenti.</p>

<p>Jantung Mingyu berdebar kencang hingga bunyinya memekakkan telinga. Padahal, ini bukan pertama kalinya. Bukan pula pemandangan baru. Namun, berdiri di sana di tengah kolam, telanjang bulat, dengan bagian pinggul ke bawah tertutup air, disinari kerlap-kerlip kunang-kunang, Minghao nampak seperti peri. Kappa itu meraih air dengan kedua tangannya yang tertangkup, lalu menumpahkan air itu ke dadanya. Mingyu meneguk ludah. Air pun mengalir, menuruni kulit yang putih serta puncak dadanya yang menonjol, kecil dan imut dan—dan—</p>

<p>Tahu-tahu saja, ia sudah berada di dalam air juga, menempelkan tubuhnya ke tubuh sang Kappa dari belakang. Alih-alih terkejut, Minghao hanya menghela napas. “Inugami...,” keluh Minghao. Kedua tangan Mingyu yang besar perlahan mengelusi kedua pahanya. Kulit Kappa terkenal licin dan halus, mirip kulit ikan. Ekor Minghao yang mungil menjuntai seperti tunggir ayam tanpa bulu, menggesek perut bagian bawah Mingyu yang sensitif. Cangkangnya entah di mana, tidak dikenakannya.</p>

<p>Sang siluman anjing sibuk mengendusi tengkuk dan sisi leher sang Kappa. Biasanya bau Kappa adalah bau lumut dan amis. Tetapi, kali ini berbeda. Ada bau <em>sesuatu</em>, entah apa, sangat harum dan merasuk, menggugah dirinya. Tak sabar. Telapak tangan pelan menelusuri kulit mulus. Bunyi endusan, intensif dan mencari, mencari; penasaran.</p>

<p><em>(Endus endus endus)</em></p>

<p>“Mingyu...,” Minghao sukarela memiringkan kepalanya agar Mingyu bisa melekatkan hidungnya di sana. “Gue lagi mandi...”</p>

<p><em>Siapapun yang mengintip Kappa ketika sedang mandi, akan dimakan sampai tak bersisa.</em></p>

<p>Jilatan. Panjang dan lunak, basah pada tengkuknya. Seketika itu juga, bulu kuduk sang Kappa berdiri. Dada Mingyu kokoh di punggungnya. Luka yang disebabkan oleh angin Kamaitachi telah tertutup karena energi Minghao kembali lagi, namun bekasnya masih ada dan terasa kasar di dada Mingyu, mengingatkan siluman itu akan apa yang telah dialami sang Kappa akibat kelalaiannya semata. Ingin Mingyu menjilati seluruh tubuh Minghao dalam wujud aslinya, menutup segala luka yang dideritanya saat berhadapan dengan Kamaitachi, namun saat ini, ia sudah cukup puas dengan menjilati leher jenjang itu, seolah ia sanggup mencicipi lezatnya aroma di sana dengan melakukan itu.</p>

<p>Sang Kappa, mulai melemas, menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Mingyu. Ia bisa merasakan ada yang mendesak bokongnya, menetap di sana, di antara kedua tubuh. Karena tangan Mingyu terus saja mengelusi pahanya, maka Minghao berpegangan pada lengan-lengan besar itu. “Mmh-<em>ah</em>...,” erangan lembut terlepas dari bibir sang Kappa. Tubuhnya mulai memanas. Ia mulai terangsang oleh sentuhan-sentuhan siluman anjing tersebut.</p>

<p>“Hao...,” geraman rendah terdengar. Pupilnya mengecil, menyusutkan fokusnya hingga otaknya hanya punya satu kata yang melayang-layang di dalam kepala: <em>bayi.</em> Sebuah insting untuk melanjutkan keturunan. Tak kunjung lepas ia menghirup dalam-dalam wangi tubuh Minghao, mengambilnya sampai ia puas. “<em>Hao</em>...”</p>

<p>“Jangan-jangan, siklus rut lo...?” Minghao menoleh.</p>

<p><em>(“Emang nggak ada cara lain, Hao?”)</em></p>

<p><em>(“Ada sih.”)</em></p>

<p>Begitu ia menoleh, bibir Minghao ditekan paksa oleh bibir lain. “Ngh—” ciuman yang dengan cepat berubah mendalam. Ini bukan sentuhan bibir seperti tadi, ketika ia mencoba menyelamatkan Mingyu. Ini sesuatu yang sama sekali baru. Perpaduan antara ketergesaan dan nafsu, juga keinginan untuk mendominasi. Bagai prajurit yang mempunyai hanya satu misi.</p>

<p>“Gyu...,” ciuman pun lepas, untuk satu-dua detik saja, karena Mingyu memutar tubuhnya lalu kembali menciumi sang Kappa di dalam pelukan. Harum itu merusak akal sehatnya, juga lidah Minghao pada lidahnya, geligi yang terkadang saling terantuk dan bibir yang merekah penuh, nikmat untuk digigiti, berbeda jauh dari bibir kering sebelumnya.</p>

<p>“Ah...,” di ujung lidah mereka berdua, ada benang liur tercipta. Minghao menarik kepalanya hingga benang itu putus, lalu menjilat bibirnya sendiri. Napas mereka berdua mulai terengah, apalagi Mingyu yang dengan cepat memasuki masa rut-nya. Aneh sekali. Padahal ia yakin hari ini belumlah siklusnya.</p>

<p>“Hao,” ekor tak kasat mata Mingyu mengibas-ngibas kencang. Ditangkupnya pipi dan disekanya bibir Minghao dengan ibu jari. “<em>Please...?</em>“</p>

<p>Pecah. Suaranya. Pertahanannya. Koyak, oleh bibir lembut di bawah sentuhannya itu. Oleh kulit mulus dan pinggul yang seksi. Oleh kulum senyuman di wajah cantik itu.</p>

<p>Oleh sang Kappa, dengan mata sejernih langit di malam musim panas serta wangi yang membuatnya limbung.</p>

<p><em>(“Kalo nggak kita makan, ya kita kawinin.”)</em></p>

<p>“Gyu, do it,” perintahnya.</p>

<p>And he did.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/54-x81g</guid>
      <pubDate>Sat, 29 Aug 2020 01:43:07 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>53.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/53-htbn?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wwnatsume&#xA;&#xA;Wen Junhui...?&#xA;&#xA;Wonwoo tidak tahu. Tidak kenal. Sama sekali tidak ingat pernah melihat wajah itu. Lagipula, ia baru melihat makhluk halus semenjak mereka pindah ke desa ini. Sebelumnya...tidak, tidak ada ingatan serupa.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Ia menoleh. Kembali sendirian, dengan sang rubah entah menghilang ke mana. Rasanya angin semakin dingin. Ia baru sadar kalau langit menggelap. Bebungaan yang mengelilinginya bersinar lemah, menciptakan penerangan samar-samar di sekeliling anak itu. Sepertinya konsep waktu masih ada di dunia ini, walau membingungkan Wonwoo karena ia sempat pingsan ketika diambil. Perutnya terasa nyeri. Ia kembali haus. Pun, kulitnya terasa lengket, ia perlu mandi.&#xA;&#xA;&#34;Jeon Wonwoo,&#34; sang rubah datang tiba-tiba, seperti yang sudah-sudah, kini dengan makanan di tangan. &#34;Aku tadi minta temanku bawain sesajen ke kuil rubah. Ini ada onigiri dan gorengan. Katanya, cuma ini yang bisa dia beli pake uang manusia yang dia punya.&#34;&#xA;&#xA;Ada keinginan untuk bertanya siapa teman yang dimaksud, namun perutnya berkata sebaliknya. Berbeda dengan sebelumnya, ia langsung menyambar dan memakan semuanya dengan lahap. Ia sudah tak peduli apakah makanan itu makanan sesajen atau diguna-guna sekalipun. Jeon Wonwoo lapar sekali.&#xA;&#xA;Sang rubah terus tersenyum selama Wonwoo makan. Kuping di atas kepalanya bergerak-gerak, begitu juga dengan ekornya yang terus menyibak tanah. Ia nampak senang karena pengantinnya akhirnya mau makan. Senyuman itu membuat Wonwoo perlahan kesal, tetapi ia harus menelan kekesalan itu bersama dengan butir-butir nasi. Ketergantungan. Oh, ia benci sekali menjadi seperti ini.&#xA;&#xA;&#34;Gimana? Enak?&#34; tanya sang rubah saat Wonwoo menelan potongan gorengan terakhir.&#xA;&#xA;Alih-alih menjawab, lelaki itu balik bertanya, &#34;Air. Saya haus.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalo kamu mau ngomong biasa aja ke aku, nanti kubawa ke sumber airku.&#34;&#xA;&#xA;Diam.&#xA;&#xA;&#34;Jangan pake saya. Aku nggak suka. Aku bukan makhluk asing. Aku kangen Wonu kecil yang dulu.&#34;&#xA;&#xA;Masih diam.&#xA;&#xA;&#34;Hmm?&#34; kuping rubahnya bergerak-gerak lagi.&#xA;&#xA;&#34;Kamu makhluk asing buat saya. Dan saya bukan dan nggak akan pernah jadi pengantin kamu,&#34; tegasnya.&#xA;&#xA;Soal keras kepala, Wonwoo takkan kalah.&#xA;&#xA;Sang rubah menghela napas. Usahanya masih gagal, rupanya. Ia kemudian berdiri dan berbalik, menyerah pada kepala batu pengantinnya. &#34;Ayo ikut,&#34; ajaknya. &#34;Kamu bisa minum banyak-banyak. Mandi pun bisa.&#34;&#xA;&#xA;Mandi. Wonwoo butuh itu.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wwnatsume" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">wwnatsume</span></a></p>

<p><em>Wen Junhui...?</em></p>

<p>Wonwoo tidak tahu. Tidak kenal. Sama sekali tidak ingat pernah melihat wajah itu. Lagipula, ia baru melihat makhluk halus semenjak mereka pindah ke desa ini. Sebelumnya...tidak, tidak ada ingatan serupa.</p>



<p>Ia menoleh. Kembali sendirian, dengan sang rubah entah menghilang ke mana. Rasanya angin semakin dingin. Ia baru sadar kalau langit menggelap. Bebungaan yang mengelilinginya bersinar lemah, menciptakan penerangan samar-samar di sekeliling anak itu. Sepertinya konsep waktu masih ada di dunia ini, walau membingungkan Wonwoo karena ia sempat pingsan ketika diambil. Perutnya terasa nyeri. Ia kembali haus. Pun, kulitnya terasa lengket, ia perlu mandi.</p>

<p>“Jeon Wonwoo,” sang rubah datang tiba-tiba, seperti yang sudah-sudah, kini dengan makanan di tangan. “Aku tadi minta temanku bawain sesajen ke kuil rubah. Ini ada onigiri dan gorengan. Katanya, cuma ini yang bisa dia beli pake uang manusia yang dia punya.”</p>

<p>Ada keinginan untuk bertanya siapa teman yang dimaksud, namun perutnya berkata sebaliknya. Berbeda dengan sebelumnya, ia langsung menyambar dan memakan semuanya dengan lahap. Ia sudah tak peduli apakah makanan itu makanan sesajen atau diguna-guna sekalipun. Jeon Wonwoo lapar sekali.</p>

<p>Sang rubah terus tersenyum selama Wonwoo makan. Kuping di atas kepalanya bergerak-gerak, begitu juga dengan ekornya yang terus menyibak tanah. Ia nampak senang karena pengantinnya akhirnya mau makan. Senyuman itu membuat Wonwoo perlahan kesal, tetapi ia harus menelan kekesalan itu bersama dengan butir-butir nasi. Ketergantungan. Oh, ia benci sekali menjadi seperti ini.</p>

<p>“Gimana? Enak?” tanya sang rubah saat Wonwoo menelan potongan gorengan terakhir.</p>

<p>Alih-alih menjawab, lelaki itu balik bertanya, “Air. Saya haus.”</p>

<p>“Kalo kamu mau ngomong biasa aja ke aku, nanti kubawa ke sumber airku.”</p>

<p>Diam.</p>

<p>“Jangan pake saya. Aku nggak suka. Aku bukan makhluk asing. Aku kangen Wonu kecil yang dulu.”</p>

<p>Masih diam.</p>

<p>“Hmm?” kuping rubahnya bergerak-gerak lagi.</p>

<p>“Kamu makhluk asing buat saya. Dan saya bukan dan <em>nggak akan pernah</em> jadi pengantin kamu,” tegasnya.</p>

<p>Soal keras kepala, Wonwoo takkan kalah.</p>

<p>Sang rubah menghela napas. Usahanya masih gagal, rupanya. Ia kemudian berdiri dan berbalik, menyerah pada kepala batu pengantinnya. “Ayo ikut,” ajaknya. “Kamu bisa minum banyak-banyak. Mandi pun bisa.”</p>

<p>Mandi. Wonwoo butuh itu.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/53-htbn</guid>
      <pubDate>Fri, 28 Aug 2020 02:35:47 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>52.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/52-l9lh?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wwnatsume&#xA;&#xA;&#34;Choi Seungcheol.&#34;&#xA;&#xA;Dewa Gunung sejenak memampangkan seringai mengerikan, walau detik kemudian berubah menjadi senyuman lebar seakan ia tak berbahaya sedikitpun. Well, memang tidak sih, selama tidak dipancing amarahnya. Sepertinya melihat kedatangan Jihoon membuat sang Dewa berwelas asih, karena gumpalan awan serta merta berarak menutupi mentari, membuat suasana berubah sejuk, menyegarkan mereka dari serangan panas yang menyengat sepanjang perjalanan.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Ayo, masuk, masuk,&#34; tawanya terlantun. Suasana hatinya makin berbunga saat ia mendekati Jihoon, memaksa Nekomata hitam itu terhenyak menjauh, berderap mundur untuk menjadikan Jeonghan tameng manusianya. Sang dukun hanya bisa menghela napas sambil mengelus sisi rahang Jihoon, mencoba menenangkan kucing piaraannya itu.&#xA;&#xA;&#34;Rumahku nggak gede lho.&#34;&#xA;&#xA;Kalimat yang bermakna ganda, sekaligus bullshit. Rumah sang Dewa adalah seluruh gunung itu, namun ia memilih untuk tinggal di kuil yang dibangun manusia untuknya di bagian puncak. Kuil itu tidak megah dan tergolong kecil. Sang Dewa menyukainya, menyukai kesederhanaan dan kenyamanan tempat itu. Di bawah rindang pepohonan, dengan pemandangan seluruh wilayah kekuasaannya yang subur dan ramai oleh makhluk halus. Tempat yang ingin ia bagi bersama pasangannya kelak.&#xA;&#xA;Bersama Jihoon.&#xA;&#xA;Nekomata hitam itu merengek perlahan, enggan mengikuti keinginan sang Dewa. Jeonghan menoleh pada Jihoon, lalu menggelengkan kepala. Bagaimanapun, seluruh gunung dan desa adalah milik Choi Seungcheol. Tidak bijak jika bertindak bodoh karena ketidak sukaan semata. Lagipula, Wonwoo masih belum diketemukan.&#xA;&#xA;Sumpah lah, Wonwoo utang budi banyak banget sama Jihoon, hadeeeh 😐&#xA;&#xA;Menahan segala rasa gelisahnya, Nekomata itu pun beralih wujud seketika itu juga, kembali ke raga manusianya. Alis hitam berkerut dalam, merengut menatap Seungcheol, yang justru parasnya semakin bersinar ceria, berkebalikan 180 derajat dengannya. Seungcheol mengambil tangan Jihoon, kemudian mengecup punggung tangan itu. Jihoon mendengus sebal, tak menghiraukan keadaan dirinya sendiri yang telanjang tanpa sehelai benang pun, berdiri di hadapan pemiliknya dan makhluk yang ia benci.&#xA;&#xA;&#34;Jihoonie,&#34; kini, kata yang keluar dari bibir sang Dewa menyerupai bisikan lembut. &#34;Aku masih nunggu jawabanmu.&#34;&#xA;&#xA;Jihoon mendecak.&#xA;&#xA;&#34;For the last time, Choi Seungcheol, gue nggak mau jadi kucing lo. Gue punyanya Hani and it will stay that way!&#34;&#xA;&#xA;Jihoon menarik tangannya dari bibir Seungcheol. Sang Dewa bergeming, masih saja menatap Jihoon seolah ia satu-satunya dalam pandangan. Hal itu membuat Jihoon resah. Ia merangkul lengan Jeonghan, menghirup aroma dukun itu yang familier untuk menenangkan diri. Jeonghan pun mengusrek kepala Jihoon, sebelum tersenyum pada Seungcheol.&#xA;&#xA;&#34;Sebenernya kita ke sini mau nanya satu hal sih. Gue to the point aja yah. Lo bukan, yang nurunin ujan di bukit tempat kolam Kappa, sekitar jam makan siang?&#34; tanya sang dukun.&#xA;&#xA;Sang Dewa mengelus dagunya. Dilihatnya semburat senja mulai mewarnai langit, membuatnya mempertimbangkan ucapan yang akan keluar selanjutnya. Perasaan Jeonghan langsung tidak enak. Dan, benar saja, sang Dewa pun berkata.&#xA;&#xA;&#34;Hari udah mau malam. Makan malam sendirian itu ngebosenin,&#34; Jihoon tak bisa menahan untuk tidak memutar bola mata mendengar itu. Tahu dengan pasti bahwa ia dan Jeonghan terjebak di sana, mungkin sampai larut malam.&#xA;&#xA;Great, pisuhnya dalam hati.&#xA;&#xA;&#34;Ayo masuk, Yoon Jeonghan,&#34; lalu, senyuman, pada makhluk yang ia dambakan selama puluhan tahun ke belakang, ketika ia pertama menemukannya tersesat di tengah hutannya. &#34; Woozi.&#34;&#xA;&#xA;Jihoon menggertakkan gigi. Imina-nya. Sialan, Choi Seungcheol.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wwnatsume" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">wwnatsume</span></a></p>

<p>“Choi Seungcheol.”</p>

<p>Dewa Gunung sejenak memampangkan seringai mengerikan, walau detik kemudian berubah menjadi senyuman lebar seakan ia tak berbahaya sedikitpun. Well, memang tidak sih, selama tidak dipancing amarahnya. Sepertinya melihat kedatangan Jihoon membuat sang Dewa berwelas asih, karena gumpalan awan serta merta berarak menutupi mentari, membuat suasana berubah sejuk, menyegarkan mereka dari serangan panas yang menyengat sepanjang perjalanan.</p>



<p>“Ayo, masuk, masuk,” tawanya terlantun. Suasana hatinya makin berbunga saat ia mendekati Jihoon, memaksa Nekomata hitam itu terhenyak menjauh, berderap mundur untuk menjadikan Jeonghan tameng manusianya. Sang dukun hanya bisa menghela napas sambil mengelus sisi rahang Jihoon, mencoba menenangkan kucing piaraannya itu.</p>

<p>“Rumahku nggak gede lho.”</p>

<p>Kalimat yang bermakna ganda, sekaligus <em>bullshit</em>. Rumah sang Dewa adalah seluruh gunung itu, namun ia memilih untuk tinggal di kuil yang dibangun manusia untuknya di bagian puncak. Kuil itu tidak megah dan tergolong kecil. Sang Dewa menyukainya, menyukai kesederhanaan dan kenyamanan tempat itu. Di bawah rindang pepohonan, dengan pemandangan seluruh wilayah kekuasaannya yang subur dan ramai oleh makhluk halus. Tempat yang ingin ia bagi bersama pasangannya kelak.</p>

<p>Bersama Jihoon.</p>

<p>Nekomata hitam itu merengek perlahan, enggan mengikuti keinginan sang Dewa. Jeonghan menoleh pada Jihoon, lalu menggelengkan kepala. Bagaimanapun, seluruh gunung dan desa adalah milik Choi Seungcheol. Tidak bijak jika bertindak bodoh karena ketidak sukaan semata. Lagipula, Wonwoo masih belum diketemukan.</p>

<p>Sumpah lah, Wonwoo utang budi banyak banget sama Jihoon, <em>hadeeeh</em> 😐</p>

<p>Menahan segala rasa gelisahnya, Nekomata itu pun beralih wujud seketika itu juga, kembali ke raga manusianya. Alis hitam berkerut dalam, merengut menatap Seungcheol, yang justru parasnya semakin bersinar ceria, berkebalikan 180 derajat dengannya. Seungcheol mengambil tangan Jihoon, kemudian mengecup punggung tangan itu. Jihoon mendengus sebal, tak menghiraukan keadaan dirinya sendiri yang telanjang tanpa sehelai benang pun, berdiri di hadapan pemiliknya dan makhluk yang ia benci.</p>

<p>“Jihoonie,” kini, kata yang keluar dari bibir sang Dewa menyerupai bisikan lembut. “Aku masih nunggu jawabanmu.”</p>

<p>Jihoon mendecak.</p>

<p>“For the last time, Choi Seungcheol, gue nggak mau jadi kucing lo. Gue punyanya Hani and it will stay that way!”</p>

<p>Jihoon menarik tangannya dari bibir Seungcheol. Sang Dewa bergeming, masih saja menatap Jihoon seolah ia satu-satunya dalam pandangan. Hal itu membuat Jihoon resah. Ia merangkul lengan Jeonghan, menghirup aroma dukun itu yang familier untuk menenangkan diri. Jeonghan pun mengusrek kepala Jihoon, sebelum tersenyum pada Seungcheol.</p>

<p>“Sebenernya kita ke sini mau nanya satu hal sih. Gue to the point aja yah. Lo bukan, yang nurunin ujan di bukit tempat kolam Kappa, sekitar jam makan siang?” tanya sang dukun.</p>

<p>Sang Dewa mengelus dagunya. Dilihatnya semburat senja mulai mewarnai langit, membuatnya mempertimbangkan ucapan yang akan keluar selanjutnya. Perasaan Jeonghan langsung tidak enak. Dan, benar saja, sang Dewa pun berkata.</p>

<p>“Hari udah mau malam. Makan malam sendirian itu ngebosenin,” Jihoon tak bisa menahan untuk tidak memutar bola mata mendengar itu. Tahu dengan pasti bahwa ia dan Jeonghan terjebak di sana, mungkin sampai larut malam.</p>

<p><em>Great</em>, pisuhnya dalam hati.</p>

<p>“Ayo masuk, Yoon Jeonghan,” lalu, senyuman, pada makhluk yang ia dambakan selama puluhan tahun ke belakang, ketika ia pertama menemukannya tersesat di tengah hutannya. “ <em>Woozi</em>.”</p>

<p>Jihoon menggertakkan gigi. <em>Imina-nya. Sialan, Choi Seungcheol.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/52-l9lh</guid>
      <pubDate>Fri, 28 Aug 2020 01:01:38 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>51.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/51-bnp7?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wwnatsume&#xA;&#xA;Jangan mati, jangan mati, jangan mati--&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Kalimat itulah yang bergema dalam kepala Mingyu selama ia berderap tergesa menuju bukit tempat kolam sang Kappa berada. Detik demi detik, ketahanan raga sang Kappa tanpa mangkuk air di bawah mentari musim panas yang menyelekit semakin berkurang drastis. Mingyu tidak mempedulikan apapun selain makhluk yang terbujur lemah di punggungnya itu. Bagi mereka yang tak bisa melihat, dunia seakan bergetar bak gempa lokal. Bagi mereka yang bisa, harus rela memijit jantungnya karena kemunculan sekelebat siluman anjing putih yang besar di jendela rumah mereka.&#xA;&#xA;(Ah, tapi kalau mereka bisa melihat dan memutuskan untuk tetap tinggal di desa ini, seharusnya mereka sudah terbiasa dengan keanehan beraneka ria)&#xA;&#xA;Tiap langkah yang cakarnya ambil, mereka pun semakin dekat dengan tujuan. Perumahan warga dengan cepat berubah menjadi pepohonan yang semakin lebat. Para jizou yang ia lewati hanya membelalak kaget, namun mereka tak bisa bergerak dari sana. Mereka hanya bisa meneriakkan kecemasan dan permohonan untuk menolong sang Kappa ketika Mingyu melintas. Ia tidak perlu menjawab semua itu. Mereka toh sebenarnya sudah tahu kalau ia takkan pernah menelantarkan makhluk apapun yang butuh bantuannya, termasuk sang Kappa.&#xA;&#xA;Kolam sang Kappa pun nampak. Mingyu melompat untuk yang terakhir kali dan, tanpa ragu, ia melompat masuk begitu saja, membiarkan air tumpah meluber dari pinggir kolam.&#xA;&#xA;BYUR!&#xA;&#xA;...Dingin.&#xA;&#xA;Minghao bisa merasakan sejuknya air menyapu permukaan kulitnya. Buih-buih menempel, lepas dari hidung dan bibirnya. Kedua mata sang Kappa masih terpejam, masih terlalu lemas untuk membuka, namun ia tak luput akan lengan seseorang di sekeliling pinggangnya, menahan tubuhnya mantap selama ia diseret masuk semakin dan semakin jauh, sampai sinar dari permukaan kolam hampir hilang.&#xA;&#xA;Mingyu dengan tubuh manusianya berusaha keras untuk menahan napasnya di bawah air. Rumah sang Kappa berada di dasar kolam yang amat dalam itu. Kappa memang tidak memiliki satu mangkuk semata, tetapi mereka menyimpannya di tempat yang merepotkan, dimana hanya makhluk berinsang yang bisa meraihnya. Mingyu jelas tidak punya organ penting tersebut dan harus mengandalkan paru-paru tubuh manusianya, karena wujud aslinya terlalu besar dan penuh bulu untuk bisa bergerak selincah mungkin dalam air.&#xA;&#xA;&#34;Brrupp--&#34;&#xA;&#xA;Gawat, pikir sang Inugami. Kapasitas paru-parunya sudah di garis kuning. Ia harus segera menemukan mangkuk sialan itu sebelum mereka berdua mati konyol di sini. Dengan daya pandang seadanya, tangan Mingyu merogoh sana-sini, mencari di balik gumpalan lumut dan dedaunan yang tumbuh di dasar sana, di bawah bebatuan kecil yang menyimpan potongan-potongan tulang ikan dan tubuh manusia yang tak bisa dicerna. Mingyu terus mencari.&#xA;&#xA;Di mana, di mana, di ma--&#xA;&#xA;&#34;Mingyu...&#34;&#xA;&#xA;Bisikan. Sang Kappa dalam pelukan bergerak, menangkup pipinya dengan lemah. Tangan yang mengering itu mengusapnya lembut, lalu membawa wajahnya mendekat. Saat bibir sang Kappa terasa di bibirnya--pecah-pecah, tipis, kasar--Mingyu tanpa sadar membuka mulut. Sang Kappa menciumnya jauh di bawah air hijau yang mengaburkan pandangan, meniupkan oksigen untuk mengisi paru-paru sang Inugami. Diambilnya, direbutnya, hampir paksa. Oksigen itu, ia amat membutuhkannya. Mingyu menggamit kasar lengan atas Minghao untuk menarik Kappa itu semakin dekat, menempelkan bibir mereka semakin lekat, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dari makhluk itu dan Minghao dengan sukarela memberikannya pada Mingyu. Lengan-lengannya sendiri melingkari leher Mingyu. Kedua pasang mata saling terpejam. Dua tubuh melayang di dalam air, tak mau terlepas.&#xA;&#xA;Sampai, pada akhirnya, Minghao yang memutus ciuman itu. Rasanya kepala Mingyu kembali segar. Oksigen sudah mengisi organ dalamnya, memutar lagi peredaran darah yang sempat tersendat. Minghao menatapnya kuyu. Bibirnya mengulum sebuah senyuman lemah. &#34;Di balik batu yang paling besar,&#34; gumamnya kemudian. Mingyu paham apa yang ia maksudkan. Segera saja, Mingyu berbalik dan mencari batu yang dimaksud. Dan, ketika ia menemukannya, dirogohnya ke balik batu tersebut, menarik keluar sebuah mangkuk yang masih utuh.&#xA;&#xA;Tak ada waktu untuk senang dulu. Oksigen yang diberikan Minghao hanya pinjaman sementara. Karena telah mendapatkan mangkuk itu, Mingyu pun menyambar pinggang Minghao lagi dan berenang ke permukaan secepat mungkin. Sebenarnya kalau ia bisa berpikir lebih jernih, ia tinggal menyerahkan mangkuk itu pada Minghao dan berenang sendirian menyelamatkan dirinya. Namun, refleksnya berkata lain. Maka, begitu sinar mulai terlihat lagi,&#xA;&#xA;&#34;PUAHH!!&#34;&#xA;&#xA;Mingyu sudah menyeret Minghao kembali ke permukaan bersamanya. Ia menghirup oksigen dalam-dalam, mengisi lagi paru-parunya hingga penuh, lalu berenang ke pinggir kolam, bersandar di sana, terbatuk-batuk, memuntahkan air dan potongan daun yang ikut tertelan. Mingyu mengusap bibirnya dengan punggung tangan sebelum tersadar bahwa mangkuk Minghao masih di tangannya. Ia pun segera berbalik. Diisinya mangkuk itu dengan air dari kolam, lalu ia menaruhnya di atas kepala sang Kappa.&#xA;&#xA;Mata Minghao yang terpejam pun langsung terbuka. Kulitnya yang mengering dengan cepat menjadi segar lagi. Ia yang sudah hampir seperti mumi, tiba-tiba saja kembali seperti sebelumnya, seolah mangkuk yang pecah tak pernah ada.&#xA;&#xA;&#34;Mingyu...,&#34; ia tersenyum lagi. Lebih ceria kali ini dengan bibir penuh dan pipi berisi. Lebih cantik.&#xA;&#xA;&#34;Ming--!&#34;&#xA;&#xA;Pemikirannya terakhir, sebelum ia pingsan karena pompa adrenalin dan kurangnya oksigen telah merenggut batas kemampuan raga manusianya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wwnatsume" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">wwnatsume</span></a></p>

<p><em>Jangan mati, jangan mati, jangan mati</em>—</p>



<p>Kalimat itulah yang bergema dalam kepala Mingyu selama ia berderap tergesa menuju bukit tempat kolam sang Kappa berada. Detik demi detik, ketahanan raga sang Kappa tanpa mangkuk air di bawah mentari musim panas yang menyelekit semakin berkurang drastis. Mingyu tidak mempedulikan apapun selain makhluk yang terbujur lemah di punggungnya itu. Bagi mereka yang tak bisa melihat, dunia seakan bergetar bak gempa lokal. Bagi mereka yang bisa, harus rela memijit jantungnya karena kemunculan sekelebat siluman anjing putih yang besar di jendela rumah mereka.</p>

<p><em>(Ah, tapi kalau mereka bisa melihat dan memutuskan untuk tetap tinggal di desa ini, seharusnya mereka sudah terbiasa dengan keanehan beraneka ria)</em></p>

<p>Tiap langkah yang cakarnya ambil, mereka pun semakin dekat dengan tujuan. Perumahan warga dengan cepat berubah menjadi pepohonan yang semakin lebat. Para jizou yang ia lewati hanya membelalak kaget, namun mereka tak bisa bergerak dari sana. Mereka hanya bisa meneriakkan kecemasan dan permohonan untuk menolong sang Kappa ketika Mingyu melintas. Ia tidak perlu menjawab semua itu. Mereka toh sebenarnya sudah tahu kalau ia takkan pernah menelantarkan makhluk apapun yang butuh bantuannya, termasuk sang Kappa.</p>

<p>Kolam sang Kappa pun nampak. Mingyu melompat untuk yang terakhir kali dan, tanpa ragu, ia melompat masuk begitu saja, membiarkan air tumpah meluber dari pinggir kolam.</p>

<p><em>BYUR!</em></p>

<p>...<em>Dingin</em>.</p>

<p>Minghao bisa merasakan sejuknya air menyapu permukaan kulitnya. Buih-buih menempel, lepas dari hidung dan bibirnya. Kedua mata sang Kappa masih terpejam, masih terlalu lemas untuk membuka, namun ia tak luput akan lengan seseorang di sekeliling pinggangnya, menahan tubuhnya mantap selama ia diseret masuk semakin dan semakin jauh, sampai sinar dari permukaan kolam hampir hilang.</p>

<p>Mingyu dengan tubuh manusianya berusaha keras untuk menahan napasnya di bawah air. Rumah sang Kappa berada di dasar kolam yang amat dalam itu. Kappa memang tidak memiliki satu mangkuk semata, tetapi mereka menyimpannya di tempat yang merepotkan, dimana hanya makhluk berinsang yang bisa meraihnya. Mingyu jelas tidak punya organ penting tersebut dan harus mengandalkan paru-paru tubuh manusianya, karena wujud aslinya terlalu besar dan penuh bulu untuk bisa bergerak selincah mungkin dalam air.</p>

<p>“Brrupp—”</p>

<p><em>Gawat</em>, pikir sang Inugami. Kapasitas paru-parunya sudah di garis kuning. Ia harus segera menemukan mangkuk sialan itu sebelum mereka berdua mati konyol di sini. Dengan daya pandang seadanya, tangan Mingyu merogoh sana-sini, mencari di balik gumpalan lumut dan dedaunan yang tumbuh di dasar sana, di bawah bebatuan kecil yang menyimpan potongan-potongan tulang ikan dan tubuh manusia yang tak bisa dicerna. Mingyu terus mencari.</p>

<p><em>Di mana, di mana, di ma—</em></p>

<p>“Mingyu...”</p>

<p>Bisikan. Sang Kappa dalam pelukan bergerak, menangkup pipinya dengan lemah. Tangan yang mengering itu mengusapnya lembut, lalu membawa wajahnya mendekat. Saat bibir sang Kappa terasa di bibirnya—pecah-pecah, tipis, kasar—Mingyu tanpa sadar membuka mulut. Sang Kappa menciumnya jauh di bawah air hijau yang mengaburkan pandangan, meniupkan oksigen untuk mengisi paru-paru sang Inugami. Diambilnya, direbutnya, hampir paksa. Oksigen itu, ia amat membutuhkannya. Mingyu menggamit kasar lengan atas Minghao untuk menarik Kappa itu semakin dekat, menempelkan bibir mereka semakin lekat, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dari makhluk itu dan Minghao dengan sukarela memberikannya pada Mingyu. Lengan-lengannya sendiri melingkari leher Mingyu. Kedua pasang mata saling terpejam. Dua tubuh melayang di dalam air, tak mau terlepas.</p>

<p>Sampai, pada akhirnya, Minghao yang memutus ciuman itu. Rasanya kepala Mingyu kembali segar. Oksigen sudah mengisi organ dalamnya, memutar lagi peredaran darah yang sempat tersendat. Minghao menatapnya kuyu. Bibirnya mengulum sebuah senyuman lemah. “Di balik batu yang paling besar,” gumamnya kemudian. Mingyu paham apa yang ia maksudkan. Segera saja, Mingyu berbalik dan mencari batu yang dimaksud. Dan, ketika ia menemukannya, dirogohnya ke balik batu tersebut, menarik keluar sebuah mangkuk yang masih utuh.</p>

<p>Tak ada waktu untuk senang dulu. Oksigen yang diberikan Minghao hanya pinjaman sementara. Karena telah mendapatkan mangkuk itu, Mingyu pun menyambar pinggang Minghao lagi dan berenang ke permukaan secepat mungkin. Sebenarnya kalau ia bisa berpikir lebih jernih, ia tinggal menyerahkan mangkuk itu pada Minghao dan berenang sendirian menyelamatkan dirinya. Namun, refleksnya berkata lain. Maka, begitu sinar mulai terlihat lagi,</p>

<p><em>“PUAHH!!”</em></p>

<p>Mingyu sudah menyeret Minghao kembali ke permukaan bersamanya. Ia menghirup oksigen dalam-dalam, mengisi lagi paru-parunya hingga penuh, lalu berenang ke pinggir kolam, bersandar di sana, terbatuk-batuk, memuntahkan air dan potongan daun yang ikut tertelan. Mingyu mengusap bibirnya dengan punggung tangan sebelum tersadar bahwa mangkuk Minghao masih di tangannya. Ia pun segera berbalik. Diisinya mangkuk itu dengan air dari kolam, lalu ia menaruhnya di atas kepala sang Kappa.</p>

<p>Mata Minghao yang terpejam pun langsung terbuka. Kulitnya yang mengering dengan cepat menjadi segar lagi. Ia yang sudah hampir seperti mumi, tiba-tiba saja kembali seperti sebelumnya, seolah mangkuk yang pecah tak pernah ada.</p>

<p>“Mingyu...,” ia tersenyum lagi. Lebih ceria kali ini dengan bibir penuh dan pipi berisi. <em>Lebih cantik</em>.</p>

<p>“Ming—!”</p>

<p>Pemikirannya terakhir, sebelum ia pingsan karena pompa adrenalin dan kurangnya oksigen telah merenggut batas kemampuan raga manusianya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/51-bnp7</guid>
      <pubDate>Thu, 27 Aug 2020 00:34:41 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>41.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/41?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wwnatsume&#xA;&#xA;Ujung lengan baju Mingyu.&#xA;&#xA;Jins Minghao.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Di suatu momen, angin itu bahkan mengiris sedikit kulit lengan atas Mingyu. Minghao bersalto ke belakang, membiarkan angin tersebut membelah batang pohon alih-alih tubuhnya. Ia kemudian menoleh pada Mingyu dengan raut cemas, darah merembes di kain baju Mingyu, namun siluman anjing itu mengusirnya sesegera mungkin karena Soonyoung bukanlah makhluk sebaik itu ketika adrenalinnya tengah memuncak.&#xA;&#xA;Mereka kemudian memutuskan untuk berpencar di suatu persimpangan jalan. Suara kumbang musim panas yang menemplok di batang pohon amat kontras dengan keadaan mereka saat ini, yang terengah-engah bersimbah keringat dan bercak darah. Minghao menggunakan tubuhnya yang ringan untuk berlari di atas tembok pagar rumah penduduk desa, lalu meloncat dari atap ke atap, menghindar dengan akrobatis ketika angin tajam dihela lagi.&#xA;&#xA;Mingyu memilih untuk menggunakan objek-objek seperti boks telepon umum ataupun tiang listrik sebagai pelindung. Ia mengintip melalui tembok, lalu mengendap-endap ketika dipantaunya aman.&#xA;&#xA;&#34;GYU, AWAS!&#34;&#xA;&#xA;Dia luput melihat sisi samping di titik buta pandangannya, dimana angin tajam dengan cepat berhembus ke arahnya dan Soonyoung tertawa kencang.&#xA;&#xA;&#34;!!&#39;&#xA;&#xA;CRASSS!&#xA;&#xA;Darah.&#xA;&#xA;Banyak darah.&#xA;&#xA;Sakit, sakit....&#xA;&#xA;...nggak sakit?&#xA;&#xA;Saat ia membuka mata, Minghao tengah memeluknya. Di punggungnya terdapat luka menganga lebar. Darah berjatuhan ke jalanan aspal yang mereka pijak. Mangkuk di kepala Minghao telah jatuh dan pecah, membuat airnya bercampur dengan darah kental.&#xA;&#xA;&#34;! Hao??!&#34; tanpa sadar, Mingyu menyentuh punggung Minghao. Desisan pedih membuatnya langsung menarik lagi tangan itu. Telapaknya lengket oleh darah.&#xA;&#xA;Darah bukanlah masalah. Mereka bukan manusia. Kehilangan darah tidak akan membuat mereka mati.&#xA;&#xA;Kappa.&#xA;&#xA;Tanpa mangkuk berisikan air di kepalanya, semua Kappa akan mengering menjadi mumi dan mati.&#xA;&#xA;&#34;Ups,&#34; Kamaitachi menunduk. Ia kini melayang dekat dengan Mingyu. Minghao dengan cepat tak sadarkan diri di pelukan Mingyu, kehilangan sumber jiwanya. &#34;Salah sasaran ya? Gue nggak ada maksud nyerang mangkoknya lho ya. Gue--&#34;&#xA;&#xA;Kim Mingyu menggertakkan gigi.&#xA;&#xA;&#34;!?&#34; Soonyoung terhempas sedikit ke belakang. Tekanan aura dan angin kencang mengepakkan rambut serta pakaiannya. Ia menyilangkan lengan di depan wajahnya, melindungi pandangan dari kekuatan sang siluman anjing yang mendadak dilepaskan begitu saja. Permukaan kulit Soonyoung tergores di sana-sini.&#xA;&#xA;Di depannya, hilang sosok Kim Mingyu sebagai seorang manusia, berganti menjadi seekor anjing besar berbulu putih nan lebat, dengan tato merah di hidung dan sekitar matanya yang berkilat keemasan dalam amarah.&#xA;&#xA;&#34;GRRROOOAARRRR!!&#34;&#xA;&#xA;Ia meraung, keras dan membahana. Dedaunan bergemerisik. Taring-taringnya tajam dan siap merobek daging hingga terkoyak habis. Sang Kamaitachi menjadi kecil di hadapan sang Inugami.&#xA;&#xA;&#34;Tsk!&#34; Soonyoung mendecak. Mulai panik. &#34;Fuck, Gyu, gue nggak sengaja--&#34;&#xA;&#xA;Namun, sang Inugami tidak mendengarkannya. Ia langsung menyerang Soonyoung, melompat sambil membuka moncongnya, hendak menelan Soonyoung bulat-bulat. Sang Kamaitachi mengangkat lengan. Ia tidak ingin menyakiti sang Inugami lebih dari ini, namun apa boleh buat. Ia tak punya pilihan.&#xA;&#xA;&#34;Sori, Gyu!&#34;&#xA;&#xA;Lengan mengayun.&#xA;&#xA;&#34;STOOOPPPP!!!&#34;&#xA;&#xA;Mereka berhenti.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wwnatsume" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">wwnatsume</span></a></p>

<p>Ujung lengan baju Mingyu.</p>

<p>Jins Minghao.</p>



<p>Di suatu momen, angin itu bahkan mengiris sedikit kulit lengan atas Mingyu. Minghao bersalto ke belakang, membiarkan angin tersebut membelah batang pohon alih-alih tubuhnya. Ia kemudian menoleh pada Mingyu dengan raut cemas, darah merembes di kain baju Mingyu, namun siluman anjing itu mengusirnya sesegera mungkin karena Soonyoung bukanlah makhluk sebaik itu ketika adrenalinnya tengah memuncak.</p>

<p>Mereka kemudian memutuskan untuk berpencar di suatu persimpangan jalan. Suara kumbang musim panas yang menemplok di batang pohon amat kontras dengan keadaan mereka saat ini, yang terengah-engah bersimbah keringat dan bercak darah. Minghao menggunakan tubuhnya yang ringan untuk berlari di atas tembok pagar rumah penduduk desa, lalu meloncat dari atap ke atap, menghindar dengan akrobatis ketika angin tajam dihela lagi.</p>

<p>Mingyu memilih untuk menggunakan objek-objek seperti boks telepon umum ataupun tiang listrik sebagai pelindung. Ia mengintip melalui tembok, lalu mengendap-endap ketika dipantaunya aman.</p>

<p>“GYU, AWAS!”</p>

<p>Dia luput melihat sisi samping di titik buta pandangannya, dimana angin tajam dengan cepat berhembus ke arahnya dan Soonyoung tertawa kencang.</p>

<p>”!!&#39;</p>

<p><em>CRASSS!</em></p>

<p>Darah.</p>

<p>Banyak darah.</p>

<p><em>Sakit, sakit....</em></p>

<p><em>...nggak sakit?</em></p>

<p>Saat ia membuka mata, Minghao tengah memeluknya. Di punggungnya terdapat luka menganga lebar. Darah berjatuhan ke jalanan aspal yang mereka pijak. Mangkuk di kepala Minghao telah jatuh dan pecah, membuat airnya bercampur dengan darah kental.</p>

<p>”! Hao??!” tanpa sadar, Mingyu menyentuh punggung Minghao. Desisan pedih membuatnya langsung menarik lagi tangan itu. Telapaknya lengket oleh darah.</p>

<p>Darah bukanlah masalah. Mereka bukan manusia. Kehilangan darah tidak akan membuat mereka mati.</p>

<p><em>Kappa.</em></p>

<p><em>Tanpa mangkuk berisikan air di kepalanya, semua Kappa akan mengering menjadi mumi dan mati.</em></p>

<p>“Ups,” Kamaitachi menunduk. Ia kini melayang dekat dengan Mingyu. Minghao dengan cepat tak sadarkan diri di pelukan Mingyu, kehilangan sumber jiwanya. “Salah sasaran ya? Gue nggak ada maksud nyerang mangkoknya lho ya. Gue—”</p>

<p>Kim Mingyu menggertakkan gigi.</p>

<p>”!?” Soonyoung terhempas sedikit ke belakang. Tekanan aura dan angin kencang mengepakkan rambut serta pakaiannya. Ia menyilangkan lengan di depan wajahnya, melindungi pandangan dari kekuatan sang siluman anjing yang mendadak dilepaskan begitu saja. Permukaan kulit Soonyoung tergores di sana-sini.</p>

<p>Di depannya, hilang sosok Kim Mingyu sebagai seorang manusia, berganti menjadi seekor anjing besar berbulu putih nan lebat, dengan tato merah di hidung dan sekitar matanya yang berkilat keemasan dalam amarah.</p>

<p><em>“GRRROOOAARRRR!!”</em></p>

<p>Ia meraung, keras dan membahana. Dedaunan bergemerisik. Taring-taringnya tajam dan siap merobek daging hingga terkoyak habis. Sang Kamaitachi menjadi kecil di hadapan sang Inugami.</p>

<p><em>“Tsk!”</em> Soonyoung mendecak. Mulai panik. “Fuck, Gyu, gue nggak sengaja—”</p>

<p>Namun, sang Inugami tidak mendengarkannya. Ia langsung menyerang Soonyoung, melompat sambil membuka moncongnya, hendak menelan Soonyoung bulat-bulat. Sang Kamaitachi mengangkat lengan. Ia tidak ingin menyakiti sang Inugami lebih dari ini, namun apa boleh buat. Ia tak punya pilihan.</p>

<p>“Sori, Gyu!”</p>

<p>Lengan mengayun.</p>

<p><strong>“STOOOPPPP!!!”</strong></p>

<p>Mereka berhenti.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/41</guid>
      <pubDate>Sun, 23 Aug 2020 12:39:48 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>40.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/40?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wwnatsume&#xA;&#xA;&#34;Mati.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo menatap sang rubah.&#xA;&#xA;&#34;Rubah lainnya...?&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Nggak ada,&#34; gelengan kepala perlahan. &#34;Cuma tinggal aku di sini. Dulu, ada banyak rubah di padang bunga ini. Bibiku membuat mahkota dari rangkaian bunga. Ayahku mengajakku berburu. Kakak sepupuku mengajakku menyelinap ke dunia manusia pas kita kecil, mengintip dari balik tiang kuil Rubah. Ibuku selalu tersenyum saat menyiapkan sesajen sebagai makan malam. Pamanku suka mengajakku memancing.&#34;&#xA;&#xA;Sang rubah tersenyum simpul mengingat itu semua.&#xA;&#xA;&#34;Tapi sekarang sudah nggak ada. Semua itu. Di situ.&#34;&#xA;&#xA;Ia menunjuk ke satu arah, entah ke mana. Wonwoo tidak menemukan apapun di sana selain hamparan bunga.&#xA;&#xA;&#34;Rumahku dulu. Aku ingat dulu tidur di sisi ibuku. Aku masih rubah kecil pas itu dan buatku, ibuku begitu besar dan hangat...&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo menunduk, memilin-milin jemarinya. Ia tidak tahu harus berkomentar apa. Seperti melakukan kesalahan tapi tidak juga, karena dia toh hanya bertanya. Apakah rasa ingin tahu tidak selamanya baik untuk diikuti?&#xA;&#xA;&#34;Kalo...kalo nggak ada, berarti kamu...?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Rubah terakhir,&#34; ia mengangguk membenarkan. &#34;Kalo aku mati, ya sudah. Habis. Punah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Karena itu, kamu...saya...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jeon Wonwoo.&#34;&#xA;&#xA;Kaget, ia, saat sang rubah menggenggam kedua tangannya.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa kamu pakai bahasa formal sama aku?&#34;&#xA;&#xA;&#34;...Hah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku dengar kamu ngobrol sama makhluk lain. Sama kucing itu. Sama anjing itu. Sama si dukun itu juga. Kamu nggak pakai bahasa formal. Sebenernya aku penasaran banget, kenapa sama aku kamu jadi mendadak formal gini?&#34;&#xA;&#xA;&#34;I-i-itu-saya-kalo sama makhluk asing-nggak sopan-&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jangan pakai bahasa formal ke aku. Kita kan bakal nikah. Tolong?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Y-ya, mana bisa! Lagian, nikah...saya nggak mau! Kamu juga, siapa, saya nggak kenal--&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wwnatsume" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">wwnatsume</span></a></p>

<p>“Mati.”</p>

<p>Wonwoo menatap sang rubah.</p>

<p>“Rubah lainnya...?”</p>



<p>“Nggak ada,” gelengan kepala perlahan. “Cuma tinggal aku di sini. Dulu, ada banyak rubah di padang bunga ini. Bibiku membuat mahkota dari rangkaian bunga. Ayahku mengajakku berburu. Kakak sepupuku mengajakku menyelinap ke dunia manusia pas kita kecil, mengintip dari balik tiang kuil Rubah. Ibuku selalu tersenyum saat menyiapkan sesajen sebagai makan malam. Pamanku suka mengajakku memancing.”</p>

<p>Sang rubah tersenyum simpul mengingat itu semua.</p>

<p>“Tapi sekarang sudah nggak ada. Semua itu. Di situ.”</p>

<p>Ia menunjuk ke satu arah, entah ke mana. Wonwoo tidak menemukan apapun di sana selain hamparan bunga.</p>

<p>“Rumahku dulu. Aku ingat dulu tidur di sisi ibuku. Aku masih rubah kecil pas itu dan buatku, ibuku begitu besar dan hangat...”</p>

<p>Wonwoo menunduk, memilin-milin jemarinya. Ia tidak tahu harus berkomentar apa. Seperti melakukan kesalahan tapi tidak juga, karena dia toh hanya bertanya. Apakah rasa ingin tahu tidak selamanya baik untuk diikuti?</p>

<p>“Kalo...kalo nggak ada, berarti kamu...?”</p>

<p>“Rubah terakhir,” ia mengangguk membenarkan. “Kalo aku mati, ya sudah. Habis. Punah.”</p>

<p>“Karena itu, kamu...saya...”</p>

<p>“Jeon Wonwoo.”</p>

<p>Kaget, ia, saat sang rubah menggenggam kedua tangannya.</p>

<p>“Kenapa kamu pakai bahasa formal sama aku?”</p>

<p>”...Hah?”</p>

<p>“Aku dengar kamu ngobrol sama makhluk lain. Sama kucing itu. Sama anjing itu. Sama si dukun itu juga. Kamu nggak pakai bahasa formal. Sebenernya aku penasaran banget, kenapa sama aku kamu jadi mendadak formal gini?”</p>

<p>“I-i-itu-saya-kalo sama makhluk asing-nggak sopan-”</p>

<p>“Jangan pakai bahasa formal ke aku. Kita kan bakal nikah. Tolong?”</p>

<p>“Y-ya, mana bisa! Lagian, nikah...saya nggak mau! Kamu juga, siapa, saya nggak kenal—”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/40</guid>
      <pubDate>Sun, 23 Aug 2020 09:25:58 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>38.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/38-9vxl?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wwnatsume&#xA;&#xA;&#34;Kebetulan, kita mau tanya sama lo, Hyung,&#34; Mingyu menyela. &#34;Kita lagi nyari Amefurikozou. Kan biasanya dia kongkow sama lo. Lo liat nggak?&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Soonyoung memicingkan mata penuh curiga. &#34;Amefurikozou?&#34; ucapnya. &#34;Buat apa Anjing dan Kodok macem kalian nyari dia? Ada perlu apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dibilang gue bukan kodok!&#34;&#xA;&#xA;Melihat bagaimana alis Soonyoung sedikit menukik ke arah Minghao, Mingyu pun sengaja menapak ke depan Kappa itu, menyembunyikannya sebisa mungkin dengan wujud manusianya yang besar. Usahanya berhasil. Fokus sang Kamaitachi kini berpindah padanya. Selain memiliki sumbu pendek, span of attention Kamaitachi pun juga pendek. Ia berdeham sebelum menjelaskan lebih lanjut.&#xA;&#xA;&#34;Nggak, Hyung. Gini lho. Kita punya temen nih. Temen kita ilang. Kata dia,&#34; Mingyu merangkul lengannya ke sekeliling pundak sang Kappa lalu mengusrek rambutnya yang halus, berhati-hati agar tidak menumpahkan piring di atas kepalanya. &#34;Pas dia ilang, ada ujan. Ujannya anget dan--&#34;&#xA;&#xA;&#34;--rasanya ujan itu bikin nyaman, juga--&#34; sambung Minghao.&#xA;&#xA;&#34;--intinya, ujan ghaib. Soalnya nggak ujan selain di sekitar situ, Hyung.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm. Jadi lo-lo pada ngira si Amefurikozou yang ngambil temen lo? Gitu?&#34; delikan Soonyoung begitu tajam, Mingyu tanpa sadar mengerut, balik berlindung ke Minghao. Kappa itu sendiri tidak gentar, malah balas menatap sang Kamaitachi tepat di mata.&#xA;&#xA;&#34;Bukan, Soonyoung-hyung,&#34; ucap Minghao. &#34;Kita cuma mau tanya. Soalnya yang bisa buat ujan ghaib cuma tiga makhluk di sekitar sini. Ya kalo Amefurikozou nggak ngelakuinnya, yaudah. Cuma mau nanya doang kok.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hee...,&#34; sang Kamaitachi mendongak, nampak pongah, dengan tangan berkacak pinggang dan melayang di udara di atas Mingyu dan Minghao. &#34;Gue tau dia ada di mana, tapi gue nggak akan kasih tau.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hyung--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue bosen.&#34;&#xA;&#xA;Bola mata Mingyu membelalak, &#34;Uh-oh-&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maen dulu sama gue. Kalo lo bedua masih idup sampe permainan kita kelar, mungkin gue bakal kasih tahu.&#34;&#xA;&#xA;Ringisan di wajah Kamaitachi begitu keji. Minghao sempat bertukar pandang dengan Mingyu, yang menatapnya ngeri, sebelum refleks mereka mengambil alih, berbalik badan dan mulai berlari, tepat saat sang Kamaitachi mengangkat lengannya.&#xA;&#xA;&#34;HAHAHAHAHAHAH!! HORANGHAE\~ 🐯❤️&#34;&#xA;&#xA;Lengan dikibas. Minghao mendorong Mingyu menjauh. Sehembus angin tajam melewati celah yang tercipta antara Mingyu dan Minghao, membelah vending machine tadi menjadi dua, sementara ujung rambut Mingyu terpotong sedikit.&#xA;&#xA;Crik! Crik!&#xA;&#xA;Dari vending machine itu, terpancar arus-arus listrik, sebelum konslet dan menciptakan ledakan.&#xA;&#xA;&#34;Hao! Lari!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Berisik, gue juga tau!&#34;&#xA;&#xA;Kamaitachi sialan!]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wwnatsume" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">wwnatsume</span></a></p>

<p>“Kebetulan, kita mau tanya sama lo, Hyung,” Mingyu menyela. “Kita lagi nyari Amefurikozou. Kan biasanya dia kongkow sama lo. Lo liat nggak?”</p>



<p>Soonyoung memicingkan mata penuh curiga. “Amefurikozou?” ucapnya. “Buat apa Anjing dan Kodok macem kalian nyari dia? Ada perlu apa?”</p>

<p>“Dibilang gue bukan kodok!”</p>

<p>Melihat bagaimana alis Soonyoung sedikit menukik ke arah Minghao, Mingyu pun sengaja menapak ke depan Kappa itu, menyembunyikannya sebisa mungkin dengan wujud manusianya yang besar. Usahanya berhasil. Fokus sang Kamaitachi kini berpindah padanya. Selain memiliki sumbu pendek, span of attention Kamaitachi pun juga pendek. Ia berdeham sebelum menjelaskan lebih lanjut.</p>

<p>“Nggak, Hyung. Gini lho. Kita punya temen nih. Temen kita ilang. Kata dia,” Mingyu merangkul lengannya ke sekeliling pundak sang Kappa lalu mengusrek rambutnya yang halus, berhati-hati agar tidak menumpahkan piring di atas kepalanya. “Pas dia ilang, ada ujan. Ujannya anget dan—”</p>

<p>”—rasanya ujan itu bikin nyaman, juga—” sambung Minghao.</p>

<p>”—intinya, ujan ghaib. Soalnya nggak ujan selain di sekitar situ, Hyung.”</p>

<p>“Hmm. Jadi lo-lo pada ngira si Amefurikozou yang ngambil temen lo? <em>Gitu</em>?” delikan Soonyoung begitu tajam, Mingyu tanpa sadar mengerut, balik berlindung ke Minghao. Kappa itu sendiri tidak gentar, malah balas menatap sang Kamaitachi tepat di mata.</p>

<p>“Bukan, Soonyoung-hyung,” ucap Minghao. “Kita cuma mau tanya. Soalnya yang bisa buat ujan ghaib cuma tiga makhluk di sekitar sini. Ya kalo Amefurikozou nggak ngelakuinnya, yaudah. Cuma mau nanya doang kok.”</p>

<p>“Hee...,” sang Kamaitachi mendongak, nampak pongah, dengan tangan berkacak pinggang dan melayang di udara di atas Mingyu dan Minghao. “Gue tau dia ada di mana, tapi gue nggak akan kasih tau.”</p>

<p>“Hyung—”</p>

<p>“Gue bosen.”</p>

<p>Bola mata Mingyu membelalak, “Uh-oh-”</p>

<p>“Maen dulu sama gue. Kalo lo bedua masih idup sampe permainan kita kelar, <em>mungkin</em> gue bakal kasih tahu.”</p>

<p>Ringisan di wajah Kamaitachi begitu keji. Minghao sempat bertukar pandang dengan Mingyu, yang menatapnya ngeri, sebelum refleks mereka mengambil alih, berbalik badan dan mulai berlari, tepat saat sang Kamaitachi mengangkat lengannya.</p>

<p>“HAHAHAHAHAHAH!! HORANGHAE~ 🐯❤️”</p>

<p>Lengan dikibas. Minghao mendorong Mingyu menjauh. Sehembus angin tajam melewati celah yang tercipta antara Mingyu dan Minghao, membelah vending machine tadi menjadi dua, sementara ujung rambut Mingyu terpotong sedikit.</p>

<p><em>Crik! Crik!</em></p>

<p>Dari vending machine itu, terpancar arus-arus listrik, sebelum konslet dan menciptakan ledakan.</p>

<p>“Hao! Lari!”</p>

<p>“Berisik, gue juga tau!”</p>

<p><em>Kamaitachi sialan!</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/38-9vxl</guid>
      <pubDate>Sun, 23 Aug 2020 08:56:44 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>33.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/33-pwgp?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wwnatsume&#xA;&#xA;&#34;Jeon Wonwoo,&#34; rubah itu memanggil lagi. Hari ketiga ia di sini. Atau sudah ke lima? Wonwoo tidak tahu. Semua terasa kabur. Rasanya sudah seminggu, tapi juga seperti baru setengah jam. Rasanya tidak mungkin ia bertahan tanpa ke toilet dan mandi, tapi selain pusing karena kelaparan, ia tidak merasakan urgensi akan kebutuhan primernya. Aneh sekali.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Sepanjang mata memandang, hanya ada padang bunga. Tak ada makhluk hidup lain. Tak ada pohon. Tak ada apapun.&#xA;&#xA;Dunia sang rubah yang begitu sepi.&#xA;&#xA;Pemikiran itu putus ketika sang rubah duduk di hadapannya, membawakan air segar dalam daun yang dilipat seperti perahu. Melihat air itu, barulah Wonwoo merasakan haus. Mendadak tenggorokannya begitu kering bagai padang pasir. Tanpa berpikir lebih jauh, ia menyambar daun itu dan meneguk airnya begitu cepat, ia hampir tersedak.&#xA;&#xA;Sang rubah terkekeh melihat itu. &#34;Pelan-pelan,&#34; gumamnya, sambil mengelus kepala Wonwoo. Yang dielus tidak sadar sampai air itu pun habis dan ia mendesah puas. Lega oleh air yang dingin dan nikmat. Ia kemudian sadar kalau sang rubah mengelus kepalanya dan segera ia menepisnya dari sana.&#xA;&#xA;&#34;Aku memetik buah mulberry,&#34; sang rubah tidak memasukkan ke hati perbuatan kasar Wonwoo barusan. Ia menarik keluar serenceng mulberry yang masih tergantung di ranting kecil dari lengan kain bajunya. Buahnya besar dan nampak padat, sepertinya manis. Wonwoo meneguk ludah, yang tak luput dari sang rubah. &#34;Makanlah. Kamu belum makan. Aku cemas kamu nanti sakit.&#34; Meski sang rubah tidak lagi menyentuhnya, ia merasa pandangan mata rubah itu padanya bagai belaian lembut. &#34;Belum ada yang membawa sesajen lagi. Maaf ya. Kuilku semakin sepi pengunjung selama puluhan tahun belakangan.&#34;&#xA;&#xA;Kali ini, Wonwoo menerima ranting mulberry tersebut, meski tetap diam. Ia hanya mendengarkan rubah itu bercerita.&#xA;&#xA;&#34;Dulu, sampai ratusan tahun lalu, kami begitu dipuja. Setiap hari, ada saja yang menaruh sesajen untuk kami. Kami rubah termasuk salah satu dewa gunung dan sawah. Kami memburu hama yang mengganggu tanaman mereka. Bahkan mengusir babi hutan liar yang menyerang penduduk yang melintasi gunung tanpa niat mencelakakan penghuninya. Mereka berterima kasih pada kami. Aku ingat, orangtuaku pernah menerima banyak sekali inarizushi sampai perutku kenyang sekali.&#34;&#xA;&#xA;Jeon Wonwoo adalah anak yang selalu ingin tahu. Penuh tanda tanya. Mengetahui kelebihannya, ia bukannya takut, malah memanfaatkannya untuk lebih mengenal Jeonghan, yang kemudian membawa hidupnya ke sini, dimana sehari-hari ia berkawan dengan para makhluk halus di desa tempatnya tinggal. Maka, jika ada yang akan ia salahkan untuk perbuatannya berikutnya, ia akan menyalahkan rasa keingin tahuan tersebut, karena ia tidak bisa menyetop bibirnya untuk tidak bertanya,&#xA;&#xA;&#34;Kemana orangtuamu?&#34;&#xA;&#xA;Sesaat, tatapan sang rubah menjadi sendu. Senyumnya sangat menyedihkan, membuat jantung Wonwoo, entah kenapa, miris melihatnya.&#xA;&#xA;&#34;Mati.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wwnatsume" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">wwnatsume</span></a></p>

<p>“Jeon Wonwoo,” rubah itu memanggil lagi. Hari ketiga ia di sini. Atau sudah ke lima? Wonwoo tidak tahu. Semua terasa kabur. Rasanya sudah seminggu, tapi juga seperti baru setengah jam. Rasanya tidak mungkin ia bertahan tanpa ke toilet dan mandi, tapi selain pusing karena kelaparan, ia tidak merasakan urgensi akan kebutuhan primernya. Aneh sekali.</p>



<p>Sepanjang mata memandang, hanya ada padang bunga. Tak ada makhluk hidup lain. Tak ada pohon. Tak ada apapun.</p>

<p>Dunia sang rubah yang begitu sepi.</p>

<p>Pemikiran itu putus ketika sang rubah duduk di hadapannya, membawakan air segar dalam daun yang dilipat seperti perahu. Melihat air itu, barulah Wonwoo merasakan haus. Mendadak tenggorokannya begitu kering bagai padang pasir. Tanpa berpikir lebih jauh, ia menyambar daun itu dan meneguk airnya begitu cepat, ia hampir tersedak.</p>

<p>Sang rubah terkekeh melihat itu. “Pelan-pelan,” gumamnya, sambil mengelus kepala Wonwoo. Yang dielus tidak sadar sampai air itu pun habis dan ia mendesah puas. Lega oleh air yang dingin dan nikmat. Ia kemudian sadar kalau sang rubah mengelus kepalanya dan segera ia menepisnya dari sana.</p>

<p>“Aku memetik buah mulberry,” sang rubah tidak memasukkan ke hati perbuatan kasar Wonwoo barusan. Ia menarik keluar serenceng mulberry yang masih tergantung di ranting kecil dari lengan kain bajunya. Buahnya besar dan nampak padat, sepertinya manis. Wonwoo meneguk ludah, yang tak luput dari sang rubah. “Makanlah. Kamu belum makan. Aku cemas kamu nanti sakit.” Meski sang rubah tidak lagi menyentuhnya, ia merasa pandangan mata rubah itu padanya bagai belaian lembut. “Belum ada yang membawa sesajen lagi. Maaf ya. Kuilku semakin sepi pengunjung selama puluhan tahun belakangan.”</p>

<p>Kali ini, Wonwoo menerima ranting mulberry tersebut, meski tetap diam. Ia hanya mendengarkan rubah itu bercerita.</p>

<p>“Dulu, sampai ratusan tahun lalu, kami begitu dipuja. Setiap hari, ada saja yang menaruh sesajen untuk kami. Kami rubah termasuk salah satu dewa gunung dan sawah. Kami memburu hama yang mengganggu tanaman mereka. Bahkan mengusir babi hutan liar yang menyerang penduduk yang melintasi gunung tanpa niat mencelakakan penghuninya. Mereka berterima kasih pada kami. Aku ingat, orangtuaku pernah menerima banyak sekali inarizushi sampai perutku kenyang sekali.”</p>

<p>Jeon Wonwoo adalah anak yang selalu ingin tahu. Penuh tanda tanya. Mengetahui kelebihannya, ia bukannya takut, malah memanfaatkannya untuk lebih mengenal Jeonghan, yang kemudian membawa hidupnya ke sini, dimana sehari-hari ia berkawan dengan para makhluk halus di desa tempatnya tinggal. Maka, jika ada yang akan ia salahkan untuk perbuatannya berikutnya, ia akan menyalahkan rasa keingin tahuan tersebut, karena ia tidak bisa menyetop bibirnya untuk tidak bertanya,</p>

<p>“Kemana orangtuamu?”</p>

<p>Sesaat, tatapan sang rubah menjadi sendu. Senyumnya sangat menyedihkan, membuat jantung Wonwoo, entah kenapa, miris melihatnya.</p>

<p>“Mati.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/33-pwgp</guid>
      <pubDate>Sun, 23 Aug 2020 08:21:50 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>32.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/32-bgmm?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wwnatsume&#xA;&#xA;&#34;CAPPEEKKKK!!&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Udahlah. Jihoon nyerah. Mereka berhasil jalan lagi selama sejam (ya lumayan juga sih sejam buat ukuran Hani yang mageran itu 🙄) sebelum Jeonghan terhuyung ke salah satu pohon rindang untuk berteduh. Kemeja pinknya sudah terikat kusut di sekeliling pinggang. Ia mengibas kerah kaus putihnya, mencari sekerjap saja angin. Dari tadi tidak ada angin berhembus, membuat udara makin gerah saja. Dukun itu duduk begitu saja di bawah pohon, sudah tidak kuat lagi.&#xA;&#xA;Jihoon menghela napas. Ia pun duduk di samping Jeonghan, lalu membuka ransel yang dari tadi dibawanya. Dikeluarkannya termos penahan dingin berisikan teh gandum kegemaran Jeonghan, yang langsung disambar dukun itu untuk ditenggak banyak-banyak.&#xA;&#xA;&#34;AAAHHHH!! EMANG TEH GANDUM DINGIN DI MUSIM PANAS TUH ENDESS BANGET!! PUAHHH!!&#34;&#xA;&#xA;Norak banget, udah kayak bapak-bapak kantoran mabu-mabuan abis kerja lembur dah 🙄&#xA;&#xA;&#34;Mau makan juga?&#34;Jihoon mengeluarkan kotak bekal yang dijejalinya dengan nasi kepal dari konbini dekat rumah mereka. Dalam sekejap mata, dua nasi kepal isi salmon panggang dan asinan buah plum sudah habis ia lahap. Jihoon sendiri membuka sekaleng makanan kucing berisikan daging tuna yang dihaluskan dan ia menikmatinya dengan sekotak susu. Mereka berdua makan dengan santai walau udara masih saja gerah.&#xA;&#xA;&#34;Ini di gunung tapi gerah bener, gelo siah,&#34; keluh Jeonghan.&#xA;&#xA;&#34;Berarti si Kamaitachi nggak ada di sini,&#34; gumam Jihoon sebelum menyuap suapan terakhir ikan tunanya. &#34;Baguslah. Gue males liat dia.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Malesan liat Kamaitachi apa Dewa Gunung?&#34; Jeonghan meringis jahil, membuat Jihoon mendengus.&#xA;&#xA;&#34;Males liat dua-duanya.&#34; 😤&#xA;&#xA;&#34;Meong gue laku bener,&#34; Jeonghan ketawa kenceng. &#34;Tapi inget ya, yang punya siapa. Yang ini lho. Yang di sini.&#34;&#xA;&#xA;Jihoon memutar bola mata 🙄&#xA;&#xA;&#34;Pokoknya meong gue nggak boleh kawin tanpa seijin gue.&#34; 😤&#xA;&#xA;&#34;Si anjing...yang mo kawin siapa??&#34; 😐😐&#xA;&#xA;&#34;Yaa siapa tau kan tetiba heat lo muncul pas si Kamaitachi ato Dewa Gunung di situ??&#34; 😤&#xA;&#xA;&#34;Najis!&#34; 😐🙄&#xA;&#xA;&#34;I rest my case!&#34; 😤&#xA;&#xA;&#34;Dah lah lu buruan abisin makan, terus kita lanjut jalan lagi!&#34;&#xA;&#xA;(tendang) 😐😐&#xA;&#xA;&#34;ADUHH MAGERRR, GUE CAPEK MAU BOBOK!&#34; 😩😩&#xA;&#xA;&#34;Hani....&#34; 😐😐😐&#xA;&#xA;Mendadak, sebuah ide muncul di kepala Jeonghan. Ia merogoh ransel dan mengeluarkan sebuah kitab sutra. Melihat itu, bola mata Jihoon pun melebar, segera sadar akan niat Jeonghan kali ini. Dengan cepat, dukun itu membuka lembaran demi lembaran kitab, kemudian menyobek selembar halaman.&#xA;&#xA;&#34;Hani...,&#34; Jihoon menggeram.&#xA;&#xA;Mengabaikan protesan Jihoon, dukun itu menggigit halaman tersebut, kemudian merapal mantra. Bagi manusia biasa, mungkin Jeonghan terdengar sedang bergumam tidak jelas, namun bagi Jihoon dan makhluk halus lainnya, jelas Jeonghan sedang merapalkan mantra yang kuat serta, di akhir, saat Jeonghan menghembuskan huruf hingga melayang dari halaman tersebut, Jihoon mendengar nama lahirnya, imina-nya, disebut.&#xA;&#xA;Ia hanya bisa menggertakkan gigi menahan ketidak sukaan saat wujud manusianya menghilang dan digantikan oleh wujud aslinya, seekor nekomata besar berwarna hitam dengan kuku-kuku setajam belati dan dua ekor panjang yang memecut tanah.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wwnatsume" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">wwnatsume</span></a></p>

<p>“CAPPEEKKKK!!”</p>



<p>Udahlah. Jihoon nyerah. Mereka berhasil jalan lagi selama sejam (ya lumayan juga sih sejam buat ukuran Hani yang mageran itu 🙄) sebelum Jeonghan terhuyung ke salah satu pohon rindang untuk berteduh. Kemeja pinknya sudah terikat kusut di sekeliling pinggang. Ia mengibas kerah kaus putihnya, mencari sekerjap saja angin. Dari tadi tidak ada angin berhembus, membuat udara makin gerah saja. Dukun itu duduk begitu saja di bawah pohon, sudah tidak kuat lagi.</p>

<p>Jihoon menghela napas. Ia pun duduk di samping Jeonghan, lalu membuka ransel yang dari tadi dibawanya. Dikeluarkannya termos penahan dingin berisikan teh gandum kegemaran Jeonghan, yang langsung disambar dukun itu untuk ditenggak banyak-banyak.</p>

<p>“AAAHHHH!! EMANG TEH GANDUM DINGIN DI MUSIM PANAS TUH ENDESS BANGET!! PUAHHH!!”</p>

<p>Norak banget, udah kayak bapak-bapak kantoran mabu-mabuan abis kerja lembur dah 🙄</p>

<p>“Mau makan juga?“Jihoon mengeluarkan kotak bekal yang dijejalinya dengan nasi kepal dari konbini dekat rumah mereka. Dalam sekejap mata, dua nasi kepal isi salmon panggang dan asinan buah plum sudah habis ia lahap. Jihoon sendiri membuka sekaleng makanan kucing berisikan daging tuna yang dihaluskan dan ia menikmatinya dengan sekotak susu. Mereka berdua makan dengan santai walau udara masih saja gerah.</p>

<p>“Ini di gunung tapi gerah bener, gelo siah,” keluh Jeonghan.</p>

<p>“Berarti si Kamaitachi nggak ada di sini,” gumam Jihoon sebelum menyuap suapan terakhir ikan tunanya. “Baguslah. Gue males liat dia.”</p>

<p>“Malesan liat Kamaitachi apa Dewa Gunung?” Jeonghan meringis jahil, membuat Jihoon mendengus.</p>

<p>“Males liat dua-duanya.” 😤</p>

<p>“Meong gue laku bener,” Jeonghan ketawa kenceng. “Tapi inget ya, yang punya siapa. Yang ini lho. Yang di sini.”</p>

<p>Jihoon memutar bola mata 🙄</p>

<p>“Pokoknya meong gue nggak boleh kawin tanpa seijin gue.” 😤</p>

<p>“Si anjing...yang mo kawin siapa??” 😐😐</p>

<p>“Yaa siapa tau kan tetiba heat lo muncul pas si Kamaitachi ato Dewa Gunung di situ??” 😤</p>

<p>“Najis!” 😐🙄</p>

<p>“I rest my case!” 😤</p>

<p>“Dah lah lu buruan abisin makan, terus kita lanjut jalan lagi!”</p>

<p>(<em>tendang</em>) 😐😐</p>

<p>“ADUHH MAGERRR, GUE CAPEK MAU BOBOK!” 😩😩</p>

<p>“Hani....” 😐😐😐</p>

<p>Mendadak, sebuah ide muncul di kepala Jeonghan. Ia merogoh ransel dan mengeluarkan sebuah kitab sutra. Melihat itu, bola mata Jihoon pun melebar, segera sadar akan niat Jeonghan kali ini. Dengan cepat, dukun itu membuka lembaran demi lembaran kitab, kemudian menyobek selembar halaman.</p>

<p>“Hani...,” Jihoon menggeram.</p>

<p>Mengabaikan protesan Jihoon, dukun itu menggigit halaman tersebut, kemudian merapal mantra. Bagi manusia biasa, mungkin Jeonghan terdengar sedang bergumam tidak jelas, namun bagi Jihoon dan makhluk halus lainnya, jelas Jeonghan sedang merapalkan mantra yang kuat serta, di akhir, saat Jeonghan menghembuskan huruf hingga melayang dari halaman tersebut, Jihoon mendengar nama lahirnya, <em>imina</em>-nya, disebut.</p>

<p>Ia hanya bisa menggertakkan gigi menahan ketidak sukaan saat wujud manusianya menghilang dan digantikan oleh wujud aslinya, seekor <em>nekomata</em> besar berwarna hitam dengan kuku-kuku setajam belati dan dua ekor panjang yang memecut tanah.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/32-bgmm</guid>
      <pubDate>Tue, 18 Aug 2020 16:10:42 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>31.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/31-v6rz?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wwnatsume&#xA;&#xA;Sang rubah meniup-niup tiga potong inarizushi yang masih panas. Barusan saja ada yang berdoa ke kuil Rubah di dunia manusia dan membawakan sesajen inarizushi. Ia pun tersenyum senang. Inarizushi adalah makanan manusia kesukaannya, yang kedua adalah tahu sutra digoreng dengan sedikit tepung. Nikmat sekali.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Namun, meskipun sang rubah lapar, ia menahan rasa lapar itu dan membawakan makanan di atas selembar daun tersebut kepada pengantinnya.&#xA;&#xA;&#34;Jeon Wonwoo,&#34; entah kapan Wonwoo bisa tenang tiap nama lengkapnya disebut. Sungguh ia tidak suka seekor siluman asing mengetahui namanya.&#xA;&#xA;Nama adalah hal yang paling krusial di dunia. Dengan memegang nama, maka siapapun bisa mengendalikan orang tersebut. Amat berbahaya apabila ada pihak lain yang memegang nama asli seseorang, maka setiap bayi yang lahir akan diberikan dua nama: imina dan nama sehari-hari. Nama sehari-hari Wonwoo adalah Jeon Wonwoo, dan, dengan memegang nama itu, si rubah sudah mendapatkan separuh dari keseluruhan kendali. Tinggal separuh lagi, nama lahirnya, imina, jika diketahui si rubah maka habislah ia.&#xA;&#xA;&#34;Jeon Wonwoo,&#34; ulang si rubah. Sambil tersenyum, disodorkannya daun berisikan makanan itu. &#34;Makan. Ini makanan manusia. Ada manusia kasih persembahan buatku. Makan. Ini enak.&#34;&#xA;&#xA;Enak. Sang rubah suka. Kalau pengantinnya juga suka, maka ia akan senang sekali.&#xA;&#xA;&#34;Saya nggak lapar!&#34; hardik Wonwoo. &#34;Pulangin saya! Saya nggak mau ada di sini! Saya mau pulang! Saya bukan pengantin kamu!&#34;&#xA;&#xA;Ekor sang rubah yang tadinya mengibas kesana-kemari pun langsung lunglai. Kuyu karena sedih.&#xA;&#xA;&#34;Kamu pengantinku, Jeon Wonwoo,&#34; ia mengatakannya lagi. &#34;Kamu belum makan dari kemarin. Ini makan. Kalo nggak makan, nanti kamu sakit--&#34;&#xA;&#xA;Plak!&#xA;&#xA;Srak!&#xA;&#xA;&#34;Saya nggak mau makan sesajen! Saya mau pulang! Pulangin saya! Lepasin saya!&#34;&#xA;&#xA;Bohong. Padahal Wonwoo lapar. Wonwoo lapar sekali. Terakhir ia makan itu kemarin pagi sebelum berangkat ke sekolah, semangkuk selada kentang dan telur mata sapi. Andai tahu ia akan disekap seperti ini, harusnya dia tambah nasi lagi dua mangkuk dan sepotong lagi telur mata sapi. Wonwoo sangat, sangat lapar.&#xA;&#xA;Inarizushi yang ia sukai kini berserakan di rerumputan. Sang rubah memandangi makanan yang mubazir itu dengan sedih. Dipungutinya nasi yang berceceran dari kantung kulit tahu dan dikumpulkannya kembali ke atas daun. Satu per satu, tiap butir, sampai semua telah terambil.&#xA;&#xA;&#34;Wonwoo tau?&#34; ucap sang rubah dengan lirih. &#34;Di tiap butir nasi itu ada tujuh dewa. Semua dewa itu mendoakan tiap butir nasi agar bisa memberi makan semua makhluk dengan nyawanya. Begitupun hewan dan tumbuhan lain yang diciptakan buat dikonsumsi. Mereka berkorban nyawa buat kita.&#34;&#xA;&#xA;Sang rubah menatap paras Wonwoo yang tercengang dan curiga secara bersamaan, kemudian tersenyum lembut.&#xA;&#xA;&#34;Nggak apa kalau Wonwoo nggak mau makan, tapi jangan dibuang ya? Kasihan, udah susah-susah ngasih sesajen makanan. Mungkin dia sendiri kelaparan, tapi dia ngasih kita makanan.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo hanya diam. Tidak tahu harus berkata apa.&#xA;&#xA;&#34;Ini udah kotor. Biar aku yang makan. Nanti kalo ada sesajen lagi, aku bawain, kamu makan ya? Aku nggak mau pengantinku sakit.&#34;&#xA;&#xA;Berkata begitu, sang rubah berdiri, membawa makanan yang sudah kotor dan berantakan itu pergi, meninggalkan Wonwoo terpekur dalam keadaan lapar dan sangat bingung.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wwnatsume" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">wwnatsume</span></a></p>

<p>Sang rubah meniup-niup tiga potong inarizushi yang masih panas. Barusan saja ada yang berdoa ke kuil Rubah di dunia manusia dan membawakan sesajen inarizushi. Ia pun tersenyum senang. Inarizushi adalah makanan manusia kesukaannya, yang kedua adalah tahu sutra digoreng dengan sedikit tepung. Nikmat sekali.</p>



<p>Namun, meskipun sang rubah lapar, ia menahan rasa lapar itu dan membawakan makanan di atas selembar daun tersebut kepada pengantinnya.</p>

<p>“Jeon Wonwoo,” entah kapan Wonwoo bisa tenang tiap nama lengkapnya disebut. Sungguh ia tidak suka seekor siluman asing mengetahui namanya.</p>

<p>Nama adalah hal yang paling krusial di dunia. Dengan memegang nama, maka siapapun bisa mengendalikan orang tersebut. Amat berbahaya apabila ada pihak lain yang memegang nama asli seseorang, maka setiap bayi yang lahir akan diberikan dua nama: imina dan nama sehari-hari. Nama sehari-hari Wonwoo adalah Jeon Wonwoo, dan, dengan memegang nama itu, si rubah sudah mendapatkan separuh dari keseluruhan kendali. Tinggal separuh lagi, nama lahirnya, <em>imina</em>, jika diketahui si rubah maka habislah ia.</p>

<p>“Jeon Wonwoo,” ulang si rubah. Sambil tersenyum, disodorkannya daun berisikan makanan itu. “Makan. Ini makanan manusia. Ada manusia kasih persembahan buatku. Makan. Ini enak.”</p>

<p>Enak. Sang rubah suka. Kalau pengantinnya juga suka, maka ia akan senang sekali.</p>

<p>“Saya nggak lapar!” hardik Wonwoo. “Pulangin saya! Saya nggak mau ada di sini! Saya mau pulang! Saya bukan pengantin kamu!”</p>

<p>Ekor sang rubah yang tadinya mengibas kesana-kemari pun langsung lunglai. Kuyu karena sedih.</p>

<p>“Kamu pengantinku, Jeon Wonwoo,” ia mengatakannya lagi. “Kamu belum makan dari kemarin. Ini makan. Kalo nggak makan, nanti kamu sakit—”</p>

<p><em>Plak!</em></p>

<p><em>Srak!</em></p>

<p>“Saya nggak mau makan sesajen! Saya mau pulang! Pulangin saya! Lepasin saya!”</p>

<p>Bohong. Padahal Wonwoo lapar. Wonwoo lapar sekali. Terakhir ia makan itu kemarin pagi sebelum berangkat ke sekolah, semangkuk selada kentang dan telur mata sapi. Andai tahu ia akan disekap seperti ini, harusnya dia tambah nasi lagi dua mangkuk dan sepotong lagi telur mata sapi. Wonwoo sangat, sangat lapar.</p>

<p>Inarizushi yang ia sukai kini berserakan di rerumputan. Sang rubah memandangi makanan yang mubazir itu dengan sedih. Dipungutinya nasi yang berceceran dari kantung kulit tahu dan dikumpulkannya kembali ke atas daun. Satu per satu, tiap butir, sampai semua telah terambil.</p>

<p>“Wonwoo tau?” ucap sang rubah dengan lirih. “Di tiap butir nasi itu ada tujuh dewa. Semua dewa itu mendoakan tiap butir nasi agar bisa memberi makan semua makhluk dengan nyawanya. Begitupun hewan dan tumbuhan lain yang diciptakan buat dikonsumsi. Mereka berkorban nyawa buat kita.”</p>

<p>Sang rubah menatap paras Wonwoo yang tercengang dan curiga secara bersamaan, kemudian tersenyum lembut.</p>

<p>“Nggak apa kalau Wonwoo nggak mau makan, tapi jangan dibuang ya? Kasihan, udah susah-susah ngasih sesajen makanan. Mungkin dia sendiri kelaparan, tapi dia ngasih kita makanan.”</p>

<p>Wonwoo hanya diam. Tidak tahu harus berkata apa.</p>

<p>“Ini udah kotor. Biar aku yang makan. Nanti kalo ada sesajen lagi, aku bawain, kamu makan ya? Aku nggak mau pengantinku sakit.”</p>

<p>Berkata begitu, sang rubah berdiri, membawa makanan yang sudah kotor dan berantakan itu pergi, meninggalkan Wonwoo terpekur dalam keadaan lapar dan sangat bingung.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/31-v6rz</guid>
      <pubDate>Tue, 18 Aug 2020 14:55:26 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>