<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>wonshuashort &amp;mdash; 🌾</title>
    <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshuashort</link>
    <description>narrative writings of thesunmetmoon</description>
    <pubDate>Tue, 02 Jun 2026 10:41:45 +0000</pubDate>
    <image>
      <url>https://i.snap.as/K7JGOEOo.png</url>
      <title>wonshuashort &amp;mdash; 🌾</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshuashort</link>
    </image>
    <item>
      <title>Wonshua Omake</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/wonshua-omake-8mbn?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wonshuashort&#xA;&#xA;Ngantuk. Ngantuk banget. Tanpa ditonton, Joshua sengaja menghidupkan televisi sambil maenan hape, menunggu kedatangan Soonyoung. Kost-an Joshua adalah sebuah kamar sederhana. Begitu pintu dibuka, ada jeda kecil yang Joshua jadikan ruang menonton dan makan dengan menggelar karpet bulu imitasi serta bantal-bantal bundar di depan sebuah televisi kecil harga sejutaan. Tentunya nggak ada meja selain untuk menaruh televisi tersebut.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Agak mundur dari area itu, adalah ranjang Joshua. Ranjangnya nggak gede, tapi muat sih buat dua orang kalo dipaksain. Ukuran seprainya 160 x 200 x 20, dengan sisa agak banyak buat diselipin ke dalam matras. Kemudian, nggak jauh dari situ, ada pintu ke kamar mandi yang hanya berisikan pancuran, keran, dan toilet duduk. Joshua nggak punya lemari karena hanya akan memakan tempat. Dia masukkan baju-bajunya ke beberapa kotak yang dia taruh di bawah gantungan baju terbuka (yang cukup trendi di kalangan anak kost atau pecinta kamar model minimalis jaman sekarang). Persis di sebelahnya, dia taruh kulkas mini dan toaster, yang dia turunkan dari atas kulkas ketika digunakan.&#xA;&#xA;Secara keseluruhan, kamar kost itu cukup luas, memang, namun sederhana. Joshua menyukai warna tanah: warna-warna alamiah seperti cokelat muda, hijau daun yang agak gelap, abu-abu yang sehangat bulu tikus, juga warna-warna pastel. Ia memadu padankan dengan seprai putih bersih atau, sesekali, hitam. Warna sederhana untuk kamar kost yang sederhana.&#xA;&#xA;Di kamar itulah dia menanti kedatangan rekan kerjanya. Kelopak mata sempat tertutup beberapa kali. Dia sudah siap untuk tidur, berbalut piyama katun yang adem. Malam itu cukup panas, jadi Joshua menurunkan suhu AC-nya. Kedua kaki menekuk. Punggung bersandar di sisi ranjang. Dia menduduki sebuah bantal bulat sambil jari-jemarinya sibuk menyapu layar handphone, memainkan game yang sedang booming akhir-akhir ini.&#xA;&#xA;Tok, tok, tok!&#xA;&#xA;Suara ketukan di pintu kamar persis tiga kali.&#xA;&#xA;Menghembuskan napas (lega), Joshua pun keluar dari game, melempar handphonenya ke kasur, kemudian beranjak. Diambilnya jaket Soonyoung asal-asalan, terlalu mengantuk untuk peduli.&#xA;&#xA;Klek.&#xA;&#xA;Terpampang di sana, ringisan lebar pada wajah rekan kerjanya.&#xA;&#xA;&#34;Lama.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya maap.&#34;&#xA;&#xA;Joshua menyodorkan jaket itu pada pemiliknya, yang langsung berpindah tangan.&#xA;&#xA;&#34;Siipp! Thanks, bro!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Napa nggak pake yang laen sih?&#34; dia mendengus.&#xA;&#xA;&#34;Yha gimana. Ini tuh jaket couple-an sama cewek gue, terus dia pengen gue pake jaket ini biar kembaran sama dia besok,&#34; buru-buru Soonyoung menambahkan. &#34;Gue tau. Bego, emang. Nggak usah dijudge.&#34;&#xA;&#xA;Joshua memutar bola mata, &#34;Gue nggak ngomong apa-apa.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mata lo tuh.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Napa mata gue?&#34; dia mengernyit.&#xA;&#xA;&#34;Ngejek.&#34;&#xA;&#xA;Joshua memutar lagi bola matanya. Gemas, Soonyoung melingkarkan lengan ke leher Joshua, mengusrek kepala lelaki itu, membuat Joshua semakin protes.&#xA;&#xA;&#34;Anjing, Kwon--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oi, Nyong! Udah belom?&#34;&#xA;&#xA;Membeku.&#xA;&#xA;Secara harfiah. Hampir Joshua lupa caranya bernapas. Matanya membelalak, menetap pada lantai, sementara Soonyoung melepasnya untuk bicara pada pemilik suara itu.&#xA;&#xA;&#34;Sori, sori. Udah kok. Kok lo nyamperin ke sini, katanya males?&#34; ada tawa ringan dalam nada bicara Soonyoung.&#xA;&#xA;&#34;Ya lo lama banget?? Buru. Udah malem nih. Gue besok kerja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kerja mulu lo, cari pacar makanya biar wiken kencan, kayak gue,&#34; kali ini, jelas tawa. &#34;Oh iya. Sini dah sekalian gue kenalin.&#34;&#xA;&#xA;Suara itu...&#xA;&#xA;&#34;Kenalin nih coy, housemate gue yang sering gue ceritain ke elo.&#34;&#xA;&#xA;Suara itu......&#xA;&#xA;&#34;Ini Wonwoo.&#34;&#xA;&#xA;....ya Tuhan...&#xA;&#xA;&#34;Won, kenalin, temen kantor gue, Jis--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Joshua...?&#34;&#xA;&#xA;...........ya Tuhan...............&#xA;&#xA;Dadanya bergejolak. Takut. Takut. Joshua takut. Namun, dia nggak bisa menahan diri untuk nggak mengangkat wajahnya perlahan, amat perlahan, untuk menatap pemilik suara tersebut. Suara yang sudah lama dia nggak dengar, namun nggak akan pernah dia lupakan. Suara yang baru saja memanggil namanya. Nama yang dia sembunyikan dari seluruh dunia ketika memulai hidup baru selepas kuliah dan pindah ke kota baru untuk bekerja.&#xA;&#xA;Nama yang meluncur dari lidah yang familier baginya.&#xA;&#xA;Tenggorokannya tercekat, mendadak kering kerontang. Kedua matanya membulat. Dia butuh oksigen. Oh Tuhan...apa ini mimpi...?&#xA;&#xA;&#34;Hah? Joshua?&#34; Soonyoung mengernyit. Dia tau nama itu, sering mendengarnya sampai tercetak dalam benak. &#34;Joshua...Joshua...&#34; Nama siapa itu ya...? Hmm... &#34;Joshua-nya Won...tetangga yang lo taksir dulu itu bukan, Won? Shua--&#34;&#xA;&#xA;Kaget, dia, saat semua menjadi sebuah gambaran utuh dalam kepalanya. Cepat, Soonyoung menoleh, memandangi Jisoo (Joshua, rupanya) dengan takjub.&#xA;&#xA;&#34;Lo Joshua...,&#34; hembusnya, nggak percaya. &#34;Oh God, lo Joshua yang itu...&#34;&#xA;&#xA;Soonyoung kemudian menjauh, hanya untuk digantikan oleh Wonwoo yang tetiba masuk ke dalam jarak personalnya, meski masih menyisakan jeda satu langkah lebar di antara mereka. Joshua nggak bisa mengalihkan pandangan dari Wonwoo. Takut, kalau dia memutusnya, Wonwoo akan pergi lagi darinya. Takut, kalau lelaki ini, lelaki yang suatu malam nun jauh di masa lampau telah menghujani ciuman lembut di seluruh bagian tubuhnya, akan lepas dari genggamannya lagi.&#xA;&#xA;&#34;Shua...,&#34; desahan rendah, seakan nggak percaya apa yang ada di depan mata. Wonwoo mengangkat tangan. Jari telunjuknya menekuk dan, dengan hati-hati, disentuhnya halus pipi Joshua, membuat lelaki itu terkesiap. Napas mendadak ditarik dengan bunyi kencang. Mata serta merta memejam.&#xA;&#xA;Wonwoo memperhatikan itu semua, meraup semua perubahan pada wajah lelaki itu. Tangannya yang menyentuh Joshua gemetaran. Bibir bawah Joshua gemetaran. Karena Joshua nggak menolak sentuhannya, maka Wonwoo memberanikan diri untuk merubah elusan menjadi tangkupan tangan. Jeda di antara mereka dihilangkan oleh langkah perlahan.&#xA;&#xA;&#34;Shua.....&#34;&#xA;&#xA;Kini suaranya ikut gemetar. Meninggi dan parau. Napas keduanya memburu oleh atmosfer yang kian memberat. Tangan-tangan Wonwoo mengelus dan meraba, meneliti wajah Joshua dengan seksama. Ibu jari meraba bibir yang merekah, sengaja menetap lama di sana.&#xA;&#xA;&#34;....Tanya aku...&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo memandanginya bingung. Joshua kemudian membuka mata, menatapnya lurus. Di bawah kulit ibu jari Wonwoo, bibirnya bergerak membentuk kalimat yang keluar berupa bisikan rendah semata.&#xA;&#xA;&#34;...Tanya aku, Won, tanya aku apa aku sayang sama kamu...&#34;&#xA;&#xA;Mata Joshua berkaca-kaca. Berkilau dengan cantik di mata Wonwoo. Dada Wonwoo membuncah oleh perasaan yang campur aduk nggak karuan. Segala kenangan, segala harapan. Segala perasaan yang dia simpan jauh di lubuk hatinya untuk lelaki di hadapannya itu, meraung, mencabik, membelesak keluar, tumpah ruah bagai kotak Pandora yang dibuka.&#xA;&#xA;Dan Jeon Wonwoo nggak ingin menguncinya lagi.&#xA;&#xA;&#34;...Joshua Hong,&#34; lelaki itu balas berbisik, hampir menangis. Jarak mereka begitu dekat. &#34;Kamu sayang sama aku?&#34;&#xA;&#xA;Jawabannya, tentu saja, adalah kalungan lengan pada leher Wonwoo. Tentu saja, adalah sebuah ciuman dengan intensitas yang mengerikan. Lidah yang panas dan terburu-buru. Bagai dahaga yang akhirnya menemukan pelepasannya. Wonwoo membalasnya dengan mencium balik sama ganasnya, merangkul balik tubuh itu sama eratnya.&#xA;&#xA;Seolah waktu nggak pernah berjalan dan mereka, Joshua dan Wonwoo, terlempar ke troli di depan lemari pendingin di supermarket kala itu.&#xA;&#xA;&#34;Aku-ah-cin-mmh-&#34;&#xA;&#xA;Sulit bagi Joshua untuk merangkai kalimat karena Wonwoo nggak berhenti menciumi bibirnya. Dia nggak tau kapan sudah ditekan ke pintu kamarnya. Nggak tau kapan pintu itu ketutup dan Soonyoung secara ajaib sudah pergi, meninggalkan kedua sejoli itu berciuman seolah hari esok nggak akan pernah datang.&#xA;&#xA;Joshua membiarkannya. Dia membiarkan Wonwoo mengambil semua. Pertamanya. Raganya. Hatinya. Semua, semua dia berikan pada lelaki dalam dekapannya itu, pada lelaki yang menciuminya seakan Joshua oksigen baginya. Semua.&#xA;&#xA;Ambillah. Ambil.&#xA;&#xA;Semua ini, ini, punya kamu.&#xA;&#xA;&#34;Shua-haa-Shua...&#34;&#xA;&#xA;Sampai pada akhirnya, ciuman harus terlepas juga sejenak. Ujung hidung yang masih saling menempel mengutarakan keengganan untuk menjauh. Tangan Joshua berpegangan pada tengkuk Wonwoo. Satu paha Wonwoo entah kapan menyelip di antara kedua paha Joshua. Tangannya menggamit kencang pinggang dan pinggul Joshua. Dia harus mati-matian menahan diri untuk nggak bergerak di paha Wonwoo. Bibir mereka menyentuh kembali, namun nggak berciuman. Mereka hanya menikmati sentuhan-sentuhan yang selama ini mereka nantikan semenjak perpisahan itu.&#xA;&#xA;&#34;Won...Won-ngh-&#34; Wonwoo menciumi sisi leher Joshua. &#34;-aku-ah-aku belum jawab pertanyaan k-kamu-oh-&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmmh.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Won, stop,&#34; Joshua terkekeh. Dia bisa merasakan senyuman Wonwoo pada kulit lehernya. Joshua pun mendorong Wonwoo sedikit sehingga mereka bisa bertatapan lagi.&#xA;&#xA;Di dalam sana, dalam gelap bola mata Jeon Wonwoo, Joshua mencari rasa benci, kekecewaan, atau sejenisnya, yang selama ini dia takutkan kalau bertemu Wonwoo kembali. Joshua yakin Wonwoo membencinya karena dia kabur seorang diri. Lari, meninggalkan Wonwoo dalam lingkungan yang memaksanya mengunci diri sendiri. Memaksanya menjadi orang lain yang bukan dirinya.&#xA;&#xA;Namun, Joshua sama sekali nggak menemukan itu. Yang dia temukan saat ini, oh, yang terefleksi pada bola mata Jeon Wonwoo--&#xA;&#xA;\--hanyalah cinta.&#xA;&#xA;Cinta yang begitu besar. Hangat dan meluap-luap. Cinta yang orang awam pun bisa melihatnya, tumpah keluar tanpa ditahan-tahan sama sekali. Cinta yang, Joshua pikir, dia telah kehilangannya.&#xA;&#xA;Masih ada. Ada di sini. Wonwoo-nya. Orang yang telah bersamanya, sejak masih kecil sampai dia menjadi lelaki dewasa. Yang mengajarinya arti mencintai yang sesungguhnya.&#xA;&#xA;Kekasihnya.&#xA;&#xA;&#34;Won...,&#34; Joshua berbagi napas dengan Wonwoo. &#34;Aku cinta--&#34;&#xA;&#xA;Teguk ludah.&#xA;&#xA;&#34;Cinta--&#34;&#xA;&#xA;Hembusan napas.&#xA;&#xA;&#34;Aku cinta sama kamu...&#34;&#xA;&#xA;Selalu. Selamanya.&#xA;&#xA;Satu-satunya.&#xA;&#xA;Dan, ketika Wonwoo mengangkatnya ke dalam gendongan, Joshua berteriak, lalu tertawa. Tawa yang panjang dan membahana. Ringan dan bahagia.&#xA;&#xA;Di antara desahan dan tarikan napas, dia mendengarnya, begitu lembut, begitu indah.&#xA;&#xA;&#34;Aku juga cinta sama kamu...&#34;&#xA;&#xA;6 unread messages&#xA;&#xA;(Parah lu ya, Won, lu langsung lupa sama gue. Gue kudu ngeojol tadi ahsksj untung gue temen yang baek njir ditinggal ngewe parah bets.&#xA;&#xA;Btw congrats, to you and Joshua too. Kaget banget nggak nyangka dunia sempit bener dah.&#xA;&#xA;Bener kan, Won, omongan gue? Kalo lu bedua jodoh, nggak akan kemana, Won.&#xA;&#xA;Eniwei, besok PJ ya. Inget. Jangan pecel ayam depan lagi, yang mahalan dikit lah. Pizza, gitu.&#xA;&#xA;Selamat ya, Won, I hope you two all the happiness in the world!&#xA;&#xA;Horanghae 🐯❤️)]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshuashort" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">wonshuashort</span></a></p>

<p>Ngantuk. Ngantuk banget. Tanpa ditonton, Joshua sengaja menghidupkan televisi sambil maenan hape, menunggu kedatangan Soonyoung. Kost-an Joshua adalah sebuah kamar sederhana. Begitu pintu dibuka, ada jeda kecil yang Joshua jadikan ruang menonton dan makan dengan menggelar karpet bulu imitasi serta bantal-bantal bundar di depan sebuah televisi kecil harga sejutaan. Tentunya nggak ada meja selain untuk menaruh televisi tersebut.</p>



<p>Agak mundur dari area itu, adalah ranjang Joshua. Ranjangnya nggak gede, tapi muat sih buat dua orang kalo dipaksain. Ukuran seprainya 160 x 200 x 20, dengan sisa agak banyak buat diselipin ke dalam matras. Kemudian, nggak jauh dari situ, ada pintu ke kamar mandi yang hanya berisikan pancuran, keran, dan toilet duduk. Joshua nggak punya lemari karena hanya akan memakan tempat. Dia masukkan baju-bajunya ke beberapa kotak yang dia taruh di bawah gantungan baju terbuka (yang cukup trendi di kalangan anak kost atau pecinta kamar model minimalis jaman sekarang). Persis di sebelahnya, dia taruh kulkas mini dan toaster, yang dia turunkan dari atas kulkas ketika digunakan.</p>

<p>Secara keseluruhan, kamar kost itu cukup luas, memang, namun sederhana. Joshua menyukai warna tanah: warna-warna alamiah seperti cokelat muda, hijau daun yang agak gelap, abu-abu yang sehangat bulu tikus, juga warna-warna pastel. Ia memadu padankan dengan seprai putih bersih atau, sesekali, hitam. Warna sederhana untuk kamar kost yang sederhana.</p>

<p>Di kamar itulah dia menanti kedatangan rekan kerjanya. Kelopak mata sempat tertutup beberapa kali. Dia sudah siap untuk tidur, berbalut piyama katun yang adem. Malam itu cukup panas, jadi Joshua menurunkan suhu AC-nya. Kedua kaki menekuk. Punggung bersandar di sisi ranjang. Dia menduduki sebuah bantal bulat sambil jari-jemarinya sibuk menyapu layar handphone, memainkan game yang sedang booming akhir-akhir ini.</p>

<p><em>Tok, tok, tok!</em></p>

<p>Suara ketukan di pintu kamar persis tiga kali.</p>

<p>Menghembuskan napas (lega), Joshua pun keluar dari game, melempar handphonenya ke kasur, kemudian beranjak. Diambilnya jaket Soonyoung asal-asalan, terlalu mengantuk untuk peduli.</p>

<p><em>Klek.</em></p>

<p>Terpampang di sana, ringisan lebar pada wajah rekan kerjanya.</p>

<p>“Lama.”</p>

<p>“Ya maap.”</p>

<p>Joshua menyodorkan jaket itu pada pemiliknya, yang langsung berpindah tangan.</p>

<p>“Siipp! Thanks, bro!”</p>

<p>“Napa nggak pake yang laen sih?” dia mendengus.</p>

<p>“Yha gimana. Ini tuh jaket couple-an sama cewek gue, terus dia pengen gue pake jaket ini biar kembaran sama dia besok,” buru-buru Soonyoung menambahkan. “Gue tau. Bego, emang. Nggak usah dijudge.”</p>

<p>Joshua memutar bola mata, “Gue nggak ngomong apa-apa.”</p>

<p>“Mata lo tuh.”</p>

<p>“Napa mata gue?” dia mengernyit.</p>

<p>“Ngejek.”</p>

<p>Joshua memutar lagi bola matanya. Gemas, Soonyoung melingkarkan lengan ke leher Joshua, mengusrek kepala lelaki itu, membuat Joshua semakin protes.</p>

<p>“Anjing, Kwon—”</p>

<p>“Oi, Nyong! Udah belom?”</p>

<p><em>Membeku.</em></p>

<p>Secara harfiah. Hampir Joshua lupa caranya bernapas. Matanya membelalak, menetap pada lantai, sementara Soonyoung melepasnya untuk bicara pada pemilik suara itu.</p>

<p>“Sori, sori. Udah kok. Kok lo nyamperin ke sini, katanya males?” ada tawa ringan dalam nada bicara Soonyoung.</p>

<p>“Ya lo lama banget?? Buru. Udah malem nih. Gue besok kerja.”</p>

<p>“Kerja mulu lo, cari pacar makanya biar wiken kencan, kayak gue,” kali ini, jelas tawa. “Oh iya. Sini dah sekalian gue kenalin.”</p>

<p><em>Suara itu...</em></p>

<p>“Kenalin nih coy, housemate gue yang sering gue ceritain ke elo.”</p>

<p><em>Suara itu......</em></p>

<p>“Ini Wonwoo.”</p>

<p><em>....ya Tuhan...</em></p>

<p>“Won, kenalin, temen kantor gue, Jis—”</p>

<p>“<em>Joshua...?</em>“</p>

<p><em>...........ya Tuhan...............</em></p>

<p>Dadanya bergejolak. Takut. <em>Takut</em>. Joshua takut. Namun, dia nggak bisa menahan diri untuk nggak mengangkat wajahnya perlahan, amat perlahan, untuk menatap pemilik suara tersebut. Suara yang sudah lama dia nggak dengar, namun nggak akan pernah dia lupakan. Suara yang baru saja memanggil namanya. Nama yang dia sembunyikan dari seluruh dunia ketika memulai hidup baru selepas kuliah dan pindah ke kota baru untuk bekerja.</p>

<p>Nama yang meluncur dari lidah yang familier baginya.</p>

<p>Tenggorokannya tercekat, mendadak kering kerontang. Kedua matanya membulat. Dia butuh oksigen. Oh Tuhan...<em>apa ini mimpi...?</em></p>

<p>“Hah? Joshua?” Soonyoung mengernyit. Dia tau nama itu, sering mendengarnya sampai tercetak dalam benak. “Joshua...Joshua...” <em>Nama siapa itu ya...? Hmm...</em> “Joshua-nya Won...tetangga yang lo taksir dulu itu bukan, Won? Shua—”</p>

<p>Kaget, dia, saat semua menjadi sebuah gambaran utuh dalam kepalanya. Cepat, Soonyoung menoleh, memandangi Jisoo (<em>Joshua, rupanya</em>) dengan takjub.</p>

<p>“Lo Joshua...,” hembusnya, nggak percaya. “Oh God, lo Joshua yang <em>itu</em>...”</p>

<p>Soonyoung kemudian menjauh, hanya untuk digantikan oleh Wonwoo yang tetiba masuk ke dalam jarak personalnya, meski masih menyisakan jeda satu langkah lebar di antara mereka. Joshua nggak bisa mengalihkan pandangan dari Wonwoo. Takut, kalau dia memutusnya, Wonwoo akan pergi lagi darinya. Takut, kalau lelaki ini, lelaki yang suatu malam nun jauh di masa lampau telah menghujani ciuman lembut di seluruh bagian tubuhnya, akan lepas dari genggamannya lagi.</p>

<p>“Shua...,” desahan rendah, seakan nggak percaya apa yang ada di depan mata. Wonwoo mengangkat tangan. Jari telunjuknya menekuk dan, dengan hati-hati, disentuhnya halus pipi Joshua, membuat lelaki itu terkesiap. Napas mendadak ditarik dengan bunyi kencang. Mata serta merta memejam.</p>

<p>Wonwoo memperhatikan itu semua, meraup semua perubahan pada wajah lelaki itu. Tangannya yang menyentuh Joshua gemetaran. Bibir bawah Joshua gemetaran. Karena Joshua nggak menolak sentuhannya, maka Wonwoo memberanikan diri untuk merubah elusan menjadi tangkupan tangan. Jeda di antara mereka dihilangkan oleh langkah perlahan.</p>

<p>“Shua.....”</p>

<p>Kini suaranya ikut gemetar. Meninggi dan parau. Napas keduanya memburu oleh atmosfer yang kian memberat. Tangan-tangan Wonwoo mengelus dan meraba, meneliti wajah Joshua dengan seksama. Ibu jari meraba bibir yang merekah, sengaja menetap lama di sana.</p>

<p>”....Tanya aku...”</p>

<p>Wonwoo memandanginya bingung. Joshua kemudian membuka mata, menatapnya lurus. Di bawah kulit ibu jari Wonwoo, bibirnya bergerak membentuk kalimat yang keluar berupa bisikan rendah semata.</p>

<p>”...Tanya aku, Won, tanya aku apa aku sayang sama kamu...”</p>

<p>Mata Joshua berkaca-kaca. Berkilau dengan cantik di mata Wonwoo. Dada Wonwoo membuncah oleh perasaan yang campur aduk nggak karuan. Segala kenangan, segala harapan. Segala perasaan yang dia simpan jauh di lubuk hatinya untuk lelaki di hadapannya itu, meraung, mencabik, membelesak keluar, tumpah ruah bagai kotak Pandora yang dibuka.</p>

<p>Dan Jeon Wonwoo nggak ingin menguncinya lagi.</p>

<p>”...Joshua Hong,” lelaki itu balas berbisik, hampir menangis. Jarak mereka begitu dekat. “Kamu sayang sama aku?”</p>

<p>Jawabannya, tentu saja, adalah kalungan lengan pada leher Wonwoo. Tentu saja, adalah sebuah ciuman dengan intensitas yang mengerikan. Lidah yang panas dan terburu-buru. Bagai dahaga yang akhirnya menemukan pelepasannya. Wonwoo membalasnya dengan mencium balik sama ganasnya, merangkul balik tubuh itu sama eratnya.</p>

<p>Seolah waktu nggak pernah berjalan dan mereka, Joshua dan Wonwoo, terlempar ke troli di depan lemari pendingin di supermarket kala itu.</p>

<p>“Aku-<em>ah</em>-cin-<em>mmh-</em>“</p>

<p>Sulit bagi Joshua untuk merangkai kalimat karena Wonwoo nggak berhenti menciumi bibirnya. Dia nggak tau kapan sudah ditekan ke pintu kamarnya. Nggak tau kapan pintu itu ketutup dan Soonyoung secara ajaib sudah pergi, meninggalkan kedua sejoli itu berciuman seolah hari esok nggak akan pernah datang.</p>

<p>Joshua membiarkannya. Dia membiarkan Wonwoo mengambil semua. Pertamanya. Raganya. Hatinya. Semua, semua dia berikan pada lelaki dalam dekapannya itu, pada lelaki yang menciuminya seakan Joshua oksigen baginya. <em>Semua</em>.</p>

<p><em>Ambillah. Ambil.</em></p>

<p><em>Semua ini, ini, punya kamu.</em></p>

<p>“Shua-<em>haa</em>-Shua...”</p>

<p>Sampai pada akhirnya, ciuman harus terlepas juga sejenak. Ujung hidung yang masih saling menempel mengutarakan keengganan untuk menjauh. Tangan Joshua berpegangan pada tengkuk Wonwoo. Satu paha Wonwoo entah kapan menyelip di antara kedua paha Joshua. Tangannya menggamit kencang pinggang dan pinggul Joshua. Dia harus mati-matian menahan diri untuk nggak bergerak di paha Wonwoo. Bibir mereka menyentuh kembali, namun nggak berciuman. Mereka hanya menikmati sentuhan-sentuhan yang selama ini mereka nantikan semenjak perpisahan itu.</p>

<p>“Won...Won-<em>ngh</em>–” Wonwoo menciumi sisi leher Joshua. “-aku-<em>ah</em>-aku belum jawab pertanyaan k-kamu-<em>oh</em>–”</p>

<p>“Hmmh.”</p>

<p>“Won, stop,” Joshua terkekeh. Dia bisa merasakan senyuman Wonwoo pada kulit lehernya. Joshua pun mendorong Wonwoo sedikit sehingga mereka bisa bertatapan lagi.</p>

<p>Di dalam sana, dalam gelap bola mata Jeon Wonwoo, Joshua mencari rasa benci, kekecewaan, atau sejenisnya, yang selama ini dia takutkan kalau bertemu Wonwoo kembali. Joshua yakin Wonwoo membencinya karena dia kabur seorang diri. Lari, meninggalkan Wonwoo dalam lingkungan yang memaksanya mengunci diri sendiri. Memaksanya menjadi orang lain yang bukan dirinya.</p>

<p>Namun, Joshua sama sekali nggak menemukan itu. Yang dia temukan saat ini, oh, yang terefleksi pada bola mata Jeon Wonwoo—</p>

<p>--hanyalah <em>cinta</em>.</p>

<p>Cinta yang begitu besar. Hangat dan meluap-luap. Cinta yang orang awam pun bisa melihatnya, tumpah keluar tanpa ditahan-tahan sama sekali. Cinta yang, Joshua pikir, dia telah kehilangannya.</p>

<p>Masih ada. Ada di sini. Wonwoo-nya. Orang yang telah bersamanya, sejak masih kecil sampai dia menjadi lelaki dewasa. Yang mengajarinya arti mencintai yang sesungguhnya.</p>

<p><em>Kekasihnya.</em></p>

<p>“Won...,” Joshua berbagi napas dengan Wonwoo. “Aku cinta—”</p>

<p>Teguk ludah.</p>

<p>“Cinta—”</p>

<p>Hembusan napas.</p>

<p>“Aku cinta sama kamu...”</p>

<p><em>Selalu. Selamanya.</em></p>

<p><em>Satu-satunya.</em></p>

<p>Dan, ketika Wonwoo mengangkatnya ke dalam gendongan, Joshua berteriak, lalu tertawa. Tawa yang panjang dan membahana. Ringan dan bahagia.</p>

<p>Di antara desahan dan tarikan napas, dia mendengarnya, begitu lembut, begitu indah.</p>

<p>“<em>Aku juga cinta sama kamu</em>...”</p>

<p>==</p>

<p><em>6 unread messages</em></p>

<p><em>(Parah lu ya, Won, lu langsung lupa sama gue. Gue kudu ngeojol tadi ahsksj untung gue temen yang baek njir ditinggal ngewe parah bets.</em></p>

<p><em>Btw congrats, to you and Joshua too. Kaget banget nggak nyangka dunia sempit bener dah.</em></p>

<p><em>Bener kan, Won, omongan gue? Kalo lu bedua jodoh, nggak akan kemana, Won.</em></p>

<p><em>Eniwei, besok PJ ya. Inget. Jangan pecel ayam depan lagi, yang mahalan dikit lah. Pizza, gitu.</em></p>

<p><em>Selamat ya, Won, I hope you two all the happiness in the world!</em></p>

<p><em>Horanghae 🐯❤️)</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/wonshua-omake-8mbn</guid>
      <pubDate>Sat, 15 May 2021 11:02:54 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Omake</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/omake-dvsr?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wonshuashort&#xA;&#xA;Dear Mama,&#xA;&#xA;Halo, Ma, ini Wonu.&#xA;&#xA;Mama apa kabar?&#xA;&#xA;Maaf ya, Ma, Wonu baru hubungin Mama. Wonu takut, Ma. Takut Mama masih marah karena Wonu pergi dari rumah. Takut Papa juga bakal ngamuk kalo Wonu hubungin Mama. Maafin Wonu karena Wonu cuma berani nulis surat ke Mama. Maafin Wonu ya Ma.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Terus terang, Wonu bingung mau mulai dari mana, jadi Wonu update dulu soal Wonu ya Ma.&#xA;&#xA;Wonu di sini sehat-sehat aja Ma. Wonu sekarang buka kafe dan lumayan cukup terkenal, sempet masuk koran lokal juga. Di kafe ini, Wonu ketemu banyak banget jenis orang. Ada yang baek. Ada juga yang nggak menyenangkan. Dari mereka, Wonu belajar banyak setiap harinya.&#xA;&#xA;Joshua juga sehat Ma. Sekarang dia senior manajer di kantor yang masih sama. Katanya mau pensiun dini dan bantuin Wonu di kafe, tapi itu masih nanti.&#xA;&#xA;Ma, Wonu udah ketemu banyak banget macem orang. Dan, makin ke sini, Wonu makin paham kenapa dulu Papa sama Mama ngelarang Wonu sama Joshua. Paham kenapa Papa sama Mama segitu marahnya.&#xA;&#xA;Ternyata, setelah Wonu nikah sama Joshua pun, dunia memang nggak berubah, Ma.&#xA;&#xA;Biarpun di sini lebih friendly sama Wonu dan sama Joshua, lebih nerima, tapi tetep aja kalo Wonu gandengan tangan sama Joshua, orang-orang di jalan tetep ngeliatin, tetep ngejudge di dalem hati mereka. Ada tempat-tempat yang masih nggak menerima Wonu, Ma, dan bahkan pernah kami sempet diusir pas mau makan siang doang.&#xA;&#xA;Ma, Wonu paham. Papa sama Mama takut kalo Wonu nerima perlakuan kayak gitu kan, Ma? Kalian mau lindungin Wonu kan, Ma?&#xA;&#xA;Tapi, Ma, Wonu pada akhirnya ngalamin juga dan, Mama tau nggak reaksi kami pas diusir itu?&#xA;&#xA;Wonu sama Joshua cuma ketawa, beli makanan takeout, terus makan di taman. Sesimpel itu Ma. Apa yang selama ini Mama takutin ternyata begitu aja.&#xA;&#xA;Ma, Mama nggak usah khawatir ya. Mama sama Papa nggak perlu lagi jagain Wonu. Sekarang, Wonu udah bisa jaga diri Wonu sendiri. Udah bisa jaga keluarga Wonu juga.&#xA;&#xA;Wonu nggak akan pernah marah, apalagi dendam sama Papa dan Mama. Wonu sekarang paham kalo kalian ngelakuin itu semua demi Wonu juga. Dan Wonu maafin semua perkataan dan perbuatan kalian yang nyakitin Wonu.&#xA;&#xA;Wonu maafin Mama sama Papa karena Wonu sayang Mama sama Papa.&#xA;&#xA;Tahun lalu, Mama Joshua meninggal Ma. Sekarang Papa Joshua tinggal nggak jauh dari rumah Wonu sama Joshua. Hampir tiap sore, kami jalan-jalan di taman deket rumahnya ato, pas wiken, kekadang kami pergi ke laut, ato ke gunung. Papa Joshua masih sehat banget dan Wonu seneng banget karena Papa Joshua anggep Wonu seperti anaknya sendiri, Ma.&#xA;&#xA;Kucing piaraan kami bulan lalu ngelahirin. Mama suka kucing kan? Kapan-kapan, Wonu bakal foto juga anak-anak kucing itu. Bandel banget, Ma. Ngalahin bandelnya Nyingnying dulu. Joshua sama Papanya juga ada niat buat miara anjing, tapi masih mikir-mikir dulu dan nyari yang pas, yang juga suka sama kucing, biar bisa akrab sama kucing-kucing di rumah.&#xA;&#xA;Ma, Wonu sekarang bahagia banget. Tiap Wonu pulang, Wonu liat muka Joshua yang senyum dan, rasanya, semua hidup Wonu selama ini akhirnya punya arti. Semua yang Wonu lewatin selama ini adalah untuk ketemu dan hidup bersama Joshua. Kayak Mama, yang pas ngeliat Papa, Mama tau kalo hidup Mama akhirnya punya arti. Iya, Ma, Wonu masih inget kok cerita Mama pas Wonu kecil dulu itu. Sekarang, Wonu juga ngerasain hal yang sama dan, tiap hari, Wonu bersyukur, Ma.&#xA;&#xA;Wonu bersyukur Mama ketemu Papa. Wonu bersyukur Mama ngelahirin Wonu.&#xA;&#xA;Wonu bersyukur karena, kalo nggak karena Papa sama Mama, Wonu nggak akan pernah ketemu dan jatuh cinta sama Joshua.&#xA;&#xA;Jadi, terima kasih.&#xA;&#xA;Terima kasih, Ma, Pa.&#xA;&#xA;Terima kasih udah ngelahirin Wonu ke dunia ini. Dunia yang indah ini karena ada Joshua di dalamnya.&#xA;&#xA;Terima kasih banyak.&#xA;&#xA;Wonu sayang sama Mama dan Papa. Dan, kalo suatu hari Papa sama Mama bisa maafin Wonu, mau nerima Wonu lagi, Wonu bakal dateng ke Papa sama Mama dan pelok kalian lagi.&#xA;&#xA;Sampai saat itu tiba, jaga kesehatan ya, Ma. Wonu sayang banget sama Mama.&#xA;&#xA;P.S: Wonu sertain foto keluarga Wonu terbaru. Mungkin kalian belum tau, tapi Mama sama Papa udah jadi nenek sama kakek. Namanya Yejun. Kami adopsi dua tahun lalu pas masih bayi dan sekarang dia tumbuh jadi anak lelaki yang sehat dan aktif banget, kayak Wonu dulu, Ma. Suatu hari nanti, Wonu harap, Mama sama Papa bisa ketemu sama Yejun.&#xA;&#xA;Take care, Ma, Pa.&#xA;&#xA;From your son with love,&#xA;Jeon Wonwoo]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshuashort" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">wonshuashort</span></a></p>

<p>Dear Mama,</p>

<p>Halo, Ma, ini Wonu.</p>

<p>Mama apa kabar?</p>

<p>Maaf ya, Ma, Wonu baru hubungin Mama. Wonu takut, Ma. Takut Mama masih marah karena Wonu pergi dari rumah. Takut Papa juga bakal ngamuk kalo Wonu hubungin Mama. Maafin Wonu karena Wonu cuma berani nulis surat ke Mama. Maafin Wonu ya Ma.</p>



<p>Terus terang, Wonu bingung mau mulai dari mana, jadi Wonu update dulu soal Wonu ya Ma.</p>

<p>Wonu di sini sehat-sehat aja Ma. Wonu sekarang buka kafe dan lumayan cukup terkenal, sempet masuk koran lokal juga. Di kafe ini, Wonu ketemu banyak banget jenis orang. Ada yang baek. Ada juga yang nggak menyenangkan. Dari mereka, Wonu belajar banyak setiap harinya.</p>

<p>Joshua juga sehat Ma. Sekarang dia senior manajer di kantor yang masih sama. Katanya mau pensiun dini dan bantuin Wonu di kafe, tapi itu masih nanti.</p>

<p>Ma, Wonu udah ketemu banyak banget macem orang. Dan, makin ke sini, Wonu makin paham kenapa dulu Papa sama Mama ngelarang Wonu sama Joshua. Paham kenapa Papa sama Mama segitu marahnya.</p>

<p>Ternyata, setelah Wonu nikah sama Joshua pun, dunia memang nggak berubah, Ma.</p>

<p>Biarpun di sini lebih friendly sama Wonu dan sama Joshua, lebih nerima, tapi tetep aja kalo Wonu gandengan tangan sama Joshua, orang-orang di jalan tetep ngeliatin, tetep ngejudge di dalem hati mereka. Ada tempat-tempat yang masih nggak menerima Wonu, Ma, dan bahkan pernah kami sempet diusir pas mau makan siang doang.</p>

<p>Ma, Wonu paham. Papa sama Mama takut kalo Wonu nerima perlakuan kayak gitu kan, Ma? Kalian mau lindungin Wonu kan, Ma?</p>

<p>Tapi, Ma, Wonu pada akhirnya ngalamin juga dan, Mama tau nggak reaksi kami pas diusir itu?</p>

<p>Wonu sama Joshua cuma ketawa, beli makanan takeout, terus makan di taman. Sesimpel itu Ma. Apa yang selama ini Mama takutin ternyata begitu aja.</p>

<p>Ma, Mama nggak usah khawatir ya. Mama sama Papa nggak perlu lagi jagain Wonu. Sekarang, Wonu udah bisa jaga diri Wonu sendiri. Udah bisa jaga keluarga Wonu juga.</p>

<p>Wonu nggak akan pernah marah, apalagi dendam sama Papa dan Mama. Wonu sekarang paham kalo kalian ngelakuin itu semua demi Wonu juga. Dan Wonu maafin semua perkataan dan perbuatan kalian yang nyakitin Wonu.</p>

<p>Wonu maafin Mama sama Papa karena Wonu sayang Mama sama Papa.</p>

<p>Tahun lalu, Mama Joshua meninggal Ma. Sekarang Papa Joshua tinggal nggak jauh dari rumah Wonu sama Joshua. Hampir tiap sore, kami jalan-jalan di taman deket rumahnya ato, pas wiken, kekadang kami pergi ke laut, ato ke gunung. Papa Joshua masih sehat banget dan Wonu seneng banget karena Papa Joshua anggep Wonu seperti anaknya sendiri, Ma.</p>

<p>Kucing piaraan kami bulan lalu ngelahirin. Mama suka kucing kan? Kapan-kapan, Wonu bakal foto juga anak-anak kucing itu. Bandel banget, Ma. Ngalahin bandelnya Nyingnying dulu. Joshua sama Papanya juga ada niat buat miara anjing, tapi masih mikir-mikir dulu dan nyari yang pas, yang juga suka sama kucing, biar bisa akrab sama kucing-kucing di rumah.</p>

<p>Ma, Wonu sekarang bahagia banget. Tiap Wonu pulang, Wonu liat muka Joshua yang senyum dan, rasanya, semua hidup Wonu selama ini akhirnya punya arti. Semua yang Wonu lewatin selama ini adalah untuk ketemu dan hidup bersama Joshua. Kayak Mama, yang pas ngeliat Papa, Mama tau kalo hidup Mama akhirnya punya arti. Iya, Ma, Wonu masih inget kok cerita Mama pas Wonu kecil dulu itu. Sekarang, Wonu juga ngerasain hal yang sama dan, tiap hari, Wonu bersyukur, Ma.</p>

<p>Wonu bersyukur Mama ketemu Papa. Wonu bersyukur Mama ngelahirin Wonu.</p>

<p>Wonu bersyukur karena, kalo nggak karena Papa sama Mama, Wonu nggak akan pernah ketemu dan jatuh cinta sama Joshua.</p>

<p>Jadi, terima kasih.</p>

<p>Terima kasih, Ma, Pa.</p>

<p>Terima kasih udah ngelahirin Wonu ke dunia ini. Dunia yang indah ini karena ada Joshua di dalamnya.</p>

<p>Terima kasih banyak.</p>

<p>Wonu sayang sama Mama dan Papa. Dan, kalo suatu hari Papa sama Mama bisa maafin Wonu, mau nerima Wonu lagi, Wonu bakal dateng ke Papa sama Mama dan pelok kalian lagi.</p>

<p>Sampai saat itu tiba, jaga kesehatan ya, Ma. Wonu sayang banget sama Mama.</p>

<p>P.S: Wonu sertain foto keluarga Wonu terbaru. Mungkin kalian belum tau, tapi Mama sama Papa udah jadi nenek sama kakek. Namanya Yejun. Kami adopsi dua tahun lalu pas masih bayi dan sekarang dia tumbuh jadi anak lelaki yang sehat dan aktif banget, kayak Wonu dulu, Ma. Suatu hari nanti, Wonu harap, Mama sama Papa bisa ketemu sama Yejun.</p>

<p>Take care, Ma, Pa.</p>

<p>From your son with love,
Jeon Wonwoo</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/omake-dvsr</guid>
      <pubDate>Tue, 11 May 2021 10:52:13 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Bonus</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/bonus-kw9r?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wonshuashort&#xA;&#xA;Wonwoo terbangun oleh sentuhan halus di mukanya. Angin sepoi-sepoi membelai rambutnya dari jendela yang dibuka. Harum bunga di bawah siraman sinar mentari pun tercium. Ada suara kuyu seekor kucing, lalu pergerakan di bagian kaki tempat tidur, sebelum kucing itu melungkar, menaruh beban tubuhnya di sisi kaki Wonwoo.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Sebuah tangan menangkup pipinya. Yang satu lagi merangkul kepalanya. Ia dihujani oleh kecupan demi kecupan yang lembut. Wonwoo menarik napas, lalu melepasnya dengan senang. Ketika ia menolehkan kepala, ia menemukan leher seseorang dengan aroma tubuh yang familier. Tangannya sendiri bergerak, mengusap dan menempatkan diri di pinggang lelaki itu. Kulit di bawah telapaknya agak lembab dan, jika Wonwoo menurunkan pandangan, dia akan menemukan bekas jari-jemarinya memerah di sana.&#xA;&#xA;Lelaki itu memeluk kepalanya, sementara Wonwoo memeluk tubuhnya. Dia bergumam puas, menikmati semua ciuman kupu-kupu di sekujur wajah dan kepalanya. Meringis, saat ciuman itu menggelitik kelopak mata dan ujung hidungnya. Dan, saat bibir itu turun ke bibirnya, terdengar sebuah bisikan,&#xA;&#xA;&#34;Pagi, Sayang...&#34;&#xA;&#xA;Jeon Wonwoo pun membuka kelopak matanya. Tatapnya menangkap mata berbinar terang dan wajah manis yang tersenyum bahagia. Semua hal luruh seketika itu juga, menjadi kubangan hangat yang kemudian mengalir, merebak ke seluruh tubuhnya. Ia hanya mampu merasakan cinta yang tidak terbendung memenuhi hatinya dalam pelukan hangat itu.&#xA;&#xA;Di nakas samping tempat tidur, tergeletak dua cincin identikal berdesain sederhana yang terbuat dari emas dan terukir nama masing-masing untuk cincin satu sama lain.&#xA;&#xA;Paginya bersama kucing kesayangan mereka begitu indah. Jeon Wonwoo tahu bahwa mulai hari ini, paginya akan selalu indah seperti ini.&#xA;&#xA;&#34;Pagi juga, Suamiku...&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshuashort" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">wonshuashort</span></a></p>

<p>Wonwoo terbangun oleh sentuhan halus di mukanya. Angin sepoi-sepoi membelai rambutnya dari jendela yang dibuka. Harum bunga di bawah siraman sinar mentari pun tercium. Ada suara kuyu seekor kucing, lalu pergerakan di bagian kaki tempat tidur, sebelum kucing itu melungkar, menaruh beban tubuhnya di sisi kaki Wonwoo.</p>



<p>Sebuah tangan menangkup pipinya. Yang satu lagi merangkul kepalanya. Ia dihujani oleh kecupan demi kecupan yang lembut. Wonwoo menarik napas, lalu melepasnya dengan senang. Ketika ia menolehkan kepala, ia menemukan leher seseorang dengan aroma tubuh yang familier. Tangannya sendiri bergerak, mengusap dan menempatkan diri di pinggang lelaki itu. Kulit di bawah telapaknya agak lembab dan, jika Wonwoo menurunkan pandangan, dia akan menemukan bekas jari-jemarinya memerah di sana.</p>

<p>Lelaki itu memeluk kepalanya, sementara Wonwoo memeluk tubuhnya. Dia bergumam puas, menikmati semua ciuman kupu-kupu di sekujur wajah dan kepalanya. Meringis, saat ciuman itu menggelitik kelopak mata dan ujung hidungnya. Dan, saat bibir itu turun ke bibirnya, terdengar sebuah bisikan,</p>

<p>“Pagi, Sayang...”</p>

<p>Jeon Wonwoo pun membuka kelopak matanya. Tatapnya menangkap mata berbinar terang dan wajah manis yang tersenyum bahagia. Semua hal luruh seketika itu juga, menjadi kubangan hangat yang kemudian mengalir, merebak ke seluruh tubuhnya. Ia hanya mampu merasakan cinta yang tidak terbendung memenuhi hatinya dalam pelukan hangat itu.</p>

<p>Di nakas samping tempat tidur, tergeletak dua cincin identikal berdesain sederhana yang terbuat dari emas dan terukir nama masing-masing untuk cincin satu sama lain.</p>

<p>Paginya bersama kucing kesayangan mereka begitu indah. Jeon Wonwoo tahu bahwa mulai hari ini, paginya akan selalu indah seperti ini.</p>

<p>“Pagi juga, Suamiku...”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/bonus-kw9r</guid>
      <pubDate>Fri, 07 May 2021 02:53:52 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>99.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/99-2xsq?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wonshuashort&#xA;&#xA;Telapak tangannya lembab. Jantungnya berdentum keras. Hari pertama di kantor baru. Dia duduk bersama beberapa trainee lainnya di ruang meeting utama yang besar. Mereka semua direkrut secara bersamaan untuk posisi yang sama, sebagai MT. Dari awal mereka akan diajari, diolah di semua bidang agar bisa ditempatkan di departemen-departemen yang sesuai. Mungkin setelah satu tahun, Joshua akan ditempatkan di sales, atau di marketing, atau di mana saja sesuai dengan kebutuhan perusahaan.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Dia memejamkan mata untuk menenangkan diri.&#xA;&#xA;Tenanglah...kamu bakal baek-baek aja...&#xA;&#xA;Nggak ada yang tau kamu di sini, selama kamu hati-hati, kamu bakal aman...&#xA;&#xA;&#34;Hai!&#34;&#xA;&#xA;Kaget, Joshua membuka mata lalu menoleh. Ada seorang lelaki di sebelahnya, duduk santai dalam balutan kemeja putih dan celana hitam, lengkap dengan dasi. Wajahnya menyengir ceria, kontras terhadap pakaian formal yang dikenakannya.&#xA;&#xA;&#34;Oh...,&#34; buru-buru dia menanggapi, nggak ingin dicap sombong. &#34;Halo...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Anak baru juga?&#34;&#xA;&#xA;Joshua mengangguk.&#xA;&#xA;&#34;Sama dong! Kenalin, gue--eh, nggak apa nih pake gue? Kita seumur kan ya harusnya, secara masuk barengan?&#34;&#xA;&#xA;Joshua pun mendengus geli. &#34;Iya, nggak apa kok pake gue-elo juga,&#34; kekehnya pelan. &#34;Salam kenal, gue Jisoo.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sipp! Salam kenal juga, gue--&#34;&#xA;&#xA;Tling! Tling! Tling!&#xA;&#xA;&#34;Ah shit, lupa gue silent. Sori, wait.&#34;&#xA;&#xA;Lelaki itu mengambil handphone dari saku celananya. Dia membacanya, meringis lebar, mengetik dengan cepat lalu mematikan fitur suara, sebelum diselipkannya kembali ke dalam saku.&#xA;&#xA;&#34;Pacar?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bukan, pacar mah di sana,&#34; lelaki itu menunjuk pada seorang wanita yang sedang mengobrol dengan rekan kerjanya, berdiri di depan ruangan. Sepertinya mereka karyawan bagian pelatihan. &#34;Sst jangan bilang-bilang tapi ya. Nggak boleh pacaran di sini soalnya.&#34;&#xA;&#xA;Joshua hanya bergumam. Baru tau kalo office romance dilarang di sini. Lelaki itu meneruskan ocehannya.&#xA;&#xA;&#34;Temen gue tadi. Berisik banget nanyain kunci rumah di mana.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Roommate?&#34;&#xA;&#xA;&#34;House mate. Lo ngekost?&#34;&#xA;&#xA;Joshua mengangguk.&#xA;&#xA;&#34;Di mana?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Belakang nih.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Buset. Enak bener. Kekapan gue nebeng lah.&#34;&#xA;&#xA;Mendengar itu, Joshua tertawa. &#34;Boleh. Mayan lah, bisa di lantai gelar tiker,&#34; kelakarnya.&#xA;&#xA;&#34;Anying. Ngenes banget.&#34;&#xA;&#xA;Mereka tertawa bersama. Sebuah dehaman datang, mendiamkan kedua orang itu. Ruangan mulai ramai dan sepertinya akan mulai sesi pertama perkenalan diri yang dijadwalkan oleh tim personalia.&#xA;&#xA;&#34;Ntar istirahat maksi bareng yok?&#34; teman barunya itu berbisik.&#xA;&#xA;&#34;Boleh,&#34; Joshua balas berbisik.&#xA;&#xA;&#34;Sipp. Btw, kenalin, gue Kwon Soonyoung.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshuashort" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">wonshuashort</span></a></p>

<p>Telapak tangannya lembab. Jantungnya berdentum keras. Hari pertama di kantor baru. Dia duduk bersama beberapa trainee lainnya di ruang meeting utama yang besar. Mereka semua direkrut secara bersamaan untuk posisi yang sama, sebagai MT. Dari awal mereka akan diajari, diolah di semua bidang agar bisa ditempatkan di departemen-departemen yang sesuai. Mungkin setelah satu tahun, Joshua akan ditempatkan di sales, atau di marketing, atau di mana saja sesuai dengan kebutuhan perusahaan.</p>



<p>Dia memejamkan mata untuk menenangkan diri.</p>

<p><em>Tenanglah...kamu bakal baek-baek aja...</em></p>

<p><em>Nggak ada yang tau kamu di sini, selama kamu hati-hati, kamu bakal aman...</em></p>

<p>“Hai!”</p>

<p>Kaget, Joshua membuka mata lalu menoleh. Ada seorang lelaki di sebelahnya, duduk santai dalam balutan kemeja putih dan celana hitam, lengkap dengan dasi. Wajahnya menyengir ceria, kontras terhadap pakaian formal yang dikenakannya.</p>

<p>“Oh...,” buru-buru dia menanggapi, nggak ingin dicap sombong. “Halo...”</p>

<p>“Anak baru juga?”</p>

<p>Joshua mengangguk.</p>

<p>“Sama dong! Kenalin, gue—eh, nggak apa nih pake gue? Kita seumur kan ya harusnya, secara masuk barengan?”</p>

<p>Joshua pun mendengus geli. “Iya, nggak apa kok pake gue-elo juga,” kekehnya pelan. “Salam kenal, gue Jisoo.”</p>

<p>“Sipp! Salam kenal juga, gue—”</p>

<p><em>Tling! Tling! Tling!</em></p>

<p>“Ah shit, lupa gue silent. Sori, wait.”</p>

<p>Lelaki itu mengambil handphone dari saku celananya. Dia membacanya, meringis lebar, mengetik dengan cepat lalu mematikan fitur suara, sebelum diselipkannya kembali ke dalam saku.</p>

<p>“Pacar?”</p>

<p>“Bukan, pacar mah di sana,” lelaki itu menunjuk pada seorang wanita yang sedang mengobrol dengan rekan kerjanya, berdiri di depan ruangan. Sepertinya mereka karyawan bagian pelatihan. “Sst jangan bilang-bilang tapi ya. Nggak boleh pacaran di sini soalnya.”</p>

<p>Joshua hanya bergumam. Baru tau kalo office romance dilarang di sini. Lelaki itu meneruskan ocehannya.</p>

<p>“Temen gue tadi. Berisik banget nanyain kunci rumah di mana.”</p>

<p>“Roommate?”</p>

<p>“House mate. Lo ngekost?”</p>

<p>Joshua mengangguk.</p>

<p>“Di mana?”</p>

<p>“Belakang nih.”</p>

<p>“Buset. Enak bener. Kekapan gue nebeng lah.”</p>

<p>Mendengar itu, Joshua tertawa. “Boleh. Mayan lah, bisa di lantai gelar tiker,” kelakarnya.</p>

<p>“Anying. Ngenes banget.”</p>

<p>Mereka tertawa bersama. Sebuah dehaman datang, mendiamkan kedua orang itu. Ruangan mulai ramai dan sepertinya akan mulai sesi pertama perkenalan diri yang dijadwalkan oleh tim personalia.</p>

<p>“Ntar istirahat maksi bareng yok?” teman barunya itu berbisik.</p>

<p>“Boleh,” Joshua balas berbisik.</p>

<p>“Sipp. Btw, kenalin, gue Kwon Soonyoung.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/99-2xsq</guid>
      <pubDate>Tue, 04 May 2021 12:29:45 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>93.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/93?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wonshuashort&#xA;&#xA;Sebuah mobil berhenti di depan sekolah di kota lain. Darinya, turun seorang wanita dan seorang pria. Lalu, seorang anak lelaki. Remaja, menuju dewasa muda. Anak itu menatap dua orang lainnya, yang adalah orangtuanya, tepat di mata, lalu pandangannya turun ke sepasang sepatunya. Wajah anak lelaki itu penuh lebam biru bekas pukulan, juga tamparan. Miris melihat anaknya dalam keadaan seperti itu, sang ibu mengelus bahu si anak, air matanya mengancam untuk meleleh menuruni pipi.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Kamu baek-baek ya, Nak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mm.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jangan minum ato makan yang aneh-aneh. Belajar yang rajin.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mm.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jangan mikirin apa-apa lagi. Fokus aja ke hidup kamu.&#34;&#xA;&#xA;Nggak ada jawaban.&#xA;&#xA;&#34;Kamu bakal cerita ke Mingyu?&#34;&#xA;&#xA;Anak itu menggeleng.&#xA;&#xA;&#34;Oh...&#34;&#xA;&#xA;Sang ayah maju, melingkarkan lengan ke sekeliling pinggang istrinya, lalu menepuk satu kali bahu anak itu.&#xA;&#xA;&#34;Papa sama Mama bakal pindah, Nak.&#34;&#xA;&#xA;Terkesiap, anak itu langsung mendongak dengan mata membelalak. Ayahnya sudah menduga reaksi si anak, hanya bisa mendengus.&#xA;&#xA;&#34;Papa nggak mau tinggal di sebelah orang yang mukulin anak Papa.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Pah...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maaf ya,&#34; raut wajah ayahnya berubah seketika itu juga. &#34;Maaf, Papa udah bentak kamu dulu. Papa udah usir Mingyu juga. Papa udah pernah nyakitin kamu.&#34;&#xA;&#xA;Anak itu menggeleng.&#xA;&#xA;&#34;Pas Papa liat gimana Wonwoo dipukul papanya, Papa kaget. Papa malu, karena Papa bisa liat muka Papa sendiri di muka papanya Wonwoo. Papa nggak mau jadi begitu di ingatan kamu. Maafin Papa.&#34;&#xA;&#xA;Anak itu terus menggeleng. Ayahnya menaruh telapak tangan pada pipinya. Hangat. Sentuhannya lembut. Anak itu menggamit tangan tersebut, erat, seakan sebuah jaring penyelamat terakhir dalam hidupnya.&#xA;&#xA;&#34;Papa sama Mama sayang sama kamu, Nak. Kamu bebas mencintai siapa aja, asal kamu bertanggung jawab. Papa sama Mama akan tetap sayang sama kamu.&#34;&#xA;&#xA;Anak itu nggak mau menangis. Nggak ingin kembali ke kamar asramanya dengan wajah penuh luka dan memerah oleh air mata. Namun, mendengar itu keluar dari mulut ayahnya sendiri, ayah yang menolaknya dahulu kala dan mengusir pacarnya, kini menerimanya, nggak mungkin nggak membuat tangis anak itu pecah.&#xA;&#xA;(&#34;Kamu bebas mencintai siapa aja.&#34;)&#xA;&#xA;Wonwoo...&#xA;&#xA;(&#34;Papa sama Mama akan tetap sayang sama kamu.&#34;)&#xA;&#xA;Wonwoo...Wonwoo...&#xA;&#xA;Seharusnya...seharusnya kalimat ini kamu yang denger dari orangtua kamu...&#xA;&#xA;Kamu yang lebih butuh daripada aku...&#xA;&#xA;Wonwoo...&#xA;&#xA;&#34;Hnng....&#34;&#xA;&#xA;Merintih. Mata anak itu memejam. Wajahnya memerah. Air mata terus bercucuran. Pun serodotan ingus terdengar. Sang ibu, ikut meneteskan air mata, langsung memeluk dan mengelusi punggung anaknya. Lalu, sang ayah memeluk keluarganya dan mengecup sisi kepala anak itu.&#xA;&#xA;Penerimaan.&#xA;&#xA;Sesuatu yang Joshua miliki yang nggak ternilai harganya.&#xA;&#xA;&#34;Ma...Wonu, Mah...,&#34; cicitnya dalam pelukan sang ibu. Mengiba, meminta bantuan walau sekecil apapun.&#xA;&#xA;&#34;Iya, Sayang. Mama sama Papa bakal pindah pas kalian mulai kuliah,&#34; ujar sang ibu. &#34;Mama sama Papa bakal jagain Wonwoo dari orangtuanya sampe dia mulai kuliah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Moga-moga dia kuliah yang jauh dari tuh rumah,&#34; dengus ayahnya lagi.&#xA;&#xA;&#34;Pah...&#34;&#xA;&#xA;Joshua pun meneguk liurnya. Dia terus menangis. Menangisi ketidak mampuannya menolong sahabatnya. Menangisi keputusan yang dia buat sendiri. Menangisi kelemahannya sebagai seorang anak belasan tahun yang nggak bisa berbuat apa-apa.&#xA;&#xA;Andai ini dunia di dalam novel, dia akan bisa dengan mudah mengajak Wonwoo lari dari semua hal yang menyakiti mereka dan hidup berdua saja dalam kebahagiaan.&#xA;&#xA;Andai dunia semudah itu...&#xA;&#xA;Dia yakin kalau Wonwoo pasti membencinya kini, karena dia kabur seorang diri. Terakhir dia melihat sahabatnya itu, dia bagai kepompong kosong. Miskin ekspresi. Hampa tanpa jiwa. Terakhir dia melihat sahabatnya itu, dia berlutut di lantai rumah keluarga Jeon, meminta maaf dan berjanji nggak akan dekat-dekat Wonwoo lagi agar orientasi seksualnya nggak &#39;menular&#39;. Dia diam di sana, menerima semua cacian dan makian dan kata-kata degradasi akan &#39;kaum&#39;-nya. Dia terus meminta maaf, bahkan ketika ibu Wonwoo menamparnya dan ayah Wonwoo menghajar dan mengusirnya keluar, nggak sudi rumahnya kotor oleh Joshua.&#xA;&#xA;Terakhir dia melihat sahabatnya itu, Wonwoo diam saja diboyong masuk keluarganya, diwanti-wanti agar nggak lagi berhubungan sama &#39;anak setan itu&#39;. Ibu Wonwoo menangis tapi nggak meminta maaf pada Wonwoo. Mereka melihat Wonwoo sebagai suatu kesalahan yang harus mereka koreksi secepatnya, sebelum terlambat.&#xA;&#xA;Dan Joshua meninggalkan sahabatnya dalam tangan orang-orang seperti itu. Terperangkap di sana, entah sampai kapan.&#xA;&#xA;Wonwoo pasti membencinya. Wonwoo pasti--pasti--&#xA;&#xA;&#34;Aku--aku cinta--,&#34; isaknya. Napas memburu, hampir sesak. &#34;Aku cinta Wonu. Aku cinta dia. Cuma dia. Ya Tuhan, Wonu...Wonu...Aku udah ninggalin dia. Aku--&#34;&#xA;&#xA;Di sana, dalam pelukan ibu dan ayahnya yang menyaksikan bagaimana putra semata wayang mereka, harta berharga pemberian Tuhan, pelengkap sempurnanya cinta mereka, runtuh menjadi kepingan kecil, Joshua Hong meraung melepas semua tangisan dan isi hati terdalamnya. Bagaimana putra mereka itu hancur karena cinta dan mereka nggak bisa melakukan apa-apa.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshuashort" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">wonshuashort</span></a></p>

<p>Sebuah mobil berhenti di depan sekolah di kota lain. Darinya, turun seorang wanita dan seorang pria. Lalu, seorang anak lelaki. Remaja, menuju dewasa muda. Anak itu menatap dua orang lainnya, yang adalah orangtuanya, tepat di mata, lalu pandangannya turun ke sepasang sepatunya. Wajah anak lelaki itu penuh lebam biru bekas pukulan, juga tamparan. Miris melihat anaknya dalam keadaan seperti itu, sang ibu mengelus bahu si anak, air matanya mengancam untuk meleleh menuruni pipi.</p>



<p>“Kamu baek-baek ya, Nak.”</p>

<p>“Mm.”</p>

<p>“Jangan minum ato makan yang aneh-aneh. Belajar yang rajin.”</p>

<p>“Mm.”</p>

<p>“Jangan mikirin apa-apa lagi. Fokus aja ke hidup kamu.”</p>

<p>Nggak ada jawaban.</p>

<p>“Kamu bakal cerita ke Mingyu?”</p>

<p>Anak itu menggeleng.</p>

<p>“Oh...”</p>

<p>Sang ayah maju, melingkarkan lengan ke sekeliling pinggang istrinya, lalu menepuk satu kali bahu anak itu.</p>

<p>“Papa sama Mama bakal pindah, Nak.”</p>

<p>Terkesiap, anak itu langsung mendongak dengan mata membelalak. Ayahnya sudah menduga reaksi si anak, hanya bisa mendengus.</p>

<p>“Papa nggak mau tinggal di sebelah orang yang mukulin anak Papa.”</p>

<p>“Pah...”</p>

<p>“Maaf ya,” raut wajah ayahnya berubah seketika itu juga. “Maaf, Papa udah bentak kamu dulu. Papa udah usir Mingyu juga. Papa udah pernah nyakitin kamu.”</p>

<p>Anak itu menggeleng.</p>

<p>“Pas Papa liat gimana Wonwoo dipukul papanya, Papa kaget. Papa malu, karena Papa bisa liat muka Papa sendiri di muka papanya Wonwoo. Papa nggak mau jadi begitu di ingatan kamu. Maafin Papa.”</p>

<p>Anak itu terus menggeleng. Ayahnya menaruh telapak tangan pada pipinya. Hangat. Sentuhannya lembut. Anak itu menggamit tangan tersebut, erat, seakan sebuah jaring penyelamat terakhir dalam hidupnya.</p>

<p>“Papa sama Mama sayang sama kamu, Nak. Kamu bebas mencintai siapa aja, asal kamu bertanggung jawab. Papa sama Mama akan tetap sayang sama kamu.”</p>

<p>Anak itu nggak mau menangis. Nggak ingin kembali ke kamar asramanya dengan wajah penuh luka dan memerah oleh air mata. Namun, mendengar itu keluar dari mulut ayahnya sendiri, ayah yang menolaknya dahulu kala dan mengusir pacarnya, kini menerimanya, nggak mungkin nggak membuat tangis anak itu pecah.</p>

<p><em>(“Kamu bebas mencintai siapa aja.”)</em></p>

<p><em>Wonwoo...</em></p>

<p><em>(“Papa sama Mama akan tetap sayang sama kamu.”)</em></p>

<p><em>Wonwoo...Wonwoo...</em></p>

<p><em>Seharusnya...seharusnya kalimat ini kamu yang denger dari orangtua kamu...</em></p>

<p><em>Kamu yang lebih butuh daripada aku...</em></p>

<p><em>Wonwoo...</em></p>

<p>“Hnng....”</p>

<p>Merintih. Mata anak itu memejam. Wajahnya memerah. Air mata terus bercucuran. Pun serodotan ingus terdengar. Sang ibu, ikut meneteskan air mata, langsung memeluk dan mengelusi punggung anaknya. Lalu, sang ayah memeluk keluarganya dan mengecup sisi kepala anak itu.</p>

<p>Penerimaan.</p>

<p>Sesuatu yang Joshua miliki yang nggak ternilai harganya.</p>

<p>“Ma...Wonu, Mah...,” cicitnya dalam pelukan sang ibu. Mengiba, meminta bantuan walau sekecil apapun.</p>

<p>“Iya, Sayang. Mama sama Papa bakal pindah pas kalian mulai kuliah,” ujar sang ibu. “Mama sama Papa bakal jagain Wonwoo dari orangtuanya sampe dia mulai kuliah.”</p>

<p>“Moga-moga dia kuliah yang jauh dari tuh rumah,” dengus ayahnya lagi.</p>

<p>“Pah...”</p>

<p>Joshua pun meneguk liurnya. Dia terus menangis. Menangisi ketidak mampuannya menolong sahabatnya. Menangisi keputusan yang dia buat sendiri. Menangisi kelemahannya sebagai seorang anak belasan tahun yang nggak bisa berbuat apa-apa.</p>

<p>Andai ini dunia di dalam novel, dia akan bisa dengan mudah mengajak Wonwoo lari dari semua hal yang menyakiti mereka dan hidup berdua saja dalam kebahagiaan.</p>

<p>Andai dunia semudah itu...</p>

<p>Dia yakin kalau Wonwoo pasti membencinya kini, karena dia kabur seorang diri. Terakhir dia melihat sahabatnya itu, dia bagai kepompong kosong. Miskin ekspresi. Hampa tanpa jiwa. Terakhir dia melihat sahabatnya itu, dia berlutut di lantai rumah keluarga Jeon, meminta maaf dan berjanji nggak akan dekat-dekat Wonwoo lagi agar orientasi seksualnya nggak &#39;menular&#39;. Dia diam di sana, menerima semua cacian dan makian dan kata-kata degradasi akan &#39;kaum&#39;-nya. Dia terus meminta maaf, bahkan ketika ibu Wonwoo menamparnya dan ayah Wonwoo menghajar dan mengusirnya keluar, nggak sudi rumahnya kotor oleh Joshua.</p>

<p>Terakhir dia melihat sahabatnya itu, Wonwoo diam saja diboyong masuk keluarganya, diwanti-wanti agar nggak lagi berhubungan sama &#39;anak setan itu&#39;. Ibu Wonwoo menangis tapi nggak meminta maaf pada Wonwoo. Mereka melihat Wonwoo sebagai suatu kesalahan yang harus mereka koreksi secepatnya, sebelum terlambat.</p>

<p>Dan Joshua meninggalkan sahabatnya dalam tangan orang-orang seperti itu. Terperangkap di sana, entah sampai kapan.</p>

<p>Wonwoo pasti membencinya. Wonwoo pasti—pasti—</p>

<p>“Aku—aku cinta—,” isaknya. Napas memburu, hampir sesak. “Aku cinta Wonu. Aku cinta dia. Cuma dia. Ya Tuhan, Wonu...Wonu...Aku udah ninggalin dia. Aku—”</p>

<p>Di sana, dalam pelukan ibu dan ayahnya yang menyaksikan bagaimana putra semata wayang mereka, harta berharga pemberian Tuhan, pelengkap sempurnanya cinta mereka, runtuh menjadi kepingan kecil, Joshua Hong meraung melepas semua tangisan dan isi hati terdalamnya. Bagaimana putra mereka itu hancur karena cinta dan mereka nggak bisa melakukan apa-apa.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/93</guid>
      <pubDate>Tue, 04 May 2021 10:08:01 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>91.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/91-t5gm?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wonshuashort&#xA;&#xA;Cericip burung menyambut pagi terdengar dari luar jendela Joshua. Matahari jatuh lembut di atas dua tubuh yang berbaring bersama dalam pelukan. Bahkan di dalam tidurnya, Wonwoo nggak melepaskan Joshua sedikit pun.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Joshua yang bangun terlebih dulu. Dia diam di sana, memperhatikan wajah tidur Wonwoo dengan seksama. Mata mereka berdua sembab. Ada jejak air mata yang mengering di pipi Wonwoo yang Joshua kecup dan belai dengan lembut.&#xA;&#xA;Kali kedua dia tidur dalam pelukan Wonwoo. Kali kedua dia merasa bersalah. Yang pertama, dia merasa bersalah karena dia menggunakan sahabatnya, Wonwoo-nya, orang paling berharga dalam hidupnya setelah orangtuanya, sebagai pelarian. Joshua nggak tau dia lari dari apa kala itu. Dia bingung setengah mati.&#xA;&#xA;Dia punya pacar yang baik. Mingyu nggak pernah maksa dia sebelum-sebelumnya, pun ketika Mingyu mengeluh soal hubungan mereka, wujudnya berupa rengekan. Sesuatu yang bisa mereka selesaikan bersama dengan saling bicara, bukannya malah selingkuh, malah tidur sama Wonwoo.&#xA;&#xA;Namun, yang membuat Joshua bingung, adalah hatinya. Hati yang menolak segenap tenaga ketika Mingyu hendak menyentuhnya lebih. Hati yang nggak berkata apa-apa, malah senang, saat Wonwoo mencium tahi lalat di belakang telinganya, sebelum menggigiti perlahan daun telinganya. Hati yang, seolah, menyuruhnya memilih Wonwoo.&#xA;&#xA;Joshua bingung, apalagi ketika dia kembali ke sekolah dan kembali menghadapi pacarnya. Joshua, dirundung rasa bersalah yang hebat, meminta putus, namun Mingyu memohon. Dia mengiba. Dia menangis dan merintih. Dia memeluk Joshua begitu kuat seakan takut Joshua meninggalkannya. Dia memelas, berjanji nggak akan meminta Joshua tidur lagi sama dia. Berjanji, nggak akan membuat Joshua ingin putus darinya lagi. Mingyu mencintainya. Dia mencintai Joshua dengan tulus.&#xA;&#xA;Joshua nggak bilang kalau dia sudah tidur sama Wonwoo. Mingyu nggak tau soal itu sama sekali sampai detik ini. Dia menyimpan fakta itu karena, entah kenapa, entah bagaimana, Joshua yakin kalau dia akan meninggalkan Mingyu pada akhirnya. Dia hanya perlu bersama Mingyu sampai keadaan lebih mumpuni, sampai Mingyu menemukan orang baru yang jauh lebih baik darinya atau sampai Mingyu lebih kuat untuk dia tinggalkan.&#xA;&#xA;Wonwoo akan menunggunya. Dia akan selalu menunggunya. Dia bilang begitu pada Joshua dan Joshua percaya.&#xA;&#xA;Joshua Hong hanya perlu waktu dan Jeon Wonwoo sanggup memberikannya.&#xA;&#xA;Tapi...&#xA;&#xA;Tapi.......&#xA;&#xA;&#34;Maafin aku...&#34;&#xA;&#xA;Kali kedua, Joshua merasa bersalah karena sudah menyakiti Wonwoo. Dia sadar ini semua salahnya. Dia yang bimbang. Dia yang menggantung kedua hati dalam genggamannya. Dia yang berada di tengah-tengah, ke kanan atau ke kiri, nggak tau harus ke mana. Rasa bersalahnya menyetirnya ke Mingyu. Hatinya menyetirnya ke Wonwoo.&#xA;&#xA;Dan semua semakin runyam ketika satu momen impulsif merusak semuanya. Ciuman itu. Ciuman yang menghancurkan hidup sahabat yang paling dia sayangi di dunia.&#xA;&#xA;&#34;Won...&#34;&#xA;&#xA;Perlahan, Wonwoo membuka matanya. Joshua tau sudah beberapa menit berlalu sejak Wonwoo terbangun. Mereka bertatapan dalam diam, dalam jarak dekat dimana, satu tahun sebelumnya, akan langsung mereka tutup dengan ciuman karena bibir Wonwoo begitu adiktif. Bibir yang sama yang kini penuh bekas luka mengering akibat digigit kuat-kuat serta bekas membiru di ujungnya.&#xA;&#xA;&#34;Won, kita nggak bisa kayak gini,&#34; perlahan, dalam bisikan, Joshua berkata. &#34;Kita masih sekolah, Won. Kamu perlu orangtua kamu. Buat kuliah. Buat masa depan kamu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku bisa kabur sama kamu. Aku bisa kerja.&#34;&#xA;&#xA;Joshua menggeleng. &#34;Ini bukan cerita, Won. Bukan film, novel. Ini dunia nyata,&#34; gelengannya putus asa. &#34;Kita nggak bisa us against the world. Kamu butuh orangtua kamu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mereka udah buang aku...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Karena aku kan?&#34; rasanya pedih sekali. &#34;Orangtua kamu marah karena aku. Jadi...jadi...&#34;&#xA;&#xA;Rasanya pedih sekali.&#xA;&#xA;&#34;Aku bakal pergi dari kamu, Won.&#34;&#xA;&#xA;Refleks, Wonwoo menarik pelukannya. Takut. Sekujur bulu kuduknya berdiri. Panik. &#34;Nggak,&#34; napasnya tercekat. &#34;Nggak. Jangan. Jangan tinggalin aku, Shua.&#34;&#xA;&#xA;Jika hati bisa ditikam tanpa belati, mungkin beginilah rasanya. Ditikam, lalu ditoreh sampai membelah terbuka, sampai darah bercucuran dan dia lebih memilih segera mati daripada sakit seperti ini.&#xA;&#xA;&#34;Aku nggak mau hidup kamu ancur karena aku. Sekarang, kalo kamu nggak balik ke orangtua kamu, gimana sekolah kamu? Gimana kuliah kamu? Kita udah kelas 3, Won, dikit lagi lulus. Kamu nggak boleh kabur dari orangtua kamu, terus di-DO. Jangan sampe hidup kamu ancur cuma gegara aku. Masa depan kamu masih panjang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku nggak bisa, Shua. Mereka udah buang aku. Aku balik pun mereka nggak akan peduli sama aku.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Biar ortu aku yang coba ngomong ke mereka, Won. Aku juga bakal ngomong ke mereka. Aku bakal bilang kalo aku yang ngejebak kamu dan aku bakal ngejauhin kamu, biar kamu nggak kena pengaruh aku lagi.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo menggeleng. Dia menggeleng. Semua itu terdengar salah. Bukan begini. Bukan begini solusinya. Bukan begini.&#xA;&#xA;Tapi, anak kelas 3 SMA, bisa apa? Wonwoo cuma anak-anak. Joshua cuma anak-anak. Mereka nggak bisa apa-apa. Begitu kecil di mata dunia.&#xA;&#xA;&#34;Joshua...enggak...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku harus ninggalin kamu, Won, buat kamu,&#34; kini dia menangis. Seperti Wonwoo yang juga menangis lagi. &#34;Kalo aku nggak ada, ortu kamu bakal mikir kalo kamu bisa mereka &#39;sembuhin&#39;. Mereka bakal nerima kamu lagi.&#34;&#xA;&#xA;&#34;AKU NGGAK SAKIT!&#34; frustasi. Wonwoo ingin mengamuk entah pada siapa. Ingin melampiaskan. Ingin berteriak kencang hingga seluruh dunia tau, bahwa nggak ada yang salah dari menyukai seseorang. &#34;Kenapa...kenapa jadi begini...aku cuma cinta sama kamu...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dan aku ju--&#34;&#xA;&#xA;Joshua menggigit bibir.&#xA;&#xA;(&#34;Kamu udah putus sama Mingyu?&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Kalo kamu udah bisa jawab pertanyaanku yang itu, baru aku tanya balik kamu sayang sama aku ato enggak.&#34;)&#xA;&#xA;Hatinya hancur. Hati Wonwoo pun hancur. Joshua kemudian memeluk erat Wonwoo, yang memeluk erat balik, berharap bahwa pelukan bisa membuat semuanya terasa lebih ringan. Mereka masih terlalu muda untuk dihancurkan oleh kejamnya realita.&#xA;&#xA;&#34;Aku pergi dulu, Won.&#34;&#xA;&#xA;Terisak. Wonwoo nggak bisa menjawab, cuma bisa menangis nggak berkesudahan.&#xA;&#xA;&#34;Aku pergi dulu..&#34;&#xA;&#xA;Tuhan...&#xA;&#xA;&#34;...dan kalo kita ketemu lagi, kalo, entah gimana caranya, kita ketemu lagi, tanyain aku ya, Won. Tanya aku apa aku sayang sama kamu.&#34;&#xA;&#xA;Tuhan...&#xA;&#xA;...kenapa begini?&#xA;&#xA;Aku cuma minta hidup bersama orang ini.&#xA;&#xA;Apa aku minta terlalu banyak..?&#xA;&#xA;&#34;Maafin aku, Won...&#34;&#xA;&#xA;Tuhan...]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshuashort" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">wonshuashort</span></a></p>

<p>Cericip burung menyambut pagi terdengar dari luar jendela Joshua. Matahari jatuh lembut di atas dua tubuh yang berbaring bersama dalam pelukan. Bahkan di dalam tidurnya, Wonwoo nggak melepaskan Joshua sedikit pun.</p>



<p>Joshua yang bangun terlebih dulu. Dia diam di sana, memperhatikan wajah tidur Wonwoo dengan seksama. Mata mereka berdua sembab. Ada jejak air mata yang mengering di pipi Wonwoo yang Joshua kecup dan belai dengan lembut.</p>

<p>Kali kedua dia tidur dalam pelukan Wonwoo. Kali kedua dia merasa bersalah. Yang pertama, dia merasa bersalah karena dia menggunakan sahabatnya, Wonwoo-nya, orang paling berharga dalam hidupnya setelah orangtuanya, sebagai pelarian. Joshua nggak tau dia lari dari apa kala itu. Dia bingung setengah mati.</p>

<p>Dia punya pacar yang baik. Mingyu nggak pernah maksa dia sebelum-sebelumnya, pun ketika Mingyu mengeluh soal hubungan mereka, wujudnya berupa rengekan. Sesuatu yang bisa mereka selesaikan bersama dengan saling bicara, bukannya malah selingkuh, malah tidur sama Wonwoo.</p>

<p>Namun, yang membuat Joshua bingung, adalah hatinya. Hati yang menolak segenap tenaga ketika Mingyu hendak menyentuhnya lebih. Hati yang nggak berkata apa-apa, malah senang, saat Wonwoo mencium tahi lalat di belakang telinganya, sebelum menggigiti perlahan daun telinganya. Hati yang, seolah, menyuruhnya <em>memilih</em> Wonwoo.</p>

<p>Joshua bingung, apalagi ketika dia kembali ke sekolah dan kembali menghadapi pacarnya. Joshua, dirundung rasa bersalah yang hebat, meminta putus, namun Mingyu memohon. Dia mengiba. Dia menangis dan merintih. Dia memeluk Joshua begitu kuat seakan takut Joshua meninggalkannya. Dia memelas, berjanji nggak akan meminta Joshua tidur lagi sama dia. Berjanji, nggak akan membuat Joshua ingin putus darinya lagi. Mingyu mencintainya. Dia mencintai Joshua dengan tulus.</p>

<p>Joshua nggak bilang kalau dia sudah tidur sama Wonwoo. Mingyu nggak tau soal itu sama sekali sampai detik ini. Dia menyimpan fakta itu karena, entah kenapa, entah bagaimana, Joshua yakin kalau dia akan meninggalkan Mingyu pada akhirnya. Dia hanya perlu bersama Mingyu sampai keadaan lebih mumpuni, sampai Mingyu menemukan orang baru yang jauh lebih baik darinya atau sampai Mingyu lebih kuat untuk dia tinggalkan.</p>

<p>Wonwoo akan menunggunya. Dia akan selalu menunggunya. Dia bilang begitu pada Joshua dan Joshua percaya.</p>

<p>Joshua Hong hanya perlu waktu dan Jeon Wonwoo sanggup memberikannya.</p>

<p>Tapi...</p>

<p><em>Tapi.......</em></p>

<p>“Maafin aku...”</p>

<p>Kali kedua, Joshua merasa bersalah karena sudah menyakiti Wonwoo. Dia sadar ini semua salahnya. Dia yang bimbang. Dia yang menggantung kedua hati dalam genggamannya. Dia yang berada di tengah-tengah, ke kanan atau ke kiri, nggak tau harus ke mana. Rasa bersalahnya menyetirnya ke Mingyu. Hatinya menyetirnya ke Wonwoo.</p>

<p>Dan semua semakin runyam ketika satu momen impulsif merusak semuanya. Ciuman itu. Ciuman yang menghancurkan hidup sahabat yang paling dia sayangi di dunia.</p>

<p>“Won...”</p>

<p>Perlahan, Wonwoo membuka matanya. Joshua tau sudah beberapa menit berlalu sejak Wonwoo terbangun. Mereka bertatapan dalam diam, dalam jarak dekat dimana, satu tahun sebelumnya, akan langsung mereka tutup dengan ciuman karena bibir Wonwoo begitu adiktif. Bibir yang sama yang kini penuh bekas luka mengering akibat digigit kuat-kuat serta bekas membiru di ujungnya.</p>

<p>“Won, kita nggak bisa kayak gini,” perlahan, dalam bisikan, Joshua berkata. “Kita masih sekolah, Won. Kamu perlu orangtua kamu. Buat kuliah. Buat masa depan kamu.”</p>

<p>“Aku bisa kabur sama kamu. Aku bisa kerja.”</p>

<p>Joshua menggeleng. “Ini bukan cerita, Won. Bukan film, novel. Ini dunia nyata,” gelengannya putus asa. “Kita nggak bisa <em>us against the world.</em> Kamu butuh orangtua kamu.”</p>

<p>“Mereka udah buang aku...”</p>

<p>“Karena aku kan?” rasanya pedih sekali. “Orangtua kamu marah karena aku. Jadi...jadi...”</p>

<p><em>Rasanya pedih sekali.</em></p>

<p>“Aku bakal pergi dari kamu, Won.”</p>

<p>Refleks, Wonwoo menarik pelukannya. Takut. Sekujur bulu kuduknya berdiri. Panik. “Nggak,” napasnya tercekat. “Nggak. Jangan. Jangan tinggalin aku, Shua.”</p>

<p>Jika hati bisa ditikam tanpa belati, mungkin beginilah rasanya. Ditikam, lalu ditoreh sampai membelah terbuka, sampai darah bercucuran dan dia lebih memilih segera mati daripada sakit seperti ini.</p>

<p>“Aku nggak mau hidup kamu ancur karena aku. Sekarang, kalo kamu nggak balik ke orangtua kamu, gimana sekolah kamu? Gimana kuliah kamu? Kita udah kelas 3, Won, dikit lagi lulus. Kamu nggak boleh kabur dari orangtua kamu, terus di-DO. Jangan sampe hidup kamu ancur cuma gegara aku. Masa depan kamu masih panjang.”</p>

<p>“Aku nggak bisa, Shua. Mereka udah buang aku. Aku balik pun mereka nggak akan peduli sama aku.”</p>

<p>“Biar ortu aku yang coba ngomong ke mereka, Won. Aku juga bakal ngomong ke mereka. Aku bakal bilang kalo aku yang ngejebak kamu dan aku bakal ngejauhin kamu, biar kamu nggak kena pengaruh aku lagi.”</p>

<p>Wonwoo menggeleng. Dia menggeleng. Semua itu terdengar salah. Bukan begini. Bukan begini solusinya. Bukan begini.</p>

<p>Tapi, anak kelas 3 SMA, bisa apa? Wonwoo cuma anak-anak. Joshua cuma anak-anak. Mereka nggak bisa apa-apa. Begitu kecil di mata dunia.</p>

<p>“Joshua...enggak...”</p>

<p>“Aku harus ninggalin kamu, Won, buat kamu,” kini dia menangis. Seperti Wonwoo yang juga menangis lagi. “Kalo aku nggak ada, ortu kamu bakal mikir kalo kamu bisa mereka &#39;sembuhin&#39;. Mereka bakal nerima kamu lagi.”</p>

<p>“AKU NGGAK SAKIT!” frustasi. Wonwoo ingin mengamuk entah pada siapa. Ingin melampiaskan. Ingin berteriak kencang hingga seluruh dunia tau, bahwa nggak ada yang salah dari menyukai seseorang. “Kenapa...kenapa jadi begini...aku cuma cinta sama kamu...”</p>

<p>“Dan aku ju—”</p>

<p>Joshua menggigit bibir.</p>

<p><em>(“Kamu udah putus sama Mingyu?”)</em></p>

<p><em>(“Kalo kamu udah bisa jawab pertanyaanku yang itu, baru aku tanya balik kamu sayang sama aku ato enggak.”)</em></p>

<p>Hatinya hancur. Hati Wonwoo pun hancur. Joshua kemudian memeluk erat Wonwoo, yang memeluk erat balik, berharap bahwa pelukan bisa membuat semuanya terasa lebih ringan. Mereka masih terlalu muda untuk dihancurkan oleh kejamnya realita.</p>

<p>“Aku pergi dulu, Won.”</p>

<p>Terisak. Wonwoo nggak bisa menjawab, cuma bisa menangis nggak berkesudahan.</p>

<p>“Aku pergi dulu..”</p>

<p><em>Tuhan...</em></p>

<p>”...dan kalo kita ketemu lagi, kalo, entah gimana caranya, kita ketemu lagi, tanyain aku ya, Won. Tanya aku apa aku sayang sama kamu.”</p>

<p><em>Tuhan...</em></p>

<p><em>...kenapa begini?</em></p>

<p><em>Aku cuma minta hidup bersama orang ini.</em></p>

<p><em>Apa aku minta terlalu banyak..?</em></p>

<p>“Maafin aku, Won...”</p>

<p><em>Tuhan...</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/91-t5gm</guid>
      <pubDate>Mon, 03 May 2021 03:47:47 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>90.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/90?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wonshuashort&#xA;&#xA;Ketika Joshua tiba, terengah, rumahnya sudah sunyi sepi. Ibunya membukakan pintu dengan tenang karena pesan dari Joshua sebelumnya.&#xA;&#xA;&#34;Mah.&#34;&#xA;&#xA;Ibu dan anak berpelukan untuk sesaat. Ibunya Joshua mengusap wajah anaknya yang kacau, lalu mengecup pipinya.&#xA;&#xA;&#34;Dia di kamar kamu, Sayang.&#34;&#xA;&#xA;Mengangguk dan, tanpa banyak bicara, Joshua naik ke lantai dua, ke kamarnya.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Saat dia masuk, Wonwoo nggak tidur seperti perkiraan Joshua. Dia duduk termenung. Punggungnya pada kepala ranjang Joshua. Pias sinar bulan menyorotnya dari celah tirai yang tertutup asal-asalan. Joshua menarik napas, kemudian melangkah perlahan.&#xA;&#xA;&#34;Hey...&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo bergeming. Nggak menjawab. Nggak merespon sama sekali. Sampai, pada akhirnya, Joshua semakin dan semakin dekat, dan dia nggak peduli lagi akan keraguannya sendiri. Joshua naik ke atas ranjang, lalu mendekat dan menaruh dirinya di atas pangkuan Wonwoo. Tangannya menyentuh, mengelusi pipi sahabatnya itu. Dengan lembut, Joshua menginspeksi luka-luka di sekujur wajah dan tubuh Jeon Wonwoo.&#xA;&#xA;Terlalu banyak. Terlalu kejam.&#xA;&#xA;&#34;Wonu...&#34;&#xA;&#xA;Elusan terasa, maka Wonwoo menoleh sedikit, mendusel balik tangan pada pipinya.&#xA;&#xA;&#34;Wonu...Wonu...&#34;&#xA;&#xA;Joshua menangkup kedua pipi Wonwoo, berhati-hati. Dia membelainya, sementara bulir-bulir tangis jatuh dari pelupuk matanya ke pipi Wonwoo, mengalir menuruni pipi yang penuh bekas lebam tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Maafin aku...maafin aku...Wonu...&#34;&#xA;&#xA;Semakin deras. Tetesan.&#xA;&#xA;Jangan menangis.&#xA;&#xA;Jangan menangis.&#xA;&#xA;Jangan menangis karena aku.&#xA;&#xA;Aku nggak mau jadi sebab kamu sedih.&#xA;&#xA;Jangan menangis, Joshua...&#xA;&#xA;Ah, tapi,&#xA;&#xA;Jeon Wonwoo hanyalah seorang anak-anak.&#xA;&#xA;Kedua lengannya mendadak melingkari pinggang Joshua, menarik tubuh itu merapat, dan ia pun tak kuasa lagi menahan. Bagai aliran yang penahannya dibuka begitu saja. Wonwoo menangis. Wonwoo menangis dan menangis dan menangis.&#xA;&#xA;Meraung. Terisak.&#xA;&#xA;Ia merintih.&#xA;&#xA;Di dalam pelukan Joshua yang hangat, orang yang paling ia cintai namun takkan pernah bisa ia miliki, Wonwoo menangis, mengeluarkan semua yang selama ini ia tahan seorang diri.&#xA;&#xA;Dan Joshua, di atas pangkuannya, mengusap dan menciumi rambutnya, ikut menangis bersamanya. Seperti Wonwoo padanya, Joshua nggak akan pernah meninggalkan Wonwoo untuk menangis sendirian.&#xA;&#xA;Seperti ketika mereka kecil dulu.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshuashort" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">wonshuashort</span></a></p>

<p>Ketika Joshua tiba, terengah, rumahnya sudah sunyi sepi. Ibunya membukakan pintu dengan tenang karena pesan dari Joshua sebelumnya.</p>

<p>“Mah.”</p>

<p>Ibu dan anak berpelukan untuk sesaat. Ibunya Joshua mengusap wajah anaknya yang kacau, lalu mengecup pipinya.</p>

<p>“Dia di kamar kamu, Sayang.”</p>

<p>Mengangguk dan, tanpa banyak bicara, Joshua naik ke lantai dua, ke kamarnya.</p>



<hr/>

<p>Saat dia masuk, Wonwoo nggak tidur seperti perkiraan Joshua. Dia duduk termenung. Punggungnya pada kepala ranjang Joshua. Pias sinar bulan menyorotnya dari celah tirai yang tertutup asal-asalan. Joshua menarik napas, kemudian melangkah perlahan.</p>

<p>“Hey...”</p>

<p>Wonwoo bergeming. Nggak menjawab. Nggak merespon sama sekali. Sampai, pada akhirnya, Joshua semakin dan semakin dekat, dan dia nggak peduli lagi akan keraguannya sendiri. Joshua naik ke atas ranjang, lalu mendekat dan menaruh dirinya di atas pangkuan Wonwoo. Tangannya menyentuh, mengelusi pipi sahabatnya itu. Dengan lembut, Joshua menginspeksi luka-luka di sekujur wajah dan tubuh Jeon Wonwoo.</p>

<p>Terlalu banyak. Terlalu kejam.</p>

<p>“Wonu...”</p>

<p>Elusan terasa, maka Wonwoo menoleh sedikit, mendusel balik tangan pada pipinya.</p>

<p>“Wonu...Wonu...”</p>

<p>Joshua menangkup kedua pipi Wonwoo, berhati-hati. Dia membelainya, sementara bulir-bulir tangis jatuh dari pelupuk matanya ke pipi Wonwoo, mengalir menuruni pipi yang penuh bekas lebam tersebut.</p>

<p>“Maafin aku...maafin aku...Wonu...”</p>

<p>Semakin deras. Tetesan.</p>

<p>Jangan menangis.</p>

<p><em>Jangan menangis.</em></p>

<p><em>Jangan menangis karena aku.</em></p>

<p><em>Aku nggak mau jadi sebab kamu sedih.</em></p>

<p><em>Jangan menangis, Joshua...</em></p>

<p>Ah, tapi,</p>

<p>Jeon Wonwoo hanyalah seorang anak-anak.</p>

<p>Kedua lengannya mendadak melingkari pinggang Joshua, menarik tubuh itu merapat, dan ia pun tak kuasa lagi menahan. Bagai aliran yang penahannya dibuka begitu saja. Wonwoo menangis. Wonwoo menangis dan menangis dan menangis.</p>

<p>Meraung. Terisak.</p>

<p>Ia merintih.</p>

<p>Di dalam pelukan Joshua yang hangat, orang yang paling ia cintai namun takkan pernah bisa ia miliki, Wonwoo menangis, mengeluarkan semua yang selama ini ia tahan seorang diri.</p>

<p>Dan Joshua, di atas pangkuannya, mengusap dan menciumi rambutnya, ikut menangis bersamanya. Seperti Wonwoo padanya, Joshua nggak akan pernah meninggalkan Wonwoo untuk menangis sendirian.</p>

<p>Seperti ketika mereka kecil dulu.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/90</guid>
      <pubDate>Sun, 02 May 2021 16:07:45 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>50.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/50?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wonshuashort&#xA;&#xA;⛔🔞 NC-17&#xA;&#xA;&#34;Hai...&#34;&#xA;&#xA;Mata Joshua membuka perlahan untuk menemukan Wonwoo dengan muka bantalnya, tersenyum malas padanya. Rambut hitamnya berantakan akibat ulah Joshua semalaman. Kacamatanya selamat di nakas samping tempat tidur. Lengannya menjuntai santai dari pinggang Joshua. Suaranya serak dan rendah. Ditimpa cahaya mentari pagi, Wonwoo tampak sangat indah.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Mm...&#34;&#xA;&#xA;Joshua masih mengantuk. Maka, dia merapatkan tubuhnya ke dada Wonwoo dan sahabatnya itu menariknya ke dalam pelukan. Barulah saat itu Joshua sadar akan sesuatu yang mengeras di balik selimut.&#xA;&#xA;Mendengus geli, dia terkekeh, &#34;Bandel.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Can&#39;t help it,&#34; kini Wonwoo menghujani ubun-ubun Joshua dengan kecupan ringan. &#34;You&#39;re too pretty.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue cowok. Gue nggak cantik,&#34; alis Joshua mengernyit. Dia mulai menggerakkan pinggul sedikit, membuat Wonwoo menarik napas mendadak. Kaget karena gesekan yang nggak dinyana itu.&#xA;&#xA;&#34;Still, ah...pretty...&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo mengelus bibir bawah Joshua. Bohong kalau Joshua bilang pipinya nggak memerah di bawah tatapan Wonwoo yang berat oleh keinginan. Bohong kalau dia bilang dia nggak ingin menyentuh Wonwoo lagi, nggak ingin merasakan tangannya pada kulit Wonwoo, nggak ingin bibir mereka bertemu lagi...&#xA;&#xA;&#34;...pretty...&#34;&#xA;&#xA;Napas Joshua menderu. Aneh. Aneh. Padahal ini sahabatnya. Teman sejak kecilnya yang tinggal persis di seberang jendela kamar Joshua. Wonwoo, yang dulu mandi bareng dengannya sampai membuat kamar mandi berantakan dan dimarahi oleh ibunya. Wonwoo, yang mengambil makanan kesukaan Joshua dari piringnya lalu mereka bertengkar di meja makan cuma untuk dilerai kemudian. Wonwoo, yang menghabiskan banyak malam menginap setelah kecapean main game.&#xA;&#xA;Wonwoo, yang suatu petang, dengan semburat jingga jatuh menimpa wajah tampannya, ketangkap basah memandangi Joshua dalam diam.&#xA;&#xA;(&#34;Kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kok senyum-senyum ngeliatin gitu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak apa kok.&#34;)&#xA;&#xA;Seharusnya terasa aneh. Seharusnya. Bangun pagi di ranjang yang sama, telanjang bulat, berpelukan di balik selimut. Keadaan tubuh yang berantakan oleh ulah tangan, bibir, gigi dan lidah. Napas pagi yang nggak terlalu menyenangkan. Bekas liur dan ejakulasi yang lengket, menempel nggak nyaman di kulit. Harusnya aneh. Awkward.&#xA;&#xA;Dan, ya Tuhan, Joshua punya pacar. Wonwoo juga punya pacar. Mingyu. Aeri. Bukan hanya mereka berdua teman, tapi mereka mengkhianati kekasih mereka sendiri.&#xA;&#xA;Tapi,&#xA;&#xA;tapi, tapi, tapi,&#xA;&#xA;kalau ini salah, kalau semua ini salah,&#xA;&#xA;kenapa hati Joshua merasa inilah yang benar?&#xA;&#xA;&#34;...so pretty, my--&#34;&#xA;&#xA;Tidak ada kata-kata dipertukarkan lagi. Wonwoo menutup bibir Joshua dengan bibirnya. Joshua merespon dengan mudah, bagai kelopak bunga yang mekar indah dengan sedikit sentuhan semata. Dia mencium balik Wonwoo, meraba dengan agak bersemangat di balik selimut. Wonwoo mengerang ke dalam mulut Joshua, tangan-tangan naik dari pinggul, mengelusi punggung, lalu turun, terus turun, ke bagian dari tubuh Joshua yang telah dia cintai semalaman penuh kemarin.&#xA;&#xA;Joshua melepas ciuman tersebut dengan bunyi kencang. Lalu, dia menarik kedua tangan Wonwoo dan menaruhnya ke samping kepala Wonwoo. Keduanya terengah. Wonwoo mengerjap dua kali saat Joshua, di atasnya, meringis jahil. Matanya berkilau bahagia seperti yang Wonwoo inginkan selalu nampak di wajah Joshua.&#xA;&#xA;Harus selalu bahagia. Joshua. Joshua-nya.&#xA;&#xA;&#34;Shua...&#34;&#xA;&#xA;Ketika Joshua menyibak selimut lalu turun hingga bibirnya berjarak teramat dekat dengan bagian sensitifnya dan Joshua meringis semakin lebar, Wonwoo pun tak kuasa untuk meneguk ludah dan membiarkan dirinya berada di bawah pengampunan pemilik hatinya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshuashort" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">wonshuashort</span></a></p>

<p>⛔🔞 NC-17</p>

<p>“Hai...”</p>

<p>Mata Joshua membuka perlahan untuk menemukan Wonwoo dengan muka bantalnya, tersenyum malas padanya. Rambut hitamnya berantakan akibat ulah Joshua semalaman. Kacamatanya selamat di nakas samping tempat tidur. Lengannya menjuntai santai dari pinggang Joshua. Suaranya serak dan rendah. Ditimpa cahaya mentari pagi, Wonwoo tampak sangat indah.</p>



<p>“Mm...”</p>

<p>Joshua masih mengantuk. Maka, dia merapatkan tubuhnya ke dada Wonwoo dan sahabatnya itu menariknya ke dalam pelukan. Barulah saat itu Joshua sadar akan sesuatu yang mengeras di balik selimut.</p>

<p>Mendengus geli, dia terkekeh, “Bandel.”</p>

<p>“Can&#39;t help it,” kini Wonwoo menghujani ubun-ubun Joshua dengan kecupan ringan. “You&#39;re too pretty.”</p>

<p>“Gue cowok. Gue nggak cantik,” alis Joshua mengernyit. Dia mulai menggerakkan pinggul sedikit, membuat Wonwoo menarik napas mendadak. Kaget karena gesekan yang nggak dinyana itu.</p>

<p>“Still, ah...<em>pretty</em>...”</p>

<p>Wonwoo mengelus bibir bawah Joshua. Bohong kalau Joshua bilang pipinya nggak memerah di bawah tatapan Wonwoo yang berat oleh keinginan. Bohong kalau dia bilang dia nggak ingin menyentuh Wonwoo lagi, nggak ingin merasakan tangannya pada kulit Wonwoo, nggak ingin bibir mereka bertemu lagi...</p>

<p>”...<em>pretty</em>...”</p>

<p>Napas Joshua menderu. Aneh. <em>Aneh.</em> Padahal ini sahabatnya. Teman sejak kecilnya yang tinggal persis di seberang jendela kamar Joshua. Wonwoo, yang dulu mandi bareng dengannya sampai membuat kamar mandi berantakan dan dimarahi oleh ibunya. Wonwoo, yang mengambil makanan kesukaan Joshua dari piringnya lalu mereka bertengkar di meja makan cuma untuk dilerai kemudian. Wonwoo, yang menghabiskan banyak malam menginap setelah kecapean main game.</p>

<p>Wonwoo, yang suatu petang, dengan semburat jingga jatuh menimpa wajah tampannya, ketangkap basah memandangi Joshua dalam diam.</p>

<p>(“Kenapa?”</p>

<p>“Nggak.”</p>

<p>“Kok senyum-senyum ngeliatin gitu?”</p>

<p>“Nggak apa kok.”)</p>

<p>Seharusnya terasa aneh. Seharusnya. Bangun pagi di ranjang yang sama, telanjang bulat, berpelukan di balik selimut. Keadaan tubuh yang berantakan oleh ulah tangan, bibir, gigi dan lidah. Napas pagi yang nggak terlalu menyenangkan. Bekas liur dan ejakulasi yang lengket, menempel nggak nyaman di kulit. Harusnya aneh. Awkward.</p>

<p>Dan, ya Tuhan, Joshua punya pacar. Wonwoo juga punya pacar. Mingyu. Aeri. Bukan hanya mereka berdua teman, tapi mereka mengkhianati kekasih mereka sendiri.</p>

<p>Tapi,</p>

<p>tapi, tapi, tapi,</p>

<p>kalau ini salah, kalau semua ini salah,</p>

<p>kenapa hati Joshua merasa inilah yang <em>benar</em>?</p>

<p>”...<em>so pretty, my—</em>“</p>

<p>Tidak ada kata-kata dipertukarkan lagi. Wonwoo menutup bibir Joshua dengan bibirnya. Joshua merespon dengan mudah, bagai kelopak bunga yang mekar indah dengan sedikit sentuhan semata. Dia mencium balik Wonwoo, meraba dengan agak bersemangat di balik selimut. Wonwoo mengerang ke dalam mulut Joshua, tangan-tangan naik dari pinggul, mengelusi punggung, lalu turun, terus turun, ke bagian dari tubuh Joshua yang telah dia cintai semalaman penuh kemarin.</p>

<p>Joshua melepas ciuman tersebut dengan bunyi kencang. Lalu, dia menarik kedua tangan Wonwoo dan menaruhnya ke samping kepala Wonwoo. Keduanya terengah. Wonwoo mengerjap dua kali saat Joshua, di atasnya, meringis jahil. Matanya berkilau bahagia seperti yang Wonwoo inginkan selalu nampak di wajah Joshua.</p>

<p>Harus selalu bahagia. Joshua. Joshua-nya.</p>

<p>“<em>Shua...</em>“</p>

<p>Ketika Joshua menyibak selimut lalu turun hingga bibirnya berjarak teramat dekat dengan bagian sensitifnya dan Joshua meringis semakin lebar, Wonwoo pun tak kuasa untuk meneguk ludah dan membiarkan dirinya berada di bawah pengampunan pemilik hatinya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/50</guid>
      <pubDate>Sat, 01 May 2021 02:39:58 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>47.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/47-cxx5?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wonshuashort&#xA;&#xA;Hari ke-sepuluh.&#xA;&#xA;&#34;Temenin gue yuk, Won?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ke mana?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Belanja.&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Buru, Woonn!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Pegangan!&#34;&#xA;&#xA;Mereka tertawa terbahak-bahak. Kelas 2 SMA mereka kini, namun seperti nggak pernah tumbuh. Nggak pernah berpijak jauh dari diri mereka saat kelas 1 SMP. Joshua masih terduduk di dalam troli, kakinya meringkuk dengan belanjaan mereka bertebaran di sekitarnya. Tangannya meraup beberapa kantong snack dari rak saat troli melaju kencang di lorong itu. Wonwoo masih mendorong troli tersebut, mengerahkan sekuat tenaga hingga Joshua merasa bagai melambung tinggi ke angkasa.&#xA;&#xA;Bebas. Bebas.&#xA;&#xA;Nggak ada orangtuanya. Nggak ada Mingyu. Nggak ada teman-temannya. Nggak ada guru-guru dan tetangga. Nggak ada mereka yang menolak dan menggunjingkannya, terang-terangan atau di belakang. Nggak ada orang-orang yang telah menyakiti hatinya, menoreh sedikit demi sedikit luka hingga hati itu borok sudah, bersimbah darah dimana-mana.&#xA;&#xA;Hanya ada dia dan Wonwoo. Berdua. Bersama.&#xA;&#xA;Bebas.&#xA;&#xA;Joshua Hong kembali menjadi Joshua Hong, yang aman dalam dunia yang melindunginya, yang menimangnya dengan lembut bagai porselen berharga. Gelak tawanya melantun merdu. Kepala terpelanting ke belakang. Sekali lagi, ia menemukan kenyamanan dengan bersandar pada bahu sahabat baiknya.&#xA;&#xA;Hangat.&#xA;&#xA;Wonwoo nggak pernah berubah. Wonwoo-nya. Yang baik, yang ramah. Yang cukup bandel namun bertanggung jawab. Yang nggak mau Joshua nangis sendirian. Yang menolong kucing kecil dari got dan mengadopsinya, walau dia dikurung tiga hari oleh ayahnya karena bersikeras memiara kucing itu. Yang selalu bersamanya, bergandengan tangan, dalam susah maupun senang.&#xA;&#xA;Dan, bahkan, ketika Joshua membawa pulang Mingyu, secara gamblang memberitahukan bahwa dirinya antara gay atau biseksual (karena, jujur, Joshua masih merasa cewek itu menarik dan, mungkin, masih menyukai cewek andaikata dia bertemu yang pas), Wonwoo nggak menjauh darinya. Wonwoo nggak merasa jijik sama dia. Justru sebaliknya.&#xA;&#xA;Di suatu momen, Wonwoo kelelahan mendorong troli dan mengerem mendadak. Joshua, kaget, ketawa lugas. Mereka berdua tertawa bareng sampai tangis membasahi sudut mata dan perut mereka sakit. Entah kapan, Joshua mengusap pipinya ke bahu Wonwoo. Entah kapan, pipi Wonwoo menetap di sisi kening Joshua. Jarak mereka begitu dekat.&#xA;&#xA;&#34;...Kayaknya gue bakal tidur sama Mingyu, Won.&#34;&#xA;&#xA;Seketika, hening. Wonwoo menarik napas dan, perlahan, amat perlahan, dengan kedua mata membelalak, dia menoleh memandang Joshua. Yang dipandang hanya tersenyum lesu. Matanya yang seharusnya berkilauan bahagia, kini kuyu seolah pasrah akan apapun yang terjadi dalam hidupnya.&#xA;&#xA;Joshua yang Wonwoo kenal bukan Joshua yang seperti ini.&#xA;&#xA;Bibir Wonwoo membuka, menutup, lalu membuka lagi ketika dia akhirnya bisa bertanya, &#34;...Kenapa?&#34;&#xA;&#xA;Joshua mendengus geli. &#34;Karena dia cowok gue?&#34; jujur, Joshua juga nggak tau kenapa. Kenapa dia harus tidur sama Mingyu walau hatinya bilang nggak mau? Padahal, nggak ada aturannya pacaran itu harus tidur bareng. &#34;Yah, gue masih ngerasa kalo pacaran nggak harus tidur bareng sih, tapi kalo cowok gue minta, yaudahlah.&#34;&#xA;&#xA;Dia mencoba menjawabnya seringan mungkin. Joshua bukan perempuan. Nggak banyak yang bakal hilang dari dia kalau dia menyerahkan dirinya pada Mingyu.&#xA;&#xA;&#34;Lagian, Mingyu ganteng dan tinggi. Nilainya bagus, bokapnya tajir. Anaknya baek. Dia juga sayang sama gue,&#34; selorohnya. Mungkin kalau mengangkat sisi positif Mingyu selama ini, dia akan lebih rela. &#34;Susah, Won, nemu cowok grade S kayak Mingyu, apalagi kalo cowok kayak gue yang B aja begini.&#34; Joshua ketawa. Diduselnya pipi ke bahu Wonwoo. Ujung hidung mereka hampir bertemu. &#34;Mungkin nggak akan ada lagi cowok yang sayang sama gue selain Mingyu, jadi gue rasa nggak apalah kalo gue kasih perawan gue ke dia.&#34;&#xA;&#xA;...Salah. Salah. Bukan begitu.&#xA;&#xA;Karena Wonwoo terus saja menatapnya dalam diam, kaku, tenggelam dalam pemikiran sendiri, Joshua pun menelengkan kepala bingung dan mencoba memanggilnya.&#xA;&#xA;&#34;...Won?&#34;&#xA;&#xA;Ada. Ada cowok di sini yang sayang sama kamu. Sayang sama kamu lebih, lebih, lebih, lebih, lebih, daripada Kim Mingyu.&#xA;&#xA;&#34;Wonu...,&#34; Joshua, mulai cemas, mengangkat tangan untuk menangkup pipi kanan Wonwoo. &#34;Won, lo kenapa? Kok muka lo gitu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kayak gimana?&#34; tanpa disadarinya, mulutnya sudah bergerak sendiri.&#xA;&#xA;Aku, Shua. Aku yang jauh lebih cinta sama kamu.&#xA;&#xA;Joshua tersenyum. Bibirnya yang merah merekah nampak indah.&#xA;&#xA;&#34;Kayak lo punya sesuatu yang mau lo bilang ke gue, tapi lo tahan.&#34;&#xA;&#xA;Aku.&#xA;&#xA;Dan terjadilah. Ketika pertahanan yang dia bangun sejak kelas 1 SMP hancur sudah. Ketika kepala Wonwoo merangsek maju dan menempelkan bibirnya pada bibir Joshua. Ketika tangan Joshua di pipinya dia tangkup dan tahan di sana. Dan ketika tangan Wonwoo yang satu lagi mendorong tengkuk Joshua hingga sahabatnya itu nggak bisa berkutik, duduk tegang di dalam troli. Terlalu kaget. Terlalu mendadak.&#xA;&#xA;Terlalu nggak terduga.&#xA;&#xA;Bibir Joshua lembut, seperti yang selama ini Wonwoo bayangkan. Agak kering dari dugaannya, mungkin Joshua lupa menyapukan lip balm rasa stroberinya di sana. Wonwoo refleks menjilat bibir bawah Joshua sekilas, melembabkan bibir itu, menghadiahi dirinya dengan sentakan napas Joshua, lalu lanjut mencium bibirnya untuk beberapa saat sebelum, kemudian, dia lepas untuk menghembuskan napas yang tertahan.&#xA;&#xA;Wonwoo kira Joshua akan menamparnya. Menangis, atau marah. Mungkin Joshua akan memandangnya dingin. Gelap mata sesaat yang akan disesali Wonwoo seumur hidup.&#xA;&#xA;Namun, Wonwoo nggak pernah mengira kalau Joshua akan menatapnya. Pandangan nanar. Bibir agak terbuka dan berkilau oleh bekas jilatan Wonwoo di sana. Dia juga menarik napas dalam-dalam, mengisi lagi relung paru-parunya dengan oksigen. Parasnya sungguh kebingungan, tetapi nggak ada satupun jejak kekesalan maupun kekecewaan di sana. Wonwoo terlalu terpukau untuk bergerak, hanya bisa menatap Joshua tepat di mata sambil meredakan debar jantungnya.&#xA;&#xA;Dan, mendadak, Joshua merangkul lehernya, menarik kepalanya dan mulai menciumi bibir Wonwoo lagi. Lekat. Legit. Kali ini, lidahnya masuk ke dalam mulut Wonwoo. Dalam dada Wonwoo, membuncah kembang api dan seribu kepakan sayap kupu-kupu. Dia berusaha mengimbangi dengan menggigiti dan menarik bibir bawah Joshua, sebelum kembali menjelajahi bagian dalam mulut Joshua dengan lidahnya. Dia menjilat lidah lunak di dalam sana, menggelitiki dinding atas mulutnya, bahkan menjilat gigi Joshua, seolah di sana adalah dunia baru yang pintunya baru dibukakan untuk Wonwoo.&#xA;&#xA;Troli terdorong ke lemari pendingin yang memuat minuman kemasan, menghimpit Joshua di antara dirinya dan dinginnya pintu kaca yang berembun itu, namun Joshua terlalu sibuk menyelusupkan tangan ke rambut Wonwoo untuk menyadarinya. Ditelusurinya kulit kepala Wonwoo dengan ujung-ujung kuku. Diacaknya, dijambakinya perlahan. Bibir mereka bertautan tak kunjung lepas, seakan masing-masing adalah oksigen yang mereka butuhkan untuk hidup.&#xA;&#xA;Ketika, pada akhirnya, mereka harus melepaskan ciuman mereka, telapak tangan Wonwoo bertumpu pada lemari pendingin itu. Satu lagi tangannya menggenggam sisi samping troli. Lengan Joshua masih merangkul leher Wonwoo, masih nggak rela kehangatan yang dia rasakan itu pudar begitu saja. Keduanya terengah. Debar jantung yang sangat kuat menulikan Wonwoo untuk sesaat.&#xA;&#xA;Joshua menjilat bibirnya sendiri, memutuskan benang liur yang menjembatani bibirnya dengan bibir Wonwoo. Dia kemudian meneguk ludah susah payah, sebelum bibirnya kembali membuka. Mata Joshua terus terpejam, sedangkan Wonwoo masih menyipit, masih keluar dari fokus. Masih berusaha membungkus logikanya atas kejadian barusan. Sesuatu yang nggak dipercaya bisa terjadi.&#xA;&#xA;&#34;...&#34;&#xA;&#xA;&#34;...&#34;&#xA;&#xA;Kata-kata, kali ini, rasanya nggak penting. Wonwoo menghembuskan napas, yang mengenai bibir Joshua karena wajah mereka masih begitu dekatnya. Wonwoo menggerakkan bibirnya beberapa inci di atas bibir Joshua, yang lalu direspon dengan Joshua yang juga menggerakkan bibirnya tanpa menyentuh bibir Wonwoo. Ingin mencium lagi, ingin berciuman lagi,&#xA;&#xA;tapi ragu.&#xA;&#xA;&#34;...Won,&#34; hembusnya. &#34;Apa ini? Apa...ini?&#34;&#xA;&#xA;Jawaban. Sebuah penjelasan. Dia hanya perlu itu. Hanya perlu penjelasan mengapa Wonwoo, sahabatnya, tetangganya sejak kecil, tiba-tiba menciumnya. Ingin tau? Penasaran? Kesal karena temannya direbut oleh cowok lain? Sebagai penghiburan atas kegundahan hati Joshua?&#xA;&#xA;Apa?&#xA;&#xA;&#34;...Ada di sini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Apa?&#34; Joshua nggak paham.&#xA;&#xA;&#34;Nggak akan ada lagi cowok yang sayang sama kamu. Itu salah. Ada di sini,&#34; Wonwoo pun menangkup kedua pipi Joshua dengan lembut. &#34;Di sini. Selalu di sini. Joshua.&#34; Wonwoo mau menangis. Dia sudah nggak bisa menahannya. Nggak bisa lagi menahan perasaan ini. &#34;Joshua. Aku selalu ada di sini. Di sini. Nunggu kamu, bertahun-tahun. Selamanya.&#34;&#xA;&#xA;Bola matanya berkaca-kaca.&#xA;&#xA;&#34;Lihat aku, Joshua...&#34;&#xA;&#xA;Habis kata-kata. Joshua nggak tau bagaimana mereka bisa pulang dari hypermarket itu. Nggak tau bagaimana dia bisa menyeret Wonwoo ke rumahnya yang kosong karena orangtuanya sedang pergi dan baru akan pulang besok siang. Nggak tau bagaimana dia bisa menarik Wonwoo ke kamarnya, ke ranjangnya, dan bercinta semalaman dengannya tanpa kecanggungan maupun keengganan. Bahkan ketika mulut Wonwoo berada di tempat yang nggak semestinya dan jari-jemari itu menjajah menemukan setiap jengkal kulit telanjangnya, Joshua hanya bisa mengerang dan membiarkan sahabat sejak kecilnya itu mengambil sesuatu yang amat berharga baginya. Dia ingin memberikannya pada Wonwoo. Hanya padanya.&#xA;&#xA;Suatu pemikiran yang menakutkan, yang pastinya akan menjadi bencana ketika dia sadar keesokan pagi.&#xA;&#xA;Namun, malam ini, biarkanlah dia menjadi gila oleh rasa nyeri yang nikmat yang Wonwoo berikan padanya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshuashort" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">wonshuashort</span></a></p>

<p>Hari ke-sepuluh.</p>

<p>“Temenin gue yuk, Won?”</p>

<p>“Ke mana?”</p>

<p>“Belanja.”</p>



<hr/>

<p>“Buru, Woonn!”</p>

<p>“Pegangan!”</p>

<p>Mereka tertawa terbahak-bahak. Kelas 2 SMA mereka kini, namun seperti nggak pernah tumbuh. Nggak pernah berpijak jauh dari diri mereka saat kelas 1 SMP. Joshua masih terduduk di dalam troli, kakinya meringkuk dengan belanjaan mereka bertebaran di sekitarnya. Tangannya meraup beberapa kantong snack dari rak saat troli melaju kencang di lorong itu. Wonwoo masih mendorong troli tersebut, mengerahkan sekuat tenaga hingga Joshua merasa bagai melambung tinggi ke angkasa.</p>

<p>Bebas. <em>Bebas.</em></p>

<p>Nggak ada orangtuanya. Nggak ada Mingyu. Nggak ada teman-temannya. Nggak ada guru-guru dan tetangga. Nggak ada mereka yang menolak dan menggunjingkannya, terang-terangan atau di belakang. Nggak ada orang-orang yang telah menyakiti hatinya, menoreh sedikit demi sedikit luka hingga hati itu borok sudah, bersimbah darah dimana-mana.</p>

<p>Hanya ada dia dan Wonwoo. Berdua. Bersama.</p>

<p><em>Bebas.</em></p>

<p>Joshua Hong kembali menjadi Joshua Hong, yang aman dalam dunia yang melindunginya, yang menimangnya dengan lembut bagai porselen berharga. Gelak tawanya melantun merdu. Kepala terpelanting ke belakang. Sekali lagi, ia menemukan kenyamanan dengan bersandar pada bahu sahabat baiknya.</p>

<p>Hangat.</p>

<p>Wonwoo nggak pernah berubah. Wonwoo-nya. Yang baik, yang ramah. Yang cukup bandel namun bertanggung jawab. Yang nggak mau Joshua nangis sendirian. Yang menolong kucing kecil dari got dan mengadopsinya, walau dia dikurung tiga hari oleh ayahnya karena bersikeras memiara kucing itu. Yang selalu bersamanya, bergandengan tangan, dalam susah maupun senang.</p>

<p>Dan, bahkan, ketika Joshua membawa pulang Mingyu, secara gamblang memberitahukan bahwa dirinya antara gay atau biseksual (karena, jujur, Joshua masih merasa cewek itu menarik dan, mungkin, masih menyukai cewek andaikata dia bertemu yang pas), Wonwoo nggak menjauh darinya. Wonwoo nggak merasa jijik sama dia. Justru sebaliknya.</p>

<p>Di suatu momen, Wonwoo kelelahan mendorong troli dan mengerem mendadak. Joshua, kaget, ketawa lugas. Mereka berdua tertawa bareng sampai tangis membasahi sudut mata dan perut mereka sakit. Entah kapan, Joshua mengusap pipinya ke bahu Wonwoo. Entah kapan, pipi Wonwoo menetap di sisi kening Joshua. Jarak mereka begitu dekat.</p>

<p>”...Kayaknya gue bakal tidur sama Mingyu, Won.”</p>

<p>Seketika, hening. Wonwoo menarik napas dan, perlahan, amat perlahan, dengan kedua mata membelalak, dia menoleh memandang Joshua. Yang dipandang hanya tersenyum lesu. Matanya yang seharusnya berkilauan bahagia, kini kuyu seolah <em>pasrah</em> akan apapun yang terjadi dalam hidupnya.</p>

<p>Joshua yang Wonwoo kenal bukan Joshua yang seperti ini.</p>

<p>Bibir Wonwoo membuka, menutup, lalu membuka lagi ketika dia akhirnya bisa bertanya, “...Kenapa?”</p>

<p>Joshua mendengus geli. “Karena dia cowok gue?” jujur, Joshua juga nggak tau kenapa. Kenapa dia harus tidur sama Mingyu walau hatinya bilang nggak mau? Padahal, nggak ada aturannya pacaran itu harus tidur bareng. “Yah, gue masih ngerasa kalo pacaran nggak harus tidur bareng sih, tapi kalo cowok gue minta, yaudahlah.”</p>

<p>Dia mencoba menjawabnya seringan mungkin. Joshua bukan perempuan. Nggak banyak yang bakal hilang dari dia kalau dia menyerahkan dirinya pada Mingyu.</p>

<p>“Lagian, Mingyu ganteng dan tinggi. Nilainya bagus, bokapnya tajir. Anaknya baek. Dia juga sayang sama gue,” selorohnya. Mungkin kalau mengangkat sisi positif Mingyu selama ini, dia akan lebih rela. “Susah, Won, nemu cowok grade S kayak Mingyu, apalagi kalo cowok kayak gue yang B aja begini.” Joshua ketawa. Diduselnya pipi ke bahu Wonwoo. Ujung hidung mereka hampir bertemu. “Mungkin nggak akan ada lagi cowok yang sayang sama gue selain Mingyu, jadi gue rasa nggak apalah kalo gue kasih perawan gue ke dia.”</p>

<p><em>...Salah. Salah. Bukan begitu.</em></p>

<p>Karena Wonwoo terus saja menatapnya dalam diam, kaku, tenggelam dalam pemikiran sendiri, Joshua pun menelengkan kepala bingung dan mencoba memanggilnya.</p>

<p>”...Won?”</p>

<p><em>Ada. Ada cowok di sini yang sayang sama kamu. Sayang sama kamu lebih, lebih, lebih, lebih, lebih, daripada Kim Mingyu.</em></p>

<p>“Wonu...,” Joshua, mulai cemas, mengangkat tangan untuk menangkup pipi kanan Wonwoo. “Won, lo kenapa? Kok muka lo gitu?”</p>

<p>“Kayak gimana?” tanpa disadarinya, mulutnya sudah bergerak sendiri.</p>

<p><em>Aku, Shua. Aku yang jauh lebih cinta sama kamu.</em></p>

<p>Joshua tersenyum. Bibirnya yang merah merekah nampak indah.</p>

<p>“Kayak lo punya sesuatu yang mau lo bilang ke gue, tapi lo tahan.”</p>

<p><em>Aku.</em></p>

<p>Dan terjadilah. Ketika pertahanan yang dia bangun sejak kelas 1 SMP hancur sudah. Ketika kepala Wonwoo merangsek maju dan menempelkan bibirnya pada bibir Joshua. Ketika tangan Joshua di pipinya dia tangkup dan tahan di sana. Dan ketika tangan Wonwoo yang satu lagi mendorong tengkuk Joshua hingga sahabatnya itu nggak bisa berkutik, duduk tegang di dalam troli. Terlalu kaget. Terlalu mendadak.</p>

<p>Terlalu nggak terduga.</p>

<p>Bibir Joshua lembut, seperti yang selama ini Wonwoo bayangkan. Agak kering dari dugaannya, mungkin Joshua lupa menyapukan lip balm rasa stroberinya di sana. Wonwoo refleks menjilat bibir bawah Joshua sekilas, melembabkan bibir itu, menghadiahi dirinya dengan sentakan napas Joshua, lalu lanjut mencium bibirnya untuk beberapa saat sebelum, kemudian, dia lepas untuk menghembuskan napas yang tertahan.</p>

<p>Wonwoo kira Joshua akan menamparnya. Menangis, atau marah. Mungkin Joshua akan memandangnya dingin. Gelap mata sesaat yang akan disesali Wonwoo seumur hidup.</p>

<p>Namun, Wonwoo nggak pernah mengira kalau Joshua akan menatapnya. Pandangan nanar. Bibir agak terbuka dan berkilau oleh bekas jilatan Wonwoo di sana. Dia juga menarik napas dalam-dalam, mengisi lagi relung paru-parunya dengan oksigen. Parasnya sungguh kebingungan, tetapi nggak ada satupun jejak kekesalan maupun kekecewaan di sana. Wonwoo terlalu terpukau untuk bergerak, hanya bisa menatap Joshua tepat di mata sambil meredakan debar jantungnya.</p>

<p>Dan, mendadak, Joshua merangkul lehernya, menarik kepalanya dan mulai menciumi bibir Wonwoo lagi. Lekat. Legit. Kali ini, lidahnya masuk ke dalam mulut Wonwoo. Dalam dada Wonwoo, membuncah kembang api dan seribu kepakan sayap kupu-kupu. Dia berusaha mengimbangi dengan menggigiti dan menarik bibir bawah Joshua, sebelum kembali menjelajahi bagian dalam mulut Joshua dengan lidahnya. Dia menjilat lidah lunak di dalam sana, menggelitiki dinding atas mulutnya, bahkan menjilat gigi Joshua, seolah di sana adalah dunia baru yang pintunya baru dibukakan untuk Wonwoo.</p>

<p>Troli terdorong ke lemari pendingin yang memuat minuman kemasan, menghimpit Joshua di antara dirinya dan dinginnya pintu kaca yang berembun itu, namun Joshua terlalu sibuk menyelusupkan tangan ke rambut Wonwoo untuk menyadarinya. Ditelusurinya kulit kepala Wonwoo dengan ujung-ujung kuku. Diacaknya, dijambakinya perlahan. Bibir mereka bertautan tak kunjung lepas, seakan masing-masing adalah oksigen yang mereka butuhkan untuk hidup.</p>

<p>Ketika, pada akhirnya, mereka harus melepaskan ciuman mereka, telapak tangan Wonwoo bertumpu pada lemari pendingin itu. Satu lagi tangannya menggenggam sisi samping troli. Lengan Joshua masih merangkul leher Wonwoo, masih nggak rela kehangatan yang dia rasakan itu pudar begitu saja. Keduanya terengah. Debar jantung yang sangat kuat menulikan Wonwoo untuk sesaat.</p>

<p>Joshua menjilat bibirnya sendiri, memutuskan benang liur yang menjembatani bibirnya dengan bibir Wonwoo. Dia kemudian meneguk ludah susah payah, sebelum bibirnya kembali membuka. Mata Joshua terus terpejam, sedangkan Wonwoo masih menyipit, masih keluar dari fokus. Masih berusaha membungkus logikanya atas kejadian barusan. Sesuatu yang nggak dipercaya bisa terjadi.</p>

<p>”...”</p>

<p>”...”</p>

<p>Kata-kata, kali ini, rasanya nggak penting. Wonwoo menghembuskan napas, yang mengenai bibir Joshua karena wajah mereka masih begitu dekatnya. Wonwoo menggerakkan bibirnya beberapa inci di atas bibir Joshua, yang lalu direspon dengan Joshua yang juga menggerakkan bibirnya tanpa menyentuh bibir Wonwoo. Ingin mencium lagi, ingin berciuman lagi,</p>

<p>tapi ragu.</p>

<p>”...Won,” hembusnya. “Apa ini? Apa...<em>ini</em>?”</p>

<p>Jawaban. Sebuah penjelasan. Dia hanya perlu itu. Hanya perlu penjelasan mengapa Wonwoo, sahabatnya, tetangganya sejak kecil, tiba-tiba menciumnya. Ingin tau? Penasaran? Kesal karena temannya direbut oleh cowok lain? Sebagai penghiburan atas kegundahan hati Joshua?</p>

<p><em>Apa?</em></p>

<p>”...Ada di sini.”</p>

<p>“Apa?” Joshua nggak paham.</p>

<p>“Nggak akan ada lagi cowok yang sayang sama kamu. Itu salah. Ada di sini,” Wonwoo pun menangkup kedua pipi Joshua dengan lembut. “Di sini. Selalu di sini. Joshua.” Wonwoo mau menangis. Dia sudah nggak bisa menahannya. Nggak bisa lagi menahan perasaan ini. “Joshua. Aku selalu ada di sini. Di sini. Nunggu kamu, bertahun-tahun. Selamanya.”</p>

<p>Bola matanya berkaca-kaca.</p>

<p>“<em>Lihat aku, Joshua...</em>“</p>

<p>Habis kata-kata. Joshua nggak tau bagaimana mereka bisa pulang dari hypermarket itu. Nggak tau bagaimana dia bisa menyeret Wonwoo ke rumahnya yang kosong karena orangtuanya sedang pergi dan baru akan pulang besok siang. Nggak tau bagaimana dia bisa menarik Wonwoo ke kamarnya, ke ranjangnya, dan bercinta semalaman dengannya tanpa kecanggungan maupun keengganan. Bahkan ketika mulut Wonwoo berada di tempat yang nggak semestinya dan jari-jemari itu menjajah menemukan setiap jengkal kulit telanjangnya, Joshua hanya bisa mengerang dan membiarkan sahabat sejak kecilnya itu mengambil sesuatu yang amat berharga baginya. Dia ingin memberikannya pada Wonwoo. Hanya padanya.</p>

<p>Suatu pemikiran yang menakutkan, yang pastinya akan menjadi bencana ketika dia sadar keesokan pagi.</p>

<p>Namun, malam ini, biarkanlah dia menjadi gila oleh rasa nyeri yang nikmat yang Wonwoo berikan padanya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/47-cxx5</guid>
      <pubDate>Tue, 27 Apr 2021 16:09:29 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>46.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/46?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wonshuashort&#xA;&#xA;Hari ke-tujuh. Wonwoo dan Joshua bertandang ke tempat-tempat yang lama nggak mereka datangi. Dengan santai menyusuri kota di jam mendekati makan siang (karena, tentu, mereka baru bangun jam 9 pagi), mereka menaruh bokong mereka di restoran kecil namun populer di antara warga lokal. Memesan menu makan siang spesial hari itu, kedua sahabat itu pun bertukar cerita akan hal-hal remeh (&#34;kemaren animenya kurang seru, besok-besok kita tonton judul lain!&#34;) maupun hal yang mereka lewati karena sempat renggangnya tali silaturahmi mereka (&#34;bukan, yang nikah itu anak dari adek sepupu nyokap gue, bukan si anu kok&#34;). Mereka mengisi celah yang ada dan kembali, sekali lagi, menjadi dua orang sahabat sekaligus tetangga sejak kecil.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Di suatu momen, Joshua berhenti berbicara. Dia mengulurkan tangan, menangkup tangan Wonwoo di atas meja, dan berkata, &#34;I miss you.&#34;&#xA;&#xA;Bohong jika Wonwoo bilang jantungnya nggak berdegup lebih cepat. Dia sempat meremas balik tangan Joshua sebelum tangan itu segera hilang supaya nggak ada siapapun yang melihat. Gosip nggak peduli apakah Wonwoo dan Joshua adalah sahabat. Yang mereka lihat hanya dua lelaki berpegangan tangan dan itu adalah sumber masalah.&#xA;&#xA;&#34;I miss you too...&#34;&#xA;&#xA;Meski hanya bisikan, Wonwoo lega karena Joshua melebarkan senyumnya yang manis. Matanya memejam karena tarikan bibir. Sempurna.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;BYUR!&#xA;&#xA;Suara tawa dan bunyi air. Hari ke-delapan dan mereka memutuskan untuk berenang. Kolam renang umum dekat rumah mereka cukup ramai karena, jelas, itu masa liburan sekolah. Mereka menempati suatu pojokan dan hanya bermain-main seperti biasa. Wonwoo memakai lotion karena mentari hari itu menyengat parah. Ketika bagian punggung, tangannya nggak sampai sehingga Joshua membantunya meratakan lotion di sekujur punggungnya.&#xA;&#xA;Begitulah keadaan ketika mereka ditemukan Seungcheol, Jeonghan, Jihoon dan Jun.&#xA;&#xA;Nggak luput dari godaan Jeonghan, Joshua pun segera melepas tangannya. Jihoon dan Jun menimpali, tapi, mengetahui pasti kalau mereka cuma bercanda, Wonwoo pun mendecak dan mengalihkannya begitu saja.&#xA;&#xA;Tapi, nggak begitu halnya dengan Seungcheol. Wonwoo tau Seungcheol memandanginya dengan kernyitan di alis, namun dia sengaja nggak mengindahkannya.&#xA;&#xA;Mereka pun berkumpul dan mengobrol. Cuma Seungcheol yang lebih diam dan menjaga jarak dari biasanya, terutama dari Joshua. Wonwoo memperhatikannya. Seungcheol nggak mencoba bicara sama Joshua, pun saat Joshua bertanya padanya, dia cuma bergumam saja. Wonwoo nggak suka. Jelas perbuatan Seungcheol bikin Joshua nggak nyaman. Tetapi, karena ketiga orang lainnya nggak menyadari hal itu dan mereka mengobrol seperti kawan lama yang berjumpa lagi, Wonwoo pun nggak melakukan apa-apa. Seenggaknya, Seungcheol nggak mulai melecehkan Joshua dengan omongan menghina.&#xA;&#xA;Mereka pun bermain hingga petang menjelang (di tengah-tengah, Seungcheol pamit untuk bertemu pacarnya dan berenang bersama cewek itu) dan Wonwoo senang karena Joshua terlihat bahagia karena berkumpul lagi dengan teman-teman lama mereka. Jeonghan mengacak rambut Joshua dan Wonwoo, menyuruh mereka sering-sering pulang karena tahun depan, dirinya juga akan pergi dari kota ini untuk kuliah. Jihoon dan Jun memeluk dan merangkul bahu mereka, mengucapkan pesan yang hampir serupa dengan Jeonghan, agar Joshua dan Wonwoo lebih sering pulang. Kangen, katanya.&#xA;&#xA;Mereka sepakat untuk mampir membeli es krim di kedai pinggir jalan di luar kolam renang itu. Namun, langkah Wonwoo dihentikan oleh tangan di bahunya.&#xA;&#xA;&#34;Lo nggak dengerin gue ya?&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol. Wonwoo berbalik. Parasnya menjadi kaku.&#xA;&#xA;&#34;Dengerin apa ya, Bang?&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol mendecak. &#34;Lo mau dicap gay juga, Won?&#34; Wonwoo mengernyit mendengarnya. &#34;Napa lo masih deket-deket Shua, sih? Ntar nular lho.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Joshua temen gue. Dan gay itu bukan penyakit. Gue nggak bisa ketularan dari dia. Dan gue suka dia duluan, jauh sebelom dia jadian sama cowok,&#34; dijawabnya dengan mendesis rendah. Tangannya mengepal kencang, ingin rasanya menghajar Seungcheol dan mulut lancangnya. &#34;Lo ngapain deket-deket gue, Bang, ntar lo yang ketularan.&#34;&#xA;&#xA;Seolah tersadar, Seungcheol langsung menarik tangannya dari bahu Wonwoo dengan kaget. Dia nggak mengusapnya ke baju, tapi dari gerak-geriknya, Wonwoo tau kalo dia akan melakukannya segera setelah Wonwoo berbalik dan pergi, seakan menyentuh cowok yang suka cowok lain adalah najis.&#xA;&#xA;Bangsat, rutuk Wonwoo dalam hati. Namun, dia tahu, Seungcheol adalah personifikasi dunia dan perlakuan mereka terhadap homoseksual. Dia nggak bisa berbuat apa-apa karena merubah cara pandang dan nilai moral seseorang nggak semudah membalikkan telapak tangan.&#xA;&#xA;&#34;Gue mau balik ke mereka,&#34; dia memutuskan bahwa nggak ada lagi perkataannya yang bisa memutar mindset Seungcheol. Seperti bicara pada tembok saja.  Sia-sia. &#34;Lo ikut?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Cheol!&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo mendongak ke belakang kepala Seungcheol. Pacarnya ternyata menunggu.&#xA;&#xA;&#34;Bentar!&#34; kemudian, nadanya merendah menjadi bisikan. &#34;Lo yakin, Won? Lo yakin, mau buang keluarga lo, temen-temen lo, kehidupan lo yang normal, demi dia? Demi Shua?&#34;&#xA;&#xA;Mata Wonwoo berkilat oleh amarah.&#xA;&#xA;&#34;He&#39;s worth it.&#34;&#xA;&#xA;Dari celah geligi yang digertakkan dan tangan yang terkepal kian kencang, dia mengucapkan kalimat yang selama ini dia pendam sejak Seungcheol menanyakan di chat buat apa ini semua. Kalimat yang, ketika akhirnya diucapkan, memberikan penutupan final akan semua kegundahan Jeon Wonwoo sejak dia menyadari dia jatuh cinta sama sahabatnya sendiri ketika kelas 1 SMP.&#xA;&#xA;&#34;Joshua&#39;s worth it. He&#39;s worth it.&#34;&#xA;&#xA;Untuknya membuang segala. Hati itu nggak bisa dan nggak akan pernah bisa berbohong. Wonwoo diam dan mendengarkan apa kata hatinya dan hatinya berkata: Joshua. Joshua. Joshua.&#xA;&#xA;Cinta.&#xA;&#xA;Seungcheol memandangi bingung wajah Wonwoo. Kemudian, dia mendengus kesal dan berbalik menjauh. Nggak ada salam perpisahan. Nggak ada kehangatan yang dulu dia bagikan dengan murah hati terhadap si kecil Jeon Wonwoo yang mengikutinya seperti anak bebek. Seungcheol, yang Wonwoo sudah anggap sebagai kakak lelakinya sendiri, kini begitu dingin dan meninggalkannya hanya karena dia menyukai Joshua.&#xA;&#xA;Nggak apa-apa.&#xA;&#xA;Because Joshua&#39;s worth it.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshuashort" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">wonshuashort</span></a></p>

<p>Hari ke-tujuh. Wonwoo dan Joshua bertandang ke tempat-tempat yang lama nggak mereka datangi. Dengan santai menyusuri kota di jam mendekati makan siang (karena, tentu, mereka baru bangun jam 9 pagi), mereka menaruh bokong mereka di restoran kecil namun populer di antara warga lokal. Memesan menu makan siang spesial hari itu, kedua sahabat itu pun bertukar cerita akan hal-hal remeh (“kemaren animenya kurang seru, besok-besok kita tonton judul lain!”) maupun hal yang mereka lewati karena sempat renggangnya tali silaturahmi mereka (“bukan, yang nikah itu anak dari adek sepupu nyokap gue, bukan si anu kok”). Mereka mengisi celah yang ada dan kembali, sekali lagi, menjadi dua orang sahabat sekaligus tetangga sejak kecil.</p>



<p>Di suatu momen, Joshua berhenti berbicara. Dia mengulurkan tangan, menangkup tangan Wonwoo di atas meja, dan berkata, “I miss you.”</p>

<p>Bohong jika Wonwoo bilang jantungnya nggak berdegup lebih cepat. Dia sempat meremas balik tangan Joshua sebelum tangan itu segera hilang supaya nggak ada siapapun yang melihat. Gosip nggak peduli apakah Wonwoo dan Joshua adalah sahabat. Yang mereka lihat hanya dua lelaki berpegangan tangan dan itu adalah sumber masalah.</p>

<p>“I miss you too...”</p>

<p>Meski hanya bisikan, Wonwoo lega karena Joshua melebarkan senyumnya yang manis. Matanya memejam karena tarikan bibir. <em>Sempurna.</em></p>

<hr/>

<p><em>BYUR!</em></p>

<p>Suara tawa dan bunyi air. Hari ke-delapan dan mereka memutuskan untuk berenang. Kolam renang umum dekat rumah mereka cukup ramai karena, jelas, itu masa liburan sekolah. Mereka menempati suatu pojokan dan hanya bermain-main seperti biasa. Wonwoo memakai lotion karena mentari hari itu menyengat parah. Ketika bagian punggung, tangannya nggak sampai sehingga Joshua membantunya meratakan lotion di sekujur punggungnya.</p>

<p>Begitulah keadaan ketika mereka ditemukan Seungcheol, Jeonghan, Jihoon dan Jun.</p>

<p>Nggak luput dari godaan Jeonghan, Joshua pun segera melepas tangannya. Jihoon dan Jun menimpali, tapi, mengetahui pasti kalau mereka cuma bercanda, Wonwoo pun mendecak dan mengalihkannya begitu saja.</p>

<p>Tapi, nggak begitu halnya dengan Seungcheol. Wonwoo tau Seungcheol memandanginya dengan kernyitan di alis, namun dia sengaja nggak mengindahkannya.</p>

<p>Mereka pun berkumpul dan mengobrol. Cuma Seungcheol yang lebih diam dan menjaga jarak dari biasanya, terutama dari Joshua. Wonwoo memperhatikannya. Seungcheol nggak mencoba bicara sama Joshua, pun saat Joshua bertanya padanya, dia cuma bergumam saja. Wonwoo nggak suka. Jelas perbuatan Seungcheol bikin Joshua nggak nyaman. Tetapi, karena ketiga orang lainnya nggak menyadari hal itu dan mereka mengobrol seperti kawan lama yang berjumpa lagi, Wonwoo pun nggak melakukan apa-apa. Seenggaknya, Seungcheol nggak mulai melecehkan Joshua dengan omongan menghina.</p>

<p>Mereka pun bermain hingga petang menjelang (di tengah-tengah, Seungcheol pamit untuk bertemu pacarnya dan berenang bersama cewek itu) dan Wonwoo senang karena Joshua terlihat bahagia karena berkumpul lagi dengan teman-teman lama mereka. Jeonghan mengacak rambut Joshua dan Wonwoo, menyuruh mereka sering-sering pulang karena tahun depan, dirinya juga akan pergi dari kota ini untuk kuliah. Jihoon dan Jun memeluk dan merangkul bahu mereka, mengucapkan pesan yang hampir serupa dengan Jeonghan, agar Joshua dan Wonwoo lebih sering pulang. Kangen, katanya.</p>

<p>Mereka sepakat untuk mampir membeli es krim di kedai pinggir jalan di luar kolam renang itu. Namun, langkah Wonwoo dihentikan oleh tangan di bahunya.</p>

<p>“Lo nggak dengerin gue ya?”</p>

<p>Seungcheol. Wonwoo berbalik. Parasnya menjadi kaku.</p>

<p>“Dengerin apa ya, Bang?”</p>

<p>Seungcheol mendecak. “Lo mau dicap gay juga, Won?” Wonwoo mengernyit mendengarnya. “Napa lo masih deket-deket Shua, sih? Ntar nular lho.”</p>

<p>“Joshua temen gue. Dan gay itu bukan penyakit. Gue nggak bisa ketularan dari dia. Dan gue suka dia duluan, jauh sebelom dia jadian sama cowok,” dijawabnya dengan mendesis rendah. Tangannya mengepal kencang, ingin rasanya menghajar Seungcheol dan mulut lancangnya. “Lo ngapain deket-deket gue, Bang, ntar lo yang ketularan.”</p>

<p>Seolah tersadar, Seungcheol langsung menarik tangannya dari bahu Wonwoo dengan kaget. Dia nggak mengusapnya ke baju, tapi dari gerak-geriknya, Wonwoo tau kalo dia akan melakukannya segera setelah Wonwoo berbalik dan pergi, seakan menyentuh cowok yang suka cowok lain adalah najis.</p>

<p><em>Bangsat,</em> rutuk Wonwoo dalam hati. Namun, dia tahu, Seungcheol adalah personifikasi dunia dan perlakuan mereka terhadap homoseksual. Dia nggak bisa berbuat apa-apa karena merubah cara pandang dan nilai moral seseorang nggak semudah membalikkan telapak tangan.</p>

<p>“Gue mau balik ke mereka,” dia memutuskan bahwa nggak ada lagi perkataannya yang bisa memutar mindset Seungcheol. Seperti bicara pada tembok saja.  Sia-sia. “Lo ikut?”</p>

<p>“Cheol!”</p>

<p>Wonwoo mendongak ke belakang kepala Seungcheol. Pacarnya ternyata menunggu.</p>

<p>“Bentar!” kemudian, nadanya merendah menjadi bisikan. “Lo yakin, Won? Lo yakin, mau buang keluarga lo, temen-temen lo, kehidupan lo yang normal, demi dia? Demi Shua?”</p>

<p>Mata Wonwoo berkilat oleh amarah.</p>

<p>“<em>He&#39;s worth it.</em>“</p>

<p>Dari celah geligi yang digertakkan dan tangan yang terkepal kian kencang, dia mengucapkan kalimat yang selama ini dia pendam sejak Seungcheol menanyakan di chat buat apa ini semua. Kalimat yang, ketika akhirnya diucapkan, memberikan penutupan final akan semua kegundahan Jeon Wonwoo sejak dia menyadari dia jatuh cinta sama sahabatnya sendiri ketika kelas 1 SMP.</p>

<p>“Joshua&#39;s worth it. He&#39;s worth it.”</p>

<p>Untuknya membuang segala. Hati itu nggak bisa dan nggak akan pernah bisa berbohong. Wonwoo diam dan mendengarkan apa kata hatinya dan hatinya berkata: <em>Joshua. Joshua. Joshua.</em></p>

<p><em>Cinta.</em></p>

<p>Seungcheol memandangi bingung wajah Wonwoo. Kemudian, dia mendengus kesal dan berbalik menjauh. Nggak ada salam perpisahan. Nggak ada kehangatan yang dulu dia bagikan dengan murah hati terhadap si kecil Jeon Wonwoo yang mengikutinya seperti anak bebek. Seungcheol, yang Wonwoo sudah anggap sebagai kakak lelakinya sendiri, kini begitu dingin dan meninggalkannya hanya karena dia menyukai Joshua.</p>

<p><em>Nggak apa-apa.</em></p>

<p><em>Because Joshua&#39;s worth it.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/46</guid>
      <pubDate>Tue, 27 Apr 2021 02:01:07 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>