<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>wonshuaonesidedau &amp;mdash; 🌾</title>
    <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshuaonesidedau</link>
    <description>narrative writings of thesunmetmoon</description>
    <pubDate>Tue, 02 Jun 2026 02:42:07 +0000</pubDate>
    <image>
      <url>https://i.snap.as/K7JGOEOo.png</url>
      <title>wonshuaonesidedau &amp;mdash; 🌾</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshuaonesidedau</link>
    </image>
    <item>
      <title>40.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/40-4j8v?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wonshuaonesidedau&#xA;&#xA;Jawabannya datang dalam bentuk seperti ini:&#xA;&#xA;&#34;Permisi! Mau pesen.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo menoleh, kemudian langsung meraih notes dan bolpoin. Dengan senyum komersil hasil latihan manajernya, dia siap mencatat pesanan.&#xA;&#xA;&#34;Ya, Mbak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Emm, yang spesial di sini apa ya?&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Yak, poin ke lima dalam manual restoran. &#34;Semuanya enak sih, Mbak, tapi yang favorit di kita tuh--&#34; anak itu menaikkan kacamatanya sebelum menjelaskan satu-persatu. Gadis itu mengangguk-angguk, helai rambut pendeknya bergoyang tiap anggukan.&#xA;&#xA;&#34;Kalo gitu aku pesen yang ini--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Baik.&#34;&#xA;&#xA;&#34;--dua, yang ini satu, yang ini dan ini, terus ini, ini, juga ini. Dua ya yang ini.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo berhenti mencatat untuk memandangi gadis itu. Yang membalas kernyitan dahinya adalah senyuman lebar nan jenaka.&#xA;&#xA;&#34;Buat takeaway, Mbak?&#34;&#xA;&#xA;Gelengan kepala, &#34;Nggak, makan di sini kok.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mm, nanti dateng temennya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak. Aku sendiri kok.&#34;&#xA;&#xA;Makin dalam kernyitan dahi Wonwoo. Makin lebarlah senyuman gadis itu.&#xA;&#xA;&#34;Sori ya, Mbak, tapi kalo cuma buat difoto terus nggak dimakan--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh! Enggak kok, enggak! Aku makan!&#34; kibasan tangan buru-buru. &#34;Makan kok! Aku abisin!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bener ya, Mbak? Nanti makanannya nangis kalo nggak dimakan soalnya. Sayang kan, mubazir,&#34; dahinya masih mengernyit, masih tidak percaya.&#xA;&#xA;&#34;Iya, bener kok. Janji!&#34; gadis itu tersenyum lagi, tapi kali ini mengangkat kelingking kanannya ke depan wajah Wonwoo. &#34;Janji kok. Aku nggak akan nyisain makanannya.&#34;&#xA;&#xA;Ragu-ragu, Wonwoo memandang wajah gadis itu lalu ke kelingkingnya. Dia ingat dia berpikir, &#39;Cewek aneh&#39;, saat mengaitkan kelingking mereka berdua.&#xA;&#xA;Satu jam kemudian, dia bertepuk tangan. Matanya berbinar, persis seperti pengunjung dan staff lain di restoran itu. Si gadis telah menyelesaikan piring terakhirnya dan tersenyum pada semuanya. Kamera disangga tripod di depannya kemudian dia matikan setelah memberi salam terakhir. Gadis itu lalu membungkuk ke semua audiens di sana dan berjalan mendekati Wonwoo.&#xA;&#xA;&#34;Bener kan, Mas, aku nggak sisain makanannya?&#34; 😊&#xA;&#xA;Wonwoo, masih takjub, akhirnya ikut tersenyum. Tersipu.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshuaonesidedau" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">wonshuaonesidedau</span></a></p>

<p>Jawabannya datang dalam bentuk seperti ini:</p>

<p>“Permisi! Mau pesen.”</p>

<p>Wonwoo menoleh, kemudian langsung meraih notes dan bolpoin. Dengan senyum komersil hasil latihan manajernya, dia siap mencatat pesanan.</p>

<p>“Ya, Mbak?”</p>

<p>“Emm, yang spesial di sini apa ya?”</p>



<p>Yak, poin ke lima dalam manual restoran. “Semuanya enak sih, Mbak, tapi yang favorit di kita tuh—” anak itu menaikkan kacamatanya sebelum menjelaskan satu-persatu. Gadis itu mengangguk-angguk, helai rambut pendeknya bergoyang tiap anggukan.</p>

<p>“Kalo gitu aku pesen yang ini—”</p>

<p>“Baik.”</p>

<p>”—dua, yang ini satu, yang ini dan ini, terus ini, ini, juga ini. Dua ya yang ini.”</p>

<p>Wonwoo berhenti mencatat untuk memandangi gadis itu. Yang membalas kernyitan dahinya adalah senyuman lebar nan jenaka.</p>

<p>“Buat takeaway, Mbak?”</p>

<p>Gelengan kepala, “Nggak, makan di sini kok.”</p>

<p>“Mm, nanti dateng temennya?”</p>

<p>“Nggak. Aku sendiri kok.”</p>

<p>Makin dalam kernyitan dahi Wonwoo. Makin lebarlah senyuman gadis itu.</p>

<p>“Sori ya, Mbak, tapi kalo cuma buat difoto terus nggak dimakan—”</p>

<p>“Oh! Enggak kok, enggak! Aku makan!” kibasan tangan buru-buru. “Makan kok! Aku abisin!”</p>

<p>“Bener ya, Mbak? Nanti makanannya nangis kalo nggak dimakan soalnya. Sayang kan, mubazir,” dahinya masih mengernyit, masih tidak percaya.</p>

<p>“Iya, bener kok. Janji!” gadis itu tersenyum lagi, tapi kali ini mengangkat kelingking kanannya ke depan wajah Wonwoo. “Janji kok. Aku nggak akan nyisain makanannya.”</p>

<p>Ragu-ragu, Wonwoo memandang wajah gadis itu lalu ke kelingkingnya. Dia ingat dia berpikir, <em>&#39;Cewek aneh&#39;</em>, saat mengaitkan kelingking mereka berdua.</p>

<p>Satu jam kemudian, dia bertepuk tangan. Matanya berbinar, persis seperti pengunjung dan staff lain di restoran itu. Si gadis telah menyelesaikan piring terakhirnya dan tersenyum pada semuanya. Kamera disangga tripod di depannya kemudian dia matikan setelah memberi salam terakhir. Gadis itu lalu membungkuk ke semua audiens di sana dan berjalan mendekati Wonwoo.</p>

<p>“Bener kan, Mas, aku nggak sisain makanannya?” 😊</p>

<p>Wonwoo, masih takjub, akhirnya ikut tersenyum. Tersipu.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/40-4j8v</guid>
      <pubDate>Sun, 05 Dec 2021 01:43:14 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>39.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/39?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wonshuaonesidedau&#xA;&#xA;TETTT!&#xA;&#xA;&#34;WON!&#34;&#xA;&#xA;&#34;OKE!&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Begitu mereka selesai berdiri dan mengucapkan salam pada guru mereka, keempat anak itu langsung mendorong kursi mereka dan berlari. Bukan hanya mereka saja, tapi juga dari kelas-kelas lain. Berbagai murid berlarian sekuat tenaga melintasi koridor panjang menuju tujuan yang sama: kantin.&#xA;&#xA;Tepatnya, toko kecil di bagian depan kantin. Hari ini adalah hari istimewa. Hari dimana dijual 25 puding terlezat seantero jagat raya satu kali dalam setahun. Ibu penjaga kantin yang terkenal memiliki tangan dewa yang pertama membawa puding tersebut 20 tahun yang lalu. Susu penuh krim, telur segar, esens vanilla yang berkualitas dan entah apa lagi yang dimasukkan ke dalamnya. Kelezatan puding itu sungguh tiada tara, hingga para murid sudi berlomba untuk mendapatkannya.&#xA;&#xA;Tiap tahun, Hari Puding bagai sebuah festival olahraga yang ramai. Anak klub atletik biasanya mendominasi jejeran pemenang. Mereka begitu cepat menyusul murid lain, berlalu bak angin tanpa terlihat lelah sedikitpun. Wonwoo, meski bukan anak klub atletik, mampu mengimbangi mereka di tahun lalu, menyabet puding bagi dirinya sendiri, sementara Jihoon sudah menyerah sejak masih di lantai kelas mereka, Jun terdesak oleh himpitan tubuh manusia, dan Soonyoung sengaja ditahan oleh tim rugbi. Ketika Wonwoo mengambil puding ke-25, puding terakhir kala itu, semua orang memandanginya dengan takjub.&#xA;&#xA;(Sampai sekarang dia masih direkrut buat masuk klub atletik sama ketuanya tuh. Ngerepotin abis...)&#xA;&#xA;Karena itulah, tahun ini, Soonyoung punya ide bagus. Mereka bertiga bakal buka jalan buat Wonwoo dan, sebagai gantinya, Wonwoo bakal beliin 4 puding buat mereka masing-masing. Rencana yang bagus dalam teori. Pada prakteknya, menghalau orang-orang lain bukanlah pekerjaan yang mudah.&#xA;&#xA;Jihoon mengeset jebakan dimana-mana. Dia merentangkan tali tipis di ujung suatu koridor, menariknya sampai beberapa orang terjungkal. Di tempat lain, dia melempar kelereng-kelereng, membuat orang-orang terpeleset dan jatuh. Rintangan di lantai kelas mereka bersih karenanya dan Wonwoo segera melompati anak tangga, sekali dua, menuju lantai satu.&#xA;&#xA;Junnie, tidak mau kalah, mencoba mengeluarkan senjatanya pada member klub atletik: kegantengannya. Dia mendadak jadi super ganteng, sengaja menyelak jalur lari mereka dan merayu habis-habisan. Lumayan banyak yang jatuh ke perangkap anak itu sementara Wonwoo berlari melewati kerumunan orang yang mengerubungi Jun.&#xA;&#xA;Soonyoung adalah yang terakhir. Dia sendiri bertekad balas dendam pada klub rugbi yang tahun lalu menggagalkannya. Tidak perlu waktu lama bagi duel untuk pecah antara kedua pihak. Soonyoung di atas angin. Wonwoo terus berlari, mempercayakan dirinya 100% pada ketiga temannya itu.&#xA;&#xA;Kantin sudah di depan mata--&#xA;&#xA;&#34;NOT SO FAST, JEON!&#34;&#xA;&#xA;Anak itu bahkan tidak berkedip ketika dia menaruh satu tangannya ke kepala anak lelaki tinggi besar berotot yang hendak menangkap dan membantingnya ke lantai dengan dorongan tubuh, lalu memelantingkan badannya terbang melewati anak itu. Para murid berhenti sejenak untuk mengagumi momentum tersebut. Begitu bersih loncatannya. Kacamata Wonwoo sampai tidak bergerak dari tempatnya.&#xA;&#xA;Anak lelaki besar itu tersuruk ke depan karena gaya dorong, hidungnya mencium lantai sekolah. Ketua klub lompat tinggi mendadak histeris dan memaksa murid di sebelahnya untuk memberitahunya siapa nama anak yang barusan melompat. Jeon Wonwoo, menitikkan fokus hanya pada satu hal saja, langsung berlari lagi. Punggungnya menghilang di antara kerumunan orang.&#xA;&#xA;\--Pas dia keluar kembali dari kantin, ringisannya lebar, rambutnya sedikit berantakan, dan di pelukannya tampak 4 cup puding. Detik berikutnya, Soonyoung, Jun dan Jihoon bersorak kencang. Mereka menyeret Wonwoo ke atap sekolah, memuji juga menuturkan terima kasih pada anak berkacamata itu.&#xA;&#xA;Dengan pipi tersipu dan senyum yang kian lebar, Wonwoo cengengesan. Merasa senang akan hidupnya. Dia punya tiga teman baik. Dia punya abang dan calon abang ipar yang baik. Dan dia juga punya Joshua.&#xA;&#xA;Apa lagi yang Wonwoo inginkan?]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshuaonesidedau" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">wonshuaonesidedau</span></a></p>

<p><em><strong>TETTT!</strong></em></p>

<p>“WON!”</p>

<p>“OKE!”</p>



<p>Begitu mereka selesai berdiri dan mengucapkan salam pada guru mereka, keempat anak itu langsung mendorong kursi mereka dan berlari. Bukan hanya mereka saja, tapi juga dari kelas-kelas lain. Berbagai murid berlarian sekuat tenaga melintasi koridor panjang menuju tujuan yang sama: kantin.</p>

<p>Tepatnya, toko kecil di bagian depan kantin. Hari ini adalah hari istimewa. Hari dimana dijual 25 puding terlezat seantero jagat raya satu kali dalam setahun. Ibu penjaga kantin yang terkenal memiliki tangan dewa yang pertama membawa puding tersebut 20 tahun yang lalu. Susu penuh krim, telur segar, esens vanilla yang berkualitas dan entah apa lagi yang dimasukkan ke dalamnya. Kelezatan puding itu sungguh tiada tara, hingga para murid sudi berlomba untuk mendapatkannya.</p>

<p>Tiap tahun, Hari Puding bagai sebuah festival olahraga yang ramai. Anak klub atletik biasanya mendominasi jejeran pemenang. Mereka begitu cepat menyusul murid lain, berlalu bak angin tanpa terlihat lelah sedikitpun. Wonwoo, meski bukan anak klub atletik, mampu mengimbangi mereka di tahun lalu, menyabet puding bagi dirinya sendiri, sementara Jihoon sudah menyerah sejak masih di lantai kelas mereka, Jun terdesak oleh himpitan tubuh manusia, dan Soonyoung sengaja ditahan oleh tim rugbi. Ketika Wonwoo mengambil puding ke-25, puding terakhir kala itu, semua orang memandanginya dengan takjub.</p>

<p><em>(Sampai sekarang dia masih direkrut buat masuk klub atletik sama ketuanya tuh. Ngerepotin abis...)</em></p>

<p>Karena itulah, tahun ini, Soonyoung punya ide bagus. Mereka bertiga bakal buka jalan buat Wonwoo dan, sebagai gantinya, Wonwoo bakal beliin 4 puding buat mereka masing-masing. Rencana yang bagus dalam teori. Pada prakteknya, menghalau orang-orang lain bukanlah pekerjaan yang mudah.</p>

<p>Jihoon mengeset jebakan dimana-mana. Dia merentangkan tali tipis di ujung suatu koridor, menariknya sampai beberapa orang terjungkal. Di tempat lain, dia melempar kelereng-kelereng, membuat orang-orang terpeleset dan jatuh. Rintangan di lantai kelas mereka bersih karenanya dan Wonwoo segera melompati anak tangga, sekali dua, menuju lantai satu.</p>

<p>Junnie, tidak mau kalah, mencoba mengeluarkan senjatanya pada member klub atletik: kegantengannya. Dia mendadak jadi super ganteng, sengaja menyelak jalur lari mereka dan merayu habis-habisan. Lumayan banyak yang jatuh ke perangkap anak itu sementara Wonwoo berlari melewati kerumunan orang yang mengerubungi Jun.</p>

<p>Soonyoung adalah yang terakhir. Dia sendiri bertekad balas dendam pada klub rugbi yang tahun lalu menggagalkannya. Tidak perlu waktu lama bagi duel untuk pecah antara kedua pihak. Soonyoung di atas angin. Wonwoo terus berlari, mempercayakan dirinya 100% pada ketiga temannya itu.</p>

<p>Kantin sudah di depan mata—</p>

<p>“NOT SO FAST, JEON!”</p>

<p>Anak itu bahkan tidak berkedip ketika dia menaruh satu tangannya ke kepala anak lelaki tinggi besar berotot yang hendak menangkap dan membantingnya ke lantai dengan dorongan tubuh, lalu memelantingkan badannya terbang melewati anak itu. Para murid berhenti sejenak untuk mengagumi momentum tersebut. Begitu bersih loncatannya. Kacamata Wonwoo sampai tidak bergerak dari tempatnya.</p>

<p>Anak lelaki besar itu tersuruk ke depan karena gaya dorong, hidungnya mencium lantai sekolah. Ketua klub lompat tinggi mendadak histeris dan memaksa murid di sebelahnya untuk memberitahunya siapa nama anak yang barusan melompat. Jeon Wonwoo, menitikkan fokus hanya pada satu hal saja, langsung berlari lagi. Punggungnya menghilang di antara kerumunan orang.</p>

<p>--Pas dia keluar kembali dari kantin, ringisannya lebar, rambutnya sedikit berantakan, dan di pelukannya tampak 4 cup puding. Detik berikutnya, Soonyoung, Jun dan Jihoon bersorak kencang. Mereka menyeret Wonwoo ke atap sekolah, memuji juga menuturkan terima kasih pada anak berkacamata itu.</p>

<p>Dengan pipi tersipu dan senyum yang kian lebar, Wonwoo cengengesan. Merasa senang akan hidupnya. Dia punya tiga teman baik. Dia punya abang dan calon abang ipar yang baik. Dan dia juga punya Joshua.</p>

<p>Apa lagi yang Wonwoo inginkan?</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/39</guid>
      <pubDate>Sat, 04 Dec 2021 17:12:41 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>37.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/37-yn9q?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wonshuaonesidedau&#xA;&#xA;Suara ketukan terdengar di pintu kamar dan suara Seungcheol dari baliknya menyusul kemudian.&#xA;&#xA;&#34;Won?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm?&#34;&#xA;&#xA;Klik!&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Abangnya muncul di ambang pintu.&#xA;&#xA;&#34;Mau makan nggak? Gyu buatin kita nasi goreng tuh.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh,&#34; anak itu terus saja sibuk mengetik. &#34;Nggak.&#34;&#xA;&#xA;Alis Seungcheol terangkat santai.&#xA;&#xA;&#34;Lagi chat sama siapa sih, serius banget,&#34; selorohnya.&#xA;&#xA;&#34;Ini. Jo-&#34;&#xA;&#xA;Ucapannya terhenti.&#xA;&#xA;Kalau Seungcheol tau Wonwoo tengah mengobrol dengan Joshua, ia pasti ikut nimbrung. Mungkin mengambil handphone Wonwoo dan menggantikan anak itu, kembali masuk ke dunia milik mereka berdua.&#xA;&#xA;Rasanya...Wonwoo tidak mau. Di sini, saat ini, adalah dunia yang ia bukanlah orang asing. Bukan anak kecil yang cuma bisa berlari mengejar Seungcheol dan Joshua dari belakang. Saat ini, Wonwoo sejajar dengan mereka berdua. Sejajar dengan Joshua.&#xA;&#xA;Di dunia ini, ia mengenal Joshua.&#xA;Ia tidak mengenal Joshua di dunia Seungcheol.&#xA;&#xA;Di dunia ini, Wonwoo aman bersama orang yang ia kenal.&#xA;&#xA;Toh, Seungcheol bisa mengontak Joshua sendiri kalau ia mau. Mereka kan lebih akrab, pasti saling menyimpan nomor masing-masing. Wonwoo tidak perlu meminjamkan handphonenya untuk kepentingan Seungcheol.&#xA;&#xA;&#34;-Jihoon sama Jun nih, lagi goblok mereka.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mereka lagi?&#34; Seungcheol tertawa. Ramah, tanpa curiga. Diam-diam, jantung Wonwoo berdetak sedikit lebih cepat. &#34;Yaudah. Gue abisin ya nasgor lo.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm.&#34;&#xA;&#xA;Pintu kamar kembali tertutup. Jantung Wonwoo masih deg-degan. Di chat room, Joshua tidak membalas apapun, menunggu Wonwoo selesai mengetik ceritanya.&#xA;&#xA;Berhasil.&#xA;&#xA;Wonwoo baru saja menyimpan Joshua yang ini di dalam dunianya sendiri.&#xA;&#xA;Joshua yang ia kenal, tak berubah setelah selama ini.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshuaonesidedau" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">wonshuaonesidedau</span></a></p>

<p>Suara ketukan terdengar di pintu kamar dan suara Seungcheol dari baliknya menyusul kemudian.</p>

<p>“Won?”</p>

<p>“Hmm?”</p>

<p><em>Klik!</em></p>



<p>Abangnya muncul di ambang pintu.</p>

<p>“Mau makan nggak? Gyu buatin kita nasi goreng tuh.”</p>

<p>“Oh,” anak itu terus saja sibuk mengetik. “Nggak.”</p>

<p>Alis Seungcheol terangkat santai.</p>

<p>“Lagi chat sama siapa sih, serius banget,” selorohnya.</p>

<p>“Ini. Jo-”</p>

<p>Ucapannya terhenti.</p>

<p>Kalau Seungcheol tau Wonwoo tengah mengobrol dengan Joshua, ia pasti ikut nimbrung. Mungkin mengambil handphone Wonwoo dan menggantikan anak itu, kembali masuk ke dunia milik mereka berdua.</p>

<p>Rasanya...Wonwoo tidak mau. Di sini, saat ini, adalah dunia yang ia bukanlah orang asing. Bukan anak kecil yang cuma bisa berlari mengejar Seungcheol dan Joshua dari belakang. Saat ini, Wonwoo sejajar dengan mereka berdua. Sejajar dengan Joshua.</p>

<p>Di dunia ini, ia mengenal Joshua.
Ia tidak mengenal Joshua di dunia Seungcheol.</p>

<p>Di dunia ini, Wonwoo aman bersama orang yang ia kenal.</p>

<p>Toh, Seungcheol bisa mengontak Joshua sendiri kalau ia mau. Mereka kan lebih akrab, pasti saling menyimpan nomor masing-masing. Wonwoo tidak perlu meminjamkan handphonenya untuk kepentingan Seungcheol.</p>

<p>”-Jihoon sama Jun nih, lagi goblok mereka.”</p>

<p>“Mereka lagi?” Seungcheol tertawa. Ramah, tanpa curiga. Diam-diam, jantung Wonwoo berdetak sedikit lebih cepat. “Yaudah. Gue abisin ya nasgor lo.”</p>

<p>“Hmm.”</p>

<p>Pintu kamar kembali tertutup. Jantung Wonwoo masih deg-degan. Di chat room, Joshua tidak membalas apapun, menunggu Wonwoo selesai mengetik ceritanya.</p>

<p><em>Berhasil.</em></p>

<p>Wonwoo baru saja menyimpan Joshua yang ini di dalam dunianya sendiri.</p>

<p><em>Joshua yang ia kenal, tak berubah setelah selama ini.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/37-yn9q</guid>
      <pubDate>Tue, 30 Nov 2021 14:35:48 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>28.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/28-q6kr?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wonshuaonesidedau&#xA;&#xA;&#34;Lo nggak, eh, dibully gitu? Nggak ngerasa kalo lebih baik dunia nggak tau? Bonyok lo gimana??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue dibully...nggak sih?&#34; Jun malah bertanya ke kedua temannya.&#xA;&#xA;&#34;Nggak ada yang berani juga sih,&#34; Jihoon menunjuk ke Soonyoung pakai ibu jari.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Nyong dulu rajanya sekolah,&#34; jelas Jun pada Wonwoo. &#34;Tapi yah mau seraja apapun, ada aja sih yang nggak suka liat gue. Nggak suka liat dia. Nggak suka sama kita bertiga.&#34;&#xA;&#xA;Ia menopang dagu dengan sebelah lengan.&#xA;&#xA;&#34;Pernah deh gue diguyur air bekas pel dari lantai dua.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Penghapus. Inget nggak?&#34; timpal Jihoon.&#xA;&#xA;&#34;Oiya, penghapus papan tulis!&#34; Jun ketawa. &#34;Sumpah, itu tolol banget.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue ingetnya pas meja lo dicoretin sama orang,&#34; Soonyoung menyela.&#xA;&#xA;&#34;Terus lo tuker meja lo sama meja gue.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Confession time,&#34; Jihoon mengangkat tangan. &#34;Gue tau yang ngelakuin itu semua siapa, jadi gue kirim dia sms anonim. Biar dia setop gangguin lo.&#34;&#xA;&#xA;Jun dan Soonyoung nampak terkejut.&#xA;&#xA;&#34;Jihoonie, what did I tell you soal ngehack data pribadi orang?&#34; Soonyoung mengernyit tak setuju 😡&#xA;&#xA;&#34;It was there,&#34; Jihoon memutar bola mata 🙄 &#34;Dia taro di socmednya kok. Ya maap kalo gue nemu satu-dua info yang bisa dipake. Perhaps not put it there for me to get?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Wkwkwkwk mang gak salah gue pilih temen,&#34; Jun ngakak.&#xA;&#xA;Wonwoo balik bersandar ke bangku. Jadi Jun bisa selamat dari main hakim sendiri oleh sesama murid karena Jihoon dan Soonyoung yang melindungi dia...&#xA;&#xA;Anak itu berkedip.&#xA;&#xA;&#34;Kalo...kalo sama guru? Sama bonyok lo?&#34; teguk ludah. &#34;Gimana?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah. Gue dipanggil guru sih, emang, terus orangtua gue dipanggil. Gue dimarahin karena udah bikin ribut-ribut sampe mereka dipanggil, terus gue dimarahin karena nggak bisa milih cowok yang bener,&#34; ringis Jun.&#xA;&#xA;Bola mata Wonwoo membulat.&#xA;&#xA;&#34;Pas gue bilang gue suka mereka karena mereka cakep, bukan karena mereka cowok ato cewek, gue malah disambit nyokap pake sendal. Katanya, &#39;makanya jangan liat orang dari luarnya aja!&#39;&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bagus, Tante, sambit aja nih anak,&#34; dengus Jihoon.&#xA;&#xA;&#34;Sialan,&#34; Jun menendang kaki Jihoon. &#34;Sakit tau disambit sendal.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jadi...ortu lo oke-oke aja?&#34; Wonwoo kini takjub.&#xA;&#xA;&#34;Hmm,&#34; anggukan. &#34;Guru-guru juga nggak bisa apapun. Nilai gue rerata kan bagus ya, nggak bikin masalah juga. Masa cuma gegara gue pacaran sama cowok, gue dikeluarin? Bisa-bisa mereka didemo.&#34; Ia mengangkat bahu. &#34;Ortu gue ngancem sekolah juga sih, mau bawa ke koran dan pengadilan kalo gue sampe dikeluarin. Mantan-mantan cewek gue juga pada demo gitu, biar gue kaga di D.O.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mang cuma lu yang mantan-mantannya mau bantuin lu putus sama mantan sampah lu,&#34; kekeh Soonyoung.&#xA;&#xA;&#34;Oiya dong,&#34; 😌 &#34;Itulah gunanya putus secara baik-baik dan menjaga silahturahmi.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Cakeepp.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bentar lagi bel,&#34; Jihoon mulai berdiri. &#34;Buruan abisin sosis lo, Nyong.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Shit-&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo kemudian menghabiskan tiga puluh menit ke depan berusaha mencerna kisah yang baru diceritakan Jun. Anak itu beruntung, punya orangtua yang tidak ambil pusing, dua sahabat yang melindunginya, serta mantan-mantan yang baik. Bisa dibilang Jun terselamatkan karena hubungan sosial yang dia bangun dengan orang-orang yang tepat.&#xA;&#xA;Anak itu menaikkan kacamatanya.&#xA;&#xA;Kalau abangnya dan Mingyu...bagaimana? Apa mereka juga membangun hubungan sosial dengan orang-orang yang tepat?&#xA;&#xA;Apa Wonwoo bisa yakin 100% orangtuanya akan menerima hubungan Seungcheol dan Mingyu?&#xA;&#xA;Apa kampus mereka tidak akan mengeluarkan mereka?&#xA;&#xA;Wonwoo menghela napas. Sudah saatnya ia berhenti mengurusi orang lain dan mengurusi dirinya sendiri. Entah kalau soal pacar, tapi ia mau juga membangun hubungan sosial yang lebih luas. Memiliki ketiga temannya yang sekarang sejak awal...sudah permulaan yang baik. Ia tinggal mengembangkannya. Mungkin ikut klub? Atau kerja paruh waktu?&#xA;&#xA;Anak itu sedang bengong menatap jendela ketika handphonenya bergetar.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshuaonesidedau" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">wonshuaonesidedau</span></a></p>

<p>“Lo nggak, eh, dibully gitu? Nggak ngerasa kalo lebih baik dunia nggak tau? Bonyok lo gimana??”</p>

<p>“Gue dibully...nggak sih?” Jun malah bertanya ke kedua temannya.</p>

<p>“Nggak ada yang berani juga sih,” Jihoon menunjuk ke Soonyoung pakai ibu jari.</p>



<p>“Nyong dulu rajanya sekolah,” jelas Jun pada Wonwoo. “Tapi yah mau seraja apapun, ada aja sih yang nggak suka liat gue. Nggak suka liat dia. Nggak suka sama kita bertiga.”</p>

<p>Ia menopang dagu dengan sebelah lengan.</p>

<p>“Pernah deh gue diguyur air bekas pel dari lantai dua.”</p>

<p>“Penghapus. Inget nggak?” timpal Jihoon.</p>

<p>“Oiya, penghapus papan tulis!” Jun ketawa. “Sumpah, itu tolol banget.”</p>

<p>“Gue ingetnya pas meja lo dicoretin sama orang,” Soonyoung menyela.</p>

<p>“Terus lo tuker meja lo sama meja gue.”</p>

<p>“Confession time,” Jihoon mengangkat tangan. “Gue tau yang ngelakuin itu semua siapa, jadi gue kirim dia sms anonim. Biar dia setop gangguin lo.”</p>

<p>Jun dan Soonyoung nampak terkejut.</p>

<p>“Jihoonie, what did I tell you soal ngehack data pribadi orang?” Soonyoung mengernyit tak setuju 😡</p>

<p>“It was there,” Jihoon memutar bola mata 🙄 “Dia taro di socmednya kok. Ya maap kalo gue nemu satu-dua info yang bisa dipake. Perhaps <em>not</em> put it there for me to get?”</p>

<p>“Wkwkwkwk mang gak salah gue pilih temen,” Jun ngakak.</p>

<p>Wonwoo balik bersandar ke bangku. Jadi Jun bisa selamat dari main hakim sendiri oleh sesama murid karena Jihoon dan Soonyoung yang melindungi dia...</p>

<p>Anak itu berkedip.</p>

<p>“Kalo...kalo sama guru? Sama bonyok lo?” teguk ludah. “Gimana?”</p>

<p>“Ah. Gue dipanggil guru sih, emang, terus orangtua gue dipanggil. Gue dimarahin karena udah bikin ribut-ribut sampe mereka dipanggil, terus gue dimarahin karena nggak bisa milih cowok yang bener,” ringis Jun.</p>

<p>Bola mata Wonwoo membulat.</p>

<p>“Pas gue bilang gue suka mereka karena mereka cakep, bukan karena mereka cowok ato cewek, gue malah disambit nyokap pake sendal. Katanya, &#39;makanya jangan liat orang dari luarnya aja!&#39;”</p>

<p>“Bagus, Tante, sambit aja nih anak,” dengus Jihoon.</p>

<p>“Sialan,” Jun menendang kaki Jihoon. “Sakit tau disambit sendal.”</p>

<p>“Jadi...ortu lo oke-oke aja?” Wonwoo kini takjub.</p>

<p>“Hmm,” anggukan. “Guru-guru juga nggak bisa apapun. Nilai gue rerata kan bagus ya, nggak bikin masalah juga. Masa cuma gegara gue pacaran sama cowok, gue dikeluarin? Bisa-bisa mereka didemo.” Ia mengangkat bahu. “Ortu gue ngancem sekolah juga sih, mau bawa ke koran dan pengadilan kalo gue sampe dikeluarin. Mantan-mantan cewek gue juga pada demo gitu, biar gue kaga di D.O.”</p>

<p>“Mang cuma lu yang mantan-mantannya mau bantuin lu putus sama mantan sampah lu,” kekeh Soonyoung.</p>

<p>“Oiya dong,” 😌 “Itulah gunanya putus secara baik-baik dan menjaga silahturahmi.”</p>

<p>“Cakeepp.”</p>

<p>“Bentar lagi bel,” Jihoon mulai berdiri. “Buruan abisin sosis lo, Nyong.”</p>

<p>“Shit-”</p>

<p>Wonwoo kemudian menghabiskan tiga puluh menit ke depan berusaha mencerna kisah yang baru diceritakan Jun. Anak itu beruntung, punya orangtua yang tidak ambil pusing, dua sahabat yang melindunginya, serta mantan-mantan yang baik. Bisa dibilang Jun terselamatkan karena hubungan sosial yang dia bangun dengan orang-orang yang tepat.</p>

<p>Anak itu menaikkan kacamatanya.</p>

<p><em>Kalau abangnya dan Mingyu...bagaimana? Apa mereka juga membangun hubungan sosial dengan orang-orang yang tepat?</em></p>

<p><em>Apa Wonwoo bisa yakin 100% orangtuanya akan menerima hubungan Seungcheol dan Mingyu?</em></p>

<p><em>Apa kampus mereka tidak akan mengeluarkan mereka?</em></p>

<p>Wonwoo menghela napas. Sudah saatnya ia berhenti mengurusi orang lain dan mengurusi dirinya sendiri. Entah kalau soal pacar, tapi ia mau juga membangun hubungan sosial yang lebih luas. Memiliki ketiga temannya yang sekarang sejak awal...sudah permulaan yang baik. Ia tinggal mengembangkannya. Mungkin ikut klub? Atau kerja paruh waktu?</p>

<p>Anak itu sedang bengong menatap jendela ketika handphonenya bergetar.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/28-q6kr</guid>
      <pubDate>Tue, 30 Nov 2021 01:30:48 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>27.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/27-fybt?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wonshuaonesidedau&#xA;&#xA;Jun menunggu respon Wonwoo. Jihoon, juga, diam, tak berkata apa-apa. Seperti terbalik, keadaan saat ini, sekarang Wonwoo yang memegang bola. Penerimaannya yang dinanti mereka. Ia bisa menjadikan ini awkward atau menjadikan ini kelegaan.&#xA;&#xA;Which, we all know the one he&#39;s gonna choose, anyway.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Oh...,&#34; ia akhirnya bergumam. &#34;Kok gue, eh, baru tau? Bukannya lo lagi, err, deketin cewek di kelas sebelah sekarang?&#34;&#xA;&#xA;Tidak ada dari kedua temannya menampakkan perubahan air muka, tapi Jihoon diam-diam menghembuskan napas yang sempat tertahan. Tidak lama, Jun pun meringis. Wonwoo lega karena ia tidak salah memilih jawaban.&#xA;&#xA;&#34;Cerita lama sih.&#34;&#xA;&#xA;&#34;WOI GI PADA NGAPSKI??&#34;&#xA;&#xA;Refleks mereka bertiga menoleh untuk menemukan sisa geng mereka. Perutnya membuncit, kenyang akan makanan kantin, dan masih membawa setusuk sosis bakar di tangan. Sosis yang sudah digigit hingga setengah. Soonyoung duduk di meja sebelah Wonwoo, di belakang bangku yang dijajah Jihoon.&#xA;&#xA;&#34;Lagi ngomongin cowok Jun,&#34; to Wonwoo&#39;s surprise, Jihoon dengan santai menjawab Soonyoung.&#xA;&#xA;&#34;Mantan,&#34; Jun membenarkan.&#xA;&#xA;&#34;Ah,&#34; decakan sepat meluncur dari lidah Soonyoung. &#34;Si bangsat itu. Tangan gue masih gatel pengen hajar dia.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jangan dong, ntar nggak ganteng lagi dia,&#34; Jun ketawa.&#xA;&#xA;&#34;Ganteng tapi kalo sampah ya buat apa,&#34; Jihoon menimpali. &#34;Ya nggak, Nyong?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ho-oh. Ner banget, Ji.&#34;&#xA;&#xA;Menyadari di meja itu yang kebingungan hanya Wonwoo, Jun tersenyum. &#34;Gue udah temenan sama mereka dari SMP, jadi mereka jelas tau,&#34; Wonwoo mengangguk. Sejauh itu sih dia juga tau. &#34;Gimana bilangnya ya, hmm...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo...suka cowok?&#34;&#xA;&#xA;Jun menggeleng, &#34;Tepatnya, gue suka semua yang indah-indah. Gender nggak masalah, selama mereka indah di mata gue. Gue suka pemandangan indah, barang yang indah. Manusia pun.&#34;&#xA;&#xA;Hening sejenak.&#xA;&#xA;&#34;Aneh ya, Won?&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo menggeleng.&#xA;&#xA;&#34;Aneh, pasti. Gue sendiri nyadar gue aneh. Gue bukan straight. Bukan gay. Bukan pula bi. Gue...suka manusia selama mereka indah. Gue aneh, gue tau.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo terus menggeleng. Jun tersenyum makin lebar. Wonwoo masih menggeleng, meski tidak ada kata-kata yang keluar. Ia takut mengucapkan sesuatu yang salah dan merusak pertemanan mereka.&#xA;&#xA;Wonwoo takut akan banyak hal dan ia memilih bungkam karenanya.&#xA;&#xA;&#34;Yang aneh tuh mantan lo,&#34; seloroh Soonyoung. &#34;Apaan, anying, ngata-ngatain lo depan publik, ngaku diuber-uber lo walo dia suka cewek lah. Ngaku-ngaku straight, ngaku-ngaku korban lo. Kek, anjing ye, udah manis sepah dibuang banget.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Wkwkwkw inget nggak lo langsung ngibrit ke gue pas lo denger padahal lagi pacaran?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Inget lah,&#34; Soonyoung mendengus. &#34;Sori, tapi lo-lo lebih penting dari cewek gue.&#34; Ia merangkul lengan di dada. &#34;Untung kan gue dateng. Puas gue nendang dia.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi lo juga pengumuman ke seluruh sekolah kalo dia udah nidurin gue,&#34; Jun menenggak air putih.&#xA;&#xA;&#34;Uh...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Parah banget lu, Nyong.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Diem lu, Ji! Sori, Junnie, serius banget banget gue nggak maksud-&#34;&#xA;&#xA;&#34;Santai,&#34; kekehnya. &#34;Makasih udah nendang dia buat gue.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo mengedip. Lalu mengedip lagi.&#xA;&#xA;&#34;Bentar,&#34; satu kata mengalihkan pandangan tiga orang lainnya. &#34;Lo bilang satu SMP tau lo pacaran sama cowok??&#34;&#xA;&#xA;Mereka lihat-lihatan, lalu Jun mengangguk.&#xA;&#xA;Wow...]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshuaonesidedau" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">wonshuaonesidedau</span></a></p>

<p>Jun menunggu respon Wonwoo. Jihoon, juga, diam, tak berkata apa-apa. Seperti terbalik, keadaan saat ini, sekarang Wonwoo yang memegang bola. Penerimaannya yang dinanti mereka. Ia bisa menjadikan ini awkward atau menjadikan ini kelegaan.</p>

<p>Which, we all know the one he&#39;s gonna choose, anyway.</p>



<p>“Oh...,” ia akhirnya bergumam. “Kok gue, eh, baru tau? Bukannya lo lagi, err, deketin cewek di kelas sebelah sekarang?”</p>

<p>Tidak ada dari kedua temannya menampakkan perubahan air muka, tapi Jihoon diam-diam menghembuskan napas yang sempat tertahan. Tidak lama, Jun pun meringis. Wonwoo lega karena ia tidak salah memilih jawaban.</p>

<p>“Cerita lama sih.”</p>

<p>“WOI GI PADA NGAPSKI??”</p>

<p>Refleks mereka bertiga menoleh untuk menemukan sisa geng mereka. Perutnya membuncit, kenyang akan makanan kantin, dan masih membawa setusuk sosis bakar di tangan. Sosis yang sudah digigit hingga setengah. Soonyoung duduk di meja sebelah Wonwoo, di belakang bangku yang dijajah Jihoon.</p>

<p>“Lagi ngomongin cowok Jun,” to Wonwoo&#39;s surprise, Jihoon dengan santai menjawab Soonyoung.</p>

<p>“Mantan,” Jun membenarkan.</p>

<p>“Ah,” decakan sepat meluncur dari lidah Soonyoung. “Si bangsat itu. Tangan gue masih gatel pengen hajar dia.”</p>

<p>“Jangan dong, ntar nggak ganteng lagi dia,” Jun ketawa.</p>

<p>“Ganteng tapi kalo sampah ya buat apa,” Jihoon menimpali. “Ya nggak, Nyong?”</p>

<p>“Ho-oh. Ner banget, Ji.”</p>

<p>Menyadari di meja itu yang kebingungan hanya Wonwoo, Jun tersenyum. “Gue udah temenan sama mereka dari SMP, jadi mereka jelas tau,” Wonwoo mengangguk. Sejauh itu sih dia juga tau. “Gimana bilangnya ya, hmm...”</p>

<p>“Lo...suka cowok?”</p>

<p>Jun menggeleng, “Tepatnya, gue suka semua yang indah-indah. Gender nggak masalah, selama mereka indah di mata gue. Gue suka pemandangan indah, barang yang indah. Manusia pun.”</p>

<p>Hening sejenak.</p>

<p>“Aneh ya, Won?”</p>

<p>Wonwoo menggeleng.</p>

<p>“Aneh, pasti. Gue sendiri nyadar gue aneh. Gue bukan straight. Bukan gay. Bukan pula bi. Gue...suka manusia selama mereka indah. Gue aneh, gue tau.”</p>

<p>Wonwoo terus menggeleng. Jun tersenyum makin lebar. Wonwoo masih menggeleng, meski tidak ada kata-kata yang keluar. Ia takut mengucapkan sesuatu yang salah dan merusak pertemanan mereka.</p>

<p>Wonwoo takut akan banyak hal dan ia memilih bungkam karenanya.</p>

<p>“Yang aneh tuh mantan lo,” seloroh Soonyoung. “Apaan, anying, ngata-ngatain lo depan publik, ngaku diuber-uber lo walo dia suka cewek lah. Ngaku-ngaku straight, ngaku-ngaku korban lo. Kek, anjing ye, udah manis sepah dibuang banget.”</p>

<p>“Wkwkwkw inget nggak lo langsung ngibrit ke gue pas lo denger padahal lagi pacaran?”</p>

<p>“Inget lah,” Soonyoung mendengus. “Sori, tapi lo-lo lebih penting dari cewek gue.” Ia merangkul lengan di dada. “Untung kan gue dateng. Puas gue nendang dia.”</p>

<p>“Tapi lo juga pengumuman ke seluruh sekolah kalo dia udah nidurin gue,” Jun menenggak air putih.</p>

<p>“Uh...”</p>

<p>“Parah banget lu, Nyong.”</p>

<p>“Diem lu, Ji! Sori, Junnie, serius banget banget gue nggak maksud-”</p>

<p>“Santai,” kekehnya. “Makasih udah nendang dia buat gue.”</p>

<p>Wonwoo mengedip. Lalu mengedip lagi.</p>

<p>“Bentar,” satu kata mengalihkan pandangan tiga orang lainnya. “Lo bilang <em>satu SMP tau lo pacaran sama cowok</em>??”</p>

<p>Mereka lihat-lihatan, lalu Jun mengangguk.</p>

<p><em>Wow...</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/27-fybt</guid>
      <pubDate>Tue, 30 Nov 2021 01:00:00 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>26.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/26-fd73?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wonshuaonesidedau&#xA;&#xA;Wonwoo menguap sampai matanya berair, lalu ia seka agar kembali kering. Seharusnya ia tau lebih baik daripada mulai membaca buku baru (yang, sialnya, seru) di jam 10 malam. Kalau bukan karena ia memaksakan diri untuk tidur saat jam di dinding bilang sudah pukul 1 pagi, mungkin Wonwoo bakal terlambat ke sekolah untuk pertama kalinya, memecahkan rekor sempurnanya selama setengah tahun.&#xA;&#xA;&#34;Nguap mulu lo,&#34; Jun, sambil ketawa, menepuk buku notes perlahan ke belakang kepalanya.&#xA;&#xA;&#34;Ngantuk gue.&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Let me guess,&#34; anak itu duduk di bangku depan Wonwoo karena pemiliknya lagi pergi makan siang ke kantin. Jun sendiri mulai membuka sandwich yang dia beli pagi hari tadi di konbini, sedangkan Wonwoo menyeruput susu pisang dan menguyah crackers sayur. &#34;Game? Ato buku?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yang terakhir.&#34;&#xA;&#xA;Jun manyun, &#34;Kirain gegara chat-chatan sama cewek.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo mendengus, &#34;Bangsat, gue hampir keselek susu.&#34;&#xA;&#xA;Yang disumpah serapah malah nyengir.&#xA;&#xA;&#34;Lo berdua makan itu doang?&#34; dengan alis terangkat sebelah, Jihoon menyampiri mereka. Ia menggeret bangku dari sebelah meja Wonwoo dan duduk di sisi samping. Sambil mengunyah onigiri isi salmon, anak itu ikut dalam obrolan. &#34;Makan yang banyakan napa sih, Won, lo kayak cencorang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Badan burung,&#34; Jun setuju. &#34;Gue masih ada sandwich satu lagi. Mau?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue lahir udah kek gini kali, anjir lu pada,&#34; decakan. &#34;Dan nggak usah, Jun, gue dibawain bekal sama Mingyu tapi gue belom laper. Palingan ntar gue curi-curi makan pas jam ke tiga.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hoo..,&#34; Jihoon menggigit lagi nasinya. &#34;...Mingyu tuh pacar lo ya?&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo keselek lagi, lalu batuk-batuk. Jihoon, semi-kasihan, semi bertanggung jawab, menepuk-nepuk punggung temannya itu.&#xA;&#xA;&#34;...Hah?&#34; tukas si anak berkacamata.&#xA;&#xA;&#34;Sori, sori. Abisan kayaknya sering banget dia masakin lo bekal dan sering lo sebut juga. Dan, yah, lo nggak ada gue liat naksir cewek. So...just put two and two together...&#34;&#xA;&#xA;Dengan santai, anak klub baseball tersebut menaikkan bahu.&#xA;&#xA;&#34;Sori, kalo gue salah-&#34;&#xA;&#xA;&#34;Salah,&#34; sanggah Wonwoo cepat. Matanya mendelik ke arah Jihoon, menyatakan ketidaksukaan terhadap tuduhan tak berdasar barusan. Jangan salah paham. Ia marah bukan karena ia dibilang menyukai sesama jenis, tapi karena Mingyu kan pacarnya abang Wonwoo sendiri. Rasanya sangat...salah kalau orang lain mengira mereka yang pacaran. &#34;Salah banget. Mingyu bukan cowok gue. Gue emang belom nemu cewek yang menarik, tapi bukan berarti gue orientasinya ke sana.&#34;&#xA;&#xA;Jihoon mengangguk-angguk, meminta maaf lebih lanjut. Jun, yang sedari tadi diam menonton mereka, langsung memotong.&#xA;&#xA;&#34;Terus, Mingyu itu siapa dong?&#34; ditelannya gigitan roti terakhir. &#34;Kokh bhisa bhikhinin hlo bhekal muru?&#34;&#xA;&#xA;...Wonwoo harus jawab apa?&#xA;&#xA;&#34;Dia...,&#34; bingung banget. &#34;...temen abang gue.&#34;&#xA;&#xA;Kalau Jun dan Jihoon saling lihat-lihatan, Wonwoo tidak mau menyaksikan. Ia tetap menunduk memandangi kotak susu di dekapan tangannya. Ia merasa seharusnya bukan dirinya yang membuka hubungan abangnya, karena itu bukanlah haknya. Seharusnya Seungcheol atau Mingyu yang memberitahu ke dunia. Bukan Wonwoo. Wonwoo berusaha menjaganya tetap rahasia. Ia tidak akan menjadi penyebab retaknya kehidupan sosial Seungcheol dan Mingyu, andaikata masyarakat belum bisa menerima mereka.&#xA;&#xA;Namun, keheningannya ditangkap lain oleh kedua temannya. Jihoon berdeham, membersihkan tenggorokan sebelum mulai berbicara, lebih hati-hati sekarang.&#xA;&#xA;&#34;Won, emm, lo nggak perlu sungkan sama kita soal...,&#34; Jihoon melirik ke arah Jun, yang dibalas anak itu dengan anggukan. &#34;...soal hubungan sesama jenis. I mean, kita open kok sama itu. Ya kan, Jun?&#34;&#xA;&#xA;Anak itu terus mengangguk.&#xA;&#xA;&#34;Won.&#34;&#xA;&#xA;Dipanggil Jun, Wonwoo mendongak.&#xA;&#xA;&#34;Lo tau kan kalo gue pernah pacaran ma cowok?&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo mengedip satu kali. Terhenyak.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshuaonesidedau" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">wonshuaonesidedau</span></a></p>

<p>Wonwoo menguap sampai matanya berair, lalu ia seka agar kembali kering. Seharusnya ia tau lebih baik daripada mulai membaca buku baru (yang, sialnya, seru) di jam 10 malam. Kalau bukan karena ia memaksakan diri untuk tidur saat jam di dinding bilang sudah pukul 1 pagi, mungkin Wonwoo bakal terlambat ke sekolah untuk pertama kalinya, memecahkan rekor sempurnanya selama setengah tahun.</p>

<p>“Nguap mulu lo,” Jun, sambil ketawa, menepuk buku notes perlahan ke belakang kepalanya.</p>

<p>“Ngantuk gue.”</p>



<p>“Let me guess,” anak itu duduk di bangku depan Wonwoo karena pemiliknya lagi pergi makan siang ke kantin. Jun sendiri mulai membuka sandwich yang dia beli pagi hari tadi di konbini, sedangkan Wonwoo menyeruput susu pisang dan menguyah crackers sayur. “Game? Ato buku?”</p>

<p>“Yang terakhir.”</p>

<p>Jun manyun, “Kirain gegara chat-chatan sama cewek.”</p>

<p>Wonwoo mendengus, “Bangsat, gue hampir keselek susu.”</p>

<p>Yang disumpah serapah malah nyengir.</p>

<p>“Lo berdua makan itu doang?” dengan alis terangkat sebelah, Jihoon menyampiri mereka. Ia menggeret bangku dari sebelah meja Wonwoo dan duduk di sisi samping. Sambil mengunyah onigiri isi salmon, anak itu ikut dalam obrolan. “Makan yang banyakan napa sih, Won, lo kayak cencorang.”</p>

<p>“Badan burung,” Jun setuju. “Gue masih ada sandwich satu lagi. Mau?”</p>

<p>“Gue lahir udah kek gini kali, anjir lu pada,” decakan. “Dan nggak usah, Jun, gue dibawain bekal sama Mingyu tapi gue belom laper. Palingan ntar gue curi-curi makan pas jam ke tiga.”</p>

<p>“Hoo..,” Jihoon menggigit lagi nasinya. “...Mingyu tuh pacar lo ya?”</p>

<p>Wonwoo keselek lagi, lalu batuk-batuk. Jihoon, semi-kasihan, semi bertanggung jawab, menepuk-nepuk punggung temannya itu.</p>

<p>”...Hah?” tukas si anak berkacamata.</p>

<p>“Sori, sori. Abisan kayaknya sering banget dia masakin lo bekal dan sering lo sebut juga. Dan, yah, lo nggak ada gue liat naksir cewek. So...just put two and two together...”</p>

<p>Dengan santai, anak klub baseball tersebut menaikkan bahu.</p>

<p>“Sori, kalo gue salah-”</p>

<p>“<em>Salah</em>,” sanggah Wonwoo cepat. Matanya mendelik ke arah Jihoon, menyatakan ketidaksukaan terhadap tuduhan tak berdasar barusan. Jangan salah paham. Ia marah bukan karena ia dibilang menyukai sesama jenis, tapi karena Mingyu kan pacarnya abang Wonwoo sendiri. Rasanya sangat...<em>salah</em> kalau orang lain mengira mereka yang pacaran. “Salah banget. Mingyu bukan cowok gue. Gue emang belom nemu cewek yang menarik, tapi bukan berarti gue orientasinya ke sana.”</p>

<p>Jihoon mengangguk-angguk, meminta maaf lebih lanjut. Jun, yang sedari tadi diam menonton mereka, langsung memotong.</p>

<p>“Terus, Mingyu itu siapa dong?” ditelannya gigitan roti terakhir. “Kokh bhisa bhikhinin hlo bhekal muru?”</p>

<p>...Wonwoo harus jawab apa?</p>

<p>“Dia...,” bingung banget. “...temen abang gue.”</p>

<p>Kalau Jun dan Jihoon saling lihat-lihatan, Wonwoo tidak mau menyaksikan. Ia tetap menunduk memandangi kotak susu di dekapan tangannya. Ia merasa seharusnya bukan dirinya yang membuka hubungan abangnya, karena itu bukanlah haknya. Seharusnya Seungcheol atau Mingyu yang memberitahu ke dunia. Bukan Wonwoo. Wonwoo berusaha menjaganya tetap rahasia. Ia tidak akan menjadi penyebab retaknya kehidupan sosial Seungcheol dan Mingyu, andaikata masyarakat belum bisa menerima mereka.</p>

<p>Namun, keheningannya ditangkap lain oleh kedua temannya. Jihoon berdeham, membersihkan tenggorokan sebelum mulai berbicara, lebih hati-hati sekarang.</p>

<p>“Won, emm, lo nggak perlu sungkan sama kita soal...,” Jihoon melirik ke arah Jun, yang dibalas anak itu dengan anggukan. “...soal hubungan sesama jenis. I mean, kita open kok sama itu. Ya kan, Jun?”</p>

<p>Anak itu terus mengangguk.</p>

<p>“Won.”</p>

<p>Dipanggil Jun, Wonwoo mendongak.</p>

<p>“Lo tau kan kalo gue pernah pacaran ma cowok?”</p>

<p>Wonwoo mengedip satu kali. Terhenyak.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/26-fd73</guid>
      <pubDate>Tue, 30 Nov 2021 00:27:50 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>21.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/21-k5w9?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wonshuaonesidedau&#xA;&#xA;&#34;Ada yang lagi seneng nih.&#34;&#xA;&#xA;Pipi Wonwoo sedikit memerah. Baru saja vidcall ngerjain pr bareng-barengnya selesai. Vidcall yang seancur biasanya kalau mereka berempat sudah berkumpul. Grup gesrek, tapi, yah, menyenangkan.&#xA;&#xA;&#34;Mana Abang?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kamar,&#34; Mingyu menguap. Dengan santai, ia duduk di sebelah Wonwoo di sofa ruang keluarga.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Sudah menjadi pemandangan tidak asing lelaki tinggi besar itu berkeliaran di rumah mereka. Orangtua Seungcheol dan Wonwoo awalnya merasa tidak enak jika mantan adik kelas Seungcheol masih saja bertandang ke rumah, sebagaimanapun akrabnya mereka. Namun, karena Mingyu sopan dan ramah, juga pandai memikat hati ibu mereka dengan masakannya dan kesediaannya segera membantu jika diperlukan, rasa enggan itu pun luntur dengan cepat. Kini, mereka menganggap Mingyu sebagai anak ketiga mereka.&#xA;&#xA;(Keempat, jika Joshua dimasukkan hitungan.)&#xA;&#xA;Wonwoo pernah bertanya pada abangnya, kapan ia akan memberitahu yang sebenarnya pada ibu mereka. Seungcheol hanya tersenyum, kemudian menggeleng.&#xA;&#xA;Wonwoo ingat waktu itu ia menelengkan kepala, merasa bingung.&#xA;&#xA;Kenapa masih saja dirahasiakan?&#xA;&#xA;Wonwoo yakin orangtuanya juga sudah tahu. Cuma orang yang benar-benar buta yang tidak bisa melihat tatapan mata mereka berdua, atau ketika Seungcheol tertawa sebelum mendusel sisi leher Mingyu ketika lelaki itu mengalungkan lengan di bahunya, atau saat Mingyu merapikan anak rambut dari wajah Seungcheol setelah angin besar bertiup.&#xA;&#xA;Jelas sekali, mereka berdua.&#xA;&#xA;Tapi Seungcheol diam seribu bahasa perihal hubungan mereka berdua dan Mingyu pun tidak berbuat apa-apa untuk mengambil langkah pertama.&#xA;&#xA;...Yah, jika mereka berdua puas seperti ini saja, apalah hak Wonwoo merecoki hubungan mereka berdua.&#xA;&#xA;&#34;Gimana SMA?&#34; Mingyu bertanya sambil mengambil kaleng coke bekas Wonwoo di meja.&#xA;&#xA;&#34;Goblok,&#34; anak yang ditanya mengaku. Kedua tangan mengetik di handphonenya. &#34;Seru.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu meringis. Diteguknya coke sampai habis.&#xA;&#xA;&#34;Gimana kuliah?&#34; giliran Wonwoo yang balik bertanya.&#xA;&#xA;&#34;Shitty,&#34; kekeh lelaki itu. Kaleng coke penyok oleh satu genggaman kuat. &#34;Tapi ada Bang Cheol di sana, jadi gue nggak berhak komplen.&#34; Mingyu mengedipkan sebelah mata.&#xA;&#xA;Wonwoo pura-pura mau muntah, yang kemudian dibalas Mingyu dengan mengusrek kasar rambut anak itu, yang segera diprotes Wonwoo. Anak itu hendak menendang Mingyu, tapi kalah cepat karena kakinya ditangkap.&#xA;&#xA;&#34;Lepasin gak??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Janji dulu nggak nendang-nendang lagi!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, iyaaa!&#34;&#xA;&#xA;Dengan kekehan, Mingyu melepasnya. Wonwoo segera mencari handphonenya yang terpelanting entah kemana. Ketika ia menemukannya di karpet tidak jauh dari sofa, satu chat room terbuka.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshuaonesidedau" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">wonshuaonesidedau</span></a></p>

<p>“Ada yang lagi seneng nih.”</p>

<p>Pipi Wonwoo sedikit memerah. Baru saja vidcall ngerjain pr bareng-barengnya selesai. Vidcall yang seancur biasanya kalau mereka berempat sudah berkumpul. Grup gesrek, tapi, yah, <em>menyenangkan</em>.</p>

<p>“Mana Abang?”</p>

<p>“Kamar,” Mingyu menguap. Dengan santai, ia duduk di sebelah Wonwoo di sofa ruang keluarga.</p>



<p>Sudah menjadi pemandangan tidak asing lelaki tinggi besar itu berkeliaran di rumah mereka. Orangtua Seungcheol dan Wonwoo awalnya merasa tidak enak jika mantan adik kelas Seungcheol masih saja bertandang ke rumah, sebagaimanapun akrabnya mereka. Namun, karena Mingyu sopan dan ramah, juga pandai memikat hati ibu mereka dengan masakannya dan kesediaannya segera membantu jika diperlukan, rasa enggan itu pun luntur dengan cepat. Kini, mereka menganggap Mingyu sebagai anak ketiga mereka.</p>

<p>(<em>Keempat, jika Joshua dimasukkan hitungan.</em>)</p>

<p>Wonwoo pernah bertanya pada abangnya, kapan ia akan memberitahu yang sebenarnya pada ibu mereka. Seungcheol hanya tersenyum, kemudian menggeleng.</p>

<p>Wonwoo ingat waktu itu ia menelengkan kepala, merasa bingung.</p>

<p><em>Kenapa masih saja dirahasiakan?</em></p>

<p>Wonwoo yakin orangtuanya juga sudah tahu. Cuma orang yang benar-benar buta yang tidak bisa melihat tatapan mata mereka berdua, atau ketika Seungcheol tertawa sebelum mendusel sisi leher Mingyu ketika lelaki itu mengalungkan lengan di bahunya, atau saat Mingyu merapikan anak rambut dari wajah Seungcheol setelah angin besar bertiup.</p>

<p>Jelas sekali, mereka berdua.</p>

<p>Tapi Seungcheol diam seribu bahasa perihal hubungan mereka berdua dan Mingyu pun tidak berbuat apa-apa untuk mengambil langkah pertama.</p>

<p>...Yah, jika mereka berdua puas seperti ini saja, apalah hak Wonwoo merecoki hubungan mereka berdua.</p>

<p>“Gimana SMA?” Mingyu bertanya sambil mengambil kaleng coke bekas Wonwoo di meja.</p>

<p>“Goblok,” anak yang ditanya mengaku. Kedua tangan mengetik di handphonenya. “Seru.”</p>

<p>Mingyu meringis. Diteguknya coke sampai habis.</p>

<p>“Gimana kuliah?” giliran Wonwoo yang balik bertanya.</p>

<p>“Shitty,” kekeh lelaki itu. Kaleng coke penyok oleh satu genggaman kuat. “Tapi ada Bang Cheol di sana, jadi gue nggak berhak komplen.” Mingyu mengedipkan sebelah mata.</p>

<p>Wonwoo pura-pura mau muntah, yang kemudian dibalas Mingyu dengan mengusrek kasar rambut anak itu, yang segera diprotes Wonwoo. Anak itu hendak menendang Mingyu, tapi kalah cepat karena kakinya ditangkap.</p>

<p>“Lepasin gak??”</p>

<p>“Janji dulu nggak nendang-nendang lagi!”</p>

<p>“Iya, iyaaa!”</p>

<p>Dengan kekehan, Mingyu melepasnya. Wonwoo segera mencari handphonenya yang terpelanting entah kemana. Ketika ia menemukannya di karpet tidak jauh dari sofa, satu chat room terbuka.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/21-k5w9</guid>
      <pubDate>Mon, 29 Nov 2021 13:14:43 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>16.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/16-t66j?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wonshuaonesidedau&#xA;&#xA;Hari pertama di sekolah baru, kelas baru, tingkat baru—&#xA;&#xA;—dan Jeon Wonwoo menaikkan kacamatanya, memperhatikan omongan wali kelasnya dengan saksama. Tidak tertarik untuk membuka dirinya agar terasa lebih ramah. Tidak tertarik untuk beramah-tamah, malah. Anak yang mulai menjulang tinggi semenjak pubertas SMP terlewati itu memilih untuk diam seribu bahasa. Sebagian karena baru hari pertamanya di SMA, masih banyak kesempatan untuk mulai mencari teman.&#xA;&#xA;(Pada akhirnya, Wonwoo akan membutuhkan teman, minimal untuk mengerjakan tugas kelompok bersama-sama).&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Sebagian lagi karena ia ingin menunjukkan dirinya apa adanya. Wonwoo yang asli ya beginilah adanya. Pendiam, berbicara pelan jika terpaksa, bersemangat dan jahil ketika menemukan kenyamanan dengan orang-orang tertentu. Suka ikut-ikutan melakukan hal bodoh. Suka berbuat bodoh, juga. Tentunya poin-poin terakhir khusus untuk konsumsi mata teman-teman terdekatnya atau keluarganya.&#xA;&#xA;Tapi, yah, untuk sekarang, Wonwoo menjadi dirinya di tengah orang asing: bau nerdus, agak sulit didekati karena auranya menyuruh orang menjauh. Kacamatanya berbingkai tebal. Rambutnya disisir rapi dengan poni.&#xA;&#xA;Tidak asik. Tidak menarik.&#xA;&#xA;Murid biasa yang membosankan.&#xA;&#xA;&#34;Oi.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo menoleh.&#xA;&#xA;&#34;Sini lo.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo berkedip dua kali. Kemudian, kepalanya memutar, celingak-celinguk mencari target anak lelaki berambut hitam pendek dan berpipi tembam itu. Jam kosong sebagai jeda antara kelas menjadi kesempatan bagi anak-anak baru saling berkenalan. Ketika tidak menemukan orang lain di sekitarnya, ia pun menoleh lagi ke arah anak itu lalu menunjuk hidungnya sendiri.&#xA;&#xA;&#34;...Maksud lo gue?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya. Elo. Emang ada siapa lagi dah,&#34; anak itu meringis, memamerkan deretan geligi putih yang rapi. Duduk di depannya di meja yang sama, ada anak bertubuh lebih pendek dengan rambut hitam dipangkas hampir cepak, seperti kepala para anak klub olahraga. Di sisi yang lain, terduduk anak lelaki yang super ganteng dan perlente, bagai Casanova dengan kearifan lokal. Hidungnya mancung dan jakunnya memberikan kesan pertama yang kuat.&#xA;&#xA;Geng yang...tidak biasa, kalau Wonwoo boleh jujur. Seperti calon geng-geng populer sepanjang SMA.&#xA;&#xA;(Terus kenapa Wonwoo dipanggil...?)&#xA;&#xA;(...)&#xA;&#xA;(...Euh, bukan mau dijadiin bebek sumber palakan, kan?)&#xA;&#xA;Diam-diam, anak itu meneguk ludah. Semoga bukan ya. Masa baru masuk sudah dipatok hidupnya bakal menderita untuk 3 tahun ke depan sih....nggak lucu anying...&#xA;&#xA;Di saat itu, sisi rebelnya keluar. Biar tidak dijadikan bebek, dia harus menonjolkan dominasi. Wonwoo memang tidak ingin mencari masalah, tapi dirinya juga emoh kalau harus ditindas semena-mena.&#xA;&#xA;&#34;Lo yang ada perlu, lo yang ke sini.&#34;&#xA;&#xA;Begitu jawabnya. Ditambah rangkulan lengan di dada dan punggung yang bersandar sok santai ke kursi. Jika bisa menaikkan kaki ke meja, mungkin sudah ia lakukan, tapi segera diurungkan niat itu karena rasanya bakal kelewatan. Wonwoo juga tidak berniat menjadikan dirinya dicap berandalan.&#xA;&#xA;Anak tembam itu berkedip, bertukar pandang dengan kedua temannya. Wonwoo mendengus. Matanya memejam ketika ia menaikkan kacamata.&#xA;&#xA;Grrekk!&#xA;Grak!&#xA;Grreekkk!&#xA;&#xA;Tiga bunyi bangku diseret. Saat Wonwoo membuka mata lagi, ketiga anak lelaki itu sudah duduk mengelilingi mejanya. Kaget, anak itu termangu, diam terpaku. Wajah-wajah yang mengitarinya terdiri dari dua ringisan dan satu kernyitan.&#xA;&#xA;&#34;Hei, gue Soonyoung,&#34; anak berpipi tembam pun memperkenalkan diri. &#34;Ini Jihoon.&#34; Yang dimaksud adalah anak yang mengernyit dan yang paling pendek di antara mereka. &#34;Kalo ini Jun.&#34; Dan terakhir si Casanova, yang mengedipkan sebelah mata pada Wonwoo. &#34;Lo siapa?&#34;&#xA;&#xA;Diam.&#xA;&#xA;Si anak tembam menelengkan kepala. Menunggu, dengan mata berbinar-binar.&#xA;&#xA;....Uh.&#xA;&#xA;&#34;...Wonwoo...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Wonwoo,&#34; ringisan lagi. Soonyoung mendadak menjulurkan tangan, seenaknya menepuk-nepuk pundak Wonwoo. &#34;Good. Lo gabung kita ya. Fix berempat nih, udah pas.&#34;&#xA;&#xA;..........&#xA;&#xA;&#34;....Sori?&#34; alis Wonwoo menukik tajam, bingung akan omongan anak itu.&#xA;&#xA;&#34;Lo kayaknya boring dan B aja. Kita butuh orang kayak lu biar geng kita lengkap. Seimbang, gitu. Ada gue yang ganteng dan populer dan jago ngedance. Ada Uji yang lone wolf jenius prodigy musik. Ada Juned yang sosialita ketua paguyuban, semua dia kenal, semua kenal dia. Dan elo!&#34;&#xA;&#xA;Telunjuk Soonyoung hampir kena mata Wonwoo.&#xA;&#xA;&#34;Lo kayaknya tipikal anak-anak rohis yang kerjanya nemplok di perpus deh, ato nggak gamer pro. Either way, lo kayaknya pinter-pinter cupu gitu. Bisa lah ajarin kita kalo mau ada ujian.&#34;&#xA;&#xA;....................Sebentar, memangnya sejak kapan Wonwoo mencitrakan dirinya seperti yang disebut si anak itu? Perasaan dirinya cuma duduk di bangku, dengerin omongan guru, dan mereka kayaknya tau satu sama lain hidup aja baru beberapa jam yang lalu??&#xA;&#xA;&#34;Gimana? Ide gue bagus kan? Lo cocok buat penyeimbang geng kita. Biar kita nggak OP OP amat gitu saking perfectnya.&#34; 🤩&#xA;&#xA;&#34;Lo...sinting ya?&#34; serius, Wonwoo kepo 🤨&#xA;&#xA;&#34;WKWKWK NYONG DIBILANG SINTING!&#34; Jun ngakak 🤣&#xA;&#xA;&#34;Akhirnya ada yang normal juga di kelas ini,&#34; Jihoon memutar bola mata 🙄&#xA;&#xA;&#34;KOK?? KALIAN?? JAHAT??&#34; 😱&#xA;&#xA;&#34;Eh, kalo kalian udah kelar bisa bubar nggak ya dari meja gue? Bentar lagi kayaknya pak guru dateng deh.&#34; 🙄&#xA;&#xA;Jihoon mengangkat bahu, lalu mendorong kursinya lagi, balik ke mejanya sendiri. Wonwoo notis kalau Jihoon sepertinya tipe yang bisa ia jadikan teman. Tidak banyak bicara, tapi langsung dijadikan tindakan. Sepertinya berteman dengannya tidak merepotkan. Mereka bisa duduk bersama membaca buku di sudut kelas dan tidak akan ada yang mengganggu ketenangan mereka.&#xA;&#xA;Jun ketawa lagi, kencang nan membahana. Orang-orang tercuri perhatian olehnya. Wonwoo tidak yakin ia bisa cocok dengan orang seperti Jun. Sepertinya anak itu jenis yang berteman dengan satu sekolah, bukan dengan tiga orang saja.&#xA;&#xA;Sementara anak yang terakhir...&#xA;&#xA;&#34;Pokoknya lo harus masuk geng kita! Kita butuh lo, Wonu!&#34; 😠&#xA;&#xA;&#34;Dih,&#34; 🙄 &#34;Emang lu sokap.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Liat aja, lo pasti jadi temen kita bertiga!&#34; 😠&#xA;&#xA;Kemudian, anak itu akhirnya juga meninggalkan Wonwoo. Derap langkahnya dan dengus napasnya seakan mengobarkan tekad dari dalam dadanya. Kwon Soonyoung sudah menentukan kalau mereka harus berempat. Pas berempat. Biar seimbang, biar balanced. Perfect.&#xA;&#xA;Seperti sifat anak Kwon itu. Perfeksionis sampai ke detail terkecil.&#xA;&#xA;Membutuhkan lima menit untuk Wonwoo menggaruk bagian belakang kepalanya lalu menoleh ke arah jendela, melihat kelopak bunga dari pohon ceri di sebelah kelasnya yang terbang ditiup angin musim semi. Tidak habis pikir kenapa dirinya yang terjebak tiga sumber masalah di hari yang indah begini.&#xA;&#xA;Sepertinya hidup Wonwoo tidak akan bisa dibiarkan tenang seperti harapannya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshuaonesidedau" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">wonshuaonesidedau</span></a></p>

<p>Hari pertama di sekolah baru, kelas baru, tingkat baru—</p>

<p>—dan Jeon Wonwoo menaikkan kacamatanya, memperhatikan omongan wali kelasnya dengan saksama. Tidak tertarik untuk membuka dirinya agar terasa lebih ramah. Tidak tertarik untuk beramah-tamah, malah. Anak yang mulai menjulang tinggi semenjak pubertas SMP terlewati itu memilih untuk diam seribu bahasa. Sebagian karena baru hari pertamanya di SMA, masih banyak kesempatan untuk mulai mencari teman.</p>

<p>(Pada akhirnya, Wonwoo <em>akan</em> membutuhkan teman, minimal untuk mengerjakan tugas kelompok bersama-sama).</p>



<p>Sebagian lagi karena ia ingin menunjukkan dirinya apa adanya. Wonwoo yang asli ya beginilah adanya. Pendiam, berbicara pelan jika terpaksa, bersemangat dan jahil ketika menemukan kenyamanan dengan orang-orang tertentu. Suka ikut-ikutan melakukan hal bodoh. Suka berbuat bodoh, juga. Tentunya poin-poin terakhir khusus untuk konsumsi mata teman-teman terdekatnya atau keluarganya.</p>

<p>Tapi, yah, untuk sekarang, Wonwoo menjadi dirinya di tengah orang asing: bau nerdus, agak sulit didekati karena auranya menyuruh orang menjauh. Kacamatanya berbingkai tebal. Rambutnya disisir rapi dengan poni.</p>

<p>Tidak asik. Tidak menarik.</p>

<p>Murid <em>biasa</em> yang membosankan.</p>

<p>“Oi.”</p>

<p>Wonwoo menoleh.</p>

<p>“Sini lo.”</p>

<p>Wonwoo berkedip dua kali. Kemudian, kepalanya memutar, celingak-celinguk mencari target anak lelaki berambut hitam pendek dan berpipi tembam itu. Jam kosong sebagai jeda antara kelas menjadi kesempatan bagi anak-anak baru saling berkenalan. Ketika tidak menemukan orang lain di sekitarnya, ia pun menoleh lagi ke arah anak itu lalu menunjuk hidungnya sendiri.</p>

<p>”...Maksud lo <em>gue</em>?”</p>

<p>“Iya. Elo. Emang ada siapa lagi dah,” anak itu meringis, memamerkan deretan geligi putih yang rapi. Duduk di depannya di meja yang sama, ada anak bertubuh lebih pendek dengan rambut hitam dipangkas hampir cepak, seperti kepala para anak klub olahraga. Di sisi yang lain, terduduk anak lelaki yang super ganteng dan perlente, bagai Casanova dengan kearifan lokal. Hidungnya mancung dan jakunnya memberikan kesan pertama yang kuat.</p>

<p>Geng yang...<em>tidak biasa</em>, kalau Wonwoo boleh jujur. Seperti calon geng-geng populer sepanjang SMA.</p>

<p>(<em>Terus kenapa Wonwoo dipanggil...?</em>)</p>

<p>(...)</p>

<p>(<em>...Euh, bukan mau dijadiin bebek sumber palakan, kan?</em>)</p>

<p>Diam-diam, anak itu meneguk ludah. Semoga bukan ya. Masa baru masuk sudah dipatok hidupnya bakal menderita untuk 3 tahun ke depan sih....<em>nggak lucu anying</em>...</p>

<p>Di saat itu, sisi rebelnya keluar. Biar tidak dijadikan bebek, dia harus menonjolkan dominasi. Wonwoo memang tidak ingin mencari masalah, tapi dirinya juga emoh kalau harus ditindas semena-mena.</p>

<p>“Lo yang ada perlu, lo yang ke sini.”</p>

<p>Begitu jawabnya. Ditambah rangkulan lengan di dada dan punggung yang bersandar sok santai ke kursi. Jika bisa menaikkan kaki ke meja, mungkin sudah ia lakukan, tapi segera diurungkan niat itu karena rasanya bakal kelewatan. Wonwoo juga tidak berniat menjadikan dirinya dicap berandalan.</p>

<p>Anak tembam itu berkedip, bertukar pandang dengan kedua temannya. Wonwoo mendengus. Matanya memejam ketika ia menaikkan kacamata.</p>

<p><em>Grrekk!</em>
<em>Grak!</em>
<em>Grreekkk!</em></p>

<p>Tiga bunyi bangku diseret. Saat Wonwoo membuka mata lagi, ketiga anak lelaki itu sudah duduk mengelilingi mejanya. Kaget, anak itu termangu, diam terpaku. Wajah-wajah yang mengitarinya terdiri dari dua ringisan dan satu kernyitan.</p>

<p>“Hei, gue Soonyoung,” anak berpipi tembam pun memperkenalkan diri. “Ini Jihoon.” Yang dimaksud adalah anak yang mengernyit dan yang paling pendek di antara mereka. “Kalo ini Jun.” Dan terakhir si Casanova, yang mengedipkan sebelah mata pada Wonwoo. “Lo siapa?”</p>

<p>Diam.</p>

<p>Si anak tembam menelengkan kepala. Menunggu, dengan mata berbinar-binar.</p>

<p>....<em>Uh.</em></p>

<p>”...Wonwoo...”</p>

<p>“Wonwoo,” ringisan lagi. Soonyoung mendadak menjulurkan tangan, seenaknya menepuk-nepuk pundak Wonwoo. “<em>Good</em>. Lo gabung kita ya. Fix berempat nih, udah pas.”</p>

<p>..........</p>

<p>”....Sori?” alis Wonwoo menukik tajam, bingung akan omongan anak itu.</p>

<p>“Lo kayaknya boring dan B aja. Kita butuh orang kayak lu biar geng kita lengkap. Seimbang, gitu. Ada gue yang ganteng dan populer dan jago ngedance. Ada Uji yang lone wolf jenius prodigy musik. Ada Juned yang sosialita ketua paguyuban, semua dia kenal, semua kenal dia. Dan elo!”</p>

<p>Telunjuk Soonyoung hampir kena mata Wonwoo.</p>

<p>“Lo kayaknya tipikal anak-anak rohis yang kerjanya nemplok di perpus deh, ato nggak gamer pro. Either way, lo kayaknya pinter-pinter cupu gitu. Bisa lah ajarin kita kalo mau ada ujian.”</p>

<p>....................<em>Sebentar, memangnya sejak kapan Wonwoo mencitrakan dirinya seperti yang disebut si anak itu? Perasaan dirinya cuma duduk di bangku, dengerin omongan guru, dan mereka kayaknya tau satu sama lain hidup aja baru beberapa jam yang lalu??</em></p>

<p>“Gimana? Ide gue bagus kan? Lo cocok buat penyeimbang geng kita. Biar kita nggak OP OP amat gitu saking perfectnya.” 🤩</p>

<p>“Lo...<em>sinting</em> ya?” serius, Wonwoo kepo 🤨</p>

<p>“WKWKWK NYONG DIBILANG SINTING!” Jun ngakak 🤣</p>

<p>“Akhirnya ada yang normal juga di kelas ini,” Jihoon memutar bola mata 🙄</p>

<p>“KOK?? KALIAN?? JAHAT??” 😱</p>

<p>“Eh, kalo kalian udah kelar bisa bubar nggak ya dari meja gue? Bentar lagi kayaknya pak guru dateng deh.” 🙄</p>

<p>Jihoon mengangkat bahu, lalu mendorong kursinya lagi, balik ke mejanya sendiri. Wonwoo notis kalau Jihoon sepertinya tipe yang bisa ia jadikan teman. Tidak banyak bicara, tapi langsung dijadikan tindakan. Sepertinya berteman dengannya tidak merepotkan. Mereka bisa duduk bersama membaca buku di sudut kelas dan tidak akan ada yang mengganggu ketenangan mereka.</p>

<p>Jun ketawa lagi, kencang nan membahana. Orang-orang tercuri perhatian olehnya. Wonwoo tidak yakin ia bisa cocok dengan orang seperti Jun. Sepertinya anak itu jenis yang berteman dengan satu sekolah, bukan dengan tiga orang saja.</p>

<p>Sementara anak yang terakhir...</p>

<p>“Pokoknya lo harus masuk geng kita! Kita butuh lo, Wonu!” 😠</p>

<p>“Dih,” 🙄 “Emang lu sokap.”</p>

<p>“Liat aja, lo pasti jadi temen kita bertiga!” 😠</p>

<p>Kemudian, anak itu akhirnya juga meninggalkan Wonwoo. Derap langkahnya dan dengus napasnya seakan mengobarkan tekad dari dalam dadanya. Kwon Soonyoung sudah menentukan kalau mereka harus berempat. Pas berempat. Biar seimbang, biar balanced. Perfect.</p>

<p>Seperti sifat anak Kwon itu. Perfeksionis sampai ke detail terkecil.</p>

<p>Membutuhkan lima menit untuk Wonwoo menggaruk bagian belakang kepalanya lalu menoleh ke arah jendela, melihat kelopak bunga dari pohon ceri di sebelah kelasnya yang terbang ditiup angin musim semi. Tidak habis pikir kenapa dirinya yang terjebak <em>tiga sumber masalah</em> di hari yang indah begini.</p>

<p>Sepertinya hidup Wonwoo tidak akan bisa dibiarkan tenang seperti harapannya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/16-t66j</guid>
      <pubDate>Mon, 29 Nov 2021 11:15:00 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>15.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/15-rynm?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wonshuaonesidedau&#xA;&#xA;&#34;Cowok lo?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mm.&#34;&#xA;&#xA;Di atas kepala mereka, bulan purnama seakan berbinar-binar. Langit cerah tanpa arakan awan membuat bumi langsung benderang. Bayangan Wonwoo dan Seungcheol yang sedang duduk bersisian di ayunan di taman depan blok perumahan mereka berwarna hitam pekat meski dunia sudahlah gelap. Seungcheol mengayun pelan sesekali, sementara Wonwoo diam saja, menjulurkan kakinya yang panjang.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Lo inget Kim Soyoung?&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo perlahan mengangguk.&#xA;&#xA;&#34;Waktu itu Shua bilang kan? Kakak kembar Kim Soyoung. Kim Mingyu.&#34;&#xA;&#xA;Dagu Wonwoo terangkat. Ia melihat punggung lelaki yang dimaksud abangnya itu, jauh dari mereka, sedang duduk sendirian di atas perosotan. Sengaja, atas permintaan Seungcheol, untuk memberi waktu bagi kedua bersaudara itu berbicara. Mingyu memutuskan untuk menyibukkan diri dengan bermain game online sehingga telinganya juga teredam oleh earphone.&#xA;&#xA;&#34;Soyoung nembak gue pas gue kelas 2 SMA, terus dia tau. Dia datengin gue buat ngancem kalo gue nggak boleh bikin nangis adeknya ato dia bakal gebukin gue,&#34; Seungcheol mendengus. &#34;Anak ingusan mau gebukin gue... Ya gue bales lah. Gue bilang ke dia kalo gue nggak ada niat bales perasaan adeknya.&#xA;&#xA;Dia nanya ke gue kenapa. Gue bilang kalo gue nggak tertarik pacaran sama orang yang gue nggak kenal.&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol menghembuskan napas putih. Ujung hidung Wonwoo mulai memerah.&#xA;&#xA;&#34;Terus, ya...nggak taulah. Tiba-tiba aja si kembar ini ada di sekitar gue sama Joshua. Mereka lebih muda dari kita setahun, jadi ya nggak bisa sesering itu ketemu, tapi ada aja momennya, nggak tau gimana, kita semua ketemu dan nongkrong bareng.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo menyusut ingus supaya tidak keluar dari hidungnya. Sebuah dunia Seungcheol dan Joshua yang, lagi-lagi, ia tidak termasuk di dalamnya. Lingkaran khusus bagi mereka berdua saja.&#xA;&#xA;Lingkaran yang, nampaknya, dengan mudah dimasuki lelaki besar itu bersama adiknya.&#xA;&#xA;&#34;Pas gue kelas tiga, Soyoung dateng ke gue. Dia nanya ke gue gimana kalo ada orang yang gue kenal udah lama bilang kalo dia suka sama gue. Gue pikir maksud dia itu dirinya sendiri kan. Tadinya gue mau nolak lagi, tapi tetau si bego itu...,&#34; abangnya itu tersenyum, sedikit tersipu. &#34;...dia dateng dengan muka merah banget dan maksa mau nyeret Soyoung pergi. Mereka berantem. Joshua nonton. Gue...spikles. Terus dia pegang bahu gue dan mastiin kalo apapun yang Soyoung bilang barusan ke gue, gue nggak perlu dengerin.&#34;&#xA;&#xA;&#34;...Cowok lo,&#34; Wonwoo menyusut ingus lagi. &#34;Tolol ya Bang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;I know,&#34; kekehnya. &#34;Dia sama sekali nggak tau kalo persis di situ, gue nyadar siapa yang dimaksud Soyoung. Mungkin...dari situ, gue akhirnya ngeliat dia...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm...&#34;&#xA;&#xA;Bunyi rantai ayunan yang kurang pelumas memenuhi malam tersebut saat Seungcheol mengayunkan kakinya pelan-pelan.&#xA;&#xA;Kriit. Kriit.&#xA;&#xA;&#34;Yang nembak...?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dia,&#34; Kriit. &#34;Pas gue mau lulus, dia dateng dan ngasih kancing kedua dia ke gue. Nyuruh gue simpen baek-baek ato buang sekarang juga. Pas gue kayak bingung gitu, dia bilang, sambil mukanya merah banget, kalo hati dia nggak bisa dia kasih ke gue, jadi simboliknya pake kancing aja. Jadi, gue mau terima &#39;hati&#39; dia ato enggak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;...&#34; 😶&#xA;&#xA;&#34;...&#34; 🤭&#xA;&#xA;&#34;...Buh-&#34; 😶💨&#xA;&#xA;Wonwoo auto membekap mulutnya. Cekikikan, tapi berusaha menahan sebisanya. Hanya seluruh tubuhnya yang gemetaran sebagai bukti bagaimana ngakaknya anak itu saat ini. Seungcheol lebih santai. Ia ikut ketawa ringan, paham sepenuhnya kenapa Wonwoo tertawa begitu, karena ia pribadi juga merasa betapa konyolnya kejadian saat itu.&#xA;&#xA;Betapa indahnya.&#xA;&#xA;Setelah beberapa saat berlalu dan Wonwoo bisa mengendalikan dirinya lagi, anak itu bertanya.&#xA;&#xA;&#34;Gue baru tau lo suka cowok, Bang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue juga baru tau kok.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm,&#34; Kriit. &#34;Bonyok tau?&#34;&#xA;&#xA;Di sini, jawaban Wonwoo adalah keheningan.&#xA;&#xA;&#34;Oke. My lips are sealed.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Thanks, Bro, appreciate it.&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol mengulurkan kepalan tangan, yang dibalas dengan tubrukan kepalan tangan Wonwoo.&#xA;&#xA;&#34;Kalo ada apa-apa, cerita ke gue, Bang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mm,&#34; Seungcheol mengangguk. &#34;Lo juga ya. Inget, lo punya gue. Gue nggak akan kemana-mana.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oke.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo balik?&#34; Seungcheol kemudian berdiri, membiarkan ayunannya masih terus bergerak sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Entaran.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bilang Mama gue nganterin Mingyu ya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jangan nginep lo,&#34; kekehnya.&#xA;&#xA;Seungcheol hanya mengedipkan sebelah mata dengan bercanda. Wonwoo memerhatikan abangnya itu mendekati Mingyu di atas perosotan, berbicara padanya. Lelaki besar itu melompat turun dengan mudah, lalu melingkarkan lengan di sekitar bahu Seungcheol, menariknya ke dalam separuh pelukan. Bro hug yang inosen bagi mata dunia yang tidak mengetahui faktanya.&#xA;&#xA;Wonwoo masih memerhatikan kedua sosok itu berjalan, menjauh dan menjauh, tertelan kegelapan malam.&#xA;&#xA;Anak itu mendongak, menatap langit bertaburkan bintang di sekeliling bulan. Saat ia bernapas, uap putih muncul kembali, memberikan warna di latar hitam kebiruan. Jika boleh jujur, ia masih mencerna informasi barusan, masih belum bisa membalutkan pengakuan abangnya ke sekeliling kepalanya dengan sempurna. Wonwoo seolah dihisap kembali ke pemikirannya mengenai lawan jenis dan apa menariknya membicarakan soal cewek, dan bagaimana sekarang abangnya, kakak kandungnya, memilih cowok.&#xA;&#xA;Aneh ya?&#xA;&#xA;Kita pikir kita bakal bisa langsung menerima kalau ada suatu kejadian, sampai suatu kejadian itu benar-benar datang dan menimpa orang terdekat kita, dan kita baru sadar kalo hal itu nyata.&#xA;&#xA;Wonwoo yakin dirinya tetap akan melihat Seungcheol sebagai Seungcheol. Rasa sayang pada abangnya tidak akan pernah berubah. Wonwoo yakin mereka sekeluarga akan baik-baik saja. Mungkin perlu waktu baginya melihat Mingyu sebagai partner Seungcheol. Selama ini, ia hanya melihat Seungcheol bersama Joshua dan-&#xA;&#xA;Matanya mengerjap.&#xA;&#xA;Joshua.&#xA;&#xA;Anak itu mengambil rantai ayunan yang dingin di bawah sentuhannya. Bulan yang kini agak meredup, beristirahat sejenak dari tugasnya memantulkan sinar ke bumi, mencuri perhatian Wonwoo.&#xA;&#xA;&#34;.....Inget janji lo ke gue buat bahagia.&#34;&#xA;&#xA;Bisikan yang, Wonwoo harap, terbawa angin sampai ke belahan dunia sana.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshuaonesidedau" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">wonshuaonesidedau</span></a></p>

<p>“Cowok lo?”</p>

<p>“Mm.”</p>

<p>Di atas kepala mereka, bulan purnama seakan berbinar-binar. Langit cerah tanpa arakan awan membuat bumi langsung benderang. Bayangan Wonwoo dan Seungcheol yang sedang duduk bersisian di ayunan di taman depan blok perumahan mereka berwarna hitam pekat meski dunia sudahlah gelap. Seungcheol mengayun pelan sesekali, sementara Wonwoo diam saja, menjulurkan kakinya yang panjang.</p>



<p>“Lo inget Kim Soyoung?”</p>

<p>Wonwoo perlahan mengangguk.</p>

<p>“Waktu itu Shua bilang kan? Kakak kembar Kim Soyoung. Kim Mingyu.”</p>

<p>Dagu Wonwoo terangkat. Ia melihat punggung lelaki yang dimaksud abangnya itu, jauh dari mereka, sedang duduk sendirian di atas perosotan. Sengaja, atas permintaan Seungcheol, untuk memberi waktu bagi kedua bersaudara itu berbicara. Mingyu memutuskan untuk menyibukkan diri dengan bermain game online sehingga telinganya juga teredam oleh earphone.</p>

<p>“Soyoung nembak gue pas gue kelas 2 SMA, terus dia tau. Dia datengin gue buat ngancem kalo gue nggak boleh bikin nangis adeknya ato dia bakal gebukin gue,” Seungcheol mendengus. “Anak ingusan mau gebukin gue... Ya gue bales lah. Gue bilang ke dia kalo gue nggak ada niat bales perasaan adeknya.</p>

<p>Dia nanya ke gue kenapa. Gue bilang kalo gue nggak tertarik pacaran sama orang yang gue nggak kenal.”</p>

<p>Seungcheol menghembuskan napas putih. Ujung hidung Wonwoo mulai memerah.</p>

<p>“Terus, ya...nggak taulah. Tiba-tiba aja si kembar ini ada di sekitar gue sama Joshua. Mereka lebih muda dari kita setahun, jadi ya nggak bisa sesering itu ketemu, tapi ada aja momennya, nggak tau gimana, kita semua ketemu dan nongkrong bareng.”</p>

<p>Wonwoo menyusut ingus supaya tidak keluar dari hidungnya. Sebuah dunia Seungcheol dan Joshua yang, lagi-lagi, ia tidak termasuk di dalamnya. Lingkaran khusus bagi mereka berdua saja.</p>

<p>Lingkaran yang, nampaknya, dengan mudah dimasuki lelaki besar itu bersama adiknya.</p>

<p>“Pas gue kelas tiga, Soyoung dateng ke gue. Dia nanya ke gue gimana kalo ada orang yang gue kenal udah lama bilang kalo dia suka sama gue. Gue pikir maksud dia itu dirinya sendiri kan. Tadinya gue mau nolak lagi, tapi tetau si bego itu...,” abangnya itu tersenyum, sedikit tersipu. “...dia dateng dengan muka merah banget dan maksa mau nyeret Soyoung pergi. Mereka berantem. Joshua nonton. Gue...spikles. Terus dia pegang bahu gue dan mastiin kalo apapun yang Soyoung bilang barusan ke gue, gue nggak perlu dengerin.”</p>

<p>”...Cowok lo,” Wonwoo menyusut ingus lagi. “Tolol ya Bang.”</p>

<p>“I know,” kekehnya. “Dia sama sekali nggak tau kalo persis di situ, gue nyadar siapa yang dimaksud Soyoung. Mungkin...dari situ, gue akhirnya <em>ngeliat</em> dia...”</p>

<p>“Hmm...”</p>

<p>Bunyi rantai ayunan yang kurang pelumas memenuhi malam tersebut saat Seungcheol mengayunkan kakinya pelan-pelan.</p>

<p><em>Kriit. Kriit.</em></p>

<p>“Yang nembak...?”</p>

<p>“Dia,” <em>Kriit</em>. “Pas gue mau lulus, dia dateng dan ngasih kancing kedua dia ke gue. Nyuruh gue simpen baek-baek ato buang sekarang juga. Pas gue kayak bingung gitu, dia bilang, sambil mukanya merah banget, kalo hati dia nggak bisa dia kasih ke gue, jadi simboliknya pake kancing aja. Jadi, gue mau terima &#39;hati&#39; dia ato enggak.”</p>

<p>”...” 😶</p>

<p>”...” 🤭</p>

<p>”...Buh-” 😶💨</p>

<p>Wonwoo auto membekap mulutnya. Cekikikan, tapi berusaha menahan sebisanya. Hanya seluruh tubuhnya yang gemetaran sebagai bukti bagaimana ngakaknya anak itu saat ini. Seungcheol lebih santai. Ia ikut ketawa ringan, paham sepenuhnya kenapa Wonwoo tertawa begitu, karena ia pribadi juga merasa betapa konyolnya kejadian saat itu.</p>

<p>Betapa indahnya.</p>

<p>Setelah beberapa saat berlalu dan Wonwoo bisa mengendalikan dirinya lagi, anak itu bertanya.</p>

<p>“Gue baru tau lo suka cowok, Bang.”</p>

<p>“Gue juga baru tau kok.”</p>

<p>“Hmm,” <em>Kriit</em>. “Bonyok tau?”</p>

<p>Di sini, jawaban Wonwoo adalah keheningan.</p>

<p>“Oke. My lips are sealed.”</p>

<p>“Thanks, Bro, appreciate it.”</p>

<p>Seungcheol mengulurkan kepalan tangan, yang dibalas dengan tubrukan kepalan tangan Wonwoo.</p>

<p>“Kalo ada apa-apa, cerita ke gue, Bang.”</p>

<p>“Mm,” Seungcheol mengangguk. “Lo juga ya. Inget, lo punya gue. Gue nggak akan kemana-mana.”</p>

<p>“Oke.”</p>

<p>“Lo balik?” Seungcheol kemudian berdiri, membiarkan ayunannya masih terus bergerak sendiri.</p>

<p>“Entaran.”</p>

<p>“Bilang Mama gue nganterin Mingyu ya.”</p>

<p>“Jangan nginep lo,” kekehnya.</p>

<p>Seungcheol hanya mengedipkan sebelah mata dengan bercanda. Wonwoo memerhatikan abangnya itu mendekati Mingyu di atas perosotan, berbicara padanya. Lelaki besar itu melompat turun dengan mudah, lalu melingkarkan lengan di sekitar bahu Seungcheol, menariknya ke dalam separuh pelukan. <em>Bro hug</em> yang inosen bagi mata dunia yang tidak mengetahui faktanya.</p>

<p>Wonwoo masih memerhatikan kedua sosok itu berjalan, menjauh dan menjauh, tertelan kegelapan malam.</p>

<p>Anak itu mendongak, menatap langit bertaburkan bintang di sekeliling bulan. Saat ia bernapas, uap putih muncul kembali, memberikan warna di latar hitam kebiruan. Jika boleh jujur, ia masih mencerna informasi barusan, masih belum bisa membalutkan pengakuan abangnya ke sekeliling kepalanya dengan sempurna. Wonwoo seolah dihisap kembali ke pemikirannya mengenai lawan jenis dan apa menariknya membicarakan soal cewek, dan bagaimana sekarang abangnya, kakak kandungnya, memilih <em>cowok</em>.</p>

<p>Aneh ya?</p>

<p>Kita pikir kita bakal bisa langsung menerima kalau ada suatu kejadian, sampai suatu kejadian itu benar-benar datang dan menimpa orang terdekat kita, dan kita baru sadar kalo hal itu <em>nyata</em>.</p>

<p>Wonwoo yakin dirinya tetap akan melihat Seungcheol sebagai Seungcheol. Rasa sayang pada abangnya tidak akan pernah berubah. Wonwoo yakin mereka sekeluarga akan baik-baik saja. Mungkin perlu waktu baginya melihat Mingyu sebagai partner Seungcheol. Selama ini, ia hanya melihat Seungcheol bersama Joshua dan-</p>

<p>Matanya mengerjap.</p>

<p><em>Joshua.</em></p>

<p>Anak itu mengambil rantai ayunan yang dingin di bawah sentuhannya. Bulan yang kini agak meredup, beristirahat sejenak dari tugasnya memantulkan sinar ke bumi, mencuri perhatian Wonwoo.</p>

<p>”.....Inget janji lo ke gue buat bahagia.”</p>

<p>Bisikan yang, Wonwoo harap, terbawa angin sampai ke belahan dunia sana.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/15-rynm</guid>
      <pubDate>Tue, 23 Nov 2021 15:16:00 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>14.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/14-zxlb?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wonshuaonesidedau&#xA;&#xA;Seungcheol ada di dalam kamarnya. Pas Wonwoo sampai rumah (dan membawa kecap titipan ibu mereka), abangnya itu membuka pintu dan mengajak Wonwoo masuk. Wonwoo ragu-ragu karena ia tidak ingin mengganggu Seungcheol dengan siapapun yang ada di dalam kamarnya saat itu. Ia bahkan tidak mau mengetahui siapa. Mungkin Soyoung yang namanya sesekali keluar di pembicaraan antara Seungcheol dengan Joshua dulu, sebelum ia berangkat ke Amerika setahun lalu. Mungkin gadis lain. Entahlah.&#xA;&#xA;Tapi, ah, Wonwoo masihlah bocah kelas 3 SMP yang lemah akan sorotan mata memelas abangnya. Seungcheol terlalu jago dalam memanfaatkan kelebihannya itu.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Akhirnya, menapak masuk lah ia.&#xA;&#xA;Lelaki yang ia layangkan pandangan menatapnya balik. Tinggi dan kulitnya berpigmen sawo matang yang sehat. Setelah beberapa kerjapan mata, lelaki itu pun tersenyum ramah pada Wonwoo, yang dibalas anak itu dengan kernyitan di kening.&#xA;&#xA;Siapa?&#xA;&#xA;&#34;Haiiii! Lo adeknya Bang Cheol ya??&#34; Wonwoo menyadari kalau ada taring yang mencuat kentara ketika lelaki itu tersenyum lebar. Tangan yang diulurkan padanya besar.&#xA;&#xA;Wonwoo menatap tangan itu sejenak.&#xA;&#xA;...Masih besaran tangan Joshua.&#xA;&#xA;Setengah hati, anak berkacamata itu menyambut uluran tersebut. Bagai anak anjing mendapat sambutan, lelaki itu kemudian menggoyangkan tangan Wonwoo ke atas dan ke bawah beberapa kali. Excited tanpa ditutup-tutupi.&#xA;&#xA;&#34;Kenalin, kenalin!&#34; serunya. &#34;Gue Mingyu!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh.&#34;&#xA;&#xA;Oh doang.&#xA;&#xA;&#34;Siapa nama lo???&#34;&#xA;&#xA;&#34;...Abang nggak kasitau?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gyu, gimana sih lo? Kan gue udah kasitau!&#34; terkekeh, Seungcheol menendang sisi kaki lelaki itu. &#34;Itu Wonu. Wonu. Inget baek-baek dong.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo menelengkan kepala. Buat apa temen baru abangnya itu inget namanya?&#xA;&#xA;...&#xA;&#xA;Apa mungkin....&#xA;&#xA;&#34;...Bang, ini...sahabat baru lo gantiin Joshua?&#34; ditunjuknya lelaki itu.&#xA;&#xA;&#34;Oh?? Lo kenal Kak Shua?&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo berkedip. Tidak menyangka lelaki asing itu mengetahui perihal Joshua.&#xA;&#xA;&#34;Kenal lah,&#34; Seungcheol merespon dengan tersenyum simpul. &#34;Nggak mungkin nggak kenal. Dia sering ke sini, maen sama gue.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo jadi terdiam. Kesibukan dan kurangnya komunikasi selama setahun belakangan membuatnya tidak sering mengingat sahabat abangnya itu, namun memori akan hari perpisahan mereka meluap mendadak di otaknya. Diam-diam, Wonwoo tersenyum.&#xA;&#xA;&#34;Hmph,&#34; 😤&#xA;&#xA;&#34;...Apa lagi, Gyu?&#34; Seungcheol menghela napas.&#xA;&#xA;&#34;Maen game doang kan? Nggak aneh-aneh?&#34; 😠&#xA;&#xA;&#34;Aneh-aneh apa sih, Wonu juga kamarnya sebelah banget kamar gue??&#34; ketawa.&#xA;&#xA;....🤨❓&#xA;&#xA;Lagi, Wonwoo menelengkan kepala.&#xA;&#xA;&#34;Wonu! Gue titip Bang Cheol ya!&#34; mendadak saja lelaki itu menoleh ke arahnya. Wonwoo kaget, apalagi ketika ada tangan menepuk-nepuk bahunya. &#34;Pokoknya kalo dia bandel, wa gue!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bentar deh, kenapa mendadak ada aliansi gini dah??&#34; protes Seungcheol. &#34;Ngalahin emak gue aja lu!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue nggak percaya anak kuliah baru masuk kayak lo nggak bandel, Bang. Anggep aja ini tindakan preventif gue, soalnya gue nggak bisa ngawasin lo kayak pas kita masih sekolah dulu!&#34; 😠&#xA;&#xA;&#34;Ya nggak usah diawasin??&#34; 🙄 &#34;Lo nggak percaya sama gue??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo laki, Bang. Punya titit. Gue tau seberapa fragile titit laki itu. Apalagi cewek di kampus pasti cakep-cakep!&#34; 😠&#xA;&#xA;&#34;Emm, kayaknya kalo liat siapa yang gue pacarin sekarang, cewek is the least of your concern deh, Gyu...&#34; 🙄&#xA;&#xA;&#34;Nggak usah pake gombalan manis lo ke gue, nggak mempan!&#34; 😠 &#34;Wonu! Pokoknya titip Bang Cheol ya! Awasin dia demi gue!&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo makin bingung lah.&#xA;&#xA;&#34;Janji???&#34; 😠&#xA;&#xA;&#34;Eh? Eh?&#34; 🤨❓❓❓&#xA;&#xA;&#34;JANJI YA???&#34; 😠😠&#xA;&#xA;&#34;Eh? Uh...o-oke...?&#34; 🤨💦❓❓❓&#xA;&#xA;Seungcheol cuma bisa menghela napas sambil mengusap wajahnya akan perkembangan tidak terduga ini.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshuaonesidedau" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">wonshuaonesidedau</span></a></p>

<p>Seungcheol ada di dalam kamarnya. Pas Wonwoo sampai rumah (dan membawa kecap titipan ibu mereka), abangnya itu membuka pintu dan mengajak Wonwoo masuk. Wonwoo ragu-ragu karena ia tidak ingin mengganggu Seungcheol dengan siapapun yang ada di dalam kamarnya saat itu. Ia bahkan tidak mau <em>mengetahui</em> siapa. Mungkin Soyoung yang namanya sesekali keluar di pembicaraan antara Seungcheol dengan Joshua dulu, sebelum ia berangkat ke Amerika setahun lalu. Mungkin gadis lain. Entahlah.</p>

<p>Tapi, ah, Wonwoo masihlah bocah kelas 3 SMP yang lemah akan sorotan mata memelas abangnya. Seungcheol terlalu jago dalam memanfaatkan kelebihannya itu.</p>



<p>Akhirnya, menapak masuk lah ia.</p>

<p>Lelaki yang ia layangkan pandangan menatapnya balik. Tinggi dan kulitnya berpigmen sawo matang yang sehat. Setelah beberapa kerjapan mata, lelaki itu pun tersenyum ramah pada Wonwoo, yang dibalas anak itu dengan kernyitan di kening.</p>

<p><em>Siapa?</em></p>

<p>“Haiiii! Lo adeknya Bang Cheol ya??” Wonwoo menyadari kalau ada taring yang mencuat kentara ketika lelaki itu tersenyum lebar. Tangan yang diulurkan padanya besar.</p>

<p>Wonwoo menatap tangan itu sejenak.</p>

<p><em>...Masih besaran tangan Joshua.</em></p>

<p>Setengah hati, anak berkacamata itu menyambut uluran tersebut. Bagai anak anjing mendapat sambutan, lelaki itu kemudian menggoyangkan tangan Wonwoo ke atas dan ke bawah beberapa kali. <em>Excited</em> tanpa ditutup-tutupi.</p>

<p>“Kenalin, kenalin!” serunya. “Gue Mingyu!”</p>

<p>“Oh.”</p>

<p>Oh doang.</p>

<p>“Siapa nama lo???”</p>

<p>”...Abang nggak kasitau?”</p>

<p>“Gyu, gimana sih lo? Kan gue udah kasitau!” terkekeh, Seungcheol menendang sisi kaki lelaki itu. “Itu Wonu. Wonu. Inget baek-baek dong.”</p>

<p>Wonwoo menelengkan kepala. <em>Buat apa temen baru abangnya itu inget namanya?</em></p>

<p>...</p>

<p>Apa mungkin....</p>

<p>”...Bang, ini...sahabat baru lo gantiin Joshua?” ditunjuknya lelaki itu.</p>

<p>“Oh?? Lo kenal Kak Shua?”</p>

<p>Wonwoo berkedip. Tidak menyangka lelaki asing itu mengetahui perihal Joshua.</p>

<p>“Kenal lah,” Seungcheol merespon dengan tersenyum simpul. “Nggak mungkin nggak kenal. Dia sering ke sini, maen sama gue.”</p>

<p>Wonwoo jadi terdiam. Kesibukan dan kurangnya komunikasi selama setahun belakangan membuatnya tidak sering mengingat sahabat abangnya itu, namun memori akan hari perpisahan mereka meluap mendadak di otaknya. Diam-diam, Wonwoo tersenyum.</p>

<p>“Hmph,” 😤</p>

<p>”...Apa lagi, Gyu?” Seungcheol menghela napas.</p>

<p>“Maen game doang kan? Nggak aneh-aneh?” 😠</p>

<p>“Aneh-aneh apa sih, Wonu juga kamarnya sebelah banget kamar gue??” ketawa.</p>

<p>....🤨❓</p>

<p>Lagi, Wonwoo menelengkan kepala.</p>

<p>“Wonu! Gue titip Bang Cheol ya!” mendadak saja lelaki itu menoleh ke arahnya. Wonwoo kaget, apalagi ketika ada tangan menepuk-nepuk bahunya. “Pokoknya kalo dia bandel, wa gue!”</p>

<p>“Bentar deh, kenapa mendadak ada aliansi gini dah??” protes Seungcheol. “Ngalahin emak gue aja lu!”</p>

<p>“Gue nggak percaya anak kuliah baru masuk kayak lo nggak bandel, Bang. Anggep aja ini tindakan preventif gue, soalnya gue nggak bisa ngawasin lo kayak pas kita masih sekolah dulu!” 😠</p>

<p>“Ya nggak usah diawasin??” 🙄 “Lo nggak percaya sama gue??”</p>

<p>“Lo laki, Bang. Punya titit. Gue tau seberapa fragile titit laki itu. Apalagi cewek di kampus pasti cakep-cakep!” 😠</p>

<p>“Emm, kayaknya kalo liat siapa yang gue pacarin sekarang, <em>cewek</em> is the least of your concern deh, Gyu...” 🙄</p>

<p>“Nggak usah pake gombalan manis lo ke gue, nggak mempan!” 😠 “Wonu! Pokoknya titip Bang Cheol ya! Awasin dia demi gue!”</p>

<p>Wonwoo makin bingung lah.</p>

<p>“Janji???” 😠</p>

<p>“Eh? Eh?” 🤨❓❓❓</p>

<p>“JANJI YA???” 😠😠</p>

<p>“Eh? Uh...o-oke...?” 🤨💦❓❓❓</p>

<p>Seungcheol cuma bisa menghela napas sambil mengusap wajahnya akan perkembangan tidak terduga ini.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/14-zxlb</guid>
      <pubDate>Tue, 23 Nov 2021 13:43:31 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>