<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>minwontk &amp;mdash; 🌾</title>
    <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwontk</link>
    <description>narrative writings of thesunmetmoon</description>
    <pubDate>Sat, 25 Apr 2026 02:45:16 +0000</pubDate>
    <image>
      <url>https://i.snap.as/K7JGOEOo.png</url>
      <title>minwontk &amp;mdash; 🌾</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwontk</link>
    </image>
    <item>
      <title>25.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/25?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwontk&#xA;&#xA;Maka, dimulailah keseharian baru Kim Mingyu. Karena dia sudah &#34;dilarang&#34; datang ke kantor, semakin semangatlah bapak satu anak ini mengurusi rumahnya. Ia jadi tahu bahwa ada beberapa tagihan yang belum sempat dibayar. Jadi mengenal pemilik toko beras dan gas langganan mereka. Ada renovasi kecil-kecilan yang diperlukan di rumah.&#xA;&#xA;Serta kondisi anak gadisnya.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Sekarang, setiap pagi buta, Kim Mingyu bangun untuk menyiapkan sarapan dan bekal anaknya. Dia juga mulai belajar mempercantik charaben buatannya. Hari ini dia membuat sekotak omurice bentuk beruang kecil yang merupakan maskot terkenal. Dia bentuk seolah beruangnya sedang tidur berselimutkan telur.&#xA;&#xA;Mingyu tersenyum. Ri belum mau makan bekalnya, tapi itu tidak masalah. Ia hanya perlu mencoba terus sampai, suatu hari, anaknya pasti memakannya.&#xA;&#xA;Hal lain yang ia sadari sebagai perubahan adalah pertukaran diari dengan guru anaknya. Jeon Wonwoo. Meski masih muda dan agak meragukan, tapi tulisannya rapi dan to the point. Ia tidak ragu menggaris bawahi apa yang ia pantau dari lapangan. Dari catatannya, Mingyu jadi tahu kalau Ri bukannya tidak suka masakannya, tapi menolak makan karena hal lain.&#xA;&#xA;&#34;Titip Ri ya,&#34; suatu pagi, Mingyu berkata padanya setelah menyerahkan Ri padanya.&#xA;&#xA;Jeon Wonwoo tersenyum.&#xA;&#xA;&#34;Hari ini bekal Ri yang dibuat Papa apa ya?&#34; alih-alih menjawab, Wonwoo malah bertanya pada anak itu.&#xA;&#xA;Gyuri hanya diam.&#xA;&#xA;&#34;Apapun itu, pasti enak ya. Bapak masih inget rasa ayam goreng buatan Papanya Ri. Enak banget.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu terkejut.&#xA;&#xA;&#34;Nanti kita makan siang sama-sama lagi ya, Ri?&#34;&#xA;&#xA;Masih diam, anak itu mengangguk, membiarkan gurunya menggandeng tangannya masuk ke TK.&#xA;&#xA;Mingyu hanya bisa bengong. Jadi Jeon Wonwoo suka masakannya....?&#xA;&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;&#xA;&#34;Ini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Apa ini?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Buat kamu,&#34; Mingyu meringis. Wonwoo memicingkan mata, kurang suka bagaimana dalam rentang dua minggu sejak pertemuan mereka, lelaki itu menanggalkan ucapan formalnya.&#xA;&#xA;(Mentang-mentang Wonwoo lebih muda 12 tahun darinya)&#xA;&#xA;Diterimanya sesuatu dibebat kain. Hangat terasa, juga harum masakan. Mata Wonwoo membulat ketika ia dengan cepat memandang ke arah Kim Mingyu, hanya untuk menemukan lelaki itu tersenyum lembut.&#xA;&#xA;&#34;Dimakan bareng Ri ya?&#34;&#xA;&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;&#xA;&#34;Ji.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ha?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Menurut lo, orang kalo bikinin makanan buat orang laen tuh kenapa ya?&#34;&#xA;&#xA;Jihoon mengangkat kepala dari buku besarnya.&#xA;&#xA;&#34;Bukannya itu tanda perhatian ya?&#34;&#xA;&#xA;Bukan. Pasti bukan itu.&#xA;&#xA;&#34;Ato rasa kasihan?&#34;&#xA;&#xA;Jihoon mempertimbangkan sejenak. &#34;Bisa jadi,&#34; ia kembali menekuni penghitungan kas keluar-masuknya.&#xA;&#xA;Wonwoo mendengus geli.&#xA;&#xA;Pity, huh? Fuck you, rich old man.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwontk" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">minwontk</span></a></p>

<p>Maka, dimulailah keseharian baru Kim Mingyu. Karena dia sudah “dilarang” datang ke kantor, semakin semangatlah bapak satu anak ini mengurusi rumahnya. Ia jadi tahu bahwa ada beberapa tagihan yang belum sempat dibayar. Jadi mengenal pemilik toko beras dan gas langganan mereka. Ada renovasi kecil-kecilan yang diperlukan di rumah.</p>

<p>Serta kondisi anak gadisnya.</p>



<p>Sekarang, setiap pagi buta, Kim Mingyu bangun untuk menyiapkan sarapan dan bekal anaknya. Dia juga mulai belajar mempercantik charaben buatannya. Hari ini dia membuat sekotak omurice bentuk beruang kecil yang merupakan maskot terkenal. Dia bentuk seolah beruangnya sedang tidur berselimutkan telur.</p>

<p>Mingyu tersenyum. Ri belum mau makan bekalnya, tapi itu tidak masalah. Ia hanya perlu mencoba terus sampai, suatu hari, anaknya pasti memakannya.</p>

<p>Hal lain yang ia sadari sebagai perubahan adalah pertukaran diari dengan guru anaknya. Jeon Wonwoo. Meski masih muda dan agak meragukan, tapi tulisannya rapi dan to the point. Ia tidak ragu menggaris bawahi apa yang ia pantau dari lapangan. Dari catatannya, Mingyu jadi tahu kalau Ri bukannya tidak suka masakannya, tapi menolak makan karena hal lain.</p>

<p>“Titip Ri ya,” suatu pagi, Mingyu berkata padanya setelah menyerahkan Ri padanya.</p>

<p>Jeon Wonwoo tersenyum.</p>

<p>“Hari ini bekal Ri yang dibuat Papa apa ya?” alih-alih menjawab, Wonwoo malah bertanya pada anak itu.</p>

<p>Gyuri hanya diam.</p>

<p>“Apapun itu, pasti enak ya. Bapak masih inget rasa ayam goreng buatan Papanya Ri. Enak banget.”</p>

<p>Mingyu terkejut.</p>

<p>“Nanti kita makan siang sama-sama lagi ya, Ri?”</p>

<p>Masih diam, anak itu mengangguk, membiarkan gurunya menggandeng tangannya masuk ke TK.</p>

<p>Mingyu hanya bisa bengong. Jadi Jeon Wonwoo suka masakannya....?</p>

<p>.
.
.</p>

<p>“Ini.”</p>

<p>“Apa ini?”</p>

<p>“Buat kamu,” Mingyu meringis. Wonwoo memicingkan mata, kurang suka bagaimana dalam rentang dua minggu sejak pertemuan mereka, lelaki itu menanggalkan ucapan formalnya.</p>

<p>(Mentang-mentang Wonwoo lebih muda 12 tahun darinya)</p>

<p>Diterimanya sesuatu dibebat kain. Hangat terasa, juga harum masakan. Mata Wonwoo membulat ketika ia dengan cepat memandang ke arah Kim Mingyu, hanya untuk menemukan lelaki itu tersenyum lembut.</p>

<p>“Dimakan bareng Ri ya?”</p>

<p>.
.
.</p>

<p>“Ji.”</p>

<p>“Ha?”</p>

<p>“Menurut lo, orang kalo bikinin makanan buat orang laen tuh kenapa ya?”</p>

<p>Jihoon mengangkat kepala dari buku besarnya.</p>

<p>“Bukannya itu tanda perhatian ya?”</p>

<p>Bukan. Pasti bukan itu.</p>

<p>“Ato rasa kasihan?”</p>

<p>Jihoon mempertimbangkan sejenak. “Bisa jadi,” ia kembali menekuni penghitungan kas keluar-masuknya.</p>

<p>Wonwoo mendengus geli.</p>

<p>Pity, huh? Fuck you, rich old man.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/25</guid>
      <pubDate>Mon, 01 Jun 2020 03:27:36 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>21.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/21?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwontk&#xA;&#xA;&#34;Selamat sore. Saya mau jemput anak saya, Gyuri.&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Mendengar nama itu disebut, Wonwoo lantas beranjak. Ia tahu suara itu karena akhir-akhir ini sering datang ke TK. Pemiliknya adalah sosok yang tinggi dan tampan, yang sering ia dengar di dalam bisikan antusias para ibu murid-muridnya yang lain. Makanya, ketika ia menghampiri Mingyu, ia tersenyum karena tak merasa asing.&#xA;&#xA;&#34;Sore, Pak Kim. Ri sedang bebenah mainannya. Bisa kita bicara sebentar Pak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh?&#34; sebuah kesadaran terbentuk di paras. &#34;Jangan-jangan ini-&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jeon Wonwoo. Salam kenal,&#34; diulurkannya tangan yang disambut Mingyu dengan jabatan. &#34;Saya guru anak Bapak.&#34;&#xA;&#xA;Mereka melipir ke sebuah ruangan kosong. Menilik dari beberapa meja dan berkas-berkas, Mingyu menebak bahwa mereka sedang berada di ruang staff pendidik. Ada set sofa di tengah ruangan itu, maka mereka duduk di sana.&#xA;&#xA;&#34;Begini, Pak,&#34; Wonwoo memulai. &#34;Saya perhatikan kalau Gyuri nggak mau makan bekalnya. Saya pikir karena tadinya dia nggak pernah dibawain bekal, terus mendadak dibekalin. Jadi kaget. Tapi biasanya anak-anak kalau dibawain gitu, yang kejadian adalah sebaliknya. Udah gitu, dia makin murung udah semingguan ini.&#xA;&#xA;Mungkin...Bapak tau penyebabnya?&#34;&#xA;&#xA;Mingyu hanya diam terpekur.&#xA;&#xA;&#34;....Pak Kim,&#34; Wonwoo mencoba lagi. &#34;Maaf kalo saya lancang, tapi boleh saya tanya mengenai ibunya Gyuri? Karena sebelum ini, kami selalu korespondensi sama ibunya. Mungkin itu juga penyebab-&#34;&#xA;&#xA;&#34;Pergi,&#34; dipotongnya ucapan lelaki itu. &#34;Ibunya pergi. Saya juga nggak tau kemana, Pak. Cuma tau pas saya bangun, dia udah nggak ada.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo tidak tahu harus berkata apa selain mulut membentuk huruf &#39;o&#39;, apalagi kalau melihat raut muka lelaki itu. Antara sedih dan bingung, dan...penyesalan? Entahlah. Wonwoo bukan cenayang.&#xA;&#xA;(Dan dia nggak peduli soal rumah tangga orang lain, ck)&#xA;&#xA;&#34;Mmm...mungkin itu juga penyebab Ri nggak mau makan...,&#34; ini sudah bukan ranah guru TK lagi, Kakek Sialan, batin Wonwoo. &#34;Apa Bapak mempertimbangkan bawa Ri ke psikolog anak? Mungkin bisa membantu?&#34;&#xA;&#xA;Mingyu tampak terkejut. &#34;Ri nggak separah itu kan?&#34; tanyanya. Badan maju dari senderan kursi.&#xA;&#xA;&#34;Terus terang, saya nggak tau, Pak. Itu hanya saran. Kembali lagi, Gyuri anak Bapak. Saya akan bantu semampu saya sesuai kapasitas saya sebagai guru, tapi sisanya saya perlu kerja sama Bapak di rumah untuk perhatiin Ri lebih dari yang lalu, apalagi dia sekarang cuma punya ayahnya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi...tapi Ri selama ini kan kami perhatiin....&#34;&#xA;&#xA;&#34;Pak Kim,&#34; Wonwoo tersenyum lemah. &#34;Bapak tau kalo kita punya buku diari antara orangtua dan guru?&#34;&#xA;&#xA;Mingyu mengangguk.&#xA;&#xA;&#34;Saya belum pernah nerima diari itu dari Gyuri dengan tulisan ibunya di dalamnya, Pak.&#34;&#xA;&#xA;Hening.&#xA;&#xA;&#34;Jadi, saya mohon Bapak lebih perhatiin anak Bapak dan mohon kalau ada sesuatu, laporin di diari itu. Saya juga akan begitu. Biar kita sama-sama tau gimana biar Gyuri ceria lagi.&#34;&#xA;&#xA;Pandangan mereka bertemu.&#xA;&#xA;Sekali lagi, Mingyu mengangguk.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwontk" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">minwontk</span></a></p>

<p>“Selamat sore. Saya mau jemput anak saya, Gyuri.”</p>



<p>Mendengar nama itu disebut, Wonwoo lantas beranjak. Ia tahu suara itu karena akhir-akhir ini sering datang ke TK. Pemiliknya adalah sosok yang tinggi dan tampan, yang sering ia dengar di dalam bisikan antusias para ibu murid-muridnya yang lain. Makanya, ketika ia menghampiri Mingyu, ia tersenyum karena tak merasa asing.</p>

<p>“Sore, Pak Kim. Ri sedang bebenah mainannya. Bisa kita bicara sebentar Pak?”</p>

<p>“Oh?” sebuah kesadaran terbentuk di paras. “Jangan-jangan ini-”</p>

<p>“Jeon Wonwoo. Salam kenal,” diulurkannya tangan yang disambut Mingyu dengan jabatan. “Saya guru anak Bapak.”</p>

<p>Mereka melipir ke sebuah ruangan kosong. Menilik dari beberapa meja dan berkas-berkas, Mingyu menebak bahwa mereka sedang berada di ruang staff pendidik. Ada set sofa di tengah ruangan itu, maka mereka duduk di sana.</p>

<p>“Begini, Pak,” Wonwoo memulai. “Saya perhatikan kalau Gyuri nggak mau makan bekalnya. Saya pikir karena tadinya dia nggak pernah dibawain bekal, terus mendadak dibekalin. Jadi kaget. Tapi biasanya anak-anak kalau dibawain gitu, yang kejadian adalah sebaliknya. Udah gitu, dia makin murung udah semingguan ini.</p>

<p>Mungkin...Bapak tau penyebabnya?”</p>

<p>Mingyu hanya diam terpekur.</p>

<p>”....Pak Kim,” Wonwoo mencoba lagi. “Maaf kalo saya lancang, tapi boleh saya tanya mengenai ibunya Gyuri? Karena sebelum ini, kami selalu korespondensi sama ibunya. Mungkin itu juga penyebab-”</p>

<p>“Pergi,” dipotongnya ucapan lelaki itu. “Ibunya pergi. Saya juga nggak tau kemana, Pak. Cuma tau pas saya bangun, dia udah nggak ada.”</p>

<p>Wonwoo tidak tahu harus berkata apa selain mulut membentuk huruf &#39;o&#39;, apalagi kalau melihat raut muka lelaki itu. Antara sedih dan bingung, dan...penyesalan? Entahlah. Wonwoo bukan cenayang.</p>

<p>(Dan dia nggak peduli soal rumah tangga orang lain, ck)</p>

<p>“Mmm...mungkin itu juga penyebab Ri nggak mau makan...,” ini sudah bukan ranah guru TK lagi, Kakek Sialan, batin Wonwoo. “Apa Bapak mempertimbangkan bawa Ri ke psikolog anak? Mungkin bisa membantu?”</p>

<p>Mingyu tampak terkejut. “Ri nggak separah itu kan?” tanyanya. Badan maju dari senderan kursi.</p>

<p>“Terus terang, saya nggak tau, Pak. Itu hanya saran. Kembali lagi, Gyuri anak Bapak. Saya akan bantu semampu saya sesuai kapasitas saya sebagai guru, tapi sisanya saya perlu kerja sama Bapak di rumah untuk perhatiin Ri lebih dari yang lalu, apalagi dia sekarang cuma punya ayahnya.”</p>

<p>“Tapi...tapi Ri selama ini kan kami perhatiin....”</p>

<p>“Pak Kim,” Wonwoo tersenyum lemah. “Bapak tau kalo kita punya buku diari antara orangtua dan guru?”</p>

<p>Mingyu mengangguk.</p>

<p>“Saya belum pernah nerima diari itu dari Gyuri dengan tulisan ibunya di dalamnya, Pak.”</p>

<p>Hening.</p>

<p>“Jadi, saya mohon Bapak lebih perhatiin anak Bapak dan mohon kalau ada sesuatu, laporin di diari itu. Saya juga akan begitu. Biar kita sama-sama tau gimana biar Gyuri ceria lagi.”</p>

<p>Pandangan mereka bertemu.</p>

<p>Sekali lagi, Mingyu mengangguk.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/21</guid>
      <pubDate>Mon, 01 Jun 2020 01:57:36 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>16.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/16?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwontk&#xA;&#xA;&#34;Se-la-mat ma-kan, Pak Gu-ru\~! Se-la-mat ma-kan, te-man-te-man\~!&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Kemudian, mereka semua menyantap bekal masing-masing. Wonwoo memerhatikan anak-anak di kelasnya. Mereka makan dengan riang gembira. Ada yang sedang berusaha keras menusuk daging goreng tepungnya menggunakan garpu plastik. Ada yang menyuap nasi dan berjatuhan ke meja (Wonwoo menghela napas, mencatat dalam ingatan untuk meminta ibu Yena mengajari lagi anaknya di rumah). Beberapa mengobrol dengan teman sebelahnya, memamerkan bekal buatan ibu atau mainan yang dibelikan ayah mereka.&#xA;&#xA;Pandangan Wonwoo terus berjalan hingga pada akhirnya berhenti di sosok tertentu. Sosok yang menunduk sambil merengut menatap kotak bekal yang masih diikat kain di atas mejanya. Wonwoo, ikut mengernyitkan alis, mendekati sosok tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Kok nggak dimakan?&#34; ia berjongkok di samping bangku anak itu agar pandangan mata mereka sejajar. Kim Gyuri menoleh, lalu menggeleng.&#xA;&#xA;&#34;....Makanan Ri nggak enak ya?&#34; tanyanya lagi.&#xA;&#xA;Kembali, sebuah gelengan.&#xA;&#xA;&#34;Boleh Pak Guru buka kotak bekalnya?&#34;&#xA;&#xA;Anak itu terdiam cukup lama, sepertinya sedang berpikir masak-masak, sebelum kepalanya kini mengangguk. Wonwoo tersenyum tipis, lalu tangannya bergerak untuk membuka bebatan kain warna stroberi. Sebuah kotak makan kecil yang tidak kalah lucunya pun muncul. Kemudian, ia membuka tutupnya.&#xA;&#xA;&#34;Wow...&#34;&#xA;&#xA;Nasi kepal dibentuk seperti panda. Sosis mirip gurita lengkap dengan mata dan mulutnya. Ada daging ayam tanpa tulang digoreng tepung. Telur gulung isi bayam. Tomat ceri. Buah anggur berwarna hijau. Salad kentang dengan saus mayones dan potongan kecil wortel juga timun. Perpaduan warna serta harumnya masakan membuat Wonwoo meneguk ludah diam-diam.&#xA;&#xA;Bohong kalau Wonwoo bilang dirinya tidak iri melihat makanan seenak ini (apalagi fakta menyedihkan kalau biaya makan siang para staff dipotong lagi demi kelancaran operasional) tepat di depan batang hidungnya. Rasanya ingin ia guncangkan Kim Gyuri di bahu, menyadarkan anak itu bahwa bisa makan selezat ini adalah salah satu kebahagiaan dunia yang akan menjadi langka ketika anak itu dewasa nanti, namun ia tahan karena ingat statusnya sebagai guru. Alih-alih, Wonwoo berdeham, menelan lagi liurnya sebelum jatuh memalukan.&#xA;&#xA;&#34;Kayaknya enak tuh. Yok makan?&#34; senyumnya terkembang. &#34;Ato Ri mau makan sama-sama Pak Guru? Biar Pak Guru bawa makanan Bapak dan makan di samping Ri?&#34;&#xA;&#xA;Usapan lembut secara konstan di kepala anak perempuan itu membuatnya mengangguk pelan. Wonwoo menghela napas. Ia beranjak untuk mengambil jatah makan siangnya sendiri lalu duduk bersila di samping Gyuri. Kebetulan, meja kecil di sana kosong. Pandangan Kim Gyuri jatuh ke piring makan Wonwoo yang, mohon maaf, cukup mengenaskan. Hanya berupa nasi yang sedikit lembek karena Jihoon menambahkan banyak air ke beras mereka, sepotong kecil daging ayam entah bagian mana, dua keping tahu ditumis dengan sayuran kubis dan wotel. Sudah. Itu saja.&#xA;&#xA;Sungguh bergizi, ejek Wonwoo dalam hati.&#xA;&#xA;Menyadari anak itu menatap piringnya, Wonwoo memaksakan tersenyum. &#34;Makanan Bapak nggak semewah bekal Ri nih,&#34; ucapnya sok ringan, padahal malu juga diperhatikan begitu oleh anak kecil. Seperti ketahuan miskinnya. &#34;Yok makan?&#34;&#xA;&#xA;Kim Gyuri balik menatap bekalnya sendiri. Cukup lama sampai Wonwoo membiarkannya, menyuap nasinya sendiri dan mulai makan. Ketika anak itu bergerak, garpu plastiknya menusuk salah satu ayam goreng tepung yang berbentuk bulat lucu dan disusrukkannya ke depan mulut Wonwoo.&#xA;&#xA;&#34;Aa,&#34; ucapnya.&#xA;&#xA;&#34;Eeeehhh...Nggak usah, itu kan makanan Ri--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aaaaaa.&#34;&#xA;&#xA;Keras kepala.&#xA;&#xA;Wonwoo menahan decakan lidah, berusaha tersenyum manis. &#34;Bener nih nggak apa-apa? Bapak bagi ya?&#34; anak itu bergeming. Wonwoo pun mau tak mau menyerah. &#34;Aa...&#34;&#xA;&#xA;Kres.&#xA;&#xA;Oh.&#xA;&#xA;Oh.&#xA;&#xA;Kunyahan yang pelan berubah menjadi lebih cepat. Tiap kunyahan membuat bola mata Wonwoo kian membulat. Enak. Enak sekali. Seolah ia baru makan makanan layak setelah dua puluh dua tahun ia hidup di dunia. Seolah, selama ini, makanan yang masuk ke tubuhnya adalah sampah (sorry not sorry, Ji). Wonwoo masih terkagum-kagum ketika daging ayam itu hilang begitu saja ke dalam perutnya.&#xA;&#xA;Ketika ia sadar, Kim Gyuri sedang meringis lebar.&#xA;&#xA;&#34;........Siapa yang masakin bekalnya Ri?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Papa,&#34; Gyuri menyuap nasi dengan telur goreng isi bayam.&#xA;&#xA;&#34;Papa,&#34; ulang Wonwoo. &#34;Papa Ri pinter masak ya?&#34;&#xA;&#xA;Anggukan datang sebagai jawaban.&#xA;&#xA;&#34;Terus, kalo Papa Ri bisa bikin makanan seenak ini, kenapa Ri kemarin-marin nggak mau makan?&#34;&#xA;&#xA;Tangan Gyuri berhenti menyuap.&#xA;&#xA;Wah, gawat, batin Wonwoo.&#xA;&#xA;&#34;Pak Guru, tuker,&#34; anak itu mulai merengek. &#34;Tuker. Makanan Ri buat Pak Guru ajah. Ri makan itu.&#34;&#xA;&#xA;Dia salah bicara.&#xA;&#xA;&#34;Eh, jangaann...makanannya nggak enak. Makanan Ri lebih enak, makan itu aja ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tuuukkkeeeerrrrrrrr!&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo menghela napas. Kepalanya mulai pening.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwontk" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">minwontk</span></a></p>

<p>“Se-la-mat ma-kan, Pak Gu-ru~! Se-la-mat ma-kan, te-man-te-man~!”</p>



<p>Kemudian, mereka semua menyantap bekal masing-masing. Wonwoo memerhatikan anak-anak di kelasnya. Mereka makan dengan riang gembira. Ada yang sedang berusaha keras menusuk daging goreng tepungnya menggunakan garpu plastik. Ada yang menyuap nasi dan berjatuhan ke meja (Wonwoo menghela napas, mencatat dalam ingatan untuk meminta ibu Yena mengajari lagi anaknya di rumah). Beberapa mengobrol dengan teman sebelahnya, memamerkan bekal buatan ibu atau mainan yang dibelikan ayah mereka.</p>

<p>Pandangan Wonwoo terus berjalan hingga pada akhirnya berhenti di sosok tertentu. Sosok yang menunduk sambil merengut menatap kotak bekal yang masih diikat kain di atas mejanya. Wonwoo, ikut mengernyitkan alis, mendekati sosok tersebut.</p>

<p>“Kok nggak dimakan?” ia berjongkok di samping bangku anak itu agar pandangan mata mereka sejajar. Kim Gyuri menoleh, lalu menggeleng.</p>

<p>”....Makanan Ri nggak enak ya?” tanyanya lagi.</p>

<p>Kembali, sebuah gelengan.</p>

<p>“Boleh Pak Guru buka kotak bekalnya?”</p>

<p>Anak itu terdiam cukup lama, sepertinya sedang berpikir masak-masak, sebelum kepalanya kini mengangguk. Wonwoo tersenyum tipis, lalu tangannya bergerak untuk membuka bebatan kain warna stroberi. Sebuah kotak makan kecil yang tidak kalah lucunya pun muncul. Kemudian, ia membuka tutupnya.</p>

<p>“Wow...”</p>

<p>Nasi kepal dibentuk seperti panda. Sosis mirip gurita lengkap dengan mata dan mulutnya. Ada daging ayam tanpa tulang digoreng tepung. Telur gulung isi bayam. Tomat ceri. Buah anggur berwarna hijau. Salad kentang dengan saus mayones dan potongan kecil wortel juga timun. Perpaduan warna serta harumnya masakan membuat Wonwoo meneguk ludah diam-diam.</p>

<p>Bohong kalau Wonwoo bilang dirinya tidak iri melihat makanan seenak ini (apalagi fakta menyedihkan kalau biaya makan siang para staff dipotong lagi demi kelancaran operasional) tepat di depan batang hidungnya. Rasanya ingin ia guncangkan Kim Gyuri di bahu, menyadarkan anak itu bahwa bisa makan selezat ini adalah salah satu kebahagiaan dunia yang akan menjadi langka ketika anak itu dewasa nanti, namun ia tahan karena ingat statusnya sebagai guru. Alih-alih, Wonwoo berdeham, menelan lagi liurnya sebelum jatuh memalukan.</p>

<p>“Kayaknya enak tuh. Yok makan?” senyumnya terkembang. “Ato Ri mau makan sama-sama Pak Guru? Biar Pak Guru bawa makanan Bapak dan makan di samping Ri?”</p>

<p>Usapan lembut secara konstan di kepala anak perempuan itu membuatnya mengangguk pelan. Wonwoo menghela napas. Ia beranjak untuk mengambil jatah makan siangnya sendiri lalu duduk bersila di samping Gyuri. Kebetulan, meja kecil di sana kosong. Pandangan Kim Gyuri jatuh ke piring makan Wonwoo yang, mohon maaf, cukup mengenaskan. Hanya berupa nasi yang sedikit lembek karena Jihoon menambahkan banyak air ke beras mereka, sepotong kecil daging ayam entah bagian mana, dua keping tahu ditumis dengan sayuran kubis dan wotel. Sudah. Itu saja.</p>

<p>Sungguh bergizi, ejek Wonwoo dalam hati.</p>

<p>Menyadari anak itu menatap piringnya, Wonwoo memaksakan tersenyum. “Makanan Bapak nggak semewah bekal Ri nih,” ucapnya sok ringan, padahal malu juga diperhatikan begitu oleh anak kecil. Seperti ketahuan miskinnya. “Yok makan?”</p>

<p>Kim Gyuri balik menatap bekalnya sendiri. Cukup lama sampai Wonwoo membiarkannya, menyuap nasinya sendiri dan mulai makan. Ketika anak itu bergerak, garpu plastiknya menusuk salah satu ayam goreng tepung yang berbentuk bulat lucu dan disusrukkannya ke depan mulut Wonwoo.</p>

<p>“Aa,” ucapnya.</p>

<p>“Eeeehhh...Nggak usah, itu kan makanan Ri—”</p>

<p>“Aaaaaa.”</p>

<p>Keras kepala.</p>

<p>Wonwoo menahan decakan lidah, berusaha tersenyum manis. “Bener nih nggak apa-apa? Bapak bagi ya?” anak itu bergeming. Wonwoo pun mau tak mau menyerah. “Aa...”</p>

<p>Kres.</p>

<p>Oh.</p>

<p>Oh.</p>

<p>Kunyahan yang pelan berubah menjadi lebih cepat. Tiap kunyahan membuat bola mata Wonwoo kian membulat. Enak. Enak sekali. Seolah ia baru makan makanan layak setelah dua puluh dua tahun ia hidup di dunia. Seolah, selama ini, makanan yang masuk ke tubuhnya adalah sampah (sorry not sorry, Ji). Wonwoo masih terkagum-kagum ketika daging ayam itu hilang begitu saja ke dalam perutnya.</p>

<p>Ketika ia sadar, Kim Gyuri sedang meringis lebar.</p>

<p>”........Siapa yang masakin bekalnya Ri?”</p>

<p>“Papa,” Gyuri menyuap nasi dengan telur goreng isi bayam.</p>

<p>“Papa,” ulang Wonwoo. “Papa Ri pinter masak ya?”</p>

<p>Anggukan datang sebagai jawaban.</p>

<p>“Terus, kalo Papa Ri bisa bikin makanan seenak ini, kenapa Ri kemarin-marin nggak mau makan?”</p>

<p>Tangan Gyuri berhenti menyuap.</p>

<p>Wah, gawat, batin Wonwoo.</p>

<p>“Pak Guru, tuker,” anak itu mulai merengek. “Tuker. Makanan Ri buat Pak Guru ajah. Ri makan itu.”</p>

<p>Dia salah bicara.</p>

<p>“Eh, jangaann...makanannya nggak enak. Makanan Ri lebih enak, makan itu aja ya?”</p>

<p>“Tuuukkkeeeerrrrrrrr!”</p>

<p>Wonwoo menghela napas. Kepalanya mulai pening.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/16</guid>
      <pubDate>Tue, 26 May 2020 06:27:04 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>11.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/11?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwontk&#xA;&#xA;Jam empat pagi dan ia sudah turun dari tempat tidur. Meski terlelap hanya empat jam, ia mengacuhkan fakta itu untuk membuatkan bekal bagi anak perempuannya. Dengan mata belekan dan rambut kusut masai, Kim Mingyu menghidupkan lampu dapur. Langit di luar jendela masih gelap. Udara pun masih dingin.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Ia terpekur sejenak di depan pintu kulkas yang terbuka, mempertimbangkan akan membuat apa. Wortel, sudah pasti. Ada sedikit sisa daging ayam mentah bagian paha bawah tanpa tulang. Juga sekotak kecil tomat ceri. Sosis...sosis boleh. Ia masih mempertimbangkan apakah akan menambahkan sepotong telur gulung ketika ia mengeluarkan semua bahan tersebut berikut daun selada sebagai alasnya.&#xA;&#xA;Selain sebagai alas, daun selada akan mengisi relung-relung yang timbul akibat peletakan masing-masing makanan, karena sejatinya, bento itu harus rapat tanpa jeda agar makanan tidak bergeser dan merusak komposisi. Selain itu, warna hijau akan melengkapi keseimbangan warna, menonjolkan warna yang lebih mengundang perhatian seperti merahnya tomat ceri, dan memberi kesan sejuk bagi yang memandangnya.&#xA;&#xA;Setelah menghidupkan magic jar (masih ada sisa nasi yang ia masak kemarin), Mingyu pun mulai mempersiapkan bahan-bahannya. Tomat ceri ia cabut bagian atasnya. Wortel dipotong sedikit lalu ia kupas kulit luarnya. Untuk selada, ia tidak menggunakan pisau, melainkan dirobeknya dengan tangan menjadi serpihan yang lebih cocok ditata di kotak bekal, karena terkadang ada rasa logam tertinggal bila memotong sayuran bentuk daun yang dimakan langsung tanpa diolah lagi. Kesemua sayuran itu ia cuci dengan air matang sampai bersih.&#xA;&#xA;Kemudian, di atas talenan, ia menggurat empat sisi-sisi wortel. Dibentuknya semacam &#39;selokan&#39; kecil dengan cara memotong guratan tersebut, menciptakan bentuk &#39;kembang&#39;. Kemudian, ia memotongnya seperti biasa. Tiap potongan otomatis membentuk &#39;kembang&#39; mungil.&#xA;&#xA;(Ingatkan dia untuk browsing peralatan membuat bento di internet kantor hari ini karena, seingatnya, ada cetakan untuk membuat bunga yang lucu.)&#xA;&#xA;Ia kemudian menjerang air dalam panci kecil di atas kompor. Setelah air mendidih, dimasukkannya potongan wortel untuk direbusnya sampai lunak bagi gigi balita.&#xA;&#xA;Sembari menunggu wortel matang, Kim Mingyu membalik talenan. Kini, ia memotong sosis menjadi bentuk gurita lagi, sesuai ajaran Joshua kemarin hari. Kemudian, daging ayam, dibersihkannya dari lemak-lemak mengganggu, lalu dibumbuinya dengan garam. Kim Mingyu mengambil tepung beras, karena tepung kentang yang biasa dipakai di resep-resep agak susah didapatkan di mini market terdekat. Ia menaburnya di atas daging ayam dan diaduknya hingga rata.&#xA;&#xA;Di wajan kecil di samping panci berisikan rebusan wortel, ia menggoreng sosis hingga kaki-kakinya merekah. Setelah itu, ia angkat dan ditaruhnya di piring. Ia menyadari bahwa wortelnya sudah cukup lunak, sudah bisa ditusuk dengan tusuk gigi. Diangkatnya dari kompor, kemudian ia meniriskan airnya. Cantik. Warna wortelnya pun bagus.&#xA;&#xA;Menggunakan panci kecil yang berbeda (kali ini khusus untuk menggoreng), Mingyu memanaskan banyak minyak. Tidak terlalu banyak, sebenarnya, tetapi cukup untuk menenggelamkan daging ayamnya. Untuk mengukur panas, ia melempar setetes adonan tepung beras. Dirasa cukup, dicemplungkannya potongan ayam itu. Api dikecilkan agar ayam matang merata tanpa membuat gosong kulit luarnya.&#xA;&#xA;Minyak bening mendesis dan membentuk buih di sekeliling si ayam. Mingyu mengambil kotak bekal kecil milik anaknya. Ia mulai menata daun selada sebagai alas makanan lainnya. Sebutir daging ayam tanpa tulang tidak membutuhkan waktu lama untuk matang. Maka, ia meninggalkan sejenak kegiatannya untuk mengecek kondisi si ayam goreng tepung. Sudah matang. Mingyu mematikan kompor dan mengangkat ayam itu ke piring yang sama dengan sosis.&#xA;&#xA;Semua bahan sudah siap. Sekarang waktunya mendekorasi.&#xA;&#xA;Yosh.&#xA;&#xA;Kim Mingyu mengambil senjata baru. Sebuah alat untuk membuat nasi kepal bentuk panda. Itu adalah cetakan bentuk kepala panda. Dengan cepat, ia mengisi cetakan itu dengan nasi (ada bagusnya juga ia sudah mengganti beras hariannya ke beras japonica, jadi ia tak perlu memasak nasi lagi), lalu ditekannya kuat, memastikan nasinya tercetak padat. Lalu, ia menaruh nasi bentuk kepala panda itu ke piring lain yang lebih ceper. Ia membuat dua kepala panda.&#xA;&#xA;Rumput laut kering datang kemudian. Menggunakan stamp khusus, dicetaknya lembaran rumput laut itu membentuk sepasang telinga, mata dan hidung serta mulut. Mingyu sempat terkagum-kagum akan hasilnya. Rasanya hebat sekali. Sekarang, membuat sesuatu yang lucu bisa dilakukan dengan begitu mudahnya. Kemudian, ia tinggal menghias nasi bentuk kepala panda itu dengan rumput lautnya.&#xA;&#xA;Selesai.&#xA;&#xA;Mingyu pertama memasukkan dua nasi kepal tersebut, barulah makanan lainnya. Tomat ceri di sebelah kiri belakang, lalu ayam goreng tepung. Sebelah kanannya lagi adalah sosis. Terakhir, taman bunga wortel. Agar makin menarik, Mingyu menambahkan wijen hitam sebagai mata si sosis gurita.&#xA;&#xA;(Ingatkan dia juga untuk mencari cara membuat mata selain pakai wijen hitam)&#xA;&#xA;Beres.&#xA;&#xA;Ia menghela napas. Cukup puas dengan bekal yang ia buat hari ini. Jelas lebih lucu dari yang pertama, karena ada nasi kepal bentuk panda. Sambil berdoa kalau anaknya akan memakan bekal itu dengan senyuman, Kim Mingyu menoleh. Jam di dinding bilang sudah pukul lima lebih tiga puluh. Ia harus membangunkan Ri setengah jam lagi, lalu bersiap mandi untuk mengantarnya dan berangkat kerja.&#xA;&#xA;Kim Mingyu menguap lebar.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwontk" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">minwontk</span></a></p>

<p>Jam empat pagi dan ia sudah turun dari tempat tidur. Meski terlelap hanya empat jam, ia mengacuhkan fakta itu untuk membuatkan bekal bagi anak perempuannya. Dengan mata belekan dan rambut kusut masai, Kim Mingyu menghidupkan lampu dapur. Langit di luar jendela masih gelap. Udara pun masih dingin.</p>



<p>Ia terpekur sejenak di depan pintu kulkas yang terbuka, mempertimbangkan akan membuat apa. Wortel, sudah pasti. Ada sedikit sisa daging ayam mentah bagian paha bawah tanpa tulang. Juga sekotak kecil tomat ceri. Sosis...sosis boleh. Ia masih mempertimbangkan apakah akan menambahkan sepotong telur gulung ketika ia mengeluarkan semua bahan tersebut berikut daun selada sebagai alasnya.</p>

<p>Selain sebagai alas, daun selada akan mengisi relung-relung yang timbul akibat peletakan masing-masing makanan, karena sejatinya, bento itu harus rapat tanpa jeda agar makanan tidak bergeser dan merusak komposisi. Selain itu, warna hijau akan melengkapi keseimbangan warna, menonjolkan warna yang lebih mengundang perhatian seperti merahnya tomat ceri, dan memberi kesan sejuk bagi yang memandangnya.</p>

<p>Setelah menghidupkan magic jar (masih ada sisa nasi yang ia masak kemarin), Mingyu pun mulai mempersiapkan bahan-bahannya. Tomat ceri ia cabut bagian atasnya. Wortel dipotong sedikit lalu ia kupas kulit luarnya. Untuk selada, ia tidak menggunakan pisau, melainkan dirobeknya dengan tangan menjadi serpihan yang lebih cocok ditata di kotak bekal, karena terkadang ada rasa logam tertinggal bila memotong sayuran bentuk daun yang dimakan langsung tanpa diolah lagi. Kesemua sayuran itu ia cuci dengan air matang sampai bersih.</p>

<p>Kemudian, di atas talenan, ia menggurat empat sisi-sisi wortel. Dibentuknya semacam &#39;selokan&#39; kecil dengan cara memotong guratan tersebut, menciptakan bentuk &#39;kembang&#39;. Kemudian, ia memotongnya seperti biasa. Tiap potongan otomatis membentuk &#39;kembang&#39; mungil.</p>

<p>(Ingatkan dia untuk browsing peralatan membuat bento di internet kantor hari ini karena, seingatnya, ada cetakan untuk membuat bunga yang lucu.)</p>

<p>Ia kemudian menjerang air dalam panci kecil di atas kompor. Setelah air mendidih, dimasukkannya potongan wortel untuk direbusnya sampai lunak bagi gigi balita.</p>

<p>Sembari menunggu wortel matang, Kim Mingyu membalik talenan. Kini, ia memotong sosis menjadi bentuk gurita lagi, sesuai ajaran Joshua kemarin hari. Kemudian, daging ayam, dibersihkannya dari lemak-lemak mengganggu, lalu dibumbuinya dengan garam. Kim Mingyu mengambil tepung beras, karena tepung kentang yang biasa dipakai di resep-resep agak susah didapatkan di mini market terdekat. Ia menaburnya di atas daging ayam dan diaduknya hingga rata.</p>

<p>Di wajan kecil di samping panci berisikan rebusan wortel, ia menggoreng sosis hingga kaki-kakinya merekah. Setelah itu, ia angkat dan ditaruhnya di piring. Ia menyadari bahwa wortelnya sudah cukup lunak, sudah bisa ditusuk dengan tusuk gigi. Diangkatnya dari kompor, kemudian ia meniriskan airnya. Cantik. Warna wortelnya pun bagus.</p>

<p>Menggunakan panci kecil yang berbeda (kali ini khusus untuk menggoreng), Mingyu memanaskan banyak minyak. Tidak terlalu banyak, sebenarnya, tetapi cukup untuk menenggelamkan daging ayamnya. Untuk mengukur panas, ia melempar setetes adonan tepung beras. Dirasa cukup, dicemplungkannya potongan ayam itu. Api dikecilkan agar ayam matang merata tanpa membuat gosong kulit luarnya.</p>

<p>Minyak bening mendesis dan membentuk buih di sekeliling si ayam. Mingyu mengambil kotak bekal kecil milik anaknya. Ia mulai menata daun selada sebagai alas makanan lainnya. Sebutir daging ayam tanpa tulang tidak membutuhkan waktu lama untuk matang. Maka, ia meninggalkan sejenak kegiatannya untuk mengecek kondisi si ayam goreng tepung. Sudah matang. Mingyu mematikan kompor dan mengangkat ayam itu ke piring yang sama dengan sosis.</p>

<p>Semua bahan sudah siap. Sekarang waktunya mendekorasi.</p>

<p>Yosh.</p>

<p>Kim Mingyu mengambil senjata baru. Sebuah alat untuk membuat nasi kepal bentuk panda. Itu adalah cetakan bentuk kepala panda. Dengan cepat, ia mengisi cetakan itu dengan nasi (ada bagusnya juga ia sudah mengganti beras hariannya ke beras japonica, jadi ia tak perlu memasak nasi lagi), lalu ditekannya kuat, memastikan nasinya tercetak padat. Lalu, ia menaruh nasi bentuk kepala panda itu ke piring lain yang lebih ceper. Ia membuat dua kepala panda.</p>

<p>Rumput laut kering datang kemudian. Menggunakan stamp khusus, dicetaknya lembaran rumput laut itu membentuk sepasang telinga, mata dan hidung serta mulut. Mingyu sempat terkagum-kagum akan hasilnya. Rasanya hebat sekali. Sekarang, membuat sesuatu yang lucu bisa dilakukan dengan begitu mudahnya. Kemudian, ia tinggal menghias nasi bentuk kepala panda itu dengan rumput lautnya.</p>

<p>Selesai.</p>

<p>Mingyu pertama memasukkan dua nasi kepal tersebut, barulah makanan lainnya. Tomat ceri di sebelah kiri belakang, lalu ayam goreng tepung. Sebelah kanannya lagi adalah sosis. Terakhir, taman bunga wortel. Agar makin menarik, Mingyu menambahkan wijen hitam sebagai mata si sosis gurita.</p>

<p>(Ingatkan dia juga untuk mencari cara membuat mata selain pakai wijen hitam)</p>

<p>Beres.</p>

<p>Ia menghela napas. Cukup puas dengan bekal yang ia buat hari ini. Jelas lebih lucu dari yang pertama, karena ada nasi kepal bentuk panda. Sambil berdoa kalau anaknya akan memakan bekal itu dengan senyuman, Kim Mingyu menoleh. Jam di dinding bilang sudah pukul lima lebih tiga puluh. Ia harus membangunkan Ri setengah jam lagi, lalu bersiap mandi untuk mengantarnya dan berangkat kerja.</p>

<p>Kim Mingyu menguap lebar.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/11</guid>
      <pubDate>Wed, 20 May 2020 22:43:03 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>