<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>minwonplatonic &amp;mdash; 🌾</title>
    <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonplatonic</link>
    <description>narrative writings of thesunmetmoon</description>
    <pubDate>Fri, 24 Apr 2026 18:26:15 +0000</pubDate>
    <image>
      <url>https://i.snap.as/K7JGOEOo.png</url>
      <title>minwonplatonic &amp;mdash; 🌾</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonplatonic</link>
    </image>
    <item>
      <title>4.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/4?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwonplatonic&#xA;&#xA;Ketukan di pintu.&#xA;&#xA;&#34;Mingyu.&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Tidak ada jawaban. Wonwoo mengernyit. Tumben Mingyu tidak menjawab. Ia mengecek lagi jam tangannya. Pukul delapan kurang sepuluh menit. Aneh. Biasanya jam segini, Mingyu sudah bangun, apalagi hari ini hari Senin.&#xA;&#xA;&#34;Mingyu.&#34;&#xA;&#xA;Ketukan, lagi. Dan tetap hening.&#xA;&#xA;Hmm, mungkin masih tidur...? Mungkin dia tidur telat tadi malam? Mungkin--&#xA;&#xA;Klek.&#xA;&#xA;&#34;Oh...,&#34; pemikirannya terputus. Mingyu muncul dari kamarnya. Mata masih belekan. Rambut awut-awutan. Tanpa atasan, hanya dalam balutan celana training hitam. Jelas masih sangat mengantuk. Wonwoo jadi tidak enak. &#34;Sori, lo kebangun ya...? Lo nggak gawe, Gyu?&#34; ia bertanya hati-hati. Mood Mingyu bisa berantakan kalau dibangunkan paksa.&#xA;&#xA;Lelaki itu menggeram, menggumamkan sesuatu yang Wonwoo tak bisa tangkap soal apa. Ia menyimpulkan kalau Mingyu masih mengantuk, moodnya sudah hancur karena Wonwoo bangunkan dengan ketukan pintu berkali-kali, dan ia kesal terhadap Wonwoo.&#xA;&#xA;&#34;Oke, mm, gue cuma mau pamit ngantor. Kalo lo emang nggak gawe hari ini, tidur lagi aja,&#34; perlahan, Wonwoo mengusap kepala Mingyu. &#34;Sori ya, gue udah bangunin lo...&#34;&#xA;&#xA;Mingyu menggeram lagi. Namun, tangan lelaki itu meraih dasi yang Wonwoo kenakan dan mulai membetulkan ikatannya. Ditariknya ke atas hingga kain satin itu terikat rapi, lalu Mingyu menepuk-nepuk dada Wonwoo, menghalau benang dari jas suaminya.&#xA;&#xA;Kegiatan rutin mereka setiap pagi, karena Wonwoo memerlukan seseorang untuk menjaganya.&#xA;&#xA;&#34;Tiati,&#34; ucapnya dalam suara serak, lebih mirip gerutuan. Wonwoo tersenyum. Bahkan dengan muka bantal dan mata masih belekan, dan jelas-jelas kesal karena dibangunkan paksa, Mingyu masih menjadi sahabatnya yang baik.&#xA;&#xA;Maka, Wonwoo mendongak, memajukan kepala untuk mencium pipi Mingyu. Sekilas saja. Ia segera mundur lagi.&#xA;&#xA;&#34;Bangsad. Bau iler,&#34; disekanya mulut dengan punggung tangan.&#xA;&#xA;Mingyu, masih bengong, perlu beberapa detik untuk sadar dan, tentunya, protes. &#34;Yang nyuruh cium-cium juga sapaaa???&#34; udah dibangunin, dikatain bau iler pula. Senin pagi yang buruk. &#34;Dah lu pergi sana, ntar telat!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Percuma gue nunjukin rasa sayang gue, temennya nggak tau diri,&#34; Wonwoo hela napas 🙄&#xA;&#xA;&#34;Lu yang nggak tau diri!&#34; balas Mingyu. &#34;Gue baru tidur jam--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Halo? Halo? Ya, Pak!&#34; padahal tidak ada bunyi panggilan masuk, tapi Wonwoo langsung merogoh handphone dari saku celananya, berpura-pura menerimanya sambil buru-buru berjalan menjauh. &#34;Oke, Pak, siap\~&#34;&#xA;&#xA;Mingyu menghela napas berat, cuma bisa bersandar di kusen pintu dengan lengan terlipat di dada, menonton akting suaminya itu. Namun, ketika Wonwoo berbalik, mengedipkan sebelah matanya pada Mingyu disertai ringisan jahil, ia mau tak mau mengulum senyuman, yang kemudian lepas menjadi tawa.&#xA;&#xA;Ah, Wonwoo...tak pernah berubah.&#xA;&#xA;Mingyu memejamkan mata.&#xA;&#xA;Jangan sampai berubah...]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonplatonic" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">minwonplatonic</span></a></p>

<p>Ketukan di pintu.</p>

<p>“Mingyu.”</p>



<p>Tidak ada jawaban. Wonwoo mengernyit. Tumben Mingyu tidak menjawab. Ia mengecek lagi jam tangannya. Pukul delapan kurang sepuluh menit. Aneh. Biasanya jam segini, Mingyu sudah bangun, apalagi hari ini hari Senin.</p>

<p>“Mingyu.”</p>

<p>Ketukan, lagi. Dan tetap hening.</p>

<p><em>Hmm, mungkin masih tidur...? Mungkin dia tidur telat tadi malam? Mungkin—</em></p>

<p><em>Klek.</em></p>

<p>“Oh...,” pemikirannya terputus. Mingyu muncul dari kamarnya. Mata masih belekan. Rambut awut-awutan. Tanpa atasan, hanya dalam balutan celana training hitam. Jelas masih sangat mengantuk. Wonwoo jadi tidak enak. “Sori, lo kebangun ya...? Lo nggak gawe, Gyu?” ia bertanya hati-hati. Mood Mingyu bisa berantakan kalau dibangunkan paksa.</p>

<p>Lelaki itu menggeram, menggumamkan sesuatu yang Wonwoo tak bisa tangkap soal apa. Ia menyimpulkan kalau Mingyu masih mengantuk, moodnya sudah hancur karena Wonwoo bangunkan dengan ketukan pintu berkali-kali, dan ia kesal terhadap Wonwoo.</p>

<p>“Oke, mm, gue cuma mau pamit ngantor. Kalo lo emang nggak gawe hari ini, tidur lagi aja,” perlahan, Wonwoo mengusap kepala Mingyu. “Sori ya, gue udah bangunin lo...”</p>

<p>Mingyu menggeram lagi. Namun, tangan lelaki itu meraih dasi yang Wonwoo kenakan dan mulai membetulkan ikatannya. Ditariknya ke atas hingga kain satin itu terikat rapi, lalu Mingyu menepuk-nepuk dada Wonwoo, menghalau benang dari jas suaminya.</p>

<p>Kegiatan rutin mereka setiap pagi, karena Wonwoo memerlukan seseorang untuk menjaganya.</p>

<p>“Tiati,” ucapnya dalam suara serak, lebih mirip gerutuan. Wonwoo tersenyum. Bahkan dengan muka bantal dan mata masih belekan, dan jelas-jelas kesal karena dibangunkan paksa, Mingyu masih menjadi sahabatnya yang baik.</p>

<p>Maka, Wonwoo mendongak, memajukan kepala untuk mencium pipi Mingyu. Sekilas saja. Ia segera mundur lagi.</p>

<p>“Bangsad. Bau iler,” disekanya mulut dengan punggung tangan.</p>

<p>Mingyu, masih bengong, perlu beberapa detik untuk sadar dan, tentunya, protes. “Yang nyuruh cium-cium juga sapaaa???” udah dibangunin, dikatain bau iler pula. Senin pagi yang buruk. “Dah lu pergi sana, ntar telat!”</p>

<p>“Percuma gue nunjukin rasa sayang gue, temennya nggak tau diri,” Wonwoo hela napas 🙄</p>

<p>“Lu yang nggak tau diri!” balas Mingyu. “Gue baru tidur jam—”</p>

<p>“Halo? Halo? Ya, Pak!” padahal tidak ada bunyi panggilan masuk, tapi Wonwoo langsung merogoh handphone dari saku celananya, berpura-pura menerimanya sambil buru-buru berjalan menjauh. “Oke, Pak, siap~“</p>

<p>Mingyu menghela napas berat, cuma bisa bersandar di kusen pintu dengan lengan terlipat di dada, menonton akting suaminya itu. Namun, ketika Wonwoo berbalik, mengedipkan sebelah matanya pada Mingyu disertai ringisan jahil, ia mau tak mau mengulum senyuman, yang kemudian lepas menjadi tawa.</p>

<p><em>Ah, Wonwoo...tak pernah berubah.</em></p>

<p>Mingyu memejamkan mata.</p>

<p><em>Jangan sampai berubah...</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/4</guid>
      <pubDate>Mon, 19 Oct 2020 02:08:05 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>3.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/3?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwonplatonic&#xA;&#xA;Pagi datang lagi. Hari ini hari Minggu. Tidak ada kerjaan. Tidak ada tanggung jawab apapun untuk ia kerjakan. Wonwoo bangun pukul sembilan lebih tiga puluh dengan kicauan burung yang masih terdengar, bertengger di kabel listrik depan jendela kamarnya. Ada sinar benderang nampak dari celah tirai.&#xA;&#xA;Wonwoo berselimut abu-abu, tanpa kacamata, diam di sana, hanya menatap langit-langit kamar yang kabur.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Di luar, ada bunyi mesin cuci. Kemudian, langkah seseorang yang sedang tergesa-gesa. Cetekan kompor dan bunyi sedokan terhadap wajan menyusul kemudian. Teriakan paket yang datang, disusul bunyi benda dimasukkan ke selot di bagian bawah pintu apartemen mereka, tempat penerimaan barang kiriman. Cetekan kompor sekali lagi, lalu bunyi pintu mesin cuci dibuka.&#xA;&#xA;Sibuk sekali, hari Minggu pagi bersama Mingyu. Ketika bersama Soonyoung dulu, mereka hanya akan tertidur pulas sampai mendekati tengah hari, lalu bangun untuk memesan makan siang.&#xA;&#xA;Mingyu dan Soonyoung. Dua orang sahabat. Dua orang yang amat berbeda. Polar opposites.&#xA;&#xA;Wonwoo menghela napas. Mendengar kegaduhan seperti itu, mau tak mau ia turun dari ranjang, tak bisa lagi terlelap meskipun ingin. Sambil menguap, Wonwoo masuk ke kamar mandi.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Pagi, Won!&#34; dendangnya ceria kala melihat kedatangan suaminya.&#xA;&#xA;Mingyu mengaduk sup yang baru saja matang, lalu dimasukkannya ke dalam mangkuk kecil. Wonwoo menarik kursi, duduk. Hidungnya mengerut saat mencermati sup di hadapannya itu.&#xA;&#xA;&#34;Ikan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Omega 3-nya tinggi. Nambah imun.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dan kerang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kata orang, bisa nambah gairah seks. Lo kayaknya butuh, daripada uring-uringan mulu,&#34; ringisnya jahil.&#xA;&#xA;Wonwoo menghela napas, mendadak sakit kepala. &#34;Pertama, itu tiram, bukan kerang. Kedua, buat apa, anying, kita kan nggak tidur bareng juga. Terakhir, dan gue yakin lo udah apal, gue nggak makan seafood,&#34; dengusnya kesal. Supnya benar-benar bau laut.&#xA;&#xA;&#34;Yang bilang dipake buat kita emangnya siapa?&#34; Mingyu terkekeh. &#34;Kan banyak orang di luar sana. Nggak harus sama gue.&#34; Ia sendiri mengangkat mangkup supnya untuk diseruput dengan berisik. Mingyu selalu makan dengan berisik (nah kalau soal ini, ia dan Soonyoung sama persis).&#xA;&#xA;Setelah terdiam seribu bahasa, Wonwoo membuka mulut, akhirnya paham. &#34;Ya mana bisa lah. Lo kan laki gue?&#34; alisnya mengerut. &#34;Lo nyuruh gue selingkuh?&#34;&#xA;&#xA;Mingyu hampir tersedak karena tertawa terbahak-bahak. &#34;Please do!&#34; sambungnya. &#34;Gue lebih rela liat lo selingkuh daripada liat lo uring-uringan mulu. Lagian.&#34; Ia menambahkan. &#34;Enam bulan lagi toh &#34;kita&#34; juga udah nggak ada.&#34;&#xA;&#xA;Kerut di kening Wonwoo mendalam. Sebegitu pinginnya ya, Mingyu terbebas darinya? Ia kemudian membuang jauh-jauh pemikiran tersebut. Wonwoo tidak punya hak untuk berpikir seperti itu. Mingyu benar. Mereka hanya punya sisa waktu enam bulan lagi.&#xA;&#xA;Hubungan palsu yang tidak ada gunanya.&#xA;&#xA;Wonwoo menunduk, mengambil sumpit, lalu mulai mengaduk supnya, memasang tampang jijik saat bau laut semakin menguar dari mangkuk tersebut. &#34;Yaudah. Gue tidur sama orang lainnya enam bulan lagi aja. Toh gue udah setahun nggak ngeseks ini. Apa susahnya nunggu setengah tahun lagi lah,&#34; diangkatnya mangkuk hingga sisinya mengenai bibir, kemudian diseruputnya. Tenang. Tanpa bunyi.&#xA;&#xA;Wonwoo makan dengan tenang dan pelan. Berbeda dari Mingyu yang selalu berisik dan melahap semua makanan dalam hitungan menit seperti orang yang tidak diberi makan seharian. Mingyu terpana sejenak saat Wonwoo berkata begitu, berkedip, kemudian senyumnya pun merekah karena Wonwoo tetap menghormatinya sebagai suami meski pernikahan ini sekadar formalitas saja, dan karena Wonwoo, meski tidak bisa makan makanan laut, tetap meneguk supnya.&#xA;&#xA;&#34;Oke,&#34; kekeh Mingyu, kembali kepada makanannya sendiri. &#34;Kebetulan, gue juga udah setahun nggak tidur sama siapapun. Nunggu enam bulan lagi mah nggak ada artinya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak usah ngikut-ngikut gue selibat deh, aelah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yee. Lu yang ikut-ikut gue.&#34;&#xA;&#xA;Mereka saling memandang, memonyongkan bibir. Lalu, mereka tertawa bersama.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonplatonic" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">minwonplatonic</span></a></p>

<p>Pagi datang lagi. Hari ini hari Minggu. Tidak ada kerjaan. Tidak ada tanggung jawab apapun untuk ia kerjakan. Wonwoo bangun pukul sembilan lebih tiga puluh dengan kicauan burung yang masih terdengar, bertengger di kabel listrik depan jendela kamarnya. Ada sinar benderang nampak dari celah tirai.</p>

<p>Wonwoo berselimut abu-abu, tanpa kacamata, diam di sana, hanya menatap langit-langit kamar yang kabur.</p>



<p>Di luar, ada bunyi mesin cuci. Kemudian, langkah seseorang yang sedang tergesa-gesa. Cetekan kompor dan bunyi sedokan terhadap wajan menyusul kemudian. Teriakan paket yang datang, disusul bunyi benda dimasukkan ke selot di bagian bawah pintu apartemen mereka, tempat penerimaan barang kiriman. Cetekan kompor sekali lagi, lalu bunyi pintu mesin cuci dibuka.</p>

<p>Sibuk sekali, hari Minggu pagi bersama Mingyu. Ketika bersama Soonyoung dulu, mereka hanya akan tertidur pulas sampai mendekati tengah hari, lalu bangun untuk memesan makan siang.</p>

<p>Mingyu dan Soonyoung. Dua orang sahabat. Dua orang yang amat berbeda. <em>Polar opposites</em>.</p>

<p>Wonwoo menghela napas. Mendengar kegaduhan seperti itu, mau tak mau ia turun dari ranjang, tak bisa lagi terlelap meskipun ingin. Sambil menguap, Wonwoo masuk ke kamar mandi.</p>

<hr/>

<p>“Pagi, Won!” dendangnya ceria kala melihat kedatangan suaminya.</p>

<p>Mingyu mengaduk sup yang baru saja matang, lalu dimasukkannya ke dalam mangkuk kecil. Wonwoo menarik kursi, duduk. Hidungnya mengerut saat mencermati sup di hadapannya itu.</p>

<p>“Ikan.”</p>

<p>“Omega 3-nya tinggi. Nambah imun.”</p>

<p>“Dan kerang.”</p>

<p>“Kata orang, bisa nambah gairah seks. Lo kayaknya butuh, daripada uring-uringan mulu,” ringisnya jahil.</p>

<p>Wonwoo menghela napas, mendadak sakit kepala. “Pertama, itu <em>tiram</em>, bukan <em>kerang</em>. Kedua, buat apa, anying, kita kan nggak tidur bareng juga. Terakhir, dan gue yakin lo udah apal, <em>gue nggak makan seafood</em>,” dengusnya kesal. Supnya benar-benar bau laut.</p>

<p>“Yang bilang dipake buat kita emangnya siapa?” Mingyu terkekeh. “Kan banyak orang di luar sana. Nggak harus sama gue.” Ia sendiri mengangkat mangkup supnya untuk diseruput dengan berisik. Mingyu selalu makan dengan berisik (nah kalau soal ini, ia dan Soonyoung sama persis).</p>

<p>Setelah terdiam seribu bahasa, Wonwoo membuka mulut, akhirnya paham. “Ya mana bisa lah. Lo kan laki gue?” alisnya mengerut. “Lo nyuruh gue <em>selingkuh</em>?”</p>

<p>Mingyu hampir tersedak karena tertawa terbahak-bahak. “<em>Please do!</em>” sambungnya. “Gue lebih rela liat lo selingkuh daripada liat lo uring-uringan mulu. Lagian.” Ia menambahkan. “Enam bulan lagi toh <em>“kita”</em> juga udah nggak ada.”</p>

<p>Kerut di kening Wonwoo mendalam. <em>Sebegitu pinginnya ya, Mingyu terbebas darinya?</em> Ia kemudian membuang jauh-jauh pemikiran tersebut. Wonwoo tidak punya hak untuk berpikir seperti itu. Mingyu benar. Mereka hanya punya sisa waktu enam bulan lagi.</p>

<p>Hubungan palsu yang tidak ada gunanya.</p>

<p>Wonwoo menunduk, mengambil sumpit, lalu mulai mengaduk supnya, memasang tampang jijik saat bau laut semakin menguar dari mangkuk tersebut. “Yaudah. Gue tidur sama orang lainnya enam bulan lagi aja. Toh gue udah setahun nggak ngeseks ini. Apa susahnya nunggu setengah tahun lagi lah,” diangkatnya mangkuk hingga sisinya mengenai bibir, kemudian diseruputnya. Tenang. Tanpa bunyi.</p>

<p>Wonwoo makan dengan tenang dan pelan. Berbeda dari Mingyu yang selalu berisik dan melahap semua makanan dalam hitungan menit seperti orang yang tidak diberi makan seharian. Mingyu terpana sejenak saat Wonwoo berkata begitu, berkedip, kemudian senyumnya pun merekah karena Wonwoo tetap menghormatinya sebagai suami meski pernikahan ini sekadar formalitas saja, dan karena Wonwoo, meski tidak bisa makan makanan laut, tetap meneguk supnya.</p>

<p>“Oke,” kekeh Mingyu, kembali kepada makanannya sendiri. “Kebetulan, gue juga udah setahun nggak tidur sama siapapun. Nunggu enam bulan lagi mah nggak ada artinya.”</p>

<p>“Nggak usah ngikut-ngikut gue selibat deh, aelah.”</p>

<p>“Yee. Lu yang ikut-ikut gue.”</p>

<p>Mereka saling memandang, memonyongkan bibir. Lalu, mereka tertawa bersama.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/3</guid>
      <pubDate>Sun, 18 Oct 2020 16:24:18 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>2.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/2?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwonplatonic&#xA;&#xA;Pancuran air panas selalu bisa menghilangkan segala resah, segala beban yang menemplok tak mau lepas di punggung. Ketika sepatunya menginjak tanah pekuburan Soonyoung, semua kenangan lama seolah terbuka begitu saja di depan matanya.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Soonyoung kecil dengan gigi tanggal dua, dengan bangga memamerkan ikan tangkapannya dari sungai dekat rumah mereka.&#xA;&#xA;Soonyoung yang mulai puber, memenceti jerawat di depan cermin di kamar Wonwoo.&#xA;&#xA;Soonyoung yang mengecat rambutnya lalu dikejar oleh guru BK mengelilingi satu sekolah.&#xA;&#xA;Soonyoung yang tersipu ketika ia berbisik di telinganya untuk mengajaknya menghabiskan hari Valentine berdua.&#xA;&#xA;Soonyoung yang--&#xA;&#xA;...&#xA;&#xA;Ah, terlalu banyak. Terlalu panjang jika harus Wonwoo runut dari awal sampai akhir. Cintanya pada Soonyoung sudah melebur menjadi satu dalam badannya, tak lagi nampak. Tak lagi menetap hanya di hati, tetapi juga di seluruh organ tubuh Jeon Wonwoo. Memorinya. Napasnya.&#xA;&#xA;Hidupnya.&#xA;&#xA;Keran air ia tutup. Air pun mati. Wonwoo menyeka tubuhnya, lalu melilitkan handuk di pinggang. Handuk yang lebih kecil ia gunakan untuk menyeka kepala.&#xA;&#xA;(&#34;Kamu tuh kalo ngeringin rambut yang bener, Won, ntar sakit!&#34;)&#xA;&#xA;Ia tersenyum. Biasanya, Wonwoo akan duduk di atas karpet di ruang tengah, sementara Soonyoung mengusrek rambutnya yang basah kuyup dengan handuk sampai benar-benar kering. Mereka akan menonton siaran komedi jam tujuh malam yang sangat kekasihnya itu sukai sambil menunggu pesanan makan malam mereka datang (karena mereka berdua sama sekali tak bisa masak). Suara tawa Soonyoung yang tinggi akan tercetak di dalam benaknya, tidak akan pernah keluar lagi selamanya.&#xA;&#xA;Sekarang, Wonwoo menyeka rambutnya sendiri. Dengan bantuan hair dryer dan sisir, ia mempercepat proses pengeringan. Suara ketukan di pintu kamarnya terdengar dan ia pun menoleh.&#xA;&#xA;&#34;Won,&#34; itu Mingyu. &#34;Lo mau makan malem?&#34;&#xA;&#xA;Tidak ada lagi menonton siaran komedi sambil menunggu pesanan makan malam.&#xA;&#xA;&#34;Mau,&#34; ia mengangguk, padahal pintu di antara mereka tertutup dan Mingyu tak bisa melihatnya.&#xA;&#xA;Mingyu mengiyakan, lalu pergi menjauh. Ia tak perlu berusaha membuka pintu kamar Wonwoo karena ia tahu pintu itu pasti dikunci.&#xA;&#xA;Bunyi peralatan makan berdenting di atas piring. Wonwoo selalu diam seribu bahasa setiap kali pulang melayat Soonyoung. Padahal ini sudah kali ketiga. Pikiran Mingyu pun melayang pada waktu, melupakan daging dan sayuran di piringnya untuk sejenak.&#xA;&#xA;Tiga kali. Mereka selalu melayat Soonyoung setiap empat bulan sekali. Berarti sudah setahun... Setahun semenjak ia dan Wonwoo menikah...&#xA;&#xA;Setahun sudah. Enam bulan lagi sisa kesepakatan mereka.&#xA;&#xA;Genggamannya pada sendok makan tanpa sadar mengerat.&#xA;&#xA;&#34;Mingyu?&#34;&#xA;&#xA;Yang dipanggil pun tersadar.&#xA;&#xA;&#34;Kok lo bengong?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak kok...,&#34; Mingyu menunduk, balik menyuap makanannya.&#xA;&#xA;&#34;Lo denger nggak tadi gue ngomong apa?&#34;&#xA;&#xA;Mingyu menggeleng. Wonwoo pun menghela napas.&#xA;&#xA;&#34;Kalo laki lo ngomong, dengerin dong,&#34; ujarnya bercanda. Terlihat dari ringisan yang terbentuk di wajahnya. Mingyu ikut tertawa pelan (dan canggung).&#xA;&#xA;&#34;Iya, iya, sori...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue cuma mau bilang, makanannya enak banget. As usual. Trims ya, Gyu, sori gue selalu ngerepotin lo,&#34; ringisan Wonwoo sudah berubah menjadi senyuman lembut. Ditangkupnya tangan Mingyu di atas meja. &#34;Sorry and thank you for everything.&#34;&#xA;&#xA;Jantung Mingyu mencelos. Rasanya aneh. Rasanya tidak nyaman. Sentuhan ini. Kalimat itu. Seolah menyimpan makna ganda di dalamnya untuk alasan yang ia sendiri tak pahami, Mingyu tidak suka semua ini, namun ia tidak punya hak untuk menuntut penjelasan lebih, maka ia hanya mengangguk sebagai jawaban.&#xA;&#xA;&#34;Gue beruntung banget punya temen kayak lo, Gyu...&#34;&#xA;&#xA;Nah, kalau yang itu, ia suka. Rasa tak enaknya terangkat sedikit. Mingyu bisa balas tersenyum pada Wonwoo. &#34;Lo juga,&#34; timpalnya. &#34;Gue beruntung banget punya lo dan Soonie, Won. Gue beruntung banget temenan sama kalian berdua.&#34; Ditangkupnya tangan Wonwoo yang berada di atas tangannya yang lain. &#34;Terima kasih lo berdua udah dateng ke hidup gue...&#34;&#xA;&#xA;Mata Mingyu berkaca-kaca. Baginya, kenangan akan Wonwoo dan Soonyoung akan selalu indah, selalu penuh bebungaan cantik yang mekar disinari mentari pagi. Berkebalikan darinya, ekspresi wajah Wonwoo mendadak mati. Pucat pasi. Ia tiba-tiba berdiri dari kursi.&#xA;&#xA;&#34;Gue ngantuk. Gue balik duluan ya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oke,&#34; ia tidak menangkap perubahan itu. &#34;Sleep tight, Won.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo pun berjalan ke kamar tidurnya sendiri, membiarkan Mingyu mencuci piring kotor mereka malam ini. Sebagai kompensasi, Wonwoo akan mencuci piring makan malam besok, seperti biasa. Sebuah kesepakatan tanpa kata-kata di antara mereka.&#xA;&#xA;Dua kamar tidur. Dua kamar mandi. Televisi yang jarang dipakai di ruang tengah, karena di kamar mereka masing-masing juga ada. Meja makan dimana mereka duduk berhadapan. Tak ada hewan peliharaan. Tak punya tanaman yang dirawat di balkon.&#xA;&#xA;Tak ada foto bahagia pasangan suami itu dipajang dalam bingkai di dinding apartemen mereka. Tak ada rasa sebuah keluarga di sana.&#xA;&#xA;Kim Mingyu adalah sahabatnya, teman yang baik, juga suaminya. Namun, titel yang terakhir tidak lebih dari keterpaksaan saja (atau, yang lebih masuk akal, adalah kebaikan hatinya). Wonwoo bersyukur, amat bersyukur, karena dengan adanya Mingyu, ia tidak terlalu sering melanglang sendiri ke tempat bahagia di dalam kepalanya, mengunjungi Soonyoung yang tertawa di sana. Tetapi, ia juga tahu, bahwa ia menyeret Mingyu bersamanya ke jurang nestapa ini. Jurang yang seharusnya hanya berisikan dirinya.&#xA;&#xA;Mingyu orang baik. Terlalu baik. Ia tidak boleh berada di sini bersamanya.&#xA;&#xA;Mingyu lebih cocok bersama sinar matahari pagi di rumah yang hangat dan penuh cinta, bukannya di sini, di apartemen dingin dan sepi.&#xA;&#xA;Enam bulan lagi.&#xA;&#xA;Enam bulan lagi dan Mingyu bisa bebas...]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonplatonic" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">minwonplatonic</span></a></p>

<p>Pancuran air panas selalu bisa menghilangkan segala resah, segala beban yang menemplok tak mau lepas di punggung. Ketika sepatunya menginjak tanah pekuburan Soonyoung, semua kenangan lama seolah terbuka begitu saja di depan matanya.</p>



<p>Soonyoung kecil dengan gigi tanggal dua, dengan bangga memamerkan ikan tangkapannya dari sungai dekat rumah mereka.</p>

<p>Soonyoung yang mulai puber, memenceti jerawat di depan cermin di kamar Wonwoo.</p>

<p>Soonyoung yang mengecat rambutnya lalu dikejar oleh guru BK mengelilingi satu sekolah.</p>

<p>Soonyoung yang tersipu ketika ia berbisik di telinganya untuk mengajaknya menghabiskan hari Valentine berdua.</p>

<p>Soonyoung yang—</p>

<p>...</p>

<p><em>Ah, terlalu banyak</em>. Terlalu panjang jika harus Wonwoo runut dari awal sampai akhir. Cintanya pada Soonyoung sudah melebur menjadi satu dalam badannya, tak lagi nampak. Tak lagi menetap hanya di hati, tetapi juga di seluruh organ tubuh Jeon Wonwoo. Memorinya. Napasnya.</p>

<p>Hidupnya.</p>

<p>Keran air ia tutup. Air pun mati. Wonwoo menyeka tubuhnya, lalu melilitkan handuk di pinggang. Handuk yang lebih kecil ia gunakan untuk menyeka kepala.</p>

<p><em>(“Kamu tuh kalo ngeringin rambut yang bener, Won, ntar sakit!”)</em></p>

<p>Ia tersenyum. Biasanya, Wonwoo akan duduk di atas karpet di ruang tengah, sementara Soonyoung mengusrek rambutnya yang basah kuyup dengan handuk sampai benar-benar kering. Mereka akan menonton siaran komedi jam tujuh malam yang sangat kekasihnya itu sukai sambil menunggu pesanan makan malam mereka datang (karena mereka berdua sama sekali tak bisa masak). Suara tawa Soonyoung yang tinggi akan tercetak di dalam benaknya, tidak akan pernah keluar lagi selamanya.</p>

<p>Sekarang, Wonwoo menyeka rambutnya sendiri. Dengan bantuan hair dryer dan sisir, ia mempercepat proses pengeringan. Suara ketukan di pintu kamarnya terdengar dan ia pun menoleh.</p>

<p>“Won,” itu Mingyu. “Lo mau makan malem?”</p>

<p>Tidak ada lagi menonton siaran komedi sambil menunggu pesanan makan malam.</p>

<p>“Mau,” ia mengangguk, padahal pintu di antara mereka tertutup dan Mingyu tak bisa melihatnya.</p>

<p>Mingyu mengiyakan, lalu pergi menjauh. Ia tak perlu berusaha membuka pintu kamar Wonwoo karena ia tahu pintu itu pasti dikunci.</p>

<p>==</p>

<p>Bunyi peralatan makan berdenting di atas piring. Wonwoo selalu diam seribu bahasa setiap kali pulang melayat Soonyoung. Padahal ini sudah kali ketiga. Pikiran Mingyu pun melayang pada waktu, melupakan daging dan sayuran di piringnya untuk sejenak.</p>

<p>Tiga kali. Mereka selalu melayat Soonyoung setiap empat bulan sekali. Berarti sudah setahun... Setahun semenjak ia dan Wonwoo menikah...</p>

<p>Setahun sudah. Enam bulan lagi sisa kesepakatan mereka.</p>

<p>Genggamannya pada sendok makan tanpa sadar mengerat.</p>

<p>“Mingyu?”</p>

<p>Yang dipanggil pun tersadar.</p>

<p>“Kok lo bengong?”</p>

<p>“Nggak kok...,” Mingyu menunduk, balik menyuap makanannya.</p>

<p>“Lo denger nggak tadi gue ngomong apa?”</p>

<p>Mingyu menggeleng. Wonwoo pun menghela napas.</p>

<p>“Kalo laki lo ngomong, dengerin dong,” ujarnya bercanda. Terlihat dari ringisan yang terbentuk di wajahnya. Mingyu ikut tertawa pelan (dan canggung).</p>

<p>“Iya, iya, sori...”</p>

<p>“Gue cuma mau bilang, makanannya enak banget. As usual. Trims ya, Gyu, sori gue selalu ngerepotin lo,” ringisan Wonwoo sudah berubah menjadi senyuman lembut. Ditangkupnya tangan Mingyu di atas meja. “Sorry and thank you for everything.”</p>

<p>Jantung Mingyu mencelos. Rasanya aneh. Rasanya tidak nyaman. Sentuhan ini. Kalimat itu. Seolah menyimpan makna ganda di dalamnya untuk alasan yang ia sendiri tak pahami, Mingyu tidak suka semua ini, namun ia tidak punya hak untuk menuntut penjelasan lebih, maka ia hanya mengangguk sebagai jawaban.</p>

<p>“Gue beruntung banget punya temen kayak lo, Gyu...”</p>

<p>Nah, kalau yang itu, ia suka. Rasa tak enaknya terangkat sedikit. Mingyu bisa balas tersenyum pada Wonwoo. “Lo juga,” timpalnya. “Gue beruntung banget punya lo dan Soonie, Won. Gue beruntung banget temenan sama kalian berdua.” Ditangkupnya tangan Wonwoo yang berada di atas tangannya yang lain. “Terima kasih lo berdua udah dateng ke hidup gue...”</p>

<p>Mata Mingyu berkaca-kaca. Baginya, kenangan akan Wonwoo dan Soonyoung akan selalu indah, selalu penuh bebungaan cantik yang mekar disinari mentari pagi. Berkebalikan darinya, ekspresi wajah Wonwoo mendadak mati. Pucat pasi. Ia tiba-tiba berdiri dari kursi.</p>

<p>“Gue ngantuk. Gue balik duluan ya.”</p>

<p>“Oke,” ia tidak menangkap perubahan itu. “Sleep tight, Won.”</p>

<p>Wonwoo pun berjalan ke kamar tidurnya sendiri, membiarkan Mingyu mencuci piring kotor mereka malam ini. Sebagai kompensasi, Wonwoo akan mencuci piring makan malam besok, seperti biasa. Sebuah kesepakatan tanpa kata-kata di antara mereka.</p>

<p>Dua kamar tidur. Dua kamar mandi. Televisi yang jarang dipakai di ruang tengah, karena di kamar mereka masing-masing juga ada. Meja makan dimana mereka duduk berhadapan. Tak ada hewan peliharaan. Tak punya tanaman yang dirawat di balkon.</p>

<p>Tak ada foto bahagia pasangan suami itu dipajang dalam bingkai di dinding apartemen mereka. Tak ada rasa sebuah keluarga di sana.</p>

<p>Kim Mingyu adalah sahabatnya, teman yang baik, juga suaminya. Namun, titel yang terakhir tidak lebih dari keterpaksaan saja (atau, yang lebih masuk akal, adalah kebaikan hatinya). Wonwoo bersyukur, amat bersyukur, karena dengan adanya Mingyu, ia tidak terlalu sering melanglang sendiri ke tempat bahagia di dalam kepalanya, mengunjungi Soonyoung yang tertawa di sana. Tetapi, ia juga tahu, bahwa ia <em>menyeret</em> Mingyu bersamanya ke jurang nestapa ini. Jurang yang seharusnya hanya berisikan dirinya.</p>

<p>Mingyu orang baik. Terlalu baik. Ia tidak boleh berada di sini bersamanya.</p>

<p>Mingyu lebih cocok bersama sinar matahari pagi di rumah yang hangat dan penuh cinta, bukannya di sini, di apartemen dingin dan sepi.</p>

<p><em>Enam bulan lagi.</em></p>

<p>Enam bulan lagi dan Mingyu bisa bebas...</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/2</guid>
      <pubDate>Sun, 18 Oct 2020 01:05:19 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>1.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/1-j71d?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwonplatonic&#xA;&#xA;&#34;Won.&#34;&#xA;&#xA;Yang dipanggil tidak kunjung menyadari. Dengan sepasang headphone di telinga dan pejaman mata, lelaki itu seolah hilang ke dunia yang asing, yang tak lagi Mingyu kenali. Kim Mingyu bersandar di kusen pintu, sebuah jas hitam tergantung di salah satu lengannya. Ia tersenyum, kemudian menghela napas.&#xA;&#xA;Nyatanya, memang itu adalah dunia yang Mingyu bukanlah bagian darinya.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Maka, ia biarkan Wonwoo tenggelam beberapa saat, sebelum didekatinya dari belakang. Lelaki itu berambut hitam pendek, berkemeja putih dan bercelana hitam. Dasi hitamnya telah terpasang rapi sehingga Mingyu tidak perlu membetulkannya seperti biasa. Ia duduk persis di samping Wonwoo.&#xA;&#xA;&#34;Won,&#34; diulangnya, dengan sentuhan lembut di pundak. Sengaja, agar Wonwoo tidak terkejut. &#34;Kalo udah siap, kita pergi yok.&#34;&#xA;&#xA;Bulu mata tidak terangkat. Headphone tidak terlepas. Wonwoo masih ada di sana, di album kenangan dalam batok kepalanya yang dipenuhi dengan tawa bahagia, dengan segala janji manis yang dibuat serta harapan. Seluruh harapan yang mampu dipikirkan insan manusia. Wonwoo adalah tipe lelaki yang akan meraih apapun yang telah ia letakkan hatinya di sana. Salah satu sifatnya yang Mingyu kagumi sampai sekarang.&#xA;&#xA;Melihat Wonwoo sekarang, Mingyu jadi teringat bagaimana bahagianya dahulu suaminya itu. Bagaimana ia tertawa lepas bersama orang yang paling berharga untuknya. Bagaimana Mingyu hanya bisa tersenyum kecut karena ia merasa menjadi orang ketiga, si obat nyamuk, di antara Wonwoo dan kekasihnya.&#xA;&#xA;Bukan. Bukan karena ia ingin memiliki Wonwoo seorang diri, atau Soonyoung seorang diri. Bukan. Mingyu menyayangi keduanya karena mereka bertiga adalah sahabat sejak sekolah dulu. Mereka selalu melakukan apapun bersama. Partner kebandelan. Teman setia. Selalu bertiga.&#xA;&#xA;Sampai kemudian, tatapan Wonwoo berubah dan senyuman Soonyoung malu-malu. Bukannya mereka menyingkirkannya dari pertemanan, tetapi, ketika Mingyu datang terlambat suatu hari saat mereka berjanji untuk bermain ice skating, ia menemukan Wonwoo dan Soonyoung berbicara berdua saja. Merapat. Berbisik-bisik. Soonyoung manyun, tampak ngambek dengan manisnya. Wonwoo tertawa, hidungnya mengerut sebagai ciri khasnya.&#xA;&#xA;Dan Mingyu merasa mereka berada di dunia yang berbeda: dirinya dan mereka.&#xA;&#xA;Meskipun begitu, tidak ada yang Mingyu inginkan lebih di dunia ini selain kebahagiaan kedua sahabat baiknya.&#xA;&#xA;&#34;Won.&#34;&#xA;&#xA;Mendadak saja, kelopak mata Wonwoo terbuka. Dilepasnya headphone, dimasukkan ke tempatnya kembali, lalu ia berdiri. Mingyu, tanpa banyak bicara, ikut berdiri. Ia membantu Wonwoo mengenakan jas hitam yang ia bawakan tadi. Jas tanda berkabung.&#xA;&#xA;&#34;Mama jadi dateng?&#34; tanya Wonwoo.&#xA;&#xA;Mingyu menggeleng. &#34;Sori, dia nggak bisa. Dia lagi nemenin bokap gue di rumah sakit, Won. Nanti gue bakal bilang ke nyokapnya Soonie juga,&#34; jelasnya. &#34;Nyokap lo?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dateng. Agak maleman sih soalnya baru dapet keretanya rada siang katanya.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu mengangguk kali ini, memahami. Ditepuknya dada Wonwoo, membersihkan benang-benang yang menempel di jas hitam itu. Bukan pakaian yang ia harapkan akan Wonwoo kenakan lagi, sejujurnya. Kenangan akan Wonwoo bersama Soonyoung terlalu indah bagi Mingyu untuk dirusak oleh sepasang setelan warna hitam.&#xA;&#xA;Wonwoo membiarkan Mingyu membenahinya, seperti biasanya, seperti setiap pagi yang dilakukan Mingyu sebelum Wonwoo pergi bekerja. Di jari mereka berdua, melingkar cincin emas putih yang sederhana. Sepasang cincin yang seharusnya tidak ada di sana andaikata nasib buruk dan rasa kasihan tidak menghampiri mereka.&#xA;&#xA;&#34;Yok?&#34; ajak Mingyu.&#xA;&#xA;&#34;Mm,&#34; Wonwoo mengangguk.&#xA;&#xA;Mereka pun berjalan bersisian di lorong apartemen yang mereka tinggali berdua. Tak ada tangan yang bergenggaman. Tangan Mingyu keduanya di dalam saku. Tangan Wonwoo mengepal oleh gelisah. Bibir bawahnya ia gigiti terus sampai memerah.&#xA;&#xA;&#34;Won.&#34;&#xA;&#xA;Agak kaget, Wonwoo mendongak&#xA;&#xA;&#34;Inget kalo kita selalu bertiga.&#34;&#xA;&#xA;Hanya sebuah kalimat, namun tatapan kuat Mingyu yang menangkap matanya membuat hati Wonwoo menjadi tenang. Benar, mereka selalu bertiga. Selalu. Selamanya.&#xA;&#xA;Bahkan ketika salah satu dari mereka sudah pergi ke alam lain.&#xA;&#xA;&#34;Mm.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo mengangguk, lagi, tapi kali ini dengan senyuman. Mingyu pun ikut tersenyum, mencoba memberikan semangat pada Wonwoo, sahabatnya yang kemudian menjadi suaminya, yang harus bertanggung jawab atas prosesi melayat ke nisan kekasihnya, Soonyoung, bersama keluarga mereka hari ini.&#xA;&#xA;Blam.&#xA;&#xA;Pintu apartemen yang sepi itu pun ditutup.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonplatonic" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">minwonplatonic</span></a></p>

<p>“Won.”</p>

<p>Yang dipanggil tidak kunjung menyadari. Dengan sepasang headphone di telinga dan pejaman mata, lelaki itu seolah hilang ke dunia yang asing, yang tak lagi Mingyu kenali. Kim Mingyu bersandar di kusen pintu, sebuah jas hitam tergantung di salah satu lengannya. Ia tersenyum, kemudian menghela napas.</p>

<p>Nyatanya, memang itu adalah dunia yang Mingyu bukanlah bagian darinya.</p>



<p>Maka, ia biarkan Wonwoo tenggelam beberapa saat, sebelum didekatinya dari belakang. Lelaki itu berambut hitam pendek, berkemeja putih dan bercelana hitam. Dasi hitamnya telah terpasang rapi sehingga Mingyu tidak perlu membetulkannya seperti biasa. Ia duduk persis di samping Wonwoo.</p>

<p>“Won,” diulangnya, dengan sentuhan lembut di pundak. Sengaja, agar Wonwoo tidak terkejut. “Kalo udah siap, kita pergi yok.”</p>

<p>Bulu mata tidak terangkat. Headphone tidak terlepas. Wonwoo masih ada di sana, di album kenangan dalam batok kepalanya yang dipenuhi dengan tawa bahagia, dengan segala janji manis yang dibuat serta harapan. Seluruh harapan yang mampu dipikirkan insan manusia. Wonwoo adalah tipe lelaki yang akan meraih apapun yang telah ia letakkan hatinya di sana. Salah satu sifatnya yang Mingyu kagumi sampai sekarang.</p>

<p>Melihat Wonwoo sekarang, Mingyu jadi teringat bagaimana bahagianya dahulu suaminya itu. Bagaimana ia tertawa lepas bersama orang yang paling berharga untuknya. Bagaimana Mingyu hanya bisa tersenyum kecut karena ia merasa menjadi orang ketiga, si obat nyamuk, di antara Wonwoo dan kekasihnya.</p>

<p>Bukan. Bukan karena ia ingin memiliki Wonwoo seorang diri, atau Soonyoung seorang diri. Bukan. Mingyu menyayangi keduanya karena mereka bertiga adalah sahabat sejak sekolah dulu. Mereka selalu melakukan apapun bersama. Partner kebandelan. Teman setia. Selalu bertiga.</p>

<p>Sampai kemudian, tatapan Wonwoo berubah dan senyuman Soonyoung malu-malu. Bukannya mereka menyingkirkannya dari pertemanan, tetapi, ketika Mingyu datang terlambat suatu hari saat mereka berjanji untuk bermain ice skating, ia menemukan Wonwoo dan Soonyoung berbicara berdua saja. Merapat. Berbisik-bisik. Soonyoung manyun, tampak ngambek dengan manisnya. Wonwoo tertawa, hidungnya mengerut sebagai ciri khasnya.</p>

<p>Dan Mingyu merasa mereka berada di dunia yang berbeda: dirinya dan mereka.</p>

<p>Meskipun begitu, tidak ada yang Mingyu inginkan lebih di dunia ini selain kebahagiaan kedua sahabat baiknya.</p>

<p>“Won.”</p>

<p>Mendadak saja, kelopak mata Wonwoo terbuka. Dilepasnya headphone, dimasukkan ke tempatnya kembali, lalu ia berdiri. Mingyu, tanpa banyak bicara, ikut berdiri. Ia membantu Wonwoo mengenakan jas hitam yang ia bawakan tadi. Jas tanda berkabung.</p>

<p>“Mama jadi dateng?” tanya Wonwoo.</p>

<p>Mingyu menggeleng. “Sori, dia nggak bisa. Dia lagi nemenin bokap gue di rumah sakit, Won. Nanti gue bakal bilang ke nyokapnya Soonie juga,” jelasnya. “Nyokap lo?”</p>

<p>“Dateng. Agak maleman sih soalnya baru dapet keretanya rada siang katanya.”</p>

<p>Mingyu mengangguk kali ini, memahami. Ditepuknya dada Wonwoo, membersihkan benang-benang yang menempel di jas hitam itu. Bukan pakaian yang ia harapkan akan Wonwoo kenakan lagi, sejujurnya. Kenangan akan Wonwoo bersama Soonyoung terlalu indah bagi Mingyu untuk dirusak oleh sepasang setelan warna hitam.</p>

<p>Wonwoo membiarkan Mingyu membenahinya, seperti biasanya, seperti setiap pagi yang dilakukan Mingyu sebelum Wonwoo pergi bekerja. Di jari mereka berdua, melingkar cincin emas putih yang sederhana. Sepasang cincin yang seharusnya tidak ada di sana andaikata nasib buruk dan rasa kasihan tidak menghampiri mereka.</p>

<p>“Yok?” ajak Mingyu.</p>

<p>“Mm,” Wonwoo mengangguk.</p>

<p>Mereka pun berjalan bersisian di lorong apartemen yang mereka tinggali berdua. Tak ada tangan yang bergenggaman. Tangan Mingyu keduanya di dalam saku. Tangan Wonwoo mengepal oleh gelisah. Bibir bawahnya ia gigiti terus sampai memerah.</p>

<p>“Won.”</p>

<p>Agak kaget, Wonwoo mendongak</p>

<p>“Inget kalo kita selalu bertiga.”</p>

<p>Hanya sebuah kalimat, namun tatapan kuat Mingyu yang menangkap matanya membuat hati Wonwoo menjadi tenang. Benar, mereka selalu bertiga. <em>Selalu. Selamanya.</em></p>

<p><em>Bahkan ketika salah satu dari mereka sudah pergi ke alam lain.</em></p>

<p>“Mm.”</p>

<p>Wonwoo mengangguk, lagi, tapi kali ini dengan senyuman. Mingyu pun ikut tersenyum, mencoba memberikan semangat pada Wonwoo, sahabatnya yang kemudian menjadi suaminya, yang harus bertanggung jawab atas prosesi melayat ke nisan kekasihnya, Soonyoung, bersama keluarga mereka hari ini.</p>

<p><em>Blam.</em></p>

<p>Pintu apartemen yang sepi itu pun ditutup.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/1-j71d</guid>
      <pubDate>Sat, 17 Oct 2020 07:33:21 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>