<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>jihanmodernroyalty &amp;mdash; 🌾</title>
    <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:jihanmodernroyalty</link>
    <description>narrative writings of thesunmetmoon</description>
    <pubDate>Tue, 14 Apr 2026 14:56:00 +0000</pubDate>
    <image>
      <url>https://i.snap.as/K7JGOEOo.png</url>
      <title>jihanmodernroyalty &amp;mdash; 🌾</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:jihanmodernroyalty</link>
    </image>
    <item>
      <title>Part 5: 친구들</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-5-cingudeul?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[jihanmodernroyalty&#xA;&#xA;Karena Seokmin yang tetiba pingsan dan sampe detik ini belum juga nampak tanda-tanda anak itu bakalan bangun, yang mulia permaisuri pun menawarkan mereka untuk menginap di istana. Mereka jelas ngerasa sungkan, tapi terlalu takut buat nolak. Jeonghan sih bilang ke Seungcheol kalo dia sama Mingyu bisa pulang kalo mau, biar dia sendiri aja yang jagain Seokmin, tapi kedua temannya itu langsung protes, enggan ninggalin mereka berdua sendirian. Akhirnya, setelah menelpon ke orangtua masing-masing untuk memberi kabar, mereka berbagi salah satu ruang tidur yang dikhususkan bagi tamu kerajaan, terletak di sayap yang berseberangan dari sayap ruangan pribadi keluarga raja.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Meski membaginya berempat, ruangan itu sendiri sangat luas. Nggak begitu mewah, tapi tiap barang di sana dibuat dengan bahan kualitas tertinggi. Jeonghan jujur nggak pernah ngerasain seprai kasur senyaman ini. Selimutnya tebal nan hangat dan karpet yang dia injak begitu halus di telapak kakinya. Ada dua tempat tidur besar di sana dan Seokmin tengah berbaring di salah satunya.&#xA;&#xA;&#34;Lo sama Gyu, gue sama Seok,&#34; tunjuk Jeonghan ke arah Seungcheol. &#34;Tapi jangan aneh-aneh ya. Gue ogah bangun-bangun liat lu bedua ngewe.&#34;&#xA;&#xA;Wajah Mingyu memerah, hampir kesedak liurnya sendiri, tapi Seungcheol cuma memandangi Jeonghan, unamused. &#34;Gue nggak gila njir. Yakali gue mau bagi-bagi ke elo muka seksi cowok gue pas lagi ngewe,&#34; selorohnya santai, yang membuatnya digebuk Mingyu persis di sisi bahu.&#xA;&#xA;Setelah mandi, mereka duduk di atas kasur sambil makan. Sepuluh menit lalu, seorang pelayan mengetuk pintu kamar mereka, memberitahu bahwa Pangeran Jisoo telah meminta agar makan malam mereka dihidangkan di kamar saja. &#39;Mereka pasti cemas dan mau jaga teman mereka,&#39; alasan yang dilontarkan olehnya. Diam-diam, Jeonghan berterima kasih pada sang pangeran karena sudah menyelamatkan mereka dari kecanggungan makan malam bersama anggota keluarga kerajaan di area makan utama.&#xA;&#xA;&#34;Beneran?? Lo jadi terima itu hasil lotere??&#34; Mingyu melongo, kaget bukan kepalang. Daging tenderloin di piringnya udah mau tandas aja. Mingyu bahkan mempertimbangkan buat memanggil lagi pelayan, mau minta tambah. &#34;Kok mendadak, Bang?&#34;&#xA;&#xA;Jeonghan ngangguk sambil nyeruput tehnya. Rasa yang sama dengan yang Pangeran Jisoo buatkan untuknya siang tadi. &#34;Gue diancem. Mau gimana lagi? Nggak bisa nolak juga,&#34; akunya. Dirobeknya dinner roll di tangan untuk menciduk saus steak dari piring.&#xA;&#xA;&#34;Ngancem?&#34; alis Seungcheol berkerut. &#34;Kok bisa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bukan ngancem juga sih...yah, ada kesan gitu, secara nggak langsung,&#34; digigitnya roti tersebut. &#34;Pas gue bilang gue ga mau jadi suami dia, dia nanya gue punya adek ato engga.&#34;&#xA;&#xA;Jeonghan diem sebentar sebelum melanjutkan.&#xA;&#xA;&#34;Pertanyaan goblok. Gue yakin dia udah tau dari awal kalo gue punya adek cewek,&#34; sepatnya emosional. &#34;Dia pasti sengaja bilang gitu biar gue tau sampe batas mana power gue. Biasa lah. Rakyat mah ketindas terus aja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak bener dong tuh anak,&#34; kerutan alis Seungcheol semakin dalam. &#34;Kesian Seok, kalo tau idolanya ternyata sifatnya kek gitu...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi kok aneh ya...,&#34; Mingyu menimpali. &#34;Gue kok taunya dia bukan orang kayak gitu. Soalnya, selama ini, dia kayak baek-baek aja gitu citranya. Seok juga...kayaknya nggak akan naksir sama cowok brengsek...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hati orang mah mana kita tau, Gyu,&#34; Seungcheol menyela.&#xA;&#xA;&#34;Iya sih...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi,&#34; Jeonghan menelan sisa roti di tangannya. &#34;Gue sama dia nggak akan nikah selamanya kok. Dia cuma perlu nikahin gue biar dia bisa naek takhta. Apalah dia bilang nggak mau jadi raja kalo nggak ada partnernya yang cocok bla bla. Dan, menurut dia, gue lah partner itu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hoo...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jadi, gue sama dia bakalan nikah. Setaun doang. Gue dikasih akses dan privilese yang sama ama anggota keluarga kerajaan. Gue bisa minta rumah buat ortu gue. Mobil, maybe. Gue bahkan bisa minta koneksi buat kerjaan gue nanti. Intinya, dengan gue pura-pura nikah sama dia setaun doang, masa depan gue kebuka lebar tanpa perlu mikirin duit buat semua itu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Whoa...&#34;&#xA;&#xA;&#34;So, that&#39;s why lo terima?&#34; tanya Seungcheol.&#xA;&#xA;Jeonghan, mendengar itu, pun meringis. &#34;Cuma orang tolol yang bakal nolak, Cheol,&#34; selorohnya. &#34;And I&#39;m far from it.&#34;&#xA;&#xA;Kenyang, Jeonghan mendorong piring makannya, membiarkan Mingyu mengumpulkan piring-piring menjadi satu untuk ditaruhnya balik ke troli saji sebelum memanggil pelayan.&#xA;&#xA;&#34;Gue bisa nyelamatin Soobin dari kawin paksa. Bisa dapet kerjaan yang gue mau. Bisa bantuin lo-lo juga kalo misalnya perlu rekomendasi.&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol diem aja sambil dengerin Jeonghan berceloteh.&#xA;&#xA;&#34;And with that kind of face beside me in bed for a year? I won&#39;t mind at all.&#34;&#xA;&#xA;Jeonghan plotting&#xA;&#xA;Lalu, Seungcheol mendengus. Mereka berdua tertawa. &#34;Yah, serah lo deh. Tapi, kalo ada apa-apa, cerita ya, Han. Ke gue, ke Gyu. Ke siapa aja. Kita semua ada di sini buat lo.&#34;&#xA;&#xA;Tersenyum, Jeonghan mempertemukan kepalannya ke kepalan Seungcheol yang tengah terulur.&#xA;&#xA;&#34;Thanks, man. Appreciate it.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:jihanmodernroyalty" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">jihanmodernroyalty</span></a></p>

<p>Karena Seokmin yang tetiba pingsan dan sampe detik ini belum juga nampak tanda-tanda anak itu bakalan bangun, yang mulia permaisuri pun menawarkan mereka untuk menginap di istana. Mereka jelas ngerasa sungkan, tapi terlalu takut buat nolak. Jeonghan sih bilang ke Seungcheol kalo dia sama Mingyu bisa pulang kalo mau, biar dia sendiri aja yang jagain Seokmin, tapi kedua temannya itu langsung protes, enggan ninggalin mereka berdua sendirian. Akhirnya, setelah menelpon ke orangtua masing-masing untuk memberi kabar, mereka berbagi salah satu ruang tidur yang dikhususkan bagi tamu kerajaan, terletak di sayap yang berseberangan dari sayap ruangan pribadi keluarga raja.</p>



<p>Meski membaginya berempat, ruangan itu sendiri sangat luas. Nggak begitu mewah, tapi tiap barang di sana dibuat dengan bahan kualitas tertinggi. Jeonghan jujur nggak pernah ngerasain seprai kasur senyaman ini. Selimutnya tebal nan hangat dan karpet yang dia injak begitu halus di telapak kakinya. Ada dua tempat tidur besar di sana dan Seokmin tengah berbaring di salah satunya.</p>

<p>“Lo sama Gyu, gue sama Seok,” tunjuk Jeonghan ke arah Seungcheol. “Tapi jangan aneh-aneh ya. Gue ogah bangun-bangun liat lu bedua ngewe.”</p>

<p>Wajah Mingyu memerah, hampir kesedak liurnya sendiri, tapi Seungcheol cuma memandangi Jeonghan, unamused. “Gue nggak gila njir. Yakali gue mau bagi-bagi ke elo muka seksi cowok gue pas lagi ngewe,” selorohnya santai, yang membuatnya digebuk Mingyu persis di sisi bahu.</p>

<p>Setelah mandi, mereka duduk di atas kasur sambil makan. Sepuluh menit lalu, seorang pelayan mengetuk pintu kamar mereka, memberitahu bahwa Pangeran Jisoo telah meminta agar makan malam mereka dihidangkan di kamar saja. <em>&#39;Mereka pasti cemas dan mau jaga teman mereka,&#39;</em> alasan yang dilontarkan olehnya. Diam-diam, Jeonghan berterima kasih pada sang pangeran karena sudah menyelamatkan mereka dari kecanggungan makan malam bersama anggota keluarga kerajaan di area makan utama.</p>

<p>“Beneran?? Lo jadi terima itu hasil lotere??” Mingyu melongo, kaget bukan kepalang. Daging tenderloin di piringnya udah mau tandas aja. Mingyu bahkan mempertimbangkan buat memanggil lagi pelayan, mau minta tambah. “Kok mendadak, Bang?”</p>

<p>Jeonghan ngangguk sambil nyeruput tehnya. Rasa yang sama dengan yang Pangeran Jisoo buatkan untuknya siang tadi. “Gue diancem. Mau gimana lagi? Nggak bisa nolak juga,” akunya. Dirobeknya dinner roll di tangan untuk menciduk saus steak dari piring.</p>

<p>“<em>Ngancem</em>?” alis Seungcheol berkerut. “Kok bisa?”</p>

<p>“Bukan ngancem juga sih...yah, ada kesan gitu, secara nggak langsung,” digigitnya roti tersebut. “Pas gue bilang gue ga mau jadi suami dia, dia nanya gue punya adek ato engga.”</p>

<p>Jeonghan diem sebentar sebelum melanjutkan.</p>

<p>“Pertanyaan goblok. Gue yakin dia udah tau dari awal kalo gue punya adek cewek,” sepatnya emosional. “Dia pasti sengaja bilang gitu biar gue tau sampe batas mana power gue. Biasa lah. Rakyat mah ketindas terus aja.”</p>

<p>“Nggak bener dong tuh anak,” kerutan alis Seungcheol semakin dalam. “Kesian Seok, kalo tau idolanya ternyata sifatnya kek gitu...”</p>

<p>“Tapi kok aneh ya...,” Mingyu menimpali. “Gue kok taunya dia bukan orang kayak gitu. Soalnya, selama ini, dia kayak baek-baek aja gitu citranya. Seok juga...kayaknya nggak akan naksir sama cowok brengsek...”</p>

<p>“Hati orang mah mana kita tau, Gyu,” Seungcheol menyela.</p>

<p>“Iya sih...”</p>

<p>“Tapi,” Jeonghan menelan sisa roti di tangannya. “Gue sama dia nggak akan nikah selamanya kok. Dia cuma perlu nikahin gue biar dia bisa naek takhta. Apalah dia bilang nggak mau jadi raja kalo nggak ada partnernya yang cocok <em>bla bla</em>. Dan, menurut dia, gue lah partner itu.”</p>

<p>“Hoo...”</p>

<p>“Jadi, gue sama dia bakalan nikah. Setaun doang. Gue dikasih akses dan privilese yang sama ama anggota keluarga kerajaan. Gue bisa minta rumah buat ortu gue. Mobil, maybe. Gue bahkan bisa minta koneksi buat kerjaan gue nanti. Intinya, dengan gue pura-pura nikah sama dia setaun doang, masa depan gue kebuka lebar tanpa perlu mikirin duit buat semua itu.”</p>

<p>“Whoa...”</p>

<p>“So, that&#39;s why lo terima?” tanya Seungcheol.</p>

<p>Jeonghan, mendengar itu, pun meringis. “Cuma orang tolol yang bakal nolak, Cheol,” selorohnya. “And I&#39;m far from it.”</p>

<p>Kenyang, Jeonghan mendorong piring makannya, membiarkan Mingyu mengumpulkan piring-piring menjadi satu untuk ditaruhnya balik ke troli saji sebelum memanggil pelayan.</p>

<p>“Gue bisa nyelamatin Soobin dari kawin paksa. Bisa dapet kerjaan yang gue mau. Bisa bantuin lo-lo juga kalo misalnya perlu rekomendasi.”</p>

<p>Seungcheol diem aja sambil dengerin Jeonghan berceloteh.</p>

<p>“And with that kind of face beside me in bed for a year? I won&#39;t mind at all.”</p>

<p><img src="https://thesunmetmoon.com/wp-content/uploads/2024/10/jihanplot.jpg" alt="Jeonghan plotting"/></p>

<p>Lalu, Seungcheol mendengus. Mereka berdua tertawa. “Yah, serah lo deh. Tapi, kalo ada apa-apa, cerita ya, Han. Ke gue, ke Gyu. Ke siapa aja. Kita semua ada di sini buat lo.”</p>

<p>Tersenyum, Jeonghan mempertemukan kepalannya ke kepalan Seungcheol yang tengah terulur.</p>

<p>“Thanks, man. Appreciate it.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-5-cingudeul</guid>
      <pubDate>Sun, 20 Oct 2024 11:57:44 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Part 4: 찬성입니다</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-4-canseongibnida?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[jihanmodernroyalty&#xA;&#xA;Jeonghan tadinya lagi bengong, terlalu tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Tapi, saat harum teh menguar lembut dan angin sepoi-sepoi berbau samar garam bertiup menyibak tirai halus di aula utama itu, seketika gundah gulananya pun lenyap. Kepalanya kopong. Dia hanya memandangi Pangeran Jisoo yang sedang menuangkan teh panas ke dua cangkir porselen dengan tenang. Berlatar belakang langit biru jernih dan dedaunan hijau, sang pangeran bagaikan keluar dari lukisan kerajaan.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Vanilla Bourbon,&#34; lamunan Jeonghan buyar ketika Pangeran Jisoo angkat bicara. &#34;Best matched with scone yang baru matang.&#34; Perlahan, ditaruhnya teko ke piring berlapiskan serbet linen sebelum sebuah pencapit menaruh scone yang dimaksud ke piring saji mungil berwarna biru, selaras dengan set cangkir dan teko tehnya. Motifnya dipenuhi bunga kecil di pinggirannya. &#34;Seset porselen royal Cina. Dari keluarga Xu.&#34; Dia menambahkan krim kental, blok mentega mini dan selai blueberry di sisi piring.&#xA;&#xA;&#34;Cobalah.&#34;&#xA;&#xA;Begitu semua tersaji di depan Jeonghan, hal pertama yang dipikirkannya adalah: dia belom sarapan tadi pagi. Meneguk lidah hingga jakunnya turun-naik, Yoon Jeonghan menangkupkan kedua tangan, berterima kasih atas makanannya dan mulai makan.&#xA;&#xA;Enak.&#xA;&#xA;&#34;Enak,&#34; disuarakannya isi hati. &#34;Tehnya juga enak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tehnya hadiah dari sepupuku,&#34; Pangeran Jisoo juga meneguk dari cangkirnya sendiri. &#34;Aku suka wanginya, jadi kuminta dia mengirimiku sekotak besar dari sana.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Piringnya juga?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Juga?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hadiah.&#34;&#xA;&#xA;Pangeran Jisoo tersenyum. &#34;Piringnya,&#34; ditaruhnya cangkir ke tatakan. &#34;Adalah permintaan maaf dari keluarga Xu karena lamaran yang diajukan ayahku ditolak.&#34;&#xA;&#xA;Jeonghan mendadak batuk-batuk, hampir kesedak teh.&#xA;&#xA;&#34;Jadi seperti itu kondisiku, Yoon,&#34; masih tersenyum, sang pangeran melanjutkan. &#34;Satu-satunya keluarga yang bisa dijodohkan denganku menolak dan aku nggak mau nikah dengan sepupuku sendiri. You being here is a case of mere luck?&#34;&#xA;&#xA;Dibilang mere luck nggak tuh.&#xA;&#xA;&#34;Dan seperti yang kamu lihat tadi, orangtuaku mau turun takhta secepat mungkin. Berharap aku langsung mengambil alih kerajaan. Mereka, para dewan, penduduk; semua juga mau melihatku menikah. Katanya bakal menstabilkan posisiku. Menstabilkan batinku.&#34;&#xA;&#xA;Pangeran Jisoo memundurkan punggung dan menumpangkan sebelah kakinya ke atas lutut. Cara duduknya santai, namun elegan. Cara duduk seseorang yang tau bahwa dirinya terlahir dengan kekuasaan, tapi nggak berusaha menonjok orang lain di muka dengan fakta itu.&#xA;&#xA;&#34;That&#39;s my circumstances. What&#39;s yours?&#34;&#xA;&#xA;Yoon Jeonghan juga bersandar pada sofa. Dia juga menumpangkan kakinya ke lutut. Meski begitu, caranya duduk hampir seperti anak mahasiswa tingkat terakhir yang lagi ngaso di kantin pas jam kosong.&#xA;&#xA;(whom, well, he is.)&#xA;&#xA;&#34;Yang Mulia, aku dateng ke sini buat nolak hasil lotere kemarin,&#34; tegas, lurus, apa adanya: ciri khas yang membentuk seseorang bernama Yoon Jeonghan. &#34;Caranya kreatif sih, kuakuin, nggak terduga banget.&#34; Jeonghan meringis, tercermin di paras Pangeran Jisoo. &#34;Tapi aku nggak minat jadi suami Yang Mulia.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm. Karena mendadak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Itu,&#34; dia mengangguk sambil menusuk potongan kecil scone. &#34;Dan, menurutku, nikah itu harus ada dasar cinta. Kalo nggak karena cinta, at least harus sama-sama mau ngejalaninnya.&#34; Dikunyahnya dalam jeda sesaat sebelum melanjutkan. &#34;Kalo cuma satu yang mau, yah... nggak akan bisa. Marriage isn&#39;t that easy.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Itukah kenapa kamu mencoba menjodohkanku dengan temanmu tadi?&#34; tersenyum, sang pangeran menopang dagunya dengan kepalan tangan. Siku bersandar pada lengan sofa.&#xA;&#xA;&#34;Ah...,&#34; sweatdrop. Beneran ketahuan kan... &#34;Maaf, harusnya kami nggak ngelakuin itu...&#34; Dia sadar sepenuhnya kalau mencoba menipu seseorang itu nggak pernah baik.&#xA;&#xA;&#34;Malah menarik sih. Kalo kalian berhasil dan temanmu nggak pingsan tadi, sepertinya aku bakal pura-pura kejebak dulu sama rencana kalian,&#34; sang pangeran pun tergelak. Kilau matanya nampak jahil. &#34;Gotta see where that would lead me to\~&#34;&#xA;&#xA;Yoon Jeonghan mengerjap-ngerjapkan bulu mata. Oh? Pangeran Jisoo rupanya orang yang kayak gini? Well, that&#39;s out of his initial assumption...&#xA;&#xA;&#34;Maaf,&#34; Jeonghan menundukkan kepala. &#34;Kami nggak bermaksud apapun selain nyoba peruntungan aja. Siapa tau Yang Mulia bersedia tukar jodoh.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Menukar kamu dengan temanmu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Seokmin suka sama Yang Mulia,&#34; dia mendongak, lalu tertawa ringan. &#34;Pas tau aku yang menang lotere, dia ngamuk-ngamuk di telepon. Katanya, &#39;harusnya itu gue!!&#39; gitu.&#34;&#xA;&#xA;Pangeran Jisoo ikut tertawa. &#34;That&#39;s cute,&#34; helanya. &#34;Sayangnya, aku yang milih kamu dari tiga orang berinisial Yoon yang tersisa. Aku tau apa yang kupilih.&#34;&#xA;&#xA;Jeonghan menarik napas.&#xA;&#xA;&#34;Kamu kerja? Kuliah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kuliah... mau lulus bentar lagi.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh, wow,&#34; mereka kembali menikmati jamuan di meja. &#34;Udah tau mau kerja di mana?&#34;&#xA;&#xA;Jeonghan menggeleng. &#34;Masih mikir antara balik ke Seoul ato lanjut di sini,&#34; dibukanya tutup tempat gula batu. Satu butir saja cukup baginya. &#34;I like it here. Negara Yang Mulia ini indah. Di Seoul mana bisa kabur jalan-jalan di pinggir pantai jam tiga sore kalo lagi suntuk sama tugas.&#34;&#xA;&#xA;Bisa merasakan sinar matahari yang menyehatkan. Bisa menikmati tiupan angin yang mengacak rambut hitamnya. Bisa menghirup udara segar berbau garam dalam-dalam dan menyadari betapa indahnya dunia ini...&#xA;&#xA;Mendengar ketulusan dalam kata-kata Yoon Jeonghan, Pangeran Jisoo balas tersenyum. Manis sekali.&#xA;&#xA;&#34;Trims,&#34; nggak ada yang lebih menyenangkan hatinya selain pujian akan negara yang dia cintai sepenuh hati. &#34;Aku akan berusaha keras agar negara ini tetap indah pas aku naik takhta nanti.&#34;&#xA;&#xA;Sejenak, kedua lelaki itu saling bertatapan.&#xA;&#xA;&#34;Yoon Jeonghan,&#34; setelah beberapa saat, sang pangeran kembali berbicara. &#34;Apa ada cara supaya kamu mau mempertimbangkan untuk menikah denganku?&#34;&#xA;&#xA;Mata Jeonghan mengerjap lagi.&#xA;&#xA;&#34;Mungkin cinta bukan dasar pernikahan ini. Mungkin juga nggak akan tumbuh di antara kita. Aku juga...bukan benar-benar mencari suami. Yang kucari itu justru partner.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Partner?&#34; sebelah alis Jeonghan berkerut.&#xA;&#xA;&#34;Hmm. Partner. Sahabat. Sepertinya aku bakal naik takhta jauh lebih cepat dari perkiraanku. Pas aku udah di singgasana, aku bakal butuh teman buat bertukar pikiran. Kamu tau nggak kenapa negara ini bisa terus damai sampai sekarang?&#34;&#xA;&#xA;Perlahan, Jeonghan menggeleng. Pangeran Jisoo pun tersenyum.&#xA;&#xA;&#34;Karena yang jalanin pemerintahan bukan cuma Ayah, tapi juga Ibu,&#34; ucapnya. &#34;Ah, sama Pak Perdana Menteri juga sih. Jangan bilang-bilang kalo aku lupa sama dia tadi.&#34; Telunjuk di depan bibir serta kedipan mata. Jeonghan, mau nggak mau, terkekeh dibuatnya. &#34;Ayah sama Ibu, bagiku, adalah partner terhebat sepanjang hidupku. Aku ingin jadi seperti mereka. Ingin menemukan orang itu. Orang yang bisa bertukar pikiran denganku. Yang mendebatku dan idealismeku, tapi dengan cara yang sehat. Aku mau menjadi raja dengan partner seperti itu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terus...aku, gitu? Yang Mulia pikir orang itu aku?&#34;&#xA;&#xA;Dia hampir mendengus geli. Absurd. Kocak, pula.&#xA;&#xA;&#34;Nggak tau,&#34; jujur, Pangeran Jisoo menggeleng. &#34;Aku nggak kenal kamu, Yoon Jeonghan. Kamu juga nggak kenal aku. Mungkin kita bisa jadi sahabat baik seumur hidup atau malah membenci satu sama lain.&#34;&#xA;&#xA;Kemudian, Pangeran Jisoo mendekatkan bagian tubuh atasnya, membuat Jeonghan auto agak mundur.&#xA;&#xA;&#34;Satu tahun pernikahan. Trial and error. Kalo kamu tetap nggak mau, kita cerai. Kita nggak harus ngelakuin apapun. Kamu nggak harus ngelakuin apapun. Cukup hidup aja bersamaku di istana ini. Well, at least, jadi temanku? Can&#39;t come home to hostility, to be honest,&#34; kekehnya. &#34;In the meantime, selama kita menikah, kamu dapet semua fasilitas yang keluargaku dapet. Kebutuhan hidupmu seperti biaya kuliah, uang saku, atau rumah untuk keluargamu kalo belum ada, nanti kutanggung. Kalo kamu mau, koneksi untuk kerjaanmu juga bisa kubantu.&#xA;&#xA;Cuma perhatiin beberapa hal aja: jangan pakai harta negara sesuka hatimu. Itu separuhnya di bawah yurisdiksi Pak Perdana Menteri. Jangan menyalahgunakan nama keluarga kerajaan. Aku sendiri yang akan menghentikanmu kalau kamu berbuat jahat atas nama keluargaku.&#34;&#xA;&#xA;Pangeran Jisoo menatapnya dengan serius, membuat bulu tengkuk Jeonghan agak berdiri. Namun, kebekuan itu dengan cepat berlalu karena sang pangeran kembali tersenyum.&#xA;&#xA;&#34;Gimana?&#34;&#xA;&#xA;Yoon Jeonghan menghela napas, &#34;Apa nggak mungkin kalo aku tetep nolak pernikahan ini, Yang Mulia?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kamu punya adik?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Deal.&#34;&#xA;&#xA;Jeonghan mengernyit menatap Pangeran Jisoo. Yang ditatap hanya tersenyum lembut. Meski begitu, Jeonghan menyadari kilatan di bola mata kecoklatan sang pangeran is everything but innocence.&#xA;&#xA;Heh. Rupanya dia bener-bener orang kayak gini...&#xA;&#xA;&#34;Aah...,&#34; keluhnya kemudian. &#34;Deal. Deal. Setaun aja kan? Abis setaun, bebas bubar with no hurt feeling? Setaun dapet santunan dari istana, mayan lah.&#34; Dengan cepat dihabiskannya scone, lalu lanjut meneguk tehnya dalam beberapa tegukan besar. &#34;Oh. Tapi, kalo temen-temenku mau maen ke istana nanti, apa boleh, Yang Mulia?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Panggil aku Jisoo,&#34; diulurkannya tangan ke arah Yoon Jeonghan. &#34;And, sure, let them come. Istana ini terlalu luas buat kami bertiga. Let&#39;s us all be friends.&#34;&#xA;&#xA;Jeonghan meraih uluran tangan itu dan menjabatnya. Tangan yang besar yang menenggelamkan tangannya dalam jabatan tegas itu.&#xA;&#xA;&#34;Yeah,&#34; ringisnya. &#34;Let&#39;s.&#34;&#xA;&#xA;This little devil.&#xA;&#xA;It&#39;s a deal]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:jihanmodernroyalty" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">jihanmodernroyalty</span></a></p>

<p>Jeonghan tadinya lagi bengong, terlalu tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Tapi, saat harum teh menguar lembut dan angin sepoi-sepoi berbau samar garam bertiup menyibak tirai halus di aula utama itu, seketika gundah gulananya pun lenyap. Kepalanya kopong. Dia hanya memandangi Pangeran Jisoo yang sedang menuangkan teh panas ke dua cangkir porselen dengan tenang. Berlatar belakang langit biru jernih dan dedaunan hijau, sang pangeran bagaikan keluar dari lukisan kerajaan.</p>



<p>“Vanilla Bourbon,” lamunan Jeonghan buyar ketika Pangeran Jisoo angkat bicara. “Best matched with scone yang baru matang.” Perlahan, ditaruhnya teko ke piring berlapiskan serbet linen sebelum sebuah pencapit menaruh scone yang dimaksud ke piring saji mungil berwarna biru, selaras dengan set cangkir dan teko tehnya. Motifnya dipenuhi bunga kecil di pinggirannya. “Seset porselen royal Cina. Dari keluarga Xu.” Dia menambahkan krim kental, blok mentega mini dan selai blueberry di sisi piring.</p>

<p>“Cobalah.”</p>

<p>Begitu semua tersaji di depan Jeonghan, hal pertama yang dipikirkannya adalah: dia belom sarapan tadi pagi. Meneguk lidah hingga jakunnya turun-naik, Yoon Jeonghan menangkupkan kedua tangan, berterima kasih atas makanannya dan mulai makan.</p>

<p><em>Enak.</em></p>

<p>“Enak,” disuarakannya isi hati. “Tehnya juga enak.”</p>

<p>“Tehnya hadiah dari sepupuku,” Pangeran Jisoo juga meneguk dari cangkirnya sendiri. “Aku suka wanginya, jadi kuminta dia mengirimiku sekotak besar dari sana.”</p>

<p>“Piringnya juga?”</p>

<p>“<em>Juga</em>?”</p>

<p>“Hadiah.”</p>

<p>Pangeran Jisoo tersenyum. “Piringnya,” ditaruhnya cangkir ke tatakan. “Adalah permintaan maaf dari keluarga Xu karena lamaran yang diajukan ayahku ditolak.”</p>

<p>Jeonghan mendadak batuk-batuk, hampir kesedak teh.</p>

<p>“Jadi seperti itu kondisiku, Yoon,” masih tersenyum, sang pangeran melanjutkan. “Satu-satunya keluarga yang bisa dijodohkan denganku menolak dan aku nggak mau nikah dengan sepupuku sendiri. You being here is a case of mere luck?”</p>

<p><em>Dibilang mere luck nggak tuh.</em></p>

<p>“Dan seperti yang kamu lihat tadi, orangtuaku mau turun takhta secepat mungkin. Berharap aku langsung mengambil alih kerajaan. Mereka, para dewan, penduduk; semua juga mau melihatku menikah. Katanya bakal menstabilkan posisiku. Menstabilkan batinku.”</p>

<p>Pangeran Jisoo memundurkan punggung dan menumpangkan sebelah kakinya ke atas lutut. Cara duduknya santai, namun elegan. Cara duduk seseorang yang tau bahwa dirinya terlahir dengan kekuasaan, tapi nggak berusaha menonjok orang lain di muka dengan fakta itu.</p>

<p>“That&#39;s my circumstances. What&#39;s yours?”</p>

<p>Yoon Jeonghan juga bersandar pada sofa. Dia juga menumpangkan kakinya ke lutut. Meski begitu, caranya duduk hampir seperti anak mahasiswa tingkat terakhir yang lagi ngaso di kantin pas jam kosong.</p>

<p><em>(whom, well, he is.)</em></p>

<p>“Yang Mulia, aku dateng ke sini buat nolak hasil lotere kemarin,” tegas, lurus, apa adanya: ciri khas yang membentuk seseorang bernama Yoon Jeonghan. “Caranya kreatif sih, kuakuin, nggak terduga banget.” Jeonghan meringis, tercermin di paras Pangeran Jisoo. “Tapi aku nggak minat jadi suami Yang Mulia.”</p>

<p>“Hmm. Karena mendadak?”</p>

<p>“Itu,” dia mengangguk sambil menusuk potongan kecil scone. “Dan, menurutku, nikah itu harus ada dasar cinta. Kalo nggak karena cinta, at least harus sama-sama mau ngejalaninnya.” Dikunyahnya dalam jeda sesaat sebelum melanjutkan. “Kalo cuma satu yang mau, yah... nggak akan bisa. Marriage isn&#39;t that easy.”</p>

<p>“Itukah kenapa kamu mencoba menjodohkanku dengan temanmu tadi?” tersenyum, sang pangeran menopang dagunya dengan kepalan tangan. Siku bersandar pada lengan sofa.</p>

<p>“<em>Ah</em>...,” sweatdrop. <em>Beneran ketahuan kan</em>... “Maaf, harusnya kami nggak ngelakuin itu...” Dia sadar sepenuhnya kalau mencoba menipu seseorang itu nggak pernah baik.</p>

<p>“Malah menarik sih. Kalo kalian berhasil dan temanmu nggak pingsan tadi, sepertinya aku bakal pura-pura kejebak dulu sama rencana kalian,” sang pangeran pun tergelak. Kilau matanya nampak jahil. “<em>Gotta see where that would lead me to~</em>“</p>

<p>Yoon Jeonghan mengerjap-ngerjapkan bulu mata. <em>Oh? Pangeran Jisoo rupanya orang yang kayak gini?</em> Well, that&#39;s out of his initial assumption...</p>

<p>“Maaf,” Jeonghan menundukkan kepala. “Kami nggak bermaksud apapun selain nyoba peruntungan aja. Siapa tau Yang Mulia bersedia tukar jodoh.”</p>

<p>“Menukar kamu dengan temanmu?”</p>

<p>“Seokmin suka sama Yang Mulia,” dia mendongak, lalu tertawa ringan. “Pas tau aku yang menang lotere, dia ngamuk-ngamuk di telepon. Katanya, &#39;<em>harusnya itu gue!!</em>&#39; gitu.”</p>

<p>Pangeran Jisoo ikut tertawa. “That&#39;s cute,” helanya. “Sayangnya, <em>aku</em> yang milih kamu dari tiga orang berinisial Yoon yang tersisa. Aku <em>tau</em> apa yang kupilih.”</p>

<p>Jeonghan menarik napas.</p>

<p>“Kamu kerja? Kuliah?”</p>

<p>“Kuliah... mau lulus bentar lagi.”</p>

<p>“Oh, <em>wow</em>,” mereka kembali menikmati jamuan di meja. “Udah tau mau kerja di mana?”</p>

<p>Jeonghan menggeleng. “Masih mikir antara balik ke Seoul ato lanjut di sini,” dibukanya tutup tempat gula batu. Satu butir saja cukup baginya. “I like it here. Negara Yang Mulia ini indah. Di Seoul mana bisa kabur jalan-jalan di pinggir pantai jam tiga sore kalo lagi suntuk sama tugas.”</p>

<p>Bisa merasakan sinar matahari yang menyehatkan. Bisa menikmati tiupan angin yang mengacak rambut hitamnya. Bisa menghirup udara segar berbau garam dalam-dalam dan menyadari betapa indahnya dunia ini...</p>

<p>Mendengar ketulusan dalam kata-kata Yoon Jeonghan, Pangeran Jisoo balas tersenyum. Manis sekali.</p>

<p>“Trims,” nggak ada yang lebih menyenangkan hatinya selain pujian akan negara yang dia cintai sepenuh hati. “Aku akan berusaha keras agar negara ini tetap indah pas aku naik takhta nanti.”</p>

<p>Sejenak, kedua lelaki itu saling bertatapan.</p>

<p>“Yoon Jeonghan,” setelah beberapa saat, sang pangeran kembali berbicara. “Apa ada cara supaya kamu mau mempertimbangkan untuk menikah denganku?”</p>

<p>Mata Jeonghan mengerjap lagi.</p>

<p>“Mungkin cinta bukan dasar pernikahan ini. Mungkin juga nggak akan tumbuh di antara kita. Aku juga...bukan benar-benar mencari suami. Yang kucari itu justru <em>partner</em>.”</p>

<p>“Partner?” sebelah alis Jeonghan berkerut.</p>

<p>“<em>Hmm</em>. Partner. Sahabat. Sepertinya aku bakal naik takhta jauh lebih cepat dari perkiraanku. Pas aku udah di singgasana, aku bakal butuh teman buat bertukar pikiran. Kamu tau nggak kenapa negara ini bisa terus damai sampai sekarang?”</p>

<p>Perlahan, Jeonghan menggeleng. Pangeran Jisoo pun tersenyum.</p>

<p>“Karena yang jalanin pemerintahan bukan cuma Ayah, tapi juga Ibu,” ucapnya. “Ah, sama Pak Perdana Menteri juga sih. Jangan bilang-bilang kalo aku lupa sama dia tadi.” Telunjuk di depan bibir serta kedipan mata. Jeonghan, mau nggak mau, terkekeh dibuatnya. “Ayah sama Ibu, bagiku, adalah partner terhebat sepanjang hidupku. Aku ingin jadi seperti mereka. Ingin menemukan orang itu. Orang yang bisa bertukar pikiran denganku. Yang mendebatku dan idealismeku, tapi dengan cara yang sehat. Aku mau menjadi raja dengan partner seperti itu.”</p>

<p>“Terus...<em>aku</em>, <em>gitu</em>? Yang Mulia pikir orang itu <em>aku</em>?”</p>

<p>Dia hampir mendengus geli. <em>Absurd. Kocak, pula</em>.</p>

<p>“Nggak tau,” jujur, Pangeran Jisoo menggeleng. “Aku nggak kenal kamu, Yoon Jeonghan. Kamu juga nggak kenal aku. Mungkin kita bisa jadi sahabat baik seumur hidup atau malah membenci satu sama lain.”</p>

<p>Kemudian, Pangeran Jisoo mendekatkan bagian tubuh atasnya, membuat Jeonghan auto agak mundur.</p>

<p>“Satu tahun pernikahan. <em>Trial and error</em>. Kalo kamu tetap nggak mau, kita cerai. Kita nggak harus ngelakuin apapun. <em>Kamu</em> nggak harus ngelakuin apapun. Cukup hidup aja bersamaku di istana ini. Well, at least, jadi temanku? Can&#39;t come home to hostility, to be honest,” kekehnya. “In the meantime, selama kita menikah, kamu dapet semua fasilitas yang keluargaku dapet. Kebutuhan hidupmu seperti biaya kuliah, uang saku, atau rumah untuk keluargamu kalo belum ada, nanti kutanggung. Kalo kamu mau, koneksi untuk kerjaanmu juga bisa kubantu.</p>

<p>Cuma perhatiin beberapa hal aja: jangan pakai harta negara sesuka hatimu. Itu separuhnya di bawah yurisdiksi Pak Perdana Menteri. Jangan menyalahgunakan nama keluarga kerajaan. Aku sendiri yang akan menghentikanmu kalau kamu berbuat jahat atas nama keluargaku.”</p>

<p>Pangeran Jisoo menatapnya dengan serius, membuat bulu tengkuk Jeonghan agak berdiri. Namun, kebekuan itu dengan cepat berlalu karena sang pangeran kembali tersenyum.</p>

<p>“Gimana?”</p>

<p>Yoon Jeonghan menghela napas, “Apa nggak mungkin kalo aku tetep nolak pernikahan ini, Yang Mulia?”</p>

<p>“Kamu punya adik?”</p>

<p>“<em>Deal</em>.”</p>

<p>Jeonghan mengernyit menatap Pangeran Jisoo. Yang ditatap hanya tersenyum lembut. Meski begitu, Jeonghan menyadari kilatan di bola mata kecoklatan sang pangeran is everything but innocence.</p>

<p><em>Heh. Rupanya dia bener-bener orang kayak gini...</em></p>

<p>“<em>Aah</em>...,” keluhnya kemudian. “Deal. Deal. Setaun aja kan? Abis setaun, bebas bubar with no hurt feeling? Setaun dapet santunan dari istana, mayan lah.” Dengan cepat dihabiskannya scone, lalu lanjut meneguk tehnya dalam beberapa tegukan besar. “Oh. Tapi, kalo temen-temenku mau maen ke istana nanti, apa boleh, Yang Mulia?”</p>

<p>“Panggil aku Jisoo,” diulurkannya tangan ke arah Yoon Jeonghan. “And, sure, let them come. Istana ini terlalu luas buat kami bertiga. Let&#39;s us all be friends.”</p>

<p>Jeonghan meraih uluran tangan itu dan menjabatnya. Tangan yang besar yang menenggelamkan tangannya dalam jabatan tegas itu.</p>

<p>“Yeah,” ringisnya. “Let&#39;s.”</p>

<p><em>This little devil.</em></p>

<p><img src="https://thesunmetmoon.com/wp-content/uploads/2024/10/jihandeal.jpg" alt="It&#39;s a deal"/></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-4-canseongibnida</guid>
      <pubDate>Mon, 01 Apr 2024 15:04:45 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Part 3: 얘기하자</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-3-yaegihaja?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[jihanmodernroyalty&#xA;&#xA;Goblok.&#xA;&#xA;Makian barusan ditujukan untuk dirinya dan dirinya only. Kalo boleh jujur yah... buat Seokmin juga sih sebenernya, tapi melihat kondisi anak itu saat ini, Jeonghan rada nggak tega. Berkebalikan dari Jeonghan yang masih mematung di posisinya, Seungcheol dan Mingyu buru-buru berlutut, mencoba menyadarkan Seokmin yang mendadak aja pingsan.&#xA;&#xA;DISENYUMIN DIKIT DOANG UDAH PENGSAN—&#xA;&#xA;Ampas.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Kenapa anak itu??&#34; paduka raja yang baik hati pun nampak cemas. &#34;Baik-baik sajakah dirinya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jika berkenan, ada kamar yang bisa dipakainya,&#34; sang permaisuri menimpali. &#34;Penjaga, tolong bawa anak itu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak apa, Yang Mulia,&#34; Mingyu dengan mudah menggendong Seokmin dalam pose pengantin. Hasil nge-gym-nya selama ini rupanya berbuah manis. &#34;Saya aja yang bawa. Mm, mungkin bisa tolong bantu arahin?&#34; Agak ragu, diliriknya Seungcheol lalu si penjaga.&#xA;&#xA;&#34;Saya temenin dia,&#34; ikut menatap si penjaga, Seungcheol kemudian menaruh tangannya di bagian bawah punggung Mingyu sebagai gestur menenangkan. &#34;Tolong arahin jalannya.&#34;&#xA;&#xA;Sekejap, penghuni aula utama berkurang separuhnya, menyisakan sang raja, ratu, pangeran dan...Yoon Jeonghan.&#xA;&#xA;Kelinci kecil yang jatuh ke lubang menuju Wonderland.&#xA;&#xA;Menghela napas, Jeonghan seketika paham kalau rencananya telah gagal total. Bukan cuma karena Seokmin pingsan, tetapi juga karena dia nggak sengaja manggil nama Seokmin. Kenceng banget lagi. Pangeran Jisoo pasti nangkep kata apa yang keluar dari mulutnya tadi. Sekarang, kalo Jeonghan tetep maksain mengakui dirinya sebagai Seokmin dan  yang pingsan itu Jeonghan, dia bakal dicap tolol kuadrat sama si pangeran. Dan dia nggak mau itu.&#xA;&#xA;Hela napas sekali lagi.&#xA;&#xA;Panik boleh, goblok jangan.&#xA;&#xA;&#34;Kuharap temanmu nggak apa-apa.&#34;&#xA;&#xA;Seuntai kalimat dalam intonasi ringan dan suara lembut. Jeonghan berkedip sebelum mendongak, memandang pemilik suara itu tepat di matanya. Cokelat tua, hampir hitam, menatapnya balik nggak kalah lembut dari suaranya.&#xA;&#xA;&#34;No worries. Dia cuma pingsan dikit ketemu idolnya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Idol?&#34; kernyitan lemah kemudian nampak di antara alis Pangeran Jisoo.&#xA;&#xA;&#34;Humm. Dia naksir Yang Mulia.&#34;&#xA;&#xA;Mendadak saja, Pangeran Jisoo menarik napas.&#xA;&#xA;&#34;Dia naksir Ayah???&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ap—&#34;&#xA;&#xA;&#34;OHO?? JADI BEGITU??&#34; sang raja tertawa terbahak-bahak. &#34;AH, BETAPA BERDOSANYA JIWA INI! Permaisuriku, lihatlah! Warga kita bahkan pingsan karena kekagumannya padaku!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Wah, wah. Banyak benar dosa Anda ini, Yang Mulia,&#34; sang permaisuri ikut terkikik. &#34;Mungkin sudah saatnya Anda berlibur bersamaku yang lama dan membiarkan putra kita mengambil alih kerajaan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ibu\~&#34; Pangeran Jisoo manyun. Jeonghan agak terpana melihatnya. &#34;Jangan bicara begitu\~ Aku belum pantas menggantikan Ayah. Masih perlu banyak belajar satu-dua tahun ini. Betul begitu kan, Yoon?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh? Yah...&#34;&#xA;&#xA;&#34;See? Yoon juga berpikir begitu. Ayah masih diperlukan di kerajaan kita. Jadi, jangan buru-buru melengserkan Ayah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, iya,&#34; sang permaisuri menghela napas. &#34;Hanya saja, Yang Mulia dan Ibu sudah tua, Nak. Kami sudah lelah lama-lama duduk di singgasana. Sakit pinggang kami dibuatnya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Makanya singgasana ditiadakan dan aula utama dipindah kan? Sofa ini sebagai pengganti.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ssh, shh. Ibu yakin kamu menangkap intinya, Nak.&#34;&#xA;&#xA;Tentu ia menangkapnya. Orangtua yang kelewat tua dibandingkan usianya sendiri (Pangeran Jisoo datang sebagai karunia yang cukup terlambat dan hampir saja gagal lahir ke dunia andai dirinya datang setahun lebih lama), ketidak sabaran para penghuni istana serta warga mereka melihat sang pangeran mengambil alih tampuk kerajaan, serta harapan mereka semua untuk dirinya bersanding dengan seseorang.&#xA;&#xA;Negara ini negara yang cukup kecil. Pun jauh dari mana-mana. Negara yang cocok untuk mereka yang ingin menikmati hidup tenang tanpa banyak kekisruhan politik dan militer dari negara-negara tetangga. Sebagai konsekuensinya, nggak banyak keturunan negara sahabat untuk dijodohkan dengannya. Satu-satunya yang memungkinkan adalah keluarga Xu sebagai sahabat terdekat, tapi penerus terakhir sudah menetapkan pilihan hatinya dan menolak pinangan keluarga Hong. Pangeran Jisoo juga enggan kalau harus dinikahkan dengan sepupunya sendiri, Pangeran Hansol.&#xA;&#xA;Maka, muncullah ide yang disadur dari naskah kuno yang disimpan di perpustakaan kerajaan: undian untuk mencari jodoh bagi penerus kerajaan.&#xA;&#xA;Sebuah metode absurd, but somehow it works.&#xA;&#xA;Pangeran Jisoo memandangi Yoon Jeonghan lagi. Yang dipandang sepertinya nggak sadar kalau dia sedari tadi udah dipanggil namanya. Entah apa niat Yoon Jeonghan datang bersama ketiga temannya seperti itu. Namun, menilik dari alasan kenapa salah satu dari mereka mendadak pingsan…&#xA;&#xA;Pangeran Jisoo mengelus dagu sejenak dan mengernyitkan sebelah alis.&#xA;&#xA;....Ah.&#xA;&#xA;Begitu ternyata.&#xA;&#xA;&#34;Ayah, Ibu. Bolehkah aku berbicara berdua saja dengan calon suamiku?&#34;&#xA;&#xA;Jeonghan terkesiap. Dia baru sadar kalau Pangeran Jisoo telah mengetahui identitasnya. Dipikir-pikir juga, kayaknya marganya disebut-sebut tadi. Ah, shit. Beneran udah runyam ini mah.&#xA;&#xA;Ketika pintu ditutup bagi mereka, Pangeran Jisoo langsung duduk di sofa, tepat berseberangan dengan tunangannya.&#xA;&#xA;&#34;Silakan duduk, Yoon,&#34; diambilnya seset cangkir serta teko yang masih panas. &#34;Kuseduhkan teh.&#34;&#xA;&#xA;Jeonghan worrying&#xA;&#xA;Jeonghan ingin menampik, bertanya bukankah itu tugas pelayan, namun bibirnya terlalu berat untuk dibuka. Lagipula, otaknya masih terus berputar mencari cara untuk memutuskan pertunangan satu pihak ini dengan sediplomatis mungkin. Dia yakin Pangeran Jisoo punya pemikiran yang terbuka dan bukan tipe yang suka memaksakan kehendak.&#xA;&#xA;At least, he hopes so.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:jihanmodernroyalty" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">jihanmodernroyalty</span></a></p>

<p><em>Goblok</em>.</p>

<p>Makian barusan ditujukan untuk dirinya dan dirinya only. Kalo boleh jujur yah... buat Seokmin juga sih sebenernya, tapi melihat kondisi anak itu saat ini, Jeonghan rada nggak tega. Berkebalikan dari Jeonghan yang masih mematung di posisinya, Seungcheol dan Mingyu buru-buru berlutut, mencoba menyadarkan Seokmin yang mendadak aja pingsan.</p>

<p><em>DISENYUMIN DIKIT DOANG UDAH PENGSAN—</em></p>

<p><em>Ampas.</em></p>



<p>“Kenapa anak itu??” paduka raja yang baik hati pun nampak cemas. “Baik-baik sajakah dirinya?”</p>

<p>“Jika berkenan, ada kamar yang bisa dipakainya,” sang permaisuri menimpali. “Penjaga, tolong bawa anak itu.”</p>

<p>“Nggak apa, Yang Mulia,” Mingyu dengan mudah menggendong Seokmin dalam pose pengantin. Hasil nge-gym-nya selama ini rupanya berbuah manis. “Saya aja yang bawa. Mm, mungkin bisa tolong bantu arahin?” Agak ragu, diliriknya Seungcheol lalu si penjaga.</p>

<p>“Saya temenin dia,” ikut menatap si penjaga, Seungcheol kemudian menaruh tangannya di bagian bawah punggung Mingyu sebagai gestur menenangkan. “Tolong arahin jalannya.”</p>

<p>Sekejap, penghuni aula utama berkurang separuhnya, menyisakan sang raja, ratu, pangeran dan...Yoon Jeonghan.</p>

<p><em>Kelinci kecil yang jatuh ke lubang menuju Wonderland.</em></p>

<p>Menghela napas, Jeonghan seketika paham kalau rencananya telah gagal total. Bukan cuma karena Seokmin pingsan, tetapi juga karena dia nggak sengaja manggil nama Seokmin. Kenceng banget lagi. Pangeran Jisoo pasti nangkep kata apa yang keluar dari mulutnya tadi. Sekarang, kalo Jeonghan tetep maksain mengakui dirinya sebagai Seokmin dan  yang pingsan itu Jeonghan, dia bakal dicap tolol kuadrat sama si pangeran. Dan dia nggak mau itu.</p>

<p>Hela napas sekali lagi.</p>

<p><em>Panik boleh, goblok jangan.</em></p>

<p>“Kuharap temanmu nggak apa-apa.”</p>

<p>Seuntai kalimat dalam intonasi ringan dan suara lembut. Jeonghan berkedip sebelum mendongak, memandang pemilik suara itu tepat di matanya. Cokelat tua, hampir hitam, menatapnya balik nggak kalah lembut dari suaranya.</p>

<p>“No worries. Dia cuma pingsan dikit ketemu idolnya.”</p>

<p>“<em>Idol</em>?” kernyitan lemah kemudian nampak di antara alis Pangeran Jisoo.</p>

<p>“Humm. Dia naksir Yang Mulia.”</p>

<p>Mendadak saja, Pangeran Jisoo menarik napas.</p>

<p>“Dia naksir <em>Ayah</em>???”</p>

<p>“Ap—”</p>

<p>“<em>OHO</em>?? JADI BEGITU??” sang raja tertawa terbahak-bahak. “AH, BETAPA BERDOSANYA JIWA INI! Permaisuriku, lihatlah! Warga kita bahkan pingsan karena kekagumannya padaku!”</p>

<p>“Wah, wah. Banyak benar dosa Anda ini, Yang Mulia,” sang permaisuri ikut terkikik. “Mungkin sudah saatnya Anda berlibur bersamaku yang lama dan membiarkan putra kita mengambil alih kerajaan.”</p>

<p>“Ibu~” Pangeran Jisoo manyun. Jeonghan agak terpana melihatnya. “Jangan bicara begitu~ Aku belum pantas menggantikan Ayah. Masih perlu banyak belajar satu-dua tahun ini. Betul begitu kan, <em>Yoon</em>?”</p>

<p>“Eh? Yah...”</p>

<p>“See? <em>Yoon</em> juga berpikir begitu. Ayah masih diperlukan di kerajaan kita. Jadi, jangan buru-buru melengserkan Ayah.”</p>

<p>“Iya, iya,” sang permaisuri menghela napas. “Hanya saja, Yang Mulia dan Ibu sudah tua, Nak. Kami sudah lelah lama-lama duduk di singgasana. Sakit pinggang kami dibuatnya.”</p>

<p>“Makanya singgasana ditiadakan dan aula utama dipindah kan? Sofa ini sebagai pengganti.”</p>

<p>“<em>Ssh, shh</em>. Ibu yakin kamu menangkap intinya, Nak.”</p>

<p>Tentu ia menangkapnya. Orangtua yang kelewat tua dibandingkan usianya sendiri (Pangeran Jisoo datang sebagai karunia yang cukup terlambat dan hampir saja gagal lahir ke dunia andai dirinya datang setahun lebih lama), ketidak sabaran para penghuni istana serta warga mereka melihat sang pangeran mengambil alih tampuk kerajaan, serta harapan mereka semua untuk dirinya bersanding dengan seseorang.</p>

<p>Negara ini negara yang cukup kecil. Pun jauh dari mana-mana. Negara yang cocok untuk mereka yang ingin menikmati hidup tenang tanpa banyak kekisruhan politik dan militer dari negara-negara tetangga. Sebagai konsekuensinya, nggak banyak keturunan negara sahabat untuk dijodohkan dengannya. Satu-satunya yang memungkinkan adalah keluarga Xu sebagai sahabat terdekat, tapi penerus terakhir sudah menetapkan pilihan hatinya dan menolak pinangan keluarga Hong. Pangeran Jisoo juga enggan kalau harus dinikahkan dengan sepupunya sendiri, Pangeran Hansol.</p>

<p>Maka, muncullah ide yang disadur dari naskah kuno yang disimpan di perpustakaan kerajaan: undian untuk mencari jodoh bagi penerus kerajaan.</p>

<p><em>Sebuah metode absurd, but somehow it works.</em></p>

<p>Pangeran Jisoo memandangi Yoon Jeonghan lagi. Yang dipandang sepertinya nggak sadar kalau dia sedari tadi udah dipanggil namanya. Entah apa niat Yoon Jeonghan datang bersama ketiga temannya seperti itu. Namun, menilik dari alasan kenapa salah satu dari mereka mendadak pingsan…</p>

<p>Pangeran Jisoo mengelus dagu sejenak dan mengernyitkan sebelah alis.</p>

<p>....<em>Ah.</em></p>

<p><em>Begitu ternyata.</em></p>

<p>“Ayah, Ibu. Bolehkah aku berbicara berdua saja dengan calon suamiku?”</p>

<p>Jeonghan terkesiap. Dia baru sadar kalau Pangeran Jisoo telah mengetahui identitasnya. Dipikir-pikir juga, kayaknya marganya disebut-sebut tadi. <em>Ah, shit.</em> Beneran udah runyam ini mah.</p>

<p>Ketika pintu ditutup bagi mereka, Pangeran Jisoo langsung duduk di sofa, tepat berseberangan dengan tunangannya.</p>

<p>“Silakan duduk, Yoon,” diambilnya seset cangkir serta teko yang masih panas. “Kuseduhkan teh.”</p>

<p><img src="https://thesunmetmoon.com/wp-content/uploads/2024/10/jihanworry.jpg" alt="Jeonghan worrying"/></p>

<p>Jeonghan ingin menampik, bertanya bukankah itu tugas pelayan, namun bibirnya terlalu berat untuk dibuka. Lagipula, otaknya masih terus berputar mencari cara untuk memutuskan pertunangan satu pihak ini dengan sediplomatis mungkin. Dia yakin Pangeran Jisoo punya pemikiran yang terbuka dan bukan tipe yang suka memaksakan kehendak.</p>

<p><em>At least, he hopes so.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-3-yaegihaja</guid>
      <pubDate>Sun, 31 Mar 2024 03:51:25 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Part 2: 오늘 너를 만났다</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-2-oneul-neoreul-mannassda?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[jihanmodernroyalty&#xA;&#xA;Sebenarnya kalau Jeonghan mau diam sebentar dan berpikir dengan kepala lebih dingin, dia pasti langsung paham kelemahan rencananya dari segala sisi.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Pertama, apa nggak dicek tuh kartu identitasnya sebelum masuk ke istana sama penjaga luar gerbang? Masuk kediaman megah orang kaya aja ada pemeriksaan, apalagi sepenting istana kerajaan. Rencananya bisa langsung gagal bahkan sebelum dilancarkan.&#xA;&#xA;Kedua, walau entah gimana dia somehow bisa lolos dari luar gerbang dan masuk ke istana, pas ketemu tatap muka toh mereka harusnya udah tau yang mana muka Yoon Jeonghan itu, apalagi mengingat social medianya juga nggak diset privat. Muka dia sama muka Seokmin kan jauh banget bedanya. Masa bisa ketuker?&#xA;&#xA;Ketiga, Jeonghan harusnya ingat kalau Seokmin terkenal mudah kena nervous breakdown. Kalau mereka sampai dipojokin karena berbohong, anak itu most likely bakal ngespill sendiri secara suka rela.&#xA;&#xA;Keempat, kalau benar begitu jalan skenarionya, Yoon Jeonghan bisa berakhir di penjara.&#xA;&#xA;Nah, biasanya, dia dalam keadaan normal akan berpikir masak-masak sebelum bertindak sampai sejauh itu. Something about one step back, three steps forward or so. Dia bakal mundur sedikit—satu langkah—agar bisa melihat keseluruhan gambarnya dalam skala yang lebih luas untuk mengambil keputusan yang benar.&#xA;&#xA;Tapi, saat ini, jujur, otaknya panas. Setengah berusaha calm and collected, tapi setengahnya lagi malah gatal ingin memesan tiket pesawat ke Seoul penerbangan paling pagi dan nggak balik lagi selamanya.&#xA;&#xA;Jeonghan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Seungcheol di kursi pengemudi melirik padanya melalui spion tengah. &#34;You okay, Han?&#34; tanyanya.&#xA;&#xA;Mingyu menoleh ke belakang dari kursi penumpang depan, menyalurkan kecemasan melalui sorot matanya. Meski jelas mengantuk karena Mingyu lebih ke night owl daripada early bird, dia rela dibangunkan Seungcheol jauh sebelum alarmnya berdering demi menemani Jeonghan dan Seokmin, yang lagi sama nervous-nya seperti Jeonghan di jok belakang.&#xA;&#xA;Jeonghan ingin mendengus rasanya. Semua ini terlihat tolol.&#xA;&#xA;&#34;Should I?&#34; kekehnya, walau nggak ada yang lucu sama sekali. &#34;Gue capek banget dari kemaren. Gue mutusin buat nggak mikir apa-apa.&#34; Berkata begitu, dia menopang pipi dengan kepalan tangan, bersandar ke jendela. Di luar, suasana kota nampak baru bangun dari tidur. Orang-orang keluar dari rumah mereka, tersenyum dan bercengkerama. Enak banget hidup mereka ya, nggak perlu gundah gulana nggak jelas kayak dia di bawah naungan langit biru nan cerah ini...&#xA;&#xA;&#34;Good. Lebih lo banget kalo kek gitu,&#34; seloroh Seungcheol. Mingyu merengut, lalu mencubit paha Seungcheol. &#34;Aw fak! Paan sih?!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ada tempatnya kalo mau becanda, Bang,&#34; Mingyu masih merengut. &#34;Kesian Bang Han. Dia lagi stress itu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya kan makanya gue bilang bagus dia mutusin gak mikirin itu lagi?! Ngapain dipikirin lama-lama juga?? Adanya makin stress dia!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi kan—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gyu. Udah.&#34;&#xA;&#xA;Jeonghan menyela, langsung membungkam mulut Mingyu. Sisa perjalanan itu diisi playlist Spotify Seungcheol—80% ballad dan 20% hip hop—tanpa ada satu pun dari keempat orang di dalamnya yang angkat bicara lagi, terlalu sibuk dengan pemikiran masing-masing.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Teguk ludah.&#xA;&#xA;Gimana bisa sih, probabilitas 1 dan probabilitas 2 kelewat begitu aja??? Di gerbang luar istana nggak ada yang mengecek kartu identitas mereka. Pun, ketika pintunya yang megah dibuka, penjaga beserta kepala pelayan nggak ada yang menanyakan siapa mereka, hanya keperluan mereka saja.&#xA;&#xA;&#34;Mm, k-kami datang karena l-lotere semalam...?&#34;&#xA;&#xA;Yang langsung membuat keempat pemuda itu diboyong ke aula utama tempat raja dan ratu menerima tamu.&#xA;&#xA;??? I mean—segampang ini tah???&#xA;&#xA;Sumpah lah, Jeonghan bener-bener ngerasa kalau protokol keamanan istana butuh ditingkatin lagi. Iya tau, ini negara aman tentram damai bahagia sentosa, tapi yang namanya penjagaan jangan selembek ini juga lah?? Masa iya mau tunggu huru-hara dulu baru diketatin?? Kalau Jeonghan udah take over nanti, hal pertama yang bakal dia lakuin—&#xA;&#xA;...wait. Wait, no. Ini salah. Salah banget.&#xA;&#xA;Buru-buru dia menggelengkan kepala, membersihkan pikiran aneh di dalamnya.&#xA;&#xA;Berbeda dari bayangan Jeonghan sebelumnya, aula utama bukanlah ruangan besar dengan gelaran karpet merah memanjang sampai podium dimana dua singgasana kerajaan menanti mereka. Aula utama istana ini adalah ruangan yang cukup kecil, namun masih pantas untuk menerima tamu rombongan. Alih-alih singgasana dingin, beberapa sofa empuk ditaruh dengan meja kopi pendek di antaranya. Raja dan ratu sedang menikmati teh pagi mereka setelah sarapan ketika mereka menyadari kedatangan keempat pemuda asing.&#xA;&#xA;&#34;Yang Mulia, pemenang undian kerajaan telah tiba.&#34;&#xA;&#xA;&#34;OH!&#34; serta merta, sang raja pun melompat berdiri. Senyumnya lebar sekali. Sang permaisuri harus mengingatkan suaminya supaya nggak kelewat bersemangat dan melupakan usianya. &#34;Calon menantuku! Jisoo-ya! Kemari, Nak! Suamimu sudah datang!&#34;&#xA;&#xA;Jeonghan diam-diam meneguk ludah. Bunyi sepatu bertemu lantai marmer memenuhi ruang yang, mendadak saja, sunyi karena keempat pemuda itu tanpa sadar telah menahan napas. Pintu yang menghubungkan aula dengan taman pribadi kerajaan lalu membuka dan—&#xA;&#xA;&#34;Ya, Ayah?&#34;&#xA;&#xA;First Encounter&#xA;&#xA;Pangeran Jisoo muncul dari balik pintu, nampak segar seperti kelopak bunga pertama di musim semi. Angin bertiup lembut, mengacak rambutnya yang sekelam malam. Matanya memandang lembut seperti biasanya tanpa ada perubahan signifikan kala menatap mereka semua. Ujung bibir merahnya pun tertarik membentuk senyuman manis.&#xA;&#xA;All in all, he&#39;s a very delightful view indeed.&#xA;&#xA;BRUK!!&#xA;&#xA;&#34;SEOK?!&#34;&#xA;&#xA;Namun, detik kemudian, Jeonghan membekap mulutnya. Matanya membuka begitu lebar. Sadar akan apa yang baru saja terjadi.&#xA;&#xA;So much for the fucking plan, mate...]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:jihanmodernroyalty" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">jihanmodernroyalty</span></a></p>

<p>Sebenarnya kalau Jeonghan mau diam sebentar dan berpikir dengan kepala lebih dingin, dia pasti langsung paham kelemahan rencananya dari segala sisi.</p>



<p>Pertama, apa nggak dicek tuh kartu identitasnya sebelum masuk ke istana sama penjaga luar gerbang? Masuk kediaman megah orang kaya aja ada pemeriksaan, apalagi sepenting istana kerajaan. Rencananya bisa langsung gagal bahkan sebelum dilancarkan.</p>

<p>Kedua, walau entah gimana dia somehow bisa lolos dari luar gerbang dan masuk ke istana, pas ketemu tatap muka toh mereka harusnya udah tau yang mana muka Yoon Jeonghan itu, apalagi mengingat social medianya juga nggak diset privat. Muka dia sama muka Seokmin kan jauh banget bedanya. <em>Masa bisa ketuker?</em></p>

<p>Ketiga, Jeonghan harusnya ingat kalau Seokmin terkenal mudah kena nervous breakdown. Kalau mereka sampai dipojokin karena berbohong, anak itu most likely bakal ngespill sendiri secara suka rela.</p>

<p>Keempat, kalau benar begitu jalan skenarionya, Yoon Jeonghan bisa berakhir di penjara.</p>

<p>Nah, biasanya, dia dalam keadaan normal akan berpikir masak-masak sebelum bertindak sampai sejauh itu. <em>Something about one step back, three steps forward or so.</em> Dia bakal mundur sedikit—satu langkah—agar bisa melihat keseluruhan gambarnya dalam skala yang lebih luas untuk mengambil keputusan yang benar.</p>

<p>Tapi, saat ini, <em>jujur</em>, otaknya <em>panas</em>. Setengah berusaha calm and collected, tapi setengahnya lagi malah gatal ingin memesan tiket pesawat ke Seoul penerbangan paling pagi dan nggak balik lagi selamanya.</p>

<p>Jeonghan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Seungcheol di kursi pengemudi melirik padanya melalui spion tengah. “You okay, Han?” tanyanya.</p>

<p>Mingyu menoleh ke belakang dari kursi penumpang depan, menyalurkan kecemasan melalui sorot matanya. Meski jelas mengantuk karena Mingyu lebih ke night owl daripada early bird, dia rela dibangunkan Seungcheol jauh sebelum alarmnya berdering demi menemani Jeonghan dan Seokmin, yang lagi sama nervous-nya seperti Jeonghan di jok belakang.</p>

<p>Jeonghan ingin mendengus rasanya. Semua ini terlihat tolol.</p>

<p>“<em>Should I?</em>” kekehnya, walau nggak ada yang lucu sama sekali. “Gue capek banget dari kemaren. Gue mutusin buat nggak mikir apa-apa.” Berkata begitu, dia menopang pipi dengan kepalan tangan, bersandar ke jendela. Di luar, suasana kota nampak baru bangun dari tidur. Orang-orang keluar dari rumah mereka, tersenyum dan bercengkerama. Enak banget hidup mereka ya, nggak perlu gundah gulana nggak jelas kayak dia di bawah naungan langit biru nan cerah ini...</p>

<p>“Good. Lebih lo banget kalo kek gitu,” seloroh Seungcheol. Mingyu merengut, lalu mencubit paha Seungcheol. “<em>Aw fak!</em> <em>Paan sih?!</em>“</p>

<p>“Ada tempatnya kalo mau becanda, Bang,” Mingyu masih merengut. “Kesian Bang Han. Dia lagi stress itu.”</p>

<p>“Ya kan makanya gue bilang bagus dia mutusin gak mikirin itu lagi?! Ngapain dipikirin lama-lama juga?? Adanya makin stress dia!”</p>

<p>“Tapi kan—”</p>

<p>“Gyu. <em>Udah</em>.”</p>

<p>Jeonghan menyela, langsung membungkam mulut Mingyu. Sisa perjalanan itu diisi playlist Spotify Seungcheol—80% ballad dan 20% hip hop—tanpa ada satu pun dari keempat orang di dalamnya yang angkat bicara lagi, terlalu sibuk dengan pemikiran masing-masing.</p>

<hr/>

<p>Teguk ludah.</p>

<p><em>Gimana bisa sih, probabilitas 1 dan probabilitas 2 kelewat begitu aja???</em> Di gerbang luar istana nggak ada yang mengecek kartu identitas mereka. Pun, ketika pintunya yang megah dibuka, penjaga beserta kepala pelayan nggak ada yang menanyakan siapa mereka, hanya keperluan mereka saja.</p>

<p>“Mm, k-kami datang karena l-lotere semalam...?”</p>

<p>Yang langsung membuat keempat pemuda itu diboyong ke aula utama tempat raja dan ratu menerima tamu.</p>

<p><em>??? I mean—segampang ini tah???</em></p>

<p>Sumpah lah, Jeonghan bener-bener ngerasa kalau protokol keamanan istana butuh ditingkatin lagi. Iya tau, ini negara <em>aman tentram damai bahagia sentosa</em>, tapi yang namanya penjagaan jangan selembek ini juga lah?? <em>Masa iya mau tunggu huru-hara dulu baru diketatin??</em> Kalau Jeonghan udah take over nanti, hal pertama yang bakal dia lakuin—</p>

<p>...<em>wait</em>. Wait, <em>no</em>. Ini salah. <em>Salah banget</em>.</p>

<p>Buru-buru dia menggelengkan kepala, membersihkan pikiran aneh di dalamnya.</p>

<p>Berbeda dari bayangan Jeonghan sebelumnya, aula utama bukanlah ruangan besar dengan gelaran karpet merah memanjang sampai podium dimana dua singgasana kerajaan menanti mereka. Aula utama istana ini adalah ruangan yang cukup kecil, namun masih pantas untuk menerima tamu rombongan. Alih-alih singgasana dingin, beberapa sofa empuk ditaruh dengan meja kopi pendek di antaranya. Raja dan ratu sedang menikmati teh pagi mereka setelah sarapan ketika mereka menyadari kedatangan keempat pemuda asing.</p>

<p>“Yang Mulia, pemenang undian kerajaan telah tiba.”</p>

<p>“<em>OH!</em>” serta merta, sang raja pun melompat berdiri. Senyumnya lebar sekali. Sang permaisuri harus mengingatkan suaminya supaya nggak kelewat bersemangat dan melupakan usianya. “Calon menantuku! Jisoo-ya! Kemari, Nak! Suamimu sudah datang!”</p>

<p>Jeonghan diam-diam meneguk ludah. Bunyi sepatu bertemu lantai marmer memenuhi ruang yang, mendadak saja, sunyi karena keempat pemuda itu tanpa sadar telah menahan napas. Pintu yang menghubungkan aula dengan taman pribadi kerajaan lalu membuka dan—</p>

<p>“Ya, Ayah?”</p>

<p><img src="https://thesunmetmoon.com/wp-content/uploads/2024/10/jihanfirsten.jpg" alt="First Encounter"/></p>

<p>Pangeran Jisoo muncul dari balik pintu, nampak segar seperti kelopak bunga pertama di musim semi. Angin bertiup lembut, mengacak rambutnya yang sekelam malam. Matanya memandang lembut seperti biasanya tanpa ada perubahan signifikan kala menatap mereka semua. Ujung bibir merahnya pun tertarik membentuk senyuman manis.</p>

<p><em>All in all, he&#39;s a very delightful view indeed.</em></p>

<p><em><strong>BRUK!!</strong></em></p>

<p>“<em>SEOK?!</em>“</p>

<p>Namun, detik kemudian, Jeonghan membekap mulutnya. Matanya membuka begitu lebar. Sadar akan apa yang baru saja terjadi.</p>

<p><em>So much for the fucking plan, mate...</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-2-oneul-neoreul-mannassda</guid>
      <pubDate>Sun, 24 Mar 2024 15:52:43 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Part 1: 미쳤어 </title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-1-micyeosseo?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[jihanmodernroyalty&#xA;&#xA;Beberapa detik kemudian, handphonenya mulai berbunyi. Masih terpana, Jeonghan dan keluarganya tetap lihat-lihatan, mata membelalak dan mulut terbuka. Ibunya menutup mulut dengan tangan, sedangkan adiknya mencengkeram kedua pundak Jeonghan.&#xA;&#xA;Ketika handphonenya berdering untuk yang ke lima kalinya, barulah dia sadar dan mengangkatnya.&#xA;&#xA;(&#34;HAN?? WTF??&#34;)&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Itu suara Seungcheol.&#xA;&#xA;(&#34;Bang Han!! Gile looo!! Selamat yaaa besok married. WKWKWK!!&#34;)&#xA;&#xA;Dan Mingyu. Nggak perlu heran kalau dua orang itu yang pertama nelpon Jeonghan.&#xA;&#xA;(&#34;Ada Seok in line—wait,&#34;) Jeonghan mendengar beberapa bunyi ketukan jari sebelum suara Seungcheol kembali. (&#34;He&#39;s on.&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;BANGKEEEE!! KOK LO TEGA AMBIL CRUSH GUEE, BANG???&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Seok. In his defense, bukan dia yang ngerebut crush lo itu—&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;ITU HARUSNYA GUE, ANJAYY! HARUSNYA GUEEE!! NAPA GAK SAMA GUE AJAAA!! BANG HAN BAHKAN GA SUKA SAMA DIAA!!! AAAAAA!!!&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Seok—&#34;) tetiba bunyi decakan menghentikan ucapan Seungcheol lagi. Lalu, suara beberapa ketukan jari. (&#34;Halo.&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;BANG HANI!! GILA, TEMEN GUE JADI DARAH BIRU DADAKAN! LU HARUS UNDANG GUE POKOKNYA KE PARTY- PARTY SANA YAK!&#34;)&#xA;&#xA;Seungkwan.&#xA;&#xA;(&#34;BANG, GUE CUMA BECANDA LHO TADI, TAPI KALO LO MAU KASIH GUE KASTIL, BOLEH LHO BANG?!&#34;)&#xA;&#xA;Chan.&#xA;&#xA;(&#34;Ngarang lo, Channie,&#34;) kekehan yang terakhir itu datang dari Wonwoo. (&#34;Bang Han, selamat ya. Selamat menempuh hidup baru.&#34;)&#xA;&#xA;Jeonghan sedari tadi tetap diam. Nggak tau harus memproses apa dan gimana. Keluarga dan teman-temannya pada heboh, tapi dia cuma bisa bengong ngang-ngong-ngang-ngong aja. Wajar. Siapa yang nggak bakal kayak gitu kalau tiba-tiba BESOK DISURUH DATENG KE ISTANA BUAT DIKAWININ SAMA PANGERAN NEGERI ITU, WTF??!!&#xA;&#xA;Ni pasti mimpi nih. Nggak, nggak mungkin ini semua nyata. Jeonghan pasti lagi tidur. Bener. Jeonghan pasti lagi tidur dan mimpi. Pasti. Mana mimpinya jenis yang paling absurd seantero alam bawah sadar dia lagi. Mimpi kawin nggak tuh.&#xA;&#xA;Mengindahkan semua kegaduhan dari sekelilingnya, Jeonghan perlahan berpaling ke adik perempuannya.&#xA;&#xA;&#34;Soobin-ah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Cubit Abang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;...Oh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gampar. Tampar. Apa kek. Cepetan!&#34;&#xA;&#xA;Meski bingung, tapi adiknya itu paham juga sih kenapa Jeonghan rikues kayak gitu. Tanpa tedeng aling-aling, diangkatnya tangan dan ditamparnya pipi abangnya itu kuat-kuat.&#xA;&#xA;&#34;ANJ—Awawawawawaw—&#34;&#xA;&#xA;Senat-senut. Pipinya lantas memerah kentara. Jeonghan otomatis mengelusi pipi yang tertampar itu. Sakit njing.&#xA;&#xA;Which only means one thing.&#xA;&#xA;Bukan mimpi.&#xA;&#xA;Jeonghan beneran dijodohin sama Pangeran Jisoo lewat LOTERE...&#xA;&#xA;Jelek bener. Nangis.&#xA;&#xA;(&#34;Bang?? Lo kenapa??&#34;) Mingyu, si khawatiran, meraup handphone dari kasur, membuat Seungcheol harus bergeser lebih dekat lagi padanya agar tidak ketinggalan berita. (&#34;Lo nggak pa-pa kan??&#34;)&#xA;&#xA;&#34;Eng...enggak...aww,&#34; diusap-usapnya pipi itu. &#34;Tadi gue—eh—minta Soobin gampar gue. Buat mastiin aja.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu manggut-manggut. Seungkwan lalu menimpali Jeonghan.&#xA;&#xA;(&#34;Nggak mungkin lah ini mimpi kalo yang tau lo bakal merit tuh satu negara, Bang.&#34;)&#xA;&#xA;&#34;Ya kan, kali aja gue lagi ngayal gitu...&#34;&#xA;&#xA;(&#34;Ngapain lu ngayalin nikah sama crush gue??&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Aissh, Bang Seok! Diem ah!&#34;) Seungkwan mendecak. (&#34;Terus lu gimana?&#34;)&#xA;&#xA;&#34;Gimana apanya?&#34;&#xA;&#xA;(&#34;Yah... your feelings? Apa kek gitu??&#34;)&#xA;&#xA;&#34;Surreal sih,&#34; akunya. Jeonghan lalu menghela napas. &#34;Guys, gue nggak tau harus ngomong apa. Lo bayangin ajalah kalo lo jadi gue, gimana...&#34;&#xA;&#xA;(&#34;KALO GUE JADI LO, GUE DATENG KE ISTANA SEKARANG JUGA DAN BERLUTUT DI DEPAN CALON SUAMI GUE KALO GUE BAKAL BAHAGIAIN HIDUP DIA SAMPE GUE MATI—&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Kyeom-ah, Bang Han juga, kalo dia bisa, bakal nyuruh elo aja yang dateng ke istana,&#34;) Wonwoo menyelak sambil ketawa. (&#34;Ya kan, Bang?&#34;)&#xA;&#xA;Bagai terdengar lonceng surga dan gerbang emas itu tengah dibukakan baginya.&#xA;&#xA;(&#34;...Bang?&#34;)&#xA;&#xA;&#34;WONU CINTAKU, BUAH HATIKU, MEONGKU, KESAYANGANKU—&#34;&#xA;&#xA;(&#34;Udah ada yang punya ya! Hands off!&#34;)&#xA;&#xA;&#34;—YOU&#39;RE A GENIUS!&#34; blatantly ignoring protesan Chan, Jeonghan menciumi handphonenya seolah sedang menciumi pipi Wonwoo. &#34;THAT&#39;S IT! Seokmin-ah, lo yang ke sana! Lo pura-pura jadi gue!&#34;&#xA;&#xA;Seokmin diem. Seungkwan diem. Mingyu menghela napas. Seungheol menarik napas. Wonwoo dan Chan saling bertatapan kayak baru nyaksiin otak teman mereka akhirnya konslet.&#xA;&#xA;(&#34;Mm, Bang, gue tuh cuma becanda...&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Han. Pikir bener-bener. Nggak mungkin pemerintah nggak punya database penduduk. Sekali ketik nama lo di sistem, bakal keluar foto dan—&#34;)&#xA;&#xA;&#34;That&#39;s even better!&#34; sangkalnya. &#34;Kalo dia search dan tau Seok bukan gue, dia pasti nangkep kalo gue nggak mau nikah sama dia!&#34; Gila, kekadang Jeonghan takjub sama jalan pemikiran dia sendiri!&#xA;&#xA;Suara sentakan napas mendadak muncul bagai sebuah kepemahaman yang datang terlambat.&#xA;&#xA;(&#34;Maksud lo...LO NUMBALIN GUE, GITU??!&#34;)&#xA;&#xA;&#34;Hah?? Enggak, Seok—&#34;&#xA;&#xA;(&#34;Bener tuh. Bang Seok bisa ditangkep terus dipenjara karena manipulasi identitas,&#34;) Chan mengelus dagunya.&#xA;&#xA;(&#34;Mana mukanya modelan penjahat kalo lagi bucin ke pangeran...&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;EH, KAMPRET, KWAN!&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Gue setuju sih, Bang,&#34;) Mingyu juga angkat bicara. (&#34;Bahaya kalo cuma Seok aja yang ke istana.&#34;)&#xA;&#xA;&#34;YAUDAH! OKE FINE! GUE SAMA SEOK BESOK KE ISTANA!&#34;&#xA;&#xA;Bentakan Jeonghan membungkam mereka.&#xA;&#xA;&#34;Seok ngaku jadi gue. Kalo ada apa-apa, gue yang tanggung jawab! Puas lo semua?! Aissh! Aaahhh! BANGSAADD! NAPA GUE SIH YANG DIPILIH?? AARRGGHH!!&#34;&#xA;&#xA;Mereka semua cuma diam, membiarkan Jeonghan meluapkan frustrasinya. Memaklumi sepenuh hati. Emang siapa yang bakal seneng (kecuali, granted, Seokmin) kalo mendadak disuruh nikah sama orang yang nggak dikenal? Kita kan nggak tau gimana sifat aslinya! Bagus kalo cuma mentok-mentok cerai and stops there. Gimana kalo tetau mati dibunuh karena suaminya rupanya psikopat??&#xA;&#xA;(Hati orang kita nggak ada yang tau, guys, waspadalah.)&#xA;&#xA;(&#34;Oke. Han, oke. Lo tenang dulu. Lo makan, mandi, tidur—idk, do your usual shits. Besok, lo sama Seok gue jemput ya. Istana agak jauh dari sini and considering satu negara tau nama lengkap dan tanggal lahir lo, satu-dua dari mereka pasti udah nge-google lo juga. Apalagi, IG lo aktif.&#34;)&#xA;&#xA;Jeonghan mengusrek rambutnya sampai berantakan. Kemudian, dia menghela napas berat.&#xA;&#xA;(&#34;Safer kalo gue jemput lu bedua. Seok, lo ke rumah Han besok ya. Jam 9 gue angkut.&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Gue nggak yakin, Bang...&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Gue juga enggak, Seok,&#34;) balas Seungcheol. (&#34;Fingers crossed aja kalo si Jisoo-Jisoo itu nggak keberatan tuker suami dari Han ke elo.&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Hng. Aminin dulu aja dah.&#34;)&#xA;&#xA;Dan, dengan harapan penuh kegalauan, mereka pun mengucapkan salam perpisahan dan memutuskan conference call malam itu bersama pemikiran kusut di kepala masing-masing.&#xA;&#xA;Galau nggak tuh]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:jihanmodernroyalty" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">jihanmodernroyalty</span></a></p>

<p>Beberapa detik kemudian, handphonenya mulai berbunyi. Masih terpana, Jeonghan dan keluarganya tetap lihat-lihatan, mata membelalak dan mulut terbuka. Ibunya menutup mulut dengan tangan, sedangkan adiknya mencengkeram kedua pundak Jeonghan.</p>

<p>Ketika handphonenya berdering untuk yang ke lima kalinya, barulah dia sadar dan mengangkatnya.</p>

<p>(“HAN?? WTF??”)</p>



<p>Itu suara Seungcheol.</p>

<p>(“Bang Han!! Gile looo!! Selamat yaaa besok married. WKWKWK!!”)</p>

<p>Dan Mingyu. Nggak perlu heran kalau dua orang itu yang pertama nelpon Jeonghan.</p>

<p>(“Ada Seok in line—wait,”) Jeonghan mendengar beberapa bunyi ketukan jari sebelum suara Seungcheol kembali. (“He&#39;s on.”)</p>

<p>(“BANGKEEEE!! KOK LO TEGA AMBIL CRUSH GUEE, BANG???”)</p>

<p>(“Seok. In his defense, bukan dia yang ngerebut crush lo itu—”)</p>

<p>(“ITU HARUSNYA GUE, ANJAYY! HARUSNYA GUEEE!! NAPA GAK SAMA GUE AJAAA!! BANG HAN BAHKAN GA SUKA SAMA DIAA!!! AAAAAA!!!”)</p>

<p>(“Seok—”) tetiba bunyi decakan menghentikan ucapan Seungcheol lagi. Lalu, suara beberapa ketukan jari. (“Halo.”)</p>

<p>(“BANG HANI!! GILA, TEMEN GUE JADI DARAH BIRU DADAKAN! LU HARUS UNDANG GUE POKOKNYA KE PARTY- PARTY SANA YAK!”)</p>

<p>Seungkwan.</p>

<p>(“BANG, GUE CUMA BECANDA LHO TADI, TAPI KALO LO MAU KASIH GUE KASTIL, BOLEH LHO BANG?!”)</p>

<p>Chan.</p>

<p>(“Ngarang lo, Channie,”) kekehan yang terakhir itu datang dari Wonwoo. (“Bang Han, selamat ya. Selamat menempuh hidup baru.”)</p>

<p>Jeonghan sedari tadi tetap diam. Nggak tau harus memproses apa dan gimana. Keluarga dan teman-temannya pada heboh, tapi dia cuma bisa bengong <em>ngang-ngong-ngang-ngong</em> aja. Wajar. Siapa yang nggak bakal kayak gitu kalau tiba-tiba <em>BESOK DISURUH DATENG KE ISTANA BUAT DIKAWININ SAMA PANGERAN NEGERI ITU, WTF??!!</em></p>

<p>Ni pasti mimpi nih. <em>Nggak</em>, nggak mungkin ini semua nyata. Jeonghan pasti lagi tidur. <em>Bener</em>. Jeonghan pasti lagi tidur dan mimpi. <em>Pasti</em>. Mana mimpinya jenis yang paling absurd seantero alam bawah sadar dia lagi. Mimpi <em>kawin</em> nggak tuh.</p>

<p>Mengindahkan semua kegaduhan dari sekelilingnya, Jeonghan perlahan berpaling ke adik perempuannya.</p>

<p>“Soobin-ah.”</p>

<p>“Oh.”</p>

<p>“Cubit Abang.”</p>

<p>”...<em>Oh</em>?”</p>

<p>“Gampar. Tampar. Apa kek. Cepetan!”</p>

<p>Meski bingung, tapi adiknya itu paham juga sih kenapa Jeonghan rikues kayak gitu. Tanpa tedeng aling-aling, diangkatnya tangan dan ditamparnya pipi abangnya itu kuat-kuat.</p>

<p>“<em>ANJ</em>—Awawawawawaw—”</p>

<p>Senat-senut. Pipinya lantas memerah kentara. Jeonghan otomatis mengelusi pipi yang tertampar itu. <em>Sakit njing</em>.</p>

<p>Which only means one thing.</p>

<p><em>Bukan mimpi.</em></p>

<p>Jeonghan beneran dijodohin sama Pangeran Jisoo lewat <em>LOTERE</em>...</p>

<p><em>Jelek bener. Nangis</em>.</p>

<p>(“Bang?? Lo kenapa??”) Mingyu, si khawatiran, meraup handphone dari kasur, membuat Seungcheol harus bergeser lebih dekat lagi padanya agar tidak ketinggalan berita. (“Lo nggak pa-pa kan??”)</p>

<p>“Eng...enggak...<em>aww</em>,” diusap-usapnya pipi itu. “Tadi gue—<em>eh</em>—minta Soobin gampar gue. Buat mastiin aja.”</p>

<p>Mingyu manggut-manggut. Seungkwan lalu menimpali Jeonghan.</p>

<p>(“Nggak mungkin lah ini mimpi kalo yang tau lo bakal merit tuh satu negara, Bang.”)</p>

<p>“Ya kan, kali aja gue lagi ngayal gitu...”</p>

<p>(“Ngapain lu ngayalin nikah sama crush gue??”)</p>

<p>(”<em>Aissh</em>, Bang Seok! Diem ah!“) Seungkwan mendecak. (“Terus lu gimana?”)</p>

<p>“Gimana apanya?”</p>

<p>(“Yah... your <em>feelings</em>? Apa kek gitu??“)</p>

<p>“Surreal sih,” akunya. Jeonghan lalu menghela napas. “Guys, gue nggak tau harus ngomong apa. Lo bayangin ajalah kalo lo jadi gue, gimana...”</p>

<p>(“KALO GUE JADI LO, GUE DATENG KE ISTANA SEKARANG JUGA DAN BERLUTUT DI DEPAN CALON SUAMI GUE KALO GUE BAKAL BAHAGIAIN HIDUP DIA SAMPE GUE MATI—”)</p>

<p>(“Kyeom-ah, Bang Han juga, kalo dia bisa, bakal nyuruh elo aja yang dateng ke istana,”) Wonwoo menyelak sambil ketawa. (“Ya kan, Bang?”)</p>

<p>Bagai terdengar lonceng surga dan gerbang emas itu tengah dibukakan baginya.</p>

<p>(“...Bang?”)</p>

<p>“WONU CINTAKU, BUAH HATIKU, MEONGKU, KESAYANGANKU—”</p>

<p>(“Udah ada yang punya ya! Hands off!”)</p>

<p>“—YOU&#39;RE A GENIUS!” blatantly ignoring protesan Chan, Jeonghan menciumi handphonenya seolah sedang menciumi pipi Wonwoo. “<em>THAT&#39;S IT!</em> Seokmin-ah, lo yang ke sana! Lo pura-pura jadi gue!”</p>

<p>Seokmin diem. Seungkwan diem. Mingyu menghela napas. Seungheol menarik napas. Wonwoo dan Chan saling bertatapan kayak baru nyaksiin otak teman mereka akhirnya konslet.</p>

<p>(”<em>Mm</em>, Bang, gue tuh cuma becanda...“)</p>

<p>(“Han. Pikir bener-bener. Nggak mungkin pemerintah nggak punya database penduduk. Sekali ketik nama lo di sistem, bakal keluar foto dan—”)</p>

<p>“That&#39;s even better!” sangkalnya. “Kalo dia search dan tau Seok bukan gue, dia pasti nangkep kalo gue nggak mau nikah sama dia!” Gila, kekadang Jeonghan takjub sama jalan pemikiran dia sendiri!</p>

<p>Suara sentakan napas mendadak muncul bagai sebuah kepemahaman yang datang terlambat.</p>

<p>(“Maksud lo...LO <em>NUMBALIN</em> GUE, GITU??!“)</p>

<p>“<em>Hah??</em> Enggak, Seok—”</p>

<p>(“Bener tuh. Bang Seok bisa ditangkep terus dipenjara karena manipulasi identitas,”) Chan mengelus dagunya.</p>

<p>(“Mana mukanya modelan penjahat kalo lagi bucin ke pangeran...”)</p>

<p>(“EH, KAMPRET, KWAN!”)</p>

<p>(“Gue setuju sih, Bang,”) Mingyu juga angkat bicara. (“Bahaya kalo cuma Seok aja yang ke istana.”)</p>

<p>“YAUDAH! OKE FINE! GUE SAMA SEOK BESOK KE ISTANA!”</p>

<p>Bentakan Jeonghan membungkam mereka.</p>

<p>“Seok ngaku jadi gue. Kalo ada apa-apa, gue yang tanggung jawab! Puas lo semua?! <em>Aissh! Aaahhh!</em> <em><strong>BANGSAADD</strong></em>! <em>NAPA <strong>GUE</strong> SIH YANG DIPILIH??</em> <em><strong>AARRGGHH!!</strong></em>“</p>

<p>Mereka semua cuma diam, membiarkan Jeonghan meluapkan frustrasinya. Memaklumi sepenuh hati. Emang siapa yang bakal seneng (kecuali, <em>granted</em>, Seokmin) kalo mendadak disuruh nikah sama orang yang nggak dikenal? Kita kan nggak tau gimana sifat aslinya! Bagus kalo cuma mentok-mentok cerai and stops there. Gimana kalo tetau mati dibunuh karena suaminya rupanya psikopat??</p>

<p><em>(Hati orang kita nggak ada yang tau, guys, waspadalah.)</em></p>

<p>(“Oke. Han, oke. Lo tenang dulu. Lo makan, mandi, tidur—idk, do your usual shits. Besok, lo sama Seok gue jemput ya. Istana agak jauh dari sini and considering satu negara tau nama lengkap dan tanggal lahir lo, satu-dua dari mereka pasti udah nge-google lo juga. Apalagi, IG lo aktif.”)</p>

<p>Jeonghan mengusrek rambutnya sampai berantakan. Kemudian, dia menghela napas berat.</p>

<p>(“Safer kalo gue jemput lu bedua. Seok, lo ke rumah Han besok ya. Jam 9 gue angkut.”)</p>

<p>(“Gue nggak yakin, Bang...”)</p>

<p>(“Gue juga enggak, Seok,”) balas Seungcheol. (“Fingers crossed aja kalo si Jisoo-Jisoo itu nggak keberatan tuker suami dari Han ke elo.”)</p>

<p>(”<em>Hng</em>. Aminin dulu aja dah.“)</p>

<p>Dan, dengan harapan penuh kegalauan, mereka pun mengucapkan salam perpisahan dan memutuskan conference call malam itu bersama pemikiran kusut di kepala masing-masing.</p>

<p><img src="https://thesunmetmoon.com/wp-content/uploads/2024/10/jihangalau.jpg" alt="Galau nggak tuh"/></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-1-micyeosseo</guid>
      <pubDate>Sun, 17 Mar 2024 09:22:43 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>The Beginning</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/the-beginning?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[jihanmodernroyalty&#xA;&#xA;Tersebutlah suatu negara nun jauh di sana. Negara yang langitnya hampir selalu biru, penduduknya sering tersenyum dan pantainya sungguhlah indah. Negara yang jauh dari negara bernama Korea Selatan, tempat lahir salah satu karakter utama cerita kita kali ini.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Yoon Jeonghan&#xA;&#xA;Sebagai pendatang di negara orang dengan alasan ayah dikirim dinas, Yoon Jeonghan belajar dengan cepat untuk membangun komunitasnya sendiri. Sekejap mata, dia sudah dikelilingi oleh pelajar lain sepertinya yang juga berasal dari Korea Selatan. Nama-nama yang mengisi hari demi hari mahasiswa tingkat terakhir itu penuh dengan bahasa ibunya—Lee, Choi, Kim, Kwon, Jeon, bahkan marga langka seperti Boo. Beberapa berasal dari universitas yang sama dengannya. Yang lainnya adalah &#39;temen pacarnya sepupu kakaknya kenalan adik tetangga gue, Bang!&#39; aka yaudah sih, mau awalnya kenal di mana, kongkow bareng ajalah, sesama pendatang ini. Kudu bahu-membahu\~ 😉&#xA;&#xA;Singkat cerita, setelah hampir 4 tahun, Yoon Jeonghan mulai merasa betah di negara tempatnya berada sekarang. Udaranya jauh lebih segar daripada kota metropolitan Seoul. Arsitektur bangunannya adalah campuran antara keunikan masa lampau dan modernitas masa kini. Setiap akhir pekan, komunitas kecil mereka kerap berjalan-jalan ngalor-ngidul, membeli es krim di pinggir pantai sebelum bermain voli, atau hanya tidur-tiduran menikmati siraman mentari petang hari.&#xA;&#xA;Yoon Jeonghan bahkan berpikir untuk melanjutkan hidupnya di sini setelah lulus nanti, bukan kembali sendirian ke Seoul seperti rencananya semula, sambil lalu mencari lowongan pekerjaan yang sekiranya menarik minat dan juga berkesinambungan dengan studinya.&#xA;&#xA;&#34;Bang, lo dah denger?&#34;&#xA;&#xA;Salah satu anak Lee bernama Seokmin menyenggol sikutnya, hampir membuat Jeonghan menumpahkan jus anggur peras ke kaus putihnya.&#xA;&#xA;&#34;Wot?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lotere kerajaan!&#34;&#xA;&#xA;Mulut Jeonghan membuka. &#34;Ah...,&#34;  dia mengangguk-angguk. &#34;Tau gue. Tadi pagi keknya ada di berita deh. Tapi gue nggak gitu dengerin juga. Itu apaan sih?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Undian, Han,&#34; Choi Seungcheol menimpali. Setelah menggigit keripik kentangnya, dia pun menyuapi Mingyu yang sedari tadi sudah menganga minta jatah. &#34;Jadi mereka bakal nyiarin undian malem ini di tivi. Katanya ada hadiah menarik ato apalah gitu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Itu gimana deh. Kita beli lotere gitu ato apa?&#34; Chan mengernyit.&#xA;&#xA;&#34;Eits, napa nih? Lo mau ikutan??&#34; kekeh Seungkwan mengejek. &#34;Tumben??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dari kerajaan, coy?? Siapa tau menang kastil??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gobs,&#34; Jeonghan ikut terkekeh.&#xA;&#xA;&#34;Gak kok. Kita nggak harus ngapa-ngapain, setau gue? Mereka ngundi aja gitu? IDK. Duren runtuh aja kali. Mayan juga sih, tapi, kalo bener kata Chan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalo dapet duit 1 Trilyun gitu, mayan ya, Bang,&#34; Mingyu melanjutkan ucapan Seungcheol sambil terkekeh.&#xA;&#xA;&#34;Nah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yekali. Kita kan bukan penduduk sini,&#34; Yoon Jeonghan dengan logika lurusnya pun menetralkan suasana. &#34;Yang menang ya orang lokal lah pastinya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bener juga. Yah, ga asik...&#34;&#xA;&#xA;Dengan santai, dia pun kemudian kembali menyeruput sari anggurnya.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;In Jeonghan&#39;s defense, bukan dia yang menyetel televisi malam itu, tapi adik perempuannya.&#xA;&#xA;&#34;Soobin-ah—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ssh! Dah mau mulai!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Apa sih?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sini, Abang,&#34; itu ibunya yang memanggil. Ayahnya sepertinya telat pulang lagi. &#34;Undian kerajaan bakal mulai.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aaah...&#34;&#xA;&#xA;Meski tampak ogah-ogahan, tapi rasa penasarannya tergelitik juga. Undian apa sih? Hadiahnya apa? Dalam rangka apa? Siapa yang kira-kira bakal menang? Bagai ngengat ke api, Jeonghan pun mengambil bantal sofa dan duduk di lantai, dekat kaki ibunya dan persis di sebelah adik perempuannya.&#xA;&#xA;Layar televisi menayangkan suasana di istana kerajaan. Nampak paduka raja dan yang mulia permaisurinya tersenyum bahagia ke arah kamera. Alih-alih MC ternama, malah sang perdana menteri sendiri yang membawakan acara malam itu.&#xA;&#xA;&#34;—Baru pertama kali ini kerajaan kita mengadakan kesempatan yang sangat besar seperti ini!&#34; seru sang perdana menteri penuh semangat. &#34;Baiklah, tanpa menunda waktu lagi, mari kita laksanakan saja!&#xA;&#xA;Silakan, Baginda!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah, baik, baik,&#34; dengan ceria, paduka raja yang sudah agak tua itu pun mendekati sebuah mesin...&#xA;&#xA;...mesin slot??&#xA;&#xA;Jeonghan mulai merasa kejadian ini semua agak absurd. Ya tau sih kalau salah satu sumber devisa negara ini adalah legalisasi kasino dan hiburan malam, tapi rajanya sendiri main mesin slot 777 di depan seluruh rakyatnya?? Wtf??&#xA;&#xA;Ah, well, okey—mesin slot, lalu menarik gagangnya. Diiringi bunyi bising ala mesin judi, ketiga bola di bagian tengah pun bergulir dengan begitu cepat. Namun, alih-alih angka 7 tiga kali, bola-bola itu memiliki 2 angka pada permukaan masing-masingnya.&#xA;&#xA;JEGREK!&#xA;&#xA;10&#xA;&#xA;&#34;OH?!&#34;&#xA;&#xA;JEGREK!&#xA;&#xA;04&#xA;&#xA;&#34;O-OH??!!&#34;&#xA;&#xA;JEGREK!!&#xA;&#xA;95&#xA;&#xA;&#34;OHO HO?? OOOOOHHH!!&#34;&#xA;&#xA;Paduka raja kemudian tertawa lugas. Permaisuri di sisinya pun terkikik sama leganya. Sang perdana menteri kemudian memutar tubuh dan, barulah pada saat itu, Jeonghan melihat siapa yang ada di sana selain mereka bertiga. Wajah yang rupawan, tinggi semampai, bibir merah dan mata yang memancarkan kelembutan.&#xA;&#xA;Pangeran Jisoo.&#xA;&#xA;Hong Jisoo&#xA;&#xA;Ketika pertama Jeonghan menginjak negara ini, terus terang dia kaget melihat betapa Korea Selatan-nya calon penerus keluarga kerajaan—dari nama hingga rupa. Ayahnya lalu menjelaskan bahwa negara ini awalnya adalah hasil perpecahan Korea Selatan di masa lalu. Sebagian dari mereka mengungsi dan malah menetap di sini, membangun negara ideal dimana kebudayaan dan normalitas yang berlaku cukup berbeda dari Korea Selatan saat ini. Lebih bebas. Lebih pemaaf. Lebih menyetarakan gender dan peduli pada penduduknya. Sebuah negara impian para pengungsi di masa lalu tersebut.&#xA;&#xA;Itulah kenapa sangat mudah masuk dan menetap di sini bila paspormu berasal dari Korea Selatan (walau, granted, nggak banyak, karena jarak tempuh yang terlalu jauh untuk berwisata semata).&#xA;&#xA;Itulah kenapa keluarga raja memiliki darah asal Korea Selatan. Darah yang mengalir dalam nadi Pangeran Jisoo.&#xA;&#xA;&#34;Baiklah! Baiklah! Data sudah di saya daaannn—&#34; seruan perdana menteri mengembalikan Jeonghan ke realita. &#34;—Yang Mulia, pilih satu huruf: H, Y, M, L atau K?!&#34;&#xA;&#xA;Tiba-tiba saja, kepala mic berada di depan bibir Pangeran Jisoo.&#xA;&#xA;&#34;Hmm...Y?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Baik! Hanya ada satu Y di kartu saya, Yang Mulia, dan marganya adalah...YOON!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh\~&#34; Pangeran Jisoo pun ikut takjub.&#xA;&#xA;&#34;Nah, untuk yang bermarga Yoon dengan tanggal-tanggal itu ada....3 orang! Pilih lagi salah satu, Yang Mulia!&#34;&#xA;&#xA;Perdana Menteri menyerahkan 3 buah kartu. Pangeran Jisoo membacanya lamat-lamat, lalu memilih satu. Diberikannya kartu itu kepada perdana menteri.&#xA;&#xA;&#34;Aku pilih dia, Pak Perdana Menteri.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Baiklahhhh! Jadi, sekarang di tangan saya adalah nama yang beruntung memenangkan hadiah terdahsyat abad ini—&#34; lagi, sang raja dan permaisurinya tertawa, namun kali ini, sang pangeran juga ikut tertawa. &#34;—dan pemenangnya adalaahhhh.......&#34;&#xA;&#xA;Hening. Seisi ruang keluarga Yoon seakan menahan napas. Mungkin bukan hanya di rumahnya. Mungkin seluruh penduduk tengah menahan napasnya saat ini.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;&#34;Selamat, yang lahir pada tanggal 10.04.95, marga Yoon, dengan nama Jeonghan! Kamu menang!&#34;&#xA;&#xA;&#34;What—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hah?? HAH, AKU NGGAK SALAH DENGER KAN??&#34; itu teriakan Soobin yang langsung memutar badannya, memandangi kakak lelakinya.&#xA;&#xA;&#34;Abang?? Itu nama Abang??&#34; ibunya juga nggak kalah takjubnya.&#xA;&#xA;&#34;Dan hadiahnya....kamu akan menikahi pangeran Jisoo! Selamat! Silakan besok pagi jam 10 ke istana ya!&#34;&#xA;&#xA;...............&#xA;&#xA;......&#xA;&#xA;...&#xA;&#xA;...wait, WHAT?!]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:jihanmodernroyalty" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">jihanmodernroyalty</span></a></p>

<p>Tersebutlah suatu negara nun jauh di sana. Negara yang langitnya hampir selalu biru, penduduknya sering tersenyum dan pantainya sungguhlah indah. Negara yang jauh dari negara bernama Korea Selatan, tempat lahir salah satu karakter utama cerita kita kali ini.</p>



<p><img src="https://thesunmetmoon.com/wp-content/uploads/2024/10/jihanyjh.jpg" alt="Yoon Jeonghan"/></p>

<p>Sebagai pendatang di negara orang dengan alasan ayah dikirim dinas, Yoon Jeonghan belajar dengan cepat untuk membangun komunitasnya sendiri. Sekejap mata, dia sudah dikelilingi oleh pelajar lain sepertinya yang juga berasal dari Korea Selatan. Nama-nama yang mengisi hari demi hari mahasiswa tingkat terakhir itu penuh dengan bahasa ibunya—Lee, Choi, Kim, Kwon, Jeon, bahkan marga langka seperti Boo. Beberapa berasal dari universitas yang sama dengannya. Yang lainnya adalah &#39;temen pacarnya sepupu kakaknya kenalan adik tetangga gue, Bang!&#39; aka yaudah sih, mau awalnya kenal di mana, kongkow bareng ajalah, sesama pendatang ini. Kudu bahu-membahu~ 😉</p>

<p>Singkat cerita, setelah hampir 4 tahun, Yoon Jeonghan mulai merasa betah di negara tempatnya berada sekarang. Udaranya jauh lebih segar daripada kota metropolitan Seoul. Arsitektur bangunannya adalah campuran antara keunikan masa lampau dan modernitas masa kini. Setiap akhir pekan, komunitas kecil mereka kerap berjalan-jalan ngalor-ngidul, membeli es krim di pinggir pantai sebelum bermain voli, atau hanya tidur-tiduran menikmati siraman mentari petang hari.</p>

<p>Yoon Jeonghan bahkan berpikir untuk melanjutkan hidupnya di sini setelah lulus nanti, bukan kembali sendirian ke Seoul seperti rencananya semula, sambil lalu mencari lowongan pekerjaan yang sekiranya menarik minat dan juga berkesinambungan dengan studinya.</p>

<p>“Bang, lo dah denger?”</p>

<p>Salah satu anak Lee bernama Seokmin menyenggol sikutnya, hampir membuat Jeonghan menumpahkan jus anggur peras ke kaus putihnya.</p>

<p>“Wot?”</p>

<p>“Lotere kerajaan!”</p>

<p>Mulut Jeonghan membuka. “Ah...,”  dia mengangguk-angguk. “Tau gue. Tadi pagi keknya ada di berita deh. Tapi gue nggak gitu dengerin juga. Itu apaan sih?”</p>

<p>“Undian, Han,” Choi Seungcheol menimpali. Setelah menggigit keripik kentangnya, dia pun menyuapi Mingyu yang sedari tadi sudah menganga minta jatah. “Jadi mereka bakal nyiarin undian malem ini di tivi. Katanya ada hadiah menarik ato apalah gitu.”</p>

<p>“Itu gimana deh. Kita beli lotere gitu ato apa?” Chan mengernyit.</p>

<p>“Eits, napa nih? Lo mau ikutan??” kekeh Seungkwan mengejek. “<em>Tumben??</em>“</p>

<p>“Dari kerajaan, coy?? Siapa tau menang kastil??”</p>

<p>“<em>Gobs</em>,” Jeonghan ikut terkekeh.</p>

<p>“Gak kok. Kita nggak harus ngapa-ngapain, setau gue? Mereka ngundi aja gitu? IDK. Duren runtuh aja kali. Mayan juga sih, tapi, kalo bener kata Chan.”</p>

<p>“Kalo dapet duit 1 Trilyun gitu, mayan ya, Bang,” Mingyu melanjutkan ucapan Seungcheol sambil terkekeh.</p>

<p>“<em>Nah</em>.”</p>

<p>“Yekali. Kita kan bukan penduduk sini,” Yoon Jeonghan dengan logika lurusnya pun menetralkan suasana. “Yang menang ya orang lokal lah pastinya.”</p>

<p>“Bener juga. Yah, ga asik...”</p>

<p>Dengan santai, dia pun kemudian kembali menyeruput sari anggurnya.</p>

<hr/>

<p>In Jeonghan&#39;s defense, bukan dia yang menyetel televisi malam itu, tapi adik perempuannya.</p>

<p>“Soobin-ah—”</p>

<p>“<em>Ssh</em>! Dah mau mulai!”</p>

<p>“Apa sih?”</p>

<p>“Sini, Abang,” itu ibunya yang memanggil. Ayahnya sepertinya telat pulang lagi. “Undian kerajaan bakal mulai.”</p>

<p>“<em>Aaah</em>...”</p>

<p>Meski tampak ogah-ogahan, tapi rasa penasarannya tergelitik juga. Undian apa sih? Hadiahnya apa? Dalam rangka apa? Siapa yang kira-kira bakal menang? Bagai ngengat ke api, Jeonghan pun mengambil bantal sofa dan duduk di lantai, dekat kaki ibunya dan persis di sebelah adik perempuannya.</p>

<p>Layar televisi menayangkan suasana di istana kerajaan. Nampak paduka raja dan yang mulia permaisurinya tersenyum bahagia ke arah kamera. Alih-alih MC ternama, malah sang perdana menteri sendiri yang membawakan acara malam itu.</p>

<p>“—Baru pertama kali ini kerajaan kita mengadakan kesempatan yang sangat besar seperti ini!” seru sang perdana menteri penuh semangat. “Baiklah, tanpa menunda waktu lagi, mari kita laksanakan saja!</p>

<p>Silakan, Baginda!”</p>

<p>“Ah, baik, baik,” dengan ceria, paduka raja yang sudah agak tua itu pun mendekati sebuah mesin...</p>

<p>...<em>mesin slot??</em></p>

<p>Jeonghan mulai merasa kejadian ini semua agak absurd. Ya tau sih kalau salah satu sumber devisa negara ini adalah legalisasi kasino dan hiburan malam, tapi rajanya sendiri <em>main mesin slot 777 di depan seluruh rakyatnya??</em> <em>Wtf??</em></p>

<p>Ah, well, <em>okey</em>—mesin slot, lalu menarik gagangnya. Diiringi bunyi bising ala mesin judi, ketiga bola di bagian tengah pun bergulir dengan begitu cepat. Namun, alih-alih angka 7 tiga kali, bola-bola itu memiliki 2 angka pada permukaan masing-masingnya.</p>

<p><em>JEGREK!</em></p>

<p>10</p>

<p>“OH?!”</p>

<p><em>JEGREK!</em></p>

<p>04</p>

<p>“<em>O-OH??!!</em>“</p>

<p><em>JEGREK!!</em></p>

<p>95</p>

<p>“<em>OHO HO?? OOOOOHHH!!</em>“</p>

<p>Paduka raja kemudian tertawa lugas. Permaisuri di sisinya pun terkikik sama leganya. Sang perdana menteri kemudian memutar tubuh dan, barulah pada saat itu, Jeonghan melihat siapa yang ada di sana selain mereka bertiga. Wajah yang rupawan, tinggi semampai, bibir merah dan mata yang memancarkan kelembutan.</p>

<p>Pangeran Jisoo.</p>

<p><img src="https://thesunmetmoon.com/wp-content/uploads/2024/10/jihanhjs.jpg" alt="Hong Jisoo"/></p>

<p>Ketika pertama Jeonghan menginjak negara ini, terus terang dia kaget melihat betapa Korea Selatan-nya calon penerus keluarga kerajaan—dari nama hingga rupa. Ayahnya lalu menjelaskan bahwa negara ini awalnya adalah hasil perpecahan Korea Selatan di masa lalu. Sebagian dari mereka mengungsi dan malah menetap di sini, membangun negara ideal dimana kebudayaan dan normalitas yang berlaku cukup berbeda dari Korea Selatan saat ini. Lebih bebas. Lebih pemaaf. Lebih menyetarakan gender dan peduli pada penduduknya. Sebuah negara impian para pengungsi di masa lalu tersebut.</p>

<p>Itulah kenapa sangat mudah masuk dan menetap di sini bila paspormu berasal dari Korea Selatan (walau, <em>granted</em>, nggak banyak, karena jarak tempuh yang terlalu jauh untuk berwisata semata).</p>

<p>Itulah kenapa keluarga raja memiliki darah asal Korea Selatan. Darah yang mengalir dalam nadi Pangeran Jisoo.</p>

<p>“Baiklah! Baiklah! Data sudah di saya <em>daaannn</em>—” seruan perdana menteri mengembalikan Jeonghan ke realita. “—Yang Mulia, pilih satu huruf: H, Y, M, L atau K?!”</p>

<p>Tiba-tiba saja, kepala mic berada di depan bibir Pangeran Jisoo.</p>

<p>“Hmm...Y?”</p>

<p>“Baik! Hanya ada satu Y di kartu saya, Yang Mulia, dan marganya adalah...YOON!”</p>

<p>“<em>Oh~</em>” Pangeran Jisoo pun ikut takjub.</p>

<p>“Nah, untuk yang bermarga Yoon dengan tanggal-tanggal itu ada....3 orang! Pilih lagi salah satu, Yang Mulia!”</p>

<p>Perdana Menteri menyerahkan 3 buah kartu. Pangeran Jisoo membacanya lamat-lamat, lalu memilih satu. Diberikannya kartu itu kepada perdana menteri.</p>

<p>“Aku pilih dia, Pak Perdana Menteri.”</p>

<p>“<em>Baiklahhhh</em>! Jadi, sekarang di tangan saya adalah nama yang beruntung memenangkan hadiah terdahsyat abad ini—” lagi, sang raja dan permaisurinya tertawa, namun kali ini, sang pangeran juga ikut tertawa. “—dan pemenangnya adalaahhhh.......”</p>

<p>Hening. Seisi ruang keluarga Yoon seakan menahan napas. Mungkin bukan hanya di rumahnya. Mungkin seluruh penduduk tengah menahan napasnya saat ini.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>“Selamat, yang lahir pada tanggal 10.04.95, marga Yoon, dengan nama Jeonghan! Kamu menang!”</p>

<p>“What—”</p>

<p>“<em>Hah</em>?? HAH, AKU NGGAK SALAH DENGER KAN??” itu teriakan Soobin yang langsung memutar badannya, memandangi kakak lelakinya.</p>

<p>“Abang?? Itu nama Abang??” ibunya juga nggak kalah takjubnya.</p>

<p>“Dan hadiahnya....kamu akan menikahi pangeran Jisoo! Selamat! Silakan besok pagi jam 10 ke istana ya!”</p>

<p>...............</p>

<p>......</p>

<p>...</p>

<p>...<em>wait, WHAT?!</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/the-beginning</guid>
      <pubDate>Fri, 15 Mar 2024 14:17:49 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>