<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>hogwartsau &amp;mdash; 🌾</title>
    <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:hogwartsau</link>
    <description>narrative writings of thesunmetmoon</description>
    <pubDate>Tue, 02 Jun 2026 06:53:39 +0000</pubDate>
    <image>
      <url>https://i.snap.as/K7JGOEOo.png</url>
      <title>hogwartsau &amp;mdash; 🌾</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:hogwartsau</link>
    </image>
    <item>
      <title>🦦—</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/02?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[hogwartsau&#xA;&#xA;&#34;Hyung!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hey.&#34;&#xA;&#xA;Satu pelukan besar dipertukarkan. Chan mengabaikan lelaki itu yang kini tengah bercakap-cakap dengan lelaki lain yang jauh lebih muda dan memetakan apa yang bola mata hitam jernihnya tangkap. Langit-langit yang tinggi. Dinding berplester putih yang sudah rontok di beberapa tempat, serta meja kayu panjang lengkap dengan bangkunya. Kasak-kusuk orang di pojok sini dan sana. Pengaduk minuman yang mengaduk sendiri—&#xA;&#xA;—wanjir?&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Kucek-kucek mata.&#xA;&#xA;...beneran ngaduk sendiri dong.&#xA;&#xA;&#34;Hyung bareng siapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh. Ini, aku tadi ketemu di depan. Kayaknya lagi bingung. Eh, Pak, Bu, dan, hmm—namamu...?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Chan!&#34; kaget, anak itu spontan menjawab. Suaranya meninggi secara alamiah. &#34;Aku Lee Chan, Pak Guru!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Profesor,&#34; lelaki yang lain menjawabnya. Dia berdiri di balik konter dengan lengan melipat di dada. Matanya mirip bulan terbalik kala tersenyum. &#34;Bukan pak guru, tapi profesor. Kamu anak tahun pertama?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hogwarts,&#34; lelaki itu juga menunjuk amlop surat di tangan Chan. &#34;Kamu murid baru?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh-ah-iya!&#34; anak itu pun mengangkatnya. &#34;Keluargaku didatengin penyihir. Perwakilan, katanya. Bilang aku diundang masuk Hogwarts, katanya. Makanya aku ke sini bareng Papa Mama.&#34;&#xA;&#xA;Lelaki itu kemudian mengangguk, menyapa dengan hormat pada orangtua Chan ketika anak itu menyebutnya. Pasangan muggle itu pun balas mengangguk.&#xA;&#xA;&#34;Terus kenapa belom ke Diagon Alley?&#34;&#xA;&#xA;😯 &#34;Kakak tau Diagon Alley?&#34;&#xA;&#xA;Lelaki itu mengedip. Sejenak, dia liat-liatan sama sang profesor, sebelum keduanya tertawa lepas. Makin kebingungan lah bocah itu.&#xA;&#xA;&#34;Tau. Tau banget, malah. Kalo kamu mau, aku bantuin ke sana?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Boleh??&#34; 😯&#xA;&#xA;&#34;Boleh doongg,&#34; 🤭 &#34;Tapi aku ijin dulu sama bosku ya, bentar. Hyung jadi nginep ato—?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jadi laaah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oke. Hannah!&#34; sejenak, lelaki itu masuk ke bagian dalam, mungkin tempat para staff bersantai sejenak sebelum kembali bekerja. Dia sepertinya berbicara dengan seseorang. Sang profesor mengisi jeda dengan mengajak orangtua Chan mengobrol, memberikan waktu bagi anak itu untuk menjelajah sedikit di lantai pertama tempat tersebut.&#xA;&#xA;Semua bernuansa kuno, dari kayu yang dipakai hingga hiasan yang dipajang. Papan menu kusam menampilkan makanan dan minuman yang Chan belum pernah dengar sebelumnya.&#xA;&#xA;(&#34;F-fire whis—butterbeer—kayaknya enak—&#34;)&#xA;&#xA;Seorang wanita tua makan sendirian di dekat jendela, menusuk paha ayam gemuk yang lemaknya menetes-netes ke piringnya. Sepasang muda-mudi mojok berdua di sudut. Buru-buru Chan mengalihkan pandangan dengan muka memerah, rasanya dosa banget udah memergoki orang pacaran.&#xA;&#xA;&#34;Oke! Hyung, nih kuncinya,&#34; suara itu kembali lagi bersamaan dengan bunyi renceng kunci. Dilemparnya dan ditangkap oleh sang pengajar.&#xA;&#xA;&#34;Trims.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sama-sama. Hannah, bentar ya. Aku nggak lama kok. Sori.&#34;&#xA;&#xA;Chan menoleh ke arah konter. Di tempat lelaki itu, kini berdiri seorang wanita berambut pirang panjang. Dia tertawa santai sambil mengibaskan tangan.&#xA;&#xA;&#34;Jangan lama-lama, Seok.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Siap, Bos,&#34; lelaki itu lalu memandang Chan. &#34;Ayok.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:hogwartsau" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">hogwartsau</span></a></p>

<p>“Hyung!”</p>

<p>“Hey.”</p>

<p>Satu pelukan besar dipertukarkan. Chan mengabaikan lelaki itu yang kini tengah bercakap-cakap dengan lelaki lain yang jauh lebih muda dan memetakan apa yang bola mata hitam jernihnya tangkap. Langit-langit yang tinggi. Dinding berplester putih yang sudah rontok di beberapa tempat, serta meja kayu panjang lengkap dengan bangkunya. Kasak-kusuk orang di pojok sini dan sana. Pengaduk minuman yang mengaduk sendiri—</p>

<p><em>—wanjir?</em></p>



<p>Kucek-kucek mata.</p>

<p><em>...beneran ngaduk sendiri dong.</em></p>

<p>“Hyung bareng siapa?”</p>

<p>“Oh. Ini, aku tadi ketemu di depan. Kayaknya lagi bingung. Eh, Pak, Bu, dan, <em>hmm</em>—namamu...?”</p>

<p>“Chan!” kaget, anak itu spontan menjawab. Suaranya meninggi secara alamiah. “Aku Lee Chan, Pak Guru!”</p>

<p>“<em>Profesor</em>,” lelaki yang lain menjawabnya. Dia berdiri di balik konter dengan lengan melipat di dada. Matanya mirip bulan terbalik kala tersenyum. “Bukan pak guru, tapi profesor. Kamu anak tahun pertama?”</p>

<p>“Eh?”</p>

<p>“Hogwarts,” lelaki itu juga menunjuk amlop surat di tangan Chan. “Kamu murid baru?”</p>

<p>“Eh-ah-iya!” anak itu pun mengangkatnya. “Keluargaku didatengin penyihir. Perwakilan, katanya. Bilang aku diundang masuk Hogwarts, katanya. Makanya aku ke sini bareng Papa Mama.”</p>

<p>Lelaki itu kemudian mengangguk, menyapa dengan hormat pada orangtua Chan ketika anak itu menyebutnya. Pasangan muggle itu pun balas mengangguk.</p>

<p>“Terus kenapa belom ke Diagon Alley?”</p>

<p>😯 “Kakak tau Diagon Alley?”</p>

<p>Lelaki itu mengedip. Sejenak, dia liat-liatan sama sang profesor, sebelum keduanya tertawa lepas. Makin kebingungan lah bocah itu.</p>

<p>“Tau. Tau banget, malah. Kalo kamu mau, aku bantuin ke sana?”</p>

<p>“Boleh??” 😯</p>

<p>“Boleh doongg,” 🤭 “Tapi aku ijin dulu sama bosku ya, bentar. Hyung jadi nginep ato—?”</p>

<p>“Jadi laaah.”</p>

<p>“Oke. Hannah!” sejenak, lelaki itu masuk ke bagian dalam, mungkin tempat para staff bersantai sejenak sebelum kembali bekerja. Dia sepertinya berbicara dengan seseorang. Sang profesor mengisi jeda dengan mengajak orangtua Chan mengobrol, memberikan waktu bagi anak itu untuk menjelajah sedikit di lantai pertama tempat tersebut.</p>

<p>Semua bernuansa kuno, dari kayu yang dipakai hingga hiasan yang dipajang. Papan menu kusam menampilkan makanan dan minuman yang Chan belum pernah dengar sebelumnya.</p>

<p><em>(“F-fire whis—butterbeer—kayaknya enak—”)</em></p>

<p>Seorang wanita tua makan sendirian di dekat jendela, menusuk paha ayam gemuk yang lemaknya menetes-netes ke piringnya. Sepasang muda-mudi mojok berdua di sudut. Buru-buru Chan mengalihkan pandangan dengan muka memerah, rasanya dosa banget udah memergoki orang pacaran.</p>

<p>“Oke! Hyung, nih kuncinya,” suara itu kembali lagi bersamaan dengan bunyi renceng kunci. Dilemparnya dan ditangkap oleh sang pengajar.</p>

<p>“Trims.”</p>

<p>“Sama-sama. Hannah, bentar ya. Aku nggak lama kok. Sori.”</p>

<p>Chan menoleh ke arah konter. Di tempat lelaki itu, kini berdiri seorang wanita berambut pirang panjang. Dia tertawa santai sambil mengibaskan tangan.</p>

<p>“Jangan lama-lama, Seok.”</p>

<p>“Siap, Bos,” lelaki itu lalu memandang Chan. “Ayok.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/02</guid>
      <pubDate>Mon, 15 Nov 2021 02:23:24 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>🦦—</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/zi2jw364ghr5w1vu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[hogwartsau&#xA;&#xA;Deg-degan.&#xA;&#xA;Deg-degan nggak sih loo?? Deg-degan pake banget. Chan nggak tau—MANA MUNGKIN TAU JUGA SIH, MOHON MAAP NIH—kalau dia, yang notabene lahir dari peraduan dua muggle, bisa menerima surat undangan dari sekolah sihir (yang katanya sih) ternama.&#xA;&#xA;Hogwarts.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Bersegel lilin merah, ditulis tangan dengan tinta hijau dan diantarkan oleh penyihir BETULAN. Anak usia 11 tahun itu bisa membayangkan penyihir berjubah dan bertopi runcing menggoreskan ujung pena bulunya di lembaran perkamen di tengah ruangan bersinarkan temaram lilin bagai di film-film, susah payah menata kurva huruf sambung hanya untuk mengundang seorang anak bernama Lee Chan memasuki sekolah mereka.&#xA;&#xA;Aduh, jadi mau terharu, makasih lho 🥺&#xA;&#xA;Eniwei, ayahnya lagi kebingungan. Ibunya mendumal di sampingnya. Belum kelar keheranan mereka akan fakta anak lelaki tertuanya masuk sekolah sihir—&#xA;&#xA;(&#34;...Ini tuh kamu mau diajarin jadi dukun apa jadi pesulap apa jadi ahli nujum apa gimana sih, Papa kurang paham.&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Semacem itu kali ya Pah.&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Sayang. Liat mata Mama. Kamu serius mau masuk sekolah ini?&#34;)&#xA;&#xA;Jawabannya: Mereka berdiri di depan deret panjang tembok batu bata, menggaruk kepala. Ada peta yang diselipkan di dalam amplop dari Hogwarts akan suatu tempat bernama—err—Diagon Alley??&#xA;&#xA;Itulah.&#xA;&#xA;Meski sudah dijelaskan proses mencapai tempat itu oleh penyihir yang mengantarkan surat, tapi mah tetap aja. Nyasar.&#xA;&#xA;&#34;Aneh banget.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gimana dong?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Di peta nggak ada, Pah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya ada, tapi gini nih, Nak—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Permisi.&#34;&#xA;&#xA;Chan berputar cepat mirip gansing, hampir menabrak orang yang menegur mereka barusan. Lelaki bertubuh agak gempal yang mendekati mereka itu masih muda, tapi bukannya remaja juga. Lelaki itu tersenyum ramah. Setelan kemejanya cokelat tua dan agak kusam. Gaya berpakaiannya terlalu kuno untuk orang seusia dia.&#xA;&#xA;&#34;Ya?&#34; ayah Chan mengernyit, refleks memegangi pundak putranya. Gestur menjaga.&#xA;&#xA;&#34;Saya lihat Anda semua kebingungan? Ada yang bisa saya bantu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maaf, tapi kami tidak kenal Anda,&#34; ibu Chan menyela sambil menatap orang itu penuh curiga.&#xA;&#xA;Lelaki itu malah tertawa. &#34;Maaf, maaf. Nama saya Beom-ju,&#34; dia menunjuk amplop bersegel di tangan Chan. &#34;Saya lihat anak Anda mendapat surat dan Anda dari tadi bolak-balik depan Kuali Bocor. Mungkin saya bisa bantu.&#34;&#xA;&#xA;Mereka mengerjapkan mata.&#xA;&#xA;&#34;Kuali...apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bocor,&#34; lelaki itu menunjuk ke belakang mereka. &#34;Itu nama pub ini.&#34;&#xA;&#xA;Otomatis, mereka membalikkan badan. Dan, benar saja, tanpa diduga tanpa dinyana, berdiri sebuah bangunan di sana. Kecil, dengan pintu tinggi dari kayu. Tertulis The Leaky Cauldron di papan nama yang berayun-ayun tertiup angin bulan September. Bangunan yang, Chan yakin, semenit lalu belum ada.&#xA;&#xA;&#34;Wow...&#34;&#xA;&#xA;Beom-ju kemudian tersenyum. &#34;Mari. Silakan masuk,&#34; ujarnya, dengan pasti melangkah ke ambang pintu tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Berarti Bapak...penyihir juga?&#34; Chan mendongak. Di samping lelaki itu, ia nampak begitu mungil.&#xA;&#xA;Tawa yang terdengar kemudian besar dan ramah. Tangan yang menyapu rambut Chan pun hangat.&#xA;&#xA;&#34;Kebetulan,&#34; jawabnya. Bel di atas pintu berdendang ketika daun pintu membuka. &#34;Saya pengajar di Hogwarts.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:hogwartsau" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">hogwartsau</span></a></p>

<p><em>Deg-degan.</em></p>

<p>Deg-degan nggak sih loo?? Deg-degan pake banget. Chan nggak tau—MANA MUNGKIN TAU JUGA SIH, MOHON MAAP NIH—kalau dia, yang notabene lahir dari peraduan dua muggle, bisa menerima surat undangan dari sekolah sihir (yang katanya sih) ternama.</p>

<p>Hogwarts.</p>



<p>Bersegel lilin merah, ditulis tangan dengan tinta hijau dan diantarkan oleh penyihir BETULAN. Anak usia 11 tahun itu bisa membayangkan penyihir berjubah dan bertopi runcing menggoreskan ujung pena bulunya di lembaran perkamen di tengah ruangan bersinarkan temaram lilin bagai di film-film, susah payah menata kurva huruf sambung hanya untuk mengundang seorang anak bernama Lee Chan memasuki sekolah mereka.</p>

<p>Aduh, jadi mau terharu, makasih lho 🥺</p>

<p>Eniwei, ayahnya lagi kebingungan. Ibunya mendumal di sampingnya. Belum kelar keheranan mereka akan fakta anak lelaki tertuanya masuk sekolah <em>sihir</em>—</p>

<p><em>(“...Ini tuh kamu mau diajarin jadi dukun apa jadi pesulap apa jadi ahli nujum apa gimana sih, Papa kurang paham.”)</em></p>

<p><em>(“Semacem itu kali ya Pah.”)</em></p>

<p><em>(“Sayang. Liat mata Mama. Kamu serius mau masuk sekolah ini?”)</em></p>

<p>Jawabannya: Mereka berdiri di depan deret panjang tembok batu bata, menggaruk kepala. Ada peta yang diselipkan di dalam amplop dari Hogwarts akan suatu tempat bernama—<em>err</em>—Diagon Alley??</p>

<p>Itulah.</p>

<p>Meski sudah dijelaskan proses mencapai tempat itu oleh penyihir yang mengantarkan surat, tapi mah tetap aja. <em>Nyasar.</em></p>

<p>“Aneh banget.”</p>

<p>“Gimana dong?”</p>

<p>“Di peta nggak ada, Pah?”</p>

<p>“Ya ada, tapi gini nih, Nak—”</p>

<p>“Permisi.”</p>

<p>Chan berputar cepat mirip gansing, hampir menabrak orang yang menegur mereka barusan. Lelaki bertubuh agak gempal yang mendekati mereka itu masih muda, tapi bukannya remaja juga. Lelaki itu tersenyum ramah. Setelan kemejanya cokelat tua dan agak kusam. Gaya berpakaiannya terlalu kuno untuk orang seusia dia.</p>

<p>“Ya?” ayah Chan mengernyit, refleks memegangi pundak putranya. Gestur menjaga.</p>

<p>“Saya lihat Anda semua kebingungan? Ada yang bisa saya bantu?”</p>

<p>“Maaf, tapi kami tidak kenal Anda,” ibu Chan menyela sambil menatap orang itu penuh curiga.</p>

<p>Lelaki itu malah tertawa. “Maaf, maaf. Nama saya Beom-ju,” dia menunjuk amplop bersegel di tangan Chan. “Saya lihat anak Anda mendapat surat dan Anda dari tadi bolak-balik depan Kuali Bocor. Mungkin saya bisa bantu.”</p>

<p>Mereka mengerjapkan mata.</p>

<p>“Kuali...<em>apa</em>?”</p>

<p>“Bocor,” lelaki itu menunjuk ke belakang mereka. “Itu nama pub ini.”</p>

<p>Otomatis, mereka membalikkan badan. Dan, benar saja, tanpa diduga tanpa dinyana, berdiri sebuah bangunan di sana. Kecil, dengan pintu tinggi dari kayu. Tertulis The Leaky Cauldron di papan nama yang berayun-ayun tertiup angin bulan September. Bangunan yang, Chan yakin, semenit lalu belum ada.</p>

<p>“Wow...”</p>

<p>Beom-ju kemudian tersenyum. “Mari. Silakan masuk,” ujarnya, dengan pasti melangkah ke ambang pintu tersebut.</p>

<p>“Berarti Bapak...penyihir juga?” Chan mendongak. Di samping lelaki itu, ia nampak begitu mungil.</p>

<p>Tawa yang terdengar kemudian besar dan ramah. Tangan yang menyapu rambut Chan pun hangat.</p>

<p>“Kebetulan,” jawabnya. Bel di atas pintu berdendang ketika daun pintu membuka. “Saya pengajar di Hogwarts.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/zi2jw364ghr5w1vu</guid>
      <pubDate>Tue, 09 Nov 2021 01:39:59 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>