<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>haremhaohybrid &amp;mdash; 🌾</title>
    <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:haremhaohybrid</link>
    <description>narrative writings of thesunmetmoon</description>
    <pubDate>Sun, 06 Sep 2026 20:40:36 +0000</pubDate>
    <image>
      <url>https://i.snap.as/K7JGOEOo.png</url>
      <title>haremhaohybrid &amp;mdash; 🌾</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:haremhaohybrid</link>
    </image>
    <item>
      <title>Ch. 1.6: First Interaction (Unlocked: Fox Clan)</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/ch-1-6-first-interaction-unlocked-fox-clan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[haremhaohybrid&#xA;&#xA;&#34;Aku ingin mengenal...,&#34; alih pandangnya menetap ke salah satu anggota klan karnivora, tepatnya yang tengah menaikkan gagang kacamata bulatnya, lalu menunjuk. &#34;Rubah itu.&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Dengus geli keluar sebagai respon pertama yang bersangkutan. &#34;Rubah itu...katanya,&#34; ia menggeleng sambil menutup setengah bagian wajah atas. &#34;Seumur hidup, baru kali ini aku dipanggil begitu. Xu Minghao, kejutan apa lagi yang kau bawa ke sini...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Baiklah, jikalau begitu—&#34;&#xA;&#xA;Tiba-tiba saja semua yang hadir di sana beranjak dari duduknya. Kwon membantu kedua suaminya yang sedang hamil besar untuk berdiri. Seniman yang seharusnya menghibur mereka turut pamit undur diri. Selang kerjapan mata saja, Minghao sudah ditinggalkan berdua di ruang perjamuan dengan anggota klan rubah. Kerjap-kerjap matanya menyiratkan banyak pertanyaan yang menuntut sebuah jawaban logis, namun sang rubah hanya melemparkan senyuman maklum. Ia menggeser meja kayu kecil berisikan sepiring daging ayam rebus maju mendekati Minghao. Kini, jarak duduk mereka terbilang cukup dekat.&#xA;&#xA;&#34;Sesuai kesepakatan, jika ada yang menarik minatmu, maka waktu dan tempat akan dipersilakan untuk kita berbincang berdua saja,&#34; dengan tenang, sumpit Jeon Wonwoo meraih sepotong daging putih. &#34;Terus terang aku tak menyangka aku akan mendapatkan kehormatan menjadi yang pertama.&#34; Taringnya menyobek daging itu sebelum ditelannya. &#34;Apa yang ingin kau ketahui, Xu Minghao?&#34;&#xA;&#xA;Wajah sang kelinci memucat. Bagaimanapun, melihat seekor karnivora memangsa daging hewan lain—meski bukan spesiesnya—tetap membawa perasaan tidak enak. Seolah secara tak langsung ia memperingatkan Minghao bahwa daging berikutnya bisa saja adalah dagingnya. Tangan Minghao agak gemetar, andaikan ia tidak berusaha secepat mungkin menenangkan dirinya. Tidak ada yang lebih buruk daripada menampakkan kelemahan di depan musuh—&#xA;&#xA;—Ah.&#xA;&#xA;&#34;...terbuka kah?&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo mengerjap, luput menangkap cicitan Minghao barusan, &#34;Hmm?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Emang segitu terbuka kah...sampe kamu bisa bilang aku kayak buku...?&#34; gerutu si kelinci kecil. Bibirnya manyun sebagai tanda protes.&#xA;&#xA;Tidak mengharapkan pertanyaan barusan, sang rubah menaikkan kedua alis. Matanya agak membulat. &#34;Oh... Yah...,&#34; harus menjawab bagaimana ya? Wonwoo menggaruk pipinya yang tidak gatal. &#34;Sekali pandang saja kami tahu kau membenci kami. Matamu tidak berbohong, Xu Minghao. Di dunia kami para karnivora, kebencian terang-terangan hanya akan membawa petaka.&#34; Lalu, sang rubah tersenyum simpul. &#34;Tapi, di sisi lain, melihatmu begitu jujur rasanya menyegarkan. Seperti kembali ke masa kanak-kanak yang damai dan menyenangkan...&#34;&#xA;&#xA;Alis Minghao mengerut. &#34;Aku bukan anak-anak,&#34; ketusnya.&#xA;&#xA;&#34;Secara pribadi, kuanggap usia 15 itu anak-anak,&#34; Wonwoo mengambil lagi sepotong daging ayam untuk dikunyah dan ditelan.&#xA;&#xA;&#34;Emangnya kamu sendiri umur berapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dua purnama lagi akan 28.&#34;&#xA;&#xA;Hening.&#xA;&#xA;&#34;...,&#34; Minghao berpikir sejenak. &#34;...Paman?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Uhuk—&#34; hampir Wonwoo tersedak daging. &#34;Kenapa tetiba saja aku dipanggil paman...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya karena kamu tua.&#34;&#xA;&#xA;&#34;28 belum tua,&#34; ia bersikukuh. &#34;Jika aku tua, bagaimana nasib Kak Seungcheol?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Heh. Serigala itu?&#34; seketika, paras Minghao berubah kecut. &#34;Aku nggak peduli dia kakek-kakek, relik, atau mati sekalian. Lebih baik lagi kalo semua serigala mati aja. Biar Kak Hani bisa pergi dari sana.&#34; Rasanya lidah Minghao sepat membicarakan perihal musuh terbesarnya. Ia pun menenggak teh hijau hangatnya.&#xA;&#xA;Wonwoo diam kali ini, memerhatikan Minghao dengan seksama. &#34;Kau sebegitu bencinya dengan klan serigala?&#34; tanyanya perlahan.&#xA;&#xA;&#34;Salah. Aku benci kalian semua,&#34; begitu lurus bola itu digulirkan. Begitu ringan intonasi yang digunakan. Sebuah kepolosan yang amat timpang. &#34;Kalau kalian semua nggak ada, aku, Kak Hani, Kak Shuji bakal masih tinggal damai di pondok kami, bertiga tanpa kenal derita. Karena kalian semua hidup, maka kami bertiga harus mati demi kalian. Egois. Semua karnivora seperti kalian sama egoisnya.&#34;&#xA;&#xA;Kemudian, Xu Minghao menelengkan kepala sedikit dan tersenyum begitu manis.&#xA;&#xA;&#34;Semoga kalian semua cepet mati.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo terhenyak meski dengan lihai ia menyembunyikannya. Matanya mengerjap beberapa kali, beberapa detik mencerna kalimat yang baru saja keluar dari wajah cantik berbibir merah tersebut. Ia pernah mendengar dari Kwon Soonyoung kalau klan kelinci bagai mawar yang berduri: cantik, tapi meledak-ledak. Sebagaimana suaminya. Sebagaimana Yoon Jeonghan. Dan, sekarang, sepertinya sebagaimana Xu Minghao.&#xA;&#xA;Jeon Wonwoo menumpangkan dagu di atas kepalan tangannya, masih memandang sang kelinci dengan ketertarikan yang lebih kuat kini. Ia tersenyum lagi, tapi kali ini lebih lebar, lebih tulus. &#34;Ah, maaf, aku belum mau mati secepat harapanmu,&#34; seloroh sang rubah. &#34;Lagipula, aku yang lebih mungkin membunuhmu duluan. Kau dengar kan, apa yang tadi Kwon katakan mengenai spesialisasi keluargaku?&#34;&#xA;&#xA;Minghao memicingkan mata. &#34;Obat-obatan?&#34; selidiknya penuh curiga. &#34;Kamu mau ngeracunin aku ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tidak juga,&#34; mau tak mau ia terkekeh. Kelinci yang menarik. &#34;Tapi aku bisa mengajarimu kalau kau mau.&#34;&#xA;&#xA;Telinga kelinci Minghao berkedut, jelas tergugah. &#34;Pasti ada syaratnya...,&#34; kerutan alisnya pun mendalam.&#xA;&#xA;Jeon Wonwoo tertawa lagi.&#xA;&#xA;&#34;Syaratnya hanya satu,&#34; menegakkan badannya kembali, rubah itu melanjutkan makan malamnya. Ujung sumpit lagi-lagi bergerak lihai memotong daging. Jika dilihat, cara makan Jeon Wonwoo begitu apik. Status sosial yang terpancar dari gerak-gerik, bukan dari kepongahan. &#34;Jadilah suamiku. Akan kuajarkan semua pengetahuan klan kami akan obat dan racun padamu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak, makasih,&#34; Minghao memutar bola mata. Tusukan ujung sumpit pada potongan wortelnya masuk dengan sempurna, kemudian ia bawa ke mulut untuk menelannya.&#xA;&#xA;Setelahnya, mereka menyelesaikan makan malam mereka dalam keheningan, ditemani suara-suara serangga malam dan gemerisik dedaunan tertiup angin malam.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:haremhaohybrid" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">haremhaohybrid</span></a></p>

<p>“Aku ingin mengenal...,” alih pandangnya menetap ke salah satu anggota klan karnivora, tepatnya yang tengah menaikkan gagang kacamata bulatnya, lalu menunjuk. “Rubah itu.”</p>



<p>Dengus geli keluar sebagai respon pertama yang bersangkutan. “<em>Rubah itu</em>...katanya,” ia menggeleng sambil menutup setengah bagian wajah atas. “Seumur hidup, baru kali ini aku dipanggil begitu. Xu Minghao, kejutan apa lagi yang kau bawa ke sini...”</p>

<p>“Baiklah, jikalau begitu—”</p>

<p>Tiba-tiba saja semua yang hadir di sana beranjak dari duduknya. Kwon membantu kedua suaminya yang sedang hamil besar untuk berdiri. Seniman yang seharusnya menghibur mereka turut pamit undur diri. Selang kerjapan mata saja, Minghao sudah ditinggalkan berdua di ruang perjamuan dengan anggota klan rubah. Kerjap-kerjap matanya menyiratkan banyak pertanyaan yang menuntut sebuah jawaban logis, namun sang rubah hanya melemparkan senyuman maklum. Ia menggeser meja kayu kecil berisikan sepiring daging ayam rebus maju mendekati Minghao. Kini, jarak duduk mereka terbilang cukup dekat.</p>

<p>“Sesuai kesepakatan, jika ada yang menarik minatmu, maka waktu dan tempat akan dipersilakan untuk kita berbincang berdua saja,” dengan tenang, sumpit Jeon Wonwoo meraih sepotong daging putih. “Terus terang aku tak menyangka aku akan mendapatkan kehormatan menjadi yang pertama.” Taringnya menyobek daging itu sebelum ditelannya. “Apa yang ingin kau ketahui, Xu Minghao?”</p>

<p>Wajah sang kelinci memucat. Bagaimanapun, melihat seekor karnivora memangsa daging hewan lain—meski bukan spesiesnya—tetap membawa perasaan tidak enak. Seolah secara tak langsung ia memperingatkan Minghao bahwa daging berikutnya bisa saja adalah dagingnya. Tangan Minghao agak gemetar, andaikan ia tidak berusaha secepat mungkin menenangkan dirinya. Tidak ada yang lebih buruk daripada menampakkan kelemahan di depan musuh—</p>

<p>—<em>Ah</em>.</p>

<p>”...terbuka kah?”</p>

<p>Wonwoo mengerjap, luput menangkap cicitan Minghao barusan, “Hmm?”</p>

<p>“Emang segitu terbuka kah...sampe kamu bisa bilang aku kayak buku...?” gerutu si kelinci kecil. Bibirnya manyun sebagai tanda protes.</p>

<p>Tidak mengharapkan pertanyaan barusan, sang rubah menaikkan kedua alis. Matanya agak membulat. “<em>Oh</em>... Yah...,” <em>harus menjawab bagaimana ya?</em> Wonwoo menggaruk pipinya yang tidak gatal. “Sekali pandang saja kami tahu kau membenci kami. Matamu tidak berbohong, Xu Minghao. Di dunia kami para karnivora, kebencian terang-terangan hanya akan membawa petaka.” Lalu, sang rubah tersenyum simpul. “Tapi, di sisi lain, melihatmu begitu jujur rasanya menyegarkan. Seperti kembali ke masa kanak-kanak yang damai dan menyenangkan...”</p>

<p>Alis Minghao mengerut. “Aku bukan anak-anak,” ketusnya.</p>

<p>“Secara pribadi, kuanggap usia 15 itu anak-anak,” Wonwoo mengambil lagi sepotong daging ayam untuk dikunyah dan ditelan.</p>

<p>“Emangnya kamu sendiri umur berapa?”</p>

<p>“Dua purnama lagi akan 28.”</p>

<p>Hening.</p>

<p>”...,” Minghao berpikir sejenak. “...Paman?”</p>

<p>“<em>Uhuk</em>—” hampir Wonwoo tersedak daging. “Kenapa tetiba saja aku dipanggil paman...”</p>

<p>“Ya karena kamu tua.”</p>

<p>“28 belum tua,” ia bersikukuh. “Jika aku tua, bagaimana nasib Kak Seungcheol?”</p>

<p>“<em>Heh</em>. Serigala itu?” seketika, paras Minghao berubah kecut. “Aku nggak peduli dia kakek-kakek, relik, atau mati sekalian. Lebih baik lagi kalo semua serigala mati aja. Biar Kak Hani bisa pergi dari sana.” Rasanya lidah Minghao sepat membicarakan perihal musuh terbesarnya. Ia pun menenggak teh hijau hangatnya.</p>

<p>Wonwoo diam kali ini, memerhatikan Minghao dengan seksama. “Kau sebegitu bencinya dengan klan serigala?” tanyanya perlahan.</p>

<p>“Salah. Aku benci kalian semua,” begitu lurus bola itu digulirkan. Begitu ringan intonasi yang digunakan. Sebuah kepolosan yang amat timpang. “Kalau kalian semua nggak ada, aku, Kak Hani, Kak Shuji bakal masih tinggal damai di pondok kami, bertiga tanpa kenal derita. Karena kalian semua hidup, maka kami bertiga harus <em>mati</em> demi kalian. Egois. Semua karnivora seperti kalian sama egoisnya.”</p>

<p>Kemudian, Xu Minghao menelengkan kepala sedikit dan tersenyum begitu manis.</p>

<p>“Semoga kalian semua cepet mati.”</p>

<p>Wonwoo terhenyak meski dengan lihai ia menyembunyikannya. Matanya mengerjap beberapa kali, beberapa detik mencerna kalimat yang baru saja keluar dari wajah cantik berbibir merah tersebut. Ia pernah mendengar dari Kwon Soonyoung kalau klan kelinci bagai mawar yang berduri: cantik, tapi meledak-ledak. Sebagaimana suaminya. Sebagaimana Yoon Jeonghan. Dan, sekarang, sepertinya sebagaimana Xu Minghao.</p>

<p>Jeon Wonwoo menumpangkan dagu di atas kepalan tangannya, masih memandang sang kelinci dengan ketertarikan yang lebih kuat kini. Ia tersenyum lagi, tapi kali ini lebih lebar, lebih tulus. “Ah, maaf, aku belum mau mati secepat harapanmu,” seloroh sang rubah. “Lagipula, aku yang lebih mungkin membunuhmu duluan. Kau dengar kan, apa yang tadi Kwon katakan mengenai spesialisasi keluargaku?”</p>

<p>Minghao memicingkan mata. “Obat-obatan?” selidiknya penuh curiga. “Kamu mau ngeracunin aku ya?”</p>

<p>“Tidak juga,” mau tak mau ia terkekeh. <em>Kelinci yang menarik</em>. “Tapi aku bisa mengajarimu kalau kau mau.”</p>

<p>Telinga kelinci Minghao berkedut, jelas tergugah. “Pasti ada syaratnya...,” kerutan alisnya pun mendalam.</p>

<p>Jeon Wonwoo tertawa lagi.</p>

<p>“Syaratnya hanya satu,” menegakkan badannya kembali, rubah itu melanjutkan makan malamnya. Ujung sumpit lagi-lagi bergerak lihai memotong daging. Jika dilihat, cara makan Jeon Wonwoo begitu apik. Status sosial yang terpancar dari gerak-gerik, bukan dari kepongahan. “Jadilah suamiku. Akan kuajarkan semua pengetahuan klan kami akan obat dan racun padamu.”</p>

<p>“Nggak, makasih,” Minghao memutar bola mata. Tusukan ujung sumpit pada potongan wortelnya masuk dengan sempurna, kemudian ia bawa ke mulut untuk menelannya.</p>

<p>Setelahnya, mereka menyelesaikan makan malam mereka dalam keheningan, ditemani suara-suara serangga malam dan gemerisik dedaunan tertiup angin malam.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/ch-1-6-first-interaction-unlocked-fox-clan</guid>
      <pubDate>Sun, 23 Nov 2025 12:36:00 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Ch 1.5: Introduction</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/ch-1-5-introduction?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[haremhaohybrid&#xA;&#xA;Minghao tidak menunduk ataupun mengalihkan pandangan. Sebaliknya, ia menatap bergantian satu persatu anggota klan karnivora di hadapannya perlahan-lahan, memetakan wajah mereka dalam ingatan. Sepertinya memang keberanian klan kelinci adalah sesuatu yang mendarah daging. Lima karnivora berbalutkan pakaian indah dari sutra mahal. Mereka tidak mengenakan kain warna mentereng ataupun hiasan yang tak perlu. Sederhana dari bahan berkualitas. Yang membedakan mereka dari tamu biasa adalah simbol klan masing-masing yang tersemat di kerah pakaian mereka.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Senang sekali atas kehadiran kita semua di sini,&#34; Kwon memulai, menjalankan tugasnya sebagai tuan rumah yang baik. &#34;Malam ini adalah malam sepertiga rembulan. Malam yang tepat untuk mengenalkan anggota keluarga terbaru klan kami, adik dari suamiku, kelinci termuda, Xu Minghao.&#34;&#xA;&#xA;Tak ada anggukan, hanyalah tatap saling bersirobok antara sang kelinci dengan kelima lelaki itu. Tiada ciut. Tiada bimbang. Kekopongan? Mungkin sedikit. Sisanya adalah gurat halus kebencian dan rasa jijik. Para karnivora biadab yang telah mengoyak kebahagiaan kelinci-kelinci kecil naif yang hanya ingin hidup damai bertiga di pondok kecil mereka. Gurat yang, tentu, tertangkap oleh mata-mata jeli para karnivora.&#xA;&#xA;&#34;Kau seperti buku yang terbuka, Xu Minghao,&#34; seseorang dari mereka angkat bicara, menekankan apa yang mereka semua telah ketahui. &#34;Jika ingin menyelamatkan ekormu di dunia ini, sembunyikan rasa bencimu dari musuhmu, bukannya malah mengumbarnya seperti itu.&#34; Kekehan, pelan menemani picingan mata di balik kacamata berbingkai bulat. Telinganya yang berbulu lembut mengacung agak tinggi di antara rimbun rambut yang berwarna kelam.&#xA;&#xA;&#34;Minghao, ini adalah Jeon Wonwoo dari klan rubah,&#34; Kwon memotong untuk sekilas perkenalan. &#34;Klan Jeon turun-temurun berkecimpung dalam bidang obat-obatan. Lalu, yang duduk di sebelahnya adalah Wen Junhui dari klan macan kumbang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hal yang perlu kamu ketahui dariku, Minghao, kalau lariku lebih cepat dari Soonie,&#34; ringisan melebar—setengah pongah, setengah mengejek. Yang diejek mendecih. Ekornya menyapu lantai agak gelisah.&#xA;&#xA;&#34;Jangan menantangku, Jun-ah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Menggertak, seperti biasanya.&#34;&#xA;&#xA;Seakan ada percik statis tercipta di antara tatapan mata keduanya. Dengan sebuah tepukan tangan kencang, Jisoo menengahi kedua karnivora tersebut. &#34;Tolong jaga sikap Anda, Tuan Wen,&#34; senyum sang kelinci manis, namun tutur katanya teramat dingin. &#34;Anda berada di sini untuk adik saya, bukan untuk memancing murka suami saya.&#34;&#xA;&#xA;Menunduk, Jun mendengus, acuh tak acuh membuang muka. Jika Minghao tidak benar-benar memerhatikan, rona merah tipis yang membakar pipi Jun pasti akan dilewatkannya. Alis sang kelinci mengernyit, merasa aneh barang sejenak, walau ia mengabaikannya kemudian. Perkenalan pun berlanjut.&#xA;&#xA;&#34;Berikut adalah perwakilan dari klan beruang. Kim Mingyu, inginkah kau mengucapkan sepatah-dua patah kata?&#34; sang kepala klan macan menyunggingkan senyuman ramah. Ia nampak memedulikan lelaki tersebut lebih daripada anggota klan lainnya, meskipun yang bersangkutan tetap diam dan hanya menggeleng. Ia memilih untuk memandangi Minghao dengan lekat, membuat sang kelinci merasa kurang nyaman.&#xA;&#xA;&#34;Bagaimana Anda bisa memenangkan hatinya jika hanya diam, Kim??&#34; kekeh lelaki yang lebih muda di sebelahnya. &#34;Lidah dan kata-kata adalah senjata paling berharga untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.&#34; Desisan, terdengar menetesi tiap celah keheningan dari lidah yang bercabang.&#xA;&#xA;&#34;Tentu kau juga sadar bahwa mulutmu adalah harimaumu, Chan?&#34; sahut lelaki lain di sisi satunya. Ia melipat lengan di dada, tak terpukau oleh gertak sambal barusan.&#xA;&#xA;&#34;Ah, Anda terlalu memuji saya, Tuan Choi,&#34; bukannya terpelatuk, lelaki itu justru menyeringai sambil menunduk sedikit dengan tangan di dada. &#34;Setidaknya mulut saya lebih beradab daripada kebiasaan main tangan Anda, bukan?&#34; Lelaki yang dipanggil Tuan Choi bergerak, seolah akan beranjak dari duduk untuk menarik kerah pakaiannya dan membuat kerusuhan, namun lagi-lagi mereka ditengahi.&#xA;&#xA;&#34;Lee! Choi! Sudah cukup!&#34; gelegar membahana keluar dari mulut Kwon Soonyoung. Minghao agak terkejut. Ternyata si macan itu bisa berwibawa juga jika situasi mengharuskannya. Keterkejutan Minghao pun berlanjut saat Kwon malah menoleh ke arahnya. &#34;Adik ipar, maafkan kelancangan mereka. Ini Lee Chan dari klan ular dan Choi Seungcheol dari klan serigala.&#34;&#xA;&#xA;Minghao seketika bungkam. Matanya membelalak.&#xA;&#xA;Klan serigala.&#xA;&#xA;Klan yang mengambil Jeonghan dengan paksa. Klan yang memenjaranya, membuatnya menghilang dari dunia dan menyisakan sehela nama. Klan yang membuat dirinya dan Jisoo hanya bisa merindukan saudara tertua mereka hari demi hari. Klan yang telah membuat Jeonghan menderita.&#xA;&#xA;Saat Minghao menatap wajah Choi Seungcheol, sang serigala menemukan kebencian berapi-api dalam kilatan matanya. Wonwoo sungguhlah benar. Xu Minghao adalah buku yang terbuka. Setidaknya, kakaknya, Jisoo, menyembunyikan angkara murkanya di balik senyuman lembut. Rasa-rasanya, Seungcheol ingin tertawa.&#xA;&#xA;&#34;Lagi-lagi seekor kelinci tanpa tata krama,&#34; decaknya, sengaja memanasi emosi Minghao. Duduknya agak merosot dan kedua kakinya melebar; bagai Tuan Raja di atas singgasana emasnya. &#34;Kuperingatkan saja, Xu Minghao, sekali kau membuatku marah, akan kumakan kau.&#34; Taring runcing dipampang. Telinga berbulu hitamnya berkedut memperingatkan. Geraman rendah datang dari pangkal tenggorokan. &#34;Aku di sini bukan untuk berkasih-kasihan denganmu seperti permintaan kakakmu itu. Aku di sini untuk membawamu ke klanku dan membuatmu melahirkan bayi-bayi serigala tanpa henti.&#34; Lalu, dengan nada pongah dan dongakan dagu, Choi Seungcheol menantang Xu Minghao tanpa tedeng aling-aling. &#34;Sebagaimana kau seharusnya berada, Herbivora.&#34;&#xA;&#xA;&#34;CHOI!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hao, jangan dengarkan ucapannya,&#34; sigap, Jisoo menarik Minghao ke sisinya, membawa kepala anak itu bersandar ke bahunya. &#34;Ingatlah bahwa klan ini akan selalu melindungimu.&#34; Lalu, ia melirik tajam pada Seungcheol. &#34;Bahkan bila aku harus mencekik semua yang menyakitimu dalam tidurnya malam ini.&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol menyeringai. Kwon memotong, &#34;Sayang. Tenangkan dirimu. Tidak baik berkata buruk, bayinya bisa mendengar.&#34; Minghao diam, memejamkan mata untuk menikmati elusan halus tangan Jisoo pada rambutnya. &#34;Nah, Minghao. Aku mau kau mendengarkan ucapan kakakmu, meski tolong abaikan kalimatnya yang terakhir.&#34; Sang macan sendiri sibuk mengelusi punggung Jisoo, mengetahui bagaimana seriusnya kelincinya itu akan ucapannya barusan. Kemudian, helaan napas yang berat pun terlepas. &#34;Choi, kumohon kendalikan emosimu. Klan serigala adalah aliansi berharga klan kami sejak nenek moyang. Bukan hanya itu, klan Jeon dan klan Wen pun berpikiran sama.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Saya pun,&#34; gumaman perlahan Kim mengagetkan Minghao.&#xA;&#xA;&#34;Klan beruang juga nampaknya berpikiran sama,&#34; Kwon menambahkan. &#34;Kami akan menyesal apabila harus mengusirmu dari pertemuan terakhir ini. Kau tentu tahu, kan, konsekuensinya?&#34;&#xA;&#xA;Maksudnya teramat jelas. Klan serigala tengah panik karena kelinci yang mereka kira akan melahirkan banyak generasi penerus malah sama sekali tidak disentuh oleh anak kedua sang tetua. Choi Seungcheol sebagai yang tertua harus menanggung beban untuk mendapatkan kelinci termuda dan memberikan penerus secepatnya. Jika tidak, kaum serigala terancam punah. Mendecih lagi, ia, tetapi kali ini diam seribu bahasa. Kwon telah menyentilnya tepat di urat Achillesnya. Sang macan pun menghela napas lagi.&#xA;&#xA;&#34;Adik ipar,&#34; tanyanya lembut pada Minghao. &#34;Adakah anggota klan kami yang ingin kau kenal lebih baik saat ini?&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:haremhaohybrid" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">haremhaohybrid</span></a></p>

<p>Minghao tidak menunduk ataupun mengalihkan pandangan. Sebaliknya, ia menatap bergantian satu persatu anggota klan karnivora di hadapannya perlahan-lahan, memetakan wajah mereka dalam ingatan. Sepertinya memang keberanian klan kelinci adalah sesuatu yang mendarah daging. Lima karnivora berbalutkan pakaian indah dari sutra mahal. Mereka tidak mengenakan kain warna mentereng ataupun hiasan yang tak perlu. Sederhana dari bahan berkualitas. Yang membedakan mereka dari tamu biasa adalah simbol klan masing-masing yang tersemat di kerah pakaian mereka.</p>



<p>“Senang sekali atas kehadiran kita semua di sini,” Kwon memulai, menjalankan tugasnya sebagai tuan rumah yang baik. “Malam ini adalah malam sepertiga rembulan. Malam yang tepat untuk mengenalkan anggota keluarga terbaru klan kami, adik dari suamiku, kelinci termuda, Xu Minghao.”</p>

<p>Tak ada anggukan, hanyalah tatap saling bersirobok antara sang kelinci dengan kelima lelaki itu. Tiada ciut. Tiada bimbang. Kekopongan? Mungkin sedikit. Sisanya adalah gurat halus kebencian dan rasa jijik. Para karnivora biadab yang telah mengoyak kebahagiaan kelinci-kelinci kecil naif yang hanya ingin hidup damai bertiga di pondok kecil mereka. Gurat yang, tentu, tertangkap oleh mata-mata jeli para karnivora.</p>

<p>“Kau seperti buku yang terbuka, Xu Minghao,” seseorang dari mereka angkat bicara, menekankan apa yang mereka semua telah ketahui. “Jika ingin menyelamatkan ekormu di dunia ini, sembunyikan rasa bencimu dari musuhmu, bukannya malah mengumbarnya seperti itu.” Kekehan, pelan menemani picingan mata di balik kacamata berbingkai bulat. Telinganya yang berbulu lembut mengacung agak tinggi di antara rimbun rambut yang berwarna kelam.</p>

<p>“Minghao, ini adalah Jeon Wonwoo dari klan rubah,” Kwon memotong untuk sekilas perkenalan. “Klan Jeon turun-temurun berkecimpung dalam bidang obat-obatan. Lalu, yang duduk di sebelahnya adalah Wen Junhui dari klan macan kumbang.”</p>

<p>“Hal yang perlu kamu ketahui dariku, Minghao, kalau lariku lebih cepat dari Soonie,” ringisan melebar—setengah pongah, setengah mengejek. Yang diejek mendecih. Ekornya menyapu lantai agak gelisah.</p>

<p>“Jangan menantangku, Jun-ah.”</p>

<p>“Menggertak, seperti biasanya.”</p>

<p>Seakan ada percik statis tercipta di antara tatapan mata keduanya. Dengan sebuah tepukan tangan kencang, Jisoo menengahi kedua karnivora tersebut. “Tolong jaga sikap Anda, Tuan Wen,” senyum sang kelinci manis, namun tutur katanya teramat dingin. “Anda berada di sini untuk adik saya, bukan untuk memancing murka suami saya.”</p>

<p>Menunduk, Jun mendengus, acuh tak acuh membuang muka. Jika Minghao tidak benar-benar memerhatikan, rona merah tipis yang membakar pipi Jun pasti akan dilewatkannya. Alis sang kelinci mengernyit, merasa aneh barang sejenak, walau ia mengabaikannya kemudian. Perkenalan pun berlanjut.</p>

<p>“Berikut adalah perwakilan dari klan beruang. Kim Mingyu, inginkah kau mengucapkan sepatah-dua patah kata?” sang kepala klan macan menyunggingkan senyuman ramah. Ia nampak memedulikan lelaki tersebut lebih daripada anggota klan lainnya, meskipun yang bersangkutan tetap diam dan hanya menggeleng. Ia memilih untuk memandangi Minghao dengan lekat, membuat sang kelinci merasa kurang nyaman.</p>

<p>“Bagaimana Anda bisa memenangkan hatinya jika hanya diam, Kim??” kekeh lelaki yang lebih muda di sebelahnya. “Lidah dan kata-kata adalah senjata paling berharga untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.” Desisan, terdengar menetesi tiap celah keheningan dari lidah yang bercabang.</p>

<p>“Tentu kau juga sadar bahwa mulutmu adalah harimaumu, Chan?” sahut lelaki lain di sisi satunya. Ia melipat lengan di dada, tak terpukau oleh gertak sambal barusan.</p>

<p>“Ah, Anda terlalu memuji saya, Tuan Choi,” bukannya terpelatuk, lelaki itu justru menyeringai sambil menunduk sedikit dengan tangan di dada. “Setidaknya mulut saya lebih beradab daripada kebiasaan main tangan Anda, bukan?” Lelaki yang dipanggil Tuan Choi bergerak, seolah akan beranjak dari duduk untuk menarik kerah pakaiannya dan membuat kerusuhan, namun lagi-lagi mereka ditengahi.</p>

<p>“Lee! Choi! Sudah cukup!” gelegar membahana keluar dari mulut Kwon Soonyoung. Minghao agak terkejut. Ternyata si macan itu bisa berwibawa juga jika situasi mengharuskannya. Keterkejutan Minghao pun berlanjut saat Kwon malah menoleh ke arahnya. “Adik ipar, maafkan kelancangan mereka. Ini Lee Chan dari klan ular dan Choi Seungcheol dari klan serigala.”</p>

<p>Minghao seketika bungkam. Matanya membelalak.</p>

<p><em>Klan serigala.</em></p>

<p>Klan yang mengambil Jeonghan dengan paksa. Klan yang memenjaranya, membuatnya menghilang dari dunia dan menyisakan sehela nama. Klan yang membuat dirinya dan Jisoo hanya bisa merindukan saudara tertua mereka hari demi hari. Klan yang telah membuat Jeonghan menderita.</p>

<p>Saat Minghao menatap wajah Choi Seungcheol, sang serigala menemukan kebencian berapi-api dalam kilatan matanya. Wonwoo sungguhlah benar. Xu Minghao adalah buku yang terbuka. Setidaknya, kakaknya, Jisoo, menyembunyikan angkara murkanya di balik senyuman lembut. Rasa-rasanya, Seungcheol ingin tertawa.</p>

<p>“Lagi-lagi seekor kelinci tanpa tata krama,” decaknya, sengaja memanasi emosi Minghao. Duduknya agak merosot dan kedua kakinya melebar; bagai Tuan Raja di atas singgasana emasnya. “Kuperingatkan saja, Xu Minghao, sekali kau membuatku marah, akan kumakan kau.” Taring runcing dipampang. Telinga berbulu hitamnya berkedut memperingatkan. Geraman rendah datang dari pangkal tenggorokan. “Aku di sini bukan untuk berkasih-kasihan denganmu seperti permintaan kakakmu itu. Aku di sini untuk membawamu ke klanku dan membuatmu melahirkan bayi-bayi serigala tanpa henti.” Lalu, dengan nada pongah dan dongakan dagu, Choi Seungcheol menantang Xu Minghao tanpa tedeng aling-aling. “Sebagaimana kau seharusnya berada, Herbivora.”</p>

<p><em><strong>“CHOI!”</strong></em></p>

<p>“Hao, jangan dengarkan ucapannya,” sigap, Jisoo menarik Minghao ke sisinya, membawa kepala anak itu bersandar ke bahunya. “Ingatlah bahwa klan ini akan selalu melindungimu.” Lalu, ia melirik tajam pada Seungcheol. “Bahkan bila aku harus <em>mencekik</em> semua yang menyakitimu dalam tidurnya malam ini.”</p>

<p>Seungcheol menyeringai. Kwon memotong, “Sayang. Tenangkan dirimu. Tidak baik berkata buruk, bayinya bisa mendengar.” Minghao diam, memejamkan mata untuk menikmati elusan halus tangan Jisoo pada rambutnya. “Nah, Minghao. Aku mau kau mendengarkan ucapan kakakmu, meski tolong abaikan kalimatnya yang terakhir.” Sang macan sendiri sibuk mengelusi punggung Jisoo, mengetahui bagaimana seriusnya kelincinya itu akan ucapannya barusan. Kemudian, helaan napas yang berat pun terlepas. “Choi, kumohon kendalikan emosimu. Klan serigala adalah aliansi berharga klan kami sejak nenek moyang. Bukan hanya itu, klan Jeon dan klan Wen pun berpikiran sama.”</p>

<p>“Saya pun,” gumaman perlahan Kim mengagetkan Minghao.</p>

<p>“Klan beruang juga nampaknya berpikiran sama,” Kwon menambahkan. “Kami akan menyesal apabila harus mengusirmu dari pertemuan terakhir ini. Kau tentu tahu, kan, konsekuensinya?”</p>

<p>Maksudnya teramat jelas. Klan serigala tengah panik karena kelinci yang mereka kira akan melahirkan banyak generasi penerus malah sama sekali tidak disentuh oleh anak kedua sang tetua. Choi Seungcheol sebagai yang tertua harus menanggung beban untuk mendapatkan kelinci termuda dan memberikan penerus secepatnya. Jika tidak, kaum serigala terancam punah. Mendecih lagi, ia, tetapi kali ini diam seribu bahasa. Kwon telah menyentilnya tepat di urat Achillesnya. Sang macan pun menghela napas lagi.</p>

<p>“Adik ipar,” tanyanya lembut pada Minghao. “Adakah anggota klan kami yang ingin kau kenal lebih baik saat ini?”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/ch-1-5-introduction</guid>
      <pubDate>Thu, 20 Nov 2025 12:59:34 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Ch 1.4: The Feast</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/ch-1-4-the-feast?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[haremhaohybrid&#xA;&#xA;Seakan tak peduli akan kegelisahan kelinci kecil kita, tirai malam pun turun membawa kerlipan bintang di antara terangnya bulan. Bunyi gesekan sayap jangkrik menemani kesyahduan paviliun sang kelinci saat penghuninya tengah sibuk ditata oleh kakak-kakaknya. Rambut hitam indahnya disisir rapi dan diberi minyak wewangian.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Kak Jihoon, itu mau dipakein apa...?&#34; Minghao memicingkan mata curiga terhadap bubuk berwarna kemerahan di jari sang koala.&#xA;&#xA;&#34;Ini dipakai di mata seperti ini,&#34; dengan tenang ia mengusapkannya di kelopak mata sang kelinci. &#34;Atau di pipi seperti ini.&#34; Jari yang sama berpindah ke tulang pipinya. &#34;Biar rona merah mukamu terlihat.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Buat apa sih...,&#34; keluh Minghao, yang mendapat tawa dari Jihoon sebagai balasan.&#xA;&#xA;&#34;Haohao, lihat sini,&#34; Jisoo mencolekkan kelingkingnya ke substansi yang lebih merah dan lengket dari yang Jihoon sapukan barusan. &#34;Mulutnya dibuka sedikit...&#34;&#xA;&#xA;Minghao menurut, membiarkan kakak sepupunya memulaskan gincu ke bibirnya.&#xA;&#xA;&#34;Bibirmu pecah-pecah begini... kamu tidak merawat dirimu, Sayang?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kan biasanya Kak Shuji yang merawatku!&#34; bibir sang kelinci manyun sambil melantunkan protes. &#34;Kakak pergi ya aku malas...&#34;&#xA;&#xA;Jisoo hanya tersenyum simpul. Betapa menggemaskan adik kecilnya itu. Sedari kecil, Jisoo dan Jeonghan lah yang membesarkan Minghao, epitome pecahan keluarga yang menjadi satu karena darah dan kondisi. Orangtua masing-masing telah pergi entah kemana, mungkin di dalam tanah atau di dalam perut predator, tidak ada yang mengetahui. Nasib klan kelinci setelah dinikahkan tidak terlalu menjadi prioritas dunia. Mereka bisa saja dimakan suaminya sendiri dan tak ada seorang pun yang akan menyelamatkan mereka.&#xA;&#xA;Maka dari itu, Jisoo bertekad untuk memberikan suami terbaik bagi adik kecilnya tersebut. Bila takdir naas mereka tidak bisa diapa-apakan, biarlah Jisoo berharap cinta tulus bisa tumbuh di antara Minghao dan suaminya kelak, seperti halnya dirinya dengan suami-suaminya kini. Sudah cukup ia mengetahui nasib Jeonghan karena menikahi suami dari klan yang salah. Hatinya tak tega bila Minghao harus menderita juga.&#xA;&#xA;Setelah seluruh pihak merasa puas akan kerja keras mereka, Jisoo mengelap peluh di keningnya, Jihoon membereskan alat-alat rias yang selesai digunakan, sementara Minghao tertegun menatap cermin. Ekor matanya dibuat tinggi menggunakan tinta, bersamaan dengan taburan bubuk gelap di sekitarnya yang menimbulkan sedikit kesan misterius. Kelopak mata dan pipinya dironai merah, nampak segar di pandangan. Wajahnya yang ditaburi bedak menutupi sebagian besar permukaan kulitnya. Dan bibirnya—berkilat indah, mekar dalam warna gincu merah. Sang kelinci mengerjap-ngerjapkan mata, sulit mempercayai refleksi siapakah yang tengah ditatapnya.&#xA;&#xA;&#34;Itu...aku?&#34; ucapnya terbata. Ingin tangan ia angkat untuk meraba, tetapi takut bila pada akhirnya merusak upaya kakaknya.&#xA;&#xA;&#34;Tentu saja, Sayang,&#34; kekeh Jisoo. &#34;Dan, ini, tusuk sanggul untuk rambutmu.&#34; Dengan lembut, kelinci yang lebih tua itu menggelung sebagian kecil rambut Minghao dan merapatkannya rapi dengan tusukan indah tersebut—berwarna kayu dengan aksen merah dan sedikit emas, bermotifkan dedaunan dan ukiran simbol klan macan. &#34;Ini adalah tusuk sanggul yang diberikan suamiku di hari pernikahan kami. Ini adalah tanda bahwa aku adalah bagian dari klannya sejak saat itu. Tapi, kupinjamkan ini padamu bukan untuk mengikatmu, melainkan tanda bahwa aku dan seluruh klannya akan melindungimu sampai kamu mendapatkan tusuk sanggulmu sendiri dari suamimu kelak.&#34;&#xA;&#xA;Sambil saling menatap di cermin, kedua tangan Jisoo pada bahu Minghao menimbulkan rasa lega, tetapi juga sedikit merana. Kelinci kecil kita sungguh enggan menyerahkan diri pada karnivora-karnivora biadab itu!&#xA;&#xA;&#34;Tentu, suami yang kumaksud tidaklah harus berasal dari klan karnivora yang hadir malam ini,&#34; ujarnya lembut untuk menenangkan kegelisahan Minghao yang kentara. &#34;Bila kamu menemukan kekasih hatimu, dari klan mana pun dirinya bukanlah masalah. Yang penting, dia bisa membahagiakanmu.&#34;&#xA;&#xA;Minghao mengerjap satu kali. Ah, ya. Kwon tentu telah bercerita pada kakaknya mengenai pembicaraan mereka di hutan kala itu: bahwa ia telah berjanji untuk melepaskan Minghao bila tak ada karnivora yang meluluhkan hatinya. Sang kelinci lalu mengendus.&#xA;&#xA;&#34;Aku bahagia sama diriku sendiri,&#34; disentuhnya tangan Jisoo pada bahunya. &#34;Kak Shuji nggak perlu cemas. Aku bakal baik-baik aja. Sendirian. Di hutan rumah kita.&#34;&#xA;&#xA;Jelas sekali apa maksud Minghao barusan. Secercah rasa pedih menyelimuti hati Jisoo. Ia hanya bisa tersenyum miris membalas ringisan lebar penuh kepastian dari adiknya tersebut.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Perjamuan malam itu tidak kalah megah dari pertemuan para klan karnivora sebelumnya, bahkan bisa dibilang lebih meriah. Tabuhan gendang dan merdu nyanyian membawakan hiburan bagi para tamu, berikut sajian berbagai jenis daging, dari yang berenang di sungai setempat sampai yang terbang di atas langit biru. Untuk alasan yang sangat jelas, Kwon Soonyoung tidak menyuguhkan daging kelinci dan domba, juga beberapa mahkluk herbivora lainnya yang spesiesnya bekerja di rumahnya. Ia pun menjauhkan hidangan daging apa pun dari kedua suaminya, mengisi piring-piring mereka hingga penuh dengan sayur mayur. Wortel gendut berwarna jingga untuk Jisoo dan Minghao, serta rerumputan segar dicampur daun selada untuk Seungkwan. Ia sendiri memilih menu babi hutan dan ayam di mejanya.&#xA;&#xA;Malam itu, suami-suaminya tampak begitu cantik, berkilau dalam rona kebahagiaan. Hati Kwon Soonyoung luluh seketika mata menangkap mereka. Ingin rasanya ia meraih dan menciumi tangan keduanya, namun ada yang lebih penting malam itu daripada kisah kasihnya. Berada di belakang para suaminya, berjalan kikuk memasuki aula utama, adalah anggota keluarga kelinci termuda dalam balutan gaun indah dan riasan sempurna. Kwon Soonyoung tidak akan berbohong dengan mengatakan ia tidak kagum akan perbedaan mencolok antara adik ipar penuh semangat yang ia temui di dalam hutan dengan makhluk tercantik setelah Jisoo dan Seungkwan yang pernah ia lihat sepanjang hidupnya itu. Kalau ia tidak salah dengar, kelinci tertua juga tak kalah cantiknya. Betapa menakjubkannya garis darah para klan Kelinci. Sang macan lalu menoleh. Jika ia saja terpana oleh kecantikan Minghao, maka anggota klan yang lain tentunya—&#xA;&#xA;Hampir saja ia mendengus menahan geli.&#xA;&#xA;Bagaimana tidak? Lihatlah. Desis ular terdiam, menyisakan juluran lidah yang sesekali bergerak. Percakapan rubah dengan macan kumbang langsung terhenti, tergantikan oleh dua wajah yang tertegun. Beruang selalu diam sehingga Kwon Soonyoung tidak yakin apa perbedaan signifikan yang bisa ia tangkap, namun pandangannya tak henti mengikuti gerak-gerik sang kelinci. Dan—yang paling membuat sang macan kesulitan menahan tawa—wajah melongo yang amat langka dari serigala; klan yang telah membuat kelinci tertua menderita, yang melihat klan kelinci tak lebih dari sebuah benda untuk dimiliki. Andai juru lukisnya ada di ruangan, Soonyoung akan memintanya segera bekerja untuk mengabadikan momen tersebut.&#xA;&#xA;Ia kemudian menoleh lagi ke arah Minghao yang kini sudah semakin dekat. Kwon Soonyoung akan duduk di depan diapit oleh kedua suaminya, sebagaimana tata krama di klannya, dan Minghao akan duduk persis di samping Jisoo. Mereka akan menghadap para anggota klan karnivora lain yang duduk di seberang mereka. Mengingat reaksi masing-masing dari mereka sungguhlah menarik, sang macan jadi tak sabar untuk menyaksikan siapakah yang berhasil menarik minat sang kelinci termuda. Ia menatap wajah Jisoo kini—tenang dan damai, bagai sang ratu di atas papan catur.&#xA;&#xA;Kwon Soonyoung tersenyum.&#xA;&#xA;Betapa cerdasnya suaminya itu.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:haremhaohybrid" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">haremhaohybrid</span></a></p>

<p>Seakan tak peduli akan kegelisahan kelinci kecil kita, tirai malam pun turun membawa kerlipan bintang di antara terangnya bulan. Bunyi gesekan sayap jangkrik menemani kesyahduan paviliun sang kelinci saat penghuninya tengah sibuk ditata oleh kakak-kakaknya. Rambut hitam indahnya disisir rapi dan diberi minyak wewangian.</p>



<p>“Kak Jihoon, itu mau dipakein apa...?” Minghao memicingkan mata curiga terhadap bubuk berwarna kemerahan di jari sang koala.</p>

<p>“Ini dipakai di mata seperti ini,” dengan tenang ia mengusapkannya di kelopak mata sang kelinci. “Atau di pipi seperti ini.” Jari yang sama berpindah ke tulang pipinya. “Biar rona merah mukamu terlihat.”</p>

<p>“Buat apa sih...,” keluh Minghao, yang mendapat tawa dari Jihoon sebagai balasan.</p>

<p>“Haohao, lihat sini,” Jisoo mencolekkan kelingkingnya ke substansi yang lebih merah dan lengket dari yang Jihoon sapukan barusan. “Mulutnya dibuka sedikit...”</p>

<p>Minghao menurut, membiarkan kakak sepupunya memulaskan gincu ke bibirnya.</p>

<p>“Bibirmu pecah-pecah begini... kamu tidak merawat dirimu, Sayang?”</p>

<p>“Kan biasanya Kak Shuji yang merawatku!” bibir sang kelinci manyun sambil melantunkan protes. “Kakak pergi ya aku malas...”</p>

<p>Jisoo hanya tersenyum simpul. Betapa menggemaskan adik kecilnya itu. Sedari kecil, Jisoo dan Jeonghan lah yang membesarkan Minghao, epitome pecahan keluarga yang menjadi satu karena darah dan kondisi. Orangtua masing-masing telah pergi entah kemana, mungkin di dalam tanah atau di dalam perut predator, tidak ada yang mengetahui. Nasib klan kelinci setelah dinikahkan tidak terlalu menjadi prioritas dunia. Mereka bisa saja dimakan suaminya sendiri dan tak ada seorang pun yang akan menyelamatkan mereka.</p>

<p>Maka dari itu, Jisoo bertekad untuk memberikan suami terbaik bagi adik kecilnya tersebut. Bila takdir naas mereka tidak bisa diapa-apakan, biarlah Jisoo berharap cinta tulus bisa tumbuh di antara Minghao dan suaminya kelak, seperti halnya dirinya dengan suami-suaminya kini. Sudah cukup ia mengetahui nasib Jeonghan karena menikahi suami dari klan yang salah. Hatinya tak tega bila Minghao harus menderita juga.</p>

<p>Setelah seluruh pihak merasa puas akan kerja keras mereka, Jisoo mengelap peluh di keningnya, Jihoon membereskan alat-alat rias yang selesai digunakan, sementara Minghao tertegun menatap cermin. Ekor matanya dibuat tinggi menggunakan tinta, bersamaan dengan taburan bubuk gelap di sekitarnya yang menimbulkan sedikit kesan misterius. Kelopak mata dan pipinya dironai merah, nampak segar di pandangan. Wajahnya yang ditaburi bedak menutupi sebagian besar permukaan kulitnya. Dan bibirnya—berkilat indah, mekar dalam warna gincu merah. Sang kelinci mengerjap-ngerjapkan mata, sulit mempercayai refleksi siapakah yang tengah ditatapnya.</p>

<p>“Itu...aku?” ucapnya terbata. Ingin tangan ia angkat untuk meraba, tetapi takut bila pada akhirnya merusak upaya kakaknya.</p>

<p>“Tentu saja, Sayang,” kekeh Jisoo. “Dan, ini, tusuk sanggul untuk rambutmu.” Dengan lembut, kelinci yang lebih tua itu menggelung sebagian kecil rambut Minghao dan merapatkannya rapi dengan tusukan indah tersebut—berwarna kayu dengan aksen merah dan sedikit emas, bermotifkan dedaunan dan ukiran simbol klan macan. “Ini adalah tusuk sanggul yang diberikan suamiku di hari pernikahan kami. Ini adalah tanda bahwa aku adalah bagian dari klannya sejak saat itu. Tapi, kupinjamkan ini padamu bukan untuk mengikatmu, melainkan tanda bahwa aku dan seluruh klannya akan melindungimu sampai kamu mendapatkan tusuk sanggulmu sendiri dari suamimu kelak.”</p>

<p>Sambil saling menatap di cermin, kedua tangan Jisoo pada bahu Minghao menimbulkan rasa lega, tetapi juga sedikit merana. Kelinci kecil kita sungguh enggan menyerahkan diri pada karnivora-karnivora biadab itu!</p>

<p>“Tentu, suami yang kumaksud tidaklah harus berasal dari klan karnivora yang hadir malam ini,” ujarnya lembut untuk menenangkan kegelisahan Minghao yang kentara. “Bila kamu menemukan kekasih hatimu, dari klan mana pun dirinya bukanlah masalah. Yang penting, dia bisa membahagiakanmu.”</p>

<p>Minghao mengerjap satu kali. <em>Ah, ya</em>. Kwon tentu telah bercerita pada kakaknya mengenai pembicaraan mereka di hutan kala itu: bahwa ia telah berjanji untuk melepaskan Minghao bila tak ada karnivora yang meluluhkan hatinya. Sang kelinci lalu mengendus.</p>

<p>“Aku bahagia sama diriku sendiri,” disentuhnya tangan Jisoo pada bahunya. “Kak Shuji nggak perlu cemas. Aku bakal baik-baik aja. Sendirian. Di hutan rumah kita.”</p>

<p>Jelas sekali apa maksud Minghao barusan. Secercah rasa pedih menyelimuti hati Jisoo. Ia hanya bisa tersenyum miris membalas ringisan lebar penuh kepastian dari adiknya tersebut.</p>

<hr/>

<p>Perjamuan malam itu tidak kalah megah dari pertemuan para klan karnivora sebelumnya, bahkan bisa dibilang lebih meriah. Tabuhan gendang dan merdu nyanyian membawakan hiburan bagi para tamu, berikut sajian berbagai jenis daging, dari yang berenang di sungai setempat sampai yang terbang di atas langit biru. Untuk alasan yang sangat jelas, Kwon Soonyoung tidak menyuguhkan daging kelinci dan domba, juga beberapa mahkluk herbivora lainnya yang spesiesnya bekerja di rumahnya. Ia pun menjauhkan hidangan daging apa pun dari kedua suaminya, mengisi piring-piring mereka hingga penuh dengan sayur mayur. Wortel gendut berwarna jingga untuk Jisoo dan Minghao, serta rerumputan segar dicampur daun selada untuk Seungkwan. Ia sendiri memilih menu babi hutan dan ayam di mejanya.</p>

<p>Malam itu, suami-suaminya tampak begitu cantik, berkilau dalam rona kebahagiaan. Hati Kwon Soonyoung luluh seketika mata menangkap mereka. Ingin rasanya ia meraih dan menciumi tangan keduanya, namun ada yang lebih penting malam itu daripada kisah kasihnya. Berada di belakang para suaminya, berjalan kikuk memasuki aula utama, adalah anggota keluarga kelinci termuda dalam balutan gaun indah dan riasan sempurna. Kwon Soonyoung tidak akan berbohong dengan mengatakan ia tidak kagum akan perbedaan mencolok antara adik ipar penuh semangat yang ia temui di dalam hutan dengan makhluk tercantik setelah Jisoo dan Seungkwan yang pernah ia lihat sepanjang hidupnya itu. Kalau ia tidak salah dengar, kelinci tertua juga tak kalah cantiknya. Betapa menakjubkannya garis darah para klan Kelinci. Sang macan lalu menoleh. Jika ia saja terpana oleh kecantikan Minghao, maka anggota klan yang lain tentunya—</p>

<p>Hampir saja ia mendengus menahan geli.</p>

<p>Bagaimana tidak? Lihatlah. Desis ular terdiam, menyisakan juluran lidah yang sesekali bergerak. Percakapan rubah dengan macan kumbang langsung terhenti, tergantikan oleh dua wajah yang tertegun. Beruang selalu diam sehingga Kwon Soonyoung tidak yakin apa perbedaan signifikan yang bisa ia tangkap, namun pandangannya tak henti mengikuti gerak-gerik sang kelinci. Dan—yang paling membuat sang macan kesulitan menahan tawa—wajah melongo yang amat langka dari serigala; klan yang telah membuat kelinci tertua menderita, yang melihat klan kelinci tak lebih dari sebuah benda untuk dimiliki. Andai juru lukisnya ada di ruangan, Soonyoung akan memintanya segera bekerja untuk mengabadikan momen tersebut.</p>

<p>Ia kemudian menoleh lagi ke arah Minghao yang kini sudah semakin dekat. Kwon Soonyoung akan duduk di depan diapit oleh kedua suaminya, sebagaimana tata krama di klannya, dan Minghao akan duduk persis di samping Jisoo. Mereka akan menghadap para anggota klan karnivora lain yang duduk di seberang mereka. Mengingat reaksi masing-masing dari mereka sungguhlah menarik, sang macan jadi tak sabar untuk menyaksikan siapakah yang berhasil menarik minat sang kelinci termuda. Ia menatap wajah Jisoo kini—tenang dan damai, bagai sang ratu di atas papan catur.</p>

<p>Kwon Soonyoung tersenyum.</p>

<p><em>Betapa cerdasnya suaminya itu.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/ch-1-4-the-feast</guid>
      <pubDate>Sat, 15 Nov 2025 15:03:48 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Ch 1.3: The Tiger&#39;s Den</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/ch-1-3-the-tigers-den?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[haremhaohybrid&#xA;&#xA;“Masuklah, masuk! Jangan sungkan!”&#xA;&#xA;Kelewat semangat, si macan itu; Minghao semakin mengerutkan alis karenanya. Tentu ia menaruh curiga semenjak kumpulan mata para macan membelalak dengan rasa penasaran tinggi ketika dirinya turun dari kereta kuda yang sengaja dikirim oleh tetua mereka (perlakuan yang, ia yakin, diberikan atas permintaan Jisoo), namun ia tak bisa bertindak atau berkata apapun untuk menentangnya.&#xA;&#xA;Xu Minghao, seekor kelinci herbivora, menginjakkan kakinya secara sukarela ke tengah sarang para macan.&#xA;&#xA;Itu adalah langkah bunuh diri yang agak sinting, jika ia boleh jujur.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Xu Minghao tidak sudi mati konyol, maka ia diam saja dan menapak masuk pintu kediaman megah keluarga Kwon. Rumah dari kayu itu begitu besar, membentang dari utara ke selatan dengan jendela-jendela yang menghadap barat dan timur. Halamannya begitu luas dengan tembok memutari seluruh area, menandakan batas kepemilikan dan melindungi taman beserta kolam yang indah di dalamnya. Kumpulan ikan hias berwarna-warni terlihat di dalam kolam. Terdengar bunyi bambu yang mengetuk sebuah batu besar setiap kali air telah memenuhi corongnya. Lampu-lampu taman terbuat dari batu yang dipahat beserta jalan setapak dari kerikil kecil berwarna putih gading.&#xA;&#xA;Sekali pandang saja siapapun akan tahu betapa makmurnya klan macan. Minghao tidak menganggap materi itu penting, tapi ada secercah sudut dalam hatinya yang merasa lega, mengetahui kakak sepupunya hidup dengan hidangan bergizi dan tubuhnya berbalutkan kain kualitas terbaik. Setidaknya, ia harap bajunya sekarang jauh lebih hangat daripada lembaran kain tipis dan compang-camping yang Jisoo sebut sebagai baju ketika mereka masih tinggal bersama di hutan itu.&#xA;&#xA;…Nggak. Apalah baju hangat dan makanan lezat, kalo perlakuan si macan itu ternyata buruk pada—&#xA;&#xA;“Haohao!”&#xA;&#xA;—pemikirannya sontak terhenti.&#xA;&#xA;Dunia bagai berhenti di jam, menit dan detik itu juga. Minghao berdiri kaku, mata membulat dan alis terangkat, saat dipandangnya sosok yang ia rindukan setiap kelopak bunga terjalin menjadi mahkota di kala senggang. Setiap malam bermandikan cahaya bulan dan ia membuka mata hanya untuk menemukan keheningan. Setiap pagi ditemani nyanyian burung tanpa sapaan “selamat pagi” dilontarkan padanya, serta setiap petang saat surya tenggelam bersama angin yang berhembus dingin dan tak ada pelukan hangat pada tubuhnya.&#xA;&#xA;“………Kak Shu…ji…?”&#xA;&#xA;“Oh, Hao—”&#xA;&#xA;“Shua, tunggu—!”&#xA;&#xA;“S-Sayang! Jangan berlari seperti itu! Ingat anak kita dalam perutmu—”&#xA;&#xA;Sia-sia belaka. Sang kelinci tidak memedulikan pekik dombanya maupun kecemasan macannya. Ia bahkan menjadikan bayinya prioritas kedua. Sekarang, saat ini, hanya satu hal yang menjadi fokus sang kelinci.&#xA;&#xA;Adiknya. Hao-nya.&#xA;&#xA;Ketika keduanya akhirnya berpelukan, masing-masing bagai menemukan rumahnya kembali. Kerinduan, luruh dalam pelukan erat dan linangan air mata. Jisoo menangis dan menangis, entah karena hormon kehamilan atau karena semua yang selama ini telah ditahannya dalam hati dengan gagah berani akhirnya tumpah keluar. Minghao pun tidak lebih baik keadaannya dari sang kakak sepupu. Sambil memeluk balik, kelinci itu menghirup dalam-dalam aroma Jisoo. Meski jelas ada yang berbeda—bau domba dan macan telah menempel padanya—namun tak ayal, itu adalah aroma kakaknya yang familier. Bau yang telah hilang selamanya dari pondok kecil di dalam hutan itu.&#xA;&#xA;“Adikku… Oh, Haohao kecilku…,” di sela isakan, Jisoo bergumam lirih sambil menciumi pipi dan kening kelinci yang lebih muda tersebut. Diangkatnya sedikit dagu Minghao agar ia bisa memandang wajahnya.&#xA;&#xA;“Kak Shuji… Aku kangen Kakak…,” Minghao berdeguk. Matanya merah dan pipinya telah basah oleh air mata. “Kangen banget…”&#xA;&#xA;“Kakak juga, Sayang…,” kecupan-kecupan kecil barulah berhenti ketika Jisoo mendusel hidung Minghao dengan hidungnya sendiri. Telinga mereka hampir saling mengait karena kedekatan itu. “Adikku semata wayang…”&#xA;&#xA;Boo Seungkwan dan Kwon Soonyoung hanya memandangi mereka dari pinggir, tak tega untuk menyela kedua saudara yang tengah melepas rindu tersebut. Mereka bertatapan sejenak sebelum saling tersenyum. Seungkwan menyenderkan kepalanya ke pundak suaminya. Di saat yang bersamaan, lengan Soonyoung juga merangkul pinggulnya dengan hati-hati. Ekor sang macan berdesir di lantai. Dengkuran rendahnya terdengar di pangkal tenggorokan, penuh oleh rasa senang.&#xA;&#xA;“Dia terlihat gugup seharian,” aku sang domba. “Bahkan lebih gugup dari hari pernikahan kita.”&#xA;&#xA;Sang macan pun terkekeh. “Daripada gugup, kurasa dia lebih ingin menendangku di hari itu dan menikahi dirimu saja,” kelakar, yang membuatnya mendapat sebuah cubitan protes di pipi dari suaminya. “Aw, aw, aw—”&#xA;&#xA;“Tidak lucu, Kwon,” kernyitan alis. “Kau tahu betul kalau kami berdua memilihmu—”&#xA;&#xA;“Tapi di hari pernikahan kita, kalian mau tak mau harus menikahiku,” potongnya. Boo Seungkwan pun terdiam, sebab suaminya tidak salah. Menyadari itu, Soonyoung tersenyum lembut. Diambilnya tangan Seungkwan untuk dikecup bagian punggungnya. “Aku sangat senang saat kalian pada akhirnya memutuskan untuk menerimaku sebagai suami. Terima kasih, Sayang…”&#xA;&#xA;Rona merah menjalar cantik di pipi sang domba. Apakah mungkin seseorang jatuh cinta pada orang yang sama, lagi dan lagi? Suaminya yang tampan dan lembut, yang mencintai mereka berdua tanpa ketimpangan. Yang bayinya kini mereka kandung di dalam perut secara bersamaan…&#xA;&#xA;Seungkwan sudah bahagia ketika mengetahui bahwa Jisoo juga mencintainya. Kelinci yang ia cintai sepenuh hati ternyata membalas perasaan yang telah ia pendam bertahun-tahun lamanya. Namun, ia tak pernah sedikit pun berharap bahwa akan hadir pihak ketiga yang akan membagi cintanya bersama mereka dan melengkapi kebahagiaan mereka secara utuh.&#xA;&#xA;Kwon Soonyoung adalah anomali yang Boo Seungkwan dan Hong Jisoo syukuri dalam setiap tarikan napas mereka.&#xA;&#xA;Mereka menunggu hingga tangis kedua kelinci itu reda sebelum Soonyoung kini berganti memeluk Jisoo, menenangkan emosi yang sempat membumbung dan mengingatkannya akan efeknya pada sang bayi, dan Seungkwan menyambut sang kelinci termuda ke dalam pelukannya sendiri, menekankan kerinduannya sebab ia pun telah mengenal Minghao sejak ia masih balita. Tumbuh sebagai sahabat dekat Jisoo dan Jeonghan, Seungkwan bisa dibilang adalah tetangga bagi keluarga kelinci itu. Ia tahu semua yang telah terjadi dalam keluarga itu—kelaparan dan pengasingan, pernikahan paksa Jeonghan ke klan serigala, keadaannya kini berdasarkan rumor yang beredar di kota, kecemasan Jisoo tanpa henti akan pernikahan paksanya sendiri dan nasib adik terkecilnya bila ditinggalkan nanti…&#xA;&#xA;Boo Seungkwan ada di sana selama itu semua terjadi, menemani Jisoo melewati satu demi satu masalah yang muncul. Selalu menggenggam tangannya; dulu, sekarang dan nanti—bersama Soonyoung, bertiga kini—sampai akhir hayat mereka.&#xA;&#xA;Setelah melepas rindu, mereka akhirnya masuk dan mulai memperkenalkan Minghao pada setiap bagian rumah serta penghuninya selain Jisoo, Soonyoung dan Seungkwan. Di luar dugaan Minghao, ia tidak diperlakukan layaknya pelayan klan macan atau sejenis—Minghao justru mendapat pelayan pribadinya sendiri. Ruangan yang akan digunakannya berupa paviliun kecil (tapi tetap lebih luas dari pondoknya ataupun bayangan Minghao) yang terletak paling jauh dari rumah utama tempat Soonyoung dan keluarganya bernaung, bahkan agak menyempil di sudut, tapi tetap mendapatkan siraman cahaya mentari. Ada taman terbentang yang memisahkan kedua bangunan, lengkap dengan jembatan kayu di atas kolam ikan. Yang membuatnya semakin terkejut adalah fakta bahwa ia bisa bebas keluar masuk melalui gerbang yang terletak dekat paviliun itu. Gerbang itu tidak dijaga siapapun dan, ketika ia bertanya kemanakah jalan itu akan membawanya, Kwon Soonyoung menyengir lebar.&#xA;&#xA;“Itu hutan kecil properti keluarga Kwon. Kakakmu kerap menggunakannya untuk berkebun, menanam wortel dan merangkai bunga,” diselipkannya juntai rambut Jisoo ke belakang telinga. “Dan, sekarang, hutan itu menjadi milikmu selama tinggal di sini.”&#xA;&#xA;Minghao tersentak, “T-tapi, aku nggak—&#34;&#xA;&#xA;“Haohao,” Jisoo menyela. “Dengan perut ini, aku tidak bisa mengurus ladang wortel lagi. Kwannie pun sedang dalam kondisi serupa. Aku akan sangat senang jika kau bisa menjaganya untukku.”&#xA;&#xA;Ah, tentu ia tidak bisa membantah permintaan kakaknya tersayang. Alih-alih, kelinci muda itu merengut, memandang sinis pada si macan dan menggeram, “Makanya lain kali, kalo kamu mau menghamili suamimu, satu-satu!”&#xA;&#xA;Ucapan yang membuat Kwon Soonyoung tergelak lepas, Jisoo membuka mulut dan Seungkwan melebarkan bola mata, sebelum sang kelinci dan domba memerah pipinya. Mereka mengobrol lagi untuk beberapa saat, merunut hal-hal sepele seperti sarapan dan makan malam biasa di jam berapa dan di bangunan mana, atau ikan apa yang paling indah warnanya di kolam yang mana.&#xA;&#xA;“Baiklah. Jadi seperti itu. Jika ada pertanyaan lagi, Jihoonie akan membantumu,” sang hybrid koala menundukkan kepala ketika namanya disebut Soonyoung. “Kami mengharapkan kehadiranmu di perjamuan malam nanti di gedung utama. Klan karnivora akan datang untuk diperkenalkan padamu, maka bersiaplah.”&#xA;&#xA;“Aku akan mengantarkan kain indah yang kupilih untukmu, Haohao,” ucap Jisoo.&#xA;&#xA;“Dan aku akan membawa jepit manis yang baru minggu lalu kubeli dari pedagang perhiasan dan kurasa sangat cocok untukmu,” susul Seungkwan.&#xA;&#xA;Mereka bertiga pergi dengan bahagia, tak sadar sama sekali bagaimana Minghao mendadak keringat dingin, telinganya menjuntai kuyu dan ia meneguk ludah saat kalimat itu ringan dilontarkan si macan tanpa beban.&#xA;&#xA;(“Klan karnivora akan datang untuk diperkenalkan padamu—“)&#xA;&#xA;Semakin nyata nasibnya terpampang di depan mata. Minghao meraup tangannya sendiri yang mendadak gemetaran sambil membatin berulang kali bahwa ia akan baik-baik saja, bahwa ia bisa menghadapi semua yang akan terjadi dan bahwa ia akan buktikan pada seluruh klan karnivora biadab itu kalau ia bukanlah kelinci lemah yang bisa diintimidasi seenak perut mereka.&#xA;&#xA;Ia akan tunjukkan pada mereka dan seluruh dunia siapa sebenarnya Xu Minghao dari klan kelinci.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:haremhaohybrid" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">haremhaohybrid</span></a></p>

<p>“Masuklah, masuk! Jangan sungkan!”</p>

<p>Kelewat semangat, si macan itu; Minghao semakin mengerutkan alis karenanya. Tentu ia menaruh curiga semenjak kumpulan mata para macan membelalak dengan rasa penasaran tinggi ketika dirinya turun dari kereta kuda yang sengaja dikirim oleh tetua mereka (<em>perlakuan yang, ia yakin, diberikan atas permintaan Jisoo</em>), namun ia tak bisa bertindak atau berkata apapun untuk menentangnya.</p>

<p>Xu Minghao, seekor kelinci herbivora, menginjakkan kakinya secara <em>sukarela</em> ke tengah sarang para macan.</p>

<p>Itu adalah langkah bunuh diri yang agak sinting, jika ia boleh jujur.</p>



<p>Xu Minghao tidak sudi mati konyol, maka ia diam saja dan menapak masuk pintu kediaman megah keluarga Kwon. Rumah dari kayu itu begitu besar, membentang dari utara ke selatan dengan jendela-jendela yang menghadap barat dan timur. Halamannya begitu luas dengan tembok memutari seluruh area, menandakan batas kepemilikan dan melindungi taman beserta kolam yang indah di dalamnya. Kumpulan ikan hias berwarna-warni terlihat di dalam kolam. Terdengar bunyi bambu yang mengetuk sebuah batu besar setiap kali air telah memenuhi corongnya. Lampu-lampu taman terbuat dari batu yang dipahat beserta jalan setapak dari kerikil kecil berwarna putih gading.</p>

<p>Sekali pandang saja siapapun akan tahu betapa makmurnya klan macan. Minghao tidak menganggap materi itu penting, tapi ada secercah sudut dalam hatinya yang merasa lega, mengetahui kakak sepupunya hidup dengan hidangan bergizi dan tubuhnya berbalutkan kain kualitas terbaik. Setidaknya, ia harap bajunya sekarang jauh lebih hangat daripada lembaran kain tipis dan compang-camping yang Jisoo sebut sebagai baju ketika mereka masih tinggal bersama di hutan itu.</p>

<p>…<em>Nggak. Apalah baju hangat dan makanan lezat, kalo perlakuan si macan itu ternyata buruk pada</em>—</p>

<p>“Haohao!”</p>

<p>—pemikirannya sontak terhenti.</p>

<p>Dunia bagai berhenti di jam, menit dan detik itu juga. Minghao berdiri kaku, mata membulat dan alis terangkat, saat dipandangnya sosok yang ia rindukan setiap kelopak bunga terjalin menjadi mahkota di kala senggang. Setiap malam bermandikan cahaya bulan dan ia membuka mata hanya untuk menemukan keheningan. Setiap pagi ditemani nyanyian burung tanpa sapaan <em>“selamat pagi”</em> dilontarkan padanya, serta setiap petang saat surya tenggelam bersama angin yang berhembus dingin dan tak ada pelukan hangat pada tubuhnya.</p>

<p>“………Kak Shu…ji…?”</p>

<p>“<em>Oh, Hao</em>—”</p>

<p>“Shua, tunggu—!”</p>

<p>“S-Sayang! Jangan berlari seperti itu! Ingat anak kita dalam perutmu—”</p>

<p><em>Sia-sia belaka.</em> Sang kelinci tidak memedulikan pekik dombanya maupun kecemasan macannya. Ia bahkan menjadikan bayinya prioritas kedua. Sekarang, saat ini, hanya satu hal yang menjadi fokus sang kelinci.</p>

<p><em>Adiknya. Hao-nya.</em></p>

<p>Ketika keduanya akhirnya berpelukan, masing-masing bagai menemukan rumahnya kembali. Kerinduan, luruh dalam pelukan erat dan linangan air mata. Jisoo menangis dan menangis, entah karena hormon kehamilan atau karena semua yang selama ini telah ditahannya dalam hati dengan gagah berani akhirnya tumpah keluar. Minghao pun tidak lebih baik keadaannya dari sang kakak sepupu. Sambil memeluk balik, kelinci itu menghirup dalam-dalam aroma Jisoo. Meski jelas ada yang berbeda—bau domba dan macan telah menempel padanya—namun tak ayal, itu adalah aroma kakaknya yang familier. Bau yang telah hilang selamanya dari pondok kecil di dalam hutan itu.</p>

<p>“Adikku… Oh, Haohao kecilku…,” di sela isakan, Jisoo bergumam lirih sambil menciumi pipi dan kening kelinci yang lebih muda tersebut. Diangkatnya sedikit dagu Minghao agar ia bisa memandang wajahnya.</p>

<p>“Kak Shuji… Aku kangen Kakak…,” Minghao berdeguk. Matanya merah dan pipinya telah basah oleh air mata. “Kangen banget…”</p>

<p>“Kakak juga, Sayang…,” kecupan-kecupan kecil barulah berhenti ketika Jisoo mendusel hidung Minghao dengan hidungnya sendiri. Telinga mereka hampir saling mengait karena kedekatan itu. “Adikku semata wayang…”</p>

<p>Boo Seungkwan dan Kwon Soonyoung hanya memandangi mereka dari pinggir, tak tega untuk menyela kedua saudara yang tengah melepas rindu tersebut. Mereka bertatapan sejenak sebelum saling tersenyum. Seungkwan menyenderkan kepalanya ke pundak suaminya. Di saat yang bersamaan, lengan Soonyoung juga merangkul pinggulnya dengan hati-hati. Ekor sang macan berdesir di lantai. Dengkuran rendahnya terdengar di pangkal tenggorokan, penuh oleh rasa senang.</p>

<p>“Dia terlihat gugup seharian,” aku sang domba. “Bahkan lebih gugup dari hari pernikahan kita.”</p>

<p>Sang macan pun terkekeh. “Daripada gugup, kurasa dia lebih ingin menendangku di hari itu dan menikahi dirimu saja,” kelakar, yang membuatnya mendapat sebuah cubitan protes di pipi dari suaminya. “Aw, aw, aw—”</p>

<p>“Tidak lucu, Kwon,” kernyitan alis. “Kau tahu betul kalau kami berdua memilihmu—”</p>

<p>“Tapi di hari pernikahan kita, kalian <em>mau tak mau</em> harus menikahiku,” potongnya. Boo Seungkwan pun terdiam, sebab suaminya tidak salah. Menyadari itu, Soonyoung tersenyum lembut. Diambilnya tangan Seungkwan untuk dikecup bagian punggungnya. “Aku sangat senang saat kalian pada akhirnya memutuskan untuk menerimaku sebagai suami. Terima kasih, Sayang…”</p>

<p>Rona merah menjalar cantik di pipi sang domba. Apakah mungkin seseorang jatuh cinta pada orang yang sama, lagi dan lagi? Suaminya yang tampan dan lembut, yang mencintai mereka berdua tanpa ketimpangan. Yang bayinya kini mereka kandung di dalam perut secara bersamaan…</p>

<p>Seungkwan sudah bahagia ketika mengetahui bahwa Jisoo juga mencintainya. Kelinci yang ia cintai sepenuh hati ternyata membalas perasaan yang telah ia pendam bertahun-tahun lamanya. Namun, ia tak pernah sedikit pun berharap bahwa akan hadir pihak ketiga yang akan membagi cintanya bersama mereka dan melengkapi kebahagiaan mereka secara utuh.</p>

<p>Kwon Soonyoung adalah anomali yang Boo Seungkwan dan Hong Jisoo syukuri dalam setiap tarikan napas mereka.</p>

<p>Mereka menunggu hingga tangis kedua kelinci itu reda sebelum Soonyoung kini berganti memeluk Jisoo, menenangkan emosi yang sempat membumbung dan mengingatkannya akan efeknya pada sang bayi, dan Seungkwan menyambut sang kelinci termuda ke dalam pelukannya sendiri, menekankan kerinduannya sebab ia pun telah mengenal Minghao sejak ia masih balita. Tumbuh sebagai sahabat dekat Jisoo dan Jeonghan, Seungkwan bisa dibilang adalah <em>tetangga</em> bagi keluarga kelinci itu. Ia tahu semua yang telah terjadi dalam keluarga itu—kelaparan dan pengasingan, pernikahan paksa Jeonghan ke klan serigala, keadaannya kini berdasarkan rumor yang beredar di kota, kecemasan Jisoo tanpa henti akan pernikahan paksanya sendiri dan nasib adik terkecilnya bila ditinggalkan nanti…</p>

<p>Boo Seungkwan ada di sana selama itu semua terjadi, menemani Jisoo melewati satu demi satu masalah yang muncul. Selalu menggenggam tangannya; dulu, sekarang dan nanti—bersama Soonyoung, bertiga kini—sampai akhir hayat mereka.</p>

<p>Setelah melepas rindu, mereka akhirnya masuk dan mulai memperkenalkan Minghao pada setiap bagian rumah serta penghuninya selain Jisoo, Soonyoung dan Seungkwan. Di luar dugaan Minghao, ia tidak diperlakukan layaknya pelayan klan macan atau sejenis—Minghao justru mendapat pelayan pribadinya sendiri. Ruangan yang akan digunakannya berupa paviliun kecil (tapi tetap lebih luas dari pondoknya ataupun bayangan Minghao) yang terletak paling jauh dari rumah utama tempat Soonyoung dan keluarganya bernaung, bahkan agak menyempil di sudut, tapi tetap mendapatkan siraman cahaya mentari. Ada taman terbentang yang memisahkan kedua bangunan, lengkap dengan jembatan kayu di atas kolam ikan. Yang membuatnya semakin terkejut adalah fakta bahwa ia bisa bebas keluar masuk melalui gerbang yang terletak dekat paviliun itu. Gerbang itu tidak dijaga siapapun dan, ketika ia bertanya kemanakah jalan itu akan membawanya, Kwon Soonyoung menyengir lebar.</p>

<p>“Itu hutan kecil properti keluarga Kwon. Kakakmu kerap menggunakannya untuk berkebun, menanam wortel dan merangkai bunga,” diselipkannya juntai rambut Jisoo ke belakang telinga. “Dan, sekarang, hutan itu menjadi milikmu selama tinggal di sini.”</p>

<p>Minghao tersentak, “T-tapi, aku nggak—”</p>

<p>“Haohao,” Jisoo menyela. “Dengan perut ini, aku tidak bisa mengurus ladang wortel lagi. Kwannie pun sedang dalam kondisi serupa. Aku akan sangat senang jika kau bisa menjaganya untukku.”</p>

<p>Ah, tentu ia tidak bisa membantah permintaan kakaknya tersayang. Alih-alih, kelinci muda itu merengut, memandang sinis pada si macan dan menggeram, “Makanya lain kali, kalo kamu mau menghamili suamimu, satu-satu!”</p>

<p>Ucapan yang membuat Kwon Soonyoung tergelak lepas, Jisoo membuka mulut dan Seungkwan melebarkan bola mata, sebelum sang kelinci dan domba memerah pipinya. Mereka mengobrol lagi untuk beberapa saat, merunut hal-hal sepele seperti sarapan dan makan malam biasa di jam berapa dan di bangunan mana, atau ikan apa yang paling indah warnanya di kolam yang mana.</p>

<p>“Baiklah. Jadi seperti itu. Jika ada pertanyaan lagi, Jihoonie akan membantumu,” sang hybrid koala menundukkan kepala ketika namanya disebut Soonyoung. “Kami mengharapkan kehadiranmu di perjamuan malam nanti di gedung utama. Klan karnivora akan datang untuk diperkenalkan padamu, maka bersiaplah.”</p>

<p>“Aku akan mengantarkan kain indah yang kupilih untukmu, Haohao,” ucap Jisoo.</p>

<p>“Dan aku akan membawa jepit manis yang baru minggu lalu kubeli dari pedagang perhiasan dan kurasa sangat cocok untukmu,” susul Seungkwan.</p>

<p>Mereka bertiga pergi dengan bahagia, tak sadar sama sekali bagaimana Minghao mendadak keringat dingin, telinganya menjuntai kuyu dan ia meneguk ludah saat kalimat itu ringan dilontarkan si macan tanpa beban.</p>

<p><em>(“Klan karnivora akan datang untuk diperkenalkan padamu—“)</em></p>

<p>Semakin nyata nasibnya terpampang di depan mata. Minghao meraup tangannya sendiri yang mendadak gemetaran sambil membatin berulang kali bahwa ia akan baik-baik saja, bahwa ia bisa menghadapi semua yang akan terjadi dan bahwa ia akan buktikan pada seluruh klan karnivora biadab itu kalau ia bukanlah kelinci lemah yang bisa diintimidasi seenak perut mereka.</p>

<p>Ia akan tunjukkan pada mereka dan seluruh dunia <em>siapa</em> sebenarnya Xu Minghao dari klan kelinci.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/ch-1-3-the-tigers-den</guid>
      <pubDate>Sat, 19 Oct 2024 10:38:54 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Ch 1.2: Time To Think</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/ch-1-2-time-to-think?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[haremhaohybrid&#xA;&#xA;Bertindak gegabah adalah akar dari segala permasalahan di dunia. Xu Minghao meyakininya dengan sepenuh hati. Maka dari itu, ia meminta kesediaan Kwon Soonyoung untuk memberinya waktu. Waktu untuk mencerna. Waktu untuk berpikir. Waktu untuk mengambil keputusan. Macan itu segera menyetujui, sebab tak ada alasan baginya untuk tidak mengabulkan apa yang adik iparnya itu pinta. Menunggu barang satu-dua malam takkan merugikan pihak mana pun. Ia bisa pulang dengan membawa kabar baik bagi Jisoo dan menenangkan kepala panas Minghao di saat yang bersamaan, sekaligus menyiapkan ruangan bila kelinci termuda itu, pada akhirnya, menerima tawaran klan karnivora padanya.&#xA;&#xA;Setelah menyatakan bahwa dirinya akan kembali tiga hari lagi, Kwon Soonyoung pun pamit tanpa banyak embel-embel.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Merangkai kelopak bunga menjadi mahkota sendirian, hanya ditemani cercah mentari dan cericip burung kecil yang sesekali mengetuk-ngetuk kepalanya dengan paruh mereka, adalah salah satu kegiatan kegemarannya melewati waktu. Tanpa ditemani siapa-siapa di tengah hutan luas itu, tentu tidak lah banyak pilihan kegiatan baginya untuk menghabiskan detik demi detik.&#xA;&#xA;Tiap pagi, ia menanti malam. Tiap malam, ia merindukan pagi.&#xA;&#xA;Namun, ada yang berbeda kali ini. Hatinya penuh dengan gundah gulana. Bahkan memilin tangkai-tangkai bunga tidak jua menenangkannya. Kwon Soonyoung memintanya untuk tinggal di kediaman klan macan. Seluruh sinyal bahaya dalam tubuh sang kelinci meraung tak terkendali. Tinggal di wilayah karnivora! Bahkan bila Xu Minghao telah kehilangan akal sehatnya, ia tidak sudi mati konyol dengan mengorbankan diri masuk ke sarang macan seperti itu begitu saja.&#xA;&#xA;Namun, ah, separuh dari hatinya ingin sekali bertemu dengan kakak sepupunya. Ingin sekali lagi memeluk Jisoo, menghidu harum khas salah satu kakak kesayangannya itu. Telah bertahun ia tidak lagi bisa mencium bau siapa pun selain dirinya sendiri di pondok kecil mereka. Barang-barang Jeonghan dan Jisoo dibawa semuanya oleh klan suami mereka masing-masing tanpa meninggalkan apapun untuk Minghao kenang dalam sepinya.&#xA;&#xA;Kangen…kangen banget…&#xA;&#xA;Sekali lagi. Sekali lagi saja, jika ia bisa merengkuh Jisoo dalam lengan-lengannya seperti ini…&#xA;&#xA;Kata macan itu, kakaknya tengah mengandung sehingga tak bisa datang menemui Minghao. Apakah perutnya memang sudah sebesar itu? Seperti apa Jisoo dengan perut berisikan bayi? Minghao ingin menaruh tangannya di perut Jisoo. Ia ingin merasakan sentakan nyawa di dalam sana, mengetahui bahwa setengah dari darah yang mengalir di nadi makhluk mungil itu adalah darah kakaknya. Darah keluarga Minghao.&#xA;&#xA;Apakah ia akan terlahir sebagai macan? Ataukah sebagai kelinci? Mengingat amat jarang bayi kelinci bisa terlahir dari peraduan karnivora dengan klan mereka, maka Minghao hampir yakin kalau bayi yang akan lahir nanti adalah keturunan macan. Tapi hal itu tidak membuatnya jengah, pun tidak menurunkan harapannya. Sebab, amat jarang bukan berarti tidak pernah. Siapa yang tahu? Mungkin ketika Jisoo melahirkan, akan ada seekor bayi kelinci menggemaskan dalam gendongan kakaknya.&#xA;&#xA;Oh, betapa Minghao mendamba berada di sana, bersama Jeonghan dan Jisoo dan bayi-bayi mereka…&#xA;&#xA;Sang kelinci termuda lalu menghela napas. Ia diberi kesempatan, kini, untuk memeluk Jisoo lagi dan menanti kehadiran keponakan kecilnya, namun dengan bayaran yang begitu besar. Menyerahkan dirinya ke tangan klan karnivora adalah harga yang terlalu mahal bagi Minghao. Pada akhirnya, manakah yang lebih penting: kakaknya atau kebebasan diri?&#xA;&#xA;…Ugh, kepalanya pusing. Mahkota bunga yang ia ikat telah luluh lantak, kembali bertaburan di sekitar kakinya. Seekor kelinci berbulu cokelat melompat-lompat mendekati Minghao, kemudian duduk santai di sisinya. Tangan Minghao secara alamiah mengelusi kelinci tersebut, membuat moncong makhluk sejenisnya itu berkedut senang tanpa henti.&#xA;&#xA;“Aku harus gimana…?” keluhnya, meski tak berharap kelinci itu bisa memberikannya solusi.&#xA;&#xA;Dibilang kebebasan akan diterimanya kalau ia menolak pun…tidak benar juga. Pasalnya, Kwon Soonyoung telah menyatakan bahwa mereka akan melepas perlindungannya dari Minghao dan hutan tempatnya bernaung bila ia menolak tawaran tersebut. Klan karnivora lain yang tidak tergabung dalam sekutu Kwon akan dapat dengan mudah menjarah dan merusak hutan rumahnya ini, memakan semua kelinci dan hewan lain yang telah menjadi temannya selama lima belas tahun belakangan. Mungkin, ia pun akan berakhir di dalam perut karnivora itu…&#xA;&#xA;Tapi, apa yang bisa dipegang dari ucapan seekor macan? Bisa saja Kwon Soonyoung berbohong dengan lihainya pada Minghao. Bisa saja Kwon Soonyoung menggadai nama kakaknya agar Minghao percaya dan jatuh ke dalam perangkapnya. Bisa saja Kwon Soonyoung telah memangsa kakaknya dan, sekarang, tengah berusaha memangsa adiknya juga. Bisa saja—&#xA;&#xA;—Tidak. Berpikir terlalu jauh akan hal yang absurd tidak akan membawa hasil apa-apa. Bila Jisoo telah dimangsa suaminya, maka burung gagak akan berkoak kencang membawa kabar itu langsung pada Minghao. Semilir angin akan membawa aroma berkabung yang menyengat, mengetahui bahwa darah seekor klan kelinci lagi-lagi tumpah membasahi tanahnya. Minghao akan tahu, bagaimanapun caranya, karena darah selalu lebih kental daripada air.&#xA;&#xA;Jisoo masih hidup. Setidaknya, ia yakin akan hal itu.&#xA;&#xA;Terlebih lagi, janji yang disebut Kwon Soonyoung—bahwa Minghao akan bebas dan tetap dilindungi jika tak ada satu pun klan karnivora yang ia jadikan suami—adalah ketukan paku terakhir pada peti matinya. Minghao merasa ia bisa meraih akhir yang sempurna itu: tidak menikahi siapa pun dari mereka, kembali ke pondoknya di hutan ini dengan aman dan tentram, lalu hidup tenang hingga akhir hayatnya. Apabila ia, entah bagaimana, bertemu kelinci lain (meski ia seharusnya adalah kelinci terakhir di dunia), mungkin ia akan membangun rumah tangga bersamanya. Bila tidak pun, tidak apa. Yang pasti, Minghao hanya ingin hidup dengan damai. Tidak perlu gelisah diboyong ke rumah karnivora asing yang memanfaatkan rahimnya untuk melangsungkan garis keturunan mereka.&#xA;&#xA;Sebuah akhir cerita yang indah.&#xA;&#xA;Kelinci cokelat yang ia elus sedari tadi telah memejamkan mata, terbuai oleh kenyamanan yang berasal dari feromon manis Minghao. Jantungnya berdegup agak kencang oleh harapan, oleh kemungkinan bahwa ia bisa melewati semua ini, mengalahkan semua karnivora itu dan meraih mimpi indahnya sendiri. Mungkin juga—jika Minghao boleh berkhayal lebih lanjut—ia bisa mengajak Jeonghan dan Jisoo untuk meninggalkan suami-suami mereka dan tinggal bersamanya lagi.&#xA;&#xA;Dunia pun kembali seperti sedia kala: mereka bertiga, hidup bahagia di hutan ini selamanya.&#xA;&#xA;Senyum merekah di wajah kelinci termuda. Ah, betapa naifnya ia… Ia tidak awas akan rencana kaum rubah yang licik. Tidak pernah mendengar desisan lidah bercabang klan ular yang sanggup membuat perpecahan tak berkesudahan. Tidak mengerti mengapa kaum beruang ditakuti oleh sesama karnivora atau mengapa kaum serigala disegani karena mereka tim pemburu yang handal. Ia bahkan tidak curiga kenapa Kwon Soonyoung tahu rasa daging kelinci, menandakan karnivora itu pernah mencicipinya. Xu Minghao tidak menduga sedikit pun bahwa di kumpulan seperti itu lah dirinya akan dilempar tanpa pertahanan. Tanpa tameng apa pun untuk tubuh dan hatinya.&#xA;&#xA;Dan kumpulan itu lah yang akan berlomba untuk merebut hati sang kelinci muda yang belum pernah mengenal dunia.&#xA;&#xA;Ah, tapi, lihatlah ia. Begitu cantik tersenyum, bangga akan rencananya. Siapa lah aku hendak menghancurkan harapan makhluk secantik itu?&#xA;&#xA;Xu Minghao, sampai kapan pun, paling cantik ketika tersenyum.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:haremhaohybrid" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">haremhaohybrid</span></a></p>

<p>Bertindak gegabah adalah akar dari segala permasalahan di dunia. Xu Minghao meyakininya dengan sepenuh hati. Maka dari itu, ia meminta kesediaan Kwon Soonyoung untuk memberinya <em>waktu</em>. Waktu untuk mencerna. Waktu untuk berpikir. Waktu untuk mengambil keputusan. Macan itu segera menyetujui, sebab tak ada alasan baginya untuk tidak mengabulkan apa yang adik iparnya itu pinta. Menunggu barang satu-dua malam takkan merugikan pihak mana pun. Ia bisa pulang dengan membawa kabar baik bagi Jisoo dan menenangkan kepala panas Minghao di saat yang bersamaan, sekaligus menyiapkan ruangan bila kelinci termuda itu, pada akhirnya, menerima tawaran klan karnivora padanya.</p>

<p>Setelah menyatakan bahwa dirinya akan kembali tiga hari lagi, Kwon Soonyoung pun pamit tanpa banyak embel-embel.</p>



<p>Merangkai kelopak bunga menjadi mahkota sendirian, hanya ditemani cercah mentari dan cericip burung kecil yang sesekali mengetuk-ngetuk kepalanya dengan paruh mereka, adalah salah satu kegiatan kegemarannya melewati waktu. Tanpa ditemani siapa-siapa di tengah hutan luas itu, tentu tidak lah banyak pilihan kegiatan baginya untuk menghabiskan detik demi detik.</p>

<p>Tiap pagi, ia menanti malam. Tiap malam, ia merindukan pagi.</p>

<p>Namun, ada yang berbeda kali ini. Hatinya penuh dengan gundah gulana. Bahkan memilin tangkai-tangkai bunga tidak jua menenangkannya. Kwon Soonyoung memintanya untuk tinggal di kediaman klan macan. Seluruh sinyal bahaya dalam tubuh sang kelinci meraung tak terkendali. <em>Tinggal di wilayah karnivora!</em> Bahkan bila Xu Minghao telah kehilangan akal sehatnya, ia tidak sudi mati konyol dengan mengorbankan diri masuk ke sarang macan seperti itu begitu saja.</p>

<p>Namun, <em>ah</em>, separuh dari hatinya ingin sekali bertemu dengan kakak sepupunya. Ingin sekali lagi memeluk Jisoo, menghidu harum khas salah satu kakak kesayangannya itu. Telah bertahun ia tidak lagi bisa mencium bau siapa pun selain dirinya sendiri di pondok kecil mereka. Barang-barang Jeonghan dan Jisoo dibawa semuanya oleh klan suami mereka masing-masing tanpa meninggalkan apapun untuk Minghao kenang dalam sepinya.</p>

<p><em>Kangen…kangen banget…</em></p>

<p><em>Sekali lagi</em>. Sekali lagi saja, jika ia bisa merengkuh Jisoo dalam lengan-lengannya seperti ini…</p>

<p>Kata macan itu, kakaknya tengah mengandung sehingga tak bisa datang menemui Minghao. Apakah perutnya memang sudah sebesar itu? Seperti apa Jisoo dengan perut berisikan bayi? Minghao ingin menaruh tangannya di perut Jisoo. Ia ingin merasakan sentakan nyawa di dalam sana, mengetahui bahwa setengah dari darah yang mengalir di nadi makhluk mungil itu adalah darah kakaknya. Darah keluarga Minghao.</p>

<p>Apakah ia akan terlahir sebagai macan? Ataukah sebagai kelinci? Mengingat amat jarang bayi kelinci bisa terlahir dari peraduan karnivora dengan klan mereka, maka Minghao hampir yakin kalau bayi yang akan lahir nanti adalah keturunan macan. Tapi hal itu tidak membuatnya jengah, pun tidak menurunkan harapannya. Sebab, <em>amat jarang</em> bukan berarti <em>tidak pernah</em>. Siapa yang tahu? Mungkin ketika Jisoo melahirkan, akan ada seekor bayi kelinci menggemaskan dalam gendongan kakaknya.</p>

<p><em>Oh, betapa Minghao mendamba berada di sana, bersama Jeonghan dan Jisoo dan bayi-bayi mereka…</em></p>

<p>Sang kelinci termuda lalu menghela napas. Ia diberi kesempatan, kini, untuk memeluk Jisoo lagi dan menanti kehadiran keponakan kecilnya, namun dengan bayaran yang begitu besar. Menyerahkan dirinya ke tangan klan karnivora adalah harga yang terlalu mahal bagi Minghao. Pada akhirnya, manakah yang lebih penting: kakaknya atau kebebasan diri?</p>

<p>…<em>Ugh</em>, kepalanya pusing. Mahkota bunga yang ia ikat telah luluh lantak, kembali bertaburan di sekitar kakinya. Seekor kelinci berbulu cokelat melompat-lompat mendekati Minghao, kemudian duduk santai di sisinya. Tangan Minghao secara alamiah mengelusi kelinci tersebut, membuat moncong makhluk sejenisnya itu berkedut senang tanpa henti.</p>

<p>“Aku harus gimana…?” keluhnya, meski tak berharap kelinci itu bisa memberikannya solusi.</p>

<p>Dibilang kebebasan akan diterimanya kalau ia menolak pun…<em>tidak benar juga</em>. Pasalnya, Kwon Soonyoung telah menyatakan bahwa mereka akan melepas perlindungannya dari Minghao dan hutan tempatnya bernaung bila ia menolak tawaran tersebut. Klan karnivora lain yang tidak tergabung dalam sekutu Kwon akan dapat dengan mudah menjarah dan merusak hutan rumahnya ini, memakan semua kelinci dan hewan lain yang telah menjadi temannya selama lima belas tahun belakangan. Mungkin, ia pun akan berakhir di dalam perut karnivora itu…</p>

<p>Tapi, apa yang bisa dipegang dari ucapan seekor macan? Bisa saja Kwon Soonyoung berbohong dengan lihainya pada Minghao. Bisa saja Kwon Soonyoung <em>menggadai</em> nama kakaknya agar Minghao percaya dan jatuh ke dalam perangkapnya. Bisa saja Kwon Soonyoung telah <em>memangsa</em> kakaknya dan, sekarang, tengah berusaha memangsa adiknya juga. Bisa saja—</p>

<p>—<em>Tidak</em>. Berpikir terlalu jauh akan hal yang absurd tidak akan membawa hasil apa-apa. Bila Jisoo telah dimangsa suaminya, maka burung gagak akan berkoak 