<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>haremhaohybrid &amp;mdash; 🌾</title>
    <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:haremhaohybrid</link>
    <description>narrative writings of thesunmetmoon</description>
    <pubDate>Wed, 15 Jul 2026 17:39:01 +0000</pubDate>
    <image>
      <url>https://i.snap.as/K7JGOEOo.png</url>
      <title>haremhaohybrid &amp;mdash; 🌾</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:haremhaohybrid</link>
    </image>
    <item>
      <title>Ch. 1.6: First Interaction (Unlocked: Fox Clan)</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/ch-1-6-first-interaction-unlocked-fox-clan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[haremhaohybrid&#xA;&#xA;&#34;Aku ingin mengenal...,&#34; alih pandangnya menetap ke salah satu anggota klan karnivora, tepatnya yang tengah menaikkan gagang kacamata bulatnya, lalu menunjuk. &#34;Rubah itu.&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Dengus geli keluar sebagai respon pertama yang bersangkutan. &#34;Rubah itu...katanya,&#34; ia menggeleng sambil menutup setengah bagian wajah atas. &#34;Seumur hidup, baru kali ini aku dipanggil begitu. Xu Minghao, kejutan apa lagi yang kau bawa ke sini...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Baiklah, jikalau begitu—&#34;&#xA;&#xA;Tiba-tiba saja semua yang hadir di sana beranjak dari duduknya. Kwon membantu kedua suaminya yang sedang hamil besar untuk berdiri. Seniman yang seharusnya menghibur mereka turut pamit undur diri. Selang kerjapan mata saja, Minghao sudah ditinggalkan berdua di ruang perjamuan dengan anggota klan rubah. Kerjap-kerjap matanya menyiratkan banyak pertanyaan yang menuntut sebuah jawaban logis, namun sang rubah hanya melemparkan senyuman maklum. Ia menggeser meja kayu kecil berisikan sepiring daging ayam rebus maju mendekati Minghao. Kini, jarak duduk mereka terbilang cukup dekat.&#xA;&#xA;&#34;Sesuai kesepakatan, jika ada yang menarik minatmu, maka waktu dan tempat akan dipersilakan untuk kita berbincang berdua saja,&#34; dengan tenang, sumpit Jeon Wonwoo meraih sepotong daging putih. &#34;Terus terang aku tak menyangka aku akan mendapatkan kehormatan menjadi yang pertama.&#34; Taringnya menyobek daging itu sebelum ditelannya. &#34;Apa yang ingin kau ketahui, Xu Minghao?&#34;&#xA;&#xA;Wajah sang kelinci memucat. Bagaimanapun, melihat seekor karnivora memangsa daging hewan lain—meski bukan spesiesnya—tetap membawa perasaan tidak enak. Seolah secara tak langsung ia memperingatkan Minghao bahwa daging berikutnya bisa saja adalah dagingnya. Tangan Minghao agak gemetar, andaikan ia tidak berusaha secepat mungkin menenangkan dirinya. Tidak ada yang lebih buruk daripada menampakkan kelemahan di depan musuh—&#xA;&#xA;—Ah.&#xA;&#xA;&#34;...terbuka kah?&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo mengerjap, luput menangkap cicitan Minghao barusan, &#34;Hmm?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Emang segitu terbuka kah...sampe kamu bisa bilang aku kayak buku...?&#34; gerutu si kelinci kecil. Bibirnya manyun sebagai tanda protes.&#xA;&#xA;Tidak mengharapkan pertanyaan barusan, sang rubah menaikkan kedua alis. Matanya agak membulat. &#34;Oh... Yah...,&#34; harus menjawab bagaimana ya? Wonwoo menggaruk pipinya yang tidak gatal. &#34;Sekali pandang saja kami tahu kau membenci kami. Matamu tidak berbohong, Xu Minghao. Di dunia kami para karnivora, kebencian terang-terangan hanya akan membawa petaka.&#34; Lalu, sang rubah tersenyum simpul. &#34;Tapi, di sisi lain, melihatmu begitu jujur rasanya menyegarkan. Seperti kembali ke masa kanak-kanak yang damai dan menyenangkan...&#34;&#xA;&#xA;Alis Minghao mengerut. &#34;Aku bukan anak-anak,&#34; ketusnya.&#xA;&#xA;&#34;Secara pribadi, kuanggap usia 15 itu anak-anak,&#34; Wonwoo mengambil lagi sepotong daging ayam untuk dikunyah dan ditelan.&#xA;&#xA;&#34;Emangnya kamu sendiri umur berapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dua purnama lagi akan 28.&#34;&#xA;&#xA;Hening.&#xA;&#xA;&#34;...,&#34; Minghao berpikir sejenak. &#34;...Paman?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Uhuk—&#34; hampir Wonwoo tersedak daging. &#34;Kenapa tetiba saja aku dipanggil paman...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya karena kamu tua.&#34;&#xA;&#xA;&#34;28 belum tua,&#34; ia bersikukuh. &#34;Jika aku tua, bagaimana nasib Kak Seungcheol?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Heh. Serigala itu?&#34; seketika, paras Minghao berubah kecut. &#34;Aku nggak peduli dia kakek-kakek, relik, atau mati sekalian. Lebih baik lagi kalo semua serigala mati aja. Biar Kak Hani bisa pergi dari sana.&#34; Rasanya lidah Minghao sepat membicarakan perihal musuh terbesarnya. Ia pun menenggak teh hijau hangatnya.&#xA;&#xA;Wonwoo diam kali ini, memerhatikan Minghao dengan seksama. &#34;Kau sebegitu bencinya dengan klan serigala?&#34; tanyanya perlahan.&#xA;&#xA;&#34;Salah. Aku benci kalian semua,&#34; begitu lurus bola itu digulirkan. Begitu ringan intonasi yang digunakan. Sebuah kepolosan yang amat timpang. &#34;Kalau kalian semua nggak ada, aku, Kak Hani, Kak Shuji bakal masih tinggal damai di pondok kami, bertiga tanpa kenal derita. Karena kalian semua hidup, maka kami bertiga harus mati demi kalian. Egois. Semua karnivora seperti kalian sama egoisnya.&#34;&#xA;&#xA;Kemudian, Xu Minghao menelengkan kepala sedikit dan tersenyum begitu manis.&#xA;&#xA;&#34;Semoga kalian semua cepet mati.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo terhenyak meski dengan lihai ia menyembunyikannya. Matanya mengerjap beberapa kali, beberapa detik mencerna kalimat yang baru saja keluar dari wajah cantik berbibir merah tersebut. Ia pernah mendengar dari Kwon Soonyoung kalau klan kelinci bagai mawar yang berduri: cantik, tapi meledak-ledak. Sebagaimana suaminya. Sebagaimana Yoon Jeonghan. Dan, sekarang, sepertinya sebagaimana Xu Minghao.&#xA;&#xA;Jeon Wonwoo menumpangkan dagu di atas kepalan tangannya, masih memandang sang kelinci dengan ketertarikan yang lebih kuat kini. Ia tersenyum lagi, tapi kali ini lebih lebar, lebih tulus. &#34;Ah, maaf, aku belum mau mati secepat harapanmu,&#34; seloroh sang rubah. &#34;Lagipula, aku yang lebih mungkin membunuhmu duluan. Kau dengar kan, apa yang tadi Kwon katakan mengenai spesialisasi keluargaku?&#34;&#xA;&#xA;Minghao memicingkan mata. &#34;Obat-obatan?&#34; selidiknya penuh curiga. &#34;Kamu mau ngeracunin aku ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tidak juga,&#34; mau tak mau ia terkekeh. Kelinci yang menarik. &#34;Tapi aku bisa mengajarimu kalau kau mau.&#34;&#xA;&#xA;Telinga kelinci Minghao berkedut, jelas tergugah. &#34;Pasti ada syaratnya...,&#34; kerutan alisnya pun mendalam.&#xA;&#xA;Jeon Wonwoo tertawa lagi.&#xA;&#xA;&#34;Syaratnya hanya satu,&#34; menegakkan badannya kembali, rubah itu melanjutkan makan malamnya. Ujung sumpit lagi-lagi bergerak lihai memotong daging. Jika dilihat, cara makan Jeon Wonwoo begitu apik. Status sosial yang terpancar dari gerak-gerik, bukan dari kepongahan. &#34;Jadilah suamiku. Akan kuajarkan semua pengetahuan klan kami akan obat dan racun padamu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak, makasih,&#34; Minghao memutar bola mata. Tusukan ujung sumpit pada potongan wortelnya masuk dengan sempurna, kemudian ia bawa ke mulut untuk menelannya.&#xA;&#xA;Setelahnya, mereka menyelesaikan makan malam mereka dalam keheningan, ditemani suara-suara serangga malam dan gemerisik dedaunan tertiup angin malam.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:haremhaohybrid" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">haremhaohybrid</span></a></p>

<p>“Aku ingin mengenal...,” alih pandangnya menetap ke salah satu anggota klan karnivora, tepatnya yang tengah menaikkan gagang kacamata bulatnya, lalu menunjuk. “Rubah itu.”</p>



<p>Dengus geli keluar sebagai respon pertama yang bersangkutan. “<em>Rubah itu</em>...katanya,” ia menggeleng sambil menutup setengah bagian wajah atas. “Seumur hidup, baru kali ini aku dipanggil begitu. Xu Minghao, kejutan apa lagi yang kau bawa ke sini...”</p>

<p>“Baiklah, jikalau begitu—”</p>

<p>Tiba-tiba saja semua yang hadir di sana beranjak dari duduknya. Kwon membantu kedua suaminya yang sedang hamil besar untuk berdiri. Seniman yang seharusnya menghibur mereka turut pamit undur diri. Selang kerjapan mata saja, Minghao sudah ditinggalkan berdua di ruang perjamuan dengan anggota klan rubah. Kerjap-kerjap matanya menyiratkan banyak pertanyaan yang menuntut sebuah jawaban logis, namun sang rubah hanya melemparkan senyuman maklum. Ia menggeser meja kayu kecil berisikan sepiring daging ayam rebus maju mendekati Minghao. Kini, jarak duduk mereka terbilang cukup dekat.</p>

<p>“Sesuai kesepakatan, jika ada yang menarik minatmu, maka waktu dan tempat akan dipersilakan untuk kita berbincang berdua saja,” dengan tenang, sumpit Jeon Wonwoo meraih sepotong daging putih. “Terus terang aku tak menyangka aku akan mendapatkan kehormatan menjadi yang pertama.” Taringnya menyobek daging itu sebelum ditelannya. “Apa yang ingin kau ketahui, Xu Minghao?”</p>

<p>Wajah sang kelinci memucat. Bagaimanapun, melihat seekor karnivora memangsa daging hewan lain—meski bukan spesiesnya—tetap membawa perasaan tidak enak. Seolah secara tak langsung ia memperingatkan Minghao bahwa daging berikutnya bisa saja adalah dagingnya. Tangan Minghao agak gemetar, andaikan ia tidak berusaha secepat mungkin menenangkan dirinya. Tidak ada yang lebih buruk daripada menampakkan kelemahan di depan musuh—</p>

<p>—<em>Ah</em>.</p>

<p>”...terbuka kah?”</p>

<p>Wonwoo mengerjap, luput menangkap cicitan Minghao barusan, “Hmm?”</p>

<p>“Emang segitu terbuka kah...sampe kamu bisa bilang aku kayak buku...?” gerutu si kelinci kecil. Bibirnya manyun sebagai tanda protes.</p>

<p>Tidak mengharapkan pertanyaan barusan, sang rubah menaikkan kedua alis. Matanya agak membulat. “<em>Oh</em>... Yah...,” <em>harus menjawab bagaimana ya?</em> Wonwoo menggaruk pipinya yang tidak gatal. “Sekali pandang saja kami tahu kau membenci kami. Matamu tidak berbohong, Xu Minghao. Di dunia kami para karnivora, kebencian terang-terangan hanya akan membawa petaka.” Lalu, sang rubah tersenyum simpul. “Tapi, di sisi lain, melihatmu begitu jujur rasanya menyegarkan. Seperti kembali ke masa kanak-kanak yang damai dan menyenangkan...”</p>

<p>Alis Minghao mengerut. “Aku bukan anak-anak,” ketusnya.</p>

<p>“Secara pribadi, kuanggap usia 15 itu anak-anak,” Wonwoo mengambil lagi sepotong daging ayam untuk dikunyah dan ditelan.</p>

<p>“Emangnya kamu sendiri umur berapa?”</p>

<p>“Dua purnama lagi akan 28.”</p>

<p>Hening.</p>

<p>”...,” Minghao berpikir sejenak. “...Paman?”</p>

<p>“<em>Uhuk</em>—” hampir Wonwoo tersedak daging. “Kenapa tetiba saja aku dipanggil paman...”</p>

<p>“Ya karena kamu tua.”</p>

<p>“28 belum tua,” ia bersikukuh. “Jika aku tua, bagaimana nasib Kak Seungcheol?”</p>

<p>“<em>Heh</em>. Serigala itu?” seketika, paras Minghao berubah kecut. “Aku nggak peduli dia kakek-kakek, relik, atau mati sekalian. Lebih baik lagi kalo semua serigala mati aja. Biar Kak Hani bisa pergi dari sana.” Rasanya lidah Minghao sepat membicarakan perihal musuh terbesarnya. Ia pun menenggak teh hijau hangatnya.</p>

<p>Wonwoo diam kali ini, memerhatikan Minghao dengan seksama. “Kau sebegitu bencinya dengan klan serigala?” tanyanya perlahan.</p>

<p>“Salah. Aku benci kalian semua,” begitu lurus bola itu digulirkan. Begitu ringan intonasi yang digunakan. Sebuah kepolosan yang amat timpang. “Kalau kalian semua nggak ada, aku, Kak Hani, Kak Shuji bakal masih tinggal damai di pondok kami, bertiga tanpa kenal derita. Karena kalian semua hidup, maka kami bertiga harus <em>mati</em> demi kalian. Egois. Semua karnivora seperti kalian sama egoisnya.”</p>

<p>Kemudian, Xu Minghao menelengkan kepala sedikit dan tersenyum begitu manis.</p>

<p>“Semoga kalian semua cepet mati.”</p>

<p>Wonwoo terhenyak meski dengan lihai ia menyembunyikannya. Matanya mengerjap beberapa kali, beberapa detik mencerna kalimat yang baru saja keluar dari wajah cantik berbibir merah tersebut. Ia pernah mendengar dari Kwon Soonyoung kalau klan kelinci bagai mawar yang berduri: cantik, tapi meledak-ledak. Sebagaimana suaminya. Sebagaimana Yoon Jeonghan. Dan, sekarang, sepertinya sebagaimana Xu Minghao.</p>

<p>Jeon Wonwoo menumpangkan dagu di atas kepalan tangannya, masih memandang sang kelinci dengan ketertarikan yang lebih kuat kini. Ia tersenyum lagi, tapi kali ini lebih lebar, lebih tulus. “Ah, maaf, aku belum mau mati secepat harapanmu,” seloroh sang rubah. “Lagipula, aku yang lebih mungkin membunuhmu duluan. Kau dengar kan, apa yang tadi Kwon katakan mengenai spesialisasi keluargaku?”</p>

<p>Minghao memicingkan mata. “Obat-obatan?” selidiknya penuh curiga. “Kamu mau ngeracunin aku ya?”</p>

<p>“Tidak juga,” mau tak mau ia terkekeh. <em>Kelinci yang menarik</em>. “Tapi aku bisa mengajarimu kalau kau mau.”</p>

<p>Telinga kelinci Minghao berkedut, jelas tergugah. “Pasti ada syaratnya...,” kerutan alisnya pun mendalam.</p>

<p>Jeon Wonwoo tertawa lagi.</p>

<p>“Syaratnya hanya satu,” menegakkan badannya kembali, rubah itu melanjutkan makan malamnya. Ujung sumpit lagi-lagi bergerak lihai memotong daging. Jika dilihat, cara makan Jeon Wonwoo begitu apik. Status sosial yang terpancar dari gerak-gerik, bukan dari kepongahan. “Jadilah suamiku. Akan kuajarkan semua pengetahuan klan kami akan obat dan racun padamu.”</p>

<p>“Nggak, makasih,” Minghao memutar bola mata. Tusukan ujung sumpit pada potongan wortelnya masuk dengan sempurna, kemudian ia bawa ke mulut untuk menelannya.</p>

<p>Setelahnya, mereka menyelesaikan makan malam mereka dalam keheningan, ditemani suara-suara serangga malam dan gemerisik dedaunan tertiup angin malam.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/ch-1-6-first-interaction-unlocked-fox-clan</guid>
      <pubDate>Sun, 23 Nov 2025 12:36:00 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Ch 1.5: Introduction</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/ch-1-5-introduction?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[haremhaohybrid&#xA;&#xA;Minghao tidak menunduk ataupun mengalihkan pandangan. Sebaliknya, ia menatap bergantian satu persatu anggota klan karnivora di hadapannya perlahan-lahan, memetakan wajah mereka dalam ingatan. Sepertinya memang keberanian klan kelinci adalah sesuatu yang mendarah daging. Lima karnivora berbalutkan pakaian indah dari sutra mahal. Mereka tidak mengenakan kain warna mentereng ataupun hiasan yang tak perlu. Sederhana dari bahan berkualitas. Yang membedakan mereka dari tamu biasa adalah simbol klan masing-masing yang tersemat di kerah pakaian mereka.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Senang sekali atas kehadiran kita semua di sini,&#34; Kwon memulai, menjalankan tugasnya sebagai tuan rumah yang baik. &#34;Malam ini adalah malam sepertiga rembulan. Malam yang tepat untuk mengenalkan anggota keluarga terbaru klan kami, adik dari suamiku, kelinci termuda, Xu Minghao.&#34;&#xA;&#xA;Tak ada anggukan, hanyalah tatap saling bersirobok antara sang kelinci dengan kelima lelaki itu. Tiada ciut. Tiada bimbang. Kekopongan? Mungkin sedikit. Sisanya adalah gurat halus kebencian dan rasa jijik. Para karnivora biadab yang telah mengoyak kebahagiaan kelinci-kelinci kecil naif yang hanya ingin hidup damai bertiga di pondok kecil mereka. Gurat yang, tentu, tertangkap oleh mata-mata jeli para karnivora.&#xA;&#xA;&#34;Kau seperti buku yang terbuka, Xu Minghao,&#34; seseorang dari mereka angkat bicara, menekankan apa yang mereka semua telah ketahui. &#34;Jika ingin menyelamatkan ekormu di dunia ini, sembunyikan rasa bencimu dari musuhmu, bukannya malah mengumbarnya seperti itu.&#34; Kekehan, pelan menemani picingan mata di balik kacamata berbingkai bulat. Telinganya yang berbulu lembut mengacung agak tinggi di antara rimbun rambut yang berwarna kelam.&#xA;&#xA;&#34;Minghao, ini adalah Jeon Wonwoo dari klan rubah,&#34; Kwon memotong untuk sekilas perkenalan. &#34;Klan Jeon turun-temurun berkecimpung dalam bidang obat-obatan. Lalu, yang duduk di sebelahnya adalah Wen Junhui dari klan macan kumbang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hal yang perlu kamu ketahui dariku, Minghao, kalau lariku lebih cepat dari Soonie,&#34; ringisan melebar—setengah pongah, setengah mengejek. Yang diejek mendecih. Ekornya menyapu lantai agak gelisah.&#xA;&#xA;&#34;Jangan menantangku, Jun-ah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Menggertak, seperti biasanya.&#34;&#xA;&#xA;Seakan ada percik statis tercipta di antara tatapan mata keduanya. Dengan sebuah tepukan tangan kencang, Jisoo menengahi kedua karnivora tersebut. &#34;Tolong jaga sikap Anda, Tuan Wen,&#34; senyum sang kelinci manis, namun tutur katanya teramat dingin. &#34;Anda berada di sini untuk adik saya, bukan untuk memancing murka suami saya.&#34;&#xA;&#xA;Menunduk, Jun mendengus, acuh tak acuh membuang muka. Jika Minghao tidak benar-benar memerhatikan, rona merah tipis yang membakar pipi Jun pasti akan dilewatkannya. Alis sang kelinci mengernyit, merasa aneh barang sejenak, walau ia mengabaikannya kemudian. Perkenalan pun berlanjut.&#xA;&#xA;&#34;Berikut adalah perwakilan dari klan beruang. Kim Mingyu, inginkah kau mengucapkan sepatah-dua patah kata?&#34; sang kepala klan macan menyunggingkan senyuman ramah. Ia nampak memedulikan lelaki tersebut lebih daripada anggota klan lainnya, meskipun yang bersangkutan tetap diam dan hanya menggeleng. Ia memilih untuk memandangi Minghao dengan lekat, membuat sang kelinci merasa kurang nyaman.&#xA;&#xA;&#34;Bagaimana Anda bisa memenangkan hatinya jika hanya diam, Kim??&#34; kekeh lelaki yang lebih muda di sebelahnya. &#34;Lidah dan kata-kata adalah senjata paling berharga untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.&#34; Desisan, terdengar menetesi tiap celah keheningan dari lidah yang bercabang.&#xA;&#xA;&#34;Tentu kau juga sadar bahwa mulutmu adalah harimaumu, Chan?&#34; sahut lelaki lain di sisi satunya. Ia melipat lengan di dada, tak terpukau oleh gertak sambal barusan.&#xA;&#xA;&#34;Ah, Anda terlalu memuji saya, Tuan Choi,&#34; bukannya terpelatuk, lelaki itu justru menyeringai sambil menunduk sedikit dengan tangan di dada. &#34;Setidaknya mulut saya lebih beradab daripada kebiasaan main tangan Anda, bukan?&#34; Lelaki yang dipanggil Tuan Choi bergerak, seolah akan beranjak dari duduk untuk menarik kerah pakaiannya dan membuat kerusuhan, namun lagi-lagi mereka ditengahi.&#xA;&#xA;&#34;Lee! Choi! Sudah cukup!&#34; gelegar membahana keluar dari mulut Kwon Soonyoung. Minghao agak terkejut. Ternyata si macan itu bisa berwibawa juga jika situasi mengharuskannya. Keterkejutan Minghao pun berlanjut saat Kwon malah menoleh ke arahnya. &#34;Adik ipar, maafkan kelancangan mereka. Ini Lee Chan dari klan ular dan Choi Seungcheol dari klan serigala.&#34;&#xA;&#xA;Minghao seketika bungkam. Matanya membelalak.&#xA;&#xA;Klan serigala.&#xA;&#xA;Klan yang mengambil Jeonghan dengan paksa. Klan yang memenjaranya, membuatnya menghilang dari dunia dan menyisakan sehela nama. Klan yang membuat dirinya dan Jisoo hanya bisa merindukan saudara tertua mereka hari demi hari. Klan yang telah membuat Jeonghan menderita.&#xA;&#xA;Saat Minghao menatap wajah Choi Seungcheol, sang serigala menemukan kebencian berapi-api dalam kilatan matanya. Wonwoo sungguhlah benar. Xu Minghao adalah buku yang terbuka. Setidaknya, kakaknya, Jisoo, menyembunyikan angkara murkanya di balik senyuman lembut. Rasa-rasanya, Seungcheol ingin tertawa.&#xA;&#xA;&#34;Lagi-lagi seekor kelinci tanpa tata krama,&#34; decaknya, sengaja memanasi emosi Minghao. Duduknya agak merosot dan kedua kakinya melebar; bagai Tuan Raja di atas singgasana emasnya. &#34;Kuperingatkan saja, Xu Minghao, sekali kau membuatku marah, akan kumakan kau.&#34; Taring runcing dipampang. Telinga berbulu hitamnya berkedut memperingatkan. Geraman rendah datang dari pangkal tenggorokan. &#34;Aku di sini bukan untuk berkasih-kasihan denganmu seperti permintaan kakakmu itu. Aku di sini untuk membawamu ke klanku dan membuatmu melahirkan bayi-bayi serigala tanpa henti.&#34; Lalu, dengan nada pongah dan dongakan dagu, Choi Seungcheol menantang Xu Minghao tanpa tedeng aling-aling. &#34;Sebagaimana kau seharusnya berada, Herbivora.&#34;&#xA;&#xA;&#34;CHOI!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hao, jangan dengarkan ucapannya,&#34; sigap, Jisoo menarik Minghao ke sisinya, membawa kepala anak itu bersandar ke bahunya. &#34;Ingatlah bahwa klan ini akan selalu melindungimu.&#34; Lalu, ia melirik tajam pada Seungcheol. &#34;Bahkan bila aku harus mencekik semua yang menyakitimu dalam tidurnya malam ini.&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol menyeringai. Kwon memotong, &#34;Sayang. Tenangkan dirimu. Tidak baik berkata buruk, bayinya bisa mendengar.&#34; Minghao diam, memejamkan mata untuk menikmati elusan halus tangan Jisoo pada rambutnya. &#34;Nah, Minghao. Aku mau kau mendengarkan ucapan kakakmu, meski tolong abaikan kalimatnya yang terakhir.&#34; Sang macan sendiri sibuk mengelusi punggung Jisoo, mengetahui bagaimana seriusnya kelincinya itu akan ucapannya barusan. Kemudian, helaan napas yang berat pun terlepas. &#34;Choi, kumohon kendalikan emosimu. Klan serigala adalah aliansi berharga klan kami sejak nenek moyang. Bukan hanya itu, klan Jeon dan klan Wen pun berpikiran sama.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Saya pun,&#34; gumaman perlahan Kim mengagetkan Minghao.&#xA;&#xA;&#34;Klan beruang juga nampaknya berpikiran sama,&#34; Kwon menambahkan. &#34;Kami akan menyesal apabila harus mengusirmu dari pertemuan terakhir ini. Kau tentu tahu, kan, konsekuensinya?&#34;&#xA;&#xA;Maksudnya teramat jelas. Klan serigala tengah panik karena kelinci yang mereka kira akan melahirkan banyak generasi penerus malah sama sekali tidak disentuh oleh anak kedua sang tetua. Choi Seungcheol sebagai yang tertua harus menanggung beban untuk mendapatkan kelinci termuda dan memberikan penerus secepatnya. Jika tidak, kaum serigala terancam punah. Mendecih lagi, ia, tetapi kali ini diam seribu bahasa. Kwon telah menyentilnya tepat di urat Achillesnya. Sang macan pun menghela napas lagi.&#xA;&#xA;&#34;Adik ipar,&#34; tanyanya lembut pada Minghao. &#34;Adakah anggota klan kami yang ingin kau kenal lebih baik saat ini?&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:haremhaohybrid" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">haremhaohybrid</span></a></p>

<p>Minghao tidak menunduk ataupun mengalihkan pandangan. Sebaliknya, ia menatap bergantian satu persatu anggota klan karnivora di hadapannya perlahan-lahan, memetakan wajah mereka dalam ingatan. Sepertinya memang keberanian klan kelinci adalah sesuatu yang mendarah daging. Lima karnivora berbalutkan pakaian indah dari sutra mahal. Mereka tidak mengenakan kain warna mentereng ataupun hiasan yang tak perlu. Sederhana dari bahan berkualitas. Yang membedakan mereka dari tamu biasa adalah simbol klan masing-masing yang tersemat di kerah pakaian mereka.</p>



<p>“Senang sekali atas kehadiran kita semua di sini,” Kwon memulai, menjalankan tugasnya sebagai tuan rumah yang baik. “Malam ini adalah malam sepertiga rembulan. Malam yang tepat untuk mengenalkan anggota keluarga terbaru klan kami, adik dari suamiku, kelinci termuda, Xu Minghao.”</p>

<p>Tak ada anggukan, hanyalah tatap saling bersirobok antara sang kelinci dengan kelima lelaki itu. Tiada ciut. Tiada bimbang. Kekopongan? Mungkin sedikit. Sisanya adalah gurat halus kebencian dan rasa jijik. Para karnivora biadab yang telah mengoyak kebahagiaan kelinci-kelinci kecil naif yang hanya ingin hidup damai bertiga di pondok kecil mereka. Gurat yang, tentu, tertangkap oleh mata-mata jeli para karnivora.</p>

<p>“Kau seperti buku yang terbuka, Xu Minghao,” seseorang dari mereka angkat bicara, menekankan apa yang mereka semua telah ketahui. “Jika ingin menyelamatkan ekormu di dunia ini, sembunyikan rasa bencimu dari musuhmu, bukannya malah mengumbarnya seperti itu.” Kekehan, pelan menemani picingan mata di balik kacamata berbingkai bulat. Telinganya yang berbulu lembut mengacung agak tinggi di antara rimbun rambut yang berwarna kelam.</p>

<p>“Minghao, ini adalah Jeon Wonwoo dari klan rubah,” Kwon memotong untuk sekilas perkenalan. “Klan Jeon turun-temurun berkecimpung dalam bidang obat-obatan. Lalu, yang duduk di sebelahnya adalah Wen Junhui dari klan macan kumbang.”</p>

<p>“Hal yang perlu kamu ketahui dariku, Minghao, kalau lariku lebih cepat dari Soonie,” ringisan melebar—setengah pongah, setengah mengejek. Yang diejek mendecih. Ekornya menyapu lantai agak gelisah.</p>

<p>“Jangan menantangku, Jun-ah.”</p>

<p>“Menggertak, seperti biasanya.”</p>

<p>Seakan ada percik statis tercipta di antara tatapan mata keduanya. Dengan sebuah tepukan tangan kencang, Jisoo menengahi kedua karnivora tersebut. “Tolong jaga sikap Anda, Tuan Wen,” senyum sang kelinci manis, namun tutur katanya teramat dingin. “Anda berada di sini untuk adik saya, bukan untuk memancing murka suami saya.”</p>

<p>Menunduk, Jun mendengus, acuh tak acuh membuang muka. Jika Minghao tidak benar-benar memerhatikan, rona merah tipis yang membakar pipi Jun pasti akan dilewatkannya. Alis sang kelinci mengernyit, merasa aneh barang sejenak, walau ia mengabaikannya kemudian. Perkenalan pun berlanjut.</p>

<p>“Berikut adalah perwakilan dari klan beruang. Kim Mingyu, inginkah kau mengucapkan sepatah-dua patah kata?” sang kepala klan macan menyunggingkan senyuman ramah. Ia nampak memedulikan lelaki tersebut lebih daripada anggota klan lainnya, meskipun yang bersangkutan tetap diam dan hanya menggeleng. Ia memilih untuk memandangi Minghao dengan lekat, membuat sang kelinci merasa kurang nyaman.</p>

<p>“Bagaimana Anda bisa memenangkan hatinya jika hanya diam, Kim??” kekeh lelaki yang lebih muda di sebelahnya. “Lidah dan kata-kata adalah senjata paling berharga untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.” Desisan, terdengar menetesi tiap celah keheningan dari lidah yang bercabang.</p>

<p>“Tentu kau juga sadar bahwa mulutmu adalah harimaumu, Chan?” sahut lelaki lain di sisi satunya. Ia melipat lengan di dada, tak terpukau oleh gertak sambal barusan.</p>

<p>“Ah, Anda terlalu memuji saya, Tuan Choi,” bukannya terpelatuk, lelaki itu justru menyeringai sambil menunduk sedikit dengan tangan di dada. “Setidaknya mulut saya lebih beradab daripada kebiasaan main tangan Anda, bukan?” Lelaki yang dipanggil Tuan Choi bergerak, seolah akan beranjak dari duduk untuk menarik kerah pakaiannya dan membuat kerusuhan, namun lagi-lagi mereka ditengahi.</p>

<p>“Lee! Choi! Sudah cukup!” gelegar membahana keluar dari mulut Kwon Soonyoung. Minghao agak terkejut. Ternyata si macan itu bisa berwibawa juga jika situasi mengharuskannya. Keterkejutan Minghao pun berlanjut saat Kwon malah menoleh ke arahnya. “Adik ipar, maafkan kelancangan mereka. Ini Lee Chan dari klan ular dan Choi Seungcheol dari klan serigala.”</p>

<p>Minghao seketika bungkam. Matanya membelalak.</p>

<p><em>Klan serigala.</em></p>

<p>Klan yang mengambil Jeonghan dengan paksa. Klan yang memenjaranya, membuatnya menghilang dari dunia dan menyisakan sehela nama. Klan yang membuat dirinya dan Jisoo hanya bisa merindukan saudara tertua mereka hari demi hari. Klan yang telah membuat Jeonghan menderita.</p>

<p>Saat Minghao menatap wajah Choi Seungcheol, sang serigala menemukan kebencian berapi-api dalam kilatan matanya. Wonwoo sungguhlah benar. Xu Minghao adalah buku yang terbuka. Setidaknya, kakaknya, Jisoo, menyembunyikan angkara murkanya di balik senyuman lembut. Rasa-rasanya, Seungcheol ingin tertawa.</p>

<p>“Lagi-lagi seekor kelinci tanpa tata krama,” decaknya, sengaja memanasi emosi Minghao. Duduknya agak merosot dan kedua kakinya melebar; bagai Tuan Raja di atas singgasana emasnya. “Kuperingatkan saja, Xu Minghao, sekali kau membuatku marah, akan kumakan kau.” Taring runcing dipampang. Telinga berbulu hitamnya berkedut memperingatkan. Geraman rendah datang dari pangkal tenggorokan. “Aku di sini bukan untuk berkasih-kasihan denganmu seperti permintaan kakakmu itu. Aku di sini untuk membawamu ke klanku dan membuatmu melahirkan bayi-bayi serigala tanpa henti.” Lalu, dengan nada pongah dan dongakan dagu, Choi Seungcheol menantang Xu Minghao tanpa tedeng aling-aling. “Sebagaimana kau seharusnya berada, Herbivora.”</p>

<p><em><strong>“CHOI!”</strong></em></p>

<p>“Hao, jangan dengarkan ucapannya,” sigap, Jisoo menarik Minghao ke sisinya, membawa kepala anak itu bersandar ke bahunya. “Ingatlah bahwa klan ini akan selalu melindungimu.” Lalu, ia melirik tajam pada Seungcheol. “Bahkan bila aku harus <em>mencekik</em> semua yang menyakitimu dalam tidurnya malam ini.”</p>

<p>Seungcheol menyeringai. Kwon memotong, “Sayang. Tenangkan dirimu. Tidak baik berkata buruk, bayinya bisa mendengar.” Minghao diam, memejamkan mata untuk menikmati elusan halus tangan Jisoo pada rambutnya. “Nah, Minghao. Aku mau kau mendengarkan ucapan kakakmu, meski tolong abaikan kalimatnya yang terakhir.” Sang macan sendiri sibuk mengelusi punggung Jisoo, mengetahui bagaimana seriusnya kelincinya itu akan ucapannya barusan. Kemudian, helaan napas yang berat pun terlepas. “Choi, kumohon kendalikan emosimu. Klan serigala adalah aliansi berharga klan kami sejak nenek moyang. Bukan hanya itu, klan Jeon dan klan Wen pun berpikiran sama.”</p>

<p>“Saya pun,” gumaman perlahan Kim mengagetkan Minghao.</p>

<p>“Klan beruang juga nampaknya berpikiran sama,” Kwon menambahkan. “Kami akan menyesal apabila harus mengusirmu dari pertemuan terakhir ini. Kau tentu tahu, kan, konsekuensinya?”</p>

<p>Maksudnya teramat jelas. Klan serigala tengah panik karena kelinci yang mereka kira akan melahirkan banyak generasi penerus malah sama sekali tidak disentuh oleh anak kedua sang tetua. Choi Seungcheol sebagai yang tertua harus menanggung beban untuk mendapatkan kelinci termuda dan memberikan penerus secepatnya. Jika tidak, kaum serigala terancam punah. Mendecih lagi, ia, tetapi kali ini diam seribu bahasa. Kwon telah menyentilnya tepat di urat Achillesnya. Sang macan pun menghela napas lagi.</p>

<p>“Adik ipar,” tanyanya lembut pada Minghao. “Adakah anggota klan kami yang ingin kau kenal lebih baik saat ini?”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/ch-1-5-introduction</guid>
      <pubDate>Thu, 20 Nov 2025 12:59:34 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Ch 1.4: The Feast</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/ch-1-4-the-feast?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[haremhaohybrid&#xA;&#xA;Seakan tak peduli akan kegelisahan kelinci kecil kita, tirai malam pun turun membawa kerlipan bintang di antara terangnya bulan. Bunyi gesekan sayap jangkrik menemani kesyahduan paviliun sang kelinci saat penghuninya tengah sibuk ditata oleh kakak-kakaknya. Rambut hitam indahnya disisir rapi dan diberi minyak wewangian.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Kak Jihoon, itu mau dipakein apa...?&#34; Minghao memicingkan mata curiga terhadap bubuk berwarna kemerahan di jari sang koala.&#xA;&#xA;&#34;Ini dipakai di mata seperti ini,&#34; dengan tenang ia mengusapkannya di kelopak mata sang kelinci. &#34;Atau di pipi seperti ini.&#34; Jari yang sama berpindah ke tulang pipinya. &#34;Biar rona merah mukamu terlihat.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Buat apa sih...,&#34; keluh Minghao, yang mendapat tawa dari Jihoon sebagai balasan.&#xA;&#xA;&#34;Haohao, lihat sini,&#34; Jisoo mencolekkan kelingkingnya ke substansi yang lebih merah dan lengket dari yang Jihoon sapukan barusan. &#34;Mulutnya dibuka sedikit...&#34;&#xA;&#xA;Minghao menurut, membiarkan kakak sepupunya memulaskan gincu ke bibirnya.&#xA;&#xA;&#34;Bibirmu pecah-pecah begini... kamu tidak merawat dirimu, Sayang?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kan biasanya Kak Shuji yang merawatku!&#34; bibir sang kelinci manyun sambil melantunkan protes. &#34;Kakak pergi ya aku malas...&#34;&#xA;&#xA;Jisoo hanya tersenyum simpul. Betapa menggemaskan adik kecilnya itu. Sedari kecil, Jisoo dan Jeonghan lah yang membesarkan Minghao, epitome pecahan keluarga yang menjadi satu karena darah dan kondisi. Orangtua masing-masing telah pergi entah kemana, mungkin di dalam tanah atau di dalam perut predator, tidak ada yang mengetahui. Nasib klan kelinci setelah dinikahkan tidak terlalu menjadi prioritas dunia. Mereka bisa saja dimakan suaminya sendiri dan tak ada seorang pun yang akan menyelamatkan mereka.&#xA;&#xA;Maka dari itu, Jisoo bertekad untuk memberikan suami terbaik bagi adik kecilnya tersebut. Bila takdir naas mereka tidak bisa diapa-apakan, biarlah Jisoo berharap cinta tulus bisa tumbuh di antara Minghao dan suaminya kelak, seperti halnya dirinya dengan suami-suaminya kini. Sudah cukup ia mengetahui nasib Jeongha