<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>gyushuaabo22yl &amp;mdash; 🌾</title>
    <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuaabo22yl</link>
    <description>narrative writings of thesunmetmoon</description>
    <pubDate>Fri, 23 Oct 2026 20:29:11 +0000</pubDate>
    <image>
      <url>https://i.snap.as/K7JGOEOo.png</url>
      <title>gyushuaabo22yl &amp;mdash; 🌾</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuaabo22yl</link>
    </image>
    <item>
      <title>Choi Yido dan Keluarga Kim</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/3-choi-yido-dan-keluarga-kim?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuaabo22yl&#xA;&#xA;yido bertopi pet&#xA;&#xA;Mengendap-endap merintangi kegelapan malam yang dihiasi temaram cahaya lampu gas dari berbagai kedai dan bar adalah salah satu keahlian tersembunyi Choi Yido. Ia sering melakukannya—sudah melakukannya semenjak ia resmi menjadi Alpha. Berbaur bersama masyarakat biasa dalam samaran baju sederhana dan sedikit improvisasi—corengan debu maupun arang di pipi, sengaja berlari sejenak agar tampilannya penuh peluh dan lusuh seakan ia telah bekerja keras seharian—merupakan cara yang ia pilih untuk mengenal kerajaannya sendiri dari dalam. Wajahnya yang sungguh mirip Yang Mulia Pendamping Raja membuatnya harus agak kreatif bila tak ingin dikenali, namun toh sampai detik ini tidak ada panggilan ke ruang singgasana maupun Dewan Tetua untuk mempertanyakan &#39;kegiatan ekstra&#39;-nya. Ia akan sedikit egois dan menganggap hal tersebut sebagai kemenangan kecil.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Setelah meloncati tembok istana, Alpha muda itu tidak langsung menuju kediaman keluarga Kim. Ia menyempatkan diri ke kedai kenalannya untuk bercakap-cakap sejenak sambil menikmati ikan halibut dibalur tepung dan digoreng garing, lengkap dengan saus tartar dan kentang goreng buatan sendiri. Hidangannya panas dan lezat, membuat sang Alpha mendesah puas kekenyangan. Setelah menghabiskan hampir dua jam di sana, ia pun pamit undur diri, sudah tidak sabar ingin menemui sang Omega kekasih hati.&#xA;&#xA;(Tidak tahu diri, padahal status kalian juga belum resmi.)&#xA;&#xA;(Diamlah.)&#xA;&#xA;Terkadang, Alpha di dalam dirinya senang mengundang perselisihan, bahkan terhadap manusianya sendiri. Benar-benar menyusahkan.&#xA;&#xA;Karena telah hafal di luar kepala, jejak-jejak kakinya menuju kediaman keluarga Kim tertinggal mulus sepanjang jalanan tanpa keraguan. Terletak cukup jauh dari keramaian jalan raya, di antara rumah-rumah megah kaum elit lainnya, berdiri mansion besar yang dihadiahkan ayahnya pada Paman Mingyu sebagai hadiah pernikahannya dahulu kala. Mansion yang awalnya milik Tuan Raja pribadi, kini menjadi milik adik sepupu satu-satunya itu. Dihuni tiga orang anggota keluarga Kim, seorang kepala pelayan, dua orang penjaga istal kuda, seorang supir pribadi, dan belasan pelayan serta tukang kebun, rumah tersebut tak pernah berhenti hidup, bahkan lebih aktif dari istana kerajaan dengan penghuni yang jauh lebih banyak lagi. Rumah yang selalu dirindukan Choi Yido, baik ketika masih kecil dulu maupun saat ini.&#xA;&#xA;Bel yang menggantung di sisi pintu depan sengaja ia tarik. Gemanya menyadarkan setiap penghuni akan kehadiran seorang tamu, namun hanya satu orang yang bertugas membukakan pintu: Tuan Jung, kepala pelayan mereka. Setelah Tuan Park pensiun dan pulang ke kampung halamannya, Tuan Jung lah yang menggantikan tugasnya mengatur rumah tangga keluarga Kim, termasuk menyortir tamu-tamu tak diinginkan sebelum ujung sepatu mereka sempat menapak di ambang pintu. Karena itu lah, Tuan Jung mengenal siapa gerangan pemuda yang membunyikan bel malam itu.&#xA;&#xA;“Yang Mulia,&#34; buru-buru ditundukkannya kepala dan dibungkukkannya badan, tetapi Yido segera memegang bahunya untuk menghentikan.&#xA;&#xA;&#34;Tuan Jung, saya mohon,&#34; seringai lemah ditariknya menghiasi wajah. &#34;Bukankah sudah saya bilang? Di sini, saya hanya keponakan Paman Mingyu dan teman sejak kecil Ri. Saya akan sangat berterima kasih kalau saya diperlakukan tiada berbeda.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah...maaf, saya refleks saja...,&#34; agak tersipu malu, Tuan Jung mengangguk beberapa kali. &#34;Maafkan saya, Tuan Choi. Saya...tidak akan mengulanginya lagi.&#34;&#xA;&#xA;Mendengar itu, seringai Yido berubah menjadi senyuman lega. &#34;Nah, nah, anggap saja tidak terjadi apapun. Apakah Ri ada di rumah, Tuan Jung? Jika ya, saya ingin bertamu.&#34;&#xA;&#xA;Tuan Jung mempersilakan tamunya masuk dengan membuka pintu lebih lebar. Yido menerima undangan tersebut dengan anggukan sopan, sebelum mulai melepas mantel yang ia kenakan sebagai kamuflase. Warnanya gelap dan bahannya kasar—barang murahan yang ia beli dari toko pakaian bekas di kota bagian Timur. Topi pet berwarna serupa pun ia lepas, membiarkan Tuan Jung dengan sigap menerima dan menyampirkan artikel pakaian tersebut di tiang gantungan dekat pintu masuk. &#34;Nona ada di rumah, tapi Tuan Kim dan Tuan Hong sepertinya hendak pergi,&#34; jawab sang kepala pelayan, membuat Yido membeku di tempat.&#xA;&#xA;&#34;Paman akan pergi? Berarti rumah akan kosong?&#34; tentunya bukan kosong &#39;kosong&#39;, tetapi Tuan Jung menangkap maksudnya. Tidak baik bila seorang Alpha bertamu ke rumah seorang Omega tanpa kehadiran orangtuanya.&#xA;&#xA;&#34;Benar, Tuan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jika begitu, apa lebih baik saya kembali lain waktu—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yido?&#34;&#xA;&#xA;Ah. Terlambat.&#xA;&#xA;Tumit sepatunya berputar. Paman Joshua sudah bergegas mendekatinya dengan lengan terbuka lebar dan senyuman tulus di wajahnya. &#34;Kenapa nggak bilang mau dateng? Kamu udah makan?&#34; Yido membiarkan dirinya dipeluk erat. Wangi kue jahe dan mentega hangat merasuki indra penciumannya, membuat hatinya seketika nyaman. Seperti wangi ibunya, wangi Paman Joshua secara ajaib selalu mampu menentramkan perasaan, meski baginya tak ada Omega yang wanginya sememikat Kim Gyuri.&#xA;&#xA;&#34;Sudah, Paman, barusan saja,&#34; ucapnya setelah pelukan terlepas. &#34;Maaf saya datang tanpa pemberitahuan. Saya hanya...eh...&#34; Kemudian, Alpha muda itu menunduk malu-malu. &#34;...tiba-tiba saja ingin bertemu Gyuri...&#34; Setengah hati Joshua menjerit gemas, setengahnya mau ketawa pakai hidung melihat muka Yoon Jeonghan bertingkah bak remaja kasmaran (bagaimanapun, rasanya tetap aneh ketika anak sahabat baikmu memiliki wajah persis sama dengannya).&#xA;&#xA;&#34;Ah, sebenernya kita mau keluar makan malam sih...,&#34; diangkatnya kepala saat menyadari kedatangan seseorang dari balik tembok. &#34;Oh. Mingyu.&#34;&#xA;&#xA;Deg.&#xA;&#xA;Jantung Yido melonjak dari rongga dada. Mendengar nama pamannya disebut, pemuda itu pun teringat kembali akan alasan sesungguhnya ia bertolak menuju rumah ini: untuk mencari tahu mengapa Paman Mingyu belum juga menjawab pinangannya pada sang putri. Diam-diam diteguknya ludah. Jakunnya naik-turun perlahan.&#xA;&#xA;&#34;...Yido?&#34; Mingyu memanggilnya.&#xA;&#xA;&#34;Gyu, Yido mau ketemu Ri,&#34; Joshua mendekati suaminya, otomatis mengalungkan lengan ke sekeliling pinggang sang Alpha. &#34;Tapi kita mau pergi makan. Apa kita batalin aja rencana nge-date kita?&#34;&#xA;&#xA;&#34;S-saya akan datang lagi lain kali!&#34; segera, Yido menyergah ucapan Paman Joshua. Ia tidak ingin merusak rencana milik siapapun atas keegoisannya. Bertemu Gyuri masih bisa lain kali. Bertanya dan meminta kejelasan pada Paman Mingyu pun masih bisa ditangguhkan. Toh, selama tak ada Alpha atau Beta lain yang meminta tangan Gyuri, maka Yido aman.&#xA;&#xA;&#34;Yido,&#34; tapi Mingyu memanggil namanya sekali lagi, dalam nada lembut kali ini. Alpha muda itu pun mengangkat wajah untuk menatap pamannya tepat di mata. &#34;Duduklah, Nak. Tuan Jung, tolong bawakan teh dan kue-kue.&#34; Sang kepala pelayan segera membungkuk hormat sebelum undur diri. Gestur sang Alpha tua mengajak mereka untuk berpindah ke ruang keluarga yang lebih nyaman, lengkap dengan perapian yang telah dinyalakan. Fokus Mingyu kemudian berpindah pada suaminya. &#34;Kamu tidak apa-apa rencana kita batal, Sayang? Kamu tidak lapar?&#34; tanyanya.&#xA;&#xA;Joshua tersenyum kecil, lalu mengecup lembut pipi kekasihnya. &#34;Aku minta makanan ke dapur aja, nggak pa-pa kok. Palingan dicemberutin dikit,&#34; kekehnya ringan. Juru masak keluarga Kim terkenal akan kelezatan hidangannya dan sifat suka mengomelnya (walau, menurut Joshua, mirip ibu yang suka khawatiran akan anaknya). &#34;Nanti aku balik lagi. Jangan sok galak kamu ya. Anak kakak kamu tuh. Anak sahabat aku juga.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sayang! Aku tidak—&#34; belum sempat Mingyu protes sambil terbata, Joshua sudah berlalu, meninggalkan suara tawanya yang bagaikan musik di telinga sang Alpha. Buru-buru Mingyu berdeham, berusaha mengembalikan wibawanya sebagai kepala keluarga, dan mengajak Yido, keponakan serta calon pemimpin negara ini, ke ruang keluarga.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuaabo22yl" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuaabo22yl</span></a></p>

<p><img src="https://thesunmetmoon.com/wp-content/uploads/2026/09/yido2.jpg" alt="yido bertopi pet"/></p>

<p>Mengendap-endap merintangi kegelapan malam yang dihiasi temaram cahaya lampu gas dari berbagai kedai dan bar adalah salah satu keahlian tersembunyi Choi Yido. Ia sering melakukannya—sudah melakukannya semenjak ia resmi menjadi Alpha. Berbaur bersama masyarakat biasa dalam samaran baju sederhana dan sedikit improvisasi—corengan debu maupun arang di pipi, sengaja berlari sejenak agar tampilannya penuh peluh dan lusuh seakan ia telah bekerja keras seharian—merupakan cara yang ia pilih untuk mengenal kerajaannya sendiri dari dalam. Wajahnya yang sungguh mirip Yang Mulia Pendamping Raja membuatnya harus agak kreatif bila tak ingin dikenali, namun toh sampai detik ini tidak ada panggilan ke ruang singgasana maupun Dewan Tetua untuk mempertanyakan &#39;kegiatan ekstra&#39;-nya. Ia akan sedikit egois dan menganggap hal tersebut sebagai kemenangan kecil.</p>



<p>Setelah meloncati tembok istana, Alpha muda itu tidak langsung menuju kediaman keluarga Kim. Ia menyempatkan diri ke kedai kenalannya untuk bercakap-cakap sejenak sambil menikmati ikan halibut dibalur tepung dan digoreng garing, lengkap dengan saus tartar dan kentang goreng buatan sendiri. Hidangannya panas dan lezat, membuat sang Alpha mendesah puas kekenyangan. Setelah menghabiskan hampir dua jam di sana, ia pun pamit undur diri, sudah tidak sabar ingin menemui sang Omega kekasih hati.</p>

<p><em>(Tidak tahu diri, padahal status kalian juga belum resmi.)</em></p>

<p><em>(Diamlah.)</em></p>

<p>Terkadang, Alpha di dalam dirinya senang mengundang perselisihan, bahkan terhadap manusianya sendiri. <em>Benar-benar menyusahkan.</em></p>

<p>Karena telah hafal di luar kepala, jejak-jejak kakinya menuju kediaman keluarga Kim tertinggal mulus sepanjang jalanan tanpa keraguan. Terletak cukup jauh dari keramaian jalan raya, di antara rumah-rumah megah kaum elit lainnya, berdiri mansion besar yang dihadiahkan ayahnya pada Paman Mingyu sebagai hadiah pernikahannya dahulu kala. Mansion yang awalnya milik Tuan Raja pribadi, kini menjadi milik adik sepupu satu-satunya itu. Dihuni tiga orang anggota keluarga Kim, seorang kepala pelayan, dua orang penjaga istal kuda, seorang supir pribadi, dan belasan pelayan serta tukang kebun, rumah tersebut tak pernah berhenti hidup, bahkan lebih aktif dari istana kerajaan dengan penghuni yang jauh lebih banyak lagi. Rumah yang selalu dirindukan Choi Yido, baik ketika masih kecil dulu maupun saat ini.</p>

<p>Bel yang menggantung di sisi pintu depan sengaja ia tarik. Gemanya menyadarkan setiap penghuni akan kehadiran seorang tamu, namun hanya satu orang yang bertugas membukakan pintu: Tuan Jung, kepala pelayan mereka. Setelah Tuan Park pensiun dan pulang ke kampung halamannya, Tuan Jung lah yang menggantikan tugasnya mengatur rumah tangga keluarga Kim, termasuk menyortir tamu-tamu tak diinginkan sebelum ujung sepatu mereka sempat menapak di ambang pintu. Karena itu lah, Tuan Jung mengenal siapa gerangan pemuda yang membunyikan bel malam itu.</p>

<p>“Yang Mulia,” buru-buru ditundukkannya kepala dan dibungkukkannya badan, tetapi Yido segera memegang bahunya untuk menghentikan.</p>

<p>“Tuan Jung, saya mohon,” seringai lemah ditariknya menghiasi wajah. “Bukankah sudah saya bilang? Di sini, saya hanya keponakan Paman Mingyu dan teman sejak kecil Ri. Saya akan sangat berterima kasih kalau saya diperlakukan tiada berbeda.”</p>

<p>“Ah...maaf, saya refleks saja...,” agak tersipu malu, Tuan Jung mengangguk beberapa kali. “Maafkan saya, Tuan Choi. Saya...tidak akan mengulanginya lagi.”</p>

<p>Mendengar itu, seringai Yido berubah menjadi senyuman lega. “Nah, nah, anggap saja tidak terjadi apapun. Apakah Ri ada di rumah, Tuan Jung? Jika ya, saya ingin bertamu.”</p>

<p>Tuan Jung mempersilakan tamunya masuk dengan membuka pintu lebih lebar. Yido menerima undangan tersebut dengan anggukan sopan, sebelum mulai melepas mantel yang ia kenakan sebagai kamuflase. Warnanya gelap dan bahannya kasar—barang murahan yang ia beli dari toko pakaian bekas di kota bagian Timur. Topi pet berwarna serupa pun ia lepas, membiarkan Tuan Jung dengan sigap menerima dan menyampirkan artikel pakaian tersebut di tiang gantungan dekat pintu masuk. “Nona ada di rumah, tapi Tuan Kim dan Tuan Hong sepertinya hendak pergi,” jawab sang kepala pelayan, membuat Yido membeku di tempat.</p>

<p>“Paman akan pergi? Berarti rumah akan kosong?” tentunya bukan kosong &#39;<em>kosong</em>&#39;, tetapi Tuan Jung menangkap maksudnya. Tidak baik bila seorang Alpha bertamu ke rumah seorang Omega tanpa kehadiran orangtuanya.</p>

<p>“Benar, Tuan.”</p>

<p>“Jika begitu, apa lebih baik saya kembali lain waktu—”</p>

<p>“Yido?”</p>

<p><em>Ah. Terlambat.</em></p>

<p>Tumit sepatunya berputar. Paman Joshua sudah bergegas mendekatinya dengan lengan terbuka lebar dan senyuman tulus di wajahnya. “Kenapa nggak bilang mau dateng? Kamu udah makan?” Yido membiarkan dirinya dipeluk erat. Wangi kue jahe dan mentega hangat merasuki indra penciumannya, membuat hatinya seketika nyaman. Seperti wangi ibunya, wangi Paman Joshua secara ajaib selalu mampu menentramkan perasaan, meski baginya tak ada Omega yang wanginya sememikat Kim Gyuri.</p>

<p>“Sudah, Paman, barusan saja,” ucapnya setelah pelukan terlepas. “Maaf saya datang tanpa pemberitahuan. Saya hanya...eh...” Kemudian, Alpha muda itu menunduk malu-malu. “...tiba-tiba saja ingin bertemu Gyuri...” Setengah hati Joshua menjerit gemas, setengahnya mau ketawa pakai hidung melihat muka Yoon Jeonghan bertingkah bak remaja kasmaran (<em>bagaimanapun, rasanya tetap aneh ketika anak sahabat baikmu memiliki wajah persis sama dengannya</em>).</p>

<p>“Ah, sebenernya kita mau keluar makan malam sih...,” diangkatnya kepala saat menyadari kedatangan seseorang dari balik tembok. “Oh. Mingyu.”</p>

<p><em>Deg</em>.</p>

<p>Jantung Yido melonjak dari rongga dada. Mendengar nama pamannya disebut, pemuda itu pun teringat kembali akan alasan sesungguhnya ia bertolak menuju rumah ini: untuk mencari tahu mengapa Paman Mingyu belum juga menjawab pinangannya pada sang putri. Diam-diam diteguknya ludah. Jakunnya naik-turun perlahan.</p>

<p>”...Yido?” Mingyu memanggilnya.</p>

<p>“Gyu, Yido mau ketemu Ri,” Joshua mendekati suaminya, otomatis mengalungkan lengan ke sekeliling pinggang sang Alpha. “Tapi kita mau pergi makan. Apa kita batalin aja rencana nge-date kita?”</p>

<p>“S-saya akan datang lagi lain kali!” segera, Yido menyergah ucapan Paman Joshua. Ia tidak ingin merusak rencana milik siapapun atas keegoisannya. Bertemu Gyuri masih bisa lain kali. Bertanya dan meminta kejelasan pada Paman Mingyu pun masih bisa ditangguhkan. Toh, selama tak ada Alpha atau Beta lain yang meminta tangan Gyuri, maka Yido aman.</p>

<p>“Yido,” tapi Mingyu memanggil namanya sekali lagi, dalam nada lembut kali ini. Alpha muda itu pun mengangkat wajah untuk menatap pamannya tepat di mata. “Duduklah, Nak. Tuan Jung, tolong bawakan teh dan kue-kue.” Sang kepala pelayan segera membungkuk hormat sebelum undur diri. Gestur sang Alpha tua mengajak mereka untuk berpindah ke ruang keluarga yang lebih nyaman, lengkap dengan perapian yang telah dinyalakan. Fokus Mingyu kemudian berpindah pada suaminya. “Kamu tidak apa-apa rencana kita batal, Sayang? Kamu tidak lapar?” tanyanya.</p>

<p>Joshua tersenyum kecil, lalu mengecup lembut pipi kekasihnya. “Aku minta makanan ke dapur aja, nggak pa-pa kok. Palingan dicemberutin dikit,” kekehnya ringan. Juru masak keluarga Kim terkenal akan kelezatan hidangannya dan sifat suka mengomelnya (walau, menurut Joshua, mirip ibu yang suka khawatiran akan anaknya). “Nanti aku balik lagi. Jangan sok galak kamu ya. Anak kakak kamu tuh. Anak sahabat aku juga.”</p>

<p>“Sayang! Aku tidak—” belum sempat Mingyu protes sambil terbata, Joshua sudah berlalu, meninggalkan suara tawanya yang bagaikan musik di telinga sang Alpha. Buru-buru Mingyu berdeham, berusaha mengembalikan wibawanya sebagai kepala keluarga, dan mengajak Yido, keponakan serta calon pemimpin negara ini, ke ruang keluarga.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/3-choi-yido-dan-keluarga-kim</guid>
      <pubDate>Thu, 10 Sep 2026 05:15:43 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Choi Yido</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/2-choi-yido?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Choi Yido&#xA;&#xA;gyushuaabo22yl&#xA;&#xA;Senja kian tenggelam di ufuk Barat. Dengan penerangan yang agak redup, Choi Yido menatap cermin di hadapannya dan wajah yang bak pinang dibelah dua dengan ibunya pun menatap balik. Rambut hitam tertata rapi. Mata gelap yang memukau. Pipi tinggi, rahang tirus, bibir tipis tanpa cela. Paras yang cantik dan tampan sekaligus—androgini. Tubuhnya melesat tinggi ketika pubertas menyapanya lima tahun yang lalu. Sayangnya, ia tetap tidak bisa mengalahkan tinggi badan rival abadinya, Kibum.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Mengesampingkan bayangan Kibum yang membuat lidahnya sepat, Yido mengusak rambutnya ke belakang dengan tangan, mengacaukan tatanan yang telah diusungnya sejak ia memulai hari. Tidak ada kewajiban untuk tampil formal di muka publik malam ini, jadi ia tidak memedulikan penampilannya sama sekali.&#xA;&#xA;Surat telah dilayangkan ke rumah Paman Mingyu. Sang utusan telah melapor pada ayahnya bahwa tugas telah selesai dilaksanakan. Namun, hingga detik ini, tak ada balasan dari rumah keluarga Kim.&#xA;&#xA;Gelisah? Tentu. Bukannya Yido tidak mengetahui bagaimana perasaan Paman Mingyu terhadap prospek dirinya melamar Gyuri. Sejak awal, Paman Mingyu jelas-jelas menentang mereka. Paman Joshua selalu bilang kalau Paman Mingyu hanya orangtua menggelikan yang kelewat sayang pada putrinya (yang mana menurut Yido sangat masuk akal; Toh ini Kim Gyuri yang mereka bicarakan). Tetapi, separuh hati sang Alpha muda gelisah kalau-kalau alasan Paman Mingyu menentang adalah karena Yido dianggap tidak pantas bersanding dengan putrinya.&#xA;&#xA;Ego Alpha-nya terusik. Jika ada yang pantas mencintai Gyuri, maka seharusnya pangeran kerajaan penerus negara ini adalah kandidat nomor satu, bukan? Sedari kecil ia ditempa oleh pelajaran di bidang tata negara, sosial politik, militer dan sejarah kerajaan, selain etiket dan budaya. Dirinya lah yang paling paham apa yang dibutuhkan negara ini beserta masyarakat di dalamnya. Ayahnya tidak mengajak Yido turut serta dalam pelaporan para warga setiap paginya sejak ia remaja untuk menjadikan pengetahuannya sia-sia belaka. Ia bahkan berhasil mengimplementasikan taktiknya dalam mengenyahkan potensi pemberontakan di sisi Utara dekat perbatasan beberapa bulan yang lalu.&#xA;&#xA;Semenjak Kak Seongso menunjuk Kak Nara sebagai pengantinnya, orangtuanya telah mempersiapkan Yido sebagai penerus utama tampuk kepemimpinan.&#xA;&#xA;Tapi kenapa Paman Mingyu masih saja merasa itu tidak cukup?&#xA;&#xA;Apa lagi yang harus Yido lakukan agar Paman Mingyu bersedia memberi tangan Gyuri kepadanya??&#xA;&#xA;Pikirannya kalut oleh berbagai suara yang saling bertentangan. Sekali lagi, pemuda berusia sembilan belas itu menghela napas. Kemeja putihnya yang terbuat dari sutra kualitas terbaik itu kini nampak acak-acakan, hasil kebiasaan buruknya yang suka berjalan kian-kemari ketika tenggelam dalam pemikirannya sendiri—mengelilingi peraduan, bahkan satu istana, tanpa sadar. Ibunya bahkan pernah menyadarkan putra tertuanya itu dengan menepuk kepalanya kuat-kuat, mengejutkan ayahnya yang tak sengaja menyaksikan kejadian itu.&#xA;&#xA;Setiap detik terbuang tanpa jawaban dari keluarga Kim adalah setiap detik keyakinan akan bobot dirinya tercungkil mengenaskan. Ia perlu tahu reaksi Paman Mingyu dan Paman Joshua atas surat itu dan berdiam diri di istana tidak akan membawakannya jawaban yang ia cari. &#xA;&#xA;Tugasnya sebagai pangeran kerajaan untuk hari itu sudah selesai. Saatnya Choi Yido menyelinap keluar dengan memanjat tembok istana dan mengganti mahkota emasnya dengan topi pet sederhana yang senantiasa dikenakan anak penjaja koran di jalanan tengah kota.&#xA;&#xA;Ah, ya, lihat kan?&#xA;&#xA;Bagaimanapun, Choi Yido adalah anak ibunya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://thesunmetmoon.com/wp-content/uploads/2026/08/choi-yido-e1786547878936.jpg" alt="Choi Yido" title="Choi Yido"/></p>

<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuaabo22yl" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuaabo22yl</span></a></p>

<p>Senja kian tenggelam di ufuk Barat. Dengan penerangan yang agak redup, Choi Yido menatap cermin di hadapannya dan wajah yang bak pinang dibelah dua dengan ibunya pun menatap balik. Rambut hitam tertata rapi. Mata gelap yang memukau. Pipi tinggi, rahang tirus, bibir tipis tanpa cela. Paras yang cantik dan tampan sekaligus—androgini. Tubuhnya melesat tinggi ketika pubertas menyapanya lima tahun yang lalu. Sayangnya, ia tetap tidak bisa mengalahkan tinggi badan rival abadinya, Kibum.</p>



<p>Mengesampingkan bayangan Kibum yang membuat lidahnya sepat, Yido mengusak rambutnya ke belakang dengan tangan, mengacaukan tatanan yang telah diusungnya sejak ia memulai hari. Tidak ada kewajiban untuk tampil formal di muka publik malam ini, jadi ia tidak memedulikan penampilannya sama sekali.</p>

<p>Surat telah dilayangkan ke rumah Paman Mingyu. Sang utusan telah melapor pada ayahnya bahwa tugas telah selesai dilaksanakan. Namun, hingga detik ini, tak ada balasan dari rumah keluarga Kim.</p>

<p>Gelisah? <em>Tentu</em>. Bukannya Yido tidak mengetahui bagaimana perasaan Paman Mingyu terhadap prospek dirinya melamar Gyuri. Sejak awal, Paman Mingyu jelas-jelas menentang mereka. Paman Joshua selalu bilang kalau Paman Mingyu hanya orangtua menggelikan yang kelewat sayang pada putrinya (yang mana menurut Yido sangat masuk akal; Toh ini Kim Gyuri yang mereka bicarakan). Tetapi, separuh hati sang Alpha muda gelisah kalau-kalau alasan Paman Mingyu menentang adalah karena Yido dianggap tidak pantas bersanding dengan putrinya.</p>

<p>Ego Alpha-nya terusik. Jika ada yang pantas mencintai Gyuri, maka seharusnya pangeran kerajaan penerus negara ini adalah kandidat nomor satu, bukan? Sedari kecil ia ditempa oleh pelajaran di bidang tata negara, sosial politik, militer dan sejarah kerajaan, selain etiket dan budaya. Dirinya lah yang paling paham apa yang dibutuhkan negara ini beserta masyarakat di dalamnya. Ayahnya tidak mengajak Yido turut serta dalam pelaporan para warga setiap paginya sejak ia remaja untuk menjadikan pengetahuannya sia-sia belaka. Ia bahkan berhasil mengimplementasikan taktiknya dalam mengenyahkan potensi pemberontakan di sisi Utara dekat perbatasan beberapa bulan yang lalu.</p>

<p>Semenjak Kak Seongso menunjuk Kak Nara sebagai pengantinnya, orangtuanya telah mempersiapkan Yido sebagai penerus utama tampuk kepemimpinan.</p>

<p>Tapi kenapa Paman Mingyu masih saja merasa itu tidak cukup?</p>

<p>Apa lagi yang harus Yido lakukan agar Paman Mingyu bersedia memberi tangan Gyuri kepadanya??</p>

<p>Pikirannya kalut oleh berbagai suara yang saling bertentangan. Sekali lagi, pemuda berusia sembilan belas itu menghela napas. Kemeja putihnya yang terbuat dari sutra kualitas terbaik itu kini nampak acak-acakan, hasil kebiasaan buruknya yang suka berjalan kian-kemari ketika tenggelam dalam pemikirannya sendiri—mengelilingi peraduan, bahkan satu istana, tanpa sadar. Ibunya bahkan pernah menyadarkan putra tertuanya itu dengan menepuk kepalanya kuat-kuat, mengejutkan ayahnya yang tak sengaja menyaksikan kejadian itu.</p>

<p>Setiap detik terbuang tanpa jawaban dari keluarga Kim adalah setiap detik keyakinan akan bobot dirinya tercungkil mengenaskan. Ia perlu tahu reaksi Paman Mingyu dan Paman Joshua atas surat itu dan berdiam diri di istana tidak akan membawakannya jawaban yang ia cari.</p>

<p>Tugasnya sebagai pangeran kerajaan untuk hari itu sudah selesai. Saatnya Choi Yido menyelinap keluar dengan memanjat tembok istana dan mengganti mahkota emasnya dengan topi pet sederhana yang senantiasa dikenakan anak penjaja koran di jalanan tengah kota.</p>

<p>Ah, ya, lihat kan?</p>

<p>Bagaimanapun, Choi Yido adalah anak ibunya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/2-choi-yido</guid>
      <pubDate>Wed, 12 Aug 2026 15:43:25 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Joshua dan Mingyu</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/1-joshua-dan-mingyu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuaabo22yl&#xA;&#xA;Dua puluh dua kali musim semi telah silih berganti semenjak Joshua Hong menikahi Kim Mingyu di kapel kecil kala itu. Sang Alpha yang dulu gagah dan tampan, kini rambutnya diselimuti uban dan garis-garis keriput mulai menghiasi kulit warna tembaganya. Sang Omega yang dulu begitu muda dan penuh gairah, kini jauh lebih tenang dengan wajah cantiknya tergurat jelas oleh kedewasaan. Namun, yang tak berubah dari mereka adalah bagaimana mereka masih saling mencintai bahkan ketika masing-masing telah menginjak usia 60 dan 40 tahun.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Cinta yang semakin erat saat topik menggelisahkan akan lamaran muncul kembali ke permukaan.&#xA;&#xA;Mingyu menghela napas dalam-dalam. Di pangkuannya terbuka surat yang berasal dari amplop bersegel kerajaan. Tanda bahwa surat tersebut resmi dikirim dari istana. Di sisinya, Joshua setia menemani sang suami, mengelus-elus lembut bahunya untuk menenangkannya.&#xA;&#xA;&#34;Sayang...,&#34; gumamnya. &#34;Jangan terlalu dipikirin...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bagaimana aku tidak memikirkannya, mereka meminta tangan Ri...,&#34; ketakutan terbesar Kim Mingyu akhirnya terwujud juga. Semenjak putri semata wayangnya itu menarik perhatian dua pangeran kerajaan sekaligus, hati kecilnya gusar berkepanjangan. Ia sungguh tidak sanggup untuk memberikan tangan sang putri ke pasangannya nanti di altar pelaminan.&#xA;&#xA;&#34;Mingyu, kamu ini...,&#34; helaan napas Joshua tidak kalah berat. Benar-benar deh, suaminya ini, padahal sudah tua tapi malah bertingkah mirip anak-anak. &#34;Ri udah gede, Gyu. Dia udah dewasa.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ri masih tujuh belas,&#34; sanggah sang Alpha.&#xA;&#xA;&#34;Terus siapa yang pas aku tujuh belas dulu udah cium-cium bibirku, ha?&#34; sambil menunjukkan ekspresi tidak terkesan, Joshua langsung membalas, membuat suaminya gelagapan, tak sanggup membantah, dan kedua pipinya memerah. Joshua sih hanya memutar bola mata akan reaksi (menggemaskan) itu. &#34;Yeah, thought so.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Te-tetap saja aku tidak setuju kalau Ri menikah semuda itu. Seharusnya Ri masih menikmati hidupnya, menapaki dunia, meraih mimpi-mimpinya. Kondisi sekarang dan saat kita menikah dulu juga sudah berubah pesat,&#34; merajuk dengan begitu keras kepalanya. Separuh hati Joshua ingin menjitak suaminya, separuh lagi ingin menciumi cibiran bibirnya itu sampai egonya luluh lantak.&#xA;&#xA;Alih-alih, Joshua menangkup pipi Alphanya. &#34;Mingyu. Kamu inget nggak? Kamu bilang kalo aku bisa ngelakuin apapun yang aku mau bahkan setelah kita nikah. Apa hal yang sama nggak berlaku buat putri kita?&#34; ingatnya akan ucapan sang Alpha sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Tapi Yido putra mahkota—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kamu putra mahkota.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu spontan menggeleng. &#34;Aku hanya... kebetulan berbagi sedikit darah dengan Kak Cheol.. Berbeda dari Yido yang benar-benar penerus kerajaan...,&#34; kemudian Mingyu melanjutkan. &#34;Keluarga kerajaan itu ada tata krama, ada adat yang telah turun-menurun dilakukan. Aku...takut Ri akan terkekang meski telah menikah sekalipun...&#34;&#xA;&#xA;Joshua rasanya kepingin ketawa pakai hidung. &#34;Mingyu! Ini anak Yoon Jeonghan lho!&#34; terlepaslah tawa yang lugas dari sang Omega. &#34;Mana mungkin Yido perlakuin putri kita kayak gitu. Ibunya aja mau kabur pas hari pernikahan dia sendiri.&#34; Aah\~ jadi mengenang masa lalu deh\~ &#34;Udahlah, kamu tenang aja. Tuan Raja kan cuma ngasih tau kalau Yido mau secara resmi deketin Ri di surat itu. Belum tentu juga Ri mau dipinang Yido.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Be...tul juga sih...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Soalnya firasatku bilang putri kita udah punya orang yang dia taksir dari dulu nggak sih...?&#34; 🤔&#xA;&#xA;...........&#xA;&#xA;&#34;Maksudmu...?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kibum, lho, Kibum,&#34; Joshua pun mencubit gemas pipi suaminya.&#xA;&#xA;Kwon Kibum. Anak dari Kwon Soonyoung dan Wen Junhui. Rival sejati Choi Yido, anak dari Choi Seungcheol dan Yoon Jeonghan. Berdua, mereka sama-sama memiliki takhta di tangan mereka, meski nasib mereka sungguhlah berbeda. Bila Yido adalah penerus kerajaan yang terkukung singgasana, maka Kibum bebas berkelana ke manca negara, melihat dan mempelajari segala hal yang ia minati. Namun, keberadaan Kibum yang tercatat adalah dua tahun yang lalu. Sejak itu, mereka tidak lagi mendengar akan kabarnya.&#xA;&#xA;&#34;Kwon? Bukankah anak itu menghilang?&#34; kedua alis Kim Mingyu terangkat. &#34;Kudengar dia dinikahkan dengan Omega di negara kelahiran ayahnya.&#34;&#xA;&#xA;Joshua meringis, &#34;Yah, rupanya itu rumor aja. Kebetulan ada &#39;burung kecil&#39; yang nginfoin aku kalo Kibum lagi menuju sini, rumah kita. Expect to see him in a week, katanya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Rumah kita? Untuk apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Menurutmu?&#34; Joshua malah balik bertanya. Nadanya jahil seperti kilau di mata indahnya. &#34;Putri kita mau 18 sebentar lagi, Gyu.&#34;&#xA;&#xA;Ketika pengertian jatuh menimpa Kim Mingyu, raut wajahnya kembali tegang. &#34;Oh tidak...,&#34; keluhnya. &#34;Mereka serius dengan Ri? Yang satu telah meminta tangan Ri di surat, yang satu akan muncul di sini? Oh tidak. Tidak, tidak bisa...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hei, hei, hei, don&#39;t crash out on this, Gyu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi katamu Ri mungkin menyukai Kibum!” Mingyu semakin tidak bisa menahan frustrasinya. &#34;Kalau begitu, putri kita akan dibawanya pergi. Kita tidak bisa melihatnya lagi! Sebagai ayahnya, aku tidak mengijinkan putri kita diboyong ke istana atau dibawa keliling dunia! Langkahi dulu mayatku!&#34;&#xA;&#xA;Berderap penuh emosi, sang Alpha kemudian menyingkir ke ruang kerjanya, berniat mengurung diri di sana. Joshua menghela napas lagi. So dramatic. Semua ini hanya karena Mingyu tidak ingin kehilangan putri satu-satunya. Mungkin seharusnya dulu Joshua mengikuti saran Jeonghan untuk memiliki anak lagi.&#xA;&#xA;(Nope, cukup sekali ia merasakan sakit seperti itu, never again).&#xA;&#xA;Entahlah apa yang akan terjadi ketika Kibum sudah memijak kediaman keluarga Kim dan Yido yang mengetahui kedatangan rival abadinya itu. Chaos ensued, probably.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuaabo22yl" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuaabo22yl</span></a></p>

<p>Dua puluh dua kali musim semi telah silih berganti semenjak Joshua Hong menikahi Kim Mingyu di kapel kecil kala itu. Sang Alpha yang dulu gagah dan tampan, kini rambutnya diselimuti uban dan garis-garis keriput mulai menghiasi kulit warna tembaganya. Sang Omega yang dulu begitu muda dan penuh gairah, kini jauh lebih tenang dengan wajah cantiknya tergurat jelas oleh kedewasaan. Namun, yang tak berubah dari mereka adalah bagaimana mereka masih saling mencintai bahkan ketika masing-masing telah menginjak usia 60 dan 40 tahun.</p>



<p>Cinta yang semakin erat saat topik menggelisahkan akan lamaran muncul kembali ke permukaan.</p>

<p>Mingyu menghela napas dalam-dalam. Di pangkuannya terbuka surat yang berasal dari amplop bersegel kerajaan. Tanda bahwa surat tersebut resmi dikirim dari istana. Di sisinya, Joshua setia menemani sang suami, mengelus-elus lembut bahunya untuk menenangkannya.</p>

<p>“Sayang...,” gumamnya. “Jangan terlalu dipikirin...”</p>

<p>“Bagaimana aku tidak memikirkannya, mereka meminta tangan Ri...,” ketakutan terbesar Kim Mingyu akhirnya terwujud juga. Semenjak putri semata wayangnya itu menarik perhatian dua pangeran kerajaan sekaligus, hati kecilnya gusar berkepanjangan. Ia sungguh tidak sanggup untuk memberikan tangan sang putri ke pasangannya nanti di altar pelaminan.</p>

<p>“Mingyu, kamu ini...,” helaan napas Joshua tidak kalah berat. Benar-benar deh, suaminya ini, padahal sudah tua tapi malah bertingkah mirip anak-anak. “Ri udah gede, Gyu. Dia udah dewasa.”</p>

<p>“Ri masih tujuh belas,” sanggah sang Alpha.</p>

<p>“Terus siapa yang pas aku tujuh belas dulu udah cium-cium bibirku, ha?” sambil menunjukkan ekspresi tidak terkesan, Joshua langsung membalas, membuat suaminya gelagapan, tak sanggup membantah, dan kedua pipinya memerah. Joshua sih hanya memutar bola mata akan reaksi (menggemaskan) itu. “Yeah, thought so.”</p>

<p>“Te-tetap saja aku tidak setuju kalau Ri menikah semuda itu. Seharusnya Ri masih menikmati hidupnya, menapaki dunia, meraih mimpi-mimpinya. Kondisi sekarang dan saat kita menikah dulu juga sudah berubah pesat,” merajuk dengan begitu keras kepalanya. Separuh hati Joshua ingin menjitak suaminya, separuh lagi ingin menciumi cibiran bibirnya itu sampai egonya luluh lantak.</p>

<p>Alih-alih, Joshua menangkup pipi Alphanya. “Mingyu. Kamu inget nggak? Kamu bilang kalo aku bisa ngelakuin apapun yang aku mau bahkan setelah kita nikah. Apa hal yang sama nggak berlaku buat putri kita?” ingatnya akan ucapan sang Alpha sendiri.</p>

<p>“Tapi Yido putra mahkota—”</p>

<p>“Kamu putra mahkota.”</p>

<p>Mingyu spontan menggeleng. “Aku hanya... kebetulan berbagi sedikit darah dengan Kak Cheol.. Berbeda dari Yido yang benar-benar penerus kerajaan...,” kemudian Mingyu melanjutkan. “Keluarga kerajaan itu ada tata krama, ada adat yang telah turun-menurun dilakukan. Aku...takut Ri akan terkekang meski telah menikah sekalipun...”</p>

<p>Joshua rasanya kepingin ketawa pakai hidung. “Mingyu! Ini anak Yoon Jeonghan lho!” terlepaslah tawa yang lugas dari sang Omega. “Mana mungkin Yido perlakuin putri kita kayak gitu. Ibunya aja mau kabur pas hari pernikahan dia sendiri.” Aah~ jadi mengenang masa lalu deh~ “Udahlah, kamu tenang aja. Tuan Raja kan cuma ngasih tau kalau Yido mau secara resmi deketin Ri di surat itu. Belum tentu juga Ri mau dipinang Yido.”</p>

<p>“Be...tul juga sih...”</p>

<p>“Soalnya firasatku bilang putri kita udah punya orang yang dia taksir dari dulu nggak sih...?” 🤔</p>

<p>...........</p>

<p>“Maksudmu...?”</p>

<p>“Kibum, lho, Kibum,” Joshua pun mencubit gemas pipi suaminya.</p>

<p>Kwon Kibum. Anak dari Kwon Soonyoung dan Wen Junhui. Rival sejati Choi Yido, anak dari Choi Seungcheol dan Yoon Jeonghan. Berdua, mereka sama-sama memiliki takhta di tangan mereka, meski nasib mereka sungguhlah berbeda. Bila Yido adalah penerus kerajaan yang terkukung singgasana, maka Kibum bebas berkelana ke manca negara, melihat dan mempelajari segala hal yang ia minati. Namun, keberadaan Kibum yang tercatat adalah dua tahun yang lalu. Sejak itu, mereka tidak lagi mendengar akan kabarnya.</p>

<p>“Kwon? Bukankah anak itu menghilang?” kedua alis Kim Mingyu terangkat. “Kudengar dia dinikahkan dengan Omega di negara kelahiran ayahnya.”</p>

<p>Joshua meringis, “Yah, rupanya itu rumor aja. Kebetulan ada &#39;burung kecil&#39; yang nginfoin aku kalo Kibum lagi menuju sini, rumah kita. Expect to see him in a week, katanya.”</p>

<p>“Rumah kita? Untuk apa?”</p>

<p>“Menurutmu?” Joshua malah balik bertanya. Nadanya jahil seperti kilau di mata indahnya. “Putri kita mau 18 sebentar lagi, Gyu.”</p>

<p>Ketika pengertian jatuh menimpa Kim Mingyu, raut wajahnya kembali tegang. “Oh tidak...,” keluhnya. “Mereka serius dengan Ri? Yang satu telah meminta tangan Ri di surat, yang satu akan muncul di sini? Oh tidak. Tidak, tidak bisa...”</p>

<p>“Hei, hei, hei, don&#39;t crash out on this, Gyu.”</p>

<p>“Tapi katamu Ri mungkin menyukai Kibum!” Mingyu semakin tidak bisa menahan frustrasinya. “Kalau begitu, putri kita akan dibawanya pergi. Kita tidak bisa melihatnya lagi! Sebagai ayahnya, aku tidak mengijinkan putri kita diboyong ke istana atau dibawa keliling dunia! Langkahi dulu mayatku!”</p>

<p>Berderap penuh emosi, sang Alpha kemudian menyingkir ke ruang kerjanya, berniat mengurung diri di sana. Joshua menghela napas lagi. So dramatic. Semua ini hanya karena Mingyu tidak ingin kehilangan putri satu-satunya. Mungkin seharusnya dulu Joshua mengikuti saran Jeonghan untuk memiliki anak lagi.</p>

<p>(Nope, cukup sekali ia merasakan sakit seperti itu, never again).</p>

<p>Entahlah apa yang akan terjadi ketika Kibum sudah memijak kediaman keluarga Kim dan Yido yang mengetahui kedatangan rival abadinya itu. Chaos ensued, probably.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/1-joshua-dan-mingyu</guid>
      <pubDate>Wed, 12 Aug 2026 01:30:05 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>