<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>gyushuaabo &amp;mdash; 🌾</title>
    <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuaabo</link>
    <description>narrative writings of thesunmetmoon</description>
    <pubDate>Wed, 15 Apr 2026 00:08:54 +0000</pubDate>
    <image>
      <url>https://i.snap.as/K7JGOEOo.png</url>
      <title>gyushuaabo &amp;mdash; 🌾</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuaabo</link>
    </image>
    <item>
      <title>Part 139: Epilogue</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-139-epilogue?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuaabo&#xA;&#xA;Epilogue&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Bunda!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ada apa, Nara?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ini, Kak Seongso nih!&#34; ☹️&#xA;&#xA;Yoon Jeonghan menaruh tehnya kembali ke tatakan. Udara musim semi di hari itu hangat, membawa bersamanya harum bebungaan yang baru mekar dari taman bunga kediaman keluarga Kim. Mereka semua berkumpul di sana untuk merayakan hari ulang tahun seseorang yang spesial: Keluarga Choi beserta Ibu Suri, Nyonya Hong, Vernon Chwe, keluarga Lee, keluarga Jeon, keluarga Lee dari negeri seberang dan keluarga Kwon. Sang Omega kemudian mendesah. Fokusnya pada kedua anak perempuan yang tengah bergulat tersebut (jika bisa dibilang begitu, karena lebih seperti Seongso yang menemplok pada Nara dan Nara yang cemberut tanpa henti).&#xA;&#xA;&#34;Bunda\~ Kak Seongso tidak mau melepas Nara\~ Bunda usir dong\~&#34; rengek putrinya itu.&#xA;&#xA;&#34;Kok aku diusir sih?!&#34; kali ini, anak perempuan yang lebih tua yang protes. &#34;Ya nggak pa-pa dong kalo aku nempel kamu?! Kamu kan tunangan aku?!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iihh! Siapa yang mau jadi tunangan Kak Seongso sih??&#34; 😡&#xA;&#xA;&#34;Ya Nara lah! Kata Mama aku, kalo emang udah takdir, ntar Nara jadi pengantinku!&#34; 😡&#xA;&#xA;&#34;Iiihhh!!&#34; 😡😡&#xA;&#xA;&#34;Choi Nara. Kwon Seongso.&#34;&#xA;&#xA;Mendengar ketegasan dalam nada sang Omega, sontak kedua anak perempuan itu bungkam. Mereka otomatis memperbaiki posisinya, menanti untuk dimarahi. Namun, Yoon Jeonghan, alih-alih mendecak ketus, justru mengelus lembut kepala kedua anak tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Jangan bertengkar lagi ya? Ini kan hari bahagia. Aku tidak ingin pertengkaran kalian merusaknya,&#34; disuguhi senyuman hangat, mereka pun menunduk, merasa bersalah. Meski sering bertengkar, pada dasarnya, mereka adalah anak-anak yang baik.&#xA;&#xA;Choi Nara, berusia sepuluh, benar-benar bagai pinang dibelah dua dengan ayahnya. Dari rambut hitamnya yang tebal dan bergelombang, bulu matanya yang begitu lebat, matanya yang bulat sampai bibirnya yang semerah apel. Sejak usia muda, kecantikannya telah terkenal hingga seantero negeri. Ia adalah gadis yang anggun, dibesarkan sebagai putri tertua kerajaan oleh nenek dan ayahnya. Meski begitu, darah ibunya menyelipkan jiwa pemberontakan dalam nadi, membuat kecerdikannya bagai buah simalakama—sebuah berkat atau sebuah petaka. Tugas Yoon Jeonghan lah mengajarkan pada putrinya bagaimana menggunakan kecerdikannya itu untuk memajukan negara.&#xA;&#xA;Tapi, seanggun-anggunnya sang putri raja, ia hanyalah gadis kecil biasa di depan putri raja lainnya.&#xA;&#xA;Kwon Seongso, sebelas. Aktif, ceria, kuat dan main seruduk sana-sini. Ia persis seperti apa yang diharapkan ibunya—macan betina yang menguasai semua yang diinginkannya. Perawakannya tidak mirip ayah maupun ibunya, lebih mirip neneknya, tapi jelas sifatnya keturunan siapa. Cukup egois, mengingat di usianya yang ke-tujuh, saat ia dibawa ke negara ini untuk pertama kalinya memenuhi undangan dari Raja Choi pada sekutunya, Raja Kwon, dan menetapkan pandangan pada putri Raja Choi, usia enam kala itu, ia langsung mengklaimnya sebagai calon pengantinnya.&#xA;&#xA;&#34;Mama,&#34; ia berujar sambil menunjuk ke Nara, yang mengernyitkan alis. &#34;Aku mau dia.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Seongso!&#34; itu ayahnya. Sang Beta membekap mulut putrinya sambil tertawa salah tingkah. Ekspresinya meminta maaf. &#34;Eh...ehehe. Maaf ya. Anak ini—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oho? Apa ini?&#34; Kwon Soonyoung malah melipat lengan di dada. &#34;Macan Satu, kamu naksir Nara?&#34;&#xA;&#xA;Anak itu berhasil merenggut tangan ayahnya dan melepasnya dari mulutnya. &#34;Naksir?&#34; ditelengkannya kepala, tak paham. &#34;Apa itu, Mama?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Itu artinya kamu mau nikah sama Nara.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nikah...?&#34;&#xA;&#xA;Napa sih Mama suka pake kata-kata susah?? ಠ.ಠ&#xA;&#xA;Kwon Soonyoung meringis, lalu menepuk-nepuk kepala putri sulungnya. Ia kemudian berkata pada Seungcheol, &#34;Kak Cheol, gimana nih? Okein aja, apa, Seongso nikahin Nara? Kan dulu aku gagal nikah sama Kak Cheol. Bisa lah turunin ke anak kita.&#34;&#xA;&#xA;Siang itu pun ditutup dengan Seungcheol yang memeluk anak gadisnya, meminta Nara untuk tidak buru-buru menikah, padahal yang dipeluk hanya bisa berkedip-kedip karena tak mengerti apa-apa. Jeonghan menghela napas dan memarahi Soonyoung, memperingatinya agar tidak mengutarakan hal aneh seperti itu. Bagaimanapun, Seongso dan Nara masih kecil. Dasar Soonyoung, ia hanya meringis jahil semakin lebar.&#xA;&#xA;Sedangkan Seongso? Anak itu terus mengejar Nara hingga saat ini.&#xA;&#xA;&#34;Jadi, apa jawaban kalian?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Baik, Bunda.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Siap, Paman!&#34;&#xA;&#xA;Sang Omega tersenyum untuk terakhir kalinya. Hiruk pikuk terdengar makin keras. Ia pun menggandeng kedua tangan gadis kecil itu dan kembali ke tempat acara diadakan, yakni di taman keluarga Kim, persis bertahun-tahun lalu ketika mereka merayakan ulang tahun Mingyu, meski pengunjungnya bertambah kali ini.&#xA;&#xA;Di salah satu meja, Dokter Jeon terlibat diskusi seru dengan Jenderal Lee, sementara di sisi mereka, Chan dan Myungho memusatkan fokus pada Lee Yujun. Bayi itu tertidur pulas tanpa menyadari bagaimana kelahirannya yang melalui proses surogasi membuat Dokter Jeon takjub. Kemajuan teknologi di negara seberang benar-benar hebat sampai mereka mampu memunculkan bayi dari pasangan Alpha!&#xA;&#xA;&#34;Dan tanpa penetrasi?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Wonwoo!&#34; Myungho memekik. Pipinya panas oleh ketidak sopanan suaminya. Berbeda dengannya, bola mata Jeon Wonwoo malah berbinar-binar.&#xA;&#xA;Jenderal Lee mengangguk. &#34;Technically, sperma tetap dimasukin ke vagina, tapi bukan melalui penis,&#34; ia mulai menjelaskan. &#34;Sebenernya bisa sih kalau mau pake sel telur dan sperma kita sendiri, nanti ibu inang cuma pinjemin rahim aja, but as you know, nggak ada yang punya sel telur di sini.&#34; Jihoon terkekeh. &#34;Jadi, yah, sperma kita berdua dicampur dan ditemuin sama sel telur ibu inang di laboratorium, terus disuntik ke rahimnya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm, seperti metode surogasi negara ini,&#34; Dokter Jeon mengangguk-angguk. &#34;Bedanya, di sini masih pakai cara biasa, melalui hubungan seksual.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Wow,&#34; Chan memandang tak percaya. &#34;Ngeliat suami kamu nidurin orang lain? Ada yang mau begitu ya?&#34;&#xA;&#xA;Myungho mengangkat bahu sambil lalu. Dokter Jeon meringis lebar sebelum menarik suaminya ke dalam pelukan. &#34;Makanya, saya lebih baik tidak memiliki anak daripada orang lain melihat suami saya tanpa busana,&#34; selorohnya santai. &#34;Bisa-bisa saya cungkil bola mata ibu inangnya.&#34;&#xA;&#xA;Myungho gelagapan bagai ikan mas. Wajahnya merah padam.&#xA;&#xA;&#34;Jeon Wonwoo!!&#34;&#xA;&#xA;Chan tertawa keras, sedangkan Lee Jihoon memutar bola matanya.&#xA;&#xA;Di meja lain, Lee Seokmin dan Betanya, Seungkwan, duduk bersama Wen Junhui. Di pangkuan Seokmin, seorang anak perempuan berusia setahun nampak kelelahan.&#xA;&#xA;&#34;Jinseol mengantuk ya, Nak? Ayah bawa ke kamar, mau?&#34; Seungkwan menawarkan. Ia menatap putri yang mereka adopsi beberapa bulan lalu itu dengan raut cemas. Si anak mengusap matanya, lalu menguap.&#xA;&#xA;&#34;Papa,&#34; anak lelaki bungsu keluarga Kwon yang duduk di pangkuan Jun kemudian mendongak.&#xA;&#xA;&#34;Hmm?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Seol ngantuk ya Pah?&#34;&#xA;&#xA;Jun terkekeh, &#34;Kayaknya gitu. Kenapa, Jiho-ya? Mau kamu nyanyiin nursery rhyme yang baru kamu hafalin itu ya?&#34;&#xA;&#xA;Pipi anak lelakinya itu memerah. Ia senang sekali sudah bisa menghafal lagu itu dan ingin menyanyikannya terus-menerus, tapi kedua kakak kembarnya kerap menggerutu kalau Jiho menyanyikan lagu itu lagi. Kedua kaki anak usia enam tahun itu berayun, tidak tahu apakah jawaban yang benar adalah iya atau tidak.&#xA;&#xA;&#34;Eh? Jiho ingin menyanyikan apa memangnya? Boleh Paman mendengarnya?&#34; seolah bisa mencium keengganan anak itu, Seokmin tersenyum ramah padanya, membuat si anak ikut tersenyum. Jiho suka Paman Seok dan Paman Kwan. Paman Seok sering tersenyum dan suka mengajaknya bermain tiap keluarga mereka bertemu. Meski Paman Kwan terkadang suka mengomel, tapi ia akan melemah ketika senyuman suaminya sudah muncul ke permukaan seperti ini.&#xA;&#xA;&#34;Jiho nyanyinya pinter lho,&#34; Jun juga mendorong putra bungsunya. &#34;Papa juga mau denger dong.&#34;&#xA;&#xA;Dengan pipi merona senang, anak itu pun membuka mulutnya, menyanyikan bait lagu anak-anak pengantar tidur. Suaranya lembut dan bernada tinggi, sebuah bakat yang terlihat sejak Kwon Jiho mulai bisa bersenandung.&#xA;&#xA;&#34;Lady Bird, Lady Bird,&#xA;&#xA;Fly away home,&#xA;&#xA;Your house is on fire,&#xA;&#xA;Your children will burn\~&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh!&#34; seru Seungkwan. &#34;Saya tahu lagu ini! Lagu dari sini!&#34;&#xA;&#xA;Seokmin pun setuju. Sudah lama sekali semenjak ia mendengarnya disenandungkan oleh mendiang ibunya ketika masih kecil dahulu. Bersandar di bahunya, Jinseol pun mulai terlelap. Jun tersenyum. Meski bukan jenis lagu kanak-kanak yang ia ketahui dulu, ia ikut menggoyangkan kepala.&#xA;&#xA;(Meski, ah, jika ditelaah, liriknya sungguhlah morbid, bukan?)&#xA;&#xA;“Sing a Song of Sixpence,&#xA;&#xA;A bag full of Rye,&#xA;&#xA;Four and twenty naughty boys,&#xA;&#xA;Bak&#39;d in a Pye\~”&#xA;&#xA;Di sisi lain, Choi Seungcheol, Kwon Soonyoung, Ibu Suri, Nyonya Hong dan Kim Mingyu menatap agak cemas pada kedua anak lelaki tertua di kumpulan kecil mereka, Kwon Kibum dan Choi Yido.&#xA;&#xA;Kwon Kibum berusia sama dengan kakak kembarnya, Seongso, berbeda hanya beberapa menit darinya. Selain matanya yang mengambil ibunya, ia adalah cetakan persis ayahnya, namun sifatnya berbeda seratus delapan puluh derajat dari kakaknya. Anak lelaki itu sering tersenyum. Pembawaannya santai dan cenderung pemalas. Ia menyukai alam, mewarisi jiwa pengembara dari ayahnya. Adalah hal biasa bagi Kibum menghilang hampir setengah hari penuh di hutan dekat istana dan kembali dengan oleh-oleh yang bahkan tidak diketahui Soonyoung dan Jun tumbuh di dekat mereka—bunga bakung yang mirip laba-laba, biji ek mungil, sebuah batu yang memantulkan cahaya, dan sebagainya. Jika diumpamakan, keberadaan Kibum seperti angin yang berhembus bebas.&#xA;&#xA;Sedangkan Choi Yido tidaklah begitu. Anak lelaki itu berusia tujuh, tapi selalu menganggap Kibum yang lebih tua empat tahun darinya itu sebagai rival. Ia manja, keras kepala dan enggan mengalah. Kegemarannya adalah menemplok pada orang-orang, tak peduli situasi dan kondisi. Sumbunya pendek, mudah marah. Wajahnya mungil dan cantik, seperti ibunya, tapi meledak-ledak bagai cabai merah cilik. Neneknya—Ibu Suri—pernah berkomentar bahwa sifatnya mirip Seungcheol ketika masih kanak-kanak, yang lantas menuai protes dari yang bersangkutan.&#xA;&#xA;Kini, mereka kembali melototi satu sama lain, seperti biasanya jika keluarga mereka bertemu.&#xA;&#xA;(Yah, lebih ke arah Yido yang melotot tajam dan Kibum yang tersenyum santai sambil mengangkat dagu sengak, jelas menantang balik.)&#xA;&#xA;Seungcheol menghela napas, begitu pula dengan Nyonya Hong. Ibu Suri hanya bisa memegangi pipinya, berharap ketegangan itu tidak mempengaruhi jalannya pesta.&#xA;&#xA;&#34;Maaf ya, Kak Cheol...,&#34; Mingyu, gelisah di kursinya, langsung membuka mulut. &#34;Ini salahku...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kok jadi salah kamu sih, Gyu?&#34; Kwon Soonyoung menimpali. &#34;Bukan salah siapa-siapa lah. Mereka cuma bocah aja. Bocah keras kepala yang nggak saling mau ngalah. Oi, Macan Dua! Awas ya kalo kamu yang mulai berantem! Mama ngawasin kamu lho ya ini!&#34; Telunjuk dan jari tengah Soonyoung mengarah ke matanya sendiri lalu diarahkannya ke putra tertuanya itu. Kibum hanya mengedikkan bahu sambil lalu, tidak terlalu ambil pusing.&#xA;&#xA;Mengapakah dua anak yang harusnya berkawan baik itu saling menganggap satu sama lain sebagai rival?&#xA;&#xA;Itu karena—&#xA;&#xA;&#34;Guys\~ Tuan putrinya udah bangun nih\~&#34;&#xA;&#xA;Tiba-tiba saja, Joshua berjalan keluar dari pintu bersama sahabatnya, Vernon. Dalam gendongan sang Omega, seorang anak perempuan berusia lima tahun terlihat disorientasi, masih mengumpulkan nyawanya antara dunia mimpi dan realita.&#xA;&#xA;Wajah anak perempuan itu semanis ibunya. Dengan mata yang besar dan berkilauan, ujung hidung bagai bulatan menggemaskan, juga bibir merah kecil. Tubuhnya mungil. Ia mengenakan pita satin biru muda di rambut hitamnya yang lurus panjang. Gaunnya berenda dalam warna senada.&#xA;&#xA;Kim Mingyu, kala melihat Omega dan putri tunggalnya, segera beranjak dari duduk. Hatinya melompat bahagia melihat kedua orang terkasihnya kembali ke keramaian. Ia mendekati mereka persis ketika Vernon tersenyum pada anak perempuan itu.&#xA;&#xA;&#34;Happy birthday, kiddo,&#34; ujarnya. Ia mengelus pipi tembam si anak sebelum menepuk bahu Joshua, memberi salam yang sama pada Mingyu, lalu berbaur dengan tamu undangan.&#xA;&#xA;&#34;Hai,&#34; dengan senyum jahil, Joshua menyapa suaminya.&#xA;&#xA;&#34;Halo, Sayang,&#34; Kim Mingyu mengecup senyuman itu, tak kuasa untuk tidak merasakan bibir kekasih hatinya barang sehari saja. &#34;Halo juga, buah hatinya Papa.&#34; Kemudian, kecupannya beralih ke kening putrinya. Anak itu mengusek matanya, lalu mengulurkan kedua lengan ke ayahnya.&#xA;&#xA;&#34;Papa. Gendong.&#34;&#xA;&#xA;Oh, suaranya begitu lembut. Gantian Mingyu kini yang menggendong si anak. Dalam pelukan ayahnya yang tinggi besar, Kim Gyuri mendusel bahu ayahnya lalu menghela napas senang. Joshua hanya bisa mendesah melihatnya.&#xA;&#xA;&#34;I swear she likes you better than me,&#34; tuduhnya. &#34;Kalo digendong papanya, Gyuri kayaknya lebih anteng.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gyuri suka Mama juga ah. Sama saja,&#34; tawa sang Alpha. &#34;Iya kan, Nak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mm\~ Sayang Mama juga\~&#34; meski begitu, si anak malah menduseli bahu ayahnya lagi.&#xA;&#xA;Mingyu tersenyum. Pandangannya pada putrinya begitu lembut, begitu penuh kasih sayang. Pandangan yang sama ketika ia menggendong bayi merah yang menangis itu untuk pertama kalinya.&#xA;&#xA;Dan Joshua Hong jatuh cinta lagi pada suaminya.&#xA;&#xA;Alphanya.&#xA;&#xA;Yang lembut dan baik hati. Yang mencintainya tanpa mengharapkan apa-apa. Yang telah memberikannya kesempatan untuk berbahagia, sekali lagi. Kesempatan untuknya memperbaiki hidupnya yang pernah porak poranda.&#xA;&#xA;Alpha yang telah memberinya seorang putri paling sempurna di dunia.&#xA;&#xA;&#34;Mingyu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm?&#34;&#xA;&#xA;Joshua Hong mengelus pipi Kim Mingyu.&#xA;&#xA;&#34;Aku mencintaimu.&#34;&#xA;&#xA;Dan ia menciumnya, sekali lagi.&#xA;&#xA;(Namun kemesraan mereka tidak lah lama, karena Kwon Kibum dan Choi Yido sudah berada dekat mereka, berebut ingin menggendong Kim Gyuri. Ya, kedua anak itu menyukai Gyuri dan berniat untuk menikahinya ketika mereka besar nanti. Kelembutan hati Gyuri yang diwarisi dari ayahnya membuat semua orang menyayanginya, terlebih kedua anak itu. Namun, seperti semua anak usia lima di dunia, manalah ia paham cinta monyet seperti itu.&#xA;&#xA;&#34;Gak bisa,&#34; jawabnya polos. &#34;Gyuri maunya nikah sama Papa.&#34;&#xA;&#xA;Dan Joshua serta Mingyu tertawa lepas melihat ekspresi kedua pangeran muda itu.)&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;  Kebahagiaan ini.&#xA;    Seluruh kebaikan dalam kehidupanku ini.&#xA;    Terima kasih.&#xA;    Terima kasih, Kekasihku.&#xA;    Terima kasih karena kau telah mencintaiku.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;END 🫖☕♥️🎄🍪]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuaabo" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuaabo</span></a></p>

<p><em><strong>Epilogue</strong></em></p>



<p>“Bunda!”</p>

<p>“Ada apa, Nara?”</p>

<p>“Ini, Kak Seongso nih!” ☹️</p>

<p>Yoon Jeonghan menaruh tehnya kembali ke tatakan. Udara musim semi di hari itu hangat, membawa bersamanya harum bebungaan yang baru mekar dari taman bunga kediaman keluarga Kim. Mereka semua berkumpul di sana untuk merayakan hari ulang tahun seseorang yang spesial: Keluarga Choi beserta Ibu Suri, Nyonya Hong, Vernon Chwe, keluarga Lee, keluarga Jeon, keluarga Lee dari negeri seberang dan keluarga Kwon. Sang Omega kemudian mendesah. Fokusnya pada kedua anak perempuan yang tengah bergulat tersebut (jika bisa dibilang begitu, karena lebih seperti Seongso yang menemplok pada Nara dan Nara yang cemberut tanpa henti).</p>

<p>“Bunda~ Kak Seongso tidak mau melepas Nara~ Bunda usir dong~” rengek putrinya itu.</p>

<p>“Kok aku diusir sih?!” kali ini, anak perempuan yang lebih tua yang protes. “Ya nggak pa-pa dong kalo aku nempel kamu?! Kamu kan tunangan aku?!”</p>

<p>“Iihh! Siapa yang mau jadi tunangan Kak Seongso sih??” 😡</p>

<p>“Ya Nara lah! Kata Mama aku, kalo emang udah takdir, ntar Nara jadi pengantinku!” 😡</p>

<p>“Iiihhh!!” 😡😡</p>

<p>“<em>Choi Nara. Kwon Seongso</em>.”</p>

<p>Mendengar ketegasan dalam nada sang Omega, sontak kedua anak perempuan itu bungkam. Mereka otomatis memperbaiki posisinya, menanti untuk dimarahi. Namun, Yoon Jeonghan, alih-alih mendecak ketus, justru mengelus lembut kepala kedua anak tersebut.</p>

<p>“Jangan bertengkar lagi ya? Ini kan hari bahagia. Aku tidak ingin pertengkaran kalian merusaknya,” disuguhi senyuman hangat, mereka pun menunduk, merasa bersalah. Meski sering bertengkar, pada dasarnya, mereka adalah anak-anak yang baik.</p>

<p>Choi Nara, berusia sepuluh, benar-benar bagai pinang dibelah dua dengan ayahnya. Dari rambut hitamnya yang tebal dan bergelombang, bulu matanya yang begitu lebat, matanya yang bulat sampai bibirnya yang semerah apel. Sejak usia muda, kecantikannya telah terkenal hingga seantero negeri. Ia adalah gadis yang anggun, dibesarkan sebagai putri tertua kerajaan oleh nenek dan ayahnya. Meski begitu, darah ibunya menyelipkan jiwa pemberontakan dalam nadi, membuat kecerdikannya bagai buah simalakama—sebuah berkat atau sebuah petaka. Tugas Yoon Jeonghan lah mengajarkan pada putrinya bagaimana menggunakan kecerdikannya itu untuk memajukan negara.</p>

<p>Tapi, seanggun-anggunnya sang putri raja, ia hanyalah gadis kecil biasa di depan putri raja lainnya.</p>

<p>Kwon Seongso, sebelas. Aktif, ceria, kuat dan main seruduk sana-sini. Ia persis seperti apa yang diharapkan ibunya—macan betina yang menguasai semua yang diinginkannya. Perawakannya tidak mirip ayah maupun ibunya, lebih mirip neneknya, tapi jelas sifatnya keturunan siapa. Cukup egois, mengingat di usianya yang ke-tujuh, saat ia dibawa ke negara ini untuk pertama kalinya memenuhi undangan dari Raja Choi pada sekutunya, Raja Kwon, dan menetapkan pandangan pada putri Raja Choi, usia enam kala itu, ia langsung mengklaimnya sebagai calon pengantinnya.</p>

<p>“Mama,” ia berujar sambil menunjuk ke Nara, yang mengernyitkan alis. “Aku mau dia.”</p>

<p>“Seongso!” itu ayahnya. Sang Beta membekap mulut putrinya sambil tertawa salah tingkah. Ekspresinya meminta maaf. “Eh...ehehe. Maaf ya. Anak ini—”</p>

<p>“Oho? Apa ini?” Kwon Soonyoung malah melipat lengan di dada. “Macan Satu, kamu naksir Nara?”</p>

<p>Anak itu berhasil merenggut tangan ayahnya dan melepasnya dari mulutnya. “Naksir?” ditelengkannya kepala, tak paham. “Apa itu, Mama?”</p>

<p>“Itu artinya kamu mau nikah sama Nara.”</p>

<p>“Nikah...?”</p>

<p><em>Napa sih Mama suka pake kata-kata susah?? ಠ.ಠ</em></p>

<p>Kwon Soonyoung meringis, lalu menepuk-nepuk kepala putri sulungnya. Ia kemudian berkata pada Seungcheol, “Kak Cheol, gimana nih? Okein aja, apa, Seongso nikahin Nara? Kan dulu aku gagal nikah sama Kak Cheol. Bisa lah turunin ke anak kita.”</p>

<p>Siang itu pun ditutup dengan Seungcheol yang memeluk anak gadisnya, meminta Nara untuk tidak buru-buru menikah, padahal yang dipeluk hanya bisa berkedip-kedip karena tak mengerti apa-apa. Jeonghan menghela napas dan memarahi Soonyoung, memperingatinya agar tidak mengutarakan hal aneh seperti itu. Bagaimanapun, Seongso dan Nara masih kecil. Dasar Soonyoung, ia hanya meringis jahil semakin lebar.</p>

<p>Sedangkan Seongso? Anak itu terus mengejar Nara hingga saat ini.</p>

<p>“Jadi, apa jawaban kalian?”</p>

<p>“Baik, Bunda.”</p>

<p>“Siap, Paman!”</p>

<p>Sang Omega tersenyum untuk terakhir kalinya. Hiruk pikuk terdengar makin keras. Ia pun menggandeng kedua tangan gadis kecil itu dan kembali ke tempat acara diadakan, yakni di taman keluarga Kim, persis bertahun-tahun lalu ketika mereka merayakan ulang tahun Mingyu, meski pengunjungnya bertambah kali ini.</p>

<p>Di salah satu meja, Dokter Jeon terlibat diskusi seru dengan Jenderal Lee, sementara di sisi mereka, Chan dan Myungho memusatkan fokus pada Lee Yujun. Bayi itu tertidur pulas tanpa menyadari bagaimana kelahirannya yang melalui proses surogasi membuat Dokter Jeon takjub. Kemajuan teknologi di negara seberang benar-benar hebat sampai mereka mampu memunculkan bayi dari pasangan Alpha!</p>

<p>“Dan tanpa penetrasi?”</p>

<p>“Wonwoo!” Myungho memekik. Pipinya panas oleh ketidak sopanan suaminya. Berbeda dengannya, bola mata Jeon Wonwoo malah berbinar-binar.</p>

<p>Jenderal Lee mengangguk. “Technically, sperma tetap dimasukin ke vagina, tapi bukan melalui penis,” ia mulai menjelaskan. “Sebenernya bisa sih kalau mau pake sel telur dan sperma kita sendiri, nanti ibu inang cuma pinjemin rahim aja, but as you know, nggak ada yang punya sel telur di sini.” Jihoon terkekeh. “Jadi, yah, sperma kita berdua dicampur dan ditemuin sama sel telur ibu inang di laboratorium, terus disuntik ke rahimnya.”</p>

<p>“Hmm, seperti metode surogasi negara ini,” Dokter Jeon mengangguk-angguk. “Bedanya, di sini masih pakai cara biasa, melalui hubungan seksual.”</p>

<p>“Wow,” Chan memandang tak percaya. “Ngeliat suami kamu nidurin orang lain? Ada yang mau begitu ya?”</p>

<p>Myungho mengangkat bahu sambil lalu. Dokter Jeon meringis lebar sebelum menarik suaminya ke dalam pelukan. “Makanya, saya lebih baik tidak memiliki anak daripada orang lain melihat suami saya tanpa busana,” selorohnya santai. “Bisa-bisa saya cungkil bola mata ibu inangnya.”</p>

<p>Myungho gelagapan bagai ikan mas. Wajahnya merah padam.</p>

<p>“Jeon Wonwoo!!”</p>

<p>Chan tertawa keras, sedangkan Lee Jihoon memutar bola matanya.</p>

<p>Di meja lain, Lee Seokmin dan Betanya, Seungkwan, duduk bersama Wen Junhui. Di pangkuan Seokmin, seorang anak perempuan berusia setahun nampak kelelahan.</p>

<p>“Jinseol mengantuk ya, Nak? Ayah bawa ke kamar, mau?” Seungkwan menawarkan. Ia menatap putri yang mereka adopsi beberapa bulan lalu itu dengan raut cemas. Si anak mengusap matanya, lalu menguap.</p>

<p>“Papa,” anak lelaki bungsu keluarga Kwon yang duduk di pangkuan Jun kemudian mendongak.</p>

<p>“Hmm?”</p>

<p>“Seol ngantuk ya Pah?”</p>

<p>Jun terkekeh, “Kayaknya gitu. Kenapa, Jiho-ya? Mau kamu nyanyiin nursery rhyme yang baru kamu hafalin itu ya?”</p>

<p>Pipi anak lelakinya itu memerah. Ia senang sekali sudah bisa menghafal lagu itu dan ingin menyanyikannya terus-menerus, tapi kedua kakak kembarnya kerap menggerutu kalau Jiho menyanyikan lagu itu <em>lagi</em>. Kedua kaki anak usia enam tahun itu berayun, tidak tahu apakah jawaban yang benar adalah iya atau tidak.</p>

<p>“Eh? Jiho ingin menyanyikan apa memangnya? Boleh Paman mendengarnya?” seolah bisa mencium keengganan anak itu, Seokmin tersenyum ramah padanya, membuat si anak ikut tersenyum. Jiho suka Paman Seok dan Paman Kwan. Paman Seok sering tersenyum dan suka mengajaknya bermain tiap keluarga mereka bertemu. Meski Paman Kwan terkadang suka mengomel, tapi ia akan melemah ketika senyuman suaminya sudah muncul ke permukaan seperti ini.</p>

<p>“Jiho nyanyinya pinter lho,” Jun juga mendorong putra bungsunya. “Papa juga mau denger dong.”</p>

<p>Dengan pipi merona senang, anak itu pun membuka mulutnya, menyanyikan bait lagu anak-anak pengantar tidur. Suaranya lembut dan bernada tinggi, sebuah bakat yang terlihat sejak Kwon Jiho mulai bisa bersenandung.</p>

<p><em>“Lady Bird, Lady Bird,</em></p>

<p><em>Fly away home,</em></p>

<p><em>Your house is on fire,</em></p>

<p><em>Your children will burn~“</em></p>

<p>“Oh!” seru Seungkwan. “Saya tahu lagu ini! Lagu dari sini!”</p>

<p>Seokmin pun setuju. Sudah lama sekali semenjak ia mendengarnya disenandungkan oleh mendiang ibunya ketika masih kecil dahulu. Bersandar di bahunya, Jinseol pun mulai terlelap. Jun tersenyum. Meski bukan jenis lagu kanak-kanak yang ia ketahui dulu, ia ikut menggoyangkan kepala.</p>

<p><em>(Meski, ah, jika ditelaah, liriknya sungguhlah morbid, bukan?)</em></p>

<p><em>“Sing a Song of Sixpence,</em></p>

<p><em>A bag full of Rye,</em></p>

<p><em>Four and twenty naughty boys,</em></p>

<p><em>Bak&#39;d in a Pye~”</em></p>

<p>Di sisi lain, Choi Seungcheol, Kwon Soonyoung, Ibu Suri, Nyonya Hong dan Kim Mingyu menatap agak cemas pada kedua anak lelaki tertua di kumpulan kecil mereka, Kwon Kibum dan Choi Yido.</p>

<p>Kwon Kibum berusia sama dengan kakak kembarnya, Seongso, berbeda hanya beberapa menit darinya. Selain matanya yang mengambil ibunya, ia adalah cetakan persis ayahnya, namun sifatnya berbeda seratus delapan puluh derajat dari kakaknya. Anak lelaki itu sering tersenyum. Pembawaannya santai dan cenderung pemalas. Ia menyukai alam, mewarisi jiwa pengembara dari ayahnya. Adalah hal biasa bagi Kibum menghilang hampir setengah hari penuh di hutan dekat istana dan kembali dengan oleh-oleh yang bahkan tidak diketahui Soonyoung dan Jun tumbuh di dekat mereka—bunga bakung yang mirip laba-laba, biji ek mungil, sebuah batu yang memantulkan cahaya, dan sebagainya. Jika diumpamakan, keberadaan Kibum seperti angin yang berhembus bebas.</p>

<p>Sedangkan Choi Yido tidaklah begitu. Anak lelaki itu berusia tujuh, tapi selalu menganggap Kibum yang lebih tua empat tahun darinya itu sebagai rival. Ia manja, keras kepala dan enggan mengalah. Kegemarannya adalah menemplok pada orang-orang, tak peduli situasi dan kondisi. Sumbunya pendek, mudah marah. Wajahnya mungil dan cantik, seperti ibunya, tapi meledak-ledak bagai cabai merah cilik. Neneknya—Ibu Suri—pernah berkomentar bahwa sifatnya mirip Seungcheol ketika masih kanak-kanak, yang lantas menuai protes dari yang bersangkutan.</p>

<p>Kini, mereka kembali melototi satu sama lain, seperti biasanya jika keluarga mereka bertemu.</p>

<p><em>(Yah, lebih ke arah Yido yang melotot tajam dan Kibum yang tersenyum santai sambil mengangkat dagu sengak, jelas menantang balik.)</em></p>

<p>Seungcheol menghela napas, begitu pula dengan Nyonya Hong. Ibu Suri hanya bisa memegangi pipinya, berharap ketegangan itu tidak mempengaruhi jalannya pesta.</p>

<p>“Maaf ya, Kak Cheol...,” Mingyu, gelisah di kursinya, langsung membuka mulut. “Ini salahku...”</p>

<p>“Kok jadi salah kamu sih, Gyu?” Kwon Soonyoung menimpali. “Bukan salah siapa-siapa lah. Mereka cuma bocah aja. Bocah keras kepala yang nggak saling mau ngalah. Oi, Macan Dua! Awas ya kalo kamu yang mulai berantem! Mama ngawasin kamu lho ya ini!” Telunjuk dan jari tengah Soonyoung mengarah ke matanya sendiri lalu diarahkannya ke putra tertuanya itu. Kibum hanya mengedikkan bahu sambil lalu, tidak terlalu ambil pusing.</p>

<p>Mengapakah dua anak yang harusnya berkawan baik itu saling menganggap satu sama lain sebagai rival?</p>

<p>Itu karena—</p>

<p>“Guys~ Tuan putrinya udah bangun nih~“</p>

<p>Tiba-tiba saja, Joshua berjalan keluar dari pintu bersama sahabatnya, Vernon. Dalam gendongan sang Omega, seorang anak perempuan berusia lima tahun terlihat disorientasi, masih mengumpulkan nyawanya antara dunia mimpi dan realita.</p>

<p>Wajah anak perempuan itu semanis ibunya. Dengan mata yang besar dan berkilauan, ujung hidung bagai bulatan menggemaskan, juga bibir merah kecil. Tubuhnya mungil. Ia mengenakan pita satin biru muda di rambut hitamnya yang lurus panjang. Gaunnya berenda dalam warna senada.</p>

<p>Kim Mingyu, kala melihat Omega dan putri tunggalnya, segera beranjak dari duduk. Hatinya melompat bahagia melihat kedua orang terkasihnya kembali ke keramaian. Ia mendekati mereka persis ketika Vernon tersenyum pada anak perempuan itu.</p>

<p>“Happy birthday, kiddo,” ujarnya. Ia mengelus pipi tembam si anak sebelum menepuk bahu Joshua, memberi salam yang sama pada Mingyu, lalu berbaur dengan tamu undangan.</p>

<p>“Hai,” dengan senyum jahil, Joshua menyapa suaminya.</p>

<p>“Halo, Sayang,” Kim Mingyu mengecup senyuman itu, tak kuasa untuk tidak merasakan bibir kekasih hatinya barang sehari saja. “Halo juga, buah hatinya Papa.” Kemudian, kecupannya beralih ke kening putrinya. Anak itu mengusek matanya, lalu mengulurkan kedua lengan ke ayahnya.</p>

<p>“Papa. Gendong.”</p>

<p>Oh, suaranya begitu lembut. Gantian Mingyu kini yang menggendong si anak. Dalam pelukan ayahnya yang tinggi besar, Kim Gyuri mendusel bahu ayahnya lalu menghela napas senang. Joshua hanya bisa mendesah melihatnya.</p>

<p>“I swear she likes you better than me,” tuduhnya. “Kalo digendong papanya, Gyuri kayaknya lebih anteng.”</p>

<p>“Gyuri suka Mama juga ah. Sama saja,” tawa sang Alpha. “Iya kan, Nak?”</p>

<p>“Mm~ Sayang Mama juga~” meski begitu, si anak malah menduseli bahu ayahnya lagi.</p>

<p>Mingyu tersenyum. Pandangannya pada putrinya begitu lembut, begitu penuh kasih sayang. Pandangan yang sama ketika ia menggendong bayi merah yang menangis itu untuk pertama kalinya.</p>

<p>Dan Joshua Hong jatuh cinta lagi pada suaminya.</p>

<p>Alphanya.</p>

<p>Yang lembut dan baik hati. Yang mencintainya tanpa mengharapkan apa-apa. Yang telah memberikannya kesempatan untuk berbahagia, sekali lagi. Kesempatan untuknya memperbaiki hidupnya yang pernah porak poranda.</p>

<p>Alpha yang telah memberinya seorang putri paling sempurna di dunia.</p>

<p>“Mingyu.”</p>

<p>“Hmm?”</p>

<p>Joshua Hong mengelus pipi Kim Mingyu.</p>

<p>“Aku mencintaimu.”</p>

<p>Dan ia menciumnya, sekali lagi.</p>

<p><em>(Namun kemesraan mereka tidak lah lama, karena Kwon Kibum dan Choi Yido sudah berada dekat mereka, berebut ingin menggendong Kim Gyuri. Ya, kedua anak itu menyukai Gyuri dan berniat untuk menikahinya ketika mereka besar nanti. Kelembutan hati Gyuri yang diwarisi dari ayahnya membuat semua orang menyayanginya, terlebih kedua anak itu. Namun, seperti semua anak usia lima di dunia, manalah ia paham cinta monyet seperti itu.</em></p>

<p><em>“Gak bisa,” jawabnya polos. “Gyuri maunya nikah sama Papa.”</em></p>

<p><em>Dan Joshua serta Mingyu tertawa lepas melihat ekspresi kedua pangeran muda itu.)</em></p>

<hr/>

<blockquote><p>Kebahagiaan ini.</p>

<p>Seluruh kebaikan dalam kehidupanku ini.</p>

<p>Terima kasih.</p>

<p>Terima kasih, Kekasihku.</p>

<p>Terima kasih karena kau telah mencintaiku.</p></blockquote>

<hr/>

<p><strong>END</strong> 🫖☕♥️🎄🍪</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-139-epilogue</guid>
      <pubDate>Wed, 04 Jan 2023 14:47:34 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Part 138</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-138?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuaabo&#xA;&#xA;&#34;Jangan nangis dong.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mana bisa...&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Bulan tidak nampak malam itu, tertutupi oleh gumpalan awan yang pekat. Malam sempurna untuk menyelundupkan tiga manusia dan dua bayi keluar. Malam yang penuh isak tangis tertahan—Yoon Jeonghan terhadap suaminya dan Joshua Hong terhadap salah satu sahabatnya.&#xA;&#xA;&#34;Nanti kan kita ketemu lagi,&#34; Soonyoung meringis. &#34;Nanti, pas lo balik ke negara kita, cuma ada damai dan ketenangan tiap lo jalan-jalan di kota. Nggak akan ada lagi Alpha yang bisa seenaknya sama Omega. Nggak akan ada lagi Omega yang ditindas. Gue akan buat lo dan semua Omega seperti kita di sana, mulai detik ini, bahagia.&#34;&#xA;&#xA;Makin banjirlah air mata si anak. Ia memeluk Soonyoung erat-erat, tak mau lepas. Omega yang lebih tua itu tersenyum, balas menepuk-nepuk bagian belakang kepala Joshua. Ia sendiri berat meninggalkan negeri itu. Kenyamanan hidup di sana membuat perangkap semanis madu, menjeratnya kuat hingga dirinya hampir membuyarkan seluruh rencananya demi secercah surga.&#xA;&#xA;(&#34;Melarikan diri memang mudah, tetapi penyesalanmu akan mengendap di sudut hatimu. Selamanya.&#34;)&#xA;&#xA;Kata-kata Seungcheol terngiang lagi ketika Soonyoung mengutarakan keraguannya dua hari yang lalu. Sang Alpha menopang dagunya pada dua kepalan tangan di atas meja kerja pribadinya, menatapnya dengan serius.&#xA;&#xA;(&#34;Jangan sampai kau menyesal karena kebimbangan hati sesaat, Soonyoung-ah.&#34;)&#xA;&#xA;Ah...&#xA;&#xA;Andai ia warga biasa. Andai ia seperti Joshua. Tanpa sebuah tanggung jawab besar, status maupun darah biru. Ia bisa tinggal di sana, menikmati birunya langit dan jingganya senja, membiarkan tapak kaki kecil anak-anaknya menginjak rerumputan hijau dalam kedamaian yang telah dibangun Seungcheol dan seluruh petinggi kerajaan. Ia bisa makan dengan layak, membantu Seungcheol menjalankan pemerintahan bila dikehendaki dan hidup dalam ketenangan.&#xA;&#xA;Suaminya pun tidak perlu melindunginya lagi sepanjang hari, memastikan peluru para penjaga istana tidak menembus jantungnya bila mereka lengah dan diketemukan.&#xA;&#xA;Kwon Soonyoung, masih tersenyum, kini mendorong sedikit Omega yang masih menangisinya itu agak menjauh. Ia mengelus lembut pipi Joshua, memandanginya dengan tatapan sayang.&#xA;&#xA;Tapi, benang merahnya bukanlah benang merah Joshua Hong. Takdirnya bukanlah menjadi warga biasa yang dilindungi para petinggi serta sang raja.&#xA;&#xA;Takdirnya adalah sebagai Kwon Soonyoung.&#xA;&#xA;Ia lah sang raja.&#xA;&#xA;&#34;Gue janji,&#34; diusapnya air mata dari sudut mata Joshua. &#34;Apapun yang terjadi, kita bakal ketemu lagi. Alive and well.&#34;&#xA;&#xA;&#34;And happy.&#34;&#xA;&#xA;Joshua menekan tangan Soonyoung ke pipinya. Omega yang lebih tua itu tersenyum makin lebar.&#xA;&#xA;&#34;And happy,&#34; ulangnya.&#xA;&#xA;Digesekkannya ujung hidungnya ke ujung hidung Joshua, sebuah gestur khas kaum serigala khusus untuk orang yang dikasihi, atau keluarga.&#xA;&#xA;&#34;Uuuh...&#34; (⁠╥⁠﹏⁠╥⁠)&#xA;&#xA;Ketika Joshua menggamit leher Soonyoung, kembali memeluknya dan menangis semakin deras, Soonyoung memeluknya balik sama erat. Ia mengangkat pandangan, melihat Jun dan Mingyu tersenyum memandangi mereka,&#xA;&#xA;dan sang Omega pun tertawa.&#xA;&#xA;Aku nggak perlu dilindungin. Aku yang bakal ngelindungin kalian semua.&#xA;&#xA;Aku janji, sebagai Kwon Soonyoung dan sebagai raja.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Setelahnya, Joshua merangkul Jeonghan, separuh menahan sang Omega agar tidak lari mengejar suaminya. Perasaan ketika Alpha dan Omega yang telah terikat permanen saling berjauhan adalah perasaan yang tidak seharusnya dirasakan siapapun, terlebih oleh Yoon Jeonghan. Joshua hampir menancapkan kuku-kukunya ke pinggang Jeonghan karena ia bisa merasakan sahabatnya itu sedikit lagi akan memberontak—mengamuk—dan ia mati-matian mengekangnya.&#xA;&#xA;Mingyu membantu suaminya dengan berdiri di belakang kedua Omega. Ia adalah seorang Alpha, maka lancang baginya bila menyentuh Omega yang bukan suaminya, namun ia siap siaga apabila Jeonghan mendadak mendorong Joshua dan kabur. Ibu Suri juga memegangi tangan sang Omega, meremas-remasnya untuk menenangkan hati anak menantunya yang tersiksa itu.&#xA;&#xA;&#34;Jeonghanie—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Pulang,&#34; bisiknya ke leher Joshua. Dihirupnya feromon sahabatnya dalam-dalam. &#34;Aku mau pulang.&#34;&#xA;&#xA;Joshua menoleh ke arah Mingyu dan Ibu Suri. Mereka berdua mengangguk. Kereta barang kumuh yang membawa kelima orang itu telah lama hilang di antara pepohonan. Tak ada lagi yang mengharuskan mereka berada di sana, menantang angin dingin di kegelapan malam.&#xA;&#xA;Maka, mereka bertolak kembali ke istana yang siap menyambut mereka dengan kehangatannya.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Seluruh penghuni istana terkejut mendengar berita kondisi raja dan bahwa kendali pemerintahan berpindah sementara ke suami dan adik angkatnya, namun mereka bersumpah untuk menutup mulut mereka agar masyarakat di luar dinding istana tidak panik. Tidak ada keraguan terhadap kemampuan Yoon Jeonghan dan Kim Mingyu memerintah negara mereka, apalagi Ibu Suri dan Tuan Lee setia membantu mereka sebagai penasehat kerajaan. Meski mereka mencemaskan kesehatan raja mereka yang baik hati nan bijak, separuh kecemasan itu lenyap oleh penggantinya yang kompeten.&#xA;&#xA;Hari demi hari bergulir, berganti menjadi minggu. Setiap hari, Yoon Jeonghan menanti dan menanti kabar dari seberang samudera. Ketiadaan berita negatif membuatnya sanggup membuka mata setiap pagi, meski ada lubang kopong menganga di tengah rongga dadanya. Bau Seungcheol amat perlahan menipis dari kamarnya. Hanya memori akan suaminya dan bayi di dalam kandungannya lah yang membuat ibu muda tersebut tangguh.&#xA;&#xA;Alphamu adalah separuh dirimu. Bila Alphamu pergi, maka ia membawa separuhmu bersamanya.&#xA;&#xA;Joshua kerap menemani Jeonghan kala sang Omega tidak kuat lagi menahan kesedihannya dan undur diri ke ruang pribadinya, memberikan keputusan ke tangan Mingyu dan Seokmin. Kedua Alpha hanya bisa menatap ke arah Joshua, meminta tolong tanpa kata-kata kepada sang Omega. Joshua akan mengetuk pintu kamar Yoon Jeonghan dengan teh dan kue-kue, atau buku bacaan yang menarik. Jeonghan bersyukur sahabatnya ada di sana bersamanya ketika masa-masa sulit tersebut.&#xA;&#xA;Sampai suatu hari, di musim semi bulan kedua minggu ketiga, sebuah kibasan sayap terdengar. Lalu, ketukan kecil paruh burung pada jendela kamarnya mencapai telinga.&#xA;&#xA;Jeritan Jeonghan pagi buta itu membuat para penghuni istana tergopoh-gopoh. Joshua dan Mingyu, dengan mata masih mengantuk, pun ikut menghampiri. Pasal melihat Jeonghan yang bersimbah air mata, mereka sontak terbangun sempurna.&#xA;&#xA;&#34;Jeonghan, kenapa—&#34;&#xA;&#xA;Namun, sang Omega telah memeluk Joshua dengan senyuman terindah yang pernah ia saksikan. Di tangan Jeonghan, sebuah notes kecil dengan tulisan singkat terpampang:&#xA;&#xA;  Aku akan kembali padamu bersama senyuman bunga matahari.&#xA;&#xA;Mata Mingyu membulat oleh keterkejutan. Senyuman Joshua ikut tersungging. Ia menatap balik Jeonghan, lalu mereka saling berpelukan.&#xA;&#xA;&#34;Syukurlah,&#34; desah Joshua lega. &#34;Syukurlah, Hani...&#34;&#xA;&#xA;Ya. Syukurlah. Semua yang berawal dengan baik, akan berakhir dengan baik juga.&#xA;&#xA;Syukurlah...]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuaabo" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuaabo</span></a></p>

<p>“Jangan nangis dong.”</p>

<p>“Mana bisa...”</p>



<p>Bulan tidak nampak malam itu, tertutupi oleh gumpalan awan yang pekat. Malam sempurna untuk menyelundupkan tiga manusia dan dua bayi keluar. Malam yang penuh isak tangis tertahan—Yoon Jeonghan terhadap suaminya dan Joshua Hong terhadap salah satu sahabatnya.</p>

<p>“Nanti kan kita ketemu lagi,” Soonyoung meringis. “Nanti, pas lo balik ke negara kita, cuma ada damai dan ketenangan tiap lo jalan-jalan di kota. Nggak akan ada lagi Alpha yang bisa seenaknya sama Omega. Nggak akan ada lagi Omega yang ditindas. Gue akan buat lo dan semua Omega seperti kita di sana, mulai detik ini, bahagia.”</p>

<p>Makin banjirlah air mata si anak. Ia memeluk Soonyoung erat-erat, tak mau lepas. Omega yang lebih tua itu tersenyum, balas menepuk-nepuk bagian belakang kepala Joshua. Ia sendiri berat meninggalkan negeri itu. Kenyamanan hidup di sana membuat perangkap semanis madu, menjeratnya kuat hingga dirinya hampir membuyarkan seluruh rencananya demi secercah surga.</p>

<p><em>(“Melarikan diri memang mudah, tetapi penyesalanmu akan mengendap di sudut hatimu. Selamanya.”)</em></p>

<p>Kata-kata Seungcheol terngiang lagi ketika Soonyoung mengutarakan keraguannya dua hari yang lalu. Sang Alpha menopang dagunya pada dua kepalan tangan di atas meja kerja pribadinya, menatapnya dengan serius.</p>

<p><em>(“Jangan sampai kau menyesal karena kebimbangan hati sesaat, Soonyoung-ah.”)</em></p>

<p><em>Ah...</em></p>

<p>Andai ia warga biasa. Andai ia seperti Joshua. Tanpa sebuah tanggung jawab besar, status maupun darah biru. Ia bisa tinggal di sana, menikmati birunya langit dan jingganya senja, membiarkan tapak kaki kecil anak-anaknya menginjak rerumputan hijau dalam kedamaian yang telah dibangun Seungcheol dan seluruh petinggi kerajaan. Ia bisa makan dengan layak, membantu Seungcheol menjalankan pemerintahan bila dikehendaki dan hidup dalam ketenangan.</p>

<p>Suaminya pun tidak perlu melindunginya lagi sepanjang hari, memastikan peluru para penjaga istana tidak menembus jantungnya bila mereka lengah dan diketemukan.</p>

<p>Kwon Soonyoung, masih tersenyum, kini mendorong sedikit Omega yang masih menangisinya itu agak menjauh. Ia mengelus lembut pipi Joshua, memandanginya dengan tatapan sayang.</p>

<p>Tapi, benang merahnya bukanlah benang merah Joshua Hong. Takdirnya bukanlah menjadi warga biasa yang dilindungi para petinggi serta sang raja.</p>

<p>Takdirnya adalah sebagai Kwon Soonyoung.</p>

<p><em>Ia lah sang raja</em>.</p>

<p>“Gue janji,” diusapnya air mata dari sudut mata Joshua. “Apapun yang terjadi, kita bakal ketemu lagi. Alive and well.”</p>

<p>“<em>And happy</em>.”</p>

<p>Joshua menekan tangan Soonyoung ke pipinya. Omega yang lebih tua itu tersenyum makin lebar.</p>

<p>“And happy,” ulangnya.</p>

<p>Digesekkannya ujung hidungnya ke ujung hidung Joshua, sebuah gestur khas kaum serigala khusus untuk orang yang dikasihi, atau <em>keluarga</em>.</p>

<p>“Uuuh...” (⁠╥⁠﹏⁠╥⁠)</p>

<p>Ketika Joshua menggamit leher Soonyoung, kembali memeluknya dan menangis semakin deras, Soonyoung memeluknya balik sama erat. Ia mengangkat pandangan, melihat Jun dan Mingyu tersenyum memandangi mereka,</p>

<p>dan sang Omega pun tertawa.</p>

<p><em>Aku nggak perlu dilindungin. Aku yang bakal ngelindungin kalian semua.</em></p>

<p><em>Aku janji, sebagai Kwon Soonyoung dan sebagai raja.</em></p>

<hr/>

<p>Setelahnya, Joshua merangkul Jeonghan, separuh menahan sang Omega agar tidak lari mengejar suaminya. Perasaan ketika Alpha dan Omega yang telah terikat permanen saling berjauhan adalah perasaan yang tidak seharusnya dirasakan siapapun, terlebih oleh Yoon Jeonghan. Joshua hampir menancapkan kuku-kukunya ke pinggang Jeonghan karena ia bisa merasakan sahabatnya itu sedikit lagi akan memberontak—mengamuk—dan ia mati-matian mengekangnya.</p>

<p>Mingyu membantu suaminya dengan berdiri di belakang kedua Omega. Ia adalah seorang Alpha, maka lancang baginya bila menyentuh Omega yang bukan suaminya, namun ia siap siaga apabila Jeonghan mendadak mendorong Joshua dan kabur. Ibu Suri juga memegangi tangan sang Omega, meremas-remasnya untuk menenangkan hati anak menantunya yang tersiksa itu.</p>

<p>“Jeonghanie—”</p>

<p>“Pulang,” bisiknya ke leher Joshua. Dihirupnya feromon sahabatnya dalam-dalam. “Aku mau pulang.”</p>

<p>Joshua menoleh ke arah Mingyu dan Ibu Suri. Mereka berdua mengangguk. Kereta barang kumuh yang membawa kelima orang itu telah lama hilang di antara pepohonan. Tak ada lagi yang mengharuskan mereka berada di sana, menantang angin dingin di kegelapan malam.</p>

<p>Maka, mereka bertolak kembali ke istana yang siap menyambut mereka dengan kehangatannya.</p>

<hr/>

<p>Seluruh penghuni istana terkejut mendengar berita kondisi raja dan bahwa kendali pemerintahan berpindah sementara ke suami dan adik angkatnya, namun mereka bersumpah untuk menutup mulut mereka agar masyarakat di luar dinding istana tidak panik. Tidak ada keraguan terhadap kemampuan Yoon Jeonghan dan Kim Mingyu memerintah negara mereka, apalagi Ibu Suri dan Tuan Lee setia membantu mereka sebagai penasehat kerajaan. Meski mereka mencemaskan kesehatan raja mereka yang baik hati nan bijak, separuh kecemasan itu lenyap oleh penggantinya yang kompeten.</p>

<p>Hari demi hari bergulir, berganti menjadi minggu. Setiap hari, Yoon Jeonghan menanti dan menanti kabar dari seberang samudera. Ketiadaan berita negatif membuatnya sanggup membuka mata setiap pagi, meski ada lubang kopong menganga di tengah rongga dadanya. Bau Seungcheol amat perlahan menipis dari kamarnya. Hanya memori akan suaminya dan bayi di dalam kandungannya lah yang membuat ibu muda tersebut tangguh.</p>

<p><em>Alphamu adalah separuh dirimu. Bila Alphamu pergi, maka ia membawa separuhmu bersamanya.</em></p>

<p>Joshua kerap menemani Jeonghan kala sang Omega tidak kuat lagi menahan kesedihannya dan undur diri ke ruang pribadinya, memberikan keputusan ke tangan Mingyu dan Seokmin. Kedua Alpha hanya bisa menatap ke arah Joshua, meminta tolong tanpa kata-kata kepada sang Omega. Joshua akan mengetuk pintu kamar Yoon Jeonghan dengan teh dan kue-kue, atau buku bacaan yang menarik. Jeonghan bersyukur sahabatnya ada di sana bersamanya ketika masa-masa sulit tersebut.</p>

<p>Sampai suatu hari, di musim semi bulan kedua minggu ketiga, sebuah kibasan sayap terdengar. Lalu, ketukan kecil paruh burung pada jendela kamarnya mencapai telinga.</p>

<p>Jeritan Jeonghan pagi buta itu membuat para penghuni istana tergopoh-gopoh. Joshua dan Mingyu, dengan mata masih mengantuk, pun ikut menghampiri. Pasal melihat Jeonghan yang bersimbah air mata, mereka sontak terbangun sempurna.</p>

<p>“Jeonghan, kenapa—”</p>

<p>Namun, sang Omega telah memeluk Joshua dengan senyuman terindah yang pernah ia saksikan. Di tangan Jeonghan, sebuah notes kecil dengan tulisan singkat terpampang:</p>

<blockquote><p><em>Aku akan kembali padamu bersama senyuman bunga matahari.</em></p></blockquote>

<p>Mata Mingyu membulat oleh keterkejutan. Senyuman Joshua ikut tersungging. Ia menatap balik Jeonghan, lalu mereka saling berpelukan.</p>

<p>“Syukurlah,” desah Joshua lega. “Syukurlah, Hani...”</p>

<p>Ya. Syukurlah. Semua yang berawal dengan baik, akan berakhir dengan baik juga.</p>

<p><em>Syukurlah...</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-138</guid>
      <pubDate>Tue, 03 Jan 2023 13:41:09 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Part 137</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-137?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuaabo&#xA;&#xA;Benar saja.&#xA;&#xA;Begitu Joshua menapak masuk kamar tidur barunya, ia langsung uring-uringan. Lenyap sudah bau feromonnya yang bercampur dengan feromon Mingyu. Lenyap sudah kenyamanan akan sarang mereka berdua yang selalu bisa menenangkan batin sang Omega.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Joshua mendengking menyedihkan ketika mereka menaruh koper-koper mereka, membuat hati Alphanya langsung terenyuh. Jelas ia bisa mencium keruhnya perubahan feromon sang Omega. Apalagi, suaminya itu mulai mengitari ruangan dan mengendus-endus sekelilingnya, menemukan samar-samar bau asing para pelayan Beta yang membenahi kamar tersebut sebelum kedatangan mereka. Bau yang meningkatkan rasa frustrasinya.&#xA;&#xA;&#34;Mingyuuu...,&#34; ia merengek. Omega dalam dirinya terusik sedemikian rupa karena kehilangan sarangnya. Kehilangan tempat bernaung dimana ia bisa melindungi keluarganya.&#xA;&#xA;&#34;Ya, Sayang?&#34; meski ia sendiri resah karena ketiadaan tanda dirinya di ruangan itu, sang Alpha dengan patuh memeluk Omeganya dari belakang, berusaha membanjiri suaminya dengan feromon sebanyak yang ia bisa untuk menenangkannya.&#xA;&#xA;&#34;Nggak mau,&#34; ia mulai menggeleng. &#34;Nggak suka. Aku nggak mau di sini. Nggak ada bau kamu. Nggak ada bau kita.&#34;&#xA;&#xA;Kim Mingyu menggertakkan gigi, diam-diam setuju dengan Omeganya. Namun, demi Joshua dan kakaknya, ia menahan diri. Alih-alih, sang Alpha menunduk untuk mengecup bekas gigitannya di kelenjar feromon Joshua, mendorong suaminya itu untuk lebih rileks dan menguarkan wangi kue natal khasnya. Pelukannya pada pinggang Joshua mengerat.&#xA;&#xA;&#34;Ssh, ssh,&#34; bisiknya, bersama dengan kecupan-kecupan susulan menuruni sisi leher kekasihnya, lalu menetap di pertemuan leher dan bahu. &#34;Jika tiada bau kita berdua, bukankah kita bisa memenuhinya bersama-sama mulai saat ini, Sayang?&#34;&#xA;&#xA;Oh...&#xA;&#xA;&#34;Sekarang...?&#34; Joshua menoleh sedikit. Satu tangannya menangkup pipi Mingyu.&#xA;&#xA;Kelopak mata sang Alpha separuh memejam, fokusnya sudah pada bibir merah sang kekasih. Kesadaran akan maksud pandangan suaminya, serta sesuatu yang terasa padat mengenai bokongnya, membuat pipi Omega muda itu tersipu manis. Lengan yang melingkari pinggangnya mengencang. Feromon Mingyu juga agak berantakan, tidak seperti biasanya. Mungkin suaminya itu sama terusiknya dengan dirinya. Sama-sama tak sabar untuk membangun sarang baru mereka.&#xA;&#xA;Mereka bergerak hampir bersamaan: Mingyu meraup bibir Joshua dengan bibirnya dan Joshua mengalungkan kedua lengannya ke sekeliling leher Mingyu. Di saat itu, sang Alpha dan Omega mengabaikan sisi manusia mereka yang meneriakkan bahwa mereka harus menemui anggota keluarga kerajaan lainnya, harus bersiap untuk turun makan malam bersama; suara-suara yang ditembak mati oleh kebutuhan dasar kedua serigala untuk menciptakan rumah bagi mereka. Oleh hasrat untuk menautkan dan membanjuri feromon mereka di setiap sudut ruangan tersebut.&#xA;&#xA;Karena, ah, apalah serigala tanpa sarangnya?&#xA;&#xA;Seungcheol tertawa di meja makan panjang yang penuh dengan hidangan ketika seorang pelayan membungkuk meminta maaf, mengabarkan bahwa Tuan Kim dan Tuan Hong tidak dapat menghadiri perjamuan malam itu.&#xA;&#xA;&#34;Apakah masih ada yang bersiaga di area tempat tinggal mereka?&#34; tanyanya.&#xA;&#xA;Pelayan tersebut menggeleng.&#xA;&#xA;&#34;Bagus. Bagaimana dengan para penjaga?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ada dua orang yang—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tarik mereka,&#34; Jeonghan menimpali. &#34;Biarkan area Kim dan Hong bersih dari Alpha, Beta dan Omega lain.&#34; Ia mengangkat cangkir untuk meminum tehnya. &#34;Jangan ada yang mengganggu mereka bila tidak diperlukan.&#34;&#xA;&#xA;Pelayan itu membungkuk dan mundur. Ibu Suri tertawa perlahan sambil menutup mulutnya. Seungcheol meringis sebelum meraih tangan Omeganya untuk dikecup.&#xA;&#xA;&#34;Aku jadi teringat dirimu saat kau baru kuboyong ke istana ini, Sayang,&#34; kelakarnya.&#xA;&#xA;Jeonghan mendengus. Tanpa sadar, ia mengelus perutnya sendiri. &#34;Kuharap Hong keluar dengan keadaan jauh lebih baik daripada aku dulu,&#34; decaknya. &#34;Aku seperti habis dicabik karnivora.&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol tertawa lagi.&#xA;&#xA;Namun, kekhawatiran Yoon Jeonghan nyatanya tidak diperlukan. Karena, meskipun Joshua akhirnya menunjukkan batang hidungnya di perjamuan malam berikutnya dengan bibir bengkak dan leher yang penuh bekas gigitan dan hisapan, feromon sang Omega memancarkan kebahagiaannya yang meluap-luap, puas karena kini ia memiliki sarang lagi bersama Alphanya terkasih.&#xA;&#xA;Setelahnya, hari-hari Mingyu diisi dengan mempelajari sebanyak mungkin hal mengenai kondisi politik dan ekonomi kerajaan saat ini, serta rencana-rencana Tuan Raja, baik yang masih tertunda maupun yang sedang berlangsung. Bersama Tuan Lee dan Tuan Yoon, Kim Mingyu mencoba mengejar keterlambatannya agar ia pantas menyandang tugas penting dari kakaknya.&#xA;&#xA;Sementara itu, Joshua menghabiskan harinya dengan membiasakan diri akan kehidupan di istana. Ia dan Mingyu menolak dibantu mandi maupun berpakaian, namun menerima antaran air hangat dan keperluan lainnya ke kamar mereka. Sang Omega menapakkan langkahnya ke segala penjuru istana sepanjang yang diperbolehkan untuknya. Ia menyukai ketenangan perpustakaan pribadi milik anggota keluarga kerajaan. Meski agak kecil dan berada di suatu sudut tersembunyi, ruangan itu memuat begitu banyak buku, dari langit-langit hingga lantai. Suasananya hangat dan sepi. Beberapa kali Mingyu menemukan Omeganya di sana, terlalu larut membaca hingga lupa waktu.&#xA;&#xA;Tidak jarang pula Boo Seungkwan menemaninya. Sang Beta menunggu kedatangan Tuan Lee—tunangannya—untuk menjemputnya setelah rapat Dewan Tetua. Setelah menerima pinangan Alpha itu, jabatannya diputihkan dan ia diangkat menjadi salah satu calon anggota keluarga kerajaan, sehingga Seungkwan berhak berada di perpustakaan tersebut.&#xA;&#xA;Tempat lain yang ia sukai adalah taman bunga indah lengkap dengan rumah kacanya yang memisahkan area tempat tinggal sementara Kwon Soonyoung dan Wen Junhui dengan bagian istana lainnya. Joshua kerap bertandang untuk bermain bersama kedua bayi mereka—fakta yang membuat Omeganya mendesah puas. Adalah suatu insting bagi Omega untuk menyukai dan disukai anak-anak. Jun akan membawakan makanan buatannya untuk Soonyoung dan Joshua yang tengah duduk di teras, menikmati siraman matahari senja sambil mengelusi bayi-bayi yang tertidur di pelukan mereka.&#xA;&#xA;Dan, ketika malam turun, Joshua akan menyambut suaminya—atau sebaliknya—di kamar tidur mereka. Terkadang mereka makan malam bersama di ruang perjamuan utama, di lain waktu mereka akan makan berdua saja di balkon kamar ditemani kerlipan bintang dan senyuman dewi malam. Di hari-hari ketika gairah mereka tidak meletup-letup, mereka akan menghabiskannya dengan bercerita apa saja di peraduan hingga kantuk membujuk mereka ke alam mimpi—sesuatu yang baru, kejadian lucu, perihal negeri dan rencana sang raja, impian masa depan mereka.&#xA;&#xA;Segala kegelisahan. Segala kebahagiaan.&#xA;&#xA;Karena mereka akan terus bersama hingga akhir hayat nanti sebagai Alpha dan Omega.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuaabo" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuaabo</span></a></p>

<p><em>Benar saja.</em></p>

<p>Begitu Joshua menapak masuk kamar tidur barunya, ia langsung uring-uringan. Lenyap sudah bau feromonnya yang bercampur dengan feromon Mingyu. Lenyap sudah kenyamanan akan sarang mereka berdua yang selalu bisa menenangkan batin sang Omega.</p>



<p>Joshua mendengking menyedihkan ketika mereka menaruh koper-koper mereka, membuat hati Alphanya langsung terenyuh. Jelas ia bisa mencium keruhnya perubahan feromon sang Omega. Apalagi, suaminya itu mulai mengitari ruangan dan mengendus-endus sekelilingnya, menemukan samar-samar bau asing para pelayan Beta yang membenahi kamar tersebut sebelum kedatangan mereka. Bau yang meningkatkan rasa frustrasinya.</p>

<p>“<em>Mingyuuu</em>...,” ia merengek. Omega dalam dirinya terusik sedemikian rupa karena kehilangan sarangnya. Kehilangan tempat bernaung dimana ia bisa melindungi keluarganya.</p>

<p>“Ya, Sayang?” meski ia sendiri resah karena ketiadaan tanda dirinya di ruangan itu, sang Alpha dengan patuh memeluk Omeganya dari belakang, berusaha membanjiri suaminya dengan feromon sebanyak yang ia bisa untuk menenangkannya.</p>

<p>“Nggak mau,” ia mulai menggeleng. “Nggak suka. Aku nggak mau di sini. Nggak ada bau kamu. Nggak ada bau <em>kita</em>.”</p>

<p>Kim Mingyu menggertakkan gigi, diam-diam setuju dengan Omeganya. Namun, demi Joshua dan kakaknya, ia menahan diri. Alih-alih, sang Alpha menunduk untuk mengecup bekas gigitannya di kelenjar feromon Joshua, mendorong suaminya itu untuk lebih rileks dan menguarkan wangi kue natal khasnya. Pelukannya pada pinggang Joshua mengerat.</p>

<p>“<em>Ssh, ssh</em>,” bisiknya, bersama dengan kecupan-kecupan susulan menuruni sisi leher kekasihnya, lalu menetap di pertemuan leher dan bahu. “Jika tiada bau kita berdua, bukankah kita bisa memenuhinya bersama-sama mulai saat ini, Sayang?”</p>

<p><em>Oh...</em></p>

<p>“Sekarang...?” Joshua menoleh sedikit. Satu tangannya menangkup pipi Mingyu.</p>

<p>Kelopak mata sang Alpha separuh memejam, fokusnya sudah pada bibir merah sang kekasih. Kesadaran akan maksud pandangan suaminya, serta sesuatu yang terasa padat mengenai bokongnya, membuat pipi Omega muda itu tersipu manis. Lengan yang melingkari pinggangnya mengencang. Feromon Mingyu juga agak berantakan, tidak seperti biasanya. Mungkin suaminya itu sama terusiknya dengan dirinya. Sama-sama tak sabar untuk membangun sarang baru mereka.</p>

<p>Mereka bergerak hampir bersamaan: Mingyu meraup bibir Joshua dengan bibirnya dan Joshua mengalungkan kedua lengannya ke sekeliling leher Mingyu. Di saat itu, sang Alpha dan Omega mengabaikan sisi manusia mereka yang meneriakkan bahwa mereka harus menemui anggota keluarga kerajaan lainnya, harus bersiap untuk turun makan malam bersama; suara-suara yang ditembak mati oleh kebutuhan dasar kedua serigala untuk menciptakan rumah bagi mereka. Oleh hasrat untuk menautkan dan membanjuri feromon mereka di setiap sudut ruangan tersebut.</p>

<p>Karena, <em>ah</em>, apalah serigala tanpa sarangnya?</p>

<p>Seungcheol tertawa di meja makan panjang yang penuh dengan hidangan ketika seorang pelayan membungkuk meminta maaf, mengabarkan bahwa Tuan Kim dan Tuan Hong tidak dapat menghadiri perjamuan malam itu.</p>

<p>“Apakah masih ada yang bersiaga di area tempat tinggal mereka?” tanyanya.</p>

<p>Pelayan tersebut menggeleng.</p>

<p>“Bagus. Bagaimana dengan para penjaga?”</p>

<p>“Ada dua orang yang—”</p>

<p>“Tarik mereka,” Jeonghan menimpali. “Biarkan area Kim dan Hong bersih dari Alpha, Beta dan Omega lain.” Ia mengangkat cangkir untuk meminum tehnya. “Jangan ada yang mengganggu mereka bila tidak diperlukan.”</p>

<p>Pelayan itu membungkuk dan mundur. Ibu Suri tertawa perlahan sambil menutup mulutnya. Seungcheol meringis sebelum meraih tangan Omeganya untuk dikecup.</p>

<p>“Aku jadi teringat dirimu saat kau baru kuboyong ke istana ini, Sayang,” kelakarnya.</p>

<p>Jeonghan mendengus. Tanpa sadar, ia mengelus perutnya sendiri. “Kuharap Hong keluar dengan keadaan jauh lebih baik daripada aku dulu,” decaknya. “Aku seperti habis dicabik karnivora.”</p>

<p>Seungcheol tertawa lagi.</p>

<p>Namun, kekhawatiran Yoon Jeonghan nyatanya tidak diperlukan. Karena, meskipun Joshua akhirnya menunjukkan batang hidungnya di perjamuan malam berikutnya dengan bibir bengkak dan leher yang penuh bekas gigitan dan hisapan, feromon sang Omega memancarkan kebahagiaannya yang meluap-luap, puas karena kini ia memiliki sarang lagi bersama Alphanya terkasih.</p>

<p>Setelahnya, hari-hari Mingyu diisi dengan mempelajari sebanyak mungkin hal mengenai kondisi politik dan ekonomi kerajaan saat ini, serta rencana-rencana Tuan Raja, baik yang masih tertunda maupun yang sedang berlangsung. Bersama Tuan Lee dan Tuan Yoon, Kim Mingyu mencoba mengejar keterlambatannya agar ia pantas menyandang tugas penting dari kakaknya.</p>

<p>Sementara itu, Joshua menghabiskan harinya dengan membiasakan diri akan kehidupan di istana. Ia dan Mingyu menolak dibantu mandi maupun berpakaian, namun menerima antaran air hangat dan keperluan lainnya ke kamar mereka. Sang Omega menapakkan langkahnya ke segala penjuru istana sepanjang yang diperbolehkan untuknya. Ia menyukai ketenangan perpustakaan pribadi milik anggota keluarga kerajaan. Meski agak kecil dan berada di suatu sudut tersembunyi, ruangan itu memuat begitu banyak buku, dari langit-langit hingga lantai. Suasananya hangat dan sepi. Beberapa kali Mingyu menemukan Omeganya di sana, terlalu larut membaca hingga lupa waktu.</p>

<p>Tidak jarang pula Boo Seungkwan menemaninya. Sang Beta menunggu kedatangan Tuan Lee—tunangannya—untuk menjemputnya setelah rapat Dewan Tetua. Setelah menerima pinangan Alpha itu, jabatannya diputihkan dan ia diangkat menjadi salah satu calon anggota keluarga kerajaan, sehingga Seungkwan berhak berada di perpustakaan tersebut.</p>

<p>Tempat lain yang ia sukai adalah taman bunga indah lengkap dengan rumah kacanya yang memisahkan area tempat tinggal sementara Kwon Soonyoung dan Wen Junhui dengan bagian istana lainnya. Joshua kerap bertandang untuk bermain bersama kedua bayi mereka—fakta yang membuat Omeganya mendesah puas. Adalah suatu insting bagi Omega untuk menyukai dan disukai anak-anak. Jun akan membawakan makanan buatannya untuk Soonyoung dan Joshua yang tengah duduk di teras, menikmati siraman matahari senja sambil mengelusi bayi-bayi yang tertidur di pelukan mereka.</p>

<p>Dan, ketika malam turun, Joshua akan menyambut suaminya—atau sebaliknya—di kamar tidur mereka. Terkadang mereka makan malam bersama di ruang perjamuan utama, di lain waktu mereka akan makan berdua saja di balkon kamar ditemani kerlipan bintang dan senyuman dewi malam. Di hari-hari ketika gairah mereka tidak meletup-letup, mereka akan menghabiskannya dengan bercerita apa saja di peraduan hingga kantuk membujuk mereka ke alam mimpi—sesuatu yang baru, kejadian lucu, perihal negeri dan rencana sang raja, impian masa depan mereka.</p>

<p>Segala kegelisahan. Segala kebahagiaan.</p>

<p>Karena mereka akan terus bersama hingga akhir hayat nanti sebagai Alpha dan Omega.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-137</guid>
      <pubDate>Sun, 25 Dec 2022 13:50:04 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Part 136</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-136?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuaabo&#xA;&#xA;Satu minggu kemudian, seluruh penghuni terpenting di istana dikumpulkan untuk diambil sumpahnya: bahwa mereka akan menjaga kerahasiaan misi ini hingga utas nyawa terakhir mereka. Mereka lah pihak-pihak yang dipanggil dahulu saat keabsahan Kim Mingyu dalam silsilah keluarga kerajaan pertama kali terkuak ke permukaan. Tuan Wen dan Tuan Kwon, Tetua Baek, para Dewan Tetua, Jenderal Min, Tuan Lee dan semua orang yang berkedudukan tinggi lainnya hadir di sana. Meski beberapa orang masih saja berbisik-bisik kala keputusan Tuan Raja mulai dibacakan, namun mereka semua tak ayal mematuhi perintah absolut pemimpin tertinggi kerajaan mereka.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Dalam pembacaan dekrit tersebut, pada penghuni istana lainnya, termasuk para pelayan dan pengawal, akan diberikan pemahaman bahwa Tuan Raja sedang kurang  sehat dan untuk sementara, pemerintahan akan dijalankan oleh suaminya, Tuan Yoon, dan adiknya, Tuan Kim. Mereka semua mengenal Tuan Kim sebagai saudara angkat Tuan Raja dan, sampai sekarang, fakta tersebut tidak pernah melampaui dinding istana (atau, setidaknya, Kim Mingyu bisa bebas berjalan-jalan di kota tanpa ada satu warga pun yang mengetahui siapa dirinya hingga saat ini), sehingga mereka dipercaya untuk mengemban tanggung jawab yang sama akan kabar mengenai kondisi pemimpin negeri ini. Bagaimanapun, tidak ada yang menginginkan kedatangan tentara negara lain tanpa diundang dan mengambil alih pemerintahan selama raja mereka disinyalir melemah.&#xA;&#xA;Kemudian, prosesi berlangsung dengan urutan sebagai berikut:&#xA;&#xA;Tetua Baek mengundurkan diri dari jabatannya. Setelah melalui pembicaraan yang panjang nan mendalam, para Dewan Tetua sepakat menerima surat pengunduran diri Tetua Baek. Sebagai penggantinya, mereka menunjuk Tuan Lee Seokmin. Selain karena sang Alpha adalah keturunan langsung Mendiang Tetua Lee, ia dinilai sebagai sosok yang mampu mencari celah-celah yang mungkin luput dilihat Tuan Raja dan tidak ragu untuk mengutarakannya. Kehadiran Dewan Tetua sebagai penasehat resmi kerajaan diharapkan aman di tangan Tuan Lee. Tetua Baek pun tetap mengabdi dalam Dewan Tetua dan akan membantu sebisa mungkin sebagai penebus kesalah pahamannya selama ini.&#xA;&#xA;Lalu, atas dekrit yang baru saja disampaikan, Kim Mingyu beserta keluarganya diharapkan pindah ke istana mulai minggu depan. Joshua terperanjat, begitu juga halnya dengan Mingyu. Mereka sudah menduga bahwa Mingyu harus tinggal di istana selama menggantikan kakaknya, sehingga Joshua berencana menelepon ibunya untuk tinggal sementara bersamanya di kediaman keluarga Kim. Alangkah kagetnya mereka saat Joshua juga diminta turut serta. Apalagi, Yang Mulia Ibu Suri secara spesifik memohon Joshua untuk membujuk ibunya agar mau tinggal di istana juga. Meski masih terpaku, sang Omega mengangguk, jelas tidak memiliki kuasa untuk menolak permintaan Ibu Suri.&#xA;&#xA;Sungguh aneh. Pemikiran membangun sarangnya lagi dari nol mengusik ketenangan Omega dalam diri Joshua, tetapi mengingat rencana kudeta ini bisa memakan waktu berbulan-bulan, ia paham bahwa Alphanya, cepat atau lambat, akan memerlukannya di istana. Ibu Suri mendadak menggenggam kedua tangannya, membuat Joshua kembali tersadar. Tatapannya menyatakan bahwa, sebagai sesama Omega, ia paham betul kegundahan menantunya itu.&#xA;&#xA;&#34;Aku akan membantumu, Nak,&#34; bisiknya lembut. &#34;Memang berat, tapi aku akan selalu ada di sisimu.&#34; Kemudian, sebuah kedipan. &#34;Dan kupastikan Mingyu akan siap membantumu juga kapanpun kau membutuhkannya.&#34;&#xA;&#xA;Saat itu, Joshua berpikir kalau ibunya pasti bisa bersahabat baik dengan ibu Mingyu. Anak itu tersenyum dan mengangguk lagi.&#xA;&#xA;Selepas kedua pengumuman krusial tersebut, para hadirin diminta untuk bubar, menyisakan Jenderal Min, Tuan Lee, Tuan Wen dan Tuan Kwon. Mereka mulai berdiskusi mengenai rencana yang akan mereka ambil. Menyelundupkan seorang raja dan dua orang warga negara musuhnya bersama kedua bayi mereka bukanlah perkara mudah. Salah langkah sedikit bisa runyam semua rencana. Jangan sampai gegara nila setitik, rusak susu sebelanga.&#xA;&#xA;Sementara mereka berdiskusi, Joshua mulai melamun. Anak itu tidak terlalu tertarik dengan situasi politik dan, bijaknya, memilih tidak ingin tahu terlalu banyak. Mereka di sana mungkin para pejabat pemerintah, namun Joshua hanyalah rakyat biasa. Ia lebih ingin menarik Alphanya pergi dan berjalan-jalan berdua saja, namun ia paham sepenuhnya kalau Mingyu perlu berada di sana untuk mengetahui detail rencana kakaknya.&#xA;&#xA;Saat itulah, seseorang menyenggol sikutnya.&#xA;&#xA;&#34;Bosen ya,&#34; Jun meringis. Entah sejak kapan, sang Beta sudah berpindah ke sisi Joshua, sementara Soonyoung masih di samping Seungcheol, mendengarkan dengan seksama ucapan sang raja sebelum balas menyampaikan pendapatnya secara serius. Melihat Soonyoung seperti itu, rasanya imaji pangerannya menguat beberapa lapis, melesapkan imaji Omega ceria nan bersemangat (baca: emak-emak rempong) yang terpateri lekat dalam benak Joshua.&#xA;&#xA;&#34;Lo nggak ikutan?&#34; tunjuk sang Omega ke kerumunan.&#xA;&#xA;&#34;Males ah,&#34; selorohnya. &#34;Gitu-gituan urusannya Soonie. Gue mah ikut aja.&#34;&#xA;&#xA;Jun terkekeh, mengajak Joshua ikut terkekeh bersamanya. Jika dirinya sudah bersama pasangan suami itu, ia kembali menggunakan bahasa ibunya. Keberadaan Soonyoung dan Jun di dekatnya membuatnya otomatis rileks, karena Omeganya sudah terbiasa dengan percampuran harum feromon keduanya.&#xA;&#xA;&#34;Lo bakal pindah ke sini dong?&#34;&#xA;&#xA;Serta merta, Joshua bungkam. Mereka tidak saling bertatapan, melainkan bersandar ke dinding sambil melihat ke arah mereka yang masih hangat berdiskusi. Karena yang ditanya tidak kunjung menjawab, Jun melirik sedikit untuk mengintip sebelum mendengus geli.&#xA;&#xA;&#34;Yeah...I get it,&#34; sambungnya. “Pas gue sama Soonie kawin lari, dia juga uring-uringan kayak lo gini.&#34;&#xA;&#xA;Joshua menoleh.&#xA;&#xA;&#34;Baunya beda. Bukan bau dia. Bukan bau yang biasa dia cium. Bukan bau sarangnya. Dia gelisah seharian. Jujur, karena gue Beta, gue nggak begitu paham. Gue nggak masalah sama hilangnya bau familier gitu, soalnya Beta itu nggak posesif sama bau, kecuali ada bau orang lain nempel di mate-nya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terus?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya...dia marahin gue lah. Bilang gue nggak peka lah. Nyalahin gegara gue Beta lah. Coba kalo gue Alpha, pasti gue paham lah.&#34;&#xA;&#xA;Mata Joshua membulat. Terus terang, anak itu kaget Soonyoung tega bicara seperti itu terhadap suaminya sendiri. Cengiran Jun mengembang lagi.&#xA;&#xA;&#34;Daripada Soonie, kayaknya lo bakal lebih gampang deh,&#34; ucapnya. &#34;Laki lo kan Alpha. Dia bakal bisa nyium bau lo better than a Beta ever did.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Junnie.&#34;&#xA;&#xA;Namun, sang Beta mengibaskan tangan sambil lalu. &#34;Udah lewat kok. He is better now,&#34; Jun kembali menatap suaminya. Joshua pun tak ayal mengikuti arah pandangnya. &#34;...Far better. He was in a very bad place. Gue malah kagum sama dia, bisa survive sampe sekarang, bahkan mau balik ke negaranya kayak gini. Kalo gue sih udah males duluan.&#34;&#xA;&#xA;Akan ucapan terakhir itu, si anak bertanya, &#34;Lo nggak pengen balik ke negara lo kah?&#34;&#xA;&#xA;Sejenak, alis Jun mengernyit. Ia mengusap dagunya sembari membayangkan negara di Timur Jauh yang sudah lama ia tinggalkan. Berbeda dari suaminya, Jun secara sukarela angkat kaki dari sana. Bukan karena diusir, bukan karena terpaksa demi menjaga nyawa tetap di badannya seperti Soonyoung. Ia hanya datang ke kakak tertuanya suatu hari dan menyatakan bahwa ia akan pergi.&#xA;&#xA;(&#34;Kemanakah gerangan, Adikku?&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Entahlah, Baginda. Angin akan membawa langkah Hamba bersama bulir pasir.&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Pasir memiliki banyak wajah, Adikku. Mempercayai Ia yang senantiasa berubah bukanlah hal yang bijaksana.&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Hamba akan mengingatnya dalam tiap detak jantung dalam dada, Baginda.&#34;)&#xA;&#xA;…&#xA;&#xA;Good thing I packed up and leave, then. Nggak kebayang gimana gue dulu bisa berpantun tiap ngobrol biasa. Bahasa negara Soonie is the best.&#xA;&#xA;Menyadari bahwa Joshua masih menunggu responnya, sang Beta menyengir santai dan menjawab, &#34;Well, gue punya keluarga sendiri sekarang.&#34;&#xA;&#xA;Sebuah jawaban sederhana yang langsung dipahami sang Omega.&#xA;&#xA;&#34;Udah 10 menit. Harusnya susu mereka udah anget. Lo mau ikut gue?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ngapain?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Waktu makan si kembar dong.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Panik adalah sebuah perendahan dari apa yang menyambar Kim Mingyu saat ia, akhirnya, sadar bahwa Joshua telah menghilang dari ruangan. Feromonnya meliar untuk sejenak karena serigalanya langsung gelisah akan ketiadaan kekasihnya, hanya untuk Soonyoung tenangkan dengan penjelasan bahwa Joshua sedang membantu Jun menyusui bayi-bayinya.&#xA;&#xA;Seketika, kelegaan. Lalu, sebuah rasa penasaran.&#xA;&#xA;Sebelum menikah, Joshua dengan jelas menyampaikan keengganannya memiliki anak. Ia ingin hidup bersama Mingyu berdua saja sampai ia merasa sanggup menjadi orangtua. Lagipula, ia masih terlalu muda, masih ingin menapaki dunia dan pulang ke pelukan suaminya seperti janji Mingyu padanya. Mereka membahasnya lagi di malam pernikahan mereka, bahwa ia belum ingin memiliki anak. Mingyu, atas keduanya, langsung mengiyakan. Bukan ia yang akan membawa bayi itu di dalam perutnya, tapi Omeganya. Bila Joshua belum siap, maka ia belum siap. Sesederhana itu.&#xA;&#xA;Bila Joshua tidak pernah menghendaki pun tidak apa. Ia akan sedikit sedih karena tidak akan pernah menggendong versi mini darinya dan Joshua, namun ia akan menghormati apapun keputusan pasangannya.&#xA;&#xA;Ketika kau menikah, artinya kau menerimanya, seluruhnya, seutuhnya, tanpa terkecuali, termasuk segala keputusannya.&#xA;&#xA;Dan Mingyu menerima Joshua seperti itu.&#xA;&#xA;(Ah, Alpha kita, begitu lemah terhadap Omeganya... Mereka akan perlu belajar bagaimana toleransi sesama pasangan akan diperlukan dalam kehidupan pernikahan di atas penerimaan, namun itu masih nanti. Mereka toh punya waktu bertahun-tahun lamanya untuk belajar menjadi sepasang suami dan—mungkin, suatu hari—orangtua.)&#xA;&#xA;Soonyoung mengetuk pintu kamar perlahan dan Jun membukanya. Segera saja sang Beta menaruh telunjuk di depan mulut, memperingatkan kedua orang yang baru datang itu untuk tidak berisik.&#xA;&#xA;&#34;Makan lahap dan ngerecokin Josh, terus pada ketiduran,&#34; kekehnya pada Mingyu. Tangannya sibuk mengelusi punggung Soonyoung yang segera memeluk suaminya begitu pintu dibuka, terlalu letih oleh bahasan politik dan terlalu merindukan bau khas hutan bambu suaminya yang menenangkan. &#34;Kupikir mereka bakalan rewel karena Soonie nggak ada, cuma ada aku, tapi rupanya mereka seneng ada Josh juga sampe nggak mau ditinggal. Sori ya, Gyu. Dia jadi nggak bisa balik soalnya si kembar nangis pas dia mau pergi.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu menapak masuk kamar pasangan suami itu yang kental berbau susu. Ia separuh mendengarkan Jun, separuh tidak. Pasalnya, Omeganya ada di sana, tertidur pulas di kasur empuk dan memeluk kedua bayi gempal tersebut, seakan mereka enggan terpisah satu sama lain.&#xA;&#xA;Hati kecil Kim Mingyu bergetar melihat Omeganya bersama bayi.&#xA;&#xA;Ia lalu berlutut di samping ranjang dan mengelus lembut pipi kekasihnya, mengabaikan Soonyoung dan Jun yang tersenyum menyaksikan mereka.&#xA;&#xA;&#34;One day,&#34; Soonyoung bergumam. &#34;Dia bakal jadi ibu yang baik.&#34;&#xA;&#xA;Oh, wouldn&#39;t Kim Mingyu hope that with all his heart?&#xA;&#xA;Sang Alpha hanya bisa memandangi wajah damai Omeganya sambil berdoa kalau, suatu hari, ia akan bisa memeluk Joshua dan anak mereka dalam satu pelukan besar. Sebuah impian nun jauh di sana.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuaabo" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuaabo</span></a></p>

<p>Satu minggu kemudian, seluruh penghuni terpenting di istana dikumpulkan untuk diambil sumpahnya: bahwa mereka akan menjaga kerahasiaan misi ini hingga utas nyawa terakhir mereka. Mereka lah pihak-pihak yang dipanggil dahulu saat keabsahan Kim Mingyu dalam silsilah keluarga kerajaan pertama kali terkuak ke permukaan. Tuan Wen dan Tuan Kwon, Tetua Baek, para Dewan Tetua, Jenderal Min, Tuan Lee dan semua orang yang berkedudukan tinggi lainnya hadir di sana. Meski beberapa orang masih saja berbisik-bisik kala keputusan Tuan Raja mulai dibacakan, namun mereka semua tak ayal mematuhi perintah absolut pemimpin tertinggi kerajaan mereka.</p>



<p>Dalam pembacaan dekrit tersebut, pada penghuni istana lainnya, termasuk para pelayan dan pengawal, akan diberikan pemahaman bahwa Tuan Raja sedang kurang  sehat dan untuk sementara, pemerintahan akan dijalankan oleh suaminya, Tuan Yoon, dan adiknya, Tuan Kim. Mereka semua mengenal Tuan Kim sebagai saudara angkat Tuan Raja dan, sampai sekarang, fakta tersebut tidak pernah melampaui dinding istana (atau, setidaknya, Kim Mingyu bisa bebas berjalan-jalan di kota tanpa ada satu warga pun yang mengetahui siapa dirinya hingga saat ini), sehingga mereka dipercaya untuk mengemban tanggung jawab yang sama akan kabar mengenai kondisi pemimpin negeri ini. Bagaimanapun, tidak ada yang menginginkan kedatangan tentara negara lain tanpa diundang dan mengambil alih pemerintahan selama raja mereka disinyalir melemah.</p>

<p>Kemudian, prosesi berlangsung dengan urutan sebagai berikut:</p>

<p>Tetua Baek mengundurkan diri dari jabatannya. Setelah melalui pembicaraan yang panjang nan mendalam, para Dewan Tetua sepakat menerima surat pengunduran diri Tetua Baek. Sebagai penggantinya, mereka menunjuk Tuan Lee Seokmin. Selain karena sang Alpha adalah keturunan langsung Mendiang Tetua Lee, ia dinilai sebagai sosok yang mampu mencari celah-celah yang mungkin luput dilihat Tuan Raja dan tidak ragu untuk mengutarakannya. Kehadiran Dewan Tetua sebagai penasehat resmi kerajaan diharapkan aman di tangan Tuan Lee. Tetua Baek pun tetap mengabdi dalam Dewan Tetua dan akan membantu sebisa mungkin sebagai penebus kesalah pahamannya selama ini.</p>

<p>Lalu, atas dekrit yang baru saja disampaikan, Kim Mingyu beserta keluarganya diharapkan pindah ke istana mulai minggu depan. Joshua terperanjat, begitu juga halnya dengan Mingyu. Mereka sudah menduga bahwa Mingyu harus tinggal di istana selama menggantikan kakaknya, sehingga Joshua berencana menelepon ibunya untuk tinggal sementara bersamanya di kediaman keluarga Kim. Alangkah kagetnya mereka saat Joshua juga diminta turut serta. Apalagi, Yang Mulia Ibu Suri secara spesifik <em>memohon</em> Joshua untuk membujuk ibunya agar mau tinggal di istana juga. Meski masih terpaku, sang Omega mengangguk, jelas tidak memiliki kuasa untuk menolak permintaan Ibu Suri.</p>

<p><em>Sungguh aneh</em>. Pemikiran membangun sarangnya lagi dari nol mengusik ketenangan Omega dalam diri Joshua, tetapi mengingat rencana kudeta ini bisa memakan waktu berbulan-bulan, ia paham bahwa Alphanya, cepat atau lambat, akan memerlukannya di istana. Ibu Suri mendadak menggenggam kedua tangannya, membuat Joshua kembali tersadar. Tatapannya menyatakan bahwa, sebagai sesama Omega, ia paham betul kegundahan menantunya itu.</p>

<p>“Aku akan membantumu, Nak,” bisiknya lembut. “Memang berat, tapi aku akan selalu ada di sisimu.” Kemudian, sebuah kedipan. “Dan kupastikan Mingyu akan siap membantumu juga kapanpun kau membutuhkannya.”</p>

<p>Saat itu, Joshua berpikir kalau ibunya pasti bisa bersahabat baik dengan ibu Mingyu. Anak itu tersenyum dan mengangguk lagi.</p>

<p>Selepas kedua pengumuman krusial tersebut, para hadirin diminta untuk bubar, menyisakan Jenderal Min, Tuan Lee, Tuan Wen dan Tuan Kwon. Mereka mulai berdiskusi mengenai rencana yang akan mereka ambil. Menyelundupkan seorang raja dan dua orang warga negara musuhnya bersama kedua bayi mereka bukanlah perkara mudah. Salah langkah sedikit bisa runyam semua rencana. Jangan sampai gegara nila setitik, rusak susu sebelanga.</p>

<p>Sementara mereka berdiskusi, Joshua mulai melamun. Anak itu tidak terlalu tertarik dengan situasi politik dan, bijaknya, memilih tidak ingin tahu terlalu banyak. Mereka di sana mungkin para pejabat pemerintah, namun Joshua hanyalah rakyat biasa. Ia lebih ingin menarik Alphanya pergi dan berjalan-jalan berdua saja, namun ia paham sepenuhnya kalau Mingyu perlu berada di sana untuk mengetahui detail rencana kakaknya.</p>

<p>Saat itulah, seseorang menyenggol sikutnya.</p>

<p>“Bosen ya,” Jun meringis. Entah sejak kapan, sang Beta sudah berpindah ke sisi Joshua, sementara Soonyoung masih di samping Seungcheol, mendengarkan dengan seksama ucapan sang raja sebelum balas menyampaikan pendapatnya secara serius. Melihat Soonyoung seperti itu, rasanya imaji pangerannya menguat beberapa lapis, melesapkan imaji Omega ceria nan bersemangat (<em>baca: emak-emak rempong</em>) yang terpateri lekat dalam benak Joshua.</p>

<p>“Lo nggak ikutan?” tunjuk sang Omega ke kerumunan.</p>

<p>“Males ah,” selorohnya. “Gitu-gituan urusannya Soonie. Gue mah ikut aja.”</p>

<p>Jun terkekeh, mengajak Joshua ikut terkekeh bersamanya. Jika dirinya sudah bersama pasangan suami itu, ia kembali menggunakan bahasa ibunya. Keberadaan Soonyoung dan Jun di dekatnya membuatnya otomatis rileks, karena Omeganya sudah terbiasa dengan percampuran harum feromon keduanya.</p>

<p>“Lo bakal pindah ke sini dong?”</p>

<p>Serta merta, Joshua bungkam. Mereka tidak saling bertatapan, melainkan bersandar ke dinding sambil melihat ke arah mereka yang masih hangat berdiskusi. Karena yang ditanya tidak kunjung menjawab, Jun melirik sedikit untuk mengintip sebelum mendengus geli.</p>

<p>“Yeah...I get it,” sambungnya. “Pas gue sama Soonie kawin lari, dia juga uring-uringan kayak lo gini.”</p>

<p>Joshua menoleh.</p>

<p>“Baunya beda. Bukan bau dia. Bukan bau yang biasa dia cium. Bukan bau sarangnya. Dia gelisah seharian. Jujur, karena gue Beta, gue nggak begitu paham. Gue nggak masalah sama hilangnya bau familier gitu, soalnya Beta itu nggak posesif sama bau, kecuali ada bau orang lain nempel di mate-nya.”</p>

<p>“Terus?”</p>

<p>“Ya...dia marahin gue lah. Bilang gue nggak peka lah. Nyalahin gegara gue Beta lah. Coba kalo gue Alpha, pasti gue paham lah.”</p>

<p>Mata Joshua membulat. Terus terang, anak itu kaget Soonyoung tega bicara seperti itu terhadap suaminya sendiri. Cengiran Jun mengembang lagi.</p>

<p>“Daripada Soonie, kayaknya lo bakal lebih gampang deh,” ucapnya. “Laki lo kan Alpha. Dia bakal bisa nyium bau lo better than a Beta ever did.”</p>

<p>“<em>Junnie</em>.”</p>

<p>Namun, sang Beta mengibaskan tangan sambil lalu. “Udah lewat kok. He is better now,” Jun kembali menatap suaminya. Joshua pun tak ayal mengikuti arah pandangnya. “...<em>Far</em> better. He was in a very bad place. Gue malah kagum sama dia, bisa survive sampe sekarang, bahkan mau balik ke negaranya kayak gini. Kalo gue sih udah males duluan.”</p>

<p>Akan ucapan terakhir itu, si anak bertanya, “Lo nggak pengen balik ke negara lo kah?”</p>

<p>Sejenak, alis Jun mengernyit. Ia mengusap dagunya sembari membayangkan negara di Timur Jauh yang sudah lama ia tinggalkan. Berbeda dari suaminya, Jun secara sukarela angkat kaki dari sana. Bukan karena diusir, bukan karena terpaksa demi menjaga nyawa tetap di badannya seperti Soonyoung. Ia hanya datang ke kakak tertuanya suatu hari dan menyatakan bahwa ia akan pergi.</p>

<p><em>(“Kemanakah gerangan, Adikku?”)</em></p>

<p><em>(“Entahlah, Baginda. Angin akan membawa langkah Hamba bersama bulir pasir.”)</em></p>

<p><em>(“Pasir memiliki banyak wajah, Adikku. Mempercayai Ia yang senantiasa berubah bukanlah hal yang bijaksana.”)</em></p>

<p><em>(“Hamba akan mengingatnya dalam tiap detak jantung dalam dada, Baginda.”)</em></p>

<p>…</p>

<p><em>Good thing I packed up and leave, then. Nggak kebayang gimana gue dulu bisa berpantun tiap ngobrol biasa. Bahasa negara Soonie is the best.</em></p>

<p>Menyadari bahwa Joshua masih menunggu responnya, sang Beta menyengir santai dan menjawab, “Well, gue punya keluarga sendiri sekarang.”</p>

<p>Sebuah jawaban sederhana yang langsung dipahami sang Omega.</p>

<p>“Udah 10 menit. Harusnya susu mereka udah anget. Lo mau ikut gue?”</p>

<p>“Ngapain?”</p>

<p>“Waktu makan si kembar dong.”</p>

<hr/>

<p><em>Panik</em> adalah sebuah perendahan dari apa yang menyambar Kim Mingyu saat ia, akhirnya, sadar bahwa Joshua telah menghilang dari ruangan. Feromonnya meliar untuk sejenak karena serigalanya langsung gelisah akan ketiadaan kekasihnya, hanya untuk Soonyoung tenangkan dengan penjelasan bahwa Joshua sedang membantu Jun menyusui bayi-bayinya.</p>

<p>Seketika, kelegaan. Lalu, sebuah rasa penasaran.</p>

<p>Sebelum menikah, Joshua dengan jelas menyampaikan keengganannya memiliki anak. Ia ingin hidup bersama Mingyu berdua saja sampai ia merasa sanggup menjadi orangtua. Lagipula, ia masih terlalu muda, masih ingin menapaki dunia dan pulang ke pelukan suaminya seperti janji Mingyu padanya. Mereka membahasnya lagi di malam pernikahan mereka, bahwa ia belum ingin memiliki anak. Mingyu, atas keduanya, langsung mengiyakan. Bukan ia yang akan membawa bayi itu di dalam perutnya, tapi Omeganya. Bila Joshua belum siap, maka ia belum siap. Sesederhana itu.</p>

<p>Bila Joshua tidak pernah menghendaki pun tidak apa. Ia akan sedikit sedih karena tidak akan pernah menggendong versi mini darinya dan Joshua, namun ia akan menghormati apapun keputusan pasangannya.</p>

<p>Ketika kau menikah, artinya kau menerimanya, seluruhnya, seutuhnya, tanpa terkecuali, termasuk segala keputusannya.</p>

<p>Dan Mingyu menerima Joshua seperti itu.</p>

<p><em>(Ah, Alpha kita, begitu lemah terhadap Omeganya... Mereka akan perlu belajar bagaimana toleransi sesama pasangan akan diperlukan dalam kehidupan pernikahan di atas penerimaan, namun itu masih nanti. Mereka toh punya waktu bertahun-tahun lamanya untuk belajar menjadi sepasang suami dan—mungkin, suatu hari—orangtua.)</em></p>

<p>Soonyoung mengetuk pintu kamar perlahan dan Jun membukanya. Segera saja sang Beta menaruh telunjuk di depan mulut, memperingatkan kedua orang yang baru datang itu untuk tidak berisik.</p>

<p>“Makan lahap dan ngerecokin Josh, terus pada ketiduran,” kekehnya pada Mingyu. Tangannya sibuk mengelusi punggung Soonyoung yang segera memeluk suaminya begitu pintu dibuka, terlalu letih oleh bahasan politik dan terlalu merindukan bau khas hutan bambu suaminya yang menenangkan. “Kupikir mereka bakalan rewel karena Soonie nggak ada, cuma ada aku, tapi rupanya mereka seneng ada Josh juga sampe nggak mau ditinggal. Sori ya, Gyu. Dia jadi nggak bisa balik soalnya si kembar nangis pas dia mau pergi.”</p>

<p>Mingyu menapak masuk kamar pasangan suami itu yang kental berbau susu. Ia separuh mendengarkan Jun, separuh tidak. Pasalnya, Omeganya ada di sana, tertidur pulas di kasur empuk dan memeluk kedua bayi gempal tersebut, seakan mereka enggan terpisah satu sama lain.</p>

<p>Hati kecil Kim Mingyu bergetar melihat Omeganya bersama <em>bayi</em>.</p>

<p>Ia lalu berlutut di samping ranjang dan mengelus lembut pipi kekasihnya, mengabaikan Soonyoung dan Jun yang tersenyum menyaksikan mereka.</p>

<p>“One day,” Soonyoung bergumam. “Dia bakal jadi ibu yang baik.”</p>

<p><em>Oh, wouldn&#39;t Kim Mingyu hope that with all his heart?</em></p>

<p>Sang Alpha hanya bisa memandangi wajah damai Omeganya sambil berdoa kalau, suatu hari, ia akan bisa memeluk Joshua dan anak mereka dalam satu pelukan besar. Sebuah impian nun jauh di sana.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-136</guid>
      <pubDate>Sat, 17 Dec 2022 18:04:17 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Part 135</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-135?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuaabo&#xA;&#xA;&#34;Terus terang, saya kurang yakin bisa memenuhi harapan Kakak, tapi bila memang ada satu hal yang bisa saya lakukan untuk membantu negara ini...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mingyu...&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Terduduklah Tuan Raja di ruang kerja pribadinya. Omeganya di satu sisi dan Yang Mulia Ibu Suri di sisi satunya. Mereka separuh tidak mengharapkan kedatangan anggota keluarga termuda mereka di hari itu tanpa kabar ke istana, namun di situlah Kim Mingyu berdiri, persis di hadapan mereka. Sang Alpha nampak rileks berada di sisi Omeganya. Sementara itu, Tuan Lee bersandar ke dinding dengan lengan terlipat di dada. Ia buru-buru menyelinap ke ruang kerja Tuan Raja saat mendengar penjaga gerbang menyahutkan kedatangan Mingyu.&#xA;&#xA;&#34;Apakah...apakah kau yakin, Adikku?&#34; tanya sang raja. &#34;Aku pastikan keyakinanku saat memilihmu, tapi apabila...kejadian kemarin membuatmu tidak berkehendak, maka lupakanlah. Tak ada yang lebih kubenci selain membuatmu mengorbankan kebahagiaanmu—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kak Cheol, saya—&#34; Mingyu menggeleng sebelum tersenyum amat lebar, memamerkan deretan sempurna geliginya, membuat Tuan Raja dan Tuan Lee tersentak, sedangkan Tuan Yoon refleks menutup mulutnya dengan tangan. Senyuman khas si Kim Mingyu Kecil yang dahulu sering mengintil mereka bermain petak umpet di halaman istana. Jenis senyuman yang sudah lama tak dilihat Yoon Jeonghan. &#34;—Aku hanyalah anak tidak dikenal yang tiba-tiba datang ke kehidupan Kakak. Seharusnya Kakak bisa dengan mudah membenciku. Namun, Kakak bukan hanya membagi orangtua Kakak denganku, tapi juga memelukku seakan aku benar-benar adik kandung Kakak.&#xA;&#xA;Aku sadar aku telah merepotkan Kakak. Sekarang, biarkan adikmu ini membantu Kakak dengan segala keterbatasanku sebagai rasa terima kasihku atas semua yang telah Kakak berikan padaku.&#34;&#xA;&#xA;Kim Mingyu menundukkan kepala, memberikan rasa hormatnya pada raja dan kakaknya satu-satunya. Pada Alpha utama di hatinya. Tanpa ia sadari, Tuan Raj—ah, Seungcheol sudah bertolak dari kursinya, mendekati dan menepuk bahu Mingyu, membuat sang Alpha terkejut karena Seungcheol tetau saja menariknya ke dalam pelukan erat. Mata sang Alpha yang lebih tua itu pun berkaca-kaca.&#xA;&#xA;&#34;...Bicara apa kau, Bodoh. Aku mencintaimu tanpa mengharapkan balas budimu,&#34; bisiknya. Hidungnya mengusrek bahu Mingyu, menghirup harum samar-samar rumah yang sama dari adiknya itu.  &#34;Kakak macam apa yang mengharapkan rasa terima kasih dari adiknya...&#34;&#xA;&#xA;Mingyu tertawa, meski pandangannya pun mulai nanar oleh haru. Ia balas melingkarkan lengan tanpa ragu di sekeliling tubuh Seungcheol, menikmati pelukan hangat saudara sebagaimana mereka kecil dulu. &#34;Aku tahu,&#34; jawabnya. &#34;Tapi biarkan aku membantumu, Kak. Aku akan berusaha sebaiknya menjalankan tugasmu selama kau pergi.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Benar kau tidak apa...?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tentu saja,&#34; feromon Kim Mingyu semakin memancar bahagia ketika sebuah tangan mengelus bagian belakang kepalanya. Tangan seorang Omega yang juga ia cintai sepenuh hati. &#34;Bukankah aku memiliki Kak Han, mentor terbaikku dalam pemerintahan, untuk membantuku?&#34;&#xA;&#xA;Mingyu menoleh dan ditemukannya paras sang Omega dengan pipi yang basah oleh air mata. Jeonghan meringis lebar sebelum berjinjit sedikit untuk mengecup pipi adik ipar sekaligus sahabat pertama yang ia miliki itu. Mingyu tertawa lagi, ringan, bahagia di antara kasih sayang kedua orang yang telah bersamanya berpuluh tahun lamanya, dalam suka maupun duka.&#xA;&#xA;Ia memejamkan mata, menikmati pelukan sang Alpha dan Omega, sebelum feromon Alpha lain menyusruk ikut serta. Mingyu tak perlu membuka mata untuk mengetahui Seokmin menimbrung pelukan mereka. Seungcheol mendecak, memaki Seokmin sambil bercanda. Jeonghan hanya tertawa dan ikut meraih kepala Seokmin. Berempat, mereka terdiam sejenak seperti itu, berpelukan dengan satu sama lain.&#xA;&#xA;Sang kakak. Kekasih kakak, juga sahabatnya. Sepupunya.&#xA;&#xA;Begitu banyak orang yang memberikannya cinta selama ini. Begitu banyak kasih tanpa pamrih diberikan padanya. Di saat dunia ini penuh oleh orang-orang yang haus akan cinta, yang rela mengemis demi secuil saja perhatian orang lain terhadapnya, nyatanya, Kim Mingyu tidak sekalipun dibesarkan kekurangan akan cinta.&#xA;&#xA;Saudara-saudaranya. Istana ini. Negaranya.&#xA;&#xA;Saat pelukan mereka terlepas dan Seungcheol menjauh, Yang Mulia Ibu Suri telah berada di situ. Fokus Mingyu segera tercuri oleh ibunya. Oleh wanita yang telah membesarkan anak yang tak ada hubungan darah dengannya sama sekali dengan sepenuh hati.&#xA;&#xA;&#34;Ibunda...&#34;&#xA;&#xA;Sang Alpha, meski tubuhnya lebih besar dan mengintimidasi, langsung jatuh terduduk tak berdaya di hadapan sang Omega. Yang Mulia Ibu Suri terkesiap, segera berjongkok untuk meminta putranya berdiri. Namun, Mingyu tidak mau. Maka, Ibu Suri tak punya pilihan selain memeluk anaknya di lantai ruang kerja Seungcheol.&#xA;&#xA;&#34;Maafkan aku...,&#34; ucapnya penuh getir. &#34;Maafkan aku karena sempat berpikir buruk pada Ibunda. Maafkan aku karena aku sempat merasa marah pada Ibunda dan Mendiang Ayahanda. Maafkan aku...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mingyu...,&#34; Ibu Suri menggeleng. Terduduk di lantai, mereka saling bertatapan kini. Ditangkupnya pipi sang Alpha. Ibu jari setia menghapusi tiap bulir tangis yang keluar dari sudut mata putranya. &#34;Oh, anakku sayang, Mingyu... Apa yang perlu kau mintakan maaf, Nak? Aku dan Mendiang Baginda telah menyembunyikan orangtua kandungmu. Wajar jika kau marah pada kami—&#34;&#xA;&#xA;Kim Mingyu menggeleng. Ia menggeleng kuat-kuat sambil memegangi kedua tangan ibunya di pipi. Ia menggeleng terus hingga perkataan ibunya terhenti.&#xA;&#xA;&#34;Ibunda adalah ibuku.&#34;&#xA;&#xA;Mata Ibu Suri membulat. &#34;Oh...,&#34; tangis diam-diam meleleh dari mata sang Omega.&#xA;&#xA;&#34;Mendiang Ayahanda adalah ayahku. Ibunda dan Mendiang Ayahanda adalah orangtuaku,&#34; ucapnya tegas. Tatapnya jelas. Tidak ada keraguan, kali ini, di mata Kim Mingyu ketika menyatakannya. Berkebalikan darinya, wajah Yang Mulia Ibu Suri mulai basah oleh air mata. &#34;Aku mungkin lahir dari orangtua yang berbeda, namun Ibunda dan Mendiang Ayahanda lah yang telah membesarkanku. Bagaimanapun masa laluku, kalian lah orangtua yang sesungguhnya bagiku.&#xA;&#xA;Karena itu, biarkan aku meminta maaf atas kelancanganku. Dan—&#34;&#xA;&#xA;Mingyu mengelus lembut tangan ibunya.&#xA;&#xA;&#34;—biarkan aku mengatakan bahwa aku mencintaimu, Ibuku.&#34;&#xA;&#xA;Tangis pun pecah. Yang Mulia Ibu Suri menggamit leher anaknya dan menumpahkan ke dalam satu pelukan erat segala haru biru yang meluap dari akumulasi perasaannya sejak mereka menemukan Kim Mingyu kecil di jalanan sana. Sejak mendiang suaminya memintanya untuk tidak kaget melihat kondisi anak itu saat dibawa ke istana. Sejak ia menyaksikan bagaimana tubuh mungil itu dipenuhi lebam dan luka yang tidak pada tempatnya, menghiasi sekujur tubuh berupa tulang berbalut kulit semata.&#xA;&#xA;Kini, anak yang sama telah tumbuh menjadi Alpha yang baik, suami yang penyayang dan anak kebanggaan mereka.&#xA;&#xA;Suamiku, lihatlah.&#xA;&#xA;Keningnya bersandar di kening Mingyu.&#xA;&#xA;Anak kita telah sebegini hebatnya. Anak kita telah tumbuh menjadi orang yang baik. Lihatlah, dan banggalah kau di sana, Sayang.&#xA;&#xA;&#34;Aku bangga padamu, Putraku,&#34; bisiknya. &#34;Mendiang Baginda pun pasti bangga padamu...&#34;&#xA;&#xA;Mingyu tidak bisa berhenti menangis. Ia memeluk ibunya lagi. Mengapa ia menahan diri untuk tidak menghujani cinta pada ibunya sendiri, ia tak tahu. Mengapa ia memilih untuk menjauhi keluarganya, memastikan dirinya sebisa mungkin menghilang dari kehidupan di kerajaan hanya karena omongan orang-orang yang menyebutnya tak pantas berada di sana, sungguh ia tak tahu. Menoleh ke belakang, sekarang, semua nampak konyol.&#xA;&#xA;Konyol. Bodoh. Kim Mingyu Alpha yang bodoh. Ia menyia-nyiakan cinta keluarganya hanya karena rumor tak bertuan. Menganggap dirinya si anak malang yang tak tahu orangtuanya siapa. Berkubang dalam gundah gulana detik demi detik.&#xA;&#xA;Padahal, lihatlah.&#xA;&#xA;Bukalah matamu.&#xA;&#xA;Bukankah sebegini banyaknya orang yang mencintaimu, persis di hadapanmu?&#xA;&#xA;Joshua.&#xA;&#xA;Ketika ibunya melepaskan pelukan mereka dan Seungcheol serta Jeonghan membantu mereka berdiri, Mingyu serta merta membalikkan badan. Di sana, masih berdiri di tempat yang sama, Omeganya tersenyum senang. Hidungnya memerah sedikit dan ada sisa air mata mengering di pipi, namun ia tetap cantik seperti biasanya.&#xA;&#xA;Satu, dua langkah lebar dan, tetiba saja, Joshua Hong telah diangkat ke dalam gendongan. Lengan-lengan kuat suaminya melingkari pinggang dan lututnya. Joshua memekik karena terkejut, tapi Mingyu tidak memedulikan itu. Ia mencari dan menemukan bibir kekasihnya, lalu menciumi Joshua hingga sang Omega hampir kehabisan napas.&#xA;&#xA;&#34;Terima kasih, Sayang…,&#34; gumamnya ke bibir Joshua di sela-sela tarikan napas. &#34;Terima kasih...&#34;&#xA;&#xA;Andai Joshua tidak bersamanya...&#xA;&#xA;Andai Joshua tidak menyadarkannya...&#xA;&#xA;Satu ciuman terakhir, kemudian mereka berakhir dengan kening bersandar pada satu sama lain. Ujung hidung mereka menempel, membuat hembusan napas hangat Mingyu terasa di bibir Joshua. Ia masih digendong suaminya seakan ia tidak memiliki beban.&#xA;&#xA;&#34;Aku mencintaimu...,&#34; Mingyu berbisik.&#xA;&#xA;&#34;Mm,&#34; Joshua meringis. Matanya berkilau oleh kebahagiaan. &#34;Aku juga...&#34;&#xA;&#xA;Tanpa disadari pasangan Alpha dan Omega itu, empat orang lainnya tersenyum menyaksikan kegilaan tersebut. Seungcheol sempat melongo tak percaya saat Mingyu menciumi Joshua di depan mereka, sedangkan Jeonghan dan Seokmin tertawa keras-keras. Yang Mulia Ibu Suri menyentuh pipinya sendiri yang merona, senang melihat betapa bahagianya putra dan pasangannya itu sambil berdoa semoga mereka terus diberikan kebahagiaan hingga akhir hayatnya.&#xA;&#xA;Kim Mingyu, sang Alpha kesayangan kita, kini terlepas dari ketakutan yang telah diseretnya seumur hidup. Ia bisa bebas melimpahkan cintanya pada semua orang yang ia kehendaki—Omeganya, orangtuanya, kakaknya, sahabat dan sepupunya, juga pada semua yang telah menyayanginya. Ia memiliki begitu banyak cinta yang mendorongnya hingga saat ini. Mulai sekarang, ia akan hidup dengan segala vitalitas dan potensi yang ia miliki. Ia akan mulai melangkah sebagaimana dirinya yang sejati: seorang Alpha.&#xA;&#xA;Tidak ada lagi keraguan.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuaabo" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuaabo</span></a></p>

<p>“Terus terang, saya kurang yakin bisa memenuhi harapan Kakak, tapi bila memang ada satu hal yang bisa saya lakukan untuk membantu negara ini...”</p>

<p>“Mingyu...”</p>



<p>Terduduklah Tuan Raja di ruang kerja pribadinya. Omeganya di satu sisi dan Yang Mulia Ibu Suri di sisi satunya. Mereka separuh tidak mengharapkan kedatangan anggota keluarga termuda mereka di hari itu tanpa kabar ke istana, namun di situlah Kim Mingyu berdiri, persis di hadapan mereka. Sang Alpha nampak rileks berada di sisi Omeganya. Sementara itu, Tuan Lee bersandar ke dinding dengan lengan terlipat di dada. Ia buru-buru menyelinap ke ruang kerja Tuan Raja saat mendengar penjaga gerbang menyahutkan kedatangan Mingyu.</p>

<p>“Apakah...apakah kau yakin, Adikku?” tanya sang raja. “Aku pastikan keyakinanku saat memilihmu, tapi apabila...kejadian kemarin membuatmu tidak berkehendak, maka lupakanlah. Tak ada yang lebih kubenci selain membuatmu mengorbankan kebahagiaanmu—”</p>

<p>“Kak Cheol, saya—” Mingyu menggeleng sebelum tersenyum amat lebar, memamerkan deretan sempurna geliginya, membuat Tuan Raja dan Tuan Lee tersentak, sedangkan Tuan Yoon refleks menutup mulutnya dengan tangan. Senyuman khas si Kim Mingyu Kecil yang dahulu sering mengintil mereka bermain petak umpet di halaman istana. Jenis senyuman yang sudah lama tak dilihat Yoon Jeonghan. “—<em>Aku</em> hanyalah anak tidak dikenal yang tiba-tiba datang ke kehidupan Kakak. Seharusnya Kakak bisa dengan mudah membenciku. Namun, Kakak bukan hanya membagi orangtua Kakak denganku, tapi juga memelukku seakan aku benar-benar adik kandung Kakak.</p>

<p>Aku sadar aku telah merepotkan Kakak. Sekarang, biarkan <em>adikmu</em> ini membantu Kakak dengan segala keterbatasanku sebagai rasa terima kasihku atas semua yang telah Kakak berikan padaku.”</p>

<p>Kim Mingyu menundukkan kepala, memberikan rasa hormatnya pada raja dan kakaknya satu-satunya. Pada Alpha utama di hatinya. Tanpa ia sadari, Tuan Raj—ah, <em>Seungcheol</em> sudah bertolak dari kursinya, mendekati dan menepuk bahu Mingyu, membuat sang Alpha terkejut karena Seungcheol tetau saja menariknya ke dalam pelukan erat. Mata sang Alpha yang lebih tua itu pun berkaca-kaca.</p>

<p>”...Bicara apa kau, Bodoh. Aku mencintaimu tanpa mengharapkan balas budimu,” bisiknya. Hidungnya mengusrek bahu Mingyu, menghirup harum samar-samar rumah yang sama dari adiknya itu.  “Kakak macam apa yang mengharapkan rasa terima kasih dari adiknya...”</p>

<p>Mingyu tertawa, meski pandangannya pun mulai nanar oleh haru. Ia balas melingkarkan lengan tanpa ragu di sekeliling tubuh Seungcheol, menikmati pelukan hangat saudara sebagaimana mereka kecil dulu. “Aku tahu,” jawabnya. “Tapi biarkan aku membantumu, Kak. Aku akan berusaha sebaiknya menjalankan tugasmu selama kau pergi.”</p>

<p>“Benar kau tidak apa...?”</p>

<p>“Tentu saja,” feromon Kim Mingyu semakin memancar bahagia ketika sebuah tangan mengelus bagian belakang kepalanya. Tangan seorang Omega yang juga ia cintai sepenuh hati. “Bukankah aku memiliki Kak Han, mentor terbaikku dalam pemerintahan, untuk membantuku?”</p>

<p>Mingyu menoleh dan ditemukannya paras sang Omega dengan pipi yang basah oleh air mata. Jeonghan meringis lebar sebelum berjinjit sedikit untuk mengecup pipi adik ipar sekaligus sahabat pertama yang ia miliki itu. Mingyu tertawa lagi, ringan, bahagia di antara kasih sayang kedua orang yang telah bersamanya berpuluh tahun lamanya, dalam suka maupun duka.</p>

<p>Ia memejamkan mata, menikmati pelukan sang Alpha dan Omega, sebelum feromon Alpha lain menyusruk ikut serta. Mingyu tak perlu membuka mata untuk mengetahui Seokmin menimbrung pelukan mereka. Seungcheol mendecak, memaki Seokmin sambil bercanda. Jeonghan hanya tertawa dan ikut meraih kepala Seokmin. Berempat, mereka terdiam sejenak seperti itu, berpelukan dengan satu sama lain.</p>

<p>Sang kakak. Kekasih kakak, juga sahabatnya. Sepupunya.</p>

<p>Begitu banyak orang yang memberikannya cinta selama ini. Begitu banyak kasih tanpa pamrih diberikan padanya. Di saat dunia ini penuh oleh orang-orang yang haus akan cinta, yang rela mengemis demi secuil saja perhatian orang lain terhadapnya, nyatanya, Kim Mingyu tidak sekalipun dibesarkan kekurangan akan cinta.</p>

<p>Saudara-saudaranya. Istana ini. Negaranya.</p>

<p>Saat pelukan mereka terlepas dan Seungcheol menjauh, Yang Mulia Ibu Suri telah berada di situ. Fokus Mingyu segera tercuri oleh ibunya. Oleh wanita yang telah membesarkan anak yang tak ada hubungan darah dengannya sama sekali dengan sepenuh hati.</p>

<p>“Ibunda...”</p>

<p>Sang Alpha, meski tubuhnya lebih besar dan mengintimidasi, langsung jatuh terduduk tak berdaya di hadapan sang Omega. Yang Mulia Ibu Suri terkesiap, segera berjongkok untuk meminta putranya berdiri. Namun, Mingyu tidak mau. Maka, Ibu Suri tak punya pilihan selain memeluk anaknya di lantai ruang kerja Seungcheol.</p>

<p>“Maafkan aku...,” ucapnya penuh getir. “Maafkan aku karena sempat berpikir buruk pada Ibunda. Maafkan aku karena aku sempat merasa marah pada Ibunda dan Mendiang Ayahanda. Maafkan aku...”</p>

<p>“Mingyu...,” Ibu Suri menggeleng. Terduduk di lantai, mereka saling bertatapan kini. Ditangkupnya pipi sang Alpha. Ibu jari setia menghapusi tiap bulir tangis yang keluar dari sudut mata putranya. “Oh, anakku sayang, Mingyu... Apa yang perlu kau mintakan maaf, Nak? Aku dan Mendiang Baginda telah menyembunyikan orangtua kandungmu. Wajar jika kau marah pada kami—”</p>

<p>Kim Mingyu menggeleng. Ia menggeleng kuat-kuat sambil memegangi kedua tangan ibunya di pipi. Ia menggeleng terus hingga perkataan ibunya terhenti.</p>

<p>“Ibunda adalah ibuku.”</p>

<p>Mata Ibu Suri membulat. “<em>Oh</em>...,” tangis diam-diam meleleh dari mata sang Omega.</p>

<p>“Mendiang Ayahanda adalah ayahku. Ibunda dan Mendiang Ayahanda adalah orangtuaku,” ucapnya tegas. Tatapnya jelas. Tidak ada keraguan, kali ini, di mata Kim Mingyu ketika menyatakannya. Berkebalikan darinya, wajah Yang Mulia Ibu Suri mulai basah oleh air mata. “Aku mungkin lahir dari orangtua yang berbeda, namun Ibunda dan Mendiang Ayahanda lah yang telah membesarkanku. Bagaimanapun masa laluku, kalian lah orangtua yang sesungguhnya bagiku.</p>

<p>Karena itu, biarkan aku meminta maaf atas kelancanganku. Dan—”</p>

<p>Mingyu mengelus lembut tangan ibunya.</p>

<p>“—biarkan aku mengatakan bahwa aku mencintaimu, Ibuku.”</p>

<p>Tangis pun pecah. Yang Mulia Ibu Suri menggamit leher anaknya dan menumpahkan ke dalam satu pelukan erat segala haru biru yang meluap dari akumulasi perasaannya sejak mereka menemukan Kim Mingyu kecil di jalanan sana. Sejak mendiang suaminya memintanya untuk tidak kaget melihat kondisi anak itu saat dibawa ke istana. Sejak ia menyaksikan bagaimana tubuh mungil itu dipenuhi lebam dan luka yang tidak pada tempatnya, menghiasi sekujur tubuh berupa tulang berbalut kulit semata.</p>

<p>Kini, anak yang sama telah tumbuh menjadi Alpha yang baik, suami yang penyayang dan anak kebanggaan mereka.</p>

<p><em>Suamiku, lihatlah.</em></p>

<p>Keningnya bersandar di kening Mingyu.</p>

<p><em>Anak kita telah sebegini hebatnya. Anak kita telah tumbuh menjadi orang yang baik. Lihatlah, dan banggalah kau di sana, Sayang.</em></p>

<p>“Aku bangga padamu, Putraku,” bisiknya. “Mendiang Baginda pun pasti bangga padamu...”</p>

<p>Mingyu tidak bisa berhenti menangis. Ia memeluk ibunya lagi. Mengapa ia menahan diri untuk tidak menghujani cinta pada ibunya sendiri, ia tak tahu. Mengapa ia memilih untuk menjauhi keluarganya, memastikan dirinya sebisa mungkin menghilang dari kehidupan di kerajaan hanya karena omongan orang-orang yang menyebutnya tak pantas berada di sana, sungguh ia tak tahu. Menoleh ke belakang, sekarang, semua nampak <em>konyol</em>.</p>

<p>Konyol. Bodoh. Kim Mingyu Alpha yang bodoh. Ia menyia-nyiakan cinta keluarganya hanya karena rumor tak bertuan. Menganggap dirinya si anak malang yang tak tahu orangtuanya siapa. Berkubang dalam gundah gulana detik demi detik.</p>

<p>Padahal, lihatlah.</p>

<p>Bukalah matamu.</p>

<p>Bukankah sebegini banyaknya orang yang mencintaimu, persis di hadapanmu?</p>

<p><em>Joshua</em>.</p>

<p>Ketika ibunya melepaskan pelukan mereka dan Seungcheol serta Jeonghan membantu mereka berdiri, Mingyu serta merta membalikkan badan. Di sana, masih berdiri di tempat yang sama, Omeganya tersenyum senang. Hidungnya memerah sedikit dan ada sisa air mata mengering di pipi, namun ia tetap cantik seperti biasanya.</p>

<p>Satu, dua langkah lebar dan, tetiba saja, Joshua Hong telah diangkat ke dalam gendongan. Lengan-lengan kuat suaminya melingkari pinggang dan lututnya. Joshua memekik karena terkejut, tapi Mingyu tidak memedulikan itu. Ia mencari dan menemukan bibir kekasihnya, lalu menciumi Joshua hingga sang Omega hampir kehabisan napas.</p>

<p>“Terima kasih, Sayang…,” gumamnya ke bibir Joshua di sela-sela tarikan napas. “<em>Terima kasih</em>...”</p>

<p><em>Andai Joshua tidak bersamanya...</em></p>

<p><em>Andai Joshua tidak menyadarkannya...</em></p>

<p>Satu ciuman terakhir, kemudian mereka berakhir dengan kening bersandar pada satu sama lain. Ujung hidung mereka menempel, membuat hembusan napas hangat Mingyu terasa di bibir Joshua. Ia masih digendong suaminya seakan ia tidak memiliki beban.</p>

<p>“Aku mencintaimu...,” Mingyu berbisik.</p>

<p>“Mm,” Joshua meringis. Matanya berkilau oleh kebahagiaan. “Aku juga...”</p>

<p>Tanpa disadari pasangan Alpha dan Omega itu, empat orang lainnya tersenyum menyaksikan kegilaan tersebut. Seungcheol sempat melongo tak percaya saat Mingyu menciumi Joshua di depan mereka, sedangkan Jeonghan dan Seokmin tertawa keras-keras. Yang Mulia Ibu Suri menyentuh pipinya sendiri yang merona, senang melihat betapa bahagianya putra dan pasangannya itu sambil berdoa semoga mereka terus diberikan kebahagiaan hingga akhir hayatnya.</p>

<p>Kim Mingyu, sang Alpha kesayangan kita, kini terlepas dari ketakutan yang telah diseretnya seumur hidup. Ia bisa bebas melimpahkan cintanya pada semua orang yang ia kehendaki—Omeganya, orangtuanya, kakaknya, sahabat dan sepupunya, juga pada semua yang telah menyayanginya. Ia memiliki begitu banyak cinta yang mendorongnya hingga saat ini. Mulai sekarang, ia akan hidup dengan segala vitalitas dan potensi yang ia miliki. Ia akan mulai melangkah sebagaimana dirinya yang sejati: seorang Alpha.</p>

<p>Tidak ada lagi keraguan.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-135</guid>
      <pubDate>Sat, 10 Dec 2022 16:48:01 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Part 134</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-134?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuaabo&#xA;&#xA;Joshua terbangun di tengah malam oleh kecupan-kecupan halus di lehernya. Sang Omega mengerang, mengulet sedikit karena kantuk yang mendadak saja buyar. Begitu kesadarannya kembali, ia menangkup pipi Mingyu, membuat sang Alpha mengusrekkan pipi tersebut ke tangannya. Lalu, mereka bercinta seperti itu. Lembut, pelan—suaminya membawa Joshua ke puncak dengan begitu indahnya, bahkan tidak melepasnya setelah bintang-bintang menghilang dari pandangan dan ia dihempaskan balik ke dunia. Mingyu terus memeluknya hingga keringat yang menempel di kulit mereka pun mendingin.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Saat sang surya akhirnya menyapa, Joshua telah menghilang dari sisi tempat tidurnya. Mingyu menggaruk bagian belakang kepalanya sambil menguap lebar. Ia membutuhkan waktu lima menit tertegun memandangi mentari pagi hari melalui jendela besar mereka sebelum akhirnya turun dari ranjang untuk mulai membasuh diri.&#xA;&#xA;Di kamar mandi yang menyambung dengan kamar tidur mereka, sang Alpha menggosok gigi dan mencuci muka. Di sekitar undakan tempatnya menaruh belanga untuk mencuci muka, terhampar beberapa produk perawatan wajah miliknya dan milik suaminya. Semenjak menikah, Joshua tidak ragu membawa bagian dari kehidupannya di negara asal ke rumah mereka dan mengajak Mingyu turut serta. Beberapa benda yang tidak pernah dilihat oleh mata sang Alpha, tetiba saja sudah tergeletak di berbagai sudut rumah mereka. Handphone, sebagai contoh, bahkan hal sesederhana pasta gigi, karena Joshua menolak menggunakan bubuk gigi.&#xA;&#xA;Mingyu tidak keberatan. Sejak dulu, sang Alpha memiliki ketertarikan tersendiri terhadap kemajuan negara asal Joshua. Namun, tidaklah mungkin mengakomodir semua keajaiban teknologi yang suaminya ingin bawa ke rumah mereka dikarenakan keterbatasan sumber daya yang mumpuni. Apabila rencana Tuan Raja dan Tuan Kwon berhasil dan perjanjian kerja sama mereka berjalan, mungkin, suatu hari nanti, negara ini juga akan—&#xA;&#xA;Tepat di situ, Mingyu menghentikan pemikirannya. Ia menggeleng perlahan, lalu meraih handuk kecil untuk mengeringkan wajahnya. Setelah itu, sang Alpha melewati detik demi detik berikutnya dengan berendam di air panas. Joshua seringkali protes kalau air panas standar Mingyu terlalu panas baginya saat mereka mandi bersama. Namun, Alpha dilahirkan dengan tubuh lebih besar, kulit lebih tebal, dan suhu badan yang lebih tinggi dari gender lainnya. Baginya, level panas seperti ini adalah sempurna.&#xA;&#xA;Air panas membuat otot-ototnya rileks, membuatnya mau tak mau terbuai ke alam mimpi. Mingyu tidak menyadari kalau ia hampir tertidur saat berendam andai saja jari-jemari Joshua tidak membelai wajahnya, berusaha membangunkan suaminya dari bahaya. Kontras terhadap kerutan di antara kening Joshua, Mingyu menyeringai lemah.&#xA;&#xA;&#34;Jangan berendem kalo ngantuk,&#34; pisuhnya. Meskipun begitu, Joshua mengusapkan batang sabun ke telapak tangannya dan mulai memandikan suaminya tanpa diminta.&#xA;&#xA;Ketika pertama Joshua melakukannya, Mingyu menolak mentah-mentah. Ia tidak ingin Joshua berlaku seperti pelayan. Joshua adalah suaminya. Menikah dengannya bukan lantas meninggikan derajat Mingyu lebih dari Joshua. Tetapi, ketika Joshua dengan malu-malu menyatakan bahwa ia menyukainya, suka memandikan Alphanya, maka Kim Mingyu bisa apa?&#xA;&#xA;Lagipula, Joshua juga membiarkan dirinya dimandikan suaminya. Mingyu tidak mungkin menolak kesempatan memanjakan suaminya dari ujung rambut hingga ujung kaki seperti itu.&#xA;&#xA;&#34;Aku bikinin sarapan,&#34; ujar sang Omega sambil mengusrek kulit kepala suaminya. Busa shampoo memenuhi rambut hitam di sela-sela jarinya (Yap, benar sekali, Joshua membawa shampoo itu dari negaranya karena ia tidak mau repot-repot mengoles minyak kacang badam ke kulit kepala, lalu mencucinya dengan air hangat dan sabun minyak zaitun—superrr merepotkan). &#34;Nggak terlalu enak sih, gosong dikit malah, tapi kalo kamu mau—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Saya mau,&#34; Mingyu memotongnya. Kepalanya mendongak agar bisa menatap Joshua tepat di mata. &#34;Saya ingin memakan masakan Anda.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu tersenyum, membuat kerutan kentara di ujung-ujung mata. Senang akan reaksi suaminya, Joshua pun spontan mengecup kening Mingyu. Kemudian, mereka tertawa bersama.&#xA;&#xA;Setelah itu, Joshua menyeka tubuh Mingyu dengan handuk sambil terus menciumi perlahan kulit kecoklatan yang terpampang, bagai memuja tiap jengkal sesosok Alpha yang terindah dalam hidupnya. Sebelum situasi sempat berubah menjadi lebih intim, Joshua melumat bibir suaminya untuk yang terakhir kali, lalu bergegas keluar. Mingyu dibiarkannya untuk berpakaian sendiri, setengah ereksi dengan erangan frustrasi. Sengaja.&#xA;&#xA;Semenjak Joshua menerima Alphanya, serigala itu semakin menjadi-jadi, membuat Mingyu kewalahan mengekangnya lagi. Apalagi, Omega Joshua yang jahil malah senang mengobarkan api, membuat Mingyu ingin terus menyentuhnya, ingin terus mencintainya dengan sentuhan dan ciuman mesra.&#xA;&#xA;Sekarang, setelah mereka resmi menikah, Joshua mendorong Mingyu untuk melepaskan semua yang selama ini ditahannya atas dasar norma dan penghormatan pada sang Omega. Joshua menyukai semua yang Mingyu inginkan, dan, bila ia tidak menyukainya, ia akan langsung mengatakannya. Mingyu akan segera berhenti dan takkan pernah berpikir untuk memintanya lagi. Sialnya (atau untungnya?), sampai hari ini, Joshua juga menyukai apa yang Alphanya sukai di tempat tidur. Sebuah fakta yang Mingyu kerap kali cemaskan, karena serigalanya dibuat berada di atas angin oleh sang Omega.&#xA;&#xA;Mingyu meneguk ludah. Ia berusaha menahan Alphanya, mengontrol dirinya sendiri sampai ereksinya melemah dan ia, akhirnya, bisa berpakaian.&#xA;&#xA;Menuruni tangga dalam balutan kemeja santai dan celana khaki pendek, Kim Mingyu menemukan suaminya di ruang makan, sedang menaruh piring di meja. Tirai telah disibak dan jendela tinggi dibuka, memberikan mereka pemandangan langsung ke halaman belakang kediaman Kim yang megah tersebut. Langit pagi itu sangat cerah. Dedaunan hijau mulai nampak lagi. Musim semi akan datang bersamaan dengan kelopak bebungaan yang terkembang.&#xA;&#xA;Piringnya terdiri oleh dua panekuk agak kehitaman di pinggir-pinggirnya, lembaran tipis daging babi yang diasinkan, beberapa jenis sayuran hijau segar hasil petikan ladang mereka yang dikirim pagi buta, bawang bombay, mayones, dan butiran lada hitam. Jenis makanan dari negara asal Joshua. Piring lain yang berisikan dua telur mata sapi dengan sisi-sisinya yang gosong pun menemani piring pertama di sebelahnya. Secangkir teh hangat dan segelas jus jeruk juga tersaji.&#xA;&#xA;&#34;Kamu mau kopi?&#34; tawar Joshua.&#xA;&#xA;Mingyu menggeleng. &#34;Terima kasih, Sayang,&#34; senyumnya, yang memancing senyuman balik dari Joshua.&#xA;&#xA;Kemudian, mereka mulai makan.&#xA;&#xA;&#34;Tadinya aku mau buatin kamu bubur,&#34; aku sang Omega.&#xA;&#xA;&#34;Bubur?&#34; Mingyu terkejut. Bubur dalam bayangannya adalah nasi lembek menyedihkan yang diaduk menggunakan terlalu banyak air hingga hambar, mirip sup nasi. Tentunya, Joshua tidak akan tega memberi makan suaminya masakan seperti itu, bukan?&#xA;&#xA;Joshua tertawa. &#34;Aku diajarin cara buat bubur sama Junnie,&#34; kekehnya. &#34;Di negara dia, buburnya tuh beda sama di sini. Sama di negaraku juga beda. Enak deh. Pas masak berasnya tuh dikasih macem-macem gitu. Tapi bahan-bahannya agak susah nyarinya kalo di sini, mahal pula, jadi aku bikin pancake aja deh yang gampang.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu hanya mengangguk-angguk mendengarkan.&#xA;&#xA;&#34;Nanti kekapan aku buatin buburnya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Saya tidak tahu Anda tertarik memasak,&#34; itu adalah sebuah pernyataan. Sang Alpha meraih cangkir teh dan meneguknya. &#34;Saya tidak ingat Anda pernah mengatakannya.&#34;&#xA;&#xA;Joshua meringis sebagai jawaban. &#34;Soalnya aku nggak mau kalo cuma kamu yang bisa masak,&#34; dengusnya, enggan kalah. &#34;Aku belajar dikit sama Mama sebelum kita nikah. Sekarang sih aku tinggal turun ke dapur dan minta mereka ajarin aku.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Begitu ya?&#34; ringis suaminya balik. &#34;Mungkin perlu diadu masakan saya dengan Anda?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Boleh,&#34; mata sang Omega berkilat.&#xA;&#xA;Mereka saling berpandangan, menantang satu sama lain, sampai mereka mendengus dan tertawa lagi. Tangan-tangan kembali memotong dan menusuk panekuk. Mingyu takut-takut mencicipi telur mata sapinya, tapi ternyata bagian yang tidak gosong cukup enak. Meski mata Joshua memicing kala menyadari keraguan suaminya, sang Omega pun tak ayal menikmati sarapannya. Di tengah-tengah denting peralatan makan, Joshua berdeham pelan sebelum membuka mulut.&#xA;&#xA;&#34;Mingyu...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Biarin aku ngelantur ya Gyu? Aku mikirin ini dari semalem dan aku rasa aku harus sampein ke kamu,&#34; ringisnya meminta maaf. Sang Alpha mendongak agar dapat menatap Omeganya tepat di mata. &#34;Jujur, aku nggak tau apa rasanya nggak tau siapa orangtuaku. Biarpun aku dari kecil nggak kenal papaku, tapi Mama selalu nyeritain soal dia. Gimana orangnya. Wajahnya dari foto yang dikasih Mama. Gimana dia sayangin aku sejak di kandungan. Aku nggak kenal papaku, tapi aku tau dia orang yang kayak gimana, jadi aku nggak dibiarin kopong soal orangtuaku yang satu lagi.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu menunduk, sedangkan Joshua menarik napas.&#xA;&#xA;&#34;Aku...nggak tau rasanya jadi kamu. Aku nggak tau perasaan kamu kayak gimana. Aku nggak bisa ngomong gini tanpa berharap kalo kamu nggak tersinggung,&#34; sang Omega kemudian menaruh tangannya di atas tangan Mingyu dan mengusapnya perlahan dengan ibu jari. &#34;Tapi, Gyu, jangan sampe kamu lupa apa yang ada di depan kamu karena sesuatu yang jauh dari kamu.&#34;&#xA;&#xA;Sang Alpha menelan ludah. Jakunnya bergerak naik-turun.&#xA;&#xA;&#34;Jangan kamu lupain. Siapa yang melok kamu pas kamu sedih? Siapa yang ulurin tangannya pas kamu butuh? Siapa yang bahagia buat kamu? Nangis buat kamu?&#34; usapan ibu jari Joshua tidak kunjung berhenti sementara tutur katanya keluar selembut mungkin. &#34;Keluarga itu bukan cuma mereka yang sedarah. Kakak kamu. Ibu kamu. Mendiang ayah kamu. Aku pun—&#34;&#xA;&#xA;Joshua tercekat. Tangisnya mengancam jatuh dari sudut mata. Mingyu menarik napas dalam-dalam, menahan tangisnya sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Aku tau kamu kecewa, Gyu, dan kayak kubilang tadi, aku nggak tau seberapa dalamnya kekecewaan kamu karena aku nggak pernah ada di posisi kamu,&#34; bisiknya lirih. &#34;Tapi aku mohon kamu inget kalo banyak yang sayang sama kamu, satu darah atopun enggak...&#34;&#xA;&#xA;Sang Alpha kemudian memejamkan mata.&#xA;&#xA;&#34;Aku nggak tau kenapa mendiang ayah kamu sama ibu kamu nggak ngasih tau kamu siapa orangtua kamu. Aku juga nggak tau kenapa paman kamu nggak ajak kamu nemuin ibu kamu. Tapi, aku rasa, mereka punya alasan sendiri dan, aku rasa, alasan itu karena mereka mikirin kamu juga,&#34; Joshua mulai meracau, meski ia sendiri tidak menyadarinya. &#34;Aku ngerasa kalo mereka pikir itu yang terbaik buat kamu. Not knowing is sometimes better than knowing. Something like that?&#34; Alis sang Omega berkerut. &#34;Granted, menurutku harusnya mereka tetap bilang ke kamu sih, karena nggak ada yang lebih ngeselin dari orang-orang yang berpikir dan berlaku buat kita, seolah kita nggak bisa mikir buat diri kita sendiri—&#34;&#xA;&#xA;Dengus geli dan tawa lalu terlepas dari mulut Mingyu. Ia mengusap sedikit tangis yang terbit dari sisi mata. &#34;Jadi, sejujurnya, Anda di pihak mereka atau saya sih?&#34; selorohnya.&#xA;&#xA;&#34;Aku cuma peduli sama kamu,&#34; dengan lempeng, Joshua menjawab. Sang Omega kemudian bangkit dari kursi dan duduk di pangkuan Mingyu tanpa tedeng aling-aling, membuat Alphanya terkejut dan segera melingkarkan lengan di pinggangnya untuk menahan agar sang Omega tidak jatuh. Tangan-tangan menangkup kedua pipi Mingyu, yang matanya membulat dalam keheranan. &#34;Aku nggak mau kamu nyiksa diri kamu sendiri karena emosi sesaat. Kalo kamu nyimpen dendam kayak gini, pada akhirnya, kamu sendiri yang bakal dimakan sama dendam itu.&#34;&#xA;&#xA;Napas Mingyu tercekat.&#xA;&#xA;&#34;Been there. Done that. Dan rasanya, sumpah, nggak enak,&#34; ringis Joshua. &#34;Enakan maafin orang yang udah nyakitin kamu. Emang berat, tapi ke depannya, kamu bakal lega. I&#39;m talking from real experience here.&#34;&#xA;&#xA;Sang Omega terkekeh. Kekehan yang dengan cepat menjadi sebuah senyuman manis.&#xA;&#xA;&#34;Tapi sebelom kamu maafin mereka—&#34;&#xA;&#xA;Bibir Joshua kemudian menciumi wajahnya. Halus, pelan—bagai kecupan kupu-kupu.&#xA;&#xA;&#34;—kamu harus maafin diri kamu sendiri dulu.&#34;&#xA;&#xA;Alphanya menghela napas pelan setelah Joshua mengecup bibirnya.&#xA;&#xA;&#34;It takes time. Tapi, aku bakal ada di sini sama kamu, so take your time,&#34; kening mereka menempel satu sama lain. &#34;Aku bakal selalu cinta sama kamu dan nemenin kamu, kemana pun kamu mau pergi.&#34;&#xA;&#xA;Diangkatnya wajah Mingyu.&#xA;&#xA;&#34;So, smile, Kim Mingyu.&#34;&#xA;&#xA;Merefleksikan gestur kekasihnya, sang Alpha pun ikut tersenyum.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuaabo" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuaabo</span></a></p>

<p>Joshua terbangun di tengah malam oleh kecupan-kecupan halus di lehernya. Sang Omega mengerang, mengulet sedikit karena kantuk yang mendadak saja buyar. Begitu kesadarannya kembali, ia menangkup pipi Mingyu, membuat sang Alpha mengusrekkan pipi tersebut ke tangannya. Lalu, mereka bercinta seperti itu. Lembut, pelan—suaminya membawa Joshua ke puncak dengan begitu indahnya, bahkan tidak melepasnya setelah bintang-bintang menghilang dari pandangan dan ia dihempaskan balik ke dunia. Mingyu terus memeluknya hingga keringat yang menempel di kulit mereka pun mendingin.</p>



<p>Saat sang surya akhirnya menyapa, Joshua telah menghilang dari sisi tempat tidurnya. Mingyu menggaruk bagian belakang kepalanya sambil menguap lebar. Ia membutuhkan waktu lima menit tertegun memandangi mentari pagi hari melalui jendela besar mereka sebelum akhirnya turun dari ranjang untuk mulai membasuh diri.</p>

<p>Di kamar mandi yang menyambung dengan kamar tidur mereka, sang Alpha menggosok gigi dan mencuci muka. Di sekitar undakan tempatnya menaruh belanga untuk mencuci muka, terhampar beberapa produk perawatan wajah miliknya dan milik suaminya. Semenjak menikah, Joshua tidak ragu membawa bagian dari kehidupannya di negara asal ke rumah mereka dan mengajak Mingyu turut serta. Beberapa benda yang tidak pernah dilihat oleh mata sang Alpha, tetiba saja sudah tergeletak di berbagai sudut rumah mereka. Handphone, sebagai contoh, bahkan hal sesederhana pasta gigi, karena Joshua menolak menggunakan bubuk gigi.</p>

<p>Mingyu tidak keberatan. Sejak dulu, sang Alpha memiliki ketertarikan tersendiri terhadap kemajuan negara asal Joshua. Namun, tidaklah mungkin mengakomodir <em>semua</em> keajaiban teknologi yang suaminya ingin bawa ke rumah mereka dikarenakan keterbatasan sumber daya yang mumpuni. Apabila rencana Tuan Raja dan Tuan Kwon berhasil dan perjanjian kerja sama mereka berjalan, mungkin, suatu hari nanti, negara ini juga akan—</p>

<p>Tepat di situ, Mingyu menghentikan pemikirannya. Ia menggeleng perlahan, lalu meraih handuk kecil untuk mengeringkan wajahnya. Setelah itu, sang Alpha melewati detik demi detik berikutnya dengan berendam di air panas. Joshua seringkali protes kalau air panas standar Mingyu <em>terlalu</em> panas baginya saat mereka mandi bersama. Namun, Alpha dilahirkan dengan tubuh lebih besar, kulit lebih tebal, dan suhu badan yang lebih tinggi dari gender lainnya. Baginya, level panas seperti ini adalah <em>sempurna</em>.</p>

<p>Air panas membuat otot-ototnya rileks, membuatnya mau tak mau terbuai ke alam mimpi. Mingyu tidak menyadari kalau ia hampir tertidur saat berendam andai saja jari-jemari Joshua tidak membelai wajahnya, berusaha membangunkan suaminya dari bahaya. Kontras terhadap kerutan di antara kening Joshua, Mingyu menyeringai lemah.</p>

<p>“Jangan berendem kalo ngantuk,” pisuhnya. Meskipun begitu, Joshua mengusapkan batang sabun ke telapak tangannya dan mulai memandikan suaminya tanpa diminta.</p>

<p>Ketika pertama Joshua melakukannya, Mingyu menolak mentah-mentah. Ia tidak ingin Joshua berlaku seperti <em>pelayan</em>. Joshua adalah suaminya. Menikah dengannya bukan lantas meninggikan derajat Mingyu lebih dari Joshua. Tetapi, ketika Joshua dengan malu-malu menyatakan bahwa ia menyukainya, suka memandikan Alphanya, maka Kim Mingyu bisa apa?</p>

<p>Lagipula, Joshua juga membiarkan dirinya dimandikan suaminya. Mingyu tidak mungkin menolak kesempatan memanjakan suaminya dari ujung rambut hingga ujung kaki seperti itu.</p>

<p>“Aku bikinin sarapan,” ujar sang Omega sambil mengusrek kulit kepala suaminya. Busa shampoo memenuhi rambut hitam di sela-sela jarinya (<em>Yap, benar sekali, Joshua membawa shampoo itu dari negaranya karena ia tidak mau repot-repot mengoles minyak kacang badam ke kulit kepala, lalu mencucinya dengan air hangat dan sabun minyak zaitun—superrr merepotkan</em>). “Nggak terlalu enak sih, gosong dikit malah, tapi kalo kamu mau—”</p>

<p>“Saya mau,” Mingyu memotongnya. Kepalanya mendongak agar bisa menatap Joshua tepat di mata. “Saya ingin memakan masakan Anda.”</p>

<p>Mingyu tersenyum, membuat kerutan kentara di ujung-ujung mata. Senang akan reaksi suaminya, Joshua pun spontan mengecup kening Mingyu. Kemudian, mereka tertawa bersama.</p>

<p>Setelah itu, Joshua menyeka tubuh Mingyu dengan handuk sambil terus menciumi perlahan kulit kecoklatan yang terpampang, bagai memuja tiap jengkal sesosok Alpha yang terindah dalam hidupnya. Sebelum situasi sempat berubah menjadi lebih intim, Joshua melumat bibir suaminya untuk yang terakhir kali, lalu bergegas keluar. Mingyu dibiarkannya untuk berpakaian sendiri, setengah ereksi dengan erangan frustrasi. <em>Sengaja</em>.</p>

<p>Semenjak Joshua menerima Alphanya, serigala itu semakin menjadi-jadi, membuat Mingyu kewalahan mengekangnya lagi. Apalagi, Omega Joshua yang jahil malah senang mengobarkan api, membuat Mingyu ingin terus menyentuhnya, ingin terus mencintainya dengan sentuhan dan ciuman mesra.</p>

<p>Sekarang, setelah mereka resmi menikah, Joshua mendorong Mingyu untuk melepaskan semua yang selama ini ditahannya atas dasar norma dan penghormatan pada sang Omega. Joshua menyukai semua yang Mingyu inginkan, dan, bila ia tidak menyukainya, ia akan langsung mengatakannya. Mingyu akan segera berhenti dan takkan pernah berpikir untuk memintanya lagi. Sialnya (<em>atau untungnya?</em>), sampai hari ini, Joshua <em>juga</em> menyukai apa yang Alphanya sukai di tempat tidur. Sebuah fakta yang Mingyu kerap kali cemaskan, karena serigalanya dibuat berada di atas angin oleh sang Omega.</p>

<p>Mingyu meneguk ludah. Ia berusaha menahan Alphanya, mengontrol dirinya sendiri sampai ereksinya melemah dan ia, akhirnya, bisa berpakaian.</p>

<p>Menuruni tangga dalam balutan kemeja santai dan celana khaki pendek, Kim Mingyu menemukan suaminya di ruang makan, sedang menaruh piring di meja. Tirai telah disibak dan jendela tinggi dibuka, memberikan mereka pemandangan langsung ke halaman belakang kediaman Kim yang megah tersebut. Langit pagi itu sangat cerah. Dedaunan hijau mulai nampak lagi. Musim semi akan datang bersamaan dengan kelopak bebungaan yang terkembang.</p>

<p>Piringnya terdiri oleh dua panekuk agak kehitaman di pinggir-pinggirnya, lembaran tipis daging babi yang diasinkan, beberapa jenis sayuran hijau segar hasil petikan ladang mereka yang dikirim pagi buta, bawang bombay, mayones, dan butiran lada hitam. Jenis makanan dari negara asal Joshua. Piring lain yang berisikan dua telur mata sapi dengan sisi-sisinya yang gosong pun menemani piring pertama di sebelahnya. Secangkir teh hangat dan segelas jus jeruk juga tersaji.</p>

<p>“Kamu mau kopi?” tawar Joshua.</p>

<p>Mingyu menggeleng. “Terima kasih, Sayang,” senyumnya, yang memancing senyuman balik dari Joshua.</p>

<p>Kemudian, mereka mulai makan.</p>

<p>“Tadinya aku mau buatin kamu bubur,” aku sang Omega.</p>

<p>“Bubur?” Mingyu terkejut. Bubur dalam bayangannya adalah nasi lembek menyedihkan yang diaduk menggunakan terlalu banyak air hingga hambar, mirip sup nasi. Tentunya, Joshua tidak akan tega memberi makan suaminya masakan seperti itu, bukan?</p>

<p>Joshua tertawa. “Aku diajarin cara buat bubur sama Junnie,” kekehnya. “Di negara dia, buburnya tuh beda sama di sini. Sama di negaraku juga beda. Enak deh. Pas masak berasnya tuh dikasih macem-macem gitu. Tapi bahan-bahannya agak susah nyarinya kalo di sini, mahal pula, jadi aku bikin pancake aja deh yang gampang.”</p>

<p>Mingyu hanya mengangguk-angguk mendengarkan.</p>

<p>“Nanti kekapan aku buatin buburnya.”</p>

<p>“Saya tidak tahu Anda tertarik memasak,” itu adalah sebuah pernyataan. Sang Alpha meraih cangkir teh dan meneguknya. “Saya tidak ingat Anda pernah mengatakannya.”</p>

<p>Joshua meringis sebagai jawaban. “Soalnya aku nggak mau kalo cuma kamu yang bisa masak,” dengusnya, enggan kalah. “Aku belajar dikit sama Mama sebelum kita nikah. Sekarang sih aku tinggal turun ke dapur dan minta mereka ajarin aku.”</p>

<p>“Begitu ya?” ringis suaminya balik. “Mungkin perlu diadu masakan saya dengan Anda?”</p>

<p>“Boleh,” mata sang Omega berkilat.</p>

<p>Mereka saling berpandangan, menantang satu sama lain, sampai mereka mendengus dan tertawa lagi. Tangan-tangan kembali memotong dan menusuk panekuk. Mingyu takut-takut mencicipi telur mata sapinya, tapi ternyata bagian yang tidak gosong cukup enak. Meski mata Joshua memicing kala menyadari keraguan suaminya, sang Omega pun tak ayal menikmati sarapannya. Di tengah-tengah denting peralatan makan, Joshua berdeham pelan sebelum membuka mulut.</p>

<p>“Mingyu...”</p>

<p>“Ya?”</p>

<p>“Biarin aku ngelantur ya Gyu? Aku mikirin ini dari semalem dan aku rasa aku harus sampein ke kamu,” ringisnya meminta maaf. Sang Alpha mendongak agar dapat menatap Omeganya tepat di mata. “Jujur, aku nggak tau apa rasanya nggak tau siapa orangtuaku. Biarpun aku dari kecil nggak kenal papaku, tapi Mama selalu nyeritain soal dia. Gimana orangnya. Wajahnya dari foto yang dikasih Mama. Gimana dia sayangin aku sejak di kandungan. Aku nggak kenal papaku, tapi aku tau dia orang yang kayak gimana, jadi aku nggak dibiarin kopong soal orangtuaku yang satu lagi.”</p>

<p>Mingyu menunduk, sedangkan Joshua menarik napas.</p>

<p>“Aku...nggak tau rasanya jadi kamu. Aku nggak tau perasaan kamu kayak gimana. Aku nggak bisa ngomong gini tanpa berharap kalo kamu nggak tersinggung,” sang Omega kemudian menaruh tangannya di atas tangan Mingyu dan mengusapnya perlahan dengan ibu jari. “Tapi, Gyu, jangan sampe kamu lupa apa yang ada di depan kamu karena sesuatu yang jauh dari kamu.”</p>

<p>Sang Alpha menelan ludah. Jakunnya bergerak naik-turun.</p>

<p>“Jangan kamu lupain. Siapa yang melok kamu pas kamu sedih? Siapa yang ulurin tangannya pas kamu butuh? Siapa yang bahagia buat kamu? Nangis buat kamu?” usapan ibu jari Joshua tidak kunjung berhenti sementara tutur katanya keluar selembut mungkin. “Keluarga itu bukan cuma mereka yang sedarah. Kakak kamu. Ibu kamu. Mendiang ayah kamu. <em>Aku</em> pun—”</p>

<p>Joshua tercekat. Tangisnya mengancam jatuh dari sudut mata. Mingyu menarik napas dalam-dalam, menahan tangisnya sendiri.</p>

<p>“Aku tau kamu kecewa, Gyu, dan kayak kubilang tadi, aku nggak tau seberapa dalamnya kekecewaan kamu karena aku nggak pernah ada di posisi kamu,” bisiknya lirih. “Tapi aku mohon kamu inget kalo banyak yang sayang sama kamu, satu darah atopun enggak...”</p>

<p>Sang Alpha kemudian memejamkan mata.</p>

<p>“Aku nggak tau kenapa mendiang ayah kamu sama ibu kamu nggak ngasih tau kamu siapa orangtua kamu. Aku juga nggak tau kenapa paman kamu nggak ajak kamu nemuin ibu kamu. Tapi, aku rasa, mereka punya alasan sendiri dan, aku rasa, alasan itu karena mereka mikirin kamu juga,” Joshua mulai meracau, meski ia sendiri tidak menyadarinya. “Aku ngerasa kalo mereka pikir itu yang terbaik buat kamu. <em>Not knowing is sometimes better than knowing</em>. Something like that?” Alis sang Omega berkerut. “Granted, menurutku harusnya mereka tetap bilang ke kamu sih, karena nggak ada yang lebih ngeselin dari orang-orang yang berpikir dan berlaku buat kita, seolah kita nggak bisa mikir buat diri kita sendiri—”</p>

<p>Dengus geli dan tawa lalu terlepas dari mulut Mingyu. Ia mengusap sedikit tangis yang terbit dari sisi mata. “Jadi, sejujurnya, Anda di pihak mereka atau saya sih?” selorohnya.</p>

<p>“Aku cuma peduli sama kamu,” dengan lempeng, Joshua menjawab. Sang Omega kemudian bangkit dari kursi dan duduk di pangkuan Mingyu tanpa tedeng aling-aling, membuat Alphanya terkejut dan segera melingkarkan lengan di pinggangnya untuk menahan agar sang Omega tidak jatuh. Tangan-tangan menangkup kedua pipi Mingyu, yang matanya membulat dalam keheranan. “Aku nggak mau kamu nyiksa diri kamu sendiri karena emosi sesaat. Kalo kamu nyimpen dendam kayak gini, pada akhirnya, kamu sendiri yang bakal dimakan sama dendam itu.”</p>

<p>Napas Mingyu tercekat.</p>

<p>“Been there. Done that. Dan rasanya, sumpah, nggak enak,” ringis Joshua. “Enakan maafin orang yang udah nyakitin kamu. Emang berat, tapi ke depannya, kamu bakal lega. I&#39;m talking from real experience here.”</p>

<p>Sang Omega terkekeh. Kekehan yang dengan cepat menjadi sebuah senyuman manis.</p>

<p>“Tapi sebelom kamu maafin mereka—”</p>

<p>Bibir Joshua kemudian menciumi wajahnya. Halus, pelan—bagai kecupan kupu-kupu.</p>

<p>“—kamu harus maafin diri kamu sendiri dulu.”</p>

<p>Alphanya menghela napas pelan setelah Joshua mengecup bibirnya.</p>

<p>“It takes time. Tapi, aku bakal ada di sini sama kamu, so take your time,” kening mereka menempel satu sama lain. “Aku bakal selalu cinta sama kamu dan nemenin kamu, kemana pun kamu mau pergi.”</p>

<p>Diangkatnya wajah Mingyu.</p>

<p>“So, smile, Kim Mingyu.”</p>

<p>Merefleksikan gestur kekasihnya, sang Alpha pun ikut tersenyum.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-134</guid>
      <pubDate>Sat, 19 Nov 2022 13:13:32 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Part 133</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-133?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuaabo&#xA;&#xA;Detak jam besar berpendulum dari ruang tengah kediaman keluarga Kim memenuhi ruang-ruang besar yang sepi. Atas permintaan Joshua, para pelayan diliburkan dari tugas mereka sampai keadaan sang kepala keluarga menjadi lebih baik. Tuan Park, meski enggan meninggalkan tuannya, hanya menunduk dengan patuh. Ia mempercayakan tuannya itu ke tangan Omega pendampingnya, yang membuat Joshua tersenyum simpul mendengarnya.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Mereka berbaring di peraduan hingga malam mengembangkan keheningan abadi. Mingyu tertidur dalam pelukan Joshua, mengenakan hanya kaus putih katun dan celana piyama. Joshua sendiri berbalut kemeja Mingyu yang panjangnya hampir menutupi paha, berpikir bahwa mengenakan baju suaminya akan membantu Alpha di dalam Mingyu untuk lebih rileks. Joshua memiringkan tubuh, bertumpu pada siku-siku lengannya di atas bantal. Kepala Mingyu bersandar di dadanya.&#xA;&#xA;Ia mengelusi wajah suaminya. Disentuhnya dahi Mingyu hingga kerutan hilang dari sana dan napasnya terdengar teratur. Kemudian, sentuhan-sentuhan lembut yang sama juga menemukan pipi, batang hidung, rahang, serta sisi kening sang Alpha. Joshua memandanginya terus-menerus dengan senyuman di wajah, mengagumi sosok seorang Kim Mingyu.&#xA;&#xA;Suaminya.&#xA;&#xA;Alphanya.&#xA;&#xA;Dikecupnya kening lelaki itu. Dikeluarkannya feromon tanpa ragu, berharap, bila Mingyu telah muak dengan lidah yang berdusta, maka Joshua ingin suaminya mengetahui seberapa dalam cintanya melalui feromon itu. Bahwa, seperti Mingyu, dunianya pun tidak lagi sama semenjak Alpha itu datang dan mengaku bahwa ia tidak pernah melihat Omega seindah dirinya.&#xA;&#xA;Dalam keadaan seperti itulah, kelopak mata Kim Mingyu mengerjap membuka, terbangun dari kelelahan yang luar biasa. Omeganya, hangat, lembut, menyirami wajahnya dengan kecupan manis. Sang Alpha tertawa pelan sebelum memeluk pinggang kekasihnya, menduselkan hidungnya ke sisi leher Joshua, persis di kelenjar feromonnya. Dihirupnya dalam-dalam wangi kue natal tersebut sebelum dihembuskannya napas kuat-kuat.&#xA;&#xA;&#34;Kim Mingyu.&#34;&#xA;&#xA;Ringisan jahil adalah jawaban dari decakan Joshua barusan. Pasalnya, tangan Mingyu telah turun dari pinggang Joshua dan malah mengusap bokongnya. Sang Omega balas tersenyum.&#xA;&#xA;&#34;Bandel,&#34; tuduhnya galak, meski feromonnya jelas berkata lain. Ia mengecup ujung hidung suaminya. &#34;Gimana reaksi orang-orang kalo tau kamu sebandel ini, hmm?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lalu apa yang harus saya lakukan dengan Anda di pelukan saya seperti ini?&#34; bisik sang Alpha. &#34;Dengan Anda hangat dan manis seperti ini...&#34;&#xA;&#xA;Bibir pun saling menemukan dalam ciuman yang lambat. Ciuman yang hanya bisa dibagi oleh dua orang yang telah bertukar hati. Mingyu ingin mematerikan ini semua dalam benaknya sampai akhir hayat. Ingin percaya bahwa, apapun yang terjadi, Joshua akan terus mencintainya seperti ini.&#xA;&#xA;Saat ciuman terlepas, Joshua menghela napas. &#34;...Gimana keadaan kamu?&#34; tanyanya, berhati-hati agar tidak memperburuk suasana hati suaminya. &#34;Are you okay, Gyu...?&#34;&#xA;&#xA;Tidak. Ia tidak baik-baik saja.&#xA;&#xA;Mingyu hanya diam. Tidak menyanggah ataupun mengiyakan. Joshua membiarkan Mingyu, tidak memaksanya sama sekali. Mingyu pun, pada akhirnya, tidak menjawab, melainkan menyurukkan tubuh besarnya semakin rapat ke dalam pelukan sang Omega, secara ajaib mengerut bagaikan fetus. Layaknya bocah cilik yang membutuhkan pelukan hangat ibunda untuk menghalau segala gundah gulana.&#xA;&#xA;Sesuai kehendak suaminya, tanpa kata-kata, Joshua melingkarkan lengan di kepala Mingyu, lalu menunduk untuk mengecup ubun-ubunnya. Mereka berpelukan seperti itu di tempat tidur, berdua saja, memiliki satu sama lain untuk menghadapi apapun yang merintangi rumah tangga yang tengah mereka bangun bersama.&#xA;&#xA;Waktu berlalu ditemani suara napas dan dada yang bergerak naik-turun. Jika malam itu berakhir begini saja, maka Joshua akan maklum. Namun, tanpa terduga, Mingyu bergumam, &#34;...Kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;...Gyu?&#34; Joshua memerlukan konteks agar bisa merespon pertanyaan itu.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa Ibunda dan Tuan Lee tidak pernah menceritakannya pada saya?&#34;&#xA;&#xA;Suara suaminya begitu rapuh. Hati sang Omega tak ayal terenyuh.&#xA;&#xA;&#34;Melindungi saya? Untuk apa...? Saya tidak perlu dilindungi. Saya hanya ingin mengetahui siapa orangtua saya,&#34; napas Mingyu mulai memburu. &#34;Salahkah? Salahkah seorang anak ingin mengetahui orangtuanya? Salahkah jika saya berharap mereka menceritakannya pada saya jauh sebelum ini? Salahkah??&#34;&#xA;&#xA;Keluar, semua yang dipendam dalam hati. Persis seperti malam terakhir di negara Joshua kala itu.&#xA;&#xA;&#34;Mingyu...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jika saya—&#34; ia meneguk ludah. &#34;—mengetahui siapa orangtua saya, tidak akan ada rumor yang membuat Mendiang Ayahanda menjadi bahan cemoohan sepanjang sisa hidupnya. Tidak akan ada yang mengolok dan mengasihani Ibunda. Kak Cheol tidak perlu terus-menerus mengingatkan orang-orang bahwa saya adalah adiknya. Saya akan bisa berjalan dengan bangga, mengetahui bahwa saya lahir dari orangtua yang jelas dan akan sanggup membantah omongan buruk para tetua.&#34;&#xA;&#xA;Joshua mulai membelai lagi kepala suaminya.&#xA;&#xA;&#34;Tidak ingin saya menderita??&#34; Mingyu mengernyitkan alis. &#34;Tidakkah mereka menyadari bahwa saya jauh lebih menderita seperti ini, ditinggal dalam gelapnya ketidaktahuan?? Bagaimana bisa seorang anak tidak pernah bertemu dengan ibunya, sedangkan mereka mengetahui dimana ibu saya selama ini??&#xA;&#xA;Saya—saya—&#34;&#xA;&#xA;—hanya ingin bertemu orangtua saya.&#xA;&#xA;Terlalu banyakkah saya meminta...?&#xA;&#xA;Kata-kata yang gagal keluar takkan keluar selamanya. Alih-alih, isak tangis terdengar dan bagian depan kemeja Mingyu yang Joshua kenakan pun basah. Feromon Alphanya terkoyak oleh frustrasi dan kemarahan, membuat Joshua semakin mengerahkan feromonnya sendiri. Adalah insting bagi kaum serigala untuk berusaha menenangkan pasangannya.&#xA;&#xA;Namun, meskipun begitu, kali ini Mingyu tidak semudah itu ditenangkan. Ia terus saja menangis sambil memeluk Joshua seakan tak ada lagi yang bisa ia harapkan selain Omeganya. Hati Joshua hancur bersama dengan Mingyu. Ia sendiri tidak sadar kapan tepatnya tangis telah meleleh di pipi sampai ia menarik napas panjang.&#xA;&#xA;Tak ada kata-kata yang bisa ia berikan pada Mingyu saat ini.&#xA;&#xA;Yang bisa ia berikan hanyalah kecupan dan elusan, serta feromon yang menyuarakan rasa cintanya pada sang Alpha.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuaabo" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuaabo</span></a></p>

<p>Detak jam besar berpendulum dari ruang tengah kediaman keluarga Kim memenuhi ruang-ruang besar yang sepi. Atas permintaan Joshua, para pelayan diliburkan dari tugas mereka sampai keadaan sang kepala keluarga menjadi lebih baik. Tuan Park, meski enggan meninggalkan tuannya, hanya menunduk dengan patuh. Ia mempercayakan tuannya itu ke tangan Omega pendampingnya, yang membuat Joshua tersenyum simpul mendengarnya.</p>



<p>Mereka berbaring di peraduan hingga malam mengembangkan keheningan abadi. Mingyu tertidur dalam pelukan Joshua, mengenakan hanya kaus putih katun dan celana piyama. Joshua sendiri berbalut kemeja Mingyu yang panjangnya hampir menutupi paha, berpikir bahwa mengenakan baju suaminya akan membantu Alpha di dalam Mingyu untuk lebih rileks. Joshua memiringkan tubuh, bertumpu pada siku-siku lengannya di atas bantal. Kepala Mingyu bersandar di dadanya.</p>

<p>Ia mengelusi wajah suaminya. Disentuhnya dahi Mingyu hingga kerutan hilang dari sana dan napasnya terdengar teratur. Kemudian, sentuhan-sentuhan lembut yang sama juga menemukan pipi, batang hidung, rahang, serta sisi kening sang Alpha. Joshua memandanginya terus-menerus dengan senyuman di wajah, mengagumi sosok seorang Kim Mingyu.</p>

<p>Suaminya.</p>

<p><em>Alphanya</em>.</p>

<p>Dikecupnya kening lelaki itu. Dikeluarkannya feromon tanpa ragu, berharap, bila Mingyu telah muak dengan lidah yang berdusta, maka Joshua ingin suaminya mengetahui seberapa dalam cintanya melalui feromon itu. Bahwa, seperti Mingyu, dunianya pun tidak lagi sama semenjak Alpha itu datang dan mengaku bahwa ia tidak pernah melihat Omega seindah dirinya.</p>

<p>Dalam keadaan seperti itulah, kelopak mata Kim Mingyu mengerjap membuka, terbangun dari kelelahan yang luar biasa. Omeganya, hangat, lembut, menyirami wajahnya dengan kecupan manis. Sang Alpha tertawa pelan sebelum memeluk pinggang kekasihnya, menduselkan hidungnya ke sisi leher Joshua, persis di kelenjar feromonnya. Dihirupnya dalam-dalam wangi kue natal tersebut sebelum dihembuskannya napas kuat-kuat.</p>

<p>“<em>Kim Mingyu</em>.”</p>

<p>Ringisan jahil adalah jawaban dari decakan Joshua barusan. Pasalnya, tangan Mingyu telah turun dari pinggang Joshua dan malah mengusap bokongnya. Sang Omega balas tersenyum.</p>

<p>“<em>Bandel</em>,” tuduhnya galak, meski feromonnya jelas berkata lain. Ia mengecup ujung hidung suaminya. “Gimana reaksi orang-orang kalo tau kamu sebandel ini, hmm?”</p>

<p>“Lalu apa yang harus saya lakukan dengan Anda di pelukan saya seperti ini?” bisik sang Alpha. “Dengan Anda hangat dan manis seperti ini...”</p>

<p>Bibir pun saling menemukan dalam ciuman yang lambat. Ciuman yang hanya bisa dibagi oleh dua orang yang telah bertukar hati. Mingyu ingin mematerikan ini semua dalam benaknya sampai akhir hayat. Ingin percaya bahwa, apapun yang terjadi, Joshua akan terus mencintainya seperti ini.</p>

<p>Saat ciuman terlepas, Joshua menghela napas. “...Gimana keadaan kamu?” tanyanya, berhati-hati agar tidak memperburuk suasana hati suaminya. “Are you okay, Gyu...?”</p>

<p><em>Tidak. Ia tidak baik-baik saja</em>.</p>

<p>Mingyu hanya diam. Tidak menyanggah ataupun mengiyakan. Joshua membiarkan Mingyu, tidak memaksanya sama sekali. Mingyu pun, pada akhirnya, tidak menjawab, melainkan menyurukkan tubuh besarnya semakin rapat ke dalam pelukan sang Omega, secara ajaib mengerut bagaikan fetus. Layaknya bocah cilik yang membutuhkan pelukan hangat ibunda untuk menghalau segala gundah gulana.</p>

<p>Sesuai kehendak suaminya, tanpa kata-kata, Joshua melingkarkan lengan di kepala Mingyu, lalu menunduk untuk mengecup ubun-ubunnya. Mereka berpelukan seperti itu di tempat tidur, berdua saja, memiliki satu sama lain untuk menghadapi apapun yang merintangi rumah tangga yang tengah mereka bangun bersama.</p>

<p>Waktu berlalu ditemani suara napas dan dada yang bergerak naik-turun. Jika malam itu berakhir begini saja, maka Joshua akan maklum. Namun, tanpa terduga, Mingyu bergumam, “...Kenapa?”</p>

<p>”...Gyu?” Joshua memerlukan konteks agar bisa merespon pertanyaan itu.</p>

<p>“Kenapa Ibunda dan Tuan Lee tidak pernah menceritakannya pada saya?”</p>

<p>Suara suaminya begitu rapuh. Hati sang Omega tak ayal terenyuh.</p>

<p>“Melindungi saya? Untuk apa...? Saya tidak perlu dilindungi. Saya hanya ingin mengetahui siapa orangtua saya,” napas Mingyu mulai memburu. “Salahkah? Salahkah seorang anak ingin mengetahui orangtuanya? Salahkah jika saya berharap mereka menceritakannya pada saya jauh sebelum ini? <em>Salahkah??</em>“</p>

<p>Keluar, semua yang dipendam dalam hati. Persis seperti malam terakhir di negara Joshua kala itu.</p>

<p>“Mingyu...”</p>

<p>“Jika saya—” ia meneguk ludah. “—mengetahui siapa orangtua saya, tidak akan ada rumor yang membuat Mendiang Ayahanda menjadi bahan cemoohan sepanjang sisa hidupnya. Tidak akan ada yang mengolok dan mengasihani Ibunda. Kak Cheol tidak perlu terus-menerus mengingatkan orang-orang bahwa saya adalah adiknya. Saya akan bisa berjalan dengan bangga, mengetahui bahwa saya lahir dari orangtua yang <em>jelas</em> dan akan sanggup membantah omongan buruk para tetua.”</p>

<p>Joshua mulai membelai lagi kepala suaminya.</p>

<p>“<em>Tidak ingin saya menderita??</em>” Mingyu mengernyitkan alis. “Tidakkah mereka menyadari bahwa saya jauh lebih menderita seperti ini, ditinggal dalam gelapnya ketidaktahuan?? Bagaimana bisa seorang anak tidak pernah bertemu dengan ibunya, sedangkan mereka mengetahui dimana ibu saya selama ini??</p>

<p>Saya—saya—”</p>

<p><em>—hanya ingin bertemu orangtua saya.</em></p>

<p><em>Terlalu banyakkah saya meminta...?</em></p>

<p>Kata-kata yang gagal keluar takkan keluar selamanya. Alih-alih, isak tangis terdengar dan bagian depan kemeja Mingyu yang Joshua kenakan pun basah. Feromon Alphanya terkoyak oleh frustrasi dan kemarahan, membuat Joshua semakin mengerahkan feromonnya sendiri. Adalah insting bagi kaum serigala untuk berusaha menenangkan pasangannya.</p>

<p>Namun, meskipun begitu, kali ini Mingyu tidak semudah itu ditenangkan. Ia terus saja menangis sambil memeluk Joshua seakan tak ada lagi yang bisa ia harapkan selain Omeganya. Hati Joshua hancur bersama dengan Mingyu. Ia sendiri tidak sadar kapan tepatnya tangis telah meleleh di pipi sampai ia menarik napas panjang.</p>

<p>Tak ada kata-kata yang bisa ia berikan pada Mingyu saat ini.</p>

<p>Yang bisa ia berikan hanyalah kecupan dan elusan, serta feromon yang menyuarakan rasa cintanya pada sang Alpha.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-133</guid>
      <pubDate>Mon, 07 Nov 2022 15:21:21 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Part 132</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-132?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuaabo&#xA;&#xA;&#34;Nah, nah. Bagaimana kalau aku yang menambahkan dari sini, Bibi?&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Sebuah suara membuat seluruh pihak sontak menoleh ke arah pintu. Seseorang telah masuk seenaknya, melenggang santai seolah tidak baru saja membuat pernyataan mencengangkan. Seseorang yang bergender Alpha dan berkedudukan tak kalah pentingnya dalam silsilah keluarga kerajaan.&#xA;&#xA;&#34;Kau terlambat,&#34; tukas Tuan Raja.&#xA;&#xA;Tuan Lee meringis.&#xA;&#xA;&#34;Maaf, Kak. Aku baru sempat ke ruangan Dewan Tetua. Betapa kagetnya aku menemukan ruangan itu kosong! Mereka meninggalkanku tanpa informasi apapun!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tidakkah undanganku mencapaimu?&#34; alis Tuan Raja mengernyit.&#xA;&#xA;&#34;Mencapai Kwannie, tepatnya,&#34; ralat Tuan Lee. &#34;Dan sayangku itu sedang merajuk karena dikiranya aku tidak menyadari potongan rambut barunya, padahal dia sama cantiknya di mataku seperti biasa. Aku baru mengetahui pertemuan ini lima belas menit sebelum tiba di sini. Dan hal pertama yang kudengar malah soal orangtua Kim.&#34;&#xA;&#xA;Lee Seokmin berputar menghadap sepupunya. Melihat kondisi sang Alpha, Tuan Lee menyunggingkan senyuman sedih. Dari balik kekacauan benak, Kim Mingyu bisa melihat bahwa Alpha itu mengetahui lebih banyak dari yang ia tonjolkan di permukaan.&#xA;&#xA;&#34;Kim. Ayahku pernah bertemu ibumu.&#34;&#xA;&#xA;Kalimat yang membuat Mingyu kembali syok. Tubuh dan rahangnya menegang.&#xA;&#xA;&#34;Ayahku...ah, terberkatilah arwahnya...ayahku menemukannya setahun sebelum ia sendiri berpulang,&#34; dalam satu helaan napas, pengakuan pun tumpah bagai dam yang pintunya dibuka. &#34;Ayahku menekan Bibi perihal dirimu. Dia yakin bahwa dirimu adalah anak haram Mendiang Paman. Bagaimanapun juga, Bibi adalah adik sepupunya. Dia ingin Bibi membuangmu dan tidak diam saja menahan derita.&#xA;&#xA;Kemudian, Bibi menunjukkan jurnal di tangan Anda, Tetua Baek.&#34;&#xA;&#xA;Sang Beta memandangi jurnal tersebut untuk ke sekian kali.&#xA;&#xA;&#34;Jurnal yang tidak diketahui keberadaannya oleh siapapun selain Mendiang Paman dan Bibi. Ayahku membacanya dan, yah, singkat kata, rasa bersalah menelannya bulat-bulat. Dia menua dalam hitungan malam saja. Segala yang telah dia perbuat pada Kim kembali lagi padanya, bagai karma yang kejam.&#34;&#xA;&#xA;&#34;K-kenapa...?&#34; ujar Tetua Baek. Ayahanda dari Tuan Lee adalah sahabat baiknya. Sebelum Tetua Baek menjabat posisi sebagai kepala Dewan Tetua, ayahanda Tuan Lee lah yang menjabat posisi tersebut. &#34;Kenapa Mendiang Tetua Lee tidak pernah menceritakannya pada saya...? Saya tidak...&#34;&#xA;&#xA;—tahu.&#xA;&#xA;&#34;Tentu saja ayahku tidak menceritakannya pada Anda,&#34; decak Tuan Lee. &#34;Mau ditaruh di mana muka dan harga dirinya bila seluruh kerajaan tahu bahwa dia sendiri lah yang menyebarkan rumor bahwa Kim adalah anak haram mendiang Paman?&#34;&#xA;&#xA;Mendengar itu, Tetua Baek segera bereaksi defensif. &#34;Tidak mungkin!&#34; serunya. &#34;Saya dan Mendiang Tetua Lee berusaha keras melenyapkan rumor tak bertuan itu—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sungguh, aku ingin sekali membacakan isi surat wasiat rangkap pengakuan dosanya pada Anda,&#34; potong Tuan Lee. &#34;Tapi aku tidak hobi membawa-bawa surat wasiat almarhum ayah. Datanglah ke kediamanku setelah ini, Tetua Baek, dan aku akan memperlihatkannya pada Anda.&#34;&#xA;&#xA;Tuan Lee meringis santai. Tetua Baek, terlalu tua dan letih menyerap semua informasi ini, perlahan jatuh pada kedua lututnya. Anggota Dewan Tetua lain terkejut dan berlutut bersamanya, memastikan ketua mereka baik-baik saja.&#xA;&#xA;&#34;Jadi...selama ini...saya meyakini sebuah dusta...?&#34;&#xA;&#xA;Terkhianati oleh sahabat sendiri yang ia percayai hingga sumsum tulang belakang.&#xA;&#xA;Iba, Tuan Lee berdeham untuk melancarkan tenggorokannya.&#xA;&#xA;&#34;Ayahku, setelah menyadari kesalahannya, pun akhirnya mengerahkan informannya sendiri, melalui kelamnya kehidupan malam dan gorong-gorong berbau apak. Tempat-tempat yang, sekiranya, terlewat dari pandangan Mendiang Paman. Dan dia menemukan orangtuamu, Kim.&#34;&#xA;&#xA;Bagai tersihir, Kim Mingyu tidak bisa melepas pandangannya dari tatapan Lee Seokmin. Semua orang ini mengetahui masa lalunya...dan membiarkan dirinya terjebak dalam kegelapan sepanjang hidupnya...?&#xA;&#xA;&#34;Tepatnya, ibumu. Ayahmu telah lama berpulang. Ayahku menemuinya, mengonfirmasi keabsahan statusmu sebagai keturunan langsung Raja Terdahulu. Ibumu memberikannya banyak sekali dokumen, seperti surat-surat dan akta lahir.&#34;&#xA;&#xA;Apakah...apakah orang-orang ini akan terus memendam rahasia tersebut andaikata ia tidak ditunjuk menjadi pengganti sementara Tuan Raja...?&#xA;&#xA;&#34;Mengapa...,&#34; dengan suara serak, Mingyu melontarkan pertanyaan. &#34;...mengapa Beliau membuang saya di jalan...?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ketakutan,&#34; Tuan Lee bergumam. &#34;Ayahku menulis dalam suratnya bahwa, ketika dia menemui ibumu, kondisinya sungguh mengenaskan. Ibumu sakit berkepanjangan. Pun, setelah ayahmu tiada, tidak ada yang melindunginya apabila kerajaan mengetahui siapa sebenarnya dirimu. Dia hanya sendirian, mengasuh anak kecil yang membawa darah Raja Terdahulu dalam nadinya, dan dia ketakutan.&#xA;&#xA;Ibumu menaruhmu di panti asuhan, berharap kau akan dirawat penuh kasih oleh keluarga adopsimu. Ayahku tidak mengatakan bahwa kau dibuang dari panti asuhan itu karena kekurangan kapasitas menampung. Dia hanya mengatakan bahwa Mendiang Paman menemukanmu dan merawatmu seperti putranya sendiri. Ibumu tersenyum lebar mendengarnya.&#xA;&#xA;Ketika ayahku kembali lagi ke sana seminggu kemudian, ibumu sudah tiada.&#34;&#xA;&#xA;Hening. Menyesakkan. Kepala Kim Mingyu begitu pening akan semua fakta hidup yang dirinya sendiri tidak ketahui. Ada rasa mual yang mendadak naik, mendesak kerongkongannya. Joshua, menyadari keadaan Mingyu tidak baik-baik saja, segera mengambil alih situasi.&#xA;&#xA;&#34;Stop!&#34; serunya. Ia memeluk sisi tubuh suaminya, melindungi Mingyu dengan caranya sendiri. &#34;Udah! Stop! Mingyu—Mingyu udah—&#34; Sang Omega menggigit bibir bagian bawahnya. Ia sendiri masih syok mendengar semua itu. &#34;Stop. Please...&#34;&#xA;&#xA;Tuan Lee mendesah sambil menggaruk bagian belakang lehernya. Tuan Raja dan Tuan Yoon berbagi pandangan. Sejujurnya, ini juga pertama kalinya mereka mengetahui keadaan yang sesungguhnya. Para hadirin terlalu terpaku untuk mulai berbisik-bisik, sebagaimana Tetua Baek dan anggota Dewan Tetua ikut terdiam. Tuan Kwon menerawang, memeluk Tuan Wen yang memerhatikan semua dalam ketenangan. Yang Mulia Ibu Suri mengusap wajahnya, terlalu letih dengan segala yang terjadi.&#xA;&#xA;Tuan Raja lah yang memecahkan keheningan yang panjang tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Baiklah. Kurasa semua pihak perlu waktu untuk mencerna semua itu,&#34; dehamnya dalam ketegasan. Namun, saat memanggil Mingyu, nadanya serta merta melembut.&#xA;&#xA;&#34;Adikku. Pulanglah bersama Omegamu. Pikirkanlah baik-baik permintaanku tadi.&#34;&#xA;&#xA;Tuan Raja lalu meremas tangan Tuan Yoon.&#xA;&#xA;&#34;Jika kau membutuhkanku dan Hani, kami selalu ada di sini untukmu...&#34;&#xA;&#xA;Bukan Mingyu tetapi Joshua lah yang mengangguk. Sang Omega pun memboyong perlahan suaminya untuk pergi dari situ, membawanya kembali ke sarang mereka yang nyaman, hangat dan aman, tanpa dusta dan intrik bak benang kusut yang telah menghancurkan hidup suaminya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuaabo" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuaabo</span></a></p>

<p>“Nah, nah. Bagaimana kalau aku yang menambahkan dari sini, Bibi?”</p>



<p>Sebuah suara membuat seluruh pihak sontak menoleh ke arah pintu. Seseorang telah masuk seenaknya, melenggang santai seolah tidak baru saja membuat pernyataan mencengangkan. Seseorang yang bergender Alpha dan berkedudukan tak kalah pentingnya dalam silsilah keluarga kerajaan.</p>

<p>“Kau terlambat,” tukas Tuan Raja.</p>

<p>Tuan Lee meringis.</p>

<p>“Maaf, Kak. Aku baru sempat ke ruangan Dewan Tetua. Betapa kagetnya aku menemukan ruangan itu kosong! Mereka meninggalkanku tanpa informasi apapun!”</p>

<p>“Tidakkah undanganku mencapaimu?” alis Tuan Raja mengernyit.</p>

<p>“Mencapai <em>Kwannie</em>, tepatnya,” ralat Tuan Lee. “Dan sayangku itu sedang <em>merajuk</em> karena dikiranya aku tidak menyadari potongan rambut barunya, padahal dia sama cantiknya di mataku seperti biasa. Aku baru mengetahui pertemuan ini lima belas menit sebelum tiba di sini. Dan hal pertama yang kudengar malah soal orangtua Kim.”</p>

<p>Lee Seokmin berputar menghadap sepupunya. Melihat kondisi sang Alpha, Tuan Lee menyunggingkan senyuman sedih. Dari balik kekacauan benak, Kim Mingyu bisa melihat bahwa Alpha itu mengetahui lebih banyak dari yang ia tonjolkan di permukaan.</p>

<p>“Kim. Ayahku pernah bertemu ibumu.”</p>

<p>Kalimat yang membuat Mingyu kembali syok. Tubuh dan rahangnya menegang.</p>

<p>“Ayahku...ah, terberkatilah arwahnya...ayahku menemukannya setahun sebelum ia sendiri berpulang,” dalam satu helaan napas, pengakuan pun tumpah bagai dam yang pintunya dibuka. “Ayahku menekan Bibi perihal dirimu. Dia yakin bahwa dirimu adalah anak haram Mendiang Paman. Bagaimanapun juga, Bibi adalah adik sepupunya. Dia ingin Bibi membuangmu dan tidak diam saja menahan derita.</p>

<p>Kemudian, Bibi menunjukkan jurnal di tangan Anda, Tetua Baek.”</p>

<p>Sang Beta memandangi jurnal tersebut untuk ke sekian kali.</p>

<p>“Jurnal yang tidak diketahui keberadaannya oleh siapapun selain Mendiang Paman dan Bibi. Ayahku membacanya dan, yah, singkat kata, rasa bersalah menelannya bulat-bulat. Dia menua dalam hitungan malam saja. Segala yang telah dia perbuat pada Kim kembali lagi padanya, bagai karma yang kejam.”</p>

<p>“K-kenapa...?” ujar Tetua Baek. Ayahanda dari Tuan Lee adalah sahabat baiknya. Sebelum Tetua Baek menjabat posisi sebagai kepala Dewan Tetua, ayahanda Tuan Lee lah yang menjabat posisi tersebut. “Kenapa Mendiang Tetua Lee tidak pernah menceritakannya pada saya...? Saya tidak...”</p>

<p><em>—tahu</em>.</p>

<p>“Tentu saja ayahku tidak menceritakannya pada Anda,” decak Tuan Lee. “Mau ditaruh di mana muka dan harga dirinya bila seluruh kerajaan tahu bahwa dia sendiri lah yang menyebarkan rumor bahwa Kim adalah anak haram mendiang Paman?”</p>

<p>Mendengar itu, Tetua Baek segera bereaksi defensif. “Tidak mungkin!” serunya. “Saya dan Mendiang Tetua Lee berusaha keras melenyapkan rumor tak bertuan itu—”</p>

<p>“Sungguh, aku ingin sekali membacakan isi surat wasiat rangkap pengakuan dosanya pada Anda,” potong Tuan Lee. “Tapi aku tidak <em>hobi</em> membawa-bawa surat wasiat almarhum ayah. Datanglah ke kediamanku setelah ini, Tetua Baek, dan aku akan memperlihatkannya pada Anda.”</p>

<p>Tuan Lee meringis santai. Tetua Baek, terlalu tua dan letih menyerap semua informasi ini, perlahan jatuh pada kedua lututnya. Anggota Dewan Tetua lain terkejut dan berlutut bersamanya, memastikan ketua mereka baik-baik saja.</p>

<p>“Jadi...selama ini...saya meyakini sebuah <em>dusta</em>...?”</p>

<p>Terkhianati oleh sahabat sendiri yang ia percayai hingga sumsum tulang belakang.</p>

<p>Iba, Tuan Lee berdeham untuk melancarkan tenggorokannya.</p>

<p>“Ayahku, setelah menyadari kesalahannya, pun akhirnya mengerahkan informannya sendiri, melalui kelamnya kehidupan malam dan gorong-gorong berbau apak. Tempat-tempat yang, sekiranya, terlewat dari pandangan Mendiang Paman. Dan dia menemukan orangtuamu, Kim.”</p>

<p>Bagai tersihir, Kim Mingyu tidak bisa melepas pandangannya dari tatapan Lee Seokmin. <em>Semua orang ini mengetahui masa lalunya...dan membiarkan dirinya terjebak dalam kegelapan sepanjang hidupnya...?</em></p>

<p>“Tepatnya, ibumu. Ayahmu telah lama berpulang. Ayahku menemuinya, mengonfirmasi keabsahan statusmu sebagai keturunan langsung Raja Terdahulu. Ibumu memberikannya banyak sekali dokumen, seperti surat-surat dan akta lahir.”</p>

<p><em>Apakah...apakah orang-orang ini akan terus memendam rahasia tersebut andaikata ia tidak ditunjuk menjadi pengganti sementara Tuan Raja...?</em></p>

<p>“Mengapa...,” dengan suara serak, Mingyu melontarkan pertanyaan. “...mengapa Beliau membuang saya di jalan...?”</p>

<p>“Ketakutan,” Tuan Lee bergumam. “Ayahku menulis dalam suratnya bahwa, ketika dia menemui ibumu, kondisinya sungguh mengenaskan. Ibumu sakit berkepanjangan. Pun, setelah ayahmu tiada, tidak ada yang melindunginya apabila kerajaan mengetahui siapa sebenarnya dirimu. Dia hanya sendirian, mengasuh anak kecil yang membawa darah Raja Terdahulu dalam nadinya, dan dia ketakutan.</p>

<p>Ibumu menaruhmu di panti asuhan, berharap kau akan dirawat penuh kasih oleh keluarga adopsimu. Ayahku tidak mengatakan bahwa kau dibuang dari panti asuhan itu karena kekurangan kapasitas menampung. Dia hanya mengatakan bahwa Mendiang Paman menemukanmu dan merawatmu seperti putranya sendiri. Ibumu tersenyum lebar mendengarnya.</p>

<p>Ketika ayahku kembali lagi ke sana seminggu kemudian, ibumu sudah tiada.”</p>

<p>Hening. <em>Menyesakkan</em>. Kepala Kim Mingyu begitu pening akan semua fakta hidup yang dirinya sendiri tidak ketahui. Ada rasa mual yang mendadak naik, mendesak kerongkongannya. Joshua, menyadari keadaan Mingyu tidak baik-baik saja, segera mengambil alih situasi.</p>

<p>“<em>Stop!</em>” serunya. Ia memeluk sisi tubuh suaminya, melindungi Mingyu dengan caranya sendiri. “Udah! Stop! Mingyu—Mingyu udah—” Sang Omega menggigit bibir bagian bawahnya. Ia sendiri masih syok mendengar semua itu. “Stop. <em>Please</em>...”</p>

<p>Tuan Lee mendesah sambil menggaruk bagian belakang lehernya. Tuan Raja dan Tuan Yoon berbagi pandangan. Sejujurnya, ini juga pertama kalinya mereka mengetahui keadaan yang sesungguhnya. Para hadirin terlalu terpaku untuk mulai berbisik-bisik, sebagaimana Tetua Baek dan anggota Dewan Tetua ikut terdiam. Tuan Kwon menerawang, memeluk Tuan Wen yang memerhatikan semua dalam ketenangan. Yang Mulia Ibu Suri mengusap wajahnya, terlalu letih dengan segala yang terjadi.</p>

<p>Tuan Raja lah yang memecahkan keheningan yang panjang tersebut.</p>

<p>“Baiklah. Kurasa semua pihak perlu waktu untuk mencerna semua itu,” dehamnya dalam ketegasan. Namun, saat memanggil Mingyu, nadanya serta merta melembut.</p>

<p>“Adikku. Pulanglah bersama Omegamu. Pikirkanlah baik-baik permintaanku tadi.”</p>

<p>Tuan Raja lalu meremas tangan Tuan Yoon.</p>

<p>“Jika kau membutuhkanku dan Hani, kami selalu ada di sini untukmu...”</p>

<p>Bukan Mingyu tetapi Joshua lah yang mengangguk. Sang Omega pun memboyong perlahan suaminya untuk pergi dari situ, membawanya kembali ke sarang mereka yang nyaman, hangat dan aman, tanpa dusta dan intrik bak benang kusut yang telah menghancurkan hidup suaminya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-132</guid>
      <pubDate>Sun, 06 Nov 2022 01:43:40 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Part 131</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-131?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuaabo&#xA;&#xA;Tetua Baek membaca dan membaca. Semakin ia menyerap isi jurnal tersebut, semakin dalam kerutan di antara keningnya.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;...Apa maksudnya semua ini, Yang Mulia?&#34; akhirnya, ia bertanya dengan getir dalam nada.&#xA;&#xA;Berkebalikan dengan sang Beta, Yang Mulia Ibu Suri membalas dengan mantap, &#34;Seperti yang Anda baca sendiri, Tetua, itu adalah jurnal perjalanan Raja Terdahulu sebelum ia mengambil alih takhta dengan membunuh ayahnya dan memerintah kerajaan ini dengan lalim. Jurnal yang diwariskan pada Mendiang Baginda dan, kini, berada di tanganku.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maksud Anda—&#34; Tetua Baek menyipitkan mata. &#34;—bahwa ada pewaris lain selain Mendiang Baginda?&#34;&#xA;&#xA;Seluruh penghuni ruangan terkesiap.&#xA;&#xA;&#34;Betul,&#34; sahut sang Omega. &#34;Anak yang terlahir dari cintanya pada seorang Omega dalam pernikahan yang sah. Anak yang hilang entah di mana. Kakak tiri mendiang suamiku.&#34;&#xA;&#xA;Kemudian, Yang Mulia Ibu Suri menghadap ke arah Mingyu.&#xA;&#xA;&#34;Anak yang merupakan ayah kandung dari Kim Mingyu.&#34;&#xA;&#xA;Seperti tersambar petir, Mingyu menarik napas mendadak. Joshua hanya bisa memandanginya dengan cemas sembari mengelusi lengannya, menenangkan Alphanya sebisa mungkin. Yang Mulia Ibu Suri kembali menangkup pipi putranya. Rautnya begitu letih, meski ada kelegaan ganjil di sana.&#xA;&#xA;Bahwa ia tidak perlu lagi membawa rahasia tersebut masuk ke dalam kuburnya. &#xA;&#xA;&#34;Maafkan kami, Anakku. Bukan maksud kami menyembunyikannya darimu, tetapi kami tidak ingin kau menderita lebih dari ini,&#34; lirihnya. &#34;Mendiang Baginda mencari dan mencari ayahmu, ingin bertemu dengan satu-satunya saudara sah yang ia miliki. Tetapi, ketika akhirnya kami menemukan titik terang—&#xA;&#xA;—kami menemukanmu. Terlantar di pinggir jalan dan hampir mati kelaparan. Mendiang Baginda berusaha mencari orangtuamu hingga ke pelosok negeri, namun kami tidak menemukan jawaban. Maka, kami hanya bisa memberikanmu secuil kebahagiaan dengan membesarkanmu bersama putra kami sendiri...&#34;&#xA;&#xA;Bulir tangis menuruni wajah cantik Yang Mulia Ibu Suri.&#xA;&#xA;&#34;Maafkan kami...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ibunda...,&#34; Mingyu mendeking. Kelopak matanya tidak mampu menahan tangisnya sendiri. &#34;Jika begitu, maka orangtua saya...apakah mereka telah...&#34;&#xA;&#xA;...tewas?&#xA;&#xA;&#34;Nah, nah. Bagaimana kalau aku yang menambahkan dari sini?&#34; seringai terkembang. Sesosok Alpha telah memasuki ruangan tersebut tanpa dinyana, mengejutkan mereka semua. &#34;Bibi?&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuaabo" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuaabo</span></a></p>

<p>Tetua Baek membaca dan membaca. Semakin ia menyerap isi jurnal tersebut, semakin dalam kerutan di antara keningnya.</p>



<p>”...Apa maksudnya semua ini, Yang Mulia?” akhirnya, ia bertanya dengan getir dalam nada.</p>

<p>Berkebalikan dengan sang Beta, Yang Mulia Ibu Suri membalas dengan mantap, “Seperti yang Anda baca sendiri, Tetua, itu adalah jurnal perjalanan Raja Terdahulu sebelum ia mengambil alih takhta dengan membunuh ayahnya dan memerintah kerajaan ini dengan lalim. Jurnal yang diwariskan pada Mendiang Baginda dan, kini, berada di tanganku.”</p>

<p>“Maksud Anda—” Tetua Baek menyipitkan mata. “—bahwa ada pewaris lain selain Mendiang Baginda?”</p>

<p>Seluruh penghuni ruangan terkesiap.</p>

<p>“Betul,” sahut sang Omega. “Anak yang terlahir dari cintanya pada seorang Omega dalam pernikahan yang sah. Anak yang hilang entah di mana. Kakak tiri mendiang suamiku.”</p>

<p>Kemudian, Yang Mulia Ibu Suri menghadap ke arah Mingyu.</p>

<p>“Anak yang merupakan ayah kandung dari Kim Mingyu.”</p>

<p>Seperti tersambar petir, Mingyu menarik napas mendadak. Joshua hanya bisa memandanginya dengan cemas sembari mengelusi lengannya, menenangkan Alphanya sebisa mungkin. Yang Mulia Ibu Suri kembali menangkup pipi putranya. Rautnya begitu letih, meski ada kelegaan ganjil di sana.</p>

<p>Bahwa ia tidak perlu lagi membawa rahasia tersebut masuk ke dalam kuburnya.</p>

<p>“Maafkan kami, Anakku. Bukan maksud kami menyembunyikannya darimu, tetapi kami tidak ingin kau menderita lebih dari ini,” lirihnya. “Mendiang Baginda mencari dan mencari ayahmu, ingin bertemu dengan satu-satunya saudara sah yang ia miliki. Tetapi, ketika akhirnya kami menemukan titik terang—</p>

<p>—kami menemukanmu. Terlantar di pinggir jalan dan hampir mati kelaparan. Mendiang Baginda berusaha mencari orangtuamu hingga ke pelosok negeri, namun kami tidak menemukan jawaban. Maka, kami hanya bisa memberikanmu secuil kebahagiaan dengan membesarkanmu bersama putra kami sendiri...”</p>

<p>Bulir tangis menuruni wajah cantik Yang Mulia Ibu Suri.</p>

<p>“Maafkan kami...”</p>

<p>“Ibunda...,” Mingyu mendeking. Kelopak matanya tidak mampu menahan tangisnya sendiri. “Jika begitu, maka orangtua saya...apakah mereka telah...”</p>

<p>...<em>tewas</em>?</p>

<p>“Nah, nah. Bagaimana kalau aku yang menambahkan dari sini?” seringai terkembang. Sesosok Alpha telah memasuki ruangan tersebut tanpa dinyana, mengejutkan mereka semua. “Bibi?”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-131</guid>
      <pubDate>Sat, 05 Nov 2022 13:01:42 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Part 130</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-130?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuaabo&#xA;&#xA;Musim panas bulan ketiga, hari ke 17.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Mereka semua tewas.&#xA;&#xA;Aku kembali dari berburu dan tanah belum pernah semerah itu di bawah tapak sepatuku. Aku melihat beberapa mayat dari rombonganku dahulu, tergeletak dengan label pengkhianat tak kasat mata tersemat pada mereka selamanya. Prajurit yang dikirim Ayahanda untuk menuntaskan ekspedisi dan menjemput kami melapor padaku, seolah mereka tidak baru saja membantai satu suku dan mantan prajurit mereka sendiri.&#xA;&#xA;Aku tidak bisa berpikir. Kenapa...? Bagaimana ini semua bisa terjadi?&#xA;&#xA;Omega itu.&#xA;&#xA;Omega itu tidak ada di manapun. Anakku tidak ada di manapun. Aku mencari dan mencari mereka di antara timbunan jenasah. Mereka tidak ada. Mereka bilang beberapa hancur sampai ke muka dan mungkin salah satunya adalah mereka, namun aku mengenal baunya.&#xA;&#xA;Omegaku.&#xA;&#xA;Aku kehilangan putraku. Aku kehilangan Omegaku.&#xA;&#xA;Kekasihku.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuaabo" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuaabo</span></a></p>

<p><em>Musim panas bulan ketiga, hari ke 17.</em></p>



<p><em>Mereka semua tewas.</em></p>

<p><em>Aku kembali dari berburu dan tanah belum pernah semerah itu di bawah tapak sepatuku. Aku melihat beberapa mayat dari rombonganku dahulu, tergeletak dengan label pengkhianat tak kasat mata tersemat pada mereka selamanya. Prajurit yang dikirim Ayahanda untuk menuntaskan ekspedisi dan menjemput kami melapor padaku, seolah mereka tidak baru saja membantai satu suku dan mantan prajurit mereka sendiri.</em></p>

<p><em>Aku tidak bisa berpikir. Kenapa...? Bagaimana ini semua bisa terjadi?</em></p>

<p><em>Omega itu.</em></p>

<p><em>Omega itu tidak ada di manapun. Anakku tidak ada di manapun. Aku mencari dan mencari mereka di antara timbunan jenasah. Mereka tidak ada. Mereka bilang beberapa hancur sampai ke muka dan mungkin salah satunya adalah mereka, namun aku mengenal baunya.</em></p>

<p><em>Omegaku.</em></p>

<p><em>Aku kehilangan putraku. Aku kehilangan Omegaku.</em></p>

<p><em>Kekasihku.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-130</guid>
      <pubDate>Sat, 05 Nov 2022 12:35:43 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>