<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>gyuhaoparentssequel &amp;mdash; 🌾</title>
    <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaoparentssequel</link>
    <description>narrative writings of thesunmetmoon</description>
    <pubDate>Fri, 24 Apr 2026 23:44:25 +0000</pubDate>
    <image>
      <url>https://i.snap.as/K7JGOEOo.png</url>
      <title>gyuhaoparentssequel &amp;mdash; 🌾</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaoparentssequel</link>
    </image>
    <item>
      <title>88.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/88?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaoparentssequel&#xA;&#xA;&#34;Gue bakal balik ke Indonesia akhir bulan ini.&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Choi Yena mengerjap. Restoran belum buka di jam 9 lewat sedikit. Dengan Joshua dan ayahnya berdiskusi mengenai penyempurnaan menu baru mereka, ia ditinggalkan berdua saja dengan gadis itu. Mereka duduk berhadapan di konter bar. Mendengar itu, Yena tetap diam, namun ditelengkannya kepala seolah menunggu ada lanjutan dari kata-kata manajernya.&#xA;&#xA;&#34;Gue mau kelarin sekolah gue,&#34; ucapnya kemudian. &#34;Terus gue mau kuliah. Mungkin di Indonesia. Mungkin di tempat lain.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm...,&#34; Yena mengangguk-angguk. &#34;Jadi Manajer udah tau ya mau ke mana?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, haha.&#34;&#xA;&#xA;Jeda.&#xA;&#xA;&#34;......Manajer,&#34; Choi Yena mengambil tangannya untuk digenggam lemah. &#34;Yena seneng denger Manajer udah tau jalan hidup Manajer. Jarang lho yang bisa tau gitu. Kayak Yena. Yena aja nggak tau mau jadi apa.&#34; Gadis itu tertawa ringan. &#34;Manajer hebat. Manajer pasti bisa dapet apa yang Manajer mau.&#34;&#xA;&#xA;&#34;....Beneran?&#34; Kakak menelusuri jari-jemari gadis itu dengan jarinya sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Mm,&#34; ia mengangguk.&#xA;&#xA;&#34;........Jadi, kalo gue mau kamu, bisa dapet nggak?&#34;&#xA;&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;&#xA;Keheningan yang merentang itu membuat Kakak menunduk malu. Ia mengalihkan pandang dari gadis itu. Rasanya sungguh memalukan. Ini gara-gara ibunya bicara aneh-aneh sebelum lepas landas. Iya, pasti karena itu. Belum terlambat untuk merubah semua, bilang kalau dia hanya bercanda dan--&#xA;&#xA;&#34;Mm, mungkin sekarang masih belum bisa yah?&#34;&#xA;&#xA;Krak.&#xA;&#xA;Aduh, kok dadanya sakit?&#xA;&#xA;&#34;Ah, tapi jangan salah paham. Manajer orang baik. Yena suka sama Manajer, tapi bukan suka yang kayak gitu,&#34; gadis itu meremas kedua tangannya. &#34;Tapi nanti kalo Manajer udah kelar kuliah, terus somehow balik lagi ke sini, kasitau Yena ya. Kalo kita sama-sama belum nemu pasangan, coba tembak Yena lagi, siapa tau Yena udah suka Manajer yang suka kayak gitu &#34;&#xA;&#xA;Paras gadis itu bersungguh-sungguh, membuat Kakak tertegun, lalu, perlahan, tertawa lepas. Dia bahkan tidak diberi waktu untuk sedih ataupun marah pada diri sendiri. Choi Yena baru saja menolaknya. Patah hati yang pertama ternyata begini rasanya. Sakit, tapi...ah, gadis itu hebat, bukan? Sakit, iya, tapi juga lega. Sangat lega.&#xA;&#xA;&#34;Terima kasih penolakannya, Choi Yena,&#34; masih terkekeh, Kakak mengangkat tangan untuk memijit hidung gadis itu, yang tentu saja langsung diprotes. &#34;Jadi fix satu hal lagi yang emang gue lagi bingung pertimbangin.&#34;&#xA;&#xA;&#34;?&#34;&#xA;&#xA;Kakak meringis jahil. &#34;Gue bakal kuliah di Tokyo sini aja. So, see you in one year, Choi Yena. And when that time comes,&#34; diketuknya ujung hidung gadis itu dengan lembut, selembut senyumannya kemudian. &#34;Prepare yourself to fall for me.&#34;&#xA;&#xA;Bohong kalau Yena bilang jantungnya tidak melompat sekejap di dalam dada, tapi, ah, Manajer kan tidak perlu tahu soal itu. Maka, ia hanya tertawa bersamanya. Ringan dan nyaman.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaoparentssequel" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaoparentssequel</span></a></p>

<p>“Gue bakal balik ke Indonesia akhir bulan ini.”</p>



<p>Choi Yena mengerjap. Restoran belum buka di jam 9 lewat sedikit. Dengan Joshua dan ayahnya berdiskusi mengenai penyempurnaan menu baru mereka, ia ditinggalkan berdua saja dengan gadis itu. Mereka duduk berhadapan di konter bar. Mendengar itu, Yena tetap diam, namun ditelengkannya kepala seolah menunggu ada lanjutan dari kata-kata manajernya.</p>

<p>“Gue mau kelarin sekolah gue,” ucapnya kemudian. “Terus gue mau kuliah. Mungkin di Indonesia. Mungkin di tempat lain.”</p>

<p>“Hmm...,” Yena mengangguk-angguk. “Jadi Manajer udah tau ya mau ke mana?”</p>

<p>“Iya, haha.”</p>

<p>Jeda.</p>

<p>”......Manajer,” Choi Yena mengambil tangannya untuk digenggam lemah. “Yena seneng denger Manajer udah tau jalan hidup Manajer. Jarang lho yang bisa tau gitu. Kayak Yena. Yena aja nggak tau mau jadi apa.” Gadis itu tertawa ringan. “Manajer hebat. Manajer pasti bisa dapet apa yang Manajer mau.”</p>

<p>”....Beneran?” Kakak menelusuri jari-jemari gadis itu dengan jarinya sendiri.</p>

<p>“Mm,” ia mengangguk.</p>

<p>”........Jadi, kalo gue mau kamu, bisa dapet nggak?”</p>

<p>.
.
.</p>

<p>Keheningan yang merentang itu membuat Kakak menunduk malu. Ia mengalihkan pandang dari gadis itu. Rasanya sungguh memalukan. Ini gara-gara ibunya bicara aneh-aneh sebelum lepas landas. Iya, pasti karena itu. Belum terlambat untuk merubah semua, bilang kalau dia hanya bercanda dan—</p>

<p>“Mm, mungkin sekarang masih belum bisa yah?”</p>

<p>Krak.</p>

<p>Aduh, kok dadanya sakit?</p>

<p>“Ah, tapi jangan salah paham. Manajer orang baik. Yena suka sama Manajer, tapi bukan suka yang kayak gitu,” gadis itu meremas kedua tangannya. “Tapi nanti kalo Manajer udah kelar kuliah, terus somehow balik lagi ke sini, kasitau Yena ya. Kalo kita sama-sama belum nemu pasangan, coba tembak Yena lagi, siapa tau Yena udah suka Manajer yang suka kayak gitu “</p>

<p>Paras gadis itu bersungguh-sungguh, membuat Kakak tertegun, lalu, perlahan, tertawa lepas. Dia bahkan tidak diberi waktu untuk sedih ataupun marah pada diri sendiri. Choi Yena baru saja menolaknya. Patah hati yang pertama ternyata begini rasanya. Sakit, tapi...ah, gadis itu hebat, bukan? Sakit, iya, tapi juga lega. Sangat lega.</p>

<p>“Terima kasih penolakannya, Choi Yena,” masih terkekeh, Kakak mengangkat tangan untuk memijit hidung gadis itu, yang tentu saja langsung diprotes. “Jadi fix satu hal lagi yang emang gue lagi bingung pertimbangin.”</p>

<p>”?”</p>

<p>Kakak meringis jahil. “Gue bakal kuliah di Tokyo sini aja. So, see you in one year, Choi Yena. And when that time comes,” diketuknya ujung hidung gadis itu dengan lembut, selembut senyumannya kemudian. “Prepare yourself to fall for me.”</p>

<p>Bohong kalau Yena bilang jantungnya tidak melompat sekejap di dalam dada, tapi, ah, Manajer kan tidak perlu tahu soal itu. Maka, ia hanya tertawa bersamanya. Ringan dan nyaman.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/88</guid>
      <pubDate>Tue, 14 Jul 2020 04:19:16 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>85.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/85?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaoparentssequel&#xA;&#xA;Pagi itu, ia turun dari kamar tidur, masih mengantuk. Namun, saat kakinya menjejak anak tangga terbawah, kantuk pun sirna, langsung tergantikan senyuman pasal melihat siapa yang ada di sana menyambutnya.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Pagi, Sayangnya Mama,&#34; ibunya tengah duduk di kursi goyang yang ditaruh di ruang keluarga, menghadap ke kebun. Pintu kaca yang dipasang sebagai pembatas telah dibuka lebar, memasukkan udara pagi yang segar nan cerah ke seluruh rumah.&#xA;&#xA;Minghao menimang bayi kembarnya. Yang perempuan duduk dengan tenang di paha ibunya, tangan mungilnya merenggut pakaian yang Minghao kenakan. Yang laki-laki sedang disusui dari botol. Nafsu makannya seperti ayahnya.&#xA;&#xA;Adik tersenyum lebar. Kemarin, saat ibunya turun dari taksi di sore hari, ia lekas melompat dari tempatnya duduk, berlari menyambut ibunya dengan pelukan erat.&#xA;&#xA;&#34;Mama, Mama,&#34; tangisnya sesengukan. &#34;Mama, maafin Adek, Mah, maafin Adek. Adek nggak sengaja. Si Kembar...Adek nggak sengaja...maafin Adek, Mah...&#34;&#xA;&#xA;Minghao menepuk-nepuk punggung anak perempuannya. Ia menciumi wajah anak itu, dari kening ke kelopak mata, ujung hidung serta pipinya. Kemudian, ia menjauh, menangkup wajah anak itu sambil menyeka tangis dengan ibu jarinya, mengagumi betapa cantik anak gadisnya itu. Betapa beruntungnya ia dan Mingyu, dikaruniai anak-anak yang indah, baik di luar maupun di dalamnya mereka.&#xA;&#xA;&#34;Iya, Sayang, maafin Mama ya. Maafin Mama sama Papa ninggalin kalian kelamaan. Terima kasih ya, Sayang, kamu udah jagain adek-adek kamu selama ini. Maafin Mama...,&#34; bisiknya menenangkan, membuat air mata anaknya makin deras dan pelukannya makin erat. Minghao mengecup puncak kepala anak itu, lalu menghela napas. &#34;Terima kasih, Sayang...&#34;&#xA;&#xA;Adik mendekati ibunya di kursi goyang. &#34;Sini, Ma, aku gendong satu,&#34; tawarnya. Sebentar lagi, sekolahnya akan kembali masuk. Karena itu, ia ingin membantu ibunya di sedikit waktu yang tersisa.&#xA;&#xA;&#34;Sama Kakak yuk? Digendong sama Kakak?&#34; Minghao bertanya pada anak kembarnya yang perempuan dengan lembut, tetapi anak itu merengek. Anak itu ingin bersama ibunya. &#34;Kayaknya masih kangen sama Mama. Nggak apa-apa, Sayang, biar Mama aja.&#34; Minghao tersenyum pada anak gadisnya.&#xA;&#xA;Anak itu mengangguk paham. Ia sendiri masih ingin dekat dengan ibunya. Kemarin, ibunya bilang kalau ayahnya akan pulang di akhir bulan bersama kakaknya. Meski Adik juga kangen ayahnya, untuk saat ini, ibunya saja sudah cukup.&#xA;&#xA;&#34;Kalo gitu, Adek yang masak hari ini?&#34;&#xA;&#xA;Minghao terkejut. &#34;Lho, kamu bisa masak? Sejak kapan??&#34; tanyanya.&#xA;&#xA;&#34;Hehe, dikit, Mah. Adek diajarin Chan. Kalo masak aer sama bikin mi instan sih Adek udah jago lah. Tapi kemarin-kemarin, Adek diajarin bikin nasi goreng. Kata Chan enak kok. Mama mau?&#34; tawar si anak.&#xA;&#xA;&#34;Mau dong,&#34; senyum ibunya lebar. &#34;Mama mau cobain masakan anak Mama.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yaudah. Bentar ya, Mah,&#34; sebelum berbalik ke dapur, Adik mencium pipi ibunya penuh sayang. Minghao tertawa saat anak kembarnya melihat itu dan mereka berdua langsung mencium pipi ibunya secara bersamaaan.&#xA;&#xA;\--&#xA;&#xA;&#34;Baby sitter?&#34;&#xA;&#xA;Agak siangan, ia meminta Mas Seokmin mengantarnya berbelanja. Beberapa keperluan si kembar sudah mau habis, seperti bedak dan susu batita. Mereka sedang di mobil yang disupiri Seokmin menuju supermarket terdekat.&#xA;&#xA;&#34;Mm,&#34; Minghao mengangguk. &#34;Bentar lagi Adek sama Kakak masuk sekolah. Takutnya aku perlu nemenin Mingyu kayak kemarin lagi. Tadinya kupikir karena aku nggak kerja lagi, bisa lah, tapi gegara kemarin...aku takut bakal kejadian lagi...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mas bisa bantu kok kalo Hao mau?&#34; Seokmin mengganti gigi. &#34;Toh kalo anak-anak sekolah kan Mas ada jadwal anter-jemputnya. Di luar jam itu ya Mas kosong.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jangan lah, Mas, nanti makin repot dong...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak lah, Hao,&#34; tawa lelaki itu. &#34;Sekalian Mas belajar ngurus anak bayi.&#34;&#xA;&#xA;Hening sedetik.&#xA;&#xA;&#34;.....Mas?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mas,&#34; Minghao tersenyum. Wajahnya mendadak mencerah. &#34;Mas, masa sih--&#34;&#xA;&#xA;Seokmin tertawa lagi. &#34;Nggak, nggak,&#34; kilahnya. &#34;Hmm..belum...mungkin, lebih tepatnya?&#34;&#xA;&#xA;Mata Minghao berbinar mendengar itu, sementara Seokmin berdeham dengan pipi merona merah.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaoparentssequel" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaoparentssequel</span></a></p>

<p>Pagi itu, ia turun dari kamar tidur, masih mengantuk. Namun, saat kakinya menjejak anak tangga terbawah, kantuk pun sirna, langsung tergantikan senyuman pasal melihat siapa yang ada di sana menyambutnya.</p>



<p>“Pagi, Sayangnya Mama,” ibunya tengah duduk di kursi goyang yang ditaruh di ruang keluarga, menghadap ke kebun. Pintu kaca yang dipasang sebagai pembatas telah dibuka lebar, memasukkan udara pagi yang segar nan cerah ke seluruh rumah.</p>

<p>Minghao menimang bayi kembarnya. Yang perempuan duduk dengan tenang di paha ibunya, tangan mungilnya merenggut pakaian yang Minghao kenakan. Yang laki-laki sedang disusui dari botol. Nafsu makannya seperti ayahnya.</p>

<p>Adik tersenyum lebar. Kemarin, saat ibunya turun dari taksi di sore hari, ia lekas melompat dari tempatnya duduk, berlari menyambut ibunya dengan pelukan erat.</p>

<p>“Mama, Mama,” tangisnya sesengukan. “Mama, maafin Adek, Mah, maafin Adek. Adek nggak sengaja. Si Kembar...Adek nggak sengaja...maafin Adek, Mah...”</p>

<p>Minghao menepuk-nepuk punggung anak perempuannya. Ia menciumi wajah anak itu, dari kening ke kelopak mata, ujung hidung serta pipinya. Kemudian, ia menjauh, menangkup wajah anak itu sambil menyeka tangis dengan ibu jarinya, mengagumi betapa cantik anak gadisnya itu. Betapa beruntungnya ia dan Mingyu, dikaruniai anak-anak yang indah, baik di luar maupun di dalamnya mereka.</p>

<p>“Iya, Sayang, maafin Mama ya. Maafin Mama sama Papa ninggalin kalian kelamaan. Terima kasih ya, Sayang, kamu udah jagain adek-adek kamu selama ini. Maafin Mama...,” bisiknya menenangkan, membuat air mata anaknya makin deras dan pelukannya makin erat. Minghao mengecup puncak kepala anak itu, lalu menghela napas. “Terima kasih, Sayang...”</p>

<p>Adik mendekati ibunya di kursi goyang. “Sini, Ma, aku gendong satu,” tawarnya. Sebentar lagi, sekolahnya akan kembali masuk. Karena itu, ia ingin membantu ibunya di sedikit waktu yang tersisa.</p>

<p>“Sama Kakak yuk? Digendong sama Kakak?” Minghao bertanya pada anak kembarnya yang perempuan dengan lembut, tetapi anak itu merengek. Anak itu ingin bersama ibunya. “Kayaknya masih kangen sama Mama. Nggak apa-apa, Sayang, biar Mama aja.” Minghao tersenyum pada anak gadisnya.</p>

<p>Anak itu mengangguk paham. Ia sendiri masih ingin dekat dengan ibunya. Kemarin, ibunya bilang kalau ayahnya akan pulang di akhir bulan bersama kakaknya. Meski Adik juga kangen ayahnya, untuk saat ini, ibunya saja sudah cukup.</p>

<p>“Kalo gitu, Adek yang masak hari ini?”</p>

<p>Minghao terkejut. “Lho, kamu bisa masak? Sejak kapan??” tanyanya.</p>

<p>“Hehe, dikit, Mah. Adek diajarin Chan. Kalo masak aer sama bikin mi instan sih Adek udah jago lah. Tapi kemarin-kemarin, Adek diajarin bikin nasi goreng. Kata Chan enak kok. Mama mau?” tawar si anak.</p>

<p>“Mau dong,” senyum ibunya lebar. “Mama mau cobain masakan anak Mama.”</p>

<p>“Yaudah. Bentar ya, Mah,” sebelum berbalik ke dapur, Adik mencium pipi ibunya penuh sayang. Minghao tertawa saat anak kembarnya melihat itu dan mereka berdua langsung mencium pipi ibunya secara bersamaaan.</p>

<p>--</p>

<p>“Baby sitter?”</p>

<p>Agak siangan, ia meminta Mas Seokmin mengantarnya berbelanja. Beberapa keperluan si kembar sudah mau habis, seperti bedak dan susu batita. Mereka sedang di mobil yang disupiri Seokmin menuju supermarket terdekat.</p>

<p>“Mm,” Minghao mengangguk. “Bentar lagi Adek sama Kakak masuk sekolah. Takutnya aku perlu nemenin Mingyu kayak kemarin lagi. Tadinya kupikir karena aku nggak kerja lagi, bisa lah, tapi gegara kemarin...aku takut bakal kejadian lagi...”</p>

<p>“Mas bisa bantu kok kalo Hao mau?” Seokmin mengganti gigi. “Toh kalo anak-anak sekolah kan Mas ada jadwal anter-jemputnya. Di luar jam itu ya Mas kosong.”</p>

<p>“Jangan lah, Mas, nanti makin repot dong...”</p>

<p>“Nggak lah, Hao,” tawa lelaki itu. “Sekalian Mas belajar ngurus anak bayi.”</p>

<p>Hening sedetik.</p>

<p>”.....Mas?”</p>

<p>“Hmm?”</p>

<p>“Mas,” Minghao tersenyum. Wajahnya mendadak mencerah. “Mas, masa sih—”</p>

<p>Seokmin tertawa lagi. “Nggak, nggak,” kilahnya. “Hmm..belum...mungkin, lebih tepatnya?”</p>

<p>Mata Minghao berbinar mendengar itu, sementara Seokmin berdeham dengan pipi merona merah.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/85</guid>
      <pubDate>Tue, 14 Jul 2020 01:35:29 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>81.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/81?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaoparentssequel&#xA;&#xA;&#34;...Aku pulang sekarang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hao...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mah...&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Mingyu merangkul bahu suaminya, mencoba menenangkannya, sementara Kakak meremas tangan ibunya. Paras Minghao pucat pasi. Kakak baru saja memberitahunya mengenai kejadian semalam yang menimpa ketiga anaknya di rumah.&#xA;&#xA;&#34;Aku harus pulang, Pah. Anak-anak...anak-anak nunggu kita. Aku nggak bisa...mereka nyariin kita, Pah...,&#34; gelengan kepala. Kakak menelan ludah, dadanya sesak melihat ibunya cemas seperti itu.&#xA;&#xA;&#34;Iya, Sayang, tenang dulu ya? Jangan panik dulu. Gini aja, kamu telpon Adek sama si kembar. Biar mereka tau kalo kamu bakal pulang. Aku pesenin kamu flight besok pagi ya, biar kamu tidur dulu yang enak, jadi nggak gelisah di pesawat,&#34; Mingyu menarik kepala Minghao hingga bersandar di bahunya. Suaminya itu menghela napas, membiarkan Mingyu terus saja mengelus sisi kepalanya.&#xA;&#xA;&#34;Papa nggak balik juga?&#34; tanya Kakak.&#xA;&#xA;Ayahnya menggeleng. &#34;Nggak, Nak, Papa di sini dulu sama kamu. Papa mesti kelarin rancang menu sama ngajarin Joshua. Papa juga mikir apa perlu hire satu lagi juru masak, soalnya pas Papa pegang sendirian, lumayan hectic juga,&#34; Mingyu menunduk, mengecup puncak kepala Minghao. &#34;Nggak apa-apa kan, Mah, kamu balik sendirian?&#34;&#xA;&#xA;Minghao mengangguk pelan.&#xA;&#xA;Kakak diam mendengarkan. Tadinya ia ingin menunggu sampai urusan orangtuanya di Jepang selesai, namun kejadian semalam merubah semuanya. Kakak memantapkan diri sebelum menyampaikan apa yang sudah ia pikirkan masak-masak pada orangtuanya.&#xA;&#xA;&#34;Pa, Ma, Kakak udah tau jalan Kakak.&#34;&#xA;&#xA;Mendengar itu, kedua orangtuanya refleks mendongak. Mereka menatap wajah serius anak lelaki sulung mereka.&#xA;&#xA;&#34;Akhir bulan ini, Kakak mau pulang ke Indonesia. Kakak mau lanjutin dan lulus dari SMA. Terus, Kakak mau dalemin Hospitality Management. Kakak...suka kerja kayak gini, Pah. Bukan manajemen di kantor atau yang formal, tapi di lingkup kayak gini, yang Kakak tau setiap orang di atas dan di bawah Kakak. Mau ketemu langsung tamu Kakak. Mungkin nggak spesifik di restoran, either di hotel atau bidang jasa sejenis,&#34; anak itu tersenyum. &#34;Yah, mungkin, suatu hari nanti, Kakak bisa balik ke sini sebagai tamu atau partner usaha Papa.&#34;&#xA;&#xA;Mendengar itu, orangtuanya bertukar pandang, saling tersenyum.&#xA;&#xA;&#34;Kalo itu yang Kakak mau, Papa Mama selalu dukung kamu, Nak,&#34; ayahnya membenahi rambut bagian depan Kakak. &#34;Yang penting kamu selalu semangat ya. Kalo ada masalah apapun, ato sekedar mau cerita, inget kalo Papa sama Mama selalu ada buat kamu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, Pa,&#34; Kakak mengangguk satu kali.&#xA;&#xA;Ibunya meremas tangannya balik. &#34;Mama percaya kamu pasti bisa, Kak. Papa Mama bangga sama Kakak,&#34; mata Minghao berkaca-kaca, membuat pandangan anaknya ikut mengabur oleh tangis yang tertahan. &#34;Selalu bangga sama Kakak. Jangan pernah lupa itu.&#34;&#xA;&#xA;Kakak meneguk ludah berkali-kali, lalu ia beranjak dari duduk. Dipeluknya leher kedua orangtuanya, yang langsung memeluknya erat. Minghao menyusrukkan wajah ke leher anak itu, sementara Mingyu mengusap konstan punggungnya.&#xA;&#xA;&#34;Makasih, Pah, Mah...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sayang...,&#34; gumam Minghao.&#xA;&#xA;&#34;Makasih....&#34;&#xA;&#xA;Kemudian, tidak ada lagi kalimat yang perlu diungkapkan selain mendesah puas dalam kenyamanan pelukan itu. Mereka sudah tahu tanpa kata-kata, sudah tertanam jauh dalam sanubari. Bila ada cinta yang paling murni di dunia, maka inilah bentuknya. Sebuah cinta sepanjang masa.&#xA;&#xA;Jikalau memang tak ada keluarga yang sempurna di dunia, maka tak masalah. Keluarganya sudah cukup. Sudah sangat cukup.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaoparentssequel" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaoparentssequel</span></a></p>

<p>”...Aku pulang sekarang.”</p>

<p>“Hao...”</p>

<p>“Mah...”</p>



<p>Mingyu merangkul bahu suaminya, mencoba menenangkannya, sementara Kakak meremas tangan ibunya. Paras Minghao pucat pasi. Kakak baru saja memberitahunya mengenai kejadian semalam yang menimpa ketiga anaknya di rumah.</p>

<p>“Aku harus pulang, Pah. Anak-anak...anak-anak nunggu kita. Aku nggak bisa...mereka nyariin kita, Pah...,” gelengan kepala. Kakak menelan ludah, dadanya sesak melihat ibunya cemas seperti itu.</p>

<p>“Iya, Sayang, tenang dulu ya? Jangan panik dulu. Gini aja, kamu telpon Adek sama si kembar. Biar mereka tau kalo kamu bakal pulang. Aku pesenin kamu flight besok pagi ya, biar kamu tidur dulu yang enak, jadi nggak gelisah di pesawat,” Mingyu menarik kepala Minghao hingga bersandar di bahunya. Suaminya itu menghela napas, membiarkan Mingyu terus saja mengelus sisi kepalanya.</p>

<p>“Papa nggak balik juga?” tanya Kakak.</p>

<p>Ayahnya menggeleng. “Nggak, Nak, Papa di sini dulu sama kamu. Papa mesti kelarin rancang menu sama ngajarin Joshua. Papa juga mikir apa perlu hire satu lagi juru masak, soalnya pas Papa pegang sendirian, lumayan hectic juga,” Mingyu menunduk, mengecup puncak kepala Minghao. “Nggak apa-apa kan, Mah, kamu balik sendirian?”</p>

<p>Minghao mengangguk pelan.</p>

<p>Kakak diam mendengarkan. Tadinya ia ingin menunggu sampai urusan orangtuanya di Jepang selesai, namun kejadian semalam merubah semuanya. Kakak memantapkan diri sebelum menyampaikan apa yang sudah ia pikirkan masak-masak pada orangtuanya.</p>

<p>“Pa, Ma, Kakak udah tau jalan Kakak.”</p>

<p>Mendengar itu, kedua orangtuanya refleks mendongak. Mereka menatap wajah serius anak lelaki sulung mereka.</p>

<p>“Akhir bulan ini, Kakak mau pulang ke Indonesia. Kakak mau lanjutin dan lulus dari SMA. Terus, Kakak mau dalemin Hospitality Management. Kakak...suka kerja kayak gini, Pah. Bukan manajemen di kantor atau yang formal, tapi di lingkup kayak gini, yang Kakak tau setiap orang di atas dan di bawah Kakak. Mau ketemu langsung tamu Kakak. Mungkin nggak spesifik di restoran, either di hotel atau bidang jasa sejenis,” anak itu tersenyum. “Yah, mungkin, suatu hari nanti, Kakak bisa balik ke sini sebagai tamu atau partner usaha Papa.”</p>

<p>Mendengar itu, orangtuanya bertukar pandang, saling tersenyum.</p>

<p>“Kalo itu yang Kakak mau, Papa Mama selalu dukung kamu, Nak,” ayahnya membenahi rambut bagian depan Kakak. “Yang penting kamu selalu semangat ya. Kalo ada masalah apapun, ato sekedar mau cerita, inget kalo Papa sama Mama selalu ada buat kamu.”</p>

<p>“Iya, Pa,” Kakak mengangguk satu kali.</p>

<p>Ibunya meremas tangannya balik. “Mama percaya kamu pasti bisa, Kak. Papa Mama bangga sama Kakak,” mata Minghao berkaca-kaca, membuat pandangan anaknya ikut mengabur oleh tangis yang tertahan. “Selalu bangga sama Kakak. Jangan pernah lupa itu.”</p>

<p>Kakak meneguk ludah berkali-kali, lalu ia beranjak dari duduk. Dipeluknya leher kedua orangtuanya, yang langsung memeluknya erat. Minghao menyusrukkan wajah ke leher anak itu, sementara Mingyu mengusap konstan punggungnya.</p>

<p>“Makasih, Pah, Mah...”</p>

<p>“Sayang...,” gumam Minghao.</p>

<p>“Makasih....”</p>

<p>Kemudian, tidak ada lagi kalimat yang perlu diungkapkan selain mendesah puas dalam kenyamanan pelukan itu. Mereka sudah tahu tanpa kata-kata, sudah tertanam jauh dalam sanubari. Bila ada cinta yang paling murni di dunia, maka inilah bentuknya. Sebuah cinta sepanjang masa.</p>

<p>Jikalau memang tak ada keluarga yang sempurna di dunia, maka tak masalah. Keluarganya sudah cukup. Sudah sangat cukup.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/81</guid>
      <pubDate>Wed, 08 Jul 2020 10:27:00 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>77.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/77?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaoparentssequel&#xA;&#xA;Begitu sambungan telepon dimatikan, Chan langsung mengambil kendali. Sebagai satu-satunya lelaki di rumah itu saat ini, ia merasa tanggung jawab ada di pundaknya. Keluarga Kim, meski kaya raya, tidak mempekerjakan asisten selain supir pribadi mereka, Pak Seokmin, yang baru akan masuk kerja lusa. Rumah berlantai dua itu hanya didiami anak perempuannya dan sepasang anak kembar. Biasanya semua berjalan lancar. Meski banyak mengomel, namun Adik selalu menjaga dan mengawasi adik kembarnya dengan baik.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Hari itu, mereka lalai. Chan juga merasa bertanggung jawab karena separuh kesalahan ada padanya. Tapi, yah, nasi sudah menjadi bubur. Ia mengguncangkan kedua bahu gadis itu untuk menyadarkannya.&#xA;&#xA;&#34;Jangan nangis. Hei. Hei. Ayo kita cari. Aku cari di lantai atas, kamu di bawah. Hei,&#34; jemari Chan sibuk menyeka pipi basah kekasihnya, sebelum ia kecup keningnya. &#34;Kita pasti nemuin mereka. Jangan cemas. Ya?&#34;&#xA;&#xA;Sesengukan, gadis itu mengangguk. Mereka pun berpencar. Gadis itu mencari seluruh sudut dan ruang. Tak ada yang luput dari penglihatan, bahkan tempat-tempat absurd seperti keranjang pakaian kotor, tumpukan dus belanja online yang belum dibereskan, sampai bagian dalam vas. Chan sendiri menjelajah lantai dua. Ia membuka semua kamar mandi dan lemari pakaian. Ia bahkan mengangkat busa sofa seolah-olah kedua anak itu remote control yang terselip. Saat Chan sudah menduga mereka harus mengambil senter dan mencari di halaman depan dan.belakang, ia membuka kamar orangtua gadis itu dan, di sana lah, ia menemukannya.&#xA;&#xA;Dipanggilnya gadis itu, yang tergopoh-gopoh berlari. Pasal melihat dua anak usia setahun meringkuk di kasur dan selimut orangtuanya, tertidur lelap, Adik menangis sejadinya, tak sengaja membangunkan kedua anak itu.&#xA;&#xA;&#34;Pah, pah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mah.&#34;&#xA;&#xA;Adik jatuh terduduk. Kedua lengannya meraup kedua anak itu, menangis dan menangis, sambil memeluk mereka. Melihat kakak perempuannya menangis, kedua anak itu pun ikutan menangis.&#xA;&#xA;&#34;Paaaaah...uuu...pahhhh...uuu...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jangan ngagetin Kakak lagi, Ya Tuhan...jangan nangis, Sayang, jangan nangis...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mamaaaaaahhh maaahhhhh...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ssh, ssh, kalian kangen ya? Kalian kangen Papa Mama ya jadi kalian kabur ke sini? Kakak juga kangen, Dek. Sabar ya? Kita sabar ya? Papa Mama lagi sama Kakak, Dek.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Huaaaa...huaaaa..paaappppaaaaahhh...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mamaaahhh...ueee...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aduh kalian jangan nangis terus, nanti Kakak ikutan nangis lagi nih...&#34;&#xA;&#xA;Chan mengernyit memperhatikan itu semua sebelum memilih nomor Kakak di kontaknya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaoparentssequel" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaoparentssequel</span></a></p>

<p>Begitu sambungan telepon dimatikan, Chan langsung mengambil kendali. Sebagai satu-satunya lelaki di rumah itu saat ini, ia merasa tanggung jawab ada di pundaknya. Keluarga Kim, meski kaya raya, tidak mempekerjakan asisten selain supir pribadi mereka, Pak Seokmin, yang baru akan masuk kerja lusa. Rumah berlantai dua itu hanya didiami anak perempuannya dan sepasang anak kembar. Biasanya semua berjalan lancar. Meski banyak mengomel, namun Adik selalu menjaga dan mengawasi adik kembarnya dengan baik.</p>



<p>Hari itu, mereka lalai. Chan juga merasa bertanggung jawab karena separuh kesalahan ada padanya. Tapi, yah, nasi sudah menjadi bubur. Ia mengguncangkan kedua bahu gadis itu untuk menyadarkannya.</p>

<p>“Jangan nangis. Hei. Hei. Ayo kita cari. Aku cari di lantai atas, kamu di bawah. Hei,” jemari Chan sibuk menyeka pipi basah kekasihnya, sebelum ia kecup keningnya. “Kita pasti nemuin mereka. Jangan cemas. Ya?”</p>

<p>Sesengukan, gadis itu mengangguk. Mereka pun berpencar. Gadis itu mencari seluruh sudut dan ruang. Tak ada yang luput dari penglihatan, bahkan tempat-tempat absurd seperti keranjang pakaian kotor, tumpukan dus belanja online yang belum dibereskan, sampai bagian dalam vas. Chan sendiri menjelajah lantai dua. Ia membuka semua kamar mandi dan lemari pakaian. Ia bahkan mengangkat busa sofa seolah-olah kedua anak itu remote control yang terselip. Saat Chan sudah menduga mereka harus mengambil senter dan mencari di halaman depan dan.belakang, ia membuka kamar orangtua gadis itu dan, di sana lah, ia menemukannya.</p>

<p>Dipanggilnya gadis itu, yang tergopoh-gopoh berlari. Pasal melihat dua anak usia setahun meringkuk di kasur dan selimut orangtuanya, tertidur lelap, Adik menangis sejadinya, tak sengaja membangunkan kedua anak itu.</p>

<p>“Pah, pah.”</p>

<p>“Mah.”</p>

<p>Adik jatuh terduduk. Kedua lengannya meraup kedua anak itu, menangis dan menangis, sambil memeluk mereka. Melihat kakak perempuannya menangis, kedua anak itu pun ikutan menangis.</p>

<p>“Paaaaah...uuu...pahhhh...uuu...”</p>

<p>“Jangan ngagetin Kakak lagi, Ya Tuhan...jangan nangis, Sayang, jangan nangis...”</p>

<p>“Mamaaaaaahhh maaahhhhh...”</p>

<p>“Ssh, ssh, kalian kangen ya? Kalian kangen Papa Mama ya jadi kalian kabur ke sini? Kakak juga kangen, Dek. Sabar ya? Kita sabar ya? Papa Mama lagi sama Kakak, Dek.”</p>

<p>“Huaaaa...huaaaa..paaappppaaaaahhh...”</p>

<p>“Mamaaahhh...ueee...”</p>

<p>“Aduh kalian jangan nangis terus, nanti Kakak ikutan nangis lagi nih...”</p>

<p>Chan mengernyit memperhatikan itu semua sebelum memilih nomor Kakak di kontaknya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/77</guid>
      <pubDate>Mon, 06 Jul 2020 15:45:29 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>60.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/60?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaoparentssequel&#xA;&#xA;Keesokan harinya, sekitar jam makan siang, ayahnya datang ke restoran. Kakak tidak bertanya kemana ibunya, pun tidak bertanya kemana Joshua. Ayahnya menyelesaikan pekerjaan Joshua di dapur dengan sangat profesional. Tak ada pesanan yang salah maupun terlambat, meski ia hanya sendirian memasak untuk pesanan restoran yang ramai. Ia bahkan masih sempat merancang menu baru yang telah ia pilih dari perjalanannya ke Hungaria dan Austria.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Vernon ijin setengah hari setelah jam makan siang dengan alasan ingin menemani Seungkwan ke dokter. Ia cemas karena pagi ini, Seungkwan nampak kurang sehat. Yena menyuruhnya untuk menjaga ibunya dengan baik dan, melangkahi Kakak, dia mengusir Vernon dari restoran secara harfiah. Kakak cuma bisa tersenyum timpang, membiarkan saja kali ini.&#xA;&#xA;Suatu waktu di sore hari yang sepi tamu, rupanya ibunya datang. Ia baru tahu ketika melangkah menuju dapur dan menemukan ayah dan ibunya berdiri merapat satu sama lain. Sepertinya ayahnya tengah menguji coba menu masakan yang baru. Ia diam di ambang pintu, memandang sosok mereka dari belakang. Ayahnya menyendok masakan dan menyuapi ibunya. Ibunya berkata sesuatu dengan wajah gembira, yang otomatis membuat ayahnya ikut tersenyum. Ayahnya mencium bibir ibunya, satu kali. Lalu, dua. Lalu, berkali-kali, sampai pada akhirnya ibunya mendorong ayahnya menjauh, mengingatkan mereka akan kompor yang masih menyala dan, terburu-buru, berusaha menyelamatkan masakannya. Ibunya membantu sambil tertawa.&#xA;&#xA;&#34;Manajer?&#34; itu Yena. Kakak menaruh telunjuk di depan mulut, menyuruh gadis itu diam. Ia mendorong punggung Yena menjauh dari dapur. Tamu terakhir yang duduk lama di samping jendela rupanya sudah pergi. Mereka hanya berdua di restoran yang kosong itu, ditemani alunan lagu klasik tanpa lirik yang diputar ibunya sebelum masuk ke dapur tadi.&#xA;&#xA;&#34;Papa sama Mama manajer mesra ya,&#34; gadis itu tersenyum.&#xA;&#xA;&#34;Mm,&#34; dengan bangga, Kakak mengakui. &#34;Mereka selalu gitu. Mesra. Saling sayang. Padahal tahun depan udah 20 tahun nikah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Joshua kemana, Manajer?&#34;&#xA;&#xA;Kakak hanya mengangkat bahu. &#34;Dia wa sih, katanya hari ini ijin sakit dan nggak tau kapan bisa balik kerja,&#34; jelasnya.&#xA;&#xA;&#34;Waduh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi dia bakal balik.&#34;&#xA;&#xA;Yena menelengkan kepala. Sebuah gestur menanyakan bagaimana dia bisa tahu. Kakak menjawabnya dengan anggukan mantap.&#xA;&#xA;&#34;Dia bakal balik,&#34; entah kenapa dia begitu yakin akan hal ini. Pak Seokmin sudah pulang ke Indonesia tadi pagi. Kakak menerima wa dari lelaki itu. Chat yang menyatakan terima kasih, Bapak pulang hari ini, maaf kalau mengganggu dan sebuah pesan:&#xA;&#xA;&#39;Tolong jaga Joshua.&#39;&#xA;&#xA;Hanya itu. Tapi dari sebuah kalimat itu, ia tahu kalau Joshua tidak akan lari kemanapun. Ia tidak tahu ada masalah apa kemarin tapi ia bisa menebaknya. Ia tidak mau memaksa Joshua cerita dan hanya bisa menunggu sampai anak itu kembali bekerja, bukan untuk menginterogasinya, tetapi untuk menjaganya.&#xA;&#xA;&#34;Yena.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Menurut lo, gue bisa jagain orang nggak?&#34;&#xA;&#xA;Gadis itu berkedip. Mata mereka saling tatap. Kakak menunggu dengan sabar apapun yang akan keluar dari bibir gadis itu. Tanpa sadar, ia sudah menatap bibir Yena terlalu lama dari standar kesopanan. Dibuangnya muka, beralih memandangi tangan di celana jinsnya sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Yena sih ngerasa Manajer selalu jagain Yena,&#34; ucapan itu datang dengan ringan ke telinga Kakak. &#34;Yena tau kok, nggak semua yang Yena ajakin, Manajer suka. Tapi, Manajer nggak pernah sekalipun marah beneran ke Yena. Mungkin Yena harusnya minta maaf ya karena selalu maksa Manajer. Maafin Yena ya?&#34;&#xA;&#xA;Kakak segera mendongak, menggeleng. Namun, semua penyanggahan hilang saat gadis itu mendadak menangkup kedua pipinya.&#xA;&#xA;&#34;Manajer,&#34; Yena berkata dengan sungguh-sungguh. &#34;Manajer orang yang baik. Yena emang baru kerja di sini, tapi Yena seneng kerja di sini. Orang-orangnya baik. Kerja di sini adalah pengalaman berharga yang enggak akan Yena lupain selamanya.&#34;&#xA;&#xA;Gadis itu tersenyum manis.&#xA;&#xA;&#34;Terima kasih ya, Manajer. Manajer emang bos paling oke.&#34;&#xA;&#xA;Kakak menggigit bibir bawahnya. Ia pribadi tidak merasa telah melakukan apapun. Faktanya malah ia sudah dibantu oleh mereka semua. Ia hanya bisa merepotkan saja, merepotkan orangtuanya, merepotkan pegawainya, tamunya, bahkan gadis itu pun...&#xA;&#xA;&#34;Gue enggak--&#34;&#xA;&#xA;Senyuman Choi Yena hanya semakin lebar saat dilihatnya sebulir air mata turun di pipi manajernya.&#xA;&#xA;&#34;Terima kasih, Manajer, terima kasih banyak...&#34;&#xA;&#xA;Dan, entah kapan, ia sudah tenggelam dalam kehangatan pelukan gadis itu. Di sana lah ia menemukan apa yang sudah ia pikirkan selama setahun mengambil cuti. Satu bulan lagi, tahun ajaran baru di sekolahnya akan dimulai dan Kakak sudah tahu ia mau mengarahkan jalannya ke mana.&#xA;&#xA;Orangtuanya akan berada di sini selama dua minggu. Di penghujung dua minggu itu, ia akan memberitahu keputusannya pada mereka, yang sudah menunggu dengan sabar untuknya.&#xA;&#xA;Malam itu, Kakak mengirim wa pribadi ke Joshua. Sebuah pesan balasan akan ijin sakitnya yang tertunda:&#xA;&#xA;&#39;Noted. We&#39;re all here for you, Josh. Please don&#39;t forget that.&#39;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaoparentssequel" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaoparentssequel</span></a></p>

<p>Keesokan harinya, sekitar jam makan siang, ayahnya datang ke restoran. Kakak tidak bertanya kemana ibunya, pun tidak bertanya kemana Joshua. Ayahnya menyelesaikan pekerjaan Joshua di dapur dengan sangat profesional. Tak ada pesanan yang salah maupun terlambat, meski ia hanya sendirian memasak untuk pesanan restoran yang ramai. Ia bahkan masih sempat merancang menu baru yang telah ia pilih dari perjalanannya ke Hungaria dan Austria.</p>



<p>Vernon ijin setengah hari setelah jam makan siang dengan alasan ingin menemani Seungkwan ke dokter. Ia cemas karena pagi ini, Seungkwan nampak kurang sehat. Yena menyuruhnya untuk menjaga ibunya dengan baik dan, melangkahi Kakak, dia mengusir Vernon dari restoran secara harfiah. Kakak cuma bisa tersenyum timpang, membiarkan saja kali ini.</p>

<p>Suatu waktu di sore hari yang sepi tamu, rupanya ibunya datang. Ia baru tahu ketika melangkah menuju dapur dan menemukan ayah dan ibunya berdiri merapat satu sama lain. Sepertinya ayahnya tengah menguji coba menu masakan yang baru. Ia diam di ambang pintu, memandang sosok mereka dari belakang. Ayahnya menyendok masakan dan menyuapi ibunya. Ibunya berkata sesuatu dengan wajah gembira, yang otomatis membuat ayahnya ikut tersenyum. Ayahnya mencium bibir ibunya, satu kali. Lalu, dua. Lalu, berkali-kali, sampai pada akhirnya ibunya mendorong ayahnya menjauh, mengingatkan mereka akan kompor yang masih menyala dan, terburu-buru, berusaha menyelamatkan masakannya. Ibunya membantu sambil tertawa.</p>

<p>“Manajer?” itu Yena. Kakak menaruh telunjuk di depan mulut, menyuruh gadis itu diam. Ia mendorong punggung Yena menjauh dari dapur. Tamu terakhir yang duduk lama di samping jendela rupanya sudah pergi. Mereka hanya berdua di restoran yang kosong itu, ditemani alunan lagu klasik tanpa lirik yang diputar ibunya sebelum masuk ke dapur tadi.</p>

<p>“Papa sama Mama manajer mesra ya,” gadis itu tersenyum.</p>

<p>“Mm,” dengan bangga, Kakak mengakui. “Mereka selalu gitu. Mesra. Saling sayang. Padahal tahun depan udah 20 tahun nikah.”</p>

<p>“Joshua kemana, Manajer?”</p>

<p>Kakak hanya mengangkat bahu. “Dia wa sih, katanya hari ini ijin sakit dan nggak tau kapan bisa balik kerja,” jelasnya.</p>

<p>“Waduh?”</p>

<p>“Tapi dia bakal balik.”</p>

<p>Yena menelengkan kepala. Sebuah gestur menanyakan bagaimana dia bisa tahu. Kakak menjawabnya dengan anggukan mantap.</p>

<p>“Dia bakal balik,” entah kenapa dia begitu yakin akan hal ini. Pak Seokmin sudah pulang ke Indonesia tadi pagi. Kakak menerima wa dari lelaki itu. Chat yang menyatakan terima kasih, Bapak pulang hari ini, maaf kalau mengganggu dan sebuah pesan:</p>

<p>&#39;Tolong jaga Joshua.&#39;</p>

<p>Hanya itu. Tapi dari sebuah kalimat itu, ia tahu kalau Joshua tidak akan lari kemanapun. Ia tidak tahu ada masalah apa kemarin tapi ia bisa menebaknya. Ia tidak mau memaksa Joshua cerita dan hanya bisa menunggu sampai anak itu kembali bekerja, bukan untuk menginterogasinya, tetapi untuk menjaganya.</p>

<p>“Yena.”</p>

<p>“Ya?”</p>

<p>“Menurut lo, gue bisa jagain orang nggak?”</p>

<p>Gadis itu berkedip. Mata mereka saling tatap. Kakak menunggu dengan sabar apapun yang akan keluar dari bibir gadis itu. Tanpa sadar, ia sudah menatap bibir Yena terlalu lama dari standar kesopanan. Dibuangnya muka, beralih memandangi tangan di celana jinsnya sendiri.</p>

<p>“Yena sih ngerasa Manajer selalu jagain Yena,” ucapan itu datang dengan ringan ke telinga Kakak. “Yena tau kok, nggak semua yang Yena ajakin, Manajer suka. Tapi, Manajer nggak pernah sekalipun marah beneran ke Yena. Mungkin Yena harusnya minta maaf ya karena selalu maksa Manajer. Maafin Yena ya?”</p>

<p>Kakak segera mendongak, menggeleng. Namun, semua penyanggahan hilang saat gadis itu mendadak menangkup kedua pipinya.</p>

<p>“Manajer,” Yena berkata dengan sungguh-sungguh. “Manajer orang yang baik. Yena emang baru kerja di sini, tapi Yena seneng kerja di sini. Orang-orangnya baik. Kerja di sini adalah pengalaman berharga yang enggak akan Yena lupain selamanya.”</p>

<p>Gadis itu tersenyum manis.</p>

<p>“Terima kasih ya, Manajer. Manajer emang bos paling oke.”</p>

<p>Kakak menggigit bibir bawahnya. Ia pribadi tidak merasa telah melakukan apapun. Faktanya malah ia sudah dibantu oleh mereka semua. Ia hanya bisa merepotkan saja, merepotkan orangtuanya, merepotkan pegawainya, tamunya, bahkan gadis itu pun...</p>

<p>“Gue enggak—”</p>

<p>Senyuman Choi Yena hanya semakin lebar saat dilihatnya sebulir air mata turun di pipi manajernya.</p>

<p>“Terima kasih, Manajer, terima kasih banyak...”</p>

<p>Dan, entah kapan, ia sudah tenggelam dalam kehangatan pelukan gadis itu. Di sana lah ia menemukan apa yang sudah ia pikirkan selama setahun mengambil cuti. Satu bulan lagi, tahun ajaran baru di sekolahnya akan dimulai dan Kakak sudah tahu ia mau mengarahkan jalannya ke mana.</p>

<p>Orangtuanya akan berada di sini selama dua minggu. Di penghujung dua minggu itu, ia akan memberitahu keputusannya pada mereka, yang sudah menunggu dengan sabar untuknya.</p>

<p>Malam itu, Kakak mengirim wa pribadi ke Joshua. Sebuah pesan balasan akan ijin sakitnya yang tertunda:</p>

<p>&#39;Noted. We&#39;re all here for you, Josh. Please don&#39;t forget that.&#39;</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/60</guid>
      <pubDate>Mon, 06 Jul 2020 04:07:50 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>59.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/59?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaoparentssequel&#xA;&#xA;Dua botol kecil sake kemudian, Lee Seokmin sudah lebih rileks, sudah lebih longgar untuk bercerita mengenai dirinya dan anak yang lebih muda 36 tahun darinya itu. Minghao dan Mingyu, keduanya sengaja tidak minum terlalu banyak, mendengarkan dalam diam. Di sekeliling mereka, orang-orang ramai mengobrol. Dentingan gelas muncul cukup sering. Para pelayan sibuk menerima pesanan camilan dan keluar-masuk dapur untuk membawakan sake dan bir. Izakaya itu ramai di penghujung minggu.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Mereka sejujurnya lebih memilih anggur daripada sake dan tempat minum yang tenang dengan seorang sommelier profesional daripada izakaya yang berisik, namun mereka tahu Seokmin lebih menyukai rasa sake dan suasana seperti ini, maka dengan sengaja mereka memboyongnya ke sini.&#xA;&#xA;&#34;Mas ngajak dia balik ke Indo sama Mas,&#34; mulainya. &#34;Mas pikir dia bakal seneng. I mean, he has no one, you know? Tinggal sendirian. Kuliah drop out. Yang dia punya cuma kerjaan di restoran itu dan paruh waktu di tempat lain. Dia bahkan nggak punya temen.&#34; Kekehan keluar dari mulutnya. Pelan dan miris. Ia teringat lagi bagaimana santainya Joshua menceritakan itu semua, seolah anak itu sudah terbiasa kesepian.&#xA;&#xA;...Karena itulah.&#xA;&#xA;Karena itulah, Seokmin mengajaknya ikut pergi. Ia tidak mau Joshua kesepian lagi. Tidak mau bangun tanpa melihat wajah Joshua di sisinya lagi. Tapi, anak itu benar. Mereka bukan siapa-siapa. Tak ada relasi yang mengaitkan mereka. Hanya berbagi hangat tubuh satu sama lain. Seokmin pun mengakui, meski ia yakin ia ingin hidup bersama Joshua, tapi, apakah perasaan itu cinta, ia tidak tahu pasti.&#xA;&#xA;&#34;...Tapi, Mas salah. Rupanya dia nggak ngeliat Mas kayak gitu. Jujur, Mas juga nggak tau perasaan Mas sendiri. Nggak yakin apa. Tapi, kalo ngeliat dia senyum, denger dia ketawa, rasanya..rasanya bener. Rasanya, emang harusnya tuh kayak gini. Kayak semua ini. Mas cuma pingin...,&#34; ditatapnya telapak tangannya sendiri. &#34;....cuma nggak mau dia ngerasa kesepian lagi..cuma itu...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mas...,&#34; Minghao menangkup tangan Seokmin yang satunya lagi di meja.&#xA;&#xA;&#34;Rasanya...rasanya aneh. Mas nggak pernah ngalamin begini, nggak pernah kebingungan kayak gini. Mas pikir dia cuma iseng aja tidur sama Mas di hari pertama kita ketemu. Mas juga cuma iseng aja ladenin dia. Just like...casual sex, another hook up? Yang besok paginya tinggal bye bye and gone forever,&#34; saat ini, yang ada adalah Lee Seokmin, salah satu sosok yang penting bagi Mingyu dan Minghao, bukan Lee Seokmin sang supir keluarga yang mengabdi sejak ia berusia 20, masih naif dan penuh harap akan cinta dan masa depan. Tanpa ia ketahui ia akan melewati 36 tahun dalam kesendirian, pulang ke rumah yang kosong setelah bekerja seharian dan menghabiskan akhir pekan dengan tidur atau memutari kota tanpa tujuan. Semua yang pernah singgah dalam hidupnya, menjanjikan bunga indah di taman, hanya berakhir dengan kepergian, meninggalkan sekuntum lagi bunga yang layu sebelum sempat berkembang.&#xA;&#xA;Dan, ketika Seokmin berbalik, memandangi begitu banyak bunga yang layu di dalam tamannya, ia pun yakin kalau, dalam hidupnya yang ini, tak ada manusia yang diciptakan untuk dirinya seorang. Ia akan mati sendirian, sama seperti ketika ia lahir ke dunia sesaat sebelum ibunya meregang nyawa.&#xA;&#xA;Ia yakin orang itu tidak akan pernah datang.&#xA;&#xA;Tetesan.&#xA;&#xA;Tetesan demi tetesan jatuh ke permukaan meja. Seokmin menunduk, namun itu tak cukup untuk menyembunyikan tangisannya dari kedua orang yang telah mengenalnya cukup lama untuk tidak berbicara apapun selain memeluknya, mencoba menghibur tanpa kata. Minghao melingkarkan lengan di leher Seokmin, sementara Mingyu mengelusi punggungnya.&#xA;&#xA;&#34;Anak itu masih muda. Dia masih muda. Masih 20, ya Tuhan...,&#34; sesengukan. &#34;Nggak seharusnya dia terbiasa kesepian begitu. Nggak seharusnya--&#34;&#xA;&#xA;Tidak seharusnya dia menemukan Joshua, yang juga tidak memiliki siapapun atau apapun di dunia ini, dan terpikat padanya. Keposesifan yang aneh membelit Seokmin, seolah ia tak pernah puas akan anak itu. Ia takut, pada awalnya. Semua ini terasa asing. Ia tidak paham. Ia tidak mengerti kenapa dirinya jadi aneh begini. Dan, meski ia sesungguhnya tahu takkan berakhir baik, ia tetap menemui Joshua, mengajaknya kencan, menciumnya, bercinta dengannya, bahkan mengajaknya pulang bersamanya ke Indonesia.&#xA;&#xA;&#34;Mas nggak ngerti...nggak paham...kenapa...anak semuda itu nggak seharusnya sama Mas, tapi Mas mau dia...mungkin Mas udah gila...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mas,&#34; itu Mingyu. Ia merangkul pundak Seokmin dan menyenderkan kepalanya ke kepala Seokmin, sementara Minghao masih memeluk leher lelaki itu. &#34;Jujur, nih, gue dari umur 10 ngeliat Mas mulu. Gue pikir, nih orang ceria banget. Pasti idupnya penuh sama hal-hal bahagia. Tapi, rupanya gue salah.&#34;&#xA;&#xA;Seokmin menggigit bibir bawahnya.&#xA;&#xA;&#34;Lo yang gue kenal adalah orang yang dingin, Mas. Lo pernah nanya ke gue kenapa gue mati-matian ngejer Wonu dulu dan lo ketawa. Lo bilang gue masih naif dan bocah. Pas gue ceritain lo soal Hao, lo juga cuma senyum, seolah kejadian Wonu ninggalin gue bakal keulang lagi sama Hao. Lo segitu enggak percayanya sama cinta ya, Mas, segitu enggak taunya sama perasaan itu?&#34; Mingyu terkekeh. Ia ingat ia marah besar, meski kemudian Seokmin menjelaskan padanya kalau cinta saja tidak akan cukup. Tidak akan pernah cukup. &#34;Dan liat lo sekarang, Mas. Lo kena karma.&#34;&#xA;&#xA;Dielusnya kepala Seokmin dengan lembut.&#xA;&#xA;&#34;Lo jatuh cinta sama anak itu, Mas.&#34;&#xA;&#xA;...Cinta? Jadi cinta itu perasaan yang begini? Ini yang namanya cinta...?&#xA;&#xA;&#34;Mingyu,&#34; suaminya memperingatkan. &#34;Mas Seok, kalo bener yang dibilang Gyu, berarti emang Mas baru kali ini tau rasa cinta ya? Aku emang nggak kenal Mas lama, baru pas aku nikah sama Mingyu aku kenal sama Mas, tapi, selama waktu singkat itu, Mas udah baik banget sama aku. Aku pun berharap Mas nemu siapapun yang bisa buat Mas bahagia.&#34;&#xA;&#xA;Minghao tersenyum, teringat saat Seokmin menyupirinya sendirian tanpa Mingyu setelah mengetahui bahwa pernikahan itu hanya kebohongan belaka. Seokmin dengan tulus memohon agar Minghao tidak menyakiti Mingyu dan agar mereka berdua berbahagia, berdua ataupun masing-masing di jalannya.&#xA;&#xA;&#34;Menurut aku, kalo emang Mas masih baru sama perasaan ini, mungkin ada baiknya Mas sama Joshua pisah dulu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hao.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kayak kita dulu, Gyu, inget nggak?&#34; tentu saja Mingyu ingat ketika ia meninggalkan Minghao untuk berpikir. &#34;Satu-satunya nasehat yang bisa aku kasih ke Mas Seok, sama kayak aku kasih ke Kakak: semua itu waktu yang bakal jawab, Mas.&#34;&#xA;&#xA;&#34;....Jadi, mendingan Mas pulang dan balik gitu aja ke kehidupan Mas sebelum ketemu Joshua?&#34; kekeh Seokmin terdengar miris. &#34;Kayak anak itu nggak pernah ada dari awal?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Justru itu,&#34; Minghao memotongnya. &#34;Justru orang kayak Mas harus ngerasain itu dulu. Biar Mas tau, apa Mas beneran mau Joshua ato in the heat of the moment aja.&#34; Mata hitam Minghao berkilat. &#34;Kalo emang Mas kemakan karma, just bare yourself fully.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu diam-diam menelan ludah, paham bahwa Minghao rupanya agak terluka akan fakta yang ia sebut tadi, dimana Seokmin bilang kalau Minghao akan meninggalkan Mingyu seperti Wonwoo. Seokmin sendiri mengerutkan alis, masih tidak yakin apakah ia harus pergi begitu saja dari Joshua, meninggalkannya seorang diri..&#xA;&#xA;...kesepian lagi...&#xA;&#xA;&#34;Tapi,&#34; lalu, senyuman lebar merekah di wajah Xu Minghao. Ditangkupnya pipi Seokmin agar lelaki itu mendongak menatapnya. &#34;Mas harus bilang semua yang Mas pendem ke Joshua.&#34;&#xA;&#xA;Bola mata Seokmin membulat.&#xA;&#xA;&#34;Semua. Semua yang ada di hati Mas. Keluarin semua ke dia, kayak apa yang Mas baru aja lakuin ke kita. Mas harus bilang semua.&#34;&#xA;&#xA;&#34;...Kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya kan, masa yang mikir cuma Mas aja? Joshua juga lah,&#34; kekehnya lugas. &#34;Bilang ke dia, Mas. Don&#39;t left him in the dark. Don&#39;t go without him knowing why. Kalo kalian harus menderita, kenapa enggak berdua aja biar adil?&#34;&#xA;&#xA;...&#xA;&#xA;&#34;Nih, Mas,&#34; Mingyu menyelipkan secarik kertas yang ia minta ke pelayan ke tangan Seokmin. &#34;Alamat apartemen Joshua.&#34; Kedipan sebelah mata kemudian. &#34;Dia nggak jauh dari sini kok, jadi Mas bakal keburu ngejer pesawat. Yah...asal nggak tetiba horny aja.&#34;&#xA;&#xA;Alih-alih tersinggung, Seokmin tertawa.&#xA;&#xA;&#34;Trims...kalian.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Good luck, Mas Seok.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ciee balik kayak anak muda nih, ngejer kekasih hati\~&#34;&#xA;&#xA;Begitu Seokmin pergi, Minghao menghela napas. &#34;Sok ngatain Mas Seok, padahal kamu sendiri juga, udah bangkot masih aja,&#34; keluhnya. &#34;Itu tadi apa, gelut sama takdir lah.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu tertawa, dirangkulnya Minghao dengan santai. &#34;Ya emang aslinya gitu gimana dong? Even if the whole world is against us, I will still make you mine, Hao...&#34; Ia beranjak untuk berbisik ke telinga suaminya, membuat Minghao seketika memerah.&#xA;&#xA;Mingyu menjilat bibirnya sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Mau coba Love Hotel? Kamarnya menarik lho,&#34; digigitnya telinga Minghao. &#34;Dua blok dari sini banyak. Kita tinggal pilih.&#34;&#xA;&#xA;Yah, just like what people said, when in Rome, do as the Romans do :p]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaoparentssequel" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaoparentssequel</span></a></p>

<p>Dua botol kecil sake kemudian, Lee Seokmin sudah lebih rileks, sudah lebih longgar untuk bercerita mengenai dirinya dan anak yang lebih muda 36 tahun darinya itu. Minghao dan Mingyu, keduanya sengaja tidak minum terlalu banyak, mendengarkan dalam diam. Di sekeliling mereka, orang-orang ramai mengobrol. Dentingan gelas muncul cukup sering. Para pelayan sibuk menerima pesanan camilan dan keluar-masuk dapur untuk membawakan sake dan bir. Izakaya itu ramai di penghujung minggu.</p>



<p>Mereka sejujurnya lebih memilih anggur daripada sake dan tempat minum yang tenang dengan seorang sommelier profesional daripada izakaya yang berisik, namun mereka tahu Seokmin lebih menyukai rasa sake dan suasana seperti ini, maka dengan sengaja mereka memboyongnya ke sini.</p>

<p>“Mas ngajak dia balik ke Indo sama Mas,” mulainya. “Mas pikir dia bakal seneng. I mean, he has no one, you know? Tinggal sendirian. Kuliah drop out. Yang dia punya cuma kerjaan di restoran itu dan paruh waktu di tempat lain. Dia bahkan nggak punya temen.” Kekehan keluar dari mulutnya. Pelan dan miris. Ia teringat lagi bagaimana santainya Joshua menceritakan itu semua, seolah anak itu sudah terbiasa kesepian.</p>

<p>...Karena itulah.</p>

<p>Karena itulah, Seokmin mengajaknya ikut pergi. Ia tidak mau Joshua kesepian lagi. Tidak mau bangun tanpa melihat wajah Joshua di sisinya lagi. Tapi, anak itu benar. Mereka bukan siapa-siapa. Tak ada relasi yang mengaitkan mereka. Hanya berbagi hangat tubuh satu sama lain. Seokmin pun mengakui, meski ia yakin ia ingin hidup bersama Joshua, tapi, apakah perasaan itu cinta, ia tidak tahu pasti.</p>

<p>”...Tapi, Mas salah. Rupanya dia nggak ngeliat Mas kayak gitu. Jujur, Mas juga nggak tau perasaan Mas sendiri. Nggak yakin apa. Tapi, kalo ngeliat dia senyum, denger dia ketawa, rasanya..rasanya bener. Rasanya, emang harusnya tuh kayak gini. Kayak semua ini. Mas cuma pingin...,” ditatapnya telapak tangannya sendiri. “....cuma nggak mau dia ngerasa kesepian lagi..cuma itu...”</p>

<p>“Mas...,” Minghao menangkup tangan Seokmin yang satunya lagi di meja.</p>

<p>“Rasanya...rasanya aneh. Mas nggak pernah ngalamin begini, nggak pernah kebingungan kayak gini. Mas pikir dia cuma iseng aja tidur sama Mas di hari pertama kita ketemu. Mas juga cuma iseng aja ladenin dia. Just like...casual sex, another hook up? Yang besok paginya tinggal bye bye and gone forever,” saat ini, yang ada adalah Lee Seokmin, salah satu sosok yang penting bagi Mingyu dan Minghao, bukan Lee Seokmin sang supir keluarga yang mengabdi sejak ia berusia 20, masih naif dan penuh harap akan cinta dan masa depan. Tanpa ia ketahui ia akan melewati 36 tahun dalam kesendirian, pulang ke rumah yang kosong setelah bekerja seharian dan menghabiskan akhir pekan dengan tidur atau memutari kota tanpa tujuan. Semua yang pernah singgah dalam hidupnya, menjanjikan bunga indah di taman, hanya berakhir dengan kepergian, meninggalkan sekuntum lagi bunga yang layu sebelum sempat berkembang.</p>

<p>Dan, ketika Seokmin berbalik, memandangi begitu banyak bunga yang layu di dalam tamannya, ia pun yakin kalau, dalam hidupnya yang ini, tak ada manusia yang diciptakan untuk dirinya seorang. Ia akan mati sendirian, sama seperti ketika ia lahir ke dunia sesaat sebelum ibunya meregang nyawa.</p>

<p>Ia yakin orang itu tidak akan pernah datang.</p>

<p>Tetesan.</p>

<p>Tetesan demi tetesan jatuh ke permukaan meja. Seokmin menunduk, namun itu tak cukup untuk menyembunyikan tangisannya dari kedua orang yang telah mengenalnya cukup lama untuk tidak berbicara apapun selain memeluknya, mencoba menghibur tanpa kata. Minghao melingkarkan lengan di leher Seokmin, sementara Mingyu mengelusi punggungnya.</p>

<p>“Anak itu masih muda. Dia masih muda. Masih 20, ya Tuhan...,” sesengukan. “Nggak seharusnya dia terbiasa kesepian begitu. Nggak seharusnya—”</p>

<p>Tidak seharusnya dia menemukan Joshua, yang juga tidak memiliki siapapun atau apapun di dunia ini, dan terpikat padanya. Keposesifan yang aneh membelit Seokmin, seolah ia tak pernah puas akan anak itu. Ia takut, pada awalnya. Semua ini terasa asing. Ia tidak paham. Ia tidak mengerti kenapa dirinya jadi aneh begini. Dan, meski ia sesungguhnya tahu takkan berakhir baik, ia tetap menemui Joshua, mengajaknya kencan, menciumnya, bercinta dengannya, bahkan mengajaknya pulang bersamanya ke Indonesia.</p>

<p>“Mas nggak ngerti...nggak paham...kenapa...anak semuda itu nggak seharusnya sama Mas, tapi Mas mau dia...mungkin Mas udah gila...”</p>

<p>“Mas,” itu Mingyu. Ia merangkul pundak Seokmin dan menyenderkan kepalanya ke kepala Seokmin, sementara Minghao masih memeluk leher lelaki itu. “Jujur, nih, gue dari umur 10 ngeliat Mas mulu. Gue pikir, nih orang ceria banget. Pasti idupnya penuh sama hal-hal bahagia. Tapi, rupanya gue salah.”</p>

<p>Seokmin menggigit bibir bawahnya.</p>

<p>“Lo yang gue kenal adalah orang yang dingin, Mas. Lo pernah nanya ke gue kenapa gue mati-matian ngejer Wonu dulu dan lo ketawa. Lo bilang gue masih naif dan bocah. Pas gue ceritain lo soal Hao, lo juga cuma senyum, seolah kejadian Wonu ninggalin gue bakal keulang lagi sama Hao. Lo segitu enggak percayanya sama cinta ya, Mas, segitu enggak taunya sama perasaan itu?” Mingyu terkekeh. Ia ingat ia marah besar, meski kemudian Seokmin menjelaskan padanya kalau cinta saja tidak akan cukup. Tidak akan pernah cukup. “Dan liat lo sekarang, Mas. Lo kena karma.”</p>

<p>Dielusnya kepala Seokmin dengan lembut.</p>

<p>“Lo jatuh cinta sama anak itu, Mas.”</p>

<p>...Cinta? Jadi cinta itu perasaan yang begini? Ini yang namanya cinta...?</p>

<p>“Mingyu,” suaminya memperingatkan. “Mas Seok, kalo bener yang dibilang Gyu, berarti emang Mas baru kali ini tau rasa cinta ya? Aku emang nggak kenal Mas lama, baru pas aku nikah sama Mingyu aku kenal sama Mas, tapi, selama waktu singkat itu, Mas udah baik banget sama aku. Aku pun berharap Mas nemu siapapun yang bisa buat Mas bahagia.”</p>

<p>Minghao tersenyum, teringat saat Seokmin menyupirinya sendirian tanpa Mingyu setelah mengetahui bahwa pernikahan itu hanya kebohongan belaka. Seokmin dengan tulus memohon agar Minghao tidak menyakiti Mingyu dan agar mereka berdua berbahagia, berdua ataupun masing-masing di jalannya.</p>

<p>“Menurut aku, kalo emang Mas masih baru sama perasaan ini, mungkin ada baiknya Mas sama Joshua pisah dulu.”</p>

<p>“Hao.”</p>

<p>“Kayak kita dulu, Gyu, inget nggak?” tentu saja Mingyu ingat ketika ia meninggalkan Minghao untuk berpikir. “Satu-satunya nasehat yang bisa aku kasih ke Mas Seok, sama kayak aku kasih ke Kakak: semua itu waktu yang bakal jawab, Mas.”</p>

<p>”....Jadi, mendingan Mas pulang dan balik gitu aja ke kehidupan Mas sebelum ketemu Joshua?” kekeh Seokmin terdengar miris. “Kayak anak itu nggak pernah ada dari awal?”</p>

<p>“Justru itu,” Minghao memotongnya. “Justru orang kayak Mas harus ngerasain itu dulu. Biar Mas tau, apa Mas beneran mau Joshua ato in the heat of the moment aja.” Mata hitam Minghao berkilat. “Kalo emang Mas kemakan karma, just bare yourself fully.”</p>

<p>Mingyu diam-diam menelan ludah, paham bahwa Minghao rupanya agak terluka akan fakta yang ia sebut tadi, dimana Seokmin bilang kalau Minghao akan meninggalkan Mingyu seperti Wonwoo. Seokmin sendiri mengerutkan alis, masih tidak yakin apakah ia harus pergi begitu saja dari Joshua, meninggalkannya seorang diri..</p>

<p>...kesepian lagi...</p>

<p>“Tapi,” lalu, senyuman lebar merekah di wajah Xu Minghao. Ditangkupnya pipi Seokmin agar lelaki itu mendongak menatapnya. “Mas harus bilang semua yang Mas pendem ke Joshua.”</p>

<p>Bola mata Seokmin membulat.</p>

<p>“Semua. Semua yang ada di hati Mas. Keluarin semua ke dia, kayak apa yang Mas baru aja lakuin ke kita. Mas harus bilang semua.”</p>

<p>”...Kenapa?”</p>

<p>“Ya kan, masa yang mikir cuma Mas aja? Joshua juga lah,” kekehnya lugas. “Bilang ke dia, Mas. Don&#39;t left him in the dark. Don&#39;t go without him knowing why. Kalo kalian harus menderita, kenapa enggak berdua aja biar adil?”</p>

<p>...</p>

<p>“Nih, Mas,” Mingyu menyelipkan secarik kertas yang ia minta ke pelayan ke tangan Seokmin. “Alamat apartemen Joshua.” Kedipan sebelah mata kemudian. “Dia nggak jauh dari sini kok, jadi Mas bakal keburu ngejer pesawat. Yah...asal nggak tetiba horny aja.”</p>

<p>Alih-alih tersinggung, Seokmin tertawa.</p>

<p>“Trims...kalian.”</p>

<p>“Good luck, Mas Seok.”</p>

<p>“Ciee balik kayak anak muda nih, ngejer kekasih hati~“</p>

<p>Begitu Seokmin pergi, Minghao menghela napas. “Sok ngatain Mas Seok, padahal kamu sendiri juga, udah bangkot masih aja,” keluhnya. “Itu tadi apa, gelut sama takdir lah.”</p>

<p>Mingyu tertawa, dirangkulnya Minghao dengan santai. “Ya emang aslinya gitu gimana dong? Even if the whole world is against us, I will still make you mine, Hao...” Ia beranjak untuk berbisik ke telinga suaminya, membuat Minghao seketika memerah.</p>

<p>Mingyu menjilat bibirnya sendiri.</p>

<p>“Mau coba Love Hotel? Kamarnya menarik lho,” digigitnya telinga Minghao. “Dua blok dari sini banyak. Kita tinggal pilih.”</p>

<p>Yah, just like what people said, when in Rome, do as the Romans do :p</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/59</guid>
      <pubDate>Sun, 21 Jun 2020 03:00:47 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>58.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/58?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaoparentssequel&#xA;&#xA;&#34;Hao??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kwannie???&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Pelukan ibunya terlepas. Detik kemudian, pelukan itu pindah dari Kakak ke sosok yang dipanggil &#39;Kwannie&#39; itu. Mereka berpelukan erat melepas rindu. Keduanya memasang senyuman yang paling lebar dan tulus. Mata Minghao pun berbinar-binar.&#xA;&#xA;&#34;Lo kemana aja, Hao, anjiirr anjirr gue kangen banget sama loooo!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo yang kemana aja! Abis lulus, lo langsung cabut ke Amrik!&#34; kekeh Minghao. &#34;Kok lo bisa ada di sini sih? Kok bisa kita ketemuan di sini??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo yang kok bisa ada di sini! Gue udah tinggal di Tokyo 10 tahun, njing! Aahhh gila, gilaaa, jauh banget gue ketemuan sama lo di sini hahahah!!&#34;&#xA;&#xA;Peluknya lagi. Minghao menepuk-nepuk punggung sahabatnya masa kuliah yang lebih muda setahun itu. Tidak lama, pelukan kedua orang itu pun terlepas.&#xA;&#xA;&#34;Gimana kabar lo, Hao? Sehat kan?? Lo tinggal di sini juga sekarang??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sehat, sehat,&#34; Minghao tertawa sambil mengusap tangis haru dari sudut mata sahabatnya. &#34;Gue baruuuu aja buka resto di sini sih, ada kali baru sebulan. Dan, enggak, gue tetep tinggal di Indo kok. Kebetulan aja laki gue--&#34; Ucapannya berhenti, karena dia baru sadar kalau belum memperkenalkan Seungkwan ke Mingyu (meski ia yakin Seungkwan sudah sangat tahu siapa Kim Mingyu, seperti seluruh isi kampus).&#xA;&#xA;&#34;Ah...Pah, sini aku kenalin,&#34; diulurkannya lengan dan Mingyu refleks menyambut. Lengannya sendiri kini melingkari pinggang Minghao, sementara suaminya itu memeluk sisi tubuhnya. &#34;Gyu, ini Boo Seungkwan. Temen deket aku pas kita kuliah dulu. Kwannie, ini suami gue, Kim Mingyu.&#34; Minghao diam sejenak sebelum melanjutkan sambil meringis. &#34;Gue yakin sih lo udah kenal banget dia.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Menurut lo??&#34; Seungkwan mendelik.&#xA;&#xA;&#34;Halo, gue Mingyu,&#34; ia tersenyum, lalu menjabat tangan Seungkwan. &#34;Tapi aneh deh, Hao nggak pernah cerita kalo dia punya temen deket pas kuliah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Wah...wah, Kim Mingyu jabat tangan gue...,&#34; Seungkwan bergumam sendiri. &#34;Hehe hehe, iya nih, nggak tau tuh si Hao emang dasar, hehe...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Heh. Elu yang cabut sehari setelah lulusan ya. Gue mau kenalin juga percuma, lu nya nggak ada.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aisssh bacot,&#34; ia mendesis gemas. &#34;Btw, gue mau nanya satu hal sih, tapi nggak tau pantes apa nggak?&#34; Seungkwan mendongak menatap Kim Mingyu.&#xA;&#xA;&#34;Ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kok bisa sih lo sama si Hao? Bukannya lo ngejer-ngejer Kak Wonwoo ya, sampe nanyain ke Hao?&#34; tidak ada nada negatif di sana, murni rasa ingin tahu. &#34;Asli, gue pikir lo bakal kawin sama Kak Wonwoo lho. Satu kampus mikirnya gitu juga.&#34;&#xA;&#xA;Kim Mingyu terkekeh. Rangkulannya di pinggang Minghao mengencang, membuat lelaki itu makin jatuh ke pelukannya. &#34;Yah...,&#34; selorohnya santai. &#34;Gimana ya, kalo emang ternyata jodoh gue justru orang yang gue interogasi dulu, masa gue mau nyalahin takdir sih? Lagian...&#34;&#xA;&#xA;Mingyu menoleh, kemudian tersenyum lembut memandangi Minghao.&#xA;&#xA;&#34;...kalopun Hao bukan jodoh gue, gue bakal ajak takdir gelut demi dapetin dia...&#34;&#xA;&#xA;Yang, tentu saja, membuat pipi Minghao dan semua orang yang menonton mereka bersemu.&#xA;&#xA;&#34;P-pah, apaan sih--&#34; Minghao mendorong Mingyu agar ia lepas dari pelukannya. Berdeham dua kali untuk meredakan debaran jantungnya yang sempat berpacu, Minghao kembali menumpahkan fokus ke Seungkwan.&#xA;&#xA;&#34;Anyway, Kwannie, sini gue anter ke meja--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah, Bos, biar gue aja,&#34; itu Vernon. Ia merangkul pundak Seungkwan. &#34;Hari ini nggak terlalu rame, so...ijin pacaran sambil maksi bentar nggak apa ya?&#34; Ringisnya tersungging, kontras terhadap Seungkwan yang langsung malu-malu.&#xA;&#xA;&#34;Iiih, enak aja! Saya juga ijin, Bos! Mau duduk bertiga sama Mama! Pergi kamu, Vernonie, jangan monopoli Mama!&#34; yang itu Choi Yena, protes tiba-tiba.&#xA;&#xA;&#34;Mama? Pacar?&#34; bola mata Minghao melebar.&#xA;&#xA;Giliran Seungkwan yang menjelaskan dengan ragu-ragu. &#34;Ah...iya, Yena anak gue dari pernikahan pertama gue, Hao,&#34; ia membiarkan Yena dan Vernon berlomba lari ke meja dekat jendela, berusaha mengklaim tempat duduk di sebelah Seungkwan nantinya.&#xA;&#xA;&#34;Oh...&#34;&#xA;&#xA;&#34;...Nggak lancar sih. Laki gue ninggalin gue pas Yena masih kecil. Pergi gitu aja sama selingkuhannya. Terus gue pindah ke Jepang. Nikah lagi sama rekan kerja gue di sini. Tapi yah, gue nggak tau ada yang salah kali ya sama gue. Istri gue terus minta cerai. Dan yah, akhirnya gue balik sama Yena lagi berdua aja. Sampe gue ketemu Vernon dua tahun lalu.&#34;&#xA;&#xA;Minghao menggenggam kedua tangan Seungkwan, mendengarkan ceritanya dengan atentif.&#xA;&#xA;&#34;Pasti aneh ya, gue udah umur segini tapi malah pacaran sama anak kuliah, haha...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak kok, Kwan,&#34; diremasnya tangan sang sahabat. &#34;But does he make you happy?&#34;&#xA;&#xA;&#34;…Yeah,&#34; Seungkwan menghela napas, tanpa beban. &#34;He makes me happy. The happiest I&#39;ve ever been.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Then isn&#39;t that fine?&#34; Minghao tersenyum lembut. &#34;Gue kenal orang-orang yang pas usia kuliah malah jauh lebih dewasa pemikirannya dari yang udah dewasa and one of them is you.&#34; Dibelainya tangan itu. &#34;You helped me a lot back then. You&#39;re a really kind man, Kwannie. My lovely best friend. So if anyone has the right to be happy, then that&#39;ll be you...&#34;&#xA;&#xA;Diam-diam, sebulir tangis menuruni pipi Seungkwan dan Minghao segera mengusapnya dengan ibu jari.&#xA;&#xA;&#34;...Lagian, kayaknya kita bakal sering ketemu abis ini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh?&#34;&#xA;&#xA;Minghao meringis. &#34;Resto ini punya gue sama Mingyu,&#34; jelasnya. &#34;Berhubung Vernon sama Yena kerja di sini, lo juga harus dateng sering-sering ya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Punya lo? Berarti lo bakal netap di sini?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh, enggak sih,&#34; gelengan kepala. &#34;Anak perempuan gue sendirian di Indo. Nggak mungkin gue tinggalin. Tapi gue bakal ada di sini kira-kira dua mingguan buat planning menu season berikutnya dan...buat anak laki gue nentuin jawabannya.&#34;&#xA;&#xA;Minghao menoleh ke sosok yang ia sebutkan, diikuti Seungkwan. Sosok yang tinggi dan ramping, dengan rambut menjuntai berantakan ke segala arah seperti biasa. Anak lelaki itu misuh-misuh ketika dipanggil Yena untuk memesan, tapi tetap saja menuliskan pesanan Yena dan Vernon. Di satu momen, Yena tertawa dan anak sulungnya itu menggetok kepala si gadis perlahan dengan buku memonya.&#xA;&#xA;&#34;Itu anak kalian? Mirip elo ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;.....&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hao?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kwannie. Moga-moga semua lancar dan kita jadi besan ya?&#34; senyuman lebar.&#xA;&#xA;&#34;Ha?&#34;&#xA;&#xA;Perlu lima detik buat Seungkwan menyadari apa maksud sahabatnya itu.&#xA;&#xA;&#34;Hah???&#34;&#xA;&#xA;Sementara itu, Kim Mingyu menggulung lengan kemejanya. Ia sudah tidak sabar untuk merombak menu restoran dari hasil perjalanan mereka ke Hungaria dan Austria. Musim berikutnya adalah musim gugur. Musim untuk buku, makanan enak, dan juga cinta. Ia sudah bisa membayangkan masakan apa saja yang akan mereka sajikan ketika langkahnya terhenti. Di dapur, ada dua orang yang sedang berpelukan erat. Joshua, di balik punggung lebar itu, melihatnya, lalu mendorong lelaki yang tengah memeluknya itu.&#xA;&#xA;&#34;! Bos Kim?! Kok di sini?! Kapan pulang?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Harusnya saya yang tanya itu, Joshua, kenapa ada orang luar yang masuk dapur--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mingyu...&#34;&#xA;&#xA;Mulut Kim Mingyu membuka dalam keterkejutan.&#xA;&#xA;&#34;...Mas Seok???&#34; sebentar, memang sih Hao bilang Mas Seok sempat ke sini untuk memeriksa keadaan Kakak, tapi tidak ia sangka...dengan Joshua?? Bukannya Mas Seok lebih tua darinya?? &#34;Kalian--how--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dia udah mau pergi kok, Bos Kim,&#34; Joshua menyela. &#34;Dia bakal pulang malem ini. Dan kita nggak ada apa-apa. Ya kan?&#34;&#xA;&#xA;Anak itu menoleh, tersenyum paksa. Seokmin mengernyitkan alis. Ditangkupnya pipi Joshua dan, sama sekali tidak mengindahkan keberadaan Mingyu, bibirnya melumat bibir Joshua.&#xA;&#xA;&#34;Mmh?!&#34;&#xA;&#xA;Joshua melirik takut ke arah Mingyu yang menonton semua, tercengang bukan kepalang. Lidah Seokmin masuk dan mencoba mendominasinya, membuatnya hampir melemas dalam pelukan lelaki itu dan mengikuti segala keinginannya, namun Joshua lebih kuat. Didorongnya Seokmin sekuat tenaga hingga ciuman mereka terlepas.&#xA;&#xA;&#34;FUCK!&#34; bentaknya. &#34;JUST FUCKING GO, OKAY?? I WON&#39;T COME WITH YOU. I HAVE LIFE HERE. IT&#39;S JUST A FUCKING FLING!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Joshua--&#34;&#xA;&#xA;&#34;GET THE FUCK OFF, LEE SEOKMIN, WE&#39;RE DONE HERE!&#34; dengan satu kalimat itu, Joshua berderap keluar dapur. Terdengar teriakan Minghao memanggilnya. Sepertinya anak itu kabur entah kemana.&#xA;&#xA;Dia meninggalkan Mingyu dengan Seokmin di dapur. Untungnya toko sedang memasuki jam-jam sepi. Seokmin mengusap bibirnya dengan punggung tangan, tampak sangat terluka.&#xA;&#xA;&#34;Pah! Pah, kok Joshua pulang--&#34; Minghao menyeruak memasuki dapur. &#34;--oh. Mas Seok? Mas Seok kok ada di sini?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Halo, Hao,&#34; Seokmin tersenyum lembut, lalu menatap Mingyu. &#34;Sori, Gyu. Gue bantuin deh di sini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mas,&#34; Mingyu menyela. &#34;Minum bareng yok, mau nggak? Udah lama kita nggak ngobrol.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi Mas pulang malem ini...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak pa-pa, masih ada waktu,&#34; ia lalu melanjutkan. &#34;Hao, hari ini kita tutup cepet aja yok. Aku mau nongkrong sama Mas Seok.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ikut.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hao?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mau ikut,&#34; suaminya mengernyit menggemaskan. Matanya serius, mengunci tatap dengan Seokmin. &#34;Tadi Joshua nangis, Mas.&#34;&#xA;&#xA;Sentakan napas terdengar.&#xA;&#xA;&#34;Aku juga mau denger soal ini dari Mas.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaoparentssequel" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaoparentssequel</span></a></p>

<p>“Hao??”</p>

<p>“Kwannie???”</p>



<p>Pelukan ibunya terlepas. Detik kemudian, pelukan itu pindah dari Kakak ke sosok yang dipanggil &#39;Kwannie&#39; itu. Mereka berpelukan erat melepas rindu. Keduanya memasang senyuman yang paling lebar dan tulus. Mata Minghao pun berbinar-binar.</p>

<p>“Lo kemana aja, Hao, anjiirr anjirr gue kangen banget sama loooo!”</p>

<p>“Lo yang kemana aja! Abis lulus, lo langsung cabut ke Amrik!” kekeh Minghao. “Kok lo bisa ada di sini sih? Kok bisa kita ketemuan di sini??”</p>

<p>“Lo yang kok bisa ada di sini! Gue udah tinggal di Tokyo 10 tahun, njing! Aahhh gila, gilaaa, jauh banget gue ketemuan sama lo di sini hahahah!!”</p>

<p>Peluknya lagi. Minghao menepuk-nepuk punggung sahabatnya masa kuliah yang lebih muda setahun itu. Tidak lama, pelukan kedua orang itu pun terlepas.</p>

<p>“Gimana kabar lo, Hao? Sehat kan?? Lo tinggal di sini juga sekarang??”</p>

<p>“Sehat, sehat,” Minghao tertawa sambil mengusap tangis haru dari sudut mata sahabatnya. “Gue baruuuu aja buka resto di sini sih, ada kali baru sebulan. Dan, enggak, gue tetep tinggal di Indo kok. Kebetulan aja laki gue—” Ucapannya berhenti, karena dia baru sadar kalau belum memperkenalkan Seungkwan ke Mingyu (meski ia yakin Seungkwan sudah sangat tahu siapa Kim Mingyu, seperti seluruh isi kampus).</p>

<p>“Ah...Pah, sini aku kenalin,” diulurkannya lengan dan Mingyu refleks menyambut. Lengannya sendiri kini melingkari pinggang Minghao, sementara suaminya itu memeluk sisi tubuhnya. “Gyu, ini Boo Seungkwan. Temen deket aku pas kita kuliah dulu. Kwannie, ini suami gue, Kim Mingyu.” Minghao diam sejenak sebelum melanjutkan sambil meringis. “Gue yakin sih lo udah kenal banget dia.”</p>

<p>“Menurut lo??” Seungkwan mendelik.</p>

<p>“Halo, gue Mingyu,” ia tersenyum, lalu menjabat tangan Seungkwan. “Tapi aneh deh, Hao nggak pernah cerita kalo dia punya temen deket pas kuliah?”</p>

<p>“Wah...wah, Kim Mingyu jabat tangan gue...,” Seungkwan bergumam sendiri. “Hehe hehe, iya nih, nggak tau tuh si Hao emang dasar, hehe...”</p>

<p>“Heh. Elu yang cabut sehari setelah lulusan ya. Gue mau kenalin juga percuma, lu nya nggak ada.”</p>

<p>“Aisssh bacot,” ia mendesis gemas. “Btw, gue mau nanya satu hal sih, tapi nggak tau pantes apa nggak?” Seungkwan mendongak menatap Kim Mingyu.</p>

<p>“Ya?”</p>

<p>“Kok bisa sih lo sama si Hao? Bukannya lo ngejer-ngejer Kak Wonwoo ya, sampe nanyain ke Hao?” tidak ada nada negatif di sana, murni rasa ingin tahu. “Asli, gue pikir lo bakal kawin sama Kak Wonwoo lho. Satu kampus mikirnya gitu juga.”</p>

<p>Kim Mingyu terkekeh. Rangkulannya di pinggang Minghao mengencang, membuat lelaki itu makin jatuh ke pelukannya. “Yah...,” selorohnya santai. “Gimana ya, kalo emang ternyata jodoh gue justru orang yang gue interogasi dulu, masa gue mau nyalahin takdir sih? Lagian...”</p>

<p>Mingyu menoleh, kemudian tersenyum lembut memandangi Minghao.</p>

<p>”...kalopun Hao bukan jodoh gue, gue bakal ajak takdir gelut demi dapetin dia...”</p>

<p>Yang, tentu saja, membuat pipi Minghao dan semua orang yang menonton mereka bersemu.</p>

<p>“P-pah, apaan sih—” Minghao mendorong Mingyu agar ia lepas dari pelukannya. Berdeham dua kali untuk meredakan debaran jantungnya yang sempat berpacu, Minghao kembali menumpahkan fokus ke Seungkwan.</p>

<p>“Anyway, Kwannie, sini gue anter ke meja—”</p>

<p>“Ah, Bos, biar gue aja,” itu Vernon. Ia merangkul pundak Seungkwan. “Hari ini nggak terlalu rame, so...ijin pacaran sambil maksi bentar nggak apa ya?” Ringisnya tersungging, kontras terhadap Seungkwan yang langsung malu-malu.</p>

<p>“Iiih, enak aja! Saya juga ijin, Bos! Mau duduk bertiga sama Mama! Pergi kamu, Vernonie, jangan monopoli Mama!” yang itu Choi Yena, protes tiba-tiba.</p>

<p>“Mama? Pacar?” bola mata Minghao melebar.</p>

<p>Giliran Seungkwan yang menjelaskan dengan ragu-ragu. “Ah...iya, Yena anak gue dari pernikahan pertama gue, Hao,” ia membiarkan Yena dan Vernon berlomba lari ke meja dekat jendela, berusaha mengklaim tempat duduk di sebelah Seungkwan nantinya.</p>

<p>“Oh...”</p>

<p>”...Nggak lancar sih. Laki gue ninggalin gue pas Yena masih kecil. Pergi gitu aja sama selingkuhannya. Terus gue pindah ke Jepang. Nikah lagi sama rekan kerja gue di sini. Tapi yah, gue nggak tau ada yang salah kali ya sama gue. Istri gue terus minta cerai. Dan yah, akhirnya gue balik sama Yena lagi berdua aja. Sampe gue ketemu Vernon dua tahun lalu.”</p>

<p>Minghao menggenggam kedua tangan Seungkwan, mendengarkan ceritanya dengan atentif.</p>

<p>“Pasti aneh ya, gue udah umur segini tapi malah pacaran sama anak kuliah, haha...”</p>

<p>“Nggak kok, Kwan,” diremasnya tangan sang sahabat. “But does he make you happy?”</p>

<p>“…Yeah,” Seungkwan menghela napas, tanpa beban. “He makes me happy. The happiest I&#39;ve ever been.”</p>

<p>“Then isn&#39;t that fine?” Minghao tersenyum lembut. “Gue kenal orang-orang yang pas usia kuliah malah jauh lebih dewasa pemikirannya dari yang udah dewasa and one of them is you.” Dibelainya tangan itu. “You helped me a lot back then. You&#39;re a really kind man, Kwannie. My lovely best friend. So if anyone has the right to be happy, then that&#39;ll be you...”</p>

<p>Diam-diam, sebulir tangis menuruni pipi Seungkwan dan Minghao segera mengusapnya dengan ibu jari.</p>

<p>”...Lagian, kayaknya kita bakal sering ketemu abis ini.”</p>

<p>“Eh?”</p>

<p>Minghao meringis. “Resto ini punya gue sama Mingyu,” jelasnya. “Berhubung Vernon sama Yena kerja di sini, lo juga harus dateng sering-sering ya.”</p>

<p>“Punya lo? Berarti lo bakal netap di sini?”</p>

<p>“Oh, enggak sih,” gelengan kepala. “Anak perempuan gue sendirian di Indo. Nggak mungkin gue tinggalin. Tapi gue bakal ada di sini kira-kira dua mingguan buat planning menu season berikutnya dan...buat anak laki gue nentuin jawabannya.”</p>

<p>Minghao menoleh ke sosok yang ia sebutkan, diikuti Seungkwan. Sosok yang tinggi dan ramping, dengan rambut menjuntai berantakan ke segala arah seperti biasa. Anak lelaki itu misuh-misuh ketika dipanggil Yena untuk memesan, tapi tetap saja menuliskan pesanan Yena dan Vernon. Di satu momen, Yena tertawa dan anak sulungnya itu menggetok kepala si gadis perlahan dengan buku memonya.</p>

<p>“Itu anak kalian? Mirip elo ya?”</p>

<p>”.....”</p>

<p>“Hao?”</p>

<p>“Kwannie. Moga-moga semua lancar dan kita jadi besan ya?” senyuman lebar.</p>

<p>“Ha?”</p>

<p>Perlu lima detik buat Seungkwan menyadari apa maksud sahabatnya itu.</p>

<p>“Hah???”</p>

<p>Sementara itu, Kim Mingyu menggulung lengan kemejanya. Ia sudah tidak sabar untuk merombak menu restoran dari hasil perjalanan mereka ke Hungaria dan Austria. Musim berikutnya adalah musim gugur. Musim untuk buku, makanan enak, dan juga cinta. Ia sudah bisa membayangkan masakan apa saja yang akan mereka sajikan ketika langkahnya terhenti. Di dapur, ada dua orang yang sedang berpelukan erat. Joshua, di balik punggung lebar itu, melihatnya, lalu mendorong lelaki yang tengah memeluknya itu.</p>

<p>”! Bos Kim?! Kok di sini?! Kapan pulang?”</p>

<p>“Harusnya saya yang tanya itu, Joshua, kenapa ada orang luar yang masuk dapur—”</p>

<p>“Mingyu...”</p>

<p>Mulut Kim Mingyu membuka dalam keterkejutan.</p>

<p>”...Mas Seok???” sebentar, memang sih Hao bilang Mas Seok sempat ke sini untuk memeriksa keadaan Kakak, tapi tidak ia sangka...dengan Joshua?? Bukannya Mas Seok lebih tua darinya?? “Kalian—how—”</p>

<p>“Dia udah mau pergi kok, Bos Kim,” Joshua menyela. “Dia bakal pulang malem ini. Dan kita nggak ada apa-apa. Ya kan?”</p>

<p>Anak itu menoleh, tersenyum paksa. Seokmin mengernyitkan alis. Ditangkupnya pipi Joshua dan, sama sekali tidak mengindahkan keberadaan Mingyu, bibirnya melumat bibir Joshua.</p>

<p>“Mmh?!”</p>

<p>Joshua melirik takut ke arah Mingyu yang menonton semua, tercengang bukan kepalang. Lidah Seokmin masuk dan mencoba mendominasinya, membuatnya hampir melemas dalam pelukan lelaki itu dan mengikuti segala keinginannya, namun Joshua lebih kuat. Didorongnya Seokmin sekuat tenaga hingga ciuman mereka terlepas.</p>

<p>“FUCK!” bentaknya. “JUST FUCKING GO, OKAY?? I WON&#39;T COME WITH YOU. I HAVE LIFE HERE. IT&#39;S JUST A FUCKING FLING!”</p>

<p>“Joshua—”</p>

<p>“GET THE FUCK OFF, LEE SEOKMIN, WE&#39;RE DONE HERE!” dengan satu kalimat itu, Joshua berderap keluar dapur. Terdengar teriakan Minghao memanggilnya. Sepertinya anak itu kabur entah kemana.</p>

<p>Dia meninggalkan Mingyu dengan Seokmin di dapur. Untungnya toko sedang memasuki jam-jam sepi. Seokmin mengusap bibirnya dengan punggung tangan, tampak sangat terluka.</p>

<p>“Pah! Pah, kok Joshua pulang—” Minghao menyeruak memasuki dapur. “—oh. Mas Seok? Mas Seok kok ada di sini?”</p>

<p>“Halo, Hao,” Seokmin tersenyum lembut, lalu menatap Mingyu. “Sori, Gyu. Gue bantuin deh di sini.”</p>

<p>“Mas,” Mingyu menyela. “Minum bareng yok, mau nggak? Udah lama kita nggak ngobrol.”</p>

<p>“Tapi Mas pulang malem ini...”</p>

<p>“Nggak pa-pa, masih ada waktu,” ia lalu melanjutkan. “Hao, hari ini kita tutup cepet aja yok. Aku mau nongkrong sama Mas Seok.”</p>

<p>“Ikut.”</p>

<p>“Hao?”</p>

<p>“Mau ikut,” suaminya mengernyit menggemaskan. Matanya serius, mengunci tatap dengan Seokmin. “Tadi Joshua nangis, Mas.”</p>

<p>Sentakan napas terdengar.</p>

<p>“Aku juga mau denger soal ini dari Mas.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/58</guid>
      <pubDate>Sat, 20 Jun 2020 10:30:01 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>57.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/57?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaoparentssequel&#xA;&#xA;Tling!&#xA;&#xA;&#34;Selamat da--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hai, Vern.&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Vernon menarik napas. &#34;BOS BESAR??&#34; wajah anak itu langsung cerah ceria. &#34;Kok pulang nggak ngomong-ngomong? BOS, BOS BESAR BALIK NIH!&#34;&#xA;&#xA;Grudak! Brug! Tlang!&#xA;&#xA;&#34;PAPA?!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Heiiii---oof!!&#34; belum sempat Mingyu menyapa anak lelaki sulungnya, ia sudah diseruduk. Segera, kedua lengannya memeluk darah dagingnya itu.&#xA;&#xA;&#34;Papa...Papa...Kakak-hiks-kangen...&#34;&#xA;&#xA;Erat.&#xA;&#xA;&#34;Papa juga kangen, Sayang. Ya Tuhan, Papa kangen kamu, Nak...,&#34; diusapnya lembut punggung anak itu. Ciuman demi ciuman menghujani kepala anak itu. &#34;Udah, Kak, jangan nangis. Tuh, Mama nonton lho.&#34;&#xA;&#xA;Mendengar itu, Kakak baru sadar akan keberadaan ibunya. Ia segera mengangkat wajahnya dari dada ayahnya dan menoleh ke arah ibunya. Persis di belakang ayahnya, ibunya tersenyum lembut, dengan penuh sayang memerhatikan mereka berdua.&#xA;&#xA;&#34;Mama...&#34;&#xA;&#xA;Mingyu spontan melepaskan pelukannya, membiarkan anaknya pergi mendekati ibunya. Mingyu tahu seberapa dekatnya, seberapa sayangnya, anak lelaki sulungnya itu dengan Minghao. Dia cuma tersenyum melihat anaknya itu langsung merangsek ke ibunya, menangis lagi, membuat Minghao memeluk dan menciuminya tak kalah banyak.&#xA;&#xA;&#34;Gimana?&#34; Mingyu menoleh ke arah Vernon. &#34;Semua oke di sini?&#34;&#xA;&#xA;Anak itu tersenyum sangat lebar sampai memamerkan gusinya. &#34;Oke aja, Bos Besar,&#34; dengan yakin ia menjawab. &#34;Tadinya kita sempet kacau sih, kekurangan orang. Meanwhile the place is packed. Keteteran. Tapi Bos minggu lalu hire orang baru.&#34;&#xA;&#xA;Ibu jari Vernon menunjuk ke sebelah kanan Mingyu. Berdiri di sana, seorang gadis muda berambut pirang panjang dengan senyuman lebar. Tanpa takut, tanpa gugup, gadis itu membungkuk sejenak sebagai salam.&#xA;&#xA;&#34;Hai, Bos Besar! Nama saya Choi Yena! Saya baru kerja di sini, tapi saya bakal kerja keras!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak usah keras-keras, ntar gue kebanting,&#34; seloroh Vernon.&#xA;&#xA;&#34;Nggak pa-pa! Nanti kalo Vernie mager-mageran, biar Yena laporin ke Mama!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Heh, asem,&#34; ditoyornya anak itu.&#xA;&#xA;Mingyu mengernyit, &#34;Kalian kakak adek?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bukan, Bos,&#34; Vernon menggeleng. &#34;Ini anaknya daddy gue. Jadi...apa ya, bakal jadi anak gue juga?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hidiih, malesss, punya Papa beda cuma berapa tahun!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Well, I won&#39;t let go of your mom forever, so accept it.&#34;&#xA;&#xA;Kebalikan dari Vernon yang meringis jahil, gadis itu menggembungkan pipinya. Sejujurnya, ia tidak masalah akan hal itu sama sekali. Meskipun jauh lebih muda dan lebih cocok disebut anak daripada kekasih, Vernon memperlakukan ibunya jauh lebih baik dari ayahnya dulu. Selama ibunya bahagia, Yena tidak ada komplain sedikitpun. Tapi, ah, gengsi dong. Apalagi Vernon suka sekali menjahili gadis itu seperti adiknya sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Oh gitu. Well, welcome to the club, Yena,&#34; Mingyu tersenyum. Tanpa rasa canggung, tangannya membelai kepala gadis itu seperti seorang ayah pada anak perempuannya. Yena mengerjapkan mata dua kali, cukup kaget. &#34;Saya Kim Mingyu, yang punya resto ini dan juru masak utama. Papanya manajer kamu. Dan ini suami saya, Xu Minghao.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Halo,&#34; Minghao menoleh untuk tersenyum menyambut anak itu. Kakak masih meringkuk di dalam pelukannya, tidak mau lepas sama sekali.&#xA;&#xA;Yena jadi terkikik. &#34;Manajer manja ih,&#34; godanya. Namun, kemudian, ia mendongak menatap Mingyu. Sorot mata papanya manajer yang lembut. Senyum mamanya manajer yang hangat. &#34;Tapi Yena paham kenapa Manajer sayang banget sama ortunya.&#34;&#xA;&#xA;Andai, di dunia ideal, ayahnya mengasihi ibunya. Andai, di dunia ideal, keluarganya utuh, bertiga, dengan Yena tertawa dikecup kedua pipinya oleh orangtuanya.&#xA;&#xA;Tapi, dunia seperti ini pun, mungkin tidak apa-apa.&#xA;&#xA;&#34;Permisi.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah, selamat dat--&#34;&#xA;&#xA;Vernon berhenti, lalu senyumnya melebar lagi. Kali ini lebih cerah dan berbunga-bunga.&#xA;&#xA;&#34;Hei!&#34; melipir, ia meninggalkan mereka untuk menyambut kedatangan orang itu. Mereka berdiri begitu dekat sampai kepala hampir terantuk.&#xA;&#xA;&#34;Sesuai janji, aku dateng nih, padahal jauh dari kantor aku.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, aku kasihin servis lebih deh,&#34; meringis, dikecupnya bibir lelaki itu.&#xA;&#xA;&#34;Mana Yena?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Di dalem tuh,&#34; Vernon menoleh ke arah kerumunan. &#34;Bos besar baru aja pulang sih.&#34;&#xA;&#xA;Lelaki itu ikut menengok. Detik kemudian, matanya membulat ketika ia bertemu tatap dengan dua orang yang sangat, amat tidak asing baginya.&#xA;&#xA;&#34;Kim Mingyu?&#34; lelaki itu refleks mendekat. &#34;Hao???&#34;&#xA;&#xA;Tarikan napas.&#xA;&#xA;&#34;Kwannie???&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaoparentssequel" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaoparentssequel</span></a></p>

<p><em>Tling!</em></p>

<p>“Selamat da—”</p>

<p>“Hai, Vern.”</p>



<p>Vernon menarik napas. “BOS BESAR??” wajah anak itu langsung cerah ceria. “Kok pulang nggak ngomong-ngomong? BOS, BOS BESAR BALIK NIH!”</p>

<p>Grudak! Brug! Tlang!</p>

<p>“PAPA?!”</p>

<p>“Heiiii—-oof!!” belum sempat Mingyu menyapa anak lelaki sulungnya, ia sudah diseruduk. Segera, kedua lengannya memeluk darah dagingnya itu.</p>

<p>“Papa...Papa...Kakak-hiks-kangen...”</p>

<p>Erat.</p>

<p>“Papa juga kangen, Sayang. Ya Tuhan, Papa kangen kamu, Nak...,” diusapnya lembut punggung anak itu. Ciuman demi ciuman menghujani kepala anak itu. “Udah, Kak, jangan nangis. Tuh, Mama nonton lho.”</p>

<p>Mendengar itu, Kakak baru sadar akan keberadaan ibunya. Ia segera mengangkat wajahnya dari dada ayahnya dan menoleh ke arah ibunya. Persis di belakang ayahnya, ibunya tersenyum lembut, dengan penuh sayang memerhatikan mereka berdua.</p>

<p>“Mama...”</p>

<p>Mingyu spontan melepaskan pelukannya, membiarkan anaknya pergi mendekati ibunya. Mingyu tahu seberapa dekatnya, seberapa sayangnya, anak lelaki sulungnya itu dengan Minghao. Dia cuma tersenyum melihat anaknya itu langsung merangsek ke ibunya, menangis lagi, membuat Minghao memeluk dan menciuminya tak kalah banyak.</p>

<p>“Gimana?” Mingyu menoleh ke arah Vernon. “Semua oke di sini?”</p>

<p>Anak itu tersenyum sangat lebar sampai memamerkan gusinya. “Oke aja, Bos Besar,” dengan yakin ia menjawab. “Tadinya kita sempet kacau sih, kekurangan orang. Meanwhile the place is packed. Keteteran. Tapi Bos minggu lalu hire orang baru.”</p>

<p>Ibu jari Vernon menunjuk ke sebelah kanan Mingyu. Berdiri di sana, seorang gadis muda berambut pirang panjang dengan senyuman lebar. Tanpa takut, tanpa gugup, gadis itu membungkuk sejenak sebagai salam.</p>

<p>“Hai, Bos Besar! Nama saya Choi Yena! Saya baru kerja di sini, tapi saya bakal kerja keras!”</p>

<p>“Nggak usah keras-keras, ntar gue kebanting,” seloroh Vernon.</p>

<p>“Nggak pa-pa! Nanti kalo Vernie mager-mageran, biar Yena laporin ke Mama!”</p>

<p>“Heh, asem,” ditoyornya anak itu.</p>

<p>Mingyu mengernyit, “Kalian kakak adek?”</p>

<p>“Bukan, Bos,” Vernon menggeleng. “Ini anaknya daddy gue. Jadi...apa ya, bakal jadi anak gue juga?”</p>

<p>“Hidiih, malesss, punya Papa beda cuma berapa tahun!”</p>

<p>“Well, I won&#39;t let go of your mom forever, so accept it.”</p>

<p>Kebalikan dari Vernon yang meringis jahil, gadis itu menggembungkan pipinya. Sejujurnya, ia tidak masalah akan hal itu sama sekali. Meskipun jauh lebih muda dan lebih cocok disebut anak daripada kekasih, Vernon memperlakukan ibunya jauh lebih baik dari ayahnya dulu. Selama ibunya bahagia, Yena tidak ada komplain sedikitpun. Tapi, ah, gengsi dong. Apalagi Vernon suka sekali menjahili gadis itu seperti adiknya sendiri.</p>

<p>“Oh gitu. Well, welcome to the club, Yena,” Mingyu tersenyum. Tanpa rasa canggung, tangannya membelai kepala gadis itu seperti seorang ayah pada anak perempuannya. Yena mengerjapkan mata dua kali, cukup kaget. “Saya Kim Mingyu, yang punya resto ini dan juru masak utama. Papanya manajer kamu. Dan ini suami saya, Xu Minghao.”</p>

<p>“Halo,” Minghao menoleh untuk tersenyum menyambut anak itu. Kakak masih meringkuk di dalam pelukannya, tidak mau lepas sama sekali.</p>

<p>Yena jadi terkikik. “Manajer manja ih,” godanya. Namun, kemudian, ia mendongak menatap Mingyu. Sorot mata papanya manajer yang lembut. Senyum mamanya manajer yang hangat. “Tapi Yena paham kenapa Manajer sayang banget sama ortunya.”</p>

<p>Andai, di dunia ideal, ayahnya mengasihi ibunya. Andai, di dunia ideal, keluarganya utuh, bertiga, dengan Yena tertawa dikecup kedua pipinya oleh orangtuanya.</p>

<p>Tapi, dunia seperti ini pun, mungkin tidak apa-apa.</p>

<p>“Permisi.”</p>

<p>“Ah, selamat dat—”</p>

<p>Vernon berhenti, lalu senyumnya melebar lagi. Kali ini lebih cerah dan berbunga-bunga.</p>

<p>“Hei!” melipir, ia meninggalkan mereka untuk menyambut kedatangan orang itu. Mereka berdiri begitu dekat sampai kepala hampir terantuk.</p>

<p>“Sesuai janji, aku dateng nih, padahal jauh dari kantor aku.”</p>

<p>“Iya, aku kasihin servis lebih deh,” meringis, dikecupnya bibir lelaki itu.</p>

<p>“Mana Yena?”</p>

<p>“Di dalem tuh,” Vernon menoleh ke arah kerumunan. “Bos besar baru aja pulang sih.”</p>

<p>Lelaki itu ikut menengok. Detik kemudian, matanya membulat ketika ia bertemu tatap dengan dua orang yang sangat, amat tidak asing baginya.</p>

<p>“Kim Mingyu?” lelaki itu refleks mendekat. “Hao???”</p>

<p>Tarikan napas.</p>

<p>“Kwannie???”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/57</guid>
      <pubDate>Thu, 18 Jun 2020 04:08:19 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>33.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/33?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaoparentssequel&#xA;&#xA;Sabtu pagi, Kakak bangun seperti biasa. Dibukanya jendela agar udara segar masuk. Futonnya ia gulung lalu dimasukkan ke dalam lemari. Menyikat gigi, mencuci muka. Masih ada tiga jam lagi sampai yang diwawancara datang. Mengabaikan rambutnya yang berantakan, Kakak turun ke bawah, berniat membeli sarapan di konbini depan (atau breakfast set dengan kopi hitam dan roti bakar 500 yen di kafe lima bangunan dari restorannya, hmm enak yang mana ya).&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Namun, pas ia turun, langkahnya berhenti. Ada seorang gadis duduk di konter. Rambutnya hitam. Pipinya bulat menggemaskan. Mata gadis itu tersenyum ketika menemukan matanya.&#xA;&#xA;&#34;Halo!&#34;&#xA;&#xA;Alih-alih balas menyapa, Kakak mengerutkan alis.&#xA;&#xA;&#34;Aku di sini mau wawancara! Manajernya ada?&#34;&#xA;&#xA;Ucapan gadis itu membuatnya mempertanyakan jam di kamarnya sendiri. Ia mendongak ke jam di dinding restoran. Lalu ke handphonenya. Betul kok, baru jam 8.&#xA;&#xA;&#34;Mmmm....bukannya wawancaranya jam 11 ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku pikir lebih baik kecepetan daripada terlambat!&#34;&#xA;&#xA;Ya nggak salah sih, tapi bukannya lebih baik mepet jam yang ditentukan? 🙄&#xA;&#xA;&#34;Mm, oke... Tapi aku mau sarapan dulu sih ini. Kamu udah sarapan?&#34; ia sambil menelisik gadis itu. Muda. Menebak usia wanita menurutnya jauh lebih susah daripada pria, namun sepertinya gadis itu usianya tidak jauh dari usianya sendiri. &#34;Kamu umur berapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;16! Yena udah kelas 1 SMA! Udah boleh kerja kok!&#34;&#xA;&#xA;Nggak ada juga yang permasalahin itu sih... 🙄&#xA;&#xA;&#34;Oke...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jangan-jangan, kamu manajernya ya?&#34;&#xA;&#xA;Kakak lalu diam. Ia menunggu apa yang akan diucapkan gadis itu selanjutnya. Ternyata, sebuah tangkupan tangan, kemudian gadis itu berseru antusias. &#34;Wah, manajernya seumuran rupanya! Halo, halo! Aku Choi Yena! 16 tahun! Aku mau melamar kerja di sini!&#34;&#xA;&#xA;....Hoh. Well, setidaknya bukan komentar negatif. Kakak tahu usianya pasti menjadi batu sandungan dalam penilaian kompetensi, baik dari staff, pelanggan, penyalur dan semua pihak terkait. Bahkan ia yakin Papa Mamanya juga tidak merasa dirinya kompeten untuk tugas ini dan, seperti kata adiknya, tidak berharap apapun darinya...&#xA;&#xA;&#34;Manajer?&#34;&#xA;&#xA;Alangkah kaget, saat Choi Yena sudah masuk dalam batas personalnya. Wajahnya yang manis terlalu dekat dengan wajahnya. Kakak melompat ke belakang sebagai refleks.&#xA;&#xA;&#34;Manajer mau sarapan ya? Yena juga belum. Yuk sarapan bareng!&#34;&#xA;&#xA;...Ha?&#xA;&#xA;He blinked and blinked. Karena tak ada reaksi, Yena berinisiatif mengambil tangan pemuda itu, menyeretnya keluar. &#34;Ayo! Aku tau lho toko roti yang enak. Langgananku kalo main ke daerah sini. Ada croissant bundar di atasnya kentang dan keju dan saus bechamel. Khas mereka.&#34;&#xA;&#xA;Croissant kentang keju saus...eh sebentar, kenapa jadi begini??&#xA;&#xA;&#34;........Emangnya enak?&#34; mata Kakak menyipit saat pintu restoran dibuka dan matahari musim panas yang cerah menyapanya.&#xA;&#xA;Yena berbalik, tersenyum lebar, &#34;Enak banget!&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaoparentssequel" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaoparentssequel</span></a></p>

<p>Sabtu pagi, Kakak bangun seperti biasa. Dibukanya jendela agar udara segar masuk. Futonnya ia gulung lalu dimasukkan ke dalam lemari. Menyikat gigi, mencuci muka. Masih ada tiga jam lagi sampai yang diwawancara datang. Mengabaikan rambutnya yang berantakan, Kakak turun ke bawah, berniat membeli sarapan di konbini depan (atau breakfast set dengan kopi hitam dan roti bakar 500 yen di kafe lima bangunan dari restorannya, hmm enak yang mana ya).</p>



<p>Namun, pas ia turun, langkahnya berhenti. Ada seorang gadis duduk di konter. Rambutnya hitam. Pipinya bulat menggemaskan. Mata gadis itu tersenyum ketika menemukan matanya.</p>

<p>“Halo!”</p>

<p>Alih-alih balas menyapa, Kakak mengerutkan alis.</p>

<p>“Aku di sini mau wawancara! Manajernya ada?”</p>

<p>Ucapan gadis itu membuatnya mempertanyakan jam di kamarnya sendiri. Ia mendongak ke jam di dinding restoran. Lalu ke handphonenya. Betul kok, baru jam 8.</p>

<p>“Mmmm....bukannya wawancaranya jam 11 ya?”</p>

<p>“Aku pikir lebih baik kecepetan daripada terlambat!”</p>

<p>Ya nggak salah sih, tapi bukannya lebih baik mepet jam yang ditentukan? 🙄</p>

<p>“Mm, oke... Tapi aku mau sarapan dulu sih ini. Kamu udah sarapan?” ia sambil menelisik gadis itu. Muda. Menebak usia wanita menurutnya jauh lebih susah daripada pria, namun sepertinya gadis itu usianya tidak jauh dari usianya sendiri. “Kamu umur berapa?”</p>

<p>“16! Yena udah kelas 1 SMA! Udah boleh kerja kok!”</p>

<p>Nggak ada juga yang permasalahin itu sih... 🙄</p>

<p>“Oke...”</p>

<p>“Jangan-jangan, kamu manajernya ya?”</p>

<p>Kakak lalu diam. Ia menunggu apa yang akan diucapkan gadis itu selanjutnya. Ternyata, sebuah tangkupan tangan, kemudian gadis itu berseru antusias. “Wah, manajernya seumuran rupanya! Halo, halo! Aku Choi Yena! 16 tahun! Aku mau melamar kerja di sini!”</p>

<p>....Hoh. Well, setidaknya bukan komentar negatif. Kakak tahu usianya pasti menjadi batu sandungan dalam penilaian kompetensi, baik dari staff, pelanggan, penyalur dan semua pihak terkait. Bahkan ia yakin Papa Mamanya juga tidak merasa dirinya kompeten untuk tugas ini dan, seperti kata adiknya, tidak berharap apapun darinya...</p>

<p>“Manajer?”</p>

<p>Alangkah kaget, saat Choi Yena sudah masuk dalam batas personalnya. Wajahnya yang manis terlalu dekat dengan wajahnya. Kakak melompat ke belakang sebagai refleks.</p>

<p>“Manajer mau sarapan ya? Yena juga belum. Yuk sarapan bareng!”</p>

<p>...Ha?</p>

<p>He blinked and blinked. Karena tak ada reaksi, Yena berinisiatif mengambil tangan pemuda itu, menyeretnya keluar. “Ayo! Aku tau lho toko roti yang enak. Langgananku kalo main ke daerah sini. Ada croissant bundar di atasnya kentang dan keju dan saus bechamel. Khas mereka.”</p>

<p>Croissant kentang keju saus...eh sebentar, kenapa jadi begini??</p>

<p>”........Emangnya enak?” mata Kakak menyipit saat pintu restoran dibuka dan matahari musim panas yang cerah menyapanya.</p>

<p>Yena berbalik, tersenyum lebar, “Enak banget!”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/33</guid>
      <pubDate>Sun, 07 Jun 2020 00:58:07 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>32.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/32?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaoparentssequel&#xA;&#xA;&#34;Mah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Menurut kamu, kenapa ya Kakak sampe ngambeg gitu?&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Minghao menghela napas. &#34;Aku juga nggak tau, Pah,&#34; bukunya ia tutup lalu pinggirkan ke nakas. Besok, mereka harus jalan sedari pagi untuk mendatangi sebuah restoran di desa kecil, cukup jauh dari pusat kota tempat mereka menginap. &#34;Kata Mas Seok sih dia mau buat kita bangga kalo dia bisa manage resto itu.&#34;&#xA;&#xA;Otomatis, Mingyu mengerutkan alis.&#xA;&#xA;&#34;Tapi kita selalu bangga sama anak-anak...?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mmm...itu juga yang aku bilang ke Mas Seok,&#34; gumamnya. Minghao mematikan lampu kamar hotel mereka, lalu menghidupkan lampu baca kecil sebagai penerangan. Cahaya kuning lembut pun bersinar. Ia berbalik menghadap Mingyu, lalu menaikkan selimut ke atas bahu mereka berdua. &#34;Nggak tau deh. Kita biarin aja dulu, Pah, sambil kita pantau.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mmm...&#34;&#xA;&#xA;Hening. Minghao sudah memejamkan mata, berusaha tidur. Mingyu masih memerhatikan wajah suaminya, meraup gurat wajah yang tercetak oleh bertahun-tahun perjuangan hidup. Usia mereka berdua 46 kini, dan Minghao masih seindah ketika ia melihatnya berdiri di belakang konter kedai kopi, tersenyum dan menyapanya, Kim Mingyu, usia 18 jurusan Arsitektur.&#xA;&#xA;&#34;Mah...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kamu cantik.&#34;&#xA;&#xA;....Pfft.&#xA;&#xA;A giggle, high and adorable one. &#34;Apaan sih, Pah?&#34; meski begitu, Minghao tersenyum lebar, amat manis di mata suaminya. Entah sudah keberapa kali Kim Mingyu jatuh cinta, lagi dan lagi, pada orang yang sama. Bahkan empat anak kemudian, cintanya tidak pernah berubah.&#xA;&#xA;&#34;Beneran. Kamu cantik.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gombal.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalo gombal tapi jujur, nggak apa kan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mana ada gombal jujur, Pah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ada,&#34; ngotot. &#34;Kamu cantik, Mah.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu maju. Wajah mereka kini semakin dekat hingga ia bisa menghirup udara bersama. Minghao menyamankan diri dengan menaruh tangannya di pinggul suaminya. Sementara tangan Mingyu mengelus pipi Minghao.&#xA;&#xA;&#34;Kamu masih inget, Hao, pas kita ketemu dulu?&#34;&#xA;&#xA;Lagi, kekehan kecil.&#xA;&#xA;&#34;Masih. Dateng-dateng salting ngenalin diri, terus nodong aku soal Wonu,&#34; decakan. &#34;At least kalo dateng-dateng salting tuh ngajak kenalan gitu, masa buat minta info soal lelaki lain sih?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Emang kalo aku ngajak kenalan kamu pas itu, kamu mau?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya enggak lah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kan??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Abisan kamu jelek kucel pas dateng itu, mana bau keringet.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu shock. &#34;Aku abis maen bola?? Dan aku jelek?? Xu Minghao??&#34; he feels really betrayed.&#xA;&#xA;&#34;Candaaa,&#34; diunyelnya pipi Mingyu, gemas. &#34;Ganteng kok. Gantengnya aku. Suaminya aku.&#34;&#xA;&#xA;Mmuah. Mmuah. Mmuah.&#xA;&#xA;Tiap kata diselingi kecupan di bibir. Kim Mingyu yang tadinya mencibir ngambek, pun berubah menjadi kuluman senang. Dikecupnya balik bibir itu.&#xA;&#xA;&#34;Kamu juga gantengnya aku,&#34; ciuman. &#34;Suaminya aku.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bucin.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Emang. Proud of it.&#34;&#xA;&#xA;Mereka tertawa bersama. Banyak orang yang bilang betapa berbedanya pasangan suami itu. Yang satu jutek dan tegas. Yang lainnya seperti anak anjing kebesaran badan. Adalah keajaiban, kata mereka, kalau Mingyu dan Minghao masih mesra hingga 19 tahun usia pernikahan mereka. Panutan mereka. Couple goals.&#xA;&#xA;Namun, banyak orang tidak tahu, semua usaha yang mereka lakukan untuk saling berkompromi di awal pernikahan. Mereka bukan sahabat lama lalu menikah. Bukan pula dua orang yang jatuh cinta begitu dalam dan memutuskan untuk mengikat benang merah mereka selamanya. Mingyu dan Minghao hanya pernah satu kali mengobrol semasa kuliah, yaitu ketika Mingyu menanyakan soal kakak tingkat mereka untuk amunisi PDKT. Mereka sama sekali tidak ada kontak sebelum bertemu lagi secara tidak sengaja 8 tahun kemudian. Mereka berteman selama setahun, kedua orang asing yang menemukan kesamaan di hobi fotografi dan fashion. Ketika mereka menikah pun, tidak ada landasan cinta ataupun impian muluk-muluk selain suntikan dana untuk mencegah kepailitan.&#xA;&#xA;Ya. Pernikahan mereka cukup berat diterjang badai di awal-awal. Mereka bertengkar hampir setiap hari, semata karena Mingyu makan terlalu berisik, atau Minghao menyetel piringan hitam terlalu kencang. Tidak ada pernikahan yang mudah. Semua punya cobaan dan ceritanya masing-masing. Mereka bahkan sempat mendatangi konsultan pernikahan karena sudah mulai merasa membenci satu sama lain. Sepulang mereka dari sana, Mingyu mengepak koper kecil, pergi meninggalkan Minghao untuk berpikir sendirian selama seminggu lebih.&#xA;&#xA;Pun Minghao memanfaatkan momen itu untuk merenungkan banyak hal. Renungan yang membawa ingatannya akan segala kebaikan suaminya selama ini. Segala masakan lezat yang dibuat untuknya, segala pijatan pada tengkuk ketika ia pulang kelelahan akibat bekerja terlalu keras, teh hangat dimasukkan batang serai saat Minghao batuk-batuk, juga sapaan serta senyuman ceria yang menyambutnya tiap ia melihat wajahnya, seakan Mingyu selalu menanti kedatangannya. Minghao tersenyum. Semua perhatian kecil yang selama ini luput disadarinya. He took his husband for granted.&#xA;&#xA;Maka, ketika Mingyu pulang ke rumah, ia langsung berlari dan memeluknya, erat, penuh bisikan permintaan maaf dan terima kasih. Ia ingat Mingyu melakukan hal yang sama. Ingat bagaimana lelaki itu mengecup kepalanya penuh sayang. Mungkin, saat itulah, Minghao merasakan desir aneh dalam dada. Desir yang lembut, menghangatkan seluruh tubuhnya. Mungkin, saat itulah, ia jatuh cinta pada suaminya, Kim Mingyu.&#xA;&#xA;Dan sejak saat itu, mereka berdua sepakat untuk saling terbuka. Saling berkompromi. Mereka sadar sepenuhnya kalau rumah tangga dibangun oleh dua orang yang saling bekerjasama. Tanggung jawab yang mereka pikul adalah tanggung jawab bersama. Mereka pun bergantian memasak, mengurus rumah, dan, nantinya, mengurus anak-anak mereka. Ketika salah satu tidak bisa melakukan satu tugas, yang lain sigap menggantikannya. Tentu, tidak mulus, jalan mereka juga bercabang dan berkelok-kelok, namun, somehow, they made it this far. The two of them.&#xA;&#xA;&#34;....Mingyu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yes?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kapan kamu jatuh cinta sama aku?&#34;&#xA;&#xA;Mingyu mengernyit, mencoba mengingat-ingat. Menarik ingatan 20 tahun yang lalu jelas tidak mudah. &#34;Lupa?&#34; akunya. &#34;Aku juga nggak tau persisnya kapan, tapi aku inget ngefoto kamu yang lagi ambil foto. You look so majestic, like an art came to life. Like, I want to keep you, being mine.&#34;&#xA;&#xA;Minghao mendecak. Tidak suka disetarakan dengan objek mati seperti itu. &#34;Oh? Jadi aku cuma simbol posesif kamu aja, gitu? Trophy husband buat dipamerin?&#34; sedikit terluka akan ucapan Mingyu.&#xA;&#xA;&#34;Bukan gitu,&#34; menyadari salah paham itu, Mingyu mendusel sisi wajah Minghao. Ia menarik suaminya ke dalam pelukan. &#34;Itu cuma salah satu momen kok. Aku nggak ingat kapan aku jatuh cinta sama kamu, tapi kamu masuk ke dalem sini.&#34; Tangan Minghao dia bawa ke dadanya, tepat di atas jantung. &#34;Kamu masuk, merasuk, dan tinggal di sini. Juga di kepalaku.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu tersenyum lembut. Dari sorot mata semata, seluruh dunia tahu bagaimana ia begitu jatuh cinta, sayang bukan kepalang, pada lelaki yang pantulannya terefleksi di matanya saat ini.&#xA;&#xA;&#34;Kakak pernah nanya ke aku, apa aku sayang sama kamu,&#34; lanjutnya. &#34;Terus kujawab, jujur, aku nggak tau. Aku nggak bisa bilang aku sayang sama kamu, Hao, soalnya kamu udah jadi satu sama kulitku, dalam darahku. Oksigen buatku. &#39;Sayang&#39; udah nggak bisa ngejelasin seberapa butuhnya aku sama kamu.&#34;&#xA;&#xA;Perlahan, rona merah menjalari pipi Minghao. Ia menunduk, tersenyum malu-malu, membuat jantung Mingyu berdebar kian cepat. Manis sekali. Suaminya. Kekasih hatinya.&#xA;&#xA;Sempurna. Sempurna. Xu Minghao.&#xA;&#xA;Oh Tuhan, bagaimana bisa manusia mencinta sampai di luar kapasitasnya...? Mingyu pasti sebuah anomali dalam ciptaan-Mu.&#xA;&#xA;Disentuhnya rahang Minghao agar suaminya menatap matanya.&#xA;&#xA;&#34;Kamu segalaku, Hao. Sahabatku. Suamiku. Ibu dari anak-anakku. I love you. I love you so damn much it&#39;s impossible to define my feelings for you with words. In this lifetime...in our next...I&#39;m so glad I can be yours as you are mine. I&#39;m thankful everyday, to life, to God, that I met you and fell in love with you, and have beautiful kids with you, living everyday as if I am in a long beautiful dream...&#34;&#xA;&#xA;Setetes tangis turun diam-diam, bergulir di pipi Minghao. Mata Mingyu memerah. Sarat akan emosi.&#xA;&#xA;&#34;Thank you for coming into my life, Hao. Thank you....&#34;&#xA;&#xA;&#34;Stupid...,&#34; Minghao tak kuasa lagi menahan. Ia memeluk suaminya begitu erat. Mereka berpelukan di tempat tidur, menangis perlahan. Minghao menyeka air matanya, sementara air mata Mingyu menetes ke sisi leher Minghao. &#34;It should be my line, xīngān...&#34;&#xA;&#xA;Lalu, mereka tertawa bersama. Tawa dan tangis bercampur baur. 19 tahun, tahun depan 20, bukanlah jalan yang singkat. Tak ada pernikahan yang terbilang sempurna, pun pernikahan Mingyu dan Minghao. Hanya dengan kemauan kedua pasangan untuk saling berkompromi dan bekerja sama lah, mereka bisa mencapai kebahagiaan saat ini dan nanti, ketika mereka sudah tua dan letih, dan menghabiskan waktu dengan duduk di beranda rumah mereka, menatap dunia terus berputar, di bawah sinar matahari senja yang indah, menanti saatnya mereka menutup mata selamanya.&#xA;&#xA;Berdua, tersenyum, dan saling berpegangan tangan.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaoparentssequel" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaoparentssequel</span></a></p>

<p>“Mah.”</p>

<p>“Hmm?”</p>

<p>“Menurut kamu, kenapa ya Kakak sampe ngambeg gitu?”</p>



<p>Minghao menghela napas. “Aku juga nggak tau, Pah,” bukunya ia tutup lalu pinggirkan ke nakas. Besok, mereka harus jalan sedari pagi untuk mendatangi sebuah restoran di desa kecil, cukup jauh dari pusat kota tempat mereka menginap. “Kata Mas Seok sih dia mau buat kita bangga kalo dia bisa manage resto itu.”</p>

<p>Otomatis, Mingyu mengerutkan alis.</p>

<p>“Tapi kita selalu bangga sama anak-anak...?”</p>

<p>“Mmm...itu juga yang aku bilang ke Mas Seok,” gumamnya. Minghao mematikan lampu kamar hotel mereka, lalu menghidupkan lampu baca kecil sebagai penerangan. Cahaya kuning lembut pun bersinar. Ia berbalik menghadap Mingyu, lalu menaikkan selimut ke atas bahu mereka berdua. “Nggak tau deh. Kita biarin aja dulu, Pah, sambil kita pantau.”</p>

<p>“Mmm...”</p>

<p>Hening. Minghao sudah memejamkan mata, berusaha tidur. Mingyu masih memerhatikan wajah suaminya, meraup gurat wajah yang tercetak oleh bertahun-tahun perjuangan hidup. Usia mereka berdua 46 kini, dan Minghao masih seindah ketika ia melihatnya berdiri di belakang konter kedai kopi, tersenyum dan menyapanya, Kim Mingyu, usia 18 jurusan Arsitektur.</p>

<p>“Mah...”</p>

<p>“Hmm?”</p>

<p>“Kamu cantik.”</p>

<p>....Pfft.</p>

<p>A giggle, high and adorable one. “Apaan sih, Pah?” meski begitu, Minghao tersenyum lebar, amat manis di mata suaminya. Entah sudah keberapa kali Kim Mingyu jatuh cinta, lagi dan lagi, pada orang yang sama. Bahkan empat anak kemudian, cintanya tidak pernah berubah.</p>

<p>“Beneran. Kamu cantik.”</p>

<p>“Gombal.”</p>

<p>“Kalo gombal tapi jujur, nggak apa kan?”</p>

<p>“Mana ada gombal jujur, Pah.”</p>

<p>“Ada,” ngotot. “Kamu cantik, Mah.”</p>

<p>Mingyu maju. Wajah mereka kini semakin dekat hingga ia bisa menghirup udara bersama. Minghao menyamankan diri dengan menaruh tangannya di pinggul suaminya. Sementara tangan Mingyu mengelus pipi Minghao.</p>

<p>“Kamu masih inget, Hao, pas kita ketemu dulu?”</p>

<p>Lagi, kekehan kecil.</p>

<p>“Masih. Dateng-dateng salting ngenalin diri, terus nodong aku soal Wonu,” decakan. “At least kalo dateng-dateng salting tuh ngajak kenalan gitu, masa buat minta info soal lelaki lain sih?”</p>

<p>“Emang kalo aku ngajak kenalan kamu pas itu, kamu mau?”</p>

<p>“Ya enggak lah.”</p>

<p>“Kan??”</p>

<p>“Abisan kamu jelek kucel pas dateng itu, mana bau keringet.”</p>

<p>Mingyu shock. “Aku abis maen bola?? Dan aku jelek?? Xu Minghao??” he feels really betrayed.</p>

<p>“Candaaa,” diunyelnya pipi Mingyu, gemas. “Ganteng kok. Gantengnya aku. Suaminya aku.”</p>

<p>Mmuah. Mmuah. Mmuah.</p>

<p>Tiap kata diselingi kecupan di bibir. Kim Mingyu yang tadinya mencibir ngambek, pun berubah menjadi kuluman senang. Dikecupnya balik bibir itu.</p>

<p>“Kamu juga gantengnya aku,” ciuman. “Suaminya aku.”</p>

<p>“Bucin.”</p>

<p>“Emang. Proud of it.”</p>

<p>Mereka tertawa bersama. Banyak orang yang bilang betapa berbedanya pasangan suami itu. Yang satu jutek dan tegas. Yang lainnya seperti anak anjing kebesaran badan. Adalah keajaiban, kata mereka, kalau Mingyu dan Minghao masih mesra hingga 19 tahun usia pernikahan mereka. Panutan mereka. Couple goals.</p>

<p>Namun, banyak orang tidak tahu, semua usaha yang mereka lakukan untuk saling berkompromi di awal pernikahan. Mereka bukan sahabat lama lalu menikah. Bukan pula dua orang yang jatuh cinta begitu dalam dan memutuskan untuk mengikat benang merah mereka selamanya. Mingyu dan Minghao hanya pernah satu kali mengobrol semasa kuliah, yaitu ketika Mingyu menanyakan soal kakak tingkat mereka untuk amunisi PDKT. Mereka sama sekali tidak ada kontak sebelum bertemu lagi secara tidak sengaja 8 tahun kemudian. Mereka berteman selama setahun, kedua orang asing yang menemukan kesamaan di hobi fotografi dan fashion. Ketika mereka menikah pun, tidak ada landasan cinta ataupun impian muluk-muluk selain suntikan dana untuk mencegah kepailitan.</p>

<p>Ya. Pernikahan mereka cukup berat diterjang badai di awal-awal. Mereka bertengkar hampir setiap hari, semata karena Mingyu makan terlalu berisik, atau Minghao menyetel piringan hitam terlalu kencang. Tidak ada pernikahan yang mudah. Semua punya cobaan dan ceritanya masing-masing. Mereka bahkan sempat mendatangi konsultan pernikahan karena sudah mulai merasa membenci satu sama lain. Sepulang mereka dari sana, Mingyu mengepak koper kecil, pergi meninggalkan Minghao untuk berpikir sendirian selama seminggu lebih.</p>

<p>Pun Minghao memanfaatkan momen itu untuk merenungkan banyak hal. Renungan yang membawa ingatannya akan segala kebaikan suaminya selama ini. Segala masakan lezat yang dibuat untuknya, segala pijatan pada tengkuk ketika ia pulang kelelahan akibat bekerja terlalu keras, teh hangat dimasukkan batang serai saat Minghao batuk-batuk, juga sapaan serta senyuman ceria yang menyambutnya tiap ia melihat wajahnya, seakan Mingyu selalu menanti kedatangannya. Minghao tersenyum. Semua perhatian kecil yang selama ini luput disadarinya. He took his husband for granted.</p>

<p>Maka, ketika Mingyu pulang ke rumah, ia langsung berlari dan memeluknya, erat, penuh bisikan permintaan maaf dan terima kasih. Ia ingat Mingyu melakukan hal yang sama. Ingat bagaimana lelaki itu mengecup kepalanya penuh sayang. Mungkin, saat itulah, Minghao merasakan desir aneh dalam dada. Desir yang lembut, menghangatkan seluruh tubuhnya. Mungkin, saat itulah, ia jatuh cinta pada suaminya, Kim Mingyu.</p>

<p>Dan sejak saat itu, mereka berdua sepakat untuk saling terbuka. Saling berkompromi. Mereka sadar sepenuhnya kalau rumah tangga dibangun oleh dua orang yang saling bekerjasama. Tanggung jawab yang mereka pikul adalah tanggung jawab bersama. Mereka pun bergantian memasak, mengurus rumah, dan, nantinya, mengurus anak-anak mereka. Ketika salah satu tidak bisa melakukan satu tugas, yang lain sigap menggantikannya. Tentu, tidak mulus, jalan mereka juga bercabang dan berkelok-kelok, namun, somehow, they made it this far. The two of them.</p>

<p>”....Mingyu?”</p>

<p>“Yes?”</p>

<p>“Kapan kamu jatuh cinta sama aku?”</p>

<p>Mingyu mengernyit, mencoba mengingat-ingat. Menarik ingatan 20 tahun yang lalu jelas tidak mudah. “Lupa?” akunya. “Aku juga nggak tau persisnya kapan, tapi aku inget ngefoto kamu yang lagi ambil foto. You look so majestic, like an art came to life. Like, I want to keep you, being mine.”</p>

<p>Minghao mendecak. Tidak suka disetarakan dengan objek mati seperti itu. “Oh? Jadi aku cuma simbol posesif kamu aja, gitu? Trophy husband buat dipamerin?” sedikit terluka akan ucapan Mingyu.</p>

<p>“Bukan gitu,” menyadari salah paham itu, Mingyu mendusel sisi wajah Minghao. Ia menarik suaminya ke dalam pelukan. “Itu cuma salah satu momen kok. Aku nggak ingat kapan aku jatuh cinta sama kamu, tapi kamu masuk ke dalem sini.” Tangan Minghao dia bawa ke dadanya, tepat di atas jantung. “Kamu masuk, merasuk, dan tinggal di sini. Juga di kepalaku.”</p>

<p>Mingyu tersenyum lembut. Dari sorot mata semata, seluruh dunia tahu bagaimana ia begitu jatuh cinta, sayang bukan kepalang, pada lelaki yang pantulannya terefleksi di matanya saat ini.</p>

<p>“Kakak pernah nanya ke aku, apa aku sayang sama kamu,” lanjutnya. “Terus kujawab, jujur, aku nggak tau. Aku nggak bisa bilang aku sayang sama kamu, Hao, soalnya kamu udah jadi satu sama kulitku, dalam darahku. Oksigen buatku. &#39;Sayang&#39; udah nggak bisa ngejelasin seberapa butuhnya aku sama kamu.”</p>

<p>Perlahan, rona merah menjalari pipi Minghao. Ia menunduk, tersenyum malu-malu, membuat jantung Mingyu berdebar kian cepat. Manis sekali. Suaminya. Kekasih hatinya.</p>

<p>Sempurna. Sempurna. Xu Minghao.</p>

<p>Oh Tuhan, bagaimana bisa manusia mencinta sampai di luar kapasitasnya...? Mingyu pasti sebuah anomali dalam ciptaan-Mu.</p>

<p>Disentuhnya rahang Minghao agar suaminya menatap matanya.</p>

<p>“Kamu segalaku, Hao. Sahabatku. Suamiku. Ibu dari anak-anakku. I love you. I love you so damn much it&#39;s impossible to define my feelings for you with words. In this lifetime...in our next...I&#39;m so glad I can be yours as you are mine. I&#39;m thankful everyday, to life, to God, that I met you and fell in love with you, and have beautiful kids with you, living everyday as if I am in a long beautiful dream...”</p>

<p>Setetes tangis turun diam-diam, bergulir di pipi Minghao. Mata Mingyu memerah. Sarat akan emosi.</p>

<p>“Thank you for coming into my life, Hao. Thank you....”</p>

<p>“Stupid...,” Minghao tak kuasa lagi menahan. Ia memeluk suaminya begitu erat. Mereka berpelukan di tempat tidur, menangis perlahan. Minghao menyeka air matanya, sementara air mata Mingyu menetes ke sisi leher Minghao. “It should be my line, xīngān...”</p>

<p>Lalu, mereka tertawa bersama. Tawa dan tangis bercampur baur. 19 tahun, tahun depan 20, bukanlah jalan yang singkat. Tak ada pernikahan yang terbilang sempurna, pun pernikahan Mingyu dan Minghao. Hanya dengan kemauan kedua pasangan untuk saling berkompromi dan bekerja sama lah, mereka bisa mencapai kebahagiaan saat ini dan nanti, ketika mereka sudah tua dan letih, dan menghabiskan waktu dengan duduk di beranda rumah mereka, menatap dunia terus berputar, di bawah sinar matahari senja yang indah, menanti saatnya mereka menutup mata selamanya.</p>

<p>Berdua, tersenyum, dan saling berpegangan tangan.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/32</guid>
      <pubDate>Sat, 06 Jun 2020 01:37:48 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>