<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>gyuhaoparents &amp;mdash; 🌾</title>
    <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaoparents</link>
    <description>narrative writings of thesunmetmoon</description>
    <pubDate>Tue, 02 Jun 2026 17:37:51 +0000</pubDate>
    <image>
      <url>https://i.snap.as/K7JGOEOo.png</url>
      <title>gyuhaoparents &amp;mdash; 🌾</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaoparents</link>
    </image>
    <item>
      <title>1.2</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/1-2?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaoparents&#xA;&#xA;Mingyu menghela napas setelah meneguk wine. Di sisinya, terduduk Minghao dalam jubah tidur menimpa piyamanya, dengan kedua kaki diangkat dan menekuk di atas kursi. Ia terus saja tersenyum memandangi bulan.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa, Ma?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm?&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Itu,&#34; Mingyu terkekeh. Senang, karena suaminya juga senang. &#34;Kamu senyum terus dari tadi? Bukannya aku komplain sih, Mah, ngeliat senyum manis kamu itu.&#34;&#xA;&#xA;Akan kegombalan suaminya, Minghao meninju perlahan bahu Mingyu sambil terkikih geli. Ada hal-hal yang sampai saat ini tidak berubah dari Kim Mingyu, seolah waktu berhenti di kafe dekat kampus kala itu, dimana dua orang pemuda belia saling bertemu untuk pertama kalinya.&#xA;&#xA;&#34;Enggak, Pah, aku lagi mikir aja,&#34; aku Minghao kemudian ketika Mingyu menggamit tangannya dan menciumi lembut punggung tangan itu. &#34;Suasana kayak gini ngingetin aku sama waktu itu, pas aku bilang cinta sama kamu...&#34;&#xA;&#xA;Mingyu menjawab dengan dehaman. Bibirnya turun dari punggung tangan ke pergelangan tangan Minghao.&#xA;&#xA;&#34;Gyu, seandainya kita nggak ketemu lagi di restoran itu... Seandainya aku buat janji di resto lain sama klien aku, apa kita bisa jadi kayak gini sekarang?&#34; satu kecupan terakhir dan Mingyu pun mengangkat wajah untuk memandangi indah mata sang suami. &#34;Gimana kalo kita nggak pernah ketemu?&#34;&#xA;&#xA;Mingyu diam dan mempertimbangkan. Usia mengajarkan hal terpenting padanya, bahwa sebelum lidah bergerak, biarlah otak bertindak. Lalu, ringisannya merekah.&#xA;&#xA;&#34;Jujur? Aku nggak akan nyariin kamu,&#34; ucapnya. &#34;Mungkin aku bakal nikah sama orang lain. Ato mungkin nggak nikah dan kerja terus aja sendirian. Mungkin juga aku pindah negara sekarang ato malah udah bercucu dan tinggal di desa.&#34; Mendengar itu, Minghao ikut tertawa. &#34;Kalo kamu, Hao? Kamu bakal nyariin aku?&#34;&#xA;&#xA;Suaminya menggeleng. &#34;Enggak. Aku juga mungkin jatuh cinta sama orang lain,&#34; jawabnya tanpa ragu. &#34;Aku dulu nggak kenal kamu. Aku nggak cinta sama kamu dari pandangan pertama.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sama,&#34; Mingyu sesaat merenung. &#34;Tapi...aku juga nggak tau sih.&#34; Ia menaruh gelas wine di atas meja. &#34;Aku yakin aku nggak mikir kamu lebih dari pegawai kafe plus sumber informasi. Aku yakin aku nggak jatuh cinta dari pandangan pertama. Tapi kalo aku bilang aku nggak tertarik sama kamu dari pertama kita ketemu, kok...&#xA;&#xA;...hatiku kayak bilang itu nggak bener.&#34;&#xA;&#xA;Sebuah kalimat yang aneh. Perasaan yang aneh. Realitanya, cinta pertama jarang sekali kesampaian, apalagi mencapai jenjang pernikahan. Mingyu dan Minghao hanya dua manusia biasa. Mereka bertemu, lalu berpisah. Sama-sama tidak memedulikan keberadaan yang lainnya karena mereka adalah dua orang yang asing satu sama lain. Masing-masing adalah memori sekilas yang dengan cepat terlupakan, andaikata takdir tidak menyambungkan jalan mereka berdua kembali.&#xA;&#xA;Takdir.&#xA;&#xA;Sungguh, sungguh aneh.&#xA;&#xA;Kenapa harus Mingyu?&#xA;Kenapa harus dirinya?&#xA;Kenapa bukan orang lain?&#xA;&#xA;Semua...aneh. Hidup ini...aneh.&#xA;&#xA;Aneh.&#xA;&#xA;Mingyu menangkup kedua pipi Minghao, membuyarkan lamunan suaminya itu. Elusan pada pipinya membuat Minghao memejamkan mata, lalu mendesah bahagia. Dari berjuta orang di dunia, Mingyu lah yang disatukan benang merahnya dengan benang merah di kelingking Minghao. Dan Xu Minghao tidak mau siapapun selain Kim Mingyu.&#xA;&#xA;Minghao tersenyum. Mingyu juga tersenyum.&#xA;&#xA;&#34;Aku,&#34; Mingyu berkata. &#34;Nggak percaya cinta pada pandangan pertama, tapi--&#34;&#xA;&#xA;Wajahnya maju, mengecup bibir suaminya.&#xA;&#xA;&#34;--kalo jodoh, aku percaya.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu nyengir. Minghao hanya bisa tertawa mendengarnya.&#xA;&#xA;Ah ya... Kalau jodoh, sih, Minghao juga percaya.&#xA;&#xA;Bagaimana bisa tidak? Bila Kim Mingyu dan keempat anak mereka kini memenuhi hidup Xu Minghao dengan cinta yang hangat.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaoparents" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaoparents</span></a></p>

<p>Mingyu menghela napas setelah meneguk wine. Di sisinya, terduduk Minghao dalam jubah tidur menimpa piyamanya, dengan kedua kaki diangkat dan menekuk di atas kursi. Ia terus saja tersenyum memandangi bulan.</p>

<p>“Kenapa, Ma?”</p>

<p>“Hmm?”</p>



<p>“Itu,” Mingyu terkekeh. Senang, karena suaminya juga senang. “Kamu senyum terus dari tadi? Bukannya aku komplain sih, Mah, ngeliat senyum manis kamu itu.”</p>

<p>Akan kegombalan suaminya, Minghao meninju perlahan bahu Mingyu sambil terkikih geli. Ada hal-hal yang sampai saat ini tidak berubah dari Kim Mingyu, seolah waktu berhenti di kafe dekat kampus kala itu, dimana dua orang pemuda belia saling bertemu untuk pertama kalinya.</p>

<p>“Enggak, Pah, aku lagi mikir aja,” aku Minghao kemudian ketika Mingyu menggamit tangannya dan menciumi lembut punggung tangan itu. “Suasana kayak gini ngingetin aku sama waktu itu, pas aku bilang cinta sama kamu...”</p>

<p>Mingyu menjawab dengan dehaman. Bibirnya turun dari punggung tangan ke pergelangan tangan Minghao.</p>

<p>“Gyu, seandainya kita nggak ketemu lagi di restoran itu... Seandainya aku buat janji di resto lain sama klien aku, apa kita bisa jadi kayak gini sekarang?” satu kecupan terakhir dan Mingyu pun mengangkat wajah untuk memandangi indah mata sang suami. “Gimana kalo kita nggak pernah ketemu?”</p>

<p>Mingyu diam dan mempertimbangkan. Usia mengajarkan hal terpenting padanya, bahwa sebelum lidah bergerak, biarlah otak bertindak. Lalu, ringisannya merekah.</p>

<p>“Jujur? Aku nggak akan nyariin kamu,” ucapnya. “Mungkin aku bakal nikah sama orang lain. Ato mungkin nggak nikah dan kerja terus aja sendirian. Mungkin juga aku pindah negara sekarang ato malah udah bercucu dan tinggal di desa.” Mendengar itu, Minghao ikut tertawa. “Kalo kamu, Hao? Kamu bakal nyariin aku?”</p>

<p>Suaminya menggeleng. “Enggak. Aku juga mungkin jatuh cinta sama orang lain,” jawabnya tanpa ragu. “Aku dulu nggak kenal kamu. Aku nggak cinta sama kamu dari pandangan pertama.”</p>

<p>“Sama,” Mingyu sesaat merenung. “Tapi...aku juga nggak tau sih.” Ia menaruh gelas wine di atas meja. “Aku yakin aku nggak mikir kamu lebih dari pegawai kafe plus sumber informasi. Aku yakin aku nggak jatuh cinta dari pandangan pertama. Tapi kalo aku bilang aku nggak <em>tertarik</em> sama kamu dari pertama kita ketemu, kok...</p>

<p>...hatiku kayak bilang itu nggak bener.”</p>

<p>Sebuah kalimat yang aneh. Perasaan yang aneh. Realitanya, cinta pertama jarang sekali kesampaian, apalagi mencapai jenjang pernikahan. Mingyu dan Minghao hanya dua manusia biasa. Mereka bertemu, lalu berpisah. Sama-sama tidak memedulikan keberadaan yang lainnya karena mereka adalah dua orang yang asing satu sama lain. Masing-masing adalah memori sekilas yang dengan cepat terlupakan, andaikata takdir tidak menyambungkan jalan mereka berdua kembali.</p>

<p><em>Takdir.</em></p>

<p>Sungguh, sungguh aneh.</p>

<p><em>Kenapa harus Mingyu?</em>
<em>Kenapa harus dirinya?</em>
<em>Kenapa bukan orang lain?</em></p>

<p>Semua...aneh. Hidup ini...aneh.</p>

<p><em>Aneh.</em></p>

<p>Mingyu menangkup kedua pipi Minghao, membuyarkan lamunan suaminya itu. Elusan pada pipinya membuat Minghao memejamkan mata, lalu mendesah bahagia. Dari berjuta orang di dunia, Mingyu lah yang disatukan benang merahnya dengan benang merah di kelingking Minghao. Dan Xu Minghao tidak mau siapapun selain Kim Mingyu.</p>

<p>Minghao tersenyum. Mingyu juga tersenyum.</p>

<p>“Aku,” Mingyu berkata. “Nggak percaya cinta pada pandangan pertama, tapi—”</p>

<p>Wajahnya maju, mengecup bibir suaminya.</p>

<p>”—kalo <em>jodoh</em>, aku percaya.”</p>

<p>Mingyu nyengir. Minghao hanya bisa tertawa mendengarnya.</p>

<p>Ah ya... Kalau jodoh, sih, Minghao juga percaya.</p>

<p>Bagaimana bisa tidak? Bila Kim Mingyu dan keempat anak mereka kini memenuhi hidup Xu Minghao dengan cinta yang hangat.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/1-2</guid>
      <pubDate>Sat, 20 Mar 2021 19:06:41 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>54.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/54?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaoparents&#xA;&#xA;Minghao meneguk teh hangatnya.&#xA;&#xA;&#34;Terus Mama sama Papa nikah?&#34; pertanyaan anak lelakinya membuat Minghao hampir tersedak teh.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Kakak, kalo Mama sama Papa nggak nikah, kalian nggak akan ada kan?&#34; tawanya.&#xA;&#xA;&#34;Tapi, kalo kalian nikah kayak gitu,&#34; anak gadisnya menyela. &#34;Gimana caranya aku sama Kakak bisa ada?&#34;&#xA;&#xA;Pertanyaan bagus. Xu Minghao tersenyum sebelum melanjutkan.&#xA;&#xA;&#34;Papa kalian baik banget. Kadang, Mama masih heran, kenapa orang sebaik ini mau milih Mama, mau jadi pendamping hidup Mama,&#34; di sampingnya, Mingyu menunduk. Wajahnya merah padam. Tumben-tumbenan Minghao memujinya begitu di depan anak-anak mereka. &#34;Sesuai janjinya, Papa kalian tetap jadi temen Mama. Kita nggak ngapa-ngapain di malam pengantin...ah, Adek sama Kakak udah gede lah ya, tau kan maksud Mama?&#34;&#xA;&#xA;Kedipan mata jahil. Anak gadisnya hanya mendecak ketus, sementara anak lelakinya, seperti ayahnya, menunduk malu. Menggemaskan sekali.&#xA;&#xA;&#34;Abis nikah, perusahaan Mama pun mulai pulih. Papa kalian bener-bener support perusahaan Mama sampe bisa dilepas dan berdiri sendiri. Proyek Papa juga banyak yang gol. Rumah ini Papa yang bangun. Katanya, dia punya mimpi kalo dia bakal bangun rumahnya sendiri buat pasangan hidup dan anak-anaknya kelak.&#xA;&#xA;....Sebenernya, tadinya Mama mau tolak. Mama nggak yakin mimpi sepenting itu pantas diwujudkan dengan pernikahan bisnis macam itu dan dengan pasangan hidup kayak Mama, yang nikahin Papa kalian tanpa cinta. Tapi, Papa kalian kayak yakin banget kalo dia mau wujudin mimpinya itu, jadi yah, rumah ini kebangun setahun kemudian.&#34;&#xA;&#xA;Mengambil napas, senyuman Minghao menjadi semakin lembut.&#xA;&#xA;&#34;Selama setahun itu, Mama jadi kenal sama Papa kalian. Hidup bersama itu artinya tau sisi yang sebelumnya nggak pernah Mama ketahuin. Mama tau Papa kalian itu orang yang setia, tapi Mama nggak nyangka dia sesetia itu. Dia nggak pernah sentuh Mama ngelewatin batas sebagai teman. Dan dia baikkk banget. Walo sebenernya Mama ada utang budi sama Papa kalian, dia nggak pernah manfaatin itu. Jelek-jeleknya pun Mama jadi tau. Yang tukang ngambek, yang ceroboh suka rusakin barang, yang nggak tau kapan harus berhenti ngomong...semua Mama jadi tau.&#34;&#xA;&#xA;Minghao menoleh ketika Mingyu menyenggol sikunya. Dilihatnya suaminya itu manyun. &#34;Tuh kan. Ngambekan kamu,&#34; gemas, dikecupnya pipi Mingyu. &#34;Ini sih yang bikin aku jadi sayang...&#34;&#xA;&#xA;Mingyu kaget, &#34;H-Hao, kita di depan anak-anak-&#34;&#xA;&#xA;&#34;Biarin ah. Sampe mana tadi?&#34; meringis jahil, Minghao bersandar ke sisi tubuh suaminya lalu melanjutkan cerita nostalgianya. &#34;Kayaknya nggak usah Mama bilang kalo Mama jadi jatuh cinta sama Papa kalian. Jujur sih, pas masih bingung sama perasaan Mama, sempet Mama iri sama Om Wonu. Kepikiran. Gimana kalo Papa kalian masih sayang sama Om Wonu? Mama nggak bakal bisa saingan sama mantan pacar yang hampir dinikahin. Mama udah mau nyerah. Putus asa. Mama jatuh cinta sama suami Mama sendiri, yang mungkin nggak pernah ngeliat Mama lebih dari temen.&#34;&#xA;&#xA;Sesaat, ruangan itu senyap.&#xA;&#xA;&#34;Terus...?&#34; anak gadisnya bergumam.&#xA;&#xA;&#34;Pas lagi galau gitu, rumah ini pun selesai dibangun. Mama sama Papa pindah ke sini. Malam pertama kami di rumah ini, Mama nggak bisa tidur. Mama duduk di balkon, minum anggur, sendirian. Mikirin banyak hal. Mama masih inget bulan pas malem itu. Indah. Warnanya kuning lembut. Papa kalian tetiba nemenin Mama.&#xA;&#xA;Duduk aja gitu di balkon. Diem. Waktu itu, kondisi jalan depan belom serame sekarang, dan masih ada lahan kosong, jadi Mama inget ada samar-samar bunyi jangkrik. Damai banget. Duduk di sebelah Papa kalian, Mama ngerasa lagi di rumah.&#34;&#xA;&#xA;Rumahnya. Kim Mingyu seorang.&#xA;&#xA;&#34;Terus...?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terus,&#34; Mingyu berdeham, mengambil alih. &#34;Terus Papa cium Mama kalian.&#34;&#xA;&#xA;Alis kedua anaknya terangkat. Terkejut.&#xA;&#xA;&#34;Dan, yah, emm, ya gitulah. C-cium, terus Papa gendong Mama ke kamar, terus mm-&#34;&#xA;&#xA;Minghao lagi-lagi meringis jahil.&#xA;&#xA;&#34;Mingyu. Di depan kita anak-anak SMP lho. Kamu mau umbar pengalaman kamar kita di depan mereka? Really? Ini pelecehan lho,&#34; selorohnya.&#xA;&#xA;&#34;K-kan tadi kamu bilang nggak apa-apa mesra-mesraan, gimana sih?!&#34; protes suaminya itu, padahal wajahnya sudah seranum tomat matang.&#xA;&#xA;&#34;Tapi bukan adegan lapan belas coret juga, Kim Mingyuuu,&#34; Minghao tertawa terbahak-bahak. &#34;Yah, intinya, wajar kalo kalian bisa lahir. Kayaknya malah Mama hamil Kakak tuh nggak ada sebulan dari situ. Sasuga emang Papa kalian...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mah, udah sih. Kasian tuh Kakak, hampir pingsan,&#34; decak anak gadisnya.&#xA;&#xA;&#34;Wah?&#34; anak lelakinya betulan semaput karena malu. Benar-benar deh. Like father, like son. &#34;Oke, oke. Nah dari situ, baru deh Mama bisa jujur ke Papa. Setelah hamil Kakak pun, Papa selalu jaga Mama, bikin Mama tambah cinta. Begitu juga pas hamil Adek. Pas kalian lahir.....&#34;&#xA;&#xA;Minghao maju, mengusap lembut pipi anak perempuannya dengan mata berkaca-kaca.&#xA;&#xA;&#34;....Andai Mama bisa kasih unjuk ke kalian gimana Papa mandang kalian yang masih bayi merah dibalut kain rumah sakit di ruang persalinan. Itu pemandangan paling indah yang pernah Mama liat, Nak. Mama bersyukur terlahir di dunia ini untuk bisa kasih Papa kalian kebahagiaan itu. Bisa ngebuat orang yang paling Mama sayangin bahagia...&#34;&#xA;&#xA;Serodotan ingus terdengar. Basah terasa di jari-jemari. Anak perempuannya telah menangis lagi, namun dengan alasan yang jauh berbeda. Diam-diam, anak bernama Lee Chan yang ikut mendengarkan di kursi di samping Kakak pun ikut menangis.&#xA;&#xA;&#34;....Mah,&#34; itu anak lelakinya. &#34;Mama belum jawab pertanyaan Kakak di WA waktu itu.&#34; Anak lelakinya tersenyum lebar dengan mata mati-matian menahan haru.&#xA;&#xA;&#34;Mama sayang sama Papa?&#34;&#xA;&#xA;Xu Minghao melepas elusannya dari pipi Adek. Ia menoleh ke samping, ke suaminya dengan tatapan lembut yang sama semenjak belasan tahun yang lalu. Kim Mingyu punya banyak sekali cinta untuk diberikan, berkebalikan dengan Minghao yang tidak pernah paham apa faedah kata &#39;cinta&#39; itu sebelumnya. Mereka berbeda. Polar opposites. Kutub A dengan kutub B.&#xA;&#xA;Namun,&#xA;&#xA;&#34;Papa kalian segalanya buat Mama...&#34;&#xA;&#xA;justru itulah tepatnya mengapa.&#xA;&#xA;Anak lelakinya mendengus geli. Jawaban yang sama dengan jawaban ayahnya. Ah...ia puas. Dengan ini jelaslah sudah.&#xA;&#xA;Tak ada lagi keraguan.&#xA;&#xA;&#34;Hao. Aku boleh ngaku satu hal, nggak?&#34;&#xA;&#xA;Minghao menelengkan kepala, bertanya-tanya.&#xA;&#xA;&#34;Sebenernya, pas aku ngajak kamu nikah,&#34; diambilnya kedua tangan Minghao. &#34;Aku deg-degan banget. Takut kamu nolak. Takut aktingku sok cuek, sok santai, gagal total. Takut kamu malah marah. Kamu seenggak ketebak itu sih, jadi aku takut rencanaku rusak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Rencana?&#34; kerutan alis.&#xA;&#xA;&#34;Iya. Sebenernya, aku udah tau kondisi perusahaan kamu dari awal minggu itu. Aku tau kamu butuh bantuan finansial buat pertahanin perusahaan kamu. Aku tau kamu akan lakuin apapun demi perusahaan itu. Waktu aku cerita ke Bang Cheol, dia bilang sambil becanda, &#39;lo nikahin aja, Gyu, jadi bisa kasih harta lo ke dia. Kebetulan kan tuh, ada kesempatan.&#39; Dan aku pikir, bener juga.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sebentar,&#34; kerutan alis Minghao makin dalam. &#34;Kebetulan? Kesempatan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya,&#34; telapak Mingyu basah oleh keringat gugup. Diteguknya ludah. Pipinya memerah. &#34;Iya. Itu, eng, aku pas ngajak kamu nikah....itu...beneran. Aku udah jatuh cinta sama kamu jauh sebelum itu.&#34;&#xA;&#xA;Bola mata Minghao melebar.&#xA;&#xA;&#34;J-j-jadi aku pikir k-kalo aku bisa jadi suami kamu, apapun alasannya--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi...,&#34; Minghao bergumam. Masih takjub. &#34;...kalo aku nggak jatuh cinta ke kamu dan malah minta cerai ke kamu waktu itu...gimana?&#34;&#xA;&#xA;&#34;......&#34;&#xA;&#xA;&#34;....Yah, mungkin bakal kamu lepasin kayak sebelumnya--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku nggak akan cerein kamu,&#34; gamitan Mingyu pada tangannya mengerat. &#34;Walopun kamu nggak jatuh cinta sama aku, itu nggak masalah. Aku udah biasa nunggu. Setahun, sepuluh tahun, lima puluh tahun. Aku akan buat kamu jatuh cinta padaku, Xu Minghao.&#34;&#xA;&#xA;Napas Minghao bagai tertahan di kerongkongan.&#xA;&#xA;&#34;Kamu yang bilang sendiri, kan, kalo suatu hari, orang yang bakal bareng aku selamanya bakal muncul.&#34;&#xA;&#xA;Dibawanya tangan Minghao ke bibir untuk dikecupnya di punggung tangan.&#xA;&#xA;&#34;Aku udah nemu orang itu, and like hell I will ever let him go in this life...&#34;&#xA;&#xA;Rona, menjalar hangat dengan tenang dari pipi hingga ke ujung telinga Minghao. Ia baru tahu seberapa posesifnya suaminya itu. Ngeri, sekaligus senang.&#xA;&#xA;&#34;Xu Minghao,&#34; dikecupnya tangan itu lagi. &#34;Will you marry me?&#34;&#xA;&#xA;Minghao tergelak. Ringan dan tanpa beban. Betapa absurdnya ini semua. Betapa bodohnya mereka. Betapa konyolnya. Di sana, di ruang keluarga rumah dua lantai mereka, disaksikan kedua anaknya yang sudah beranjak remaja dan seorang anak dari sahabat lamanya, dalam senyuman lebar yang cantik sekali, Xu Minghao menjawab pinangan suaminya sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Yes, Kim Mingyu.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaoparents" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaoparents</span></a></p>

<p>Minghao meneguk teh hangatnya.</p>

<p>“Terus Mama sama Papa nikah?” pertanyaan anak lelakinya membuat Minghao hampir tersedak teh.</p>



<p>“Kakak, kalo Mama sama Papa nggak nikah, kalian nggak akan ada kan?” tawanya.</p>

<p>“Tapi, kalo kalian nikah kayak gitu,” anak gadisnya menyela. “Gimana caranya aku sama Kakak bisa ada?”</p>

<p>Pertanyaan bagus. Xu Minghao tersenyum sebelum melanjutkan.</p>

<p>“Papa kalian baik banget. Kadang, Mama masih heran, kenapa orang sebaik ini mau milih Mama, mau jadi pendamping hidup Mama,” di sampingnya, Mingyu menunduk. Wajahnya merah padam. Tumben-tumbenan Minghao memujinya begitu di depan anak-anak mereka. “Sesuai janjinya, Papa kalian tetap jadi temen Mama. Kita nggak ngapa-ngapain di malam pengantin...ah, Adek sama Kakak udah gede lah ya, tau kan maksud Mama?”</p>

<p>Kedipan mata jahil. Anak gadisnya hanya mendecak ketus, sementara anak lelakinya, seperti ayahnya, menunduk malu. Menggemaskan sekali.</p>

<p>“Abis nikah, perusahaan Mama pun mulai pulih. Papa kalian bener-bener support perusahaan Mama sampe bisa dilepas dan berdiri sendiri. Proyek Papa juga banyak yang gol. Rumah ini Papa yang bangun. Katanya, dia punya mimpi kalo dia bakal bangun rumahnya sendiri buat pasangan hidup dan anak-anaknya kelak.</p>

<p>....Sebenernya, tadinya Mama mau tolak. Mama nggak yakin mimpi sepenting itu pantas diwujudkan dengan pernikahan bisnis macam itu dan dengan pasangan hidup kayak Mama, yang nikahin Papa kalian tanpa cinta. Tapi, Papa kalian kayak yakin banget kalo dia mau wujudin mimpinya itu, jadi yah, rumah ini kebangun setahun kemudian.”</p>

<p>Mengambil napas, senyuman Minghao menjadi semakin lembut.</p>

<p>“Selama setahun itu, Mama jadi kenal sama Papa kalian. Hidup bersama itu artinya tau sisi yang sebelumnya nggak pernah Mama ketahuin. Mama tau Papa kalian itu orang yang setia, tapi Mama nggak nyangka dia sesetia itu. Dia nggak pernah sentuh Mama ngelewatin batas sebagai teman. Dan dia baikkk banget. Walo sebenernya Mama ada utang budi sama Papa kalian, dia nggak pernah manfaatin itu. Jelek-jeleknya pun Mama jadi tau. Yang tukang ngambek, yang ceroboh suka rusakin barang, yang nggak tau kapan harus berhenti ngomong...semua Mama jadi tau.”</p>

<p>Minghao menoleh ketika Mingyu menyenggol sikunya. Dilihatnya suaminya itu manyun. “Tuh kan. Ngambekan kamu,” gemas, dikecupnya pipi Mingyu. “Ini sih yang bikin aku jadi sayang...”</p>

<p>Mingyu kaget, “H-Hao, kita di depan anak-anak-”</p>

<p>“Biarin ah. Sampe mana tadi?” meringis jahil, Minghao bersandar ke sisi tubuh suaminya lalu melanjutkan cerita nostalgianya. “Kayaknya nggak usah Mama bilang kalo Mama jadi jatuh cinta sama Papa kalian. Jujur sih, pas masih bingung sama perasaan Mama, sempet Mama iri sama Om Wonu. Kepikiran. Gimana kalo Papa kalian masih sayang sama Om Wonu? Mama nggak bakal bisa saingan sama mantan pacar yang hampir dinikahin. Mama udah mau nyerah. Putus asa. Mama jatuh cinta sama suami Mama sendiri, yang mungkin nggak pernah ngeliat Mama lebih dari temen.”</p>

<p>Sesaat, ruangan itu senyap.</p>

<p>“Terus...?” anak gadisnya bergumam.</p>

<p>“Pas lagi galau gitu, rumah ini pun selesai dibangun. Mama sama Papa pindah ke sini. Malam pertama kami di rumah ini, Mama nggak bisa tidur. Mama duduk di balkon, minum anggur, sendirian. Mikirin banyak hal. Mama masih inget bulan pas malem itu. Indah. Warnanya kuning lembut. Papa kalian tetiba nemenin Mama.</p>

<p>Duduk aja gitu di balkon. Diem. Waktu itu, kondisi jalan depan belom serame sekarang, dan masih ada lahan kosong, jadi Mama inget ada samar-samar bunyi jangkrik. Damai banget. Duduk di sebelah Papa kalian, Mama ngerasa lagi di rumah.”</p>

<p>Rumahnya. Kim Mingyu seorang.</p>

<p>“Terus...?”</p>

<p>“Terus,” Mingyu berdeham, mengambil alih. “Terus Papa cium Mama kalian.”</p>

<p>Alis kedua anaknya terangkat. Terkejut.</p>

<p>“Dan, yah, emm, ya gitulah. C-cium, terus Papa gendong Mama ke kamar, terus mm-”</p>

<p>Minghao lagi-lagi meringis jahil.</p>

<p>“Mingyu. Di depan kita anak-anak SMP lho. Kamu mau umbar pengalaman kamar kita di depan mereka? Really? Ini pelecehan lho,” selorohnya.</p>

<p>“K-kan tadi kamu bilang nggak apa-apa mesra-mesraan, gimana sih?!” protes suaminya itu, padahal wajahnya sudah seranum tomat matang.</p>

<p>“Tapi bukan adegan lapan belas coret juga, Kim Mingyuuu,” Minghao tertawa terbahak-bahak. “Yah, intinya, wajar kalo kalian bisa lahir. Kayaknya malah Mama hamil Kakak tuh nggak ada sebulan dari situ. Sasuga emang Papa kalian...”</p>

<p>“Mah, udah sih. Kasian tuh Kakak, hampir pingsan,” decak anak gadisnya.</p>

<p>“Wah?” anak lelakinya betulan semaput karena malu. Benar-benar deh. Like father, like son. “Oke, oke. Nah dari situ, baru deh Mama bisa jujur ke Papa. Setelah hamil Kakak pun, Papa selalu jaga Mama, bikin Mama tambah cinta. Begitu juga pas hamil Adek. Pas kalian lahir.....”</p>

<p>Minghao maju, mengusap lembut pipi anak perempuannya dengan mata berkaca-kaca.</p>

<p>”....Andai Mama bisa kasih unjuk ke kalian gimana Papa mandang kalian yang masih bayi merah dibalut kain rumah sakit di ruang persalinan. Itu pemandangan paling indah yang pernah Mama liat, Nak. Mama bersyukur terlahir di dunia ini untuk bisa kasih Papa kalian kebahagiaan itu. Bisa ngebuat orang yang paling Mama sayangin bahagia...”</p>

<p>Serodotan ingus terdengar. Basah terasa di jari-jemari. Anak perempuannya telah menangis lagi, namun dengan alasan yang jauh berbeda. Diam-diam, anak bernama Lee Chan yang ikut mendengarkan di kursi di samping Kakak pun ikut menangis.</p>

<p>”....Mah,” itu anak lelakinya. “Mama belum jawab pertanyaan Kakak di WA waktu itu.” Anak lelakinya tersenyum lebar dengan mata mati-matian menahan haru.</p>

<p>“Mama sayang sama Papa?”</p>

<p>Xu Minghao melepas elusannya dari pipi Adek. Ia menoleh ke samping, ke suaminya dengan tatapan lembut yang sama semenjak belasan tahun yang lalu. Kim Mingyu punya banyak sekali cinta untuk diberikan, berkebalikan dengan Minghao yang tidak pernah paham apa faedah kata &#39;cinta&#39; itu sebelumnya. Mereka berbeda. Polar opposites. Kutub A dengan kutub B.</p>

<p>Namun,</p>

<p>“Papa kalian segalanya buat Mama...”</p>

<p>justru itulah tepatnya mengapa.</p>

<p>Anak lelakinya mendengus geli. Jawaban yang sama dengan jawaban ayahnya. Ah...ia puas. Dengan ini jelaslah sudah.</p>

<p>Tak ada lagi keraguan.</p>

<p>“Hao. Aku boleh ngaku satu hal, nggak?”</p>

<p>Minghao menelengkan kepala, bertanya-tanya.</p>

<p>“Sebenernya, pas aku ngajak kamu nikah,” diambilnya kedua tangan Minghao. “Aku deg-degan banget. Takut kamu nolak. Takut aktingku sok cuek, sok santai, gagal total. Takut kamu malah marah. Kamu seenggak ketebak itu sih, jadi aku takut rencanaku rusak.”</p>

<p>“Rencana?” kerutan alis.</p>

<p>“Iya. Sebenernya, aku udah tau kondisi perusahaan kamu dari awal minggu itu. Aku tau kamu butuh bantuan finansial buat pertahanin perusahaan kamu. Aku tau kamu akan lakuin apapun demi perusahaan itu. Waktu aku cerita ke Bang Cheol, dia bilang sambil becanda, &#39;lo nikahin aja, Gyu, jadi bisa kasih harta lo ke dia. Kebetulan kan tuh, ada kesempatan.&#39; Dan aku pikir, bener juga.”</p>

<p>“Sebentar,” kerutan alis Minghao makin dalam. “Kebetulan? Kesempatan?”</p>

<p>“Iya,” telapak Mingyu basah oleh keringat gugup. Diteguknya ludah. Pipinya memerah. “Iya. Itu, eng, aku pas ngajak kamu nikah....itu...beneran. Aku udah jatuh cinta sama kamu jauh sebelum itu.”</p>

<p>Bola mata Minghao melebar.</p>

<p>“J-j-jadi aku pikir k-kalo aku bisa jadi suami kamu, apapun alasannya—”</p>

<p>“Tapi...,” Minghao bergumam. Masih takjub. “...kalo aku nggak jatuh cinta ke kamu dan malah minta cerai ke kamu waktu itu...gimana?”</p>

<p>”......”</p>

<p>”....Yah, mungkin bakal kamu lepasin kayak sebelumnya—”</p>

<p>“Aku nggak akan cerein kamu,” gamitan Mingyu pada tangannya mengerat. “Walopun kamu nggak jatuh cinta sama aku, itu nggak masalah. Aku udah biasa nunggu. Setahun, sepuluh tahun, lima puluh tahun. Aku akan buat kamu jatuh cinta padaku, Xu Minghao.”</p>

<p>Napas Minghao bagai tertahan di kerongkongan.</p>

<p>“Kamu yang bilang sendiri, kan, kalo suatu hari, orang yang bakal bareng aku selamanya bakal muncul.”</p>

<p>Dibawanya tangan Minghao ke bibir untuk dikecupnya di punggung tangan.</p>

<p>“Aku udah nemu orang itu, and like hell I will ever let him go in this life...”</p>

<p>Rona, menjalar hangat dengan tenang dari pipi hingga ke ujung telinga Minghao. Ia baru tahu seberapa posesifnya suaminya itu. Ngeri, sekaligus senang.</p>

<p>“Xu Minghao,” dikecupnya tangan itu lagi. “Will you marry me?”</p>

<p>Minghao tergelak. Ringan dan tanpa beban. Betapa absurdnya ini semua. Betapa bodohnya mereka. Betapa konyolnya. Di sana, di ruang keluarga rumah dua lantai mereka, disaksikan kedua anaknya yang sudah beranjak remaja dan seorang anak dari sahabat lamanya, dalam senyuman lebar yang cantik sekali, Xu Minghao menjawab pinangan suaminya sendiri.</p>

<p>“Yes, Kim Mingyu.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/54</guid>
      <pubDate>Wed, 13 May 2020 12:49:50 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>53.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/53?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaoparents&#xA;&#xA;&#34;Jadi, sekarang gimana?&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Minghao tertawa pasrah. Mereka tengah duduk di sebuah kafe, menikmati dua cangkir minuman dan dua mangkuk gelato, sejenak rehat dari cuaca kejam Jakarta di siang bolong. Kamera masing-masing tersimpan baik di dalam tas. Cukup banyak potret telah mereka abadikan bersama sepanjang memutari Taman Menteng di hari Sabtu.&#xA;&#xA;Sudah menjadi kebiasaan sekarang untuk Mingyu dan Minghao bertemu dan photo hunting berdua. Pasal tak sengaja menabrak Kim Mingyu di restoran terjadi setahun yang lalu, dan, seiring berjalannya waktu, hubungan mereka pun berubah. Kim Mingyu bukan lagi anak setingkat di kuliah yang menginterogasi soal Jeon Wonwoo padanya. Kim Mingyu sekarang adalah teman dekatnya.&#xA;&#xA;Mereka mengobrol ngalor ngidul, seperti biasa, mengenai perusahaan mereka yang sama-sama baru, mengenai teman-teman kampus mereka (ternyata Kim Mingyu mengenal Boo Seungkwan! Dunia memang sempit!), juga mengenai hidup mereka. Di satu kesempatan, Minghao bertanya mengenai Jeon Wonwoo padanya, lebih karena penasaran semata. Terus terang, ia kaget ketika Kim Mingyu menceritakan semuanya padanya.&#xA;&#xA;Kim Mingyu ditinggal pergi sekolah ke luar negeri. Kim Mingyu menanti dan menanti. Setia pada orang yang ia janjikan dan berjanji akan menikahi.&#xA;&#xA;Kim Mingyu diputuskan via sepucuk surat.&#xA;&#xA;Selesai begitu saja.&#xA;&#xA;&#34;...Lo nggak marah?&#34;&#xA;&#xA;Ia ingat ia bertanya begitu, kala itu, sambil tanpa sadar menyentuh tangan Mingyu, mencoba menenangkan. Mingyu mendengus geli.&#xA;&#xA;&#34;Boong kalo gue nggak marah. Gue sedih. Gue kecewa. Gue marah ke diri gue sendiri. Kenapa gue buta selama ini. Tapi, gue jadi sadar, kalo orang yang lo pikir &#39;pasti jadi sama dia nih&#39;, nggak selamanya akan berjalan kayak gitu. Hati orang emang nggak ada yang tau ya...&#34;&#xA;&#xA;Minghao menepuk-nepuk tangan itu.&#xA;&#xA;&#34;Gue yakin lo bakal nemu orang itu, Gyu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;....Gue sayang sama Wonwoo, Hao...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, gue tau,&#34; kali ini, giliran Minghao yang tersenyum. &#34;Gue liat kok pas kita masih kuliah. Gue kagum lho. Lo bisa sayang banget sama orang kayak gitu. Gue mah boro-boro. Bahkan sama ortu sendiri, gue nggak yakin gue bisa sayang...&#34;&#xA;&#xA;Orangtuanya memang mendidiknya kelewat keras. Makanya, ia bahagia bisa tinggal sendiri, bisa membangun perusahaannya sendiri dari nol begini.&#xA;&#xA;Tepukan di tangannya datang dari Mingyu.&#xA;&#xA;&#34;Lo pasti nemu orang itu, Hao. Ambil contoh dari gue aja. Jodoh emang kita nggak ada yang tau,&#34; kedipan sebelah mata.&#xA;&#xA;Xu Minghao pun tertawa.&#xA;&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;&#xA;&#34;Gue nggak tau, Gyu, gue pusing,&#34; dihelanya napas. &#34;Kita nggak ada yang prediksi kalo bakal jadi gini. Produksi kita numpuk di gudang. Biaya gudang naik. Klien kita juga mulai ngejauh. Gue takut banget kalo saham perusahaan gue turun terus....&#34;&#xA;&#xA;Mendeklarasikan pailit. Cara terakhir untuk membayar tanggung jawab pada para pemegang saham. Namun, itu artinya mimpi yang ia bangun kandas sudah. Layu sebelum benar-benar berkembang. Ia sudah habis akal. Semua cara ia coba diskusikan, coba tempuh. Mentok.&#xA;&#xA;Wajahnya menghilang dalam tangkupan tangannya, tak ingin sahabatnya melihatnya serapuh ini, namun Xu Minghao tidak punya siapa-siapa untuk diceritakan keluh-kesahnya. Ia luput melihat bagaimana Mingyu mengerutkan alis sambil mengelus dagu, berpikir keras.&#xA;&#xA;&#34;Sebenernya kalo lo dapet suntikan dana, masalahnya bisa kelar sih...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi siapa, Gyu? Nggak ada orang waras yang mau investasi di perusahaan yang mau karam! Gue udah coba bahkan ngemis ke bokap gue dan dia nggak ngasih gue sepeser pun, kayak dugaan gue! Siapa??&#34;&#xA;&#xA;Alangkah absurdnya, setidaknya di mata Minghao, ketika sahabatnya, Kim Mingyu, meringis lebar dan berkata,&#xA;&#xA;&#34;Gue.&#34;&#xA;&#xA;Haha.&#xA;&#xA;&#34;Yeah rite, Gyu. Gue nggak lagi becanda,&#34; decak Minghao.&#xA;&#xA;&#34;Nggak becanda kok. Gue punya ide bagus. Kita nikah aja.&#34;&#xA;&#xA;.&#xA;.&#xA;&#xA;&#34;......Ha?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalo gue ngasih lo pinjeman, lo bakal ngerasa utang budi sama gue. Gue nggak mau itu. Lo temen gue, Hao. Gue nggak mau pertemanan kita yang udah enjoy ini berubah. Jadi, mendingan kita nikah aja. Harta gue harta lo. Hak milik lo. Jadi nggak ada utang budi segala,&#34; Kim Mingyu mengangguk-angguk dengan begitu yakin, seakan ia baru saja memecahkan misteri Segitiga Bermuda.&#xA;&#xA;Xu Minghao, sebaliknya, memandangnya seakan-akan sahabatnya itu sinting.&#xA;&#xA;&#34;Gimana? Oke kan, Hao?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Are you out of your fucking mind, Kim Mingyu?&#34; desisnya. &#34;Ini pernikahan. Ikatan krusial. Jangan bilang lo nuntut gue bayar lo pake badan gue--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Touche,&#34; disentuhnya ujung hidung Minghao. &#34;Gue nggak ada niat gitu. Seriusan deh. Abis nikah, lo bisa masukin dana ke perusahaan lo. We stay best friends.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terus gimana kalo lo nemu &#39;Wonwoo&#39; lo? Gimana kalo gue yang nemu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;We split up. Easy. No ruckus. No emotional baggage. Stay friends. We won&#39;t fuck anyway so we are friends through and through,&#34; kedua bahu Mingyu naik sekejap. &#34;Don&#39;t you need the money, Hao?&#34;&#xA;&#xA;Diam. Kontras terhadap suara riuh-rendah aktivitas kafe sebagai latar mereka.&#xA;&#xA;&#34;....I do.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaoparents" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaoparents</span></a></p>

<p>“Jadi, sekarang gimana?”</p>



<p>Minghao tertawa pasrah. Mereka tengah duduk di sebuah kafe, menikmati dua cangkir minuman dan dua mangkuk gelato, sejenak rehat dari cuaca kejam Jakarta di siang bolong. Kamera masing-masing tersimpan baik di dalam tas. Cukup banyak potret telah mereka abadikan bersama sepanjang memutari Taman Menteng di hari Sabtu.</p>

<p>Sudah menjadi kebiasaan sekarang untuk Mingyu dan Minghao bertemu dan photo hunting berdua. Pasal tak sengaja menabrak Kim Mingyu di restoran terjadi setahun yang lalu, dan, seiring berjalannya waktu, hubungan mereka pun berubah. Kim Mingyu bukan lagi anak setingkat di kuliah yang menginterogasi soal Jeon Wonwoo padanya. Kim Mingyu sekarang adalah teman dekatnya.</p>

<p>Mereka mengobrol ngalor ngidul, seperti biasa, mengenai perusahaan mereka yang sama-sama baru, mengenai teman-teman kampus mereka (ternyata Kim Mingyu mengenal Boo Seungkwan! Dunia memang sempit!), juga mengenai hidup mereka. Di satu kesempatan, Minghao bertanya mengenai Jeon Wonwoo padanya, lebih karena penasaran semata. Terus terang, ia kaget ketika Kim Mingyu menceritakan semuanya padanya.</p>

<p>Kim Mingyu ditinggal pergi sekolah ke luar negeri. Kim Mingyu menanti dan menanti. Setia pada orang yang ia janjikan dan berjanji akan menikahi.</p>

<p>Kim Mingyu diputuskan via sepucuk surat.</p>

<p>Selesai begitu saja.</p>

<p>”...Lo nggak marah?”</p>

<p>Ia ingat ia bertanya begitu, kala itu, sambil tanpa sadar menyentuh tangan Mingyu, mencoba menenangkan. Mingyu mendengus geli.</p>

<p>“Boong kalo gue nggak marah. Gue sedih. Gue kecewa. Gue marah ke diri gue sendiri. Kenapa gue buta selama ini. Tapi, gue jadi sadar, kalo orang yang lo pikir &#39;pasti jadi sama dia nih&#39;, nggak selamanya akan berjalan kayak gitu. Hati orang emang nggak ada yang tau ya...”</p>

<p>Minghao menepuk-nepuk tangan itu.</p>

<p>“Gue yakin lo bakal nemu orang itu, Gyu.”</p>

<p>”....Gue sayang sama Wonwoo, Hao...”</p>

<p>“Iya, gue tau,” kali ini, giliran Minghao yang tersenyum. “Gue liat kok pas kita masih kuliah. Gue kagum lho. Lo bisa sayang banget sama orang kayak gitu. Gue mah boro-boro. Bahkan sama ortu sendiri, gue nggak yakin gue bisa sayang...”</p>

<p>Orangtuanya memang mendidiknya kelewat keras. Makanya, ia bahagia bisa tinggal sendiri, bisa membangun perusahaannya sendiri dari nol begini.</p>

<p>Tepukan di tangannya datang dari Mingyu.</p>

<p>“Lo pasti nemu orang itu, Hao. Ambil contoh dari gue aja. Jodoh emang kita nggak ada yang tau,” kedipan sebelah mata.</p>

<p>Xu Minghao pun tertawa.</p>

<p>.
.
.</p>

<p>“Gue nggak tau, Gyu, gue pusing,” dihelanya napas. “Kita nggak ada yang prediksi kalo bakal jadi gini. Produksi kita numpuk di gudang. Biaya gudang naik. Klien kita juga mulai ngejauh. Gue takut banget kalo saham perusahaan gue turun terus....”</p>

<p>Mendeklarasikan pailit. Cara terakhir untuk membayar tanggung jawab pada para pemegang saham. Namun, itu artinya mimpi yang ia bangun kandas sudah. Layu sebelum benar-benar berkembang. Ia sudah habis akal. Semua cara ia coba diskusikan, coba tempuh. Mentok.</p>

<p>Wajahnya menghilang dalam tangkupan tangannya, tak ingin sahabatnya melihatnya serapuh ini, namun Xu Minghao tidak punya siapa-siapa untuk diceritakan keluh-kesahnya. Ia luput melihat bagaimana Mingyu mengerutkan alis sambil mengelus dagu, berpikir keras.</p>

<p>“Sebenernya kalo lo dapet suntikan dana, masalahnya bisa kelar sih...”</p>

<p>“Tapi siapa, Gyu? Nggak ada orang waras yang mau investasi di perusahaan yang mau karam! Gue udah coba bahkan ngemis ke bokap gue dan dia nggak ngasih gue sepeser pun, kayak dugaan gue! Siapa??”</p>

<p>Alangkah absurdnya, setidaknya di mata Minghao, ketika sahabatnya, Kim Mingyu, meringis lebar dan berkata,</p>

<p>“Gue.”</p>

<p>Haha.</p>

<p>“Yeah rite, Gyu. Gue nggak lagi becanda,” decak Minghao.</p>

<p>“Nggak becanda kok. Gue punya ide bagus. Kita nikah aja.”</p>

<p>.
.</p>

<p>”......Ha?”</p>

<p>“Kalo gue ngasih lo pinjeman, lo bakal ngerasa utang budi sama gue. Gue nggak mau itu. Lo temen gue, Hao. Gue nggak mau pertemanan kita yang udah enjoy ini berubah. Jadi, mendingan kita nikah aja. Harta gue harta lo. Hak milik lo. Jadi nggak ada utang budi segala,” Kim Mingyu mengangguk-angguk dengan begitu yakin, seakan ia baru saja memecahkan misteri Segitiga Bermuda.</p>

<p>Xu Minghao, sebaliknya, memandangnya seakan-akan sahabatnya itu sinting.</p>

<p>“Gimana? Oke kan, Hao?”</p>

<p>“Are you out of your fucking mind, Kim Mingyu?” desisnya. “Ini pernikahan. Ikatan krusial. Jangan bilang lo nuntut gue bayar lo pake badan gue—”</p>

<p>“Touche,” disentuhnya ujung hidung Minghao. “Gue nggak ada niat gitu. Seriusan deh. Abis nikah, lo bisa masukin dana ke perusahaan lo. We stay best friends.”</p>

<p>“Terus gimana kalo lo nemu &#39;Wonwoo&#39; lo? Gimana kalo gue yang nemu?”</p>

<p>“We split up. Easy. No ruckus. No emotional baggage. Stay friends. We won&#39;t fuck anyway so we are friends through and through,” kedua bahu Mingyu naik sekejap. “Don&#39;t you need the money, Hao?”</p>

<p>Diam. Kontras terhadap suara riuh-rendah aktivitas kafe sebagai latar mereka.</p>

<p>”....I do.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/53</guid>
      <pubDate>Wed, 13 May 2020 06:44:02 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>52.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/52?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaoparents&#xA;&#xA;Setelah semua lebih tenang, mereka berpindah ke ruang keluarga. Minghao membuatkan anak itu secangkir cokelat panas. Seluruh keluarga Kim duduk di sana dengan perasaan masing-masing. Mereka menunggu sampai Minghao sendiri duduk dan mulai menjelaskan.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Jadi kamu anak Jihoon?&#34; senyumnya ramah. &#34;Om bisa liat miripnya kamu sama mama kamu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;? Om kenal mama saya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Om baru aja ketemu mama kamu beberapa hari yang lalu,&#34; tawanya ringan. &#34;Pas reuni kantor lama Om. Mama kamu bawain banyak oleh-oleh buat Om.&#34;&#xA;&#xA;Menyaksikan kebingungan teramat sangat di paras anak lelaki itu membuat Minghao menghela napas.&#xA;&#xA;&#34;Lee Jihoon itu temen deket Om pas Om baru pertama masuk kerja. Kami deket karena dia orangnya blak-blakan, tapi baiknya setengah mati. Cuma dia yang mau bantuin Om yang anak baru belom pernah kerja ini,&#34; ia mulai hanyut dalam nostalgia.&#xA;&#xA;&#34;Papa kamu itu manajer departemen kita pas itu. Dulu, Om sama mama kamu naksir dia.&#34;&#xA;&#xA;Kekehnya geli.&#xA;&#xA;&#34;Kita sama-sama usaha narik perhatian dia, tapi emang dasar papa kamu tuh ya. Orangnya dingin banget. Pernah mama kamu sama Om buatin dia cokelat pas Valentine, eh dibuang dong dua-duanya depan mata.&#34;&#xA;&#xA;Dia masih ingat bagaimana mereka berdua cengo sampai Wen Junhui pergi, lihat-lihatan, lalu ketawa bareng.&#xA;&#xA;&#34;Tapi ya, yaudah. Kayak gitu aja. Terus Om resign dari kantor itu buat mulai usaha sendiri. Nggak berapa lama, Om ketemu lagi sama papanya anak-anak Om. Dan, yah, begini. Mana pernah kepikiran selingkuh, Om ini, Nak, apalagi sama suami temen lama sendiri.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terus...surat itu....?&#34;&#xA;&#xA;Minghao tersenyum.&#xA;&#xA;&#34;Nak. Sebelum Om terima surat-surat ini dari kamu, Om nggak tau kalo papa kamu suka sama Om.&#34;&#xA;&#xA;Dibaliknya amplop itu.&#xA;&#xA;&#34;....Ini surat lama, kan?&#34;&#xA;&#xA;Lee Chan tetap terdiam.&#xA;&#xA;&#34;Ini surat lama. Isi di dalamnya udah kadaluwarsa. Om yakin, perasaan papa kamu ke Om pun udah sama kadaluwarsanya. Mungkin sengaja disimpen di dalem laci meja kerjanya biar jadi kenang-kenangan aja,&#34; ditaruhnya surat ke atas meja. &#34;....Papa kamu emang bukan orang yang ekspresif dari dulu, tapi Om yakin dia sayang sama kamu dan mama kamu, Nak.&#34;&#xA;&#xA;Tiba-tiba, anak lelakinya angkat bicara. &#34;Tapi, Mah, Kakak liat Mamah nyium surat yang pertama...?&#34; tanyanya.&#xA;&#xA;&#34;Oh. Abisan suratnya wangi. Mama pingin tau pake parfum apa sih, wanginya enak,&#34; tawanya terlantun.&#xA;&#xA;&#34;....,&#34; anak lelakinya merasa lemas. Ia terduduk kembali. &#34;.....Jadi karena wangi...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kenapa? Kamu kira Mama selingkuh dari papa kamu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Abisnya Mama...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nak. Mama nggak mungkin khianatin papa kamu. Papa kamu orang sebaik ini. Yang ada justru Mama yang nggak pantes buat orang sebaik papa kamu. Pas nikah dulu pun, walau kita nikah sebatas bisnis--&#34;&#xA;&#xA;&#34;....Mama sama Papa nikah bukan karena cinta?&#34; lagi, anak lelakinya menyela.&#xA;&#xA;&#34;Ups.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hao,&#34; Mingyu menggeram.&#xA;&#xA;&#34;Mah! Pah! Kalian nikah bukan karena cinta??&#34; didorongnya lebih jauh. Anak lelakinya tak kalah keras kepala.&#xA;&#xA;&#34;...Yah, karena keselip, oke, Mama ceritain ya....&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaoparents" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaoparents</span></a></p>

<p>Setelah semua lebih tenang, mereka berpindah ke ruang keluarga. Minghao membuatkan anak itu secangkir cokelat panas. Seluruh keluarga Kim duduk di sana dengan perasaan masing-masing. Mereka menunggu sampai Minghao sendiri duduk dan mulai menjelaskan.</p>



<p>“Jadi kamu anak Jihoon?” senyumnya ramah. “Om bisa liat miripnya kamu sama mama kamu.”</p>

<p>”? Om kenal mama saya?”</p>

<p>“Om baru aja ketemu mama kamu beberapa hari yang lalu,” tawanya ringan. “Pas reuni kantor lama Om. Mama kamu bawain banyak oleh-oleh buat Om.”</p>

<p>Menyaksikan kebingungan teramat sangat di paras anak lelaki itu membuat Minghao menghela napas.</p>

<p>“Lee Jihoon itu temen deket Om pas Om baru pertama masuk kerja. Kami deket karena dia orangnya blak-blakan, tapi baiknya setengah mati. Cuma dia yang mau bantuin Om yang anak baru belom pernah kerja ini,” ia mulai hanyut dalam nostalgia.</p>

<p>“Papa kamu itu manajer departemen kita pas itu. Dulu, Om sama mama kamu naksir dia.”</p>

<p>Kekehnya geli.</p>

<p>“Kita sama-sama usaha narik perhatian dia, tapi emang dasar papa kamu tuh ya. Orangnya dingin banget. Pernah mama kamu sama Om buatin dia cokelat pas Valentine, eh dibuang dong dua-duanya depan mata.”</p>

<p>Dia masih ingat bagaimana mereka berdua cengo sampai Wen Junhui pergi, lihat-lihatan, lalu ketawa bareng.</p>

<p>“Tapi ya, yaudah. Kayak gitu aja. Terus Om resign dari kantor itu buat mulai usaha sendiri. Nggak berapa lama, Om ketemu lagi sama papanya anak-anak Om. Dan, yah, begini. Mana pernah kepikiran selingkuh, Om ini, Nak, apalagi sama suami temen lama sendiri.”</p>

<p>“Terus...surat itu....?”</p>

<p>Minghao tersenyum.</p>

<p>“Nak. Sebelum Om terima surat-surat ini dari kamu, Om nggak tau kalo papa kamu suka sama Om.”</p>

<p>Dibaliknya amplop itu.</p>

<p>”....Ini surat lama, kan?”</p>

<p>Lee Chan tetap terdiam.</p>

<p>“Ini surat lama. Isi di dalamnya udah kadaluwarsa. Om yakin, perasaan papa kamu ke Om pun udah sama kadaluwarsanya. Mungkin sengaja disimpen di dalem laci meja kerjanya biar jadi kenang-kenangan aja,” ditaruhnya surat ke atas meja. “....Papa kamu emang bukan orang yang ekspresif dari dulu, tapi Om yakin dia sayang sama kamu dan mama kamu, Nak.”</p>

<p>Tiba-tiba, anak lelakinya angkat bicara. “Tapi, Mah, Kakak liat Mamah nyium surat yang pertama...?” tanyanya.</p>

<p>“Oh. Abisan suratnya wangi. Mama pingin tau pake parfum apa sih, wanginya enak,” tawanya terlantun.</p>

<p>”....,” anak lelakinya merasa lemas. Ia terduduk kembali. “.....Jadi karena wangi...”</p>

<p>“Kenapa? Kamu kira Mama selingkuh dari papa kamu?”</p>

<p>“Abisnya Mama...”</p>

<p>“Nak. Mama nggak mungkin khianatin papa kamu. Papa kamu orang sebaik ini. Yang ada justru Mama yang nggak pantes buat orang sebaik papa kamu. Pas nikah dulu pun, walau kita nikah sebatas bisnis—”</p>

<p>”....Mama sama Papa nikah bukan karena cinta?” lagi, anak lelakinya menyela.</p>

<p>“Ups.”</p>

<p>“Hao,” Mingyu menggeram.</p>

<p>“Mah! Pah! Kalian nikah bukan karena cinta??” didorongnya lebih jauh. Anak lelakinya tak kalah keras kepala.</p>

<p>”...Yah, karena keselip, oke, Mama ceritain ya....”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/52</guid>
      <pubDate>Wed, 13 May 2020 01:40:16 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>51.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/51?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaoparents&#xA;&#xA;&#34;Selamat pagi.&#34;&#xA;&#xA;Minghao mengerjap, kemudian tersenyum. &#34;Selamat pagi,&#34; meski ia tidak mengenal anak berambut hitam dan bermata sipit itu, namun tetap ia sapa dengan ramah. Anak itu kira-kira seumuran dengan anak-anaknya. Mungkin teman salah satu dari mereka.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Om yang namanya Xu Minghao?&#34;&#xA;&#xA;Kernyitan alis. &#34;Iya...?&#34; bingung terpancar di mimiknya.&#xA;&#xA;&#34;Saya Lee Chan, Om.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh. Halo. Emm, kamu temen anak saya--&#34;&#xA;&#xA;&#34;NGAPAIN LO DI SINI?!&#34;&#xA;&#xA;Kaget, Minghao berbalik. Berderap galak mendekati ibunya yang tengah menyambut tamu di ambang pintu depan, anak perempuannya tidak pakai basa-basi langsung menggamit kerah anak lelaki itu dan mendorongnya hingga punggung membentur pintu. Ekspresinya marah besar.&#xA;&#xA;&#34;Adek??&#34; Minghao panik. Kenapa ini, pagi-pagi begini?&#xA;&#xA;&#34;Special delivery for you, Ms. Kim,&#34; Lee Chan meringis. Tak gentar akan ancaman terang-terangan tersebut. Diambilnya sebuah amplop dari saku jaketnya untuk ditunjukkannya ke depan batang hidung anak perempuan itu. &#34;Ato gue kasih langsung ke nyokap lo?&#34;&#xA;&#xA;Anak perempuannya menoleh cepat ke belakang. Ia bisa melihat kedatangan kakak dan ayahnya yang terpanggil oleh suara gaduh tak biasa.&#xA;&#xA;&#34;Or should I say, nyokap kita?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh?&#34; bola mata Minghao melebar.&#xA;&#xA;&#34;...DIEM!&#34;&#xA;&#xA;BRAK!&#xA;&#xA;Didorongnya sekali lagi anak lelaki itu.&#xA;&#xA;&#34;DIEM, DIEM, DIEM! ITU NYOKAP GUE! BUKAN NYOKAP LO! GUE ANAK BOKAP GUE SAMA NYOKAP GUE! LO DIEM, BANGSAT, DIEM!&#34; angkara, mengalir keluar bersama seluruh ketakutannya. Pegangan pada kerah ia lepas agar ia bisa menghajar anak itu bertubi-tubi, walau ia yakin kepalan tangannya terlalu lemah untuk menimbulkan luka berarti. Sambil menangis tersedu-sedu, anak perempuan itu tidak berhenti memukuli Lee Chan. &#34;DIEM! DIEM! KENAPA LO HARUS MUNCUL? NYOKAP GUE, NYOKAP GUE--&#34;&#xA;&#xA;&#34;ADEK!&#34; sepasang lengan memeluk dan menarik pinggangnya, menjauhkan anak perempuan itu dari Lee Chan. &#34;Sayang, kenapa? Siapa ini? Kenalan Adek? Kenapa berantem??&#34;&#xA;&#xA;Suara itu milik ibunya, yang cemas menonton kejadian di depan matanya. Kucuran air matanya tak jua berhenti, malah semakin tak tertahankan.&#xA;&#xA;&#34;Mama... hiks...Adek anak Mama sama Papa, kan...? Adek anak Mama sama Papa, kan, bukan-hiks-Mama sama orang lain...? Mama sayang sama Papa kan...?&#34; kalimat yang keluar dari mulut anak gadisnya begitu pilu hingga menyayat hati Xu Minghao. &#34;Mama...Mama...&#34;&#xA;&#xA;Dibaliknya anak itu agar ia bisa memeluknya dengan benar.&#xA;&#xA;&#34;.....Kamu siapa?&#34; matanya bertemu dengan Lee Chan. Kelembutannya menguap begitu cepat. Bagai induk yang tengah melindungi bayinya, tatapannya pada anak lelaki itu tegas dan tajam, persis seperti Minghao sebelum ia menikah dengan Mingyu, seorang pria yang terkenal sarkastis dan bertangan dingin sehari-harinya.&#xA;&#xA;Lee Chan, meskipun begitu, tidak goyah sama sekali.&#xA;&#xA;&#34;Salam kenal, Om. Nama saya Lee Chan. Saya temen sekelas anak perempuan Om, baru pindah dari Bandung,&#34; ia mengangguk sopan sebagai salam perkenalan. &#34;Walau saya nggak tau apa saya benar anaknya, tapi nama ibu saya Lee Jihoon. Dan nama ayah saya Wen Junhui.&#34;&#xA;&#xA;Senyuman anak itu terkembang manis ketika mengulurkan sepucuk surat.&#xA;&#xA;&#34;Ini ada surat buat Om dari ayah saya. Pacar gelap Om.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu menarik napas mendadak. Urat di lehernya sama tegang dengan rahangnya. Tangannya terkepal otomatis. Anak lelakinya yang melihat perubahan pada ayahnya, mulai cemas.&#xA;&#xA;&#34;Pah...,&#34; bisiknya, sambil memegang lengan ayahnya.&#xA;&#xA;Minghao diam seribu bahasa. Diterimanya surat itu dan dibacanya. Rumah besar itu begitu hening sampai suara jam di dinding bisa terdengar nyaring. Tak ada seorang pun yang berani angkat bicara sampai Minghao selesai membaca.&#xA;&#xA;&#34;.....Jadi kamu yang ngirimin surat-surat ini, Nak?&#34;&#xA;&#xA;Lee Chan mengangguk.&#xA;&#xA;&#34;Dan dari surat ini, kamu nyimpulin Om sama Papa kamu selingkuh?&#34;&#xA;&#xA;Sekali lagi, ia mengangguk.&#xA;&#xA;&#34;Terus terang ya, Om. Ini jawaban yang selama ini saya cari,&#34; ia mulai menjelaskan. &#34;Selama ini, rumah saya dingin. Ayah saya kerja terus siang dan malam, ngebiarin ibu saya urus anak sendirian. Ayah saya nggak pernah nunjukin kalo dia sayang ibu saya dan saya. Selama ini saya selalu cari alasannya, kenapa ayah saya begitu?&#34;&#xA;&#xA;Lee Chan menunjuk surat itu.&#xA;&#xA;&#34;Ternyata, jawaban yang saya cari ada di laci meja kerja ayah saya, disimpen rapi di sana,&#34; ia terkekeh geli. &#34;Bodoh banget kan? Wajar Ayah saya nggak pernah sayang ibu saya, kalo dia punya selingkuhan selama ini.&#34;&#xA;&#xA;Dihelanya napas.&#xA;&#xA;&#34;....Tadinya, saya nggak mau kirim surat-surat itu. Karena penasaran pingin lihat kayak gimana sih selingkuhan ayah saya, saya pernah dateng ke rumah ini sekali. Cuma mau lihat aja.&#xA;&#xA;Tapi...yang saya temuin malah keluarga harmonis. Ayah yang ngejar anak-anaknya dengan kotak bekal di kedua tangan. Orangtua yang pelok dan cium pipi mereka sebelum berangkat sekolah...&#34;&#xA;&#xA;Ia mati-matian menahan tangis, teringat rasa kesal yang berkecamuk dalam dadanya saat itu.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa....kenapa keluarga Om bahagia? Kenapa saya nggak bisa seperti anak-anak itu? Kenapa ibu saya selalu mandang saya seakan dia minta maaf, padahal ini semua bukan salah dia? Kenapa ayah saya nggak bisa sayang ibu saya? Kena--&#34;&#xA;&#xA;Suaranya mendadak berhenti.&#xA;&#xA;&#34;...Adek.&#34;&#xA;&#xA;Tidak ada jawaban.&#xA;&#xA;&#34;Adek. Pukul lagi anak itu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;? Mah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Pukul terus, sampe dia nangis,&#34; pelukannya pada anak gadisnya ia lepas. &#34;Sampe dia nangis dan ngeluarin semua yang dia simpen sendirian selama ini.&#34; Ia berjalan dan, kini, berdiri di depan anak lelaki bernama Lee Chan itu.&#xA;&#xA;&#34;?!&#34;&#xA;&#xA;Mendadak, ia memeluk anak itu.&#xA;&#xA;&#34;Nangis.&#34;&#xA;&#xA;Perintahnya, membuat anak itu makin panik, mencoba mendorong dan melepaskan diri. Meski begitu, ia tak bisa kemana-mana. Tenaga Xu Minghao terlalu kuat baginya.&#xA;&#xA;&#34;Ayo, nangis,&#34; diusapnya belakang kepala anak itu. &#34;Kamu udah berjuang selama ini. Anak baik. Anak baik.&#34;&#xA;&#xA;Usap, usap&#xA;&#xA;Pandangan mata Chan mulai buram akan air mata yang menggenang di sana.&#xA;&#xA;&#34;Kamu sayang Papa sama Mama kamu kan?&#34;&#xA;&#xA;Tangisnya pun turun, diam-diam, membuat basah pipi dan baju Xu Minghao.&#xA;&#xA;&#34;Anak baik...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hng-&#34;&#xA;&#xA;Kemudian, Lee Chan balas memeluk orang itu. Orang yang ia benci. Orang yang mengambil andil dalam membuat hidupnya dan ibunya menderita. Orang yang telah mencuri ayahnya dari mereka.&#xA;&#xA;&#34;UUUWWWWAAAAAAAAAAHH!!!&#34;&#xA;&#xA;Orang yang pelukannya sehangat ini.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaoparents" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaoparents</span></a></p>

<p>“Selamat pagi.”</p>

<p>Minghao mengerjap, kemudian tersenyum. “Selamat pagi,” meski ia tidak mengenal anak berambut hitam dan bermata sipit itu, namun tetap ia sapa dengan ramah. Anak itu kira-kira seumuran dengan anak-anaknya. Mungkin teman salah satu dari mereka.</p>



<p>“Om yang namanya Xu Minghao?”</p>

<p>Kernyitan alis. “Iya...?” bingung terpancar di mimiknya.</p>

<p>“Saya Lee Chan, Om.”</p>

<p>“Oh. Halo. Emm, kamu temen anak saya—”</p>

<p>“NGAPAIN LO DI SINI?!”</p>

<p>Kaget, Minghao berbalik. Berderap galak mendekati ibunya yang tengah menyambut tamu di ambang pintu depan, anak perempuannya tidak pakai basa-basi langsung menggamit kerah anak lelaki itu dan mendorongnya hingga punggung membentur pintu. Ekspresinya marah besar.</p>

<p>“Adek??” Minghao panik. Kenapa ini, pagi-pagi begini?</p>

<p>“Special delivery for you, Ms. Kim,” Lee Chan meringis. Tak gentar akan ancaman terang-terangan tersebut. Diambilnya sebuah amplop dari saku jaketnya untuk ditunjukkannya ke depan batang hidung anak perempuan itu. “Ato gue kasih langsung ke nyokap lo?”</p>

<p>Anak perempuannya menoleh cepat ke belakang. Ia bisa melihat kedatangan kakak dan ayahnya yang terpanggil oleh suara gaduh tak biasa.</p>

<p>“Or should I say, nyokap kita?”</p>

<p>“Eh?” bola mata Minghao melebar.</p>

<p>”...DIEM!”</p>

<p><em><strong>BRAK!</strong></em></p>

<p>Didorongnya sekali lagi anak lelaki itu.</p>

<p>“DIEM, DIEM, DIEM! ITU NYOKAP GUE! BUKAN NYOKAP LO! GUE ANAK BOKAP GUE SAMA NYOKAP GUE! LO DIEM, BANGSAT, DIEM!” angkara, mengalir keluar bersama seluruh ketakutannya. Pegangan pada kerah ia lepas agar ia bisa menghajar anak itu bertubi-tubi, walau ia yakin kepalan tangannya terlalu lemah untuk menimbulkan luka berarti. Sambil menangis tersedu-sedu, anak perempuan itu tidak berhenti memukuli Lee Chan. “DIEM! DIEM! KENAPA LO HARUS MUNCUL? NYOKAP GUE, NYOKAP GUE—”</p>

<p>“ADEK!” sepasang lengan memeluk dan menarik pinggangnya, menjauhkan anak perempuan itu dari Lee Chan. “Sayang, kenapa? Siapa ini? Kenalan Adek? Kenapa berantem??”</p>

<p>Suara itu milik ibunya, yang cemas menonton kejadian di depan matanya. Kucuran air matanya tak jua berhenti, malah semakin tak tertahankan.</p>

<p>“Mama... hiks...Adek anak Mama sama Papa, kan...? Adek anak Mama sama Papa, kan, bukan-hiks-Mama sama orang lain...? Mama sayang sama Papa kan...?” kalimat yang keluar dari mulut anak gadisnya begitu pilu hingga menyayat hati Xu Minghao. “Mama...Mama...”</p>

<p>Dibaliknya anak itu agar ia bisa memeluknya dengan benar.</p>

<p>”.....Kamu siapa?” matanya bertemu dengan Lee Chan. Kelembutannya menguap begitu cepat. Bagai induk yang tengah melindungi bayinya, tatapannya pada anak lelaki itu tegas dan tajam, persis seperti Minghao sebelum ia menikah dengan Mingyu, seorang pria yang terkenal sarkastis dan bertangan dingin sehari-harinya.</p>

<p>Lee Chan, meskipun begitu, tidak goyah sama sekali.</p>

<p>“Salam kenal, Om. Nama saya Lee Chan. Saya temen sekelas anak perempuan Om, baru pindah dari Bandung,” ia mengangguk sopan sebagai salam perkenalan. “Walau saya nggak tau apa saya benar anaknya, tapi nama ibu saya Lee Jihoon. Dan nama ayah saya Wen Junhui.”</p>

<p>Senyuman anak itu terkembang manis ketika mengulurkan sepucuk surat.</p>

<p>“Ini ada surat buat Om dari ayah saya. Pacar gelap Om.”</p>

<p>Mingyu menarik napas mendadak. Urat di lehernya sama tegang dengan rahangnya. Tangannya terkepal otomatis. Anak lelakinya yang melihat perubahan pada ayahnya, mulai cemas.</p>

<p>“Pah...,” bisiknya, sambil memegang lengan ayahnya.</p>

<p>Minghao diam seribu bahasa. Diterimanya surat itu dan dibacanya. Rumah besar itu begitu hening sampai suara jam di dinding bisa terdengar nyaring. Tak ada seorang pun yang berani angkat bicara sampai Minghao selesai membaca.</p>

<p>”.....Jadi kamu yang ngirimin surat-surat ini, Nak?”</p>

<p>Lee Chan mengangguk.</p>

<p>“Dan dari surat ini, kamu nyimpulin Om sama Papa kamu selingkuh?”</p>

<p>Sekali lagi, ia mengangguk.</p>

<p>“Terus terang ya, Om. Ini jawaban yang selama ini saya cari,” ia mulai menjelaskan. “Selama ini, rumah saya dingin. Ayah saya kerja terus siang dan malam, ngebiarin ibu saya urus anak sendirian. Ayah saya nggak pernah nunjukin kalo dia sayang ibu saya dan saya. Selama ini saya selalu cari alasannya, kenapa ayah saya begitu?”</p>

<p>Lee Chan menunjuk surat itu.</p>

<p>“Ternyata, jawaban yang saya cari ada di laci meja kerja ayah saya, disimpen rapi di sana,” ia terkekeh geli. “Bodoh banget kan? Wajar Ayah saya nggak pernah sayang ibu saya, kalo dia punya selingkuhan selama ini.”</p>

<p>Dihelanya napas.</p>

<p>”....Tadinya, saya nggak mau kirim surat-surat itu. Karena penasaran pingin lihat kayak gimana sih selingkuhan ayah saya, saya pernah dateng ke rumah ini sekali. Cuma mau lihat aja.</p>

<p>Tapi...yang saya temuin malah keluarga harmonis. Ayah yang ngejar anak-anaknya dengan kotak bekal di kedua tangan. Orangtua yang pelok dan cium pipi mereka sebelum berangkat sekolah...”</p>

<p>Ia mati-matian menahan tangis, teringat rasa kesal yang berkecamuk dalam dadanya saat itu.</p>

<p>“Kenapa....kenapa keluarga Om bahagia? Kenapa saya nggak bisa seperti anak-anak itu? Kenapa ibu saya selalu mandang saya seakan dia minta maaf, padahal ini semua bukan salah dia? Kenapa ayah saya nggak bisa sayang ibu saya? Kena—”</p>

<p>Suaranya mendadak berhenti.</p>

<p>”...Adek.”</p>

<p>Tidak ada jawaban.</p>

<p>“Adek. Pukul lagi anak itu.”</p>

<p>”? Mah?”</p>

<p>“Pukul terus, sampe dia nangis,” pelukannya pada anak gadisnya ia lepas. “Sampe dia nangis dan ngeluarin semua yang dia simpen sendirian selama ini.” Ia berjalan dan, kini, berdiri di depan anak lelaki bernama Lee Chan itu.</p>

<p>”?!”</p>

<p>Mendadak, ia memeluk anak itu.</p>

<p>“Nangis.”</p>

<p>Perintahnya, membuat anak itu makin panik, mencoba mendorong dan melepaskan diri. Meski begitu, ia tak bisa kemana-mana. Tenaga Xu Minghao terlalu kuat baginya.</p>

<p>“Ayo, nangis,” diusapnya belakang kepala anak itu. “Kamu udah berjuang selama ini. Anak baik. Anak baik.”</p>

<p>Usap, usap</p>

<p>Pandangan mata Chan mulai buram akan air mata yang menggenang di sana.</p>

<p>“Kamu sayang Papa sama Mama kamu kan?”</p>

<p>Tangisnya pun turun, diam-diam, membuat basah pipi dan baju Xu Minghao.</p>

<p>“Anak baik...”</p>

<p>“Hng-”</p>

<p>Kemudian, Lee Chan balas memeluk orang itu. Orang yang ia benci. Orang yang mengambil andil dalam membuat hidupnya dan ibunya menderita. Orang yang telah mencuri ayahnya dari mereka.</p>

<p><em><strong>“UUUWWWWAAAAAAAAAAHH!!!”</strong></em></p>

<p>Orang yang pelukannya sehangat ini.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/51</guid>
      <pubDate>Wed, 13 May 2020 01:13:19 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>49.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/49?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaoparents&#xA;&#xA;&#34;Pah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Papah lagi ngapain kok malem-malem di balkon gini?&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Dengan jaket tersampir di atas piyamanya, anak lelakinya menutup pintu geser menuju balkon agar angin dingin tidak masuk lebih banyak. Ia menempatkan diri di sisi ayahnya yang sedang menumpu lengan pada pegangan.&#xA;&#xA;&#34;Lagi liat bulan nih,&#34; ringis ayahnya. &#34;Bagus.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Papah ngerokok lagi?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jangan bilang Mama.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bukannya Papa udah berhenti?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm...,&#34; Mingyu menghisap batang putih itu dalam-dalam sebelum dihembuskan. Kemudian, ia mematikannya di asbak di atas meja bundar kecil.&#xA;&#xA;&#34;Papa lagi banyak pikiran, Nak,&#34; akunya dengan jujur. &#34;Kakak nggak tidur? Besok kan sekolah?&#34; Saat itu, waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam.&#xA;&#xA;Tentunya anak itu tidak bisa mengatakan pada ayahnya bagaimana ia tadi menemani adiknya yang menceritakan isi Whatsapp yang ia dapat dari &#39;anak selingkuhan mama&#39; sambil terisak-isak. Ia tak bisa mengatakan pada ayahnya bagaimana ia memeluk adiknya, menenangkannya, mengelusi punggungnya, menjanjikan perlindungan dan keutuhan keluarga mereka padanya, sampai adiknya jatuh terlelap.&#xA;&#xA;(&#34;Ini-hiks-ini pasti karma kan, Kak? Gara-gara aku. Gara-gara aku ngarepin Papa sama Mama selingkuh. Beneran dikabulin. Gara-gara aku.&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Adek! Mama tau kok Om Wonu itu mantan pacar Papa! Papa nggak selingkuh! Kan Kakak udah cerita ke kamu jawaban Mama soal Om Wonu! Lagian, inget kan, Papa tadi pagi cerita ke kita kalo Om Soonyoung hamil? Om Wonu sama Om Soonyoung saling cinta, Dek, Papa sama Mama juga--&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Tapi Mama selingkuh.&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Adek...&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Kalo Mama nggak selingkuh, surat-surat itu nggak akan pernah ada, Kak. Chan juga nggak bakal nongol ke depan kita. Gara-gara aku. Aku bilang Mama Papa mungkin selingkuh, ternyata beneran selingkuh--&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Adek...Dek...besok...besok kalo suratnya dateng, kita baca sama-sama ya?&#34;)&#xA;&#xA;Anak lelakinya hanya menggeleng. Mingyu tidak mendorong lebih jauh lagi. Mereka berdiri bersisian dalam diam dengan kepala mendongak menikmati keindahan malam. Amat disayangkan, di tengah kota besar macam ini, hampir tak ada bintang terlihat, pancaran mereka kalah oleh penerangan buatan manusia. Namun, bulan putih tetap menggantung di sana, sendirian, tanpa ragu, tanpa takut merefleksikan cahaya ke bumi.&#xA;&#xA;Seberapa cepat pun waktu berlalu, ia akan tetap ada di sana, memerhatikan manusia di bawahnya.&#xA;&#xA;&#34;Pah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Papah sayang Mama?&#34;&#xA;&#xA;Mingyu tersenyum. Diusreknya kepala hitam berantakan khas anak lelakinya. Lalu, tatap mereka bertemu.&#xA;&#xA;&#34;Pah?&#34;&#xA;&#xA;Anak lelakinya memaksa untuk balas tersenyum, berusaha keras menyembunyikan kegetiran dalam dada karena ayahnya tak langsung menjawab. Diteguknya ludah diam-diam.&#xA;&#xA;Mereka tidak salah, kan? Setidaknya...setidaknya ayah mereka menyayangi ibu mereka...kan?&#xA;&#xA;&#34;....Kakak,&#34; Kim Mingyu menangkup pipi anaknya dengan lembut. Tatapnya lurus dan tulus. &#34;Jujur, Papa nggak tau harus jawab apa.&#34;&#xA;&#xA;Ia melanjutkan.&#xA;&#xA;&#34;Soalnya, kata &#39;sayang&#39; aja nggak cukup buat jelasin perasaan Papa ke Mama kamu.&#34;&#xA;&#xA;Rasa syukur. Berterima kasih. Kelegaan. Rasa dimiliki dan memiliki. Bertukar pikiran. Persahabatan. Kenyamanan. Kebahagiaan. Keinginan melindungi. Keinginan dilindungi. Tempat bermanja dan berbagi canda. Pertengkaran sebagai warna. Kawan lama. Partner bisnis. Teman hidup.&#xA;&#xA;Rasa cinta.&#xA;&#xA;Cinta, cinta, cinta.&#xA;&#xA;Menjadi satu dengan pori-porinya. Dalam tiap tarikan napasnya. Di setiap tutur katanya dan doa kecil dalam hatinya.&#xA;&#xA;Hao...&#xA;&#xA;&#34;Mama kamu itu segalanya bagi Papa, Nak.&#34;&#xA;&#xA;Dan, tumpah. Anak lelakinya menangis, deras mengucur, memeluk ayahnya secara mendadak. Ikut terharu, Mingyu balas memeluk. Matanya sendiri mulai berkaca-kaca, meski ia tidak paham alasan anaknya sampai menangis.&#xA;&#xA;&#34;Kakak, kok nangis?&#34; tawa rendah terdengar. Dalam pelukan ayahnya, anak itu menggeleng kuat-kuat, terus saja air matanya mengalir. Mingyu mengecup puncak kepalanya. &#34;Sayang Papa, buah hati Papa, jangan nangis\~&#34;&#xA;&#xA;Mantra yang dahulu sering ia dengar diucapkan ayahnya ketika ia masih kecil dan cengeng.&#xA;&#xA;Adek, batinnya, sambil mengeratkan lengan di punggung ayahnya yang lebar. Adek. Seenggaknya, Papa kita sayang Mama, Dek. Adek jangan takut.&#xA;&#xA;Keluarga kita nggak apa-apa, Dek.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaoparents" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaoparents</span></a></p>

<p>“Pah?”</p>

<p>“Hmm?”</p>

<p>“Papah lagi ngapain kok malem-malem di balkon gini?”</p>



<p>Dengan jaket tersampir di atas piyamanya, anak lelakinya menutup pintu geser menuju balkon agar angin dingin tidak masuk lebih banyak. Ia menempatkan diri di sisi ayahnya yang sedang menumpu lengan pada pegangan.</p>

<p>“Lagi liat bulan nih,” ringis ayahnya. “Bagus.”</p>

<p>“Papah ngerokok lagi?”</p>

<p>“Jangan bilang Mama.”</p>

<p>“Bukannya Papa udah berhenti?”</p>

<p>“Hmm...,” Mingyu menghisap batang putih itu dalam-dalam sebelum dihembuskan. Kemudian, ia mematikannya di asbak di atas meja bundar kecil.</p>

<p>“Papa lagi banyak pikiran, Nak,” akunya dengan jujur. “Kakak nggak tidur? Besok kan sekolah?” Saat itu, waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam.</p>

<p>Tentunya anak itu tidak bisa mengatakan pada ayahnya bagaimana ia tadi menemani adiknya yang menceritakan isi Whatsapp yang ia dapat dari &#39;anak selingkuhan mama&#39; sambil terisak-isak. Ia tak bisa mengatakan pada ayahnya bagaimana ia memeluk adiknya, menenangkannya, mengelusi punggungnya, menjanjikan perlindungan dan keutuhan keluarga mereka padanya, sampai adiknya jatuh terlelap.</p>

<p><em>(“Ini-hiks-ini pasti karma kan, Kak? Gara-gara aku. Gara-gara aku ngarepin Papa sama Mama selingkuh. Beneran dikabulin. Gara-gara aku.”)</em></p>

<p><em>(“Adek! Mama tau kok Om Wonu itu mantan pacar Papa! Papa nggak selingkuh! Kan Kakak udah cerita ke kamu jawaban Mama soal Om Wonu! Lagian, inget kan, Papa tadi pagi cerita ke kita kalo Om Soonyoung hamil? Om Wonu sama Om Soonyoung saling cinta, Dek, Papa sama Mama juga—”)</em></p>

<p><em>(“Tapi Mama selingkuh.”)</em></p>

<p><em>(“Adek...”)</em></p>

<p><em>(“Kalo Mama nggak selingkuh, surat-surat itu nggak akan pernah ada, Kak. Chan juga nggak bakal nongol ke depan kita. Gara-gara aku. Aku bilang Mama Papa mungkin selingkuh, ternyata beneran selingkuh—”)</em></p>

<p><em>(“Adek...Dek...besok...besok kalo suratnya dateng, kita baca sama-sama ya?”)</em></p>

<p>Anak lelakinya hanya menggeleng. Mingyu tidak mendorong lebih jauh lagi. Mereka berdiri bersisian dalam diam dengan kepala mendongak menikmati keindahan malam. Amat disayangkan, di tengah kota besar macam ini, hampir tak ada bintang terlihat, pancaran mereka kalah oleh penerangan buatan manusia. Namun, bulan putih tetap menggantung di sana, sendirian, tanpa ragu, tanpa takut merefleksikan cahaya ke bumi.</p>

<p>Seberapa cepat pun waktu berlalu, ia akan tetap ada di sana, memerhatikan manusia di bawahnya.</p>

<p>“Pah.”</p>

<p>“Hmm?”</p>

<p>“Papah sayang Mama?”</p>

<p>Mingyu tersenyum. Diusreknya kepala hitam berantakan khas anak lelakinya. Lalu, tatap mereka bertemu.</p>

<p>“Pah?”</p>

<p>Anak lelakinya memaksa untuk balas tersenyum, berusaha keras menyembunyikan kegetiran dalam dada karena ayahnya tak langsung menjawab. Diteguknya ludah diam-diam.</p>

<p>Mereka tidak salah, kan? Setidaknya...setidaknya ayah mereka menyayangi ibu mereka...kan?</p>

<p>”....Kakak,” Kim Mingyu menangkup pipi anaknya dengan lembut. Tatapnya lurus dan tulus. “Jujur, Papa nggak tau harus jawab apa.”</p>

<p>Ia melanjutkan.</p>

<p>“Soalnya, kata &#39;sayang&#39; aja nggak cukup buat jelasin perasaan Papa ke Mama kamu.”</p>

<p>Rasa syukur. Berterima kasih. Kelegaan. Rasa dimiliki dan memiliki. Bertukar pikiran. Persahabatan. Kenyamanan. Kebahagiaan. Keinginan melindungi. Keinginan dilindungi. Tempat bermanja dan berbagi canda. Pertengkaran sebagai warna. Kawan lama. Partner bisnis. Teman hidup.</p>

<p>Rasa cinta.</p>

<p><em>Cinta, cinta, cinta.</em></p>

<p>Menjadi satu dengan pori-porinya. Dalam tiap tarikan napasnya. Di setiap tutur katanya dan doa kecil dalam hatinya.</p>

<p><em>Hao...</em></p>

<p>“Mama kamu itu segalanya bagi Papa, Nak.”</p>

<p>Dan, tumpah. Anak lelakinya menangis, deras mengucur, memeluk ayahnya secara mendadak. Ikut terharu, Mingyu balas memeluk. Matanya sendiri mulai berkaca-kaca, meski ia tidak paham alasan anaknya sampai menangis.</p>

<p>“Kakak, kok nangis?” tawa rendah terdengar. Dalam pelukan ayahnya, anak itu menggeleng kuat-kuat, terus saja air matanya mengalir. Mingyu mengecup puncak kepalanya. “Sayang Papa, buah hati Papa, jangan nangis~“</p>

<p>Mantra yang dahulu sering ia dengar diucapkan ayahnya ketika ia masih kecil dan cengeng.</p>

<p><em>Adek</em>, batinnya, sambil mengeratkan lengan di punggung ayahnya yang lebar. <em>Adek. Seenggaknya, Papa kita sayang Mama, Dek. Adek jangan takut.</em></p>

<p><em>Keluarga kita nggak apa-apa, Dek.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/49</guid>
      <pubDate>Mon, 11 May 2020 16:34:22 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>47.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/47?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaoparents&#xA;&#xA;Begitu sambungan telepon diputuskan, Wonwoo langsung beranjak dari sofa dan mengambil barang-barangnya, bagai orang kesetanan. Tentunya ini membuat Mingyu kian cemas.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Won, Soonyoung kenapa?? Dia nggak apa-apa kan?? Nggak ada masalah kan??&#34; ia sendiri ikut berdiri, mengambil tas Wonwoo yang ditaruh di dekat kakinya, lalu menyerahkannya.&#xA;&#xA;&#34;Gyu, gue bakal jadi papa!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nyong hamil, Gyu! Dia tadi ke dokter! Gue bakal jadi papa!&#34; sumringahnya lebar. Mata Wonwoo berbinar-binar. Tangannya mengambil handphone dan kunci mobil untuk dimasukkannya ke dalam saku. &#34;Gyu, sori ya, gue balik dulu. Lo mau gue telponin Mas Seok buat jemput lo? Lo jangan bawa mobil ya, nanti gue diamuk Hao kalo dia tau.&#34;&#xA;&#xA;&#34;No prob, nanti gue telpon dia. Congrats, bro!&#34; dengan senyuman tak kalah lebar, ia memeluk Wonwoo.&#xA;&#xA;&#34;Thanks, bro,&#34; ditepuk-tepuknya punggung Mingyu. &#34;Lo juga ya, cepet lurusin ini semua sama Hao. Aneh banget liat lo bedua berantem. Berantem itu bagian gue sama Soonyoung, lo sama Hao bagian mesra-mesra aja.&#34;&#xA;&#xA;Keduanya tertawa. Lalu, Mingyu melepaskan Wonwoo untuk mengantarnya pergi.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Ketika ia pulang, keadaan rumah sudah gelap. Rumah dua lantai bergaya modern itu sunyi sepi, hingga suara jam dinding mampu tertangkap telinganya. Kim Mingyu memandangi rumah yang mereka berdua bangun dari rancangannya sendiri, sementara Minghao mengambil andil dalam segi interior, terutama tekstilnya.&#xA;&#xA;Dibandingkan kemegahannya dalam kesederhanaan, rumah itu berarti bagi Mingyu karena kenangannya. Bagaimana ia dan Minghao pertama bercinta di kamar mereka. Bagaimana Minghao menimang bayi mereka di kursi goyang di teras belakang rumah. Bagaimana, setiap hari, ia menghabiskan waktu di dapur, memasak demi anak-anak mereka...&#xA;&#xA;Selipan lengan di sekeliling pinggang membangunkan Minghao sedikit.&#xA;&#xA;&#34;Mmh...?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sst, tidur lagi, Hao....,&#34; dikecupnya leher sang suami. Minghao mengerang dalam kantuk, mengulet sejenak, sebelum kembali terlelap. Mingyu telah mandi dan memakai celana training juga kaos hitam polosnya. Ia menaruh ibuprofen dan segelas air minum di nakas samping bagian kasurnya, berjaga-jaga apabila ia bangun dengan sakit kepala luar biasa.&#xA;&#xA;Dalam pelukannya, Minghao kembali tertidur. Tenang. Tentram. Bagai tak ada rahasia yang ia pendam.&#xA;&#xA;Mingyu ingin mempercayai. Ingin sekali. Ia selama ini yakin kalau Minghao mencintainya. Dari gerak-geriknya. Perhatiannya. Ucapannya.&#xA;&#xA;&#34;Tuhan...&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo, kamu salah. Ini bukan kecemasan tidak berarti.&#xA;&#xA;Ini ketakutan.&#xA;&#xA;Ketakutan luar biasa kalau Minghao, tanpa ia sadari, perlahan terlepas dari genggamannya, meninggalkannya, meninggalkan anak-anak mereka, bahkan mendorongnya untuk hampir berbuat bodoh dengan Wonwoo.&#xA;&#xA;Gelap mata dan setan lewat.&#xA;&#xA;&#34;...maafin aku...&#34;&#xA;&#xA;Suaranya serak. Pelukannya mengerat. Ia mengerucut, semakin membentuk fetus. Keningnya bersandar di bahu Minghao.&#xA;&#xA;&#34;...maaf...&#34;&#xA;&#xA;Maaf, karena aku hampir mengkhianati kamu.&#xA;&#xA;Tuhan...belum pernah Kim Mingyu merasa seperti ini...]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaoparents" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaoparents</span></a></p>

<p>Begitu sambungan telepon diputuskan, Wonwoo langsung beranjak dari sofa dan mengambil barang-barangnya, bagai orang kesetanan. Tentunya ini membuat Mingyu kian cemas.</p>



<p>“Won, Soonyoung kenapa?? Dia nggak apa-apa kan?? Nggak ada masalah kan??” ia sendiri ikut berdiri, mengambil tas Wonwoo yang ditaruh di dekat kakinya, lalu menyerahkannya.</p>

<p>“Gyu, gue bakal jadi papa!”</p>

<p>“Eh?”</p>

<p>“Nyong hamil, Gyu! Dia tadi ke dokter! Gue bakal jadi papa!” sumringahnya lebar. Mata Wonwoo berbinar-binar. Tangannya mengambil handphone dan kunci mobil untuk dimasukkannya ke dalam saku. “Gyu, sori ya, gue balik dulu. Lo mau gue telponin Mas Seok buat jemput lo? Lo jangan bawa mobil ya, nanti gue diamuk Hao kalo dia tau.”</p>

<p>“No prob, nanti gue telpon dia. Congrats, bro!” dengan senyuman tak kalah lebar, ia memeluk Wonwoo.</p>

<p>“Thanks, bro,” ditepuk-tepuknya punggung Mingyu. “Lo juga ya, cepet lurusin ini semua sama Hao. Aneh banget liat lo bedua berantem. Berantem itu bagian gue sama Soonyoung, lo sama Hao bagian mesra-mesra aja.”</p>

<p>Keduanya tertawa. Lalu, Mingyu melepaskan Wonwoo untuk mengantarnya pergi.</p>

<hr/>

<p>Ketika ia pulang, keadaan rumah sudah gelap. Rumah dua lantai bergaya modern itu sunyi sepi, hingga suara jam dinding mampu tertangkap telinganya. Kim Mingyu memandangi rumah yang mereka berdua bangun dari rancangannya sendiri, sementara Minghao mengambil andil dalam segi interior, terutama tekstilnya.</p>

<p>Dibandingkan kemegahannya dalam kesederhanaan, rumah itu berarti bagi Mingyu karena kenangannya. Bagaimana ia dan Minghao pertama bercinta di kamar mereka. Bagaimana Minghao menimang bayi mereka di kursi goyang di teras belakang rumah. Bagaimana, setiap hari, ia menghabiskan waktu di dapur, memasak demi anak-anak mereka...</p>

<p>Selipan lengan di sekeliling pinggang membangunkan Minghao sedikit.</p>

<p>“Mmh...?”</p>

<p>“Sst, tidur lagi, Hao....,” dikecupnya leher sang suami. Minghao mengerang dalam kantuk, mengulet sejenak, sebelum kembali terlelap. Mingyu telah mandi dan memakai celana training juga kaos hitam polosnya. Ia menaruh ibuprofen dan segelas air minum di nakas samping bagian kasurnya, berjaga-jaga apabila ia bangun dengan sakit kepala luar biasa.</p>

<p>Dalam pelukannya, Minghao kembali tertidur. Tenang. Tentram. Bagai tak ada rahasia yang ia pendam.</p>

<p>Mingyu ingin mempercayai. Ingin sekali. Ia selama ini yakin kalau Minghao mencintainya. Dari gerak-geriknya. Perhatiannya. Ucapannya.</p>

<p>“Tuhan...”</p>

<p><em>Wonwoo, kamu salah. Ini bukan kecemasan tidak berarti.</em></p>

<p>Ini ketakutan.</p>

<p>Ketakutan luar biasa kalau Minghao, tanpa ia sadari, perlahan terlepas dari genggamannya, meninggalkannya, meninggalkan anak-anak mereka, bahkan mendorongnya untuk hampir berbuat bodoh dengan Wonwoo.</p>

<p>Gelap mata dan setan lewat.</p>

<p>”...maafin aku...”</p>

<p>Suaranya serak. Pelukannya mengerat. Ia mengerucut, semakin membentuk fetus. Keningnya bersandar di bahu Minghao.</p>

<p>”...maaf...”</p>

<p><em>Maaf, karena aku hampir mengkhianati kamu.</em></p>

<p>Tuhan...belum pernah Kim Mingyu merasa seperti ini...</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/47</guid>
      <pubDate>Sun, 10 May 2020 15:12:46 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>38.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/38?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaoparents&#xA;&#xA;&#34;Eehhh, m-mau nanya!&#34;&#xA;&#xA;&#34;?&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Xu Minghao, tingkat satu kuliah. Baru saja masuk kerja sambilan di kafe dekat kampusnya. Ngekos sendirian membuatnya harus mencari cara menambah uang saku, tak bisa sepenuhnya bergantung dari uang kiriman orangtua. Bayaran di kafe ini lumayan dan ia mendapat makan satu kali setiap shiftnya, benar-benar menghemat. Makanya, ia tak ingin ada masalah timbul di tempat kerja barunya ini, tidak juga dari lelaki besar yang berdiri di depan konter itu.&#xA;&#xA;&#34;Ya? Ingin memesan apa, Kak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;EMM, NAMA GUE KIM MINGYU!&#34;&#xA;&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;&#xA;&#34;............Ya?&#34; nggak ada yang nanya, njing, batin Minghao.&#xA;&#xA;&#34;ENGG ITU--&#34; lelaki besar itu membungkuk. Wajahnya agak maju, membuat Minghao kaget. &#34;Y-yang kerja bareng kamu...b-barista juga....eng...&#34;&#xA;&#xA;Yang kerja bareng....&#xA;&#xA;....&#34;Kak Wonwoo?&#34; jawab Minghao, ragu.&#xA;&#xA;&#34;IYA! Emm, o-orangnya...ada enggak ya, hehe hehe...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalo Kak Wonwoo, hari ini libur, Kak. Coba Kakak dateng aja lagi besok, jam yang sama. Mungkin bisa ketemu,&#34; dengan senyuman ramah, ia menjelaskan.&#xA;&#xA;&#34;Hoo gitu ya...Eh lo kok panggil gue &#39;kakak&#39; sih, emang lo umur berapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Saya? Line 97.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Laahh seumur mallih,&#34; lelaki itu ketawa. &#34;Panggil gue Mingyu aja, ngapain kakak kakak segala. Gue juga panggil lo....eh nama lo siapa?&#34;&#xA;&#xA;Malas menjelaskan juga bahwa &#39;kakak&#39; adalah prosedur standar di kafe ini yang harus mereka ucapkan, Minghao menjawab, &#34;Minghao. Xu Minghao.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Minghao,&#34; ringisan. &#34;Gue Mingyu. Salam kenal, Hao.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Bang Hao, liatin apa sih?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm?&#34; ia menoleh pada Seungkwan. Kini, Minghao berada di tingkat kedua, sementara Seungkwan adalah adik tingkatnya. &#34;Enggak. Itu...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh. Kim Mingyu dan Jeon Wonwoo. Makin mesra aja itu berdua\~&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kwannie kenal?&#34; Minghao menelengkan kepala.&#xA;&#xA;&#34;Nggak ada yang nggak kenal kali. Power couple kampus ini,&#34; kekehnya. &#34;Semua anak kampus juga tau gimana Mingyu ngejer Wonwoo sampe jadian dan langgeng sampe sekarang. Pada taruhan juga tuh, mereka lulus palingan kawin.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hee...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Enggak. Dia pernah nanyain Kak Wonwoo sama gue pas gue lagi kerja. Dulu. Setahun yang lalu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nanyain apaan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Macem-macem sih. Kak Wonwoo suka warna apa, lagu favoritnya apa, kopi yang dia paling jago buatnya yang mana. Gitu gitu. Dia nggak pernah nanya yang pribadi banget, jadi gue ya kasih tau aja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Heee....&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah, tapi gue pernah ngasih dia nomer WA Kak Wonwoo, sih, cuma gue minta dia nggak kasih tau yang ngasi tau siapa.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Waaah...Bang, jejangan mereka jadian gegara lu nih, Bang??&#34;&#xA;&#xA;Minghao meringis, &#34;Masa? Gue mak comblang dong? Wah, harusnya minta traktiran dong nih?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Wakakak, cobain aja, Bang, minta, siapa tau dapet pizza kan lumayan!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gobs.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Xu Minghao....?&#34;&#xA;&#xA;Ia mengerjapkan mata dengan cepat. Makan malam dengan klien untuk membicarakan proyek runway yang akan mereka tangani bersama harusnya berjalan sama membosankannya seperti rapat yang lain. Entah ada angin apa, ketika ia berdiri untuk permisi ke toilet, tak sengaja ia menabrak bahu seseorang. Dan, begitu ia berbalik untuk meminta maaf, ia bertemu wajah yang tak asing.&#xA;&#xA;&#34;....Kim Mingyu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ooohh! Pak Kim!&#34; salah satu perwakilan kliennya ikut beranjak untuk menghampiri dan menjabat tangan lelaki itu. &#34;Sedang makan malam, Pak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya nih. Pulang ke rumah juga sepi, mendingan cari makan enak, ya kan?&#34; Mingyu tertawa.&#xA;&#xA;Kliennya balas tertawa. &#34;Ah, enak jadi Pak Kim ya, bujangan. Bebas. Saya mah di rumah dicerewetin istri, anak. Riweuh!&#34; akunya.&#xA;&#xA;Mereka lanjut mengobrol seadanya, sementara Minghao pergi ke toilet.&#xA;&#xA;Zrrssh!&#xA;&#xA;Sambil mencuci tangan, ia memikirkan perkataan kliennya tadi. Bujangan? Jadi Kim Mingyu tidak menikah dengan Jeon Wonwoo seperti taruhan anak-anak kampus mereka. Mereka...putus ya? Padahal...padahal pas Minghao melihat mereka waktu itu, waktu bareng Seungkwan, mereka kayaknya serasi banget, saling cinta. Kelihatan, di pandangan mata mereka ke satu sama lain.&#xA;&#xA;Heee.....jodoh emang nggak ada yang tau ya...&#xA;&#xA;&#34;Hei.&#34;&#xA;&#xA;Ia tersentak. Rupanya ia bengong terlalu lama sampai tidak menyadari kedatangan Kim Mingyu di wastafel sampingnya. Buru-buru, ia menutup keran air.&#xA;&#xA;&#34;Apa kabar lo?&#34; senyuman Mingyu masih sama seperti saat ia pertama menyapanya dulu.&#xA;&#xA;&#34;Baek. Lo sendiri?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Baek juga. Lo lagi ada kerjaan sama tuh perusahaan ya?&#34;&#xA;&#xA;Bingung, Minghao mengangguk.&#xA;&#xA;&#34;Gue kasih tau ya. Lo ati-ati sama orang tadi. Dia terkenal suka deketin klien dia terus ditinggal gitu aja. Kayaknya dia kenal orang dalem di pemerintahan, jadi ya gitu, ngaco.&#34;&#xA;&#xA;Minghao ketawa. &#34;Wah, trims warningnya, tapi gue yakin dia nggak bakal macem-macem sama gue. I&#39;m not pretty or anything,&#34; selorohnya.&#xA;&#xA;&#34;Oh, really?&#34; Mingyu menarik garis bibir membentuk senyuman timpang. &#34;Have you seen yourself on mirror these days, Hao?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;.......We have a lot to catch up, huh?&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Dan Mingyu benar. Klien itu memang mencoba mendekatinya. Untungnya, Mingyu ada di sana untuk memberinya satu-dua pelajaran.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaoparents" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaoparents</span></a></p>

<p>“Eehhh, m-mau nanya!”</p>

<p>”?”</p>



<p>Xu Minghao, tingkat satu kuliah. Baru saja masuk kerja sambilan di kafe dekat kampusnya. Ngekos sendirian membuatnya harus mencari cara menambah uang saku, tak bisa sepenuhnya bergantung dari uang kiriman orangtua. Bayaran di kafe ini lumayan dan ia mendapat makan satu kali setiap shiftnya, benar-benar menghemat. Makanya, ia tak ingin ada masalah timbul di tempat kerja barunya ini, tidak juga dari lelaki besar yang berdiri di depan konter itu.</p>

<p>“Ya? Ingin memesan apa, Kak?”</p>

<p>“EMM, NAMA GUE KIM MINGYU!”</p>

<p>.
.
.</p>

<p>”............Ya?” nggak ada yang nanya, njing, batin Minghao.</p>

<p>“ENGG ITU—” lelaki besar itu membungkuk. Wajahnya agak maju, membuat Minghao kaget. “Y-yang kerja bareng kamu...b-barista juga....eng...”</p>

<p>Yang kerja bareng....</p>

<p>....“Kak Wonwoo?” jawab Minghao, ragu.</p>

<p>“IYA! Emm, o-orangnya...ada enggak ya, hehe hehe...”</p>

<p>“Kalo Kak Wonwoo, hari ini libur, Kak. Coba Kakak dateng aja lagi besok, jam yang sama. Mungkin bisa ketemu,” dengan senyuman ramah, ia menjelaskan.</p>

<p>“Hoo gitu ya...Eh lo kok panggil gue &#39;kakak&#39; sih, emang lo umur berapa?”</p>

<p>“Saya? Line 97.”</p>

<p>“Laahh seumur mallih,” lelaki itu ketawa. “Panggil gue Mingyu aja, ngapain kakak kakak segala. Gue juga panggil lo....eh nama lo siapa?”</p>

<p>Malas menjelaskan juga bahwa &#39;kakak&#39; adalah prosedur standar di kafe ini yang harus mereka ucapkan, Minghao menjawab, “Minghao. Xu Minghao.”</p>

<p>“Minghao,” ringisan. “Gue Mingyu. Salam kenal, Hao.”</p>

<hr/>

<p>“Bang Hao, liatin apa sih?”</p>

<p>“Hmm?” ia menoleh pada Seungkwan. Kini, Minghao berada di tingkat kedua, sementara Seungkwan adalah adik tingkatnya. “Enggak. Itu...”</p>

<p>“Oh. Kim Mingyu dan Jeon Wonwoo. Makin mesra aja itu berdua~“</p>

<p>“Kwannie kenal?” Minghao menelengkan kepala.</p>

<p>“Nggak ada yang nggak kenal kali. Power couple kampus ini,” kekehnya. “Semua anak kampus juga tau gimana Mingyu ngejer Wonwoo sampe jadian dan langgeng sampe sekarang. Pada taruhan juga tuh, mereka lulus palingan kawin.”</p>

<p>“Hee...”</p>

<p>“Kenapa?”</p>

<p>“Enggak. Dia pernah nanyain Kak Wonwoo sama gue pas gue lagi kerja. Dulu. Setahun yang lalu.”</p>

<p>“Nanyain apaan?”</p>

<p>“Macem-macem sih. Kak Wonwoo suka warna apa, lagu favoritnya apa, kopi yang dia paling jago buatnya yang mana. Gitu gitu. Dia nggak pernah nanya yang pribadi banget, jadi gue ya kasih tau aja.”</p>

<p>“Heee....”</p>

<p>“Ah, tapi gue pernah ngasih dia nomer WA Kak Wonwoo, sih, cuma gue minta dia nggak kasih tau yang ngasi tau siapa.”</p>

<p>“Waaah...Bang, jejangan mereka jadian gegara lu nih, Bang??”</p>

<p>Minghao meringis, “Masa? Gue mak comblang dong? Wah, harusnya minta traktiran dong nih?”</p>

<p>“Wakakak, cobain aja, Bang, minta, siapa tau dapet pizza kan lumayan!”</p>

<p>“Gobs.”</p>

<hr/>

<p>“Xu Minghao....?”</p>

<p>Ia mengerjapkan mata dengan cepat. Makan malam dengan klien untuk membicarakan proyek runway yang akan mereka tangani bersama harusnya berjalan sama membosankannya seperti rapat yang lain. Entah ada angin apa, ketika ia berdiri untuk permisi ke toilet, tak sengaja ia menabrak bahu seseorang. Dan, begitu ia berbalik untuk meminta maaf, ia bertemu wajah yang tak asing.</p>

<p>”....Kim Mingyu?”</p>

<p>“Ooohh! Pak Kim!” salah satu perwakilan kliennya ikut beranjak untuk menghampiri dan menjabat tangan lelaki itu. “Sedang makan malam, Pak?”</p>

<p>“Iya nih. Pulang ke rumah juga sepi, mendingan cari makan enak, ya kan?” Mingyu tertawa.</p>

<p>Kliennya balas tertawa. “Ah, enak jadi Pak Kim ya, bujangan. Bebas. Saya mah di rumah dicerewetin istri, anak. Riweuh!” akunya.</p>

<p>Mereka lanjut mengobrol seadanya, sementara Minghao pergi ke toilet.</p>

<p>Zrrssh!</p>

<p>Sambil mencuci tangan, ia memikirkan perkataan kliennya tadi. Bujangan? Jadi Kim Mingyu tidak menikah dengan Jeon Wonwoo seperti taruhan anak-anak kampus mereka. Mereka...putus ya? Padahal...padahal pas Minghao melihat mereka waktu itu, waktu bareng Seungkwan, mereka kayaknya serasi banget, saling cinta. Kelihatan, di pandangan mata mereka ke satu sama lain.</p>

<p>Heee.....jodoh emang nggak ada yang tau ya...</p>

<p>“Hei.”</p>

<p>Ia tersentak. Rupanya ia bengong terlalu lama sampai tidak menyadari kedatangan Kim Mingyu di wastafel sampingnya. Buru-buru, ia menutup keran air.</p>

<p>“Apa kabar lo?” senyuman Mingyu masih sama seperti saat ia pertama menyapanya dulu.</p>

<p>“Baek. Lo sendiri?”</p>

<p>“Baek juga. Lo lagi ada kerjaan sama tuh perusahaan ya?”</p>

<p>Bingung, Minghao mengangguk.</p>

<p>“Gue kasih tau ya. Lo ati-ati sama orang tadi. Dia terkenal suka deketin klien dia terus ditinggal gitu aja. Kayaknya dia kenal orang dalem di pemerintahan, jadi ya gitu, ngaco.”</p>

<p>Minghao ketawa. “Wah, trims warningnya, tapi gue yakin dia nggak bakal macem-macem sama gue. I&#39;m not pretty or anything,” selorohnya.</p>

<p>“Oh, really?” Mingyu menarik garis bibir membentuk senyuman timpang. “Have you seen yourself on mirror these days, Hao?”</p>

<p>“Eh?”</p>

<p>”.......We have a lot to catch up, huh?”</p>

<hr/>

<p>Dan Mingyu benar. Klien itu memang mencoba mendekatinya. Untungnya, Mingyu ada di sana untuk memberinya satu-dua pelajaran.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/38</guid>
      <pubDate>Sun, 10 May 2020 12:57:06 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>36.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/36?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaoparents&#xA;&#xA;&#34;Gue kira lo kenapa, Gyu, Gyu...tetau gegara tolol aja...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kok lu anjing, Won?? Gue serius ini!! Surat dari siapa itu?? Kenapa dia nggak ngasih tau gue?? Biasanya dia selalu cerita apapun ke gue??&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Dibantingnya pantat botol ke atas meja dan ia meneguk habis isi gelas tingginya. Memutuskan kalau minum di luar tidak akan afdol curhatannya, Mingyu memesan selusin kaleng bir dan dua botol alkohol, cabernet sauvignon dan sebotol merlot untuk melembutkan rasa yang pertama, ke kantornya. Anggur merah adalah minuman terbaik untuk menemani santap malam sekaligus menu berbuka mereka berupa daging sapi panggang, kentang tumbuk, tumis sayuran organik dan roti mentega yang mereka pesan dari restoran skala atas terdekat.&#xA;&#xA;Jeon Wonwoo menghela napas.&#xA;&#xA;&#34;Gini deh, Gyu. Lo jangan mikir kejauhan dulu. Coba lo omongin baek-baek sama laki lo. Siapa tau emang dari temennya aja itu surat...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalo cuma dari temen, kenapa dia pake cium-cium segala tuh surat?? Fuck. I hate this. I hate...feeling like this...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gyu...,&#34; tangan Wonwoo menepuk-nepuk perlahan pundaknya. Senyumannya terkulum. &#34;...Lo tuh nggak berubah ya? Masih aja suka insecure. Semua apa-apa lo mesti tau, mesti aman. Kalo lo nggak tau satu hal aja, lo rusuh sendiri, gelisah sendiri, padahal cemasnya lo itu nggak guna karena sebenernya nggak ada apa-apa.&#34;&#xA;&#xA;Tawanya pelan, mengenang salah satu momen pertengkaran mereka yang terjadi belasan tahun yang lalu. Wajah Wonwoo mulai memerah walau ia masih belum begitu mabuk, kontras terhadap Mingyu yang sudah merona setelah menghabiskan setengah botol anggur dan dua kaleng bir.&#xA;&#xA;&#34;....Nggak ada apa-apa gimana, buktinya lo pergi ninggalin gue....&#34;&#xA;&#xA;Itu adalah sebuah gumaman pelan, namun bukan berarti rahang Wonwoo tidak menegang mendengarnya.&#xA;&#xA;&#34;Gyu,&#34; diberinya peringatan. &#34;Kita udah kelarin ini semua. Dan gue ninggalin lo buat sekolah ke luar negeri--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, iya, tau, ah, bacod.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kim Mingyu.&#34;&#xA;&#xA;Kali ini, giliran Mingyu yang menghela napas. Diusapnya muka. &#34;.....Sori,&#34; ujarnya. &#34;Gue nggak ada maksud.........sori....&#34; Melampiaskan pada Wonwoo akan hal yang sudah lama lewat adalah langkah pengecut yang curang. Ia paham itu. Paham, tapi...&#xA;&#xA;&#34;....Gimana?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Apanya?&#34; Wonwoo meneguk anggurnya.&#xA;&#xA;&#34;Lo sama dia?&#34;&#xA;&#xA;&#34;........Dia masih stress.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Won--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue udah bilang. Udah bilang kalo anak bukan segalanya. Gue udah bilang kalo gue cuma mau berdua aja sama dia untuk sementara waktu. Kalo kita punya anak, gue bakal seneng banget, tapi kalo nggak ada pun, gue nggak akan pernah ninggalin dia.&#xA;&#xA;Gue udah bilang, tapi dia.....&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo membenamkan wajahnya ke muka.&#xA;&#xA;&#34;......Gue capek, Gyu, berantem mulu tiap hari. Dia kayak ketakutan kalo gue nggak pulang-pulang. Dia juga...mulai ungkit-ungkit soal hubungan kita....&#34;&#xA;&#xA;&#34;Wonu....&#34;&#xA;&#xA;Tanpa sadar, Mingyu mengulurkan tangan untuk mengelus pipi Wonwoo. Hati kecilnya pedih melihat kondisi orang yang ia sayang sekarang seperti ini. Ia yakin Wonwoo dan suaminya saling cinta, tapi...cinta saja takkan cukup dalam menjalani sebuah pernikahan....&#xA;&#xA;Wonwoo memejamkan mata, mendesah ketika pipinya tidak berhenti dielus Mingyu. Sudah lama sekali.....&#xA;&#xA;Tangan besar nan hangat yang selalu menyentuhnya dengan lembut.....&#xA;&#xA;&#34;Won..&#34;&#xA;&#xA;Wajah Mingyu maju.&#xA;&#xA;Sudah lama sekali...]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaoparents" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaoparents</span></a></p>

<p>“Gue kira lo kenapa, Gyu, Gyu...tetau gegara tolol aja...”</p>

<p>“Kok lu anjing, Won?? Gue serius ini!! Surat dari siapa itu?? Kenapa dia nggak ngasih tau gue?? Biasanya dia selalu cerita apapun ke gue??”</p>



<p>Dibantingnya pantat botol ke atas meja dan ia meneguk habis isi gelas tingginya. Memutuskan kalau minum di luar tidak akan afdol curhatannya, Mingyu memesan selusin kaleng bir dan dua botol alkohol, cabernet sauvignon dan sebotol merlot untuk melembutkan rasa yang pertama, ke kantornya. Anggur merah adalah minuman terbaik untuk menemani santap malam sekaligus menu berbuka mereka berupa daging sapi panggang, kentang tumbuk, tumis sayuran organik dan roti mentega yang mereka pesan dari restoran skala atas terdekat.</p>

<p>Jeon Wonwoo menghela napas.</p>

<p>“Gini deh, Gyu. Lo jangan mikir kejauhan dulu. Coba lo omongin baek-baek sama laki lo. Siapa tau emang dari temennya aja itu surat...”</p>

<p>“Kalo cuma dari temen, kenapa dia pake cium-cium segala tuh surat?? Fuck. I hate this. I hate...feeling like this...”</p>

<p>“Gyu...,” tangan Wonwoo menepuk-nepuk perlahan pundaknya. Senyumannya terkulum. “...Lo tuh nggak berubah ya? Masih aja suka insecure. Semua apa-apa lo mesti tau, mesti aman. Kalo lo nggak tau satu hal aja, lo rusuh sendiri, gelisah sendiri, padahal cemasnya lo itu nggak guna karena sebenernya nggak ada apa-apa.”</p>

<p>Tawanya pelan, mengenang salah satu momen pertengkaran mereka yang terjadi belasan tahun yang lalu. Wajah Wonwoo mulai memerah walau ia masih belum begitu mabuk, kontras terhadap Mingyu yang sudah merona setelah menghabiskan setengah botol anggur dan dua kaleng bir.</p>

<p>”....Nggak ada apa-apa gimana, buktinya lo pergi ninggalin gue....”</p>

<p>Itu adalah sebuah gumaman pelan, namun bukan berarti rahang Wonwoo tidak menegang mendengarnya.</p>

<p>“Gyu,” diberinya peringatan. “Kita udah kelarin ini semua. Dan gue ninggalin lo buat sekolah ke luar negeri—”</p>

<p>“Iya, iya, tau, ah, bacod.”</p>

<p>“Kim Mingyu.”</p>

<p>Kali ini, giliran Mingyu yang menghela napas. Diusapnya muka. “.....Sori,” ujarnya. “Gue nggak ada maksud.........sori....” Melampiaskan pada Wonwoo akan hal yang sudah lama lewat adalah langkah pengecut yang curang. Ia paham itu. Paham, tapi...</p>

<p>”....Gimana?”</p>

<p>“Apanya?” Wonwoo meneguk anggurnya.</p>

<p>“Lo sama dia?”</p>

<p>”........Dia masih stress.”</p>

<p>“Won—”</p>

<p>“Gue udah bilang. Udah bilang kalo anak bukan segalanya. Gue udah bilang kalo gue cuma mau berdua aja sama dia untuk sementara waktu. Kalo kita punya anak, gue bakal seneng banget, tapi kalo nggak ada pun, gue nggak akan pernah ninggalin dia.</p>

<p>Gue udah bilang, tapi dia.....”</p>

<p>Wonwoo membenamkan wajahnya ke muka.</p>

<p>”......Gue capek, Gyu, berantem mulu tiap hari. Dia kayak ketakutan kalo gue nggak pulang-pulang. Dia juga...mulai ungkit-ungkit soal hubungan kita....”</p>

<p>“Wonu....”</p>

<p>Tanpa sadar, Mingyu mengulurkan tangan untuk mengelus pipi Wonwoo. Hati kecilnya pedih melihat kondisi orang yang ia sayang sekarang seperti ini. Ia yakin Wonwoo dan suaminya saling cinta, tapi...cinta saja takkan cukup dalam menjalani sebuah pernikahan....</p>

<p>Wonwoo memejamkan mata, mendesah ketika pipinya tidak berhenti dielus Mingyu. Sudah lama sekali.....</p>

<p>Tangan besar nan hangat yang selalu menyentuhnya dengan lembut.....</p>

<p>“Won..”</p>

<p>Wajah Mingyu maju.</p>

<p><em>Sudah lama sekali...</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/36</guid>
      <pubDate>Sun, 10 May 2020 11:30:46 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>34.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/34?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaoparents&#xA;&#xA;(“Pa. Papa inget surat yang Mama terima?”)&#xA;&#xA;(“Kakak ngeliat Mama nyium surat itu, Pa, kayaknya Mama seneng banget...”)&#xA;&#xA;(“Pa...surat itu....surat dari siapa....?”)&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Mingyu.&#34;&#xA;&#xA;Tersadar. Di meja kerjanya, Kim Mingyu salah menandatangani dokumen. Sesuatu mengenai kesepakatan antara developer dengan...kau tahu? Persetan. Ia tidak bisa bekerja seperti ini.&#xA;&#xA;Gedung perkantoran itu sepi karena hari ini adalah hari Sabtu. Hanya ada dirinya dan beberapa orang yang masuk kerja, semata karena jika tidak diuber hari ini, nanti Senin akan lebih bertumpuk lagi. Mingyu bersama tiga orang dalam tim proyek terbaru mereka, termasuk Wonwoo, baru saja selesai mengadakan rapat. Dua orang lainnya pulang, hanya tersisa dirinya dan, rupanya, Wonwoo.&#xA;&#xA;&#34;Napa lo bengong gitu? Lo nggak pa-pa?&#34; bersandar di ambang pintu ruang kerja Mingyu, Wonwoo melipat lengan di dadanya. Ia menyadari bahwa wajah bosnya itu pucat sekali.&#xA;&#xA;&#34;.....,&#34; Mingyu menghela napas. &#34;Won?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ha?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo mesti balik cepet malem ini?&#34;&#xA;&#xA;&#34;? Nggak sih...?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Temenin gue minum....bisa?&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo mendengus. &#34;Ngaco. Lo bukannya udah setop, Gyu? Ntar dimarahin Hao lagi lo,&#34; selorohnya.&#xA;&#xA;&#34;Gue butuh minum, Won. Kepala gue...sakit...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gyu?&#34; alisnya berkerut. Kecemasan itu malah semakin menjadi-jadi. &#34;Lo...yakin nggak pa-pa?&#34;&#xA;&#xA;Mingyu tidak menjawab. Alih-alih, ia hanya memandangi Wonwoo seolah ia akan tersesat bila dibiarkan berkeliaran seorang diri. Meski dengan berat hati, daripada masalahnya lebih panjang dan runyam lagi...&#xA;&#xA;&#34;Fine...,&#34; gerutunya, bukan dengan keikhlasan. &#34;Tapi kalo lo mabok, gue nggak mau angkut-angkut lo ke rumah, ya. Lo berat, njing.&#34;&#xA;&#xA;Kim Mingyu tersenyum kecil.&#xA;&#xA;&#34;Fair enough.&#34;&#xA;&#xA;(&#34;Hao. Surat itu...&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Hmm? Surat apa?&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Surat yang buat kamu kemarin itu, yang aku liat di meja rias di kamar.&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;O-oh...emm...kenapa suratnya...?&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Surat dari siapa sih emangnya? Langka banget tahun segini masih surat-suratan?&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Itu...itu dari temenku jaman masih kerja di perusahaan pertama dulu banget..&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Ooh....akrab ya sampe masih surat-suratan...&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Iya. Dia emang orangnya nggak bisa ketebak, tapi dia baik banget...&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Hoo...&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Kenapa kok tiba-tiba kamu nanya?&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;Penasaran aja, hehe.&#34;)]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaoparents" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaoparents</span></a></p>

<p><em>(“Pa. Papa inget surat yang Mama terima?”)</em></p>

<p><em>(“Kakak ngeliat Mama nyium surat itu, Pa, kayaknya Mama seneng banget...”)</em></p>

<p><em>(“Pa...surat itu....surat dari siapa....?”)</em></p>



<p>“Mingyu.”</p>

<p>Tersadar. Di meja kerjanya, Kim Mingyu salah menandatangani dokumen. Sesuatu mengenai kesepakatan antara developer dengan...kau tahu? Persetan. Ia tidak bisa bekerja seperti ini.</p>

<p>Gedung perkantoran itu sepi karena hari ini adalah hari Sabtu. Hanya ada dirinya dan beberapa orang yang masuk kerja, semata karena jika tidak diuber hari ini, nanti Senin akan lebih bertumpuk lagi. Mingyu bersama tiga orang dalam tim proyek terbaru mereka, termasuk Wonwoo, baru saja selesai mengadakan rapat. Dua orang lainnya pulang, hanya tersisa dirinya dan, rupanya, Wonwoo.</p>

<p>“Napa lo bengong gitu? Lo nggak pa-pa?” bersandar di ambang pintu ruang kerja Mingyu, Wonwoo melipat lengan di dadanya. Ia menyadari bahwa wajah bosnya itu pucat sekali.</p>

<p>”.....,” Mingyu menghela napas. “Won?”</p>

<p>“Ha?”</p>

<p>“Lo mesti balik cepet malem ini?”</p>

<p>”? Nggak sih...?”</p>

<p>“Temenin gue minum....bisa?”</p>

<p>Wonwoo mendengus. “Ngaco. Lo bukannya udah setop, Gyu? Ntar dimarahin Hao lagi lo,” selorohnya.</p>

<p>“Gue butuh minum, Won. Kepala gue...sakit...”</p>

<p>“Gyu?” alisnya berkerut. Kecemasan itu malah semakin menjadi-jadi. “Lo...yakin nggak pa-pa?”</p>

<p>Mingyu tidak menjawab. Alih-alih, ia hanya memandangi Wonwoo seolah ia akan tersesat bila dibiarkan berkeliaran seorang diri. Meski dengan berat hati, daripada masalahnya lebih panjang dan runyam lagi...</p>

<p>“Fine...,” gerutunya, bukan dengan keikhlasan. “Tapi kalo lo mabok, gue nggak mau angkut-angkut lo ke rumah, ya. Lo berat, njing.”</p>

<p>Kim Mingyu tersenyum kecil.</p>

<p>“Fair enough.”</p>

<p><em>(“Hao. Surat itu...”)</em></p>

<p><em>(“Hmm? Surat apa?”)</em></p>

<p><em>(“Surat yang buat kamu kemarin itu, yang aku liat di meja rias di kamar.”)</em></p>

<p><em>(“O-oh...emm...kenapa suratnya...?”)</em></p>

<p><em>(“Surat dari siapa sih emangnya? Langka banget tahun segini masih surat-suratan?”)</em></p>

<p><em>(“Itu...itu dari temenku jaman masih kerja di perusahaan pertama dulu banget..”)</em></p>

<p><em>(“Ooh....akrab ya sampe masih surat-suratan...”)</em></p>

<p><em>(“Iya. Dia emang orangnya nggak bisa ketebak, tapi dia baik banget...”)</em></p>

<p><em>(“Hoo...”)</em></p>

<p><em>(“Kenapa kok tiba-tiba kamu nanya?”)</em></p>

<p><em>(“Penasaran aja, hehe.”)</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/34</guid>
      <pubDate>Sun, 10 May 2020 08:59:37 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>