<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>gyuhaooffice &amp;mdash; 🌾</title>
    <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaooffice</link>
    <description>narrative writings of thesunmetmoon</description>
    <pubDate>Wed, 03 Jun 2026 01:32:56 +0000</pubDate>
    <image>
      <url>https://i.snap.as/K7JGOEOo.png</url>
      <title>gyuhaooffice &amp;mdash; 🌾</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaooffice</link>
    </image>
    <item>
      <title>296.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/296?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaooffice&#xA;&#xA;Minghao mengernyitkan alis. Setelah mengirim renceng tanda tanya ke grup wiskul, meminta Jeonghan menjelaskan maksudnya, mendadak dunianya gelap.&#xA;&#xA;&#34;Guess who?&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Napasnya hampir berhenti. Pegangannya melonggar dan handphonenya terlepas, yang mungkin akan terbanting andaikan anak buahnya tidak buru-buru menadahinya. Bibir Minghao terbuka. Terlalu kaget untuk berkata-kata.&#xA;&#xA;Jika matanya tidak ditutupi saat ini, ia pasti sudah memarahi anak-anak departemennya (dan semua yang melihat mereka di kantor, secara harfiah) karena menahan tawa geli sambil tersenyum senang.&#xA;&#xA;&#34;....Mas Han?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Salah\~&#34;&#xA;&#xA;&#34;Juned. Jun, nggak lucu ah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kok malah Juneeedd??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh, aku tau,&#34; kekeh Minghao. &#34;Pasti guguk gede, suka mecahin barang, gampang ngambek, kalo makan kayak nggak dikasih makan setahun.&#34;&#xA;&#xA;Tawa, lugas dan membahana, ketika Mingyu menurunkan tangannya dan Minghao, serta-merta, berbalik badan, mengalungkan kedua lengan ke leher kekasihnya. Mingyu pun memeluk pinggul Minghao. Ujung hidung mereka bergesekan.&#xA;&#xA;&#34;Jahat banget...?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jahatnya aku buat kamu aja, kok...&#34;&#xA;&#xA;Mingyu meringis.&#xA;&#xA;&#34;Kok...kamu di sini?&#34; tanya Minghao.&#xA;&#xA;&#34;Training.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Seminggu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ooh...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mungkin lebih.&#34;&#xA;&#xA;Mata Minghao melebar. Ia menjauhkan diri sedikit agar bisa memandang Mingyu. Berharap, tapi lebih kentara kebingungannya.&#xA;&#xA;&#34;Aku training buat penempatan di sini.&#34; Makin bingung lah paras kekasihnya, mendorong Mingyu untuk tertawa makin lebar. &#34;Kalo hasil training seminggu ini bagus, ada kemungkinan ditarik buat ke sini. Kontrak sih, 2 tahun. Di departemen beda sama kamu, but anyway,&#34; ia menangkup pipi Minghao. &#34;Wish me luck, baobei?&#34;&#xA;&#xA;Perlu waktu bagi Minghao untuk meresapi kenyataan ini. Dan, begitu ia menerimanya, senyum yang terkembang di wajah Minghao sangat, sangat, manis, napas Mingyu tercuri olehnya. Membuat Mingyu mengusap wajahnya ke sisi leher kekasihnya, memeluknya erat penuh cinta.&#xA;&#xA;&#34;I miss you...,&#34; aku Minghao, dalam sebuah bisikan yang hanya bisa didengar Mingyu.&#xA;&#xA;Lelaki itu ikut tersenyum.&#xA;&#xA;&#34;I miss you too...&#34;&#xA;&#xA;Kemudian, mengabaikan seluruh spektator di sana, Minghao mengecup bibir Mingyu.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaooffice" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaooffice</span></a></p>

<p>Minghao mengernyitkan alis. Setelah mengirim renceng tanda tanya ke grup wiskul, meminta Jeonghan menjelaskan maksudnya, mendadak dunianya gelap.</p>

<p>“<em>Guess who</em>?”</p>



<p>Napasnya hampir berhenti. Pegangannya melonggar dan handphonenya terlepas, yang mungkin akan terbanting andaikan anak buahnya tidak buru-buru menadahinya. Bibir Minghao terbuka. Terlalu kaget untuk berkata-kata.</p>

<p>Jika matanya tidak ditutupi saat ini, ia pasti sudah memarahi anak-anak departemennya (dan semua yang melihat mereka di kantor, secara harfiah) karena menahan tawa geli sambil tersenyum senang.</p>

<p>”....Mas Han?”</p>

<p>“Salah~“</p>

<p>“Juned. Jun, nggak lucu ah.”</p>

<p>“Kok malah Juneeedd??”</p>

<p>“Oh, aku tau,” kekeh Minghao. “Pasti guguk gede, suka mecahin barang, gampang ngambek, kalo makan kayak nggak dikasih makan setahun.”</p>

<p>Tawa, lugas dan membahana, ketika Mingyu menurunkan tangannya dan Minghao, serta-merta, berbalik badan, mengalungkan kedua lengan ke leher kekasihnya. Mingyu pun memeluk pinggul Minghao. Ujung hidung mereka bergesekan.</p>

<p>“Jahat banget...?”</p>

<p>“Jahatnya aku buat kamu aja, kok...”</p>

<p>Mingyu meringis.</p>

<p>“Kok...kamu di sini?” tanya Minghao.</p>

<p>“Training.”</p>

<p>“Oh?”</p>

<p>“Seminggu.”</p>

<p>“Ooh...”</p>

<p>“Mungkin lebih.”</p>

<p>Mata Minghao melebar. Ia menjauhkan diri sedikit agar bisa memandang Mingyu. Berharap, tapi lebih kentara kebingungannya.</p>

<p>“Aku training buat penempatan di sini.” Makin bingung lah paras kekasihnya, mendorong Mingyu untuk tertawa makin lebar. “Kalo hasil training seminggu ini bagus, ada kemungkinan ditarik buat ke sini. Kontrak sih, 2 tahun. Di departemen beda sama kamu, but anyway,” ia menangkup pipi Minghao. “Wish me luck, <em>baobei</em>?”</p>

<p>Perlu waktu bagi Minghao untuk meresapi kenyataan ini. Dan, begitu ia menerimanya, senyum yang terkembang di wajah Minghao sangat, <em>sangat</em>, manis, napas Mingyu tercuri olehnya. Membuat Mingyu mengusap wajahnya ke sisi leher kekasihnya, memeluknya erat penuh cinta.</p>

<p>“I miss you...,” aku Minghao, dalam sebuah bisikan yang hanya bisa didengar Mingyu.</p>

<p>Lelaki itu ikut tersenyum.</p>

<p>“I miss you too...”</p>

<p>Kemudian, mengabaikan seluruh spektator di sana, Minghao mengecup bibir Mingyu.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/296</guid>
      <pubDate>Fri, 25 Dec 2020 14:40:06 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>287.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/287?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaooffice&#xA;&#xA;Setelah mandi dan berganti baju, kini mereka berdua berbaring di kasur Mingyu. Lampu tetap dipadamkan. Hanya pias lampu dari jalanan menjadi satu-satunya sumber penerangan di kamar tersebut.&#xA;&#xA;Dengan tubuh menghadap samping, mereka saling bertatapan. Hanya menatap. Lama.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Do you love me?&#34; sebuah tanya dalam bisikan.&#xA;&#xA;Mingyu tak nampak ragu secuilpun ketika ia menjawab pertanyaan Minghao.&#xA;&#xA;&#34;I love you.&#34;&#xA;&#xA;Kembali, mereka diam dan saling menatap.&#xA;&#xA;&#34;Please don&#39;t break my heart?&#34;&#xA;&#xA;&#34;I won&#39;t,&#34; janji Mingyu padanya. &#34;Oh ya. Soal kamu pergi ke Jepang. Aku jadi mikir, aku mau serius kerja di sini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mm. Tadinya aku masuk agak niat nggak niat sih. Cuma mau cari kesibukan, bukannya mau kayak bokap, ato Bang Cheol. I have no intention to be that ambitious. But then, I see how hard you work everyday, until you can get this opportunity. Aku juga mau. Mau kayak kamu. Aku seneng marketing dan, idk, suatu hari mungkin bisa kayak kamu, dipromosi, or even better, bisa kayak bokap Bang Jihoon, buka perusahaan sendiri.&#34;&#xA;&#xA;Senyum Mingyu lebar, memamerkan taringnya, membuat Minghao ikut tersenyum.&#xA;&#xA;&#34;Berarti pas pulang nanti, Gyu-ku bakal jadi esmud nih?&#34; candanya.&#xA;&#xA;&#34;Cuma dua tahun, mana bisa lah jadi esmud!&#34; tawa Mingyu lepas. &#34;At least senior staff. I aim to know what I want to do in life. I will figure it out within those 2 years.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm,&#34; berkedip. &#34;Good luck.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Thanks. You too...&#34;&#xA;&#xA;Ketika obrolan usai, tatap Mingyu turun ke bibir Minghao. Lama, di sana.&#xA;&#xA;&#34;Mingyu...&#34;&#xA;&#xA;Bibir itu bergerak, memaksa Mingyu menatap mata Minghao lagi. Keputusan buruk. Karena, dengan pipi merona, mata sayu dan bibir membuka, kerongkongan Mingyu mendadak kering.&#xA;&#xA;Minghao mengambil tangan Mingyu, lalu dibawanya ke bibirnya. Untuk dikecup. Untuk dikulum ujung jarinya.&#xA;&#xA;Kekasihnya meneguk ludah susah payah.&#xA;&#xA;&#34;Hao...&#34;&#xA;&#xA;Takjub. Juga di ujung tanduk. Sebulan ia menahan diri karena ia menghormati kekasihnya. Tak ingin melukai. Tak mau Minghao menangis lagi.&#xA;&#xA;Apapun.&#xA;&#xA;Apapun.&#xA;&#xA;Asalkan demi Minghao....&#xA;&#xA;&#34;Mingyu...,&#34; rengeknya. Mingyu hampir tertawa mendengarnya. Tak pernah ia tahu kekasihnya semanja itu.&#xA;&#xA;&#34;Hao...are you sure...?&#34;&#xA;&#xA;Dan, ketika Minghao, dengan pipi makin memerah, mengangguk malu-malu, akal sehat Mingyu pun meleleh sudah.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaooffice" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaooffice</span></a></p>

<p>Setelah mandi dan berganti baju, kini mereka berdua berbaring di kasur Mingyu. Lampu tetap dipadamkan. Hanya pias lampu dari jalanan menjadi satu-satunya sumber penerangan di kamar tersebut.</p>

<p>Dengan tubuh menghadap samping, mereka saling bertatapan. Hanya menatap. Lama.</p>



<p>“Do you love me?” sebuah tanya dalam bisikan.</p>

<p>Mingyu tak nampak ragu secuilpun ketika ia menjawab pertanyaan Minghao.</p>

<p>“I love you.”</p>

<p>Kembali, mereka diam dan saling menatap.</p>

<p>“Please don&#39;t break my heart?”</p>

<p>“I won&#39;t,” janji Mingyu padanya. “Oh ya. Soal kamu pergi ke Jepang. Aku jadi mikir, aku mau serius kerja di sini.”</p>

<p>“Oh?”</p>

<p>“Mm. Tadinya aku masuk agak niat nggak niat sih. Cuma mau cari kesibukan, bukannya mau kayak bokap, ato Bang Cheol. I have no intention to be that ambitious. But then, I see how hard you work everyday, until you can get this opportunity. Aku juga mau. Mau kayak kamu. Aku seneng marketing dan, idk, suatu hari mungkin bisa kayak kamu, dipromosi, or even better, bisa kayak bokap Bang Jihoon, buka perusahaan sendiri.”</p>

<p>Senyum Mingyu lebar, memamerkan taringnya, membuat Minghao ikut tersenyum.</p>

<p>“Berarti pas pulang nanti, Gyu-ku bakal jadi esmud nih?” candanya.</p>

<p>“Cuma dua tahun, mana bisa lah jadi esmud!” tawa Mingyu lepas. “At least senior staff. I aim to know what I want to do in life. I will figure it out within those 2 years.”</p>

<p>“Hmm,” berkedip. “Good luck.”</p>

<p>“Thanks. You too...”</p>

<p>Ketika obrolan usai, tatap Mingyu turun ke bibir Minghao. Lama, di sana.</p>

<p>“Mingyu...”</p>

<p>Bibir itu bergerak, memaksa Mingyu menatap mata Minghao lagi. Keputusan buruk. Karena, dengan pipi merona, mata sayu dan bibir membuka, kerongkongan Mingyu mendadak kering.</p>

<p>Minghao mengambil tangan Mingyu, lalu dibawanya ke bibirnya. Untuk dikecup. Untuk dikulum ujung jarinya.</p>

<p>Kekasihnya meneguk ludah susah payah.</p>

<p>“<em>Hao</em>...”</p>

<p>Takjub. Juga di ujung tanduk. Sebulan ia menahan diri karena ia menghormati kekasihnya. Tak ingin melukai. Tak mau Minghao menangis lagi.</p>

<p>Apapun.</p>

<p><em>Apapun.</em></p>

<p>Asalkan demi Minghao....</p>

<p>“Mingyu...,” rengeknya. Mingyu hampir tertawa mendengarnya. Tak pernah ia tahu kekasihnya semanja itu.</p>

<p>“Hao...<em>are you sure</em>...?”</p>

<p>Dan, ketika Minghao, dengan pipi makin memerah, mengangguk malu-malu, akal sehat Mingyu pun meleleh sudah.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/287</guid>
      <pubDate>Sat, 19 Dec 2020 15:16:25 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>286.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/286?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaooffice&#xA;&#xA;Ketika Jihoon membawa Minghao kembali, Mingyu segera mendekapnya. Dia menangkap mata Minghao yang sembab dan ujung hidung yang memerah dalam sekali tatap dan dia langsung paham.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;....Mau pulang, Hao?&#34;&#xA;&#xA;Dalam pelukannya, Minghao mengangguk lemah.&#xA;&#xA;Terlalu fokus memperhatikan punggung Mingyu yang memboyong Minghao pergi, Jihoon baru menyadari keberadaan suaminya ketika lengan-lengan kuat itu melingkari pinggangnya.&#xA;&#xA;&#34;Buat anak orang nangis lagi, beb?&#34; candanya, sambil mencium telinga Jihoon.&#xA;&#xA;&#34;We talked.&#34;&#xA;&#xA;&#34;About?&#34;&#xA;&#xA;&#34;A lot. Dia kira gue berkomplot sama Gyu dan Chan buat ngejebak dia.&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol menggumam.&#xA;&#xA;&#34;Also, we talked about you and Gyu and Joshua.&#34;&#xA;&#xA;Meski jantung Seungcheol sempat melonjak, ia tidak terkejut. Lengan tetap di pinggang. Dagu di pundak Jihoon. Suaminya sudah tahu semua, dari A sampai Z.&#xA;&#xA;Sudah selesai.&#xA;&#xA;Selesai...&#xA;&#xA;&#34;Hoon, boleh ngaku sesuatu?&#34;&#xA;&#xA;Jihoon menoleh, memicingkan mata curiga pada suaminya.&#xA;&#xA;&#34;Cuma satu rahasia kecil,&#34; ringis Seungcheol.&#xA;&#xA;&#34;Yeah...?&#34;&#xA;&#xA;Ringisan menjadi senyuman.&#xA;&#xA;&#34;Aku dulu jatuh cinta sama Joshua.&#34;&#xA;&#xA;Jihoon terpaku.&#xA;&#xA;&#34;Di awal emang enggak....tapi lama-lama, that feeling was there. Aku jatuh cinta sama dia.&#34;&#xA;&#xA;&#34;....Terus...kenapa lo nggak nyatain ke dia? Lo tau kan dia juga cinta sama lo??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yeah,&#34; Seungcheol masih tersenyum. &#34;And so was Gyu.&#34;&#xA;&#xA;Hening.&#xA;&#xA;&#34;I love my brother more.&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol memeluknya.&#xA;&#xA;&#34;And now, you.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaooffice" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaooffice</span></a></p>

<p>Ketika Jihoon membawa Minghao kembali, Mingyu segera mendekapnya. Dia menangkap mata Minghao yang sembab dan ujung hidung yang memerah dalam sekali tatap dan dia langsung paham.</p>



<p>”....Mau pulang, Hao?”</p>

<p>Dalam pelukannya, Minghao mengangguk lemah.</p>

<p>Terlalu fokus memperhatikan punggung Mingyu yang memboyong Minghao pergi, Jihoon baru menyadari keberadaan suaminya ketika lengan-lengan kuat itu melingkari pinggangnya.</p>

<p>“Buat anak orang nangis lagi, beb?” candanya, sambil mencium telinga Jihoon.</p>

<p>“We talked.”</p>

<p>“About?”</p>

<p>“A lot. Dia kira gue berkomplot sama Gyu dan Chan buat ngejebak dia.”</p>

<p>Seungcheol menggumam.</p>

<p>“Also, we talked about you and Gyu and Joshua.”</p>

<p>Meski jantung Seungcheol sempat melonjak, ia tidak terkejut. Lengan tetap di pinggang. Dagu di pundak Jihoon. Suaminya sudah tahu semua, dari A sampai Z.</p>

<p><em>Sudah selesai.</em></p>

<p><em>Selesai...</em></p>

<p>“Hoon, boleh ngaku sesuatu?”</p>

<p>Jihoon menoleh, memicingkan mata curiga pada suaminya.</p>

<p>“Cuma satu rahasia kecil,” ringis Seungcheol.</p>

<p>“Yeah...?”</p>

<p>Ringisan menjadi senyuman.</p>

<p>“Aku dulu jatuh cinta sama Joshua.”</p>

<p>Jihoon terpaku.</p>

<p>“Di awal emang enggak....tapi lama-lama, that feeling was there. Aku jatuh cinta sama dia.”</p>

<p>”....Terus...kenapa lo nggak nyatain ke dia? Lo tau kan dia juga cinta sama lo??”</p>

<p>“Yeah,” Seungcheol masih tersenyum. “<em>And so was Gyu.</em>“</p>

<p>Hening.</p>

<p>“<em>I love my brother more.</em>“</p>

<p>Seungcheol memeluknya.</p>

<p>“<em>And now, you.</em>“</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/286</guid>
      <pubDate>Sat, 19 Dec 2020 15:11:57 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>285.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/285?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaooffice&#xA;&#xA;Jihoon menghapus air mata Minghao dengan kedua ibu jarinya. Sebulir berlinang, dihapus, lalu sebulir lagi.&#xA;&#xA;&#34;Do you love him?&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Minghao tidak menjawab, hanya terus menangis.&#xA;&#xA;&#34;Do you believe he is in love with you?&#34;&#xA;&#xA;Kali ini, ia mengangguk.&#xA;&#xA;Jihoon, menahan tangisnya sendiri, tersenyum lemah.&#xA;&#xA;&#34;Then, can you forgive me for failing in protecting you?&#34;&#xA;&#xA;Kibasan rambut ketika Minghao menggeleng cepat.&#xA;&#xA;&#34;Bang, lo nggak salah. Nggak ada yang salah. Lo. Gyu. Joshua. Mas Han. Juga...juga abangnya Gyu....,&#34; Minghao menggeleng lagi. &#34;You&#39;ve done much, so much. When...when I need it the most, you always help me...&#xA;&#xA;...I...I never said thank you for what you did for me...at that time when I was at my lowest...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hao...&#34;&#xA;&#xA;Minghao mundur sedikit,  melepas wajahnya dari sentuhan Jihoon. Ia menggunakan lengan kemejanya untuk mengusrek sisa air mata, tidak peduli bajunya kotor.&#xA;&#xA;&#34;But please, tell me....Mingyu, Bang Jihoon sama Channie....kalian nggak berkomplot kan? Like, like I was a damn toy? A rat in the trap?&#34;&#xA;&#xA;Giliran Jihoon yang menggeleng. &#34;Lo pikir Mingyu bisa pengaruhin gue buat ikut mainin lo, Hao?&#34; dengan yakin, ia menatap Minghao. &#34;Lo, yang gue tau, yang gue liat pake mata kepala sendiri, apa yang udah lo alamin sama mantan lo itu?&#34;&#xA;&#xA;Jihoon maju, merengkuh anak buahnya itu.&#xA;&#xA;&#34;Hao. Gue atasan lo. And I care for you more than that, just like you&#39;re my own child. I watch you growing up in 7 years. I know what you have suffered. I see you when you break down and cry. Menurut lo, gue akan biarin aja, bahkan ikut andil, kalo Mingyu nggak buktiin kalo dia serius sama lo?&#34;&#xA;&#xA;Mata Minghao melebar. Jihoon menarik napas, menghembusnya, lalu melepas pelukan.&#xA;&#xA;&#34;Look. Hao. Gue bantu anterin makanan itu karena Mingyu mau minta maaf sama lo. And it was one time. Gue pikir, why not sih? Niat anak itu baik. Mau minta maaf. Sekali doang ini. Lo nolak makanan itu. Terus Mingyu minta dianterin lagi. Gue tegasin ke dia ini terakhir....&#xA;&#xA;...and then, you know? You ate it. And the one after that. And after that. You looked so happy.&#34;&#xA;&#xA;Dielusnya kepala Minghao.&#xA;&#xA;&#34;You looked so damn happy, Haohao, just like before that bastard ruined you. I missed you.&#34;&#xA;&#xA;Elusan Jihoon amat lembut.&#xA;&#xA;&#34;I missed you, my little boy...&#34;&#xA;&#xA;Mata Minghao berkaca-kaca lagi. Ia menggigit bibir bawah, menahan isak tangis.&#xA;&#xA;&#34;Dan, dan, gue liat gimana Gyu natap lo. I told you, dia mirip Cheol. Jelas banget. Hatinya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mingyu loves me...?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yes...,&#34; hela Jihoon. &#34;I am not blind yet, Hao.&#34;&#xA;&#xA;Lagi, mereka berpelukan. Kali ini lebih hangat dari sebelumnya.&#xA;&#xA;&#34;Gue minta maaf, Hao...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maaf juga, Bang, udah curiga tadi...,&#34; aku Minghao.&#xA;&#xA;Diam.&#xA;&#xA;&#34;Bang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Selamat ya...&#34;&#xA;&#xA;Menghela napas ke tengkuk Minghao, Jihoon tersenyum lega.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaooffice" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaooffice</span></a></p>

<p>Jihoon menghapus air mata Minghao dengan kedua ibu jarinya. Sebulir berlinang, dihapus, lalu sebulir lagi.</p>

<p>“Do you love him?”</p>



<p>Minghao tidak menjawab, hanya terus menangis.</p>

<p>“Do you <em>believe</em> he is in love with you?”</p>

<p>Kali ini, ia mengangguk.</p>

<p>Jihoon, menahan tangisnya sendiri, tersenyum lemah.</p>

<p>“Then, can you forgive me for failing in protecting you?”</p>

<p>Kibasan rambut ketika Minghao menggeleng cepat.</p>

<p>“Bang, lo nggak salah. Nggak ada yang salah. Lo. Gyu. Joshua. Mas Han. Juga...juga abangnya Gyu....,” Minghao menggeleng lagi. “You&#39;ve done much, <em>so much</em>. When...when I need it the most, you always help me...</p>

<p>...I...I never said thank you for what you did for me...at that time when I was at my lowest...”</p>

<p>“Hao...”</p>

<p>Minghao mundur sedikit,  melepas wajahnya dari sentuhan Jihoon. Ia menggunakan lengan kemejanya untuk mengusrek sisa air mata, tidak peduli bajunya kotor.</p>

<p>“But please, tell me....Mingyu, Bang Jihoon sama Channie....kalian nggak <em>berkomplot</em> kan? Like, like I was a damn <em>toy</em>? A rat in the trap?”</p>

<p>Giliran Jihoon yang menggeleng. “Lo pikir Mingyu bisa pengaruhin gue buat ikut mainin lo, Hao?” dengan yakin, ia menatap Minghao. “Lo, yang gue tau, yang gue liat pake mata kepala sendiri, apa yang <em>udah</em> lo alamin sama mantan lo itu?”</p>

<p>Jihoon maju, merengkuh anak buahnya itu.</p>

<p>“Hao. Gue atasan lo. And I care for you more than that, just like you&#39;re my own child. I watch you growing up in 7 years. I know what you have suffered. I <em>see</em> you when you break down and cry. Menurut lo, gue akan biarin aja, bahkan ikut andil, kalo Mingyu nggak buktiin kalo dia serius sama lo?”</p>

<p>Mata Minghao melebar. Jihoon menarik napas, menghembusnya, lalu melepas pelukan.</p>

<p>“Look. Hao. Gue bantu anterin makanan itu karena Mingyu mau minta maaf sama lo. And it was one time. Gue pikir, why not sih? Niat anak itu baik. Mau minta maaf. Sekali doang ini. Lo nolak makanan itu. Terus Mingyu minta dianterin lagi. Gue tegasin ke dia ini terakhir....</p>

<p>...and then, you know? You ate it. And the one after that. And after that. You looked so happy.”</p>

<p>Dielusnya kepala Minghao.</p>

<p>“You looked so <em>damn</em> happy, Haohao, just like before that bastard ruined you. I missed you.”</p>

<p>Elusan Jihoon amat lembut.</p>

<p><em>“I missed you, my little boy...”</em></p>

<p>Mata Minghao berkaca-kaca lagi. Ia menggigit bibir bawah, menahan isak tangis.</p>

<p>“Dan, dan, gue liat gimana Gyu natap lo. I told you, dia mirip Cheol. Jelas banget. Hatinya.”</p>

<p>“Mingyu loves me...?”</p>

<p>“<em>Yes</em>...,” hela Jihoon. “I am not blind yet, Hao.”</p>

<p>Lagi, mereka berpelukan. Kali ini lebih hangat dari sebelumnya.</p>

<p>“Gue minta maaf, Hao...”</p>

<p>“Maaf juga, Bang, udah curiga tadi...,” aku Minghao.</p>

<p>Diam.</p>

<p>“Bang.”</p>

<p>“Hmm?”</p>

<p>“Selamat ya...”</p>

<p>Menghela napas ke tengkuk Minghao, Jihoon tersenyum lega.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/285</guid>
      <pubDate>Sat, 19 Dec 2020 15:05:09 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>284.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/284?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaooffice&#xA;&#xA;Menyusuri arah lari Minghao tadi, Jihoon menemukan dua pilihan. Belok ke kanan, maka akan sampai ke pintu depan. Belok ke kiri, maka akan sampai ke area outdoor yang tidak dipakai untuk pesta, karenanya area itu gelap dan sepi. Tanpa berpikir, ia berbelok ke kiri.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Benar saja. Tidak lama berjalan, ia menemukan anak buahnya itu sedang duduk di salah satu bangku taman, tersembunyi oleh semak bunga dan tetumbuhan lainnya. Taman yang indah untuk menyendiri.&#xA;&#xA;Jihoon, tanpa berkata apapun, main duduk seenaknya di samping Minghao yang tengah memandangi langit malam berbintang.&#xA;&#xA;Mereka diam seperti itu untuk beberapa saat.&#xA;&#xA;&#34;Boleh gue cerita sesuatu?&#34;&#xA;&#xA;Ketika tak ada respon dari Minghao, Jihoon melanjutkan, &#34;Gue ketemu Cheol pas dia lagi rapat sama bokap gue di kantornya. Bokap gue juga sebelas-dua belas kayak bokapnya, cuma skalanya lebih kecil. Tapi, beda dari bokapnya yang presdir, bokap gue pemilik dan pendiri perusahaan. TLDR, Cheol lagi proses negosiasi joint venture sama perusahaan bokap gue pas gue masuk ke kantornya waktu itu, nganterin makan siang.&#34;&#xA;&#xA;Jihoon mengambil napas.&#xA;&#xA;&#34;Di situ, kita kenalan. Dan mulai dari situ, nggak ngerti kenapa dan gimana, dia mulai deketin gue. Intens banget. Ya mirip lah kayak Gyu sama lo, gitu. Kalo nemu target, nggak stop sampe kecaplok. Ngeri banget ya, darah kakak-adek itu?&#34;&#xA;&#xA;Rahang Minghao menegang saat nama Mingyu disebut. Jihoon menyadari itu, namun membiarkannya. Hanya tersenyum menatap sisi wajah Minghao dengan kepalan tangan di bawah dagu.&#xA;&#xA;&#34;Dan, somehow, I didn&#39;t know where, or when, or even why, he already slipped into my heart and glued there. Mau gue buang, mau gue denial, mau gue usir, he kept coming and coming, sampe, yah, puncaknya, dua tahun lalu, gue nerima pinangan dia.&#xA;&#xA;Dan, mm, baru sebulan yang lalu gue tau soal dia dan Gyu dan Joshua...&#34;&#xA;&#xA;Onak berduri. Menjalar. Merekah. Menyayat hati kedua orang yang tengah duduk membicarakan masa lalu pasangannya yang harus mereka telan bulat-bulat dan hidup dengan mengetahui masa lalu itu pernah ada. Bahwa fakta kekasih mereka pernah ambil bagian dalam kerusakan moril itu.&#xA;&#xA;&#34;I was mad. I was fucking mad.....,&#34; digertakkannya gigi serta buku-buku jari. Bulu kuduk Minghao berdiri. Dia tidak ingin dan tidak mampu membayangkan bagaimana neraka yang muncul ketika Jihoon murka. &#34;I was mad at Cheol. At Gyu, also. That&#39;s a fucking rape. They raped him. Both. For weeks. For years. They broke him.&#xA;&#xA;Jadi, gue ultimatum ke Cheol. Dia harus minta maaf. Harus cium kaki Joshua. Harus lakuin apapun yang Joshua minta dari dia sampe dia bener-bener dimaafin, or no wedding.&#xA;&#xA;Dan lo tau, Hao?&#34;&#xA;&#xA;Jihoon mendengus geli.&#xA;&#xA;&#34;He wanted nothing. Dia cuma bilang makasih ke Cheol, said that he loved him, stupidly in love with him, sampe rela digilir bareng adeknya. Dia bahkan minta maaf.&#xA;&#xA;Orang gila mana? Like, orang gila mana?&#34;&#xA;&#xA;Jihoon mengacak rambutnya. Resah. Minghao kini menunduk, hingga poninya menutup kedua matanya.&#xA;&#xA;&#34;Hani got the best eyes and luck, didn&#39;t he?&#34; kekehnya sarkas. &#34;Look at us. End up with the damn rapist.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu bukan--!&#xA;&#xA;Ingin menyangkal. Tetapi, Bang Jihoon tidak salah. Jika boleh jujur, ketika Mingyu bercerita soal itu dahulu kala, ia merasa jijik. Apapun alasannya. Siapapun yang memulai. Seharusnya hal itu tidak pernah terjadi. Hal....hal seperti itu...&#xA;&#xA;&#34;Then, I remember you.&#34;&#xA;&#xA;Napas Minghao menyentak.&#xA;&#xA;&#34;You and that bastard before. Lo tau soal ini kah, Hao?&#34;&#xA;&#xA;Minghao mengangguk. Lalu, dengan cicit kecil, ia menjelaskan lebih lanjut, &#34;Gyu bilang ke gue dari awal, Bang. Soal ini. Dan dia pernah cinta sama Joshua. Jauh sebelum kita jadian...&#34;&#xA;&#xA;Jihoon mendadak menaruh kedua tangannya di pipi Minghao, menangkupnya. Telapak Jihoon kecil, tetapi terasa kasar dan mantap menaungi wajahnya.&#xA;&#xA;&#34;And when...,&#34; diteguknya ludah. Matanya berkaca-kaca. &#34;...And when I realized, I helped setting you up with that damn rapist...&#34;&#xA;&#xA;Minghao buru-buru menggeleng.&#xA;&#xA;&#34;What have I done to you......?&#34;&#xA;&#xA;Ia menggeleng. Lagi dan lagi dan lagi.&#xA;&#xA;&#34;Nggak, Bang. Gyu bukan--dia bukan--&#34; menggeleng tanpa henti. &#34;He loves me. He loves me.&#34;&#xA;&#xA;Sebulir air mata turun di pipinya.&#xA;&#xA;&#34;He loves me........doesn&#39;t he?&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaooffice" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaooffice</span></a></p>

<p>Menyusuri arah lari Minghao tadi, Jihoon menemukan dua pilihan. Belok ke kanan, maka akan sampai ke pintu depan. Belok ke kiri, maka akan sampai ke area outdoor yang tidak dipakai untuk pesta, karenanya area itu gelap dan sepi. Tanpa berpikir, ia berbelok ke kiri.</p>



<p>Benar saja. Tidak lama berjalan, ia menemukan anak buahnya itu sedang duduk di salah satu bangku taman, tersembunyi oleh semak bunga dan tetumbuhan lainnya. Taman yang indah untuk menyendiri.</p>

<p>Jihoon, tanpa berkata apapun, main duduk seenaknya di samping Minghao yang tengah memandangi langit malam berbintang.</p>

<p>Mereka diam seperti itu untuk beberapa saat.</p>

<p>“Boleh gue cerita sesuatu?”</p>

<p>Ketika tak ada respon dari Minghao, Jihoon melanjutkan, “Gue ketemu Cheol pas dia lagi rapat sama bokap gue di kantornya. Bokap gue juga sebelas-dua belas kayak bokapnya, cuma skalanya lebih kecil. Tapi, beda dari bokapnya yang presdir, bokap gue pemilik dan pendiri perusahaan. TLDR, Cheol lagi proses negosiasi joint venture sama perusahaan bokap gue pas gue masuk ke kantornya waktu itu, nganterin makan siang.”</p>

<p>Jihoon mengambil napas.</p>

<p>“Di situ, kita kenalan. Dan mulai dari situ, nggak ngerti kenapa dan gimana, dia mulai deketin gue. Intens banget. Ya mirip lah kayak Gyu sama lo, gitu. Kalo nemu target, nggak stop sampe kecaplok. Ngeri banget ya, darah kakak-adek itu?”</p>

<p>Rahang Minghao menegang saat nama Mingyu disebut. Jihoon menyadari itu, namun membiarkannya. Hanya tersenyum menatap sisi wajah Minghao dengan kepalan tangan di bawah dagu.</p>

<p>“Dan, somehow, I didn&#39;t know where, or when, or even why, he already slipped into my heart and glued there. Mau gue buang, mau gue denial, mau gue usir, he kept coming and coming, sampe, yah, puncaknya, dua tahun lalu, gue nerima pinangan dia.</p>

<p>Dan, mm, baru sebulan yang lalu gue tau soal dia dan Gyu dan Joshua...”</p>

<p>Onak berduri. Menjalar. Merekah. Menyayat hati kedua orang yang tengah duduk membicarakan masa lalu pasangannya yang harus mereka telan bulat-bulat dan hidup dengan mengetahui masa lalu itu pernah <em>ada</em>. Bahwa fakta kekasih mereka pernah ambil bagian dalam <em>kerusakan moril</em> itu.</p>

<p>“I was mad. I was <em>fucking</em> mad.....,” digertakkannya gigi serta buku-buku jari. Bulu kuduk Minghao berdiri. Dia tidak ingin dan tidak mampu membayangkan bagaimana neraka yang muncul ketika Jihoon <em>murka</em>. “I was mad at Cheol. At Gyu, also. That&#39;s a fucking <em>rape</em>. They <em>raped</em> him. Both. For weeks. For <em>years</em>. They <em>broke</em> him.</p>

<p>Jadi, gue ultimatum ke Cheol. Dia harus minta maaf. Harus cium kaki Joshua. Harus lakuin apapun yang Joshua minta dari dia sampe dia bener-bener dimaafin, or <em>no wedding</em>.</p>

<p>Dan lo tau, Hao?”</p>

<p>Jihoon mendengus geli.</p>

<p>“<em>He wanted nothing.</em> Dia cuma bilang makasih ke Cheol, said that he <em>loved</em> him, stupidly in love with him, sampe rela digilir bareng adeknya. Dia bahkan <em>minta maaf.</em></p>

<p><em>Orang gila mana?</em> Like, orang <em>gila</em> mana?”</p>

<p>Jihoon mengacak rambutnya. Resah. Minghao kini menunduk, hingga poninya menutup kedua matanya.</p>

<p>“Hani got the best eyes and luck, didn&#39;t he?” kekehnya sarkas. “Look at us. End up with the damn rapist.”</p>

<p><em>Mingyu bukan—!</em></p>

<p>Ingin menyangkal. Tetapi, Bang Jihoon tidak salah. Jika boleh jujur, ketika Mingyu bercerita soal itu dahulu kala, ia merasa jijik. Apapun alasannya. Siapapun yang memulai. Seharusnya hal itu tidak pernah terjadi. Hal....hal seperti itu...</p>

<p>“Then, I remember you.”</p>

<p>Napas Minghao menyentak.</p>

<p>“You and that bastard before. Lo tau soal ini kah, Hao?”</p>

<p>Minghao mengangguk. Lalu, dengan cicit kecil, ia menjelaskan lebih lanjut, “Gyu bilang ke gue dari awal, Bang. Soal ini. Dan dia pernah cinta sama Joshua. Jauh sebelum kita jadian...”</p>

<p>Jihoon mendadak menaruh kedua tangannya di pipi Minghao, menangkupnya. Telapak Jihoon kecil, tetapi terasa kasar dan mantap menaungi wajahnya.</p>

<p>“And when...,” diteguknya ludah. Matanya berkaca-kaca. “...And when I realized, I helped setting you up with that damn rapist...”</p>

<p>Minghao buru-buru menggeleng.</p>

<p>“<em>What have I done to you</em>......?”</p>

<p>Ia menggeleng. Lagi dan lagi dan lagi.</p>

<p>“Nggak, Bang. Gyu bukan—dia bukan—” menggeleng tanpa henti. “He loves me. <em>He loves me.</em>“</p>

<p>Sebulir air mata turun di pipinya.</p>

<p>“<em>He loves me........doesn&#39;t he?</em>“</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/284</guid>
      <pubDate>Sat, 19 Dec 2020 14:57:48 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>283.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/283?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaooffice&#xA;&#xA;Tatapnya masihlah nanar karena kepala penuh informasi baru yang belum bisa ia cerna dengan benar. Mingyu, menangkap ribuan tanda tanya berputar di dalam kepala kekasihnya itu, terkekeh, lalu mengecup bibirnya lagi, mencoba menenangkan Minghao sebelum menjelaskan lebih lanjut.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Kamu tau Bang Jihoon gimana kan? Dia nggak bakal suka kalo semua kantor tau dia tunangan sama anak presdir yang lama. Apalagi pas itu, bokap aku masih ngejabat sebagai presdir. He made me promise not to tell a single soul pas gue diterima kerja, not even to you.&#xA;&#xA;And, in return,&#34;&#xA;&#xA;Mingyu berdeham lagi.&#xA;&#xA;&#34;He helped me delivering your food.&#34;&#xA;&#xA;Makin syok.&#xA;&#xA;&#34;B-but..he said...he did not--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Did he now?&#34; mata Mingyu bersinar. Amused.&#xA;&#xA;&#34;Kata kamu Chan yang bantuin kamu??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dia juga,&#34; Mingyu menggaruk kembali bagian belakang kepala. &#34;Bang Jihoon duluan sih yang bantuin aku. Tapi kan dia ada ke Jepang tuh agak lama. Ya aku minta tolong Channie. Gegantian aja sih gitu, tapi pas akhir-akhir seringan Channie.&#34;&#xA;&#xA;Kepala Minghao rasanya pening. Anak presdir. Mingyu anak presdir. Bang Jihoon suami kakak Mingyu.&#xA;&#xA;Pantas saja kostan Mingyu bisa semahal itu padahal dia baru masuk kerja.&#xA;&#xA;(&#34;....karena satu dan lain hal, memutuskan untuk nggak datang...&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;...sori, mas...&#34;)&#xA;&#xA;Pantas saja Mas Han tidak mau datang, padahal dia dan Bang Jihoon sebenarnya akrab, karena suami Bang Jihoon adalah sumber sakit hati pacarnya, yang pernah dicintai adiknya sendiri...&#xA;&#xA;&#34;Hao...,&#34; panggilan namanya membuat pikiran Minghao buyar seketika. Tatapan Mingyu padanya cemas dengan tangan masih menangkup wajah. &#34;Are you okay? Is it that hard to accept? Are you--&#34; Ia menelan ludah. &#34;--are you okay with this?&#34;&#xA;&#xA;&#34;I...&#34;&#xA;&#xA;Minghao kehilangan kata-kata. This is totally okay. Sebenarnya. Toh, semua pihak sudah move on dengan jalannya sendiri-sendiri.&#xA;&#xA;Tapi--&#xA;&#xA;&#34;Gyu!&#34; rangkulan lengan di leher kekasihnya menjauhkan mereka. &#34;Mana sini cium dong Abangnya. I miss you, GyuGyu!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Cheol, jangan grasak-grusuk begitu. Gue laper nih. Makan dulu yo--&#34; Jihoon melihat Minghao muncul dari balik badan Mingyu yang besar. &#34;--oh. Lo dateng, Hao?&#34;&#xA;&#xA;Jihoon membelalak ketika melihat ekspresi yang dikenakan Minghao. Bukan senang, atau terkejut, melainkan sesuatu yang...entahlah, marah? Kecewa?&#xA;&#xA;Terluka?&#xA;&#xA;Detik kemudian, Minghao berlari. Kencang. Kabur begitu saja.&#xA;&#xA;&#34;HAO??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gyu.&#34;&#xA;&#xA;Ancang-ancang sudah siap, hendak berlari, namun Jihoon mengunci lengannya di leher Mingyu, hampir mencekik adik iparnya itu, sementara Seungcheol hanya ikut meringis kesakitan, paham benar bagaimana rasanya. Meski jauh lebih mungil, Jihoon jauh lebih kuat daripada kedua kakak-beradik itu.&#xA;&#xA;&#34;Gue aja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi, Bang--!&#34; protesnya.&#xA;&#xA;&#34;Gyu. You&#39;re the least person he wants to see right now, if he bolts like that. So let me,&#34; Jihoon melirik tajam. &#34;I can bring him back to you.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu hanya bisa menggigit bibir bawahnya, sebelum memandang lagi arah lari Minghao. Seungcheol memeluk adiknya dari belakang. Kepalanya ditepuk-tepuk sayang.&#xA;&#xA;&#34;Bawa dia balik, Hoon,&#34; ucap Seungcheol pada suaminya. &#34;I want to see him too.&#34;&#xA;&#xA;Mengangguk sambil lalu, Jihoon berjalan santai ke arah yang sama, meninggalkan Seungcheol yang berusaha menenangkan Mingyu yang masih kalut.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaooffice" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaooffice</span></a></p>

<p>Tatapnya masihlah nanar karena kepala penuh informasi baru yang belum bisa ia cerna dengan benar. Mingyu, menangkap ribuan tanda tanya berputar di dalam kepala kekasihnya itu, terkekeh, lalu mengecup bibirnya lagi, mencoba menenangkan Minghao sebelum menjelaskan lebih lanjut.</p>



<p>“Kamu tau Bang Jihoon gimana kan? Dia nggak bakal suka kalo semua kantor tau dia tunangan sama anak presdir yang lama. Apalagi pas itu, bokap aku masih ngejabat sebagai presdir. He made me promise not to tell a single soul pas gue diterima kerja, not even to you.</p>

<p>And, in return,”</p>

<p>Mingyu berdeham lagi.</p>

<p>“He helped me delivering your food.”</p>

<p>Makin syok.</p>

<p>“B-but..he said...he did not—”</p>

<p>“<em>Did he now?</em>” mata Mingyu bersinar. <em>Amused.</em></p>

<p>“Kata kamu Chan yang bantuin kamu??”</p>

<p>“Dia juga,” Mingyu menggaruk kembali bagian belakang kepala. “Bang Jihoon duluan sih yang bantuin aku. Tapi kan dia ada ke Jepang tuh agak lama. Ya aku minta tolong Channie. Gegantian aja sih gitu, tapi pas akhir-akhir seringan Channie.”</p>

<p>Kepala Minghao rasanya pening. Anak presdir. Mingyu anak presdir. Bang Jihoon suami kakak Mingyu.</p>

<p><em>Pantas saja kostan Mingyu bisa semahal itu padahal dia baru masuk kerja.</em></p>

<p><em>(“....karena satu dan lain hal, memutuskan untuk nggak datang...”)</em></p>

<p><em>(“...sori, mas...”)</em></p>

<p><em>Pantas saja Mas Han tidak mau datang, padahal dia dan Bang Jihoon sebenarnya akrab, karena suami Bang Jihoon adalah sumber sakit hati pacarnya, yang pernah dicintai adiknya sendiri...</em></p>

<p>“Hao...,” panggilan namanya membuat pikiran Minghao buyar seketika. Tatapan Mingyu padanya cemas dengan tangan masih menangkup wajah. “Are you okay? Is it that hard to accept? Are you—” Ia menelan ludah. “—<em>are you okay with this?</em>“</p>

<p>“I...”</p>

<p>Minghao kehilangan kata-kata. This is totally okay. Sebenarnya. Toh, semua pihak sudah move on dengan jalannya sendiri-sendiri.</p>

<p>Tapi—</p>

<p>“Gyu!” rangkulan lengan di leher kekasihnya menjauhkan mereka. “Mana sini cium dong Abangnya. I miss you, GyuGyu!”</p>

<p>“Cheol, jangan grasak-grusuk begitu. Gue laper nih. Makan dulu yo—” Jihoon melihat Minghao muncul dari balik badan Mingyu yang besar. “—<em>oh.</em> Lo dateng, Hao?”</p>

<p>Jihoon membelalak ketika melihat ekspresi yang dikenakan Minghao. Bukan senang, atau terkejut, melainkan sesuatu yang...entahlah, marah? Kecewa?</p>

<p><em>Terluka?</em></p>

<p>Detik kemudian, Minghao berlari. Kencang. Kabur begitu saja.</p>

<p>“<em>HAO??</em>“</p>

<p>“Gyu.”</p>

<p>Ancang-ancang sudah siap, hendak berlari, namun Jihoon mengunci lengannya di leher Mingyu, hampir mencekik adik iparnya itu, sementara Seungcheol hanya ikut meringis kesakitan, paham benar bagaimana rasanya. Meski jauh lebih mungil, Jihoon jauh lebih kuat daripada kedua kakak-beradik itu.</p>

<p>“Gue aja.”</p>

<p>“Tapi, Bang—!” protesnya.</p>

<p>“Gyu. You&#39;re the least person he wants to see right now, if he bolts like that. So let <em>me</em>,” Jihoon melirik tajam. “I <em>can</em> bring him back to you.”</p>

<p>Mingyu hanya bisa menggigit bibir bawahnya, sebelum memandang lagi arah lari Minghao. Seungcheol memeluk adiknya dari belakang. Kepalanya ditepuk-tepuk sayang.</p>

<p>“Bawa dia balik, Hoon,” ucap Seungcheol pada suaminya. “I want to see him too.”</p>

<p>Mengangguk sambil lalu, Jihoon berjalan santai ke arah yang sama, meninggalkan Seungcheol yang berusaha menenangkan Mingyu yang masih kalut.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/283</guid>
      <pubDate>Sat, 19 Dec 2020 14:50:39 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>282.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/282-5r05?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaooffice&#xA;&#xA;&#34;....Gyu?&#34;&#xA;&#xA;Suara itu membuat Mingyu menoleh dan, bagai pancaran matahari, seluruh gesturnya melonjak penuh semangat.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Hao!&#34; panggilnya riang, tak peduli orang-orang di sekelilingnya, yang mengenakan seragam yang sama dengan Mingyu, ikut menoleh ke arahnya. Minghao menyadari itu dan ia menunduk buru-buru. Malu.&#xA;&#xA;&#34;Eyy...,&#34; Mingyu mendecak. &#34;Jangan diliatin gitu ah, Om. Kalian juga.&#34; Digertaknya para sepupunya yang mulai meringis jahil.&#xA;&#xA;&#34;Ciee, siapa tuh, Gyu?&#34; goda salah satu.&#xA;&#xA;&#34;Bacot lo. Hao, sini. Sini...,&#34; dibujuknya lembut lelaki itu. Minghao diam saja, namun menurut. Ia melangkah mendekat, masih terus menunduk dengan muka semerah tomat.&#xA;&#xA;Manis. Manis sekali. Ya Tuhan, kenapa orang semanis itu bisa menjadi miliknya? Pasti Mingyu sudah menghabiskan jatah hoki seumur hidup saat Minghao menggenggam tangannya di ruang meeting.&#xA;&#xA;Begitu Minghao sudah selemparan lengan, Mingyu menarik pinggangnya supaya ia bisa mengecup lembut bibir yang membuka dalam keterkejutan itu.&#xA;&#xA;&#34;!!&#34;&#xA;&#xA;Kaku, ia. Terlalu syok.&#xA;&#xA;&#34;Anak muda jaman sekarang ya!&#34;&#xA;&#xA;&#34;HAHAHAHA, bentar lagi nikahin anak lagi lah bapak kau itu!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ebujud, Mingyuu saha eta, kenalin atuhlah!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ciee ciee ciee cieeee\~&#34;&#xA;&#xA;Ampun Gusti...&#xA;&#xA;Apabila manusia bisa self-combust, Minghao pasti sudah jadi serpihan debu sedari tadi. Apalagi, Mingyu baru melepas ciumannya setelah separuh tamu undangan dan kenalan (?) Mingyu menonton mereka. Ringis jahil lelaki itu membuat Minghao bingung apakah ia ingin mencungkil kedua matanya atau menciumnya lagi.&#xA;&#xA;&#34;Om, Tante. Adek-adek dan kakak-kakakku sekalian. Kenalin. Ini Minghao,&#34; ia berdeham formal. Dengan lengan tetap bertaut di sekeliling pinggang Minghao, ia memperkenalkannya. &#34;Pacarnya Gyu. Hao, kenalin. Ini keluarga besar aku.&#34;&#xA;&#xA;Keluarga besar.&#xA;&#xA;Seolah baru tersadar, Minghao mendongak cepat, menatap Mingyu penuh tanda tanya. Sorot mata kekasihnya menuntut jawaban, maka Mingyu tak punya pilihan selain menghela napas, menyerah, dan mengangguk membenarkan.&#xA;&#xA;&#34;Jadi gini, Hao, suaminya Bang Jihoon itu...kakak aku...&#34;&#xA;&#xA;Kedua mata kekasihnya pun melebar.&#xA;&#xA;&#34;....Aku......kok...baru denger?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yah, emang disembunyiin sama kita sih....&#34;&#xA;&#xA;&#34;...Kenapa...?&#34;&#xA;&#xA;Mingyu menggaruk bagian belakang kepalanya. Setelah helaan napas lagi, ia menggamit tangan Minghao dan mengajaknya pergi, menuju arah pelaminan dimana pasangan pengantin masih disalami sederet panjang tamu undangan.&#xA;&#xA;Barulah Minghao bisa melihat Jihoon, mukanya sudah mulai bete karena ia lapar. Persis di sampingnya, seseorang dengan rambut hitam, mata sayu dan wajah panjang, berusaha tersenyum untuk mengompensasi kejenuhan Jihoon. Lucunya, ketika mereka berdua tersenyum, keduanya memiliki lesung pipit kentara.&#xA;&#xA;&#34;Abangku, Seungcheol,&#34; tunjuk Mingyu.&#xA;&#xA;Masih dengan alis berkerut, Minghao menggeleng perlahan. &#34;I...don&#39;t get it? Kenapa kamu dan Bang Jihoon perlu rahasiain segala....?&#34; tanyanya.&#xA;&#xA;Mingyu tersenyum meminta maaf.&#xA;&#xA;&#34;Liat bagian orangtua di sebelah abangku,&#34; ia mengedikkan kepala.&#xA;&#xA;Sekerjap, dua kerjap bulu mata, lalu, mulut Minghao membuka.&#xA;&#xA;&#34;....Wait, isn&#39;t that.....? Pak presdir??&#34;&#xA;&#xA;Tatapnya ke Mingyu, balik ke orang itu, lalu ke Mingyu, lalu ke--&#xA;&#xA;&#34;Iya,&#34; Mingyu menghentikan kepala kekasihnya dengan menangkup wajahnya. Senyumnya kini memancarkan rasa sayang. &#34;Itu presdir perusahaan kita sebelom diganti sama presdir yang sekarang.  Bokap aku. Calon mertua kamu.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaooffice" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaooffice</span></a></p>

<p>”....Gyu?”</p>

<p>Suara itu membuat Mingyu menoleh dan, bagai pancaran matahari, seluruh gesturnya melonjak penuh semangat.</p>



<p>“Hao!” panggilnya riang, tak peduli orang-orang di sekelilingnya, yang mengenakan seragam yang sama dengan Mingyu, ikut menoleh ke arahnya. Minghao menyadari itu dan ia menunduk buru-buru. Malu.</p>

<p>“Eyy...,” Mingyu mendecak. “Jangan diliatin gitu ah, Om. Kalian juga.” Digertaknya para sepupunya yang mulai meringis jahil.</p>

<p>“Ciee, siapa tuh, Gyu?” goda salah satu.</p>

<p>“Bacot lo. Hao, sini. Sini...,” dibujuknya lembut lelaki itu. Minghao diam saja, namun menurut. Ia melangkah mendekat, masih terus menunduk dengan muka semerah tomat.</p>

<p>Manis. <em>Manis sekali.</em> Ya Tuhan, kenapa orang semanis itu bisa menjadi <em>miliknya</em>? Pasti Mingyu sudah menghabiskan jatah hoki seumur hidup saat Minghao menggenggam tangannya di ruang meeting.</p>

<p>Begitu Minghao sudah selemparan lengan, Mingyu menarik pinggangnya supaya ia bisa mengecup lembut bibir yang membuka dalam keterkejutan itu.</p>

<p>”!!”</p>

<p>Kaku, ia. Terlalu syok.</p>

<p>“Anak muda jaman sekarang ya!”</p>

<p>“HAHAHAHA, bentar lagi nikahin anak lagi lah bapak kau itu!”</p>

<p>“Ebujud, Mingyuu saha eta, kenalin atuhlah!”</p>

<p>“Ciee ciee ciee cieeee~“</p>

<p><em>Ampun Gusti...</em></p>

<p>Apabila manusia bisa <em>self-combust</em>, Minghao pasti sudah jadi serpihan debu sedari tadi. Apalagi, Mingyu baru melepas ciumannya setelah separuh tamu undangan dan kenalan (?) Mingyu menonton mereka. Ringis jahil lelaki itu membuat Minghao bingung apakah ia ingin mencungkil kedua matanya atau menciumnya lagi.</p>

<p>“Om, Tante. Adek-adek dan kakak-kakakku sekalian. Kenalin. Ini Minghao,” ia berdeham formal. Dengan lengan tetap bertaut di sekeliling pinggang Minghao, ia memperkenalkannya. “Pacarnya Gyu. Hao, kenalin. Ini keluarga besar aku.”</p>

<p><em>Keluarga besar.</em></p>

<p>Seolah baru tersadar, Minghao mendongak cepat, menatap Mingyu penuh tanda tanya. Sorot mata kekasihnya menuntut jawaban, maka Mingyu tak punya pilihan selain menghela napas, menyerah, dan mengangguk membenarkan.</p>

<p>“Jadi gini, Hao, suaminya Bang Jihoon itu...kakak aku...”</p>

<p>Kedua mata kekasihnya pun melebar.</p>

<p>”....Aku......kok...baru denger?”</p>

<p>“Yah, emang disembunyiin sama kita sih....”</p>

<p>”...Kenapa...?”</p>

<p>Mingyu menggaruk bagian belakang kepalanya. Setelah helaan napas lagi, ia menggamit tangan Minghao dan mengajaknya pergi, menuju arah pelaminan dimana pasangan pengantin masih disalami sederet panjang tamu undangan.</p>

<p>Barulah Minghao bisa melihat Jihoon, mukanya sudah mulai <em>bete</em> karena ia lapar. Persis di sampingnya, seseorang dengan rambut hitam, mata sayu dan wajah panjang, berusaha tersenyum untuk mengompensasi kejenuhan Jihoon. Lucunya, ketika mereka berdua tersenyum, keduanya memiliki lesung pipit kentara.</p>

<p>“Abangku, Seungcheol,” tunjuk Mingyu.</p>

<p>Masih dengan alis berkerut, Minghao menggeleng perlahan. “I...don&#39;t get it? Kenapa kamu dan Bang Jihoon perlu rahasiain segala....?” tanyanya.</p>

<p>Mingyu tersenyum meminta maaf.</p>

<p>“Liat bagian orangtua di sebelah abangku,” ia mengedikkan kepala.</p>

<p>Sekerjap, dua kerjap bulu mata, lalu, mulut Minghao membuka.</p>

<p>”....Wait, isn&#39;t that.....? <em>Pak presdir??</em>“</p>

<p>Tatapnya ke Mingyu, balik ke orang itu, lalu ke Mingyu, lalu ke—</p>

<p>“Iya,” Mingyu menghentikan kepala kekasihnya dengan menangkup wajahnya. Senyumnya kini memancarkan rasa sayang. “Itu presdir perusahaan kita sebelom diganti sama presdir yang sekarang.  Bokap aku. <em>Calon mertua kamu</em>.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/282-5r05</guid>
      <pubDate>Sat, 19 Dec 2020 14:45:36 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>281.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/281?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaooffice&#xA;&#xA;Kedua alisnya tertaut. Sudah tiga kali dia menelepon Mingyu, namun lelaki itu tidak menjawab. Whatsapp juga tidak dibalas. Minghao menelpon nomor Mingyu, tapi sia-sia belaka. Decakan kesal lepas sebelum ia memutuskan sambungan. Arlojinya menunjukkan hampir pukul 7 malam. Pesta selesai sejam lagi.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Minghao memutuskan untuk masuk saja meninggalkan Mingyu. Skenario terburuk adalah Mingyu terjebak macet dan, entah bagaimana, tak bisa menerima telepon Minghao.&#xA;&#xA;Ya Tuhan, semoga bukan kecelakaan...&#xA;&#xA;Cemas tetap menggelayuti saat lelaki itu melangkah masuk pintu gedung yang megah bersama tamu undangan lainnya, setelah melewati sederetan panjang rangkaian bunga ucapan selamat (yang tak satupun ia lirik karena pikirannya khawatir akan kondisi Mingyu yang tak diketahui).&#xA;&#xA;Satu, dua, tiga langkah menyusuri semacam lorong berisikan penuh bebungaan segar--&#xA;&#xA;\--ada di sana. Yang ia cari.&#xA;&#xA;Kim Mingyu.&#xA;&#xA;Mingyu tengah mengobrol dengan beberapa orang yang kelihatannya jauh lebih tua darinya. Ia tertawa, tersenyum, memamerkan taringnya seperti biasa. Pundaknya ditepuk-tepuk dan Mingyu mengangguk-angguk, seperti tengah dinasehati.&#xA;&#xA;Alis Minghao makin menukik. Keningnya berkerut.&#xA;&#xA;Aneh.&#xA;&#xA;Kenapa Mingyu jadi pager bagus di nikahan Bang Jihoon.....?]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaooffice" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaooffice</span></a></p>

<p>Kedua alisnya tertaut. Sudah tiga kali dia menelepon Mingyu, namun lelaki itu tidak menjawab. Whatsapp juga tidak dibalas. Minghao menelpon nomor Mingyu, tapi sia-sia belaka. Decakan kesal lepas sebelum ia memutuskan sambungan. Arlojinya menunjukkan hampir pukul 7 malam. Pesta selesai sejam lagi.</p>



<p>Minghao memutuskan untuk masuk saja meninggalkan Mingyu. Skenario terburuk adalah Mingyu terjebak macet dan, entah bagaimana, tak bisa menerima telepon Minghao.</p>

<p><em>Ya Tuhan, semoga bukan kecelakaan...</em></p>

<p>Cemas tetap menggelayuti saat lelaki itu melangkah masuk pintu gedung yang megah bersama tamu undangan lainnya, setelah melewati sederetan panjang rangkaian bunga ucapan selamat (yang tak satupun ia lirik karena pikirannya khawatir akan kondisi Mingyu yang tak diketahui).</p>

<p>Satu, dua, tiga langkah menyusuri semacam lorong berisikan penuh bebungaan segar—</p>

<p>--ada di sana. Yang ia cari.</p>

<p><em>Kim Mingyu.</em></p>

<p>Mingyu tengah mengobrol dengan beberapa orang yang kelihatannya jauh lebih tua darinya. Ia tertawa, tersenyum, memamerkan taringnya seperti biasa. Pundaknya ditepuk-tepuk dan Mingyu mengangguk-angguk, seperti tengah dinasehati.</p>

<p>Alis Minghao makin menukik. Keningnya berkerut.</p>

<p><em>Aneh.</em></p>

<p><em>Kenapa Mingyu jadi pager bagus di nikahan Bang Jihoon.....?</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/281</guid>
      <pubDate>Sat, 19 Dec 2020 11:24:07 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>278.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/278?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaooffice&#xA;&#xA;Minghao bangun agak siang Sabtu itu. Ia mengulet, secara alamiah mengulurkan lengan ke sisinya, mencari kehangatan tubuh lain dalam keadaan masih mengantuk. Namun, alih-alih mengusrek wajahnya ke dada Mingyu seperti biasa, hanya dingin seprai terasa di telapak. Perlu sepuluh detik baginya mengerutkan alis untuk mengingat bahwa Mingyu pulang ke rumah orangtuanya semalam.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Minghao kembali merebah, menghadap samping. Rambut hitamnya tergerai acak di atas katun putih gading. Ia memejamkan mata.&#xA;&#xA;Jadi begini rasanya hidupnya selama dua tahun ke depan...&#xA;&#xA;Minghao menghela napas.&#xA;&#xA;Mengerikan... Padahal mereka baru sebulan memulai hubungan, tetapi ia sudah terlalu terbiasa bangun dalam dekapan Mingyu, terlalu terbiasa dengan hangat sentuhan, lembut ciuman, dan tatapan mata Mingyu... Tatapan yang menyatakan dirinya adalah seluruh dunia lelaki itu...&#xA;&#xA;Ia merapatkan kaki dan lengannya, mendadak merasa dingin meski selimut Mingyu tergolong tebal.&#xA;&#xA;Mingyu....&#xA;&#xA;Mingyu, Mingyu, Mingyu....&#xA;&#xA;Bahkan mengingat senyumnya saja, mengulang namanya di kepalanya saja, jantung Minghao berdebar kencang dan pipinya merona. Ingin menangis oleh luapan emosi.&#xA;&#xA;He fell so in love with him, it&#39;s almost as if it is a joke...&#xA;&#xA;Ini adalah keputusannya, paham. Hal yang ia pikirkan baik-baik dengan berbagai alasan. Selain kesempatan berkarir dan belajar lebih banyak, ia pun takut kalau terus seperti ini, suatu hari, mereka akan jenuh.&#xA;&#xA;Yang namanya hubungan pasti ada pertengkaran. Dan ketika itu terjadi, mereka tidak bisa kabur kemanapun untuk berpikir jernih karena meja kerja mereka bersebelahan. Apalagi, Mingyu menawarkan untuk tinggal bersamanya saja.&#xA;&#xA;Makanya, Minghao ingin mengambil kesempatan ini. Ia yakin inilah jalan yang benar. Bukannya ia tak ingin bersama Mingyu, tetapi ini adalah hal yang harus ia lakukan demi masa depan mereka berdua.&#xA;&#xA;Cinta bukan berarti harus bersama terus-terusan.&#xA;&#xA;Paham. Ia paham. Mingyu juga paham dan mendukungnya. Mereka dua orang dewasa dengan logika.&#xA;&#xA;Paham.&#xA;&#xA;Namun,&#xA;&#xA;tetap saja,&#xA;&#xA;sakit....&#xA;&#xA;&#34;Hiks--&#34;&#xA;&#xA;Di tempat tidur Mingyu, Minghao terisak, mengeluarkan rasa sakit yang ia tahan di hatinya sampai habis tanpa sisa, agar ia bisa tersenyum malam nanti di pesta pernikahan Jihoon dengan kekasihnya yang tampan dalam genggaman.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaooffice" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaooffice</span></a></p>

<p>Minghao bangun agak siang Sabtu itu. Ia mengulet, secara alamiah mengulurkan lengan ke sisinya, mencari kehangatan tubuh lain dalam keadaan masih mengantuk. Namun, alih-alih mengusrek wajahnya ke dada Mingyu seperti biasa, hanya dingin seprai terasa di telapak. Perlu sepuluh detik baginya mengerutkan alis untuk mengingat bahwa Mingyu pulang ke rumah orangtuanya semalam.</p>



<p>Minghao kembali merebah, menghadap samping. Rambut hitamnya tergerai acak di atas katun putih gading. Ia memejamkan mata.</p>

<p><em>Jadi begini rasanya hidupnya selama dua tahun ke depan...</em></p>

<p>Minghao menghela napas.</p>

<p><em>Mengerikan</em>... Padahal mereka baru sebulan memulai hubungan, tetapi ia sudah terlalu terbiasa bangun dalam dekapan Mingyu, terlalu terbiasa dengan hangat sentuhan, lembut ciuman, dan tatapan mata Mingyu... Tatapan yang menyatakan dirinya adalah seluruh dunia lelaki itu...</p>

<p>Ia merapatkan kaki dan lengannya, mendadak merasa dingin meski selimut Mingyu tergolong tebal.</p>

<p><em>Mingyu....</em></p>

<p><em>Mingyu, Mingyu, Mingyu....</em></p>

<p>Bahkan mengingat senyumnya saja, mengulang namanya di kepalanya saja, jantung Minghao berdebar kencang dan pipinya merona. Ingin menangis oleh luapan emosi.</p>

<p><em>He fell so in love with him, it&#39;s almost as if it is a joke...</em></p>

<p>Ini adalah keputusannya, paham. Hal yang ia pikirkan baik-baik dengan berbagai alasan. Selain kesempatan berkarir dan belajar lebih banyak, ia pun takut kalau terus seperti ini, suatu hari, mereka akan jenuh.</p>

<p>Yang namanya hubungan pasti ada pertengkaran. Dan ketika itu terjadi, mereka tidak bisa kabur kemanapun untuk berpikir jernih karena meja kerja mereka bersebelahan. Apalagi, Mingyu menawarkan untuk tinggal bersamanya saja.</p>

<p>Makanya, Minghao ingin mengambil kesempatan ini. Ia yakin inilah jalan yang benar. Bukannya ia tak ingin bersama Mingyu, tetapi ini adalah hal yang harus ia lakukan demi masa depan mereka berdua.</p>

<p>Cinta bukan berarti harus bersama terus-terusan.</p>

<p>Paham. Ia paham. Mingyu juga paham dan mendukungnya. Mereka dua orang dewasa dengan logika.</p>

<p><em>Paham.</em></p>

<p>Namun,</p>

<p>tetap saja,</p>

<p><em>sakit....</em></p>

<p>“<em>Hiks</em>—”</p>

<p>Di tempat tidur Mingyu, Minghao terisak, mengeluarkan rasa sakit yang ia tahan di hatinya sampai habis tanpa sisa, agar ia bisa tersenyum malam nanti di pesta pernikahan Jihoon dengan kekasihnya yang tampan dalam genggaman.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/278</guid>
      <pubDate>Sat, 19 Dec 2020 03:49:26 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>277.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/277?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyuhaooffice&#xA;&#xA;Hal lain yang membuat Minghao senang diajari masak oleh Mingyu adalah kejujuran lelaki itu. Ia tidak kejam menyatakan enak atau tidak, alih-alih memberikan solusi bagaimana membuat masakannya lebih berkesan di lidah penikmatnya.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Sejumput garam, sedikit gula, satu sachet saus tomat dan sambal, separut jahe, segeprek bawang putih... Hal-hal simpel yang Minghao tadinya tidak tahu dapat memperkaya rasa suatu masakan. Notes berisikan resep miliknya sudah penuh oleh catatan-catatan kecil. Pun kali ini, Mingyu memberikan sedikit masukan dan Minghao dengan rajin menulisnya.&#xA;&#xA;Selesai makan, Mingyu mencuci piring dan peralatan makan lainnya, sementara Minghao sudah duduk sedari tadi di sofa ruang tengah kamar kost Mingyu, bantal sofa di pangkuan, melanjutkan bacaannya. Tidak lama, Mingyu pun ikut bergabung dengannya.&#xA;&#xA;Lelaki itu merebahkan kepalanya ke bahu Minghao sambil menyesap secangkir besar cokelat panas. Di luar, hujan turun lagi. Secara refleks, Minghao menyandarkan pipinya ke kepala Mingyu. Ia menghirup napas dalam-dalam. Kekasihnya wangi sabun dan shampoo yang kini telah familier baginya.&#xA;&#xA;Mereka duduk di sana dalam keadaan seperti itu, beberapa saat menikmati rintik hujan menerpa bumi, menjadikannya satu-satunya bunyi yang menyusup kesunyian malam itu.&#xA;&#xA;Syahdu.&#xA;&#xA;Minghao menutup buku, menaruhnya di atas nakas samping sofa, sebelum mengelus kepala Mingyu dengan pipinya.&#xA;&#xA;&#34;Gyu....,&#34; mulainya. &#34;Aku mau ngasih tau sesuatu...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gini. Sebenernya ini cerita agak lama sih. Dua bulan lalu, aku dikabarin Bang Jihoon kalo aku ditawarin promosi.&#34;&#xA;&#xA;Perlahan, kepala Mingyu menjauh dari bahu Minghao. Ekspresinya campuran kaget dan senang.&#xA;&#xA;&#34;Serius??&#34;&#xA;&#xA;Minghao mengangguk.&#xA;&#xA;&#34;Congratulations!!&#34; Mingyu lantas memeluk erat kekasihnya, menghadiahinya kecupan di sekujur wajah. Dari kening, kelopak mata, pipi, hidung, rahang, dagu, bibir... Minghao perlu mendorong Mingyu untuk mampu melanjutkan ceritanya, walau ia sendiri pun tertawa lepas akan tingkah kekasihnya.&#xA;&#xA;&#34;Aku udah kerja di kantor ini 7 tahun. Dua kali promosi. Tapi, yang ketiga ini, ini opportunity gede. Aku dikasih project sendiri, tim sendiri, posisi kayak Bang Jihoon lah, tapi lebih banyak orangnya.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu meringis makin lebar. &#34;You deserve it,&#34; pujinya dengan bangga.&#xA;&#xA;Pipi Minghao merona karenanya.&#xA;&#xA;&#34;Tapi.&#34;&#xA;&#xA;Ia mengambil kedua tangan Mingyu untuk digenggam.&#xA;&#xA;&#34;Bukan di sini.&#34;&#xA;&#xA;Ringisan dengan cepat sirna.&#xA;&#xA;&#34;Di Jepang. Headquarter.&#34;&#xA;&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;&#xA;Hening.&#xA;&#xA;&#34;............Berapa lama?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dua tahun,&#34; dirasakannya tangan Mingyu menegang dalam genggaman. &#34;Proyek baru di sana. Kerjasama antara pemerintah Jepang dan Indonesia dan kita menang tender. Makanya mereka perlu orang Indonesia di sana dan Bang Jihoon ngusulin namaku. Dan mereka oke. Aku pergi akhir bulan ini...&#34;&#xA;&#xA;Mingyu terlalu diam, bahkan setelah Minghao berhenti bicara. Tak ayal, ia pun mulai cemas.&#xA;&#xA;&#34;Gyu...are you okay...?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mm,&#34; alis lelaki itu berkerut. &#34;I just...I need some time to process all this information...I mean, mendadak banget...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yeah...yeah, I know, I&#39;m sor--&#34;&#xA;&#xA;Telunjuk Mingyu menekan bibirnya.&#xA;&#xA;&#34;Don&#39;t,&#34; larangnya, sambil menggeleng kepala sedih. &#34;Kamu jangan minta maaf. This is your life. Your future. I believe you decided this for the best. So please, never, ever, say you&#39;re sorry. There is nothing to be sorry for.&#34;&#xA;&#xA;Minghao, tersenyum, mengecup telunjuk Mingyu. Lalu telapak tangannya. Kedua punggung tangan. Kemudian, bibirnya.&#xA;&#xA;&#34;This is our life. Our future, Gyu,&#34; senyumnya makin manis. &#34;Aku mutusin ini setelah aku pertimbangin masak-masak, dengan kamu di dalamnya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;........Just so you know, I have no intention to ever let you go,&#34; gumam Mingyu.&#xA;&#xA;Minghao terkekeh. &#34;What a coincidence,&#34; ringisnya jahil. &#34;Aku juga mikir hal yang sama.&#34;&#xA;&#xA;Bibir mereka menyatu lagi. Sama lembutnya, namun lebih mantap. Lebih posesif.&#xA;&#xA;&#34;I need time to accept this...,&#34; bisiknya ke bibir Minghao.&#xA;&#xA;&#34;Then take all the time you need, baby, I am here....&#34;&#xA;&#xA;Pelukannya pada Mingyu mengerat.&#xA;&#xA;&#34;I&#39;m always here with you...&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyuhaooffice" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">gyuhaooffice</span></a></p>

<p>Hal lain yang membuat Minghao senang diajari masak oleh Mingyu adalah kejujuran lelaki itu. Ia tidak kejam menyatakan enak atau tidak, alih-alih memberikan solusi bagaimana membuat masakannya lebih berkesan di lidah penikmatnya.</p>



<p>Sejumput garam, sedikit gula, satu sachet saus tomat dan sambal, separut jahe, segeprek bawang putih... Hal-hal simpel yang Minghao tadinya tidak tahu dapat memperkaya rasa suatu masakan. Notes berisikan resep miliknya sudah penuh oleh catatan-catatan kecil. Pun kali ini, Mingyu memberikan sedikit masukan dan Minghao dengan rajin menulisnya.</p>

<p>Selesai makan, Mingyu mencuci piring dan peralatan makan lainnya, sementara Minghao sudah duduk sedari tadi di sofa ruang tengah kamar kost Mingyu, bantal sofa di pangkuan, melanjutkan bacaannya. Tidak lama, Mingyu pun ikut bergabung dengannya.</p>

<p>Lelaki itu merebahkan kepalanya ke bahu Minghao sambil menyesap secangkir besar cokelat panas. Di luar, hujan turun lagi. Secara refleks, Minghao menyandarkan pipinya ke kepala Mingyu. Ia menghirup napas dalam-dalam. Kekasihnya wangi sabun dan shampoo yang kini telah familier baginya.</p>

<p>Mereka duduk di sana dalam keadaan seperti itu, beberapa saat menikmati rintik hujan menerpa bumi, menjadikannya satu-satunya bunyi yang menyusup kesunyian malam itu.</p>

<p>Syahdu.</p>

<p>Minghao menutup buku, menaruhnya di atas nakas samping sofa, sebelum mengelus kepala Mingyu dengan pipinya.</p>

<p>“Gyu....,” mulainya. “Aku mau ngasih tau sesuatu...”</p>

<p>“Hmm?”</p>

<p>“Gini. Sebenernya ini cerita agak lama sih. Dua bulan lalu, aku dikabarin Bang Jihoon kalo aku ditawarin promosi.”</p>

<p>Perlahan, kepala Mingyu menjauh dari bahu Minghao. Ekspresinya campuran kaget dan senang.</p>

<p>“Serius??”</p>

<p>Minghao mengangguk.</p>

<p>“Congratulations!!” Mingyu lantas memeluk erat kekasihnya, menghadiahinya kecupan di sekujur wajah. Dari kening, kelopak mata, pipi, hidung, rahang, dagu, bibir... Minghao perlu mendorong Mingyu untuk mampu melanjutkan ceritanya, walau ia sendiri pun tertawa lepas akan tingkah kekasihnya.</p>

<p>“Aku udah kerja di kantor ini 7 tahun. Dua kali promosi. Tapi, yang ketiga ini, ini opportunity gede. Aku dikasih project sendiri, tim sendiri, posisi kayak Bang Jihoon lah, tapi lebih banyak orangnya.”</p>

<p>Mingyu meringis makin lebar. “You deserve it,” pujinya dengan bangga.</p>

<p>Pipi Minghao merona karenanya.</p>

<p>“Tapi.”</p>

<p>Ia mengambil kedua tangan Mingyu untuk digenggam.</p>

<p>“Bukan di sini.”</p>

<p>Ringisan dengan cepat sirna.</p>

<p>“Di Jepang. Headquarter.”</p>

<p>.
.
.
.
.</p>

<p>Hening.</p>

<p>”............Berapa lama?”</p>

<p>“Dua tahun,” dirasakannya tangan Mingyu menegang dalam genggaman. “Proyek baru di sana. Kerjasama antara pemerintah Jepang dan Indonesia dan kita menang tender. Makanya mereka perlu orang Indonesia di sana dan Bang Jihoon ngusulin namaku. Dan mereka oke. Aku pergi akhir bulan ini...”</p>

<p>Mingyu terlalu diam, bahkan setelah Minghao berhenti bicara. Tak ayal, ia pun mulai cemas.</p>

<p>“Gyu...<em>are you okay</em>...?”</p>

<p>“Mm,” alis lelaki itu berkerut. “I just...I need some time to process all this information...I mean, mendadak banget...”</p>

<p>“<em>Yeah</em>...yeah, I know, I&#39;m sor—”</p>

<p>Telunjuk Mingyu menekan bibirnya.</p>

<p>“<em>Don&#39;t</em>,” larangnya, sambil menggeleng kepala sedih. “Kamu jangan minta maaf. This is your life. Your future. I believe you decided this for the best. So please, never, ever, say you&#39;re sorry. There is <em>nothing</em> to be sorry for.”</p>

<p>Minghao, tersenyum, mengecup telunjuk Mingyu. Lalu telapak tangannya. Kedua punggung tangan. Kemudian, bibirnya.</p>

<p>“This is <em>our</em> life. <em>Our</em> future, Gyu,” senyumnya makin manis. “Aku mutusin ini setelah aku pertimbangin masak-masak, dengan kamu di dalamnya.”</p>

<p>”........Just so you know, I have no intention to ever let you go,” gumam Mingyu.</p>

<p>Minghao terkekeh. “<em>What a coincidence</em>,” ringisnya jahil. “Aku juga mikir hal yang sama.”</p>

<p>Bibir mereka menyatu lagi. Sama lembutnya, namun lebih mantap. Lebih posesif.</p>

<p>“I need time to accept this...,” bisiknya ke bibir Minghao.</p>

<p>“Then take all the time you need, <em>baby</em>, I am here....”</p>

<p>Pelukannya pada Mingyu mengerat.</p>

<p>“<em>I&#39;m always here with you</em>...”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/277</guid>
      <pubDate>Sat, 19 Dec 2020 03:43:54 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>