<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>🌾</title>
    <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/</link>
    <description>narrative writings of thesunmetmoon</description>
    <pubDate>Tue, 14 Apr 2026 08:20:00 +0000</pubDate>
    <image>
      <url>https://i.snap.as/K7JGOEOo.png</url>
      <title>🌾</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/</link>
    </image>
    <item>
      <title>First Day</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/2-first-day?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#xA;&#xA;gyushuahighschool&#xA;&#xA;Ditinggalkan begitu saja tanpa penjelasan lebih, Mingyu sebagai si dewasa lah yang terpaksa mengambil alih. &#34;Ah...sekarang kita ke kelas dulu aja ya?&#34; meski dengan hati agak berat, dia tersenyum. Separuh kasihan, separuhnya masih ngang-ngong-ngang-ngong akan kejadian barusan. Bisa-bisanya kakaknya mendadak menaruh tanggung jawab begini besar ke pundak Mingyu di hari Senin yang cerah ini.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Anak bernama Joshua itu pun mengangguk. Bersamaan dengan rombongan guru lainnya, mereka melintasi koridor sekolah yang telah sepi. Para murid telah berada di kelas masing-masing dan menanti kedatangan guru mereka. Mingyu dan Joshua berjalan dalam diam. Lembut sinar mentari membanjiri lantai yang mereka pijak, ditemani bunyi sepatu menapak satu langkah demi satu langkah. Sebuah keheningan yang, secara absurd, bisa dibilang nyaman.&#xA;&#xA;&#34;Kamu di negara ini sendirian?&#34;&#xA;&#xA;Joshua mengangguk.&#xA;&#xA;&#34;Apa nggak apa-apa? Maksud saya, apa orangtuamu—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Orangtuaku udah nggak ada, Sen,&#34; potong si anak. Intonasinya tetap tenang seperti sebelumnya. &#34;Sen nggak usah cemas. Aku udah biasa sendirian. Kalo Sen keganggu dan mau aku tinggal di luar sebenernya nggak apa-apa sih. Tadi aku mikirin duitnya aja. Cuma kata Choi-sen sekolah mau bayarin, so...&#34;&#xA;&#xA;Kalimatnya terputus. Pas Joshua menoleh, dilihatnya Mingyu sudah memandanginya dengan ketidak setujuan terpampang jelas di mata. &#34;Saya bukannya keganggu. Sama sekali bukan. Maaf sudah berasumsi seenaknya. Saya nggak ada maksud menyinggung atau apa,&#34; tatapnya serius, menegaskan bahwa ucapannya tulus. Joshua rasanya pingin mendengus geli. &#34;Kalo begitu keadaannya, oke, saya yang akan jadi keluarga kamu di sini.&#34;&#xA;&#xA;GREK!&#xA;&#xA;Pintu geser terbuka. Mereka sudah sampai di ambang pintu kelas. Mingyu sontak melontarkan selayang pandang ke anak-anak muridnya yang buru-buru kembali ke tempat duduknya masing-masing. &#34;Kwon Soonyoung! Balik ke meja kamu sekarang!&#34; ancamnya sambil bercanda, yang dibalas anak itu dengan cengiran jahil. Dia melangkah masuk, sama sekali nggak sadar kalau Joshua masih memandanginya dengan bola mata melebar dan pipi bersemu.&#xA;&#xA;...Sen tadi bilang apa? batin si anak. Meski begitu, dia segera menggeleng membuang pemikirannya barusan. Kim-sen pasti nggak ada maksud selain bantuin dirinya saja. Pasti._ Dia pun ikut melangkah masuk.&#xA;&#xA;Setelah menulis namanya di papan tulis menggunakan kapur—baik nama asli maupun nama panggilannya—Joshua tersenyum pada semua orang di situ. Auranya penuh dengan kepercayaan diri. &#34;Hi, guys! Namaku Hong Jisoo, tapi panggil aja Joshua. Aku di negara ini nggak kenal siapa-siapa, jadi kalo kalian semua bisa jadi temen pertamaku, kayaknya aku bakal seneng banget,&#34; cengirannya lebar. &#34;Oh iya, jujur aku nggak begitu tau budaya ato kebiasaan di sini. Kalo aku ada salah ngomong ato berbuat yang nggak wajar menurut kalian, plis kasih tau ya. Jangan dibully juga akunya, hatiku rapuh hiks.&#34; Sambil pura-pura mengusap air mata nggak kasat mata, dia memancing gelak tawa dari seisi kelas.&#xA;&#xA;&#34;Iya, tenang aja, Joshi, ntar kita bully kok!&#34; lantang seseorang menyeloroh. Orang itu berpipi bulat dan bermata sipit. &#34;Eh nggak apa kan gue panggil Joshi?&#34;&#xA;&#xA;Joshua, ikut terkekeh, menjawab, &#34; Santai. Asal nggak dipanggil &#39;Sayang&#39; mah aman. But I can think about it after a dinner date and a forehead kiss.&#34; Dikedipkannya satu mata dan anak lelaki itu tertawa makin kencang.&#xA;&#xA;&#34;Baik, baik,&#34; Mingyu mencoba menenangkan keriuhan yang mulai meluas. &#34;Tolong dibantu ya teman barunya, anak-anak. Untuk bangku, sepertinya sebelah Soonyoung...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sini! Di sini aja, Sen!&#34; anak yang sama mengangkat lengannya tinggi, dengan ceria menawarkan bangku sebelahnya. &#34;Lam kenal, Joshi, gue Kwon Soonyoung. Panggil gue Hoshi juga boleh! Semuanya manggil gue kayak gitu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh?&#34; sambil berjalan menuju bangkunya, Joshua lanjut mengobrol. &#34;Hoshi? That&#39;s cute. Joshi and Hoshi, huh?&#34; Tawanya lepas saat dia duduk dan Soonyoung langsung menepuk pundaknya ringan. &#34;Salam kenal juga, Hoshi. Mohon dibantu ya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Beres\~&#34; cengir si anak. &#34;Nanti makan siang ikut gue aja. Abis makan gue anterin keliling sekolah kalo lo mau.&#34;&#xA;&#xA;Joshua tersenyum, &#34;Mau banget. Thanks.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu memperhatikan interaksi tersebut dengan senyuman tipis, diam-diam menghela napas yang entah sejak kapan tertahan. Setiap ada perubahan terjadi di ruang kelasnya, sebagai seorang guru, adalah wajar baginya untuk memantau bagaimana muridnya menerima perubahan tersebut. Sepertinya dia nggak perlu cemas kali ini. &#34;Nah, kita mulai aja ya pelajarannya,&#34; diangkatnya buku teks bersamaaan dengan anak-anak yang juga mempersiapkan catatan mereka. &#34;Buka halaman—&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://thesunmetmoon.com/wp-content/uploads/2026/01/da9cb4cbff602f83e86ce0823536ea7d_t.jpeg" alt=""/></p>

<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuahighschool" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuahighschool</span></a></p>

<p>Ditinggalkan begitu saja tanpa penjelasan lebih, Mingyu sebagai si dewasa lah yang terpaksa mengambil alih. “Ah...sekarang kita ke kelas dulu aja ya?” meski dengan hati agak berat, dia tersenyum. Separuh kasihan, separuhnya masih ngang-ngong-ngang-ngong akan kejadian barusan. Bisa-bisanya kakaknya mendadak menaruh tanggung jawab begini besar ke pundak Mingyu di hari Senin yang cerah ini.</p>



<p>Anak bernama Joshua itu pun mengangguk. Bersamaan dengan rombongan guru lainnya, mereka melintasi koridor sekolah yang telah sepi. Para murid telah berada di kelas masing-masing dan menanti kedatangan guru mereka. Mingyu dan Joshua berjalan dalam diam. Lembut sinar mentari membanjiri lantai yang mereka pijak, ditemani bunyi sepatu menapak satu langkah demi satu langkah. Sebuah keheningan yang, secara absurd, bisa dibilang nyaman.</p>

<p>“Kamu di negara ini sendirian?”</p>

<p>Joshua mengangguk.</p>

<p>“Apa nggak apa-apa? Maksud saya, apa orangtuamu—”</p>

<p>“Orangtuaku udah nggak ada, Sen,” potong si anak. Intonasinya tetap tenang seperti sebelumnya. “Sen nggak usah cemas. Aku udah biasa sendirian. Kalo Sen keganggu dan mau aku tinggal di luar sebenernya nggak apa-apa sih. Tadi aku mikirin duitnya aja. Cuma kata Choi-sen sekolah mau bayarin, so...”</p>

<p>Kalimatnya terputus. Pas Joshua menoleh, dilihatnya Mingyu sudah memandanginya dengan ketidak setujuan terpampang jelas di mata. “Saya bukannya keganggu. Sama sekali bukan. Maaf sudah berasumsi seenaknya. Saya nggak ada maksud menyinggung atau apa,” tatapnya serius, menegaskan bahwa ucapannya tulus. Joshua rasanya pingin mendengus geli. “Kalo begitu keadaannya, oke, saya yang akan jadi keluarga kamu di sini.”</p>

<p><em><strong>GREK!</strong></em></p>

<p>Pintu geser terbuka. Mereka sudah sampai di ambang pintu kelas. Mingyu sontak melontarkan selayang pandang ke anak-anak muridnya yang buru-buru kembali ke tempat duduknya masing-masing. “Kwon Soonyoung! Balik ke meja kamu sekarang!” ancamnya sambil bercanda, yang dibalas anak itu dengan cengiran jahil. Dia melangkah masuk, sama sekali nggak sadar kalau Joshua masih memandanginya dengan bola mata melebar dan pipi bersemu.</p>

<p><em>...Sen tadi bilang apa?</em> batin si anak. Meski begitu, dia segera menggeleng membuang pemikirannya barusan. <em>Kim-sen pasti nggak ada maksud selain bantuin dirinya saja. Pasti.</em> Dia pun ikut melangkah masuk.</p>

<p>Setelah menulis namanya di papan tulis menggunakan kapur—baik nama asli maupun nama panggilannya—Joshua tersenyum pada semua orang di situ. Auranya penuh dengan kepercayaan diri. “Hi, guys! Namaku Hong Jisoo, tapi panggil aja Joshua. Aku di negara ini nggak kenal siapa-siapa, jadi kalo kalian semua bisa jadi temen pertamaku, kayaknya aku bakal seneng banget,” cengirannya lebar. “Oh iya, jujur aku nggak begitu tau budaya ato kebiasaan di sini. Kalo aku ada salah ngomong ato berbuat yang nggak wajar menurut kalian, plis kasih tau ya. Jangan dibully juga akunya, hatiku rapuh hiks.” Sambil pura-pura mengusap air mata nggak kasat mata, dia memancing gelak tawa dari seisi kelas.</p>

<p>“Iya, tenang aja, Joshi, ntar kita bully kok!” lantang seseorang menyeloroh. Orang itu berpipi bulat dan bermata sipit. “Eh nggak apa kan gue panggil Joshi?”</p>

<p>Joshua, ikut terkekeh, menjawab, “ Santai. Asal nggak dipanggil &#39;Sayang&#39; mah aman. But I can think about it after a dinner date and a forehead kiss.” Dikedipkannya satu mata dan anak lelaki itu tertawa makin kencang.</p>

<p>“Baik, baik,” Mingyu mencoba menenangkan keriuhan yang mulai meluas. “Tolong dibantu ya teman barunya, anak-anak. Untuk bangku, sepertinya sebelah Soonyoung...”</p>

<p>“Sini! Di sini aja, Sen!” anak yang sama mengangkat lengannya tinggi, dengan ceria menawarkan bangku sebelahnya. “Lam kenal, Joshi, gue Kwon Soonyoung. Panggil gue Hoshi juga boleh! Semuanya manggil gue kayak gitu.”</p>

<p>“Oh?” sambil berjalan menuju bangkunya, Joshua lanjut mengobrol. “Hoshi? That&#39;s cute. Joshi and Hoshi, huh?” Tawanya lepas saat dia duduk dan Soonyoung langsung menepuk pundaknya ringan. “Salam kenal juga, Hoshi. Mohon dibantu ya.”</p>

<p>“Beres~” cengir si anak. “Nanti makan siang ikut gue aja. Abis makan gue anterin keliling sekolah kalo lo mau.”</p>

<p>Joshua tersenyum, “Mau banget. Thanks.”</p>

<p>Mingyu memperhatikan interaksi tersebut dengan senyuman tipis, diam-diam menghela napas yang entah sejak kapan tertahan. Setiap ada perubahan terjadi di ruang kelasnya, sebagai seorang guru, adalah wajar baginya untuk memantau bagaimana muridnya menerima perubahan tersebut. Sepertinya dia nggak perlu cemas kali ini. “Nah, kita mulai aja ya pelajarannya,” diangkatnya buku teks bersamaaan dengan anak-anak yang juga mempersiapkan catatan mereka. “Buka halaman—”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/2-first-day</guid>
      <pubDate>Fri, 02 Jan 2026 13:05:04 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>New Kid In Town</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/1-new-kid-in-town?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#xA;&#xA;gyushuahighschool&#xA;&#xA;Hong Jisoo. Musim semi tahun ini dia akan menginjak kelas 1 SMA. Meski dirinya bertolak dari negara asalnya ke negara ini, tapi nggak apa-apa. Memang berat harus ninggalin sahabat dekatnya, Vernon, dan keluarganya yang sudah jadi keluarga beneran bagi Joshua, tapi dia yakin lebih banyak kesempatan bakal kebuka buat dia setelah ini. Sekolah yang ditujunya merupakan sekolah bergengsi dengan prestasi terbaik seantero negeri. Plus, Joshua menang beasiswa full gratis sampai ke tiket pesawat, akomodasi (karena dia dapat kamar asrama), serta uang jajan.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Maka, tanpa perlu pikir panjang, Joshua langsung mengepak barang-barangnya yang super sedikit itu dan terbang ke negara ini. Sesampainya di sekolah, dia langsung disambut oleh lelaki paruh baya yang tampan dan berambut hitam. &#34;Salam kenal, Hong. Namaku Choi Seungcheol,&#34; dia tersenyum ramah. &#34;Biarpun aku kepala sekolah di sini, kita ngobrol santai aja ya. Dari berkasmu, kulihat kamu dapat beasiswa full?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hehe,&#34; Joshua meringis. Dia bangga terhadap dirinya sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Hmm. Untuk yang lain sih oke, tapi ada masalah sama asrama kamu nih...&#34;&#xA;&#xA;Kedip-kedip mata si anak. Eh kenapa nih?&#xA;&#xA;&#34;Mohon maaf banget tapi kita sebenernya lagi nggak ada kamar kosong. Kemarin sempet ada kebakaran kecil, jadi beberapa kamar lagi direnovasi. Pun kamar yang lain lagi diperiksa  dan dikuatin pertahanan akan apinya, jadi...,&#34; Choi-sen menghela napas dan menatap Joshua dengan berat hati. &#34;Maaf banget tapi kayaknya kamu harus tinggal di luar asrama.&#34;&#xA;&#xA;....Seriusan nih? Anjrit.&#xA;&#xA;&#34;Yah, Sen, gimana yah...,&#34; Joshua garuk-garuk sisi keningnya. Dia juga jadi bingung banget. &#34;Aku tuh ke sini sendirian. Nggak ada keluarga ato kenalan. Katanya dapet akomodasi di sini... Kalo mendadak disuruh tinggal di luar...&#34; Bahasa sih nggak masalah. Yang jadi masalah itu duitnya, duit. Tinggal di luar kan butuh duit. Mau kerja sambilan juga, sewa apartemen butuh uang muka beberapa bulan. Pake duit siapa??&#xA;&#xA;&#34;Hmm...paham...,&#34; Choi-sen mengetuk-ngetuk dagu sembari mikir. &#34;Maaf banget, ini salah kita, ke-miss revisi detail beasiswa. Biaya sewa sih bisa kita tanggung, cuma nggak mungkin kita kasih kamu tinggal tanpa pengawasan. Gimana pun kamu masih minor.&#34;&#xA;&#xA;Choi-sen mikir, mikir, mikir...&#xA;&#xA;Pas dia angkat wajah, kebetulan seseorang lagi numpang lewat. Jam pergantian kelas memang penyebab utama ruang guru ramai akan hiruk pikuk staff mempersiapkan materi selanjutnya atau sekadar berbincang sejenak melepas penat. Jadi, siapa saja bisa kebetulan numpang lewat pas kepala sekolah lagi ngobrol sama Joshua, but no, seolah takdir sudah ditulis rapi di kitabnya, seseorang itu haruslah adik tiri Choi Seungcheol sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Oh! Mingyu!&#34;&#xA;&#xA;Yang dipanggil lantas berhenti. &#34;Iya, Kak?&#34; jawabnya.&#xA;&#xA;&#34;Sini dulu, sini! Anak ini bakal jadi murid di kelas kamu!&#34;&#xA;&#xA;Patuh, orang yang dipanggil Mingyu itu pun mendekat. &#34;Ah, anak pindahan itu ya?&#34; sapanya dengan ramah. &#34;Salam kenal. Nama saya Kim Mingyu.&#34;&#xA;&#xA;Pas orang itu memampangkan senyuman lembutnya, Joshua harus mengerjap beberapa kali karena terpana. Ganteng banget ini orang, batinnya. Badannya tinggi, lengannya jadi. Ini mah supermodel nyasar. Lumayan juga masuk sini, jadi punya wali kelas seganteng ini. Biar nambah-nambahin semangat belajar gitu. &#34;Salam kenal, Sen,&#34; super manis, si anak tersenyum balik. &#34;Aku Joshua. Hong Jisoo, tapi semua manggil aku Joshua.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mingyu. Anak ini dapet beasiswa full, tapi kan asrama cowok lagi direnov,&#34; Kim-sen mengangguk-angguk saat Choi-sen menjelaskan sambil menunjukkan berkas Joshua. &#34;Jadi mau nggak mau dia harus tinggal di luar asrama.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hoo...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi dia nggak ada keluarga ato kenalan di sini. Nggak tau siapa-siapa.”&#xA;&#xA;Serta-merta, Mingyu menjadi awas. &#34;Bahaya dong,&#34; kernyitan sebelah alis. &#34;Nggak bisa dibiarin tinggal bener-bener sendirian gitu.&#34; Apa faedahnya mereka jadi guru kalau seorang anak murid ditelantarin gitu aja di negara asing? Sekalian saja ijin mengajar mereka dicabut.&#xA;&#xA;&#34;Nah. Makanya, kamu setuju kan kalo dia tinggal sama kamu aja?&#34; Choi-sen meringis.&#xA;&#xA;Hening.&#xA;&#xA;&#34;...Maaf. Maksudnya gimana, Kak?&#34; senyuman timpang. Jelas Kim-sen masih mencerna apa yang barusan keluar dari mulut kakaknya.&#xA;&#xA;&#34;Hah...,&#34; otak Joshua sendiri nggak bisa menangkap secepat itu, apalagi hal yang super mendadak kayak belok kiri padahal sen kanan. &#34;Bentar, bentar, Sen.... what??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bener kan??&#34; Choi-sen mengangkat bahu sok polos. &#34;Aku jelas nggak bisa soalnya ada suamiku di rumah. Wonwoo juga sama. Cuma kamu yang single, tinggal sendiri deket dari sekolah dan bisa kupercaya!&#34;&#xA;&#xA;Kim-sen kehilangan kata-kata. Joshua malah jadi memandangi wajah melongo yang (tetap) ganteng itu. &#34;Nah, nah! Semangat, Mingyu! Kalo ada kesulitan, bilang aja ya! Joshua juga! Ayo mulai kelas pagi kalian sana,&#34; Choi-sen kemudian tertawa membahana bersamaan dengan bunyi dering bel pertama. Tepukan kencang kemudian mendatangi bahu Kim-sen seolah menyegel belitan benang merah dua orang asing yang baru pertama bertemu di hari itu, di suatu pagi ketika kelopak bunga Sakura menghujani sepanjang trotoar di depan gerbang sekolah mereka yang megah.&#xA;&#xA;Menyatukan takdir Hong Jisoo dengan Kim Mingyu.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://thesunmetmoon.com/wp-content/uploads/2025/12/InShot_20251228_120655696-e1766898666567.jpg" alt=""/></p>

<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuahighschool" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuahighschool</span></a></p>

<p>Hong Jisoo. Musim semi tahun ini dia akan menginjak kelas 1 SMA. Meski dirinya bertolak dari negara asalnya ke negara ini, tapi nggak apa-apa. Memang berat harus ninggalin sahabat dekatnya, Vernon, dan keluarganya yang sudah jadi keluarga beneran bagi Joshua, tapi dia yakin lebih banyak kesempatan bakal kebuka buat dia setelah ini. Sekolah yang ditujunya merupakan sekolah bergengsi dengan prestasi terbaik seantero negeri. Plus, Joshua menang beasiswa full gratis sampai ke tiket pesawat, akomodasi (karena dia dapat kamar asrama), serta uang jajan.</p>



<p>Maka, tanpa perlu pikir panjang, Joshua langsung mengepak barang-barangnya yang super sedikit itu dan terbang ke negara ini. Sesampainya di sekolah, dia langsung disambut oleh lelaki paruh baya yang tampan dan berambut hitam. “Salam kenal, Hong. Namaku Choi Seungcheol,” dia tersenyum ramah. “Biarpun aku kepala sekolah di sini, kita ngobrol santai aja ya. Dari berkasmu, kulihat kamu dapat beasiswa full?”</p>

<p>“Hehe,” Joshua meringis. Dia bangga terhadap dirinya sendiri.</p>

<p>“Hmm. Untuk yang lain sih oke, tapi ada masalah sama asrama kamu nih...”</p>

<p>Kedip-kedip mata si anak. Eh kenapa nih?</p>

<p>“Mohon maaf banget tapi kita sebenernya lagi nggak ada kamar kosong. Kemarin sempet ada kebakaran kecil, jadi beberapa kamar lagi direnovasi. Pun kamar yang lain lagi diperiksa  dan dikuatin pertahanan akan apinya, jadi...,” Choi-sen menghela napas dan menatap Joshua dengan berat hati. “Maaf banget tapi kayaknya kamu harus tinggal di luar asrama.”</p>

<p>....Seriusan nih? <em>Anjrit</em>.</p>

<p>“Yah, Sen, gimana yah...,” Joshua garuk-garuk sisi keningnya. Dia juga jadi bingung banget. “Aku tuh ke sini sendirian. Nggak ada keluarga ato kenalan. Katanya dapet akomodasi di sini... Kalo mendadak disuruh tinggal di luar...” Bahasa sih nggak masalah. Yang jadi masalah itu duitnya, duit. Tinggal di luar kan butuh duit. Mau kerja sambilan juga, sewa apartemen butuh uang muka beberapa bulan. <em>Pake duit siapa??</em></p>

<p>“Hmm...paham...,” Choi-sen mengetuk-ngetuk dagu sembari mikir. “Maaf banget, ini salah kita, ke-miss revisi detail beasiswa. Biaya sewa sih bisa kita tanggung, cuma nggak mungkin kita kasih kamu tinggal tanpa pengawasan. Gimana pun kamu masih minor.”</p>

<p>Choi-sen mikir, mikir, mikir...</p>

<p>Pas dia angkat wajah, kebetulan seseorang lagi numpang lewat. Jam pergantian kelas memang penyebab utama ruang guru ramai akan hiruk pikuk staff mempersiapkan materi selanjutnya atau sekadar berbincang sejenak melepas penat. Jadi, siapa saja bisa kebetulan numpang lewat pas kepala sekolah lagi ngobrol sama Joshua, <em>but no</em>, seolah takdir sudah ditulis rapi di kitabnya, seseorang itu haruslah adik tiri Choi Seungcheol sendiri.</p>

<p>“Oh! Mingyu!”</p>

<p>Yang dipanggil lantas berhenti. “Iya, Kak?” jawabnya.</p>

<p>“Sini dulu, sini! Anak ini bakal jadi murid di kelas kamu!”</p>

<p>Patuh, orang yang dipanggil Mingyu itu pun mendekat. “Ah, anak pindahan itu ya?” sapanya dengan ramah. “Salam kenal. Nama saya Kim Mingyu.”</p>

<p>Pas orang itu memampangkan senyuman lembutnya, Joshua harus mengerjap beberapa kali karena terpana. <em>Ganteng banget ini orang</em>, batinnya. Badannya tinggi, lengannya jadi. Ini mah supermodel nyasar. Lumayan juga masuk sini, jadi punya wali kelas seganteng ini. Biar nambah-nambahin semangat belajar gitu. “Salam kenal, Sen,” super manis, si anak tersenyum balik. “Aku Joshua. Hong Jisoo, tapi semua manggil aku Joshua.”</p>

<p>“Mingyu. Anak ini dapet beasiswa full, tapi kan asrama cowok lagi direnov,” Kim-sen mengangguk-angguk saat Choi-sen menjelaskan sambil menunjukkan berkas Joshua. “Jadi mau nggak mau dia harus tinggal di luar asrama.”</p>

<p>“Hoo...”</p>

<p>“Tapi dia nggak ada keluarga ato kenalan di sini. Nggak tau siapa-siapa.”</p>

<p>Serta-merta, Mingyu menjadi awas. “Bahaya dong,” kernyitan sebelah alis. “Nggak bisa dibiarin tinggal bener-bener sendirian gitu.” Apa faedahnya mereka jadi guru kalau seorang anak murid ditelantarin gitu aja di negara asing? Sekalian saja ijin mengajar mereka dicabut.</p>

<p>“Nah. Makanya, kamu setuju kan kalo dia tinggal sama kamu aja?” Choi-sen meringis.</p>

<p>Hening.</p>

<p>”...Maaf. Maksudnya gimana, Kak?” senyuman timpang. Jelas Kim-sen masih mencerna apa yang barusan keluar dari mulut kakaknya.</p>

<p>“Hah...,” otak Joshua sendiri nggak bisa menangkap secepat itu, apalagi hal yang super mendadak kayak belok kiri padahal sen kanan. “Bentar, bentar, Sen.... <em>what??</em>“</p>

<p>“Bener kan??” Choi-sen mengangkat bahu sok polos. “Aku jelas nggak bisa soalnya ada suamiku di rumah. Wonwoo juga sama. Cuma kamu yang single, tinggal sendiri deket dari sekolah dan bisa kupercaya!”</p>

<p>Kim-sen kehilangan kata-kata. Joshua malah jadi memandangi wajah melongo yang (tetap) ganteng itu. “Nah, nah! Semangat, Mingyu! Kalo ada kesulitan, bilang aja ya! Joshua juga! Ayo mulai kelas pagi kalian sana,” Choi-sen kemudian tertawa membahana bersamaan dengan bunyi dering bel pertama. Tepukan kencang kemudian mendatangi bahu Kim-sen seolah menyegel belitan benang merah dua orang asing yang baru pertama bertemu di hari itu, di suatu pagi ketika kelopak bunga Sakura menghujani sepanjang trotoar di depan gerbang sekolah mereka yang megah.</p>

<p>Menyatukan takdir Hong Jisoo dengan Kim Mingyu.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/1-new-kid-in-town</guid>
      <pubDate>Sun, 28 Dec 2025 05:15:16 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Ch. 1.6: First Interaction (Unlocked: Fox Clan)</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/ch-1-6-first-interaction-unlocked-fox-clan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[haremhaohybrid&#xA;&#xA;&#34;Aku ingin mengenal...,&#34; alih pandangnya menetap ke salah satu anggota klan karnivora, tepatnya yang tengah menaikkan gagang kacamata bulatnya, lalu menunjuk. &#34;Rubah itu.&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Dengus geli keluar sebagai respon pertama yang bersangkutan. &#34;Rubah itu...katanya,&#34; ia menggeleng sambil menutup setengah bagian wajah atas. &#34;Seumur hidup, baru kali ini aku dipanggil begitu. Xu Minghao, kejutan apa lagi yang kau bawa ke sini...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Baiklah, jikalau begitu—&#34;&#xA;&#xA;Tiba-tiba saja semua yang hadir di sana beranjak dari duduknya. Kwon membantu kedua suaminya yang sedang hamil besar untuk berdiri. Seniman yang seharusnya menghibur mereka turut pamit undur diri. Selang kerjapan mata saja, Minghao sudah ditinggalkan berdua di ruang perjamuan dengan anggota klan rubah. Kerjap-kerjap matanya menyiratkan banyak pertanyaan yang menuntut sebuah jawaban logis, namun sang rubah hanya melemparkan senyuman maklum. Ia menggeser meja kayu kecil berisikan sepiring daging ayam rebus maju mendekati Minghao. Kini, jarak duduk mereka terbilang cukup dekat.&#xA;&#xA;&#34;Sesuai kesepakatan, jika ada yang menarik minatmu, maka waktu dan tempat akan dipersilakan untuk kita berbincang berdua saja,&#34; dengan tenang, sumpit Jeon Wonwoo meraih sepotong daging putih. &#34;Terus terang aku tak menyangka aku akan mendapatkan kehormatan menjadi yang pertama.&#34; Taringnya menyobek daging itu sebelum ditelannya. &#34;Apa yang ingin kau ketahui, Xu Minghao?&#34;&#xA;&#xA;Wajah sang kelinci memucat. Bagaimanapun, melihat seekor karnivora memangsa daging hewan lain—meski bukan spesiesnya—tetap membawa perasaan tidak enak. Seolah secara tak langsung ia memperingatkan Minghao bahwa daging berikutnya bisa saja adalah dagingnya. Tangan Minghao agak gemetar, andaikan ia tidak berusaha secepat mungkin menenangkan dirinya. Tidak ada yang lebih buruk daripada menampakkan kelemahan di depan musuh—&#xA;&#xA;—Ah.&#xA;&#xA;&#34;...terbuka kah?&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo mengerjap, luput menangkap cicitan Minghao barusan, &#34;Hmm?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Emang segitu terbuka kah...sampe kamu bisa bilang aku kayak buku...?&#34; gerutu si kelinci kecil. Bibirnya manyun sebagai tanda protes.&#xA;&#xA;Tidak mengharapkan pertanyaan barusan, sang rubah menaikkan kedua alis. Matanya agak membulat. &#34;Oh... Yah...,&#34; harus menjawab bagaimana ya? Wonwoo menggaruk pipinya yang tidak gatal. &#34;Sekali pandang saja kami tahu kau membenci kami. Matamu tidak berbohong, Xu Minghao. Di dunia kami para karnivora, kebencian terang-terangan hanya akan membawa petaka.&#34; Lalu, sang rubah tersenyum simpul. &#34;Tapi, di sisi lain, melihatmu begitu jujur rasanya menyegarkan. Seperti kembali ke masa kanak-kanak yang damai dan menyenangkan...&#34;&#xA;&#xA;Alis Minghao mengerut. &#34;Aku bukan anak-anak,&#34; ketusnya.&#xA;&#xA;&#34;Secara pribadi, kuanggap usia 15 itu anak-anak,&#34; Wonwoo mengambil lagi sepotong daging ayam untuk dikunyah dan ditelan.&#xA;&#xA;&#34;Emangnya kamu sendiri umur berapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dua purnama lagi akan 28.&#34;&#xA;&#xA;Hening.&#xA;&#xA;&#34;...,&#34; Minghao berpikir sejenak. &#34;...Paman?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Uhuk—&#34; hampir Wonwoo tersedak daging. &#34;Kenapa tetiba saja aku dipanggil paman...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya karena kamu tua.&#34;&#xA;&#xA;&#34;28 belum tua,&#34; ia bersikukuh. &#34;Jika aku tua, bagaimana nasib Kak Seungcheol?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Heh. Serigala itu?&#34; seketika, paras Minghao berubah kecut. &#34;Aku nggak peduli dia kakek-kakek, relik, atau mati sekalian. Lebih baik lagi kalo semua serigala mati aja. Biar Kak Hani bisa pergi dari sana.&#34; Rasanya lidah Minghao sepat membicarakan perihal musuh terbesarnya. Ia pun menenggak teh hijau hangatnya.&#xA;&#xA;Wonwoo diam kali ini, memerhatikan Minghao dengan seksama. &#34;Kau sebegitu bencinya dengan klan serigala?&#34; tanyanya perlahan.&#xA;&#xA;&#34;Salah. Aku benci kalian semua,&#34; begitu lurus bola itu digulirkan. Begitu ringan intonasi yang digunakan. Sebuah kepolosan yang amat timpang. &#34;Kalau kalian semua nggak ada, aku, Kak Hani, Kak Shuji bakal masih tinggal damai di pondok kami, bertiga tanpa kenal derita. Karena kalian semua hidup, maka kami bertiga harus mati demi kalian. Egois. Semua karnivora seperti kalian sama egoisnya.&#34;&#xA;&#xA;Kemudian, Xu Minghao menelengkan kepala sedikit dan tersenyum begitu manis.&#xA;&#xA;&#34;Semoga kalian semua cepet mati.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo terhenyak meski dengan lihai ia menyembunyikannya. Matanya mengerjap beberapa kali, beberapa detik mencerna kalimat yang baru saja keluar dari wajah cantik berbibir merah tersebut. Ia pernah mendengar dari Kwon Soonyoung kalau klan kelinci bagai mawar yang berduri: cantik, tapi meledak-ledak. Sebagaimana suaminya. Sebagaimana Yoon Jeonghan. Dan, sekarang, sepertinya sebagaimana Xu Minghao.&#xA;&#xA;Jeon Wonwoo menumpangkan dagu di atas kepalan tangannya, masih memandang sang kelinci dengan ketertarikan yang lebih kuat kini. Ia tersenyum lagi, tapi kali ini lebih lebar, lebih tulus. &#34;Ah, maaf, aku belum mau mati secepat harapanmu,&#34; seloroh sang rubah. &#34;Lagipula, aku yang lebih mungkin membunuhmu duluan. Kau dengar kan, apa yang tadi Kwon katakan mengenai spesialisasi keluargaku?&#34;&#xA;&#xA;Minghao memicingkan mata. &#34;Obat-obatan?&#34; selidiknya penuh curiga. &#34;Kamu mau ngeracunin aku ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tidak juga,&#34; mau tak mau ia terkekeh. Kelinci yang menarik. &#34;Tapi aku bisa mengajarimu kalau kau mau.&#34;&#xA;&#xA;Telinga kelinci Minghao berkedut, jelas tergugah. &#34;Pasti ada syaratnya...,&#34; kerutan alisnya pun mendalam.&#xA;&#xA;Jeon Wonwoo tertawa lagi.&#xA;&#xA;&#34;Syaratnya hanya satu,&#34; menegakkan badannya kembali, rubah itu melanjutkan makan malamnya. Ujung sumpit lagi-lagi bergerak lihai memotong daging. Jika dilihat, cara makan Jeon Wonwoo begitu apik. Status sosial yang terpancar dari gerak-gerik, bukan dari kepongahan. &#34;Jadilah suamiku. Akan kuajarkan semua pengetahuan klan kami akan obat dan racun padamu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak, makasih,&#34; Minghao memutar bola mata. Tusukan ujung sumpit pada potongan wortelnya masuk dengan sempurna, kemudian ia bawa ke mulut untuk menelannya.&#xA;&#xA;Setelahnya, mereka menyelesaikan makan malam mereka dalam keheningan, ditemani suara-suara serangga malam dan gemerisik dedaunan tertiup angin malam.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:haremhaohybrid" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">haremhaohybrid</span></a></p>

<p>“Aku ingin mengenal...,” alih pandangnya menetap ke salah satu anggota klan karnivora, tepatnya yang tengah menaikkan gagang kacamata bulatnya, lalu menunjuk. “Rubah itu.”</p>



<p>Dengus geli keluar sebagai respon pertama yang bersangkutan. “<em>Rubah itu</em>...katanya,” ia menggeleng sambil menutup setengah bagian wajah atas. “Seumur hidup, baru kali ini aku dipanggil begitu. Xu Minghao, kejutan apa lagi yang kau bawa ke sini...”</p>

<p>“Baiklah, jikalau begitu—”</p>

<p>Tiba-tiba saja semua yang hadir di sana beranjak dari duduknya. Kwon membantu kedua suaminya yang sedang hamil besar untuk berdiri. Seniman yang seharusnya menghibur mereka turut pamit undur diri. Selang kerjapan mata saja, Minghao sudah ditinggalkan berdua di ruang perjamuan dengan anggota klan rubah. Kerjap-kerjap matanya menyiratkan banyak pertanyaan yang menuntut sebuah jawaban logis, namun sang rubah hanya melemparkan senyuman maklum. Ia menggeser meja kayu kecil berisikan sepiring daging ayam rebus maju mendekati Minghao. Kini, jarak duduk mereka terbilang cukup dekat.</p>

<p>“Sesuai kesepakatan, jika ada yang menarik minatmu, maka waktu dan tempat akan dipersilakan untuk kita berbincang berdua saja,” dengan tenang, sumpit Jeon Wonwoo meraih sepotong daging putih. “Terus terang aku tak menyangka aku akan mendapatkan kehormatan menjadi yang pertama.” Taringnya menyobek daging itu sebelum ditelannya. “Apa yang ingin kau ketahui, Xu Minghao?”</p>

<p>Wajah sang kelinci memucat. Bagaimanapun, melihat seekor karnivora memangsa daging hewan lain—meski bukan spesiesnya—tetap membawa perasaan tidak enak. Seolah secara tak langsung ia memperingatkan Minghao bahwa daging berikutnya bisa saja adalah dagingnya. Tangan Minghao agak gemetar, andaikan ia tidak berusaha secepat mungkin menenangkan dirinya. Tidak ada yang lebih buruk daripada menampakkan kelemahan di depan musuh—</p>

<p>—<em>Ah</em>.</p>

<p>”...terbuka kah?”</p>

<p>Wonwoo mengerjap, luput menangkap cicitan Minghao barusan, “Hmm?”</p>

<p>“Emang segitu terbuka kah...sampe kamu bisa bilang aku kayak buku...?” gerutu si kelinci kecil. Bibirnya manyun sebagai tanda protes.</p>

<p>Tidak mengharapkan pertanyaan barusan, sang rubah menaikkan kedua alis. Matanya agak membulat. “<em>Oh</em>... Yah...,” <em>harus menjawab bagaimana ya?</em> Wonwoo menggaruk pipinya yang tidak gatal. “Sekali pandang saja kami tahu kau membenci kami. Matamu tidak berbohong, Xu Minghao. Di dunia kami para karnivora, kebencian terang-terangan hanya akan membawa petaka.” Lalu, sang rubah tersenyum simpul. “Tapi, di sisi lain, melihatmu begitu jujur rasanya menyegarkan. Seperti kembali ke masa kanak-kanak yang damai dan menyenangkan...”</p>

<p>Alis Minghao mengerut. “Aku bukan anak-anak,” ketusnya.</p>

<p>“Secara pribadi, kuanggap usia 15 itu anak-anak,” Wonwoo mengambil lagi sepotong daging ayam untuk dikunyah dan ditelan.</p>

<p>“Emangnya kamu sendiri umur berapa?”</p>

<p>“Dua purnama lagi akan 28.”</p>

<p>Hening.</p>

<p>”...,” Minghao berpikir sejenak. “...Paman?”</p>

<p>“<em>Uhuk</em>—” hampir Wonwoo tersedak daging. “Kenapa tetiba saja aku dipanggil paman...”</p>

<p>“Ya karena kamu tua.”</p>

<p>“28 belum tua,” ia bersikukuh. “Jika aku tua, bagaimana nasib Kak Seungcheol?”</p>

<p>“<em>Heh</em>. Serigala itu?” seketika, paras Minghao berubah kecut. “Aku nggak peduli dia kakek-kakek, relik, atau mati sekalian. Lebih baik lagi kalo semua serigala mati aja. Biar Kak Hani bisa pergi dari sana.” Rasanya lidah Minghao sepat membicarakan perihal musuh terbesarnya. Ia pun menenggak teh hijau hangatnya.</p>

<p>Wonwoo diam kali ini, memerhatikan Minghao dengan seksama. “Kau sebegitu bencinya dengan klan serigala?” tanyanya perlahan.</p>

<p>“Salah. Aku benci kalian semua,” begitu lurus bola itu digulirkan. Begitu ringan intonasi yang digunakan. Sebuah kepolosan yang amat timpang. “Kalau kalian semua nggak ada, aku, Kak Hani, Kak Shuji bakal masih tinggal damai di pondok kami, bertiga tanpa kenal derita. Karena kalian semua hidup, maka kami bertiga harus <em>mati</em> demi kalian. Egois. Semua karnivora seperti kalian sama egoisnya.”</p>

<p>Kemudian, Xu Minghao menelengkan kepala sedikit dan tersenyum begitu manis.</p>

<p>“Semoga kalian semua cepet mati.”</p>

<p>Wonwoo terhenyak meski dengan lihai ia menyembunyikannya. Matanya mengerjap beberapa kali, beberapa detik mencerna kalimat yang baru saja keluar dari wajah cantik berbibir merah tersebut. Ia pernah mendengar dari Kwon Soonyoung kalau klan kelinci bagai mawar yang berduri: cantik, tapi meledak-ledak. Sebagaimana suaminya. Sebagaimana Yoon Jeonghan. Dan, sekarang, sepertinya sebagaimana Xu Minghao.</p>

<p>Jeon Wonwoo menumpangkan dagu di atas kepalan tangannya, masih memandang sang kelinci dengan ketertarikan yang lebih kuat kini. Ia tersenyum lagi, tapi kali ini lebih lebar, lebih tulus. “Ah, maaf, aku belum mau mati secepat harapanmu,” seloroh sang rubah. “Lagipula, aku yang lebih mungkin membunuhmu duluan. Kau dengar kan, apa yang tadi Kwon katakan mengenai spesialisasi keluargaku?”</p>

<p>Minghao memicingkan mata. “Obat-obatan?” selidiknya penuh curiga. “Kamu mau ngeracunin aku ya?”</p>

<p>“Tidak juga,” mau tak mau ia terkekeh. <em>Kelinci yang menarik</em>. “Tapi aku bisa mengajarimu kalau kau mau.”</p>

<p>Telinga kelinci Minghao berkedut, jelas tergugah. “Pasti ada syaratnya...,” kerutan alisnya pun mendalam.</p>

<p>Jeon Wonwoo tertawa lagi.</p>

<p>“Syaratnya hanya satu,” menegakkan badannya kembali, rubah itu melanjutkan makan malamnya. Ujung sumpit lagi-lagi bergerak lihai memotong daging. Jika dilihat, cara makan Jeon Wonwoo begitu apik. Status sosial yang terpancar dari gerak-gerik, bukan dari kepongahan. “Jadilah suamiku. Akan kuajarkan semua pengetahuan klan kami akan obat dan racun padamu.”</p>

<p>“Nggak, makasih,” Minghao memutar bola mata. Tusukan ujung sumpit pada potongan wortelnya masuk dengan sempurna, kemudian ia bawa ke mulut untuk menelannya.</p>

<p>Setelahnya, mereka menyelesaikan makan malam mereka dalam keheningan, ditemani suara-suara serangga malam dan gemerisik dedaunan tertiup angin malam.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/ch-1-6-first-interaction-unlocked-fox-clan</guid>
      <pubDate>Sun, 23 Nov 2025 12:36:00 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Ch 1.5: Introduction</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/ch-1-5-introduction?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[haremhaohybrid&#xA;&#xA;Minghao tidak menunduk ataupun mengalihkan pandangan. Sebaliknya, ia menatap bergantian satu persatu anggota klan karnivora di hadapannya perlahan-lahan, memetakan wajah mereka dalam ingatan. Sepertinya memang keberanian klan kelinci adalah sesuatu yang mendarah daging. Lima karnivora berbalutkan pakaian indah dari sutra mahal. Mereka tidak mengenakan kain warna mentereng ataupun hiasan yang tak perlu. Sederhana dari bahan berkualitas. Yang membedakan mereka dari tamu biasa adalah simbol klan masing-masing yang tersemat di kerah pakaian mereka.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Senang sekali atas kehadiran kita semua di sini,&#34; Kwon memulai, menjalankan tugasnya sebagai tuan rumah yang baik. &#34;Malam ini adalah malam sepertiga rembulan. Malam yang tepat untuk mengenalkan anggota keluarga terbaru klan kami, adik dari suamiku, kelinci termuda, Xu Minghao.&#34;&#xA;&#xA;Tak ada anggukan, hanyalah tatap saling bersirobok antara sang kelinci dengan kelima lelaki itu. Tiada ciut. Tiada bimbang. Kekopongan? Mungkin sedikit. Sisanya adalah gurat halus kebencian dan rasa jijik. Para karnivora biadab yang telah mengoyak kebahagiaan kelinci-kelinci kecil naif yang hanya ingin hidup damai bertiga di pondok kecil mereka. Gurat yang, tentu, tertangkap oleh mata-mata jeli para karnivora.&#xA;&#xA;&#34;Kau seperti buku yang terbuka, Xu Minghao,&#34; seseorang dari mereka angkat bicara, menekankan apa yang mereka semua telah ketahui. &#34;Jika ingin menyelamatkan ekormu di dunia ini, sembunyikan rasa bencimu dari musuhmu, bukannya malah mengumbarnya seperti itu.&#34; Kekehan, pelan menemani picingan mata di balik kacamata berbingkai bulat. Telinganya yang berbulu lembut mengacung agak tinggi di antara rimbun rambut yang berwarna kelam.&#xA;&#xA;&#34;Minghao, ini adalah Jeon Wonwoo dari klan rubah,&#34; Kwon memotong untuk sekilas perkenalan. &#34;Klan Jeon turun-temurun berkecimpung dalam bidang obat-obatan. Lalu, yang duduk di sebelahnya adalah Wen Junhui dari klan macan kumbang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hal yang perlu kamu ketahui dariku, Minghao, kalau lariku lebih cepat dari Soonie,&#34; ringisan melebar—setengah pongah, setengah mengejek. Yang diejek mendecih. Ekornya menyapu lantai agak gelisah.&#xA;&#xA;&#34;Jangan menantangku, Jun-ah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Menggertak, seperti biasanya.&#34;&#xA;&#xA;Seakan ada percik statis tercipta di antara tatapan mata keduanya. Dengan sebuah tepukan tangan kencang, Jisoo menengahi kedua karnivora tersebut. &#34;Tolong jaga sikap Anda, Tuan Wen,&#34; senyum sang kelinci manis, namun tutur katanya teramat dingin. &#34;Anda berada di sini untuk adik saya, bukan untuk memancing murka suami saya.&#34;&#xA;&#xA;Menunduk, Jun mendengus, acuh tak acuh membuang muka. Jika Minghao tidak benar-benar memerhatikan, rona merah tipis yang membakar pipi Jun pasti akan dilewatkannya. Alis sang kelinci mengernyit, merasa aneh barang sejenak, walau ia mengabaikannya kemudian. Perkenalan pun berlanjut.&#xA;&#xA;&#34;Berikut adalah perwakilan dari klan beruang. Kim Mingyu, inginkah kau mengucapkan sepatah-dua patah kata?&#34; sang kepala klan macan menyunggingkan senyuman ramah. Ia nampak memedulikan lelaki tersebut lebih daripada anggota klan lainnya, meskipun yang bersangkutan tetap diam dan hanya menggeleng. Ia memilih untuk memandangi Minghao dengan lekat, membuat sang kelinci merasa kurang nyaman.&#xA;&#xA;&#34;Bagaimana Anda bisa memenangkan hatinya jika hanya diam, Kim??&#34; kekeh lelaki yang lebih muda di sebelahnya. &#34;Lidah dan kata-kata adalah senjata paling berharga untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.&#34; Desisan, terdengar menetesi tiap celah keheningan dari lidah yang bercabang.&#xA;&#xA;&#34;Tentu kau juga sadar bahwa mulutmu adalah harimaumu, Chan?&#34; sahut lelaki lain di sisi satunya. Ia melipat lengan di dada, tak terpukau oleh gertak sambal barusan.&#xA;&#xA;&#34;Ah, Anda terlalu memuji saya, Tuan Choi,&#34; bukannya terpelatuk, lelaki itu justru menyeringai sambil menunduk sedikit dengan tangan di dada. &#34;Setidaknya mulut saya lebih beradab daripada kebiasaan main tangan Anda, bukan?&#34; Lelaki yang dipanggil Tuan Choi bergerak, seolah akan beranjak dari duduk untuk menarik kerah pakaiannya dan membuat kerusuhan, namun lagi-lagi mereka ditengahi.&#xA;&#xA;&#34;Lee! Choi! Sudah cukup!&#34; gelegar membahana keluar dari mulut Kwon Soonyoung. Minghao agak terkejut. Ternyata si macan itu bisa berwibawa juga jika situasi mengharuskannya. Keterkejutan Minghao pun berlanjut saat Kwon malah menoleh ke arahnya. &#34;Adik ipar, maafkan kelancangan mereka. Ini Lee Chan dari klan ular dan Choi Seungcheol dari klan serigala.&#34;&#xA;&#xA;Minghao seketika bungkam. Matanya membelalak.&#xA;&#xA;Klan serigala.&#xA;&#xA;Klan yang mengambil Jeonghan dengan paksa. Klan yang memenjaranya, membuatnya menghilang dari dunia dan menyisakan sehela nama. Klan yang membuat dirinya dan Jisoo hanya bisa merindukan saudara tertua mereka hari demi hari. Klan yang telah membuat Jeonghan menderita.&#xA;&#xA;Saat Minghao menatap wajah Choi Seungcheol, sang serigala menemukan kebencian berapi-api dalam kilatan matanya. Wonwoo sungguhlah benar. Xu Minghao adalah buku yang terbuka. Setidaknya, kakaknya, Jisoo, menyembunyikan angkara murkanya di balik senyuman lembut. Rasa-rasanya, Seungcheol ingin tertawa.&#xA;&#xA;&#34;Lagi-lagi seekor kelinci tanpa tata krama,&#34; decaknya, sengaja memanasi emosi Minghao. Duduknya agak merosot dan kedua kakinya melebar; bagai Tuan Raja di atas singgasana emasnya. &#34;Kuperingatkan saja, Xu Minghao, sekali kau membuatku marah, akan kumakan kau.&#34; Taring runcing dipampang. Telinga berbulu hitamnya berkedut memperingatkan. Geraman rendah datang dari pangkal tenggorokan. &#34;Aku di sini bukan untuk berkasih-kasihan denganmu seperti permintaan kakakmu itu. Aku di sini untuk membawamu ke klanku dan membuatmu melahirkan bayi-bayi serigala tanpa henti.&#34; Lalu, dengan nada pongah dan dongakan dagu, Choi Seungcheol menantang Xu Minghao tanpa tedeng aling-aling. &#34;Sebagaimana kau seharusnya berada, Herbivora.&#34;&#xA;&#xA;&#34;CHOI!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hao, jangan dengarkan ucapannya,&#34; sigap, Jisoo menarik Minghao ke sisinya, membawa kepala anak itu bersandar ke bahunya. &#34;Ingatlah bahwa klan ini akan selalu melindungimu.&#34; Lalu, ia melirik tajam pada Seungcheol. &#34;Bahkan bila aku harus mencekik semua yang menyakitimu dalam tidurnya malam ini.&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol menyeringai. Kwon memotong, &#34;Sayang. Tenangkan dirimu. Tidak baik berkata buruk, bayinya bisa mendengar.&#34; Minghao diam, memejamkan mata untuk menikmati elusan halus tangan Jisoo pada rambutnya. &#34;Nah, Minghao. Aku mau kau mendengarkan ucapan kakakmu, meski tolong abaikan kalimatnya yang terakhir.&#34; Sang macan sendiri sibuk mengelusi punggung Jisoo, mengetahui bagaimana seriusnya kelincinya itu akan ucapannya barusan. Kemudian, helaan napas yang berat pun terlepas. &#34;Choi, kumohon kendalikan emosimu. Klan serigala adalah aliansi berharga klan kami sejak nenek moyang. Bukan hanya itu, klan Jeon dan klan Wen pun berpikiran sama.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Saya pun,&#34; gumaman perlahan Kim mengagetkan Minghao.&#xA;&#xA;&#34;Klan beruang juga nampaknya berpikiran sama,&#34; Kwon menambahkan. &#34;Kami akan menyesal apabila harus mengusirmu dari pertemuan terakhir ini. Kau tentu tahu, kan, konsekuensinya?&#34;&#xA;&#xA;Maksudnya teramat jelas. Klan serigala tengah panik karena kelinci yang mereka kira akan melahirkan banyak generasi penerus malah sama sekali tidak disentuh oleh anak kedua sang tetua. Choi Seungcheol sebagai yang tertua harus menanggung beban untuk mendapatkan kelinci termuda dan memberikan penerus secepatnya. Jika tidak, kaum serigala terancam punah. Mendecih lagi, ia, tetapi kali ini diam seribu bahasa. Kwon telah menyentilnya tepat di urat Achillesnya. Sang macan pun menghela napas lagi.&#xA;&#xA;&#34;Adik ipar,&#34; tanyanya lembut pada Minghao. &#34;Adakah anggota klan kami yang ingin kau kenal lebih baik saat ini?&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:haremhaohybrid" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">haremhaohybrid</span></a></p>

<p>Minghao tidak menunduk ataupun mengalihkan pandangan. Sebaliknya, ia menatap bergantian satu persatu anggota klan karnivora di hadapannya perlahan-lahan, memetakan wajah mereka dalam ingatan. Sepertinya memang keberanian klan kelinci adalah sesuatu yang mendarah daging. Lima karnivora berbalutkan pakaian indah dari sutra mahal. Mereka tidak mengenakan kain warna mentereng ataupun hiasan yang tak perlu. Sederhana dari bahan berkualitas. Yang membedakan mereka dari tamu biasa adalah simbol klan masing-masing yang tersemat di kerah pakaian mereka.</p>



<p>“Senang sekali atas kehadiran kita semua di sini,” Kwon memulai, menjalankan tugasnya sebagai tuan rumah yang baik. “Malam ini adalah malam sepertiga rembulan. Malam yang tepat untuk mengenalkan anggota keluarga terbaru klan kami, adik dari suamiku, kelinci termuda, Xu Minghao.”</p>

<p>Tak ada anggukan, hanyalah tatap saling bersirobok antara sang kelinci dengan kelima lelaki itu. Tiada ciut. Tiada bimbang. Kekopongan? Mungkin sedikit. Sisanya adalah gurat halus kebencian dan rasa jijik. Para karnivora biadab yang telah mengoyak kebahagiaan kelinci-kelinci kecil naif yang hanya ingin hidup damai bertiga di pondok kecil mereka. Gurat yang, tentu, tertangkap oleh mata-mata jeli para karnivora.</p>

<p>“Kau seperti buku yang terbuka, Xu Minghao,” seseorang dari mereka angkat bicara, menekankan apa yang mereka semua telah ketahui. “Jika ingin menyelamatkan ekormu di dunia ini, sembunyikan rasa bencimu dari musuhmu, bukannya malah mengumbarnya seperti itu.” Kekehan, pelan menemani picingan mata di balik kacamata berbingkai bulat. Telinganya yang berbulu lembut mengacung agak tinggi di antara rimbun rambut yang berwarna kelam.</p>

<p>“Minghao, ini adalah Jeon Wonwoo dari klan rubah,” Kwon memotong untuk sekilas perkenalan. “Klan Jeon turun-temurun berkecimpung dalam bidang obat-obatan. Lalu, yang duduk di sebelahnya adalah Wen Junhui dari klan macan kumbang.”</p>

<p>“Hal yang perlu kamu ketahui dariku, Minghao, kalau lariku lebih cepat dari Soonie,” ringisan melebar—setengah pongah, setengah mengejek. Yang diejek mendecih. Ekornya menyapu lantai agak gelisah.</p>

<p>“Jangan menantangku, Jun-ah.”</p>

<p>“Menggertak, seperti biasanya.”</p>

<p>Seakan ada percik statis tercipta di antara tatapan mata keduanya. Dengan sebuah tepukan tangan kencang, Jisoo menengahi kedua karnivora tersebut. “Tolong jaga sikap Anda, Tuan Wen,” senyum sang kelinci manis, namun tutur katanya teramat dingin. “Anda berada di sini untuk adik saya, bukan untuk memancing murka suami saya.”</p>

<p>Menunduk, Jun mendengus, acuh tak acuh membuang muka. Jika Minghao tidak benar-benar memerhatikan, rona merah tipis yang membakar pipi Jun pasti akan dilewatkannya. Alis sang kelinci mengernyit, merasa aneh barang sejenak, walau ia mengabaikannya kemudian. Perkenalan pun berlanjut.</p>

<p>“Berikut adalah perwakilan dari klan beruang. Kim Mingyu, inginkah kau mengucapkan sepatah-dua patah kata?” sang kepala klan macan menyunggingkan senyuman ramah. Ia nampak memedulikan lelaki tersebut lebih daripada anggota klan lainnya, meskipun yang bersangkutan tetap diam dan hanya menggeleng. Ia memilih untuk memandangi Minghao dengan lekat, membuat sang kelinci merasa kurang nyaman.</p>

<p>“Bagaimana Anda bisa memenangkan hatinya jika hanya diam, Kim??” kekeh lelaki yang lebih muda di sebelahnya. “Lidah dan kata-kata adalah senjata paling berharga untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.” Desisan, terdengar menetesi tiap celah keheningan dari lidah yang bercabang.</p>

<p>“Tentu kau juga sadar bahwa mulutmu adalah harimaumu, Chan?” sahut lelaki lain di sisi satunya. Ia melipat lengan di dada, tak terpukau oleh gertak sambal barusan.</p>

<p>“Ah, Anda terlalu memuji saya, Tuan Choi,” bukannya terpelatuk, lelaki itu justru menyeringai sambil menunduk sedikit dengan tangan di dada. “Setidaknya mulut saya lebih beradab daripada kebiasaan main tangan Anda, bukan?” Lelaki yang dipanggil Tuan Choi bergerak, seolah akan beranjak dari duduk untuk menarik kerah pakaiannya dan membuat kerusuhan, namun lagi-lagi mereka ditengahi.</p>

<p>“Lee! Choi! Sudah cukup!” gelegar membahana keluar dari mulut Kwon Soonyoung. Minghao agak terkejut. Ternyata si macan itu bisa berwibawa juga jika situasi mengharuskannya. Keterkejutan Minghao pun berlanjut saat Kwon malah menoleh ke arahnya. “Adik ipar, maafkan kelancangan mereka. Ini Lee Chan dari klan ular dan Choi Seungcheol dari klan serigala.”</p>

<p>Minghao seketika bungkam. Matanya membelalak.</p>

<p><em>Klan serigala.</em></p>

<p>Klan yang mengambil Jeonghan dengan paksa. Klan yang memenjaranya, membuatnya menghilang dari dunia dan menyisakan sehela nama. Klan yang membuat dirinya dan Jisoo hanya bisa merindukan saudara tertua mereka hari demi hari. Klan yang telah membuat Jeonghan menderita.</p>

<p>Saat Minghao menatap wajah Choi Seungcheol, sang serigala menemukan kebencian berapi-api dalam kilatan matanya. Wonwoo sungguhlah benar. Xu Minghao adalah buku yang terbuka. Setidaknya, kakaknya, Jisoo, menyembunyikan angkara murkanya di balik senyuman lembut. Rasa-rasanya, Seungcheol ingin tertawa.</p>

<p>“Lagi-lagi seekor kelinci tanpa tata krama,” decaknya, sengaja memanasi emosi Minghao. Duduknya agak merosot dan kedua kakinya melebar; bagai Tuan Raja di atas singgasana emasnya. “Kuperingatkan saja, Xu Minghao, sekali kau membuatku marah, akan kumakan kau.” Taring runcing dipampang. Telinga berbulu hitamnya berkedut memperingatkan. Geraman rendah datang dari pangkal tenggorokan. “Aku di sini bukan untuk berkasih-kasihan denganmu seperti permintaan kakakmu itu. Aku di sini untuk membawamu ke klanku dan membuatmu melahirkan bayi-bayi serigala tanpa henti.” Lalu, dengan nada pongah dan dongakan dagu, Choi Seungcheol menantang Xu Minghao tanpa tedeng aling-aling. “Sebagaimana kau seharusnya berada, Herbivora.”</p>

<p><em><strong>“CHOI!”</strong></em></p>

<p>“Hao, jangan dengarkan ucapannya,” sigap, Jisoo menarik Minghao ke sisinya, membawa kepala anak itu bersandar ke bahunya. “Ingatlah bahwa klan ini akan selalu melindungimu.” Lalu, ia melirik tajam pada Seungcheol. “Bahkan bila aku harus <em>mencekik</em> semua yang menyakitimu dalam tidurnya malam ini.”</p>

<p>Seungcheol menyeringai. Kwon memotong, “Sayang. Tenangkan dirimu. Tidak baik berkata buruk, bayinya bisa mendengar.” Minghao diam, memejamkan mata untuk menikmati elusan halus tangan Jisoo pada rambutnya. “Nah, Minghao. Aku mau kau mendengarkan ucapan kakakmu, meski tolong abaikan kalimatnya yang terakhir.” Sang macan sendiri sibuk mengelusi punggung Jisoo, mengetahui bagaimana seriusnya kelincinya itu akan ucapannya barusan. Kemudian, helaan napas yang berat pun terlepas. “Choi, kumohon kendalikan emosimu. Klan serigala adalah aliansi berharga klan kami sejak nenek moyang. Bukan hanya itu, klan Jeon dan klan Wen pun berpikiran sama.”</p>

<p>“Saya pun,” gumaman perlahan Kim mengagetkan Minghao.</p>

<p>“Klan beruang juga nampaknya berpikiran sama,” Kwon menambahkan. “Kami akan menyesal apabila harus mengusirmu dari pertemuan terakhir ini. Kau tentu tahu, kan, konsekuensinya?”</p>

<p>Maksudnya teramat jelas. Klan serigala tengah panik karena kelinci yang mereka kira akan melahirkan banyak generasi penerus malah sama sekali tidak disentuh oleh anak kedua sang tetua. Choi Seungcheol sebagai yang tertua harus menanggung beban untuk mendapatkan kelinci termuda dan memberikan penerus secepatnya. Jika tidak, kaum serigala terancam punah. Mendecih lagi, ia, tetapi kali ini diam seribu bahasa. Kwon telah menyentilnya tepat di urat Achillesnya. Sang macan pun menghela napas lagi.</p>

<p>“Adik ipar,” tanyanya lembut pada Minghao. “Adakah anggota klan kami yang ingin kau kenal lebih baik saat ini?”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/ch-1-5-introduction</guid>
      <pubDate>Thu, 20 Nov 2025 12:59:34 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Ch 1.4: The Feast</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/ch-1-4-the-feast?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[haremhaohybrid&#xA;&#xA;Seakan tak peduli akan kegelisahan kelinci kecil kita, tirai malam pun turun membawa kerlipan bintang di antara terangnya bulan. Bunyi gesekan sayap jangkrik menemani kesyahduan paviliun sang kelinci saat penghuninya tengah sibuk ditata oleh kakak-kakaknya. Rambut hitam indahnya disisir rapi dan diberi minyak wewangian.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Kak Jihoon, itu mau dipakein apa...?&#34; Minghao memicingkan mata curiga terhadap bubuk berwarna kemerahan di jari sang koala.&#xA;&#xA;&#34;Ini dipakai di mata seperti ini,&#34; dengan tenang ia mengusapkannya di kelopak mata sang kelinci. &#34;Atau di pipi seperti ini.&#34; Jari yang sama berpindah ke tulang pipinya. &#34;Biar rona merah mukamu terlihat.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Buat apa sih...,&#34; keluh Minghao, yang mendapat tawa dari Jihoon sebagai balasan.&#xA;&#xA;&#34;Haohao, lihat sini,&#34; Jisoo mencolekkan kelingkingnya ke substansi yang lebih merah dan lengket dari yang Jihoon sapukan barusan. &#34;Mulutnya dibuka sedikit...&#34;&#xA;&#xA;Minghao menurut, membiarkan kakak sepupunya memulaskan gincu ke bibirnya.&#xA;&#xA;&#34;Bibirmu pecah-pecah begini... kamu tidak merawat dirimu, Sayang?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kan biasanya Kak Shuji yang merawatku!&#34; bibir sang kelinci manyun sambil melantunkan protes. &#34;Kakak pergi ya aku malas...&#34;&#xA;&#xA;Jisoo hanya tersenyum simpul. Betapa menggemaskan adik kecilnya itu. Sedari kecil, Jisoo dan Jeonghan lah yang membesarkan Minghao, epitome pecahan keluarga yang menjadi satu karena darah dan kondisi. Orangtua masing-masing telah pergi entah kemana, mungkin di dalam tanah atau di dalam perut predator, tidak ada yang mengetahui. Nasib klan kelinci setelah dinikahkan tidak terlalu menjadi prioritas dunia. Mereka bisa saja dimakan suaminya sendiri dan tak ada seorang pun yang akan menyelamatkan mereka.&#xA;&#xA;Maka dari itu, Jisoo bertekad untuk memberikan suami terbaik bagi adik kecilnya tersebut. Bila takdir naas mereka tidak bisa diapa-apakan, biarlah Jisoo berharap cinta tulus bisa tumbuh di antara Minghao dan suaminya kelak, seperti halnya dirinya dengan suami-suaminya kini. Sudah cukup ia mengetahui nasib Jeonghan karena menikahi suami dari klan yang salah. Hatinya tak tega bila Minghao harus menderita juga.&#xA;&#xA;Setelah seluruh pihak merasa puas akan kerja keras mereka, Jisoo mengelap peluh di keningnya, Jihoon membereskan alat-alat rias yang selesai digunakan, sementara Minghao tertegun menatap cermin. Ekor matanya dibuat tinggi menggunakan tinta, bersamaan dengan taburan bubuk gelap di sekitarnya yang menimbulkan sedikit kesan misterius. Kelopak mata dan pipinya dironai merah, nampak segar di pandangan. Wajahnya yang ditaburi bedak menutupi sebagian besar permukaan kulitnya. Dan bibirnya—berkilat indah, mekar dalam warna gincu merah. Sang kelinci mengerjap-ngerjapkan mata, sulit mempercayai refleksi siapakah yang tengah ditatapnya.&#xA;&#xA;&#34;Itu...aku?&#34; ucapnya terbata. Ingin tangan ia angkat untuk meraba, tetapi takut bila pada akhirnya merusak upaya kakaknya.&#xA;&#xA;&#34;Tentu saja, Sayang,&#34; kekeh Jisoo. &#34;Dan, ini, tusuk sanggul untuk rambutmu.&#34; Dengan lembut, kelinci yang lebih tua itu menggelung sebagian kecil rambut Minghao dan merapatkannya rapi dengan tusukan indah tersebut—berwarna kayu dengan aksen merah dan sedikit emas, bermotifkan dedaunan dan ukiran simbol klan macan. &#34;Ini adalah tusuk sanggul yang diberikan suamiku di hari pernikahan kami. Ini adalah tanda bahwa aku adalah bagian dari klannya sejak saat itu. Tapi, kupinjamkan ini padamu bukan untuk mengikatmu, melainkan tanda bahwa aku dan seluruh klannya akan melindungimu sampai kamu mendapatkan tusuk sanggulmu sendiri dari suamimu kelak.&#34;&#xA;&#xA;Sambil saling menatap di cermin, kedua tangan Jisoo pada bahu Minghao menimbulkan rasa lega, tetapi juga sedikit merana. Kelinci kecil kita sungguh enggan menyerahkan diri pada karnivora-karnivora biadab itu!&#xA;&#xA;&#34;Tentu, suami yang kumaksud tidaklah harus berasal dari klan karnivora yang hadir malam ini,&#34; ujarnya lembut untuk menenangkan kegelisahan Minghao yang kentara. &#34;Bila kamu menemukan kekasih hatimu, dari klan mana pun dirinya bukanlah masalah. Yang penting, dia bisa membahagiakanmu.&#34;&#xA;&#xA;Minghao mengerjap satu kali. Ah, ya. Kwon tentu telah bercerita pada kakaknya mengenai pembicaraan mereka di hutan kala itu: bahwa ia telah berjanji untuk melepaskan Minghao bila tak ada karnivora yang meluluhkan hatinya. Sang kelinci lalu mengendus.&#xA;&#xA;&#34;Aku bahagia sama diriku sendiri,&#34; disentuhnya tangan Jisoo pada bahunya. &#34;Kak Shuji nggak perlu cemas. Aku bakal baik-baik aja. Sendirian. Di hutan rumah kita.&#34;&#xA;&#xA;Jelas sekali apa maksud Minghao barusan. Secercah rasa pedih menyelimuti hati Jisoo. Ia hanya bisa tersenyum miris membalas ringisan lebar penuh kepastian dari adiknya tersebut.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Perjamuan malam itu tidak kalah megah dari pertemuan para klan karnivora sebelumnya, bahkan bisa dibilang lebih meriah. Tabuhan gendang dan merdu nyanyian membawakan hiburan bagi para tamu, berikut sajian berbagai jenis daging, dari yang berenang di sungai setempat sampai yang terbang di atas langit biru. Untuk alasan yang sangat jelas, Kwon Soonyoung tidak menyuguhkan daging kelinci dan domba, juga beberapa mahkluk herbivora lainnya yang spesiesnya bekerja di rumahnya. Ia pun menjauhkan hidangan daging apa pun dari kedua suaminya, mengisi piring-piring mereka hingga penuh dengan sayur mayur. Wortel gendut berwarna jingga untuk Jisoo dan Minghao, serta rerumputan segar dicampur daun selada untuk Seungkwan. Ia sendiri memilih menu babi hutan dan ayam di mejanya.&#xA;&#xA;Malam itu, suami-suaminya tampak begitu cantik, berkilau dalam rona kebahagiaan. Hati Kwon Soonyoung luluh seketika mata menangkap mereka. Ingin rasanya ia meraih dan menciumi tangan keduanya, namun ada yang lebih penting malam itu daripada kisah kasihnya. Berada di belakang para suaminya, berjalan kikuk memasuki aula utama, adalah anggota keluarga kelinci termuda dalam balutan gaun indah dan riasan sempurna. Kwon Soonyoung tidak akan berbohong dengan mengatakan ia tidak kagum akan perbedaan mencolok antara adik ipar penuh semangat yang ia temui di dalam hutan dengan makhluk tercantik setelah Jisoo dan Seungkwan yang pernah ia lihat sepanjang hidupnya itu. Kalau ia tidak salah dengar, kelinci tertua juga tak kalah cantiknya. Betapa menakjubkannya garis darah para klan Kelinci. Sang macan lalu menoleh. Jika ia saja terpana oleh kecantikan Minghao, maka anggota klan yang lain tentunya—&#xA;&#xA;Hampir saja ia mendengus menahan geli.&#xA;&#xA;Bagaimana tidak? Lihatlah. Desis ular terdiam, menyisakan juluran lidah yang sesekali bergerak. Percakapan rubah dengan macan kumbang langsung terhenti, tergantikan oleh dua wajah yang tertegun. Beruang selalu diam sehingga Kwon Soonyoung tidak yakin apa perbedaan signifikan yang bisa ia tangkap, namun pandangannya tak henti mengikuti gerak-gerik sang kelinci. Dan—yang paling membuat sang macan kesulitan menahan tawa—wajah melongo yang amat langka dari serigala; klan yang telah membuat kelinci tertua menderita, yang melihat klan kelinci tak lebih dari sebuah benda untuk dimiliki. Andai juru lukisnya ada di ruangan, Soonyoung akan memintanya segera bekerja untuk mengabadikan momen tersebut.&#xA;&#xA;Ia kemudian menoleh lagi ke arah Minghao yang kini sudah semakin dekat. Kwon Soonyoung akan duduk di depan diapit oleh kedua suaminya, sebagaimana tata krama di klannya, dan Minghao akan duduk persis di samping Jisoo. Mereka akan menghadap para anggota klan karnivora lain yang duduk di seberang mereka. Mengingat reaksi masing-masing dari mereka sungguhlah menarik, sang macan jadi tak sabar untuk menyaksikan siapakah yang berhasil menarik minat sang kelinci termuda. Ia menatap wajah Jisoo kini—tenang dan damai, bagai sang ratu di atas papan catur.&#xA;&#xA;Kwon Soonyoung tersenyum.&#xA;&#xA;Betapa cerdasnya suaminya itu.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:haremhaohybrid" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">haremhaohybrid</span></a></p>

<p>Seakan tak peduli akan kegelisahan kelinci kecil kita, tirai malam pun turun membawa kerlipan bintang di antara terangnya bulan. Bunyi gesekan sayap jangkrik menemani kesyahduan paviliun sang kelinci saat penghuninya tengah sibuk ditata oleh kakak-kakaknya. Rambut hitam indahnya disisir rapi dan diberi minyak wewangian.</p>



<p>“Kak Jihoon, itu mau dipakein apa...?” Minghao memicingkan mata curiga terhadap bubuk berwarna kemerahan di jari sang koala.</p>

<p>“Ini dipakai di mata seperti ini,” dengan tenang ia mengusapkannya di kelopak mata sang kelinci. “Atau di pipi seperti ini.” Jari yang sama berpindah ke tulang pipinya. “Biar rona merah mukamu terlihat.”</p>

<p>“Buat apa sih...,” keluh Minghao, yang mendapat tawa dari Jihoon sebagai balasan.</p>

<p>“Haohao, lihat sini,” Jisoo mencolekkan kelingkingnya ke substansi yang lebih merah dan lengket dari yang Jihoon sapukan barusan. “Mulutnya dibuka sedikit...”</p>

<p>Minghao menurut, membiarkan kakak sepupunya memulaskan gincu ke bibirnya.</p>

<p>“Bibirmu pecah-pecah begini... kamu tidak merawat dirimu, Sayang?”</p>

<p>“Kan biasanya Kak Shuji yang merawatku!” bibir sang kelinci manyun sambil melantunkan protes. “Kakak pergi ya aku malas...”</p>

<p>Jisoo hanya tersenyum simpul. Betapa menggemaskan adik kecilnya itu. Sedari kecil, Jisoo dan Jeonghan lah yang membesarkan Minghao, epitome pecahan keluarga yang menjadi satu karena darah dan kondisi. Orangtua masing-masing telah pergi entah kemana, mungkin di dalam tanah atau di dalam perut predator, tidak ada yang mengetahui. Nasib klan kelinci setelah dinikahkan tidak terlalu menjadi prioritas dunia. Mereka bisa saja dimakan suaminya sendiri dan tak ada seorang pun yang akan menyelamatkan mereka.</p>

<p>Maka dari itu, Jisoo bertekad untuk memberikan suami terbaik bagi adik kecilnya tersebut. Bila takdir naas mereka tidak bisa diapa-apakan, biarlah Jisoo berharap cinta tulus bisa tumbuh di antara Minghao dan suaminya kelak, seperti halnya dirinya dengan suami-suaminya kini. Sudah cukup ia mengetahui nasib Jeonghan karena menikahi suami dari klan yang salah. Hatinya tak tega bila Minghao harus menderita juga.</p>

<p>Setelah seluruh pihak merasa puas akan kerja keras mereka, Jisoo mengelap peluh di keningnya, Jihoon membereskan alat-alat rias yang selesai digunakan, sementara Minghao tertegun menatap cermin. Ekor matanya dibuat tinggi menggunakan tinta, bersamaan dengan taburan bubuk gelap di sekitarnya yang menimbulkan sedikit kesan misterius. Kelopak mata dan pipinya dironai merah, nampak segar di pandangan. Wajahnya yang ditaburi bedak menutupi sebagian besar permukaan kulitnya. Dan bibirnya—berkilat indah, mekar dalam warna gincu merah. Sang kelinci mengerjap-ngerjapkan mata, sulit mempercayai refleksi siapakah yang tengah ditatapnya.</p>

<p>“Itu...aku?” ucapnya terbata. Ingin tangan ia angkat untuk meraba, tetapi takut bila pada akhirnya merusak upaya kakaknya.</p>

<p>“Tentu saja, Sayang,” kekeh Jisoo. “Dan, ini, tusuk sanggul untuk rambutmu.” Dengan lembut, kelinci yang lebih tua itu menggelung sebagian kecil rambut Minghao dan merapatkannya rapi dengan tusukan indah tersebut—berwarna kayu dengan aksen merah dan sedikit emas, bermotifkan dedaunan dan ukiran simbol klan macan. “Ini adalah tusuk sanggul yang diberikan suamiku di hari pernikahan kami. Ini adalah tanda bahwa aku adalah bagian dari klannya sejak saat itu. Tapi, kupinjamkan ini padamu bukan untuk mengikatmu, melainkan tanda bahwa aku dan seluruh klannya akan melindungimu sampai kamu mendapatkan tusuk sanggulmu sendiri dari suamimu kelak.”</p>

<p>Sambil saling menatap di cermin, kedua tangan Jisoo pada bahu Minghao menimbulkan rasa lega, tetapi juga sedikit merana. Kelinci kecil kita sungguh enggan menyerahkan diri pada karnivora-karnivora biadab itu!</p>

<p>“Tentu, suami yang kumaksud tidaklah harus berasal dari klan karnivora yang hadir malam ini,” ujarnya lembut untuk menenangkan kegelisahan Minghao yang kentara. “Bila kamu menemukan kekasih hatimu, dari klan mana pun dirinya bukanlah masalah. Yang penting, dia bisa membahagiakanmu.”</p>

<p>Minghao mengerjap satu kali. <em>Ah, ya</em>. Kwon tentu telah bercerita pada kakaknya mengenai pembicaraan mereka di hutan kala itu: bahwa ia telah berjanji untuk melepaskan Minghao bila tak ada karnivora yang meluluhkan hatinya. Sang kelinci lalu mengendus.</p>

<p>“Aku bahagia sama diriku sendiri,” disentuhnya tangan Jisoo pada bahunya. “Kak Shuji nggak perlu cemas. Aku bakal baik-baik aja. Sendirian. Di hutan rumah kita.”</p>

<p>Jelas sekali apa maksud Minghao barusan. Secercah rasa pedih menyelimuti hati Jisoo. Ia hanya bisa tersenyum miris membalas ringisan lebar penuh kepastian dari adiknya tersebut.</p>

<hr/>

<p>Perjamuan malam itu tidak kalah megah dari pertemuan para klan karnivora sebelumnya, bahkan bisa dibilang lebih meriah. Tabuhan gendang dan merdu nyanyian membawakan hiburan bagi para tamu, berikut sajian berbagai jenis daging, dari yang berenang di sungai setempat sampai yang terbang di atas langit biru. Untuk alasan yang sangat jelas, Kwon Soonyoung tidak menyuguhkan daging kelinci dan domba, juga beberapa mahkluk herbivora lainnya yang spesiesnya bekerja di rumahnya. Ia pun menjauhkan hidangan daging apa pun dari kedua suaminya, mengisi piring-piring mereka hingga penuh dengan sayur mayur. Wortel gendut berwarna jingga untuk Jisoo dan Minghao, serta rerumputan segar dicampur daun selada untuk Seungkwan. Ia sendiri memilih menu babi hutan dan ayam di mejanya.</p>

<p>Malam itu, suami-suaminya tampak begitu cantik, berkilau dalam rona kebahagiaan. Hati Kwon Soonyoung luluh seketika mata menangkap mereka. Ingin rasanya ia meraih dan menciumi tangan keduanya, namun ada yang lebih penting malam itu daripada kisah kasihnya. Berada di belakang para suaminya, berjalan kikuk memasuki aula utama, adalah anggota keluarga kelinci termuda dalam balutan gaun indah dan riasan sempurna. Kwon Soonyoung tidak akan berbohong dengan mengatakan ia tidak kagum akan perbedaan mencolok antara adik ipar penuh semangat yang ia temui di dalam hutan dengan makhluk tercantik setelah Jisoo dan Seungkwan yang pernah ia lihat sepanjang hidupnya itu. Kalau ia tidak salah dengar, kelinci tertua juga tak kalah cantiknya. Betapa menakjubkannya garis darah para klan Kelinci. Sang macan lalu menoleh. Jika ia saja terpana oleh kecantikan Minghao, maka anggota klan yang lain tentunya—</p>

<p>Hampir saja ia mendengus menahan geli.</p>

<p>Bagaimana tidak? Lihatlah. Desis ular terdiam, menyisakan juluran lidah yang sesekali bergerak. Percakapan rubah dengan macan kumbang langsung terhenti, tergantikan oleh dua wajah yang tertegun. Beruang selalu diam sehingga Kwon Soonyoung tidak yakin apa perbedaan signifikan yang bisa ia tangkap, namun pandangannya tak henti mengikuti gerak-gerik sang kelinci. Dan—yang paling membuat sang macan kesulitan menahan tawa—wajah melongo yang amat langka dari serigala; klan yang telah membuat kelinci tertua menderita, yang melihat klan kelinci tak lebih dari sebuah benda untuk dimiliki. Andai juru lukisnya ada di ruangan, Soonyoung akan memintanya segera bekerja untuk mengabadikan momen tersebut.</p>

<p>Ia kemudian menoleh lagi ke arah Minghao yang kini sudah semakin dekat. Kwon Soonyoung akan duduk di depan diapit oleh kedua suaminya, sebagaimana tata krama di klannya, dan Minghao akan duduk persis di samping Jisoo. Mereka akan menghadap para anggota klan karnivora lain yang duduk di seberang mereka. Mengingat reaksi masing-masing dari mereka sungguhlah menarik, sang macan jadi tak sabar untuk menyaksikan siapakah yang berhasil menarik minat sang kelinci termuda. Ia menatap wajah Jisoo kini—tenang dan damai, bagai sang ratu di atas papan catur.</p>

<p>Kwon Soonyoung tersenyum.</p>

<p><em>Betapa cerdasnya suaminya itu.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/ch-1-4-the-feast</guid>
      <pubDate>Sat, 15 Nov 2025 15:03:48 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Part 1: Skeleton, You Are My Friend</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-1-skeleton-you-are-my-friend?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuaskeleton&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;Unlike popular belief, life after death did continue indeed. It didn&#39;t stop once you had closed your Book of Life. Instead, you just...magically started another book entitled Book of Afterlife. Sadly, the living didn&#39;t know of such fact as they were too blind and too deaf to even acknowledge the existence of the dead amongst them.&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;(Mingyu fondly called them idiots.)&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;If the dead had shown themselves just for a bit, the living would hurriedly douse them with salt and holy water, and chanting weird language that they believed would make them disappear.&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;(Like those would ever work, heh.)&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;So, the dead chose to live their own way, minding their own (unfinished) business, not mingling with the living if not really, really necessary. Article III from The Underworld Constitution explicitly stated that whoever got themselves trapped with the living in whatever circumstance and reason should deal with that themselves aka you were on your own, period. Granted, some of the dead were too naughty to be tamed while some of the living were too curious to be saved. A perfect holy matrimony for never ending disaster.&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;Kim Mingyu was different as he had a good skull above his occipital bone. He was a respected resident of the old cemetery located on 17 Darling Street, near a quite little town. He had lived serenely with the others in their small, harmonious final resting place. As a prestigious gentleman, Kim Mingyu always tipped his high hat as greetings. He was polite and well spoken. His smile was always the widest (because he was a skeleton) and the most joyous (again, because he was a skeleton), it brightened everyone&#39;s day just by meeting him.&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;He was also an abiding citizen. Never encountered with the living. Never had the intention to even let himself be known to the living. He was satisfied for being an insignificant bony structure who enjoyed existing day by day around his mausoleum. Here in the Afterlife, he paid no tax, needed no job to buy his meal (because the dead did not eat like the living) (also, Mingyu did not even have the required organs to begin with), and never had to worry about materials. He had his grand grave that his family had built for him. He had his favorite black suit, made by the finest tailor from the finest silk, complete with his silk high hat and engraved walking stick. And, more importantly, his friends—right here in the cemetery where everyone was a part of their big family.&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;Mingyu was not that crazy to throw away this fulfilling life he finally had after he had kicked the bucket more than a century ago, but somehow he could not ignore a crying voice echoing in the silence of the graveyard. It came so suddenly, he had not prepared himself. Mingyu was only sitting on the grass near his mausoleum, staring absentmindedly at the night sky, when the crying sound appeared.&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;He remembered there was a fresh grave dug up three days ago. The whole cemetery was excited, wanting to know about their possible new neighbor. The town was small enough that the dead could somehow predict who would join their world next. Imagine their shock when their new neighbor was not only an unfamiliar face, but also a handsome, young one too.&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;&#34;Saw his headstone. He&#39;s only 29!&#34; Mrs. Park, the dramatic ghost, wailed. &#34;A poor young soul has lost forever!&#34;&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;&#34;What are you talking about, Seohyun? He&#39;s joining us now. Why are you crying as if you&#39;re attending his funeral!&#34;&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;&#34;Oh shut up, Seungho, you boring old man!&#34;&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;&#34;Is that how you talk to your husband?!&#34;&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;(Please never got fooled—Mingyu nodded—Mr. and Mrs. Park were a very loving couple, they chose to end their lives together anyway.)&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;Now, not as lucky as Mr. and Mrs. Park, it seemed that the widow of their new guy had interrupted the serenity of the dead. Not only Mingyu, some of them also roused from their peaceful slumber (or whatever the dead were doing during their active time, really, in this side of world, we never judged), murmuring and searching for the source of disruption.&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;&#34;Him again,&#34; Seungcheol rolled his eye. Yeah, the zombie still had his eye to roll even if it&#39;s only one.&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;&#34;It&#39;s not his first time here?&#34; slightly startled by the sudden appearance of his friend, Mingyu turned his bony head to stare at him.&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;&#34;Nope. Three days our new guy being here, three days he wails like a screaming banshee.&#34;&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;&#34;Hey!&#34; Jeonghan protested.&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;&#34;No offense, Hannie.&#34;&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;&#34;Offense very well taken, Cheollie,&#34; said banshee clicked his tongue. Even after death, Yoon Jeonghan was a mesmerizing creature. &#34;And have a little pity. His husband just recently died. Surely, someone wailed at your loss like this when it was your turn.&#34;&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;&#34;Hardly,&#34; Seungcheol scoffed. His rotten flesh emitting unpleasant sound every time he moved even just slightly. &#34;When I died, my damn children couldn&#39;t wait to bury me six feet under to hear their inheritance. It&#39;s a satisfaction &#39;til this day to see their faces when my lawyer told them I left none!&#34;&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;&#34;Hmph! Best Dad Award, I guess.&#34;&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;&#34;Thanks, Hannie, I&#39;m trying,&#34; Seungcheol grinned, showing whatever tooth he had left. The floating banshee clicked his tongue.&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;Kim Mingyu ignored all the commotion around him. His focus was to the man who was still crying in the distance. They had walked silently for a bit, shortening said distance so that they could see him clearly. Hiding behind a huge trunk of a dead tree, the trio watched a figure sitting at the spot of the new grave.&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;&#34;That&#39;s him,&#34; Seungcheol whispered.&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;The figure had his upper body on the grave as if he was trying to hug his deceased husband. He was still wailing, did not even care about all the dirt his once fine shirt was accumulating. Their new guy—had introduced himself as Jeon Wonwoo three days ago—stood in silence next to his crying husband, face contorted into regret and sadness because he could not even hold him anymore.&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;&#34;Why...,&#34; he whispered. &#34;Why am I a ghost...? Can&#39;t even wipe your tears away, can&#39;t even hug you...&#34; His grip tightened. &#34;And I once promised to never make you sad, Shua...&#34;&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;&#34;Oh, how sad...,&#34; Jeonghan sighed. As a hopeless romantic, he hated this kind of tragic love. &#34;If only Wonu-yah woke up as one of you two instead...&#34;&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;&#34;He is beside you!&#34;&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;Jeonghan gasped, while Seungcheol had his one eye widened like a saucer. His friend the skeleton had spoken to Wonwoo&#39;s widow—a living being! Of course the living startled, then lifted his body to look around, searching for the mysterious voice. When the living focused on one particular spot, that&#39;s when Mingyu saw the face of the man.&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;Oh.&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;He&#39;s really beautiful...&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;&#34;Who is there...?&#34; unsure, the man asked. Voice thin and so soft to small cavities that used to be Mingyu&#39;s ears. A bit frightened, perhaps, as it was already night time and he was—as far as he knew—all alone.&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;Yet, Mingyu found himself answering the beautiful man.&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;&#34;Your husband is right next to you, so please do not worry,&#34; his voice was warm and gentle, like he was soothing a child. &#34;He is sad seeing you like this, but even sadder because he cannot comfort you.&#34;&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;Mingyu paused.&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;&#34;He must love you so dearly, Child.&#34;&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;Silence. Wonwoo looked at him with apparent surprise, while Seungcheol and Jeonghan with mouth agape and disbelief. They didn&#39;t want to be here when their friend somehow lost his mind and mingled with the living, actively breaking rule after rule from the Constitution. In a hurry, Seungcheol fled as quiet as possible, while Jeonghan flew away, disappearing without second thought. They left Mingyu alone with the couple.&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;After a while, the living spoke again.&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;&#34;Who are you...? Please show yourself...,&#34; he breathed out. &#34;I....I mean, you can...see my husband? Is that true? Is W-Wonu with me here? Right now?&#34;&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;So much questions. So desperate, our beautiful child. Mid 20s? Early 30s? Still, so young.&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;So young and already heartbroken to the core.&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;&#34;P-please...please show yourself...I—I want to talk to Wonu, please...&#34;&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;So pitiful and tragic...&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;&#34;Promise that you won&#39;t scream?&#34;&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;&#34;...What?&#34;&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;&#34;Because,&#34; from behind the bushes, Kim Mingyu jumped out. Appearing in his finest suit, silk high hat and engraved walking stick. He tipped the edge of his hat towards the living as he bowed slightly. When he stood back up, he offered his kindest, joyous smile he could muster up. &#34;I am a skeleton.&#34;&#xA;&#xA; &#xA;&#xA; &#xA;&#xA; &#xA;&#xA; &#xA;&#xA; &#xA;&#xA; &#xA;&#xA; &#xA;&#xA;&#34;GGYYAAHHHHHHHHHHHHH!!!!!!&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuaskeleton" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuaskeleton</span></a></p>

<p> </p>

<p>Unlike popular belief, life after death did continue indeed. It didn&#39;t stop once you had closed your Book of Life. Instead, you just...magically started another book entitled Book of <em>Afterlife</em>. Sadly, the living didn&#39;t know of such fact as they were too blind and too deaf to even acknowledge the existence of the dead amongst them.</p>

<p> </p>

<p><em>(Mingyu fondly called them idiots.)</em></p>



<p> </p>

<p>If the dead had shown themselves just for a bit, the living would hurriedly douse them with salt and holy water, and chanting weird language that they believed would make them disappear.</p>

<p> </p>

<p><em>(Like those would ever work, heh.)</em></p>

<p> </p>

<p>So, the dead chose to live their own way, minding their own (unfinished) business, not mingling with the living if not really, really necessary. Article III from The Underworld Constitution explicitly stated that whoever got themselves trapped with the living in whatever circumstance and reason should deal with that themselves aka you were on your own, period. Granted, some of the dead were too naughty to be tamed while some of the living were too curious to be saved. A perfect holy matrimony for never ending disaster.</p>

<p> </p>

<p>Kim Mingyu was different as he had a good skull above his occipital bone. He was a respected resident of the old cemetery located on 17 Darling Street, near a quite little town. He had lived serenely with the others in their small, harmonious final resting place. As a prestigious gentleman, Kim Mingyu always tipped his high hat as greetings. He was polite and well spoken. His smile was always the widest (because he was a skeleton) and the most joyous (again, because he was a skeleton), it brightened everyone&#39;s day just by meeting him.</p>

<p> </p>

<p>He was also an abiding citizen. Never encountered with the living. Never had the intention to even let himself be known to the living. He was satisfied for being an insignificant bony structure who enjoyed existing day by day around his mausoleum. Here in the Afterlife, he paid no tax, needed no job to buy his meal (because the dead did not eat like the living) (also, Mingyu did not even have the required organs to begin with), and never had to worry about materials. He had his grand grave that his family had built for him. He had his favorite black suit, made by the finest tailor from the finest silk, complete with his silk high hat and engraved walking stick. And, more importantly, his friends—right here in the cemetery where everyone was a part of their big family.</p>

<p> </p>

<p>Mingyu was not that crazy to throw away this fulfilling life he finally had after he had kicked the bucket more than a century ago, but somehow he could not ignore a crying voice echoing in the silence of the graveyard. It came so suddenly, he had not prepared himself. Mingyu was only sitting on the grass near his mausoleum, staring absentmindedly at the night sky, when the crying sound appeared.</p>

<p> </p>

<p>He remembered there was a fresh grave dug up three days ago. The whole cemetery was excited, wanting to know about their possible new neighbor. The town was small enough that the dead could somehow predict who would join their world next. Imagine their shock when their new neighbor was not only an unfamiliar face, but also a handsome, young one too.</p>

<p> </p>

<p>“Saw his headstone. He&#39;s only 29!” Mrs. Park, the dramatic ghost, wailed. “A poor young soul has lost forever!”</p>

<p> </p>

<p>“What are you talking about, Seohyun? He&#39;s joining us now. Why are you crying as if you&#39;re attending his funeral!”</p>

<p> </p>

<p>“Oh shut up, Seungho, you boring old man!”</p>

<p> </p>

<p>“Is that how you talk to your husband?!”</p>

<p> </p>

<p><em>(Please never got fooled—Mingyu nodded—Mr. and Mrs. Park were a very loving couple, they chose to end their lives together anyway.)</em></p>

<p> </p>

<p>Now, not as lucky as Mr. and Mrs. Park, it seemed that the widow of their new guy had interrupted the serenity of the dead. Not only Mingyu, some of them also roused from their peaceful slumber (or whatever the dead were doing during their active time, really, in this side of world, we never judged), murmuring and searching for the source of disruption.</p>

<p> </p>

<p>“Him again,” Seungcheol rolled his eye. Yeah, the zombie still had his eye to roll even if it&#39;s only one.</p>

<p> </p>

<p>“It&#39;s not his first time here?” slightly startled by the sudden appearance of his friend, Mingyu turned his bony head to stare at him.</p>

<p> </p>

<p>“Nope. Three days our new guy being here, three days he wails like a screaming banshee.”</p>

<p> </p>

<p>“Hey!” Jeonghan protested.</p>

<p> </p>

<p>“No offense, Hannie.”</p>

<p> </p>

<p>“Offense <em>very well taken</em>, Cheollie,” said banshee clicked his tongue. Even after death, Yoon Jeonghan was a mesmerizing creature. “And have a little pity. His husband just recently died. Surely, someone wailed at your loss like this when it was your turn.”</p>

<p> </p>

<p>“Hardly,” Seungcheol scoffed. His rotten flesh emitting unpleasant sound every time he moved even just slightly. “When I died, my damn children couldn&#39;t wait to bury me six feet under to hear their inheritance. It&#39;s a satisfaction &#39;til this day to see their faces when my lawyer told them I left none!”</p>

<p> </p>

<p>“<em>Hmph</em>! Best Dad Award, I guess.”</p>

<p> </p>

<p>“Thanks, Hannie, I&#39;m trying,” Seungcheol grinned, showing whatever tooth he had left. The floating banshee clicked his tongue.</p>

<p> </p>

<p>Kim Mingyu ignored all the commotion around him. His focus was to the man who was still crying in the distance. They had walked silently for a bit, shortening said distance so that they could see him clearly. Hiding behind a huge trunk of a dead tree, the trio watched a figure sitting at the spot of the new grave.</p>

<p> </p>

<p>“That&#39;s him,” Seungcheol whispered.</p>

<p> </p>

<p>The figure had his upper body on the grave as if he was trying to hug his deceased husband. He was still wailing, did not even care about all the dirt his once fine shirt was accumulating. Their new guy—had introduced himself as Jeon Wonwoo three days ago—stood in silence next to his crying husband, face contorted into regret and sadness because he could not even hold him anymore.</p>

<p> </p>

<p>“Why...,” he whispered. “Why am I a ghost...? Can&#39;t even wipe your tears away, can&#39;t even hug you...” His grip tightened. “And I once promised to never make you sad, Shua...”</p>

<p> </p>

<p>“Oh, how sad...,” Jeonghan sighed. As a hopeless romantic, he hated this kind of tragic love. “If only Wonu-yah woke up as one of you two instead...”</p>

<p> </p>

<p>“He is beside you!”</p>

<p> </p>

<p>Jeonghan gasped, while Seungcheol had his one eye widened like a saucer. His friend the skeleton had spoken to Wonwoo&#39;s widow—<em>a living being</em>! Of course the living startled, then lifted his body to look around, searching for the mysterious voice. When the living focused on one particular spot, that&#39;s when Mingyu saw the face of the man.</p>

<p> </p>

<p><em>Oh.</em></p>

<p> </p>

<p><em>He&#39;s really beautiful...</em></p>

<p> </p>

<p>“Who is there...?” unsure, the man asked. Voice thin and so soft to small cavities that used to be Mingyu&#39;s ears. A bit frightened, perhaps, as it was already night time and he was—as far as he knew—all alone.</p>

<p> </p>

<p>Yet, Mingyu found himself answering the beautiful man.</p>

<p> </p>

<p>“Your husband is right next to you, so please do not worry,” his voice was warm and gentle, like he was soothing a child. “He is sad seeing you like this, but even sadder because he cannot comfort you.”</p>

<p> </p>

<p>Mingyu paused.</p>

<p> </p>

<p>“He must love you so dearly, Child.”</p>

<p> </p>

<p>Silence. Wonwoo looked at him with apparent surprise, while Seungcheol and Jeonghan with mouth agape and disbelief. They didn&#39;t want to be here when their friend somehow lost his mind and mingled with the living, actively breaking rule after rule from the Constitution. In a hurry, Seungcheol fled as quiet as possible, while Jeonghan flew away, disappearing without second thought. They left Mingyu alone with the couple.</p>

<p> </p>

<p>After a while, the living spoke again.</p>

<p> </p>

<p>“Who are you...? Please show yourself...,” he breathed out. “I....I mean, you can...see my husband? Is that true? Is W-Wonu with me here? Right now?”</p>

<p> </p>

<p>So much questions. So desperate, our beautiful child. Mid 20s? Early 30s? Still, so young.</p>

<p> </p>

<p>So young and already heartbroken to the core.</p>

<p> </p>

<p>“P-please...please show yourself...I—I want to talk to Wonu, please...”</p>

<p> </p>

<p><em>So pitiful and tragic...</em></p>

<p> </p>

<p>“Promise that you won&#39;t scream?”</p>

<p> </p>

<p>”...What?”</p>

<p> </p>

<p>“Because,” from behind the bushes, Kim Mingyu jumped out. Appearing in his finest suit, silk high hat and engraved walking stick. He tipped the edge of his hat towards the living as he bowed slightly. When he stood back up, he offered his kindest, joyous smile he could muster up. “I am a skeleton.”</p>

<p> </p>

<p> </p>

<p> </p>

<p> </p>

<p> </p>

<p> </p>

<p> </p>

<p><em><strong>“GGYYAAHHHHHHHHHHHHH!!!!!!”</strong></em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-1-skeleton-you-are-my-friend</guid>
      <pubDate>Thu, 07 Aug 2025 15:27:11 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>⏳️ 00:01</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/00-01?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuatimetraveller&#xA;&#xA;&#34;Eh, gue tadi liat laki lo, Shua.&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Bulu mata Joshua mengerjap, mengalihkan fokusnya dari Jeonghan ke Seungcheol yang baru saja tiba. Mereka memang sepakat untuk bertemu di country club favorit Jeonghan setelah sekian lama. Dahulu, mereka adalah sahabat paling erat sejak kuliah. Sekarang, setelah masing-masing menikah dan menekuni jalan hidupnya, mereka hanya bisa bertemu jika sudah memblokir ketiga jadwal.&#xA;&#xA;Waktu; tidak pernah menunggu siapa pun untuk berjalan bersisian dengannya. Ia akan terus melaju tanpa peduli akan dirimu.&#xA;&#xA;&#34;Oh ya?&#34; Joshua merekahkan senyuman, meski jemarinya bergetar sedikit di bagian bawah gelas anggur dari kristal yang ia tengah pegang.&#xA;&#xA;&#34;Iya,&#34; dan seolah tak sadar, Seungcheol lanjut bercerita. Ia mengangkat tangan memanggil pelayan, berniat memesan. &#34;Gue kangen Hawaii kan, eh lupa kalo waktu itu pergi bareng dia.&#34; Laut di kehidupan lampau. Laut yang masih jernih dan biru benderang ditimpa sinar mentari, berkilauan indah bagai surga di permukaan bumi. Laut yang menjadi dambaan mereka yang kini tersisa di masa depan.&#xA;&#xA;Jeonghan mengunyah makanannya, menyimpannya di sisi pipi mirip hamster peliharaannya jaman kuliah dulu, &#34;Yang pas dia masih naksir lo, Cheol?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yoa\~&#34; Seungcheol terkekeh geli.&#xA;&#xA;&#34;Gyu mah semua ditaksir,&#34; dengus Jeonghan. Ditelannya kunyahan sembari menusuk sepotong lagi perut babi panggang di piringnya—makanan segar: sebuah kemewahan yang hanya bisa dinikmati kalangan elit ketika sisa dunia harus mengganjal perut dengan daging olahan dalam kaleng untuk bertahan hidup. Tapi, ah, tentu saja, ia adalah Yoon Jeonghan. Ia bahkan bisa membeli kepalamu jika ia mau. &#34;Laki gue dulu juga kena.&#34;&#xA;&#xA;Masih tertawa, Seungcheol memesan segelas anggur merah berusia 20 tahun untuk menemani hidangan bistik daging has dalam dibakar setengah matang yang ia pesan. Begitu pelayan pergi, ia turut menyeloroh, &#34;Iya, kecuali lakinya sendiri.&#34; Lalu, ia mengedip pada Joshua.&#xA;&#xA;Joshua hanya diam. Tidak goyah oleh ejekan yang terang-terangan dilontarkan kedua sahabat lamanya itu. Ia memotong ikannya sendiri dengan ketenangan seorang pastur yang tak tertarik memuaskan rasa jahil Seungcheol. Jeonghan kerap mengatakan bahwa Joshua terlalu kaku, terlalu tinggi mengangkat dagu dan berdiam diri bak boneka porselen cantik di rak pajangan toko barang antik. Manekin yang membosankan karena ia tak bisa menyulut emosinya semudah orang-orang lain. Joshua berterima kasih padanya akan pujian tersebut.&#xA;&#xA;Tusukan garpu yang anggun. Lahapan kecil yang anggun.&#xA;&#xA;&#34;Dia ke mana, btw?&#34; Jeonghan meneguk minumannya.&#xA;&#xA;&#34;Terra,&#34; jawabnya. &#34;Business trip tiga bulan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sama sekretarisnya lagi?&#34;&#xA;&#xA;Joshua diam.&#xA;&#xA;&#34;Y&#39;no, kalo gue jadi lo, gue udah gampar tuh sundal karena ngerebut suami orang, terus gue tinggalin Gyu,&#34; decak Jeonghan. &#34;Gue nggak paham kenapa lo mau-mau aja digoblokin laki lo.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dia bilang mereka cuma kerja. Nggak ada maksud lain.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terus lo percaya?!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jeonghan,&#34; Joshua dengan cepat menyanggah. &#34;Chill. Ini urusan gue sama Gyu. So, please.&#34;&#xA;&#xA;‘Jangan ikut campur’, tersirat tanpa perlu tersebut. Jeonghan kembali mendengus. Bagaimanapun, mereka semua adalah teman Mingyu juga. Suami Jeonghan mantan taksiran Mingyu dan Seungcheol pernah ditaksir Mingyu. Suatu kesatuan yang besar menghubungkan mereka semua bagai benang merah kusut yang terbelit erat, sulit diputuskan bagaimana pun caranya.&#xA;&#xA;&#34;Sejak tuh selingkuhan muncul, dia jadi berubah tau nggak? Ya kan, Cheol? Beda kan dia?&#34; Jeonghan lanjut membahas Mingyu. Seungcheol pun mengangguk.&#xA;&#xA;&#34;Itu bukan selingkuhannya, Han,&#34; Joshua mengingatkan.&#xA;&#xA;&#34;Ya terus apa dong?! Dibawa kemana-mana, bahkan ke pesta di Blue House?? Bukannya malah bawa lakinya??&#34; gebrakan meja mengagetkan sekeliling mereka, mendorong Seungcheol untuk mengusap-usap punggung sahabatnya, mencoba menenangkannya.&#xA;&#xA;&#34;Udah, Hannie...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sori... tapi gue kesel banget, Cheol. Dulu dia nggak gini kok... Gue juga nggak mau misuhin dia gini, dia temen gue...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jeonghan,&#34; menyeka mulutnya dengan serbet, Joshua membalik garpu dan pisau di atas piring, masih dengan ketenangan yang sama. &#34;Mingyu temen lo. Seungcheol, juga. Jangan gegara gue kalian jadi musuhin Mingyu gitu. Dia nggak salah.&#34; Kelopak mata Joshua turun sedikit. &#34;Kalo...gue nggak masuk ke hidup Mingyu, ke hidup kalian, gue yakin dia bakal masih sama kayak yang dulu. Dia pasti sayang banget sama kalian. Please jangan jadi marah ke dia. Gue yang salah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Apaan sih, Shua?!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Shua...&#34;&#xA;&#xA;Namun, ia mengangkat tangan. Sudah pengang mendengar terlalu banyak obrolan yang seharusnya berkisar antara bulan madu kedua Jeonghan dengan suaminya dan bagaimana Seungcheol dan suaminya melewati fase sebagai orangtua baru. Obrolan yang jauh lebih berbobot daripada membahas pernikahan gagalnya dengan Mingyu.&#xA;&#xA;&#34;Enough about me,&#34; kemudian, lelaki itu tersenyum lembut, menumpangkan dagu ke kedua punggung tangan di atas meja. &#34;Gue lebih pengen denger soal kalian. Nggak pa-pa kan?&#34;&#xA;&#xA;Senyuman itu begitu manis sehingga Seungcheol maupun Jeonghan tidak bisa tidak menurutinya. Senyuman yang sama yang selalu ia berikan pada suaminya kala ia ingin memutar topik perdebatan mereka dan berakhir dengan Mingyu menghela napas berat, berbalik badan dan pergi meninggalkannya sendirian.&#xA;&#xA;Anggun. Dingin. Kaku. Semua terkontrol. Kepala batu. Lelaki cantik dari negeri salju.&#xA;&#xA;Joshua Hong.&#xA;&#xA;Suami yang dinikahkan pada Kim Mingyu oleh keluarganya secara paksa tanpa persetujuan dirinya sendiri. Suami yang takkan pernah diakuinya sebagai suami sampai ia mati nanti. Joshua hanya bisa menggigit pipi bagian dalamnya. Ia terlahir kuat secara batin. Ia bisa hidup tanpa cinta dari suaminya sama sekali.&#xA;&#xA;Tidak apa-apa. Tidak apa-apa.&#xA;&#xA;Yang penting, ia memiliki Mingyu secara sah tertulis dalam akta negara.&#xA;&#xA;Tidak apa-apa.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuatimetraveller" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuatimetraveller</span></a></p>

<p>“Eh, gue tadi liat laki lo, Shua.”</p>



<p>Bulu mata Joshua mengerjap, mengalihkan fokusnya dari Jeonghan ke Seungcheol yang baru saja tiba. Mereka memang sepakat untuk bertemu di country club favorit Jeonghan setelah sekian lama. Dahulu, mereka adalah sahabat paling erat sejak kuliah. Sekarang, setelah masing-masing menikah dan menekuni jalan hidupnya, mereka hanya bisa bertemu jika sudah memblokir ketiga jadwal.</p>

<p><em>Waktu</em>; tidak pernah menunggu siapa pun untuk berjalan bersisian dengannya. Ia akan terus melaju tanpa peduli akan dirimu.</p>

<p>“Oh ya?” Joshua merekahkan senyuman, meski jemarinya bergetar sedikit di bagian bawah gelas anggur dari kristal yang ia tengah pegang.</p>

<p>“Iya,” dan seolah tak sadar, Seungcheol lanjut bercerita. Ia mengangkat tangan memanggil pelayan, berniat memesan. “Gue kangen Hawaii kan, eh lupa kalo waktu itu pergi bareng dia.” Laut di kehidupan lampau. Laut yang masih jernih dan biru benderang ditimpa sinar mentari, berkilauan indah bagai surga di permukaan bumi. Laut yang menjadi dambaan mereka yang kini tersisa di masa depan.</p>

<p>Jeonghan mengunyah makanannya, menyimpannya di sisi pipi mirip hamster peliharaannya jaman kuliah dulu, “Yang pas dia masih naksir lo, Cheol?”</p>

<p>“Yoa~” Seungcheol terkekeh geli.</p>

<p>“Gyu mah semua ditaksir,” dengus Jeonghan. Ditelannya kunyahan sembari menusuk sepotong lagi perut babi panggang di piringnya—makanan segar: sebuah kemewahan yang hanya bisa dinikmati kalangan elit ketika sisa dunia harus mengganjal perut dengan daging olahan dalam kaleng untuk bertahan hidup. Tapi, ah, tentu saja, ia adalah Yoon Jeonghan. Ia bahkan bisa membeli kepalamu jika ia mau. “Laki gue dulu juga kena.”</p>

<p>Masih tertawa, Seungcheol memesan segelas anggur merah berusia 20 tahun untuk menemani hidangan bistik daging has dalam dibakar setengah matang yang ia pesan. Begitu pelayan pergi, ia turut menyeloroh, “Iya, kecuali lakinya sendiri.” Lalu, ia mengedip pada Joshua.</p>

<p>Joshua hanya diam. Tidak goyah oleh ejekan yang terang-terangan dilontarkan kedua sahabat lamanya itu. Ia memotong ikannya sendiri dengan ketenangan seorang pastur yang tak tertarik memuaskan rasa jahil Seungcheol. Jeonghan kerap mengatakan bahwa Joshua terlalu kaku, terlalu tinggi mengangkat dagu dan berdiam diri bak boneka porselen cantik di rak pajangan toko barang antik. Manekin yang membosankan karena ia tak bisa menyulut emosinya semudah orang-orang lain. Joshua berterima kasih padanya akan pujian tersebut.</p>

<p>Tusukan garpu yang anggun. Lahapan kecil yang anggun.</p>

<p>“Dia ke mana, btw?” Jeonghan meneguk minumannya.</p>

<p>“Terra,” jawabnya. “Business trip tiga bulan.”</p>

<p>“Sama sekretarisnya lagi?”</p>

<p>Joshua diam.</p>

<p>“Y&#39;no, kalo gue jadi lo, gue udah gampar tuh sundal karena ngerebut suami orang, terus gue tinggalin Gyu,” decak Jeonghan. “Gue nggak paham kenapa lo mau-mau aja digoblokin laki lo.”</p>

<p>“Dia bilang mereka cuma kerja. Nggak ada maksud lain.”</p>

<p>“Terus lo percaya?!”</p>

<p>“Jeonghan,” Joshua dengan cepat menyanggah. “Chill. Ini urusan gue sama Gyu. So, please.”</p>

<p><em>‘Jangan ikut campur’</em>, tersirat tanpa perlu tersebut. Jeonghan kembali mendengus. Bagaimanapun, mereka semua adalah teman Mingyu juga. Suami Jeonghan mantan taksiran Mingyu dan Seungcheol pernah ditaksir Mingyu. Suatu kesatuan yang besar menghubungkan mereka semua bagai benang merah kusut yang terbelit erat, sulit diputuskan bagaimana pun caranya.</p>

<p>“Sejak tuh selingkuhan muncul, dia jadi berubah tau nggak? Ya kan, Cheol? Beda kan dia?” Jeonghan lanjut membahas Mingyu. Seungcheol pun mengangguk.</p>

<p>“Itu bukan selingkuhannya, Han,” Joshua mengingatkan.</p>

<p>“Ya terus apa dong?! Dibawa kemana-mana, bahkan ke pesta di Blue House?? Bukannya malah bawa lakinya??” gebrakan meja mengagetkan sekeliling mereka, mendorong Seungcheol untuk mengusap-usap punggung sahabatnya, mencoba menenangkannya.</p>

<p>“Udah, Hannie...”</p>

<p>“Sori... tapi gue kesel banget, Cheol. Dulu dia nggak gini kok... Gue juga nggak mau misuhin dia gini, dia temen gue...”</p>

<p>“Jeonghan,” menyeka mulutnya dengan serbet, Joshua membalik garpu dan pisau di atas piring, masih dengan ketenangan yang sama. “Mingyu temen lo. Seungcheol, juga. Jangan gegara gue kalian jadi musuhin Mingyu gitu. Dia nggak salah.” Kelopak mata Joshua turun sedikit. “Kalo...gue nggak masuk ke hidup Mingyu, ke hidup kalian, gue yakin dia bakal masih sama kayak yang dulu. Dia pasti sayang banget sama kalian. Please jangan jadi marah ke dia. Gue yang salah.”</p>

<p>“Apaan sih, Shua?!”</p>

<p>“Shua...”</p>

<p>Namun, ia mengangkat tangan. Sudah pengang mendengar terlalu banyak obrolan yang seharusnya berkisar antara bulan madu kedua Jeonghan dengan suaminya dan bagaimana Seungcheol dan suaminya melewati fase sebagai orangtua baru. Obrolan yang jauh lebih berbobot daripada membahas pernikahan gagalnya dengan Mingyu.</p>

<p>“Enough about me,” kemudian, lelaki itu tersenyum lembut, menumpangkan dagu ke kedua punggung tangan di atas meja. “Gue lebih pengen denger soal kalian. Nggak pa-pa kan?”</p>

<p>Senyuman itu begitu manis sehingga Seungcheol maupun Jeonghan tidak bisa tidak menurutinya. Senyuman yang sama yang selalu ia berikan pada suaminya kala ia ingin memutar topik perdebatan mereka dan berakhir dengan Mingyu menghela napas berat, berbalik badan dan pergi meninggalkannya sendirian.</p>

<p>Anggun. Dingin. Kaku. Semua terkontrol. Kepala batu. Lelaki cantik dari negeri salju.</p>

<p>Joshua Hong.</p>

<p>Suami yang dinikahkan pada Kim Mingyu oleh keluarganya secara paksa tanpa persetujuan dirinya sendiri. Suami yang takkan pernah diakuinya sebagai suami sampai ia mati nanti. Joshua hanya bisa menggigit pipi bagian dalamnya. Ia terlahir kuat secara batin. Ia <em>bisa</em> hidup tanpa cinta dari suaminya sama sekali.</p>

<p>Tidak apa-apa. Tidak apa-apa.</p>

<p>Yang penting, ia memiliki Mingyu secara sah tertulis dalam akta negara.</p>

<p><em>Tidak apa-apa</em>.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/00-01</guid>
      <pubDate>Sun, 20 Jul 2025 12:20:19 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Meet</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/1-meet?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuamarriage&#xA;&#xA;Seungkwan masang ekspresi jijik, Mingyu meringis jahil sedangkan abang barunya menaikkan satu alis, lebih ke arah penasaran daripada terganggu. Tetiba saja bel pintu berbunyi dan Mingyu masuk seolah dia di rumahnya sendiri, padahal malam sudah cukup larut.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Siapa nih?&#34; sambil melipat lengan telanjang di dada, si abang bertanya. Suaranya halus dan lembut. Mingyu bersumpah kerjapan bulu matanya mengandung makna lain yang nggak asing bagi dia. Oke good, dia naksir gue juga.&#xA;&#xA;(&#34;Kepedean banget lu anjing,&#34; seloroh Seungkwan setelahnya.)&#xA;&#xA;&#34;Temen Kwan, Bang...,&#34; Seungkwan membelalak ke arah Mingyu dengan peringatan kentara agar temennya itu nggak bikin malu. &#34;Namanya Kim Mingyu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gimana kalo kapan-kapan kita jalan bareng, Cantik?&#34;&#xA;&#xA;Mingyu meringis makin lebar. Anak itu bahkan maju mendekati si abang dan tanpa tedeng aling-aling memenjara cowok cantik itu di antara dirinya dan tembok rumah keluarga Choi. Lengannya yang berotot—nampak jelas dari balutan kaus hitam pas badannya—bertengger santai di sisi wajah si cowok, sengaja memamerkan aset yang memang menjadi andalan Kim Mingyu untuk mendapatkan gebetannya, sedangkan satu tangan naik merenggut dagunya.&#xA;&#xA;&#34;Lo cantik banget. Gue nggak pernah ketemu cowok secantik lo,&#34; bibirnya mendekati bibir si abang. &#34;Tidur sama gue semalem, mau?&#34;&#xA;&#xA;&#34;KIM MINGYU!&#34; horor terplester di raut Seungkwan. Keterlaluan temennya itu! Gimanapun rusaknya keluarga Seungkwan, dia nggak mau kalau hubungannya dengan saudara tirinya berantakan karena ulah temennya yang lagi birahi begitu!&#xA;&#xA;Tapi, alih-alih marah, si abang malah balas menggoda. Bibir merahnya tertarik membentuk senyuman yang nggak kalah liciknya dari bocil yang lagi kabedon dia saat ini.&#xA;&#xA;&#34;Berapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo berani bayar berapa?&#34; si abang menantang, berbisik di bibir Mingyu. &#34;Tidur sama gue mahal. Kalo lo tajir, gue bisa masukin lo ke WL.&#34;&#xA;&#xA;Lalu, jari telunjuknya menoel dagu Mingyu, sebelum turun perlahan membentuk garis vertikal panjang dan berhenti tepat di atas perut bawah si anak, sekitar tali celana dalam Mingyu yang memang sengaja dipampang ke mata dunia. Napas anak itu tercekat, menanti entah apa yang akan dilakukan si abang berikutnya.&#xA;&#xA;Ternyata yang dilakukan berikutnya adalah merenggut kasar rambut Mingyu sampai si anak berjengit agar telinganya bisa dibisiki, &#34;Jangan maen-maen sama api, Bocah, mending pulang, cuci kaki dan tidur sana.&#34;&#xA;&#xA;Kemudian, si abang mendorong Mingyu hingga doyong, sebelum menoleh ke Seungkwan yang hanya bisa melongo menyaksikan sisi lain abang barunya yang belum pernah dia temui selama 6 bulan belakangan ini, &#34;Jangan bawa temen aneh lo kayak gini lagi ke gue ya.&#34; Senyumannya begitu manis membuat Seungkwan bergidik, langsung berkali-kali mengangguk.&#xA;&#xA;Setelah si abang berlalu santai, Seungkwan dengan kesal menendang tembok di sebelah kaki Mingyu yang jatuh terduduk ke lantai. &#34;LO DAH GILA APA?&#34; amuknya. &#34;APA-APAAN TADI, KIM MINGYU?!&#34;&#xA;&#xA;Mingyu memegangi dada, bagian sekitar jantungnya. Matanya mencerah dan mulutnya lebar membuka membentuk senyuman.&#xA;&#xA;&#34;Boo,&#34; hembusnya. &#34;Kayaknya gue beneran naksir abang lo...&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuamarriage" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuamarriage</span></a></p>

<p>Seungkwan masang ekspresi jijik, Mingyu meringis jahil sedangkan abang barunya menaikkan satu alis, lebih ke arah penasaran daripada terganggu. Tetiba saja bel pintu berbunyi dan Mingyu masuk seolah dia di rumahnya sendiri, padahal malam sudah cukup larut.</p>



<p>“Siapa nih?” sambil melipat lengan telanjang di dada, si abang bertanya. Suaranya halus dan lembut. Mingyu bersumpah kerjapan bulu matanya mengandung makna lain yang nggak asing bagi dia. <em>Oke good, dia naksir gue juga.</em></p>

<p>(“Kepedean banget lu anjing,” seloroh Seungkwan setelahnya.)</p>

<p>“Temen Kwan, Bang...,” Seungkwan membelalak ke arah Mingyu dengan peringatan kentara agar temennya itu nggak bikin malu. “Namanya Kim Mingyu.”</p>

<p>“Gimana kalo kapan-kapan kita jalan bareng, Cantik?”</p>

<p>Mingyu meringis makin lebar. Anak itu bahkan maju mendekati si abang dan tanpa tedeng aling-aling memenjara cowok cantik itu di antara dirinya dan tembok rumah keluarga Choi. Lengannya yang berotot—nampak jelas dari balutan kaus hitam pas badannya—bertengger santai di sisi wajah si cowok, sengaja memamerkan aset yang memang menjadi andalan Kim Mingyu untuk mendapatkan gebetannya, sedangkan satu tangan naik merenggut dagunya.</p>

<p>“Lo cantik banget. Gue nggak pernah ketemu cowok secantik lo,” bibirnya mendekati bibir si abang. “Tidur sama gue semalem, mau?”</p>

<p>“KIM MINGYU!” horor terplester di raut Seungkwan. <em>Keterlaluan temennya itu!</em> Gimanapun rusaknya keluarga Seungkwan, dia nggak mau kalau hubungannya dengan saudara tirinya berantakan karena ulah temennya yang lagi birahi begitu!</p>

<p>Tapi, alih-alih marah, si abang malah balas menggoda. Bibir merahnya tertarik membentuk senyuman yang nggak kalah liciknya dari bocil yang lagi kabedon dia saat ini.</p>

<p>“Berapa?”</p>

<p>“Hmm?”</p>

<p>“Lo berani bayar berapa?” si abang menantang, berbisik di bibir Mingyu. “Tidur sama gue <em>mahal</em>. Kalo lo tajir, gue bisa masukin lo ke WL.”</p>

<p>Lalu, jari telunjuknya menoel dagu Mingyu, sebelum turun perlahan membentuk garis vertikal panjang dan berhenti tepat di atas perut bawah si anak, sekitar tali celana dalam Mingyu yang memang sengaja dipampang ke mata dunia. Napas anak itu tercekat, menanti entah apa yang akan dilakukan si abang berikutnya.</p>

<p>Ternyata yang dilakukan berikutnya adalah merenggut kasar rambut Mingyu sampai si anak berjengit agar telinganya bisa dibisiki, “Jangan maen-maen sama api, Bocah, mending pulang, cuci kaki dan tidur sana.”</p>

<p>Kemudian, si abang mendorong Mingyu hingga doyong, sebelum menoleh ke Seungkwan yang hanya bisa melongo menyaksikan sisi lain abang barunya yang belum pernah dia temui selama 6 bulan belakangan ini, “Jangan bawa temen aneh lo kayak gini lagi ke gue ya.” Senyumannya begitu manis membuat Seungkwan bergidik, langsung berkali-kali mengangguk.</p>

<p>Setelah si abang berlalu santai, Seungkwan dengan kesal menendang tembok di sebelah kaki Mingyu yang jatuh terduduk ke lantai. “LO DAH GILA APA?” amuknya. “APA-APAAN TADI, KIM MINGYU?!”</p>

<p>Mingyu memegangi dada, bagian sekitar jantungnya. Matanya mencerah dan mulutnya lebar membuka membentuk senyuman.</p>

<p>“Boo,” hembusnya. “Kayaknya gue beneran naksir abang lo...”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/1-meet</guid>
      <pubDate>Thu, 10 Jul 2025 11:44:18 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>It never really moved me</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/9-it-never-really-moved-me?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuafortunate&#xA;&#xA;Joshua mencari hotel dengan nama yang familier baginya via Naver dan memutuskan untuk memilih salah satu grup hotel bintang lima lengkap dengan pantai pribadi. Saat berwisata, beberapa orang menginginkan pengalaman autentik dengan menginap di resort atau bed and breakfast seakan-akan mereka melesap menjadi warga lokal.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Sebuah pengalaman yang, jujur, Joshua nggak sungkan untuk alami, tetapi Mingyu mengerang protes duluan, terlalu pegal linu untuk meringkuk di kasur sempit agar muat. Joshua ketawa, mengejek Mingyu akan badan besarnya sebelum memasuki pintu depan hotel dan meminta dua kamar dengan queen bed pada resepsionis.&#xA;&#xA;Mingyu mengernyit, &#34;Kok dua? Sekamar aja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Katanya lo mau tidur nyenyak? Single bed nggak gitu gede kan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sama lo mah nyenyak-nyenyak aja, lagian gue muat kalo di single bed hotel begini,&#34; Mingyu memiringkan kepala. &#34;Sekamar aja udah biar gampang.&#34;&#xA;&#xA;Sebenarnya Joshua mengharapkan ketenangan, tapi dia juga malas ambil pusing. Dengan satu kunci kamar di lantai tinggi, mereka pun bertolak ke kamar mereka. Karena berangkat terlalu pagi, mereka nggak sempat mandi, hanya cuci muka dan gosok gigi, sedangkan udara di mana mereka berada kini terasa lebih panas dan lembab.&#xA;&#xA;&#34;Gue tag mandi duluan!&#34; Mingyu berseru sambil melompat ke tempat tidur pilihannya dekat pintu. Erangan puas pun meluncur dari celah bibir ketika tubuhnya bertemu empuk kasur dan nyaman bantal.&#xA;&#xA;Joshua nggak menjawab apapun, sudah biasa setelah entah berapa banyak hotel mereka bagi selama tur di berbagai negara. Anak itu menaruh ranselnya di dekat pintu masuk dan melepas sepatu. Sepatu Mingyu yang dilepas sembarangan pun dibenahinya dengan rapi. Joshua berjalan ke arah balkon sambil melepas jaket. Pintu ke balkon kemudian dibuka.&#xA;&#xA;&#34;Whoa...&#34;&#xA;&#xA;Di hadapannya, hamparan langit cerah bermandikan terik mentari menghiasi garis lautan biru yang indah. Bau garam dan keriuhan pengunjung dalam macam-macam bahasa, suara musik yang asing di telinganya, dan desir angin mengacak pakaian serta helai rambutnya...&#xA;&#xA;&#34;Wow...,&#34; suara Mingyu terdengar di sisi Joshua. &#34;Hyung, Hyung, abis mandi kita turun terus nyari makan siang yok. Gue kepengen seafood.&#34; Mingyu menyilangkan lengan di sandaran balkon dan menaruh kepalanya di sana sambil menoleh menatap Joshua.&#xA;&#xA;&#34;Apa nggak ntar malem aja seafoodnya, Gyu? Makan siang enakan sandwich nggak sih? Sandwich sama jus buah dingin...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm, enak tuh, es krim juga...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Beli es krim terus jalan-jalan di pinggir pantai? Besok kita seharian maen di laut.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terus malemnya seafood?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Boleh,&#34; menopang dagu dengan satu tangan pada sandaran, Joshua tersenyum. Diacaknya rambut Mingyu. &#34;Malem terakhir sebelom terbang pulang, clubbing sekalian?&#34;&#xA;&#xA;Mata Mingyu sama berkilatnya dengan Joshua.&#xA;&#xA;&#34;Oke!&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Sesuai kesepakatan dadakan, mereka mandi dan memakai baju santai: kaus dan celana pendek. Sekali lagi mengandalkan Naver, Mingyu menemukan tempat makan siang yang terkenal akan sandwichnya. Setelah makan, mereka berkeliling pusat perbelanjaan sejenak, melihat-lihat baju maupun sesuatu yang menarik untuk dibawa pulang. Mingyu membeli sehelai kemeja dan sehelai kaus kutang warna hitam. Joshua membeli topi serta beberapa lembar pakaian. Mereka akan meminta binatu hotel untuk mencucinya. The perk of pergi dadakan adalah kamu lupa membawa banyak barang dan berakhir membelinya di tempat tujuan.&#xA;&#xA;Puas berbelanja, mereka akhirnya membeli es krim dan berjalan-jalan menyisiri garis pantai sambil menenteng sandal. Matahari hampir terbenam sehingga Joshua dan Mingyu memutuskan untuk berada di sana sampai malam menjelang.&#xA;&#xA;&#34;Mingyu-yah...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm?&#34;&#xA;&#xA;Joshua, sambil tetap memandangi matahari besar berwarna jingga kemerahan yang perlahan-lahan turun di ufuk Barat, pun tersenyum manis.&#xA;&#xA;&#34;Makasih ya udah mau nemenin gue berbuat gila gini.&#34;&#xA;&#xA;Andai Joshua menoleh, mungkin dia juga akan melihat bagaimana Mingyu ikut tersenyum bersamanya.&#xA;&#xA;&#34;Anytime, Hyung.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Nggak jauh dari pantai tempat mereka berjalan-jalan, mereka makan malam di restoran dekat situ. Ternyata restoran tersebut milik sebuah keluarga dan mereka menyambut ramah Joshua dan Mingyu. Seafood yang disediakan begitu segar dan nikmat. Porsinya pun cukup banyak. Joshua menguliti seekor udang rebus gemuk dan menyuapinya ke Mingyu. Sebagai balasan, Mingyu meracik bumbu yang disediakan dan mencelupkan daging kepiting ke sana, menyuapi Joshua balik. Mata Joshua melebar dan dia pun mengangguk-angguk, mengakui kelezatan bumbu racikan Mingyu.&#xA;&#xA;Mereka makan dengan lahap sampai Joshua rasanya begitu mengantuk ketika sudah berbaring di kasur hotelnya yang nyaman. Mingyu memarahinya, menyuruhnya ganti baju dan mandi karena asap bekas bakaran seafood serta keringat pasti menempel di tubuh mereka. Mengerang, Joshua sayup-sayup menutup mata.&#xA;&#xA;&#34;Hyung, mandi sekarang ato gue yang mandiin.&#34;&#xA;&#xA;Seketika, matanya membuka. Dia buru-buru melompat dan berjalan cepat ke kamar mandi, melewati Mingyu yang berkacak pinggang (dan telanjang dada) seolah anak itu nggak ada di sana. Pintu kamar mandi menutup. Kim Mingyu menghela napas, lalu menelepon housekeeping untuk menaruh cucian dan resepsionis untuk memesan program olahraga air yang disediakan hotel mereka esok hari.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuafortunate" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuafortunate</span></a></p>

<p>Joshua mencari hotel dengan nama yang familier baginya via Naver dan memutuskan untuk memilih salah satu grup hotel bintang lima lengkap dengan pantai pribadi. Saat berwisata, beberapa orang menginginkan pengalaman autentik dengan menginap di resort atau bed and breakfast seakan-akan mereka melesap menjadi warga lokal.</p>



<p>Sebuah pengalaman yang, jujur, Joshua nggak sungkan untuk alami, tetapi Mingyu mengerang protes duluan, terlalu pegal linu untuk meringkuk di kasur sempit agar muat. Joshua ketawa, mengejek Mingyu akan badan besarnya sebelum memasuki pintu depan hotel dan meminta dua kamar dengan queen bed pada resepsionis.</p>

<p>Mingyu mengernyit, “Kok dua? Sekamar aja.”</p>

<p>“Katanya lo mau tidur nyenyak? Single bed nggak gitu gede kan?”</p>

<p>“Sama lo mah nyenyak-nyenyak aja, lagian gue muat kalo di single bed hotel begini,” Mingyu memiringkan kepala. “Sekamar aja udah biar gampang.”</p>

<p>Sebenarnya Joshua mengharapkan ketenangan, tapi dia juga malas ambil pusing. Dengan satu kunci kamar di lantai tinggi, mereka pun bertolak ke kamar mereka. Karena berangkat terlalu pagi, mereka nggak sempat mandi, hanya cuci muka dan gosok gigi, sedangkan udara di mana mereka berada kini terasa lebih panas dan lembab.</p>

<p>“Gue tag mandi duluan!” Mingyu berseru sambil melompat ke tempat tidur pilihannya dekat pintu. Erangan puas pun meluncur dari celah bibir ketika tubuhnya bertemu empuk kasur dan nyaman bantal.</p>

<p>Joshua nggak menjawab apapun, sudah biasa setelah entah berapa banyak hotel mereka bagi selama tur di berbagai negara. Anak itu menaruh ranselnya di dekat pintu masuk dan melepas sepatu. Sepatu Mingyu yang dilepas sembarangan pun dibenahinya dengan rapi. Joshua berjalan ke arah balkon sambil melepas jaket. Pintu ke balkon kemudian dibuka.</p>

<p>“Whoa...”</p>

<p>Di hadapannya, hamparan langit cerah bermandikan terik mentari menghiasi garis lautan biru yang indah. Bau garam dan keriuhan pengunjung dalam macam-macam bahasa, suara musik yang asing di telinganya, dan desir angin mengacak pakaian serta helai rambutnya...</p>

<p>“Wow...,” suara Mingyu terdengar di sisi Joshua. “Hyung, Hyung, abis mandi kita turun terus nyari makan siang yok. Gue kepengen seafood.” Mingyu menyilangkan lengan di sandaran balkon dan menaruh kepalanya di sana sambil menoleh menatap Joshua.</p>

<p>“Apa nggak ntar malem aja seafoodnya, Gyu? Makan siang enakan sandwich nggak sih? Sandwich sama jus buah dingin...”</p>

<p>“Hmm, enak tuh, es krim juga...”</p>

<p>“Beli es krim terus jalan-jalan di pinggir pantai? Besok kita seharian maen di laut.”</p>

<p>“Terus malemnya seafood?”</p>

<p>“Boleh,” menopang dagu dengan satu tangan pada sandaran, Joshua tersenyum. Diacaknya rambut Mingyu. “Malem terakhir sebelom terbang pulang, clubbing sekalian?”</p>

<p>Mata Mingyu sama berkilatnya dengan Joshua.</p>

<p>“Oke!”</p>

<hr/>

<p>Sesuai kesepakatan dadakan, mereka mandi dan memakai baju santai: kaus dan celana pendek. Sekali lagi mengandalkan Naver, Mingyu menemukan tempat makan siang yang terkenal akan sandwichnya. Setelah makan, mereka berkeliling pusat perbelanjaan sejenak, melihat-lihat baju maupun sesuatu yang menarik untuk dibawa pulang. Mingyu membeli sehelai kemeja dan sehelai kaus kutang warna hitam. Joshua membeli topi serta beberapa lembar pakaian. Mereka akan meminta binatu hotel untuk mencucinya. The perk of pergi dadakan adalah kamu lupa membawa banyak barang dan berakhir membelinya di tempat tujuan.</p>

<p>Puas berbelanja, mereka akhirnya membeli es krim dan berjalan-jalan menyisiri garis pantai sambil menenteng sandal. Matahari hampir terbenam sehingga Joshua dan Mingyu memutuskan untuk berada di sana sampai malam menjelang.</p>

<p>“Mingyu-yah...”</p>

<p>“Hmm?”</p>

<p>Joshua, sambil tetap memandangi matahari besar berwarna jingga kemerahan yang perlahan-lahan turun di ufuk Barat, pun tersenyum manis.</p>

<p>“Makasih ya udah mau nemenin gue berbuat gila gini.”</p>

<p>Andai Joshua menoleh, mungkin dia juga akan melihat bagaimana Mingyu ikut tersenyum bersamanya.</p>

<p>“Anytime, Hyung.”</p>

<hr/>

<p>Nggak jauh dari pantai tempat mereka berjalan-jalan, mereka makan malam di restoran dekat situ. Ternyata restoran tersebut milik sebuah keluarga dan mereka menyambut ramah Joshua dan Mingyu. Seafood yang disediakan begitu segar dan nikmat. Porsinya pun cukup banyak. Joshua menguliti seekor udang rebus gemuk dan menyuapinya ke Mingyu. Sebagai balasan, Mingyu meracik bumbu yang disediakan dan mencelupkan daging kepiting ke sana, menyuapi Joshua balik. Mata Joshua melebar dan dia pun mengangguk-angguk, mengakui kelezatan bumbu racikan Mingyu.</p>

<p>Mereka makan dengan lahap sampai Joshua rasanya begitu mengantuk ketika sudah berbaring di kasur hotelnya yang nyaman. Mingyu memarahinya, menyuruhnya ganti baju dan mandi karena asap bekas bakaran seafood serta keringat pasti menempel di tubuh mereka. Mengerang, Joshua sayup-sayup menutup mata.</p>

<p>“Hyung, mandi sekarang ato gue yang mandiin.”</p>

<p>Seketika, matanya membuka. Dia buru-buru melompat dan berjalan cepat ke kamar mandi, melewati Mingyu yang berkacak pinggang (dan telanjang dada) seolah anak itu nggak ada di sana. Pintu kamar mandi menutup. Kim Mingyu menghela napas, lalu menelepon housekeeping untuk menaruh cucian dan resepsionis untuk memesan program olahraga air yang disediakan hotel mereka esok hari.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/9-it-never-really-moved-me</guid>
      <pubDate>Sun, 08 Jun 2025 11:08:57 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Even when flowers bloomed in the sky</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/8-even-when-flowers-bloomed-in-the-sky?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuafortunate&#xA;&#xA;&#34;Wow...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm? Kenapa, Hyung?&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Enggak...,&#34; Joshua mengalihkan pandangan dari jendela pesawat ke Mingyu yang sudah bersiap untuk tidur di sebelahnya. Penerbangan 4 jam cukup untuk mengisi perut dan tenaga, apalagi bagi Mingyu yang terkenal bukan manusia pagi hari. Hidupnya dimulai dari siang ke malam, dan tertidur saat pagi menjelang, berbeda dengan Joshua yang hampir selalu bangun lebih dulu dari member yang lain. &#34;Kaget aja lo beneran ikut. Gue pikir bakal batal.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kan gue udah nge-iyain ajakan lo,&#34; Mingyu menguap. &#34;Masa gue boong.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak gitu… Yaudah, tidur sana,&#34; tangan Joshua menyingkirkan rambut depan Mingyu dari sisi dahinya. &#34;Ntar gue bangunin kalo waktunya makan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mm,&#34; lalu, di luar dugaan, Mingyu merungkel ke arah Joshua, sengaja menaruh kepalanya di bahu si yang lebih tua. &#34;Pinjem ya. Gue benci kursi tengah.&#34;&#xA;&#xA;Joshua hendak mengajaknya tukaran kursi biar Mingyu bisa tidur bersandar ke jendela, namun batal karena napas anak itu mulai terdengar teratur. Definisi nemplok langsung molor. Mau nggak mau, Joshua terkekeh pelan dan memandang jendela pesawat lagi, diam nggak bergerak agar Mingyu bisa tidur dengan nyenyak. Pikirannya melayang ke percakapan mereka di bangku belakang taksi beberapa jam sebelum ini.&#xA;&#xA;&#34;Kalo nggak dapet tiketnya gimana, Gyu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya kita pulang. Ato puter arah.&#34;&#xA;&#xA;Joshua menoleh. Mingyu juga. Mereka bertatapan.&#xA;&#xA;&#34;Laut banyak. Nggak harus ke Cebu juga.&#34;&#xA;&#xA;&#34;...Hotelnya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mendarat, kita tuker duit sama beli wifi dulu aja. Kita cari hotel di Naver, ato Google, terus langsung ke sana.&#34;&#xA;&#xA;Gilakah mereka berdua? Apa hidup dari bandara ke bandara—sehari di negara A, besoknya sudah di negara B—membuat logika mereka agak rusak? Tanpa reservasi tiket pesawat, tanpa memesan kamar hotel, bahkan Joshua hampir lupa membawa passportnya karena terbiasa dibawa staff mereka setiap mereka terbang. Berbekal kartu kredit dan uang tunai seadanya (siapa sih memangnya yang bawa uang tunai banyak-banyak sekarang?), dua anak itu nekat melintasi lautan ke negara yang bahasa aslinya mereka berdua pun nggak paham.&#xA;&#xA;&#34;Oke...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Napa nih? Kok lo kayak nggak yakin gitu?&#34; ringisan Mingyu seolah mengejek. &#34;Apa nggak jadi nih, kita balik aja?&#34;&#xA;&#xA;Joshua buru-buru menggeleng. Mingyu menghela napas.&#xA;&#xA;&#34;Tenang aja, Hyung. Emangnya apa sih yang bakal kejadian di sana?&#34;&#xA;&#xA;Kembali pada kursi pesawatnya, Joshua berkedip. Pramugari nampak tengah mendorong kereta makanan di lorong kursi penumpang. Sebentar lagi waktu makan bagi mereka akan dimulai.&#xA;&#xA;&#34;Mingyu-yah...&#34;&#xA;&#xA;Kedikan bahu teramat pelan. Nihil respon.&#xA;&#xA;&#34;Gyu...? Bangun. Udah mau makan tuh...&#34;&#xA;&#xA;Kali ini, tangan Joshua mengelus sisi kepala Mingyu. Dielus-elus, bukannya risih dan terbangun, anak itu malah terlihat makin pulas. Mingyu mengusrek wajahnya ke bahu Joshua. Terkekeh, Joshua menaruh dagunya di kepala Mingyu.&#xA;&#xA;&#34;Mingyu...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ng...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bangun yok? Mau makan nggak?&#34;&#xA;&#xA;Erangan lagi. Karena posisi mereka, Mingyu bisa menghirup wangi parfum yang Joshua kenakan di lehernya. Dihidunya wangi itu dalam-dalam sebelum dia menghela napas panjang.&#xA;&#xA;&#34;Ngantuk...&#34;&#xA;&#xA;Joshua pun ketawa. &#34;Ntar kan bisa tidur lagi,&#34; dibantunya Mingyu bangun dengan mendorong kepalanya kembali ke sandaran kursinya sendiri. Si anak mengerang untuk ketiga kalinya. Kakinya yang panjang tersiksa dan badannya yang besar terasa pegal melungker seperti tadi. Mau ngulet puas juga nggak bisa. Kursi ekonomi sialan.&#xA;&#xA;&#34;Kita pulang jangan naek ekonomi lagi ya, Hyung, tolong banget nih...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sisanya cuma ini, mau gimana,&#34; kembali dirapikannya penampakan Mingyu, membuat si anak sedikit banyak nggak seperti orang baru bangun. &#34;Ntar penerbangan pulang, kita pesen paling depan. Miles kita banyak ini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yee, kalo pake miles mah sekalian pesen suites nggak sih...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Cuma 4 jam, Gyu.&#34;&#xA;&#xA;Memperbaiki posisi duduk mereka persis ketika pramugari menanyakan apakah mereka mau bibimbap atau omelette, Joshua dan Mingyu pun kembali berperan sebagai idol untuk sejenak, mempertontonkan sisi terbaik mereka sebisa mungkin pada dunia, seperti biasanya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuafortunate" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuafortunate</span></a></p>

<p>“Wow...”</p>

<p>“Hmm? Kenapa, Hyung?”</p>



<p>“Enggak...,” Joshua mengalihkan pandangan dari jendela pesawat ke Mingyu yang sudah bersiap untuk tidur di sebelahnya. Penerbangan 4 jam cukup untuk mengisi perut dan tenaga, apalagi bagi Mingyu yang terkenal bukan manusia pagi hari. Hidupnya dimulai dari siang ke malam, dan tertidur saat pagi menjelang, berbeda dengan Joshua yang hampir selalu bangun lebih dulu dari member yang lain. “Kaget aja lo beneran ikut. Gue pikir bakal batal.”</p>

<p>“Kan gue udah nge-iyain ajakan lo,” Mingyu menguap. “Masa gue boong.”</p>

<p>“Nggak gitu… Yaudah, tidur sana,” tangan Joshua menyingkirkan rambut depan Mingyu dari sisi dahinya. “Ntar gue bangunin kalo waktunya makan.”</p>

<p>“Mm,” lalu, di luar dugaan, Mingyu merungkel ke arah Joshua, sengaja menaruh kepalanya di bahu si yang lebih tua. “Pinjem ya. Gue benci kursi tengah.”</p>

<p>Joshua hendak mengajaknya tukaran kursi biar Mingyu bisa tidur bersandar ke jendela, namun batal karena napas anak itu mulai terdengar teratur. Definisi nemplok langsung molor. Mau nggak mau, Joshua terkekeh pelan dan memandang jendela pesawat lagi, diam nggak bergerak agar Mingyu bisa tidur dengan nyenyak. Pikirannya melayang ke percakapan mereka di bangku belakang taksi beberapa jam sebelum ini.</p>

<p>“Kalo nggak dapet tiketnya gimana, Gyu?”</p>

<p>“Ya kita pulang. Ato puter arah.”</p>

<p>Joshua menoleh. Mingyu juga. Mereka bertatapan.</p>

<p>“Laut banyak. Nggak harus ke Cebu juga.”</p>

<p>”...Hotelnya?”</p>

<p>“Mendarat, kita tuker duit sama beli wifi dulu aja. Kita cari hotel di Naver, ato Google, terus langsung ke sana.”</p>

<p>Gilakah mereka berdua? Apa hidup dari bandara ke bandara—sehari di negara A, besoknya sudah di negara B—membuat logika mereka agak rusak? Tanpa reservasi tiket pesawat, tanpa memesan kamar hotel, bahkan Joshua hampir lupa membawa passportnya karena terbiasa dibawa staff mereka setiap mereka terbang. Berbekal kartu kredit dan uang tunai seadanya (siapa sih memangnya yang bawa uang tunai banyak-banyak sekarang?), dua anak itu nekat melintasi lautan ke negara yang bahasa aslinya mereka berdua pun nggak paham.</p>

<p>“Oke...”</p>

<p>“Napa nih? Kok lo kayak nggak yakin gitu?” ringisan Mingyu seolah mengejek. “Apa nggak jadi nih, kita balik aja?”</p>

<p>Joshua buru-buru menggeleng. Mingyu menghela napas.</p>

<p>“Tenang aja, Hyung. Emangnya apa sih yang bakal kejadian di sana?”</p>

<p>Kembali pada kursi pesawatnya, Joshua berkedip. Pramugari nampak tengah mendorong kereta makanan di lorong kursi penumpang. Sebentar lagi waktu makan bagi mereka akan dimulai.</p>

<p>“Mingyu-yah...”</p>

<p>Kedikan bahu teramat pelan. Nihil respon.</p>

<p>“Gyu...? Bangun. Udah mau makan tuh...”</p>

<p>Kali ini, tangan Joshua mengelus sisi kepala Mingyu. Dielus-elus, bukannya risih dan terbangun, anak itu malah terlihat makin pulas. Mingyu mengusrek wajahnya ke bahu Joshua. Terkekeh, Joshua menaruh dagunya di kepala Mingyu.</p>

<p>“Mingyu...”</p>

<p>“Ng...”</p>

<p>“Bangun yok? Mau makan nggak?”</p>

<p>Erangan lagi. Karena posisi mereka, Mingyu bisa menghirup wangi parfum yang Joshua kenakan di lehernya. Dihidunya wangi itu dalam-dalam sebelum dia menghela napas panjang.</p>

<p>“Ngantuk...”</p>

<p>Joshua pun ketawa. “Ntar kan bisa tidur lagi,” dibantunya Mingyu bangun dengan mendorong kepalanya kembali ke sandaran kursinya sendiri. Si anak mengerang untuk ketiga kalinya. Kakinya yang panjang tersiksa dan badannya yang besar terasa pegal melungker seperti tadi. Mau ngulet puas juga nggak bisa. Kursi ekonomi sialan.</p>

<p>“Kita pulang jangan naek ekonomi lagi ya, Hyung, tolong banget nih...”</p>

<p>“Sisanya cuma ini, mau gimana,” kembali dirapikannya penampakan Mingyu, membuat si anak sedikit banyak nggak seperti orang baru bangun. “Ntar penerbangan pulang, kita pesen paling depan. Miles kita banyak ini.”</p>

<p>“Yee, kalo pake miles mah sekalian pesen suites nggak sih...”</p>

<p>“Cuma 4 jam, Gyu.”</p>

<p>Memperbaiki posisi duduk mereka persis ketika pramugari menanyakan apakah mereka mau bibimbap atau omelette, Joshua dan Mingyu pun kembali berperan sebagai idol untuk sejenak, mempertontonkan sisi terbaik mereka sebisa mungkin pada dunia, seperti biasanya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/8-even-when-flowers-bloomed-in-the-sky</guid>
      <pubDate>Sat, 07 Jun 2025 16:16:30 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>