26. 💋
Sialan kan Wonwoo jadi kepikiran.
Kalo dibilang apa Wonwoo nyesel nyium bibir Joshua karena sekarang dia jadi buronan di kalangan temen-temennya sendiri (dan entah berapa juta manusia di luar sana yang Wonwoo nggak kenal tapi sama keselnya karena bibir Joshua udah direbut cowok anonim), jawabannya tentu aja enggak ya gaes yaaaaa ☝️
Wonwoo NGGAK AKAN pernah nyesel karena KAPAN LAGI BISA NYIUM BIBIR JOSHUA HONG WOI, MAU DUNIA KEBELAH KEK BODO AMAT YANG PENTING DIA UDAH NGERASAIN BIBIRNYA JOSHUA JISOO HONG‼️‼️‼️‼️
(eit nggak usah ngiri☝️)
Cuma, yeah, tetep aja Wonwoo kepikiran. Kalo reaksi temen-temennya aja udah radikal begitu, apakah bakal ada ekstrimis-ekstrimis lain yang siap nyulik Jeon Wonwoo pas tau dirinya lah perebut ciuman Joshua, terus Wonwoo dihanyutkan ke sungai Gangga? Ato, worse, ditunjuk jadi duta MBG?? 😨 (ih najis)
Dikernyitkannya dahi, auto hidung bangirnya ikut mengerut. Wonwoo berjalan memasuki perpustakaan di area pusat kampus seperti tiap sore dengan kedua lengan melipat di dada. Parasnya kelewat serius buat isi kepalanya yang random saat ini. Kayaknya better Wonwoo agak jaga jarak sama Joshua deh. Nerapin beberapa rules personal yang ketat. Jangan deket-deket biar nggak khilaf ciuman lagi. Jangan berduaan doang di ruang sepi. Jangan—
“Ikh...”
...Yaelah. Langsung muncul itu Joshua-nya depan mata. Baru juga mau dijauhin bjirrrrr. KENAPA SIH??!! SEGITU PENGENNYA SEMESTA INI COMBLANGIN WONWOO SAMA JOSHUA, HAH???!!! YAUDAH DEH KALO MAKSA MAH!!!
Wonwoo menghampirinya. Tapi Joshua juga nggak nyadarin kedatangan Wonwoo sih. Dia tengah sibuk berjinjit sambil ngulurin lengan setinggi mungkin, berusaha menggapai salah satu buku tebal di rak paling atas. Wonwoo diem aja ngeliatin dia dari koridor. Kayak biasa, perpustakaan di jam bubaran kampus gini udah tergolong lengang. Hampir nggak ada orang lain di sekitar mereka. Mungkin ada 1-2 orang yang ngumpet, tapi nggak tau deh lagi pada ngumpet di mana tepatnya.
Joshua berusaha jinjit lebih tinggi lagi. Suatu pemandangan yang separo bikin Wonwoo pengen ketawa soalnya Joshua lucuuuuuu bangettt, separonya lagi kesian pengen bantuin. Padahal beda tinggi badan Wonwoo sama Joshua juga nggak jauh-jauh banget, tapi mayanlah, selisih tinggi itu berperan besar dalam situasi kayak gini. Sementara itu, Joshua udah gemeter sebadan-badan, berusaha mengerahkan seluruh inci tingginya biar tangannya nyampe ke buku itu. “Dikit, uh, lagi...,” gumamnya tanpa sadar.
Alangkah kagetnya Joshua pas ada tangan lain menjulur santai, mengambil buku yang dia maksud tanpa kesulitan sama sekali. Arah pandangnya berputar dari lengan ke wajah orang itu yang lagi dongak kayak dia sebelumnya. Jeon Wonwoo. Lengkap dengan kacamata bingkai hitamnya dan wajah serius nan ganteng yang akhir-akhir ini menghantui pikiran Joshua. Salting, Joshua pun perlahan berbalik badan, menatap Wonwoo yang masih berkutat sama buku di rak atas dan membiarkan degup jantung nggak beraturan dalam dada serta rona merah melalap kedua pipinya.
Joshua menelisik satu-persatu fakta: mereka berduaan (lagi) + semburat jingga dari celah jendela jatuh menerangi perpustakaan sore itu + lorong rak di pojokan yang sunyi sepi + jarak tubuh mereka terlalu dekat + Wonwoo tetep seganteng pas nyium dia waktu itu. Deg degan, Joshua lalu memejamkan mata dan mengangkat sedikit dagunya.
Posisi Joshua yang seperti itulah yang Wonwoo temui saat dia akhirnya menunduk, berniat memberikan buku yang baru dia ambilkan. Namun, niat tersebut sirna seketika. Joshua dalam kukungannya jelas menantikan sesuatu, meminta sesuatu dari Wonwoo dengan tindakannya. Degukan ludah membuat jakun Wonwoo naik-turun. Dia yakin dia tau apa yang Joshua minta darinya, tetapi dia nggak berani ngambil kesimpulan segitu cepetnya.
Masa sih...? Masa cowok secantik ini—makhluk seindah, sesempurna, se-enggak nyata ini—nungguin ciuman dari Wonwoo?
Detik berlalu, meleleh menjadi menit. Nggak kunjung datang sentuhan yang diharapkan, Joshua (dengan penuh tanda tanya) perlahan membuka sedikit celah mata, mencari tau di mana kah keberadaan Wonwoo. Rupanya dia masih ada di hadapannya, masih mengukung Joshua, memojokkannya ke rak buku, tapi sekarang dia menatap Joshua lekat-lekat. Tatap mereka bersirobok dan, spontan, Joshua merasa malu. “Ah, ini, mm,” terbata-bata, sembari mukanya begitu merah bagai tomat kematengan. “A-aku enggak—”
“Mejemin mata gitu maksudnya apaan nih?” seloroh Wonwoo, sengaja. Sumpah deh, Joshua Hong itu kenapa bisa begitu gampangnya mancing sisi jail Wonwoo sih? Minta digodain banget?? “Lo nungguin gue ngapain?”
Makin dan makin kebakar aja pipi Joshua. “Eng-enggak kok, nggak gitu...,” balasnya dalam gumaman rendah, saking lembutnya sampe hampir nggak kedengeran andaikan perpustakaan lagi nggak sesepi itu. “Cuma...muka kamu deket banget, aku kan jadi keinget...lagi...”
...Sumpah.
Cantik. Cantiknya pake banget. Cantiknya nggak ngotak. Wonwoo harap Joshua sadar sepenuhnya kalo dia tuh cantik luar biasa dan bahwa dia berhak banget dipuja-puji, disembah bak ratu berlian pemilik hati para budak cinta. Joshua, sumpah lah...
“Terus, emm, jadi aku mikir apa kamu nggak mau—”
Wonwoo majuin kepala buat nutup mulut Joshua pake bibirnya. Refleks, juga dengan sentakan napas, Joshua mejamin mata lagi. Ciuman itu ringan. Hanya bibir ketemu bibir buat beberapa detik. Suara kecupan lah yang tertinggal kala kedua bibir dipisahkan paksa.
Bagai terhipnotis, Wonwoo mengelusi bibir atas Joshua. Lembut. Merah delima. Sedikit lengket, mungkin sisa lip balm yang masih menempel. Mata yang sayu. Pipi yang merona. Bener-bener secantik—bahkan jauh lebih cantik—di foto-foto majalah itu. Ibu jari Wonwoo turun ke bibir bawah Joshua, menekannya sedikit hingga terbuka, memperlihatkan geligi dan sekelebat ujung lidahnya. Turun lagi hingga membelai rahang dan menangkup dagu. Bisikan yang semakin rendah, semakin berat.
“Cantik...”
Dagu Joshua diangkat. Tangan Wonwoo yang lowong bertumpu pada rak di belakang Joshua. Nggak bisa menahan diri, Wonwoo kembali mencium bibir manis itu. Alih-alih Wonwoo merundukkan badan sedemikian rupa, kini Joshua lah yang harus menegakkan lehernya agar bisa mencapai bibir cowok itu. Dia pasrah, membiarkan Wonwoo terus menerus memberikan kecupan-kecupan kecil pada bibirnya. Sesekali, tautan bibir mereka sedikit lama, sedikit nggak rela harus terlepas meski sedetik kemudian akan langsung terpaut lagi.
Hati Wonwoo bagai melambung ke atas awan. Joshua Hong yang diidamkan cowok dan cewek sekampus kini berada di bawahnya, dengan bibir begitu penurut mengikuti gerak bibirnya. Wonwoo melepaskan ciuman dengan napas agak memburu, berniat memberikan kesempatan pada Joshua untuk menenangkan diri. Mungkin dia kelewat tergesa-gesa. Mungkin Joshua overwhelmed dan butuh time out untuk mengambil napas.
Di luar dugaan, Joshua malah menaikkan kacamata Wonwoo ke rambutnya, merangkulkan kedua lengannya ke leher Wonwoo dan menarik bagian belakang kepala cowok itu untuk menyatukan bibir mereka kembali. Kali ini bukan lagi kecupan naif yang mereka bagi, melainkan segala yang selama ini dibendung baik oleh Wonwoo maupun oleh Joshua. Bibir Joshua mencumbuinya, secara aktif mengajak Wonwoo untuk melepaskan segala hasrat yang dimilikinya. Ciuman demi ciuman yang mereka bagi semakin panas. Tangan Wonwoo menemukan pinggang Joshua, merangkulnya erat dengan harapan menghapus memori akan Seungcheol di sana. Tangannya yang lain menelusuri punggung Joshua melalui bahan kemejanya yang halus. Bagian depan tubuh mereka menempel nggak kalah lekat dari sepasang bibir.
“Mmh,” suara-suara geraman tertahan menemani bunyi cumbuan yang basah. Di satu momen, Wonwoo menggigit perlahan bibir Joshua, berbagi helaan napas bersama, sebelum memasukkan lidahnya ke celah yang tercipta. “Hng!” Joshua mendesah agak kencang, tapi untungnya lidah Wonwoo keburu menemukan lidahnya dan berhasil membungkam keributan tersebut. Decakan terdengar. Peluh menitik di kening Wonwoo. Kaki Joshua hampir nggak tahan untuk mengalungi pinggul Wonwoo, mengundang cowok itu untuk mencumbuinya terus seperti ini di sudut terpencil perpustakaan sampai malam turun.
“Uhuk, uhuk!”
Suara batuk seseorang. Bagai disiram air dingin, Wonwoo langsung melepas Joshua, hampir-hampir melompat mundur menjauhinya. Segera diturunkannya kacamata agar indra penglihatannya kembali. Dia memandangi Joshua—bibir bengkak dan basah, mata sayu, wajah memerah, serta napas memburu—lalu meneguk ludah. Dia. Dia yang udah bikin Joshua kayak gini. Jeon Wonwoo.
Tapi,
nggak di sini juga anjir. Kalo ada yang liat, gimana? Terus kalo sampe kesebar rumor kalo dia lah cowok yang udah nyium Joshua, gimana? Minimal digebukin, lebih mungkin digantung terbalik di pohon beringin di halaman belakang kampus. Screw that, nggak peduli nasib dirinya deh, tapi nasib Joshua? Wonwoo nggak mau kalo nama Joshua jadi jelek gegara ulahnya. Dia suka Joshua. Suka banget. Cinta. Karena cinta, makanya—
“Ah, Wonu—”
—sebelum Joshua sempet ngomong apapun, Wonwoo udah berbalik dan pergi (sambil doa nggak ada yang nyadar akan jendolan di celananya, amen), meninggalkan Joshua yang berusaha menenangkan dirinya sendirian sambil menyentuh bibirnya, masih terlena oleh ciuman bergairah dari cowok itu.
Terhalang oleh rak-rak buku, Joshua nggak sadar sama sekali kalo ada orang lain yang merhatiin mereka sejak bercumbu tadi. Orang lain yang menyeringai jahil karena suatu rencana udah terangkai manis di dalam kepalanya. Orang lain yang juga merupakan 'musuh' Joshua Hong akhir-akhir ini.