<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>wonshua62 &amp;mdash; 🌾</title>
    <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshua62</link>
    <description>narrative writings of thesunmetmoon</description>
    <pubDate>Fri, 24 Apr 2026 18:56:51 +0000</pubDate>
    <image>
      <url>https://i.snap.as/K7JGOEOo.png</url>
      <title>wonshua62 &amp;mdash; 🌾</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshua62</link>
    </image>
    <item>
      <title>132.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/132?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wonshua62&#xA;&#xA;&#34;Kesian banget si bego...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo lagi ngapain sih dari tadi?&#34; kepo, Wonwoo menyusruk ke sisi leher Joshua dari belakang. Dagunya ia taruh di pundak pacarnya itu. Di layar handphone Joshua, nampak chat room Whatsapp.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Lagi update soal kita ke Hani, gue--&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo mengecup santai bahu telanjang Joshua.&#xA;&#xA;&#34;--tapi dia malah misuh-misuh, kepingin juga sama Cheol katanya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lho?&#34; alis Wonwoo merengut. &#34;Bang Hani masih cinta toh sama Bang Cheol? Bukannya dulu udah ditolak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Itulah...,&#34; Joshua mengehela napas. Punggungnya lalu bersandar di dada Wonwoo. Kulit ketemu kulit, lembab oleh bekas keringat yang belum sempat diseka. Biasanya ia akan memarahi Wonwoo karena, baginya, tempat tidur harus selalu dalam keadaan bersih. Namun, siapa sangka kalau Joshua justru menyukainya, sebagaimana ia menyukai kamar kostnya dipenuhi oleh aroma mereka berdua. &#34;Hani tuh cinta mati sama Cheol sih. Saklek dia ngejer Cheol...&#34;&#xA;&#xA;Ketika Wonwoo mulai menciumi sisi lehernya, Joshua mendongak, memudahkan Wonwoo menemukan titik sensitifnya di sana dan menyesapnya, menambah satu lagi tanda kepemilikannya di sana.&#xA;&#xA;&#34;Ngh...,&#34; Joshua mengerang. &#34;J-jadi dia nggak mau nyerah padahal udah ditolak, apalagi Cheol juga sering curhat soal Jihoon ke dia--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jihoon?&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo mendadak berhenti. Ekspresinya kaget. Joshua ikut mengangkat kepalanya dari pundak Wonwoo, menatap balik, kebingungan.&#xA;&#xA;&#34;Iya? Cheol naksir Jihoon, tapi curhatnya selalu ke Hani. Ya otomatis Hani curhatnya ke gue,&#34; saat Wonwoo beranjak, Joshua mengernyit. &#34;Kenapa, Won?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmmmmm wait...&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo merogoh kasur dan bawah bantal, mencari handphonenya, yang ternyata sudah jatuh ke lantai setelah ditaruh sembarangan ke nakas, terlalu terburu-buru untuk berpikir jernih. Buru-buru dia mengetik sesuatu, membiarkan Joshua memeluk tubuhnya dari belakang, dirudung keheranan.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshua62" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">wonshua62</span></a></p>

<p>“Kesian banget si bego...”</p>

<p>“Lo lagi ngapain sih dari tadi?” kepo, Wonwoo menyusruk ke sisi leher Joshua dari belakang. Dagunya ia taruh di pundak pacarnya itu. Di layar handphone Joshua, nampak chat room Whatsapp.</p>



<p>“Lagi update soal kita ke Hani, gue—”</p>

<p>Wonwoo mengecup santai bahu telanjang Joshua.</p>

<p>”—tapi dia malah misuh-misuh, kepingin juga sama Cheol katanya.”</p>

<p>“Lho?” alis Wonwoo merengut. “Bang Hani masih cinta toh sama Bang Cheol? Bukannya dulu udah ditolak?”</p>

<p>“Itulah...,” Joshua mengehela napas. Punggungnya lalu bersandar di dada Wonwoo. Kulit ketemu kulit, lembab oleh bekas keringat yang belum sempat diseka. Biasanya ia akan memarahi Wonwoo karena, baginya, tempat tidur harus selalu dalam keadaan bersih. Namun, siapa sangka kalau Joshua justru menyukainya, sebagaimana ia menyukai kamar kostnya dipenuhi oleh aroma mereka berdua. “Hani tuh cinta mati sama Cheol sih. Saklek dia ngejer Cheol...”</p>

<p>Ketika Wonwoo mulai menciumi sisi lehernya, Joshua mendongak, memudahkan Wonwoo menemukan titik sensitifnya di sana dan menyesapnya, menambah satu lagi tanda kepemilikannya di sana.</p>

<p>“Ngh...,” Joshua mengerang. “J-jadi dia nggak mau nyerah padahal udah ditolak, apalagi Cheol juga sering curhat soal Jihoon ke dia—”</p>

<p>“<em>Jihoon?</em>“</p>

<p>Wonwoo mendadak berhenti. Ekspresinya kaget. Joshua ikut mengangkat kepalanya dari pundak Wonwoo, menatap balik, kebingungan.</p>

<p>“Iya? Cheol naksir Jihoon, tapi curhatnya selalu ke Hani. Ya otomatis Hani curhatnya ke gue,” saat Wonwoo beranjak, Joshua mengernyit. “Kenapa, Won?”</p>

<p>“Hmmmmm wait...”</p>

<p>Wonwoo merogoh kasur dan bawah bantal, mencari handphonenya, yang ternyata sudah jatuh ke lantai setelah ditaruh sembarangan ke nakas, terlalu terburu-buru untuk berpikir jernih. Buru-buru dia mengetik sesuatu, membiarkan Joshua memeluk tubuhnya dari belakang, dirudung keheranan.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/132</guid>
      <pubDate>Sat, 17 Oct 2020 15:05:18 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>130.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/130?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wonshua62&#xA;&#xA;&#34;Bego banget sih pacar gue...&#34;&#xA;&#xA;Joshua berbisik ke bibir Wonwoo.&#xA;&#xA;&#34;...untung gue sayang.&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Mendadak, Wonwoo memajukan kepala. Keningnya menyentuh kening Joshua. Napas mereka membaur saking dekatnya jarak di antara mereka. Kaget karena mendadak wajah Wonwoo begitu dekat, Joshua refleks memejamkan mata. Ia menggertakkan gigi, pun agak mendongakkan kepala, menyerahkan bibirnya.&#xA;&#xA;Menunggu.&#xA;&#xA;Menunggu...&#xA;&#xA;...Hmm?&#xA;&#xA;Dibukanya satu mata. Wonwoo masih ada di situ. Napasnya hangat kala ia balas berbisik ke bibir Joshua.&#xA;&#xA;&#34;...Boleh gue cium?&#34; tanyanya.&#xA;&#xA;Joshua gagal paham, nggak tau harus kesal dan jitak Wonwoo karena ndableknya ampun-ampunan (Joshua udah mejamin mata itu, heh!) atau harus ketawa keras-keras karena gemesin banget sih?? Heran??&#xA;&#xA;Kan Joshua jadi kepingin gangguin.&#xA;&#xA;&#34;Nggak boleh,&#34; ia mendengus geli.&#xA;&#xA;Wonwoo mengernyitkan alis mendengar jawaban itu. &#34;Beneran nggak boleh nih?&#34; tanyanya sekali lagi.&#xA;&#xA;Yakali. Jarak bibir mereka aja cuma satu helaan napas. Kalau Wonwoo mau mah, dia tinggal maju sedikit lagi aja juga udah kena, nggak perlu ngulur waktu kayak begini. Tapi, ah, namanya juga si Wonu. Isengnya kebangetan.&#xA;&#xA;&#34;Mm-hmm,&#34; Joshua mengangguk pelan.&#xA;&#xA;&#34;Yakin? Yakin banget, banget?&#34;&#xA;&#xA;Ada senyuman jahil merekah di wajah Joshua sambil ia kalungkan lengan di sekeliling leher Wonwoo, sementara lengan Wonwoo masih melingkari pinggul Joshua, nyaman berada di sana.&#xA;&#xA;&#34;Beneran nggak boleh banget nih? Gue udah nunggu dari kita kuliah tahun terakhir lho ini??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ha!&#34; ada nada pongah dalam selaan Joshua. &#34;Gue udah nunggu ini dari SMP tau!&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo pun terdiam. Rasa gelinya hilang.&#xA;&#xA;&#34;...Selama itu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yep, kelas 2 apa 3 gitu, gue lupa, pokoknya selama it--mmph.&#34;&#xA;&#xA;Sekilas. Bibir Wonwoo pada bibirnya. Benar-benar sekilas.&#xA;&#xA;&#34;Won--&#34;&#xA;&#xA;Lagi. Selaksana kecupan ringan, nggak lebih lama dari 2 detik. Joshua bahkan nggak bisa mematerikan rasa bibir Wonwoo di bibirnya selain lembut dan hangat. Tapi, mau protes pun dia nggak bisa, karena Wonwoo menciumnya lagi, kali ini kecupan di bibir bagian atasnya saja. Kemudian, di bibir bagian bawah.&#xA;&#xA;Sentuhan bibirnya halus sekali. Lembut sekali. Seolah ia takut kalau menekan terlalu keras, ia akan kehilangan Joshua lagi.&#xA;&#xA;Wonwoo menarik kepalanya menjauh, berniat menyudahi ciuman pertama mereka sampai di situ saja, namun bibir Joshua mengejarnya. Bibir itu mengecup balik bibir Wonwoo. Gemetar. Bibir bawah Joshua bergetar. Terenyuh, Wonwoo pun menangkup wajah lelaki itu, menyatukan lagi bibir mereka, lebih lekat, lebih berani.&#xA;&#xA;Dan Joshua luluh. Secara harfiah ia meleleh dalam pelukan Wonwoo. Tak ada lagi jeda yang dingin di antara mereka, baik raga maupun hati. Ciuman yang mereka bagi bersama menghancurkan segala keraguan, segala ketidak percayaan dan keengganan atas dasar persahabatan. Di suatu momen, Wonwoo bahkan menarik-narik bibir bawah Joshua, menggitinya perlahan, hingga Joshua mengerang.&#xA;&#xA;&#34;S-stop!&#34; dibekapnya mulut Wonwoo dengan telapak tangan, berusaha mencari celah untuk mengambil napas dan mempersiapkan hati, tapi malah telapak tangannya diciumi lelaki itu. Napasnya tersentak. &#34;Won, gue bilang stop!&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo pura-pura nggak dengar, lalu menggamit pergelangan tangannya dan menjilat jari tengah Joshua dari pangkal hingga ujung.&#xA;&#xA;Fuck.&#xA;&#xA;&#34;Buka mulut lo,&#34; itu adalah perintah, if Joshua heard one. Dia agak merinding melihat tatapan Wonwoo, namun, deep inside, dia juga excited. Ibu jari Wonwoo mengusap bibir bawah Joshua lambat-lambat sebelum ibu jari itu masuk sedikit ke belahan bibirnya yang memerah. Refleks, Joshua membuka bibir lebih lebar. Lidah tanpa sadar menjilat permukaan ibu jari Wonwoo. Mukanya merona. Napasnya mulai berat.&#xA;&#xA;Merasa mendapat angin, Wonwoo menciumnya kembali, tetapi kali ini nggak ada lagi kelembutan seperti sebelumnya. Yang ada hanyalah campuran dari segala emosi yang telah terpendam lama dan mendadak saja dikeluarkan bagai air dari bendungan yang dibuka. Campuran ketergesaan, kerinduan mendalam, pemuasan dahaga, dan cinta.&#xA;&#xA;Begitu banyak cinta. Tak berdasar. Tak ada habisnya.&#xA;&#xA;Bibir Joshua mungkin lecet setelah Wonwoo menciuminya seperti ini. Ia pun menghela napas saat lidah Wonwoo menyusup masuk.&#xA;&#xA;Dia menggantungkan hatinya, tubuhnya, cintanya pada lelaki itu. Pada Wonwoo yang, akhirnya, bisa dia raih setelah penantian 13 tahun yang panjang.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshua62" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">wonshua62</span></a></p>

<p>“Bego banget sih pacar gue...”</p>

<p>Joshua berbisik ke bibir Wonwoo.</p>

<p>”...untung gue sayang.”</p>



<p>Mendadak, Wonwoo memajukan kepala. Keningnya menyentuh kening Joshua. Napas mereka membaur saking dekatnya jarak di antara mereka. Kaget karena mendadak wajah Wonwoo begitu dekat, Joshua refleks memejamkan mata. Ia menggertakkan gigi, pun agak mendongakkan kepala, menyerahkan bibirnya.</p>

<p>Menunggu.</p>

<p>Menunggu...</p>

<p>...<em>Hmm?</em></p>

<p>Dibukanya satu mata. Wonwoo masih ada di situ. Napasnya hangat kala ia balas berbisik ke bibir Joshua.</p>

<p>”...Boleh gue cium?” tanyanya.</p>

<p>Joshua gagal paham, nggak tau harus kesal dan jitak Wonwoo karena ndableknya ampun-ampunan (<em>Joshua udah mejamin mata itu, heh!</em>) atau harus ketawa keras-keras karena gemesin banget sih?? <em>Heran??</em></p>

<p>Kan Joshua jadi kepingin gangguin.</p>

<p>“Nggak boleh,” ia mendengus geli.</p>

<p>Wonwoo mengernyitkan alis mendengar jawaban itu. “Beneran nggak boleh nih?” tanyanya sekali lagi.</p>

<p><em>Yakali</em>. Jarak bibir mereka aja cuma satu helaan napas. Kalau Wonwoo mau mah, dia tinggal maju sedikit lagi aja juga udah kena, nggak perlu ngulur waktu kayak begini. Tapi, ah, namanya juga si Wonu. Isengnya kebangetan.</p>

<p>“Mm-hmm,” Joshua mengangguk pelan.</p>

<p>“<em>Yakin</em>? Yakin banget, <em>banget</em>?”</p>

<p>Ada senyuman jahil merekah di wajah Joshua sambil ia kalungkan lengan di sekeliling leher Wonwoo, sementara lengan Wonwoo masih melingkari pinggul Joshua, nyaman berada di sana.</p>

<p>“Beneran nggak boleh banget nih? Gue udah nunggu dari kita kuliah tahun terakhir lho ini??”</p>

<p>“<em>Ha</em>!” ada nada pongah dalam selaan Joshua. “Gue udah nunggu ini dari SMP tau!”</p>

<p>Wonwoo pun terdiam. Rasa gelinya hilang.</p>

<p>”...Selama itu?”</p>

<p>“Yep, kelas 2 apa 3 gitu, gue lupa, pokoknya selama it—<em>mmph</em>.”</p>

<p>Sekilas. Bibir Wonwoo pada bibirnya. Benar-benar sekilas.</p>

<p>“Won—”</p>

<p>Lagi. Selaksana kecupan ringan, nggak lebih lama dari 2 detik. Joshua bahkan nggak bisa mematerikan rasa bibir Wonwoo di bibirnya selain lembut dan hangat. Tapi, mau protes pun dia nggak bisa, karena Wonwoo menciumnya lagi, kali ini kecupan di bibir bagian atasnya saja. Kemudian, di bibir bagian bawah.</p>

<p>Sentuhan bibirnya halus sekali. Lembut sekali. Seolah ia takut kalau menekan terlalu keras, ia akan kehilangan Joshua lagi.</p>

<p>Wonwoo menarik kepalanya menjauh, berniat menyudahi ciuman pertama mereka sampai di situ saja, namun bibir Joshua mengejarnya. Bibir itu mengecup balik bibir Wonwoo. Gemetar. Bibir bawah Joshua bergetar. Terenyuh, Wonwoo pun menangkup wajah lelaki itu, menyatukan lagi bibir mereka, lebih lekat, lebih berani.</p>

<p>Dan Joshua luluh. Secara harfiah ia meleleh dalam pelukan Wonwoo. Tak ada lagi jeda yang dingin di antara mereka, baik raga maupun hati. Ciuman yang mereka bagi bersama menghancurkan segala keraguan, segala ketidak percayaan dan keengganan atas dasar persahabatan. Di suatu momen, Wonwoo bahkan menarik-narik bibir bawah Joshua, menggitinya perlahan, hingga Joshua mengerang.</p>

<p>“S-stop!” dibekapnya mulut Wonwoo dengan telapak tangan, berusaha mencari celah untuk mengambil napas dan mempersiapkan hati, tapi malah telapak tangannya diciumi lelaki itu. Napasnya tersentak. “Won, gue bilang stop!”</p>

<p>Wonwoo pura-pura nggak dengar, lalu menggamit pergelangan tangannya dan menjilat jari tengah Joshua dari pangkal hingga ujung.</p>

<p><em>Fuck.</em></p>

<p>“Buka mulut lo,” itu adalah <em>perintah</em>, if Joshua heard one. Dia agak merinding melihat tatapan Wonwoo, namun, <em>deep inside</em>, dia juga <em>excited</em>. Ibu jari Wonwoo mengusap bibir bawah Joshua lambat-lambat sebelum ibu jari itu masuk sedikit ke belahan bibirnya yang memerah. Refleks, Joshua membuka bibir lebih lebar. Lidah tanpa sadar menjilat permukaan ibu jari Wonwoo. Mukanya merona. Napasnya mulai berat.</p>

<p>Merasa mendapat angin, Wonwoo menciumnya kembali, tetapi kali ini nggak ada lagi kelembutan seperti sebelumnya. Yang ada hanyalah campuran dari segala emosi yang telah terpendam lama dan mendadak saja dikeluarkan bagai air dari bendungan yang dibuka. Campuran ketergesaan, kerinduan mendalam, pemuasan dahaga, dan cinta.</p>

<p>Begitu banyak cinta. Tak berdasar. Tak ada habisnya.</p>

<p>Bibir Joshua mungkin lecet setelah Wonwoo menciuminya seperti ini. Ia pun menghela napas saat lidah Wonwoo menyusup masuk.</p>

<p>Dia menggantungkan hatinya, tubuhnya, cintanya pada lelaki itu. Pada Wonwoo yang, akhirnya, bisa dia raih setelah penantian 13 tahun yang panjang.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/130</guid>
      <pubDate>Sat, 17 Oct 2020 14:34:37 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>123.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/123?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wonshua62&#xA;&#xA;Ada yang mengetuk pintunya.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Jari-jemari Joshua yang sedang mengetik curcolan semangat 45 pun mau nggak mau harus lepas dari layar handphonenya. Siapa tau itu tetangga, gitu, atau ada sesuatu yang penting. Setelah melempar handphone ke kursi, dengan malas-malasan dia menyeret kakinya ke pintu depan.&#xA;&#xA;&#34;Iya...?&#34; dibukanya pintu.&#xA;&#xA;&#34;Joshua.&#34;&#xA;&#xA;Deg.&#xA;&#xA;Begitu melihat siapa, refleksnyalah yang berteriak untuk menutup pintunya lagi. Namun gagal. Joshua kalah cepat, keburu Wonwoo merangsek masuk sekuat tenaga. Karena tidak menyangka akan didatangi langsung, Joshua pun limbung, terdorong paksa hingga pegangan tangannya pada pintu terlepas dan Wonwoo, memanfaatkan momen itu, langsung menyelinap masuk. Jantungnya mencelos saat bunyi kunci pintu diputar terdengar.&#xA;&#xA;Joshua terjebak. Di kamarnya.&#xA;&#xA;Sama Wonwoo.&#xA;&#xA;&#34;Joshua,&#34; Wonwoo menatap Joshua yang lagi berusaha keras mengalihkan pandangan. &#34;Kita perlu lurusin semua ini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Buat apa?&#34; dia melangkah mundur pas Wonwoo maju. &#34;Kan udah jelas? Kita cuma pacar boongan, Won. Lo jangan lupa status kita cuma boongan. Lo sayang Soonyoung. Gue juga...mau coba sayang sama Seok. Lo nggak boleh--&#34;&#xA;&#xA;Punggung Joshua membentur dinding. Dia meneguk ludah tanpa sadar ketika Wonwoo menaruh kepalan tangannya di atas kepala Joshua. &#39;Anjing lah, gue dikabedon macem protag shoujo aja...,&#39; batinnya.&#xA;&#xA;&#34;--nggak boleh egois, Won. Kita udah temenan ada kali 20 tahun. Lo harusnya bantu gue buat dapet jodoh!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo kan udah dapet,&#34; Wonwoo mengernyit. &#34;Di sini.&#34; Ia menunjuk dirinya sendiri.&#xA;&#xA;Bangsat. Masih aja.&#xA;&#xA;&#34;Nggak lucu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lucu kok. Kamu.&#34;&#xA;&#xA;Joshua ketawa kering. &#34;Iya deh, emang lucu. Lucu, ada temen yang mau-mau aja diakuin pacar demi kebahagiaan mantannya. So fucking loyal, right?&#34; dia mendecak. &#34;Apa sih yang nggak gue lakuin buat lo, Won? Lo butuh gue, gue ada. Entah itu ngerjain PR Biologi lo, ato ngebohong buat nolongin lo kabur dari nyokap lo biar lo bisa nginep di rumah Gyu.&#34;&#xA;&#xA;Jadi mau ketawa pakai hidung kalau Joshua inget itu semua. Benar-benar tolol, dirinya.&#xA;&#xA;&#34;Hani bilang, gue nggak jelek, otak gue lumayan, dan dia juga bilang gue nggak boleh nyia-nyiain idup gue kayak begini terus.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Begini gimana?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya...begini! Jadi convenient friend buat orang-orang,&#34; sengaja Joshua nggak menyebut nama secara spesifik. &#34;Hani nyuruh gue bahagia, Won. Dia pengen gue pada akhirnya bahagia. Gue...gue juga mau, Won, gue mau bahagia. Gue capek...&#34;&#xA;&#xA;Helaan napas. Berat.&#xA;&#xA;&#34;Capek banget... Gue pengen juga punya tempat gue bisa senderan, kayak lo punya Gyu dulu. Pengen punya satu orang spesial yang gue kejer mati-matian, kayak lo sama Soonyoung sekarang. Gue juga pengen punya itu semua. Nggak mau lagi gue cuma di pinggir layar, nontonin aja...&#34;&#xA;&#xA;Nggak mau lagi cuma bisa ngeliat pas lo diambil orang lain...&#xA;&#xA;Joshua sama sekali nggak sadar kalau air matanya jatuh di pipi sampai Wonwoo mengusap air mata itu dengan ibu jarinya. Dari sana, perlahan, ibu jari Wonwoo turun, terus turun hingga ke bawah dagu. Digamitnya perlahan, lalu diangkatnya wajah lelaki itu sampai Joshua, mau nggak mau, akhirnya menatap Wonwoo.&#xA;&#xA;&#34;Tapi lo punya itu semua. Di sini. Di depan lo,&#34; nada Wonwoo lembut sekali, seperti pandangan matanya pada Joshua. &#34;Kalo lo mau nyender, gue ada di sini. Kalo lo mau satu orang spesial, gue udah ngejer lo nggak tau berapa tahun, gue udah lost count. Kalo lo jatoh, gue siap nangkep lo kapanpun.&#34;&#xA;&#xA;Bola mata Joshua melebar.&#xA;&#xA;&#34;Joshua, lo pacar gue. Udah berapa kali gue bilang gitu ke elo?&#34;&#xA;&#xA;&#34;K-kan pacar bohongan-&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue ga peduli! Bohongan pun--&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo menariknya ke dalam pelukan. Tiba-tiba.&#xA;&#xA;Erat.&#xA;&#xA;&#34;...bohongan pun nggak apa. Yang penting akhirnya gue punya elo, Josh...&#34;&#xA;&#xA;Napas Joshua tercekat.&#xA;&#xA;&#34;Gue tau gue egois. Gue tau gue udah manfaatin semua orang selama ini. Gue pura-pura naksir Soonyoung biar lo cemburu, tapi udah setahun lo sama sekali nggak ada respon. Jujur, gue juga...udah mau nyerah. Akhirnya pas Gyu sama Hao berantem, gue...gue ngeliat itu sebagai kesempatan dan...dan sukses. Lo jadi pacar gue. Lo jadi pacar gue, Josh. Akhirnya.&#34;&#xA;&#xA;Dielusnya bagian belakang kepala Joshua di dalam pelukan.&#xA;&#xA;&#34;Gue tau gue jahat. Gue tau ini salah. Tapi gue udah nggak tau lagi harus gimana biar lo jadi milik gue, Josh...gue udah nggak tau lagi...&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo juga menangis. Refleks, Joshua memeluk Wonwoo balik. Di pelukannya, Wonwoo bagai rapuh. Telanjang, hatinya, di depan Joshua. Didorongnya Wonwoo sampai pelukan mereka terlepas agar Joshua bisa menangkup sebelah pipinya. Pipi mereka sama-sama merah dan basah oleh tangis.&#xA;&#xA;&#34;Bego. Lo tuh bego nggak ketolongan, Jeon Wonwoo. Bego sedunia. Dasar bego.&#34;&#xA;&#xA;&#34;...,&#34; Wonwoo diam saja, nggak tau harus bilang apa selain mengiyakan dalam hati.&#xA;&#xA;&#34;Pake cara normal kan bisa. Lo tinggal pelok gue kayak gini dan bilang &#39;gue suka sama lo&#39; gitu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi kalo lo tetau nggak nerima cinta gue, gimana?&#34; tatapnya memelas.&#xA;&#xA;&#34;Yakali, Won,&#34; Joshua ketawa kecil. Diusapnya pipi Wonwoo.&#xA;&#xA;&#34;Bego banget sih pacar gue...&#34;&#xA;&#xA;Joshua berbisik ke bibir Wonwoo.&#xA;&#xA;&#34;...untung gue sayang.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshua62" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">wonshua62</span></a></p>

<p>Ada yang mengetuk pintunya.</p>



<p>Jari-jemari Joshua yang sedang mengetik curcolan semangat 45 pun mau nggak mau harus lepas dari layar handphonenya. Siapa tau itu tetangga, gitu, atau ada sesuatu yang penting. Setelah melempar handphone ke kursi, dengan malas-malasan dia menyeret kakinya ke pintu depan.</p>

<p>“Iya...?” dibukanya pintu.</p>

<p>“Joshua.”</p>

<p><em>Deg.</em></p>

<p>Begitu melihat siapa, refleksnyalah yang berteriak untuk menutup pintunya lagi. Namun gagal. Joshua kalah cepat, keburu Wonwoo merangsek masuk sekuat tenaga. Karena tidak menyangka akan didatangi langsung, Joshua pun limbung, terdorong paksa hingga pegangan tangannya pada pintu terlepas dan Wonwoo, memanfaatkan momen itu, langsung menyelinap masuk. Jantungnya mencelos saat bunyi kunci pintu diputar terdengar.</p>

<p>Joshua terjebak. Di kamarnya.</p>

<p><em>Sama Wonwoo.</em></p>

<p>“Joshua,” Wonwoo menatap Joshua yang lagi berusaha keras mengalihkan pandangan. “Kita perlu lurusin semua ini.”</p>

<p>“Buat apa?” dia melangkah mundur pas Wonwoo maju. “Kan udah jelas? Kita cuma pacar boongan, Won. Lo jangan lupa status kita cuma boongan. Lo sayang Soonyoung. Gue juga...mau coba sayang sama Seok. Lo nggak boleh—”</p>

<p>Punggung Joshua membentur dinding. Dia meneguk ludah tanpa sadar ketika Wonwoo menaruh kepalan tangannya di atas kepala Joshua. <em>&#39;Anjing lah, gue dikabedon macem protag shoujo aja...,&#39;</em> batinnya.</p>

<p>”—nggak boleh egois, Won. Kita udah temenan ada kali 20 tahun. Lo harusnya bantu gue buat dapet jodoh!”</p>

<p>“Lo kan udah dapet,” Wonwoo mengernyit. “Di sini.” Ia menunjuk dirinya sendiri.</p>

<p><em>Bangsat. Masih aja.</em></p>

<p>“Nggak lucu.”</p>

<p>“Lucu kok. Kamu.”</p>

<p>Joshua ketawa kering. “Iya deh, emang lucu. Lucu, ada temen yang mau-mau aja diakuin pacar demi kebahagiaan mantannya. <em>So fucking loyal, right?</em>” dia mendecak. “Apa sih yang nggak gue lakuin buat lo, Won? Lo butuh gue, gue ada. Entah itu ngerjain PR Biologi lo, ato ngebohong buat nolongin lo kabur dari nyokap lo biar lo bisa nginep di rumah Gyu.”</p>

<p>Jadi mau ketawa pakai hidung kalau Joshua inget itu semua. Benar-benar <em>tolol</em>, dirinya.</p>

<p>“Hani bilang, gue nggak jelek, otak gue lumayan, dan dia juga bilang gue nggak boleh nyia-nyiain idup gue kayak begini terus.”</p>

<p>“Begini gimana?”</p>

<p>“Ya...<em>begini</em>! Jadi convenient friend buat orang-orang,” sengaja Joshua nggak menyebut nama secara spesifik. “Hani nyuruh gue bahagia, Won. Dia pengen gue pada akhirnya bahagia. Gue...gue juga mau, Won, gue mau bahagia. Gue capek...”</p>

<p>Helaan napas. Berat.</p>

<p>“Capek banget... Gue pengen juga punya tempat gue bisa senderan, kayak lo punya Gyu dulu. Pengen punya satu orang spesial yang gue kejer mati-matian, kayak lo sama Soonyoung sekarang. Gue juga pengen punya itu semua. Nggak mau lagi gue cuma di pinggir layar, nontonin aja...”</p>

<p><em>Nggak mau lagi cuma bisa ngeliat pas lo diambil orang lain...</em></p>

<p>Joshua sama sekali nggak sadar kalau air matanya jatuh di pipi sampai Wonwoo mengusap air mata itu dengan ibu jarinya. Dari sana, perlahan, ibu jari Wonwoo turun, terus turun hingga ke bawah dagu. Digamitnya perlahan, lalu diangkatnya wajah lelaki itu sampai Joshua, mau nggak mau, akhirnya menatap Wonwoo.</p>

<p>“Tapi lo punya itu semua. Di sini. Di depan lo,” nada Wonwoo lembut sekali, seperti pandangan matanya pada Joshua. “Kalo lo mau nyender, gue ada di sini. Kalo lo mau satu orang spesial, gue udah ngejer lo nggak tau berapa tahun, gue udah lost count. Kalo lo jatoh, gue siap nangkep lo kapanpun.”</p>

<p>Bola mata Joshua melebar.</p>

<p>“Joshua, lo pacar gue. Udah berapa kali gue bilang gitu ke elo?”</p>

<p>“K-kan pacar bohongan-”</p>

<p>“<em>Gue ga peduli!</em> Bohongan pun—”</p>

<p>Wonwoo menariknya ke dalam pelukan. Tiba-tiba.</p>

<p><em>Erat.</em></p>

<p>”...bohongan pun nggak apa. Yang penting akhirnya gue punya elo, Josh...”</p>

<p>Napas Joshua tercekat.</p>

<p>“Gue tau gue egois. Gue tau gue udah manfaatin semua orang selama ini. Gue pura-pura naksir Soonyoung biar lo cemburu, tapi udah setahun lo sama sekali nggak ada respon. Jujur, gue juga...udah mau nyerah. Akhirnya pas Gyu sama Hao berantem, gue...gue ngeliat itu sebagai kesempatan dan...dan sukses. Lo jadi pacar gue. Lo jadi pacar gue, Josh. <em>Akhirnya</em>.”</p>

<p>Dielusnya bagian belakang kepala Joshua di dalam pelukan.</p>

<p>“Gue tau gue jahat. Gue tau ini salah. Tapi gue udah nggak tau lagi harus gimana biar lo jadi milik gue, Josh...gue udah nggak tau lagi...”</p>

<p>Wonwoo juga menangis. Refleks, Joshua memeluk Wonwoo balik. Di pelukannya, Wonwoo bagai rapuh. Telanjang, hatinya, di depan Joshua. Didorongnya Wonwoo sampai pelukan mereka terlepas agar Joshua bisa menangkup sebelah pipinya. Pipi mereka sama-sama merah dan basah oleh tangis.</p>

<p>“<em>Bego.</em> Lo tuh bego nggak ketolongan, Jeon Wonwoo. Bego sedunia. Dasar bego.”</p>

<p>”...,” Wonwoo diam saja, nggak tau harus bilang apa selain mengiyakan dalam hati.</p>

<p>“Pake cara normal kan bisa. Lo tinggal pelok gue kayak gini dan bilang <em>&#39;gue suka sama lo&#39;</em> gitu.”</p>

<p>“Tapi kalo lo tetau nggak nerima cinta gue, gimana?” tatapnya memelas.</p>

<p>“Yakali, Won,” Joshua ketawa kecil. Diusapnya pipi Wonwoo.</p>

<p>“Bego banget sih pacar gue...”</p>

<p>Joshua berbisik ke bibir Wonwoo.</p>

<p>”...<em>untung gue sayang.</em>“</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/123</guid>
      <pubDate>Sat, 17 Oct 2020 13:01:55 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>86.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/86?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[wonshua62&#xA;&#xA;&#34;Gila, gue kenyang banget...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalo nggak kenyang mah lo lebih gila, lo makan porsi buat berdua, Njing.&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Sambil terkekeh, Wonwoo sekalian membenahi piring dan gelas bekas mereka makan malam. Namanya dia yang lagi numpang, ya dia tau diri lah.&#xA;&#xA;&#34;Eh, taro situ aja kali Won.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak, gue aja yang nyuci piring. Lo mandi gih sana.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Udah kok. Lo seriusan mau nginep di sini?&#34; Joshua menelengkan kepala.&#xA;&#xA;&#34;Nggak boleh ya...?&#34; Wonwoo menatapnya dengan mata lebar berkaca-kaca, mirip anak anjing abis ketendang. Joshua jadi nggak tega.&#xA;&#xA;&#34;Ya...boleh deh, tapi lo mandi dulu sana ya, gue ogah kasur gue kotor.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo memutar bola mata. Dia udah tau sih kalo Joshua itu sedikit neat freak, dan udah biasa juga kalau ke kamar atau, sekarang, kostan-nya, Joshua pasti nyuruh dia cuci kaki, cuci tangan, atau mandi tiap dia menginap sebelum naik ke atas kasur, tapi tetep aja Wonwoo ber-hadeeeh.&#xA;&#xA;&#34;Eh, eh, nggak boleh protes,&#34; diacungkannya jari telunjuk sebagai peringatan.&#xA;&#xA;&#34;Nggak kok, bagindaakuu, sayangku, pacarkuu\~&#34; rengeknya, sambil menyeka piring terakhir.&#xA;&#xA;&#34;Najis lu. Nih handuk,&#34; Joshua lempar benda itu begitu aja sampai menutupi kepala Wonwoo. &#34;Gue ngantuk. Gue tidur duluan.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo pun mandi. Nggak lama, dia udah keluar lagi. Di dalam tadi, dia pakai sabun dan shampoo punya Joshua. Sikat gigi di wastafel pun ada dua, masing-masing ditaruh dengan rapi di sebuah gelas bening yang pendek. Handuk yang dia pakai buat menyeka rambut warnanya ungu, warna kesukaan Wonwoo (dan emang handuknya punya dia, sengaja disimpan di kostan Joshua).&#xA;&#xA;Semua terasa terlalu familiar.&#xA;&#xA;Terlalu...rumah.&#xA;&#xA;Nyaman.&#xA;&#xA;Pas Wonwoo keluar, kamar Joshua udah gelap. Joshua tidur dengan punggung membelakangi kamar mandi. Dia menyeka rambutnya sampai benar-benar kering, lalu handuknya dia gantungkan dengan rapi di rak atas toilet. Dipakainya kaus gombrong putih sama track pants hitam, baju favorit Wonwoo buat leha-leha. Merasa udah oke, dia akhirnya naik ke atas kasur di samping Joshua.&#xA;&#xA;&#34;Mmm...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sori, ssst, tidur lagi aja Josh,&#34; bisiknya pelan, takut membangunkan. Mood Joshua bisa anjlok seharian kalau bangun dipaksa kayak begitu.&#xA;&#xA;Untungnya, Joshua cuma mengernyit, mumbling, ngulet sedikit, lalu tidur lagi.  Nguletnya gemes deh. Dia putar badan menghadap Wonwoo sambil lengan diangkat sedikit, terus melungker begitu aja.&#xA;&#xA;Imut ih. Wonwoo mau nggak mau jadi ketawa pelan. Diusapnya poni Joshua.&#xA;&#xA;&#34;Tidur yang nyenyak, Josh..&#34;&#xA;&#xA;Usapan tersebut pindah ke antara dua alis Joshua, berusaha menghilangkan kerut yang nampak di sana dengan sentuhan menenangkan. Dia berhasil. Napas Joshua pun jadi lebih rileks, santai. Wonwoo tersenyum makin lebar.&#xA;&#xA;Dibukanya mulut untuk berbisik,&#xA;&#xA;&#34;...Sayang.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:wonshua62" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">wonshua62</span></a></p>

<p>“Gila, gue kenyang banget...”</p>

<p>“Kalo nggak kenyang mah lo lebih gila, lo makan porsi buat berdua, Njing.”</p>



<p>Sambil terkekeh, Wonwoo sekalian membenahi piring dan gelas bekas mereka makan malam. Namanya dia yang lagi numpang, ya dia tau diri lah.</p>

<p>“Eh, taro situ aja kali Won.”</p>

<p>“Nggak, gue aja yang nyuci piring. Lo mandi gih sana.”</p>

<p>“Udah kok. Lo seriusan mau nginep di sini?” Joshua menelengkan kepala.</p>

<p>“Nggak boleh ya...?” Wonwoo menatapnya dengan mata lebar berkaca-kaca, mirip anak anjing abis ketendang. Joshua jadi nggak tega.</p>

<p>“Ya...boleh deh, tapi lo mandi dulu sana ya, gue ogah kasur gue kotor.”</p>

<p>Wonwoo memutar bola mata. Dia udah tau sih kalo Joshua itu sedikit <em>neat freak</em>, dan udah biasa juga kalau ke kamar atau, sekarang, kostan-nya, Joshua pasti nyuruh dia cuci kaki, cuci tangan, atau mandi tiap dia menginap sebelum naik ke atas kasur, tapi tetep aja Wonwoo ber-<em>hadeeeh</em>.</p>

<p>“Eh, eh, nggak boleh protes,” diacungkannya jari telunjuk sebagai peringatan.</p>

<p>“Nggak kok, bagindaakuu, sayangku, pacarkuu~” rengeknya, sambil menyeka piring terakhir.</p>

<p>“Najis lu. Nih handuk,” Joshua lempar benda itu begitu aja sampai menutupi kepala Wonwoo. “Gue ngantuk. Gue tidur duluan.”</p>

<p>Wonwoo pun mandi. Nggak lama, dia udah keluar lagi. Di dalam tadi, dia pakai sabun dan shampoo punya Joshua. Sikat gigi di wastafel pun ada dua, masing-masing ditaruh dengan rapi di sebuah gelas bening yang pendek. Handuk yang dia pakai buat menyeka rambut warnanya ungu, warna kesukaan Wonwoo (dan emang handuknya punya dia, sengaja disimpan di kostan Joshua).</p>

<p>Semua terasa terlalu familiar.</p>

<p>Terlalu...<em>rumah</em>.</p>

<p>Nyaman.</p>

<p>Pas Wonwoo keluar, kamar Joshua udah gelap. Joshua tidur dengan punggung membelakangi kamar mandi. Dia menyeka rambutnya sampai benar-benar kering, lalu handuknya dia gantungkan dengan rapi di rak atas toilet. Dipakainya kaus gombrong putih sama track pants hitam, baju favorit Wonwoo buat leha-leha. Merasa udah oke, dia akhirnya naik ke atas kasur di samping Joshua.</p>

<p>“Mmm...”</p>

<p>“Sori, <em>ssst</em>, tidur lagi aja Josh,” bisiknya pelan, takut membangunkan. Mood Joshua bisa anjlok seharian kalau bangun dipaksa kayak begitu.</p>

<p>Untungnya, Joshua cuma mengernyit, <em>mumbling</em>, ngulet sedikit, lalu tidur lagi.  Nguletnya gemes deh. Dia putar badan menghadap Wonwoo sambil lengan diangkat sedikit, terus melungker begitu aja.</p>

<p>Imut ih. Wonwoo mau nggak mau jadi ketawa pelan. Diusapnya poni Joshua.</p>

<p>“Tidur yang nyenyak, Josh..”</p>

<p>Usapan tersebut pindah ke antara dua alis Joshua, berusaha menghilangkan kerut yang nampak di sana dengan sentuhan menenangkan. Dia berhasil. Napas Joshua pun jadi lebih rileks, santai. Wonwoo tersenyum makin lebar.</p>

<p>Dibukanya mulut untuk berbisik,</p>

<p>”...<em>Sayang</em>.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/86</guid>
      <pubDate>Wed, 14 Oct 2020 13:51:44 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>