<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>woncheolshort &amp;mdash; 🌾</title>
    <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:woncheolshort</link>
    <description>narrative writings of thesunmetmoon</description>
    <pubDate>Tue, 02 Jun 2026 07:12:11 +0000</pubDate>
    <image>
      <url>https://i.snap.as/K7JGOEOo.png</url>
      <title>woncheolshort &amp;mdash; 🌾</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:woncheolshort</link>
    </image>
    <item>
      <title>Last Part</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/last-part-q57h?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[woncheolshort&#xA;&#xA;Kali ini, pintu membuka hampir tanpa suara. Malam telah turun berjam-jam sebelumnya, namun bagi idol macam mereka, siang dan malam tidak memiliki parameter tertentu. Anak sekolah mungkin akan mengantuk di jam 12 malam, karena besok pagi mereka harus bangun dan bersekolah lagi, sedangkan mereka melihat jam di dinding menunjukkan pukul 12 malam dan yang mereka lakukan adalah mengambil handuk serta botol air, lalu turun ke gym di bawah, bahkan ketika mereka ada jadwal esok paginya.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Maka, ketika Wonwoo akhirnya membuka pintu kamar itu, dia tidak terkejut melihat Seungcheol sedang bermain handphone dalam keremangan lampu tidur. Leader mereka itu biasa membombardir komen fans mereka di aplikasi di jam segini. Seungcheol hanya mengerling sekali untuk melihat siapa yang datang, sebelum lanjut menyelesaikan ketikannya. Wonwoo berbalik, menutup pintu kamar tersebut dengan tenang, lalu berjalan mendekati Seungcheol di ranjang.&#xA;&#xA;Poff.&#xA;&#xA;&#34;Ugh--&#34;&#xA;&#xA;Berat. Wonwoo baru saja menghempaskan seluruh beban dari tubuh 182cm miliknya ke atas tubuh Seungcheol yang terbalut selimut. Lelaki itu menempel selekat bintang laut, memeluk Seungcheol sebisa mungkin. Meski mendecak kesal, Seungcheol berhasil menyelesaikan ketikannya, menekan tombol POST, lalu menaruh handphonenya ke nakas samping tempat tidur yang ditaruh untuk mengisi ruang kosong setelah dua komputer dan kursi gaming dikeluarkan. Di atas nakas itu, nampak botol air putih, cincin simbol grup mereka, dan sebuah buku.&#xA;&#xA;Seungcheol mengubah posisi sedikit agar lebih nyaman ditiban Wonwoo, sementara mata lelaki itu menyipit melihat keberadaan buku di kamar Seungcheol. &#34;Lo baca buku?&#34; tanyanya, penasaran.&#xA;&#xA;&#34;Gue bisa baca, kali.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maksud gue bukan gitu.&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol menghela napas. &#34;Iya, tau,&#34; gumamnya. Ujung hidung Wonwoo menusuk kulit lehernya. Rambutnya, gabungan pirang pudar dan hitam, lembut terasa di pipi Seungcheol. Lelaki itu melingkarkan lengan di bahu Wonwoo, sementara Wonwoo mengalungi, sebisa mungkin, pinggang Seungcheol. &#34;Nyoba baca. Rekomendasi Vernon.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh?&#34; itu membangkitkan keingintahuan yang merupakan sifat dasar Jeon Wonwoo. &#34;Pasti bukunya Vernon banget.&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol meringis. &#34;Yah, well, bisa dibilang gitu,&#34; dia membenarkan. &#34;Simpel, nggak ribet. Tapi ngena banget. I need that...for now...&#34;&#xA;&#xA;Kesunyian kembali jatuh ke kamar itu. Di luar, suara tapak kaki dan obrolan teredam masih terdengar. Ada yang sudah tertidur pulas. Ada yang melangkah ke kamar mandi. Mereka mendengar suara seseorang makan sambil menonton di ruang tengah. Dunia mereka. Dunia yang mereka bagi bertiga belas sejak awal.&#xA;&#xA;Sementara, di kamar ini, adalah dunia Seungcheol dan Wonwoo semata. Suara detak jantung yang monoton. Hangat memancar menembus pakaian rumah mereka. Hembusan napas tenang nan teratur.&#xA;&#xA;Wonwoo lupa, kapan terakhir kali dia mengalami semua ini. Lupa, kapan terakhir kali dirinya dan Seungcheol sedekat ini.&#xA;&#xA;&#34;Mingyu bilang, gue punya kepala yang bagus di atas leher gue,&#34; gumamnya, merusak keheningan. &#34;Tapi gue nggak merasa gitu. Gue ngerasa bego banget karena gue nggak ngerti. Nggak paham.&#xA;&#xA;Sori. Gue cuma bisa, uh, mikir untuk lakuin ini buat ngehibur lo...&#34;&#xA;&#xA;Dieratkannya pelukan pada pinggang Seungcheol, yang membuat hati Seungcheol meleleh. He missed this. So bad.&#xA;&#xA;&#34;Gue kangen sama kita,&#34; akunya.&#xA;&#xA;Wonwoo menggumamkan persetujuan.&#xA;&#xA;&#34;Gue mau kita balik lagi, kayak dulu. Gue mau kita kayak...kayak gini lagi. Nggak harus sering-sering kayak pas masih sekamar, tapi at least--&#34;&#xA;&#xA;Diambilnya napas.&#xA;&#xA;&#34;--gue mau kita.&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol menghembuskan napas dalam-dalam. &#34;Sori...gue nggak bisa jelasin yang bener. Kayaknya, kalo sama lo, omongan gue keluarnya salah melulu, haha...&#34;&#xA;&#xA;Namun, Wonwoo paham. Dia juga mau ini. Dia juga kangen ini. Sebuah tempat nyaman yang dia pernah miliki bersama sosok yang berharga dalam pelukannya ini.&#xA;&#xA;Mereka bukan sepasang kekasih. Bukan pula merasakan cinta antara kedua insan dimabuk romansa.&#xA;&#xA;Bukan.&#xA;&#xA;Cinta yang mereka miliki, yang ketiga belas mereka miliki, lebih dalam daripada itu. Dan, kini, Seungcheol dan Wonwoo sedikit kehilangan satu sama lain, tetapi mereka sama-sama tidak ingin kehilangan perasaan itu lagi. Cinta mereka bertiga belas istimewa. Hubungan yang tidak akan pernah bisa dimengerti siapapun selain mereka.&#xA;&#xA;Wonwoo mengangkat kepala, menemukan Seungcheol sudah memandanginya. Perlahan, senyum mereka merebak, lega dan damai. Saling memahami, bahwa mereka ingin kembali, tidak sepenuhnya, tapi sedikit seperti dulu lagi, ketika mereka sangat akrab sebagai teman sekamar dan sesama gamer.&#xA;&#xA;Wonwoo berakhir terlelap bersama Seungcheol malam itu, meski ranjang itu cukup sempit untuk dihuni dua lelaki dewasa. Dan, paginya, ketika Jeonghan masuk untuk membangunkan Seungcheol karena tuntutan jadwal, dia memutuskan untuk menutup lagi kamar itu, membuat Jun, yang melintas sambil menggosok gigi, bertanya-tanya.&#xA;&#xA;Jeonghan, meringis, menjawab, &#34;Nggak apa. Masih ada waktu. Ntar gue bangunin lagi. Cheollie lagi isi batere dulu.&#34;&#xA;&#xA;Tentu saja, Jun cuma mengernyitkan alis, tidak paham apa maksud lelaki itu.&#xA;&#xA;(Jun paham, tidak lama kemudian, ketika lima belas menit setelahnya, Seungkwan memaksa masuk dan membangunkan Seungcheol dan juga Wonwoo, menyuruh mereka dalam suara lantang supaya segera bersiap-siap. Jun hanya ber-&#34;aaah...&#34; sambil mengangguk-angguk. Baguslah. Lebih baik memperbaiki sesuatu yang mulai rusak sebelum terlambat, bukan?)]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:woncheolshort" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">woncheolshort</span></a></p>

<p>Kali ini, pintu membuka hampir tanpa suara. Malam telah turun berjam-jam sebelumnya, namun bagi idol macam mereka, siang dan malam tidak memiliki parameter tertentu. Anak sekolah mungkin akan mengantuk di jam 12 malam, karena besok pagi mereka harus bangun dan bersekolah lagi, sedangkan mereka melihat jam di dinding menunjukkan pukul 12 malam dan yang mereka lakukan adalah mengambil handuk serta botol air, lalu turun ke gym di bawah, bahkan ketika mereka ada jadwal esok paginya.</p>



<p>Maka, ketika Wonwoo akhirnya membuka pintu kamar itu, dia tidak terkejut melihat Seungcheol sedang bermain handphone dalam keremangan lampu tidur. Leader mereka itu biasa membombardir komen fans mereka di aplikasi di jam segini. Seungcheol hanya mengerling sekali untuk melihat siapa yang datang, sebelum lanjut menyelesaikan ketikannya. Wonwoo berbalik, menutup pintu kamar tersebut dengan tenang, lalu berjalan mendekati Seungcheol di ranjang.</p>

<p><em>Poff.</em></p>

<p>“Ugh—”</p>

<p><em>Berat.</em> Wonwoo baru saja menghempaskan seluruh beban dari tubuh 182cm miliknya ke atas tubuh Seungcheol yang terbalut selimut. Lelaki itu menempel selekat bintang laut, memeluk Seungcheol sebisa mungkin. Meski mendecak kesal, Seungcheol berhasil menyelesaikan ketikannya, menekan tombol POST, lalu menaruh handphonenya ke nakas samping tempat tidur yang ditaruh untuk mengisi ruang kosong setelah dua komputer dan kursi gaming dikeluarkan. Di atas nakas itu, nampak botol air putih, cincin simbol grup mereka, dan sebuah buku.</p>

<p>Seungcheol mengubah posisi sedikit agar lebih nyaman ditiban Wonwoo, sementara mata lelaki itu menyipit melihat keberadaan buku di kamar Seungcheol. “Lo baca buku?” tanyanya, penasaran.</p>

<p>“Gue bisa baca, kali.”</p>

<p>“Maksud gue bukan gitu.”</p>

<p>Seungcheol menghela napas. “Iya, tau,” gumamnya. Ujung hidung Wonwoo menusuk kulit lehernya. Rambutnya, gabungan pirang pudar dan hitam, lembut terasa di pipi Seungcheol. Lelaki itu melingkarkan lengan di bahu Wonwoo, sementara Wonwoo mengalungi, sebisa mungkin, pinggang Seungcheol. “Nyoba baca. Rekomendasi Vernon.”</p>

<p>“Oh?” itu membangkitkan keingintahuan yang merupakan sifat dasar Jeon Wonwoo. “Pasti bukunya Vernon banget.”</p>

<p>Seungcheol meringis. “Yah, well, bisa dibilang gitu,” dia membenarkan. “Simpel, nggak ribet. Tapi ngena banget. I need that...for now...”</p>

<p>Kesunyian kembali jatuh ke kamar itu. Di luar, suara tapak kaki dan obrolan teredam masih terdengar. Ada yang sudah tertidur pulas. Ada yang melangkah ke kamar mandi. Mereka mendengar suara seseorang makan sambil menonton di ruang tengah. Dunia mereka. Dunia yang mereka bagi bertiga belas sejak awal.</p>

<p>Sementara, di kamar ini, adalah dunia Seungcheol dan Wonwoo semata. Suara detak jantung yang monoton. Hangat memancar menembus pakaian rumah mereka. Hembusan napas tenang nan teratur.</p>

<p>Wonwoo lupa, kapan terakhir kali dia mengalami semua ini. Lupa, kapan terakhir kali dirinya dan Seungcheol sedekat ini.</p>

<p>“Mingyu bilang, gue punya kepala yang bagus di atas leher gue,” gumamnya, merusak keheningan. “Tapi gue nggak merasa gitu. Gue ngerasa bego banget karena gue nggak ngerti. Nggak paham.</p>

<p>Sori. Gue cuma bisa, uh, mikir untuk lakuin ini buat ngehibur lo...”</p>

<p>Dieratkannya pelukan pada pinggang Seungcheol, yang membuat hati Seungcheol meleleh. <em>He missed this. So bad.</em></p>

<p>“Gue kangen sama <em>kita</em>,” akunya.</p>

<p>Wonwoo menggumamkan persetujuan.</p>

<p>“Gue mau <em>kita</em> balik lagi, kayak dulu. Gue mau <em>kita</em> kayak...kayak gini lagi. Nggak harus sering-sering kayak pas masih sekamar, tapi at least—”</p>

<p>Diambilnya napas.</p>

<p>”—gue mau <em>kita</em>.”</p>

<p>Seungcheol menghembuskan napas dalam-dalam. “Sori...gue nggak bisa jelasin yang bener. Kayaknya, kalo sama lo, omongan gue keluarnya salah melulu, haha...”</p>

<p>Namun, Wonwoo paham. Dia juga <em>mau</em> ini. Dia juga <em>kangen</em> ini. Sebuah tempat nyaman yang dia pernah miliki bersama sosok yang berharga dalam pelukannya ini.</p>

<p>Mereka bukan sepasang kekasih. Bukan pula merasakan cinta antara kedua insan dimabuk romansa.</p>

<p>Bukan.</p>

<p>Cinta yang mereka miliki, yang ketiga belas mereka miliki, lebih dalam daripada itu. Dan, kini, Seungcheol dan Wonwoo sedikit kehilangan satu sama lain, tetapi mereka sama-sama tidak ingin kehilangan perasaan itu lagi. Cinta mereka bertiga belas istimewa. Hubungan yang tidak akan pernah bisa dimengerti siapapun selain mereka.</p>

<p>Wonwoo mengangkat kepala, menemukan Seungcheol sudah memandanginya. Perlahan, senyum mereka merebak, lega dan damai. Saling memahami, bahwa mereka ingin kembali, tidak sepenuhnya, tapi <em>sedikit</em> seperti dulu lagi, ketika mereka sangat akrab sebagai teman sekamar dan sesama gamer.</p>

<p>Wonwoo berakhir terlelap bersama Seungcheol malam itu, meski ranjang itu cukup sempit untuk dihuni dua lelaki dewasa. Dan, paginya, ketika Jeonghan masuk untuk membangunkan Seungcheol karena tuntutan jadwal, dia memutuskan untuk menutup lagi kamar itu, membuat Jun, yang melintas sambil menggosok gigi, bertanya-tanya.</p>

<p>Jeonghan, meringis, menjawab, “Nggak apa. Masih ada waktu. Ntar gue bangunin lagi. Cheollie lagi <em>isi batere</em> dulu.”</p>

<p>Tentu saja, Jun cuma mengernyitkan alis, tidak paham apa maksud lelaki itu.</p>

<p>(Jun paham, tidak lama kemudian, ketika lima belas menit setelahnya, Seungkwan memaksa masuk dan membangunkan Seungcheol dan juga Wonwoo, menyuruh mereka dalam suara lantang supaya segera bersiap-siap. Jun hanya ber-“aaah...” sambil mengangguk-angguk. Baguslah. Lebih baik memperbaiki sesuatu yang mulai rusak sebelum terlambat, bukan?)</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/last-part-q57h</guid>
      <pubDate>Sun, 23 May 2021 15:02:14 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Part 3</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-3-65zv?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[woncheolshort&#xA;&#xA;&#34;Jeonghan-ah!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Apaaaa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sini, buru! Inside nih!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sendiri aja laaah, gue lagi sibuk.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sinii, ih, temeninn!&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Wonu-hyung.&#34;&#xA;&#xA;Dia menoleh. Mingyu menatapnya, setengah bertanya, setengah terpana. Wonwoo tahu maksud tatapan itu apa. &#34;Hmm?&#34; namun, ia mengindahkannya.&#xA;&#xA;&#34;Ngeliatin aja,&#34; ujung bibirnya tertarik, seperti sumringah setengah jadi. Wonwoo biasanya menaruh tangannya ke muka Mingyu dan mendorong kepala lelaki itu menjauh, secara harfiah menghapus ekspresi menyebalkan khas Kim Mingyu dari sana. Tapi tidak kali ini. Ia terlalu malas. &#34;Tuh bolpen lo bocor.&#34;&#xA;&#xA;Seketika itu juga, Wonwoo menunduk. &#34;Oh,&#34; rembesan tinta melebar di kertas, membenamkan kata-kata yang sudah ditulisnya dengan susah payah, lirik lagunya bersama Mingyu. &#34;Shit.&#34; Buru-buru, Wonwoo mengecek bolpen tersebut, memutuskan untuk membuangnya dan meraih bolpen baru. Ia menulis ulang kata-kata yang hilang sebelum terlupakan dari ingatan. Mingyu, memperhatikan itu semua, hanya meringis sambil menumpangkan dagu di sebelah tangan, sadar sepenuhnya bahwa ia membuat jengah lelaki yang lebih tua tersebut.&#xA;&#xA;Suara ujung bolpen menggores kertas memenuhi jeda di antara mereka untuk beberapa saat.&#xA;&#xA;&#34;...Mingyu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya, hyung?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ada yang mau lo omongin ke gue?&#34;&#xA;&#xA;Senyumnya melebar, kemudian dia menggeleng. Di mata Wonwoo, jelas sekali kalau lelaki itu sengaja. Sengaja tidak menjawab. Sengaja mengulur waktu. Sengaja mengundang Wonwoo untuk menceritakannya dari mulutnya sendiri. Terkadang, Wonwoo benci bagaimana Mingyu mengenal dirinya sebaik ini. Dia benci bagaimana hampir semua member mengenal kepribadian satu sama lain dan, lebih sering daripada tidak, menggunakannya untuk bahan bercandaan atau kepentingan mereka. Bukan dalam konteks yang merugikan atau menekan, tentu, tapi yang namanya saudara terus terang selalu merupakan sumber sakit kepala.&#xA;&#xA;Kali ini, Wonwoo pun, akhirnya, menyerah juga akan tatapan Mingyu.&#xA;&#xA;&#34;Dia ngambek.&#34;&#xA;&#xA;Ringisan tercetak di wajah lelaki yang lebih muda. &#34;Dah gue duga,&#34; ujarnya. &#34;Kenapa lagi sekarang?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jarang gaming bareng lagi,&#34; Wonwoo menyelesaikan goresan tintanya.&#xA;&#xA;&#34;Lo sibuk kan?&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo bergumam membenarkan, &#34;Dia tau kok. Sadar juga. Plus, gue juga mulai bosen maen game sejenis.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu kemudian merebahkan kepala ke meja. Ujung rambutnya mengenai lengan Wonwoo, menggelitik kulitnya. Wonwoo membiarkannya.&#xA;&#xA;&#34;Pantes dia nempel Jeonghan-hyung mulu.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo menoleh sedikit.&#xA;&#xA;&#34;Bukannya mereka emang dari dulu gitu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dia sama ama gue, hyung. Butuh skinship. Butuh pelokan,&#34; Mingyu mengangkat kepalanya. &#34;Gue sih nggak kurang asupan. Ada lo, ada Hao, ada Seok, ada Kwan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dia juga nggak kurang asupan,&#34; rujuknya, ke lengan yang mengalungi bahu Jeonghan di depan kamera Inside Seventeen.&#xA;&#xA;&#34;Tapi bukan dari lo.&#34;&#xA;&#xA;Jeon Wonwoo mengernyit menatap Mingyu.&#xA;&#xA;&#34;Maksud lo?&#34; tanyanya tenang.&#xA;&#xA;&#34;Lo punya kepala yang bagus di atas leher kan,&#34; Mingyu hanya meringis sebelum beranjak dari duduknya, mengumpulkan kertas-kertas berisikan lirik yang ia selesaikan. &#34;Go figure.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:woncheolshort" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">woncheolshort</span></a></p>

<p>“Jeonghan-ah!”</p>

<p>“Apaaaa?”</p>

<p>“Sini, buru! Inside nih!”</p>

<p>“Sendiri aja laaah, gue lagi sibuk.”</p>

<p>“Sinii, ih, temeninn!”</p>



<hr/>

<p>“Wonu-hyung.”</p>

<p>Dia menoleh. Mingyu menatapnya, setengah bertanya, setengah terpana. Wonwoo tahu maksud tatapan itu apa. “Hmm?” namun, ia mengindahkannya.</p>

<p>“Ngeliatin aja,” ujung bibirnya tertarik, seperti sumringah setengah jadi. Wonwoo biasanya menaruh tangannya ke muka Mingyu dan mendorong kepala lelaki itu menjauh, secara harfiah menghapus ekspresi menyebalkan khas Kim Mingyu dari sana. Tapi tidak kali ini. Ia terlalu malas. “Tuh bolpen lo bocor.”</p>

<p>Seketika itu juga, Wonwoo menunduk. “<em>Oh</em>,” rembesan tinta melebar di kertas, membenamkan kata-kata yang sudah ditulisnya dengan susah payah, lirik lagunya bersama Mingyu. “Shit.” Buru-buru, Wonwoo mengecek bolpen tersebut, memutuskan untuk membuangnya dan meraih bolpen baru. Ia menulis ulang kata-kata yang hilang sebelum terlupakan dari ingatan. Mingyu, memperhatikan itu semua, hanya meringis sambil menumpangkan dagu di sebelah tangan, sadar sepenuhnya bahwa ia membuat jengah lelaki yang lebih tua tersebut.</p>

<p>Suara ujung bolpen menggores kertas memenuhi jeda di antara mereka untuk beberapa saat.</p>

<p>”...Mingyu.”</p>

<p>“Ya, hyung?”</p>

<p>“Ada yang mau lo omongin ke gue?”</p>

<p>Senyumnya melebar, kemudian dia menggeleng. Di mata Wonwoo, jelas sekali kalau lelaki itu sengaja. Sengaja tidak menjawab. Sengaja mengulur waktu. <em>Sengaja mengundang Wonwoo untuk menceritakannya dari mulutnya sendiri</em>. Terkadang, Wonwoo benci bagaimana Mingyu mengenal dirinya sebaik ini. Dia benci bagaimana hampir semua member mengenal kepribadian satu sama lain dan, lebih sering daripada tidak, menggunakannya untuk bahan bercandaan atau kepentingan mereka. Bukan dalam konteks yang merugikan atau menekan, tentu, tapi yang namanya <em>saudara</em> terus terang selalu merupakan sumber sakit kepala.</p>

<p>Kali ini, Wonwoo pun, akhirnya, menyerah juga akan tatapan Mingyu.</p>

<p>“Dia ngambek.”</p>

<p>Ringisan tercetak di wajah lelaki yang lebih muda. “Dah gue duga,” ujarnya. “Kenapa lagi sekarang?”</p>

<p>“Jarang gaming bareng lagi,” Wonwoo menyelesaikan goresan tintanya.</p>

<p>“Lo sibuk kan?”</p>

<p>Wonwoo bergumam membenarkan, “Dia tau kok. Sadar juga. Plus, gue juga mulai bosen maen game sejenis.”</p>

<p>Mingyu kemudian merebahkan kepala ke meja. Ujung rambutnya mengenai lengan Wonwoo, menggelitik kulitnya. Wonwoo membiarkannya.</p>

<p>“Pantes dia nempel Jeonghan-hyung mulu.”</p>

<p>Wonwoo menoleh sedikit.</p>

<p>“Bukannya mereka emang dari dulu gitu?”</p>

<p>“Dia sama ama gue, hyung. Butuh skinship. Butuh pelokan,” Mingyu mengangkat kepalanya. “Gue sih nggak kurang asupan. Ada lo, ada Hao, ada Seok, ada Kwan.”</p>

<p>“Dia juga nggak kurang asupan,” rujuknya, ke lengan yang mengalungi bahu Jeonghan di depan kamera Inside Seventeen.</p>

<p>“Tapi bukan dari <em>lo</em>.”</p>

<p>Jeon Wonwoo mengernyit menatap Mingyu.</p>

<p>“Maksud lo?” tanyanya tenang.</p>

<p>“Lo punya kepala yang bagus di atas leher kan,” Mingyu hanya meringis sebelum beranjak dari duduknya, mengumpulkan kertas-kertas berisikan lirik yang ia selesaikan. “Go figure.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-3-65zv</guid>
      <pubDate>Sun, 23 May 2021 07:21:29 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Part 2</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-2-qyzr?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[woncheolshort&#xA;&#xA;Pintu menjeblak terbuka dan Seungcheol hampir melempar handphonenya. Berdiri di ambang pintu adalah Wonwoo, lelaki yang membuatnya sedih akhir-akhir ini. Seungcheol menatapnya bingung. Wonwoo tetiba mengencangkan rahang saat matanya melirik ke bagian komputer dan kursi gaming yang tinggal satu.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;...Mana komputer gue?&#34; tanyanya, curiga.&#xA;&#xA;&#34;Itu komputer lo kok, nggak gue apa-apain, incase lo mau ambil dan taro di kamar lo,&#34; berlagak masa bego, Seungcheol kembali menekuni handphonenya.&#xA;&#xA;Wonwoo menatapnya penuh selidik, lalu melangkah mendekati komputer tersebut. &#34;Terus punya lo...kemana?&#34; tanyanya lagi.&#xA;&#xA;&#34;Oh,&#34; Seungcheol menekan tombol di keypad untuk menghancurkan markas musuh dalam game yang dia tengah mainkan. &#34;Bokap gue bawa pulang pas dia nengok gue minggu lalu.&#34;&#xA;&#xA;Psyuuu--&#xA;&#xA;&#34;Gue suruh buang tapi katanya sayang.&#34;&#xA;&#xA;Duarr duarr duarr--&#xA;&#xA;&#34;Anjing, mati!&#34;&#xA;&#xA;Mendadak, tangan menyambar handphonenya dan melempar benda itu ke ujung kasur. Dia terpaksa mendongak dan menemukan pandangannya penuh oleh wajah kesal Wonwoo. Alisnya menukik dan matanya yang tajam seakan menyudutkannya. Seungcheol pun menciut di dalam, meski di luar, dia memasang tampang tak paham. Bulu matanya mengerjap beberapa kali.&#xA;&#xA;&#34;...Kenapa?&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol menelengkan kepala.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa lo buang komputer lo?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Uh...karena gue nggak pake lagi?&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo menyipitkan mata. Sama sekali tidak percaya akan pernyataan itu. Dia pun mundur dan duduk bersila di atas kasur Seungcheol dengan lengan melipat di dada. Dalam balutan kaus tanpa lengan, otot Wonwoo nampak mengintimidasi. Diam-diam, Seungcheol meneguk ludah.&#xA;&#xA;Mereka diam di sana. Keduanya terlalu mengenal satu sama lain untuk paham apa arti kesunyian tersebut. Mungkin, ada beberapa hal yang tidak berubah dari Wonwoo sama sekali.&#xA;&#xA;&#34;...Soalnya,&#34; Seungcheol memalingkan muka saat dia berbisik, enggan memandang balik Wonwoo. &#34;Maen game sendirian nggak asik.&#34;&#xA;&#xA;Seketika itu juga, Wonwoo paham.&#xA;&#xA;&#34;Oh...,&#34; kini, rasa bersalah merasuk. &#34;Gue...gue enggak maksud...soalnya, mm, gue sibuk...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dih, paan sih, gue nggak nyalahin lo kok, njrit,&#34; Seungcheol tertawa, menonjok ringan bahu Wonwoo. Wonwoo yang dulu akan merintih kesakitan. Wonwoo yang sekarang bergeming, serasa digigit semut saja. &#34;Udah bosen aja sih nge-game gitu. Gue mau cari hobi laen kali lah. Kayak Hani sama Seok kan miara batu, ya kali gue bisa lah miara batu juga.&#34; Haha, kayak ada yang bisa gantiin Kkuma saja. &#34;Santuy aja sih. Gue doang kok yang ngerasa bosen, nggak ada maksud laen. Lagian gue masih ngegame tapi di hape. Mayan lah, kalo maen game di hape lebih praktis juga &#34;&#xA;&#xA;Seungcheol tertawa. Tertawa dan tertawa. Dia tidak mau Wonwoo memikirkan yang tidak perlu, apalagi di tengah skedulnya yang padat begitu. Wonwoo tidak perlu tahu.&#xA;&#xA;&#34;...Bener?&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol tersenyum, melebarkan mata dan mengangguk.&#xA;&#xA;&#34;Beneran?&#34;&#xA;&#xA;Mengangguk berkali-kali.&#xA;&#xA;&#34;...Oke. Gue bawa deh komputer gue, biar kamar ini legaan.&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol hanya tersenyum. Lenyap sudah, semua jejak Wonwoo di kamarnya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:woncheolshort" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">woncheolshort</span></a></p>

<p>Pintu menjeblak terbuka dan Seungcheol hampir melempar handphonenya. Berdiri di ambang pintu adalah Wonwoo, lelaki yang membuatnya sedih akhir-akhir ini. Seungcheol menatapnya bingung. Wonwoo tetiba mengencangkan rahang saat matanya melirik ke bagian komputer dan kursi gaming yang tinggal satu.</p>



<p>”...Mana komputer gue?” tanyanya, curiga.</p>

<p>“Itu komputer lo kok, nggak gue apa-apain, incase lo mau ambil dan taro di kamar lo,” berlagak masa bego, Seungcheol kembali menekuni handphonenya.</p>

<p>Wonwoo menatapnya penuh selidik, lalu melangkah mendekati komputer tersebut. “Terus punya lo...kemana?” tanyanya lagi.</p>

<p>“Oh,” Seungcheol menekan tombol di keypad untuk menghancurkan markas musuh dalam game yang dia tengah mainkan. “Bokap gue bawa pulang pas dia nengok gue minggu lalu.”</p>

<p><em>Psyuuu—</em></p>

<p>“Gue suruh buang tapi katanya sayang.”</p>

<p><em>Duarr duarr duarr—</em></p>

<p>“Anjing, mati!”</p>

<p>Mendadak, tangan menyambar handphonenya dan melempar benda itu ke ujung kasur. Dia terpaksa mendongak dan menemukan pandangannya penuh oleh wajah kesal Wonwoo. Alisnya menukik dan matanya yang tajam seakan menyudutkannya. Seungcheol pun menciut di dalam, meski di luar, dia memasang tampang tak paham. Bulu matanya mengerjap beberapa kali.</p>

<p>”...Kenapa?”</p>

<p>Seungcheol menelengkan kepala.</p>

<p>“Kenapa lo buang komputer lo?”</p>

<p>“Uh...karena gue nggak pake lagi?”</p>

<p>Wonwoo menyipitkan mata. Sama sekali tidak percaya akan pernyataan itu. Dia pun mundur dan duduk bersila di atas kasur Seungcheol dengan lengan melipat di dada. Dalam balutan kaus tanpa lengan, otot Wonwoo nampak mengintimidasi. Diam-diam, Seungcheol meneguk ludah.</p>

<p>Mereka diam di sana. Keduanya terlalu mengenal satu sama lain untuk paham apa arti kesunyian tersebut. Mungkin, ada beberapa hal yang tidak berubah dari Wonwoo sama sekali.</p>

<p>”...Soalnya,” Seungcheol memalingkan muka saat dia berbisik, enggan memandang balik Wonwoo. “Maen game sendirian nggak asik.”</p>

<p>Seketika itu juga, Wonwoo paham.</p>

<p>“Oh...,” kini, rasa bersalah merasuk. “Gue...gue enggak maksud...soalnya, mm, gue sibuk...”</p>

<p>“Dih, paan sih, gue nggak nyalahin lo kok, njrit,” Seungcheol tertawa, menonjok ringan bahu Wonwoo. Wonwoo yang dulu akan merintih kesakitan. Wonwoo yang sekarang bergeming, serasa digigit semut saja. “Udah bosen aja sih nge-game gitu. Gue mau cari hobi laen kali lah. Kayak Hani sama Seok kan miara batu, ya kali gue bisa lah miara batu juga.” <em>Haha, kayak ada yang bisa gantiin Kkuma saja.</em> “Santuy aja sih. Gue doang kok yang ngerasa bosen, nggak ada maksud laen. Lagian gue masih ngegame tapi di hape. Mayan lah, kalo maen game di hape lebih praktis juga “</p>

<p>Seungcheol tertawa. Tertawa dan tertawa. Dia tidak mau Wonwoo memikirkan yang tidak perlu, apalagi di tengah skedulnya yang padat begitu. Wonwoo tidak perlu tahu.</p>

<p>”...Bener?”</p>

<p>Seungcheol tersenyum, melebarkan mata dan mengangguk.</p>

<p>“Beneran?”</p>

<p>Mengangguk berkali-kali.</p>

<p>”...Oke. Gue bawa deh komputer gue, biar kamar ini legaan.”</p>

<p>Seungcheol hanya tersenyum. Lenyap sudah, semua jejak Wonwoo di kamarnya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-2-qyzr</guid>
      <pubDate>Sat, 22 May 2021 03:52:44 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Part 1</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-1-4136?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[woncheolshort&#xA;&#xA;(OP: Wonwoo-oppa, gile benerrr 😭)&#xA;&#xA;(Coups: ganteng banget)&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Ganteng banget.&#xA;&#xA;Salah. Harusnya dia jawab ganteng parah. Makin ke sini, Wonwoo makin ganteng. Akibat rajin nge-gym, badannya jadi berisi. Tinggi tegap nan semampai. Rahangnya mengeras. Otot di lengan dan perutnya menonjol.&#xA;&#xA;Seungcheol menatap ke dua komputer dan dua kursi gaming di kamarnya.&#xA;&#xA;Wonwoo yang sekarang jauh berbeda dari Wonwoo yang dulu. Jangan salah kaprah, Seungcheol senang kok Wonwoo semakin sehat dan bahagia. Namun, yang berbeda ya tetap saja berbeda. Seolah jejak Wonwoo yang dulu kurus bak kecambah tidak ada lagi. Seolah sosok yang Seungcheol kenal betul tertinggal bersamanya ketika Wonwoo pindah kamar.&#xA;&#xA;Seungcheol menatap balik ke layar handphonenya, ke suatu komen di aplikasi yang memuja Wonwoo dan dia cuma bisa membalas di sana. Tidak bisa bilang langsung ke orangnya meski jarak mereka lebih dekat dari para fans itu, semata karena Wonwoo sibuk akhir-akhir ini.&#xA;&#xA;Tawaran model di begitu banyak majalah. Proyek lagu duetnya bersama Mingyu. Belum lagi rencana comeback mereka, latihan koreografi, rekaman, banyak, banyak lainnya.&#xA;&#xA;Seungcheol kangen, to say the least. Kangen melihat Wonwoo tertawa lebar sambil meng-klik mouse dengan ahli di tangan kanan, menembaki musuh yang mengincar Seungcheol di game. Kangen akan Wonwoo yang mengulum senyum, malu, karena Seungcheol mengusrek rambutnya sampai teracak, lalu dia menaikkan kacamata bulatnya. Hell, dia bahkan kangen akan guyonan jayusnya yang sama sekali tidak lucu, tapi Seungcheol tertawa anyway hanya karena Wonwoo begitu menggemaskan saat menertawakan leluconnya sendiri.&#xA;&#xA;Ironis. Terakhir dia difoto bareng Wonwoo, lelaki itu tidak mengindahkannya maupun kedua tangan di pundaknya, seakan Seungcheol tidak ada di situ sama sekali.&#xA;&#xA;Seungcheol menatap lagi dua komputer dan dua kursi gaming yang semakin dan semakin jarang mereka pakai, bahkan terakhir sepertinya beberapa bulan lalu, saat Wonwoo mengaku mau latihan sebelum muncul di acara gaming itu. Dua saksi bisu yang memudar seiring berjalannya waktu.&#xA;&#xA;Lelaki itu tersenyum sedih.&#xA;&#xA;&#34;Mungkin udah saatnya gue buang ya, menuh-menuhin kamar aja.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:woncheolshort" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">woncheolshort</span></a></p>

<p><strong>(OP: Wonwoo-oppa, gile benerrr 😭)</strong></p>

<p><strong>(Coups: ganteng banget)</strong></p>



<hr/>

<p><em>Ganteng banget.</em></p>

<p>Salah. Harusnya dia jawab <em>ganteng parah</em>. Makin ke sini, Wonwoo makin ganteng. Akibat rajin nge-gym, badannya jadi berisi. Tinggi tegap nan semampai. Rahangnya mengeras. Otot di lengan dan perutnya menonjol.</p>

<p>Seungcheol menatap ke dua komputer dan dua kursi gaming di kamarnya.</p>

<p>Wonwoo yang sekarang jauh berbeda dari Wonwoo yang dulu. Jangan salah kaprah, Seungcheol senang kok Wonwoo semakin sehat dan bahagia. Namun, yang berbeda ya tetap saja <em>berbeda</em>. Seolah jejak Wonwoo yang dulu kurus bak kecambah tidak ada lagi. Seolah sosok yang Seungcheol kenal betul tertinggal bersamanya ketika Wonwoo pindah kamar.</p>

<p>Seungcheol menatap balik ke layar handphonenya, ke suatu komen di aplikasi yang memuja Wonwoo dan dia cuma bisa membalas di sana. Tidak bisa bilang langsung ke orangnya meski jarak mereka lebih dekat dari para fans itu, semata karena Wonwoo sibuk akhir-akhir ini.</p>

<p>Tawaran model di begitu banyak majalah. Proyek lagu duetnya bersama Mingyu. Belum lagi rencana comeback mereka, latihan koreografi, rekaman, banyak, banyak lainnya.</p>

<p>Seungcheol kangen, to say the least. Kangen melihat Wonwoo tertawa lebar sambil meng-klik mouse dengan ahli di tangan kanan, menembaki musuh yang mengincar Seungcheol di game. Kangen akan Wonwoo yang mengulum senyum, malu, karena Seungcheol mengusrek rambutnya sampai teracak, lalu dia menaikkan kacamata bulatnya. Hell, dia bahkan kangen akan guyonan jayusnya yang sama sekali tidak lucu, tapi Seungcheol tertawa anyway hanya karena Wonwoo begitu menggemaskan saat menertawakan leluconnya sendiri.</p>

<p>Ironis. Terakhir dia difoto bareng Wonwoo, lelaki itu tidak mengindahkannya maupun kedua tangan di pundaknya, seakan Seungcheol tidak ada di situ sama sekali.</p>

<p>Seungcheol menatap lagi dua komputer dan dua kursi gaming yang semakin dan semakin jarang mereka pakai, bahkan terakhir sepertinya beberapa bulan lalu, saat Wonwoo mengaku mau latihan sebelum muncul di acara gaming itu. Dua saksi bisu yang memudar seiring berjalannya waktu.</p>

<p>Lelaki itu tersenyum sedih.</p>

<p>“Mungkin udah saatnya gue buang ya, menuh-menuhin kamar aja.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/part-1-4136</guid>
      <pubDate>Sat, 22 May 2021 03:15:04 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>