<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>soonwoo &amp;mdash; 🌾</title>
    <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:soonwoo</link>
    <description>narrative writings of thesunmetmoon</description>
    <pubDate>Tue, 02 Jun 2026 10:41:30 +0000</pubDate>
    <image>
      <url>https://i.snap.as/K7JGOEOo.png</url>
      <title>soonwoo &amp;mdash; 🌾</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:soonwoo</link>
    </image>
    <item>
      <title>241.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/241-q3wd?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[soonwoo&#xA;&#xA;Di bagian bawah apartemen murah bertingkat enam itu ada sebuah taman sederhana yang dimaksudkan untuk penghuni beristirahat sejenak di antara pepohonan. Meski tidak serindang dan seindah yang diharapkan pada awalnya, setidaknya ada bangku panjang dari kayu yang muat untuk diduduki tiga orang dewasa sekaligus. Namun, keberadaan taman umum yang tidak jauh dari situ membuat taman apartemen hampir selalu sepi manusia, sehingga Jeon Wonwoo dan Kwon Soonyoung dapat duduk di sana untuk menenangkan diri.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Semilir angin dan gesekan sayap serangga membuat suasana terasa semakin asri. Tidak butuh waktu lama bagi Kwon Soonyoung untuk tersapu dalam indahnya cuaca hari itu. Awan-awan tebal berarak di langit yang biru benderang, meneduhkan bumi di bawah naungan mereka. Segera saja ia melupakan perihal salah bicara maupun perihal Kim Mingyu dan Yoon Jeonghan.&#xA;&#xA;&#34;Soal bokap gue...&#34;&#xA;&#xA;Hanya untuk diingatkan kembali dengan mendadak oleh Jeon Wonwoo.&#xA;&#xA;Kwon Soonyoung menunduk. Bibir bawahnya ia gigit kuat, membuatnya memerah. Digamitnya lagi bagian bawah bajunya.&#xA;&#xA;&#34;...gue nggak bakal tanya dari mana lo tau. Kayaknya lo udah tau semua hal soal gue...&#34;&#xA;&#xA;...Bukan.&#xA;&#xA;&#34;...dan percuma gue marah juga karena lo nggak bakal peduli gue marah ato enggak privasi gue lo ubek terus...&#34;&#xA;&#xA;Bukan. Bukan gitu. Bukan!&#xA;&#xA;Kwon Soonyoung dengan cepat mendongak. Ia membuka mulut, hendak memotongnya dengan penyanggahan (pembelaan diri, mungkin), tetapi lidahnya mendadak kelu karena dilihatnya Jeon Wonwoo memandanginya dengan ketenangan yang ganjil. Suatu ekspresi yang Soonyoung tidak yakin sesuai dengan kondisi mereka saat ini. Tidak yakin sesuai dengan kepribadian Jeon Wonwoo yang ia kenal sampai detik ini.&#xA;&#xA;Ketenangan yang...mengerikan...&#xA;&#xA;&#34;Bokap gue pergi.&#34;&#xA;&#xA;Sentakan napas terdengar.&#xA;&#xA;&#34;Nggak ada yang istimewa juga. Gue bangun, mau kuliah, terus rumah ya sepi aja gitu. Gue cari dia di kamarnya, di kamar mandi, di dapur. Gue buka pintu depan. Dia udah nggak ada sama sekali. Ilang.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo meneliti air muka Kwon Soonyoung. Sengaja. Ia ingin tahu bagaimana reaksi anak itu ketika ia sendiri yang menyuapinya dengan informasi pribadi. Penasaran, apakah tindakannya ini bisa mencegah pelanggaran privasi lain oleh Kwon Soonyoung, bila dia bisa mendapatkannya dari Wonwoo sendiri?&#xA;&#xA;&#34;Di satu sisi, setengah jiwa gue kayak lenyap. Bokap gue pergi. Gue ditinggal sendirian gitu aja kayak sampah di jalanan. Di sisi lain, gue seneng.&#34;&#xA;&#xA;Di sini, Kwon Soonyoung membelalakkan mata.&#xA;&#xA;&#34;Gue seneng...,&#34; ulangnya. &#34;...soalnya gue bisa bebas dari dia.&#34;&#xA;&#xA;Bebas dari apa? Bebas kenapa? Jeon Wonwoo enggan mengutarakannya. Walau dia harus kerja banting tulang untuk membayar kebebasannya itu, tidak apa-apa. Sepadan nilainya dengan kebebasan yang sekarang dia miliki.&#xA;&#xA;Kwon Soonyoung masih menatapnya hampir tidak berkedip. Jeon Wonwoo membiarkan anak itu menyerap semua ketenangan pada parasnya, membiarkan anak itu membuat suatu teori sendiri di dalam benaknya. Ia tidak perlu menjawab secara sempurna. Tidak perlu memberikan seluruh detail dalam cerita tersebut.&#xA;&#xA;Ayahnya pergi meninggalkannya, itu benar. Dia tinggal sendirian, itu juga benar.&#xA;&#xA;Hanya itu yang Kwon Soonyoung boleh tahu.&#xA;&#xA;&#34;......,&#34; Soonyoung menunduk. Alisnya mengerut, berpikir keras.&#xA;&#xA;Wonwoo berkedip.&#xA;&#xA;&#34;Udah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Udah puas sama jawaban gue?&#34;&#xA;&#xA;Kwon Soonyoung harus bilang apa? Tentu saja dia tidak bisa jawab apa-apa. Dia hanya mengangguk satu kali. Wonwoo menghela napas berat.&#xA;&#xA;&#34;Sori juga soal, uh, Mingyu. Gue emang bilang ke dia kalo gue bakal pergi siang ini, tapi ya tetau batal.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh? Kencan lo batal? Pantesan tadi kok cepet...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kencan apaan coba,&#34; lelah banget. &#34;Keket tuh temen gue. Bukan cewek gue.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kenapa nggak jadi cewek lo aja?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Haaah?? Lo makin ke sini makin aneh aja nanyanya ya gue liat-liat,&#34; kesal, Jeon Wonwoo menoyor jidat Kwon Soonyoung. &#34;Bodo amat bokap gue ke mana. Bodo amat kenapa Keket bukan cewek gue. Napa lo yang repot deh, ngurusin banget idup gue?? Idup lo sendiri gimana?? Lo nggak pernah cerita apa-apa ke gue!&#34;&#xA;&#xA;Soonyoung mengusap dahinya yang ditoyor Jeon Wonwoo. &#34;Uuhhh...s-soalnya idup gue gitu-gitu aja?? Cuma kuliah terus di rumah??&#34; protesnya. &#34;Ehhh, oh iya, Joshi mau kuliah. Kayaknya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hahh?? Anjing penjaga lo itu? Jangan bilang di kampus kita...&#34;&#xA;&#xA;Kini, Kwon Soonyoung memberengut. &#34;Joshi bukan anjing penjaga! Dia sahabat gue! Kok lo ngomongnya gitu!&#34; protesnya.&#xA;&#xA;&#34;Suka-suka gue mau manggil dia apa! Dia udah nonjok gue gegara lo!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Y-ya kan namanya orang bisa khilaf!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Masih sakit tau!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Masa??&#34; refleks, Soonyoung menangkup wajah Wonwoo. &#34;Mana sini gue liat--&#34;&#xA;&#xA;Mata Wonwoo melebar. Mata Soonyoung juga, saat menyadari di posisi apa mereka. Duduk berdua di bangku panjang, bersisian, dengan kedua tangan Soonyoung di pipi Wonwoo. Secara harfiah, napas mereka berdua terhenti beberapa detik, sebelum Wonwoo membekap muka Kwon Soonyoung dan mendorongnya menjauh secara paksa.&#xA;&#xA;&#34;Nggak usah deket-deket. Najis.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Izh fuweh vukhan hanjis!&#34;&#xA;&#xA;Lagi-lagi, helaan napas yang berat. &#34;Fuck. Gue harus di luar sini sama nih anak sampe kapan sih,&#34; gerutunya. &#34;FUCK YOU, KIM MINGYU! BURUAN NGEWENYA, GUE MAU KERJA!&#34;&#xA;&#xA;Teriakan yang disusul oleh kepakan sayap burung bertolak dari pepohonan.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:soonwoo" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">soonwoo</span></a></p>

<p>Di bagian bawah apartemen murah bertingkat enam itu ada sebuah taman sederhana yang dimaksudkan untuk penghuni beristirahat sejenak di antara pepohonan. Meski tidak serindang dan seindah yang diharapkan pada awalnya, setidaknya ada bangku panjang dari kayu yang muat untuk diduduki tiga orang dewasa sekaligus. Namun, keberadaan taman umum yang tidak jauh dari situ membuat taman apartemen hampir selalu sepi manusia, sehingga Jeon Wonwoo dan Kwon Soonyoung dapat duduk di sana untuk menenangkan diri.</p>



<p>Semilir angin dan gesekan sayap serangga membuat suasana terasa semakin asri. Tidak butuh waktu lama bagi Kwon Soonyoung untuk tersapu dalam indahnya cuaca hari itu. Awan-awan tebal berarak di langit yang biru benderang, meneduhkan bumi di bawah naungan mereka. Segera saja ia melupakan perihal salah bicara maupun perihal Kim Mingyu dan Yoon Jeonghan.</p>

<p>“Soal bokap gue...”</p>

<p>Hanya untuk diingatkan kembali dengan mendadak oleh Jeon Wonwoo.</p>

<p>Kwon Soonyoung menunduk. Bibir bawahnya ia gigit kuat, membuatnya memerah. Digamitnya lagi bagian bawah bajunya.</p>

<p>”...gue nggak bakal tanya dari mana lo tau. Kayaknya lo udah tau semua hal soal gue...”</p>

<p><em>...Bukan.</em></p>

<p>”...dan percuma gue marah juga karena lo nggak bakal peduli gue marah ato enggak privasi gue lo ubek terus...”</p>

<p><em>Bukan. Bukan gitu. Bukan!</em></p>

<p>Kwon Soonyoung dengan cepat mendongak. Ia membuka mulut, hendak memotongnya dengan penyanggahan (pembelaan diri, mungkin), tetapi lidahnya mendadak kelu karena dilihatnya Jeon Wonwoo memandanginya dengan ketenangan yang ganjil. Suatu ekspresi yang Soonyoung tidak yakin <em>sesuai</em> dengan kondisi mereka saat ini. Tidak yakin <em>sesuai</em> dengan kepribadian Jeon Wonwoo yang ia kenal sampai detik ini.</p>

<p>Ketenangan yang...<em>mengerikan</em>...</p>

<p>“Bokap gue pergi.”</p>

<p>Sentakan napas terdengar.</p>

<p>“Nggak ada yang istimewa juga. Gue bangun, mau kuliah, terus rumah ya sepi aja gitu. Gue cari dia di kamarnya, di kamar mandi, di dapur. Gue buka pintu depan. Dia udah nggak ada sama sekali. Ilang.”</p>

<p>Wonwoo meneliti air muka Kwon Soonyoung. <em>Sengaja</em>. Ia ingin tahu bagaimana reaksi anak itu ketika ia sendiri yang menyuapinya dengan informasi pribadi. Penasaran, apakah tindakannya ini bisa mencegah pelanggaran privasi lain oleh Kwon Soonyoung, bila dia bisa mendapatkannya dari Wonwoo sendiri?</p>

<p>“Di satu sisi, setengah jiwa gue kayak lenyap. Bokap gue pergi. Gue ditinggal sendirian gitu aja kayak sampah di jalanan. Di sisi lain, gue seneng.”</p>

<p>Di sini, Kwon Soonyoung membelalakkan mata.</p>

<p>“Gue seneng...,” ulangnya. “...soalnya gue bisa <em>bebas</em> dari dia.”</p>

<p>Bebas dari apa? Bebas kenapa? Jeon Wonwoo enggan mengutarakannya. Walau dia harus kerja banting tulang untuk membayar kebebasannya itu, tidak apa-apa. Sepadan nilainya dengan kebebasan yang sekarang dia miliki.</p>

<p>Kwon Soonyoung masih menatapnya hampir tidak berkedip. Jeon Wonwoo membiarkan anak itu menyerap semua ketenangan pada parasnya, membiarkan anak itu membuat suatu teori sendiri di dalam benaknya. Ia tidak perlu menjawab secara sempurna. Tidak perlu memberikan seluruh detail dalam cerita tersebut.</p>

<p>Ayahnya pergi meninggalkannya, itu benar. Dia tinggal sendirian, itu juga benar.</p>

<p>Hanya itu yang Kwon Soonyoung boleh tahu.</p>

<p>”......,” Soonyoung menunduk. Alisnya mengerut, berpikir keras.</p>

<p>Wonwoo berkedip.</p>

<p>“Udah?”</p>

<p>“Eh?”</p>

<p>“Udah puas sama jawaban gue?”</p>

<p>Kwon Soonyoung harus bilang apa? Tentu saja dia tidak bisa jawab apa-apa. Dia hanya mengangguk satu kali. Wonwoo menghela napas berat.</p>

<p>“Sori juga soal, uh, Mingyu. Gue emang bilang ke dia kalo gue bakal pergi siang ini, tapi ya tetau batal.”</p>

<p>“Oh? Kencan lo batal? Pantesan tadi kok cepet...”</p>

<p>“Kencan apaan coba,” lelah banget. “Keket tuh temen gue. Bukan cewek gue.”</p>

<p>“Kenapa?”</p>

<p>“Apa?”</p>

<p>“Kenapa nggak jadi cewek lo aja?”</p>

<p>“Haaah?? Lo makin ke sini makin aneh aja nanyanya ya gue liat-liat,” kesal, Jeon Wonwoo menoyor jidat Kwon Soonyoung. “Bodo amat bokap gue ke mana. Bodo amat kenapa Keket bukan cewek gue. Napa lo yang repot deh, ngurusin banget idup gue?? Idup lo sendiri gimana?? Lo nggak pernah cerita apa-apa ke gue!”</p>

<p>Soonyoung mengusap dahinya yang ditoyor Jeon Wonwoo. “Uuhhh...s-soalnya idup gue gitu-gitu aja?? Cuma kuliah terus di rumah??” protesnya. “Ehhh, oh iya, Joshi mau kuliah. Kayaknya.”</p>

<p>“Hahh?? Anjing penjaga lo itu? Jangan bilang di kampus kita...”</p>

<p>Kini, Kwon Soonyoung memberengut. “Joshi bukan anjing penjaga! Dia sahabat gue! Kok lo ngomongnya gitu!” protesnya.</p>

<p>“Suka-suka gue mau manggil dia apa! Dia udah nonjok gue gegara lo!”</p>

<p>“Y-ya kan namanya orang bisa khilaf!”</p>

<p>“Masih sakit tau!”</p>

<p>“Masa??” refleks, Soonyoung menangkup wajah Wonwoo. “Mana sini gue liat—”</p>

<p>Mata Wonwoo melebar. Mata Soonyoung juga, saat menyadari di posisi apa mereka. Duduk berdua di bangku panjang, bersisian, dengan kedua tangan Soonyoung di pipi Wonwoo. Secara harfiah, napas mereka berdua terhenti beberapa detik, sebelum Wonwoo membekap muka Kwon Soonyoung dan mendorongnya menjauh secara paksa.</p>

<p>“Nggak usah deket-deket. Najis.”</p>

<p>“Izh fuweh vukhan hanjis!”</p>

<p>Lagi-lagi, helaan napas yang berat. “Fuck. Gue harus di luar sini sama nih anak sampe kapan sih,” gerutunya. “<em>FUCK YOU, KIM MINGYU! BURUAN NGEWENYA</em>, GUE MAU KERJA!”</p>

<p>Teriakan yang disusul oleh kepakan sayap burung bertolak dari pepohonan.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/241-q3wd</guid>
      <pubDate>Fri, 14 May 2021 13:04:37 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>240.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/240-s7gc?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[soonwoo&#xA;&#xA;(&#34;Tapi, asli, seneng banget Gyu ngeliat Bang Won ngajarin Abang masak nasi.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, soalnya Bang Won tuh galak kesumat kan. Senggol bacok gitu orangnya. Kayak kena batunya dia kudu ngajarin Abang pake seluruh kesabaran yang dia punya wkwk.&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Eh, umm, tapi gue juga nggak enak kalo ngerepotin Jeon Wonwoo...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Issh, santuy, Bang Nyong. Udah lama nih rumah nggak rame kayak gini sejak bokapnya Bang Won cabut. Gyu yakin Bang Won seneng kok hari ini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;...Eh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mingyu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah. Oh! Oh, shit--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bokapnya kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eng-enggak kok, Bang, ahaha ahahahaha- L-lupain aja ya, Bang Nyong, plis banget!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, Kwon, lupain aja ya. Jangan tanya ke Wonwoo, nanti dia marah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh, umm...&#34;)&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;...Bokap lo ke mana?&#34;&#xA;&#xA;Kerjapan mata. Kwon Soonyoung diam-diam menelan ludah, karena dia tidak bisa menggigit lidahnya sendiri. Keceplosan. Keterusan. Kebiasaan buruk anak Kwon yang susah dihilangkan meski berkali-kali sudah Jeon Wonwoo memperingatinya. Serta merta, dia menunduk, terlalu takut untuk terus menatap Jeon Wonwoo.&#xA;&#xA;Kwon Soonyoung luput melihat bagaimana Jeon Wonwoo menolehkan kepalanya perlahan, amat perlahan, dalam paras yang tenang. Ingin terkejut, tapi sudah habis keterkejutannya akan tingkah laku Kwon Soonyoung. Nomor rekening, alamat rumah...apa alasan Wonwoo tidak mempercayai kalau Kwon Soonyoung tahu mengenai keluarganya? Mengenai masalah pribadinya?&#xA;&#xA;&#34;Lo--&#34;&#xA;&#xA;&#34;--ah!&#34;&#xA;&#xA;Seketika, mereka berdua membeku.&#xA;&#xA;&#34;...K-Kak Han, ngh-&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gyu suka? Kalo aku, mmh, gini-&#34;&#xA;&#xA;&#34;...fuck...&#34;&#xA;&#xA;&#34;...suka?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kak, Kak Han...Kak...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hani. Panggil Hani aja. Panggil, mm, Hani...&#34;&#xA;&#xA;&#34;...Ha...ngh, Hani...Hani, Hani!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak apa nih, Gyu, kamu sekenceng itu? Sebelah kamarnya Wonwoo, kan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah! Ng, nggak--Bang Won nggak di rumah--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Good.&#34;&#xA;&#xA;&#34;HAN--&#34;&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;...&#xA;&#xA;.............&#xA;&#xA;KEDENGERAN TAU, ANJENNGG!!!&#xA;&#xA;&#34;Uh...,&#34; mau tak mau, wajah Kwon Soonyoung merah padam. Ia menunduk makin dalam, merunduk bagai kucing malu-malu.&#xA;&#xA;Jeon Wonwoo, juga, salah tingkah. Cuping telinganya merona, walau urat nadi menebal di sisi keningnya. Mau ngamuk tapi pada dasarnya Mingyu tidak salah, karena Wonwoo bilang dia bakal keluar sepanjang siang dan Mingyu tidak tahu bahwa rencananya batal.&#xA;&#xA;&#34;......&#34;&#xA;&#xA;Rasanya awkward banget, sumpah. Wonwoo berdeham, suaranya agak serak.&#xA;&#xA;&#34;...Keluar yok?&#34; tawarnya pada Kwon Soonyoung, yang masih menunduk. Malunya anak Kwon berlipat ganda. Setelah salah bicara, sekarang malah mendengar tetangga Jeon Wonwoo berbuat....uuuhhhhhh....&#xA;&#xA;Perlahan, anak Kwon mengangguk.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:soonwoo" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">soonwoo</span></a></p>

<p><em>(“Tapi, asli, seneng banget Gyu ngeliat Bang Won ngajarin Abang masak nasi.”</em></p>

<p><em>“Eh?”</em></p>

<p><em>“Iya, soalnya Bang Won tuh galak kesumat kan. Senggol bacok gitu orangnya. Kayak kena batunya dia kudu ngajarin Abang pake seluruh kesabaran yang dia punya wkwk.”</em></p>



<p><em>“Eh, umm, tapi gue juga nggak enak kalo ngerepotin Jeon Wonwoo...”</em></p>

<p><em>“Issh, santuy, Bang Nyong. Udah lama nih rumah nggak rame kayak gini sejak bokapnya Bang Won cabut. Gyu yakin Bang Won seneng kok hari ini.”</em></p>

<p><em>”...Eh?”</em></p>

<p><em>“Mingyu.”</em></p>

<p><em>“Ah. Oh! Oh, shit—”</em></p>

<p><em>“Bokapnya kenapa?”</em></p>

<p><em>“Eng-enggak kok, Bang, ahaha ahahahaha- L-lupain aja ya, Bang Nyong, plis banget!”</em></p>

<p><em>“Iya, Kwon, lupain aja ya. Jangan tanya ke Wonwoo, nanti dia marah.”</em></p>

<p><em>“Oh, umm...”)</em></p>

<hr/>

<p>”...Bokap lo ke mana?”</p>

<p>Kerjapan mata. Kwon Soonyoung diam-diam menelan ludah, karena dia tidak bisa menggigit lidahnya sendiri. <em>Keceplosan. Keterusan.</em> Kebiasaan buruk anak Kwon yang susah dihilangkan meski berkali-kali sudah Jeon Wonwoo memperingatinya. Serta merta, dia menunduk, terlalu takut untuk terus menatap Jeon Wonwoo.</p>

<p>Kwon Soonyoung luput melihat bagaimana Jeon Wonwoo menolehkan kepalanya perlahan, amat perlahan, dalam paras yang tenang. Ingin terkejut, tapi sudah habis keterkejutannya akan tingkah laku Kwon Soonyoung. Nomor rekening, alamat rumah...apa alasan Wonwoo tidak mempercayai kalau Kwon Soonyoung tahu mengenai keluarganya? Mengenai masalah pribadinya?</p>

<p>“Lo—”</p>

<p>”—<em>ah!</em>“</p>

<p>Seketika, mereka berdua membeku.</p>

<p>==</p>

<p>”...K-Kak Han, ngh-”</p>

<p>“Gyu suka? Kalo aku, mmh, gini-”</p>

<p>”...<em>fuck</em>...”</p>

<p>”...suka?”</p>

<p>“Kak, Kak Han...Kak...”</p>

<p>“Hani. Panggil Hani aja. Panggil, mm, Hani...”</p>

<p>”...Ha...ngh, Hani...Hani, Hani!”</p>

<p>“Nggak apa nih, Gyu, kamu sekenceng itu? Sebelah kamarnya Wonwoo, kan?”</p>

<p>“Ah! Ng, nggak—Bang Won nggak di rumah—”</p>

<p>“<em>Good.</em>“</p>

<p>“HAN—”</p>

<p>==</p>

<p>.</p>

<p>...</p>

<p>.............</p>

<p><em>KEDENGERAN TAU, ANJENNGG!!!</em></p>

<p>“Uh...,” mau tak mau, wajah Kwon Soonyoung merah padam. Ia menunduk makin dalam, merunduk bagai kucing malu-malu.</p>

<p>Jeon Wonwoo, juga, salah tingkah. Cuping telinganya merona, walau urat nadi menebal di sisi keningnya. Mau ngamuk tapi pada dasarnya Mingyu tidak salah, karena Wonwoo bilang dia bakal keluar sepanjang siang dan Mingyu tidak tahu bahwa rencananya batal.</p>

<p>”......”</p>

<p>Rasanya <em>awkward</em> banget, sumpah. Wonwoo berdeham, suaranya agak serak.</p>

<p>”...Keluar yok?” tawarnya pada Kwon Soonyoung, yang masih menunduk. Malunya anak Kwon berlipat ganda. Setelah salah bicara, sekarang malah mendengar tetangga Jeon Wonwoo berbuat....<em>uuuhhhhhh</em>....</p>

<p>Perlahan, anak Kwon mengangguk.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/240-s7gc</guid>
      <pubDate>Fri, 14 May 2021 12:05:57 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>237.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/237?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[soonwoo&#xA;&#xA;&#34;Jeon Wonwoo.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm.&#34;&#xA;&#xA;&#34;...Lagi ngapain?&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo mendelik, menemukan sebuah kepala mengintip dari ambang pintunya. Kepala itu berwajah cemas, jelas-jelas menunggu jawaban dari yang ditanya. Wonwoo menghela napas.&#xA;&#xA;&#34;Lagi ngerjain tugas anak-anak.&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Ooh,&#34; hening sejenak. &#34;Dah maksi belom?&#34;&#xA;&#xA;Iya juga ya. Wonwoo lupa belum makan. Tadi pas nungguin Catherine cuma minum doang, itu pun air putih yang entah gimana caranya harganya melambung tinggi cuma gegara ditaro di dalem botol beling fancy. Udah gila emang dunia, ladang kapitalis semua.&#xA;&#xA;&#34;Belom.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue pesen pizza...uh...nggak apa kan? Udah otw sini sih...&#34;&#xA;&#xA;Menghela napas lagi, ia, akan ulah Kwon Soonyoung. Terlepas dari janjinya, anak itu tetap saja impulsif. Tapi, karena kali ini hasilnya bakal simbiosis mutualisme, Wonwoo pun mengamini.&#xA;&#xA;&#34;Oke.&#34;&#xA;&#xA;Paras anak itu seketika berubah ceria. &#34;Oke!&#34; serunya. &#34;Ntar kalo udah sampe, gue kasi tau yah!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm.&#34;&#xA;&#xA;Kemudian, wajah itu menghilang, meninggalkan Wonwoo kembali tenggelam dalam kesibukan.&#xA;&#xA;Pizzanya enak. Wonwoo kira yang datang bakalan pizza komersial harga 100 ribuan dapet sepaket besar, ternyata dia meremehkan kemampuan Kwon Soonyoung menghamburkan duit untuk hal yang nggak perlu.&#xA;&#xA;(&#34;Enak nggak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mayan. Berapaan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak tau. 400-an kayaknya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;UHUK!&#34;&#xA;&#xA;&#34;EH, ATI-ATI--&#34;&#xA;&#xA;&#34;PIZZA APAAN SEGITU??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh?? Uh, pizzanya 200an gue beli dua...?&#34;)&#xA;&#xA;Geleng-geleng kepala. Untungnya Kwon Soonyoung segera mengklarifikasi kalau ini biaya makan personal dan dia bagi makanannya ke Wonwoo, alias bukan menambah utang Wonwoo ke dia. Beneran deh, semakin lama Wonwoo menghabiskan waktu sama anak Kwon, makin rusak kayaknya standar harga di otak. Kwon Soonyoung itu bahaya banget buat logika Jeon Wonwoo.&#xA;&#xA;&#34;Jeon Wonwoo...&#34;&#xA;&#xA;Lagi-lagi, kepala itu mengintip dari ambang pintu. Nggak tau udah berapa kali Wonwoo menghela napas.&#xA;&#xA;&#34;Apa lagi sihhhh....&#34;&#xA;&#xA;&#34;S-sori, umm...,&#34; agak kelabakan menjawab. &#34;...bosen nih...&#34;&#xA;&#xA;Ya iyalah bosen. Di rumah Jeon, cuma ada televisi kecil sebiji. Udah. Duduknya ngemper di lantai pula.&#xA;&#xA;&#34;Kalo bosen, pulang gih.&#34;&#xA;&#xA;Wajah itu merengut. Hadeeeh pusing, ketahuan banget maunya apa. Capek, Wonwoo mah, capek...&#xA;&#xA;&#34;Sini.&#34;&#xA;&#xA;Sumringah sedikit, Kwon Sooonyoung hampir melompat masuk kamar Wonwoo, lalu duduk di sebelahnya. &#34;Lo nggak capek nulisin tugas temen-temen lo?&#34; langsung kepo sambil menelisik kertas-kertas yang bertebaran di meja. Selain tugas, ada juga fotokopi catetan yang udah dikasih post it nama masing-masing. Rupanya jualan fotokopi catetannya juga, si Wonwoo.&#xA;&#xA;&#34;Capek,&#34; ya iya. &#34;Tapi daripada gue opname lagi kayak kemaren terus ngutang sama lo lagi, mending capek nulis ginian.&#34; Dia diam sejenak sebelum memutuskan untuk melanjutkan. &#34;Biarin dapetnya nggak seberapa, lumayan buat idup gue. Buat beli bubur sama odol.&#34;&#xA;&#xA;Kwon Soonyoung bergumam. Kemudian, untuk sesaat, kamar itu hanya dipenuhi oleh suara goresan bolpen pada kertas juga jalannya jarum jam dinding. Karena nggak ada kursi, Soonyoung bergerak sedikit agar punggungnya bisa bersandar di sisi ranjang Wonwoo, seperti posisi Wonwoo di sebelahnya saat ini.&#xA;&#xA;&#34;Jeon Wonwoo...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Boleh nanya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm?&#34;&#xA;&#xA;&#34;...Bokap lo ke mana?&#34;&#xA;&#xA;Kerjapan mata.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:soonwoo" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">soonwoo</span></a></p>

<p>“Jeon Wonwoo.”</p>

<p>“Hmm.”</p>

<p>”...Lagi ngapain?”</p>

<p>Wonwoo mendelik, menemukan sebuah kepala mengintip dari ambang pintunya. Kepala itu berwajah cemas, jelas-jelas menunggu jawaban dari yang ditanya. Wonwoo menghela napas.</p>

<p>“Lagi ngerjain tugas anak-anak.”</p>



<p>“Ooh,” hening sejenak. “Dah maksi belom?”</p>

<p>Iya juga ya. Wonwoo lupa belum makan. Tadi pas nungguin Catherine cuma minum doang, itu pun air putih yang entah gimana caranya harganya melambung tinggi cuma gegara ditaro di dalem botol beling fancy. Udah gila emang dunia, ladang kapitalis semua.</p>

<p>“Belom.”</p>

<p>“Gue pesen pizza...uh...nggak apa kan? Udah otw sini sih...”</p>

<p>Menghela napas lagi, ia, akan ulah Kwon Soonyoung. Terlepas dari janjinya, anak itu tetap saja impulsif. Tapi, karena kali ini hasilnya bakal simbiosis mutualisme, Wonwoo pun mengamini.</p>

<p>“Oke.”</p>

<p>Paras anak itu seketika berubah ceria. “Oke!” serunya. “Ntar kalo udah sampe, gue kasi tau yah!”</p>

<p>“Hmm.”</p>

<p>Kemudian, wajah itu menghilang, meninggalkan Wonwoo kembali tenggelam dalam kesibukan.</p>

<p>==</p>

<p>Pizzanya enak. Wonwoo kira yang datang bakalan pizza komersial harga 100 ribuan dapet sepaket besar, ternyata dia meremehkan kemampuan Kwon Soonyoung menghamburkan duit untuk hal yang nggak perlu.</p>

<p>(“Enak nggak?”</p>

<p>“Mayan. Berapaan?”</p>

<p>“Nggak tau. 400-an kayaknya.”</p>

<p>“UHUK!”</p>

<p>“EH, ATI-ATI—”</p>

<p>“PIZZA APAAN SEGITU??”</p>

<p>“Eh?? Uh, pizzanya 200an gue beli dua...?”)</p>

<p>Geleng-geleng kepala. Untungnya Kwon Soonyoung segera mengklarifikasi kalau ini biaya makan personal dan dia bagi makanannya ke Wonwoo, alias bukan menambah utang Wonwoo ke dia. Beneran deh, semakin lama Wonwoo menghabiskan waktu sama anak Kwon, makin rusak kayaknya standar harga di otak. Kwon Soonyoung itu bahaya banget buat logika Jeon Wonwoo.</p>

<p>“Jeon Wonwoo...”</p>

<p>Lagi-lagi, kepala itu mengintip dari ambang pintu. Nggak tau udah berapa kali Wonwoo menghela napas.</p>

<p>“Apa lagi sihhhh....”</p>

<p>“S-sori, umm...,” agak kelabakan menjawab. “...bosen nih...”</p>

<p>Ya iyalah bosen. Di rumah Jeon, cuma ada televisi kecil sebiji. Udah. Duduknya ngemper di lantai pula.</p>

<p>“Kalo bosen, pulang gih.”</p>

<p>Wajah itu merengut. Hadeeeh pusing, ketahuan banget maunya apa. Capek, Wonwoo mah, capek...</p>

<p>“Sini.”</p>

<p>Sumringah sedikit, Kwon Sooonyoung hampir melompat masuk kamar Wonwoo, lalu duduk di sebelahnya. “Lo nggak capek nulisin tugas temen-temen lo?” langsung kepo sambil menelisik kertas-kertas yang bertebaran di meja. Selain tugas, ada juga fotokopi catetan yang udah dikasih post it nama masing-masing. Rupanya jualan fotokopi catetannya juga, si Wonwoo.</p>

<p>“Capek,” ya iya. “Tapi daripada gue opname lagi kayak kemaren terus ngutang sama lo lagi, mending capek nulis ginian.” Dia diam sejenak sebelum memutuskan untuk melanjutkan. “Biarin dapetnya nggak seberapa, lumayan buat idup gue. Buat beli bubur sama odol.”</p>

<p>Kwon Soonyoung bergumam. Kemudian, untuk sesaat, kamar itu hanya dipenuhi oleh suara goresan bolpen pada kertas juga jalannya jarum jam dinding. Karena nggak ada kursi, Soonyoung bergerak sedikit agar punggungnya bisa bersandar di sisi ranjang Wonwoo, seperti posisi Wonwoo di sebelahnya saat ini.</p>

<p>“Jeon Wonwoo...”</p>

<p>“Hmm.”</p>

<p>“Boleh nanya?”</p>

<p>“Hmm?”</p>

<p>”...Bokap lo ke mana?”</p>

<p>Kerjapan mata.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/237</guid>
      <pubDate>Mon, 10 May 2021 03:50:43 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>236.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/236?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[soonwoo&#xA;&#xA;Wajah Mingyu tak ayal memerah. Anak itu menunduk, cukup salah tingkah. Ia memainkan ujung bajunya, dengan cemas menanti reaksi sang kekasih. Jeonghan masih memasang paras takjub. Bibirnya membuka dan matanya membelalak. Iya sih, dia ingat kalau dirinya yang bilang sendiri ke Mingyu kalau preferensinya itu switch, alias dia suka menjadi keduanya.&#xA;&#xA;Tidak ada yang Jeonghan benci lebih dari asumsi orang-orang saat melihat wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang ramping, lalu menganggap dia sebagai ultimate bottom.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Well...ada sih yang Jeonghan benci lebih dari itu, yakni mantannya yang memaksanya untuk terus menjadi pihak penerima tanpa sekalipun sudi bertukar posisi dengan Jeonghan. Pengecut. Cuma pengecut yang ngakunya lelaki, tapi malah takut ketika dimasuki di belakang sana. Toxic masculinity sampah.&#xA;&#xA;Ia lega karena, dengan Mingyu, ia bisa mengutarakannya sebelum mereka meniti lebih jauh lagi hubungan mereka dan Mingyu memahaminya, menerimanya. Tapi, jujur saja, Jeonghan tidak pernah mengira bahwa &#39;malam pertama&#39; yang Kim Mingyu, lelaki 17 tahun dengan tinggi badan 187cm dan berat 70kg dan ukuran kaki 41,5, maksud adalah dirinya kehilangan keperawanan di belakang sana.&#xA;&#xA;Maksudnya....have you seen Kim Mingyu?&#xA;&#xA;Siapa sangka, dengan tubuh jelas-jelas kelebihan testosteron di usia yang masih belia, bersedia menyerahkan dirinya ke tangan kekasihnya yang jauh, jauh lebih mungil dan jauh, jauh lebih ramping. Jeonghan meneguk ludah, entah mengapa menjadi lebih bersemangat. Tak sabar. Bagaimana rasanya memiliki seorang lelaki bertubuh besar dan lebih kuat darinya, malah berada di bawah pengampunannya?&#xA;&#xA;Dominasi. Mingyu menyerahkannya pada dirinya di atas pinggan perak. Setiap lelaki pasti akan membuncah egonya, tanpa terkecuali Jeonghan.&#xA;&#xA;&#34;Kamu yakin...?&#34; tanyanya, hati-hati.&#xA;&#xA;Mingyu mengangguk. Mukanya masih memerah, menggemaskan sekali. Andai bahasan mereka bukan hal seserius ini, Jeonghan pasti sudah menggoda kekasihnya itu.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa...? Maksudku, aku pikir kamu mau...yah...&#34;&#xA;&#xA;&#34;S-soalnya,&#34; Mingyu menjawab dengan terbata-bata. &#34;Gyu kan belum pernah, Kak. Gyu nggak tau apa yang harus Gyu lakuin. Emang sih udah riset juga, nyari di inet, tapi kan...teori sama praktek itu beda.&#34;&#xA;&#xA;Lalu, anak lelaki itu, yang besar namun menggemaskan itu, menatap Jeonghan malu-malu dari bawah bulu matanya. Lidahnya menjulur sedikit, menjilat bibirnya yang kering dengan gugup.&#xA;&#xA;&#34;Gyu...Gyu nggak mau nyakitin Kakak. Makanya, biar aman, Kakak aja yang ajarin Gyu, biar Gyu nggak, eh, ada nyakitin Kakak, gitu...&#34;&#xA;&#xA;Oh. Oh. Kim Mingyu.&#xA;&#xA;&#34;Kamu bener-bener yakin? Bener-bener yakin banget mau aku yang ambil perawan kamu di belakang sana?&#34;&#xA;&#xA;Malunya menjadi-jadi. Kim Mingyu mendengking, sementara rona merah menjalar ke cuping telinga serta lehernya. Namun, bagi Jeonghan, Mingyu nampak semakin dan semakin menggemaskan saja.&#xA;&#xA;&#34;Kak Han...Gyu malu jawabnya ah...&#34;&#xA;&#xA;Oh, Kim Mingyu...&#xA;&#xA;Bak dibanjuri ratusan hati yang terbang, Yoon Jeonghan pun tak kuasa menahan diri untuk tidak merenggut kepala kekasihnya lalu menariknya paksa sampai bibir mereka berbenturan. Mingyu meringis karena sakit yang terasa. Sepertinya luka, tapi bibir Jeonghan membuatnya dengan cepat melupakan fakta tersebut. Tak sampai beberapa detik, Mingyu menaikkan Jeonghan agar duduk di pangkuannya. Lengan melipat di pinggul kekasihnya. Bagian depan celana mereka pun bergesekan.&#xA;&#xA;Mingyu mengerang. Jeonghan mendesah, menggigiti sisi leher Mingyu, sebelum dia balik mengecup bibir dan berkata dalam suara parau, &#34;Ke kamar?&#34;&#xA;&#xA;Mingyu terkekeh. Ia senang. Berada dalam kontrol lelaki yang memiliki seluruh hatinya, ia sangat senang. Bulu kuduk di punggungnya berdiri akan antisipasi. Dia tahu Jeonghan akan sanggup mendominasinya sebagai top yang baik. Tapi, sebelum Mingyu merintih di bawah kecupan, jilatan, sentuhan dan gigitan sang kekasih, dia akan memanfaatkan besar tubuh dan tenaganya untuk menggendong Jeonghan sampai ke kamar tidurnya.&#xA;&#xA;So he did.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:soonwoo" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">soonwoo</span></a></p>

<p>Wajah Mingyu tak ayal memerah. Anak itu menunduk, cukup salah tingkah. Ia memainkan ujung bajunya, dengan cemas menanti reaksi sang kekasih. Jeonghan masih memasang paras takjub. Bibirnya membuka dan matanya membelalak. Iya sih, dia ingat kalau dirinya yang bilang sendiri ke Mingyu kalau preferensinya itu switch, alias dia suka menjadi keduanya.</p>

<p>Tidak ada yang Jeonghan benci lebih dari asumsi orang-orang saat melihat wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang ramping, lalu menganggap dia sebagai ultimate bottom.</p>



<p>Well...ada sih yang Jeonghan benci lebih dari itu, yakni mantannya yang memaksanya untuk terus menjadi pihak penerima tanpa sekalipun sudi bertukar posisi dengan Jeonghan. <em>Pengecut</em>. Cuma pengecut yang ngakunya lelaki, tapi malah takut ketika dimasuki di belakang sana. <em>Toxic masculinity sampah.</em></p>

<p>Ia lega karena, dengan Mingyu, ia bisa mengutarakannya sebelum mereka meniti lebih jauh lagi hubungan mereka dan Mingyu memahaminya, menerimanya. Tapi, jujur saja, Jeonghan tidak pernah mengira bahwa <em>&#39;malam pertama&#39;</em> yang Kim Mingyu, lelaki 17 tahun dengan tinggi badan 187cm dan berat 70kg dan ukuran kaki 41,5, maksud adalah dirinya kehilangan keperawanan di belakang sana.</p>

<p>Maksudnya....<em>have you seen Kim Mingyu</em>?</p>

<p>Siapa sangka, dengan tubuh jelas-jelas kelebihan testosteron di usia yang masih belia, bersedia menyerahkan dirinya ke tangan kekasihnya yang jauh, jauh lebih mungil dan jauh, jauh lebih ramping. Jeonghan meneguk ludah, entah mengapa menjadi lebih bersemangat. Tak sabar. Bagaimana rasanya memiliki seorang lelaki bertubuh besar dan lebih kuat darinya, malah berada di bawah pengampunannya?</p>

<p>Dominasi. Mingyu menyerahkannya pada dirinya di atas pinggan perak. Setiap lelaki pasti akan membuncah egonya, tanpa terkecuali Jeonghan.</p>

<p>“Kamu yakin...?” tanyanya, hati-hati.</p>

<p>Mingyu mengangguk. Mukanya masih memerah, menggemaskan sekali. Andai bahasan mereka bukan hal seserius ini, Jeonghan pasti sudah menggoda kekasihnya itu.</p>

<p>“Kenapa...? Maksudku, aku pikir kamu mau...yah...”</p>

<p>“S-soalnya,” Mingyu menjawab dengan terbata-bata. “Gyu kan belum pernah, Kak. Gyu nggak tau apa yang harus Gyu lakuin. Emang sih udah riset juga, nyari di inet, tapi kan...teori sama praktek itu beda.”</p>

<p>Lalu, anak lelaki itu, yang besar namun menggemaskan itu, menatap Jeonghan malu-malu dari bawah bulu matanya. Lidahnya menjulur sedikit, menjilat bibirnya yang kering dengan gugup.</p>

<p>“Gyu...Gyu nggak mau nyakitin Kakak. Makanya, biar aman, Kakak aja yang ajarin Gyu, biar Gyu nggak, eh, ada nyakitin Kakak, gitu...”</p>

<p>Oh. <em>Oh. Kim Mingyu.</em></p>

<p>“Kamu bener-bener yakin? Bener-bener yakin banget mau aku yang ambil perawan kamu di belakang sana?”</p>

<p>Malunya menjadi-jadi. Kim Mingyu mendengking, sementara rona merah menjalar ke cuping telinga serta lehernya. Namun, bagi Jeonghan, Mingyu nampak semakin dan <em>semakin</em> menggemaskan saja.</p>

<p>“Kak Han...Gyu malu jawabnya ah...”</p>

<p><em>Oh, Kim Mingyu...</em></p>

<p>Bak dibanjuri ratusan hati yang terbang, Yoon Jeonghan pun tak kuasa menahan diri untuk tidak merenggut kepala kekasihnya lalu menariknya paksa sampai bibir mereka berbenturan. Mingyu meringis karena sakit yang terasa. Sepertinya luka, tapi bibir Jeonghan membuatnya dengan cepat melupakan fakta tersebut. Tak sampai beberapa detik, Mingyu menaikkan Jeonghan agar duduk di pangkuannya. Lengan melipat di pinggul kekasihnya. Bagian depan celana mereka pun bergesekan.</p>

<p>Mingyu mengerang. Jeonghan mendesah, menggigiti sisi leher Mingyu, sebelum dia balik mengecup bibir dan berkata dalam suara parau, “Ke kamar?”</p>

<p>Mingyu terkekeh. Ia senang. Berada dalam kontrol lelaki yang memiliki seluruh hatinya, ia sangat senang. Bulu kuduk di punggungnya berdiri akan antisipasi. Dia tahu Jeonghan akan sanggup mendominasinya sebagai top yang baik. Tapi, sebelum Mingyu merintih di bawah kecupan, jilatan, sentuhan dan gigitan sang kekasih, dia akan memanfaatkan besar tubuh dan tenaganya untuk menggendong Jeonghan sampai ke kamar tidurnya.</p>

<p>So he did.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/236</guid>
      <pubDate>Sun, 09 May 2021 16:02:42 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>235.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/235-jn5s?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[soonwoo&#xA;&#xA;&#34;Hmm?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kenapa, Gyu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Enggak...Gyu kok ngerasa ngedenger suara pintu...&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Jeonghan mengangkat kepalanya dari bahu Mingyu. &#34;Jangan-jangan keluarga kamu pulang?&#34; tanyanya cemas.&#xA;&#xA;Mingyu cuma ketawa. &#34;Enggak kok. Perasaan Gyu aja kali, Kak,&#34; ucapnya santai. Dia menarik lagi kepala Jeonghan dan membaringkannya di bahu, kembali ke posisi sebelumnya.&#xA;&#xA;Setelah makan siang yang dipesan via layanan pesan antar, mereka memutuskan untuk menonton film di ruang tengah. Memang niat awal mereka kencan hari ini adalah untuk membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih tinggi, namun rasanya aneh banget kalau datang-datang langsung, for the lack of better word, begituan. Jadi, mengesampingkan atmosfer awkward yang sempat santer saat mereka berdiri di pintu depan, saling menyapa dalam gugup kentara, mereka sepakat untuk menikmati saja hari ini sebagai hari pacaran seperti biasa. Kalau berakhir di tempat tidur, maka terjadilah. Kalau tidak juga tidak apa-apa. Mereka menyerahkannya pada arus nasib.&#xA;&#xA;Fakta tersebut membuat Mingyu rileks seketika. Dia pun bolak-balik dari ruang tengah, ke dapur, ke kamar, dalam usahanya menyamankan Jeonghan. Mengambilkan minuman dingin, bantal empuk untuk senderan, bahkan piring serta peralatan makan saat makan siang mereka tiba. Jeonghan hanya tertawa melihat kekasihnya itu sibuk sendiri dan, hapal benar kalau Mingyu senang memanjakan dirinya, ia membiarkan Mingyu melakukannya.&#xA;&#xA;Rasanya aneh, dimanjakan oleh lelaki yang lebih muda darimu. Jeonghan merasa spesial.&#xA;&#xA;Tentunya di waktu yang lain, ketika Mingyu terlalu sibuk untuk mengerjakan semua sendirian, Jeonghan langsung bergerak untuk membantu tanpa banyak bicara ataupun bertanya. Bila Mingyu sibuk memasak, Jeonghan akan mengambilkan piring tempat makanan disajikan dan mengatur meja makan. Bila Mingyu sedang mengangkat sesuatu yang berat, Jeonghan akan membukakan pintu dan, tidak lupa, mengecup bibir anak itu ketika sudah melewati pintu.&#xA;&#xA;Hubungan mereka begitulah adanya. Sesuatu yang timbul tanpa banyak bicara. Entah Jeonghan berbuat kebaikan apa dalam hidupnya sampai bisa mendapatkan Mingyu, yang jelas dia sangat, amat bersyukur karenanya.&#xA;&#xA;(Dan dia tidak tahu bahwa Mingyu berpikiran persis sama dengannya sampai bertahun-tahun kemudian ketika Mingyu mencurahkan isi hatinya sambil memeluk Jeonghan dari belakang, saling berbagi bantal di tempat tidur mereka. Tapi, ah, itu masih kisah yang nun jauh di sana.)&#xA;&#xA;&#34;Mingyu...,&#34; menghela napas, kepalanya mengusrek bahu sang anak.&#xA;&#xA;&#34;Iya, Kak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mingyu kan masih 17 ya.&#34;&#xA;&#xA;Mendadak, bahu tersebut menegang.&#xA;&#xA;&#34;Jujur ya. Jujur banget nih,&#34; Jeonghan pun meneruskan. &#34;Aku takut, Gyu. Kamu masih muda banget. Bukannya aku bilang kamu anak-anak ato apa ya, bukan itu maksud aku.&#34; Ia buru-buru menjelaskan. Kepalanya menjauh agar bisa mendongak menatap Mingyu. &#34;Tapi aku takut. Aku pacar pertama kamu kan?&#34;&#xA;&#xA;Mingyu diam saja meski Jeonghan menyentuh halus pipinya.&#xA;&#xA;&#34;Aku takut kalo aku yang ngambil pengalaman pertama kamu, kamunya nanti nyesel...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jadi, Kak Han maunya pengalaman pertama Gyu sama orang lain?&#34;&#xA;&#xA;Lidahnya kelu. Bukan gitu juga maksudku.&#xA;&#xA;Melihat bagaimana kekasihnya itu tidak bisa berkata-kata, Mingyu mendengus geli. Ia berdeham, mengusir rasa gelinya lalu berubah ke mode lebih serius. &#34;Kak Han, kalo Gyu disuruh milih, Gyu bakal milih pengalaman pertama Gyu sama Kakak terus. Kak Han tau nggak, kalo ciuman pertama Gyu sama Kakak?&#34; tanyanya.&#xA;&#xA;Terkesiap, Yoon Jeonghan, mendengar itu.&#xA;&#xA;&#34;...Masa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya. Tau juga nggak, kalo cinta pertama Gyu itu Kakak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mingyu...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kak Han...,&#34; Kim Mingyu tersenyum. Lembut, lembut sekali. Sama lembutnya dengan sentuhan tangan yang mengambil tangan Jeonghan dari pipinya untuk dikecupnya penuh sayang. &#34;Cinta pertama Gyu itu Kakak. Ciuman pertama Gyu sama Kakak. Gyu mau pengalaman pertama Gyu juga sama Kakak. Dan, Kak,&#xA;&#xA;kalo Gyu beneran hoki banget,&#xA;&#xA;Gyu juga mau semua yang terakhir juga sama Kakak...&#34;&#xA;&#xA;Jeonghan lebih tua. Lebih luas mengenal dunia. Telah bertemu berbagai macam orang, dari yang brengsek parah sampai super naif. Pengalamannya jauh lebih banyak daripada sekedar anak usia 17 yang masih terkukung dinding-dinding bangunan sekolahnya. Jeonghan tahu &#39;selamanya&#39; adalah bullshit.&#xA;&#xA;Tanpa terkecuali, semua orang akan merasa bosan dalam rentang hubungan 1-3 tahun. Masuk tahun 4 ke atas, yang menyatukan mereka bukanlah cinta, bukan lagi rasa suka antara satu sama lain. Yang menyatukan mereka adalah persahabatan, satu paham dan pemikiran, dan, apabila itu juga telah lenyap, maka yang menyatukan mereka adalah kewajiban: rumah tangga, anak, hewan peliharaan.&#xA;&#xA;Jeonghan jauh dari kata naif, tapi dia juga bukan orang brengsek. Ia melihat sepasang mata memandanginya dengan sungguh-sungguh, penuh harapan akan masa depan, dan ia tidak sampai hati mengutarakan kenyataan pada pemilik bola mata seindah itu.&#xA;&#xA;Lagipula...&#xA;&#xA;&#34;Kak Han.&#34;&#xA;&#xA;Pikirannya buyar. Ia mendongak lagi, sedikit, menangkap pandangan Mingyu yang lurus pada matanya.&#xA;&#xA;&#34;Gyu mau Kakak yang  di dalem Gyu.&#34;&#xA;&#xA;...kalau boleh jujur, Jeonghan juga berharap yang sama.&#xA;&#xA;Kerjapan mata beberapa kali.&#xA;&#xA;&#34;...Hah?&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:soonwoo" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">soonwoo</span></a></p>

<p>“Hmm?”</p>

<p>“Kenapa, Gyu?”</p>

<p>“Enggak...Gyu kok ngerasa ngedenger suara pintu...”</p>



<p>Jeonghan mengangkat kepalanya dari bahu Mingyu. “Jangan-jangan keluarga kamu pulang?” tanyanya cemas.</p>

<p>Mingyu cuma ketawa. “Enggak kok. Perasaan Gyu aja kali, Kak,” ucapnya santai. Dia menarik lagi kepala Jeonghan dan membaringkannya di bahu, kembali ke posisi sebelumnya.</p>

<p>Setelah makan siang yang dipesan via layanan pesan antar, mereka memutuskan untuk menonton film di ruang tengah. Memang niat awal mereka kencan hari ini adalah untuk membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih tinggi, namun rasanya aneh banget kalau datang-datang langsung, for the lack of better word, <em>begituan</em>. Jadi, mengesampingkan atmosfer awkward yang sempat santer saat mereka berdiri di pintu depan, saling menyapa dalam gugup kentara, mereka sepakat untuk menikmati saja hari ini sebagai hari pacaran seperti biasa. Kalau berakhir di tempat tidur, maka terjadilah. Kalau tidak juga tidak apa-apa. Mereka menyerahkannya pada arus nasib.</p>

<p>Fakta tersebut membuat Mingyu rileks seketika. Dia pun bolak-balik dari ruang tengah, ke dapur, ke kamar, dalam usahanya menyamankan Jeonghan. Mengambilkan minuman dingin, bantal empuk untuk senderan, bahkan piring serta peralatan makan saat makan siang mereka tiba. Jeonghan hanya tertawa melihat kekasihnya itu sibuk sendiri dan, hapal benar kalau Mingyu senang memanjakan dirinya, ia membiarkan Mingyu melakukannya.</p>

<p>Rasanya aneh, dimanjakan oleh lelaki yang lebih muda darimu. Jeonghan merasa <em>spesial</em>.</p>

<p>Tentunya di waktu yang lain, ketika Mingyu terlalu sibuk untuk mengerjakan semua sendirian, Jeonghan langsung bergerak untuk membantu tanpa banyak bicara ataupun bertanya. Bila Mingyu sibuk memasak, Jeonghan akan mengambilkan piring tempat makanan disajikan dan mengatur meja makan. Bila Mingyu sedang mengangkat sesuatu yang berat, Jeonghan akan membukakan pintu dan, tidak lupa, mengecup bibir anak itu ketika sudah melewati pintu.</p>

<p>Hubungan mereka begitulah adanya. Sesuatu yang timbul tanpa banyak bicara. Entah Jeonghan berbuat kebaikan apa dalam hidupnya sampai bisa mendapatkan Mingyu, yang jelas dia sangat, amat bersyukur karenanya.</p>

<p><em>(Dan dia tidak tahu bahwa Mingyu berpikiran persis sama dengannya sampai bertahun-tahun kemudian ketika Mingyu mencurahkan isi hatinya sambil memeluk Jeonghan dari belakang, saling berbagi bantal di tempat tidur mereka. Tapi, ah, itu masih kisah yang nun jauh di sana.)</em></p>

<p>“Mingyu...,” menghela napas, kepalanya mengusrek bahu sang anak.</p>

<p>“Iya, Kak?”</p>

<p>“Mingyu kan masih 17 ya.”</p>

<p>Mendadak, bahu tersebut menegang.</p>

<p>“Jujur ya. Jujur banget nih,” Jeonghan pun meneruskan. “Aku takut, Gyu. Kamu masih muda banget. Bukannya aku bilang kamu anak-anak ato apa ya, bukan itu maksud aku.” Ia buru-buru menjelaskan. Kepalanya menjauh agar bisa mendongak menatap Mingyu. “Tapi aku takut. Aku pacar pertama kamu kan?”</p>

<p>Mingyu diam saja meski Jeonghan menyentuh halus pipinya.</p>

<p>“Aku takut kalo aku yang ngambil pengalaman pertama kamu, kamunya nanti nyesel...”</p>

<p>“Jadi, Kak Han maunya pengalaman pertama Gyu sama orang lain?”</p>

<p>Lidahnya kelu. <em>Bukan gitu juga maksudku.</em></p>

<p>Melihat bagaimana kekasihnya itu tidak bisa berkata-kata, Mingyu mendengus geli. Ia berdeham, mengusir rasa gelinya lalu berubah ke mode lebih serius. “Kak Han, kalo Gyu disuruh milih, Gyu bakal milih pengalaman pertama Gyu sama Kakak terus. Kak Han tau nggak, kalo ciuman pertama Gyu sama Kakak?” tanyanya.</p>

<p>Terkesiap, Yoon Jeonghan, mendengar itu.</p>

<p>”...Masa?”</p>

<p>“Iya. Tau juga nggak, kalo cinta pertama Gyu itu Kakak?”</p>

<p>“Mingyu...”</p>

<p>“Kak Han...,” Kim Mingyu tersenyum. Lembut, lembut sekali. Sama lembutnya dengan sentuhan tangan yang mengambil tangan Jeonghan dari pipinya untuk dikecupnya penuh sayang. “Cinta pertama Gyu itu Kakak. Ciuman pertama Gyu sama Kakak. Gyu mau pengalaman pertama Gyu juga sama Kakak. Dan, Kak,</p>

<p>kalo Gyu beneran hoki banget,</p>

<p>Gyu juga mau semua yang terakhir juga sama Kakak...”</p>

<p>Jeonghan lebih tua. Lebih luas mengenal dunia. Telah bertemu berbagai macam orang, dari yang brengsek parah sampai super naif. Pengalamannya jauh lebih banyak daripada sekedar anak usia 17 yang masih terkukung dinding-dinding bangunan sekolahnya. Jeonghan tahu <em>&#39;selamanya&#39;</em> adalah <em>bullshit</em>.</p>

<p>Tanpa terkecuali, semua orang akan merasa bosan dalam rentang hubungan 1-3 tahun. Masuk tahun 4 ke atas, yang menyatukan mereka bukanlah cinta, bukan lagi rasa suka antara satu sama lain. Yang menyatukan mereka adalah persahabatan, satu paham dan pemikiran, dan, apabila itu juga telah lenyap, maka yang menyatukan mereka adalah kewajiban: rumah tangga, anak, hewan peliharaan.</p>

<p>Jeonghan jauh dari kata naif, tapi dia juga bukan orang brengsek. Ia melihat sepasang mata memandanginya dengan sungguh-sungguh, penuh harapan akan masa depan, dan ia tidak sampai hati mengutarakan kenyataan pada pemilik bola mata seindah itu.</p>

<p><em>Lagipula...</em></p>

<p>“Kak Han.”</p>

<p>Pikirannya buyar. Ia mendongak lagi, sedikit, menangkap pandangan Mingyu yang lurus pada matanya.</p>

<p>“Gyu mau Kakak yang  di dalem Gyu.”</p>

<p><em>...kalau boleh jujur, Jeonghan juga berharap yang sama.</em></p>

<p>Kerjapan mata beberapa kali.</p>

<p>”...<em>Hah?</em>“</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/235-jn5s</guid>
      <pubDate>Sun, 09 May 2021 12:46:33 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>234.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/234-j8qz?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[soonwoo&#xA;&#xA;Begitu sampai rumah, langkah Wonwoo terhenti. Ada onggokan sesuatu persis di depan pintu rumahnya. Warnanya hitam dan besar. Meneguk ludah, anak itu mendekat, mendekat...dan menemukan, bukan suatu benda, namun seseorang.&#xA;&#xA;Anak terkaya di negeri ini, mungkin.&#xA;&#xA;&#34;Kwon?&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Onggokan itu berkedik, lalu melonjak. Ada kepala menyembul keluar. Rupanya anak Kwon itu duduk mengerucut seperti fetus dan menarik jaket besarnya yang berwarna hitam sampai membungkus keseluruhan dirinya. Matanya mengerjap-ngerjap cepat seperti orang baru bangun tidur. Dan mungkin memang begitulah adanya, sebab Kwon Soonyoung menguap lebar sedetik kemudian.&#xA;&#xA;Wonwoo memandanginya dalam diam sambil kedua tangan masuk ke saku.&#xA;&#xA;&#34;Lo ngapain tidur depan rumah gue?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mmm...,&#34; dikuceknya mata. &#34;Gue nungguin lo...&#34;&#xA;&#xA;&#34;...Buat?&#34;&#xA;&#xA;Tapi tidak ada jawaban. Anak Kwon hanya berdiri perlahan. Ditepukinya pakaian, sok sibuk. Entah pura-pura tidak dengar atau memang tidak mau menjawab, yang jelas Wonwoo tidak akan membuang waktu dengan percuma untuk kedua kalinya. Dia tadi sudah menunggui Catherine selama setengah jam di tempat mereka janjian, hanya untuk dibatalkan mendadak. Dia tidak akan marah karena sepertinya alasan pembatalan itu memang urgent dan penting, tetapi bohong kalau dibilang Wonwoo tidak kesal karena waktunya sudah terbuang sia-sia.&#xA;&#xA;Ya sudahlah. Mendingan dia masuk dan meneruskan kerjaan dia ngebuatin tugasnya anak-anak. Lumayan kan nyicil, biar Senin sudah ada duit masuk lagi.&#xA;&#xA;Wonwoo menepuk-nepuk saku jins, lalu saku kemeja denimnya. Kunci rumah ia temukan di sana. Ia hendak memasukkan kunci tersebut ke lubang kuncinya ketika ia merasakan tatapan dari belakang kiri.&#xA;&#xA;Anak Kwon. Right. Wonwoo sempat lupa.&#xA;&#xA;&#34;...Lo ada perlu sama gue?&#34; sebelum dia membuka kunci, dia berbalik, menghadap anak itu secara langsung.&#xA;&#xA;Malah anak itu diam saja.&#xA;&#xA;&#34;Kalo nggak ada, gue mau masuk.&#34;&#xA;&#xA;Masih diam saja.&#xA;&#xA;??? Maunya apa sih???&#xA;&#xA;&#34;Lidah lo dimakan kucing?&#34;&#xA;&#xA;Kali ini, anak Kwon menelengkan kepala karena tidak paham apa maksud Jeon Wonwoo. Gemas (bukan secara positif), Wonwoo menahan diri untuk tidak mengusir anak itu langsung. Ia menghirup napas lalu menghelanya lagi dengan berat.&#xA;&#xA;&#34;Gue udah ketemu lo tiap makan siang dan sekarang, hari Sabtu pun, gue harus banget ketemu lo lagi?&#34; celotehnya kesal. Jeon Wonwoo berbalik, dengan cepat memasukkan kunci, memutarnya hingga berbunyi &#39;KLEK!&#39; kencang, dan menekan kenop hingga pintu mengayun terbuka. Tapi, bukannya langsung masuk, dia minggir ke sisi kanan.&#xA;&#xA;&#34;Masuk.&#34;&#xA;&#xA;Perintahnya pada Kwon Soonyoung yang menatap dirinya dan pintu yang terbuka itu bergantian.&#xA;&#xA;&#34;Cepet.&#34;&#xA;&#xA;Di bawah pelototan galak Wonwoo, anak Kwon akhirnya menurut dan mengangguk sedikit padanya sebelum melewati pintu. Wonwoo menyusulnya dan menutup pintu, secara otomatis memisahkan kediaman keluarga Jeon dari dunia luar.&#xA;&#xA;Klek.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:soonwoo" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">soonwoo</span></a></p>

<p>Begitu sampai rumah, langkah Wonwoo terhenti. Ada onggokan sesuatu persis di depan pintu rumahnya. Warnanya hitam dan besar. Meneguk ludah, anak itu mendekat, mendekat...dan menemukan, bukan suatu benda, namun seseorang.</p>

<p>Anak terkaya di negeri ini, mungkin.</p>

<p>“Kwon?”</p>



<p>Onggokan itu berkedik, lalu melonjak. Ada kepala menyembul keluar. Rupanya anak Kwon itu duduk mengerucut seperti fetus dan menarik jaket besarnya yang berwarna hitam sampai membungkus keseluruhan dirinya. Matanya mengerjap-ngerjap cepat seperti orang baru bangun tidur. Dan mungkin memang begitulah adanya, sebab Kwon Soonyoung menguap lebar sedetik kemudian.</p>

<p>Wonwoo memandanginya dalam diam sambil kedua tangan masuk ke saku.</p>

<p>“Lo ngapain tidur depan rumah gue?”</p>

<p>“Mmm...,” dikuceknya mata. “Gue nungguin lo...”</p>

<p>”...Buat?”</p>

<p>Tapi tidak ada jawaban. Anak Kwon hanya berdiri perlahan. Ditepukinya pakaian, sok sibuk. Entah pura-pura tidak dengar atau memang tidak mau menjawab, yang jelas Wonwoo tidak akan membuang waktu dengan percuma untuk kedua kalinya. Dia tadi sudah menunggui Catherine selama setengah jam di tempat mereka janjian, hanya untuk dibatalkan mendadak. Dia tidak akan marah karena sepertinya alasan pembatalan itu memang urgent dan penting, tetapi bohong kalau dibilang Wonwoo tidak kesal karena waktunya sudah terbuang sia-sia.</p>

<p>Ya sudahlah. Mendingan dia masuk dan meneruskan kerjaan dia ngebuatin tugasnya anak-anak. Lumayan kan nyicil, biar Senin sudah ada duit masuk lagi.</p>

<p>Wonwoo menepuk-nepuk saku jins, lalu saku kemeja denimnya. Kunci rumah ia temukan di sana. Ia hendak memasukkan kunci tersebut ke lubang kuncinya ketika ia merasakan tatapan dari belakang kiri.</p>

<p>Anak Kwon. Right. Wonwoo sempat lupa.</p>

<p>”...Lo ada perlu sama gue?” sebelum dia membuka kunci, dia berbalik, menghadap anak itu secara langsung.</p>

<p>Malah anak itu diam saja.</p>

<p>“Kalo nggak ada, gue mau masuk.”</p>

<p>Masih diam saja.</p>

<p><em>??? Maunya apa sih???</em></p>

<p>“Lidah lo dimakan kucing?”</p>

<p>Kali ini, anak Kwon menelengkan kepala karena tidak paham apa maksud Jeon Wonwoo. Gemas (bukan secara positif), Wonwoo menahan diri untuk tidak mengusir anak itu langsung. Ia menghirup napas lalu menghelanya lagi dengan berat.</p>

<p>“Gue udah ketemu lo tiap makan siang dan sekarang, hari Sabtu pun, gue harus banget ketemu lo lagi?” celotehnya kesal. Jeon Wonwoo berbalik, dengan cepat memasukkan kunci, memutarnya hingga berbunyi <em>&#39;KLEK!&#39;</em> kencang, dan menekan kenop hingga pintu mengayun terbuka. Tapi, bukannya langsung masuk, dia minggir ke sisi kanan.</p>

<p>“Masuk.”</p>

<p>Perintahnya pada Kwon Soonyoung yang menatap dirinya dan pintu yang terbuka itu bergantian.</p>

<p>“<em>Cepet.</em>“</p>

<p>Di bawah pelototan galak Wonwoo, anak Kwon akhirnya menurut dan mengangguk sedikit padanya sebelum melewati pintu. Wonwoo menyusulnya dan menutup pintu, secara otomatis memisahkan kediaman keluarga Jeon dari dunia luar.</p>

<p><em>Klek.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/234-j8qz</guid>
      <pubDate>Sat, 17 Apr 2021 15:57:35 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>233.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/233-t1z0?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[soonwoo&#xA;&#xA;&#34;Kamu jadi mau kuliah?&#34;&#xA;&#xA;Joshua mengangguk. Mereka lagi makan siang di suatu restoran yang lagi nge-hits karena baru buka dan spot buat selfienya banyak. As usual, makanan di restoran ato kafe kayak gini rasanya standar aja. Dibilang nggak enak ya enggak, dibilang enak mah nggak nyampe. Tapi, harus Joshua akui, penyajiannya lucu-lucu. Instagrammable gitu.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Kok mendadak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak dadakan juga sih,&#34; sanggah lelaki itu. &#34;Aku sebenernya udah kepikiran sejak sebelom kita jadian, soalnya kamu sering cerita soal kampus kamu, soal temen-temen kamu. Aku jadi kepengen.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh,&#34; lalu, senyuman Seungcheol merekah. &#34;Iya sih, aku juga mikir sayang juga kalo kamu nggak kuliah, Shua. Daripada jadi ghost writer, mendingan kamu jadi writer-nya sendiri nggak sih?&#34;&#xA;&#xA;Mendengar itu, Joshua ketawa. &#34;Nggak sesimpel itu, Cheol,&#34; jelasnya.&#xA;&#xA;&#34;Kan umpamanya,&#34; melihat kekasihnya nampak senang, dia juga ikut senang. Dielusinya tangan Joshua di atas meja tanpa peduli pandangan orang sekitar. Joshua, menyadari itu, menunduk, menyembunyikan pipinya yang memerah.&#xA;&#xA;Gemes.&#xA;&#xA;&#34;Terus,&#34; dia melanjutkan. &#34;Kamu mau kuliah di univ aku?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lho? Emangnya bisa? Univ kamu kan univ negeri?&#34;&#xA;&#xA;Kini giliran Seungcheol yang ketawa. &#34;Kamu literally tinggal sama satu-satunya keturunan Kwon, Shua,&#34; selorohnya. &#34;Dia bahkan bisa beli univ aku kalo dia mau. It will be a piece of cake buat dia masukin kamu ke univ aku.&#34;&#xA;&#xA;Tapi, dengan cepat, Joshua menggeleng. &#34;Aku nggak mau nyusahin Hosh lagi,&#34; tegasnya. &#34;Dia udah nampung aku pas aku diusir ibu kos dulu. He&#39;s done too much.&#34;&#xA;&#xA;Sejujurnya, Choi Seungcheol nggak melihat hal itu menjadi beban atau bahan pertimbangan bagi Kwon Soonyoung sama sekali. Anak itu, seingat dan sepemahaman Seungcheol, nggak akan tanggung-tanggung dalam ngebantu orang lain dan, yang tambah mencengangkan, tulus dalam melakukannya. Anak seperti Kwon Soonyoung bisa punya banyak temen just by existing alone. Kekadang, Seungcheol nggak paham kenapa Soonyoung seolah terobsesi sama Wonwoo.&#xA;&#xA;&#34;Berarti kalo kamu kuliah, kamu mau ngekos sendiri lagi kah?&#xA;&#xA;&#34;Hmm,&#34; dia membenarkan. &#34;Aku ada tabungan dari kerjaan selama ini. Kalo aku bisa masuk univ dengan beasiswa, aku mau coba ngekos lagi. Mungkin bakal sambilan sana-sini juga.&#34;&#xA;&#xA;&#34;I see...,&#34; Seungcheol bergumam. &#34;Asal jangan diforsir ya. Udah cukup sekali aku liat Won ambruk sampe opname gegara kebanyakan kerja, jangan sampe keulang di kamu.&#34;&#xA;&#xA;Mereka berdua tertawa ringan. Piring kosong telah disingkirkan ke pinggir meja sehingga mereka bisa berpengangan tangan dengan lebih leluasa. Untuk sesaat, mereka cuma saling menatap. Riuh rendah kehidupan di sekeliling mereka menghilang dari telinga.&#xA;&#xA;&#34;Kok kamu nggak nanya kenapa aku mau kuliah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm?&#34; desahan. &#34;Aku sih cuma seneng aja kalo kamu nemu apa yang kamu mau lakuin, Shua.&#34;&#xA;&#xA;Senyuman yang berbalas.&#xA;&#xA;&#34;...Aku mau kuliah soalnya, yah, pas aku minta kamu nggak buang waktu kamu terus-terusan sama aku, aku nyadar kalo aku...nggak punya siapa-siapa lagi,&#34; jantungnya berdebar agak cepat dalam dada. &#34;Dulu...dulu aku selalu punya Hoshi. Cuma punya dia. Walo dia punya banyak temen, tapi nggak ada satupun yang dia anggep beneran temen. Dia selama ini anggep mereka temenan sama dia karena duitnya aja and that&#39;s okay for him.&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol bungkam. Well, ini hal yang nggak konsisten dengan apa yang dia tau mengenai Kwon Soonyoung selama ini.&#xA;&#xA;&#34;Seriusan Soonyoung ngomong gitu?&#34;&#xA;&#xA;Joshua mengangguk, &#34;Dia udah tau dari dulu kalo orang-orang deketin dia karena uangnya and, well, most often than not, emang begitu kejadiannya. Eh tapi Hosh nggak pernah ngerendahin ato gunain mereka ya. Dia anak baek. Dia tau, dan dia biarin mereka. Dia ikhlas sama uangnya. Eh...gimana aku jelasinnya ya...&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol membiarkan Joshua mencari kata-katanya sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Itu cuma uang buat Hosh. Kalo uang itu bisa bikin orang seneng, dia nggak segan ngeluarinnya. Dan kalo mereka nganggap dia temen mereka karena itu, ya dia terima-terima aja. Ikut seneng karena dianggep temen. Gitu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi bahaya dong,&#34; alis Seungcheol mengernyit. &#34;Gimana kalo ada yang jahat terus dimanfaatin dianya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Makanya aku di sini kan?&#34; dengan bangga, dibusungkannya dada. &#34;Tugasku ngelindungin dia. Saking seringnya, aku udah apal mana yang cuma mau manfaatin dia aja. Apalagi kalo kayak anak kamu yang berani nyakitin dia.&#34;&#xA;&#xA;Mata Joshua berkilat, membuat Seungcheol menepuk-nepuk perlahan tangan kekasihnya, mengingatkan bahwa itu terjadi di masa lampau dan sekarang Jeon Wonwoo nggak begitu.&#xA;&#xA;&#34;Yah, anyway. Dia sekarang deket sama anak kamu dan kayaknya juga sama temen-temen kamu yang dua itu. Hosh keliatan seneng banget dan, idk, kayaknya mereka nemenin dia dengan tulus. So...aku ngerasa kalo Hosh udah bisa lepas dari aku.&#34;&#xA;&#xA;Joshua pun menghela napas panjang.&#xA;&#xA;&#34;Dan, karena aku udah dilepas sama Hoshi dan aku nggak bisa bergantung sama kamu 24/7, makanya aku mau kuliah. Aku mau...memperluas duniaku...&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol melihatnya dengan jelas. Di kedua bola mata hitam Joshua Hong, bersinar harapan dan masa depan. Dia bisa membayangkan hari-hari ke depan bersama kekasihnya, mendengarkan dia mengoceh soal dosen dan teman-teman kampusnya, menggerutu akan segudang tugas yang diberikan, minta maaf karena bakal lembur sedikit di kerja sambilannya dan, alhasil, Seungcheol menunggu agak lama di mobilnya, dan...dan...ketika Joshua lulus, Seungcheol akan ada di sana bersama buket bunga besar di tangannya.&#xA;&#xA;&#34;Joshua,&#34; panggilnya. Lembut, penuh sayang. Joshua Hong mendongak untuk menatap balik kekasihnya. &#34;You can do it.&#34;&#xA;&#xA;Kepercayaan.&#xA;&#xA;Dan, jika senyuman Joshua adalah yang paling indah dia lihat di hari itu, Seungcheol nggak mengatakan apapun. Dia hanya menyimpannya diam-diam di dalam ingatan.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Abis ini mau ke mana kita? Ke museum? Toko buku? Jazz club?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maen ke Timezone aja yuk, abis itu ice skating ato ke sports center.&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol mengerjap, sementara Joshua tertawa.&#xA;&#xA;&#34;Kok...?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku juga mau belajar soal hobi kamu, Cheol. Bosen juga ngomongin Vermeer and Bach.&#34;&#xA;&#xA;Serta merta, Seungcheol meringis lebar. &#34;Oke, ayo. Kuajarin cara nembak zombie!&#34; dengan semangat 45, digamitnya tangan Joshua. Mereka pergi dari restoran itu, berpengangan tangan, dan Joshua nggak pernah ketawa selepas ini sebelumnya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:soonwoo" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">soonwoo</span></a></p>

<p>“Kamu jadi mau kuliah?”</p>

<p>Joshua mengangguk. Mereka lagi makan siang di suatu restoran yang lagi nge-hits karena baru buka dan spot buat selfienya banyak. As usual, makanan di restoran ato kafe kayak gini rasanya standar aja. Dibilang nggak enak ya enggak, dibilang enak mah nggak nyampe. Tapi, harus Joshua akui, penyajiannya lucu-lucu. Instagrammable gitu.</p>



<p>“Kok mendadak?”</p>

<p>“Nggak dadakan juga sih,” sanggah lelaki itu. “Aku sebenernya udah kepikiran sejak sebelom kita jadian, soalnya kamu sering cerita soal kampus kamu, soal temen-temen kamu. Aku jadi kepengen.”</p>

<p>“Oh,” lalu, senyuman Seungcheol merekah. “Iya sih, aku juga mikir sayang juga kalo kamu nggak kuliah, Shua. Daripada jadi ghost writer, mendingan kamu jadi writer-nya sendiri nggak sih?”</p>

<p>Mendengar itu, Joshua ketawa. “Nggak sesimpel itu, Cheol,” jelasnya.</p>

<p>“Kan umpamanya,” melihat kekasihnya nampak senang, dia juga ikut senang. Dielusinya tangan Joshua di atas meja tanpa peduli pandangan orang sekitar. Joshua, menyadari itu, menunduk, menyembunyikan pipinya yang memerah.</p>

<p><em>Gemes.</em></p>

<p>“Terus,” dia melanjutkan. “Kamu mau kuliah di univ aku?”</p>

<p>“Lho? Emangnya bisa? Univ kamu kan univ negeri?”</p>

<p>Kini giliran Seungcheol yang ketawa. “Kamu literally tinggal sama satu-satunya keturunan Kwon, Shua,” selorohnya. “Dia bahkan bisa beli univ aku kalo dia mau. It will be a piece of cake buat dia masukin kamu ke univ aku.”</p>

<p>Tapi, dengan cepat, Joshua menggeleng. “Aku nggak mau nyusahin Hosh lagi,” tegasnya. “Dia udah nampung aku pas aku diusir ibu kos dulu. He&#39;s done too much.”</p>

<p>Sejujurnya, Choi Seungcheol nggak melihat hal itu menjadi beban atau bahan pertimbangan bagi Kwon Soonyoung sama sekali. Anak itu, seingat dan sepemahaman Seungcheol, nggak akan tanggung-tanggung dalam ngebantu orang lain dan, yang tambah mencengangkan, tulus dalam melakukannya. Anak seperti Kwon Soonyoung bisa punya banyak temen just by existing alone. Kekadang, Seungcheol nggak paham kenapa Soonyoung seolah <em>terobsesi</em> sama Wonwoo.</p>

<p>“Berarti kalo kamu kuliah, kamu mau ngekos sendiri lagi kah?</p>

<p>“Hmm,” dia membenarkan. “Aku ada tabungan dari kerjaan selama ini. Kalo aku bisa masuk univ dengan beasiswa, aku mau coba ngekos lagi. Mungkin bakal sambilan sana-sini juga.”</p>

<p>“I see...,” Seungcheol bergumam. “Asal jangan diforsir ya. Udah cukup sekali aku liat Won ambruk sampe opname gegara kebanyakan kerja, jangan sampe keulang di kamu.”</p>

<p>Mereka berdua tertawa ringan. Piring kosong telah disingkirkan ke pinggir meja sehingga mereka bisa berpengangan tangan dengan lebih leluasa. Untuk sesaat, mereka cuma saling menatap. Riuh rendah kehidupan di sekeliling mereka menghilang dari telinga.</p>

<p>“Kok kamu nggak nanya kenapa aku mau kuliah?”</p>

<p>“Hmm?” desahan. “Aku sih cuma seneng aja kalo kamu nemu apa yang kamu mau lakuin, Shua.”</p>

<p>Senyuman yang berbalas.</p>

<p>”...Aku mau kuliah soalnya, yah, pas aku minta kamu nggak buang waktu kamu terus-terusan sama aku, aku nyadar kalo aku...nggak punya siapa-siapa lagi,” jantungnya berdebar agak cepat dalam dada. “Dulu...dulu aku selalu punya Hoshi. Cuma punya dia. Walo dia punya banyak temen, tapi nggak ada satupun yang dia anggep beneran temen. Dia selama ini anggep mereka temenan sama dia karena duitnya aja and that&#39;s okay for him.”</p>

<p>Seungcheol bungkam. Well, ini hal yang nggak konsisten dengan apa yang dia tau mengenai Kwon Soonyoung selama ini.</p>

<p>“Seriusan Soonyoung ngomong gitu?”</p>

<p>Joshua mengangguk, “Dia udah tau dari dulu kalo orang-orang deketin dia karena uangnya and, well, most often than not, emang begitu kejadiannya. Eh tapi Hosh nggak pernah ngerendahin ato gunain mereka ya. Dia anak baek. Dia tau, dan dia biarin mereka. Dia ikhlas sama uangnya. Eh...gimana aku jelasinnya ya...”</p>

<p>Seungcheol membiarkan Joshua mencari kata-katanya sendiri.</p>

<p>“Itu cuma uang buat Hosh. Kalo uang itu bisa bikin orang seneng, dia nggak segan ngeluarinnya. Dan kalo mereka nganggap dia temen mereka karena itu, ya dia terima-terima aja. Ikut seneng karena dianggep temen. Gitu.”</p>

<p>“Tapi bahaya dong,” alis Seungcheol mengernyit. “Gimana kalo ada yang jahat terus dimanfaatin dianya?”</p>

<p>“Makanya aku di sini kan?” dengan bangga, dibusungkannya dada. “Tugasku ngelindungin dia. Saking seringnya, aku udah apal mana yang cuma mau manfaatin dia aja. Apalagi kalo kayak anak kamu yang berani nyakitin dia.”</p>

<p>Mata Joshua berkilat, membuat Seungcheol menepuk-nepuk perlahan tangan kekasihnya, mengingatkan bahwa itu terjadi di masa lampau dan sekarang Jeon Wonwoo nggak begitu.</p>

<p>“Yah, anyway. Dia sekarang deket sama anak kamu dan kayaknya juga sama temen-temen kamu yang dua itu. Hosh keliatan seneng banget dan, idk, kayaknya mereka nemenin dia dengan tulus. So...aku ngerasa kalo Hosh udah bisa <em>lepas</em> dari aku.”</p>

<p>Joshua pun menghela napas panjang.</p>

<p>“Dan, karena aku udah <em>dilepas</em> sama Hoshi dan aku nggak bisa bergantung sama kamu 24/7, makanya aku mau kuliah. Aku mau...memperluas duniaku...”</p>

<p>Seungcheol melihatnya dengan jelas. Di kedua bola mata hitam Joshua Hong, bersinar harapan dan masa depan. Dia bisa membayangkan hari-hari ke depan bersama kekasihnya, mendengarkan dia mengoceh soal dosen dan teman-teman kampusnya, menggerutu akan segudang tugas yang diberikan, minta maaf karena bakal lembur sedikit di kerja sambilannya dan, alhasil, Seungcheol menunggu agak lama di mobilnya, dan...dan...ketika Joshua lulus, Seungcheol akan ada di sana bersama buket bunga besar di tangannya.</p>

<p>“Joshua,” panggilnya. Lembut, penuh sayang. Joshua Hong mendongak untuk menatap balik kekasihnya. “You can do it.”</p>

<p><em>Kepercayaan.</em></p>

<p>Dan, jika senyuman Joshua adalah yang paling indah dia lihat di hari itu, Seungcheol nggak mengatakan apapun. Dia hanya menyimpannya diam-diam di dalam ingatan.</p>

<hr/>

<p>“Abis ini mau ke mana kita? Ke museum? Toko buku? Jazz club?”</p>

<p>“Maen ke Timezone aja yuk, abis itu ice skating ato ke sports center.”</p>

<p>Seungcheol mengerjap, sementara Joshua tertawa.</p>

<p>“Kok...?”</p>

<p>“Aku juga mau belajar soal hobi kamu, Cheol. Bosen juga ngomongin Vermeer and Bach.”</p>

<p>Serta merta, Seungcheol meringis lebar. “Oke, ayo. Kuajarin cara nembak zombie!” dengan semangat 45, digamitnya tangan Joshua. Mereka pergi dari restoran itu, berpengangan tangan, dan Joshua nggak pernah ketawa selepas ini sebelumnya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/233-t1z0</guid>
      <pubDate>Sat, 17 Apr 2021 07:34:54 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>226.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/226-hw61?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[soonwoo&#xA;&#xA;&#34;Sepupu lo ada bilang sesuatu ke elo nggak?&#34;&#xA;&#xA;Tiba-tiba tenggorokan Kwon Soonyoung terasa kering. Dia udah duga sih kalo makan bareng Uji dan Jun artinya bakal muncul topik soal Haohao karena emang masih anget-angetnya.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Mereka bertiga keluar dari kampus karena bosan sama makanan yang itu-itu aja di dalam sana dan, sekarang, di bawah sinar kekuningan bohlam kecil-kecil ala Tumblr, mereka membakar daging murah meriah di tempat makan terbuka persis di depan beberapa food truck. Ceritanya yakiniku kaki lima gitu deh, yang harga mahasiswa, rasa biasa aja. Yang penting mah kenyang, yegak???&#xA;&#xA;Jihoon sibuk ngebakar daging dan makan nasi dengan lahap. Soonyoung dibiarin sendirian aja menghadapi pertanyaan Jun, yang kini menatapnya serius. Kaleng bir di tangan kiri dan sumpit kosong di tangan kanan Jun. Kwon Soonyoung meneguk ludah walau susah payah.&#xA;&#xA;&#34;Eh...uh...ng-ngomong apaan yah...?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Soal gue,&#34; sambar Jun, nggak memberikan jeda untuk Soonyoung berdalih. &#34;Soal whatsapp gue. Soal gue nembak dia. Soal gue lah intinya. Dia ada ngomong sesuatu ke elo?&#34;&#xA;&#xA;Di bawah tatapan seperti itu, anak Kwon menjadi nggak nyaman.&#xA;&#xA;&#34;Uuuhhhhhhhh....&#34;&#xA;&#xA;&#34;Heh,&#34; di bawah meja, Uji menendang kaki Jun, membuatnya merintih. &#34;Udah sih. Kita lagi makan seneng-seneng.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi, Ji--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lagian, kalo Haohao lo itu nyerita ke Nyong, mangnya napa dah? Inget, dia posisinya di tengah-tengah sekarang. Di satu sisi, elo. Di sisi lain, adeknya. Dia kan udah bantuin lo PDKT jugaan? Ngasihin nope adeknya itu? Lo jangan egois dan malah neken ke Nyong mulu dong!&#34;&#xA;&#xA;Jun menggerutu, sedangkan Kwon Soonyoung makin menunduk. Dia sadar benar kalo dia salah karena udah ngasih nomor handphone Hao ke Jun tanpa ijin. Makanya, dia nggak mau mengulangi kesalahan itu lagi dengan memberi informasi lebih lanjut ke Jun tanpa sepengetahuan Minghao.&#xA;&#xA;&#34;Eng...,&#34; mendengar suara Kwon Soonyoung, Jun pun menoleh cepat. Tatapnya berharap. &#34;...Jujur, boleh?&#34;&#xA;&#xA;Dia melihat ke Uji, yang mengangguk, lalu ke Jun, yang menanti dengan sabar.&#xA;&#xA;&#34;Uh, jujur, gue...gue dimarahin Haohao karena ngasih nope dia di luar consent...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jadi, ng, gue nggak mau ngelakuin kesalahan yang sama. Dan, jujur, gue juga nggak enak. Serba salah. Soalnya, yah, kayak Uji bilang tadi, dia adek sepupu gue. Dan lo, Jun, lo...emm...&#34;&#xA;&#xA;Kwon Soonyoung melirik, salah tingkah, pipinya agak memerah dan suaranya terbata. Gugup. Gugup banget.&#xA;&#xA;&#34;...lo...t-t-temen g-gue...&#34;&#xA;&#xA;....&#xA;&#xA;...........&#xA;&#xA;&#34;...right,&#34; Jun kemudian menghela napas berat. Anak itu mengacak-acak rambutnya, frustasi, sebelum merebah ke kursi. Kedua tangannya menangkup muka. &#34;Sori. Gue jadi nyusahin lo, Nyong. You&#39;re right. Lo temen gue dan Haohao adek lo. Yang paling nggak enak posisinya ya elo. Right. I...forgot. Sori...&#34;&#xA;&#xA;(&#34;Lo temen gue.&#34;)&#xA;&#xA;&#34;Eh?&#34;&#xA;&#xA;Soonyoung menoleh ke Uji, yang udah natap dia dari tadi. &#34;Kenapa?&#34; tanya anak itu.&#xA;&#xA;&#34;...,&#34; awalnya, suara Soonyoung hilang, hanya bibirnya yang membuka lebar. Kemudian, setelah beberapa saat, dia menemukan kata-kata yang tepat dalam benak. &#34;...Lo berdua...nganggep gue temen...?&#34;&#xA;&#xA;Uji dan Jun kini lihat-lihatan.&#xA;&#xA;&#34;Buh--&#34;&#xA;&#xA;&#34;--HAHAHAHA!!&#34;&#xA;&#xA;Melihat kedua anak itu ngakak mendadak, Soonyoung kebingungan. Sampai pada akhirnya, Uji mengusap sedikit lelehan air di sudut mata karena capek ketawa. Jun menenggak lagi bir dinginnya sambil masih terkekeh.&#xA;&#xA;&#34;Kocak lu, Nyong,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh? Eh??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo pikir gue sama Uji bakalan bakar daging bareng di pinggir jalan gini kalo nggak bareng elo, temen kita?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue sama Jun biasanya nggak jajan-jajan gini abis kuliah, Nyong.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ner ugha ya, Ji. Biasanya kita cabut ke mobil masing-masing terus pulang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kecuali kalo ada Bang Cheol sih.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bang Cheol...udah lama tuh gue nggak liat dia. Dia apa kabar ya? Kangen juga gue sama dia.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Susaaah laaah, namanya juga baru jadian,&#34; Uji ngekek. &#34;Masih bau bucin.&#34; Padahal dia nggak minum bir karena nggak gitu doyan, tapi moodnya bagus banget malem ini. Asik juga nih kalo ntar rada maleman vidcall sama Farah. Kok mendadak kangen dah.&#xA;&#xA;(Udah pacaran dua tahun juga lu masih aja bucin, Ji, the pot calling the kettle black ckckck)&#xA;&#xA;Jun kemudian merunduk. &#34;Eh, eh,&#34; panggilnya ke Soonyoung. &#34;Cowoknya Bang Cheol tuh yang sama lo itu kan ya? Yang ngehajar Won waktu itu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh, umm,&#34; buru-buru, Soonyoung mengangguk.&#xA;&#xA;&#34;Anjiirrr beneran dapet si cowok lusyu dia, kampreett.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh??&#34;&#xA;&#xA;Uji ngekek lagi. &#34;Jadi nih, Nyong, dulu pas Wonu digampar--&#34;&#xA;&#xA;Mereka pun lanjut mengobrol hingga malam kian larut.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:soonwoo" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">soonwoo</span></a></p>

<p>“Sepupu lo ada bilang sesuatu ke elo nggak?”</p>

<p>Tiba-tiba tenggorokan Kwon Soonyoung terasa kering. Dia udah duga sih kalo makan bareng Uji dan Jun artinya bakal muncul topik soal Haohao karena emang masih anget-angetnya.</p>



<p>Mereka bertiga keluar dari kampus karena bosan sama makanan yang itu-itu aja di dalam sana dan, sekarang, di bawah sinar kekuningan bohlam kecil-kecil ala Tumblr, mereka membakar daging murah meriah di tempat makan terbuka persis di depan beberapa food truck. Ceritanya yakiniku kaki lima gitu deh, yang harga mahasiswa, rasa biasa aja. Yang penting mah kenyang, yegak???</p>

<p>Jihoon sibuk ngebakar daging dan makan nasi dengan lahap. Soonyoung dibiarin sendirian aja menghadapi pertanyaan Jun, yang kini menatapnya serius. Kaleng bir di tangan kiri dan sumpit kosong di tangan kanan Jun. Kwon Soonyoung meneguk ludah walau susah payah.</p>

<p>“Eh...uh...ng-ngomong apaan yah...?”</p>

<p>“Soal gue,” sambar Jun, nggak memberikan jeda untuk Soonyoung berdalih. “Soal whatsapp gue. Soal gue nembak dia. Soal gue lah intinya. Dia ada ngomong sesuatu ke elo?”</p>

<p>Di bawah tatapan seperti itu, anak Kwon menjadi nggak nyaman.</p>

<p>“Uuuhhhhhhhh....”</p>

<p>“Heh,” di bawah meja, Uji menendang kaki Jun, membuatnya merintih. “Udah sih. Kita lagi makan seneng-seneng.”</p>

<p>“Tapi, Ji—”</p>

<p>“Lagian, kalo Haohao lo itu nyerita ke Nyong, mangnya napa dah? Inget, dia posisinya di tengah-tengah sekarang. Di satu sisi, elo. Di sisi lain, adeknya. Dia kan udah bantuin lo PDKT jugaan? Ngasihin nope adeknya itu? Lo jangan egois dan malah neken ke Nyong mulu dong!”</p>

<p>Jun menggerutu, sedangkan Kwon Soonyoung makin menunduk. Dia sadar benar kalo dia salah karena udah ngasih nomor handphone Hao ke Jun tanpa ijin. Makanya, dia nggak mau mengulangi kesalahan itu lagi dengan memberi informasi lebih lanjut ke Jun tanpa sepengetahuan Minghao.</p>

<p>“Eng...,” mendengar suara Kwon Soonyoung, Jun pun menoleh cepat. Tatapnya berharap. “...Jujur, boleh?”</p>

<p>Dia melihat ke Uji, yang mengangguk, lalu ke Jun, yang menanti dengan sabar.</p>

<p>“Uh, jujur, gue...gue dimarahin Haohao karena ngasih nope dia di luar consent...”</p>

<p>“Ah...”</p>

<p>“Jadi, ng, gue nggak mau ngelakuin kesalahan yang sama. Dan, jujur, gue juga nggak enak. Serba salah. Soalnya, yah, kayak Uji bilang tadi, dia adek sepupu gue. Dan lo, Jun, lo...emm...”</p>

<p>Kwon Soonyoung melirik, salah tingkah, pipinya agak memerah dan suaranya terbata. Gugup. Gugup banget.</p>

<p>”...lo...<em>t-t-temen</em> g-gue...”</p>

<p>....</p>

<p>...........</p>

<p>”...right,” Jun kemudian menghela napas berat. Anak itu mengacak-acak rambutnya, frustasi, sebelum merebah ke kursi. Kedua tangannya menangkup muka. “Sori. Gue jadi nyusahin lo, Nyong. You&#39;re right. Lo temen gue dan Haohao adek lo. Yang paling nggak enak posisinya ya elo. Right. I...forgot. Sori...”</p>

<p><em>(“Lo temen gue.”)</em></p>

<p>“Eh?”</p>

<p>Soonyoung menoleh ke Uji, yang udah natap dia dari tadi. “Kenapa?” tanya anak itu.</p>

<p>”...,” awalnya, suara Soonyoung hilang, hanya bibirnya yang membuka lebar. Kemudian, setelah beberapa saat, dia menemukan kata-kata yang tepat dalam benak. “...Lo berdua...nganggep gue temen...?”</p>

<p>Uji dan Jun kini lihat-lihatan.</p>

<p>“Buh—”</p>

<p>”—HAHAHAHA!!”</p>

<p>Melihat kedua anak itu ngakak mendadak, Soonyoung kebingungan. Sampai pada akhirnya, Uji mengusap sedikit lelehan air di sudut mata karena capek ketawa. Jun menenggak lagi bir dinginnya sambil masih terkekeh.</p>

<p>“Kocak lu, Nyong,”</p>

<p>“Eh? Eh??”</p>

<p>“Lo pikir gue sama Uji bakalan bakar daging bareng di pinggir jalan gini kalo nggak bareng elo, temen kita?”</p>

<p>“Gue sama Jun biasanya nggak jajan-jajan gini abis kuliah, Nyong.”</p>

<p>“Ner ugha ya, Ji. Biasanya kita cabut ke mobil masing-masing terus pulang.”</p>

<p>“Kecuali kalo ada Bang Cheol sih.”</p>

<p>“Bang Cheol...udah lama tuh gue nggak liat dia. Dia apa kabar ya? Kangen juga gue sama dia.”</p>

<p>“Susaaah laaah, namanya juga baru jadian,” Uji ngekek. “Masih bau bucin.” Padahal dia nggak minum bir karena nggak gitu doyan, tapi moodnya bagus banget malem ini. Asik juga nih kalo ntar rada maleman vidcall sama Farah. Kok mendadak kangen dah.</p>

<p><em>(Udah pacaran dua tahun juga lu masih aja bucin, Ji, the pot calling the kettle black ckckck)</em></p>

<p>Jun kemudian merunduk. “Eh, eh,” panggilnya ke Soonyoung. “Cowoknya Bang Cheol tuh yang sama lo itu kan ya? Yang ngehajar Won waktu itu?”</p>

<p>“Eh, umm,” buru-buru, Soonyoung mengangguk.</p>

<p>“Anjiirrr beneran dapet si cowok lusyu dia, kampreett.”</p>

<p>“Eh??”</p>

<p>Uji ngekek lagi. “Jadi nih, Nyong, dulu pas Wonu digampar—”</p>

<p>Mereka pun lanjut mengobrol hingga malam kian larut.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/226-hw61</guid>
      <pubDate>Fri, 16 Apr 2021 14:00:29 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>220.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/220-bbgs?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[soonwoo&#xA;&#xA;Mendengus puas, Kwon Soonyoung mendongak. &#34;Udah ya, Jeon Wonwoo, barusan banget gue transfer--&#34;&#xA;&#xA;Berhenti, karena dilihatnya paras Jeon Wonwoo sekeras batu. Seketika itu juga, seluruh darah seolah surut dari wajah anak Kwon. Berdasarkan pengalaman, dia tau bahwa paras itu adalah tanda kalau semua akan berakhir runyam.&#xA;&#xA;Handphonenya jatuh ke meja. Soonyoung menelan ludah, berpikir bahwa, ah, lagi-lagi, habislah sudah.&#xA;&#xA;Lagi-lagi dia berbuat salah.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;...&#xA;&#xA;Wonwoo memandangi SMS banking yang baru saja dia terima. 25 juta masuk begitu saja ke dalam rekeningnya. Hanya dalam sepersekian detik. Dia sudah menjadi joki tugas orang lain sejak sebulan yang lalu, tapi penghasilannya saja tidak segini.&#xA;&#xA;&#34;...Lo tau? Ini sebenernya alesan gue nendang lo waktu itu, waktu lo jatohin ikan asin jambal roti gue di kantin,&#34; keluar bagai bisikan, yang susah ditangkap telinga andaikata Kwon Soonyoung tidak memusatkan fokusnya pada Jeon Wonwoo semata. &#34;Gue perlu susah payah ngejokiin tugas orang, kerja banting tulang, nggak tidur, nggak makan. Dan somehow, di minimnya kebaekan dunia ke gue, ibu kantin ngasihin gue ikan jambal roti gratis. Dan, elo, dengan enaknya, ngejatohin ikan itu terus, dengan enaknya, langsung ngeluarin hape dan siap transfer duit ke gue. Nggak pake usaha. Nggak pake kerja susah payah. Lo cuma sentuh hape lo dan duit dateng gitu aja.&#34;&#xA;&#xA;Inilah kenapa,&#xA;&#xA;&#34;Seberapapun kerasnya gue kerja, gue nggak akan bisa menang dari orang-orang tajir kayak lo, yang cuma mandang orang kayak gue sebelah mata. Ketawa dari atas, sementara orang kayak gue cuma bisa ngais-ngais lobang minta keluar.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo benci orang kaya.&#xA;&#xA;&#34;Trims, Kwon Soonyoung, lo ngingetin gue lagi alesan kenapa gue benci orang tajir dan kenapa gue benci lo--&#34;&#xA;&#xA;&#34;GUE ENGGAK-!&#34;&#xA;&#xA;Begitu mendadak tangan-tangan Kwon Soonyoung menyambar dan meremas kedua tangan Jeon Wonwoo. Wonwoo terkejut. Soonyoung juga, tapi keterkejutan itu sirna, dilahap oleh keputus asaannya mempertahankan orang itu, lelaki itu; seseorang yang sedikit lagi, sedikit lagi, bisa dia panggil teman. Sedikit lagi saja...&#xA;&#xA;&#34;......&#34;&#xA;&#xA;&#34;......&#34;&#xA;&#xA;&#34;....gue enggak...,&#34; tercekat. Napas Soonyoung seolah hilang. &#34;Nggak pernah, uh, mikir lo lebih rendah dari gue. Gue e-enggak pernah mikir kayak gitu...&#34;&#xA;&#xA;Tangannya yang menggenggam tangan Wonwoo bergetar.&#xA;&#xA;&#34;Gue...gue ngeliat lo lebih hebat dari gue, Jeon Wonwoo. Lo bisa...bisa ngelakuin banyak hal. Lo bisa masak. Bisa ngurus rumah. Ngurus kucing. Bisa tau ikan sama apel yang bagus yang mana. Bisa bedain cara cuci baju warna sama putih. Lo bisa bikin steak yang enak padahal dagingnya seharga toast Janjiw. Lo bisa...bisa ngerjain tugas orang lain pake gaya tulisan beda-beda... Bisa...bisa punya Uji, Bang Cheol, Jun, juga Gyu sama pacarnya yang selalu jagain lo...&#34;&#xA;&#xA;&#34;...lepasin...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue nggak pernah ngeliat lo lebih rendah. Justru sebaliknya...kan? Gue...gue nggak punya apapun. Cuma punya uang. Cuma itu yang bisa gue kasih ke orang. Gue nggak punya apapun selain uang. Gue nggak bisa apa-apa. Nggak bisa bedain apel sama ikan yang bagus. Nggak bisa masak nasi. Nggak tau bedanya keperluan kucing piaraan sama kucing jalanan. Gue nggak tau apa-apa, nggak bisa apa-apa.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oi--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Justru gue yang takut lo bosen temenan sama gue karena gue nggak bisa apa-ap--&#34;&#xA;&#xA;Kedua tangan Wonwoo bergerak cepat, membekap paksa mulut Kwon Soonyoung agar berhenti mengoceh. Anak itu bagai dam yang bocor bila sudah mulai mengalirkan ketakutan dan kegugupannya, takkan berhenti jika tidak diintervensi.&#xA;&#xA;&#34;Diem.&#34;&#xA;&#xA;Pandangan mereka bersirobok dalam rentang waktu cukup panjang. Pengunjung lain mulai memutar kepala ke arah ribut-ribut yang mereka sebabkan, membuat Wonwoo mengerling sinis ke mereka dan tanpa verbal menyuruh mereka jangan ikut campur.&#xA;&#xA;&#34;Kalo gue lepas, lo janji bakal diem?&#34;&#xA;&#xA;Jawabannya berupa sebuah anggukan lemah. Wonwoo pun perlahan melepas tangannya dari mulut Soonyoung. Anak itu menarik napas dalam-dalam. Kepanikan barusan membuatnya kekurangan oksigen.&#xA;&#xA;&#34;......&#34;&#xA;&#xA;&#34;......&#34;&#xA;&#xA;&#34;...Sori, gue tuh cuma bercanda pas bilang gue nggak dibayar.&#34;&#xA;&#xA;&#34;...Ah...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue nggak ngira lo bakal beneran bayar gue...segini banyak...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah-umm, gue juga m-minta maaf, udah maen kirim, nggak, umm, mastiin lagi ke elo. Tapi, seriusan, Jeon Wonwoo, gue nggak pernah bermaksud jelek, mm, soalnya ikan itu...i-itu kan salah gue, utang gue ke elo karena makanan lo jatoh, jadi gue harus lunasin utang gue. Mm. Niat gue c-cuma itu...&#34;&#xA;&#xA;Terbata-bata, dan, akhirnya, kembali diam. Mereka diam untuk beberapa lama, sama-sama bingung mau bilang apa.&#xA;&#xA;&#34;Gue juga tadi sempet emosi...sori...&#34;&#xA;&#xA;Dimana Kwon Soonyoung menggeleng cepat.&#xA;&#xA;&#34;Aaaaaahhhhhh...,&#34; separoh frustasi, Wonwoo mendadak menyelonjorkan kedua kakinya. Dia duduk merebah semakin rendah hingga kepalanya persis bersandar di pinggiran kursi. &#34;Kayaknya gue kalo ngobrol sama lo, umur gue berkurang 10 tahun deh nih...&#34;&#xA;&#xA;&#34;E-eh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue nggak suka lo maen transfer duit seenaknya. Gue tau lo tajir, Kwon, but don&#39;t flex your money in front of me. Belajar tenggang rasa sedikit.&#34;&#xA;&#xA;&#34;I-i-iya!&#34; buru-buru dia mengangguk.&#xA;&#xA;&#34;But I guess that also goes for me. Belajar tenggang rasa,&#34; gumaman. &#34;Oke. Biar kita sama-sama enak, lo jangan umbar kekayaan lo depan gue dan gue akan berusaha ngendaliin emosi gue kalo lo udah bikin gue spaneng.&#xA;&#xA;How&#39;s that?&#34;&#xA;&#xA;Mata Soonyoung mengerjap-ngerjap.&#xA;&#xA;&#34;Lo...masih mau nemenin gue maksi dan ngobrol?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Selama lo janji nggak bikin gue naek darah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;O-oke! Gue, uh, coba...?&#34;&#xA;&#xA;Jeon Wonwoo pun meringis. Diulurkannya tangan untuk, di luar dugaan Soonyoung, menepuk-nepuk perlahan kepala anak itu, membuat sirkuit Kwon Soonyoung agak konslet.&#xA;&#xA;Ringisannya terkembang.&#xA;&#xA;&#34;Good.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:soonwoo" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">soonwoo</span></a></p>

<p>Mendengus puas, Kwon Soonyoung mendongak. “Udah ya, Jeon Wonwoo, barusan banget gue transfer—”</p>

<p>Berhenti, karena dilihatnya paras Jeon Wonwoo sekeras batu. Seketika itu juga, seluruh darah seolah surut dari wajah anak Kwon. Berdasarkan pengalaman, dia tau bahwa paras itu adalah tanda kalau semua akan berakhir runyam.</p>

<p>Handphonenya jatuh ke meja. Soonyoung menelan ludah, berpikir bahwa, <em>ah, lagi-lagi, habislah sudah.</em></p>

<p><em>Lagi-lagi dia berbuat salah.</em></p>



<p>...</p>

<p>Wonwoo memandangi SMS banking yang baru saja dia terima. 25 juta masuk begitu saja ke dalam rekeningnya. Hanya dalam sepersekian detik. Dia sudah menjadi joki tugas orang lain sejak sebulan yang lalu, tapi penghasilannya saja tidak segini.</p>

<p>”...Lo tau? Ini sebenernya alesan gue nendang lo waktu itu, waktu lo jatohin ikan asin jambal roti gue di kantin,” keluar bagai bisikan, yang susah ditangkap telinga andaikata Kwon Soonyoung tidak memusatkan fokusnya pada Jeon Wonwoo semata. “Gue perlu susah payah ngejokiin tugas orang, kerja banting tulang, nggak tidur, nggak makan. Dan somehow, di minimnya kebaekan dunia ke gue, ibu kantin ngasihin gue ikan jambal roti gratis. Dan, elo, dengan enaknya, ngejatohin ikan itu terus, dengan enaknya, langsung ngeluarin hape dan siap transfer duit ke gue. Nggak pake usaha. Nggak pake kerja susah payah. Lo cuma sentuh hape lo dan duit dateng gitu aja.”</p>

<p><em>Inilah kenapa,</em></p>

<p>“Seberapapun kerasnya gue kerja, gue nggak akan bisa menang dari orang-orang tajir kayak lo, yang cuma mandang orang kayak gue sebelah mata. Ketawa dari atas, sementara orang kayak gue cuma bisa ngais-ngais lobang minta keluar.”</p>

<p><em>Wonwoo benci orang kaya.</em></p>

<p>“Trims, Kwon Soonyoung, lo ngingetin gue lagi alesan kenapa gue benci orang tajir dan kenapa gue benci lo—”</p>

<p>“GUE ENGGAK-!”</p>

<p>Begitu mendadak tangan-tangan Kwon Soonyoung menyambar dan meremas kedua tangan Jeon Wonwoo. Wonwoo terkejut. Soonyoung juga, tapi keterkejutan itu sirna, dilahap oleh keputus asaannya mempertahankan orang itu, lelaki itu; seseorang yang sedikit lagi, <em>sedikit lagi</em>, bisa dia panggil <em>teman</em>. <em>Sedikit lagi saja...</em></p>

<p>”......”</p>

<p>”......”</p>

<p>”....gue enggak...,” tercekat. Napas Soonyoung seolah hilang. “Nggak pernah, uh, mikir lo lebih rendah dari gue. Gue e-enggak pernah mikir kayak gitu...”</p>

<p>Tangannya yang menggenggam tangan Wonwoo bergetar.</p>

<p>“Gue...gue ngeliat lo lebih hebat dari gue, Jeon Wonwoo. Lo bisa...bisa ngelakuin banyak hal. Lo bisa masak. Bisa ngurus rumah. Ngurus kucing. Bisa tau ikan sama apel yang bagus yang mana. Bisa bedain cara cuci baju warna sama putih. Lo bisa bikin steak yang enak padahal dagingnya seharga toast Janjiw. Lo bisa...bisa ngerjain tugas orang lain pake gaya tulisan beda-beda... Bisa...bisa punya Uji, Bang Cheol, Jun, juga Gyu sama pacarnya yang selalu jagain lo...”</p>

<p>”...lepasin...”</p>

<p>“Gue nggak pernah ngeliat lo lebih rendah. Justru sebaliknya...kan? Gue...gue nggak punya apapun. Cuma punya uang. Cuma itu yang bisa gue kasih ke orang. Gue nggak punya apapun selain uang. Gue nggak bisa apa-apa. Nggak bisa bedain apel sama ikan yang bagus. Nggak bisa masak nasi. Nggak tau bedanya keperluan kucing piaraan sama kucing jalanan. Gue nggak tau apa-apa, nggak bisa apa-apa.”</p>

<p>“Oi—”</p>

<p>“Justru gue yang takut lo bosen temenan sama gue karena gue nggak bisa apa-ap—”</p>

<p>Kedua tangan Wonwoo bergerak cepat, membekap paksa mulut Kwon Soonyoung agar berhenti mengoceh. Anak itu bagai dam yang bocor bila sudah mulai mengalirkan ketakutan dan kegugupannya, takkan berhenti jika tidak diintervensi.</p>

<p>“<em>Diem.</em>“</p>

<p>Pandangan mereka bersirobok dalam rentang waktu cukup panjang. Pengunjung lain mulai memutar kepala ke arah ribut-ribut yang mereka sebabkan, membuat Wonwoo mengerling sinis ke mereka dan tanpa verbal menyuruh mereka jangan ikut campur.</p>

<p>“Kalo gue lepas, lo janji bakal diem?”</p>

<p>Jawabannya berupa sebuah anggukan lemah. Wonwoo pun perlahan melepas tangannya dari mulut Soonyoung. Anak itu menarik napas dalam-dalam. Kepanikan barusan membuatnya kekurangan oksigen.</p>

<p>”......”</p>

<p>”......”</p>

<p>”...Sori, gue tuh cuma bercanda pas bilang gue nggak dibayar.”</p>

<p>”...Ah...”</p>

<p>“Gue nggak ngira lo bakal beneran bayar gue...segini banyak...”</p>

<p>“Ah-umm, gue juga m-minta maaf, udah maen kirim, nggak, umm, mastiin lagi ke elo. Tapi, seriusan, Jeon Wonwoo, gue nggak pernah bermaksud jelek, mm, soalnya ikan itu...i-itu kan salah gue, utang gue ke elo karena makanan lo jatoh, jadi gue harus lunasin utang gue. Mm. Niat gue c-cuma itu...”</p>

<p>Terbata-bata, dan, akhirnya, kembali diam. Mereka diam untuk beberapa lama, sama-sama bingung mau bilang apa.</p>

<p>“Gue juga tadi sempet emosi...sori...”</p>

<p>Dimana Kwon Soonyoung menggeleng cepat.</p>

<p>“Aaaaaahhhhhh...,” separoh frustasi, Wonwoo mendadak menyelonjorkan kedua kakinya. Dia duduk merebah semakin rendah hingga kepalanya persis bersandar di pinggiran kursi. “Kayaknya gue kalo ngobrol sama lo, umur gue berkurang 10 tahun deh nih...”</p>

<p>“E-eh?”</p>

<p>“Gue nggak suka lo maen transfer duit seenaknya. Gue tau lo tajir, Kwon, but don&#39;t flex your money in front of me. Belajar tenggang rasa sedikit.”</p>

<p>“I-i-iya!” buru-buru dia mengangguk.</p>

<p>“But I guess that also goes for me. Belajar tenggang rasa,” gumaman. “Oke. Biar kita sama-sama enak, lo jangan umbar kekayaan lo depan gue dan gue akan berusaha ngendaliin emosi gue kalo lo udah bikin gue spaneng.</p>

<p>How&#39;s that?”</p>

<p>Mata Soonyoung mengerjap-ngerjap.</p>

<p>“Lo...masih mau nemenin gue maksi dan ngobrol?”</p>

<p>“Selama lo janji nggak bikin gue naek darah.”</p>

<p>“O-oke! Gue, uh, coba...?”</p>

<p>Jeon Wonwoo pun meringis. Diulurkannya tangan untuk, di luar dugaan Soonyoung, menepuk-nepuk perlahan kepala anak itu, membuat sirkuit Kwon Soonyoung agak konslet.</p>

<p>Ringisannya terkembang.</p>

<p>“Good.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/220-bbgs</guid>
      <pubDate>Thu, 15 Apr 2021 16:03:32 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>218.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/218?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[soonwoo&#xA;&#xA;Kwon Soonyoung duduk diam, makan sundubu jjigae dengan seafood. Matanya tertuju ke apa yang lagi dimakannya, nggak sekali pun melihat ke arah Jeon Wonwoo.&#xA;&#xA;Jeon Wonwoo duduk persis di depannya, memandangi anak Kwon dengan kernyitan sebelah alis. Aneh. Dia memang udah ngerasa Kwon Soonyoung (tambah) aneh sejak baca balasan Whatsapp anak itu tadi, tapi baru sekarang dia yakin kalo anak itu (tambah) aneh.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Hoi.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm?&#34; barulah, detik itu, Soonyoung mendongak dan menatap Jeon Wonwoo.&#xA;&#xA;&#34;Lo kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Apanya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Itu...?&#34; ditunjuknya si anak Kwon. &#34;Muka lo. Mata lo. Whatsapp lo. Kok aneh?&#34;&#xA;&#xA;Alih-alih menjawab, Kwon Soonyoung menelengkan kepala, tanda tak paham. Seolah Wonwoo sedang mengoceh nggak jelas juntrungannya. Makin bingung lah anak itu melihat gelagat Kwon Soonyoung.&#xA;&#xA;&#34;...Terserah deh.&#34;&#xA;&#xA;Menyerah, Jeon Wonwoo mendesah, kemudian kembali merunduk dan berkutat dengan tumpukan kertas yang tengah ditulisnya. Di sisi kanan, ada beberapa lembar yang telah dipenuhi tulisan tangan berbeda-beda. Kwon Soonyoung mengerjap sekali, dua kali, seakan baru sadar bahwa teman makan siangnya dari tadi sedang mengerjakan sesuatu.&#xA;&#xA;&#34;...Lo ngapain?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nulis.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh.&#34;&#xA;&#xA;Hening.&#xA;&#xA;&#34;...Ini tugas dari dosen kelas gue minggu lalu. Anak-anak disuruh buat essay minimal dua halaman folio bergaris soal materi yang kemaren dibahas,&#34; jelasnya kemudian.&#xA;&#xA;&#34;Kok tulisan lo beda-beda?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ini tugas anak-anak kelas gue.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh...&#34;&#xA;&#xA;Hening lagi. Kwon Soonyoung menghirup jus melonnya, menyecap lidah, sebelum menyadari arti perkataan Jeon Wonwoo.&#xA;&#xA;&#34;Eh??&#34; matanya melebar ketika telah sadar. Dia pun merunduk agak maju. &#34;Maksud lo, lo yang ngerjain tugas anak-anak--hmmph!&#34;&#xA;&#xA;Barusan mulutnya dibekap lagi oleh Jeon Wonwoo. &#34;Berisik,&#34; geramnya. &#34;Gimana kalo ada dosen lagi makan juga di sini? Nggak usah lebay, njing!&#34; Lalu ditariknya tangan itu kembali. &#34;Lagian biasa aja kali, ngerjain tugas orang, kayak lo nggak pernah aja jebe-jebe nugas ato nyontek.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Y-ya, tapi kan nggak dikerjain temen gue semuanya juga??&#34; kali ini, Soonyoung merendahkan suaranya. Takut kalau Jeon Wonwoo marah lagi. &#34;Kenapa kok lo yang ngerjain semua gini??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nih.&#34;&#xA;&#xA;Gesekan ibu jari dengan telunjuk.&#xA;&#xA;&#34;Ap--&#34;&#xA;&#xA;Jeon Wonwoo meringis, &#34;Duit lah. Emangnya karena apa lagi?&#34;&#xA;&#xA;.............&#xA;&#xA;&#34;......oh,&#34; badan Soonyoung mundur untuk merebah di sandaran kursi. &#34;Lo nyari, mm, duit lagi?&#34;&#xA;&#xA;Anak itu cuma mengangkat bahu dengan santai. &#34;Gue butuh duit, soalnya gue tinggal sendirian,&#34; akunya. &#34;Mana gue musti bayar utang kan ke elo.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kan lo lagi bayar juga utang lo sekarang...,&#34; sanggah Soonyoung. &#34;Lo lagi nemenin gue makan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Right. Bout that,&#34; mendadak saja, Jeon Wonwoo mendongak dan mengangkat jari telunjuk. &#34;Gue mau proposal quotation ke elo. Gimana kalo, tiap gue nemenin lo makan, gue bakal add-on ngobrol sama lo dan, well, basically being nice and civil to you during the time, tapi lo naekin bayaran lo ke gue dua kali lipatnya?&#34;&#xA;&#xA;Kwon Soonyoung mengambil waktu untuk mencerna dan berpikir baik-baik.&#xA;&#xA;&#34;Maksudnya, lo nemenin gue makan dan lo bakal berlaku, umm, baek ke gue dan all that?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yeah, yeah, all that.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Like a date?&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo serta merta melongo. Soonyoung langsung mengulum bibir bawahnya hingga membentuk garis lurus. Keduanya sama-sama sadar betapa anehnya pertanyaan barusan.&#xA;&#xA;&#34;S-s-sori--&#34; Soonyoung yang paling pertama memecah keheningan, sementara Wonwoo mengalihkan pandangan. Dia mengusap-usap kerut di dahinya.&#xA;&#xA;&#34;Nggak lucu,&#34; hardiknya.&#xA;&#xA;&#34;Sori...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terserah sih kalo lo nggak mau,&#34; lalu, helaan napas. &#34;Maksud gue biar cepet juga gue bayar utang ke elo, dan lo at least dapet sesuatu dari makan siang sama gue, kayak...apa kek, ngobrol, ato yah, gitu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue kira, umm, kita...udah ngobrol dan...dan pas lo ngasih tau gue soal kucing juga...lo bahkan ngajarin gue masak nasi...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dan gue nggak tagih lo buat itu semua,&#34; dijawab dengan hambar oleh Jeon Wonwoo. &#34;Bego banget deh gue.&#34;&#xA;&#xA;Kwon Soonyoung melebarkan mata. Baru tersadar, dia. &#34;O-oh! Bener! Ya ampun, iya ya. Kenapa gue nggak bayar lo buat itu semua??&#34; panik, anak Kwon buru-buru merogoh saku di celana dan bajunya, dengan segera menarik hapenya. Kemudian, tanpa banyak bicara, dia langsung mengetik di tombol keypad dalam kecepatan luar biasa.&#xA;&#xA;Firasat Jeon Wonwoo buruk.&#xA;&#xA;&#34;Bentar...lo ngapain?&#34;&#xA;&#xA;Tepat di saat itu, hapenya sendiri bergetar di atas meja.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:soonwoo" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">soonwoo</span></a></p>

<p>Kwon Soonyoung duduk diam, makan sundubu jjigae dengan seafood. Matanya tertuju ke apa yang lagi dimakannya, nggak sekali pun melihat ke arah Jeon Wonwoo.</p>

<p>Jeon Wonwoo duduk persis di depannya, memandangi anak Kwon dengan kernyitan sebelah alis. <em>Aneh.</em> Dia memang udah ngerasa Kwon Soonyoung (tambah) aneh sejak baca balasan Whatsapp anak itu tadi, tapi baru sekarang dia <em>yakin</em> kalo anak itu (tambah) aneh.</p>



<p>“Hoi.”</p>

<p>“Hmm?” barulah, detik itu, Soonyoung mendongak dan menatap Jeon Wonwoo.</p>

<p>“Lo kenapa?”</p>

<p>“Apanya?”</p>

<p>“Itu...?” ditunjuknya si anak Kwon. “Muka lo. Mata lo. Whatsapp lo. Kok aneh?”</p>

<p>Alih-alih menjawab, Kwon Soonyoung menelengkan kepala, tanda tak paham. Seolah Wonwoo sedang mengoceh nggak jelas juntrungannya. Makin bingung lah anak itu melihat gelagat Kwon Soonyoung.</p>

<p>”...Terserah deh.”</p>

<p>Menyerah, Jeon Wonwoo mendesah, kemudian kembali merunduk dan berkutat dengan tumpukan kertas yang tengah ditulisnya. Di sisi kanan, ada beberapa lembar yang telah dipenuhi tulisan tangan berbeda-beda. Kwon Soonyoung mengerjap sekali, dua kali, seakan baru sadar bahwa teman makan siangnya dari tadi sedang mengerjakan sesuatu.</p>

<p>”...Lo ngapain?”</p>

<p>“Nulis.”</p>

<p>“Oh.”</p>

<p>Hening.</p>

<p>”...Ini tugas dari dosen kelas gue minggu lalu. Anak-anak disuruh buat essay minimal dua halaman folio bergaris soal materi yang kemaren dibahas,” jelasnya kemudian.</p>

<p>“Kok tulisan lo beda-beda?”</p>

<p>“Ini tugas anak-anak kelas gue.”</p>

<p>“Oh...”</p>

<p>Hening lagi. Kwon Soonyoung menghirup jus melonnya, menyecap lidah, sebelum menyadari arti perkataan Jeon Wonwoo.</p>

<p>“Eh??” matanya melebar ketika telah sadar. Dia pun merunduk agak maju. “Maksud lo, lo yang ngerjain tugas anak-anak—<em>hmmph!</em>“</p>

<p>Barusan mulutnya dibekap lagi oleh Jeon Wonwoo. “<em>Berisik</em>,” geramnya. “Gimana kalo ada dosen lagi makan juga di sini? Nggak usah lebay, njing!” Lalu ditariknya tangan itu kembali. “Lagian biasa aja kali, ngerjain tugas orang, kayak lo nggak pernah aja jebe-jebe nugas ato nyontek.”</p>

<p>“Y-ya, tapi kan nggak dikerjain temen gue semuanya juga??” kali ini, Soonyoung merendahkan suaranya. Takut kalau Jeon Wonwoo marah lagi. “Kenapa kok lo yang ngerjain semua gini??”</p>

<p>“Nih.”</p>

<p>Gesekan ibu jari dengan telunjuk.</p>

<p>“Ap—”</p>

<p>Jeon Wonwoo meringis, “Duit lah. Emangnya karena apa lagi?”</p>

<p>.............</p>

<p>”......oh,” badan Soonyoung mundur untuk merebah di sandaran kursi. “Lo nyari, mm, duit lagi?”</p>

<p>Anak itu cuma mengangkat bahu dengan santai. “Gue butuh duit, soalnya gue tinggal sendirian,” akunya. “Mana gue musti bayar utang kan ke elo.”</p>

<p>“Kan lo lagi bayar juga utang lo sekarang...,” sanggah Soonyoung. “Lo lagi nemenin gue makan.”</p>

<p>“Right. Bout that,” mendadak saja, Jeon Wonwoo mendongak dan mengangkat jari telunjuk. “Gue mau proposal quotation ke elo. Gimana kalo, tiap gue nemenin lo makan, gue bakal add-on ngobrol sama lo dan, well, basically being nice and civil to you during the time, tapi lo naekin bayaran lo ke gue dua kali lipatnya?”</p>

<p>Kwon Soonyoung mengambil waktu untuk mencerna dan berpikir baik-baik.</p>

<p>“Maksudnya, lo nemenin gue makan dan lo bakal berlaku, umm, baek ke gue dan all that?”</p>

<p>“Yeah, yeah, all that.”</p>

<p>“Like a <em>date</em>?”</p>

<p>Wonwoo serta merta melongo. Soonyoung langsung mengulum bibir bawahnya hingga membentuk garis lurus. Keduanya sama-sama sadar betapa <em>anehnya</em> pertanyaan barusan.</p>

<p>“S-s-sori—” Soonyoung yang paling pertama memecah keheningan, sementara Wonwoo mengalihkan pandangan. Dia mengusap-usap kerut di dahinya.</p>

<p>“Nggak lucu,” hardiknya.</p>

<p>“Sori...”</p>

<p>“Terserah sih kalo lo nggak mau,” lalu, helaan napas. “Maksud gue biar cepet juga gue bayar utang ke elo, dan lo at least dapet sesuatu dari makan siang sama gue, kayak...apa kek, ngobrol, ato yah, gitu.”</p>

<p>“Gue kira, umm, kita...udah ngobrol dan...dan pas lo ngasih tau gue soal kucing juga...lo bahkan ngajarin gue masak nasi...”</p>

<p>“Dan gue nggak tagih lo buat itu semua,” dijawab dengan hambar oleh Jeon Wonwoo. “Bego banget deh gue.”</p>

<p>Kwon Soonyoung melebarkan mata. Baru tersadar, dia. “O-oh! Bener! Ya ampun, iya ya. Kenapa gue nggak bayar lo buat itu semua??” panik, anak Kwon buru-buru merogoh saku di celana dan bajunya, dengan segera menarik hapenya. Kemudian, tanpa banyak bicara, dia langsung mengetik di tombol keypad dalam kecepatan luar biasa.</p>

<p>Firasat Jeon Wonwoo buruk.</p>

<p>“Bentar...lo ngapain?”</p>

<p>Tepat di saat itu, hapenya sendiri bergetar di atas meja.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/218</guid>
      <pubDate>Thu, 15 Apr 2021 13:33:24 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>