<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>minwonstupid &amp;mdash; 🌾</title>
    <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonstupid</link>
    <description>narrative writings of thesunmetmoon</description>
    <pubDate>Tue, 02 Jun 2026 06:53:10 +0000</pubDate>
    <image>
      <url>https://i.snap.as/K7JGOEOo.png</url>
      <title>minwonstupid &amp;mdash; 🌾</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonstupid</link>
    </image>
    <item>
      <title>72.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/72?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwonstupid&#xA;&#xA;Rapat darurat.&#xA;&#xA;&#34;Oke, ini serius.&#34;&#xA;&#xA;Dalam kamar kost Mingyu, Minghao duduk bersila di depan dua orang sahabatnya, yang satu duduk sambil melipat lengan di dada dan yang satu lagi membebat dirinya dengan selimut sampe mirip burrito raksasa. 187cm burrito bisa bikin satu kampung kenyang, just saying.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Kim Mingyu mengangguk lemah, dieratkannya selimut di sekujur tubuhnya. Minghao mengetuk-ngetukkan kepalan tangan kiri ke dahi, sedangkan Seokmin seakan tengah berpikir luar biasa keras ditilik dari seberapa dalam kerutan di antara alisnya.&#xA;&#xA;&#34;Lo...beneran suka sama Bang Won?&#34;&#xA;&#xA;Mingyu seminggu lalu bakal mendengus jijik dan berseru, &#39;Idih!&#39;. Namun, Mingyu hari ini cuma bisa menunduk lalu menggeleng. &#34;Nggak tau,&#34; akunya. &#34;Gue bingung. Gue...gue nggak tau...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kigyu...,&#34; Seokmin mau ngomong sesuatu, tapi terhenti, soalnya dia juga sama bingungnya.&#xA;&#xA;Mingyu memeluk dirinya makin erat dengan selimutnya.&#xA;&#xA;&#34;Apa...emang gue sebenernya naksir dia kayak yang dia bilang ya?&#34;&#xA;&#xA;Seokmin dan Minghao melirik satu sama lain, bertukar kecemasan. Minghao lalu balik menatap Mingyu. Tangannya menepuk-nepuk lutut sahabatnya itu.&#xA;&#xA;&#34;Gyu, lo harus tenang. Ayok, tarik napas yang daleeeemmm...&#34;&#xA;&#xA;Dia melakukan perintah Minghao.&#xA;&#xA;&#34;...hembusiiiiiiin...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Haaaaaa....&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oke. Good. You&#39;re doing good, GyuGyu...&#34;&#xA;&#xA;Dipejamnya mata. Niat mencari ketenangan malah dirusak dengan bayangan yang sama, datang kembali tanpa diminta: Wonwoo, dengan bibir membuka dan lidah bergerak membasahinya. Wonwoo, dengan mata yang bersinar yakin kalo Mingyu naksir dia. Wonwoo, dengan suara berat nan halus, menyuruhnya untuk mencium bibirnya...&#xA;&#xA;&#34;AAAAAAAARRRRRGGGGHHHHHHHHH!!!!&#34;&#xA;&#xA;Frustrasi, frustrasi. Kim Mingyu mengacak rambutnya, menjambaknya, menyapu wajahnya, apapun, apapun, asal bisa melepas Wonwoo dalam kepalanya.&#xA;&#xA;&#34;Gyu, Gyu, oi,&#34; Seokmin yang bergerak pertama. Dia menangkap wajah Mingyu dengan kedua tangannya dalam tangkupan lembut. &#34;Kigyu. Sadar, woi. It&#39;s okay, Gyu, it&#39;s okay...&#34;&#xA;&#xA;Minghao mendekat untuk mengelusi punggung Mingyu. Hatinya terbelah melihat kondisi sahabatnya kini.&#xA;&#xA;&#34;...Gyu,&#34; tanyanya hati-hati. &#34;Lo mau gimana abis ini? Kalo lo mau gue sama Seok labrak Bang Won, kita bakal lakuin.&#34; Emosi mulai nyampur dalam kalimatnya. &#34;Kalo lo emang mau gitu, tenang aja, gue bakal abisin dia--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jangan,&#34; sanggahnya. &#34;Jangan, Hao.&#34; Kemudian gelengan kepala. &#34;Gue nggak mau itu. Nggak mau. Ini...ini masalah gue sama dia.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gyu...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue...&#34;&#xA;&#xA;Mingyu menelan ludah.&#xA;&#xA;&#34;Gue mau deketin dia...kali ini, kali ini beneran. Gue mau...mastiin bener nggak kalo gue emang naksir dia kayak kata dia...&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonstupid" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">minwonstupid</span></a></p>

<p>Rapat darurat.</p>

<p>“Oke, ini serius.”</p>

<p>Dalam kamar kost Mingyu, Minghao duduk bersila di depan dua orang sahabatnya, yang satu duduk sambil melipat lengan di dada dan yang satu lagi membebat dirinya dengan selimut sampe mirip burrito raksasa. 187cm burrito bisa bikin satu kampung kenyang, just saying.</p>



<p>Kim Mingyu mengangguk lemah, dieratkannya selimut di sekujur tubuhnya. Minghao mengetuk-ngetukkan kepalan tangan kiri ke dahi, sedangkan Seokmin seakan tengah berpikir luar biasa keras ditilik dari seberapa dalam kerutan di antara alisnya.</p>

<p>“Lo...beneran suka sama Bang Won?”</p>

<p>Mingyu seminggu lalu bakal mendengus jijik dan berseru, &#39;Idih!&#39;. Namun, Mingyu hari ini cuma bisa menunduk lalu menggeleng. “Nggak tau,” akunya. “Gue bingung. Gue...gue nggak tau...”</p>

<p>“Kigyu...,” Seokmin mau ngomong sesuatu, tapi terhenti, soalnya dia juga sama bingungnya.</p>

<p>Mingyu memeluk dirinya makin erat dengan selimutnya.</p>

<p>“Apa...emang gue sebenernya naksir dia kayak yang dia bilang ya?”</p>

<p>Seokmin dan Minghao melirik satu sama lain, bertukar kecemasan. Minghao lalu balik menatap Mingyu. Tangannya menepuk-nepuk lutut sahabatnya itu.</p>

<p>“Gyu, lo harus tenang. Ayok, tarik napas yang daleeeemmm...”</p>

<p>Dia melakukan perintah Minghao.</p>

<p>”...hembusiiiiiiin...”</p>

<p>“<em>Haaaaaa....</em>“</p>

<p>“Oke. Good. You&#39;re doing good, GyuGyu...”</p>

<p>Dipejamnya mata. Niat mencari ketenangan malah dirusak dengan bayangan yang sama, datang kembali tanpa diminta: Wonwoo, dengan bibir membuka dan lidah bergerak membasahinya. Wonwoo, dengan mata yang bersinar yakin kalo Mingyu naksir dia. Wonwoo, dengan suara berat nan halus, menyuruhnya untuk mencium bibirnya...</p>

<p>“AAAAAAAARRRRRGGGGHHHHHHHHH!!!!”</p>

<p>Frustrasi, frustrasi. Kim Mingyu mengacak rambutnya, menjambaknya, menyapu wajahnya, apapun, apapun, asal bisa melepas Wonwoo dalam kepalanya.</p>

<p>“Gyu, Gyu, oi,” Seokmin yang bergerak pertama. Dia menangkap wajah Mingyu dengan kedua tangannya dalam tangkupan lembut. “Kigyu. Sadar, woi. It&#39;s okay, Gyu, it&#39;s okay...”</p>

<p>Minghao mendekat untuk mengelusi punggung Mingyu. Hatinya terbelah melihat kondisi sahabatnya kini.</p>

<p>”...Gyu,” tanyanya hati-hati. “Lo mau gimana abis ini? Kalo lo mau gue sama Seok labrak Bang Won, kita bakal lakuin.” Emosi mulai nyampur dalam kalimatnya. “Kalo lo emang mau gitu, tenang aja, gue bakal abisin dia—”</p>

<p>“Jangan,” sanggahnya. “Jangan, Hao.” Kemudian gelengan kepala. “Gue nggak mau itu. Nggak mau. Ini...ini masalah gue sama dia.”</p>

<p>“Gyu...”</p>

<p>“Gue...”</p>

<p>Mingyu menelan ludah.</p>

<p>“Gue mau deketin dia...kali ini, kali ini beneran. Gue mau...<em>mastiin</em> bener nggak kalo gue emang naksir dia kayak kata dia...”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/72</guid>
      <pubDate>Mon, 21 Jun 2021 01:00:38 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>65.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/65-r003?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwonstupid&#xA;&#xA;Lengket.&#xA;&#xA;Iya, lengket. Lengket dan lembek, tapi alus. Bingung juga gimana dia harus jabarin bibir Wonwoo di pipinya selain anget. Anget, pertama, terus lengket, kedua, terus lembek yang ketiga.&#xA;&#xA;...Bentar, kenapa jadi kayak ngomong jorok ya?&#xA;&#xA;Sakit kepala.&#xA;&#xA;Jepret.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Wonwoo mundurin kepala buat natap Mingyu. Dia senyum santai banget, seolah nggak baru aja ngancurin seperempat dunia anak lelaki yang lebih muda setahun dari dia itu. Mereka diem-dieman sampe Mingyu neguk ludah karena tenggorokannya mendadak kering.&#xA;&#xA;&#34;....Uh, Bang Won...?&#34; suaranya serak pas bertanya.&#xA;&#xA;&#34;Hmm?&#34; gumaman pelan.&#xA;&#xA;&#34;Tadi..........lo ngapain?&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo senyum. Senyum lebar banget, bener-bener nggak ada beban. Dia tepok-tepok pelan pipi Mingyu yang barusan aja dia cium. &#34;Hadiah,&#34; jawabnya. &#34;Buat lo, soalnya lo bikin gebetan lo seneng.&#34;&#xA;&#xA;Rahang Mingyu serta-merta mengencang. Ada banyak hal yang mau dia bantah di tuduhan itu, tapi ngeliat gimana Wonwoo senyum, rasanya...dia nggak mau ngerusak itu. Alih-alih, dia mutusin buat ambil andil dalam game Wonwoo.&#xA;&#xA;&#34;...Kurang.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo mengernyit.&#xA;&#xA;&#34;Masa di pipi doang hadiahnya?&#34; Mingyu sengaja menyeringai sambil mengangkat paksa dagu Wonwoo pakai ibu jari dan telunjuk. &#34;Di sini dong. Ayo.&#34;&#xA;&#xA;Kernyitan alis Wonwoo seketika memudar. Bibirnya yang berkilau oleh lip gloss membuka, memperlihatkan ujung deretan gigi dan sekelebat lidah kecilnya. Mingyu juga sengaja menurunkan pandangan ke bibir itu, memancing lelaki di sisinya buat nerima tantangan blak-blakan barusan.&#xA;&#xA;&#34;Cium bibir gue, Bang.&#34;&#xA;&#xA;Kalo lo berani.&#xA;&#xA;Kalimat yang nggak terucap namun jelas tersirat. Mungkin Mingyu perlu ngasih pujian ke Wonwoo karena, meski ditantang, lelaki itu terus menatapnya dengan tenang. Malah, Mingyu yang jadi nggak nyaman bertatapan sama Wonwoo di ruang sesempit itu. Tapi, Mingyu nggak akan kalah.&#xA;&#xA;Dia nggak akan kalah dari Jeon Wonwoo.&#xA;&#xA;Beberapa kerjapan bulu mata, lalu senyuman Wonwoo terkembang lagi. Kali ini dielusnya pipi Mingyu.&#xA;&#xA;&#34;Harusnya gue yang ngomong gitu,&#34; ujarnya, begitu tenang. &#34;Kan lo yang naksir gue, Gyu. Lo boleh kok kalo mau cium gue di bibir.&#34;&#xA;&#xA;Berkata begitu, ibu jari Wonwoo turun ke bibir bawah Mingyu.&#xA;&#xA;&#34;Lo suka sama gue kan? Naksir gue kan?&#34;&#xA;&#xA;Kalimat yang, anehnya, ngebuat bulu kuduk di punggung Mingyu naik.&#xA;&#xA;&#34;Kalo lo emang naksir gue,&#34; Wonwoo memajukan kepala. Sengaja, agar bibirnya berada persis di depan bibir Mingyu. Napas hangat mereka bertukar. &#34;Cium gue, Kim Mingyu.&#34;&#xA;&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;&#xA;&#34;Gue pulang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh--&#34;&#xA;&#xA;Mendadak hilang tumpuan, Wonwoo hampir aja jatoh. Dia buru-buru berdiri, berupaya nyusul Mingyu. &#34;Gyu, tungguin--&#34;&#xA;&#xA;Sayangnya, Mingyu udah pergi dari situ. Wonwoo cuma bisa mandangin punggungnya yang mengecil dengan cepat, lalu menghela napas.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonstupid" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">minwonstupid</span></a></p>

<p><em>Lengket.</em></p>

<p>Iya, lengket. Lengket dan lembek, tapi alus. Bingung juga gimana dia harus jabarin bibir Wonwoo di pipinya selain anget. Anget, pertama, terus lengket, kedua, terus lembek yang ketiga.</p>

<p>...<em>Bentar, kenapa jadi kayak ngomong jorok ya?</em></p>

<p>Sakit kepala.</p>

<p><em>Jepret.</em></p>



<p>Wonwoo mundurin kepala buat natap Mingyu. Dia senyum santai banget, seolah nggak baru aja ngancurin seperempat dunia anak lelaki yang lebih muda setahun dari dia itu. Mereka diem-dieman sampe Mingyu neguk ludah karena tenggorokannya mendadak kering.</p>

<p>”....Uh, Bang Won...?” suaranya serak pas bertanya.</p>

<p>“Hmm?” gumaman pelan.</p>

<p>“Tadi..........lo ngapain?”</p>

<p>Wonwoo senyum. Senyum lebar banget, bener-bener nggak ada beban. Dia tepok-tepok pelan pipi Mingyu yang barusan aja dia cium. “Hadiah,” jawabnya. “Buat lo, soalnya lo bikin gebetan lo seneng.”</p>

<p>Rahang Mingyu serta-merta mengencang. Ada banyak hal yang mau dia bantah di <em>tuduhan</em> itu, tapi ngeliat gimana Wonwoo senyum, rasanya...dia nggak mau ngerusak itu. Alih-alih, dia mutusin buat ambil andil dalam <em>game</em> Wonwoo.</p>

<p>”...Kurang.”</p>

<p>Wonwoo mengernyit.</p>

<p>“Masa di pipi doang hadiahnya?” Mingyu sengaja menyeringai sambil mengangkat paksa dagu Wonwoo pakai ibu jari dan telunjuk. “Di sini dong. Ayo.”</p>

<p>Kernyitan alis Wonwoo seketika memudar. Bibirnya yang berkilau oleh lip gloss membuka, memperlihatkan ujung deretan gigi dan sekelebat lidah kecilnya. Mingyu juga sengaja menurunkan pandangan ke bibir itu, memancing lelaki di sisinya buat nerima tantangan blak-blakan barusan.</p>

<p>“Cium bibir gue, Bang.”</p>

<p><em>Kalo lo berani.</em></p>

<p>Kalimat yang nggak terucap namun jelas tersirat. Mungkin Mingyu perlu ngasih pujian ke Wonwoo karena, meski ditantang, lelaki itu terus menatapnya dengan tenang. Malah, Mingyu yang jadi nggak nyaman bertatapan sama Wonwoo di ruang sesempit itu. Tapi, Mingyu nggak akan kalah.</p>

<p>Dia nggak akan kalah dari Jeon Wonwoo.</p>

<p>Beberapa kerjapan bulu mata, lalu senyuman Wonwoo terkembang lagi. Kali ini dielusnya pipi Mingyu.</p>

<p>“Harusnya gue yang ngomong gitu,” ujarnya, begitu tenang. “Kan lo yang naksir gue, Gyu. Lo boleh kok kalo mau cium gue di bibir.”</p>

<p>Berkata begitu, ibu jari Wonwoo turun ke bibir bawah Mingyu.</p>

<p>“Lo suka sama gue kan? Naksir gue kan?”</p>

<p>Kalimat yang, anehnya, ngebuat bulu kuduk di punggung Mingyu naik.</p>

<p>“Kalo lo emang naksir gue,” Wonwoo memajukan kepala. Sengaja, agar bibirnya berada persis di depan bibir Mingyu. Napas hangat mereka bertukar. “<em>Cium gue, Kim Mingyu.</em>“</p>

<p>.
.
.
.</p>

<p>“Gue pulang.”</p>

<p>“Oh—”</p>

<p>Mendadak hilang tumpuan, Wonwoo hampir aja jatoh. Dia buru-buru berdiri, berupaya nyusul Mingyu. “Gyu, tungguin—”</p>

<p>Sayangnya, Mingyu udah pergi dari situ. Wonwoo cuma bisa mandangin punggungnya yang mengecil dengan cepat, lalu menghela napas.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/65-r003</guid>
      <pubDate>Sun, 20 Jun 2021 07:24:14 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>64.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/64?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwonstupid&#xA;&#xA;Kelar makan siang berupa tsukemen saus mala--&#xA;&#xA;(&#34;BANGSAD, LU PESENIN GUE APAAN?? FAK PEDES BANGET???&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;WKWKWKWKWK&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;ANJING, KIM MINGYU, FAK!&#34;)&#xA;&#xA;(&#34;WKWKWKWKWKWKKWKWKWWK&#34;)&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;\--yang hampir aja memicu perang dunia ke-tiga (untungnya diredam traktiran es krim kemudian), Mingyu nyeret Wonwoo ke department store terdekat. Bangunan empat lantai itu baru dibangun dan nuansa di dalemnya kata orang-orang sih futuristis gitu, macam tempat kongkow anak muda yang konsepnya beda dari pusat perbelanjaan lainnya. Tapi, di tengah jalan, mereka ngelewatin arkade gede banget dan, walhasil, melipirlah Wonwoo dan Mingyu ke sana.&#xA;&#xA;&#34;ANJEENNNGG!!! AAAAAA!!! MATI, MATI, MATI!!&#34;&#xA;&#xA;DOR! DOR! DOR!&#xA;&#xA;&#34;Diem dikit, woi, Gyu--&#34;&#xA;&#xA;&#34;BAANGG, ITU BELAKANG, BELAKANG!!&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo menarik pistolnya buat mengisi peluru, kemudian dengan cepat menarik pelatuk setelah layar berganti fokus, mengenai semua zombie yang muncul dari jendela yang pecah. Nggak ada satu pun peluru sia-sia termuntahkan.&#xA;&#xA;Kalo dibandingin sama Mingyu--&#xA;&#xA;&#34;AAAAAAAAA!! PERGI LO SEMUAAA!!&#34;&#xA;&#xA;\--well. 🙄&#xA;&#xA;\[GAME OVER\] pun nggak lama kecetak gede-gede di layar bagian Mingyu. Mendengus, dia menaruh pistol ke tempatnya dan melipir ke bangku terdekat, menonton Wonwoo menjajaki dua level lagi sampai akhirnya dia kalah.&#xA;&#xA;&#34;Payah banget lo,&#34; ejeknya, dengan kedua tangan masuk ke kantung celana.&#xA;&#xA;&#34;Diem lu, mentang-mentang gue nggak senerdus elu maen game,&#34; Mingyu mendecak balik. &#34;Ayok lawan gue di situ! Gue tantang lo!&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo mengikuti arah telunjuknya dan menemukan sebuah meja air hockey kosong. Seringainya muncul lagi.&#xA;&#xA;&#34;Boleh. Yang kalah, traktir!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Deal!&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;NUOOOHHHH!!&#34; 😭😭&#xA;&#xA;&#34;HAHAHAHAHA!!&#34; 😈😈&#xA;&#xA;&#34;LU PASTI CURANG YA BANG?! KOK LO BISA MASUKIN SEMUA, GUE NGGAK MASUK-MASUK??&#34; ditunjuknya Wonwoo, menuduh.&#xA;&#xA;&#34;Lu aja yang bego maen ginian,&#34; muhohoho 😈 &#34;I win. Take it.&#34;&#xA;&#xA;&#34;NEVER!&#34; Mingyu menggesek kartu arkade yang mereka beli dan isi sebelum mulai eksplorasi. Sejumlah uang otomatis terdebet oleh mesin dan sebuah kepingan bulat yang rata pun keluar dengan bunyi &#39;KLOTAK!&#39; nyaring. Pemukul mereka bergerak karena magnet di permukaan pun menyala. Mingyu mengambil kepingan bulat itu tanpa sekalipun mutusin tatapan sama Wonwoo. &#34;Double it! I&#39;ll win this time!&#34;&#xA;&#xA;Ah, ah, Kim Mingyu.&#xA;&#xA;Naif.&#xA;&#xA;&#34;Bring it on.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Gue yakin lu pasti curang, anjing! Nggak mungkin--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sush! Shut up, puppy,&#34; yaddayaddayadda berisik banget 🙄 Ternyata nggak ada yang lebih annoying daripada anjing kecil ego selangit terus kalah. Wonwoo memencet beberapa tombol untuk menggerakkan jepit UFO catcher yang penuh boneka fluffy gemoy. Ada yang bentuk kucing, anjing, dan hewan lainnya.&#xA;&#xA;Setelah air hockey yang telak dimenangin Wonwoo skor 5-2 dalam 7 kali tanding, mereka lanjut bertanding di mesin Tekken, loop basket, bahkan adu tinju. Mereka menolak bertanding di dance simulator karena sama-sama bobrok (and, yeah, daripada mati gegara malu ditontonin pengunjung se-arkade) dalam game ritme. Wonwoo menang hampir di semua game tersebut, dengan Mingyu mendominasi loop basket, masukin begitu banyak bola, cepet banget sampe Wonwoo kelimpungan ngejernya. In that particular game, dia nggak keberatan kasih sedikit kejayaan ke Kim Mingyu.&#xA;&#xA;UFO catcher bukan bagian dari pertandingan mereka hari ini, cuma Wonwoo iseng aja gesek kartu dan mencoba. Debat kusir mereka terhenti karena Mingyu juga jadi penasaran, apalagi pas Wonwoo mengernyitkan alis, pasang tampang serius banget, dan tangannya bergerak lihai memencet tombol.&#xA;&#xA;Pas jepit menjeblak terbuka lalu turun, Mingyu ber-&#34;aaah&#34; kecil, menduga Wonwoo gagal mengambil salah satu plushie kucing warna hitam di tumpukan. Namun, &#34;aaah&#34; kecil kemudian menjadi &#34;OOOH&#34; besar pas, tanpa dinyana, kaki plushie itu terjepit dan terangkat naik.&#xA;&#xA;Mereka berdua nggak sadar udah nahan napas, merhatiin plushie itu bergoyang-goyang di capitan yang rentan. Begitu capitan sampe di atas lubang besar dan melepaskan plushie itu, Mingyu berteriak lantang.&#xA;&#xA;&#34;DAPET! LO DAPET, BANG! NJRIT! LO DAPET!&#34; ditepok-tepoknya punggung Wonwoo, sementara lelaki itu meringis lebar, matanya ilang dan idungnya mengerut.&#xA;&#xA;Wonwoo membungkuk, mengambil plushie yang dia barusan menangin, terus diberikannya pada Mingyu.&#xA;&#xA;&#34;Nih.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Buat lo.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Buat apaan? Kan lo yang dapet?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Biar kalo lo tidur, inget gue terus. Jarang-jarang lho gebetan menangin ginian buat lo,&#34; kedip sebelah mata 😉&#xA;&#xA;&#34;IDIH...!&#34; 🙄&#xA;&#xA;Tapi, sebelom Mingyu protes lebih lanjut, Wonwoo udah narik dia ke salah satu booth. Ternyata booth purikura atau foto stiker. Booth itu sebenarnya muat buat dua orang, tapi kalo dua cowok tinggi besar yang masuk, apalagi segede Mingyu dan setinggi Wonwoo, alhasil mereka kudu duduk dempet-dempetan.&#xA;&#xA;&#34;Ngapain sih ginian??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Anggep aja ini traktiran lo karena lo kalah sama gue,&#34; Wonwoo ketawa.&#xA;&#xA;&#34;Nggak kepengen traktir yang wajar aja, gitu?? Boba kek ato burger??&#34; Mingyu melotot, sementara Wonwoo masa bego dan milih-milih frame. Begitu dia nemu, dia melingkarkan lengan mendadak ke leher Mingyu.&#xA;&#xA;&#34;Smile\~&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bang--&#34;&#xA;&#xA;Jepret.&#xA;&#xA;&#34;Ganti gaya, ganti gaya!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lengan lo--kecekek gue, bangsa--&#34;&#xA;&#xA;Jepret.&#xA;&#xA;&#34;Masih tiga kali lagi. Lo sinian dong, nggak muat lu di framenya, bagong banget sih.&#34;&#xA;&#xA;&#34;NGAJAK RIBUT LU YA--&#34; Mingyu menoleh ke samping.&#xA;&#xA;Jepret.&#xA;&#xA;Wonwoo juga menoleh ke samping.&#xA;&#xA;&#34;Mingyu.&#34;&#xA;&#xA;Jepret.&#xA;&#xA;Deket. Deket banget.&#xA;&#xA;&#34;...Apa?&#34;&#xA;&#xA;Jepret.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Sebuah strip keluar dari celah di luar mesin booth purikura. Strip berisikan 5 foto dengan foto terakhir berupa seorang lelaki nyium pipi lelaki lainnya yang ekspresinya kayak lagi nahan napas.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonstupid" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">minwonstupid</span></a></p>

<p>Kelar makan siang berupa tsukemen saus mala—</p>

<p><em>(“BANGSAD, LU PESENIN GUE APAAN?? FAK PEDES BANGET???”)</em></p>

<p><em>(“WKWKWKWKWK”)</em></p>

<p><em>(“ANJING, KIM MINGYU, FAK!”)</em></p>

<p><em>(“WKWKWKWKWKWKKWKWKWWK”)</em></p>



<p>--yang hampir aja memicu perang dunia ke-tiga (untungnya diredam traktiran es krim kemudian), Mingyu nyeret Wonwoo ke department store terdekat. Bangunan empat lantai itu baru dibangun dan nuansa di dalemnya kata orang-orang sih futuristis gitu, macam tempat kongkow anak muda yang konsepnya beda dari pusat perbelanjaan lainnya. Tapi, di tengah jalan, mereka ngelewatin arkade gede banget dan, walhasil, melipirlah Wonwoo dan Mingyu ke sana.</p>

<p>“ANJEENNNGG!!! AAAAAA!!! MATI, MATI, MATI!!”</p>

<p><em>DOR! DOR! DOR!</em></p>

<p>“Diem dikit, woi, Gyu—”</p>

<p>“BAANGG, ITU BELAKANG, BELAKANG!!”</p>

<p>Wonwoo menarik pistolnya buat mengisi peluru, kemudian dengan cepat menarik pelatuk setelah layar berganti fokus, mengenai semua zombie yang muncul dari jendela yang pecah. Nggak ada satu pun peluru sia-sia termuntahkan.</p>

<p>Kalo dibandingin sama Mingyu—</p>

<p>“AAAAAAAAA!! PERGI LO SEMUAAA!!”</p>

<p>--<em>well.</em> 🙄</p>

<p>[GAME OVER] pun nggak lama kecetak gede-gede di layar bagian Mingyu. Mendengus, dia menaruh pistol ke tempatnya dan melipir ke bangku terdekat, menonton Wonwoo menjajaki dua level lagi sampai akhirnya dia kalah.</p>

<p>“Payah banget lo,” ejeknya, dengan kedua tangan masuk ke kantung celana.</p>

<p>“Diem lu, mentang-mentang gue nggak senerdus elu maen game,” Mingyu mendecak balik. “Ayok lawan gue di situ! Gue tantang lo!”</p>

<p>Wonwoo mengikuti arah telunjuknya dan menemukan sebuah meja air hockey kosong. Seringainya muncul lagi.</p>

<p>“Boleh. Yang kalah, traktir!”</p>

<p>“Deal!”</p>

<hr/>

<p>“NUOOOHHHH!!” 😭😭</p>

<p>“HAHAHAHAHA!!” 😈😈</p>

<p>“LU PASTI CURANG YA BANG?! KOK LO BISA MASUKIN SEMUA, GUE NGGAK MASUK-MASUK??” ditunjuknya Wonwoo, menuduh.</p>

<p>“Lu aja yang bego maen ginian,” muhohoho 😈 “I win. Take it.”</p>

<p>“NEVER!” Mingyu menggesek kartu arkade yang mereka beli dan isi sebelum mulai eksplorasi. Sejumlah uang otomatis terdebet oleh mesin dan sebuah kepingan bulat yang rata pun keluar dengan bunyi <em>&#39;KLOTAK!&#39;</em> nyaring. Pemukul mereka bergerak karena magnet di permukaan pun menyala. Mingyu mengambil kepingan bulat itu tanpa sekalipun mutusin tatapan sama Wonwoo. “Double it! I&#39;ll win this time!”</p>

<p>Ah, ah, Kim Mingyu.</p>

<p><em>Naif.</em></p>

<p>“Bring it on.”</p>

<hr/>

<p>“Gue yakin lu pasti curang, anjing! Nggak mungkin—”</p>

<p>“<em>Sush!</em> Shut up, puppy,” yaddayaddayadda berisik banget 🙄 Ternyata nggak ada yang lebih annoying daripada anjing kecil ego selangit terus kalah. Wonwoo memencet beberapa tombol untuk menggerakkan jepit UFO catcher yang penuh boneka fluffy gemoy. Ada yang bentuk kucing, anjing, dan hewan lainnya.</p>

<p>Setelah air hockey yang telak dimenangin Wonwoo skor 5-2 dalam 7 kali tanding, mereka lanjut bertanding di mesin Tekken, loop basket, bahkan adu tinju. Mereka menolak bertanding di dance simulator karena sama-sama bobrok (and, yeah, daripada mati gegara malu ditontonin pengunjung se-arkade) dalam game ritme. Wonwoo menang hampir di semua game tersebut, dengan Mingyu mendominasi loop basket, masukin begitu banyak bola, cepet banget sampe Wonwoo kelimpungan ngejernya. In that particular game, dia nggak keberatan kasih sedikit kejayaan ke Kim Mingyu.</p>

<p>UFO catcher bukan bagian dari pertandingan mereka hari ini, cuma Wonwoo iseng aja gesek kartu dan mencoba. Debat kusir mereka terhenti karena Mingyu juga jadi penasaran, apalagi pas Wonwoo mengernyitkan alis, pasang tampang serius banget, dan tangannya bergerak lihai memencet tombol.</p>

<p>Pas jepit menjeblak terbuka lalu turun, Mingyu ber-“aaah” kecil, menduga Wonwoo gagal mengambil salah satu plushie kucing warna hitam di tumpukan. Namun, “aaah” kecil kemudian menjadi “OOOH” besar pas, tanpa dinyana, kaki plushie itu terjepit dan terangkat naik.</p>

<p>Mereka berdua nggak sadar udah nahan napas, merhatiin plushie itu bergoyang-goyang di capitan yang rentan. Begitu capitan sampe di atas lubang besar dan melepaskan plushie itu, Mingyu berteriak lantang.</p>

<p>“DAPET! LO DAPET, BANG! NJRIT! LO DAPET!” ditepok-tepoknya punggung Wonwoo, sementara lelaki itu meringis lebar, matanya ilang dan idungnya mengerut.</p>

<p>Wonwoo membungkuk, mengambil plushie yang dia barusan menangin, terus diberikannya pada Mingyu.</p>

<p>“Nih.”</p>

<p>“Hah?”</p>

<p>“Buat lo.”</p>

<p>“Buat apaan? Kan lo yang dapet?”</p>

<p>“Biar kalo lo tidur, inget gue terus. Jarang-jarang lho gebetan menangin ginian buat lo,” kedip sebelah mata 😉</p>

<p>“IDIH...!” 🙄</p>

<p>Tapi, sebelom Mingyu protes lebih lanjut, Wonwoo udah narik dia ke salah satu booth. Ternyata booth purikura atau foto stiker. Booth itu sebenarnya muat buat dua orang, tapi kalo dua cowok tinggi besar yang masuk, apalagi segede Mingyu dan setinggi Wonwoo, alhasil mereka kudu duduk dempet-dempetan.</p>

<p>“Ngapain sih ginian??”</p>

<p>“Anggep aja ini traktiran lo karena lo kalah sama gue,” Wonwoo ketawa.</p>

<p>“Nggak kepengen traktir yang wajar aja, gitu?? Boba kek ato burger??” Mingyu melotot, sementara Wonwoo masa bego dan milih-milih frame. Begitu dia nemu, dia melingkarkan lengan mendadak ke leher Mingyu.</p>

<p>“Smile~“</p>

<p>“Bang—”</p>

<p><em>Jepret.</em></p>

<p>“Ganti gaya, ganti gaya!”</p>

<p>“Lengan lo—kecekek gue, bangsa—”</p>

<p><em>Jepret.</em></p>

<p>“Masih tiga kali lagi. Lo sinian dong, nggak muat lu di framenya, bagong banget sih.”</p>

<p>“NGAJAK RIBUT LU YA—” Mingyu menoleh ke samping.</p>

<p><em>Jepret.</em></p>

<p>Wonwoo juga menoleh ke samping.</p>

<p>“Mingyu.”</p>

<p><em>Jepret.</em></p>

<p>Deket. Deket banget.</p>

<p>”...Apa?”</p>

<p><em>Jepret.</em></p>

<hr/>

<p>Sebuah strip keluar dari celah di luar mesin booth purikura. Strip berisikan 5 foto dengan foto terakhir berupa seorang lelaki nyium pipi lelaki lainnya yang ekspresinya kayak lagi nahan napas.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/64</guid>
      <pubDate>Sun, 20 Jun 2021 04:01:31 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>57.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/57-9wd8?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwonstupid&#xA;&#xA;&#34;So? Gonna do something, Kim Mingyu?&#34;&#xA;&#xA;Ringisan, sementara yang satunya diam-diam meneguk ludah.&#xA;&#xA;Rasanya aneh banget, sumpah, nyudutin Wonwoo ke rak buku kayak begini. Nggak tau dunia lagi ngisengin Kim Mingyu apa gimana dah, kok bisa-bisanya kejadian.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Dalam jarak sedeket ini, Mingyu baru kali ini bener-bener ngeliat sosok seorang Jeon Wonwoo. Selain matanya yang kecil, kelopak mata tunggal dan bulu mata tipis yang hampir nggak ada di balik kacamata bulatnya, Mingyu juga sadar akan bekas jerawat kemerahan di pipi dan sisi lehernya. Bukan cuma ujung hidung yang membulat dan rahang ovalnya, tetapi juga sisa bakal kumis yang habis dicukur setiap pagi di depan kaca kamar mandi.&#xA;&#xA;Wonwoo mengulum bibir bawahnya, mengajak arah pandang Mingyu bersamanya. Can&#39;t help it, y&#39;no, refleks murni yang manusiawi.&#xA;&#xA;Yang bukan refleks adalah saat Mingyu menyadari bibir Wonwoo yang biasanya kering dan pecah-pecah karena rentan sama udara dingin dan AC, kini lembab, pun agak berkilau. Tipis banget jadi Mingyu nggak sadar itu sejak awal.&#xA;&#xA;&#34;...?&#34; penasaran, Mingyu mengusapkan ibu jari ke bibir Wonwoo. Alisnya mengerut. Wonwoo, merasakan sentuhan di bibirnya, menghentakkan napas tertahan. &#34;Bentar, Bang, ini ada...apaan yah, nempel di bibir lu. Kayak minyak...&#34;&#xA;&#xA;Ditariknya ibu jari, memastikan kalo emang dugaan awalnya bener: ada minyak nempel. Mingyu pun mendengus.&#xA;&#xA;&#34;Bused, beneran minyak,&#34; kekehnya. &#34;Abis makan gorengan lu ya? Gimana sih lu, seka dong yang bener, elah.&#34;&#xA;&#xA;Biasanya dia bakal narik lengan bajunya dan menyeka bibir Wonwoo, tapi kali ini Mingyu cuma pake kaos lengan pendek, jadi dia nggak bawa apapun buat bantuin Wonwoo. &#34;Bener-bener dah,&#34; dicoba disekanya lagi. &#34;Lo tuh harus banget diurus sama orang laen ya. Kalo gue ato anak-anak kagak ada, idup nggak lo ya...&#34;&#xA;&#xA;Setengah bergumam, setengah mendumal, sementara ibu jari menyeka bekas minyak itu. Tapi, tentu aja, nggak bisa bersih karena nggak ada tissue atau lap atau sapu tangan buat menyeka. Mingyu mempertimbangkan sedetik sebelum menggunakan celana jinsnya untuk tugas itu. Ibu jari berlapis minyak dia sapukan ke bagian paha jinsnya.&#xA;&#xA;&#34;Nggak bisa ilang banget. Lo jilet dah, Bang.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo diem. Dia terus aja diem selama Mingyu menyentuh bibirnya. Sekarang dia juga diem pas denger Mingyu ngomong begitu, sampai kemudian dia memaksa ngomong.&#xA;&#xA;&#34;...Jempol lo?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ha?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yang gue jilet.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Wtf, ya kagak, anjrit,&#34; heran banget dah. &#34;Bibir lo. Jilet, biar minyaknya ilang.&#34;&#xA;&#xA;Mereka lalu bertatapan. Mingyu nungguin. Wonwoo, well...Wonwoo perlahan ngeluarin ujung lidahnya, kecil, merah, kayak anak meong lagi minum. Kemudian, dia menjilati bibirnya sendiri, dibawa dengan pelan menyusuri bibir bawah, lalu naik ke bibir atas. Semua itu di bawah tatapan mata Mingyu.&#xA;&#xA;Which, of course, langsung dikutuk dalam hati sama Mingyu, yang baru sadar di mana letak salahnya.&#xA;&#xA;.......Nggak ada otak lo emang, Gyu, ya Tuhan, napa lu nyuruh dia jilet bibirnya, anjing......, kira-kira kayak gitu isi hati Kim Mingyu sekarang.&#xA;&#xA;&#34;Udah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;H-hah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lip gloss gue,&#34; Wonwoo menjilat sisi bibirnya, memastikan nggak ada lagi sapuan yang ketinggal sebelum lidah itu kembali ke tempatnya. &#34;Udah ilang?&#34;&#xA;&#xA;Mingyu ngernyit, &#34;Lip gloss? Bukan minyak gorengan?&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo menggeleng.&#xA;&#xA;&#34;Ngapain lu pake lip gloss? Tumben?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kan lo bilang mau nyamperin gue ke perpus.&#34;&#xA;&#xA;......😦&#xA;&#xA;&#34;Maksud lo, lo make lip gloss gegara gue?&#34;&#xA;&#xA;Anggukan.&#xA;&#xA;&#34;But...why?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yah, siapa tau lo mau nyipok gue, gitu.&#34;&#xA;&#xA;......................😦&#xA;&#xA;&#34;Bang Won,&#34; by the way, Mingyu udah duduk bersila depan Wonwoo dari tadi ya. Ya kali dia berlutut terus, capek gan. &#34;Lo kenapa sih, Bang? Lo mau gue cipok lo? Lo naksir gue apa gimana sih, Bang, kok aneh banget lo akhir-akhir ini?&#34; Ini Mingyu udah serius lho, udah super duper serius.&#xA;&#xA;&#34;Kebalik kali,&#34; dengusnya geli, lalu kekehan. &#34;Lo yang naksir gue. Lah ini, lo lagi PDKT ke gue sekarang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Emang gue ngapain??&#34; shock 😱&#xA;&#xA;&#34;Melok gue pas buku-bukunya jatoh tadi--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue pan nolongin lo, njing.&#34; 😐&#xA;&#xA;&#34;--nyudutin gue ke rak buku--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kagak sengaja!!&#34; 😱&#xA;&#xA;&#34;--terus megang-megang bibir gue, sok-sokan ngaku ada minyak padahal mah pengen sentuh gue aja kan lo?&#34;&#xA;&#xA;&#34;EMANG ADA MINYAK KAN??&#34; 😱😱&#xA;&#xA;Tuhan...capek banget ngomong sama Bang Won... 😱&#xA;&#xA;&#34;Terima aja sih, Kim Mingyu. Lo naksir gue kan?&#34;&#xA;&#xA;Capek. Mingyu menghela napas. Perpustakaan kini benderang karena lampu udah diidupin. Mingyu kemudian berdiri. Dia juga denger pergerakan nggak jauh dari tempat mereka berada, duganya petugas perpus lagi inspeksi terakhir sebelom mereka kunci dan pulang.&#xA;&#xA;&#34;Pak! Udah mau tutup ya?&#34; Mingyu berteriak.&#xA;&#xA;&#34;Oh ya, ya, Nak, Bapak mau tutup nih ya. Ayo kalian balik,&#34; balas sebuah suara dari arah konter petugas. &#34;Udah malem.&#34;&#xA;&#xA;Kemudian, Mingyu balik natap Wonwoo yang masih duduk di depannya. Dia membungkuk lalu mengulurkan tangan.&#xA;&#xA;&#34;Ayok,&#34; ajaknya. &#34;Gue laper nih.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonstupid" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">minwonstupid</span></a></p>

<p>“<em>So?</em> Gonna do something, Kim Mingyu?”</p>

<p>Ringisan, sementara yang satunya diam-diam meneguk ludah.</p>

<p>Rasanya aneh banget, sumpah, nyudutin Wonwoo ke rak buku kayak begini. Nggak tau dunia lagi ngisengin Kim Mingyu apa gimana dah, kok bisa-bisanya kejadian.</p>



<p>Dalam jarak sedeket ini, Mingyu baru kali ini <em>bener-bener</em> ngeliat sosok seorang Jeon Wonwoo. Selain matanya yang kecil, kelopak mata tunggal dan bulu mata tipis yang hampir nggak ada di balik kacamata bulatnya, Mingyu juga sadar akan bekas jerawat kemerahan di pipi dan sisi lehernya. Bukan cuma ujung hidung yang membulat dan rahang ovalnya, tetapi juga sisa bakal kumis yang habis dicukur setiap pagi di depan kaca kamar mandi.</p>

<p>Wonwoo mengulum bibir bawahnya, mengajak arah pandang Mingyu bersamanya. Can&#39;t help it, y&#39;no, refleks murni yang manusiawi.</p>

<p>Yang bukan refleks adalah saat Mingyu menyadari bibir Wonwoo yang biasanya kering dan pecah-pecah karena rentan sama udara dingin dan AC, kini lembab, pun agak berkilau. Tipis banget jadi Mingyu nggak sadar itu sejak awal.</p>

<p>”...?” penasaran, Mingyu mengusapkan ibu jari ke bibir Wonwoo. Alisnya mengerut. Wonwoo, merasakan sentuhan di bibirnya, menghentakkan napas tertahan. “Bentar, Bang, ini ada...apaan yah, nempel di bibir lu. Kayak minyak...”</p>

<p>Ditariknya ibu jari, memastikan kalo emang dugaan awalnya bener: ada minyak nempel. Mingyu pun mendengus.</p>

<p>“Bused, beneran minyak,” kekehnya. “Abis makan gorengan lu ya? Gimana sih lu, seka dong yang bener, elah.”</p>

<p>Biasanya dia bakal narik lengan bajunya dan menyeka bibir Wonwoo, tapi kali ini Mingyu cuma pake kaos lengan pendek, jadi dia nggak bawa apapun buat bantuin Wonwoo. “Bener-bener dah,” dicoba disekanya lagi. “Lo tuh harus banget diurus sama orang laen ya. Kalo gue ato anak-anak kagak ada, idup nggak lo ya...”</p>

<p>Setengah bergumam, setengah mendumal, sementara ibu jari menyeka bekas minyak itu. Tapi, tentu aja, nggak bisa bersih karena nggak ada tissue atau lap atau sapu tangan buat menyeka. Mingyu mempertimbangkan sedetik sebelum menggunakan celana jinsnya untuk tugas itu. Ibu jari berlapis minyak dia sapukan ke bagian paha jinsnya.</p>

<p>“Nggak bisa ilang banget. Lo jilet dah, Bang.”</p>

<p>Wonwoo diem. Dia terus aja diem selama Mingyu menyentuh bibirnya. Sekarang dia juga diem pas denger Mingyu ngomong begitu, sampai kemudian dia memaksa ngomong.</p>

<p>”...Jempol lo?”</p>

<p>“Ha?”</p>

<p>“Yang gue jilet.”</p>

<p>“Wtf, ya kagak, anjrit,” heran banget dah. “Bibir lo. Jilet, biar minyaknya ilang.”</p>

<p>Mereka lalu bertatapan. Mingyu nungguin. Wonwoo, well...Wonwoo perlahan ngeluarin ujung lidahnya, kecil, merah, kayak anak meong lagi minum. Kemudian, dia menjilati bibirnya sendiri, dibawa dengan pelan menyusuri bibir bawah, lalu naik ke bibir atas. Semua itu di bawah tatapan mata Mingyu.</p>

<p>Which, of course, langsung dikutuk dalam hati sama Mingyu, yang baru sadar di mana letak salahnya.</p>

<p><em>.......Nggak ada otak lo emang, Gyu, ya Tuhan, napa lu nyuruh dia jilet bibirnya, anjing......,</em> kira-kira kayak gitu isi hati Kim Mingyu sekarang.</p>

<p>“Udah?”</p>

<p>“H-hah?”</p>

<p>“Lip gloss gue,” Wonwoo menjilat sisi bibirnya, memastikan nggak ada lagi sapuan yang ketinggal sebelum lidah itu kembali ke tempatnya. “Udah ilang?”</p>

<p>Mingyu ngernyit, “Lip gloss? Bukan minyak gorengan?”</p>

<p>Wonwoo menggeleng.</p>

<p>“Ngapain lu pake lip gloss? Tumben?”</p>

<p>“Kan lo bilang mau nyamperin gue ke perpus.”</p>

<p>......😦</p>

<p>“Maksud lo, lo make lip gloss gegara <em>gue</em>?”</p>

<p>Anggukan.</p>

<p>“But...<em>why?</em>“</p>

<p>“Yah, siapa tau lo mau nyipok gue, gitu.”</p>

<p>......................😦</p>

<p>“Bang Won,” by the way, Mingyu udah duduk bersila depan Wonwoo dari tadi ya. Ya kali dia berlutut terus, capek gan. “Lo kenapa sih, Bang? Lo <em>mau</em> gue cipok lo? Lo naksir gue apa gimana sih, Bang, kok aneh banget lo akhir-akhir ini?” Ini Mingyu udah serius lho, udah super duper serius.</p>

<p>“Kebalik kali,” dengusnya geli, lalu kekehan. “Lo yang naksir gue. Lah ini, lo lagi PDKT ke gue sekarang.”</p>

<p>“Emang gue ngapain??” shock 😱</p>

<p>“Melok gue pas buku-bukunya jatoh tadi—”</p>

<p>“Gue pan nolongin lo, njing.” 😐</p>

<p>”—nyudutin gue ke rak buku—”</p>

<p>“Kagak sengaja!!” 😱</p>

<p>”—terus megang-megang bibir gue, sok-sokan ngaku ada minyak padahal mah pengen sentuh gue aja kan lo?”</p>

<p>“EMANG ADA MINYAK KAN??” 😱😱</p>

<p><em>Tuhan...capek banget ngomong sama Bang Won...</em> 😱</p>

<p>“Terima aja sih, Kim Mingyu. Lo naksir gue kan?”</p>

<p><em>Capek</em>. Mingyu menghela napas. Perpustakaan kini benderang karena lampu udah diidupin. Mingyu kemudian berdiri. Dia juga denger pergerakan nggak jauh dari tempat mereka berada, duganya petugas perpus lagi inspeksi terakhir sebelom mereka kunci dan pulang.</p>

<p>“Pak! Udah mau tutup ya?” Mingyu berteriak.</p>

<p>“Oh ya, ya, Nak, Bapak mau tutup nih ya. Ayo kalian balik,” balas sebuah suara dari arah konter petugas. “Udah malem.”</p>

<p>Kemudian, Mingyu balik natap Wonwoo yang masih duduk di depannya. Dia membungkuk lalu mengulurkan tangan.</p>

<p>“Ayok,” ajaknya. “Gue laper nih.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/57-9wd8</guid>
      <pubDate>Fri, 18 Jun 2021 00:11:54 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>56.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/56?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwonstupid&#xA;&#xA;&#34;Bang Won.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo ngerjapin mata beberapa kali. Bisikan Mingyu akan namanya tepat di telinga membuat hipnotis jurnal yang lagi dia baca pecah seketika. Dia refleks memutar kepala dan saling tatap muka dengan lelaki itu.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Serius banget lu, gue WA kagak dibales,&#34; seloroh Mingyu sambil duduk persis di bangku sebelah Wonwoo. &#34;Udah sore banget nih.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo ngerjapin mata lagi, tapi kali ini ngeliat ke arah jendela. &#34;Oh,&#34; bener juga. Senjanya udah memekat, bentar lagi malem pasti turun. Tumben nggak ada petugas perpustakaan yang ngusir dia kayak biasa.&#xA;&#xA;&#34;Lo udah makan belom?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Udah,&#34; gumam Wonwoo, berusaha balik menekuni jurnalnya.&#xA;&#xA;&#34;Siang ini?&#34;&#xA;&#xA;Anggukan. Mingyu menghela napas. Tipikal Wonwoo kalo lagi terabsorpsi sama apapun yang dia kerjain. Dia tau kalo Wonwoo itu jenis orang yang diam-diam mau menjadi overachiever. Ambis, tapi tenang menghanyutkan kayak air sungai yang deras. Nggak jedak jeduk kayak kembang api dan bikin orang risih sama keambisannya, tetapi tipe orang yang bakal begadang belajar semaleman biar ujiannya dapet skor 100 sempurna meski udah belajar dengan rajin setiap harinya.&#xA;&#xA;Mingyu tau, karena nggak sekali-dua kali dia nemenin Wonwoo belajar, meski jurusan dan tingkat mereka jelas berbeda. Nemenin toh bukan berarti dia harus ikut campur sama apa yang Wonwoo lagi kerjain.&#xA;&#xA;Mereka diam lagi untuk tiga puluh menit ke depan, sampai matahari jingga berubah kemerahan dan dunia mulai ditelan gelap perlahan-lahan. Perpustakaan itu sepi banget, kayaknya cuma ada mereka berdua dan penjaga perpustakaan di balik konter kerja mereka. Maklum sih, bentar lagi masuk liburan agak panjang. Pasti anak-anak lainnya siap-siap mau balik ke rumah masing-masing ato milih kongkow sama temen-temen sebelom pisah sejenak.&#xA;&#xA;&#34;Bang,&#34; sikut Wonwoo pelan.&#xA;&#xA;&#34;Hmm?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bang, ih,&#34; sikut lagi. &#34;Ayo cabut.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nanggung.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Udah malem, anjir, ntar kita dikunci di dalem.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya nggak pa-pa kan kekunci bareng. Ntar kita berduaan semaleman buat kemajuan PDKT lo.&#34;&#xA;&#xA;Srakk.&#xA;&#xA;Wonwoo membalik halaman jurnalnya. Mingyu memandanginya heran seolah kepala Wonwoo ada tiga.&#xA;&#xA;&#34;Bang, did you hear yourself?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mm.&#34;&#xA;&#xA;Kesal juga karena Wonwoo nggak anggep serius ajakannya buat pergi, plus perutnya udah laper, njing, mau makan daging graahh, Mingyu pun serta merta berdiri dan, entah setan mana lewat, dia gamit lengan atas Wonwoo dan menarik lelaki itu hingga berdiri.&#xA;&#xA;&#34;Ayo pulang, udah malem, gue laper,&#34; Mingyu mengernyit, hanya untuk menemukan Wonwoo menatapnya kaget, matanya mengerjap-ngerjap lagi. &#34;Besok lagi dilanjutin kan bisa?&#34;&#xA;&#xA;Cuma semenit, mungkin, mereka bertatapan dalam jarak sedekat gitu, dan Wonwoo dengan cepat menghalau tangan Mingyu dari lengannya (karena, fuck it, Wonwoo bukan pangeran lemah keperangkap di atas menara, coy, kalo harus adu jotos sama Mingyu, dia pasti bisa laaahh 🤟), tapi kerasa kayak selamanya. Mingyu bahkan baru sadar apa yang udah dia lakuin pas Wonwoo ngeberesin buku-buku dan jurnal di atas meja tanpa sepatah kata pun.&#xA;&#xA;Yah...anjing dah, ngambek kan..., batin Mingyu.&#xA;&#xA;&#34;Bang Won...&#34;&#xA;&#xA;Buku-buku ditumpuk jadi satu. Jurnal di paling atas. Lalu, dia angkat semua dengan mudah.&#xA;&#xA;&#34;Bang, issh,&#34; Mingyu mengintil di belakang Wonwoo, yang jalan ke salah satu lorong rak. &#34;Jangan ngambek dong. Sori, Bang, gue nggak sengaja.&#34; Manyun lucu, biarpun Wonwoo nggak liat.&#xA;&#xA;Wonwoo berjongkok dan mulai mengembalikan buku-buku ke tempatnya semula. Dia masih membelakangi Mingyu.&#xA;&#xA;Mingyu hela napas panjang, &#34;Bang Woooonn\~ Plis deh, Bang, jan langsung apa-apa ngambeg gini terus ngediemin gue\~ Gue pan kagak sengaja, suwer dah\~&#34; 😩 &#34;Kagak ada niat kurang ajar sama lo--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terus tadi apa??&#34;&#xA;&#xA;Kesal karena Mingyu berani-beraninya ganggu dia sampai narik paksa dia kayak tadi, nggak sadar Wonwoo ngebanting buku ke rak sekuat tenaga sampai rak itu bergoyang. Mata Mingyu otomatis membelalak karena buku-buku di rak bagian atas ikutan runtuh.&#xA;&#xA;&#34;Shit--&#34;&#xA;&#xA;Satu kerjapan mata. Cukup satu kerjapan mata untuk dunia Wonwoo berubah jadi gelap. Dan hangat. Gelap dan hangat. Satu kerjapan mata lagi buat dia bergumam, &#34;...Hah?&#34;&#xA;&#xA;Dan satu kerjapan lagi buat Wonwoo sadar tangan-tangan Mingyu di punggung dan bagian belakang kepalanya. Buku-buku bertebaran di sekitar kakinya.&#xA;&#xA;...Hah...?&#xA;&#xA;&#34;Adududuh....fuck...&#34;&#xA;&#xA;Sadar, Wonwoo maksa ngelepas pelukan lengan Mingyu buat ngeliat ke wajahnya. &#34;Goblok lo, kalo kena sudut buku, gimana??&#34; serunya. Mingyu merintih karena punggungnya baru aja dibombardir banyak buku yang berjatuhan. Beberapa buku bahkan hard cover. Tangan Wonwoo refleks menyelinap ke dalam kaos Mingyu, mengecek punggungnya sampai kaos itu keangkat sedikit. Dia meraba kulit di sana. &#34;Agak merah...,&#34; tangannya mengelus punggung Mingyu. &#34;Sakit?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sakit,&#34; aku Mingyu. Senat-senut, sebetulnya mah.&#xA;&#xA;&#34;Kalo gue teken--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jangan diteken woei bangsat adhsk!&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo ketawa pelan. Mingyu manyun lagi. Keduanya nggak sadar Wonwoo terus mengelusi punggung Mingyu sampai tangannya meninggalkan kulit hangat di sana. Wonwoo kemudian mundur, bersandar ke rak.&#xA;&#xA;Kali ini, Mingyu yang mengerjapkan mata. Wonwoo bersandar ke rak dengan lengan melipat di dada, memberi jarak sedikit di antara mereka agar bisa saling bertatapan.&#xA;&#xA;&#34;Tadi pagi ada yang bilang mau serius PDKT-in gue, katanya?&#34;&#xA;&#xA;Perpustakaan kosong. Senja, menggelapkan suasana. Cuma berdua aja dan wajah mereka hanya berjarak helaan napas. Ujung bibir Wonwoo keangkat, membentuk ringisan. Otomatis, arah tatapan Mingyu turun ke bibirnya.&#xA;&#xA;&#34;So? Gonna do something, Kim Mingyu?&#34;&#xA;&#xA;Teguk ludah.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonstupid" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">minwonstupid</span></a></p>

<p>“Bang Won.”</p>

<p>Wonwoo ngerjapin mata beberapa kali. Bisikan Mingyu akan namanya tepat di telinga membuat hipnotis jurnal yang lagi dia baca pecah seketika. Dia refleks memutar kepala dan saling tatap muka dengan lelaki itu.</p>



<p>“Serius banget lu, gue WA kagak dibales,” seloroh Mingyu sambil duduk persis di bangku sebelah Wonwoo. “Udah sore banget nih.”</p>

<p>Wonwoo ngerjapin mata lagi, tapi kali ini ngeliat ke arah jendela. “Oh,” bener juga. Senjanya udah memekat, bentar lagi malem pasti turun. Tumben nggak ada petugas perpustakaan yang ngusir dia kayak biasa.</p>

<p>“Lo udah makan belom?”</p>

<p>“Udah,” gumam Wonwoo, berusaha balik menekuni jurnalnya.</p>

<p>“Siang ini?”</p>

<p>Anggukan. Mingyu menghela napas. Tipikal Wonwoo kalo lagi terabsorpsi sama apapun yang dia kerjain. Dia tau kalo Wonwoo itu jenis orang yang diam-diam mau menjadi overachiever. Ambis, tapi tenang menghanyutkan kayak air sungai yang deras. Nggak jedak jeduk kayak kembang api dan bikin orang risih sama keambisannya, tetapi tipe orang yang bakal begadang belajar semaleman biar ujiannya dapet skor 100 sempurna meski udah belajar dengan rajin setiap harinya.</p>

<p>Mingyu tau, karena nggak sekali-dua kali dia nemenin Wonwoo belajar, meski jurusan dan tingkat mereka jelas berbeda. Nemenin toh bukan berarti dia harus ikut campur sama apa yang Wonwoo lagi kerjain.</p>

<p>Mereka diam lagi untuk tiga puluh menit ke depan, sampai matahari jingga berubah kemerahan dan dunia mulai ditelan gelap perlahan-lahan. Perpustakaan itu sepi banget, kayaknya cuma ada mereka berdua dan penjaga perpustakaan di balik konter kerja mereka. Maklum sih, bentar lagi masuk liburan agak panjang. Pasti anak-anak lainnya siap-siap mau balik ke rumah masing-masing ato milih kongkow sama temen-temen sebelom pisah sejenak.</p>

<p>“Bang,” sikut Wonwoo pelan.</p>

<p>“Hmm?”</p>

<p>“Bang, ih,” sikut lagi. “Ayo cabut.”</p>

<p>“Nanggung.”</p>

<p>“Udah malem, anjir, ntar kita dikunci di dalem.”</p>

<p>“Ya nggak pa-pa kan kekunci bareng. Ntar kita berduaan semaleman buat kemajuan PDKT lo.”</p>

<p><em>Srakk.</em></p>

<p>Wonwoo membalik halaman jurnalnya. Mingyu memandanginya heran seolah kepala Wonwoo ada tiga.</p>

<p>“Bang, did you hear yourself?”</p>

<p>“Mm.”</p>

<p>Kesal juga karena Wonwoo nggak anggep serius ajakannya buat pergi, plus perutnya udah laper, njing, mau makan daging graahh, Mingyu pun serta merta berdiri dan, entah setan mana lewat, dia gamit lengan atas Wonwoo dan menarik lelaki itu hingga berdiri.</p>

<p>“Ayo pulang, udah malem, gue laper,” Mingyu mengernyit, hanya untuk menemukan Wonwoo menatapnya kaget, matanya mengerjap-ngerjap lagi. “Besok lagi dilanjutin kan bisa?”</p>

<p>Cuma semenit, mungkin, mereka bertatapan dalam jarak sedekat gitu, dan Wonwoo dengan cepat menghalau tangan Mingyu dari lengannya (karena, fuck it, Wonwoo bukan pangeran lemah keperangkap di atas menara, coy, kalo harus adu jotos sama Mingyu, dia pasti bisa laaahh 🤟), tapi kerasa kayak selamanya. Mingyu bahkan baru sadar apa yang udah dia lakuin pas Wonwoo ngeberesin buku-buku dan jurnal di atas meja tanpa sepatah kata pun.</p>

<p><em>Yah...anjing dah, ngambek kan...,</em> batin Mingyu.</p>

<p>“Bang Won...”</p>

<p>Buku-buku ditumpuk jadi satu. Jurnal di paling atas. Lalu, dia angkat semua dengan mudah.</p>

<p>“Bang, issh,” Mingyu mengintil di belakang Wonwoo, yang jalan ke salah satu lorong rak. “Jangan ngambek dong. Sori, Bang, gue nggak sengaja.” Manyun lucu, biarpun Wonwoo nggak liat.</p>

<p>Wonwoo berjongkok dan mulai mengembalikan buku-buku ke tempatnya semula. Dia masih membelakangi Mingyu.</p>

<p>Mingyu hela napas panjang, “Bang Woooonn~ Plis deh, Bang, jan langsung apa-apa ngambeg gini terus ngediemin gue~ Gue pan kagak sengaja, suwer dah~” 😩 “Kagak ada niat kurang ajar sama lo—”</p>

<p>“Terus tadi apa??”</p>

<p>Kesal karena Mingyu berani-beraninya ganggu dia sampai narik paksa dia kayak tadi, nggak sadar Wonwoo ngebanting buku ke rak sekuat tenaga sampai rak itu bergoyang. Mata Mingyu otomatis membelalak karena buku-buku di rak bagian atas ikutan runtuh.</p>

<p>“Shit—”</p>

<p>Satu kerjapan mata. Cukup satu kerjapan mata untuk dunia Wonwoo berubah jadi gelap. Dan hangat. Gelap dan hangat. Satu kerjapan mata lagi buat dia bergumam, “...Hah?”</p>

<p>Dan satu kerjapan lagi buat Wonwoo sadar tangan-tangan Mingyu di punggung dan bagian belakang kepalanya. Buku-buku bertebaran di sekitar kakinya.</p>

<p><em>...Hah...?</em></p>

<p>“Adududuh....fuck...”</p>

<p>Sadar, Wonwoo maksa ngelepas pelukan lengan Mingyu buat ngeliat ke wajahnya. “Goblok lo, kalo kena sudut buku, gimana??” serunya. Mingyu merintih karena punggungnya baru aja dibombardir banyak buku yang berjatuhan. Beberapa buku bahkan hard cover. Tangan Wonwoo refleks menyelinap ke dalam kaos Mingyu, mengecek punggungnya sampai kaos itu keangkat sedikit. Dia meraba kulit di sana. “Agak merah...,” tangannya mengelus punggung Mingyu. “Sakit?”</p>

<p>“Sakit,” aku Mingyu. Senat-senut, sebetulnya mah.</p>

<p>“Kalo gue teken—”</p>

<p>“Jangan diteken woei bangsat adhsk!”</p>

<p>Wonwoo ketawa pelan. Mingyu manyun lagi. Keduanya nggak sadar Wonwoo terus mengelusi punggung Mingyu sampai tangannya meninggalkan kulit hangat di sana. Wonwoo kemudian mundur, bersandar ke rak.</p>

<p>Kali ini, Mingyu yang mengerjapkan mata. Wonwoo bersandar ke rak dengan lengan melipat di dada, memberi jarak sedikit di antara mereka agar bisa saling bertatapan.</p>

<p>“Tadi pagi ada yang bilang mau serius PDKT-in gue, katanya?”</p>

<p>Perpustakaan kosong. Senja, menggelapkan suasana. Cuma berdua aja dan wajah mereka hanya berjarak helaan napas. Ujung bibir Wonwoo keangkat, membentuk ringisan. Otomatis, arah tatapan Mingyu turun ke bibirnya.</p>

<p>“<em>So?</em> Gonna do something, Kim Mingyu?”</p>

<p><em>Teguk ludah.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/56</guid>
      <pubDate>Thu, 17 Jun 2021 00:54:17 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>48.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/48?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwonstupid&#xA;&#xA;&#34;Spa--&#34;&#xA;&#xA;&#34;HAOOO!&#34;&#xA;&#xA;Jeglek!&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Mendadak, pintu kamar Mingyu kebuka. Mendadak, Minghao diseruduk banteng (ato bebek super sengkel) dan diseret masuk buru-buru ke kamar. Baru aja dia mau ngamuk ke temennya itu, tapi Mingyu mendahuluinya, memotong ucapan Minghao.&#xA;&#xA;&#34;Gue kira lo batal dateng! Ada Bang Won sih, tapi nggak apa kok, gue toh udah duluan janji sama lo!!&#34;&#xA;&#xA;Minghao mendelik ke arah Mingyu. Mingyu cuma bisa nyengir salting sambil keringet dingin. Minghao mendoyongkan badan, mengintip melalui bahu Mingyu. Wonwoo menatapnya, mengangkat tangan dengan santai, satu tangan menopang dagu di meja kecil Mingyu sambil duduk bersila di lantai.&#xA;&#xA;Minghao balik mendelik ke arah Mingyu. Mingyu makin keringetan.&#xA;&#xA;Plis, plis, plis..., doanya dalam hati.&#xA;&#xA;Minghao menghela napas. &#34;Iya, sori ganggu ya, Gyu. Padahal lo nggak apa-apa kok kalo mau batalin rencana kita,&#34; berkata begitu, Minghao lenggang kangkung melewati Mingyu buat duduk di meja yang sama yang ditempati Wonwoo. &#34;Sori ya, Bang, ganggu pdkt lo ke Kigyu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bilang sama Gyu,&#34; kekeh Wonwoo. Dia menenggak air putih dinginnya, lalu mendesah. &#34;Aaah\~&#34; Disekanya bibir dengan punggung tangan. &#34;Dia yang lagi pdkt ke gue.&#34;&#xA;&#xA;Minghao mengernyitkan sebelah alis.&#xA;&#xA;&#34;Kalo lo nggak muncul tadi, hampir aja dia nyipok bibir gue lho.&#34; 😉&#xA;&#xA;Kedua bola mata Minghao seketika membulat. Mulutnya membuka dan kepalanya berputar ke arah temennya, yang kini mukanya semerah tomat paling ranum disiram mentari bulan Juli.&#xA;&#xA;&#34;ENGGAK! BOHONG! ANJING, APAAN SIH LO, BANG???&#34; sambil malu, sambil ngamuk. Mingyu menyusruk, berlutut di depan Wonwoo, dan menarik kerah lelaki itu. &#34;LO YA YANG BILANG MATA LO KELILIPAN DAN MINTA GUE BANTU TIUPIN?? GUE CUMA NIUPIN MATA LO, LO YANG MENDADAK--&#34;&#xA;&#xA;&#34;PPFFTT!&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo ketawa. Dia ketawa ngakak, puas banget kayaknya. Wonwoo ngakak sampe nangis, ninggalin Mingyu sama Minghao liat-liatan berdua.&#xA;&#xA;(&#34;Bang Won napa dah?&#34;)&#xA;&#xA;Mulut Minghao bergerak tanpa suara, yang dijawab Mingyu dengan gelengan, lalu telunjuk melintang di jidatnya sendiri.&#xA;&#xA;(&#34;Dah gue bilang dia sarap, lu pada kaga percaya sih!&#34;)&#xA;&#xA;Minghao memutar bola mata 🙄&#xA;&#xA;Begitu tawa Wonwoo redaan, dia merebahkan punggung, bersandar ke sisi ranjang Mingyu sambil mengucek matanya. Minghao nunggu timing yang tepat, baru nanya, &#34;Bang Won? Lu sehat kan, Bang...?&#34; Nadanya nggak yakin juga.&#xA;&#xA;&#34;Sehat, sehat...,&#34; hela napas, lalu pake lagi kacamatanya. &#34;Aah, kocak banget. Gue cuma lagi praktekin adegan yang gue baca di komik ke Gyu, terus tetau dia beneran dong ngeliatin bibir gue. Asli dah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;?? GUE NGGAK LIATIN BIBIR LO??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yeah rite,&#34; 😏 &#34;I have eyes, Kim Mingyu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;SO HAVE I, ANJIR???&#34;&#xA;&#xA;&#34;Touché.&#34;&#xA;&#xA;&#34;GUE NGGAK-- NYIUM LO-- KEPIKIRAN AJA ENGGAK--&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo kemudian manyun.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa sih, emangnya ide kalo lo nyium gue segitu jeleknya, apa? Padahal kalo lo mau nyium gue juga nggak pa-pa sih?&#34; 😗&#xA;&#xA;&#34;ASGDHFKFLJ BANG?? APAAN SIH LU??&#34; udah kagak jelas dah muka Mingyu semerah apa. Kesel iya, malu juga iya.&#xA;&#xA;Wonwoo cuma nyengir makin lebar ngeliat Mingyu kayak gitu, nggak sadar kalo Minghao lagi ngeliatin Wonwoo dengan alis yang mengernyit makin dalem.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonstupid" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">minwonstupid</span></a></p>

<p>“Spa—”</p>

<p>“HAOOO!”</p>

<p><em>Jeglek!</em></p>



<p>Mendadak, pintu kamar Mingyu kebuka. Mendadak, Minghao diseruduk banteng (ato bebek super sengkel) dan diseret masuk buru-buru ke kamar. Baru aja dia mau ngamuk ke temennya itu, tapi Mingyu mendahuluinya, memotong ucapan Minghao.</p>

<p>“Gue kira lo batal dateng! Ada Bang Won sih, tapi nggak apa kok, gue toh udah <em>duluan janji</em> sama lo!!”</p>

<p>Minghao mendelik ke arah Mingyu. Mingyu cuma bisa nyengir salting sambil keringet dingin. Minghao mendoyongkan badan, mengintip melalui bahu Mingyu. Wonwoo menatapnya, mengangkat tangan dengan santai, satu tangan menopang dagu di meja kecil Mingyu sambil duduk bersila di lantai.</p>

<p>Minghao balik mendelik ke arah Mingyu. Mingyu makin keringetan.</p>

<p><em>Plis, plis, plis...,</em> doanya dalam hati.</p>

<p>Minghao menghela napas. “Iya, sori ganggu ya, Gyu. Padahal lo nggak apa-apa kok kalo mau batalin <em>rencana</em> kita,” berkata begitu, Minghao lenggang kangkung melewati Mingyu buat duduk di meja yang sama yang ditempati Wonwoo. “Sori ya, Bang, ganggu pdkt lo ke Kigyu.”</p>

<p>“Bilang sama Gyu,” kekeh Wonwoo. Dia menenggak air putih dinginnya, lalu mendesah. “<em>Aaah</em>~” Disekanya bibir dengan punggung tangan. “Dia yang lagi pdkt ke gue.”</p>

<p>Minghao mengernyitkan sebelah alis.</p>

<p>“Kalo lo nggak muncul tadi, hampir aja dia nyipok bibir gue lho.” 😉</p>

<p>Kedua bola mata Minghao seketika membulat. Mulutnya membuka dan kepalanya berputar ke arah temennya, yang kini mukanya semerah tomat paling ranum disiram mentari bulan Juli.</p>

<p>“ENGGAK! BOHONG! ANJING, APAAN SIH LO, BANG???” sambil malu, sambil ngamuk. Mingyu menyusruk, berlutut di depan Wonwoo, dan menarik kerah lelaki itu. “LO YA YANG BILANG MATA LO KELILIPAN DAN MINTA GUE BANTU TIUPIN?? GUE CUMA NIUPIN MATA LO, LO YANG MENDADAK—”</p>

<p>“PPFFTT!”</p>

<p>Wonwoo ketawa. Dia ketawa ngakak, puas banget kayaknya. Wonwoo ngakak sampe nangis, ninggalin Mingyu sama Minghao liat-liatan berdua.</p>

<p><em>(“Bang Won napa dah?”)</em></p>

<p>Mulut Minghao bergerak tanpa suara, yang dijawab Mingyu dengan gelengan, lalu telunjuk melintang di jidatnya sendiri.</p>

<p><em>(“Dah gue bilang dia sarap, lu pada kaga percaya sih!”)</em></p>

<p>Minghao memutar bola mata 🙄</p>

<p>Begitu tawa Wonwoo redaan, dia merebahkan punggung, bersandar ke sisi ranjang Mingyu sambil mengucek matanya. Minghao nunggu timing yang tepat, baru nanya, “Bang Won? Lu sehat kan, Bang...?” Nadanya nggak yakin juga.</p>

<p>“Sehat, sehat...,” hela napas, lalu pake lagi kacamatanya. “Aah, kocak banget. Gue cuma lagi praktekin adegan yang gue baca di komik ke Gyu, terus tetau dia beneran dong ngeliatin bibir gue. Asli dah.”</p>

<p>”?? GUE NGGAK LIATIN BIBIR LO??”</p>

<p>“Yeah rite,” 😏 “I have eyes, Kim Mingyu.”</p>

<p>“SO HAVE I, ANJIR???”</p>

<p>“<em>Touché</em>.”</p>

<p>“GUE NGGAK— NYIUM LO— KEPIKIRAN AJA ENGGAK—”</p>

<p>Wonwoo kemudian manyun.</p>

<p>“Kenapa sih, emangnya ide kalo lo nyium gue segitu jeleknya, apa? Padahal kalo lo mau nyium gue juga nggak pa-pa sih?” 😗</p>

<p>“ASGDHFKFLJ BANG?? APAAN SIH LU??” udah kagak jelas dah muka Mingyu semerah apa. Kesel iya, malu juga iya.</p>

<p>Wonwoo cuma nyengir makin lebar ngeliat Mingyu kayak gitu, nggak sadar kalo Minghao lagi ngeliatin Wonwoo dengan alis yang mengernyit makin dalem.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/48</guid>
      <pubDate>Sun, 13 Jun 2021 16:44:48 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>26.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/26-qvcy?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwonstupid&#xA;&#xA;Lima menit ya bener lima menit. Kim Mingyu mandi lima menit, berdiri di bawah pancuran terus usrek badan, usrek rambut, kelar. Kebetulan banget sih sabunnya rangkap shampoo sekalian, hasil pencerahan sejak nginep di salah satu budget hotel di Jepang, jadinya bisa cepet.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Pas Wonwoo ngetok pintu, dia lagi gosok gigi sambil handuk ngeringin kepala, masih belom pake baju.&#xA;&#xA;&#34;Mmafukk!&#34;&#xA;&#xA;Hening.&#xA;&#xA;&#34;? Bhang Vwon? Mafhuk, Bang!!&#34;&#xA;&#xA;Bingung, Kim Mingyu membiarkan sikat giginya digigit, sementara tangannya membalut bagian pinggang pake handuk. Yekali dia buka pintu kamar anunya gundal-gandul, gimana kalo ada penghuni kostan laen yang lewat di belakang Wonwoo, njir?&#xA;&#xA;(Kalo 12 makhluk laknat laen, termasuk Wonwoo, doang mah bodo amat, udah biasa).&#xA;&#xA;Pas pintu dia buka, Wonwoo berdiri di sana, di depannya. Tapi cuma bagian lengan dan separuh tubuh bagian bawah, dibalut jins dan sweater kedodoran. Sisanya ketutupan sama buket bunga aster dan baby&#39;s breath tergede yang pernah Mingyu liat.&#xA;&#xA;Kedip-kedip. Sekali, dua kali.&#xA;&#xA;&#34;......,&#34; sikat gigi akhirnya dilepas dari mulut, nggak peduli busa odol muncrat pas dia ngomong. &#34;...Bang Won?&#34;&#xA;&#xA;Mendengar itu, buket bunga turun, menampakkan wajah tersenyum Jeon Wonwoo. Dia senyum lebar banget sampe nyentuh bagian bawah kacamata bulatnya. Hidungnya pun mengernyit sedikit.&#xA;&#xA;&#34;Hei,&#34; sapanya. &#34;Buat lo.&#34;&#xA;&#xA;...&#xA;&#xA;Bentar, Mingyu lupa kemaren udah korek kuping belom ya.&#xA;&#xA;&#34;...Hah? Gimana, Bang?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ini kan yang gebetan lakuin biar bikin seneng yang naksir dia? Bawain bunga?&#34; malah si Wonwoo balik nanya.&#xA;&#xA;&#34;...Hah??&#34; makin bingung lah Kim Mingyu. &#34;Bunga buat apaan ya??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lha?&#34; ikut bingung si Wonwoo. &#34;Kan kita mau ngedate nih? Ya gue bawain bunga?&#34;&#xA;&#xA;.................&#xA;&#xA;&#34;......Hah?&#34;&#xA;&#xA;Kesian Kim Mingyu. Udah mana lagi telanjang, modal handuk di pinggang doang, mulut masih penuh odol, dibuat super bingung pula.&#xA;&#xA;Ngeliat muka kocak Mingyu, Wonwoo akhirnya ketawa lepas. &#34;Biasa aja dong lo liatinnya,&#34; disusrukkannya buket bunga ke dada Mingyu. &#34;Dah nih. Taro sana. Sekalian lu gosok gigi sama handukan yang bener napa sih? Buruan pake baju! Ntar kelewat nih waktunya!&#34;&#xA;&#xA;Asli, Mingyu bingung. Mingyu bingung banget. Saking bingungnya, otaknya jadi konslet dan malah berderap ke kamar mandi buat menuntaskan gosok gigi dan handukannya.&#xA;&#xA;Butuh beberapa menit sampai Kim Mingyu nyadar, sambil ngeludahin sisa pasta gigi ke wastafel, kalo ini bukan Wonwoo yang dia kenal. Bukan Wonwoo yang biasanya. Ini Wonwoo yang...yang...&#xA;&#xA;(&#34;Jadi gue bebeknya??&#34;)&#xA;&#xA;Oh, fuck.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonstupid" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">minwonstupid</span></a></p>

<p>Lima menit ya bener lima menit. Kim Mingyu mandi lima menit, berdiri di bawah pancuran terus usrek badan, usrek rambut, kelar. Kebetulan banget sih sabunnya rangkap shampoo sekalian, hasil pencerahan sejak nginep di salah satu budget hotel di Jepang, jadinya bisa cepet.</p>



<p>Pas Wonwoo ngetok pintu, dia lagi gosok gigi sambil handuk ngeringin kepala, masih belom pake baju.</p>

<p>“Mmafukk!”</p>

<p>Hening.</p>

<p>”? Bhang Vwon? Mafhuk, Bang!!”</p>

<p>Bingung, Kim Mingyu membiarkan sikat giginya digigit, sementara tangannya membalut bagian pinggang pake handuk. Yekali dia buka pintu kamar anunya gundal-gandul, gimana kalo ada penghuni kostan laen yang lewat di belakang Wonwoo, njir?</p>

<p>(Kalo 12 makhluk laknat laen, termasuk Wonwoo, doang mah bodo amat, udah biasa).</p>

<p>Pas pintu dia buka, Wonwoo berdiri di sana, di depannya. Tapi cuma bagian lengan dan separuh tubuh bagian bawah, dibalut jins dan sweater kedodoran. Sisanya ketutupan sama buket bunga aster dan baby&#39;s breath tergede yang pernah Mingyu liat.</p>

<p>Kedip-kedip. Sekali, dua kali.</p>

<p>”......,” sikat gigi akhirnya dilepas dari mulut, nggak peduli busa odol muncrat pas dia ngomong. “...Bang Won?”</p>

<p>Mendengar itu, buket bunga turun, menampakkan wajah tersenyum Jeon Wonwoo. Dia senyum lebar banget sampe nyentuh bagian bawah kacamata bulatnya. Hidungnya pun mengernyit sedikit.</p>

<p>“Hei,” sapanya. “Buat lo.”</p>

<p>...</p>

<p>Bentar, Mingyu lupa kemaren udah korek kuping belom ya.</p>

<p>”...Hah? Gimana, Bang?”</p>

<p>“Ini kan yang gebetan lakuin biar bikin seneng yang naksir dia? Bawain bunga?” malah si Wonwoo balik nanya.</p>

<p>”...Hah??” makin bingung lah Kim Mingyu. “Bunga buat apaan ya??”</p>

<p>“Lha?” ikut bingung si Wonwoo. “Kan kita mau ngedate nih? Ya gue bawain bunga?”</p>

<p>.................</p>

<p>”......<em>Hah?</em>“</p>

<p>Kesian Kim Mingyu. Udah mana lagi telanjang, modal handuk di pinggang doang, mulut masih penuh odol, dibuat super bingung pula.</p>

<p>Ngeliat muka kocak Mingyu, Wonwoo akhirnya ketawa lepas. “Biasa aja dong lo liatinnya,” disusrukkannya buket bunga ke dada Mingyu. “Dah nih. Taro sana. Sekalian lu gosok gigi sama handukan yang bener napa sih? Buruan pake baju! Ntar kelewat nih waktunya!”</p>

<p>Asli, Mingyu bingung. Mingyu bingung banget. Saking bingungnya, otaknya jadi konslet dan malah berderap ke kamar mandi buat menuntaskan gosok gigi dan handukannya.</p>

<p>Butuh beberapa menit sampai Kim Mingyu nyadar, sambil ngeludahin sisa pasta gigi ke wastafel, kalo ini bukan Wonwoo yang dia kenal. Bukan Wonwoo yang biasanya. Ini Wonwoo yang...yang...</p>

<p><em>(“Jadi gue bebeknya??”)</em></p>

<p><em>Oh, fuck.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/26-qvcy</guid>
      <pubDate>Wed, 09 Jun 2021 14:31:48 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>20.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/20-85ph?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwonstupid&#xA;&#xA;Mingyu lagi di perpustakaan kampus pas ada kegaduhan kecil menembus airpod yang lagi menyetel lagu WOODZ paling baru. Dengan alis menukik sebelah, dia mencabutnya dari telinga dan menoleh. Matanya menemukan sosok punggung seseorang yang lagi berjinjit sedikit dengan lengan terjulur. Orang itu nggak pendek dan jelas sudah menyentuh bukunya, tapi bisa menariknya dari tumpukan yang terlalu padat atau enggak, itu beda cerita. Apalagi, sebelah lengan orang itu udah memeluk beberapa buku.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Mengernyit, dia berjinjit lagi, mencoba meraih--&#xA;&#xA;&#34;Pake tangga dong lo,&#34; dengan mudah, lengan lain mengambil buku itu. Ketika dia menoleh, Mingyu menepuk kening orang itu perlahan pakai bukunya. &#34;Pinter pinter kurang cerdas lu, Bang.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo nyengir denger itu. &#34;Aww, Mingyu ngegebet gue kayak di drama Korea\~ Jadi mau malu\~&#34; kekehnya, sambil menyambar buku dari Mingyu. &#34;Trims, btw. I need this.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu cuma memutar bola mata. Masih aja agenda &#39;Mingyu naksir Wonwoo&#39; diparadein ke depan mukanya. Tapi, yah, ngebantah juga percuma, bakal masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. Yeap, Wonwoo itu segitu bebalnya, Pembaca.&#xA;&#xA;&#34;Buat skripsi lo?&#34;&#xA;&#xA;Mereka berjalan balik ke meja Mingyu. Buku dan tugasnya masih tergeletak di meja. Di kursi sebelah, ada tote bag Mingyu dibiarin aja di sana, toh isinya cuma keperluan kuliah dan perpustakaan itu lagi sepi.&#xA;&#xA;&#34;Bukan,&#34; Wonwoo duduk di seberang Mingyu, mulai membuka bukunya. &#34;Buat penelitian gue.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm,&#34; gumamnya. &#34;Penelitian apa?&#34;&#xA;&#xA;Srak.&#xA;&#xA;Wonwoo nggak jawab. Menduga kalau Wonwoo udah tenggelam ke dalam bacaannya (seperti biasa), Mingyu pun membiarkannya berlalu dan balik berkutat dengan tugas kuliahnya.&#xA;&#xA;Mereka diem gitu aja untuk beberapa saat, sama-sama nggak terlalu memedulikan keberadaan satu sama lain.&#xA;&#xA;Tiba-tiba, airpod Mingyu diambil sebelah. Kaget, dia mendongak. Wonwoo memakai airpodnya, mendengarkan lagu yang datang sesuai randomizer Spotify miliknya.&#xA;&#xA;Huh, 너무 쉬운 건 재미없잖아, right?&#xA;&#xA;우린 서롤 당겨 like magnetic.&#xA;&#xA;내게 하는 말은 다 sweet flavor.&#xA;&#xA;Bulu mata Mingyu mengerjap. Entah kenapa, sampai malam itu dia masih ingat gimana Wonwoo perlahan menangkap tatapan matanya dan ujung bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman timpang, seolah dia mengetahui sesuatu yang bahkan Mingyu sendiri nggak tau.&#xA;&#xA;Pelan, Kim Mingyu meneguk ludah. Mimpinya semalam datang kembali, membanjiri isi kepala.&#xA;&#xA;누가 이기고 지는 게임은 그만해, stop.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonstupid" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">minwonstupid</span></a></p>

<p>Mingyu lagi di perpustakaan kampus pas ada kegaduhan kecil menembus airpod yang lagi menyetel lagu WOODZ paling baru. Dengan alis menukik sebelah, dia mencabutnya dari telinga dan menoleh. Matanya menemukan sosok punggung seseorang yang lagi berjinjit sedikit dengan lengan terjulur. Orang itu nggak pendek dan jelas sudah menyentuh bukunya, tapi bisa menariknya dari tumpukan yang terlalu padat atau enggak, itu beda cerita. Apalagi, sebelah lengan orang itu udah memeluk beberapa buku.</p>



<p>Mengernyit, dia berjinjit lagi, mencoba meraih—</p>

<p>“Pake tangga dong lo,” dengan mudah, lengan lain mengambil buku itu. Ketika dia menoleh, Mingyu menepuk kening orang itu perlahan pakai bukunya. “Pinter pinter kurang cerdas lu, Bang.”</p>

<p>Wonwoo nyengir denger itu. “Aww, Mingyu ngegebet gue kayak di drama Korea~ Jadi mau malu~” kekehnya, sambil menyambar buku dari Mingyu. “Trims, btw. I need this.”</p>

<p>Mingyu cuma memutar bola mata. Masih aja agenda &#39;Mingyu naksir Wonwoo&#39; diparadein ke depan mukanya. Tapi, yah, ngebantah juga percuma, bakal masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. <em>Yeap</em>, Wonwoo itu segitu bebalnya, Pembaca.</p>

<p>“Buat skripsi lo?”</p>

<p>Mereka berjalan balik ke meja Mingyu. Buku dan tugasnya masih tergeletak di meja. Di kursi sebelah, ada tote bag Mingyu dibiarin aja di sana, toh isinya cuma keperluan kuliah dan perpustakaan itu lagi sepi.</p>

<p>“Bukan,” Wonwoo duduk di seberang Mingyu, mulai membuka bukunya. “Buat penelitian gue.”</p>

<p>“Hmm,” gumamnya. “Penelitian apa?”</p>

<p><em>Srak.</em></p>

<p>Wonwoo nggak jawab. Menduga kalau Wonwoo udah tenggelam ke dalam bacaannya (seperti biasa), Mingyu pun membiarkannya berlalu dan balik berkutat dengan tugas kuliahnya.</p>

<p>Mereka diem gitu aja untuk beberapa saat, sama-sama nggak terlalu memedulikan keberadaan satu sama lain.</p>

<p>Tiba-tiba, airpod Mingyu diambil sebelah. Kaget, dia mendongak. Wonwoo memakai airpodnya, mendengarkan lagu yang datang sesuai randomizer Spotify miliknya.</p>

<p><em>Huh, 너무 쉬운 건 재미없잖아, right?</em></p>

<p><em>우린 서롤 당겨 like magnetic.</em></p>

<p><em>내게 하는 말은 다 sweet flavor.</em></p>

<p>Bulu mata Mingyu mengerjap. Entah kenapa, sampai malam itu dia masih ingat gimana Wonwoo perlahan menangkap tatapan matanya dan ujung bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman timpang, seolah dia <em>mengetahui</em> sesuatu yang bahkan Mingyu sendiri nggak tau.</p>

<p>Pelan, Kim Mingyu meneguk ludah. Mimpinya semalam datang kembali, membanjiri isi kepala.</p>

<p><em>누가 이기고 지는 게임은 그만해, stop.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/20-85ph</guid>
      <pubDate>Tue, 08 Jun 2021 09:37:17 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>17.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/17-qbf9?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwonstupid&#xA;&#xA;&#34;Udah?&#34;&#xA;&#xA;Mingyu berkedip beberapa kali. Sebuah tepukan di bahu dan, ketika dia menoleh, Seokmin sama Minghao berjalan ke arah yang berbeda.&#xA;&#xA;&#34;Woi!&#34; panggilnya. &#34;Kok lo ninggalin gue??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Titip ya, Bang!&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Nggak mengindahkan protes Mingyu, Seokmin nyengir makin lebar. Minghao ikut ketawa geli. Kasak-kusuk, mereka berdua sengaja mempercepat langkahnya, meninggalkan Mingyu hampir mau nangis di pinggir jalan sendirian.&#xA;&#xA;Well, secara teknis, dia nggak beneran sendirian sih...&#xA;&#xA;&#34;Yok.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo tersenyum. Dia menaruh topi fedora yang dia pakai ke kepala Mingyu, kemudian ditekannya topi itu, sengaja. Mingyu cuma bisa manyun.&#xA;&#xA;&#34;Ngapain lo make topi malem-malem, Bang? Freak,&#34; gerutunya.&#xA;&#xA;Mendengar itu, Wonwoo ketawa. &#34;Gue pergi dari siang, kok. Terus kata Hao lo minta gue jemput di sini,&#34; ucapnya, sambil berjalan satu langkah di depan Mingyu.&#xA;&#xA;Kaki Mingyu berhenti.&#xA;&#xA;&#34;What?&#34;&#xA;&#xA;What.&#xA;&#xA;&#34;Yah, gue pikir kalo gebetan lo yang jemput, pasti lo seneng kan?&#34; lelaki yang lebih tua mengangkat bahu sambil lalu. &#34;Palingan ntar temenin gue mampir ke mini mart deket kostan yak. Gue laper berat nungguin lo.&#34;&#xA;&#xA;....Makin bingung aja dah gua.&#xA;&#xA;&#34;Bang.&#34;&#xA;&#xA;Blug.&#xA;&#xA;Kayaknya seluruh beban tubuh Mingyu ditumpangkan ke bahu Wonwoo yang dia rangkul. Hampir aja si Wonwoo jatoh ke trotoar kalau Mingyu nggak memeganginya sekalian di bahu.&#xA;&#xA;&#34;Anjing, gue hampir jatoh--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lu napa sih, Bang? Tiba-tiba nuduh gue naksir sama lo di gc kita tuh, maksud lo apa?&#34;&#xA;&#xA;Mata Wonwoo membulat. Dia menaikkan kacamata, lalu menoleh, tersenyum menatap Mingyu yang nampak serius.&#xA;&#xA;&#34;Gue nggak nuduh lho.&#34;&#xA;&#xA;&#34;?? Maksudnya??&#34;&#xA;&#xA;Senyuman berubah sedikit menjadi ringisan, tapi nggak ada jawaban lagi.&#xA;&#xA;&#34;Lo...nggak lagi ngerjain gue kan, Bang?&#34;&#xA;&#xA;Gelengan kepala.&#xA;&#xA;&#34;Seriusan nih.&#34;&#xA;&#xA;Anggukan. Mingyu menelisik raut muka Wonwoo sejenak, mencari tanda-tanda kebohongan di sana, tapi dia nggak nemu. Walhasil, dengan SUNGGUH BERAT HATI, Mingyu terpaksa percaya sama Wonwoo.&#xA;&#xA;&#34;Ya udah,&#34; ditaruhnya balik topi fedora ke kepala Wonwoo.&#xA;&#xA;(&#34;Jangan-jangan tuh geng 96 taruhan.&#34;)&#xA;&#xA;&#34;Ntar beli ramyeon dua sama telor. Makan di sana aja. Kalo di kostan, pasti gue dicengin dah makan sama lu sekarang.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo cuma ketawa. Lagi.&#xA;&#xA;(&#34;Masuk akal.&#34;)]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonstupid" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">minwonstupid</span></a></p>

<p>“Udah?”</p>

<p>Mingyu berkedip beberapa kali. Sebuah tepukan di bahu dan, ketika dia menoleh, Seokmin sama Minghao berjalan ke arah yang berbeda.</p>

<p>“Woi!” panggilnya. “Kok lo ninggalin gue??”</p>

<p>“Titip ya, Bang!”</p>



<p>Nggak mengindahkan protes Mingyu, Seokmin nyengir makin lebar. Minghao ikut ketawa geli. Kasak-kusuk, mereka berdua sengaja mempercepat langkahnya, meninggalkan Mingyu hampir mau nangis di pinggir jalan sendirian.</p>

<p>Well, secara teknis, dia nggak beneran <em>sendirian</em> sih...</p>

<p>“Yok.”</p>

<p>Wonwoo tersenyum. Dia menaruh topi fedora yang dia pakai ke kepala Mingyu, kemudian ditekannya topi itu, sengaja. Mingyu cuma bisa manyun.</p>

<p>“Ngapain lo make topi malem-malem, Bang? <em>Freak</em>,” gerutunya.</p>

<p>Mendengar itu, Wonwoo ketawa. “Gue pergi dari siang, kok. Terus kata Hao lo minta gue jemput di sini,” ucapnya, sambil berjalan satu langkah di depan Mingyu.</p>

<p>Kaki Mingyu berhenti.</p>

<p>“<em>What?</em>“</p>

<p><em>What.</em></p>

<p>“Yah, gue pikir kalo gebetan lo yang jemput, pasti lo seneng kan?” lelaki yang lebih tua mengangkat bahu sambil lalu. “Palingan ntar temenin gue mampir ke mini mart deket kostan yak. Gue laper berat nungguin lo.”</p>

<p>....<em>Makin bingung aja dah gua.</em></p>

<p>“Bang.”</p>

<p><em>Blug</em>.</p>

<p>Kayaknya seluruh beban tubuh Mingyu ditumpangkan ke bahu Wonwoo yang dia rangkul. Hampir aja si Wonwoo jatoh ke trotoar kalau Mingyu nggak memeganginya sekalian di bahu.</p>

<p>“Anjing, gue hampir jatoh—”</p>

<p>“Lu napa sih, Bang? Tiba-tiba nuduh gue naksir sama lo di gc kita tuh, maksud lo apa?”</p>

<p>Mata Wonwoo membulat. Dia menaikkan kacamata, lalu menoleh, tersenyum menatap Mingyu yang nampak serius.</p>

<p>“Gue nggak nuduh lho.”</p>

<p>”?? Maksudnya??”</p>

<p>Senyuman berubah sedikit menjadi ringisan, tapi nggak ada jawaban lagi.</p>

<p>“Lo...nggak lagi ngerjain gue kan, Bang?”</p>

<p>Gelengan kepala.</p>

<p>“Seriusan nih.”</p>

<p>Anggukan. Mingyu menelisik raut muka Wonwoo sejenak, mencari tanda-tanda kebohongan di sana, tapi dia nggak nemu. Walhasil, dengan SUNGGUH BERAT HATI, Mingyu <em>terpaksa</em> percaya sama Wonwoo.</p>

<p>“Ya udah,” ditaruhnya balik topi fedora ke kepala Wonwoo.</p>

<p><em>(“Jangan-jangan tuh geng 96 taruhan.”)</em></p>

<p>“Ntar beli ramyeon dua sama telor. Makan di sana aja. Kalo di kostan, pasti gue dicengin dah makan sama lu sekarang.”</p>

<p>Wonwoo cuma ketawa. Lagi.</p>

<p><em>(“Masuk akal.”)</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/17-qbf9</guid>
      <pubDate>Mon, 07 Jun 2021 15:49:26 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>