<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>minwonabosequel &amp;mdash; 🌾</title>
    <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonabosequel</link>
    <description>narrative writings of thesunmetmoon</description>
    <pubDate>Tue, 02 Jun 2026 17:37:04 +0000</pubDate>
    <image>
      <url>https://i.snap.as/K7JGOEOo.png</url>
      <title>minwonabosequel &amp;mdash; 🌾</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonabosequel</link>
    </image>
    <item>
      <title>1.7</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/1-7?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwonabosequel&#xA;&#xA;Chamomile. Hirupan satu kali sanggup menentramkan hati. Hangat mengalir melalui tenggorokannya, melepaskan penat Wonwoo seharian akan kerjaan dan masalah rumah tangga. Mingyu memotongkan kue madu buatan sendiri dan ditaruhnya di piring kecil cantik terbuat dari keramik untuk disajikannya bersama teh. Ia selalu memastikan ketersediaan kue-kue di rumah mereka karena tahu bahwa Wonwoo sangat menyukai makanan manis sejak pertama mereka bertemu.&#xA;&#xA;Berubah, tapi tidak berubah.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Sungguh aneh, bertambah tua bersama seseorang itu. Dua raga dalam satu jiwa.&#xA;&#xA;&#34;Mingyu, maaf ya,&#34; di antara kepulan uap hangat dan Alpha yang meneguk perlahan tehnya, suara Wonwoo menembus sela-sela. Dalam lembut, Omega-nya menyesali diri. &#34;Maafin saya udah marah sama Mingyu kayak tadi siang...&#34;&#xA;&#xA;Kalau ini Mingyu sepuluh tahun lalu, Mingyu yang tertawa mengejek saat Seungkwan memberitahu mereka ada Omega menjual rumah gratis dirinya, mungkin ia sudah akan memperbesar masalah remeh itu. Namun, menikah, menjalin ikatan permanen melalui mating mark bersama seseorang, artinya membagi separuh dirimu dan membiarkan bagian yang kosong diisi oleh orang tersebut. Dan Wonwoo mengisi separuh dirinya dengan kelembutan dan kesederhanaannya.&#xA;&#xA;&#34;Maafin aku juga ya, Sayang,&#34; ucapnya, selembut pandangannya. &#34;Sumpah aku nggak tau maksud kamu gitu. Lain kali, kamu WA aku dulu ya, biar aku juga paham.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kuenya enak?&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo mengangguk, lalu melahap satu lagi potongan kecil. Ada remah menempel di dagunya, membuat Mingyu tertawa sebelum tangan mengulur untuk mengambil remah itu dan menyuapkannya ke Wonwoo. Pipi Wonwoo merona malu, karena, meski semakin bertambah usianya dan memiliki anak sudah dua, Mingyu masih suka memanjakannya seperti saat mereka muda dulu.&#xA;&#xA;Wonwoo diam sesaat untuk memandangi suaminya. Terduduk di sana, satu kaki menumpang di kaki lainnya. Santai, pembawaan dan tawanya ringan. Mata yang mulai menunjukkan sedikit kerut saat tertawa. Garis wajah yang menegas. Taring kecil menggemaskan yang takkan pernah berubah.&#xA;&#xA;Di antara kepulan hangat teh dan denting garpu kecil, terduduk seorang Alpha yang indah. Alpha satu-satunya.&#xA;&#xA;&#34;Oh ya, tadi aku tanya ke Gyul, Yang, kenapa dia maen terus ke rumah Dohyun,&#34; mata Mingyu berbinar terang sambil tubuhnya ia majukan. Lamunan Wonwoo pun buyar. Sekarang, Alpha-nya seperti seekor serigala kecil yang tak sabar ingin membagi suatu rahasia padanya.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jadii, aku kan tanya gitu. &#39;Kak, kenapa sih, kamu maen ke rumah Dohyun tiap hari sampe bikin Mama cemas?&#39;&#34; lanjut sang Alpha. &#34;Terus tebak dong, Gyul jawab apa ke aku?&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo menelengkan kepala. &#34;Apa?&#34; kerutan alis pun nampak. Mingyu meringis jahil.&#xA;&#xA;&#34;Katanya, &#39;soalnya Dohyun baunya manis, Pah.&#39;&#34;&#xA;&#xA;Sang Omega mengerjapkan mata beberapa kali. Ketika pemahaman akhirnya muncul, mulut Wonwoo refleks membuka. &#34;Eh?? Tapi kan mereka masih kecil, belum ketahuan second gendernya apa?&#34; bola matanya ikut membulat.&#xA;&#xA;Ringisan Mingyu melebar, &#34;Setauku sih mungkin aja. Apalagi, darah Gyul kan lumayan kentel dari kita berdua. Nggak jarang kok Alpha-Omega bisa tau secara instingtif walo belum ketahuan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya ampun, jadi gegara itu toh...&#34;&#xA;&#xA;Mingyu memerhatikan Wonwoo yang mengelus pipinya, masih kaget akan kemungkinan tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Tapi aku jadi paham sih,&#34; Mingyu meraih perlahan tangan Wonwoo yang di atas meja untuk digenggamnya erat. &#34;Aku juga pas nyium bau kamu, maunya nempel kamu terus...&#34;&#xA;&#xA;&#34;...Ih, Mingyu gombal.&#34; 😐&#xA;&#xA;&#34;Gombal boleh, yang penting jujur.&#34; 😘&#xA;&#xA;Wonwoo cuma memutar bola mata 🙄 lalu mendekatkan kursinya ke kursi suaminya, &#34;Biar nggak gombal melulu, saya diemin ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh? And how do you do that, Mr. Jeon?&#34; 😏&#xA;&#xA;Tawa kecil Wonwoo membuat hati Mingyu terasa hangat sebelum bibir yang manis itu menyentuh bibirnya dengan lembut.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonabosequel" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">minwonabosequel</span></a></p>

<p>Chamomile. Hirupan satu kali sanggup menentramkan hati. Hangat mengalir melalui tenggorokannya, melepaskan penat Wonwoo seharian akan kerjaan dan masalah rumah tangga. Mingyu memotongkan kue madu buatan sendiri dan ditaruhnya di piring kecil cantik terbuat dari keramik untuk disajikannya bersama teh. Ia selalu memastikan ketersediaan kue-kue di rumah mereka karena tahu bahwa Wonwoo sangat menyukai makanan manis sejak pertama mereka bertemu.</p>

<p>Berubah, tapi tidak berubah.</p>



<p>Sungguh aneh, bertambah tua bersama seseorang itu. Dua raga dalam satu jiwa.</p>

<p>“Mingyu, maaf ya,” di antara kepulan uap hangat dan Alpha yang meneguk perlahan tehnya, suara Wonwoo menembus sela-sela. Dalam lembut, Omega-nya menyesali diri. “Maafin saya udah marah sama Mingyu kayak tadi siang...”</p>

<p>Kalau ini Mingyu sepuluh tahun lalu, Mingyu yang tertawa mengejek saat Seungkwan memberitahu mereka ada Omega menjual rumah gratis dirinya, mungkin ia sudah akan memperbesar masalah remeh itu. Namun, menikah, menjalin ikatan permanen melalui mating mark bersama seseorang, artinya membagi separuh dirimu dan membiarkan bagian yang kosong diisi oleh orang tersebut. Dan Wonwoo mengisi separuh dirinya dengan kelembutan dan kesederhanaannya.</p>

<p>“Maafin aku juga ya, Sayang,” ucapnya, selembut pandangannya. “Sumpah aku nggak tau maksud kamu gitu. Lain kali, kamu WA aku dulu ya, biar aku juga paham.”</p>

<p>“Iya...”</p>

<p>“Kuenya enak?”</p>

<p>Wonwoo mengangguk, lalu melahap satu lagi potongan kecil. Ada remah menempel di dagunya, membuat Mingyu tertawa sebelum tangan mengulur untuk mengambil remah itu dan menyuapkannya ke Wonwoo. Pipi Wonwoo merona malu, karena, meski semakin bertambah usianya dan memiliki anak sudah dua, Mingyu masih suka memanjakannya seperti saat mereka muda dulu.</p>

<p>Wonwoo diam sesaat untuk memandangi suaminya. Terduduk di sana, satu kaki menumpang di kaki lainnya. Santai, pembawaan dan tawanya ringan. Mata yang mulai menunjukkan sedikit kerut saat tertawa. Garis wajah yang menegas. Taring kecil menggemaskan yang takkan pernah berubah.</p>

<p>Di antara kepulan hangat teh dan denting garpu kecil, terduduk seorang Alpha yang indah. Alpha satu-satunya.</p>

<p>“Oh ya, tadi aku tanya ke Gyul, Yang, kenapa dia maen terus ke rumah Dohyun,” mata Mingyu berbinar terang sambil tubuhnya ia majukan. Lamunan Wonwoo pun buyar. Sekarang, Alpha-nya seperti seekor serigala kecil yang tak sabar ingin membagi suatu rahasia padanya.</p>

<p>“Kenapa?”</p>

<p>“Jadii, aku kan tanya gitu. &#39;Kak, kenapa sih, kamu maen ke rumah Dohyun tiap hari sampe bikin Mama cemas?&#39;” lanjut sang Alpha. “Terus tebak dong, Gyul jawab apa ke aku?”</p>

<p>Wonwoo menelengkan kepala. “Apa?” kerutan alis pun nampak. Mingyu meringis jahil.</p>

<p>“Katanya, &#39;soalnya Dohyun baunya manis, Pah.&#39;”</p>

<p>Sang Omega mengerjapkan mata beberapa kali. Ketika pemahaman akhirnya muncul, mulut Wonwoo refleks membuka. “Eh?? Tapi kan mereka masih kecil, belum ketahuan second gendernya apa?” bola matanya ikut membulat.</p>

<p>Ringisan Mingyu melebar, “Setauku sih mungkin aja. Apalagi, darah Gyul kan lumayan kentel dari kita berdua. Nggak jarang kok Alpha-Omega bisa tau secara instingtif walo belum ketahuan.”</p>

<p>“Ya ampun, jadi gegara itu toh...”</p>

<p>Mingyu memerhatikan Wonwoo yang mengelus pipinya, masih kaget akan kemungkinan tersebut.</p>

<p>“Tapi aku jadi paham sih,” Mingyu meraih perlahan tangan Wonwoo yang di atas meja untuk digenggamnya erat. “Aku juga pas nyium bau kamu, maunya nempel kamu terus...”</p>

<p>”...Ih, Mingyu gombal.” 😐</p>

<p>“Gombal boleh, yang penting jujur.” 😘</p>

<p>Wonwoo cuma memutar bola mata 🙄 lalu mendekatkan kursinya ke kursi suaminya, “Biar nggak gombal melulu, saya diemin ya?”</p>

<p>“<em>Oh?</em> And how do you do that, Mr. Jeon?” 😏</p>

<p>Tawa kecil Wonwoo membuat hati Mingyu terasa hangat sebelum bibir yang manis itu menyentuh bibirnya dengan lembut.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/1-7</guid>
      <pubDate>Mon, 15 Mar 2021 14:37:38 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>1.5</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/1-5?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwonabosequel&#xA;&#xA;&#34;Papa!!&#34;&#xA;&#xA;Mingyu tertawa ketika anak lelaki sulungnya itu langsung meloncat masuk pelukannya. Ia membopongnya, lalu membanjiri wajah anak itu dengan kecupan sayang. Bau khasnya bercampur dengan bau khas Wonwoo di sekujur tubuh anak itu, persis ketika mereka pertama kali membauinya sebagai milik mereka berdua saat Hangyul lahir. Bau yang menetramkan Alpha yang resah dalam tubuh Mingyu sejak Wonwoo ngambeg padanya.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Kok tumben Papa jemput Gyul?&#34; anak itu terkekeh geli karena ayahnya mendusel hidungnya dengan hidungnya sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Iya, Papa mau ngomong dulu sama Gyul di mobil,&#34; ia kemudian menyapa ibu teman Hangyul. &#34;Maaf ya, Gyul selalu ngerepotin.&#34; Senyuman Mingyu lembut, sedikit bersalah.&#xA;&#xA;&#34;Nggak apa-apa kok,&#34; wanita Omega itu tertawa lebar sambil mengelus kepala anak lelakinya sendiri. &#34;Dohyun jadi ada temen main. Makasih ya, Gyul, nanti maen lagi ya.&#34;&#xA;&#xA;Anak yang dipanggil itu pun mengangguk, &#34;Siapp!! Nanti aku main lagi ya, Dohyun!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya,&#34; temannya juga mengangguk sambil tersenyum manis. Pipi tembamnya tersipu. &#34;Dohyun tunggu ya, Gyul.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Papa pulang\~&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gyul pulang\~&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo pun muncul menyambut mereka di pintu. Otomatis, Hangyul berlari dan memeluk ibunya. Lengan kecilnya melingkari pinggang Wonwoo. Agak kaget, Wonwoo memeluk anak itu balik. Tatapnya pun bertanya-tanya.&#xA;&#xA;&#34;Mama, Gyul minta maaf yah,&#34; anak itu kemudian mendongak, menatap langsung ibunya tepat di mata. &#34;Nanti Gyul ajak Dohyun maen ke rumah aja ya, Mah, biar Mama nggak cemas lagi.&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo berkedip. Ia mendongak menatap Mingyu sejenak, menemukan kulum senyuman di wajah Alpha-nya, sebelum kembali menekuni wajah anak lelakinya. Telapaknya yang besar mengelus rambut dan kening anak itu.&#xA;&#xA;&#34;Gyul jangan sering-sering juga ajak Dohyun main ya. Nanti mamanya Dohyun yang cemas,&#34; aku Wonwoo. Tatapan mata sang Omega melembut dalam rasa sayang. &#34;Bukannya Mama ngelarang Gyul main sama Dohyun, tapi Mama cuma nggak mau kamu main ke rumah orang tiap hari. Nggak baik, Sayang...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, Ma,&#34; Hangyul mengangguk.&#xA;&#xA;&#34;Yaudah,&#34; senyuman Wonwoo kian melebar. &#34;Sekarang Gyul cuci tangan, cuci kaki, cuci muka terus ganti baju ya. Tadi Om Hani ngirimin makan malem.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Asik! Siap, Mah\~&#34;&#xA;&#xA;Dengan rusuh, anak itu pun berlari menuju kamar mandi. Wonwoo menghela napas. Gaduhnya anak itu benar-benar mirip ayahnya.&#xA;&#xA;&#34;Bang Han ngirim makanan, Sayang?&#34;&#xA;&#xA;Barulah saat itu Wonwoo sadar kalau mate-nya masih berdiri di sana. Lengan Mingyu melingkar luwes di pinggang Wonwoo, seolah whatsapp pertengkaran mereka tak pernah ada.&#xA;&#xA;&#34;Mm.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mana Minkyu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Di kamar. Saya belum panggil buat makan malem.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mau aku panggilin?&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo diam saja. Mingyu hanya tersenyum maklum, mengecup pipi mate-nya yang menggemaskan itu, lalu menuju lantai dua.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonabosequel" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">minwonabosequel</span></a></p>

<p>“Papa!!”</p>

<p>Mingyu tertawa ketika anak lelaki sulungnya itu langsung meloncat masuk pelukannya. Ia membopongnya, lalu membanjiri wajah anak itu dengan kecupan sayang. Bau khasnya bercampur dengan bau khas Wonwoo di sekujur tubuh anak itu, persis ketika mereka pertama kali membauinya sebagai milik mereka berdua saat Hangyul lahir. Bau yang menetramkan Alpha yang resah dalam tubuh Mingyu sejak Wonwoo ngambeg padanya.</p>



<p>“Kok tumben Papa jemput Gyul?” anak itu terkekeh geli karena ayahnya mendusel hidungnya dengan hidungnya sendiri.</p>

<p>“Iya, Papa mau ngomong dulu sama Gyul di mobil,” ia kemudian menyapa ibu teman Hangyul. “Maaf ya, Gyul selalu ngerepotin.” Senyuman Mingyu lembut, sedikit bersalah.</p>

<p>“Nggak apa-apa kok,” wanita Omega itu tertawa lebar sambil mengelus kepala anak lelakinya sendiri. “Dohyun jadi ada temen main. Makasih ya, Gyul, nanti maen lagi ya.”</p>

<p>Anak yang dipanggil itu pun mengangguk, “Siapp!! Nanti aku main lagi ya, Dohyun!”</p>

<p>“Iya,” temannya juga mengangguk sambil tersenyum manis. Pipi tembamnya tersipu. “Dohyun tunggu ya, Gyul.”</p>

<p>==</p>

<p>“Papa pulang~“</p>

<p>“Gyul pulang~“</p>

<p>Wonwoo pun muncul menyambut mereka di pintu. Otomatis, Hangyul berlari dan memeluk ibunya. Lengan kecilnya melingkari pinggang Wonwoo. Agak kaget, Wonwoo memeluk anak itu balik. Tatapnya pun bertanya-tanya.</p>

<p>“Mama, Gyul minta maaf yah,” anak itu kemudian mendongak, menatap langsung ibunya tepat di mata. “Nanti Gyul ajak Dohyun maen ke rumah aja ya, Mah, biar Mama nggak cemas lagi.”</p>

<p>Wonwoo berkedip. Ia mendongak menatap Mingyu sejenak, menemukan kulum senyuman di wajah Alpha-nya, sebelum kembali menekuni wajah anak lelakinya. Telapaknya yang besar mengelus rambut dan kening anak itu.</p>

<p>“Gyul jangan sering-sering juga ajak Dohyun main ya. Nanti mamanya Dohyun yang cemas,” aku Wonwoo. Tatapan mata sang Omega melembut dalam rasa sayang. “Bukannya Mama ngelarang Gyul main sama Dohyun, tapi Mama cuma nggak mau kamu main ke rumah orang tiap hari. Nggak baik, Sayang...”</p>

<p>“Iya, Ma,” Hangyul mengangguk.</p>

<p>“Yaudah,” senyuman Wonwoo kian melebar. “Sekarang Gyul cuci tangan, cuci kaki, cuci muka terus ganti baju ya. Tadi Om Hani ngirimin makan malem.”</p>

<p>“Asik! Siap, Mah~“</p>

<p>Dengan rusuh, anak itu pun berlari menuju kamar mandi. Wonwoo menghela napas. Gaduhnya anak itu benar-benar mirip ayahnya.</p>

<p>“Bang Han ngirim makanan, Sayang?”</p>

<p>Barulah saat itu Wonwoo sadar kalau mate-nya masih berdiri di sana. Lengan Mingyu melingkar luwes di pinggang Wonwoo, seolah whatsapp pertengkaran mereka tak pernah ada.</p>

<p>“Mm.”</p>

<p>“Mana Minkyu?”</p>

<p>“Di kamar. Saya belum panggil buat makan malem.”</p>

<p>“Mau aku panggilin?”</p>

<p>Wonwoo diam saja. Mingyu hanya tersenyum maklum, mengecup pipi mate-nya yang menggemaskan itu, lalu menuju lantai dua.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/1-5</guid>
      <pubDate>Mon, 15 Mar 2021 13:24:40 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>