<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>minwonabo &amp;mdash; 🌾</title>
    <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonabo</link>
    <description>narrative writings of thesunmetmoon</description>
    <pubDate>Tue, 02 Jun 2026 21:01:59 +0000</pubDate>
    <image>
      <url>https://i.snap.as/K7JGOEOo.png</url>
      <title>minwonabo &amp;mdash; 🌾</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonabo</link>
    </image>
    <item>
      <title>333.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/333?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwonabo&#xA;&#xA;Ting tong!&#xA;&#xA;Ting tong! Ting tong! Ting tong!&#xA;&#xA;Gusar, Jihoon melempar headphonenya. Ditendangnya pintu kamar, berderap marah menuruni tangga menuju pintu depan. Untunglah rumah barunya cukup kecil untuk ditinggali seorang diri sehingga ia tak butuh lima menit untuk menyusurinya.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Siapa--&#34;&#xA;&#xA;Darahnya seketika membeku.&#xA;&#xA;Di depan gerbangnya, berdiri Kwon Soonyoung. Rambut Beta itu kini pirang cerah. Pipinya mengurus, sementara bahunya tambah lebar dan berisi. Beta itu terlihat sehat dan senyumnya ceria.&#xA;&#xA;Seolah kepergiannya tanpa kabar dari rumah Jihoon setahun yang lalu tidak pernah terjadi.&#xA;&#xA;Seolah keheningan rumahnya yang megah itu tidak membuatnya dicabik kesepian setiap detik dan menit. Seolah bayangan sang Beta tidak memenuhi setiap sudutnya, membuat Jihoon tak mampu mengenyahkannya dari benak dan memutuskan untuk menjual rumah tersebut.&#xA;&#xA;Ia masih ingat paras Wonwoo yang kecewa ketika ia berdiri di depan gerbangnya. Truk pindahan menungguinya. Wonwoo lalu memeluk erat Jihoon untuk terakhir kalinya, berterima kasih pada Beta itu dan meminta maaf dengan tulus. Di belakang Wonwoo, Alpha-nya melipat lengan di dada, tapi tak berkata apapun dan membiarkan Omega-nya berpisah dengan teman sejak kecilnya.&#xA;&#xA;Jihoon kehilangan rumahnya. Kehilangan kewarasannya. Kehilangan hidupnya yang tenang.&#xA;&#xA;Semua gara-gara lelaki yang berdiri di depan gerbangnya ini...&#xA;&#xA;&#34;Haloooo, tetangga baru!&#34; pemikirannya terputus saat Beta itu menyapa. &#34;Sori ya ganggu. Kenalin dong. Gue baru pindah nih di rumah depan kamu. Yang itu tuh rumahnya.&#34;&#xA;&#xA;Jihoon mengerutkan alis. Bingung.&#xA;&#xA;&#34;Ntar malem kayaknya gue mau buat pesta kecil-kecilan sih. Syukuran lah gitu,&#34; ringisnya. &#34;Kalo kamu nggak sibuk, boleh dateng lho.&#34;&#xA;&#xA;Kemudian, Beta itu mengulurkan tangan melewati jeruji gerbang. Matanya mengunci mata Jihoon, membuat kakinya melangkah lebih cepat dari proses otaknya, menghilangkan jarak di antara mereka.&#xA;&#xA;Lelaki ini...lelaki ini...&#xA;&#xA;&#34;Kwon Soonyoung,&#34; senyumnya. &#34;Kamu?&#34;&#xA;&#xA;Tangan bersentuhan. Bibir bergetar. Ia balas tersenyum, sementara sebulir air mata perlahan jatuh di pipi.&#xA;&#xA;&#34;Lee Jihoon.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonabo" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">minwonabo</span></a></p>

<p><em>Ting tong!</em></p>

<p><em>Ting tong! Ting tong! Ting tong!</em></p>

<p>Gusar, Jihoon melempar headphonenya. Ditendangnya pintu kamar, berderap marah menuruni tangga menuju pintu depan. Untunglah rumah barunya cukup kecil untuk ditinggali seorang diri sehingga ia tak butuh lima menit untuk menyusurinya.</p>



<p>“Siapa—”</p>

<p>Darahnya seketika membeku.</p>

<p>Di depan gerbangnya, berdiri Kwon Soonyoung. Rambut Beta itu kini pirang cerah. Pipinya mengurus, sementara bahunya tambah lebar dan berisi. Beta itu terlihat sehat dan senyumnya ceria.</p>

<p>Seolah kepergiannya tanpa kabar dari rumah Jihoon setahun yang lalu tidak pernah terjadi.</p>

<p>Seolah keheningan rumahnya yang megah itu tidak membuatnya dicabik kesepian setiap detik dan menit. Seolah bayangan sang Beta tidak memenuhi setiap sudutnya, membuat Jihoon tak mampu mengenyahkannya dari benak dan memutuskan untuk menjual rumah tersebut.</p>

<p>Ia masih ingat paras Wonwoo yang kecewa ketika ia berdiri di depan gerbangnya. Truk pindahan menungguinya. Wonwoo lalu memeluk erat Jihoon untuk terakhir kalinya, berterima kasih pada Beta itu dan meminta maaf dengan tulus. Di belakang Wonwoo, Alpha-nya melipat lengan di dada, tapi tak berkata apapun dan membiarkan Omega-nya berpisah dengan teman sejak kecilnya.</p>

<p>Jihoon kehilangan rumahnya. Kehilangan kewarasannya. Kehilangan hidupnya yang tenang.</p>

<p><em>Semua gara-gara lelaki yang berdiri di depan gerbangnya ini...</em></p>

<p>“Haloooo, tetangga baru!” pemikirannya terputus saat Beta itu menyapa. “Sori ya ganggu. Kenalin dong. Gue baru pindah nih di rumah depan kamu. Yang itu tuh rumahnya.”</p>

<p>Jihoon mengerutkan alis. Bingung.</p>

<p>“Ntar malem kayaknya gue mau buat pesta kecil-kecilan sih. Syukuran lah gitu,” ringisnya. “Kalo kamu nggak sibuk, boleh dateng lho.”</p>

<p>Kemudian, Beta itu mengulurkan tangan melewati jeruji gerbang. Matanya mengunci mata Jihoon, membuat kakinya melangkah lebih cepat dari proses otaknya, menghilangkan jarak di antara mereka.</p>

<p><em>Lelaki ini...lelaki ini...</em></p>

<p>“Kwon Soonyoung,” senyumnya. “Kamu?”</p>

<p>Tangan bersentuhan. Bibir bergetar. Ia balas tersenyum, sementara sebulir air mata perlahan jatuh di pipi.</p>

<p>“<em>Lee Jihoon.</em>“</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/333</guid>
      <pubDate>Wed, 30 Dec 2020 11:56:01 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>332.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/332?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwonabo&#xA;&#xA;&#34;Halo, Sayang.&#34;&#xA;&#xA;Seokmin tersenyum, mengecup nisan itu meski matahari sedang terik-teriknya dan membuat segala batu bagai terpanggang. Ia duduk di depan makam Joshua seperti biasa. Ditaruhnya buket bunga segar setelah ia menyiangi rerumputan hama yang tumbuh di makam seiring berjalannya waktu. Sudah dua minggu ia lalai menjenguk Omega-nya akibat kesibukan duniawi dan ia berusaha menebusnya dengan memastikan makam kekasihnya kembali rapi dan bersih.&#xA;&#xA;Bagaimanapun, Joshua lebih suka bila semua tertata apik.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Maaf ya, aku dua minggu kemarin nggak sempet ke sini,&#34; mulai ia bercerita pada kekasihnya. &#34;Aku punya banyaakkk banget yang mau aku ceritain ke kamu. Mmm, mulai dari mana ya? Kamu mau denger yang mana dulu nih, Sayang?&#34;&#xA;&#xA;Seokmin diam sesaat, mengangguk-angguk, seakan Joshua benar-benar sedang berbicara dengannya.&#xA;&#xA;&#34;Aku sehat kok, sehat banget,&#34; senyum sang Alpha, lagi-lagi, tersungging. Senang, karena Omega-nya ingin mendengar kabarnya terlebih dulu. &#34;Josh, anjing Mingyu, udah beranak. Aku kemarin ditawarin mau nggak satu anaknya. Mungkin aku bakal ambil sih. Namain dia Shua. Biar kalo aku kangen kamu, aku bisa peluk dia.&#34;&#xA;&#xA;Cengirannya muncul saat ia membayangkan wajah ngambek kekasihnya, menyatakan bahwa dia bukan hewan!&#xA;&#xA;&#34;Jangan ngambek sama anjing dong, Sayang, lucu banget sih kamu...,&#34; dielusnya nisan Joshua.&#xA;&#xA;&#34;Oh ya! Kamu inget Wonu, Omega-nya Gyu? Yang setahun lalu aku ajak ke sini buat ketemu kamu?? Dia lagi hamil, Yang! Udah tujuh bulan. Gembul gitu, pipinya bunder, lucu banget deh. Tapi ganas banget, bused. Ngeliat muka aku, dia ngamuk. Ngeliat muka Alpha-nya apalagi. Aku sama Gyu mikir kayaknya bayinya bakal Alpha deh ntar, abisan benci banget gitu sama Alpha.&#34;&#xA;&#xA;Gelaknya ringan, mengisi kekosongan pekuburan di siang itu.&#xA;&#xA;&#34;Kamu harus liat muka Gyu pas dia baru tau Wonu hamil. Kocak banget, asli. Wonu ngabarinnya di WA kan, di group chat kita. Dia cengo bego gitu pas baca. Aku langsung masuk dong ke ruangan dia, mau nyelamatin. Eh, dia lagi nangis.&#34;&#xA;&#xA;Lalu, keceriaannya berkurang, tergantikan oleh rasa haru ketika ia mengingat hari itu. Seokmin masih ingat bagaimana ia masuk dengan buru-buru, dirundung suka cita dan tak sabar ingin membaginya bersama Mingyu, namun berhenti saat dilihat sahabatnya itu menangis. Sang Alpha tengah memegangi handphonenya dengan tangan gemetaran, membekap mulut kuat-kuat dan menangis sejadinya di meja kerjanya.&#xA;&#xA;Mau tak mau, Seokmin ikut tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Tidak ada Alpha yang tidak bahagia mengetahui Omega-nya tengah mengandung keturunannya. Orang yang paling dicintai membawa darah dagingnya dalam rahimnya.&#xA;&#xA;Seokmin melangkah masuk, lalu memeluk Mingyu. &#34;Selamat...,&#34; bisiknya. Sebulir air mata turut membasahi pipinya. Ia tahu seberapa besar arti bayi ini bagi Mingyu. Mingyu semakin terisak, kemudian balas memeluk Seokmin. Runtuh dalam dekapan sahabatnya. &#34;Selamat, Gyu...&#34; Ditepuk-tepuknya punggung Mingyu, mencoba menenangkan.&#xA;&#xA;Matanya kembali berkaca-kaca. Seokmin mengusapnya sambil tertawa. &#34;Ahaha, sori, Sayang, aku jadi mikir nggak perlu deh,&#34; akunya pada Joshua. &#34;Aku jadi mikir gimana kalo aku yang nerima kabar itu dari kamu.&#34;&#xA;&#xA;Hening. Angin memutuskan untuk berhembus pada detik itu, membuyarkan rumput dan menggoyangkan ilalang di belakang makam Joshua. Ia bersumpah ia bisa merasakan sentuhan tangan Joshua di pipinya, maka ia menyentuh pipinya.&#xA;&#xA;&#34;Aku sayang sama kamu...&#34;&#xA;&#xA;Di hadapannya, Joshua tersenyum. Tak berubah. Masih manis. Masih penuh kasih sayang. Seokmin mengecup tangan kekasihnya, membuat Joshua tertawa ringan.&#xA;&#xA;Kemudian, ia lanjut bercerita. Mengenai Seungcheol yang sukses menambah cabang kafenya dan Jeonghan, kini telah menikah, digigit dan berbahagia, tidak lagi bekerja di kafe itu, melainkan membantu Seungcheol mengelola manajemennya.&#xA;&#xA;Mengenai Wonu yang masih bekerja bersama Chan dia kafe Seungcheol, walau Wonu sebentar lagi akan cuti melahirkan dan terancam dilarang bekerja oleh Alpha-nya sampai pulih benar dan Chan yang akan sidang skripsi bersama mate-nya, Yeri, tahun ini. Sepertinya Seungcheol harus bersiap mencari dua pegawai baru sebagai pengganti mereka.&#xA;&#xA;Mengenai Seungkwan dan Hansol yang telah memutuskan untuk memiliki anak. Mereka masih mencari cara terbaik, apakah bayi tabung, mengadopsi, atau alternatif lain. Hari ini mereka akan mengunjungi rumah sakit untuk bertanya lebih lanjut soal bayi tabung.&#xA;&#xA;Mengenai Minghao dan Junhui yang, pada akhirnya, akan menikah bulan depan di Cina. Sepertinya Junhui akan memboyong Minghao ke sana, tinggal di sana, meneruskan bisnis keluarganya dan menutup usahanya di sini. Seokmin juga kurang tahu. Minghao bilang dirinya dan Junhui masih belum memutuskan apakah kepindahan ini bersifat permanen atau temporer. Mereka bisa saja kembali lagi ke Indonesia kalau Minghao menghendakinya.&#xA;&#xA;&#34;Gyu jelas ngambek pas denger soal ini,&#34; kekeh Seokmin. &#34;Mereka udah balik sahabatan kayak dulu lagi. Dia nggak mau nggak bisa ketemu Hao lagi. Tapi bagusnya sih dia sadar diri buat nggak nunjukin di group chat, apalagi Jun dimasukin juga ke group chat kita. Tapi dia misuh-misuh ke Wonu, yang, of course, terus ngadu ke aku.&#34;&#xA;&#xA;Lelah bercerita, Alpha itu menghela napas. &#34;Sori, aku ngomong terus yah? Kamu pasti aus. Aku juga aus nih, tapi entar aja deh aku mampir kafe Cheol.&#34; Seokmin membuka tutup botol air mineral, lalu membanjuri nisan itu hingga basah merata. &#34;Tadinya aku mau bawa wine, soalnya kamu lebih suka itu. Tapi nggak jadi ah. Takut disemutin.&#34;&#xA;&#xA;Kekehnya lagi.&#xA;&#xA;Kemudian ia kembali duduk. Kaki menyila. Kedua lengan terjulur di belakang, menumpu beban tubuhnya. Seokmin pun mendongak memandang langit. Awan putih tebal berarak pelan, menutup mentari, membuat suasana bumi di bawahnya menjadi sejuk sesaat.&#xA;&#xA;&#34;...You know, pas aku di Bali, aku sempet pergi ke tebing. Di bawah tebing itu langsung laut berkarang. Aku sempet berdiri lama di situ, mandangin ombaknya. Mandangin lautnya...&#xA;&#xA;Aku sempet mikir...&#xA;&#xA;...aku mau ketemu kamu...&#34;&#xA;&#xA;Tawanya hambar.&#xA;&#xA;&#34;Kamu pasti ngamuk aku ngomong gini. Tapi aku capek, Shua. Aku capek,&#34; ia maju kini, merebahkan kening ke nisan Joshua, tak menghiraukan basah dari nisan menempel pada kulitnya. &#34;Aku kangen sama kamu. Kadang-kadang, aku kebangun tengah malam, nyariin kamu di samping aku. Aku kangen kamu. Wangi kamu. Pelukan kamu. Suara tawa kamu.&#xA;&#xA;Senyuman kamu...&#34;&#xA;&#xA;Digertakkannya gigi. Tangis diam-diam turun di pipi, terisak miris sambil mengadu pada Omega-nya.&#xA;&#xA;&#34;Kadang-kadang, aku nggak kuat. Aku nggak sekuat itu, Sayang. Aku mau nyusul kamu, ketemu kamu, meluk kamu lagi...&#34;&#xA;&#xA;Satu kecupan.&#xA;&#xA;Dua kecupan.&#xA;&#xA;&#39;Seok...&#39;&#xA;&#xA;Terasa pada wajahnya. Pada hidungnya.&#xA;&#xA;Tiga.&#xA;&#xA;Pada matanya.&#xA;&#xA;Dan yang terakhir, pada bibirnya...&#xA;&#xA;Seokmin tertawa. Tertawa lugas dan membahana. Disekanya tangis yang turun. Pun, ia balas menciumi nisan Joshua, seakan-akan batu tersebut adalah wajah kekasihnya.&#xA;&#xA;&#34;Iya, Sayang, maaf aku udah khilaf... Aku bakal terus hidup kok. Demi kamu. Demi kita...&#34;&#xA;&#xA;Sampai ajal menjemputnya dan Joshua, berdiri di hadapannya, mengulurkan tangan sambil tersenyum.&#xA;&#xA;Seokmin duduk lagi. Pandangannya teduh pada nisan kekasihnya.&#xA;&#xA;Omega-nya.&#xA;&#xA;Mate-nya.&#xA;&#xA;&#34;Minggu depan aku bawain wine deh, buat kita minum bareng.&#34;&#xA;&#xA;Suara tawa.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonabo" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">minwonabo</span></a></p>

<p>“Halo, Sayang.”</p>

<p>Seokmin tersenyum, mengecup nisan itu meski matahari sedang terik-teriknya dan membuat segala batu bagai terpanggang. Ia duduk di depan makam Joshua seperti biasa. Ditaruhnya buket bunga segar setelah ia menyiangi rerumputan hama yang tumbuh di makam seiring berjalannya waktu. Sudah dua minggu ia lalai menjenguk Omega-nya akibat kesibukan duniawi dan ia berusaha menebusnya dengan memastikan makam kekasihnya kembali rapi dan bersih.</p>

<p>Bagaimanapun, Joshua lebih suka bila semua tertata apik.</p>



<p>“Maaf ya, aku dua minggu kemarin nggak sempet ke sini,” mulai ia bercerita pada kekasihnya. “Aku punya <em>banyaakkk</em> banget yang mau aku ceritain ke kamu. Mmm, mulai dari mana ya? Kamu mau denger yang mana dulu nih, Sayang?”</p>

<p>Seokmin diam sesaat, mengangguk-angguk, seakan Joshua benar-benar sedang berbicara dengannya.</p>

<p>“Aku sehat kok, sehat banget,” senyum sang Alpha, lagi-lagi, tersungging. Senang, karena Omega-nya ingin mendengar kabarnya terlebih dulu. “Josh, anjing Mingyu, udah beranak. Aku kemarin ditawarin mau nggak satu anaknya. Mungkin aku bakal ambil sih. Namain dia Shua. Biar kalo aku kangen kamu, aku bisa peluk dia.”</p>

<p>Cengirannya muncul saat ia membayangkan wajah ngambek kekasihnya, menyatakan bahwa <em>dia bukan hewan!</em></p>

<p>“Jangan ngambek sama anjing dong, Sayang, lucu banget sih kamu...,” dielusnya nisan Joshua.</p>

<p>“Oh ya! Kamu inget Wonu, Omega-nya Gyu? Yang setahun lalu aku ajak ke sini buat ketemu kamu?? Dia lagi hamil, Yang! Udah tujuh bulan. Gembul gitu, pipinya bunder, lucu banget deh. Tapi ganas banget, bused. Ngeliat muka aku, dia ngamuk. Ngeliat muka Alpha-nya apalagi. Aku sama Gyu mikir kayaknya bayinya bakal Alpha deh ntar, abisan benci banget gitu sama Alpha.”</p>

<p>Gelaknya ringan, mengisi kekosongan pekuburan di siang itu.</p>

<p>“Kamu harus liat muka Gyu pas dia baru tau Wonu hamil. Kocak banget, asli. Wonu ngabarinnya di WA kan, di group chat kita. Dia cengo bego gitu pas baca. Aku langsung masuk dong ke ruangan dia, mau nyelamatin. Eh, dia lagi nangis.”</p>

<p>Lalu, keceriaannya berkurang, tergantikan oleh rasa haru ketika ia mengingat hari itu. Seokmin masih ingat bagaimana ia masuk dengan buru-buru, dirundung suka cita dan tak sabar ingin membaginya bersama Mingyu, namun berhenti saat dilihat sahabatnya itu menangis. Sang Alpha tengah memegangi handphonenya dengan tangan gemetaran, membekap mulut kuat-kuat dan menangis sejadinya di meja kerjanya.</p>

<p>Mau tak mau, Seokmin ikut tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Tidak ada Alpha yang tidak bahagia mengetahui Omega-nya tengah mengandung keturunannya. Orang yang paling dicintai membawa darah dagingnya dalam rahimnya.</p>

<p>Seokmin melangkah masuk, lalu memeluk Mingyu. “Selamat...,” bisiknya. Sebulir air mata turut membasahi pipinya. Ia tahu seberapa besar arti bayi ini bagi Mingyu. Mingyu semakin terisak, kemudian balas memeluk Seokmin. Runtuh dalam dekapan sahabatnya. “Selamat, Gyu...” Ditepuk-tepuknya punggung Mingyu, mencoba menenangkan.</p>

<p>Matanya kembali berkaca-kaca. Seokmin mengusapnya sambil tertawa. “Ahaha, sori, Sayang, aku jadi mikir nggak perlu deh,” akunya pada Joshua. “Aku jadi mikir gimana kalo <em>aku</em> yang nerima kabar itu dari <em>kamu</em>.”</p>

<p>Hening. Angin memutuskan untuk berhembus pada detik itu, membuyarkan rumput dan menggoyangkan ilalang di belakang makam Joshua. Ia bersumpah ia bisa merasakan sentuhan tangan Joshua di pipinya, maka ia menyentuh pipinya.</p>

<p>“Aku sayang sama kamu...”</p>

<p>Di hadapannya, Joshua tersenyum. Tak berubah. Masih manis. Masih penuh kasih sayang. Seokmin mengecup tangan kekasihnya, membuat Joshua tertawa ringan.</p>

<p>Kemudian, ia lanjut bercerita. Mengenai Seungcheol yang sukses menambah cabang kafenya dan Jeonghan, kini telah menikah, digigit dan berbahagia, tidak lagi bekerja di kafe itu, melainkan membantu Seungcheol mengelola manajemennya.</p>

<p>Mengenai Wonu yang masih bekerja bersama Chan dia kafe Seungcheol, walau Wonu sebentar lagi akan cuti melahirkan dan terancam dilarang bekerja oleh Alpha-nya sampai pulih benar dan Chan yang akan sidang skripsi bersama mate-nya, Yeri, tahun ini. Sepertinya Seungcheol harus bersiap mencari dua pegawai baru sebagai pengganti mereka.</p>

<p>Mengenai Seungkwan dan Hansol yang telah memutuskan untuk memiliki anak. Mereka masih mencari cara terbaik, apakah bayi tabung, mengadopsi, atau alternatif lain. Hari ini mereka akan mengunjungi rumah sakit untuk bertanya lebih lanjut soal bayi tabung.</p>

<p>Mengenai Minghao dan Junhui yang, pada akhirnya, akan menikah bulan depan di Cina. Sepertinya Junhui akan memboyong Minghao ke sana, tinggal di sana, meneruskan bisnis keluarganya dan menutup usahanya di sini. Seokmin juga kurang tahu. Minghao bilang dirinya dan Junhui masih belum memutuskan apakah kepindahan ini bersifat permanen atau temporer. Mereka bisa saja kembali lagi ke Indonesia kalau Minghao menghendakinya.</p>

<p>“Gyu jelas ngambek pas denger soal ini,” kekeh Seokmin. “Mereka udah balik sahabatan kayak dulu lagi. Dia nggak mau nggak bisa ketemu Hao lagi. Tapi bagusnya sih dia sadar diri buat nggak nunjukin di group chat, apalagi Jun dimasukin juga ke group chat kita. Tapi dia misuh-misuh ke Wonu, yang, <em>of course</em>, terus ngadu ke aku.”</p>

<p>Lelah bercerita, Alpha itu menghela napas. “Sori, aku ngomong terus yah? Kamu pasti aus. Aku juga aus nih, tapi entar aja deh aku mampir kafe Cheol.” Seokmin membuka tutup botol air mineral, lalu membanjuri nisan itu hingga basah merata. “Tadinya aku mau bawa wine, soalnya kamu lebih suka itu. Tapi nggak jadi ah. Takut disemutin.”</p>

<p>Kekehnya lagi.</p>

<p>Kemudian ia kembali duduk. Kaki menyila. Kedua lengan terjulur di belakang, menumpu beban tubuhnya. Seokmin pun mendongak memandang langit. Awan putih tebal berarak pelan, menutup mentari, membuat suasana bumi di bawahnya menjadi sejuk sesaat.</p>

<p>”...<em>You know</em>, pas aku di Bali, aku sempet pergi ke tebing. Di bawah tebing itu langsung laut berkarang. Aku sempet berdiri lama di situ, mandangin ombaknya. Mandangin lautnya...</p>

<p>Aku sempet mikir...</p>

<p>...<em>aku mau ketemu kamu</em>...”</p>

<p>Tawanya hambar.</p>

<p>“Kamu pasti ngamuk aku ngomong gini. Tapi aku capek, Shua. <em>Aku capek</em>,” ia maju kini, merebahkan kening ke nisan Joshua, tak menghiraukan basah dari nisan menempel pada kulitnya. “Aku <em>kangen</em> sama kamu. Kadang-kadang, aku kebangun tengah malam, nyariin kamu di samping aku. Aku kangen kamu. Wangi kamu. Pelukan kamu. Suara tawa kamu.</p>

<p><em>Senyuman kamu</em>...”</p>

<p>Digertakkannya gigi. Tangis diam-diam turun di pipi, terisak miris sambil mengadu pada Omega-nya.</p>

<p>“Kadang-kadang, aku nggak kuat. Aku nggak sekuat itu, Sayang. Aku mau nyusul kamu, ketemu kamu, meluk kamu lagi...”</p>

<p><em>Satu kecupan.</em></p>

<p><em>Dua kecupan.</em></p>

<p><em>&#39;Seok...&#39;</em></p>

<p><em>Terasa pada wajahnya. Pada hidungnya.</em></p>

<p><em>Tiga.</em></p>

<p><em>Pada matanya.</em></p>

<p><em>Dan yang terakhir, pada bibirnya...</em></p>

<p>Seokmin tertawa. Tertawa lugas dan membahana. Disekanya tangis yang turun. Pun, ia balas menciumi nisan Joshua, seakan-akan batu tersebut adalah wajah kekasihnya.</p>

<p>“Iya, Sayang, maaf aku udah khilaf... Aku bakal terus hidup kok. Demi <em>kamu</em>. Demi <em>kita</em>...”</p>

<p><em>Sampai ajal menjemputnya dan Joshua, berdiri di hadapannya, mengulurkan tangan sambil tersenyum.</em></p>

<p>Seokmin duduk lagi. Pandangannya teduh pada nisan kekasihnya.</p>

<p>Omega-nya.</p>

<p><em>Mate-nya.</em></p>

<p>“Minggu depan aku bawain wine deh, buat kita minum bareng.”</p>

<p>Suara tawa.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/332</guid>
      <pubDate>Wed, 30 Dec 2020 11:50:39 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>331.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/331?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwonabo&#xA;&#xA;Ia terbangun duluan dan menatap sebentuk wajah, sembab oleh tangis, di sebelahnya. Di luar, kicau burung terdengar. Terlalu ceria baginya. Mentari pagi pun terlalu terang untuk suasana hatinya saat ini.&#xA;&#xA;Lee Jihoon memandang wajah kekasihnya yang masih tidur dalam keheningan. Memperhatikan dengan seksama bagaimana dada Beta itu naik-turun secara teratur. Bagaimana ia menyusut hidung. Bagaimana kantung matanya membesar karena kebanyakan menangis semalam. Bagaimana di pipi kekasihnya masih nampak jejak air mata.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Ia tahu.&#xA;&#xA;Ia tahu seberapa jauh Soonyoung mencintainya. Tahu, suatu waktu di suatu masa, cinta Soonyoung pada Wonwoo berpindah padanya. Setidaknya, ia yakin, ketika mereka sepakat untuk berbagi Wonwoo, mereka masih sama-sama mencintai Omega itu. Namun, entah bagaimana, Soonyoung mampu mengambil hatinya kembali dari Wonwoo dan menaruhnya ke Jihoon.&#xA;&#xA;Ia tahu. Semua terlalu jelas.&#xA;&#xA;Kwon Soonyoung terlalu jelas.&#xA;&#xA;Jihoon mengangkat tangan. Ragu-ragu, ia menyentuh pipi Soonyoung. Diam di sana untuk sejenak. Lalu, amat perlahan, dielusnya lembut pipi sang Beta.&#xA;&#xA;&#34;Soonie...,&#34; bisiknya. &#34;...Maaf.&#34;&#xA;&#xA;Sebulir air mata menetes dari mata Soonyoung yang terpejam.&#xA;&#xA;&#34;Maaf......&#34;&#xA;&#xA;Kemudian, lengan-lengan kuat itu, yang selama ini menghujaninya dengan kasih sayang, dengan cinta yang melimpah ruah untuknya, memeluk kencang tubuh Jihoon.&#xA;&#xA;&#34;Soonie...,&#34; Jihoon membelai rambut sang Beta di dadanya, balas merangkul kepalanya. &#34;Maaf, maaf...Soonyoungie...&#34;&#xA;&#xA;Soonyoung menggeleng. Ia terus menggeleng.&#xA;&#xA;Dia tidak mau dengar. Tidak mau mendengar Jihoon meminta maaf padanya.&#xA;&#xA;&#34;Maafin aku...&#34;&#xA;&#xA;Soonyoung terus menggeleng. Air mata tumpah dari pipi Jihoon, menetes di kepala Soonyoung. Suaranya lirih, merobek sisa hati sang Beta menjadi serpihan. Hancur lebur.&#xA;&#xA;Andai bisa...andai ia bisa...ia ingin menculik Jihoon dan membuat dunia dimana hanya ada mereka berdua saja...&#xA;&#xA;Andai ia bisa...&#xA;&#xA;&#34;Maaf, Soonie...&#34;&#xA;&#xA;Dan, di dunia itu, Jihoon mencintainya.&#xA;&#xA;Hanya dirinya...]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonabo" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">minwonabo</span></a></p>

<p>Ia terbangun duluan dan menatap sebentuk wajah, sembab oleh tangis, di sebelahnya. Di luar, kicau burung terdengar. Terlalu ceria baginya. Mentari pagi pun terlalu terang untuk suasana hatinya saat ini.</p>

<p>Lee Jihoon memandang wajah kekasihnya yang masih tidur dalam keheningan. Memperhatikan dengan seksama bagaimana dada Beta itu naik-turun secara teratur. Bagaimana ia menyusut hidung. Bagaimana kantung matanya membesar karena kebanyakan menangis semalam. Bagaimana di pipi kekasihnya masih nampak jejak air mata.</p>



<p><em>Ia tahu.</em></p>

<p>Ia tahu seberapa jauh Soonyoung mencintainya. Tahu, suatu waktu di suatu masa, cinta Soonyoung pada Wonwoo berpindah padanya. Setidaknya, ia yakin, ketika mereka sepakat untuk berbagi Wonwoo, mereka <em>masih</em> sama-sama mencintai Omega itu. Namun, entah bagaimana, Soonyoung <em>mampu</em> mengambil hatinya kembali dari Wonwoo dan <em>menaruhnya</em> ke Jihoon.</p>

<p>Ia tahu. Semua terlalu jelas.</p>

<p><em>Kwon Soonyoung terlalu jelas.</em></p>

<p>Jihoon mengangkat tangan. Ragu-ragu, ia menyentuh pipi Soonyoung. Diam di sana untuk sejenak. Lalu, amat perlahan, dielusnya lembut pipi sang Beta.</p>

<p>“Soonie...,” bisiknya. “...Maaf.”</p>

<p>Sebulir air mata menetes dari mata Soonyoung yang terpejam.</p>

<p>“<em>Maaf</em>......”</p>

<p>Kemudian, lengan-lengan kuat itu, yang selama ini menghujaninya dengan kasih sayang, dengan cinta yang melimpah ruah untuknya, memeluk kencang tubuh Jihoon.</p>

<p>“Soonie...,” Jihoon membelai rambut sang Beta di dadanya, balas merangkul kepalanya. “Maaf, maaf...Soonyoungie...”</p>

<p>Soonyoung menggeleng. Ia terus menggeleng.</p>

<p><em>Dia tidak mau dengar. Tidak mau mendengar Jihoon meminta maaf padanya.</em></p>

<p>“Maafin aku...”</p>

<p>Soonyoung terus menggeleng. Air mata tumpah dari pipi Jihoon, menetes di kepala Soonyoung. Suaranya lirih, merobek sisa hati sang Beta menjadi serpihan. Hancur lebur.</p>

<p><em>Andai bisa...andai ia bisa...ia ingin menculik Jihoon dan membuat dunia dimana hanya ada mereka berdua saja...</em></p>

<p><em>Andai ia bisa...</em></p>

<p>“Maaf, Soonie...”</p>

<p><em>Dan, di dunia itu, Jihoon mencintainya.</em></p>

<p><em>Hanya dirinya...</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/331</guid>
      <pubDate>Wed, 30 Dec 2020 11:30:55 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>327.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/327?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwonabo&#xA;&#xA;&#34;Min--mmh--&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo, mendengar suara datangnya mobil, langsung berlari menuruni tangga, khawatir kalau-kalau Mingyu terlalu payah untuk berjalan memasuki rumah. Ternyata kecemasannya terbukti berlebihan. Sebab, begitu pintu depan ia buka, Mingyu menangkup wajahnya dan mencium bibirnya dengan ganas.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Refleks melingkarkan lengan ke leher Mingyu, Wonwoo membiarkan dirinya didorong kembali memasuki rumah, selangkah demi selangkah, hingga punggungnya membentur dinding terdekat. Tangannya mengelus tengkuk Mingyu. Leher itu penuh keringat. Suhu badannya naik drastis. Walau suhu badan Alpha sejatinya tinggi, Wonwoo yakin Mingyu sedang demam.&#xA;&#xA;&#34;Sayang...,&#34; dipanggilnya sang Alpha di sela-sela ciuman yang tak kunjung berhenti. &#34;Mandi dulu yuk?&#34; Mingyu menggeram rendah pada bibirnya. &#34;Saya udah siapin kamar kita. Air, roti, buah...&#34;&#xA;&#xA;Kepala sang Alpha menyusruk leher, mencari wangi Omega-nya, menghidunya banyak-banyak. Hasratnya kian tak terkontrol. Tangan-tangan besar menyusuri tubuhnya dengan tak sabar, masuk ke dalam kaus gombrong Wonwoo, berusaha melepasnya dengan gusar.&#xA;&#xA;Wonwoo membiarkannya, malah membantu Mingyu dengan membuka kancing kemeja kerja yang sudah bersimbah keringat dan kusut masai sambil menyeretnya ke kamar mandi. Menilik dari perilaku Mingyu, rut Alpha-nya masih belum sempurna. Serigalanya masih belum mendominasi. Ia masih bisa membantu Mingyu mempersiapkan diri.&#xA;&#xA;Selain makanan dan minuman, dan Wonwoo bersikeras Mingyu menyegarkan diri terlebih dahulu, Omega itu pun sudah menaruh barang-barang yang sekiranya diperlukan mereka di nakas samping tempat tidur. Lubrikan, kondom (walau Wonwoo tidak yakin Mingyu akan mau memakainya, mengingat percakapan mereka sebelumnya), serta mainan yang mungkin cukup menarik bila Mingyu inginkan.&#xA;&#xA;Terus terang, Wonwoo tidak punya pengalaman dengan rut Alpha. Junhui tidak pernah menghabiskan rutnya bersama Wonwoo. Ini adalah pertama kalinya ia membantu rut seorang Alpha. Persiapan itu pun ia dapat infonya dari Soonyoung, setelah diceritakan oleh sang Beta panjang lebar bagaimana mengerikannya Alpha dalam rut.&#xA;&#xA;Namun, memandang Mingyu yang mengerang manja dalam pelukannya, menuruti Wonwoo yang menyeretnya ke kamar mandi, membuatnya meragukan keabsahan cerita sang Beta. Atau, mungkin Mingyu memang Alpha yang berbeda dari Alpha lainnya.&#xA;&#xA;Wonwoo tersenyum. Mata sang Omega berkilat jahil.&#xA;&#xA;&#34;Saya mandiin Mingyu ya...?&#34;&#xA;&#xA;Bola mata Mingyu melebar sesaat, sebelum ia mengangkat Wonwoo ke dalam gendongan secara mendadak dan membanting pintu kamar mandi. Sang Omega tertawa, mulai menciumi bibirnya balik.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonabo" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">minwonabo</span></a></p>

<p>“Min—<em>mmh</em>—”</p>

<p>Wonwoo, mendengar suara datangnya mobil, langsung berlari menuruni tangga, khawatir kalau-kalau Mingyu terlalu payah untuk berjalan memasuki rumah. Ternyata kecemasannya terbukti berlebihan. Sebab, begitu pintu depan ia buka, Mingyu menangkup wajahnya dan mencium bibirnya dengan ganas.</p>



<p>Refleks melingkarkan lengan ke leher Mingyu, Wonwoo membiarkan dirinya didorong kembali memasuki rumah, selangkah demi selangkah, hingga punggungnya membentur dinding terdekat. Tangannya mengelus tengkuk Mingyu. Leher itu penuh keringat. Suhu badannya naik drastis. Walau suhu badan Alpha sejatinya tinggi, Wonwoo yakin Mingyu sedang <em>demam</em>.</p>

<p>“Sayang...,” dipanggilnya sang Alpha di sela-sela ciuman yang tak kunjung berhenti. “Mandi dulu yuk?” Mingyu menggeram rendah pada bibirnya. “Saya udah siapin kamar kita. Air, roti, buah...”</p>

<p>Kepala sang Alpha menyusruk leher, mencari wangi Omega-nya, menghidunya banyak-banyak. Hasratnya kian tak terkontrol. Tangan-tangan besar menyusuri tubuhnya dengan tak sabar, masuk ke dalam kaus gombrong Wonwoo, berusaha melepasnya dengan gusar.</p>

<p>Wonwoo membiarkannya, malah membantu Mingyu dengan membuka kancing kemeja kerja yang sudah bersimbah keringat dan kusut masai sambil menyeretnya ke kamar mandi. Menilik dari perilaku Mingyu, rut Alpha-nya masih belum sempurna. Serigalanya masih belum mendominasi. Ia masih bisa membantu Mingyu mempersiapkan diri.</p>

<p>Selain makanan dan minuman, dan Wonwoo bersikeras Mingyu menyegarkan diri terlebih dahulu, Omega itu pun sudah menaruh barang-barang yang sekiranya diperlukan mereka di nakas samping tempat tidur. Lubrikan, kondom (walau Wonwoo tidak yakin Mingyu akan mau memakainya, mengingat percakapan mereka sebelumnya), serta mainan yang mungkin <em>cukup menarik</em> bila Mingyu inginkan.</p>

<p>Terus terang, Wonwoo tidak punya pengalaman dengan rut Alpha. Junhui tidak pernah menghabiskan rutnya bersama Wonwoo. Ini adalah pertama kalinya ia membantu rut seorang Alpha. Persiapan itu pun ia dapat infonya dari Soonyoung, setelah diceritakan oleh sang Beta panjang lebar bagaimana <em>mengerikannya</em> Alpha dalam rut.</p>

<p>Namun, memandang Mingyu yang mengerang manja dalam pelukannya, menuruti Wonwoo yang menyeretnya ke kamar mandi, membuatnya meragukan keabsahan cerita sang Beta. Atau, mungkin Mingyu memang Alpha yang berbeda dari Alpha lainnya.</p>

<p>Wonwoo tersenyum. Mata sang Omega berkilat jahil.</p>

<p>“Saya mandiin Mingyu ya...?”</p>

<p>Bola mata Mingyu melebar sesaat, sebelum ia mengangkat Wonwoo ke dalam gendongan secara mendadak dan membanting pintu kamar mandi. Sang Omega tertawa, mulai menciumi bibirnya balik.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/327</guid>
      <pubDate>Sat, 26 Dec 2020 13:44:35 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>326.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/326?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwonabo&#xA;&#xA;Bisa dikatakan Rut Mingyu datang dengan tenang, meski terlalu tiba-tiba.&#xA;&#xA;Memang, ia sudah mulai risih sejak pagi tadi. Kerahnya terasa mencekik. Kemejanya gatal di kulit. Sebagaimana serigala di dalamnya meraung protes, ia harus menahan diri untuk tidak merobek bajunya dan berlari kencang mencari tempat sepi, mencakar dan mengamuk di sana.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Rut adalah masa dimana sisi manusianya tergantikan oleh insting binatang. Masa yang cukup sensitif bagi Alpha, terutama ketika mereka mencium lezatnya Omega.&#xA;&#xA;Sejak pagi, ia menyuruh Shinwon, pengganti sementara Seokmin selama Alpha itu cuti panjang, untuk memindahkan seluruh pekerja bergender Omega ke gedung kantor satunya. Para pegawainya pun sudah siap-siap kalau Mingyu membentak atau bertindak menyebalkan karena mereka paham betul penyebab perubahan perilaku atasan mereka itu.&#xA;&#xA;Ia tak bisa konsentrasi bekerja. Yang ada di benaknya hanya Wonwoo dan bagaimana Omega itu telah menyetujui, 100% yakin, untuk memberikan lehernya pada Mingyu. Ia tak bisa menutup mata dan tidak membayangkan leher putih tersebut, berdetak segar pada scent glandnya. Mulutnya otomatis membuka. Haus. Taring siap untuk merobek kulit di sana, mengklaimnya untuk selamanya.&#xA;&#xA;God...Mingyu ingin pulang...&#xA;&#xA;Tapi sisi manusianya masihlah berfungsi. Ia masih bisa bekerja, memimpin rapat departemen, memutuskan proyek mana yang paling potensial dari beberapa presentasi pegawainya, serta masih bisa menggantikan peran ayahnya yang sedang business trip ke London. Tetau, malam telah turun. Shinwon mengetuk pintunya, membuyarkan hitungan angka-angka dalam benak, dan menyuruhnya segera pulang.&#xA;&#xA;&#34;Udah jam 8, Pak. Seokmin bilang kalo saya harus mulangin Bapak, soalnya Omega Bapak nungguin di rumah katanya,&#34; Beta itu tersenyum sambil mengambil jas Mingyu untuk dipakaikannya. &#34;Bapak juga udah di ambang batas kalo saya cium baunya sih. Sopir juga udah stand by di lobi. Saya anterin ya.&#34;&#xA;&#xA;Terhuyung oleh eskalasi antisipasi, Mingyu tidak menyetujui ataupun menolak. Alih-alih, ia membiarkan Beta itu membawakan tas kerjanya sambil sesekali menahan tubuh besarnya yang gontai agar tidak limbung dan jatuh menyuruk lantai, muka terlebih dahulu.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonabo" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">minwonabo</span></a></p>

<p>Bisa dikatakan Rut Mingyu datang dengan tenang, meski terlalu tiba-tiba.</p>

<p>Memang, ia sudah mulai risih sejak pagi tadi. Kerahnya terasa mencekik. Kemejanya gatal di kulit. Sebagaimana serigala di dalamnya meraung protes, ia harus menahan diri untuk tidak merobek bajunya dan berlari kencang mencari tempat sepi, mencakar dan mengamuk di sana.</p>



<p>Rut adalah masa dimana sisi manusianya tergantikan oleh insting binatang. Masa yang cukup sensitif bagi Alpha, terutama ketika mereka mencium lezatnya Omega.</p>

<p>Sejak pagi, ia menyuruh Shinwon, pengganti sementara Seokmin selama Alpha itu cuti panjang, untuk memindahkan seluruh pekerja bergender Omega ke gedung kantor satunya. Para pegawainya pun sudah siap-siap kalau Mingyu membentak atau bertindak menyebalkan karena mereka paham betul penyebab perubahan perilaku atasan mereka itu.</p>

<p>Ia tak bisa konsentrasi bekerja. Yang ada di benaknya hanya Wonwoo dan bagaimana Omega itu telah menyetujui, 100% yakin, untuk memberikan lehernya pada Mingyu. Ia tak bisa menutup mata dan tidak membayangkan leher putih tersebut, berdetak segar pada scent glandnya. Mulutnya otomatis membuka. Haus. Taring siap untuk merobek kulit di sana, mengklaimnya untuk selamanya.</p>

<p><em>God...Mingyu ingin pulang...</em></p>

<p>Tapi sisi manusianya masihlah berfungsi. Ia masih bisa bekerja, memimpin rapat departemen, memutuskan proyek mana yang paling potensial dari beberapa presentasi pegawainya, serta masih bisa menggantikan peran ayahnya yang sedang business trip ke London. Tetau, malam telah turun. Shinwon mengetuk pintunya, membuyarkan hitungan angka-angka dalam benak, dan menyuruhnya segera pulang.</p>

<p>“Udah jam 8, Pak. Seokmin bilang kalo saya harus mulangin Bapak, soalnya Omega Bapak nungguin di rumah katanya,” Beta itu tersenyum sambil mengambil jas Mingyu untuk dipakaikannya. “Bapak juga udah di ambang batas kalo saya cium baunya sih. Sopir juga udah stand by di lobi. Saya anterin ya.”</p>

<p>Terhuyung oleh eskalasi antisipasi, Mingyu tidak menyetujui ataupun menolak. Alih-alih, ia membiarkan Beta itu membawakan tas kerjanya sambil sesekali menahan tubuh besarnya yang gontai agar tidak limbung dan jatuh menyuruk lantai, muka terlebih dahulu.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/326</guid>
      <pubDate>Sat, 26 Dec 2020 13:38:49 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>322.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/322?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwonabo&#xA;&#xA;Dengus geli, meski tidak pada tempatnya, pun keluar dari sang Alpha. &#34;Rupanya yang posesif bukan cuma aku ya?&#34; ringisnya. Dia pun menitikkan air mata dari pelupuknya seperti sang Omega. &#34;Wonu....dengerin aku dulu, Sayang?&#34;&#xA;&#xA;Diusapnya tangis di pipi Wonwoo. Dikecupnya bibir merah itu satu kali sebelum ia memulai ucapannya.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Aku nggak akan kemana-mana, Won.&#34;&#xA;&#xA;Tatapan matanya tegas.&#xA;&#xA;&#34;Aku Alpha kamu seorang, kan?&#34;&#xA;&#xA;Mingyu tersenyum.&#xA;&#xA;&#34;Kamu juga Omega aku seorang. Aku nggak mau Omega yang lain. Aku nggak butuh Omega lain. Aku mau kamu, Jeon Wonwoo, dengan segala yang udah kamu laluin.&#34;&#xA;&#xA;Digamitnya kepalan tangan Wonwoo, lalu dibawanya untuk dikecup.&#xA;&#xA;&#34;Aku mau bangun tiap pagi ngeliat kamu tidur nyenyak di samping aku. Aku mau dipeluk dari belakang sama kamu pas lagi nyiapin sarapan. Aku mau suara gaduh anak-anak kita lari-larian di rumah, juga suara teriakan kamu yang nyuruh mereka lebih tenang.&#xA;&#xA;Aku mau ngabisin sisa waktu aku di dunia ini sama kamu seorang. Sekarang, besok, selamanya. Bukan yang lain, Jeon Wonwoo, tapi kamu.&#34;&#xA;&#xA;Sudah tak ada harapan bagi air matanya untuk mereda. Wonwoo menangis sejadinya. Isakannya keras. Apalagi, Alpha-nya pun ikut menangis bersamanya.&#xA;&#xA;Tuhan....tolong, sekali ini saja, tolong...&#xA;&#xA;&#34;Kamu udah berusaha sejauh ini. Omega aku kuat. Aku bangga sama kamu.&#34;&#xA;&#xA;Tuhan...&#xA;&#xA;&#34;Tapi mulai sekarang, dibagi ke aku ya, Sayang? Jangan nangis sendirian. Jangan simpen apapun sendirian. Aku di sini. Aku selalu di sini sama kamu.&#34;&#xA;&#xA;Tolong jangan ambil orang ini dari saya......&#xA;&#xA;Dan ia,&#xA;&#xA;menangis.&#xA;&#xA;Dalam pelukan Mingyu yang menangis bersamanya. Sampai lelah. Sampai puas. Sampai kosong kepedihan, merembes keluar dari hatinya. Sampai segala kenangan, baik dan buruk, menjadikannya Omega yang jauh lebih baik dari yang kemarin.&#xA;&#xA;Menjadikannya Jeon Wonwoo yang dicintai dan mencintai Kim Mingyu.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonabo" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">minwonabo</span></a></p>

<p>Dengus geli, meski tidak pada tempatnya, pun keluar dari sang Alpha. “Rupanya yang posesif bukan cuma aku ya?” ringisnya. Dia pun menitikkan air mata dari pelupuknya seperti sang Omega. “Wonu....dengerin aku dulu, Sayang?”</p>

<p>Diusapnya tangis di pipi Wonwoo. Dikecupnya bibir merah itu satu kali sebelum ia memulai ucapannya.</p>



<p>“Aku nggak akan kemana-mana, Won.”</p>

<p>Tatapan matanya tegas.</p>

<p>“Aku Alpha kamu seorang, kan?”</p>

<p>Mingyu tersenyum.</p>

<p>“Kamu juga Omega aku seorang. Aku nggak <em>mau</em> Omega yang lain. Aku nggak <em>butuh</em> Omega lain. Aku mau kamu, Jeon Wonwoo, dengan segala yang udah kamu laluin.”</p>

<p>Digamitnya kepalan tangan Wonwoo, lalu dibawanya untuk dikecup.</p>

<p>“Aku mau bangun tiap pagi ngeliat kamu tidur nyenyak di samping aku. Aku mau dipeluk dari belakang sama kamu pas lagi nyiapin sarapan. Aku mau suara gaduh <em>anak-anak kita</em> lari-larian di rumah, juga suara teriakan kamu yang nyuruh mereka lebih tenang.</p>

<p>Aku mau ngabisin sisa waktu aku di dunia ini sama kamu seorang. Sekarang, besok, <em>selamanya</em>. Bukan yang lain, Jeon Wonwoo, tapi <em>kamu</em>.”</p>

<p>Sudah tak ada harapan bagi air matanya untuk mereda. Wonwoo menangis sejadinya. Isakannya keras. Apalagi, Alpha-nya pun ikut menangis bersamanya.</p>

<p><em>Tuhan....tolong, sekali ini saja, tolong...</em></p>

<p>“Kamu udah berusaha sejauh ini. Omega aku kuat. Aku <em>bangga</em> sama kamu.”</p>

<p><em>Tuhan...</em></p>

<p>“Tapi mulai sekarang, dibagi ke aku ya, Sayang? Jangan nangis sendirian. Jangan simpen apapun sendirian. <em>Aku di sini</em>. Aku <em>selalu</em> di sini sama kamu.”</p>

<p><em>Tolong jangan ambil orang ini dari saya......</em></p>

<p>Dan ia,</p>

<p>menangis.</p>

<p>Dalam pelukan Mingyu yang menangis bersamanya. Sampai lelah. Sampai puas. Sampai kosong kepedihan, merembes keluar dari hatinya. Sampai segala kenangan, baik dan buruk, menjadikannya Omega yang jauh lebih baik dari yang kemarin.</p>

<p>Menjadikannya Jeon Wonwoo yang dicintai dan mencintai Kim Mingyu.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/322</guid>
      <pubDate>Sat, 26 Dec 2020 12:49:47 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>321.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/321?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwonabo&#xA;&#xA;Suara ombak berderu teratur, menciptakan musik alamiah bagi telinga. Pasir sejuk terasa di bawah usapan telapak tangan. Langit berbintang, bersih dari pijar lampu, berkelap-kelip begitu terang, begitu banyak.&#xA;&#xA;Indah.&#xA;&#xA;Indah...&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Won...,&#34; elusan lembut di sudut matanya ternyata berusaha menghapus bulir air mata yang tengah berjatuhan.&#xA;&#xA;Sore tadi, entah bagaimana caranya, mereka berhasil melewati upacara pernikahan Seungcheol dan Jeonghan tanpa drama tak perlu. Ia ingat ia tersenyum sambil memeluk lengan Mingyu, tertawa ceria, berlaku bak tamu sempurna untuk pasangan yang berbahagia.&#xA;&#xA;Malam ini, mereka adalah sepasang insan yang saling bergelung pada tubuh satu sama lain, berbaring di tengah-tengah hamparan pasir di pantai pribadi penginapan mereka, sekadar titik debu di mata semesta.&#xA;&#xA;Melihat tangis Wonwoo tidak berhenti bahkan setelah ia menyekanya dengan tangan, Mingyu menghela napas, lalu memeluk Omega itu lebih erat agar ia bisa mengecup air matanya. Asin di atas bibir yang hangat. Mingyu selalu hangat. Bahkan di pantai berhembuskan angin malam, Alpha yang besar itu selalu hangat.&#xA;&#xA;Kecupan demi kecupan ringan pada wajahnya membuat Wonwoo memejamkan mata dan Mingyu, menyadari itu, pun perlahan menyusuri rahang, pipi...kemudian, bibirnya menyentuh bibir Wonwoo. Ciuman yang amat lembut membuat sang Omega meleleh seketika. Ia berpegangan pada pinggang lelaki itu, menikmati setiap detik dan menitnya sampai ciuman itu, sehalus datangnya, pun pergi meninggalkan bibirnya.&#xA;&#xA;&#34;...Mingyu marah?&#34; serak, bisikan sang Omega. Tatap matanya letih bercampur keraguan, juga secercah harapan akan pengampunan di baliknya.&#xA;&#xA;Mendengar itu, sang Alpha menjawab, &#34;Iya.&#34; Omega-nya menahan napas, namun ia tetap melanjutkan. &#34;Aku marah sama aku yang dulu. Yang ninggalin kamu di mobil. Yang ninggalin kamu di rumah. Aku marah sama Alpha goblok itu. Yang nggak tau seberapa besarnya dia udah nyakitin kamu--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mingyu,&#34; cepat, Wonwoo menangkup kedua pipi Alpha-nya. Ia menggeleng, menangis lagi, tidak mau mendengar Mingyu menyalahkan dirinya sendiri. Karena dia tidak salah. Wonwoo yang salah. Dirinya yang salah.&#xA;&#xA;&#34;Saya...saya yang salah. Saya udah bohong sama Mingyu. Saya nggak butuh jual rumah itu. Saya nggak butuh uang 17 triliun itu. Saya cuma butuh Alpha yang mau beli saya. Saya nggak mau sendirian lagi di rumah besar itu. Alpha manapun nggak masalah.&#34;&#xA;&#xA;Ada hening menggantung di antara mereka setelah kalimat terakhir tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Siapapun, siapapun, boleh. Saya nggak peduli. Saya cuma nggak ingin sendirian lagi...nggak mau kesepian lagi...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Won...&#34;&#xA;&#xA;Mingyu membawa wajah Wonwoo ke pelukannya, membiarkan Omega itu membasahi bajunya dengan titik air mata.&#xA;&#xA;&#34;Tapi, liat apa yang dikasih ke saya?&#34; dia terisak. &#34;Kamu. Tuhan kasih saya kamu, Mingyu. Kamu, yang baik, yang lembut. Yang ngeliat saya seolah saya yang udah kotor ini masih pantas buat disayang. Tuhan kasih saya kamu...&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo memejamkan mata lagi, menangis semakin deras.&#xA;&#xA;&#34;Dan saya takut. Setiap hari, saya ketakutan. Saya takut, suatu hari kamu bangun dan mutusin kalau kamu udah nggak mau saya lagi. Saya takut, suatu hari kamu tau saya udah bohong, tau masa lalu saya dan pergi. Saya takut, Mingyu.&#34;&#xA;&#xA;Alpha-nya mengecup keningnya. Pelukannya kian erat.&#xA;&#xA;&#34;Cuma kamu... Saya nggak akan bagi kamu ke orang lain... Saya nggak akan kasih kamu ke orang lain... Mingyu Alpha saya... Alpha saya seorang...&#34;&#xA;&#xA;Alpha yang ia nantikan bertahun-tahun lamanya dalam keheningan dunia.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonabo" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">minwonabo</span></a></p>

<p>Suara ombak berderu teratur, menciptakan musik alamiah bagi telinga. Pasir sejuk terasa di bawah usapan telapak tangan. Langit berbintang, bersih dari pijar lampu, berkelap-kelip begitu terang, begitu banyak.</p>

<p>Indah.</p>

<p><em>Indah...</em></p>



<p>“Won...,” elusan lembut di sudut matanya ternyata berusaha menghapus bulir air mata yang tengah berjatuhan.</p>

<p>Sore tadi, entah bagaimana caranya, mereka berhasil melewati upacara pernikahan Seungcheol dan Jeonghan tanpa drama tak perlu. Ia ingat ia tersenyum sambil memeluk lengan Mingyu, tertawa ceria, berlaku bak tamu sempurna untuk pasangan yang berbahagia.</p>

<p>Malam ini, mereka adalah sepasang insan yang saling bergelung pada tubuh satu sama lain, berbaring di tengah-tengah hamparan pasir di pantai pribadi penginapan mereka, sekadar titik debu di mata semesta.</p>

<p>Melihat tangis Wonwoo tidak berhenti bahkan setelah ia menyekanya dengan tangan, Mingyu menghela napas, lalu memeluk Omega itu lebih erat agar ia bisa mengecup air matanya. Asin di atas bibir yang hangat. Mingyu selalu hangat. Bahkan di pantai berhembuskan angin malam, Alpha yang besar itu selalu hangat.</p>

<p>Kecupan demi kecupan ringan pada wajahnya membuat Wonwoo memejamkan mata dan Mingyu, menyadari itu, pun perlahan menyusuri rahang, pipi...kemudian, bibirnya menyentuh bibir Wonwoo. Ciuman yang amat lembut membuat sang Omega meleleh seketika. Ia berpegangan pada pinggang lelaki itu, menikmati setiap detik dan menitnya sampai ciuman itu, sehalus datangnya, pun pergi meninggalkan bibirnya.</p>

<p>”...Mingyu marah?” serak, bisikan sang Omega. Tatap matanya letih bercampur keraguan, juga secercah harapan akan pengampunan di baliknya.</p>

<p>Mendengar itu, sang Alpha menjawab, “Iya.” Omega-nya menahan napas, namun ia tetap melanjutkan. “Aku marah sama aku yang dulu. Yang ninggalin kamu di mobil. Yang ninggalin kamu di rumah. Aku marah sama Alpha goblok itu. Yang nggak tau seberapa besarnya dia udah nyakitin kamu—”</p>

<p>“<em>Mingyu,</em>” cepat, Wonwoo menangkup kedua pipi Alpha-nya. Ia menggeleng, menangis lagi, tidak mau mendengar Mingyu menyalahkan dirinya sendiri. Karena dia tidak salah. Wonwoo yang salah. <em>Dirinya yang salah.</em></p>

<p>“Saya...<em>saya yang salah</em>. Saya udah bohong sama Mingyu. Saya nggak butuh jual rumah itu. Saya nggak butuh uang 17 triliun itu. Saya cuma butuh <em>Alpha</em> yang <em>mau</em> beli saya. Saya nggak mau sendirian lagi di rumah besar itu. <em>Alpha manapun nggak masalah</em>.”</p>

<p>Ada hening menggantung di antara mereka setelah kalimat terakhir tersebut.</p>

<p>“Siapapun, <em>siapapun</em>, boleh. Saya nggak peduli. Saya cuma nggak ingin sendirian lagi...nggak mau kesepian lagi...”</p>

<p>“Won...”</p>

<p>Mingyu membawa wajah Wonwoo ke pelukannya, membiarkan Omega itu membasahi bajunya dengan titik air mata.</p>

<p>“Tapi, liat apa yang dikasih ke saya?” dia terisak. “<em>Kamu.</em> Tuhan kasih saya kamu, Mingyu. Kamu, yang baik, yang lembut. Yang ngeliat saya seolah saya yang udah <em>kotor</em> ini masih <em>pantas</em> buat disayang. Tuhan kasih saya <em>kamu</em>...”</p>

<p>Wonwoo memejamkan mata lagi, menangis semakin deras.</p>

<p>“Dan saya <em>takut</em>. Setiap hari, saya ketakutan. Saya takut, suatu hari kamu bangun dan mutusin kalau kamu udah nggak mau saya lagi. Saya takut, suatu hari kamu tau saya udah bohong, tau masa lalu saya dan pergi. <em>Saya takut, Mingyu</em>.”</p>

<p>Alpha-nya mengecup keningnya. Pelukannya kian erat.</p>

<p>“Cuma <em>kamu</em>... Saya nggak akan bagi kamu ke orang lain... Saya nggak akan kasih kamu ke orang lain... Mingyu Alpha saya... <em>Alpha saya seorang</em>...”</p>

<p><em>Alpha yang ia nantikan bertahun-tahun lamanya dalam keheningan dunia.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/321</guid>
      <pubDate>Sat, 26 Dec 2020 12:46:54 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>320.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/320?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwonabo&#xA;&#xA;Di balik tirai beludru warna merah darah, Xu Minghao berdiri dengan kedua tangan masuk ke dalam saku. Di balik tirai sebelahnya, terpisah oleh pemandangan miris Alpha-nya yang sedang memeluk Omega dari masa lalunya, terduduk Kim Mingyu. Alpha besar itu memeluk kedua lututnya dan membenamkan wajahnya di sana.&#xA;&#xA;Minghao diam-diam menghela napas.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Kalo lo perlu tau, keluarga besar Jun di Cina sana nggak kalah berkuasanya sama keluarga lo di sini, tapi emang di sini, dia bukan siapa-siapa,&#34; didongakkannya dagu. &#34;Omega lo harusnya bisa nikah sama dia, ngelahirin anak itu, direstuin ortunya, dulu, kalo dia at least cari tahu siapa sebenernya Alpha dia.&#34;&#xA;&#xA;Percuma. Nasi sudah menjadi bubur. Tak ada lagi yang bisa dilakukan.&#xA;&#xA;&#34;...tau...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Apa? Nggak kedengeran.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu mengangkat wajahnya sedikit. Tanpa perlu mengintip pun, Minghao tahu Alpha itu sedang menangis. Dia selalu seperti itu. Hatinya terlalu lemah untuk ukuran Alpha. Karena itulah, ia dulu jatuh cinta padanya. Mingyu yang besar dan tegap dengan hati serapuh kertas.&#xA;&#xA;&#34;Lo tau soal ini...?&#34; suaranya bergetar.&#xA;&#xA;&#34;Tau,&#34; Minghao melengos. &#34;Jun cerita ke gue tapi dia nggak sebut nama. Tapi gue nggak perlu nanya juga. Dia sendiri yang ngigau, &#39;Wonnie, Wonnie&#39; gitu. I just put the two and two together.&#34;&#xA;&#xA;Sejenak, ia diam, lalu melanjutkan.&#xA;&#xA;&#34;Bang Hani dan Kwan juga tau. Gue yang kasih tau dan mereka...juga tau gue curiga kalo Omega yang diceritain Jun itu Omeganya lo.&#34;&#xA;&#xA;Isakan teredam terdengar dari tirai sebelah. Mingyu balik membenamkan mukanya ke lutut.&#xA;&#xA;&#34;Jun...nggak tau gue curiga Won itu mantan dia. Dan, yah, lo nggak tau ini semua. Intinya ya gue cuma coba-coba juga. Toh kalo Won bukan, gue bisa alasan biar mereka kenalan aja...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kenapa lo nggak kasih tau gue, Hao??&#34; nadanya sedikit naik. Mingyu marah. Overwhelmed, mungkin. Minghao paham betul emosi Alpha itu. Diacaknya rambut, diusapnya muka. Lagi, helaan napas.&#xA;&#xA;&#34;...Karena gue pikir lo seharusnya nggak denger hal sepenting ini dari mulut gue, Gyu, tapi dari mulut Omega lo sendiri...&#34;&#xA;&#xA;Mingyu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Hampir tercekik oleh isak tangis. Entah mengapa ia menangis, ia pun tidak tahu. Hanya saja, memikirkan bagaimana perasaan Wonwoo, sendirian, dalam kondisi yang paling rentan, dan akhirnya harus kehilangan bayinya...air mata tiba-tiba saja meleleh dari pelupuknya.&#xA;&#xA;Bagaimana perasaan Wonwoo ketika Mingyu meninggalkannya sendirian kala itu, dan bagaimana Mingyu ingat ekspresi lega saat Wonwoo terbangun dari pingsan dan kemudian melihat wajahnya...&#xA;&#xA;&#34;Congrats.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu menoleh sedikit.&#xA;&#xA;&#34;Itu,&#34; Minghao menunjuk jari manisnya sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Oh,&#34; Mingyu mengangkat tangannya. Cincin emas di jari manisnya. Ikatannya dengan Wonwoo untuk sementara, sampai ikatan yang lebih abadi merekah di leher mereka berdua. &#34;Thanks. Lo juga, Hao, selamat.&#34; Kali ini, Mingyu menyentuh area scent glandnya sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Hmm,&#34; Minghao tersenyum tipis sambil menyentuh bekas gigitan Jun di lehernya. Bekas yang tidak permanen dan masih menyisakan keraguan. Minghao tidak bisa terlalu lega. Setiap minggu ia dirundung kecemasan, terutama ketika bekas gigitan Alpha-nya memudar dan ia kembali menjadi Beta yang belum diklaim.&#xA;&#xA;Tapi itu urusan nanti. Dia sudah pasrah. Apabila Jun memang ingin bersamanya, mereka akan menemukan cara untuk itu.&#xA;&#xA;Ia yang menginginkan klaim abadi dari Alpha, namun tidak bisa karena terlahir Beta. Jun yang menginginkan bayi bersamanya, yang telah meninggalkan satu-satunya kesempatan menjadi seorang ayah, yang harus membayar itu semua dengan berakhir pada seorang Beta.&#xA;&#xA;Mungkin, ini semua adalah karma.&#xA;&#xA;&#34;Lo nggak marah, Gyu? Alpha gue udah bikin Omega lo kayak gitu?&#34; pelan dan hati-hati, Minghao bertanya. Mingyu hanya diam saja. &#34;Lo boleh kok kalo mau hajar dia. Gue kasih ijin. Asal balikin dia masih hidup dan nggak cacat ke gue.&#34;&#xA;&#xA;Karena ia pikir Mingyu berhak atas kesempatan itu.&#xA;&#xA;&#34;Nanti...&#34;&#xA;&#xA;Nanti. Itu tidak penting. Apa yang dirinya rasakan tidaklah penting. Apa yang Wonwoo rasakan jauh lebih penting. Wen Junhui urusan nanti.&#xA;&#xA;Untuk sekarang, Mingyu ingin menyusuri jarak di antara mereka, mengangkat Wonwoo ke dalam gendongannya dan memeluk Omega itu semalaman, seharian, sampai hatinya sembuh dan tak ada lagi kepedihan tersisa di sana.&#xA;&#xA;Hanya itu.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonabo" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">minwonabo</span></a></p>

<p>Di balik tirai beludru warna merah darah, Xu Minghao berdiri dengan kedua tangan masuk ke dalam saku. Di balik tirai sebelahnya, terpisah oleh pemandangan miris Alpha-nya yang sedang memeluk Omega dari masa lalunya, terduduk Kim Mingyu. Alpha besar itu memeluk kedua lututnya dan membenamkan wajahnya di sana.</p>

<p>Minghao diam-diam menghela napas.</p>



<p>“Kalo lo perlu tau, keluarga besar Jun di Cina sana nggak kalah berkuasanya sama keluarga lo di sini, tapi emang di sini, dia bukan siapa-siapa,” didongakkannya dagu. “Omega lo harusnya bisa nikah sama dia, ngelahirin anak itu, direstuin ortunya, dulu, kalo dia <em>at least</em> cari tahu siapa sebenernya Alpha dia.”</p>

<p>Percuma. Nasi sudah menjadi bubur. Tak ada lagi yang bisa dilakukan.</p>

<p>”...tau...”</p>

<p>“Apa? Nggak kedengeran.”</p>

<p>Mingyu mengangkat wajahnya sedikit. Tanpa perlu mengintip pun, Minghao tahu Alpha itu sedang menangis. Dia selalu seperti itu. Hatinya terlalu lemah untuk ukuran Alpha. Karena itulah, ia dulu jatuh cinta padanya. Mingyu yang besar dan tegap dengan hati serapuh kertas.</p>

<p>“Lo tau soal ini...?” suaranya bergetar.</p>

<p>“Tau,” Minghao melengos. “Jun cerita ke gue tapi dia nggak sebut nama. Tapi gue nggak perlu nanya juga. Dia sendiri yang ngigau, <em>&#39;Wonnie, Wonnie&#39;</em> gitu. I just put the two and two together.”</p>

<p>Sejenak, ia diam, lalu melanjutkan.</p>

<p>“Bang Hani dan Kwan juga tau. Gue yang kasih tau dan mereka...juga tau gue curiga kalo Omega yang diceritain Jun itu Omeganya lo.”</p>

<p>Isakan teredam terdengar dari tirai sebelah. Mingyu balik membenamkan mukanya ke lutut.</p>

<p>“Jun...nggak tau gue curiga Won itu mantan dia. Dan, yah, lo nggak tau ini semua. Intinya ya gue cuma coba-coba juga. Toh kalo Won bukan, gue bisa alasan biar mereka kenalan aja...”</p>

<p>“<em>Kenapa lo nggak kasih tau gue, Hao??</em>” nadanya sedikit naik. Mingyu marah. <em>Overwhelmed</em>, mungkin. Minghao paham betul emosi Alpha itu. Diacaknya rambut, diusapnya muka. Lagi, helaan napas.</p>

<p>”...<em>Karena gue pikir lo seharusnya nggak denger hal sepenting ini dari mulut gue, Gyu, tapi dari mulut Omega lo sendiri</em>...”</p>

<p>Mingyu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Hampir tercekik oleh isak tangis. Entah mengapa ia menangis, ia pun tidak tahu. Hanya saja, memikirkan bagaimana perasaan Wonwoo, sendirian, dalam kondisi yang paling rentan, dan akhirnya harus kehilangan bayinya...air mata tiba-tiba saja meleleh dari pelupuknya.</p>

<p>Bagaimana perasaan Wonwoo ketika Mingyu meninggalkannya sendirian kala itu, dan bagaimana Mingyu ingat ekspresi lega saat Wonwoo terbangun dari pingsan dan kemudian melihat wajahnya...</p>

<p>“Congrats.”</p>

<p>Mingyu menoleh sedikit.</p>

<p>“Itu,” Minghao menunjuk jari manisnya sendiri.</p>

<p>“Oh,” Mingyu mengangkat tangannya. Cincin emas di jari manisnya. Ikatannya dengan Wonwoo untuk sementara, sampai ikatan yang lebih abadi merekah di leher mereka berdua. “Thanks. Lo juga, Hao, selamat.” Kali ini, Mingyu menyentuh area scent glandnya sendiri.</p>

<p>“Hmm,” Minghao tersenyum tipis sambil menyentuh bekas gigitan Jun di lehernya. Bekas yang tidak permanen dan masih menyisakan keraguan. Minghao tidak bisa terlalu lega. Setiap minggu ia dirundung kecemasan, terutama ketika bekas gigitan Alpha-nya memudar dan ia kembali menjadi Beta yang belum diklaim.</p>

<p>Tapi itu urusan nanti. Dia sudah pasrah. Apabila Jun memang ingin bersamanya, mereka akan menemukan cara untuk itu.</p>

<p>Ia yang menginginkan klaim abadi dari Alpha, namun tidak bisa karena terlahir Beta. Jun yang menginginkan bayi bersamanya, yang telah meninggalkan satu-satunya kesempatan menjadi seorang ayah, yang harus membayar itu semua dengan berakhir pada seorang Beta.</p>

<p>Mungkin, ini semua adalah karma.</p>

<p>“Lo nggak marah, Gyu? Alpha gue udah bikin Omega lo kayak gitu?” pelan dan hati-hati, Minghao bertanya. Mingyu hanya diam saja. “Lo boleh kok kalo mau hajar dia. Gue kasih ijin. Asal balikin dia masih hidup dan nggak cacat ke gue.”</p>

<p>Karena ia pikir Mingyu berhak atas kesempatan itu.</p>

<p>“Nanti...”</p>

<p>Nanti. Itu tidak penting. Apa yang <em>dirinya</em> rasakan tidaklah penting. Apa yang <em>Wonwoo</em> rasakan jauh lebih penting. Wen Junhui urusan nanti.</p>

<p>Untuk sekarang, Mingyu ingin menyusuri jarak di antara mereka, mengangkat Wonwoo ke dalam gendongannya dan memeluk Omega itu semalaman, seharian, sampai hatinya sembuh dan tak ada lagi kepedihan tersisa di sana.</p>

<p>Hanya itu.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/320</guid>
      <pubDate>Sat, 26 Dec 2020 05:35:48 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>319.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/319?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwonabo&#xA;&#xA;&#34;...Bayi kita...saya membunuhnya. Gara-gara saya. Gara-gara saya...,&#34; ia terisak.&#xA;&#xA;&#34;Won, Wonnie...,&#34; Jun mengecup ubun-ubunnya. Lalu sisi keningnya. Bau peppermint sang Alpha dikeluarkan, namun masih tak mampu mengimbangi bau Mingyu yang melekat lebih kuat di sekujur tubuh sang Omega. Meskipun begitu, bau nostalgis sang Alpha agak membuatnya lebih tenang. Omega di dalam tubuhnya kenal bau itu. Familier.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Maafin aku, Wonnie, aku... Itu bukan salah kamu. Kalo ada yang harus disalahin, itu aku...&#xA;&#xA;Aku yang pergi ninggalin kamu...&#34;&#xA;&#xA;Jun menggertakkan gigi.&#xA;&#xA;&#34;Aku ninggalin kamu karena...karena aku takut. Kita masih anak-anak, Won. Aku nggak bisa ngurus bayi di umur segitu. Aku mau lulus, mau kuliah. Abis kuliah, cari kerja, terus aku lamar kamu. Kita harusnya begitu. Harusnya kayak gitu...&#34;&#xA;&#xA;Seharusnya, seharusnya...sebuah kata laknat...&#xA;&#xA;&#34;Makanya aku lari dari kamu. Aku butuh lari dari kamu, yang jauh, supaya aku bisa mikir. Supaya aku bisa mikir baik-baik, ambil keputusan buat kebaikan kita berdua.&#34;&#xA;&#xA;Nadanya merendah.&#xA;&#xA;&#34;...Tapi kamu nggak muncul lagi. Aku nggak bisa lihat kamu di jendela. Kamu nggak pernah muncul lagi. Dan aku pun udah sering ketangkep orang rumah kamu dan diusir. Aku nggak bisa ketemu kamu lagi. Aku tulis surat. Tiap hari aku tulis surat. Aku kirim ke kamu, taro di tempat surat kamu, berharap kamu baca salah satunya, tapi nihil. Nggak ada balasan dari kamu.&#xA;&#xA;Terus, orangtuaku tau...tau kalo aku ada hubungan sama Omega nggak dikenal dan mereka ngamuk. Ngamuk parah. Aku diseret balik ke Cina dan, dari situ, aku kenal keluarga Hao...&#34;&#xA;&#xA;Ketika Jun menunduk, dilihatnya Wonwoo mengernyit.&#xA;&#xA;&#34;Surat?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, aku tulis satu setiap hari buat kamu...&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo menggeleng. &#34;Saya...saya nggak pernah terima surat apapun...,&#34; akunya.&#xA;&#xA;Jun tidak merasa heran. Mungkin orangtua Wonwoo membuangnya. Jun menggelengkan kepala. Ia menangkup wajah Wonwoo, mengelus pipinya yang basah oleh tangis. Wajah sang Alpha begitu pucat.&#xA;&#xA;&#34;Maafin aku, Wonnie, maaf...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Junnie...&#34;&#xA;&#xA;&#34;...Apa aku masih pantas kamu maafin?&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo tidak menjawab. Alih-alih, Omega itu bertanya balik,&#xA;&#xA;&#34;Apa saya masih pantas Junnie maafin?&#34;&#xA;&#xA;Seketika itu, Jun paham. Dosa yang sama-sama harus mereka tanggung seumur hidup mereka. Kata maaf takkan pernah cukup untuk mengurangi dosa yang akan terus menghantui punggung mereka berdua. Menghantui, dari nisan kecil di belakang rumah sang Omega.&#xA;&#xA;Junhui memeluk erat Wonwoo. Masih sama. Masih hangat dan semanis kue yang baru dipanggang. Masih pas di dalam tautan lengannya.&#xA;&#xA;Omega cantik yang ia temukan sedang bermain sendirian di halaman rumah yang luas, yang menelisik keingin tahuannya, dan membuat Wen Junhui membawa anak kucing hitam piaraan keluarganya pergi jalan-jalan pada suatu hari di bulan Juli yang cerah.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonabo" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">minwonabo</span></a></p>

<p>”...Bayi kita...saya membunuhnya. Gara-gara saya. <em>Gara-gara saya</em>...,” ia terisak.</p>

<p>“Won, Wonnie...,” Jun mengecup ubun-ubunnya. Lalu sisi keningnya. Bau peppermint sang Alpha dikeluarkan, namun masih tak mampu mengimbangi bau Mingyu yang melekat lebih kuat di sekujur tubuh sang Omega. Meskipun begitu, bau nostalgis sang Alpha agak membuatnya lebih tenang. Omega di dalam tubuhnya kenal bau itu. <em>Familier.</em></p>



<p>“Maafin aku, Wonnie, aku... Itu bukan salah kamu. Kalo ada yang harus disalahin, itu aku...</p>

<p><em>Aku yang pergi ninggalin kamu</em>...”</p>

<p>Jun menggertakkan gigi.</p>

<p>“Aku ninggalin kamu karena...karena aku <em>takut.</em> Kita masih anak-anak, Won. Aku nggak bisa ngurus bayi di umur segitu. Aku mau lulus, mau kuliah. Abis kuliah, cari kerja, terus aku lamar kamu. Kita harusnya begitu. <em>Harusnya kayak gitu</em>...”</p>

<p>Seharusnya, seharusnya...sebuah kata <em>laknat</em>...</p>

<p>“Makanya aku lari dari kamu. Aku butuh lari dari kamu, yang jauh, supaya aku bisa mikir. Supaya aku bisa mikir baik-baik, ambil keputusan buat kebaikan kita berdua.”</p>

<p>Nadanya merendah.</p>

<p>”...Tapi kamu nggak muncul lagi. Aku nggak bisa lihat kamu di jendela. Kamu nggak pernah muncul lagi. Dan aku pun udah sering ketangkep orang rumah kamu dan diusir. Aku nggak bisa ketemu kamu lagi. Aku tulis surat. Tiap hari aku tulis surat. Aku kirim ke kamu, taro di tempat surat kamu, berharap kamu baca salah satunya, tapi nihil. Nggak ada balasan dari kamu.</p>

<p>Terus, orangtuaku tau...tau kalo aku ada hubungan sama Omega nggak dikenal dan mereka ngamuk. Ngamuk parah. Aku diseret balik ke Cina dan, dari situ, aku kenal keluarga Hao...”</p>

<p>Ketika Jun menunduk, dilihatnya Wonwoo mengernyit.</p>

<p>“<em>Surat?</em>“</p>

<p>“Iya, aku tulis satu setiap hari buat kamu...”</p>

<p>Wonwoo menggeleng. “Saya...saya nggak pernah terima surat apapun...,” akunya.</p>

<p>Jun tidak merasa heran. Mungkin orangtua Wonwoo membuangnya. Jun menggelengkan kepala. Ia menangkup wajah Wonwoo, mengelus pipinya yang basah oleh tangis. Wajah sang Alpha begitu pucat.</p>

<p>“Maafin aku, Wonnie, maaf...”</p>

<p>“Junnie...”</p>

<p>”...Apa aku masih pantas kamu maafin?”</p>

<p>Wonwoo tidak menjawab. Alih-alih, Omega itu bertanya balik,</p>

<p>“Apa <em>saya</em> masih pantas Junnie maafin?”</p>

<p>Seketika itu, Jun paham. Dosa yang sama-sama harus mereka tanggung seumur hidup mereka. Kata maaf takkan pernah cukup untuk mengurangi dosa yang akan terus menghantui punggung mereka berdua. Menghantui, dari nisan kecil di belakang rumah sang Omega.</p>

<p>Junhui memeluk erat Wonwoo. <em>Masih sama</em>. Masih hangat dan semanis kue yang baru dipanggang. Masih pas di dalam tautan lengannya.</p>

<p>Omega cantik yang ia temukan sedang bermain sendirian di halaman rumah yang luas, yang menelisik keingin tahuannya, dan membuat Wen Junhui membawa anak kucing hitam piaraan keluarganya pergi jalan-jalan pada suatu hari di bulan Juli yang cerah.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/319</guid>
      <pubDate>Sat, 26 Dec 2020 05:24:20 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>318.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/318?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[minwonabo&#xA;&#xA;Minggu ketiga Junhui menghilang bagai ditelan bumi, Wonwoo semakin kepayahan. Semakin terpuruk dalam nestapa.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Dia tidak mau makan. Tidak mau minum. Dipaksa oleh para pelayan pun ia menolak mentah-mentah. Tidurnya tak pernah tenang, belum lagi mualnya bertambah parah. Tak ada yang ia keluarkan lagi kecuali cairan kuning masam dari lambungnya. Akibat dehidrasi, bibirnya mengering dan pecah-pecah. Kepalanya pening. Tubuhnya lemas. Ia hanya berbaring seharian, menangisi kepergian Alpha-nya dan nasib janin dalam kandungannya.&#xA;&#xA;Kondisi Wonwoo yang menyedihkan membuat ayahnya sedikit menaruh perhatian padanya. Bagaimanapun, bila mereka biarkan saja, media massa pasti mampu mencium adanya ketidak beresan dalam rumah tangga seorang politikus ternama dan hal itu dapat mengakhiri karirnya begitu saja.&#xA;&#xA;Puncaknya adalah ketika perut Wonwoo terasa sakit sekali. Sakit, sakit sekali. Dia tidak tahu kenapa atau bagaimana. Omega itu mengerang kesakitan. Darah merembes di celananya.&#xA;&#xA;Sakit! Sakit!! Tolong! Junnie, Junnie!!&#xA;&#xA;Lolongannya membuat bahkan bulu kuduk orangtuanya berdiri. Lolongan Omega dalam kesakitan yang teramat sangat, tak seorang Alpha pun sanggup melepaskan diri dari sayatannya.&#xA;&#xA;Maka, dipanggillah dokter pribadi keluarga mereka. Dokter yang telah disumpah untuk menjaga segala kerahasiaan, termasuk lahirnya Omega di keluarga tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Maafkan saya...&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo berbaring menatap langit-langit. Tatapnya kopong. Samar-samar, ucapan dokter itu menembus pintu kamar yang tertutup rapat.&#xA;&#xA;&#39;Saya sudah berusaha...tapi kondisinya sendiri sungguh buruk...janin itu sangat rapuh di awal kehamilan dan dia tidak menjaganya dengan baik...&#39;&#xA;&#xA;Wonwoo seakan mendengar sentakan napas ayahnya, terkejut karena ia tidak tahu-menahu akan kehamilan putranya. Ibunya hanya menangis dan menangis saja, entahlah apa yang wanita itu tangisi.&#xA;&#xA;Bukannya bagus, kabar ini?&#xA;&#xA;Kabar bahwa cucunya tewas bahkan sebelum ditiupkan ruh ke dalam seonggok daging itu.&#xA;&#xA;&#39;Maafkan saya, saya tidak bisa menolongnya, andai dia dijaga ibunya dengan lebih baik...&#39;&#xA;&#xA;Jun...&#xA;&#xA;Junhui...&#xA;&#xA;Sudah tidak ada lagi...anak itu...&#xA;&#xA;Anak kita...sudah tidak ada...&#xA;&#xA;...karena saya...&#xA;&#xA;Karena saya.&#xA;Karena saya.&#xA;Karena saya.&#xA;&#xA;Sebulir air mata menuruni sisi keningnya. Wonwoo masih terpaku memandangi langit-langit kamarnya.&#xA;&#xA;&#34;Saya membunuh...&#34;&#xA;&#xA;Anaknya. Bayinya. Bayinya dan Junhui.&#xA;&#xA;Digertakkannya gigi. Dahi mengerut dalam. Air mata mengalir deras. Wonwoo menutupi wajahnya dengan kedua punggung tangan.&#xA;&#xA;Saya membunuhnya...membunuh anak saya sendiri...&#xA;&#xA;&#34;AAAAAAAAHHHHHHHH!!!!!&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:minwonabo" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">minwonabo</span></a></p>

<p>Minggu ketiga Junhui menghilang bagai ditelan bumi, Wonwoo semakin kepayahan. Semakin terpuruk dalam nestapa.</p>



<p>Dia tidak mau makan. Tidak mau minum. Dipaksa oleh para pelayan pun ia menolak mentah-mentah. Tidurnya tak pernah tenang, belum lagi mualnya bertambah parah. Tak ada yang ia keluarkan lagi kecuali cairan kuning masam dari lambungnya. Akibat dehidrasi, bibirnya mengering dan pecah-pecah. Kepalanya pening. Tubuhnya lemas. Ia hanya berbaring seharian, menangisi kepergian Alpha-nya dan nasib janin dalam kandungannya.</p>

<p>Kondisi Wonwoo yang menyedihkan membuat ayahnya sedikit menaruh perhatian padanya. Bagaimanapun, bila mereka biarkan saja, media massa pasti mampu mencium adanya <em>ketidak beresan</em> dalam rumah tangga seorang politikus ternama dan hal itu dapat mengakhiri karirnya begitu saja.</p>

<p>Puncaknya adalah ketika perut Wonwoo terasa sakit sekali. Sakit, <em>sakit sekali</em>. Dia tidak tahu kenapa atau bagaimana. Omega itu mengerang kesakitan. Darah merembes di celananya.</p>

<p><em>Sakit! Sakit!! Tolong! Junnie, Junnie!!</em></p>

<p>Lolongannya membuat bahkan bulu kuduk orangtuanya berdiri. Lolongan Omega dalam kesakitan yang teramat sangat, tak seorang Alpha pun sanggup melepaskan diri dari sayatannya.</p>

<p>Maka, dipanggillah dokter pribadi keluarga mereka. Dokter yang telah disumpah untuk menjaga segala kerahasiaan, termasuk lahirnya Omega di keluarga tersebut.</p>

<p>“Maafkan saya...”</p>

<p>Wonwoo berbaring menatap langit-langit. Tatapnya kopong. Samar-samar, ucapan dokter itu menembus pintu kamar yang tertutup rapat.</p>

<p><em>&#39;Saya sudah berusaha...tapi kondisinya sendiri sungguh buruk...janin itu sangat rapuh di awal kehamilan dan dia tidak menjaganya dengan baik...&#39;</em></p>

<p>Wonwoo seakan mendengar sentakan napas ayahnya, terkejut karena ia tidak tahu-menahu akan kehamilan putranya. Ibunya hanya menangis dan menangis saja, entahlah apa yang wanita itu tangisi.</p>

<p>Bukannya bagus, kabar ini?</p>

<p>Kabar bahwa cucunya tewas bahkan sebelum ditiupkan ruh ke dalam seonggok daging itu.</p>

<p><em>&#39;Maafkan saya, saya tidak bisa menolongnya, andai dia dijaga ibunya dengan lebih baik...&#39;</em></p>

<p><em>Jun...</em></p>

<p><em>Junhui...</em></p>

<p><em>Sudah tidak ada lagi...anak itu...</em></p>

<p><em>Anak kita</em>..<em>.sudah tidak ada...</em></p>

<p><em>...karena saya...</em></p>

<p><em>Karena saya.</em>
<em>Karena saya.</em>
<em>Karena saya.</em></p>

<p>Sebulir air mata menuruni sisi keningnya. Wonwoo masih terpaku memandangi langit-langit kamarnya.</p>

<p>“Saya membunuh...”</p>

<p><em>Anaknya. Bayinya. Bayinya dan Junhui.</em></p>

<p>Digertakkannya gigi. Dahi mengerut dalam. Air mata mengalir deras. Wonwoo menutupi wajahnya dengan kedua punggung tangan.</p>

<p><em>Saya membunuhnya...membunuh anak saya sendiri...</em></p>

<p><em><strong>“AAAAAAAAHHHHHHHH!!!!!”</strong></em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/318</guid>
      <pubDate>Sat, 26 Dec 2020 05:15:52 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>