<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>gyushuahighschool &amp;mdash; 🌾</title>
    <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuahighschool</link>
    <description>narrative writings of thesunmetmoon</description>
    <pubDate>Tue, 14 Apr 2026 18:19:58 +0000</pubDate>
    <image>
      <url>https://i.snap.as/K7JGOEOo.png</url>
      <title>gyushuahighschool &amp;mdash; 🌾</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuahighschool</link>
    </image>
    <item>
      <title>First Day</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/2-first-day?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#xA;&#xA;gyushuahighschool&#xA;&#xA;Ditinggalkan begitu saja tanpa penjelasan lebih, Mingyu sebagai si dewasa lah yang terpaksa mengambil alih. &#34;Ah...sekarang kita ke kelas dulu aja ya?&#34; meski dengan hati agak berat, dia tersenyum. Separuh kasihan, separuhnya masih ngang-ngong-ngang-ngong akan kejadian barusan. Bisa-bisanya kakaknya mendadak menaruh tanggung jawab begini besar ke pundak Mingyu di hari Senin yang cerah ini.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Anak bernama Joshua itu pun mengangguk. Bersamaan dengan rombongan guru lainnya, mereka melintasi koridor sekolah yang telah sepi. Para murid telah berada di kelas masing-masing dan menanti kedatangan guru mereka. Mingyu dan Joshua berjalan dalam diam. Lembut sinar mentari membanjiri lantai yang mereka pijak, ditemani bunyi sepatu menapak satu langkah demi satu langkah. Sebuah keheningan yang, secara absurd, bisa dibilang nyaman.&#xA;&#xA;&#34;Kamu di negara ini sendirian?&#34;&#xA;&#xA;Joshua mengangguk.&#xA;&#xA;&#34;Apa nggak apa-apa? Maksud saya, apa orangtuamu—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Orangtuaku udah nggak ada, Sen,&#34; potong si anak. Intonasinya tetap tenang seperti sebelumnya. &#34;Sen nggak usah cemas. Aku udah biasa sendirian. Kalo Sen keganggu dan mau aku tinggal di luar sebenernya nggak apa-apa sih. Tadi aku mikirin duitnya aja. Cuma kata Choi-sen sekolah mau bayarin, so...&#34;&#xA;&#xA;Kalimatnya terputus. Pas Joshua menoleh, dilihatnya Mingyu sudah memandanginya dengan ketidak setujuan terpampang jelas di mata. &#34;Saya bukannya keganggu. Sama sekali bukan. Maaf sudah berasumsi seenaknya. Saya nggak ada maksud menyinggung atau apa,&#34; tatapnya serius, menegaskan bahwa ucapannya tulus. Joshua rasanya pingin mendengus geli. &#34;Kalo begitu keadaannya, oke, saya yang akan jadi keluarga kamu di sini.&#34;&#xA;&#xA;GREK!&#xA;&#xA;Pintu geser terbuka. Mereka sudah sampai di ambang pintu kelas. Mingyu sontak melontarkan selayang pandang ke anak-anak muridnya yang buru-buru kembali ke tempat duduknya masing-masing. &#34;Kwon Soonyoung! Balik ke meja kamu sekarang!&#34; ancamnya sambil bercanda, yang dibalas anak itu dengan cengiran jahil. Dia melangkah masuk, sama sekali nggak sadar kalau Joshua masih memandanginya dengan bola mata melebar dan pipi bersemu.&#xA;&#xA;...Sen tadi bilang apa? batin si anak. Meski begitu, dia segera menggeleng membuang pemikirannya barusan. Kim-sen pasti nggak ada maksud selain bantuin dirinya saja. Pasti._ Dia pun ikut melangkah masuk.&#xA;&#xA;Setelah menulis namanya di papan tulis menggunakan kapur—baik nama asli maupun nama panggilannya—Joshua tersenyum pada semua orang di situ. Auranya penuh dengan kepercayaan diri. &#34;Hi, guys! Namaku Hong Jisoo, tapi panggil aja Joshua. Aku di negara ini nggak kenal siapa-siapa, jadi kalo kalian semua bisa jadi temen pertamaku, kayaknya aku bakal seneng banget,&#34; cengirannya lebar. &#34;Oh iya, jujur aku nggak begitu tau budaya ato kebiasaan di sini. Kalo aku ada salah ngomong ato berbuat yang nggak wajar menurut kalian, plis kasih tau ya. Jangan dibully juga akunya, hatiku rapuh hiks.&#34; Sambil pura-pura mengusap air mata nggak kasat mata, dia memancing gelak tawa dari seisi kelas.&#xA;&#xA;&#34;Iya, tenang aja, Joshi, ntar kita bully kok!&#34; lantang seseorang menyeloroh. Orang itu berpipi bulat dan bermata sipit. &#34;Eh nggak apa kan gue panggil Joshi?&#34;&#xA;&#xA;Joshua, ikut terkekeh, menjawab, &#34; Santai. Asal nggak dipanggil &#39;Sayang&#39; mah aman. But I can think about it after a dinner date and a forehead kiss.&#34; Dikedipkannya satu mata dan anak lelaki itu tertawa makin kencang.&#xA;&#xA;&#34;Baik, baik,&#34; Mingyu mencoba menenangkan keriuhan yang mulai meluas. &#34;Tolong dibantu ya teman barunya, anak-anak. Untuk bangku, sepertinya sebelah Soonyoung...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sini! Di sini aja, Sen!&#34; anak yang sama mengangkat lengannya tinggi, dengan ceria menawarkan bangku sebelahnya. &#34;Lam kenal, Joshi, gue Kwon Soonyoung. Panggil gue Hoshi juga boleh! Semuanya manggil gue kayak gitu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh?&#34; sambil berjalan menuju bangkunya, Joshua lanjut mengobrol. &#34;Hoshi? That&#39;s cute. Joshi and Hoshi, huh?&#34; Tawanya lepas saat dia duduk dan Soonyoung langsung menepuk pundaknya ringan. &#34;Salam kenal juga, Hoshi. Mohon dibantu ya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Beres\~&#34; cengir si anak. &#34;Nanti makan siang ikut gue aja. Abis makan gue anterin keliling sekolah kalo lo mau.&#34;&#xA;&#xA;Joshua tersenyum, &#34;Mau banget. Thanks.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu memperhatikan interaksi tersebut dengan senyuman tipis, diam-diam menghela napas yang entah sejak kapan tertahan. Setiap ada perubahan terjadi di ruang kelasnya, sebagai seorang guru, adalah wajar baginya untuk memantau bagaimana muridnya menerima perubahan tersebut. Sepertinya dia nggak perlu cemas kali ini. &#34;Nah, kita mulai aja ya pelajarannya,&#34; diangkatnya buku teks bersamaaan dengan anak-anak yang juga mempersiapkan catatan mereka. &#34;Buka halaman—&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://thesunmetmoon.com/wp-content/uploads/2026/01/da9cb4cbff602f83e86ce0823536ea7d_t.jpeg" alt=""/></p>

<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuahighschool" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuahighschool</span></a></p>

<p>Ditinggalkan begitu saja tanpa penjelasan lebih, Mingyu sebagai si dewasa lah yang terpaksa mengambil alih. “Ah...sekarang kita ke kelas dulu aja ya?” meski dengan hati agak berat, dia tersenyum. Separuh kasihan, separuhnya masih ngang-ngong-ngang-ngong akan kejadian barusan. Bisa-bisanya kakaknya mendadak menaruh tanggung jawab begini besar ke pundak Mingyu di hari Senin yang cerah ini.</p>



<p>Anak bernama Joshua itu pun mengangguk. Bersamaan dengan rombongan guru lainnya, mereka melintasi koridor sekolah yang telah sepi. Para murid telah berada di kelas masing-masing dan menanti kedatangan guru mereka. Mingyu dan Joshua berjalan dalam diam. Lembut sinar mentari membanjiri lantai yang mereka pijak, ditemani bunyi sepatu menapak satu langkah demi satu langkah. Sebuah keheningan yang, secara absurd, bisa dibilang nyaman.</p>

<p>“Kamu di negara ini sendirian?”</p>

<p>Joshua mengangguk.</p>

<p>“Apa nggak apa-apa? Maksud saya, apa orangtuamu—”</p>

<p>“Orangtuaku udah nggak ada, Sen,” potong si anak. Intonasinya tetap tenang seperti sebelumnya. “Sen nggak usah cemas. Aku udah biasa sendirian. Kalo Sen keganggu dan mau aku tinggal di luar sebenernya nggak apa-apa sih. Tadi aku mikirin duitnya aja. Cuma kata Choi-sen sekolah mau bayarin, so...”</p>

<p>Kalimatnya terputus. Pas Joshua menoleh, dilihatnya Mingyu sudah memandanginya dengan ketidak setujuan terpampang jelas di mata. “Saya bukannya keganggu. Sama sekali bukan. Maaf sudah berasumsi seenaknya. Saya nggak ada maksud menyinggung atau apa,” tatapnya serius, menegaskan bahwa ucapannya tulus. Joshua rasanya pingin mendengus geli. “Kalo begitu keadaannya, oke, saya yang akan jadi keluarga kamu di sini.”</p>

<p><em><strong>GREK!</strong></em></p>

<p>Pintu geser terbuka. Mereka sudah sampai di ambang pintu kelas. Mingyu sontak melontarkan selayang pandang ke anak-anak muridnya yang buru-buru kembali ke tempat duduknya masing-masing. “Kwon Soonyoung! Balik ke meja kamu sekarang!” ancamnya sambil bercanda, yang dibalas anak itu dengan cengiran jahil. Dia melangkah masuk, sama sekali nggak sadar kalau Joshua masih memandanginya dengan bola mata melebar dan pipi bersemu.</p>

<p><em>...Sen tadi bilang apa?</em> batin si anak. Meski begitu, dia segera menggeleng membuang pemikirannya barusan. <em>Kim-sen pasti nggak ada maksud selain bantuin dirinya saja. Pasti.</em> Dia pun ikut melangkah masuk.</p>

<p>Setelah menulis namanya di papan tulis menggunakan kapur—baik nama asli maupun nama panggilannya—Joshua tersenyum pada semua orang di situ. Auranya penuh dengan kepercayaan diri. “Hi, guys! Namaku Hong Jisoo, tapi panggil aja Joshua. Aku di negara ini nggak kenal siapa-siapa, jadi kalo kalian semua bisa jadi temen pertamaku, kayaknya aku bakal seneng banget,” cengirannya lebar. “Oh iya, jujur aku nggak begitu tau budaya ato kebiasaan di sini. Kalo aku ada salah ngomong ato berbuat yang nggak wajar menurut kalian, plis kasih tau ya. Jangan dibully juga akunya, hatiku rapuh hiks.” Sambil pura-pura mengusap air mata nggak kasat mata, dia memancing gelak tawa dari seisi kelas.</p>

<p>“Iya, tenang aja, Joshi, ntar kita bully kok!” lantang seseorang menyeloroh. Orang itu berpipi bulat dan bermata sipit. “Eh nggak apa kan gue panggil Joshi?”</p>

<p>Joshua, ikut terkekeh, menjawab, “ Santai. Asal nggak dipanggil &#39;Sayang&#39; mah aman. But I can think about it after a dinner date and a forehead kiss.” Dikedipkannya satu mata dan anak lelaki itu tertawa makin kencang.</p>

<p>“Baik, baik,” Mingyu mencoba menenangkan keriuhan yang mulai meluas. “Tolong dibantu ya teman barunya, anak-anak. Untuk bangku, sepertinya sebelah Soonyoung...”</p>

<p>“Sini! Di sini aja, Sen!” anak yang sama mengangkat lengannya tinggi, dengan ceria menawarkan bangku sebelahnya. “Lam kenal, Joshi, gue Kwon Soonyoung. Panggil gue Hoshi juga boleh! Semuanya manggil gue kayak gitu.”</p>

<p>“Oh?” sambil berjalan menuju bangkunya, Joshua lanjut mengobrol. “Hoshi? That&#39;s cute. Joshi and Hoshi, huh?” Tawanya lepas saat dia duduk dan Soonyoung langsung menepuk pundaknya ringan. “Salam kenal juga, Hoshi. Mohon dibantu ya.”</p>

<p>“Beres~” cengir si anak. “Nanti makan siang ikut gue aja. Abis makan gue anterin keliling sekolah kalo lo mau.”</p>

<p>Joshua tersenyum, “Mau banget. Thanks.”</p>

<p>Mingyu memperhatikan interaksi tersebut dengan senyuman tipis, diam-diam menghela napas yang entah sejak kapan tertahan. Setiap ada perubahan terjadi di ruang kelasnya, sebagai seorang guru, adalah wajar baginya untuk memantau bagaimana muridnya menerima perubahan tersebut. Sepertinya dia nggak perlu cemas kali ini. “Nah, kita mulai aja ya pelajarannya,” diangkatnya buku teks bersamaaan dengan anak-anak yang juga mempersiapkan catatan mereka. “Buka halaman—”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/2-first-day</guid>
      <pubDate>Fri, 02 Jan 2026 13:05:04 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>New Kid In Town</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/1-new-kid-in-town?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#xA;&#xA;gyushuahighschool&#xA;&#xA;Hong Jisoo. Musim semi tahun ini dia akan menginjak kelas 1 SMA. Meski dirinya bertolak dari negara asalnya ke negara ini, tapi nggak apa-apa. Memang berat harus ninggalin sahabat dekatnya, Vernon, dan keluarganya yang sudah jadi keluarga beneran bagi Joshua, tapi dia yakin lebih banyak kesempatan bakal kebuka buat dia setelah ini. Sekolah yang ditujunya merupakan sekolah bergengsi dengan prestasi terbaik seantero negeri. Plus, Joshua menang beasiswa full gratis sampai ke tiket pesawat, akomodasi (karena dia dapat kamar asrama), serta uang jajan.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Maka, tanpa perlu pikir panjang, Joshua langsung mengepak barang-barangnya yang super sedikit itu dan terbang ke negara ini. Sesampainya di sekolah, dia langsung disambut oleh lelaki paruh baya yang tampan dan berambut hitam. &#34;Salam kenal, Hong. Namaku Choi Seungcheol,&#34; dia tersenyum ramah. &#34;Biarpun aku kepala sekolah di sini, kita ngobrol santai aja ya. Dari berkasmu, kulihat kamu dapat beasiswa full?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hehe,&#34; Joshua meringis. Dia bangga terhadap dirinya sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Hmm. Untuk yang lain sih oke, tapi ada masalah sama asrama kamu nih...&#34;&#xA;&#xA;Kedip-kedip mata si anak. Eh kenapa nih?&#xA;&#xA;&#34;Mohon maaf banget tapi kita sebenernya lagi nggak ada kamar kosong. Kemarin sempet ada kebakaran kecil, jadi beberapa kamar lagi direnovasi. Pun kamar yang lain lagi diperiksa  dan dikuatin pertahanan akan apinya, jadi...,&#34; Choi-sen menghela napas dan menatap Joshua dengan berat hati. &#34;Maaf banget tapi kayaknya kamu harus tinggal di luar asrama.&#34;&#xA;&#xA;....Seriusan nih? Anjrit.&#xA;&#xA;&#34;Yah, Sen, gimana yah...,&#34; Joshua garuk-garuk sisi keningnya. Dia juga jadi bingung banget. &#34;Aku tuh ke sini sendirian. Nggak ada keluarga ato kenalan. Katanya dapet akomodasi di sini... Kalo mendadak disuruh tinggal di luar...&#34; Bahasa sih nggak masalah. Yang jadi masalah itu duitnya, duit. Tinggal di luar kan butuh duit. Mau kerja sambilan juga, sewa apartemen butuh uang muka beberapa bulan. Pake duit siapa??&#xA;&#xA;&#34;Hmm...paham...,&#34; Choi-sen mengetuk-ngetuk dagu sembari mikir. &#34;Maaf banget, ini salah kita, ke-miss revisi detail beasiswa. Biaya sewa sih bisa kita tanggung, cuma nggak mungkin kita kasih kamu tinggal tanpa pengawasan. Gimana pun kamu masih minor.&#34;&#xA;&#xA;Choi-sen mikir, mikir, mikir...&#xA;&#xA;Pas dia angkat wajah, kebetulan seseorang lagi numpang lewat. Jam pergantian kelas memang penyebab utama ruang guru ramai akan hiruk pikuk staff mempersiapkan materi selanjutnya atau sekadar berbincang sejenak melepas penat. Jadi, siapa saja bisa kebetulan numpang lewat pas kepala sekolah lagi ngobrol sama Joshua, but no, seolah takdir sudah ditulis rapi di kitabnya, seseorang itu haruslah adik tiri Choi Seungcheol sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Oh! Mingyu!&#34;&#xA;&#xA;Yang dipanggil lantas berhenti. &#34;Iya, Kak?&#34; jawabnya.&#xA;&#xA;&#34;Sini dulu, sini! Anak ini bakal jadi murid di kelas kamu!&#34;&#xA;&#xA;Patuh, orang yang dipanggil Mingyu itu pun mendekat. &#34;Ah, anak pindahan itu ya?&#34; sapanya dengan ramah. &#34;Salam kenal. Nama saya Kim Mingyu.&#34;&#xA;&#xA;Pas orang itu memampangkan senyuman lembutnya, Joshua harus mengerjap beberapa kali karena terpana. Ganteng banget ini orang, batinnya. Badannya tinggi, lengannya jadi. Ini mah supermodel nyasar. Lumayan juga masuk sini, jadi punya wali kelas seganteng ini. Biar nambah-nambahin semangat belajar gitu. &#34;Salam kenal, Sen,&#34; super manis, si anak tersenyum balik. &#34;Aku Joshua. Hong Jisoo, tapi semua manggil aku Joshua.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mingyu. Anak ini dapet beasiswa full, tapi kan asrama cowok lagi direnov,&#34; Kim-sen mengangguk-angguk saat Choi-sen menjelaskan sambil menunjukkan berkas Joshua. &#34;Jadi mau nggak mau dia harus tinggal di luar asrama.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hoo...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi dia nggak ada keluarga ato kenalan di sini. Nggak tau siapa-siapa.”&#xA;&#xA;Serta-merta, Mingyu menjadi awas. &#34;Bahaya dong,&#34; kernyitan sebelah alis. &#34;Nggak bisa dibiarin tinggal bener-bener sendirian gitu.&#34; Apa faedahnya mereka jadi guru kalau seorang anak murid ditelantarin gitu aja di negara asing? Sekalian saja ijin mengajar mereka dicabut.&#xA;&#xA;&#34;Nah. Makanya, kamu setuju kan kalo dia tinggal sama kamu aja?&#34; Choi-sen meringis.&#xA;&#xA;Hening.&#xA;&#xA;&#34;...Maaf. Maksudnya gimana, Kak?&#34; senyuman timpang. Jelas Kim-sen masih mencerna apa yang barusan keluar dari mulut kakaknya.&#xA;&#xA;&#34;Hah...,&#34; otak Joshua sendiri nggak bisa menangkap secepat itu, apalagi hal yang super mendadak kayak belok kiri padahal sen kanan. &#34;Bentar, bentar, Sen.... what??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bener kan??&#34; Choi-sen mengangkat bahu sok polos. &#34;Aku jelas nggak bisa soalnya ada suamiku di rumah. Wonwoo juga sama. Cuma kamu yang single, tinggal sendiri deket dari sekolah dan bisa kupercaya!&#34;&#xA;&#xA;Kim-sen kehilangan kata-kata. Joshua malah jadi memandangi wajah melongo yang (tetap) ganteng itu. &#34;Nah, nah! Semangat, Mingyu! Kalo ada kesulitan, bilang aja ya! Joshua juga! Ayo mulai kelas pagi kalian sana,&#34; Choi-sen kemudian tertawa membahana bersamaan dengan bunyi dering bel pertama. Tepukan kencang kemudian mendatangi bahu Kim-sen seolah menyegel belitan benang merah dua orang asing yang baru pertama bertemu di hari itu, di suatu pagi ketika kelopak bunga Sakura menghujani sepanjang trotoar di depan gerbang sekolah mereka yang megah.&#xA;&#xA;Menyatukan takdir Hong Jisoo dengan Kim Mingyu.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://thesunmetmoon.com/wp-content/uploads/2025/12/InShot_20251228_120655696-e1766898666567.jpg" alt=""/></p>

<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuahighschool" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuahighschool</span></a></p>

<p>Hong Jisoo. Musim semi tahun ini dia akan menginjak kelas 1 SMA. Meski dirinya bertolak dari negara asalnya ke negara ini, tapi nggak apa-apa. Memang berat harus ninggalin sahabat dekatnya, Vernon, dan keluarganya yang sudah jadi keluarga beneran bagi Joshua, tapi dia yakin lebih banyak kesempatan bakal kebuka buat dia setelah ini. Sekolah yang ditujunya merupakan sekolah bergengsi dengan prestasi terbaik seantero negeri. Plus, Joshua menang beasiswa full gratis sampai ke tiket pesawat, akomodasi (karena dia dapat kamar asrama), serta uang jajan.</p>



<p>Maka, tanpa perlu pikir panjang, Joshua langsung mengepak barang-barangnya yang super sedikit itu dan terbang ke negara ini. Sesampainya di sekolah, dia langsung disambut oleh lelaki paruh baya yang tampan dan berambut hitam. “Salam kenal, Hong. Namaku Choi Seungcheol,” dia tersenyum ramah. “Biarpun aku kepala sekolah di sini, kita ngobrol santai aja ya. Dari berkasmu, kulihat kamu dapat beasiswa full?”</p>

<p>“Hehe,” Joshua meringis. Dia bangga terhadap dirinya sendiri.</p>

<p>“Hmm. Untuk yang lain sih oke, tapi ada masalah sama asrama kamu nih...”</p>

<p>Kedip-kedip mata si anak. Eh kenapa nih?</p>

<p>“Mohon maaf banget tapi kita sebenernya lagi nggak ada kamar kosong. Kemarin sempet ada kebakaran kecil, jadi beberapa kamar lagi direnovasi. Pun kamar yang lain lagi diperiksa  dan dikuatin pertahanan akan apinya, jadi...,” Choi-sen menghela napas dan menatap Joshua dengan berat hati. “Maaf banget tapi kayaknya kamu harus tinggal di luar asrama.”</p>

<p>....Seriusan nih? <em>Anjrit</em>.</p>

<p>“Yah, Sen, gimana yah...,” Joshua garuk-garuk sisi keningnya. Dia juga jadi bingung banget. “Aku tuh ke sini sendirian. Nggak ada keluarga ato kenalan. Katanya dapet akomodasi di sini... Kalo mendadak disuruh tinggal di luar...” Bahasa sih nggak masalah. Yang jadi masalah itu duitnya, duit. Tinggal di luar kan butuh duit. Mau kerja sambilan juga, sewa apartemen butuh uang muka beberapa bulan. <em>Pake duit siapa??</em></p>

<p>“Hmm...paham...,” Choi-sen mengetuk-ngetuk dagu sembari mikir. “Maaf banget, ini salah kita, ke-miss revisi detail beasiswa. Biaya sewa sih bisa kita tanggung, cuma nggak mungkin kita kasih kamu tinggal tanpa pengawasan. Gimana pun kamu masih minor.”</p>

<p>Choi-sen mikir, mikir, mikir...</p>

<p>Pas dia angkat wajah, kebetulan seseorang lagi numpang lewat. Jam pergantian kelas memang penyebab utama ruang guru ramai akan hiruk pikuk staff mempersiapkan materi selanjutnya atau sekadar berbincang sejenak melepas penat. Jadi, siapa saja bisa kebetulan numpang lewat pas kepala sekolah lagi ngobrol sama Joshua, <em>but no</em>, seolah takdir sudah ditulis rapi di kitabnya, seseorang itu haruslah adik tiri Choi Seungcheol sendiri.</p>

<p>“Oh! Mingyu!”</p>

<p>Yang dipanggil lantas berhenti. “Iya, Kak?” jawabnya.</p>

<p>“Sini dulu, sini! Anak ini bakal jadi murid di kelas kamu!”</p>

<p>Patuh, orang yang dipanggil Mingyu itu pun mendekat. “Ah, anak pindahan itu ya?” sapanya dengan ramah. “Salam kenal. Nama saya Kim Mingyu.”</p>

<p>Pas orang itu memampangkan senyuman lembutnya, Joshua harus mengerjap beberapa kali karena terpana. <em>Ganteng banget ini orang</em>, batinnya. Badannya tinggi, lengannya jadi. Ini mah supermodel nyasar. Lumayan juga masuk sini, jadi punya wali kelas seganteng ini. Biar nambah-nambahin semangat belajar gitu. “Salam kenal, Sen,” super manis, si anak tersenyum balik. “Aku Joshua. Hong Jisoo, tapi semua manggil aku Joshua.”</p>

<p>“Mingyu. Anak ini dapet beasiswa full, tapi kan asrama cowok lagi direnov,” Kim-sen mengangguk-angguk saat Choi-sen menjelaskan sambil menunjukkan berkas Joshua. “Jadi mau nggak mau dia harus tinggal di luar asrama.”</p>

<p>“Hoo...”</p>

<p>“Tapi dia nggak ada keluarga ato kenalan di sini. Nggak tau siapa-siapa.”</p>

<p>Serta-merta, Mingyu menjadi awas. “Bahaya dong,” kernyitan sebelah alis. “Nggak bisa dibiarin tinggal bener-bener sendirian gitu.” Apa faedahnya mereka jadi guru kalau seorang anak murid ditelantarin gitu aja di negara asing? Sekalian saja ijin mengajar mereka dicabut.</p>

<p>“Nah. Makanya, kamu setuju kan kalo dia tinggal sama kamu aja?” Choi-sen meringis.</p>

<p>Hening.</p>

<p>”...Maaf. Maksudnya gimana, Kak?” senyuman timpang. Jelas Kim-sen masih mencerna apa yang barusan keluar dari mulut kakaknya.</p>

<p>“Hah...,” otak Joshua sendiri nggak bisa menangkap secepat itu, apalagi hal yang super mendadak kayak belok kiri padahal sen kanan. “Bentar, bentar, Sen.... <em>what??</em>“</p>

<p>“Bener kan??” Choi-sen mengangkat bahu sok polos. “Aku jelas nggak bisa soalnya ada suamiku di rumah. Wonwoo juga sama. Cuma kamu yang single, tinggal sendiri deket dari sekolah dan bisa kupercaya!”</p>

<p>Kim-sen kehilangan kata-kata. Joshua malah jadi memandangi wajah melongo yang (tetap) ganteng itu. “Nah, nah! Semangat, Mingyu! Kalo ada kesulitan, bilang aja ya! Joshua juga! Ayo mulai kelas pagi kalian sana,” Choi-sen kemudian tertawa membahana bersamaan dengan bunyi dering bel pertama. Tepukan kencang kemudian mendatangi bahu Kim-sen seolah menyegel belitan benang merah dua orang asing yang baru pertama bertemu di hari itu, di suatu pagi ketika kelopak bunga Sakura menghujani sepanjang trotoar di depan gerbang sekolah mereka yang megah.</p>

<p>Menyatukan takdir Hong Jisoo dengan Kim Mingyu.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/1-new-kid-in-town</guid>
      <pubDate>Sun, 28 Dec 2025 05:15:16 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>