<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>gyushuafortunate &amp;mdash; 🌾</title>
    <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuafortunate</link>
    <description>narrative writings of thesunmetmoon</description>
    <pubDate>Tue, 14 Apr 2026 18:26:39 +0000</pubDate>
    <image>
      <url>https://i.snap.as/K7JGOEOo.png</url>
      <title>gyushuafortunate &amp;mdash; 🌾</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuafortunate</link>
    </image>
    <item>
      <title>It never really moved me</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/9-it-never-really-moved-me?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuafortunate&#xA;&#xA;Joshua mencari hotel dengan nama yang familier baginya via Naver dan memutuskan untuk memilih salah satu grup hotel bintang lima lengkap dengan pantai pribadi. Saat berwisata, beberapa orang menginginkan pengalaman autentik dengan menginap di resort atau bed and breakfast seakan-akan mereka melesap menjadi warga lokal.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Sebuah pengalaman yang, jujur, Joshua nggak sungkan untuk alami, tetapi Mingyu mengerang protes duluan, terlalu pegal linu untuk meringkuk di kasur sempit agar muat. Joshua ketawa, mengejek Mingyu akan badan besarnya sebelum memasuki pintu depan hotel dan meminta dua kamar dengan queen bed pada resepsionis.&#xA;&#xA;Mingyu mengernyit, &#34;Kok dua? Sekamar aja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Katanya lo mau tidur nyenyak? Single bed nggak gitu gede kan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sama lo mah nyenyak-nyenyak aja, lagian gue muat kalo di single bed hotel begini,&#34; Mingyu memiringkan kepala. &#34;Sekamar aja udah biar gampang.&#34;&#xA;&#xA;Sebenarnya Joshua mengharapkan ketenangan, tapi dia juga malas ambil pusing. Dengan satu kunci kamar di lantai tinggi, mereka pun bertolak ke kamar mereka. Karena berangkat terlalu pagi, mereka nggak sempat mandi, hanya cuci muka dan gosok gigi, sedangkan udara di mana mereka berada kini terasa lebih panas dan lembab.&#xA;&#xA;&#34;Gue tag mandi duluan!&#34; Mingyu berseru sambil melompat ke tempat tidur pilihannya dekat pintu. Erangan puas pun meluncur dari celah bibir ketika tubuhnya bertemu empuk kasur dan nyaman bantal.&#xA;&#xA;Joshua nggak menjawab apapun, sudah biasa setelah entah berapa banyak hotel mereka bagi selama tur di berbagai negara. Anak itu menaruh ranselnya di dekat pintu masuk dan melepas sepatu. Sepatu Mingyu yang dilepas sembarangan pun dibenahinya dengan rapi. Joshua berjalan ke arah balkon sambil melepas jaket. Pintu ke balkon kemudian dibuka.&#xA;&#xA;&#34;Whoa...&#34;&#xA;&#xA;Di hadapannya, hamparan langit cerah bermandikan terik mentari menghiasi garis lautan biru yang indah. Bau garam dan keriuhan pengunjung dalam macam-macam bahasa, suara musik yang asing di telinganya, dan desir angin mengacak pakaian serta helai rambutnya...&#xA;&#xA;&#34;Wow...,&#34; suara Mingyu terdengar di sisi Joshua. &#34;Hyung, Hyung, abis mandi kita turun terus nyari makan siang yok. Gue kepengen seafood.&#34; Mingyu menyilangkan lengan di sandaran balkon dan menaruh kepalanya di sana sambil menoleh menatap Joshua.&#xA;&#xA;&#34;Apa nggak ntar malem aja seafoodnya, Gyu? Makan siang enakan sandwich nggak sih? Sandwich sama jus buah dingin...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm, enak tuh, es krim juga...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Beli es krim terus jalan-jalan di pinggir pantai? Besok kita seharian maen di laut.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terus malemnya seafood?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Boleh,&#34; menopang dagu dengan satu tangan pada sandaran, Joshua tersenyum. Diacaknya rambut Mingyu. &#34;Malem terakhir sebelom terbang pulang, clubbing sekalian?&#34;&#xA;&#xA;Mata Mingyu sama berkilatnya dengan Joshua.&#xA;&#xA;&#34;Oke!&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Sesuai kesepakatan dadakan, mereka mandi dan memakai baju santai: kaus dan celana pendek. Sekali lagi mengandalkan Naver, Mingyu menemukan tempat makan siang yang terkenal akan sandwichnya. Setelah makan, mereka berkeliling pusat perbelanjaan sejenak, melihat-lihat baju maupun sesuatu yang menarik untuk dibawa pulang. Mingyu membeli sehelai kemeja dan sehelai kaus kutang warna hitam. Joshua membeli topi serta beberapa lembar pakaian. Mereka akan meminta binatu hotel untuk mencucinya. The perk of pergi dadakan adalah kamu lupa membawa banyak barang dan berakhir membelinya di tempat tujuan.&#xA;&#xA;Puas berbelanja, mereka akhirnya membeli es krim dan berjalan-jalan menyisiri garis pantai sambil menenteng sandal. Matahari hampir terbenam sehingga Joshua dan Mingyu memutuskan untuk berada di sana sampai malam menjelang.&#xA;&#xA;&#34;Mingyu-yah...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm?&#34;&#xA;&#xA;Joshua, sambil tetap memandangi matahari besar berwarna jingga kemerahan yang perlahan-lahan turun di ufuk Barat, pun tersenyum manis.&#xA;&#xA;&#34;Makasih ya udah mau nemenin gue berbuat gila gini.&#34;&#xA;&#xA;Andai Joshua menoleh, mungkin dia juga akan melihat bagaimana Mingyu ikut tersenyum bersamanya.&#xA;&#xA;&#34;Anytime, Hyung.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Nggak jauh dari pantai tempat mereka berjalan-jalan, mereka makan malam di restoran dekat situ. Ternyata restoran tersebut milik sebuah keluarga dan mereka menyambut ramah Joshua dan Mingyu. Seafood yang disediakan begitu segar dan nikmat. Porsinya pun cukup banyak. Joshua menguliti seekor udang rebus gemuk dan menyuapinya ke Mingyu. Sebagai balasan, Mingyu meracik bumbu yang disediakan dan mencelupkan daging kepiting ke sana, menyuapi Joshua balik. Mata Joshua melebar dan dia pun mengangguk-angguk, mengakui kelezatan bumbu racikan Mingyu.&#xA;&#xA;Mereka makan dengan lahap sampai Joshua rasanya begitu mengantuk ketika sudah berbaring di kasur hotelnya yang nyaman. Mingyu memarahinya, menyuruhnya ganti baju dan mandi karena asap bekas bakaran seafood serta keringat pasti menempel di tubuh mereka. Mengerang, Joshua sayup-sayup menutup mata.&#xA;&#xA;&#34;Hyung, mandi sekarang ato gue yang mandiin.&#34;&#xA;&#xA;Seketika, matanya membuka. Dia buru-buru melompat dan berjalan cepat ke kamar mandi, melewati Mingyu yang berkacak pinggang (dan telanjang dada) seolah anak itu nggak ada di sana. Pintu kamar mandi menutup. Kim Mingyu menghela napas, lalu menelepon housekeeping untuk menaruh cucian dan resepsionis untuk memesan program olahraga air yang disediakan hotel mereka esok hari.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuafortunate" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuafortunate</span></a></p>

<p>Joshua mencari hotel dengan nama yang familier baginya via Naver dan memutuskan untuk memilih salah satu grup hotel bintang lima lengkap dengan pantai pribadi. Saat berwisata, beberapa orang menginginkan pengalaman autentik dengan menginap di resort atau bed and breakfast seakan-akan mereka melesap menjadi warga lokal.</p>



<p>Sebuah pengalaman yang, jujur, Joshua nggak sungkan untuk alami, tetapi Mingyu mengerang protes duluan, terlalu pegal linu untuk meringkuk di kasur sempit agar muat. Joshua ketawa, mengejek Mingyu akan badan besarnya sebelum memasuki pintu depan hotel dan meminta dua kamar dengan queen bed pada resepsionis.</p>

<p>Mingyu mengernyit, “Kok dua? Sekamar aja.”</p>

<p>“Katanya lo mau tidur nyenyak? Single bed nggak gitu gede kan?”</p>

<p>“Sama lo mah nyenyak-nyenyak aja, lagian gue muat kalo di single bed hotel begini,” Mingyu memiringkan kepala. “Sekamar aja udah biar gampang.”</p>

<p>Sebenarnya Joshua mengharapkan ketenangan, tapi dia juga malas ambil pusing. Dengan satu kunci kamar di lantai tinggi, mereka pun bertolak ke kamar mereka. Karena berangkat terlalu pagi, mereka nggak sempat mandi, hanya cuci muka dan gosok gigi, sedangkan udara di mana mereka berada kini terasa lebih panas dan lembab.</p>

<p>“Gue tag mandi duluan!” Mingyu berseru sambil melompat ke tempat tidur pilihannya dekat pintu. Erangan puas pun meluncur dari celah bibir ketika tubuhnya bertemu empuk kasur dan nyaman bantal.</p>

<p>Joshua nggak menjawab apapun, sudah biasa setelah entah berapa banyak hotel mereka bagi selama tur di berbagai negara. Anak itu menaruh ranselnya di dekat pintu masuk dan melepas sepatu. Sepatu Mingyu yang dilepas sembarangan pun dibenahinya dengan rapi. Joshua berjalan ke arah balkon sambil melepas jaket. Pintu ke balkon kemudian dibuka.</p>

<p>“Whoa...”</p>

<p>Di hadapannya, hamparan langit cerah bermandikan terik mentari menghiasi garis lautan biru yang indah. Bau garam dan keriuhan pengunjung dalam macam-macam bahasa, suara musik yang asing di telinganya, dan desir angin mengacak pakaian serta helai rambutnya...</p>

<p>“Wow...,” suara Mingyu terdengar di sisi Joshua. “Hyung, Hyung, abis mandi kita turun terus nyari makan siang yok. Gue kepengen seafood.” Mingyu menyilangkan lengan di sandaran balkon dan menaruh kepalanya di sana sambil menoleh menatap Joshua.</p>

<p>“Apa nggak ntar malem aja seafoodnya, Gyu? Makan siang enakan sandwich nggak sih? Sandwich sama jus buah dingin...”</p>

<p>“Hmm, enak tuh, es krim juga...”</p>

<p>“Beli es krim terus jalan-jalan di pinggir pantai? Besok kita seharian maen di laut.”</p>

<p>“Terus malemnya seafood?”</p>

<p>“Boleh,” menopang dagu dengan satu tangan pada sandaran, Joshua tersenyum. Diacaknya rambut Mingyu. “Malem terakhir sebelom terbang pulang, clubbing sekalian?”</p>

<p>Mata Mingyu sama berkilatnya dengan Joshua.</p>

<p>“Oke!”</p>

<hr/>

<p>Sesuai kesepakatan dadakan, mereka mandi dan memakai baju santai: kaus dan celana pendek. Sekali lagi mengandalkan Naver, Mingyu menemukan tempat makan siang yang terkenal akan sandwichnya. Setelah makan, mereka berkeliling pusat perbelanjaan sejenak, melihat-lihat baju maupun sesuatu yang menarik untuk dibawa pulang. Mingyu membeli sehelai kemeja dan sehelai kaus kutang warna hitam. Joshua membeli topi serta beberapa lembar pakaian. Mereka akan meminta binatu hotel untuk mencucinya. The perk of pergi dadakan adalah kamu lupa membawa banyak barang dan berakhir membelinya di tempat tujuan.</p>

<p>Puas berbelanja, mereka akhirnya membeli es krim dan berjalan-jalan menyisiri garis pantai sambil menenteng sandal. Matahari hampir terbenam sehingga Joshua dan Mingyu memutuskan untuk berada di sana sampai malam menjelang.</p>

<p>“Mingyu-yah...”</p>

<p>“Hmm?”</p>

<p>Joshua, sambil tetap memandangi matahari besar berwarna jingga kemerahan yang perlahan-lahan turun di ufuk Barat, pun tersenyum manis.</p>

<p>“Makasih ya udah mau nemenin gue berbuat gila gini.”</p>

<p>Andai Joshua menoleh, mungkin dia juga akan melihat bagaimana Mingyu ikut tersenyum bersamanya.</p>

<p>“Anytime, Hyung.”</p>

<hr/>

<p>Nggak jauh dari pantai tempat mereka berjalan-jalan, mereka makan malam di restoran dekat situ. Ternyata restoran tersebut milik sebuah keluarga dan mereka menyambut ramah Joshua dan Mingyu. Seafood yang disediakan begitu segar dan nikmat. Porsinya pun cukup banyak. Joshua menguliti seekor udang rebus gemuk dan menyuapinya ke Mingyu. Sebagai balasan, Mingyu meracik bumbu yang disediakan dan mencelupkan daging kepiting ke sana, menyuapi Joshua balik. Mata Joshua melebar dan dia pun mengangguk-angguk, mengakui kelezatan bumbu racikan Mingyu.</p>

<p>Mereka makan dengan lahap sampai Joshua rasanya begitu mengantuk ketika sudah berbaring di kasur hotelnya yang nyaman. Mingyu memarahinya, menyuruhnya ganti baju dan mandi karena asap bekas bakaran seafood serta keringat pasti menempel di tubuh mereka. Mengerang, Joshua sayup-sayup menutup mata.</p>

<p>“Hyung, mandi sekarang ato gue yang mandiin.”</p>

<p>Seketika, matanya membuka. Dia buru-buru melompat dan berjalan cepat ke kamar mandi, melewati Mingyu yang berkacak pinggang (dan telanjang dada) seolah anak itu nggak ada di sana. Pintu kamar mandi menutup. Kim Mingyu menghela napas, lalu menelepon housekeeping untuk menaruh cucian dan resepsionis untuk memesan program olahraga air yang disediakan hotel mereka esok hari.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/9-it-never-really-moved-me</guid>
      <pubDate>Sun, 08 Jun 2025 11:08:57 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Even when flowers bloomed in the sky</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/8-even-when-flowers-bloomed-in-the-sky?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuafortunate&#xA;&#xA;&#34;Wow...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm? Kenapa, Hyung?&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Enggak...,&#34; Joshua mengalihkan pandangan dari jendela pesawat ke Mingyu yang sudah bersiap untuk tidur di sebelahnya. Penerbangan 4 jam cukup untuk mengisi perut dan tenaga, apalagi bagi Mingyu yang terkenal bukan manusia pagi hari. Hidupnya dimulai dari siang ke malam, dan tertidur saat pagi menjelang, berbeda dengan Joshua yang hampir selalu bangun lebih dulu dari member yang lain. &#34;Kaget aja lo beneran ikut. Gue pikir bakal batal.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kan gue udah nge-iyain ajakan lo,&#34; Mingyu menguap. &#34;Masa gue boong.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak gitu… Yaudah, tidur sana,&#34; tangan Joshua menyingkirkan rambut depan Mingyu dari sisi dahinya. &#34;Ntar gue bangunin kalo waktunya makan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mm,&#34; lalu, di luar dugaan, Mingyu merungkel ke arah Joshua, sengaja menaruh kepalanya di bahu si yang lebih tua. &#34;Pinjem ya. Gue benci kursi tengah.&#34;&#xA;&#xA;Joshua hendak mengajaknya tukaran kursi biar Mingyu bisa tidur bersandar ke jendela, namun batal karena napas anak itu mulai terdengar teratur. Definisi nemplok langsung molor. Mau nggak mau, Joshua terkekeh pelan dan memandang jendela pesawat lagi, diam nggak bergerak agar Mingyu bisa tidur dengan nyenyak. Pikirannya melayang ke percakapan mereka di bangku belakang taksi beberapa jam sebelum ini.&#xA;&#xA;&#34;Kalo nggak dapet tiketnya gimana, Gyu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya kita pulang. Ato puter arah.&#34;&#xA;&#xA;Joshua menoleh. Mingyu juga. Mereka bertatapan.&#xA;&#xA;&#34;Laut banyak. Nggak harus ke Cebu juga.&#34;&#xA;&#xA;&#34;...Hotelnya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mendarat, kita tuker duit sama beli wifi dulu aja. Kita cari hotel di Naver, ato Google, terus langsung ke sana.&#34;&#xA;&#xA;Gilakah mereka berdua? Apa hidup dari bandara ke bandara—sehari di negara A, besoknya sudah di negara B—membuat logika mereka agak rusak? Tanpa reservasi tiket pesawat, tanpa memesan kamar hotel, bahkan Joshua hampir lupa membawa passportnya karena terbiasa dibawa staff mereka setiap mereka terbang. Berbekal kartu kredit dan uang tunai seadanya (siapa sih memangnya yang bawa uang tunai banyak-banyak sekarang?), dua anak itu nekat melintasi lautan ke negara yang bahasa aslinya mereka berdua pun nggak paham.&#xA;&#xA;&#34;Oke...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Napa nih? Kok lo kayak nggak yakin gitu?&#34; ringisan Mingyu seolah mengejek. &#34;Apa nggak jadi nih, kita balik aja?&#34;&#xA;&#xA;Joshua buru-buru menggeleng. Mingyu menghela napas.&#xA;&#xA;&#34;Tenang aja, Hyung. Emangnya apa sih yang bakal kejadian di sana?&#34;&#xA;&#xA;Kembali pada kursi pesawatnya, Joshua berkedip. Pramugari nampak tengah mendorong kereta makanan di lorong kursi penumpang. Sebentar lagi waktu makan bagi mereka akan dimulai.&#xA;&#xA;&#34;Mingyu-yah...&#34;&#xA;&#xA;Kedikan bahu teramat pelan. Nihil respon.&#xA;&#xA;&#34;Gyu...? Bangun. Udah mau makan tuh...&#34;&#xA;&#xA;Kali ini, tangan Joshua mengelus sisi kepala Mingyu. Dielus-elus, bukannya risih dan terbangun, anak itu malah terlihat makin pulas. Mingyu mengusrek wajahnya ke bahu Joshua. Terkekeh, Joshua menaruh dagunya di kepala Mingyu.&#xA;&#xA;&#34;Mingyu...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ng...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bangun yok? Mau makan nggak?&#34;&#xA;&#xA;Erangan lagi. Karena posisi mereka, Mingyu bisa menghirup wangi parfum yang Joshua kenakan di lehernya. Dihidunya wangi itu dalam-dalam sebelum dia menghela napas panjang.&#xA;&#xA;&#34;Ngantuk...&#34;&#xA;&#xA;Joshua pun ketawa. &#34;Ntar kan bisa tidur lagi,&#34; dibantunya Mingyu bangun dengan mendorong kepalanya kembali ke sandaran kursinya sendiri. Si anak mengerang untuk ketiga kalinya. Kakinya yang panjang tersiksa dan badannya yang besar terasa pegal melungker seperti tadi. Mau ngulet puas juga nggak bisa. Kursi ekonomi sialan.&#xA;&#xA;&#34;Kita pulang jangan naek ekonomi lagi ya, Hyung, tolong banget nih...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sisanya cuma ini, mau gimana,&#34; kembali dirapikannya penampakan Mingyu, membuat si anak sedikit banyak nggak seperti orang baru bangun. &#34;Ntar penerbangan pulang, kita pesen paling depan. Miles kita banyak ini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yee, kalo pake miles mah sekalian pesen suites nggak sih...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Cuma 4 jam, Gyu.&#34;&#xA;&#xA;Memperbaiki posisi duduk mereka persis ketika pramugari menanyakan apakah mereka mau bibimbap atau omelette, Joshua dan Mingyu pun kembali berperan sebagai idol untuk sejenak, mempertontonkan sisi terbaik mereka sebisa mungkin pada dunia, seperti biasanya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuafortunate" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuafortunate</span></a></p>

<p>“Wow...”</p>

<p>“Hmm? Kenapa, Hyung?”</p>



<p>“Enggak...,” Joshua mengalihkan pandangan dari jendela pesawat ke Mingyu yang sudah bersiap untuk tidur di sebelahnya. Penerbangan 4 jam cukup untuk mengisi perut dan tenaga, apalagi bagi Mingyu yang terkenal bukan manusia pagi hari. Hidupnya dimulai dari siang ke malam, dan tertidur saat pagi menjelang, berbeda dengan Joshua yang hampir selalu bangun lebih dulu dari member yang lain. “Kaget aja lo beneran ikut. Gue pikir bakal batal.”</p>

<p>“Kan gue udah nge-iyain ajakan lo,” Mingyu menguap. “Masa gue boong.”</p>

<p>“Nggak gitu… Yaudah, tidur sana,” tangan Joshua menyingkirkan rambut depan Mingyu dari sisi dahinya. “Ntar gue bangunin kalo waktunya makan.”</p>

<p>“Mm,” lalu, di luar dugaan, Mingyu merungkel ke arah Joshua, sengaja menaruh kepalanya di bahu si yang lebih tua. “Pinjem ya. Gue benci kursi tengah.”</p>

<p>Joshua hendak mengajaknya tukaran kursi biar Mingyu bisa tidur bersandar ke jendela, namun batal karena napas anak itu mulai terdengar teratur. Definisi nemplok langsung molor. Mau nggak mau, Joshua terkekeh pelan dan memandang jendela pesawat lagi, diam nggak bergerak agar Mingyu bisa tidur dengan nyenyak. Pikirannya melayang ke percakapan mereka di bangku belakang taksi beberapa jam sebelum ini.</p>

<p>“Kalo nggak dapet tiketnya gimana, Gyu?”</p>

<p>“Ya kita pulang. Ato puter arah.”</p>

<p>Joshua menoleh. Mingyu juga. Mereka bertatapan.</p>

<p>“Laut banyak. Nggak harus ke Cebu juga.”</p>

<p>”...Hotelnya?”</p>

<p>“Mendarat, kita tuker duit sama beli wifi dulu aja. Kita cari hotel di Naver, ato Google, terus langsung ke sana.”</p>

<p>Gilakah mereka berdua? Apa hidup dari bandara ke bandara—sehari di negara A, besoknya sudah di negara B—membuat logika mereka agak rusak? Tanpa reservasi tiket pesawat, tanpa memesan kamar hotel, bahkan Joshua hampir lupa membawa passportnya karena terbiasa dibawa staff mereka setiap mereka terbang. Berbekal kartu kredit dan uang tunai seadanya (siapa sih memangnya yang bawa uang tunai banyak-banyak sekarang?), dua anak itu nekat melintasi lautan ke negara yang bahasa aslinya mereka berdua pun nggak paham.</p>

<p>“Oke...”</p>

<p>“Napa nih? Kok lo kayak nggak yakin gitu?” ringisan Mingyu seolah mengejek. “Apa nggak jadi nih, kita balik aja?”</p>

<p>Joshua buru-buru menggeleng. Mingyu menghela napas.</p>

<p>“Tenang aja, Hyung. Emangnya apa sih yang bakal kejadian di sana?”</p>

<p>Kembali pada kursi pesawatnya, Joshua berkedip. Pramugari nampak tengah mendorong kereta makanan di lorong kursi penumpang. Sebentar lagi waktu makan bagi mereka akan dimulai.</p>

<p>“Mingyu-yah...”</p>

<p>Kedikan bahu teramat pelan. Nihil respon.</p>

<p>“Gyu...? Bangun. Udah mau makan tuh...”</p>

<p>Kali ini, tangan Joshua mengelus sisi kepala Mingyu. Dielus-elus, bukannya risih dan terbangun, anak itu malah terlihat makin pulas. Mingyu mengusrek wajahnya ke bahu Joshua. Terkekeh, Joshua menaruh dagunya di kepala Mingyu.</p>

<p>“Mingyu...”</p>

<p>“Ng...”</p>

<p>“Bangun yok? Mau makan nggak?”</p>

<p>Erangan lagi. Karena posisi mereka, Mingyu bisa menghirup wangi parfum yang Joshua kenakan di lehernya. Dihidunya wangi itu dalam-dalam sebelum dia menghela napas panjang.</p>

<p>“Ngantuk...”</p>

<p>Joshua pun ketawa. “Ntar kan bisa tidur lagi,” dibantunya Mingyu bangun dengan mendorong kepalanya kembali ke sandaran kursinya sendiri. Si anak mengerang untuk ketiga kalinya. Kakinya yang panjang tersiksa dan badannya yang besar terasa pegal melungker seperti tadi. Mau ngulet puas juga nggak bisa. Kursi ekonomi sialan.</p>

<p>“Kita pulang jangan naek ekonomi lagi ya, Hyung, tolong banget nih...”</p>

<p>“Sisanya cuma ini, mau gimana,” kembali dirapikannya penampakan Mingyu, membuat si anak sedikit banyak nggak seperti orang baru bangun. “Ntar penerbangan pulang, kita pesen paling depan. Miles kita banyak ini.”</p>

<p>“Yee, kalo pake miles mah sekalian pesen suites nggak sih...”</p>

<p>“Cuma 4 jam, Gyu.”</p>

<p>Memperbaiki posisi duduk mereka persis ketika pramugari menanyakan apakah mereka mau bibimbap atau omelette, Joshua dan Mingyu pun kembali berperan sebagai idol untuk sejenak, mempertontonkan sisi terbaik mereka sebisa mungkin pada dunia, seperti biasanya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/8-even-when-flowers-bloomed-in-the-sky</guid>
      <pubDate>Sat, 07 Jun 2025 16:16:30 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>I think I was already starting to change</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/7-i-think-i-was-already-starting-to-change?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuafortunate&#xA;&#xA;Bagai air, waktu pun mengalir tanpa menunggu siapapun untuk mendampinginya. Grup mereka yang pada awalnya nampak lemah dan penuh kegoyahan, perlahan-lahan menapakkan kaki dengan mantap. Meski diterjang badai dari segala arah, mereka selalu kembali berkumpul di suatu ruangan dan membahasnya bersama-sama. Dari tengah asrama kecil mereka, ke salah satu ruang latihan, sampai, pada akhirnya, ke asrama masing-masing dimana mereka dibagi per lantai.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Tentu ada perubahan signifikan yang Joshua rasakan, selain perbaikan gizi mereka dari segi makanan dan kualitas hidup yang meningkat. Joshua nggak menyangka kalau mereka bisa berkembang sebegininya. Anak-anak yang tadinya cukup pesimis dengan nasib mereka yang diundur terus debutnya tapi memutuskan untuk hajar saja daripada menyesal, mendorong diri mereka sendiri untuk terus menelaah, menyempurnakan, bahkan menghukum diri sendiri untuk berlatih mati-matian tiap mereka melakukan kesalahan, kini mereka mulai menjadi senior yang cukup terpandang.&#xA;&#xA;Grup-grup yang lebih muda memanggil mereka sebagai senior dan menceritakan bahwa mereka berlatih dengan lagu Seventeen. Yang lain mengatakan bagaimana mereka belajar banyak dari Going Seventeen. Joshua kini merasa bahwa dunia entertainment Korea yang dingin dan ganas, ternyata menyimpan seenggaknya sedikit kehangatan yang familier di dalamnya, termasuk kisah cinta.&#xA;&#xA;Nggak ada yang melarang mereka untuk pacaran selama mereka mengikuti aturan dari agensi. Karena kecerobohan satu orang akan berakhir menyengsarakan dua belas orang lainnya, mereka sepakat untuk sangat amat menjaga kerahasiaan kehidupan asmara mereka. Berkaca dari para senior mereka, nggak ada satu pun member yang berani untuk bertindak di luar ketentuan agensi. Mereka berhati-hati, menjaga agar pacar-pacar mereka nggak diketahui dunia sama sekali. Bukan hanya demi karir, tapi juga demi keamanan pacar-pacar mereka itu sendiri.&#xA;&#xA;Joshua baru putus dari pacar terakhirnya dua minggu lalu ketika Mingyu menatapnya dengan kilau di mata. Jam dinding menunjukkan pukul empat pagi, terlalu buta untuk berpikir jernih dengan otak mereka namun adrenalin sehabis latihan gym membumbung tinggi di seluruh tubuhnya.&#xA;&#xA;&#34;Mau pergi nih kita?&#34; celetuk Joshua.&#xA;&#xA;Nggak tau dirinya atau Mingyu yang sudah gila. Jihoon melirik ke arah mereka sekilas sebelum menggelengkan kepala dan balik menekuni hapenya. Padahal Joshua niatnya ke dapur cuma buat ambil air minum. Entah gimana mereka malah membahas libur beberapa hari yang mereka punya. Jeonghan mendengarkan percakapan tersebut sambil meneguk minumannya, duduk persis di seberang Joshua dan Mingyu.&#xA;&#xA;&#34;Gimana? Jadi pergi nggak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ada gila-gilanya lo, Hyung,&#34; Mingyu ketawa.&#xA;&#xA;&#34;Kayak baru kenal Shua aja lo,&#34; Jeonghan menyeloroh. &#34;Dia dari kemarenan nanyain gue mau ngapain. Gue bilang nggak bisa, gue ada janji duluan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kencan mulu sih lo ma Cheol.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo yang nolak ya tiap gue ajakin pergi bertiga, bangsat,&#34; ditoyornya kepala Joshua sambil lalu.&#xA;&#xA;&#34;Terus dikatain obat nyamuk sama fans pairing lo berdua? Males,&#34; Joshua memutar bola mata. &#34;Lagian hobi lo berdua nggak gitu masuk di gue. Masukan sama Mingyu-yah.&#34; Dia menoleh lagi ke arah Mingyu. &#34;Mau pergi nggak? Gimana?&#34;&#xA;&#xA;Mingyu ketawa lagi. Ditekannya kelopak mata, berpikir sejenak, lalu ringisan merekah di wajah tampannya yang lelah.&#xA;&#xA;&#34;Ayok.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Jihoon menguap. Hari sudah siang saat dia terbangun lagi. Bersiap-siap menuju studionya, dia menemukan Jeonghan di meja makan bersama Seungcheol dan Seungkwan. Jihoon mengangguk saat mereka menyapanya, membuka kulkas untuk menarik keluar karton susu.&#xA;&#xA;&#34;Mereka pergi.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Shua sama Mingyu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Beneran?&#34; mata Jihoon lantas membulat. Melihat anggukan kepala Jeonghan, Jihoon kemudian ketawa. &#34;Gila juga mereka.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bagus kan? Duo cleaning fairy kita,&#34; kekeh Seungcheol.&#xA;&#xA;&#34;Gue penasaran pulang-pulang berantem nggak ya mereka,&#34; Seungkwan menimpali. &#34;Soalnya Mingyu-hyung kan gitu orangnya. Kayak bawa anak anjing jalan-jalan, bawel banget ngegonggong mulu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Cocok lah, Shua kan nga ngo nga ngo aja, gampang juga diseret kemana-mana,&#34; Jeonghan mengambil beberapa daging dari piring dengan sumpitnya. &#34;Apalagi sama Mingyu-yah. Dikasih manyun dikit aja langsung nyerah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aigoo, Mingyu-hyung...&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol ketawa, sedangkan Jihoon menghela napas. Dia membuang karton susu ke tempat sampah, meregangkan kedua lengan hingga bunyi kertak tulang terdengar, lalu meninggalkan asrama tersebut. Liburan atau nggak, demo lagunya tetap setia menantinya di studio.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuafortunate" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuafortunate</span></a></p>

<p>Bagai air, waktu pun mengalir tanpa menunggu siapapun untuk mendampinginya. Grup mereka yang pada awalnya nampak lemah dan penuh kegoyahan, perlahan-lahan menapakkan kaki dengan mantap. Meski diterjang badai dari segala arah, mereka selalu kembali berkumpul di suatu ruangan dan membahasnya bersama-sama. Dari tengah asrama kecil mereka, ke salah satu ruang latihan, sampai, pada akhirnya, ke asrama masing-masing dimana mereka dibagi per lantai.</p>



<p>Tentu ada perubahan signifikan yang Joshua rasakan, selain perbaikan gizi mereka dari segi makanan dan kualitas hidup yang meningkat. Joshua nggak menyangka kalau mereka bisa berkembang sebegininya. Anak-anak yang tadinya cukup pesimis dengan nasib mereka yang diundur terus debutnya tapi memutuskan untuk hajar saja daripada menyesal, mendorong diri mereka sendiri untuk terus menelaah, menyempurnakan, bahkan menghukum diri sendiri untuk berlatih mati-matian tiap mereka melakukan kesalahan, kini mereka mulai menjadi senior yang cukup terpandang.</p>

<p>Grup-grup yang lebih muda memanggil mereka sebagai senior dan menceritakan bahwa mereka berlatih dengan lagu Seventeen. Yang lain mengatakan bagaimana mereka belajar banyak dari Going Seventeen. Joshua kini merasa bahwa dunia entertainment Korea yang dingin dan ganas, ternyata menyimpan seenggaknya sedikit kehangatan yang familier di dalamnya, termasuk kisah cinta.</p>

<p>Nggak ada yang melarang mereka untuk pacaran selama mereka mengikuti aturan dari agensi. Karena kecerobohan satu orang akan berakhir menyengsarakan dua belas orang lainnya, mereka sepakat untuk sangat amat menjaga kerahasiaan kehidupan asmara mereka. Berkaca dari para senior mereka, nggak ada satu pun member yang berani untuk bertindak di luar ketentuan agensi. Mereka berhati-hati, menjaga agar pacar-pacar mereka nggak diketahui dunia sama sekali. Bukan hanya demi karir, tapi juga demi keamanan pacar-pacar mereka itu sendiri.</p>

<p>Joshua baru putus dari pacar terakhirnya dua minggu lalu ketika Mingyu menatapnya dengan kilau di mata. Jam dinding menunjukkan pukul empat pagi, terlalu buta untuk berpikir jernih dengan otak mereka namun adrenalin sehabis latihan gym membumbung tinggi di seluruh tubuhnya.</p>

<p>“Mau pergi nih kita?” celetuk Joshua.</p>

<p>Nggak tau dirinya atau Mingyu yang sudah gila. Jihoon melirik ke arah mereka sekilas sebelum menggelengkan kepala dan balik menekuni hapenya. Padahal Joshua niatnya ke dapur cuma buat ambil air minum. Entah gimana mereka malah membahas libur beberapa hari yang mereka punya. Jeonghan mendengarkan percakapan tersebut sambil meneguk minumannya, duduk persis di seberang Joshua dan Mingyu.</p>

<p>“Gimana? Jadi pergi nggak?”</p>

<p>“Ada gila-gilanya lo, Hyung,” Mingyu ketawa.</p>

<p>“Kayak baru kenal Shua aja lo,” Jeonghan menyeloroh. “Dia dari kemarenan nanyain gue mau ngapain. Gue bilang nggak bisa, gue ada janji duluan.”</p>

<p>“Kencan mulu sih lo ma Cheol.”</p>

<p>“Lo yang nolak ya tiap gue ajakin pergi bertiga, bangsat,” ditoyornya kepala Joshua sambil lalu.</p>

<p>“Terus dikatain obat nyamuk sama fans pairing lo berdua? Males,” Joshua memutar bola mata. “Lagian hobi lo berdua nggak gitu masuk di gue. Masukan sama Mingyu-yah.” Dia menoleh lagi ke arah Mingyu. “Mau pergi nggak? Gimana?”</p>

<p>Mingyu ketawa lagi. Ditekannya kelopak mata, berpikir sejenak, lalu ringisan merekah di wajah tampannya yang lelah.</p>

<p>“Ayok.”</p>

<hr/>

<p>Jihoon menguap. Hari sudah siang saat dia terbangun lagi. Bersiap-siap menuju studionya, dia menemukan Jeonghan di meja makan bersama Seungcheol dan Seungkwan. Jihoon mengangguk saat mereka menyapanya, membuka kulkas untuk menarik keluar karton susu.</p>

<p>“Mereka pergi.”</p>

<p>“Hmm?”</p>

<p>“Shua sama Mingyu.”</p>

<p>“Beneran?” mata Jihoon lantas membulat. Melihat anggukan kepala Jeonghan, Jihoon kemudian ketawa. “Gila juga mereka.”</p>

<p>“Bagus kan? Duo cleaning fairy kita,” kekeh Seungcheol.</p>

<p>“Gue penasaran pulang-pulang berantem nggak ya mereka,” Seungkwan menimpali. “Soalnya Mingyu-hyung kan gitu orangnya. Kayak bawa anak anjing jalan-jalan, bawel banget ngegonggong mulu.”</p>

<p>“Cocok lah, Shua kan nga ngo nga ngo aja, gampang juga diseret kemana-mana,” Jeonghan mengambil beberapa daging dari piring dengan sumpitnya. “Apalagi sama Mingyu-yah. Dikasih manyun dikit aja langsung nyerah.”</p>

<p>“Aigoo, Mingyu-hyung...”</p>

<p>Seungcheol ketawa, sedangkan Jihoon menghela napas. Dia membuang karton susu ke tempat sampah, meregangkan kedua lengan hingga bunyi kertak tulang terdengar, lalu meninggalkan asrama tersebut. Liburan atau nggak, demo lagunya tetap setia menantinya di studio.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/7-i-think-i-was-already-starting-to-change</guid>
      <pubDate>Fri, 06 Jun 2025 15:33:03 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>You reached out your hand</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/6-you-reached-out-your-hand?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuafortunate&#xA;&#xA;Mingyu melendot lagi—ke Seungkwan, ke Soonyoung, ke Wonwoo, ke Minghao, ke semua orang yang dia sayang, bahkan ke Jihoon yang jelas-jelas terlihat risih ketempelan badan setinggi itu. Eksekusi rasa cintanya memang begitu, dengan sentuhan dan tindakan. Dia terlahir seperti itu dan dibesarkan dalam keluarga yang serupa. Pelukan, ciuman, sentuhan; semua sama normalnya dengan bernapas bagi keluarga Kim. Mereka bahkan mengadopsi Minghao yang jauh dari keluarganya selayaknya anak mereka sendiri.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Nggak usah sedih gitu,&#34; Wonwoo nyengir sambil duduk di sebelah Joshua. &#34;Nyokap nyuruh lo ke rumah, Shua.&#34;&#xA;&#xA;Joshua mengerjap satu kali.&#xA;&#xA;&#34;Kalo lo ngiri Mingyu adopsi Myungho, sini biar gue yang adopsi lo.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ngiri apa nih?&#34; yang disebut namanya ikut duduk di sebelah Wonwoo, merangkul bahunya. &#34;Shua-hyung ngiri sama siapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sama lu,&#34; Wonwoo membuka mulut berusaha menggigit lengan kurus Mingyu, tapi yang bersangkutan berhasil menarik lengannya sambil mengerang protes. &#34;Nyokap lo ngadopsi Myungho, nyokap gue jadi pengen kan ngadopsi Shua.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terus salah gue gitu??&#34; mendadak, Mingyu menoleh ke arah Joshua. &#34;Hyung kenapa nggak bilang deh mau gue adopsi juga?? Nyokap mah seneng-seneng aja ketambahan anak lagi\~&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh, nyerobot,&#34; dagunya Mingyu didorong Wonwoo. &#34;Nyokap gue nge-tag Shua duluan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ckckck,&#34; tetiba Jeonghan juga ikut dalam pertengkaran ngalor-ngidul itu. Ditariknya leher Joshua hingga punggungnya bertemu dada Jeonghan. &#34;Jangan rebutan Shuji gitu dong. Biarin dia yang milih ya gaesss\~&#34;&#xA;&#xA;Memutar bola mata, Joshua menyikut Jeonghan, membuat anak itu mengerang sakit. &#34;Apa sih adopsi-adopsian,&#34; bantahnya. &#34;Tapi, oke, Wonu-yah, ntar gue ke rumah lo. Bilangin maaf sama Bibi kalo gue jadi ngerepotin.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kok &#39;Bibi&#39;? Nyokap.&#34;&#xA;&#xA;&#34;? Nyokap lo ya gue panggil &#39;Bibi&#39; lah?&#34;&#xA;&#xA;Jeonghan ketawa. Mingyu ketawa. Wonwoo senyum timpang. Joshua bingung.&#xA;&#xA;&#34;Di sini nggak ada itu bibi-bibian, Shua. Semua nyokap ya nyokap lo juga. Nyokap gue, nyokap Jeonghan, nyokap Gyu juga—sama aja. Jadi lo nggak usah sungkan gitu,&#34; Wonwoo menepuk-nepuk pundaknya. &#34;Kita semua kan keluarga.&#34;&#xA;&#xA;Keluarga.&#xA;&#xA;...Keluarga tapi pairing-pairingan?&#xA;&#xA;&#34;Masih mikirin sesuatu, Hyung?&#xA;&#xA;Wonwoo dan Jeonghan sudah melipir pergi, meninggalkan Joshua berdua dengan Mingyu, duduk bengong bersandar ke kaca sambil menonton tingkah membernya selama mereka rehat sejenak dari latihan dansa. Peluh menempel bagai kulit kedua. Handuk yang melingkari tengkuk Mingyu nampak basah kuyup.&#xA;&#xA;&#34;Gue...masih nggak paham.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kenapa tuh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Katanya keluarga, tapi kenapa kita dipairingin? Aneh banget,&#34; alis Joshua mengernyit. &#34;Dan kenapa kalian pada santai-santai aja? Lo apalagi, Mingyu-yah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hah? Kenapa gue??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo naksir Wonu-yah?&#34;&#xA;&#xA;Kerjap. Kerjap.&#xA;&#xA;&#34;Ini asalnya dari mana, bisa jelasin dari awal banget nggak, Hyung?&#34; Mingyu mengangkat tangan. &#34;Gue nggak yakin gue paham...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Masa cuma gue sih yang merasa aneh sama pairing-pairingan ini?? Masa gue deket sama Jeonghan-ah, tetau udah ada nama pairingnya aja?? Ntar kalo gue deket sama Cheol juga, bakal ada nama pairing lagi?? Aneh banget! Dan lo, stop ngeliat kayak gitu kalo nggak mau makin nambah pairing lo, Gyu!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kayak gimana??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kayak lo sayang sama kita semua!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Emang kan?!&#34;&#xA;&#xA;Hening sejenak.&#xA;&#xA;&#34;Hyung, gue nggak paham paniknya lo kenapa, asli. Gue kan emang sayang sama lo semua. Lo semua tuh orang berharga buat gue. Gimana gue jelasinnya tanpa bikin geli ya...,&#34; garuk-garuk belakang kepala. &#34;Gue nggak masalah sama pairing-pairing gue, jujur, karena artinya fans bisa liat gue emang murni sayang sama member gue, kan? Meanie, Gyuhao, Seokgyu, Gyucheol, Gyuhan, Gyuboo...semuanya gue suka. Kalo bisa gue mau ada kapal gue bareng lo semua, Gyushua termasuk.&#34;&#xA;&#xA;Joshua memutar bola mata. Mingyu menepuknya agar fokus kembali menatapnya yang lagi serius.&#xA;&#xA;&#34;Bener lho, Hyung. Gue juga pengen ada Gyushua, soalnya gue juga sayang sama lo. Nggak bolehkah gue nunjukin rasa sayang gue sama lo di depan fans, cuma biar nggak ada kapal kebentuk buat kita?&#34;&#xA;&#xA;Duh, bagai merebut permen dari tangan bayi. Joshua jadi merasa sedikit bersalah. Seperti yang dia bilang ke Vernon sebelumnya, dia nggak masalah sama sekali. Dia bukannya homophobic, tapi dia dibesarkan dengan pemahaman bahwa orientasi seksual orang bukanlah bahan becandaan. Dia juga mengalami hal yang nggak terlalu menyenangkan sebelumnya karena orang melihat dia lalu salah persepsi sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Boleh,&#34; Joshua akhirnya menghela napas. &#34;Gue bukan—gue cuma—&#34; Merasa sulit melanjutkan, dia lantas berputar arah. &#34;Mingyu-yah, lo suka cowok? Sexually?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak tau,&#34; yang ditanya malah nyengir. &#34;Pacar gue selama ini cewek sih, belom pernah sama cowok. Nggak tau juga bisa naksir cowok ato nggak, tapi gue nggak mau jawab enggak buat pertanyaan lo.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hoo...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalo lo?&#34;&#xA;&#xA;&#34;He?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo bisa suka secara seksual ke cowok, Hyung?&#34;&#xA;&#xA;Joshua kaget sedikit ditanya balik begitu. Dia menatap mata Mingyu agak lama dari yang sewajarnya, berkedip dua kali sebelum akhirnya menjawab,&#xA;&#xA;&#34;Nggak tau.&#34;&#xA;&#xA;Lalu, dengan meringis jahil, dia menambahkan,&#xA;&#xA;&#34;Tapi kalo lo 10 tahun lagi jadi super ganteng tapi tetep imut-imut kayak gini, mungkin gue bakal pertimbangkan.&#34;&#xA;&#xA;Yang membuat mereka berdua ngakak sampai Soonyoung memanggil mereka dengan nada galaknya, menyuruh melanjutkan latihan dansa kembali.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuafortunate" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuafortunate</span></a></p>

<p>Mingyu melendot lagi—ke Seungkwan, ke Soonyoung, ke Wonwoo, ke Minghao, ke semua orang yang dia sayang, bahkan ke Jihoon yang jelas-jelas terlihat risih ketempelan badan setinggi itu. Eksekusi rasa cintanya memang begitu, dengan sentuhan dan tindakan. Dia terlahir seperti itu dan dibesarkan dalam keluarga yang serupa. Pelukan, ciuman, sentuhan; semua sama normalnya dengan bernapas bagi keluarga Kim. Mereka bahkan mengadopsi Minghao yang jauh dari keluarganya selayaknya anak mereka sendiri.</p>



<p>“Nggak usah sedih gitu,” Wonwoo nyengir sambil duduk di sebelah Joshua. “Nyokap nyuruh lo ke rumah, Shua.”</p>

<p>Joshua mengerjap satu kali.</p>

<p>“Kalo lo ngiri Mingyu adopsi Myungho, sini biar gue yang adopsi lo.”</p>

<p>“Ngiri apa nih?” yang disebut namanya ikut duduk di sebelah Wonwoo, merangkul bahunya. “Shua-hyung ngiri sama siapa?”</p>

<p>“Sama lu,” Wonwoo membuka mulut berusaha menggigit lengan kurus Mingyu, tapi yang bersangkutan berhasil menarik lengannya sambil mengerang protes. “Nyokap lo ngadopsi Myungho, nyokap gue jadi pengen kan ngadopsi Shua.”</p>

<p>“Terus salah gue gitu??” mendadak, Mingyu menoleh ke arah Joshua. “Hyung kenapa nggak bilang deh mau gue adopsi juga?? Nyokap mah seneng-seneng aja ketambahan anak lagi~“</p>

<p>“Eh, nyerobot,” dagunya Mingyu didorong Wonwoo. “Nyokap gue nge-tag Shua duluan.”</p>

<p>“Ckckck,” tetiba Jeonghan juga ikut dalam pertengkaran ngalor-ngidul itu. Ditariknya leher Joshua hingga punggungnya bertemu dada Jeonghan. “Jangan rebutan Shuji gitu dong. Biarin dia yang milih ya gaesss~“</p>

<p>Memutar bola mata, Joshua menyikut Jeonghan, membuat anak itu mengerang sakit. “Apa sih adopsi-adopsian,” bantahnya. “Tapi, oke, Wonu-yah, ntar gue ke rumah lo. Bilangin maaf sama Bibi kalo gue jadi ngerepotin.”</p>

<p>“Kok &#39;Bibi&#39;? Nyokap.”</p>

<p>”? Nyokap lo ya gue panggil &#39;Bibi&#39; lah?”</p>

<p>Jeonghan ketawa. Mingyu ketawa. Wonwoo senyum timpang. Joshua bingung.</p>

<p>“Di sini nggak ada itu bibi-bibian, Shua. Semua nyokap ya nyokap lo juga. Nyokap gue, nyokap Jeonghan, nyokap Gyu juga—sama aja. Jadi lo nggak usah sungkan gitu,” Wonwoo menepuk-nepuk pundaknya. “Kita semua kan keluarga.”</p>

<p><em>Keluarga</em>.</p>

<p><em>...Keluarga tapi pairing-pairingan?</em></p>

<p>“Masih mikirin sesuatu, Hyung?</p>

<p>Wonwoo dan Jeonghan sudah melipir pergi, meninggalkan Joshua berdua dengan Mingyu, duduk bengong bersandar ke kaca sambil menonton tingkah membernya selama mereka rehat sejenak dari latihan dansa. Peluh menempel bagai kulit kedua. Handuk yang melingkari tengkuk Mingyu nampak basah kuyup.</p>

<p>“Gue...masih nggak paham.”</p>

<p>“Kenapa tuh?”</p>

<p>“Katanya keluarga, tapi kenapa kita dipairingin? Aneh banget,” alis Joshua mengernyit. “Dan kenapa kalian pada santai-santai aja? Lo apalagi, Mingyu-yah.”</p>

<p>“Hah? Kenapa gue??”</p>

<p>“Lo naksir Wonu-yah?”</p>

<p>Kerjap. Kerjap.</p>

<p>“Ini asalnya dari mana, bisa jelasin dari awal banget nggak, Hyung?” Mingyu mengangkat tangan. “Gue nggak yakin gue paham...”</p>

<p>“Masa cuma gue sih yang merasa aneh sama pairing-pairingan ini?? Masa gue deket sama Jeonghan-ah, tetau udah ada nama pairingnya aja?? Ntar kalo gue deket sama Cheol juga, bakal ada nama pairing lagi?? Aneh banget! Dan lo, stop ngeliat kayak gitu kalo nggak mau makin nambah pairing lo, Gyu!”</p>

<p>“Kayak gimana??”</p>

<p>“Kayak lo sayang sama kita semua!”</p>

<p>“Emang kan?!”</p>

<p>Hening sejenak.</p>

<p>“Hyung, gue nggak paham paniknya lo kenapa, asli. Gue kan emang sayang sama lo semua. Lo semua tuh orang berharga buat gue. Gimana gue jelasinnya tanpa bikin geli ya...,” garuk-garuk belakang kepala. “Gue nggak masalah sama pairing-pairing gue, jujur, karena artinya fans bisa liat gue emang murni sayang sama member gue, kan? Meanie, Gyuhao, Seokgyu, Gyucheol, Gyuhan, Gyuboo...semuanya gue suka. Kalo bisa gue mau ada kapal gue bareng lo semua, Gyushua termasuk.”</p>

<p>Joshua memutar bola mata. Mingyu menepuknya agar fokus kembali menatapnya yang lagi serius.</p>

<p>“Bener lho, Hyung. Gue juga pengen ada Gyushua, soalnya gue juga sayang sama lo. Nggak bolehkah gue nunjukin rasa sayang gue sama lo di depan fans, cuma biar nggak ada kapal kebentuk buat kita?”</p>

<p>Duh, bagai merebut permen dari tangan bayi. Joshua jadi merasa sedikit bersalah. Seperti yang dia bilang ke Vernon sebelumnya, dia nggak masalah sama sekali. Dia bukannya homophobic, tapi dia dibesarkan dengan pemahaman bahwa orientasi seksual orang bukanlah bahan becandaan. Dia juga mengalami hal yang nggak terlalu menyenangkan sebelumnya karena orang melihat dia lalu salah persepsi sendiri.</p>

<p>“Boleh,” Joshua akhirnya menghela napas. “Gue bukan—gue cuma—” Merasa sulit melanjutkan, dia lantas berputar arah. “Mingyu-yah, lo suka cowok? Sexually?”</p>

<p>“Nggak tau,” yang ditanya malah nyengir. “Pacar gue selama ini cewek sih, belom pernah sama cowok. Nggak tau juga bisa naksir cowok ato nggak, tapi gue nggak mau jawab enggak buat pertanyaan lo.”</p>

<p>“Hoo...”</p>

<p>“Kalo lo?”</p>

<p>“He?”</p>

<p>“Lo bisa suka secara seksual ke cowok, Hyung?”</p>

<p>Joshua kaget sedikit ditanya balik begitu. Dia menatap mata Mingyu agak lama dari yang sewajarnya, berkedip dua kali sebelum akhirnya menjawab,</p>

<p>“Nggak tau.”</p>

<p>Lalu, dengan meringis jahil, dia menambahkan,</p>

<p>“Tapi kalo lo 10 tahun lagi jadi super ganteng tapi tetep imut-imut kayak gini, mungkin gue bakal pertimbangkan.”</p>

<p>Yang membuat mereka berdua ngakak sampai Soonyoung memanggil mereka dengan nada galaknya, menyuruh melanjutkan latihan dansa kembali.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/6-you-reached-out-your-hand</guid>
      <pubDate>Wed, 04 Jun 2025 15:15:59 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>From the moment</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/5-from-the-moment?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuafortunate&#xA;&#xA;&#34;Ada gue kapalnya. Meanie.&#34;&#xA;&#xA;Semuanya ngakak.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Apaan tuh, kok namanya aneh??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Itu gegara Wonu-hyung make beanie terus kan pas namanya belom disebut!&#34; Mingyu mengernyit, menuding Wonwoo dengan telunjuknya. Yang dituding cuma ketawa puas. &#34;Mingyu Beanie. Meanie!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Meanie as in Minnie or Mean?&#34;&#xA;&#xA;Anak-anak yang lain nggak mendengar Joshua kecuali Vernon. &#34;As in Mean, Hyung, like you are such a meanie,&#34; dia menjelaskan dan Joshua mengangguk-angguk.&#xA;&#xA;&#34;Hoo...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terus siapa lagi? Siapa lagi??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Cheol-hyung sama Uji-hyung nggak sih?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue tau nih. Jicheol kan??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Benerrrr,&#34; seruangan ngakak lagi. &#34;Udah resmi nikah pula kan!&#34;&#xA;&#xA;Joshua memandang semua sambil planga-plongo. &#34;Vern,&#34; gumaman pelan. &#34;Kayak gini...perlu nggak sih?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm? Apanya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Pairing ginian. Rasanya aneh. Yang kita offer kan musik. Kenapa jadi ada pairing-pairing gini...,&#34; lalu dia menambahkan sambil berbisik, takut kedengaran yang lain. &#34;We aren&#39;t even gay. Is this really okay? Are we not insulting anyone by doing this?&#34;&#xA;&#xA;Vernon mengerjap. Di Amerika, jelas masalah seperti ini lebih sensitif. Dia paham betul dari mana kekhawatiran Joshua berasal. &#34;Hyung, ini bagian dari industri. Mau nggak mau, kita bakal dipair sama fans kita. It&#39;s about sales and money, and we have no power to stop it,&#34; melihat muka Joshua makin asam, Vernon meneruskan. &#34;Menurut gue, kalo kita takut nunjukin rasa sayang kita cuma gegara gender, bukannya malah lebih insulting jatohnya? Toxic masculinity and all that?&#34;&#xA;&#xA;Joshua masih belum yakin. Vernon lalu merangkul bahu Joshua.&#xA;&#xA;&#34;Lo risih kalo gue giniin?&#34;&#xA;&#xA;Alis Joshua berkerut, tapi dia menggeleng. Vernon kemudian mengangkat lengannya yang satu lagi, memeluk Joshua di leher. Joshua spontan merangkul punggung Vernon, memberikan tumpuan.&#xA;&#xA;&#34;Kalo gini?&#34;&#xA;&#xA;Lagi, dia menggeleng.&#xA;&#xA;&#34;Kalo gue bilang gue sayang lo di depan fans kita? Lo risih?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Malu sih,&#34; akunya. &#34;Tapi nggak risih.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm.&#34;&#xA;&#xA;Lalu, anak itu menjauh dan menepuk pelan pipi Joshua. &#34;Lo nggak perlu mesra-mesraan di depan kamera kalo lo nggak merasa itu diri lo, Hyung. Yang penting lo bebas aja nunjukin diri lo. Sayang itu kan bisa dalam berbagai arti. I think people missing out a lot by not saying how much they love their loved ones often,&#34; kemudian dia berlalu, meninggalkan Joshua dengan pemikirannya akan shipping dalam komunitas fans Kpop ini.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Bukan Jihan ih, tapi Shujeong!&#34;&#xA;&#xA;Joshua menoleh dari Seungkwan yang sedang menulis. Jeonghan meringis jahil padanya.&#xA;&#xA;...Great. Sekarang dia keseret juga jadi salah satu ship. Tapi, ah, dengan Jeonghan ya? Jeonghan yang, semenjak saat itu, semakin menempel padanya. Seperti saudara kembar. Seperti teman sejak kecil. Seperti orang yang bisa Joshua percaya akan berada di sisinya sampai kapanpun.&#xA;&#xA;Cinta itu nggak selalu romansa.&#xA;&#xA;Yeah. Maybe Vernon&#39;s right. Sayang ke teman juga salah satu bentuk cinta, kan?&#xA;&#xA;&#34;Oke. Shujeong,&#34; dia meringis membalas Jeonghan.&#xA;&#xA;Later, Vernon merangsek ke arahnya dan berbisik tepat di telinga, &#34;Moreover, are you really sure we aren&#39;t even gay, Hyung? Prejudice much, are we not?&#34;&#xA;&#xA;Anak itu tersenyum bandel dan pergi begitu saja, memberi lebih banyak pertanyaan untuk kepala Joshua yang malang.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuafortunate" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuafortunate</span></a></p>

<p>“Ada gue kapalnya. Meanie.”</p>

<p>Semuanya ngakak.</p>



<p>“Apaan tuh, kok namanya aneh??”</p>

<p>“Itu gegara Wonu-hyung make beanie terus kan pas namanya belom disebut!” Mingyu mengernyit, menuding Wonwoo dengan telunjuknya. Yang dituding cuma ketawa puas. “Mingyu Beanie. Meanie!”</p>

<p>“Meanie as in Minnie or Mean?”</p>

<p>Anak-anak yang lain nggak mendengar Joshua kecuali Vernon. “As in Mean, Hyung, like you are such a meanie,” dia menjelaskan dan Joshua mengangguk-angguk.</p>

<p>“Hoo...”</p>

<p>“Terus siapa lagi? Siapa lagi??”</p>

<p>“Cheol-hyung sama Uji-hyung nggak sih?”</p>

<p>“Gue tau nih. Jicheol kan??”</p>

<p>“Benerrrr,” seruangan ngakak lagi. “Udah resmi nikah pula kan!”</p>

<p>Joshua memandang semua sambil planga-plongo. “Vern,” gumaman pelan. “Kayak gini...perlu nggak sih?”</p>

<p>“Hmm? Apanya?”</p>

<p>“Pairing ginian. Rasanya aneh. Yang kita offer kan musik. Kenapa jadi ada pairing-pairing gini...,” lalu dia menambahkan sambil berbisik, takut kedengaran yang lain. “We aren&#39;t even gay. Is this really okay? Are we not insulting anyone by doing this?”</p>

<p>Vernon mengerjap. Di Amerika, jelas masalah seperti ini lebih sensitif. Dia paham betul dari mana kekhawatiran Joshua berasal. “Hyung, ini bagian dari industri. Mau nggak mau, kita bakal dipair sama fans kita. It&#39;s about sales and money, and we have no power to stop it,” melihat muka Joshua makin asam, Vernon meneruskan. “Menurut gue, kalo kita takut nunjukin rasa sayang kita cuma gegara gender, bukannya malah lebih insulting jatohnya? Toxic masculinity and all that?”</p>

<p>Joshua masih belum yakin. Vernon lalu merangkul bahu Joshua.</p>

<p>“Lo risih kalo gue giniin?”</p>

<p>Alis Joshua berkerut, tapi dia menggeleng. Vernon kemudian mengangkat lengannya yang satu lagi, memeluk Joshua di leher. Joshua spontan merangkul punggung Vernon, memberikan tumpuan.</p>

<p>“Kalo gini?”</p>

<p>Lagi, dia menggeleng.</p>

<p>“Kalo gue bilang gue sayang lo di depan fans kita? Lo risih?”</p>

<p>“Malu sih,” akunya. “Tapi nggak risih.”</p>

<p>“Hmm.”</p>

<p>Lalu, anak itu menjauh dan menepuk pelan pipi Joshua. “Lo nggak perlu mesra-mesraan di depan kamera kalo lo nggak merasa itu diri lo, Hyung. Yang penting lo bebas aja nunjukin diri lo. Sayang itu kan bisa dalam berbagai arti. I think people missing out a lot by not saying how much they love their loved ones often,” kemudian dia berlalu, meninggalkan Joshua dengan pemikirannya akan shipping dalam komunitas fans Kpop ini.</p>

<hr/>

<p>“Bukan Jihan ih, tapi Shujeong!”</p>

<p>Joshua menoleh dari Seungkwan yang sedang menulis. Jeonghan meringis jahil padanya.</p>

<p>...<em>Great</em>. Sekarang dia keseret juga jadi salah satu ship. Tapi, ah, dengan Jeonghan ya? Jeonghan yang, semenjak saat itu, semakin menempel padanya. Seperti saudara kembar. Seperti teman sejak kecil. Seperti orang yang bisa Joshua percaya akan berada di sisinya sampai kapanpun.</p>

<p><em>Cinta itu nggak selalu romansa.</em></p>

<p>Yeah. Maybe Vernon&#39;s right. Sayang ke teman juga salah satu bentuk cinta, kan?</p>

<p>“Oke. Shujeong,” dia meringis membalas Jeonghan.</p>

<p>Later, Vernon merangsek ke arahnya dan berbisik tepat di telinga, “Moreover, are you <em>really</em> sure we aren&#39;t even gay, Hyung? Prejudice much, are we not?”</p>

<p>Anak itu tersenyum bandel dan pergi begitu saja, memberi lebih banyak pertanyaan untuk kepala Joshua yang malang.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/5-from-the-moment</guid>
      <pubDate>Mon, 02 Jun 2025 12:25:54 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Or maybe not</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/4-or-maybe-not?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuafortunate&#xA;&#xA;Setelah mereka menangis sejadinya saban hari, rasanya lega. Rasanya segala yang mereka tahan hingga detik ini urai begitu saja. Joshua menatap Jeonghan sebelum mereka berdua tertawa, saling mengejek karena mereka nampak jelek. Pipi basah, ingus meler, wajah merah.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Idol macem apa lo, jelek banget,&#34; seloroh Jeonghan.&#xA;&#xA;&#34;Ngaca dulu gih,&#34; balas Joshua.&#xA;&#xA;Mereka yakin member yang lain juga mengetahui persoalan mereka berusaha keluar, tapi karena nggak ada yang mengungkitnya, maka Joshua dan Jeonghan bersikap seolah nggak pernah terjadi apapun. Mereka latihan bareng, berebut makanan bareng, bersenda gurau dan bertengkar—kejadian sehari-hari di dorm Seventeen yang sempit.&#xA;&#xA;Yang berbeda hanyalah Seungcheol yang kini mendekatkan dirinya pada Jeonghan dan Joshua. &#34;Sori. Kalian yang umurnya paling deket sama gue sekarang. Harusnya gue lebih merhatiin kalian,&#34; dia berkata seakan-akan dia sudah menampuk peran sebagai leader. Seungcheol sadar kalau dia cenderung lebih dekat dengan member lama dan mengabaikan Jeonghan dan Joshua, yang notabene kedua dan ketiga tertua di grup. &#34;Gue janji apapun yang ada di kepala kalian, gue bakal dengerin baik-baik.&#34;&#xA;&#xA;Jeonghan dan Joshua lihat-lihatan sesaat sebelum mereka tertawa, membuat Seungcheol salah tingkah dan juga ikut tertawa.&#xA;&#xA;Hari-hari berjalan lagi seperti biasa. Joshua mengabari ibunya tanpa memberitahu keputusannya dengan Jeonghan yang gagal itu. Dia nggak mau ibunya menemukan ada kegoyahan dalam niat anaknya. Kata &#39;pulang&#39; terdengar begitu menggoda, namun kata &#39;pulang&#39; juga berarti kekecewaan. Bila bukan kekecewaan orang lain, maka kekecewaan bagi dirinya sendiri.&#xA;&#xA;Hidup dengan dihantui &#39;what if&#39; sama buruknya dengan menyerah sebelum berjuang.&#xA;&#xA;&#34;Hyung.&#34;&#xA;&#xA;Joshua mengerjap, menemukan Mingyu di hadapannya. Otaknya berhenti berkelana sejenak dan memerhatikan anak di hadapannya. Kim Mingyu. Tinggi, kurus, polos. Sering meringis dengan taring menonjol pada giginya yang nggak rata. Sebuah ciri khas yang membuatnya mudah diingat orang. Sekarang pun dia lagi meringis pada Joshua.&#xA;&#xA;&#34;Lo orangnya telaten ya,&#34; tanpa menunggu reaksi Joshua, Mingyu meneruskan. Mereka hanya berdua di ruang tengah. Joshua sedang melipat baju yang sudah kering sedangkan Mingyu mengelap meja rendah tempat mereka makan. Mereka telah mengepel lantai dan merapikan apa yang bisa dirapikan—bantal tempat tidur Jun dan Seungcheol, piring-piring kotor, sampah berbagai macam. &#34;Kalo lo yang benahin, rasanya ruangan ini jadi bersih banget.&#34;&#xA;&#xA;Joshua nggak paham maksud omongan Mingyu, tapi dia bergumam sebagai tanda bahwa dia mendengarkan.&#xA;&#xA;&#34;Member kita tuh jorok banget. Kalo nggak ada yang ngurusin, keknya mereka bakal mati ketimbun sampah semua,&#34; Mingyu mendecak. &#34;Piring ditumpuk di bak cuci, nggak langsung dicuci. Abis buat makanan, dapur berantakan. Cucian kering aja mereka males ngelipet, maen langsung dipake aja.&#34;&#xA;&#xA;Joshua ketawa mendengar Mingyu mengeluh macam ibu-ibu komplek apartemen tempat mereka tinggal. Dia mengangguk-angguk setuju.&#xA;&#xA;&#34;Mau gimana lagi, Mingyu-yah, cowok usia segituan—&#34;&#xA;&#xA;&#34;—paling nggak banget.&#34;&#xA;&#xA;&#34;—the worst.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu dan Joshua mengerjap, saling menatap untuk sesaat. Meski bahasa yang mereka gunakan beda, artinya tetaplah sama. Joshua terdiam, seolah menemukan sesuatu yang baru di wajah yang telah lama dia lihat.&#xA;&#xA;&#34;Ha!&#34;&#xA;&#xA;Lalu, mereka berdua tertawa terbahak-bahak.&#xA;&#xA;&#34;Jahat banget lo, jangan gitu\~&#34;&#xA;&#xA;&#34;Biarin! Orang bener kok. Hyung sendiri ketawa yee\~&#34;&#xA;&#xA;Dan, saat tawa reda dan tangan kembali bekerja, Mingyu berdeham dan bergumam, &#34;Makanya, Hyung jangan kemana-mana. Kalo nggak ada Hyung, ruangan ini nggak akan bisa sebersih kalo kita kerjain bareng...&#34;&#xA;&#xA;...&#xA;&#xA;…Oh.&#xA;&#xA;Mingyu menunduk, sengaja nggak menatap Joshua. Takut, kalau-kalau dia nggak sengaja menyinggung luka yang masih basah. Dia nggak tau apa masalah yang Joshua dan Jeonghan pendam sampai mereka kepingin keluar—Seungcheol bilang itu urusannya—tapi Mingyu merasa salah kalau cuma diam saja.&#xA;&#xA;&#34;Mingyu-yah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya?&#34; akhirnya dia melihat mata Joshua lagi.&#xA;&#xA;&#34;Masih kotor tuh,&#34; yang lebih tua memicingkan mata menginspeksi hasil kerja Mingyu. &#34;Di sini. Gimana sih, nggak lulus standar kebersihan, nggak dapet makan malem besok.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lah?? Ya jangan gitu dong, Hyung??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Betewe, gue giliran mesen makanan besok\~&#34; :p&#xA;&#xA;&#34;Hyung!!&#34; (；ﾟдﾟ)]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuafortunate" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuafortunate</span></a></p>

<p>Setelah mereka menangis sejadinya saban hari, rasanya lega. Rasanya segala yang mereka tahan hingga detik ini urai begitu saja. Joshua menatap Jeonghan sebelum mereka berdua tertawa, saling mengejek karena mereka nampak jelek. Pipi basah, ingus meler, wajah merah.</p>



<p>“Idol macem apa lo, jelek banget,” seloroh Jeonghan.</p>

<p>“Ngaca dulu gih,” balas Joshua.</p>

<p>Mereka yakin member yang lain juga mengetahui persoalan mereka berusaha keluar, tapi karena nggak ada yang mengungkitnya, maka Joshua dan Jeonghan bersikap seolah nggak pernah terjadi apapun. Mereka latihan bareng, berebut makanan bareng, bersenda gurau dan bertengkar—kejadian sehari-hari di dorm Seventeen yang sempit.</p>

<p>Yang berbeda hanyalah Seungcheol yang kini mendekatkan dirinya pada Jeonghan dan Joshua. “Sori. Kalian yang umurnya paling deket sama gue sekarang. Harusnya gue lebih merhatiin kalian,” dia berkata seakan-akan dia sudah menampuk peran sebagai leader. Seungcheol sadar kalau dia cenderung lebih dekat dengan member lama dan mengabaikan Jeonghan dan Joshua, yang notabene kedua dan ketiga tertua di grup. “Gue janji apapun yang ada di kepala kalian, gue bakal dengerin baik-baik.”</p>

<p>Jeonghan dan Joshua lihat-lihatan sesaat sebelum mereka tertawa, membuat Seungcheol salah tingkah dan juga ikut tertawa.</p>

<p>Hari-hari berjalan lagi seperti biasa. Joshua mengabari ibunya tanpa memberitahu keputusannya dengan Jeonghan yang gagal itu. Dia nggak mau ibunya menemukan ada kegoyahan dalam niat anaknya. Kata &#39;pulang&#39; terdengar begitu menggoda, namun kata &#39;pulang&#39; juga berarti kekecewaan. Bila bukan kekecewaan orang lain, maka kekecewaan bagi dirinya sendiri.</p>

<p>Hidup dengan dihantui &#39;what if&#39; sama buruknya dengan menyerah sebelum berjuang.</p>

<p>“Hyung.”</p>

<p>Joshua mengerjap, menemukan Mingyu di hadapannya. Otaknya berhenti berkelana sejenak dan memerhatikan anak di hadapannya. Kim Mingyu. Tinggi, kurus, polos. Sering meringis dengan taring menonjol pada giginya yang nggak rata. Sebuah ciri khas yang membuatnya mudah diingat orang. Sekarang pun dia lagi meringis pada Joshua.</p>

<p>“Lo orangnya telaten ya,” tanpa menunggu reaksi Joshua, Mingyu meneruskan. Mereka hanya berdua di ruang tengah. Joshua sedang melipat baju yang sudah kering sedangkan Mingyu mengelap meja rendah tempat mereka makan. Mereka telah mengepel lantai dan merapikan apa yang bisa dirapikan—bantal tempat tidur Jun dan Seungcheol, piring-piring kotor, sampah berbagai macam. “Kalo lo yang benahin, rasanya ruangan ini jadi bersih banget.”</p>

<p>Joshua nggak paham maksud omongan Mingyu, tapi dia bergumam sebagai tanda bahwa dia mendengarkan.</p>

<p>“Member kita tuh jorok banget. Kalo nggak ada yang ngurusin, keknya mereka bakal mati ketimbun sampah semua,” Mingyu mendecak. “Piring ditumpuk di bak cuci, nggak langsung dicuci. Abis buat makanan, dapur berantakan. Cucian kering aja mereka males ngelipet, maen langsung dipake aja.”</p>

<p>Joshua ketawa mendengar Mingyu mengeluh macam ibu-ibu komplek apartemen tempat mereka tinggal. Dia mengangguk-angguk setuju.</p>

<p>“Mau gimana lagi, Mingyu-yah, cowok usia segituan—”</p>

<p>“—paling nggak banget.”</p>

<p>“—the worst.”</p>

<p>Mingyu dan Joshua mengerjap, saling menatap untuk sesaat. Meski bahasa yang mereka gunakan beda, artinya tetaplah sama. Joshua terdiam, seolah menemukan sesuatu yang baru di wajah yang telah lama dia lihat.</p>

<p>“Ha!”</p>

<p>Lalu, mereka berdua tertawa terbahak-bahak.</p>

<p>“Jahat banget lo, jangan gitu~“</p>

<p>“Biarin! Orang bener kok. Hyung sendiri ketawa yee~“</p>

<p>Dan, saat tawa reda dan tangan kembali bekerja, Mingyu berdeham dan bergumam, “Makanya, Hyung jangan kemana-mana. Kalo nggak ada Hyung, ruangan ini nggak akan bisa sebersih kalo kita kerjain bareng...”</p>

<p>...</p>

<p><em>…Oh</em>.</p>

<p>Mingyu menunduk, sengaja nggak menatap Joshua. Takut, kalau-kalau dia nggak sengaja menyinggung luka yang masih basah. Dia nggak tau apa masalah yang Joshua dan Jeonghan pendam sampai mereka kepingin keluar—Seungcheol bilang itu urusannya—tapi Mingyu merasa salah kalau cuma diam saja.</p>

<p>“Mingyu-yah.”</p>

<p>“Ya?” akhirnya dia melihat mata Joshua lagi.</p>

<p>“Masih kotor tuh,” yang lebih tua memicingkan mata menginspeksi hasil kerja Mingyu. “Di sini. Gimana sih, nggak lulus standar kebersihan, nggak dapet makan malem besok.”</p>

<p>“Lah?? Ya jangan gitu dong, Hyung??”</p>

<p>“Betewe, gue giliran mesen makanan besok~” :p</p>

<p>“Hyung!!” (；ﾟдﾟ)</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/4-or-maybe-not</guid>
      <pubDate>Sat, 31 May 2025 16:02:56 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>I wonder if you feel the same</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/3-i-wonder-if-you-feel-the-same?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuafortunate&#xA;&#xA;&#34;...Keluar dari grup?&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Mm,&#34; Seungcheol mengangguk. Kedua lengan melipat di dada. Alisnya mengerut dan bibirnya mengerucut, jelas nggak suka sama kabar yang dia dengar dari manajemen. &#34;Mereka berdua bilang kalo udah nggak mau lanjut lagi. Katanya juga sampe nangis...&#34; Gamitan jari-jemarinya mengerat pada kaus putih yang dikenakannya. &#34;Tapi untungnya nggak jadi. Abis ditenangin dan diminta pikirin baik-baik, akhirnya manajemen bantu cari jalan keluar dan mereka nggak jadi pergi.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu terduduk. Kepala tertunduk. Rasanya isi kepalanya campur aduk. Perputaran member seperti ini tuh sudah biasa, bukan sesuatu yang perlu mereka besar-besarkan, meski dengan kepergian tiap member, mereka mundur satu langkah karena debut mereka alamat diundur lagi.&#xA;&#xA;Semakin banyak yang keluar, semakin jauh mereka dari impian debut. Sebuah pertaruhan yang terlalu besar bagi para member, khususnya yang sudah lama berada di agensi. Seungcheol, Jihoon, Soonyoung, dan dirinya...&#xA;&#xA;&#34;Jangan sebut-sebut soal ini di depan mereka berdua. Paham, Soonyoung-ah?&#34;&#xA;&#xA;Ucapan Seungcheol membuat Mingyu kembali tersadar. Dia lalu memutar kepala perlahan, menatap Soonyoung yang sepertinya bakal meledak sebentar lagi. Dia selalu begitu. Emosional. Omongan nggak pakai filter. Semua yang keluar grup dianggapnya pengkhianat, tapi di sisi lain dia juga nggak mau ada orang-orang yang nggak sesuai standar berada di grup: yang malas, yang niat menjadi idolnya kurang, yang menyepelekan kesalahan-kesalahan kecil, yang melanggar peraturan dengan pacaran sama fans. Orang-orang yang berpotensi akan menyeret grup mereka ke liang kubur.&#xA;&#xA;Soonyoung mempertaruhkan banyak hal untuk debut. Begitu pun Seungcheol dan Jihoon. Mingyu? Mingyu nggak merasa begitu. Ibunya sendiri bilang kalau sampai dia berhasil jadi penyanyi, maka anjing pun bisa nyanyi, alias Mingyu nggak diharapkan debut oleh orangtuanya. Mereka hanya membiarkan putranya menekuni apa yang menarik minatnya, selama pendidikannya tetap jalan. Kalau dia gagal jadi idol, dia bakal balik main sepak bola lagi atau meneruskan latihan merajutnya. Kim Mingyu tipe yang bisa sukses apapun bidang yang dia putuskan untuk tekuni.&#xA;&#xA;&#34;Orang yang udah pernah nyerah sekali kayak gitu,&#34; Soonyoung menendang meja rendah tempat mereka biasa makan. Mingyu terlonjak kaget. &#34;Nggak ada jaminan mereka nggak bakal nyerah buat kedua kali!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kwon Soonyoung!&#34; Seungcheol juga menaikkan nadanya.&#xA;&#xA;Mingyu gelisah. Dia nggak suka ketika mereka bertengkar kayak gini. Di satu sisi, dia paham kalau Soonyoung cuma mau yang terbaik buat mereka semua. Di sisi lain, dia juga kesal karena Soonyoung menuduh Jeonghan dan Joshua akan berusaha meninggalkan mereka lagi.&#xA;&#xA;...&#xA;&#xA;Hela napas. &#34;Capek, Wonu-hyung...,&#34; Mingyu senderan ke bahu Wonwoo yang duduk di sebelahnya sedari tadi dalam diam. Wonwoo pun tertawa pelan.&#xA;&#xA;&#34;Kayak gini kan udah biasa,&#34; selorohnya. Dia kembali memandang Soonyoung dan Seungcheol yang kini bersilat lidah. &#34;Dia selalu mikirin nasib kita semua, Mingyu-yah. Biarpun emang lidahnya tajem, perfeksionis pula... Nggak keitung Seokmin-ah ngadu ke gue berapa kali gegara Soonie.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Stop ketawa, anjir,&#34; Mingyu mengernyitkan alis. &#34;Udah mau bunuh-bunuhan itu berdua.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gak lah,&#34; Wonwoo meringis. &#34;Kalo nggak ada Soonie, Cheol juga nggak bakal bisa lanjut.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalo denger lo manggil namanya nggak pake embel-embel, bisa dipiting lo, Hyung.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hah. Nggak takut\~&#34;&#xA;&#xA;Mingyu mendengus, lalu terdiam. Abai akan huru-hara yang makin memanas di hadapannya, pikiran anak itu melayang ke kalimat yang diucapkan Seungcheol sebelumnya: Joshua. Nangis.&#xA;&#xA;....&#xA;&#xA;Sigh.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuafortunate" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuafortunate</span></a></p>

<p>”...Keluar dari grup?”</p>



<p>“Mm,” Seungcheol mengangguk. Kedua lengan melipat di dada. Alisnya mengerut dan bibirnya mengerucut, jelas nggak suka sama kabar yang dia dengar dari manajemen. “Mereka berdua bilang kalo udah nggak mau lanjut lagi. Katanya juga sampe nangis...” Gamitan jari-jemarinya mengerat pada kaus putih yang dikenakannya. “Tapi untungnya nggak jadi. Abis ditenangin dan diminta pikirin baik-baik, akhirnya manajemen bantu cari jalan keluar dan mereka nggak jadi pergi.”</p>

<p>Mingyu terduduk. Kepala tertunduk. Rasanya isi kepalanya campur aduk. Perputaran member seperti ini tuh sudah biasa, bukan sesuatu yang perlu mereka besar-besarkan, meski dengan kepergian tiap member, mereka mundur satu langkah karena debut mereka alamat diundur lagi.</p>

<p>Semakin banyak yang keluar, semakin jauh mereka dari impian debut. Sebuah pertaruhan yang terlalu besar bagi para member, khususnya yang sudah lama berada di agensi. Seungcheol, Jihoon, Soonyoung, dan dirinya...</p>

<p>“Jangan sebut-sebut soal ini di depan mereka berdua. Paham, Soonyoung-ah?”</p>

<p>Ucapan Seungcheol membuat Mingyu kembali tersadar. Dia lalu memutar kepala perlahan, menatap Soonyoung yang sepertinya bakal meledak sebentar lagi. Dia selalu begitu. Emosional. Omongan nggak pakai filter. Semua yang keluar grup dianggapnya pengkhianat, tapi di sisi lain dia juga nggak mau ada orang-orang yang nggak sesuai standar berada di grup: yang malas, yang niat menjadi idolnya kurang, yang menyepelekan kesalahan-kesalahan kecil, yang melanggar peraturan dengan pacaran sama fans. Orang-orang yang berpotensi akan menyeret grup mereka ke liang kubur.</p>

<p>Soonyoung mempertaruhkan banyak hal untuk debut. Begitu pun Seungcheol dan Jihoon. Mingyu? Mingyu nggak merasa begitu. Ibunya sendiri bilang kalau sampai dia berhasil jadi penyanyi, maka anjing pun bisa nyanyi, alias Mingyu nggak diharapkan debut oleh orangtuanya. Mereka hanya membiarkan putranya menekuni apa yang menarik minatnya, selama pendidikannya tetap jalan. Kalau dia gagal jadi idol, dia bakal balik main sepak bola lagi atau meneruskan latihan merajutnya. Kim Mingyu tipe yang bisa sukses apapun bidang yang dia putuskan untuk tekuni.</p>

<p>“Orang yang udah pernah nyerah sekali kayak gitu,” Soonyoung menendang meja rendah tempat mereka biasa makan. Mingyu terlonjak kaget. “Nggak ada jaminan mereka nggak bakal nyerah buat kedua kali!”</p>

<p>“Kwon Soonyoung!” Seungcheol juga menaikkan nadanya.</p>

<p>Mingyu gelisah. Dia nggak suka ketika mereka bertengkar kayak gini. Di satu sisi, dia paham kalau Soonyoung cuma mau yang terbaik buat mereka semua. Di sisi lain, dia juga kesal karena Soonyoung menuduh Jeonghan dan Joshua akan berusaha meninggalkan mereka lagi.</p>

<p>...</p>

<p>Hela napas. “Capek, Wonu-hyung...,” Mingyu senderan ke bahu Wonwoo yang duduk di sebelahnya sedari tadi dalam diam. Wonwoo pun tertawa pelan.</p>

<p>“Kayak gini kan udah biasa,” selorohnya. Dia kembali memandang Soonyoung dan Seungcheol yang kini bersilat lidah. “Dia selalu mikirin nasib kita semua, Mingyu-yah. Biarpun emang lidahnya tajem, perfeksionis pula... Nggak keitung Seokmin-ah ngadu ke gue berapa kali gegara Soonie.”</p>

<p>“Stop ketawa, anjir,” Mingyu mengernyitkan alis. “Udah mau bunuh-bunuhan itu berdua.”</p>

<p>“Gak lah,” Wonwoo meringis. “Kalo nggak ada Soonie, Cheol juga nggak bakal bisa lanjut.”</p>

<p>“Kalo denger lo manggil namanya nggak pake embel-embel, bisa dipiting lo, Hyung.”</p>

<p>“<em>Hah</em>. Nggak takut~“</p>

<p>Mingyu mendengus, lalu terdiam. Abai akan huru-hara yang makin memanas di hadapannya, pikiran anak itu melayang ke kalimat yang diucapkan Seungcheol sebelumnya: Joshua. Nangis.</p>

<p>....</p>

<p><em>Sigh</em>.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/3-i-wonder-if-you-feel-the-same</guid>
      <pubDate>Fri, 30 May 2025 16:01:01 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Feels like it&#39;s becoming new</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/2-feels-like-its-becoming-new?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuafortunate&#xA;&#xA;Terbang sendiri dari rumahnya di Los Angeles dan membuat ibunya kehilangan putra semata wayangnya ke negara yang telah lama mereka tinggalkan bukanlah satu-satunya kesalahan hidup yang dilakukan Joshua.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Pernah dia membuat ibunya cemas karena nggak pulang semalaman setelah bertengkar dengan ayahnya. Joshua memilih mengungsi ke rumah sahabat karibnya, menyelinap ke klub malam sampai jam dua pagi dan tidur lelap karena teler berat. Dia ingat ibunya mengambil tangannya untuk ditangkup, nggak berkata apapun selain ajakan pulang. Merasa berdosa, dia pun menurut.&#xA;&#xA;Pernah juga Joshua diajak ciuman sama senior cowok di kamp kristen pas dia masih kelas 1 junior high. Dia pikir cowok sama cowok nggak akan punya ketertarikan kayak gitu, maka dia menolak keras, bahkan agak jijik. Nggak lama, santer terdengar kabar seniornya itu drop out dari sekolah dan diusir dari rumahnya karena ketahuan gay. Walau Joshua nggak melakukan apa-apa, tapi tetap ada sepenggal rasa bersalah yang bercokol di sana, mengendap lama di sudut dalam hatinya.&#xA;&#xA;Sekarang, hidup di antara orang-orang asing yang bahasanya saja Joshua nggak mengerti membuatnya mempertanyakan begitu banyak hal mengenai keputusan hidupnya. Sure, Joshua senang musik. Bernyanyi sambil memetik gitar dan menghasilkan uang adalah pekerjaan impiannya. Ketika seseorang menawarkan kesempatan untuknya berkarir dalam musik, Joshua pikir, &#39;Sure. Why not?&#39;&#xA;&#xA;Apa sih susahnya nyanyi sambil nari dikit?&#xA;&#xA;Ternyata susah. Banget. Hell, even. Joshua nggak nyangka dirinya bakal kelaparan hampir setiap hari, tapi masih harus latihan dalam keadaan lapar. Mereka diberi makan tapi dijatah dan seadanya. Pun mereka harus membagi semuanya bersama-sama. Nggak jarang makanan yang dikirim oleh ibu seorang member disantap habis dalam sehari oleh semua member. Belum lagi kata-kata pedih yang dilontarkan pelatih dan staff mereka...&#xA;&#xA;&#34;Kita mending cabut aja nggak sih?&#34;&#xA;&#xA;Yoon Jeonghan. Dia seumuran sama Joshua, beda beberapa bulan. Joshua hanya memandangnya balik dengan kelelahan luar biasa. Ngapain sih mereka harus kayak gini? Debut pun belum pasti, mana diundur terus. Agensi pun di ambang bangkrut. Member yang keluar-masuk tanpa henti. Kalaupun Seventeen debut tapi tetau flop, terus apa artinya mereka harus menderita begini?&#xA;&#xA;Joshua bisa menelepon ibunya dan meminta tiket pulang. Dia bisa meninggalkan ini semua dengan mudah. Selalu ada tempat baginya di Downtown. Palingan teman-temannya bakal mengejeknya sedikit, tapi mereka nggak akan lantas meninggalkannya. Dia bisa melanjutkan kuliah sambil kerja sambilan.&#xA;&#xA;Hidupnya setelah gagal debut nggak terdengar buruk.&#xA;&#xA;&#34;Ayok.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuafortunate" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuafortunate</span></a></p>

<p>Terbang sendiri dari rumahnya di Los Angeles dan membuat ibunya kehilangan putra semata wayangnya ke negara yang telah lama mereka tinggalkan bukanlah satu-satunya kesalahan hidup yang dilakukan Joshua.</p>



<p>Pernah dia membuat ibunya cemas karena nggak pulang semalaman setelah bertengkar dengan ayahnya. Joshua memilih mengungsi ke rumah sahabat karibnya, menyelinap ke klub malam sampai jam dua pagi dan tidur lelap karena teler berat. Dia ingat ibunya mengambil tangannya untuk ditangkup, nggak berkata apapun selain ajakan pulang. Merasa berdosa, dia pun menurut.</p>

<p>Pernah juga Joshua diajak ciuman sama senior cowok di kamp kristen pas dia masih kelas 1 junior high. Dia pikir cowok sama cowok nggak akan punya ketertarikan kayak gitu, maka dia menolak keras, bahkan agak jijik. Nggak lama, santer terdengar kabar seniornya itu drop out dari sekolah dan diusir dari rumahnya karena ketahuan gay. Walau Joshua nggak melakukan apa-apa, tapi tetap ada sepenggal rasa bersalah yang bercokol di sana, mengendap lama di sudut dalam hatinya.</p>

<p>Sekarang, hidup di antara orang-orang asing yang bahasanya saja Joshua nggak mengerti membuatnya mempertanyakan begitu banyak hal mengenai keputusan hidupnya. Sure, Joshua senang musik. Bernyanyi sambil memetik gitar dan menghasilkan uang adalah pekerjaan impiannya. Ketika seseorang menawarkan kesempatan untuknya berkarir dalam musik, Joshua pikir, <em>&#39;Sure. Why not?&#39;</em></p>

<p>Apa sih susahnya nyanyi sambil nari dikit?</p>

<p>Ternyata susah. Banget. <em>Hell</em>, even. Joshua nggak nyangka dirinya bakal kelaparan hampir setiap hari, tapi masih harus latihan dalam keadaan lapar. Mereka diberi makan tapi dijatah dan seadanya. Pun mereka harus membagi semuanya bersama-sama. Nggak jarang makanan yang dikirim oleh ibu seorang member disantap habis dalam sehari oleh semua member. Belum lagi kata-kata pedih yang dilontarkan pelatih dan staff mereka...</p>

<p>“Kita mending cabut aja nggak sih?”</p>

<p>Yoon Jeonghan. Dia seumuran sama Joshua, beda beberapa bulan. Joshua hanya memandangnya balik dengan kelelahan luar biasa. Ngapain sih mereka harus kayak gini? Debut pun belum pasti, mana diundur terus. Agensi pun di ambang bangkrut. Member yang keluar-masuk tanpa henti. Kalaupun Seventeen debut tapi tetau flop, terus apa artinya mereka harus menderita begini?</p>

<p>Joshua bisa menelepon ibunya dan meminta tiket pulang. Dia bisa meninggalkan ini semua dengan mudah. Selalu ada tempat baginya di Downtown. Palingan teman-temannya bakal mengejeknya sedikit, tapi mereka nggak akan lantas meninggalkannya. Dia bisa melanjutkan kuliah sambil kerja sambilan.</p>

<p>Hidupnya setelah gagal debut nggak terdengar buruk.</p>

<p>“Ayok.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/2-feels-like-its-becoming-new</guid>
      <pubDate>Fri, 30 May 2025 06:58:37 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>After I met you, everything</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/1-cfww?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuafortunate&#xA;&#xA;&#34;Hi.&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Sodoran tangan membuat Mingyu terkesiap. Kata manajemen, orang yang akan bergabung dengan kelompok mereka berikutnya itu lebih tua darinya. Kelahiran 95, berarti seusia Seungcheol-hyung. Tapi, bukan bungkukan badan atau kedikan kepala, melainkan uluran tangan yang ditawarkan orang bernama Joshua Hong itu, seolah-olah dirinya dan Mingyu setara.&#xA;&#xA;Ada jeda merentang untuk beberapa saat, bahkan Seungcheol-hyung sampai mendorong bahunya dengan sikut sebelum Mingyu akhirnya tersadar dan menyambut uluran tangan Joshua.&#xA;&#xA;Ia tersenyum, lebar dan secerah mentari di musim panas kota Seoul yang sesak.&#xA;&#xA;&#34;Halo! Namaku Kim Mingyu! Umm, n-nais tu mitch yu...??&#34;&#xA;&#xA;Lalu, suara tawa lantang terdengar. Bukan hanya dari Joshua, tetapi juga dari sekeliling mereka. Padahal Mingyu merasa nggak salah ngomong kok (kesampingkan aksen, trims)??&#xA;&#xA;&#34;Nice to meet you too, Kim Mingyu,&#34; masih tertawa, Joshua menggerakkan tangan mereka ke atas dan ke bawah. &#34;I hope we can be friends. All of us.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu nggak paham arti dari ucapan Joshua yang terakhir. Tapi ada satu hal yang Mingyu tangkap dari raut muka orang itu. Senyum Mingyu memudar. Matanya melebar sedikit.&#xA;&#xA;Mata Joshua nggak tertawa.&#xA;&#xA;...&#xA;&#xA;...Kenapa?]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuafortunate" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuafortunate</span></a></p>

<p>“Hi.”</p>



<p>Sodoran tangan membuat Mingyu terkesiap. Kata manajemen, orang yang akan bergabung dengan kelompok mereka berikutnya itu lebih tua darinya. Kelahiran 95, berarti seusia Seungcheol-hyung. Tapi, bukan bungkukan badan atau kedikan kepala, melainkan uluran tangan yang ditawarkan orang bernama Joshua Hong itu, seolah-olah dirinya dan Mingyu setara.</p>

<p>Ada jeda merentang untuk beberapa saat, bahkan Seungcheol-hyung sampai mendorong bahunya dengan sikut sebelum Mingyu akhirnya tersadar dan menyambut uluran tangan Joshua.</p>

<p>Ia tersenyum, lebar dan secerah mentari di musim panas kota Seoul yang sesak.</p>

<p>“Halo! Namaku Kim Mingyu! Umm, n-nais tu mitch yu...??”</p>

<p>Lalu, suara tawa lantang terdengar. Bukan hanya dari Joshua, tetapi juga dari sekeliling mereka. Padahal Mingyu merasa nggak salah ngomong kok (kesampingkan aksen, trims)??</p>

<p>“Nice to meet you too, Kim Mingyu,” masih tertawa, Joshua menggerakkan tangan mereka ke atas dan ke bawah. “I hope we can be friends. All of us.”</p>

<p>Mingyu nggak paham arti dari ucapan Joshua yang terakhir. Tapi ada satu hal yang Mingyu tangkap dari raut muka orang itu. Senyum Mingyu memudar. Matanya melebar sedikit.</p>

<p><em>Mata Joshua nggak tertawa.</em></p>

<p>...</p>

<p>...Kenapa?</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/1-cfww</guid>
      <pubDate>Thu, 29 May 2025 15:35:00 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>