<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>gyushuabakery &amp;mdash; 🌾</title>
    <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuabakery</link>
    <description>narrative writings of thesunmetmoon</description>
    <pubDate>Tue, 14 Apr 2026 20:58:05 +0000</pubDate>
    <image>
      <url>https://i.snap.as/K7JGOEOo.png</url>
      <title>gyushuabakery &amp;mdash; 🌾</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuabakery</link>
    </image>
    <item>
      <title>3.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/3-dcc5?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuabakery&#xA;&#xA;&#34;Ada apa ini?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Papa...&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Bila ibunya langsung berlari memeluknya, reaksi ayahnya justru sebaliknya. Lelaki yang sela rambutnya telah ditumbuhi uban dan keriput menghiasi wajah tampannya itu tertegun saat menemukan anak semata wayangnya berdiri di toko roti mereka tanpa kabar sebelumnya.&#xA;&#xA;&#34;Oh...,&#34; tasnya jatuh ke lantai. Kedua tangannya yang terangkat pun gemetar kala mengelus pipi Joshua. &#34;Oh...anakku...&#34;&#xA;&#xA;Sekali lagi, haru biru menyelimuti benak Joshua, namun tidak seperti sebelumnya, suasana tersebut dengan cepat dihancurkan oleh gumaman lelaki asing yang baru saja mencari ribut dengannya.&#xA;&#xA;&#34;Bos, dia pulang cuma buat ngebujuk Bos jual toko ini dan pindah,&#34; dengus lelaki itu. &#34;Nggak usah terlalu seneng gitu.&#34;&#xA;&#xA;Kening ayah Joshua kemudian mengerut. Ia melepaskan pelukannya dan melihat bergantian ke arah Mingyu dan putranya. Joshua melotot ke arah Mingyu, sedangkan Mingyu membuang muka seakan tidak baru saja menjatuhkan bom dan angkat tangan detik itu juga.&#xA;&#xA;&#34;...Menjual?&#34;&#xA;&#xA;&#34;...Pa, Ma, duduk dulu yuk? Shua bisa jelasin.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;...Jadi, kalo kita itung prospek penjualan dalam lima tahun ke depan dari lingkungan sekitar, maka laba yang bisa diterima toko ini akan berkurang terus-terusan. Menurut hasil survey perusahaan kami, jumlah penduduk usia muda di daerah ini terus turun. Mereka pindah ke kota besar, ninggalin hanya generasi tua dan sedikit anak-anak. Konsumen toko roti kita pun bakal turun. Kalo nggak ada regenerasi, area ini pelan-pelan bakal mati,&#34; Joshua menunjukkan beberapa pamflet mengenai rancang bangunan. &#34;Jadi, daripada nunggu bangkrut dan akhirnya tutup, menurutku mending kita jual toko ini mumpung harga tanahnya masih cukup bagus dan pindah ke tempat lain yang lebih rame. Nanti di sana kita bisa buka toko roti lagi yang prospek labanya lebih besar. Nah, area ini bakal diubah kayak gini sama perusahaan kami. Jalanan ini bakal kita rombak jadi area wisata, supaya generasi muda tertarik liburan ke sini dan ningkatin ekonomi daerah.&#34;&#xA;&#xA;Dengan bersemangat, Joshua lalu meneruskan lobinya.&#xA;&#xA;&#34;Nggak cuma itu, kita juga rencana mau bangun kondominium, sekolah, gedung perkantoran, pusat kuliner, department store, juga taman yang indah. Area ini perlu dibangun lagi supaya kembali hidup. Diratakan dulu semua dan mulai dari awal lagi. Nanti, kalo udah hidup lagi, kita bisa pindah ke sini lagi. Aku bakalan cari cara supaya kita bisa beli rumah dan toko dengan harga bagus.&#34;&#xA;&#xA;Ia mendongak. Senyumnya berseri-seri karena masa depan area ini yang direncanakan oleh perusahaan tempatnya bekerja sesuai dengan apa yang ada dalam bayangannya. Area ini hampir pasti mati bila orang-orang sepertinya tidak datang dan merevitalisasi semua.&#xA;&#xA;Namun, yang ditemuinya hanya raut lelah ayahnya, kesedihan ibunya, juga kegeraman lelaki bernama Mingyu yang berdiri persis di belakang ayah Joshua.&#xA;&#xA;&#34;Lo,&#34; tunjuk Mingyu. &#34;Keluar.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gyu, stop...,&#34; ibu Joshua mencoba menenangkannya.&#xA;&#xA;&#34;NGGAK DENGER YA? GUE BILANG KELUAR! KELUAR ATO GUE PAKSA LO—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kim Mingyu.&#34;&#xA;&#xA;Hanya sepatah kata, namun ketegasan nada ayahnya sanggup membuat lelaki besar dalam angkara itu berhenti. Kepalanya tertunduk dan dibuangnya muka. Tangan mengepal kencang hingga berurat, menahan diri untuk tidak menonjok pemuda yang mengaku sebagai anak tunggal pasangan Hong tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Nak...inikah masa depan yang kamu liat akan toko kita?&#34;&#xA;&#xA;Joshua kebingungan meski ia perlahan mengangguk. Sang ayah menghela napas. Ia kemudian memerhatikan lembaran-lembaran yang ditunjukkan Joshua. Dalam hatinya, ia merasa sedih karena putranya sendiri tidak melihat apa yang ia lihat dalam benaknya. Dalam kepalanya, benang kusut nan rumit.&#xA;&#xA;&#34;Biarin Papa pelajarin dan pikirin dulu ya?&#34; pada akhirnya, lelaki itu tersenyum. Bagaimanapun, yang di hadapannya saat ini adalah anak semata wayang yang telah dinanti-nanti oleh dirinya dan istrinya. &#34;Papa nggak bisa kasih jawaban secepet itu. Boleh kan?&#34;&#xA;&#xA;Wajahnya mekar oleh cahaya dan ia buru-buru mengangguk berkali-kali. &#34;Boleh! Nanti Papa kabarin aku aja! Aku nginep nggak jauh dari kota ini. Nanti aku ke sini lagi kapan-kapan, sekalian ku mau ke toko-toko tetangga juga,&#34; berkata begitu, ia mulai membenahi dokumen di atas meja.&#xA;&#xA;&#34;Kamu nggak nginep sini aja, Nak? Kamar kamu kan ada...,&#34; ibunya angkat bicara.&#xA;&#xA;&#34;Eh? Nggak ah, kesempitan. Aku perlu meja juga buat kerja,&#34; jawabnya sambil lalu. &#34;Nggak pa-pa kok, Ma, kalo mau dijadiin ruangan lain. Toh aku juga udah nggak tinggal sini.&#34; Joshua lalu memberikan kartu namanya ke ayahnya. &#34;Nomer hp kantorku yang ini ya, Pa. Nanti info aja ke nomer ini, jangan ke nomer pribadiku, soalnya buat pertanggung jawaban ke kantor.&#34;&#xA;&#xA;Lalu, semendadak ia muncul, Joshua berpamitan pergi setelah ia menolak juga tawaran ibunya untuk makan malam di rumah. Ayah dan ibunya hanya bisa menatap punggung anak mereka dengan sedih.&#xA;&#xA;&#34;Dulu dia nggak begini...,&#34; desah ibunya.&#xA;&#xA;&#34;Udahlah, Ma, anak kita udah gede. Mungkin ada hal yang lebih penting buat dia sekarang, bukan orangtuanya lagi...&#34;&#xA;&#xA;Ibunya mulai menangis dan ayahnya hanya bisa memeluk istri tercintanya. Mingyu menyaksikan itu semua dalam diam dengan kebencian membengkak di dadanya. Dua orang yang selama ini telah begitu baik pada Mingyu yang bukan siapa-siapa disakiti oleh darah daging mereka sendiri. Anak yang selalu mereka banggakan pada Mingyu dan orang-orang.&#xA;&#xA;Joshua Hong.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuabakery" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuabakery</span></a></p>

<p>“Ada apa ini?”</p>

<p>“Papa...”</p>



<p>Bila ibunya langsung berlari memeluknya, reaksi ayahnya justru sebaliknya. Lelaki yang sela rambutnya telah ditumbuhi uban dan keriput menghiasi wajah tampannya itu tertegun saat menemukan anak semata wayangnya berdiri di toko roti mereka tanpa kabar sebelumnya.</p>

<p>“Oh...,” tasnya jatuh ke lantai. Kedua tangannya yang terangkat pun gemetar kala mengelus pipi Joshua. “Oh...anakku...”</p>

<p>Sekali lagi, haru biru menyelimuti benak Joshua, namun tidak seperti sebelumnya, suasana tersebut dengan cepat dihancurkan oleh gumaman lelaki asing yang baru saja mencari ribut dengannya.</p>

<p>“Bos, dia pulang cuma buat ngebujuk Bos jual toko ini dan pindah,” dengus lelaki itu. “Nggak usah terlalu seneng gitu.”</p>

<p>Kening ayah Joshua kemudian mengerut. Ia melepaskan pelukannya dan melihat bergantian ke arah Mingyu dan putranya. Joshua melotot ke arah Mingyu, sedangkan Mingyu membuang muka seakan tidak baru saja menjatuhkan bom dan angkat tangan detik itu juga.</p>

<p>”...Menjual?”</p>

<p>”...Pa, Ma, duduk dulu yuk? Shua bisa jelasin.”</p>

<hr/>

<p>”...Jadi, kalo kita itung prospek penjualan dalam lima tahun ke depan dari lingkungan sekitar, maka laba yang bisa diterima toko ini akan berkurang terus-terusan. Menurut hasil survey perusahaan kami, jumlah penduduk usia muda di daerah ini terus turun. Mereka pindah ke kota besar, ninggalin hanya generasi tua dan sedikit anak-anak. Konsumen toko roti kita pun bakal turun. Kalo nggak ada regenerasi, area ini pelan-pelan bakal mati,” Joshua menunjukkan beberapa pamflet mengenai rancang bangunan. “Jadi, daripada nunggu bangkrut dan akhirnya tutup, menurutku mending kita jual toko ini mumpung harga tanahnya masih cukup bagus dan pindah ke tempat lain yang lebih rame. Nanti di sana kita bisa buka toko roti lagi yang prospek labanya lebih besar. Nah, area ini bakal diubah kayak gini sama perusahaan kami. Jalanan ini bakal kita rombak jadi area wisata, supaya generasi muda tertarik liburan ke sini dan ningkatin ekonomi daerah.”</p>

<p>Dengan bersemangat, Joshua lalu meneruskan lobinya.</p>

<p>“Nggak cuma itu, kita juga rencana mau bangun kondominium, sekolah, gedung perkantoran, pusat kuliner, department store, juga taman yang indah. Area ini perlu dibangun lagi supaya kembali hidup. Diratakan dulu semua dan mulai dari awal lagi. Nanti, kalo udah hidup lagi, kita bisa pindah ke sini lagi. Aku bakalan cari cara supaya kita bisa beli rumah dan toko dengan harga bagus.”</p>

<p>Ia mendongak. Senyumnya berseri-seri karena masa depan area ini yang direncanakan oleh perusahaan tempatnya bekerja sesuai dengan apa yang ada dalam bayangannya. Area ini hampir pasti mati bila orang-orang sepertinya tidak datang dan merevitalisasi semua.</p>

<p>Namun, yang ditemuinya hanya raut lelah ayahnya, kesedihan ibunya, juga kegeraman lelaki bernama Mingyu yang berdiri persis di belakang ayah Joshua.</p>

<p>“Lo,” tunjuk Mingyu. “Keluar.”</p>

<p>“Hah?”</p>

<p>“Gyu, stop...,” ibu Joshua mencoba menenangkannya.</p>

<p>“NGGAK DENGER YA? GUE BILANG KELUAR! KELUAR ATO GUE PAKSA LO—”</p>

<p>“<em>Kim Mingyu</em>.”</p>

<p>Hanya sepatah kata, namun ketegasan nada ayahnya sanggup membuat lelaki besar dalam angkara itu berhenti. Kepalanya tertunduk dan dibuangnya muka. Tangan mengepal kencang hingga berurat, menahan diri untuk tidak menonjok pemuda yang mengaku sebagai anak tunggal pasangan Hong tersebut.</p>

<p>“Nak...inikah masa depan yang kamu liat akan toko kita?”</p>

<p>Joshua kebingungan meski ia perlahan mengangguk. Sang ayah menghela napas. Ia kemudian memerhatikan lembaran-lembaran yang ditunjukkan Joshua. Dalam hatinya, ia merasa sedih karena putranya sendiri tidak melihat apa yang ia lihat dalam benaknya. Dalam kepalanya, benang kusut nan rumit.</p>

<p>“Biarin Papa pelajarin dan pikirin dulu ya?” pada akhirnya, lelaki itu tersenyum. Bagaimanapun, yang di hadapannya saat ini adalah anak semata wayang yang telah dinanti-nanti oleh dirinya dan istrinya. “Papa nggak bisa kasih jawaban secepet itu. Boleh kan?”</p>

<p>Wajahnya mekar oleh cahaya dan ia buru-buru mengangguk berkali-kali. “Boleh! Nanti Papa kabarin aku aja! Aku nginep nggak jauh dari kota ini. Nanti aku ke sini lagi kapan-kapan, sekalian ku mau ke toko-toko tetangga juga,” berkata begitu, ia mulai membenahi dokumen di atas meja.</p>

<p>“Kamu nggak nginep sini aja, Nak? Kamar kamu kan ada...,” ibunya angkat bicara.</p>

<p>“Eh? Nggak ah, kesempitan. Aku perlu meja juga buat kerja,” jawabnya sambil lalu. “Nggak pa-pa kok, Ma, kalo mau dijadiin ruangan lain. Toh aku juga udah nggak tinggal sini.” Joshua lalu memberikan kartu namanya ke ayahnya. “Nomer hp kantorku yang ini ya, Pa. Nanti info aja ke nomer ini, jangan ke nomer pribadiku, soalnya buat pertanggung jawaban ke kantor.”</p>

<p>Lalu, semendadak ia muncul, Joshua berpamitan pergi setelah ia menolak juga tawaran ibunya untuk makan malam di rumah. Ayah dan ibunya hanya bisa menatap punggung anak mereka dengan sedih.</p>

<p>“Dulu dia nggak begini...,” desah ibunya.</p>

<p>“Udahlah, Ma, anak kita udah gede. Mungkin ada hal yang lebih penting buat dia sekarang, bukan orangtuanya lagi...”</p>

<p>Ibunya mulai menangis dan ayahnya hanya bisa memeluk istri tercintanya. Mingyu menyaksikan itu semua dalam diam dengan kebencian membengkak di dadanya. Dua orang yang selama ini telah begitu baik pada Mingyu yang bukan siapa-siapa disakiti oleh darah daging mereka sendiri. Anak yang selalu mereka banggakan pada Mingyu dan orang-orang.</p>

<p><em>Joshua Hong.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/3-dcc5</guid>
      <pubDate>Sat, 28 Dec 2024 07:40:14 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>2.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/2-wjfh?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuabakery&#xA;&#xA;Sungguh memalukan. Menangis seperti bocah ingusan di depan toko—yang ia yakin pasti ditonton oleh tetangga-tetangga mereka—dan di depan orang asing...&#xA;&#xA;...yang saat ini sedang melipat lengan di dada sambil bersandar ke meja kasir.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Apa maksud kamu, Nak...?&#34; ibunya terduduk di depannya, melontarkan pertanyaan yang terdengar seperti sebuah tuduhan di telinga Joshua. Ia maklum. Bagaimanapun, kabar yang ia bawa memang tidak enak didengar telinga. &#34;Mama nggak paham...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Shua mohon!&#34;&#xA;&#xA;Ditundukkannya kepala dalam-dalam. Meski ia sudah menanggalkan jasnya, sikapnya tetap formal karena ia berada di sini saat ini atas satu hal: bisnis. Bukan untuk melepas rindu bersama orangtuanya atau bernostalgia di toko yang ia kenal betul bahkan dari wanginya.&#xA;&#xA;&#34;Juallah toko ini ke perusahaan kami!&#34;&#xA;&#xA;Joshua hanya pulang untuk meminta orangtuanya melepaskan mimpi mereka berdua. Bagian mana dari kalimat barusan yang terdengar enak di telinga, mind you?&#xA;&#xA;Ibunya menatap Joshua yang tengah menundukkan kepala dengan teduh. Belum cukup ia bahagia akan kepulangan sang putra yang telah ditunggu-tunggu selama 15 tahun, harus dihancurkan dengan dingin oleh pemikiran bahwa ia tak kenal lelaki muda di hadapannya itu. Joshua yang ibunya kenal bukanlah anak seperti ini.&#xA;&#xA;&#34;Kamu nyuruh Mama jual toko impian Papa kamu? Begitu maksud kamu?&#34;&#xA;&#xA;Oh, begitu dingin kalimat itu terjalin, membuat Joshua meneguk ludah dulu sebelum mengangkat kembali kepalanya untuk menjelaskan.&#xA;&#xA;&#34;Mama\~ bukan itu maksud aku...,&#34; bujuknya. &#34;Tapi Papa sama Mama kan udah berumur. Apa nggak capek kerja terus? Apalagi di toko roti yang harus keluarin banyak tenaga. Shua cuma pingin Papa Mama bisa pensiun dengan nyaman aja kok. Nanti aku bisa nego sama manajemen atas buat mark up pricing, jadi Papa sama Mama bisa beli rumah di tempat lain—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ini rumah kamu, Joshua.&#34;&#xA;&#xA;Ucapannya dipotong dengan tajam.&#xA;&#xA;&#34;Ini bukan cuma toko tempat mencari nafkah, tapi juga tempat di mana banyak kenangan keluarga kita di dalamnya. Lagipula,&#34; ibunya lalu menengok sedikit ke belakang. &#34;Untuk pekerjaan yang perlu tenaga, sekarang udah ada Mingyu.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu?&#xA;&#xA;Barulah ketika itu Joshua tersadar bahwa ada orang ketiga yang menjadi spektator mereka dalam keheningan. Lelaki itu menatapnya lekat-lekat, membuat Joshua balas menatapnya. Matanya membulat karena tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Siapa pula Mingyu Mingyu itu?&#xA;&#xA;&#34;Kamu—&#34; pekerja sambilan apa gimana?&#xA;&#xA;&#34;Ditolak.&#34;&#xA;&#xA;Joshua mengerjap.&#xA;&#xA;&#34;Nggak denger ya? Tawaran kamu buat ngejual toko ini ditolak,&#34; si lelaki bernama Mingyu itu mengeratkan lipatan lengannya, membuat otot lengannya semakin mengancam. Joshua meneguk ludah lagi, takut kalau lelaki itu cepat bermain tangan. &#34;Kupikir akhirnya bisa ketemu anak yang selama ini Bibi Hong bangga-banggain. Eh pas dateng malah begini. Sori nih, aku sih ogah ya kalo baru aja pulang, malah ngusir ortu sendiri dari rumah cuma biar dapet bonus dari kantor.&#34;&#xA;&#xA;Seperti ada panah menghujam jantung Joshua. Oh, ia tersinggung. Big time. Urat lehernya seketika menebal.&#xA;&#xA;&#34;Maaf ya, emm, Mingyu, ato siapapun lah kamu itu,&#34; Joshua memaparkan senyuman yang, tentu saja, tidak kalah mengancamnya dari otot besar itu. &#34;Ini urusan keluarga, jadi tolong jangan ikut campur. Kamu ini siapa ya? Kalo cuma kerja di toko ini, bisa nggak ya nggak usah komentar?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue siapa?&#34; lelaki itu mendecak. &#34;Lo nggak perlu tau. Tapi seenggaknya gue bukan anak durhaka yang ngusir nyokap sendiri kayak lo.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu maju. Punggungnya meninggalkan meja kasir yang sedari tadi ia sandari. Joshua pun, merasa tertantang, beranjak dari duduknya. Ia masukkan kedua tangannya ke saku celana. Senyumnya pun menghilang sudah&#xA;&#xA;&#34;Nggak denger ya? Gue bilang, lo tuh orang luar. Tau diri sedikit. Ini urusan gue sama nyokap gue.&#34;&#xA;&#xA;&#34;JOSHUA! MINGYU!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ada apa ini?&#34;&#xA;&#xA;Mereka semua menoleh ke arah pintu toko. Ke arah kepala keluarga Hong.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuabakery" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuabakery</span></a></p>

<p>Sungguh memalukan. Menangis seperti bocah ingusan di depan toko—yang ia yakin pasti ditonton oleh tetangga-tetangga mereka—dan di depan orang asing...</p>

<p>...yang saat ini sedang melipat lengan di dada sambil bersandar ke meja kasir.</p>



<p>“Apa maksud kamu, Nak...?” ibunya terduduk di depannya, melontarkan pertanyaan yang terdengar seperti sebuah tuduhan di telinga Joshua. Ia maklum. Bagaimanapun, kabar yang ia bawa memang tidak enak didengar telinga. “Mama nggak paham...”</p>

<p>“Shua mohon!”</p>

<p>Ditundukkannya kepala dalam-dalam. Meski ia sudah menanggalkan jasnya, sikapnya tetap formal karena ia berada di sini saat ini atas satu hal: bisnis. Bukan untuk melepas rindu bersama orangtuanya atau bernostalgia di toko yang ia kenal betul bahkan dari wanginya.</p>

<p>“Juallah toko ini ke perusahaan kami!”</p>

<p>Joshua hanya pulang untuk meminta orangtuanya melepaskan mimpi mereka berdua. Bagian mana dari kalimat barusan yang terdengar enak di telinga, mind you?</p>

<p>Ibunya menatap Joshua yang tengah menundukkan kepala dengan teduh. Belum cukup ia bahagia akan kepulangan sang putra yang telah ditunggu-tunggu selama 15 tahun, harus dihancurkan dengan dingin oleh pemikiran bahwa ia tak kenal lelaki muda di hadapannya itu. Joshua yang ibunya kenal bukanlah anak seperti ini.</p>

<p>“Kamu nyuruh Mama jual toko impian Papa kamu? Begitu maksud kamu?”</p>

<p>Oh, begitu dingin kalimat itu terjalin, membuat Joshua meneguk ludah dulu sebelum mengangkat kembali kepalanya untuk menjelaskan.</p>

<p>“Mama~ bukan itu maksud aku...,” bujuknya. “Tapi Papa sama Mama kan udah berumur. Apa nggak capek kerja terus? Apalagi di toko roti yang harus keluarin banyak tenaga. Shua cuma pingin Papa Mama bisa pensiun dengan nyaman aja kok. Nanti aku bisa nego sama manajemen atas buat mark up pricing, jadi Papa sama Mama bisa beli rumah di tempat lain—”</p>

<p>“Ini rumah kamu, Joshua.”</p>

<p>Ucapannya dipotong dengan tajam.</p>

<p>“Ini bukan cuma toko tempat mencari nafkah, tapi juga tempat di mana banyak kenangan keluarga kita di dalamnya. Lagipula,” ibunya lalu menengok sedikit ke belakang. “Untuk pekerjaan yang perlu tenaga, sekarang udah ada Mingyu.”</p>

<p><em>Mingyu?</em></p>

<p>Barulah ketika itu Joshua tersadar bahwa ada orang ketiga yang menjadi spektator mereka dalam keheningan. Lelaki itu menatapnya lekat-lekat, membuat Joshua balas menatapnya. Matanya membulat karena tidak tahu harus bereaksi bagaimana. <em>Siapa pula Mingyu Mingyu itu?</em></p>

<p>“Kamu—” <em>pekerja sambilan apa gimana?</em></p>

<p>“Ditolak.”</p>

<p>Joshua mengerjap.</p>

<p>“Nggak denger ya? Tawaran kamu buat ngejual toko ini ditolak,” si lelaki bernama Mingyu itu mengeratkan lipatan lengannya, membuat otot lengannya semakin mengancam. Joshua meneguk ludah lagi, takut kalau lelaki itu cepat bermain tangan. “Kupikir akhirnya bisa ketemu anak yang selama ini Bibi Hong bangga-banggain. Eh pas dateng malah begini. Sori nih, aku sih ogah ya kalo baru aja pulang, malah ngusir ortu sendiri dari rumah cuma biar dapet bonus dari kantor.”</p>

<p>Seperti ada panah menghujam jantung Joshua. Oh, ia tersinggung. Big time. Urat lehernya seketika menebal.</p>

<p>“Maaf ya, emm, Mingyu, ato siapapun lah kamu itu,” Joshua memaparkan senyuman yang, tentu saja, tidak kalah mengancamnya dari otot besar itu. “Ini urusan keluarga, jadi tolong jangan ikut campur. Kamu ini siapa ya? Kalo cuma kerja di toko ini, bisa nggak ya nggak usah komentar?”</p>

<p>“Gue siapa?” lelaki itu mendecak. “Lo nggak perlu tau. Tapi seenggaknya gue bukan anak durhaka yang ngusir nyokap sendiri kayak lo.”</p>

<p>Mingyu maju. Punggungnya meninggalkan meja kasir yang sedari tadi ia sandari. Joshua pun, merasa tertantang, beranjak dari duduknya. Ia masukkan kedua tangannya ke saku celana. Senyumnya pun menghilang sudah</p>

<p>“Nggak denger ya? Gue bilang, lo tuh orang luar. Tau diri sedikit. Ini urusan gue sama nyokap gue.”</p>

<p>“JOSHUA! MINGYU!”</p>

<p>“Ada apa ini?”</p>

<p>Mereka semua menoleh ke arah pintu toko. Ke arah kepala keluarga Hong.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/2-wjfh</guid>
      <pubDate>Wed, 13 Nov 2024 15:06:00 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>1.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/1-9gnt?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[gyushuabakery&#xA;&#xA;Panas.&#xA;&#xA;Jika boleh jujur, pulang ke Korea setelah lima belas tahun melupakan tanah kelahirannya tidak berarti apa-apa bagi Joshua Hong. Tidak ada rasa rindu yang berdesir dalam dadanya. Meski ia senang bisa memeluk orangtuanya lagi dan menatap senyum ibunya langsung tanpa bantuan kamera, selain itu, tak ada perasaan spesial apapun terbersit di hatinya.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Ia tidak pergi dengan berat hati. Sebaliknya malah. Jantungnya berdegup kencang dalam ketidak sabaran untuk segera menata masa depannya di Amerika.&#xA;&#xA;&#34;Josh bisa tinggal bersamaku,&#34; ia ingat perkataan bibinya, adik sang ibu, ketika mereka membahas keinginan Joshua untuk sekolah ke luar negeri. &#34;William dan anak-anak kami sangat menyayangi kalian. Dia pasti senang ketambahan anak satu lagi! Jadi jangan khawatir, Kak!&#34; Dalam derai tawa riang, bibinya itu menawarkan sebuah akomodasi semi permanen yang sulit ditolak ibunya.&#xA;&#xA;Maka, bertolaklah anak tunggal keluarga Hong di usia ke-18 yang masih segar-segarnya ke Los Angeles, Amerika. Naif, dan ditendang ke jurang budaya yang begitu berbeda dengan sudut pandang Korea Selatan yang diasupi padanya sejak balita, ia bagai anak ayam kehilangan induknya. Namun, Joshua masih beruntung karena keluarganya di Amerika membimbingnya untuk menjalani kehidupan di sana.&#xA;&#xA;Satu tahun tak terasa menjadi empat. Joshua lulus dan tidak kembali, melainkan melamar ke perusahaan yang bergerak dalam bidang properti. Kemampuannya menjual rumah dengan menyenangkan hati para kliennya membuatnya menaiki jenjang karir dengan begitu mulusnya, sehingga ia dicap sebagai Ace dalam perusahaannya. Entah itu hal yang baik atau buruk, karena status Ace itulah, ia ditugaskan untuk menjadi pemimpin proyek terbaru mereka—sebuah mall besar di Korea.&#xA;&#xA;Tepatnya, di jalanan pertokoan dimana toko roti orangtuanya berdiri bahkan sebelum mereka menikah.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Joshua mengernyitkan alis. Peluh membanjiri kening hingga bagian belakang kemejanya. Jasnya tersampir di sebelah lengan. Ia berdiri persis di depan pintu bertuliskan We&#39;re Open dalam huruf sambung berwarna merah. Suara jangkrik memenuhi rongga telinganya, mengisi pikirannya yang tengah kopong.&#xA;&#xA;Masuk? Jangan?&#xA;&#xA;Keraguan kah? Yang menahan kakinya berjalan menempuh jarak yang begitu sedikit antara dirinya dan seluruh masa kecilnya? Ataukah, mungkin, rasa bersalah?&#xA;&#xA;&#34;Selamat datang!&#34;&#xA;&#xA;Tidak sempat dirinya menentukan pilihan, pintu itu keburu dibuka oleh seorang...laki-laki. Tinggi besar dan berkulit kecoklatan. Ia tersenyum ramah, kontras terhadap Joshua yang memandangnya seolah ia hantu. Lelaki itu tidak memedulikan tatapan tersebut, malah berbicara pada Joshua seramah senyumannya.&#xA;&#xA;&#34;Kalau ragu mau beli apa, boleh lihat-lihat dulu. Rotinya seger-seger lho. Fresh from the oven\~&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak, aku—&#34;&#xA;&#xA;&#34;...Shua?&#34;&#xA;&#xA;Yang dipanggil menoleh. Oh. Hatinya mencelos kini.&#xA;&#xA;&#34;Shua...? Ini beneran kamu, Nak? Kamu...kamu pulang...?&#34;&#xA;&#xA;Dalam balutan celemek dan gaun putih, dan rambut hitam cepolan yang sudah dipenuhi uban, wanita itu berjalan perlahan dengan mata berkaca-kaca.&#xA;&#xA;&#34;...Shua?&#34; si lelaki berkulit cokelat menaikkan alis. Ia pernah dengar nama itu. Sering, sejujurnya. &#34;Shua itu kalo nggak salah yang—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mama...&#34;&#xA;&#xA;Wanita itu berlari. Dengan cepat parasnya mencerah, meski pipinya basah oleh linangan air mata. Joshua tidak bergerak dan membiarkan ibunya itu memeluknya erat. Ia tidak ingin menangis. Tidak akan menangis. Usianya 33 tahun kini, tidak pantas untuk masih menangis dalam dekapan sang ibu. Ia tidak akan—&#xA;&#xA;Dilihatnya tangan ibunya yang menangkup pipinya. Begitu kecil dan rapuh, penuh keriput karena sering bekerja. Tangan seorang ibu yang telah dimakan umur dan entah sampai kapan umur itu tetap terbuka.&#xA;&#xA;&#34;Hng—&#34;&#xA;&#xA;Ah, persetan. Usia 33 pun, di depan orangtua, hanyalah anak kecil semata.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:gyushuabakery" class="hashtag"><span>#</span><span class="p-category">gyushuabakery</span></a></p>

<p><em>Panas</em>.</p>

<p>Jika boleh jujur, pulang ke Korea setelah lima belas tahun melupakan tanah kelahirannya tidak berarti apa-apa bagi Joshua Hong. Tidak ada rasa rindu yang berdesir dalam dadanya. Meski ia senang bisa memeluk orangtuanya lagi dan menatap senyum ibunya langsung tanpa bantuan kamera, selain itu, tak ada perasaan spesial apapun terbersit di hatinya.</p>



<p>Ia tidak pergi dengan berat hati. Sebaliknya malah. Jantungnya berdegup kencang dalam ketidak sabaran untuk segera menata masa depannya di Amerika.</p>

<p>“Josh bisa tinggal bersamaku,” ia ingat perkataan bibinya, adik sang ibu, ketika mereka membahas keinginan Joshua untuk sekolah ke luar negeri. “William dan anak-anak kami sangat menyayangi kalian. Dia pasti senang ketambahan anak satu lagi! Jadi jangan khawatir, Kak!” Dalam derai tawa riang, bibinya itu menawarkan sebuah akomodasi semi permanen yang sulit ditolak ibunya.</p>

<p>Maka, bertolaklah anak tunggal keluarga Hong di usia ke-18 yang masih segar-segarnya ke Los Angeles, Amerika. Naif, dan ditendang ke jurang budaya yang begitu berbeda dengan sudut pandang Korea Selatan yang diasupi padanya sejak balita, ia bagai anak ayam kehilangan induknya. Namun, Joshua masih beruntung karena keluarganya di Amerika membimbingnya untuk menjalani kehidupan di sana.</p>

<p>Satu tahun tak terasa menjadi empat. Joshua lulus dan tidak kembali, melainkan melamar ke perusahaan yang bergerak dalam bidang properti. Kemampuannya menjual rumah dengan menyenangkan hati para kliennya membuatnya menaiki jenjang karir dengan begitu mulusnya, sehingga ia dicap sebagai Ace dalam perusahaannya. Entah itu hal yang baik atau buruk, karena status Ace itulah, ia ditugaskan untuk menjadi pemimpin proyek terbaru mereka—sebuah mall besar di Korea.</p>

<p>Tepatnya, di jalanan pertokoan dimana toko roti orangtuanya berdiri bahkan sebelum mereka menikah.</p>

<hr/>

<p>Joshua mengernyitkan alis. Peluh membanjiri kening hingga bagian belakang kemejanya. Jasnya tersampir di sebelah lengan. Ia berdiri persis di depan pintu bertuliskan We&#39;re Open dalam huruf sambung berwarna merah. Suara jangkrik memenuhi rongga telinganya, mengisi pikirannya yang tengah kopong.</p>

<p><em>Masuk? Jangan?</em></p>

<p>Keraguan kah? Yang menahan kakinya berjalan menempuh jarak yang begitu sedikit antara dirinya dan seluruh masa kecilnya? Ataukah, mungkin, <em>rasa bersalah</em>?</p>

<p>“Selamat datang!”</p>

<p>Tidak sempat dirinya menentukan pilihan, pintu itu keburu dibuka oleh seorang...laki-laki. Tinggi besar dan berkulit kecoklatan. Ia tersenyum ramah, kontras terhadap Joshua yang memandangnya seolah ia hantu. Lelaki itu tidak memedulikan tatapan tersebut, malah berbicara pada Joshua seramah senyumannya.</p>

<p>“Kalau ragu mau beli apa, boleh lihat-lihat dulu. Rotinya seger-seger lho. Fresh from the oven~“</p>

<p>“Nggak, aku—”</p>

<p>”...Shua?”</p>

<p>Yang dipanggil menoleh. <em>Oh</em>. Hatinya mencelos kini.</p>

<p>“Shua...? Ini beneran kamu, Nak? Kamu...kamu pulang...?”</p>

<p>Dalam balutan celemek dan gaun putih, dan rambut hitam cepolan yang sudah dipenuhi uban, wanita itu berjalan perlahan dengan mata berkaca-kaca.</p>

<p>”...Shua?” si lelaki berkulit cokelat menaikkan alis. Ia pernah dengar nama itu. Sering, sejujurnya. “Shua itu kalo nggak salah yang—”</p>

<p>“<em>Mama</em>...”</p>

<p>Wanita itu berlari. Dengan cepat parasnya mencerah, meski pipinya basah oleh linangan air mata. Joshua tidak bergerak dan membiarkan ibunya itu memeluknya erat. Ia tidak ingin menangis. Tidak <em>akan</em> menangis. Usianya 33 tahun kini, tidak pantas untuk masih menangis dalam dekapan sang ibu. Ia tidak akan—</p>

<p>Dilihatnya tangan ibunya yang menangkup pipinya. Begitu kecil dan rapuh, penuh keriput karena sering bekerja. Tangan seorang ibu yang telah dimakan umur dan entah sampai kapan umur itu tetap terbuka.</p>

<p>“Hng—”</p>

<p>Ah, persetan. Usia 33 pun, di depan orangtua, hanyalah anak kecil semata.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/1-9gnt</guid>
      <pubDate>Wed, 13 Nov 2024 11:47:46 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>