<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>cheolhao &amp;mdash; 🌾</title>
    <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:cheolhao</link>
    <description>narrative writings of thesunmetmoon</description>
    <pubDate>Tue, 02 Jun 2026 17:37:30 +0000</pubDate>
    <image>
      <url>https://i.snap.as/K7JGOEOo.png</url>
      <title>cheolhao &amp;mdash; 🌾</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:cheolhao</link>
    </image>
    <item>
      <title>31.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/31-02l1?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[cheolhao&#xA;&#xA;Nada sambung pertama dan suara Minghao menyapanya.&#xA;&#xA;&#34;Hey, Hao...&#34;&#xA;&#xA;Kemudian, desahan panjang. Kim Mingyu melirik ke arah Wonwoo yang tengah memandanginya dengan rasa penasaran bercampur simpati. Mereka berdua telanjang di atas ranjang, namun tak satupun dari mereka yang peduli. Fokus keduanya pada suara di handphone Wonwoo.&#xA;&#xA;Mingyu menekan loud speaker, kemudian menaruh handphone di kasur.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Are you okay, baby...?&#34; Wonwoo segera melanjutkan, ingin Minghao tahu bahwa ia juga berada di sana bersama Mingyu.&#xA;&#xA;&#34;Oh Gyu, Won...dia nggak bales whatsapp gue...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bang Cheol sibuk kali, Hao,&#34; dengan lembut, Mingyu berusaha menenangkan sahabatnya itu. Tidak seperti Wonwoo yang segera waswas, ia mencoba berpikir positif dan tidak ambil pusing. Dari mereka bertiga, Mingyu yang paling mengenal Seungcheol dan ia tahu Seungcheol bukan orang seperti itu.&#xA;&#xA;&#34;Iya, mungkin dia emang belom sempet cek hape aja, Hao...,&#34; Wonwoo pun menimpali.&#xA;&#xA;Minghao tidak menjawab apa-apa. Wonwoo dan Mingyu bertatapan sejenak sebelum kembali memandangi layar handphone.&#xA;&#xA;&#34;...Hao?&#34; Wonwoo memanggilnya.&#xA;&#xA;&#34;..........G-gimana kalo...kayak dulu lagi...?&#34;&#xA;&#xA;Mingyu mendesah berat, sementara Wonwoo menggigit bibir bawahnya. &#34;Oh, Sayang,&#34; suara Wonwoo tergesa-gesa. Andai Minghao ada di hadapannya, ia pasti sudah merangkul dan menciumi wajahnya. &#34;You know it won&#39;t be. You know it well. We all know it well.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hao, stop it,&#34; decakan kesal. Intonasi yang naik. &#34;Bang Cheol bukan orang kayak gitu. Dan kalo ternyata dia orang kayak gitu, I swear I&#39;m gonna rip his perky butt off at once. You hear me, baby?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Both,&#34; Wonwoo memotong. &#34;I&#39;ll help bury that perky butt.&#34;&#xA;&#xA;Minghao pun tak kuasa terkekeh. Mendengar itu, Wonwoo menghela napas lega. Mereka duduk berdekatan sehingga Mingyu bisa memeluk pinggang Wonwoo dan mendusel sisi lehernya, secara bersamaan juga menenangkan kekasihnya. Wonwoo terlalu pencemas for his own good mengenai Minghao.&#xA;&#xA;&#34;You&#39;re right...gue yang kecepetan nethink...sori...,&#34; jeda sesaat. &#34;Lo berdua masih ngewe?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Well, someone&#39;s fingers definitely inside my hole again right now as we speak,&#34; Minghao bisa melihat Wonwoo memutar bola mata dari suaranya saja. &#34;Lo yakin nggak mau ke sini, Hao? Forget that shitty ass. Mine is better.&#34;&#xA;&#xA;&#34;You literally have no ass, Won.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Do you have a fucking death wish, Xu?&#34; mendadak, Wonwoo mendesis tajam. &#34;I have it now, thanks to the gym routine.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yeah right.&#34;&#xA;&#xA;&#34;The audacity,&#34; Wonwoo berputar ke Mingyu. &#34;Tell him I have ass, baby.&#34;&#xA;&#xA;&#34;You have a gorgeous hole with some cute mound of flesh around it, baby.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu meringis jahil. Wonwoo menatapnya tidak percaya. Minghao tertawa lepas.&#xA;&#xA;&#34;Oh fuck,&#34; Minghao masih terkekeh sambil menyeka tangisnya. &#34;RIP, Kim Mingyu. But seriously, kayaknya gue nggak jadi ke sana deh. Please fuck Mingyu good for me since now he can&#39;t fuck your nonexistant ass, Won.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu menarik keluar jemarinya dari dalam Wonwoo, lalu dengan pelan membawanya ke mulut, mengulumnya seolah itu adalah permen terlezat di dunia. Wonwoo membuka mulut, menutupnya lagi, lalu membuka untuk menjawab Minghao.&#xA;&#xA;&#34;Okay. Yeah. Will fuck him good, starting from his dirty mouth.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Good.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nanti gue coba hubungin Bang Cheol ya, Hao.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak...nggak usah, Gyu, nggak apa kok,&#34; Minghao mendesah. &#34;Bye, you two.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Call us anytime, baby.&#34;&#xA;&#xA;Beep.&#xA;&#xA;&#34;Dirty mouth, huh?&#34; Mingyu meringis lagi.&#xA;&#xA;&#34;You want to suck my big plane, Kim Mingyu, like a cute little steward you are, in my cockpit?&#34; Wonwoo ikut meringis.&#xA;&#xA;&#34;Always do, Daddy,&#34; tapi, sebelum mulutnya penuh oleh penis kekasihnya, ia mengambil handphonenya sendiri dan mulai mengetik. &#34;But first, gue ada tugas negara buat ngehibur sohib gue.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:cheolhao" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">cheolhao</span></a></p>

<p>Nada sambung pertama dan suara Minghao menyapanya.</p>

<p>“Hey, Hao...”</p>

<p>Kemudian, desahan panjang. Kim Mingyu melirik ke arah Wonwoo yang tengah memandanginya dengan rasa penasaran bercampur simpati. Mereka berdua telanjang di atas ranjang, namun tak satupun dari mereka yang peduli. Fokus keduanya pada suara di handphone Wonwoo.</p>

<p>Mingyu menekan loud speaker, kemudian menaruh handphone di kasur.</p>



<p>“Are you okay, baby...?” Wonwoo segera melanjutkan, ingin Minghao tahu bahwa ia juga berada di sana bersama Mingyu.</p>

<p><em>“Oh Gyu, Won...dia nggak bales whatsapp gue...”</em></p>

<p>“Bang Cheol sibuk kali, Hao,” dengan lembut, Mingyu berusaha menenangkan sahabatnya itu. Tidak seperti Wonwoo yang segera waswas, ia mencoba berpikir positif dan tidak ambil pusing. Dari mereka bertiga, Mingyu yang paling mengenal Seungcheol dan ia <em>tahu</em> Seungcheol bukan orang seperti itu.</p>

<p>“Iya, mungkin dia emang belom sempet cek hape aja, Hao...,” Wonwoo pun menimpali.</p>

<p>Minghao tidak menjawab apa-apa. Wonwoo dan Mingyu bertatapan sejenak sebelum kembali memandangi layar handphone.</p>

<p>”...Hao?” Wonwoo memanggilnya.</p>

<p><em>”..........G-gimana kalo...kayak dulu lagi...?”</em></p>

<p>Mingyu mendesah berat, sementara Wonwoo menggigit bibir bawahnya. “<em>Oh, Sayang</em>,” suara Wonwoo tergesa-gesa. Andai Minghao ada di hadapannya, ia pasti sudah merangkul dan menciumi wajahnya. “You know it won&#39;t be. You know it well. We all know it well.”</p>

<p><em>“Tapi...”</em></p>

<p>“Hao, <em>stop it</em>,” decakan kesal. Intonasi yang naik. “Bang Cheol bukan orang kayak gitu. Dan kalo ternyata dia orang kayak gitu, I swear I&#39;m gonna rip his perky butt off at once. <em>You hear me, baby?</em>“</p>

<p>“<em>Both</em>,” Wonwoo memotong. “I&#39;ll help bury that perky butt.”</p>

<p>Minghao pun tak kuasa terkekeh. Mendengar itu, Wonwoo menghela napas lega. Mereka duduk berdekatan sehingga Mingyu bisa memeluk pinggang Wonwoo dan mendusel sisi lehernya, secara bersamaan juga menenangkan kekasihnya. Wonwoo terlalu pencemas for his own good mengenai Minghao.</p>

<p><em>“You&#39;re right...gue yang kecepetan nethink...sori...,”</em> jeda sesaat. <em>“Lo berdua masih ngewe?”</em></p>

<p>“Well, someone&#39;s fingers definitely inside my hole again right now as we speak,” Minghao bisa melihat Wonwoo memutar bola mata dari suaranya saja. “Lo yakin nggak mau ke sini, Hao? Forget that shitty ass. Mine is better.”</p>

<p><em>“You literally have no ass, Won.”</em></p>

<p>“Do you have a fucking death wish, Xu?” mendadak, Wonwoo mendesis tajam. “I have it <em>now</em>, thanks to the gym routine.”</p>

<p><em>“Yeah right.”</em></p>

<p>“The audacity,” Wonwoo berputar ke Mingyu. “Tell him I have ass, baby.”</p>

<p>“You have a gorgeous hole with some cute mound of flesh around it, baby.”</p>

<p>Mingyu meringis jahil. Wonwoo menatapnya tidak percaya. Minghao tertawa lepas.</p>

<p><em>“Oh fuck,”</em> Minghao masih terkekeh sambil menyeka tangisnya. <em>“RIP, Kim Mingyu. But seriously, kayaknya gue nggak jadi ke sana deh. Please fuck Mingyu good for me since now he can&#39;t fuck your nonexistant ass, Won.”</em></p>

<p>Mingyu menarik keluar jemarinya dari dalam Wonwoo, lalu dengan pelan membawanya ke mulut, mengulumnya seolah itu adalah permen terlezat di dunia. Wonwoo membuka mulut, menutupnya lagi, lalu membuka untuk menjawab Minghao.</p>

<p>“Okay. Yeah. Will fuck him good, starting from his dirty mouth.”</p>

<p><em>“Good.”</em></p>

<p>“Nanti gue coba hubungin Bang Cheol ya, Hao.”</p>

<p><em>“Nggak...nggak usah, Gyu, nggak apa kok,”</em> Minghao mendesah. <em>“Bye, you two.”</em></p>

<p>“Call us anytime, baby.”</p>

<p><em>Beep.</em></p>

<p>“Dirty mouth, huh?” Mingyu meringis lagi.</p>

<p>“You want to suck my big plane, Kim Mingyu, like a cute little steward you are, in my cockpit?” Wonwoo ikut meringis.</p>

<p>“Always do, Daddy,” tapi, sebelum mulutnya penuh oleh penis kekasihnya, ia mengambil handphonenya sendiri dan mulai mengetik. “But first, gue ada tugas negara buat ngehibur sohib gue.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/31-02l1</guid>
      <pubDate>Thu, 28 Jan 2021 02:37:40 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>18.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/18-r5jq?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[cheolhao&#xA;&#xA;Under 18, leave 🔞⛔&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Konser yang dikiranya dibawakan oleh band indie atau musisi Barat, atau bahkan penyanyi sariosa sekalipun, meruntuhkan segala imej Seungcheol yang Minghao buat dalam benak.&#xA;&#xA;Ia pernah membayangkan Seungcheol memasuki bar kopi kuno Florian di kota Venesia. Dilatarbelakangi keriuhan suara penggiling bijih kopi dan mesin pembuat buih susu, ia bercakap dengan bartender sambil memesan cappuccino di pagi hari, memasukkan gula, menenggaknya, lalu meninggalkan satu-dua keping koin di samping cangkir kosong sebagai tips, hanya untuk mengulanginya lagi di siang dan sore hari dengan pesanan berbeda.&#xA;&#xA;Mungkin sesekali Seungcheol mengunjungi museum di Roma atau pergi menonton opera. Dengan mantel sewarna daun musim gugur, sepatu bots lelaki itu akan menginjaki dedaunan kering di hamparan trotoar sambil menghela napas, menciptakan uap putih di udara. Hidungnya yang mancung itu akan memerah karena udara dingin.&#xA;&#xA;Semua yang didambakan Minghao untuk dialaminya sendiri suatu hari nanti, entah kapan.&#xA;&#xA;&#34;Kpop?&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol meringis.&#xA;&#xA;&#34;Boyband kpop? Really?&#34;&#xA;&#xA;Alis lelaki itu berubah menjadi kernyitan. Jelas ia bisa mendengar nada meremehkan dari Minghao. Ia tidak mengindahkan bucket besar isi berondong jagung di pangkuannya ketika ia mendadak mendorong Minghao, membuat lelaki itu terjungkal dari sofa di ruang tengah sebuah apartemen tiga kamar milik Choi Seungcheol.&#xA;&#xA;&#34;Kalo lo mau sok edgy dan mandang rendah kpop, get the fuck out of here, you cunt,&#34; geramnya. Masa bodoh dengan Minghao yang mengusap pinggangnya, korban kekerasan rumah tangga hari ini, sambil berusaha naik lagi ke sofa. &#34;Let me indulge in my pretty, talented boys than your sorry excuse of a man.&#34;&#xA;&#xA;Diakhiri dengan dengusan kesal, Seungcheol membuang muka, kembali menatap layar smart TV frameless yang terpasang di dinding. Minghao memandangi bagaimana lelaki itu mengerutkan alis. Ngambeg. Bibirnya yang merah merona menjuntai makin menggemaskan. Pipinya menggembung sebelah. Siang itu, dia mengenakan sweatshirt besar warna bulu tikus, celana pendek cargo dan kacamata bulat berbingkai hitam. Ia menaruh berondong jagung di meja kopi untuk memeluk bantal persegi sementara kedua kakinya naik ke atas sofa.&#xA;&#xA;Imut. Dada Minghao berdesir hangat. Rasanya menyenangkan, melihat lelaki tampan bertingkah laku seperti anak kecil. Mau tak mau, Minghao menarik sebuah seringai.&#xA;&#xA;&#34;Sori, sori,&#34; ujarnya, ketika ia sudah kembali ke samping Seungcheol. &#34;Jangan ngambeg dong, kan abis ini mau......&#34; Sengaja ia tidak melanjutkan. Alih-alih, tangannya membuat gestur menggesek sesuatu.&#xA;&#xA;Seungcheol mendecak, memasang tampang jijik. &#34;Get the fuck out,&#34; terlalu terperangah oleh tindakan tak tahu malu lelaki di sebelahnya. Dari sedikit korespondensinya dengan Minghao, ia tahu lelaki itu frontal, tak suka sugar coating, tapi tidak ia sangka separah ini. &#34;Xu Minghao. I will not let my dick come near you anywhere if you behave like this.&#34;&#xA;&#xA;Mendengar itu, Minghao malah tertawa. Dengan santai, ia merebahkan lagi punggungnya ke sandaran sofa. Satu lengan diangkat untuk memeluk bagian belakang leher Seungcheol. &#34;Iya, maaf,&#34; ucapnya lagi, kali ini lebih serius. Dengan senyuman di wajah, ia menatap mata Seungcheol. &#34;Beneran. Sori. Gue cuma nggak nyangka aja.&#34; Lalu, ia menatap grup kpop di layar. &#34;But honestly speaking, gue gimana bisa enjoy kalo gue nggak tau itu siapa aja? Di mata gue mukanya kayak sama semua. Belom lagi nggak ngerti ngomong apa.&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol mendengus. &#34;Ada subtitlenya kok. Ini lagi lagu, jadi emang nggak ada. Nanti pas bagian mereka ngobrol juga muncul,&#34; jelasnya. &#34;Ini grup tuh namanya Seventeen.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Let me guess. Ada tujuh belas personil?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Wrong. Tiga belas,&#34; ia memutar bola mata.&#xA;&#xA;&#34;Banyak banget njir...kagak ambruk itu stage tiap mereka perform?&#34; kaget juga Minghao mengetahui itu.&#xA;&#xA;Kali ini, Seungcheol terkekeh. &#34;Pernah kok, mereka bikin jebol ubin stage pas dance break,&#34; dia memberitahu Minghao. &#34;Sampe dibikin meme gitu sama netizen. Kocak lah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hee...,&#34; di depannya, seorang member menyanyi dalam nada tinggi. Matanya tertutup, nampak menghayati lirik yang ia senandungkan. Lagu pun naik intonasinya, mengiringi suara semua member yang bernyanyi di saat bersamaan. Sejenak, ia dan Seungcheol tidak berkata apapun.&#xA;&#xA;Baru ketika lagu selesai dan layar menghitam, Minghao bergumam, &#34;Suaranya bagus.&#34;&#xA;&#xA;Yang tentunya langsung disambut baik oleh Seungcheol. Lelaki itu mulai menjelaskan panjang lebar, ditambah beberapa trivia dalam fandomnya. Melihat Seungcheol nampak ceria, Minghao jadi tersenyum dibuatnya. Tanpa sadar, mereka duduk semakin berdekatan. Di suatu momen, Seungcheol tergelak, mendongakkan kepala ke belakang dan kemudian bersandar di lengan Minghao. Tentu saja Minghao membiarkannya.&#xA;&#xA;&#34;Kalo lo?&#34;&#xA;&#xA;Layar sedang menyorot podium yang dipenuhi cahaya warna warni yang, menurut Seungcheol, adalah lightstick yang dinyalakan (entah benda apa itu, mungkin sama seperti yang Seungcheol sempat genggam di tangan kanannya?), ketika pertanyaan itu muncul.&#xA;&#xA;&#34;Hah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo suka apa?&#34;&#xA;&#xA;Minghao mengangkat bahu sambil lalu, &#34;Seks?&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol mendengus lagi. &#34;Yang laen lah, masa cuma lendir-lendiran aja lo doyannya??&#34; digeplaknya bahu Minghao main-main. &#34;Maksud gue tuh yang lo lakuin kalo lagi wiken, gitu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmmmm,&#34; ia nampak berpikir. &#34;Gue suka ke museum?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh?&#34; angkat sebelah alis. &#34;Art gallery gitu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yeah. Museum sih, lebih sering, daripada galeri pameran individu gitu, but yeah...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hoo...selain itu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Uh...gue suka belanja baju.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah,&#34; ia langsung paham. &#34;Bener juga. Lo kan stylist.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yeap. Ga harus beli sih. Nyobain baju gitu gue suka, karena bisa eksperimen gaya. Tapi gue lebih milih pergi sama orang lain, soalnya tiap bentuk tubuh itu ada batasannya. Kalo cuma gue sendiri, ada style yang nggak bisa gue cobain karena nggak cocok sama badan gue,&#34; Seungcheol sejenak memandangi tubuh Minghao, sebelum kembali ke matanya. &#34;Dulu gue sering pergi bareng Gyu. Dia juga suka belanja baju. Kalo sama dia, gue bisa cobain lebih banyak style karena badan Gyu tinggi dan padet. Proporsinya pun beda dari gue. Yang nggak bisa gue coba, gue cobain ke dia, vice versa.&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol ber-oooo.&#xA;&#xA;&#34;Also, seks di ruang gantinya juga exciting.&#34;&#xA;&#xA;Andai Seungcheol lagi minum, mungkin ia sudah menyemburkan air kemana-mana.&#xA;&#xA;&#34;W-wha-&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, soalnya kan nggak boleh berisik, kudu cepet-cepet juga. Biasanya sih Gyu buka risleting aja kalo udah kayak gitu. He would fuck me against the mirror,&#34; menerawang. &#34;Kinda miss that feeling, tbh.&#34;&#xA;&#xA;Ketika Minghao menoleh, ia menemukan wajah Seungcheol yang memerah. Ringisan jahilnya pun muncul.&#xA;&#xA;&#34;Hayo, ngebayangin ya?&#34;&#xA;&#xA;Jakun Seungcheol bergerak ketika ia menelan ludah.&#xA;&#xA;&#34;Bayangin yang mana nih? Bayangin kita ngeseks di ruang ganti? Ato bayangin lo as gue yang didorong Gyu ke cermin, hmm?&#34;&#xA;&#xA;Ia mengeluarkan bunyi tertahan.&#xA;&#xA;&#34;Ato...,&#34; Minghao tidak bisa berhenti menggoda lelaki itu. Sangat menggemaskan. &#34;...lo bayangin gue sama Gyu bareng-bareng pake lo di ruang ganti itu? Gyu di belakang, gue di depan lo? Nyesep gue pake mulut seksi lo ini?&#34;&#xA;&#xA;Saat sentuhan ibu jari terasa di bibir bawahnya yang kering, Seungcheol tanpa sadar menjilatnya. Lidahnya menyapu jari Minghao, yang kemudian ditangkap dan ditekan. Mulut dipaksa membuka.&#xA;&#xA;&#34;It&#39;s been awhile for this mouth to be used good, hmm?&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol tak kuasa mengerang. Minghao maju, perlahan, perlahan, sampai ia bisa menjulurkan lidah untuk menjilat ibu jarinya di bibir bawah Seungcheol. Sahutan dan salam perpisahan terdengar dari layar TV. Lagu yang ceria. Para member berlarian, tersenyum, tertawa, saling merangkul bersama.&#xA;&#xA;&#34;Nggak nonton sampe abis?&#34;&#xA;&#xA;Wajah Minghao kini persis di depan wajahnya. Ibu jarinya diangkat agar Seungcheol bisa menjawab. Bersamanya, liur Seungcheol menempel di sana, terhubung oleh benang liur, yang diputuskan Minghao dengan menjilat benang itu dari ibu jarinya. Bagian depan celana Seungcheol berdegup menyaksikannya.&#xA;&#xA;Susah payah, ia menelan ludah dan menjawab dalam suara serak, &#34;Besok ada siaran ulangnya...&#34;&#xA;&#xA;Hal berikutnya yang ia tahu, tubuhnya didorong ke sofa, ada tubuh lain di atas tubuhnya, mulut lain membekap mulutnya. Wajah tersenyum bias idolanya nampak sebesar layar, tetapi ia lebih sibuk membalas ciuman basah yang semakin memanas itu. Tangan Minghao dengan sigap menyusup ke balik sweatshirtnya, merabai seenaknya kulit mulus di sana, dari perut hingga putingnya. Tidak sampai sepuluh menit, ia sudah ditelanjangi bulat-bulat.&#xA;&#xA;Lenguhan keluar dari bibir merahnya yang membengkak. Cipratan keringat menuruni punggung. Bulirnya berkumpul di ujung hidung dan sisi kening. Dari seluruh pengalaman Seungcheol akan hubungan seksual, baru kali ini ia bersenggama persis di depan batang hidup grup kpop idolanya dan ia kira ia tidak bisa lebih terangsang dari ini.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:cheolhao" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">cheolhao</span></a></p>

<p>Under 18, leave 🔞⛔</p>



<hr/>

<p>Konser yang dikiranya dibawakan oleh band indie atau musisi Barat, atau bahkan penyanyi sariosa sekalipun, meruntuhkan segala imej Seungcheol yang Minghao buat dalam benak.</p>

<p>Ia pernah membayangkan Seungcheol memasuki bar kopi kuno Florian di kota Venesia. Dilatarbelakangi keriuhan suara penggiling bijih kopi dan mesin pembuat buih susu, ia bercakap dengan bartender sambil memesan cappuccino di pagi hari, memasukkan gula, menenggaknya, lalu meninggalkan satu-dua keping koin di samping cangkir kosong sebagai tips, hanya untuk mengulanginya lagi di siang dan sore hari dengan pesanan berbeda.</p>

<p>Mungkin sesekali Seungcheol mengunjungi museum di Roma atau pergi menonton opera. Dengan mantel sewarna daun musim gugur, sepatu bots lelaki itu akan menginjaki dedaunan kering di hamparan trotoar sambil menghela napas, menciptakan uap putih di udara. Hidungnya yang mancung itu akan memerah karena udara dingin.</p>

<p>Semua yang didambakan Minghao untuk dialaminya sendiri suatu hari nanti, entah kapan.</p>

<p>“Kpop?”</p>

<p>Seungcheol meringis.</p>

<p>“Boyband kpop? <em>Really?</em>“</p>

<p>Alis lelaki itu berubah menjadi kernyitan. Jelas ia bisa mendengar nada meremehkan dari Minghao. Ia tidak mengindahkan bucket besar isi berondong jagung di pangkuannya ketika ia mendadak mendorong Minghao, membuat lelaki itu terjungkal dari sofa di ruang tengah sebuah apartemen tiga kamar milik Choi Seungcheol.</p>

<p>“Kalo lo mau sok edgy dan mandang rendah kpop, get the fuck out of here, you cunt,” geramnya. Masa bodoh dengan Minghao yang mengusap pinggangnya, korban kekerasan rumah tangga hari ini, sambil berusaha naik lagi ke sofa. “Let me indulge in my pretty, talented boys than your sorry excuse of a man.”</p>

<p>Diakhiri dengan dengusan kesal, Seungcheol membuang muka, kembali menatap layar smart TV frameless yang terpasang di dinding. Minghao memandangi bagaimana lelaki itu mengerutkan alis. Ngambeg. Bibirnya yang merah merona menjuntai makin menggemaskan. Pipinya menggembung sebelah. Siang itu, dia mengenakan sweatshirt besar warna bulu tikus, celana pendek cargo dan kacamata bulat berbingkai hitam. Ia menaruh berondong jagung di meja kopi untuk memeluk bantal persegi sementara kedua kakinya naik ke atas sofa.</p>

<p><em>Imut</em>. Dada Minghao berdesir hangat. Rasanya menyenangkan, melihat lelaki tampan bertingkah laku seperti anak kecil. Mau tak mau, Minghao menarik sebuah seringai.</p>

<p>“Sori, sori,” ujarnya, ketika ia sudah kembali ke samping Seungcheol. “Jangan ngambeg dong, kan abis ini mau......” Sengaja ia tidak melanjutkan. Alih-alih, tangannya membuat gestur menggesek sesuatu.</p>

<p>Seungcheol mendecak, memasang tampang jijik. “Get the fuck out,” terlalu terperangah oleh tindakan tak tahu malu lelaki di sebelahnya. Dari sedikit korespondensinya dengan Minghao, ia tahu lelaki itu frontal, tak suka sugar coating, tapi tidak ia sangka separah ini. “Xu Minghao. I will not let my dick come near you anywhere if you behave like this.”</p>

<p>Mendengar itu, Minghao malah tertawa. Dengan santai, ia merebahkan lagi punggungnya ke sandaran sofa. Satu lengan diangkat untuk memeluk bagian belakang leher Seungcheol. “Iya, maaf,” ucapnya lagi, kali ini lebih serius. Dengan senyuman di wajah, ia menatap mata Seungcheol. “Beneran. Sori. Gue cuma nggak nyangka aja.” Lalu, ia menatap grup kpop di layar. “But honestly speaking, gue gimana bisa enjoy kalo gue nggak tau itu siapa aja? Di mata gue mukanya kayak sama semua. Belom lagi nggak ngerti ngomong apa.”</p>

<p>Seungcheol mendengus. “Ada subtitlenya kok. Ini lagi lagu, jadi emang nggak ada. Nanti pas bagian mereka ngobrol juga muncul,” jelasnya. “Ini grup tuh namanya Seventeen.”</p>

<p>“Let me guess. Ada tujuh belas personil?”</p>

<p>“<em>Wrong.</em> Tiga belas,” ia memutar bola mata.</p>

<p>“Banyak banget njir...kagak ambruk itu stage tiap mereka perform?” kaget juga Minghao mengetahui itu.</p>

<p>Kali ini, Seungcheol terkekeh. “Pernah kok, mereka bikin jebol ubin stage pas dance break,” dia memberitahu Minghao. “Sampe dibikin meme gitu sama netizen. Kocak lah.”</p>

<p>“Hee...,” di depannya, seorang member menyanyi dalam nada tinggi. Matanya tertutup, nampak menghayati lirik yang ia senandungkan. Lagu pun naik intonasinya, mengiringi suara semua member yang bernyanyi di saat bersamaan. Sejenak, ia dan Seungcheol tidak berkata apapun.</p>

<p>Baru ketika lagu selesai dan layar menghitam, Minghao bergumam, “Suaranya bagus.”</p>

<p>Yang tentunya langsung disambut baik oleh Seungcheol. Lelaki itu mulai menjelaskan panjang lebar, ditambah beberapa trivia dalam fandomnya. Melihat Seungcheol nampak ceria, Minghao jadi tersenyum dibuatnya. Tanpa sadar, mereka duduk semakin berdekatan. Di suatu momen, Seungcheol tergelak, mendongakkan kepala ke belakang dan kemudian bersandar di lengan Minghao. Tentu saja Minghao membiarkannya.</p>

<p>“Kalo lo?”</p>

<p>Layar sedang menyorot podium yang dipenuhi cahaya warna warni yang, menurut Seungcheol, adalah lightstick yang dinyalakan (entah benda apa itu, mungkin sama seperti yang Seungcheol sempat genggam di tangan kanannya?), ketika pertanyaan itu muncul.</p>

<p>“Hah?”</p>

<p>“Lo suka apa?”</p>

<p>Minghao mengangkat bahu sambil lalu, “Seks?”</p>

<p>Seungcheol mendengus lagi. “Yang laen lah, masa cuma lendir-lendiran aja lo doyannya??” digeplaknya bahu Minghao main-main. “Maksud gue tuh yang lo lakuin kalo lagi wiken, gitu.”</p>

<p>“Hmmmm,” ia nampak berpikir. “Gue suka ke museum?”</p>

<p>“Oh?” angkat sebelah alis. “Art gallery gitu?”</p>

<p>“Yeah. Museum sih, lebih sering, daripada galeri pameran individu gitu, but yeah...”</p>

<p>“Hoo...selain itu?”</p>

<p>“Uh...gue suka belanja baju.”</p>

<p>“Ah,” ia langsung paham. “Bener juga. Lo kan stylist.”</p>

<p>“Yeap. Ga harus beli sih. Nyobain baju gitu gue suka, karena bisa eksperimen gaya. Tapi gue lebih milih pergi sama orang lain, soalnya tiap bentuk tubuh itu ada batasannya. Kalo cuma gue sendiri, ada style yang nggak bisa gue cobain karena nggak cocok sama badan gue,” Seungcheol sejenak memandangi tubuh Minghao, sebelum kembali ke matanya. “Dulu gue sering pergi bareng Gyu. Dia juga suka belanja baju. Kalo sama dia, gue bisa cobain lebih banyak style karena badan Gyu tinggi dan padet. Proporsinya pun beda dari gue. Yang nggak bisa gue coba, gue cobain ke dia, vice versa.”</p>

<p>Seungcheol ber-oooo.</p>

<p>“Also, seks di ruang gantinya juga <em>exciting</em>.”</p>

<p>Andai Seungcheol lagi minum, mungkin ia sudah menyemburkan air kemana-mana.</p>

<p>“W-wha-”</p>

<p>“Iya, soalnya kan nggak boleh berisik, kudu cepet-cepet juga. Biasanya sih Gyu buka risleting aja kalo udah kayak gitu. He would fuck me against the mirror,” menerawang. “Kinda miss that feeling, tbh.”</p>

<p>Ketika Minghao menoleh, ia menemukan wajah Seungcheol yang memerah. Ringisan jahilnya pun muncul.</p>

<p>“Hayo, ngebayangin ya?”</p>

<p>Jakun Seungcheol bergerak ketika ia menelan ludah.</p>

<p>“Bayangin yang mana nih? Bayangin kita ngeseks di ruang ganti? Ato bayangin lo as gue yang didorong Gyu ke cermin, hmm?”</p>

<p>Ia mengeluarkan bunyi tertahan.</p>

<p>“Ato...,” Minghao tidak bisa berhenti menggoda lelaki itu. Sangat menggemaskan. “...lo bayangin gue sama Gyu bareng-bareng pake lo di ruang ganti itu? Gyu di belakang, gue di depan lo? Nyesep gue pake mulut seksi lo ini?”</p>

<p>Saat sentuhan ibu jari terasa di bibir bawahnya yang kering, Seungcheol tanpa sadar menjilatnya. Lidahnya menyapu jari Minghao, yang kemudian ditangkap dan ditekan. Mulut dipaksa membuka.</p>

<p>“<em>It&#39;s been awhile for this mouth to be used good, hmm?</em>“</p>

<p>Seungcheol tak kuasa mengerang. Minghao maju, perlahan, perlahan, sampai ia bisa menjulurkan lidah untuk menjilat ibu jarinya di bibir bawah Seungcheol. Sahutan dan salam perpisahan terdengar dari layar TV. Lagu yang ceria. Para member berlarian, tersenyum, tertawa, saling merangkul bersama.</p>

<p>“Nggak nonton sampe abis?”</p>

<p>Wajah Minghao kini persis di depan wajahnya. Ibu jarinya diangkat agar Seungcheol bisa menjawab. Bersamanya, liur Seungcheol menempel di sana, terhubung oleh benang liur, yang diputuskan Minghao dengan menjilat benang itu dari ibu jarinya. Bagian depan celana Seungcheol berdegup menyaksikannya.</p>

<p>Susah payah, ia menelan ludah dan menjawab dalam suara serak, “Besok ada siaran ulangnya...”</p>

<p>Hal berikutnya yang ia tahu, tubuhnya didorong ke sofa, ada tubuh lain di atas tubuhnya, mulut lain membekap mulutnya. Wajah tersenyum bias idolanya nampak sebesar layar, tetapi ia lebih sibuk membalas ciuman basah yang semakin memanas itu. Tangan Minghao dengan sigap menyusup ke balik sweatshirtnya, merabai seenaknya kulit mulus di sana, dari perut hingga putingnya. Tidak sampai sepuluh menit, ia sudah ditelanjangi bulat-bulat.</p>

<p>Lenguhan keluar dari bibir merahnya yang membengkak. Cipratan keringat menuruni punggung. Bulirnya berkumpul di ujung hidung dan sisi kening. Dari seluruh pengalaman Seungcheol akan hubungan seksual, baru kali ini ia bersenggama persis di depan batang hidup grup kpop idolanya dan ia kira ia tidak bisa lebih terangsang dari ini.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/18-r5jq</guid>
      <pubDate>Sun, 24 Jan 2021 10:13:37 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>7.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/7?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[cheolhao&#xA;&#xA;Main mata, yang dilakukan Wonwoo dan Minghao.&#xA;&#xA;W: fuck you, ga usah melatat-melotot, udah gue bilang kan.&#xA;&#xA;M: LU GA BILANG KALO TEMENNYA GYU THIS FUCKING HOT???&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Wonwoo memutar bola mata, lalu ia menyesap tehnya. Dengan gelas keramik di bawah penerangan lampu kristal besar berwarna kuning di tengah toko, ia nampak anggun, sungguh cocok dengan suasana toko yang seperti di Eropa tahun 1950 dengan semua temboknya dicat hitam. Nampak berat dan mahal.&#xA;&#xA;Minghao di sana seperti ilalang di tengah rerumputan kering. Paku yang menonjol. Nggak nyambung.&#xA;&#xA;W: I fucking told you to dress nicely.&#xA;&#xA;M: Fuck you.&#xA;&#xA;W: Until I get bored with Gyu, you can get a queue number then.&#xA;&#xA;&#34;Mm,&#34; temannya Mingyu menyela, merasa agak tidak enak dengan keheningan meja itu (sementara Mingyu meneguk kopinya, membiarkan Wonwoo dan Minghao saling bertengkar lewat pandangan mata, karena ia sudah terlalu lama melewatkan waktu bersama keduanya untuk tidak memahami maksud kebungkaman mereka saat ini). &#34;Sori ya, Gyu, gue mendadak manggil lo gini.&#34;&#xA;&#xA;Bunyi cangkir beradu dengan tatakannya. &#34;Nggak pa-pa, Bang, lagi nganggur juga kok gue,&#34; cengir si lelaki. Giginya rapi sempurna, selain satu taring yang terlalu panjang. &#34;Gimana di Itali? Asik?&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol tersenyum, &#34;Lo harus tau gue jalan kaki 150 kilometer tiap mau pergi ke pasar buat belanja bulanan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;What the fuck? Seriusan??&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol terkekeh bersama Mingyu. Mereka mengobrol ngalor ngidul untuk sesaat, melupakan keberadaan dua orang lainnya, sampai kemudian Seungcheol sadar betapa tidak sopannya hal itu. Ia pun berdeham, lalu mengubah fokusnya ke dua orang asing yang ia tak kenal sebelumnya.&#xA;&#xA;&#34;Emm, ini...?&#34; ia menelengkan kepala, meminta Mingyu menjelaskannya.&#xA;&#xA;Si lelaki besar mendongak dari piring pastanya, menyeruput selembar pasta yang masih menggantung di udara, kemudian, sambil mengunyah, memeluk bahu Wonwoo. &#34;Oh iya, gue lupa. Kenalin, Bang, ini cowok gue, Wonwoo,&#34; ujarnya.&#xA;&#xA;&#34;Halo.&#34;&#xA;&#xA;&#34;O-oh...h-halo...,&#34; Seungcheol tersenyum. &#34;Seungcheol. Emm, gue baru tau lo punya pacar, Gyu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya ya? Emang kita nggak pengumuman juga nggak sih?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Status FB lo masih single...,&#34; lanjut Seungcheol.&#xA;&#xA;Wonwoo melirik Mingyu.&#xA;&#xA;&#34;...Terus Tinder lo juga aktif...&#34;&#xA;&#xA;Lirikan Wonwoo semakin sinis. Mingyu mulai keringat dingin. Wonwoo mendadak berdiri, tersenyum manis, kemudian mempermisikan diri.&#xA;&#xA;&#34;Lu ikut gue sini,&#34; dijewernya telinga Mingyu.&#xA;&#xA;&#34;Adededededeh--&#34;&#xA;&#xA;Tetau saja, Minghao ditinggal sendirian dengan si lelaki asing (yang hot banget) (bulu matanya panjang) (bibirnya merah banget) (idungnya juga mancung) (tipe muka yang susah buat dilupain, asli).&#xA;&#xA;\--So.&#xA;&#xA;Minghao mengaduk tehnya, lalu meminumnya. Seungcheol masih menunduk sambil memainkan makanannya. Ia tampak hilang dalam pemikirannya sendiri. Tak sadar kalau Minghao menopang dagu dan memperhatikannya sedari tadi.&#xA;&#xA;&#34;Let me guess,&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol agak melonjak kaget, seakan baru sadar Minghao ada di situ.&#xA;&#xA;&#34;Lo ngarepin Gyu dateng nemuin lo sendiri.&#34;&#xA;&#xA;Ujung bibir Minghao membentuk senyuman timpang.&#xA;&#xA;&#34;Dan lo pikir Gyu jomblo, nggak tau kalo dia dah punya laki.&#34;&#xA;&#xA;Jakun Seungcheol bergerak kala menelan ludah.&#xA;&#xA;&#34;Lo naksir Gyu dan hari ini mau tembak dia?&#34;&#xA;&#xA;Senyap. Dunia berisikan obrolan riuh rendah pengunjung kafe dan denting peralatan makan.&#xA;&#xA;&#34;...And you are?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Xu Minghao.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Temennya Gyu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;His best one,&#34; Minghao merebahkan punggung ke sandaran kursi. &#34;Also his ex.&#34;&#xA;&#xA;Bola mata Seungcheol melebar.&#xA;&#xA;&#34;Terus lo masih hang out sama Gyu?&#34; tanyanya tak percaya. Minghao cuma angkat bahu sambil lalu.&#xA;&#xA;&#34;Gue sama Gyu temenan dari bayi. Pacaran juga karena proses normal lah, gimana sih kalo lo deket terus sama satu orang, pasti naksir juga lama-lama. Tapi, yah, pacaran dua tahun terus kok rasanya sama aja kayak pas temenan, even the sex was like before dating,&#34; dengan garpu, ia menancap sebuah tomat ceri di piringnya. &#34;Jadi gue sama Gyu sepakat temenan aja, with casual sex sampe salah satu dari kita pacaran. Then, along came Wonu. The rest is history.&#34;&#xA;&#xA;Seungcheol tidak berkata apapun untuk beberapa saat, terlalu terpana, sebelum ia menghela napas berat. &#34;Wow...,&#34; desahnya. &#34;So he brought his ex and his boyfriend to see the guy who wants to confess to him, huh?&#34;&#xA;&#xA;He knows a rejection when he sees one.&#xA;&#xA;Mau tak mau, Minghao ikut meringis. &#34;Well, liat sisi positifnya. Bagus kan lo tau sebelom nyatain ke si bego itu? Sayang banget, secakep lo harus disia-siain modelan Gyu doang.&#34;&#xA;&#xA;Mulut Seungcheol membuka, hendak protes, namun mengundurkan niat itu. Malah, ia menunduk. Pipinya bersemu merah.&#xA;&#xA;Minghao menaikkan satu alis.&#xA;&#xA;Oh?]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:cheolhao" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">cheolhao</span></a></p>

<p>Main mata, yang dilakukan Wonwoo dan Minghao.</p>

<p><em>W: fuck you, ga usah melatat-melotot, udah gue bilang kan.</em></p>

<p><em>M: LU GA BILANG KALO TEMENNYA GYU THIS FUCKING HOT???</em></p>



<p>Wonwoo memutar bola mata, lalu ia menyesap tehnya. Dengan gelas keramik di bawah penerangan lampu kristal besar berwarna kuning di tengah toko, ia nampak anggun, sungguh cocok dengan suasana toko yang seperti di Eropa tahun 1950 dengan semua temboknya dicat hitam. Nampak berat dan mahal.</p>

<p>Minghao di sana seperti ilalang di tengah rerumputan kering. Paku yang menonjol. Nggak nyambung.</p>

<p><em>W: I fucking told you to dress nicely.</em></p>

<p><em>M: Fuck you.</em></p>

<p><em>W: Until I get bored with Gyu, you can get a queue number then.</em></p>

<p>“Mm,” temannya Mingyu menyela, merasa agak tidak enak dengan keheningan meja itu (sementara Mingyu meneguk kopinya, membiarkan Wonwoo dan Minghao saling bertengkar lewat pandangan mata, karena ia sudah terlalu lama melewatkan waktu bersama keduanya untuk tidak memahami maksud kebungkaman mereka saat ini). “Sori ya, Gyu, gue mendadak manggil lo gini.”</p>

<p>Bunyi cangkir beradu dengan tatakannya. “Nggak pa-pa, Bang, lagi nganggur juga kok gue,” cengir si lelaki. Giginya rapi sempurna, selain satu taring yang terlalu panjang. “Gimana di Itali? Asik?”</p>

<p>Seungcheol tersenyum, “Lo harus tau gue jalan kaki 150 kilometer tiap mau pergi ke pasar buat belanja bulanan.”</p>

<p>“What the fuck? Seriusan??”</p>

<p>Seungcheol terkekeh bersama Mingyu. Mereka mengobrol ngalor ngidul untuk sesaat, melupakan keberadaan dua orang lainnya, sampai kemudian Seungcheol sadar betapa tidak sopannya hal itu. Ia pun berdeham, lalu mengubah fokusnya ke dua orang asing yang ia tak kenal sebelumnya.</p>

<p>“Emm, ini...?” ia menelengkan kepala, meminta Mingyu menjelaskannya.</p>

<p>Si lelaki besar mendongak dari piring pastanya, menyeruput selembar pasta yang masih menggantung di udara, kemudian, sambil mengunyah, memeluk bahu Wonwoo. “Oh iya, gue lupa. Kenalin, Bang, ini cowok gue, Wonwoo,” ujarnya.</p>

<p>“Halo.”</p>

<p>“O-oh...h-halo...,” Seungcheol tersenyum. “Seungcheol. Emm, gue baru tau lo punya pacar, Gyu?”</p>

<p>“Iya ya? Emang kita nggak pengumuman juga nggak sih?”</p>

<p>“Status FB lo masih single...,” lanjut Seungcheol.</p>

<p>Wonwoo melirik Mingyu.</p>

<p>”...Terus Tinder lo juga aktif...”</p>

<p>Lirikan Wonwoo semakin sinis. Mingyu mulai keringat dingin. Wonwoo mendadak berdiri, tersenyum manis, kemudian mempermisikan diri.</p>

<p>“Lu ikut gue sini,” dijewernya telinga Mingyu.</p>

<p>“Adededededeh—”</p>

<p>Tetau saja, Minghao ditinggal sendirian dengan si lelaki asing (yang hot banget) (bulu matanya panjang) (bibirnya merah banget) (idungnya juga mancung) (tipe muka yang susah buat dilupain, asli).</p>

<p>--<em>So.</em></p>

<p>Minghao mengaduk tehnya, lalu meminumnya. Seungcheol masih menunduk sambil memainkan makanannya. Ia tampak hilang dalam pemikirannya sendiri. Tak sadar kalau Minghao menopang dagu dan memperhatikannya sedari tadi.</p>

<p>“Let me guess,”</p>

<p>Seungcheol agak melonjak kaget, seakan baru sadar Minghao ada di situ.</p>

<p>“Lo ngarepin Gyu dateng nemuin lo sendiri.”</p>

<p>Ujung bibir Minghao membentuk senyuman timpang.</p>

<p>“Dan lo pikir Gyu jomblo, nggak tau kalo dia dah punya laki.”</p>

<p>Jakun Seungcheol bergerak kala menelan ludah.</p>

<p>“Lo naksir Gyu dan hari ini mau tembak dia?”</p>

<p>Senyap. Dunia berisikan obrolan riuh rendah pengunjung kafe dan denting peralatan makan.</p>

<p>”...And you are?”</p>

<p>“Xu Minghao.”</p>

<p>“Temennya Gyu?”</p>

<p>“His best one,” Minghao merebahkan punggung ke sandaran kursi. “Also his ex.”</p>

<p>Bola mata Seungcheol melebar.</p>

<p>“Terus lo masih hang out sama Gyu?” tanyanya tak percaya. Minghao cuma angkat bahu sambil lalu.</p>

<p>“Gue sama Gyu temenan dari bayi. Pacaran juga karena proses normal lah, gimana sih kalo lo deket terus sama satu orang, pasti naksir juga lama-lama. Tapi, yah, pacaran dua tahun terus kok rasanya sama aja kayak pas temenan, even the sex was like before dating,” dengan garpu, ia menancap sebuah tomat ceri di piringnya. “Jadi gue sama Gyu sepakat temenan aja, with casual sex sampe salah satu dari kita pacaran. Then, along came Wonu. The rest is history.”</p>

<p>Seungcheol tidak berkata apapun untuk beberapa saat, terlalu terpana, sebelum ia menghela napas berat. “Wow...,” desahnya. “So he brought his ex and his boyfriend to see the guy who wants to confess to him, huh?”</p>

<p><em>He knows a rejection when he sees one.</em></p>

<p>Mau tak mau, Minghao ikut meringis. “Well, liat sisi positifnya. Bagus kan lo tau sebelom nyatain ke si bego itu? Sayang banget, secakep lo harus disia-siain modelan Gyu doang.”</p>

<p>Mulut Seungcheol membuka, hendak protes, namun mengundurkan niat itu. Malah, ia menunduk. Pipinya bersemu merah.</p>

<p>Minghao menaikkan satu alis.</p>

<p><em>Oh?</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/7</guid>
      <pubDate>Sun, 03 Jan 2021 14:40:00 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>6.</title>
      <link>https://thesunmetmoon.writeas.com/6?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[cheolhao&#xA;&#xA;Dress nice, he said.&#xA;&#xA;So, Minghao, of course, did exactly not that.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Are you fucking kidding me?&#34; decak Wonwoo ketika dilihatnya apa yang Minghao kenakan malam itu saat mereka menjemputnya di depan kosan.&#xA;&#xA;✓ Kaos grafik logo band Amrik random&#xA;✓ Jins hitam, belel, bolong-bolong&#xA;✓ Rantai di pinggang&#xA;✓ Kalung rosario perak&#xA;✓ Gelang tali dan chain&#xA;✓ Anting klip di telinga kanan&#xA;✓ Kacamata lensa palsu buat gegayaan beli di Uniqlo made in China&#xA;✓ Topi pet merah&#xA;✓ Converse Chuck 70 Sunflower high top&#xA;&#xA;Minghao nyengir selebar mungkin melihat kerutan di antara alis pacar sahabatnya itu semakin dalam seiring dengan matanya yang menyusuri tubuhnya. Wonwoo sendiri mengenakan sweater putih gading dengan shawl warna bulu tikus. Agar menyamakan dengan pakaian Mingyu yang serba hitam dan berjaket kulit, Wonwoo memilih celana kulit hitam sebelum Doc Marten Jadon platform boots putih membungkus sisa kakinya yang panjang.&#xA;&#xA;Semua orang mungkin akan terpana melihat dua model keluar dari katalog fashion, lalu mengernyit bingung ada anak band nyasar mengintil mereka berdua.&#xA;&#xA;But fuck it.&#xA;&#xA;Wonwoo&#39;s face is priceless right now.&#xA;&#xA;&#34;Nggak ah, cakep kok,&#34; Mingyu menengahi. Ia menstarter mobilnya setelah Minghao membanting pintu belakang.&#xA;&#xA;Menghela napas di tempat duduk penumpang, Wonwoo menopang dagu di pinggir jendela. &#34;Gue udah bilangin ya pokoknya, Hao,&#34; gumamnya menyerah.&#xA;&#xA;Cengiran Minghao masih hidup di tengah lantunan musik kesukaan Mingyu dan dirinya yang diputar di mobil tersebut sampai mereka tiba di tujuan.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://thesunmetmoon.writeas.com/tag:cheolhao" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">cheolhao</span></a></p>

<p>Dress nice, he said.</p>

<p>So, Minghao, of course, did exactly <em><strong>not</strong></em> that.</p>



<p>“Are you fucking kidding me?” decak Wonwoo ketika dilihatnya apa yang Minghao kenakan malam itu saat mereka menjemputnya di depan kosan.</p>

<p>✓ Kaos grafik logo band Amrik random
✓ Jins hitam, belel, bolong-bolong
✓ Rantai di pinggang
✓ Kalung rosario perak
✓ Gelang tali dan chain
✓ Anting klip di telinga kanan
✓ Kacamata lensa palsu buat gegayaan beli di Uniqlo made in China
✓ Topi pet merah
✓ Converse Chuck 70 Sunflower high top</p>

<p>Minghao nyengir selebar mungkin melihat kerutan di antara alis pacar sahabatnya itu semakin dalam seiring dengan matanya yang menyusuri tubuhnya. Wonwoo sendiri mengenakan sweater putih gading dengan shawl warna bulu tikus. Agar menyamakan dengan pakaian Mingyu yang serba hitam dan berjaket kulit, Wonwoo memilih celana kulit hitam sebelum Doc Marten Jadon platform boots putih membungkus sisa kakinya yang panjang.</p>

<p>Semua orang mungkin akan terpana melihat dua model keluar dari katalog fashion, lalu mengernyit bingung ada anak band nyasar mengintil mereka berdua.</p>

<p>But fuck it.</p>

<p>Wonwoo&#39;s face is priceless right now.</p>

<p>“Nggak ah, cakep kok,” Mingyu menengahi. Ia menstarter mobilnya setelah Minghao membanting pintu belakang.</p>

<p>Menghela napas di tempat duduk penumpang, Wonwoo menopang dagu di pinggir jendela. “Gue udah bilangin ya pokoknya, Hao,” gumamnya menyerah.</p>

<p>Cengiran Minghao masih hidup di tengah lantunan musik kesukaan Mingyu dan dirinya yang diputar di mobil tersebut sampai mereka tiba di tujuan.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://thesunmetmoon.writeas.com/6</guid>
      <pubDate>Sun, 03 Jan 2021 12:30:21 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>